0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
8 tayangan69 halaman

Pendidikan Dasar dan Budaya Komunal

Tulisan tersebut membahas pentingnya pendidikan dasar yang berkualitas untuk membangun pondasi pendidikan yang lebih tinggi dan kemandirian ekonomi suatu bangsa. Logika matematika dan kemampuan berbahasa yang diajarkan sejak dasar dipandang penting untuk menunjang kehidupan di masa depan. Tulisan juga menyinggung gaya kognitif divergen dan konvergen serta pentingnya mengakomodasi keduanya dalam pendidikan.
Hak Cipta
© Attribution Non-Commercial (BY-NC)
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
8 tayangan69 halaman

Pendidikan Dasar dan Budaya Komunal

Tulisan tersebut membahas pentingnya pendidikan dasar yang berkualitas untuk membangun pondasi pendidikan yang lebih tinggi dan kemandirian ekonomi suatu bangsa. Logika matematika dan kemampuan berbahasa yang diajarkan sejak dasar dipandang penting untuk menunjang kehidupan di masa depan. Tulisan juga menyinggung gaya kognitif divergen dan konvergen serta pentingnya mengakomodasi keduanya dalam pendidikan.
Hak Cipta
© Attribution Non-Commercial (BY-NC)
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

[Link].

comTM

[Link]
[Link]

GAYA KOGNITIF_________________________
Kalau dunia sekolah dasar rendah mutunya, maka segala- galanya
yang nanti akan dibangun di atasnya, di perguruan menengah
maupun tinggi, akan serba goyah dan hancur berpuing- puing.(
Yohanes Bilyarta Mangunwijaya)

A pa hubungannya Butterfly Effect, Kurva Lorentz,


memetika, dengan budaya komunal sebuah masyarakat ?
Dan bagaimana pola budaya komunal, mampu
mempengaruhi pola pikir individu yang terlibat di
dalamnya, termasuk ke standar sukses/ kurang suksesnya
individu tersebut, ketika bersaing di tingkat global ?
Bagaimana pula budaya komunal ternyata sangat
mempengaruhi tingkat produk domestik bruto, daya beli,
hingga indeks daya saing sebuah negara, terhadap negara
lain ? Bagaimana pula bisa diketahui, hubungan
kesuksesan institusi sekolah mendidik orang, dengan
solidaritas kolektif warga negara, dan dengan
kemandirian ekonomi sebuah bangsa ?

Mungkin, pertanyaan di atas terlihat ―sok intelek‖,


namun, sesungguhnya, pertanyaan di atas berkaitan
dengan pola pendidikan di sekolah dasar, bagian
mananya ? Jika dulu ada yang sering mengeluhkan
beban berat kurikulum yang harus ditanggung oleh anak
usia SD- SMP ( pendidikan dasar), kebijakan pendidikan
yang sering berubah setiap kali berganti rezim, atau
bentuk penyeragaman kelas, yang nampak ―membunuh‖
kreativitas, maka efek sampingnya akan terlihat,
manakala ada tuntutan untuk menerapkan pengetahuan
yang didapat, secara praktis dalam kehidupan sehari-
hari. Investasi mendidik manusia, adalah bentuk investasi jangka panjang, yang baru akan ketahuan bentuk jadinya,
setelah satu dekade lebih, yaitu ketika manusia hasil didikan itu, mulai menemukan masalah, berusaha mencari
solusi, dan lalu membuat karya- karya kreatif untuk membangun hidupnya.

Buat para ―anak muda‖ penggemar metode ―revolusi‖, dalam artian perubahan cepat, dengan satuan harian- bulanan,
maka langkah untuk membangun lewat pendidikan, adalah metode yang menjemukan, kurang ―bersemangat
pemuda‖, dan ―tidak konkret‖, karena bentuk jadi dari hasil perubahan, baru bisa dipetik dalam jangka waktu lama (
tahunan). Namun, seperti halnya perbedaan berburu meramu dengan bercocok tanam, maka pendidikan adalah
upaya untuk memperadabkan manusia, memanusiakan manusia, dan prosesnya pun, mengikuti pola natural manusia
untuk belajar.

Apa pentingnya penguasaan dasar logika matematika, dan bahasa di pendidikan dasar ? Tanpa berusaha menghakimi
tingkat kepintaran anak satu dibandingkan dengan anak lain, maka keduanya adalah alat bantu untuk menunjang
hidupnya di masa yang akan datang. Logika skolastik, yang menjadi dasar berpikir matematis, sangat membantu
untuk memetakan masalah, memodelkan solusi, dan lalu melakukan kalkulasi dalam proses transaksi, atau membuat
kreasi- kreasi baru. Logika linguistik, sangat membantu untuk mendefinisikan masalah, memahami budaya, dan lalu
mempelajari pengetahuan yang berbasis bahasa dipelajari. Jikalaupun Anda sekarang mahir menghitung, berdebat
[Link]

sambil tetap waspada dengan ―kesalahan berlogika‖, membuat pemodelan, berbahasa lebih dari satu jenis, maka
kemampuan- kemampuan itu, basisnya dimulai semenjak pendidikan dasar, SD- SMP. Yang menjadi bahan
kekhawatiran adalah, manakala anak didik, bahkan sudah setingkat mahasiswa, lebih takut tidak lulus ujian,
daripada takut tidak paham dengan sebuah formula, karena kemungkinan tidak akan bisa digunakan dalam
kehidupannya. Karena bagaimanapun, belajar matematika, bahasa, sains, ilmu sosial, itu adalah untuk memudahkan
hidupnya ke depan, dan bukan karena takut tidak lulus ujian guru atau dosen.

Jikalaulah ingin melihat sejarah, maka Geertz pernah bilang, bahwa salah satu ―kerugian‖ besar Indonesia pernah
dijajah Belanda, adalah pada persoalan bahasa. Lho kenapa ? Karena berarti bahasa induk, yang digunakan saat
Hindia Belanda masih ada, adalah Bahasa Belanda, sedangkan kita ketahui, bahwa arus kecepatan pengembangan
pengetahuan dasar ke teknik, teknik ke ekonomi, di Belanda sendiri, tidaklah secepat Inggris dan Jerman, saat itu.
Bahasa memungkinkan kita untuk bisa mengakses ke pengetahuan dan pemikiran, yang menjadi manifestasi dari
bahasa tersebut. Bahasa Inggris digunakan sebagai pengantar untuk banyak sekali buku teks, dari Eropa Barat, dan
Amerika Utara, yang ini berarti, kemampuan dasar bahasa, adalah metode untuk mengakses pengetahuan dari
budaya yang menggunakan bahasa tersebut. Kemampuan untuk menggunakan sebuah bahasa baru, seringkali karena
―kebiasaan‖, bukan hanya ―kebisaan‖, belajar bahasa itu bisa karena biasa.

Pendidikan dasar, juga mengakomodasi untuk gaya kognitif ( metode berpikir) yang divergen. Apa itu divergen ?
Divergen: ―berpengetahuan luas‖, sedangkan Konvergen kalau diistilahkan bahasa kita : ―berpengetahuan dalam‖.
Orang divergen tahu sedikit dalam satu bidang tapi banyak tahu di berbagai bidang. Orang konvergen tahu banyak
tentang satu bidang tapi sedikit tahu di bidang lainnya. Masing-masing ada kelebihan dan kekurangannya. Untuk
pertanyaan yang sangat spesifik, seperti: apa rumus untuk menghitung jumlah bubuk kopi berdasarkan sifat
termodinamika dan hidrodinamika dalam kopi susu dengan proporsi sekian-sekian (fisika). Maka orang konvergen
akan langsung dengan cepat menikmati penghitungan, sedangkan orang divergen [Link], ketika
pertanyaannya multi disiplin, misalnya : bagaimana perilaku simpanse yang tinggal di Pulau Bulu Naga bila berada
dalam cuaca panas dimana kadar oksigen sesuai dengan kondisi bumi rata-rata (biologi + geografi + fisika + kimia).
Orang divergen mungkin langsung mendemonstrasikannya, orang konvergen basah kuyup, kebingungan.

Nah, dari tulisan di atas pun terlihat, sekarang banyak yang mengeluhkan tema tayangan sinetron, yang seolah
meremehkan kecerdasan penonton, atau sinema layar lebar, cenderung memicu prostat*, namun anehnya, produsen
tetap memproduksi, artinya, ada permintaan kan ? Dan kalau dikeluhkan bahwa presiden kita sekarang, suka dengan
pencitraan, maka, pernyataan itu kembali ke kita secara kolektif, bahwa warga negara secara dominan memang
menyukai tampilan subjek yang nampak sempurna, ganteng, kharismatis, tanpa melihat ke karya, atau objek yang
pernah dilakukan oleh objek tersebut. Sekali lagi, sedikit banyak, itu berhubungan dengan hasil dari pendidikan
dasar.

Sekarang, gaung tentang ―wirausaha‖ digiatkan di media, oleh beberapa pakar. Mereka bilang, golongan menengah
di Indonesia, akan menjadi salah satu yang terbesar di dunia, dan mereka harus ―diarahkan‖ untuk wirausaha,
katanya. Namun, membangun mental ―wirausaha‖ tidaklah bisa instant, hasilnya pun tidak akan paripurna. Kenapa ?
Karena kemampuan itu dibentuk awal mulanya dari pola pikir kemandirian, dan menghargai proses, belum lagi
kemampuan membangun tim kerja yang solid ( jika terjun ke sektor riil), dan itu butuh waktu lama, namun kalau
dimulainya dari pendidikan dasar, maka peluangnya akan semakin besar, bagi siswa untuk menerapkan
pengetahuan, sambil bisa memperdagangkan hasil karya dari pengetahuannya.

Yah, itu saja sih, sekedar mengingatkan, dimana pentingnya membangun pendidikan, yang terasa menjemukan
itu…. hidupnya.

Written by Maximillian
Posted in rational
[Link]

Apocalypto________________________________
“What information consumes is rather obvious: it consumes the
attention of its recipients. Hence a wealth of information creates a
poverty of attention, and a need to allocate that attention efficiently
among the overabundance of information sources that might consume
it.” (Herbert Simon, Computers, Communications and the Public
Interest, pages 40-41)

S oal distribusi ekonomi, itu tugas pemerintah


pastinya, karena perut kosong dan otak tumpul,
memicu sikap beringas memang. Pertahanan
keamanan sebuah peradaban atau negara, batas
awal dan akhirnya, adalah di benak masing- masing
pemerintah dan warga negaranya. Lebih mudah
meruntuhkan moral warga, daripada mengirim
serdadu untuk membunuhi satu demi satu, belum
lagi menghadapi perlawanan dari warga, yang pasti
tidak akan semudah itu menyerahkan nyawa.

Meruntuhkan atau membangun moral, butuh media


untuk distribusi informasi. Karena informasi
melakukan konstruksi sekaligus pengacakan konsentrasi fokus. Media sangat efektif untuk membangun ―data
smog‖, semacam tumpukan data yang kelihatan ―informatif‖, namun justru mengurangi jam produktivitas penerima,
berikut tidak menambah kualita hidup, malah menambah depresi, karena membingungkan.

Ben Anderson pernah bilang, para orang tua ( muslim) di Indonesia kebingungan untuk mewariskan pemahaman
tentang tata nilai agama, ke generasi yang di bawahnya, anak- anaknya. Tata nilai yang lemah ini rawan untuk
―diserang‖ oleh informasi dari luar, yang melemahkan identitas diri, dan ujungnya adalah melenyapkan daya seleksi
individu, untuk memilih mana yang benar dan mana yang salah.

Dalam sisi pandang ekonomi, pemikiran yang lemah tata nilai ini, adalah sasaran empuk untuk dijadikan konsumen
yang loyal, kenapa ? Karena mereka butuh identitas, lokus psikologis eksternal, dimana identitas diri dibentukkan
lewat komoditas yang dimiliki dan afeksi/ apresiasi orang lain. Perbanyak iklan dan informasi yang menjual impian,
sambil menawarkan barang- barang konsumtif, yang seolah menjadi identitas diri dan pengalaman hidup. Tanpa
sadar, bahwa barang tersebut sama sekali tidak menambah daya produktivitas si pemakainya.

Dalam sisi pandang politik, pemikiran yang lemah identitas tata nilai ini, adalah sasaran empuk menjadi basis
pemicu konflik. Karena pemahaman yang dibangun sekedar simbolik emosional, atas dasar ―rasa beriman‖, dan
―persaudaraan sesama penganut agama‖. Bentuk pemahaman model begini, sangatlah rapuh untuk diserang, dan
cenderung gampang tersinggung. Berikut suka mencari pembenaran untuk menyeragamkan simbol, yang sebenarnya
itu jauh sekali dari substansi iman.

Toleransi dalam sebuah komunitas, yang komponennya terdiri dari variasi ragam kelas sosial, dengan tata nilai yang
berpotensi konflik, antar masing- masing kelas sosial, harus dibangun atas dasar kepahaman, bukan pemaksaan
bahwa kita semua ―sama‖. Toleransi yang dibangun atas ketidakpahaman, seperti api dalam sekam, tinggal
menunggu konflik dimunculkan oleh pihak yang ingin konflik ada, apapun motifnya. Proses saling mempelajari ini
[Link]

berarti membuka informasi, di dalamnya akan terjadi konflik- konflik kecil, yang bisa meragukan keyakinan atas
iman yang sudah dibentuk sebelumnya. Tetapi seberapa kuat iman, harus diuji bukan ? Imunitas yang dibentuk
lewat ketahanan atas konflik, jauh lebih bermakna dibanding sterilisitas, yang kelihatan kuat di luar, tapi rapuh di
dalamnya.

Yah, tulisan ini hanya sekedar mengingatkan, untuk tetap melindungi diri sendiri, keluarga inti, saudara dekat,
tetangga, dan lingkungan kita, dari pihak yang kita tidak tahu apa kepentingannya, sampai menimbulkan konflik di
masyarakat kita. Komitmen bermasyarakat jelas butuh yang namanya rasa percaya, dan rasa percaya adalah modal
sosial yang harus dipupuk antar generasi, lintas kelas sosial. Sambil memupuk rasa percaya, yang namanya rasa
waspada juga tidak boleh dihilangkan, bagaimanapun juga. Dengan berjibunnya informasi seperti sekarang, maka
pertahanan diri itu ada di pikiran kita masing- masing, camkan itu baik- baik.

Written by Maximillian
Posted in rational

ROMANSA KOPI__________________________
Coffee should be black as hell, strong as death, and sweet as love. (
Peribahasa Turki)

“Apakah Paduka mengenali aroma rokok ini? ”… “Paduka, aroma


inilah yang menyebabkan bangsa paduka mengarungi lautan 400
tahun yang lalu dan menjajah tanah kami” ( Haji Agus Salim,
menteri luar negeri RI, mencairkan kebekuan sikap Pangeran Philip,
Duke of Edinburg, suami Ratu Elizabeth 2,pada sebuah jamuan
kenegaraan)

S ecangkir kopi dan selinting sigaret, kombinasi


kompak kawan meronda, berpikir tengah malam,
atau diskusi bersama sobat, apapun [Link]
nikmat lagi, manakala sambil menyesap, kita
mencoba menelaah sejarah biji legam penuh
kenikmatan itu, bagaimana bisa tumbuh di tanah
kepulauan Indonesia, sampai kita teguk di hadapan
kita, sekarang.

Asal tahu saja, tidak banyak anak muda yang


sadar, bahwa jalan raya pantura ( Pantai Utara
Jawa), tulang punggung transportasi darat Pulau
Jawa itu, menyimpan sejarah penuh darah dan air
mata kakek- kakek kita, yang dipaksa bekerja,
membangun jalur sepanjang lebih dari 1000 km,
dari Anyer hingga Panarukan, dibawah instruksi Herman Willem Daendels. Pram menyebutnya genosida,
setidaknya 12,000 kakek- kakek kita tewas binasa, untuk membangun Jalan Pos, yang sekarang masih kita nikmati
sebagai jalan [Link] sejarah, membuat kita akan menghargai kehidupan manusia, sambil membangun
masa depan tanpa kehilangan identitas.
[Link]

Kembali ke kopi, biji legam ini bukanlah tanaman asli Indonesia, masih ingat VOC ? Perusahaan multinasional(
MNC)pertama di dunia itulah ( 1602 M), yang menggagas penanaman kopi di kepulauan nusantara. Tahun 1699
adalah pengiriman kedua bibit kopi ke Pulau Jawa,pertama ditanam di Sukabumi dan Bogor.1711, VOC mulai
pertama kalinya mengekspor kopi ke Eropa daratan, 1 dasawarsa kuantitasnya di angka 60 ton/ tahun. Nusantara,
adalah tempat pertama di dunia, di luar Arabia dan Ethiopia, biji kopi ditumbuhkembangkan, bangga bukan ? VOC
ini memonopoli perdagangan global kopi dari kepulauan nusantara, dari 1725- 1780.

Pada awalnya, valuasi biji kopi ini, bernilai 3 gulden/ kg di Amsterdam. Pendapatan perkapita di Belanda waktu itu,
sekitar 200- 400 gulden, atau ekuivalen dengan beberapa ratus dolar AS/ kg kopi, hari ini. Harga biji kopi turun
hingga 0,6 gulden/ kg di awal abad 18, konsumsinya pun meluas ke kalangan umum.

Biji legam nikmat ini, menyumbang pendapatan terbesar ke VOC, selain komoditas lain. Ekspansi pertanian kopi
pun dilanjutkan ke Sulawesi (1750), dataran tinggi Sumatera, dekat Danau Toba (1888), Gayo ( 1924). Bahkan
setelah VOC bangkrut di 1799, dan liberalisasi perdagangan dibuka oleh Kerajaan Belanda, perdagangan kopi terus
berlanjut, terus semakin membesar valuasinya.

Pada satu masa, pernah kontribusi dari perdagangan komoditas kopi dari wilayah Hindia Belanda, menyumbang
sampai 30% dari GDP Kerajaan [Link], sobat, jangan bertanya kondisi kakek- kakek kita waktu itu, buat para
petani kopinya, harga beli kopi yang ditetapkan sangat rendah, bayangkanlah saja di benak Anda. 1860, Douwes
Dekker menuliskannya di buku ―Max Havelaar and The Coffee Auctions of The Dutch Trading Company‖, yang
dengan buku itu, membelalakkan publik di Kerajaan Belanda, betapa tragis nasib yang dihadapi penduduk pribumi
nusantara, dan betapa biadab kebijakan kolonial Kerajaan Belanda di Hindia Belanda, sungguh bertolak belakang
dengan budaya masyarakat Belanda, yang cenderung egaliter dan terbuka, sekaligus permisif, relatif jika
dibandingkan dengan budaya masyarakat Britania, Jerman, dan Perancis, kala itu.

1876, terjadi epidemi yang merusak pertanian kopi di Pulau Jawa, menyebabkan Pemerintah Hindia Belanda
mengganti varietas Arabika, dengan Robusta, untuk kawasan rendah, pada 1900 di area perkebunan kopi Jawa
Timur.

Indonesia sekarang, tanah yang kita injak ini, adalah penghasil biji kopi terbesar keempat di Planet Bumi. Setelah
Brazil ( 2,249,010 ton/ tahun), Vietnam ( 961,200 ton/ tahun), dan Kolombia ( 697,377 ton/ tahun). Saya tidak ingin
membahas lebih dalam lagi, siapa saja pemain utama kopi di Indonesia, kemana pendapatan perdagangan kopi itu
mengalir, dan berapa yang dikantongi oleh rakyat Indonesia, mungkin lain kesempatan.

Hanya, ingin kembali meresapi kopi, sambil mengingat- ingat romantika heroik, seringkali tragis dan penuh darah,
tentang jatuh bangunnya negara bernama Indonesia, dengan sejarah kopi ikut terlibat di dalamnya. Atau justru
karena biji hitam legam inilah, manusia- manusia Belanda, mengakrabi dan berkenalan dengan manusia- manusia di
Kepulauan Nusantara, untuk lalu terlibat terlalu dalam, dan mungkin, kalau mereka tidak datang ke sini, kita masih
berbentuk kerajaan kecil yang perang satu sama lain.

Kopi di Indonesia banyak jenisnya, ada Kopi Mandheling ( Mandailing), Kopi Gayo, Kopi Jawa, Kopi Lampung,
Kopi Bali, Kopi Toraja, lalu yang paling unik dari tahi Luwak, Kopi Luwak. Begitu juga lingkaran sosial etnisitas
dan suku di masing- masing pulau di Indonesia, lingkaran sosial ini masing- masing punya budaya khas, adat, dan
tata aturan, sama seperti kekhasan rasa kopinya

Dulu, prioritas Rezim Orde Baru adalah stabilitas, yang terkadang dipaksakan, sehingga kita membangun toleransi
atas ketidakpahaman. Sekarang, semua sudah terbuka, dan kita terbelalak, betapa sungguh beragamnya kita. Yah,
proses adaptasi dengan konflik berkelahi sesekali mungkin wajar, tapi kalau kelamaan nggak asyik juga, bikin capek
hati.

Written by Maximillian
Posted in soul
Tagged with ekonomi mikro, komoditas, kopi, makroekonomi, politik kopi, voc
[Link]

MANGUN KARSO_________________________
Ing Ngarso Sung Tuladha; Ing Madya Mangun Karso; Tut Wuri
Handayani / Di depan menjadi teladan; ditengah membangun
kemauan; di belakang memberi dorongan ( Ki Hadjar Dewantoro-
Soewardi Soeryaningrat-, Pendiri Taman Siswa, Menteri Pendidikan 1
RI)

P ada mulanya manusia menemukan cara menghasilkan api,


mengubur mayat, membangun rumah, mengolah makanan,membuat
roda, hingga membangun kelompok, sejarah belumlah ditulis,
kenapa ? Karena dari tulisanlah sejarah manusia [Link]
oral sebagai alat paling purba untuk menyampaikan pesan, mulai
berevolusi, seiring semakin kompleknya masyarakat manusia, ke
model yang lebih maju, yaitu komunikasi literal dalam bentuk teks
dan simbol, yang untuk menghasilkan model ini, dibutuhkan usaha
yang lebih keras, proses berpikir canggih, berikut sarana yang harus
dibangun sebelumnya ( huruf, kata, media).

Literasi biasanya dipahami sebagai kemampuan membaca dan


menulis. Pengertian itu berkembang menjadi konsep literasi
fungsional, yaitu literasi yang terkait dengan berbagai fungsi dan
keterampilan [Link] maupun praksis literasi fungsional baru
dikembangkan pada dasawarsa 1960-an .Literasi dipahami sebagai
‖seperangkat kemampuan mengolah informasi, jauh di atas
kemampuan mengurai dan memahami bahan bacaan sekolah‖.
Melalui pemahaman ini, literasi tidak hanya membaca dan menulis, tetapi juga mencakup bidang lain, seperti
matematika, sains, sosial, lingkungan, keuangan, bahkan moral (moral literacy).

Tiga penelitian terakhir dari PISA ( Programme for International Student Assessment) (2000, 2003, 2006)
menunjukkan bahwa kemampuan anak-anak Indonesia usia 15 tahun—usia akhir wajib belajar 9 tahun—dalam tiga
macam literasi, yaitu kemampuan membaca (reading literacy), kemampuan menerapkan matematika untuk
kehidupan praktis (mathematical literacy), serta kemampuan memakai sains dalam keterampilan hidup sehari-hari
(scientific literacy), berada pada level 1. Ini berarti, anak-anak itu baru mampu menangkap satu dua tema dari
sebuah bacaan dan belum bisa memakai teks bacaan untuk kepentingan yang lebih dalam, mengembangkan
pengetahuan atau mengasah keterampilan.

Lalu, kenapa soal pola komunikasi bisa ditembak ke urusan pendidikan nasional ? Ya, karena sebenarnya, dalam
tinjauan genetis, kemampuan otak warga negara Indonesia tidaklah kalah dibanding warga negara lain yang lebih
maju secara pencapaian ekonomi, militer, teknologi, maupun budayanya. Sedangkan sekarang, pengetahuan sudah
sebegitu kompleksnya terlembagakan dan begitu besar kendali pemerintah negara di dalamnya. Yang artinya, jajaran
pengendali birokrasi pendidikan harus paham, bahwa peradaban Indonesia ini, besar kemungkinan semakin beradab
atau justru biadabnya, dipengaruhi oleh pengetahuan dan model didikan di sekolah, karena angka partisipasi
pendidikan dasar kita tinggi, 96.1% (7-12 tahun), 79,21% ( 13- 15 tahun), 49,76% ( 16- 18 tahun).

Saat ini, saya personal masih memandang bahwa gelar akademik malah diselewengkan menjadi identitas sosial,
semacam kasta jenis baru gitu, bikin gelilah pokoknya. Sebenarnya, fundamental dasar peradaban itu, ada di kualitas
pendidikan dasar, bukan pendidikan tinggi. Berbicara ekstrem agar jelas, dapat dikatakan bahwa universitas boleh
[Link]

bermutu rendah atau bobrok, akan tetapi sekolah, atau lebih tepatnya pendidikan dasar jangan ! Kalau dunia sekolah
dasar rendah mutunya, maka segala- galanya yang nanti akan dibangun di atasnya, di perguruan menengah maupun
tinggi, akan serba goyah dan hancur berpuing- puing.

Kelihatan sebenarnya bagaimana menguji hasil dari pendidikan dasar di kita, yaitu dari reaksi penilaian dan urutan
berpikir logis dan bercita rasa dari kalangan terpelajar muda pun, ternyatalah betapa sulitnya para pemuda kita
diajak untuk berpikir sistematis, apalagi mengungkapkannya dalam bahasa yang teratur dan komunikatif lagi
bertanggung jawab. Sedari SD, siswa dibudayakan untuk naik kelas berdasar hasil ujian, bukan penampakan
tampilannya, yang itu berarti siswa diajari berpikir objektif, terfokus pada objek (benda)nya, bukan ke
subjek(pelaku)nya. Namun, kalau di forum publik coba lihat, kebiasaan ad hominem ( menembak langsung jati diri
pelaku), menuduh kepercayaan yang diyakini pelaku ( praduga bersalah), atau aktivitas narsisisme tanpa konten
yang orisinil, karena tergesa ingin dikenal atau dipuji, bertebaran di mana- mana, dari ranah nyata ke ranah maya.

Lalu, kenapa petuah Ki Hadjar saya sampaikan di awal ? Karena manusia- manusia hasil pendidikan dasar inilah,
yang akan membangun peradaban Indonesia sekarang dan nanti. Mereka yang akan menjadi PNS, industrialis,
jenderal, birokrat, guru, presiden, bahkan sopir angkot dan tukang becak, adalah produk dari pendidikan dasar juga !
Mangun karso, artinya membangun kemauan, itulah yang salah satu yang menjadi dasar eksistensi lembaga formal
bernama sekolah, beserta para pendidik yang ada di dalamnya. Kemauan untuk berprestasi, berkarya, belajar,
berkomunikasi, berbagi, dan segala sesuatu yang memang beradab…

Adapun kemampuan literasi, saya ulang lagi, ‖seperangkat kemampuan mengolah informasi, jauh di atas
kemampuan mengurai dan memahami bahan bacaan sekolah‖, mencakup bidang bahasa, matematika, sains, sosial,
lingkungan, keuangan, bahkan moral (moral literacy).Akan menjadi daya dukung atas ―kemauan‖ atau ―karso‖ yang
sudah ada di benak siswa. Saya yakin setiap anak usia SD, atau SMP, punya keluguan- keluguan sederhana, dan
mereka harus diberikan semangat untuk membangun ―kemauan‖ tadi, sambil berusaha untuk akrab dengan mata
pelajaran.

Lalu, kenapa saya tidak ingin menyalahkan siapapun, bahkan termasuk birokrat pendidikan ? Karena saya kenal
beberapa manusia di dalamnya juga sedang berusaha keras memperbaiki diri, di tengah ketidakpastian budaya yang
menghambat kinerja. Saya hanya ingin berbagi ke sesama warga negara, bahwa akan lebih baik dan optimal
hasilnya, jika kita mau membangun kemauan anak, keponakan, atau sepupu, sedari usia dini, dan jangan pernah
berhenti.

Sekarang pengetahuan dan informasi bertebaran dimana- mana, namun kalau manusianya tidak punya kemauan,
semua hal tadi hanya akan jadi sampah, dan kita terus menerus jadi konsumen barang- barang baru yang nampak
―trendi‖ dan ―modern‖ tadi. Sama sekali tidak membuat manusia Indonesia menjadi lebih beradab, karena kembali
ke awal lagi, manusia yang tidak punya kemauan, tidak akan pernah berusaha bergerak untuk mencapainya, bahkan
akan selalu terombang- ambing gelombang ―kemauan- kemauan‖ manusia lain.

Mari berkarya, Sobat.

Written by Maximillian
Posted in rational
Tagged with indeks literasi, kemauan, ki hajar dewantara, literasi, literasi fungsional, motivasi, pendidikan

Menemukan Dewa Ruci_____________________


Ledakan ekonomi dalam suatu negara dimulai dari aktivitas ekonomi
yang berbasis pada budaya masyarakatnya ( Satjipto Rahardjo, Prof )
[Link]

T eknologi tidaklah pernah berdiri sendiri. Dalam


satuan teori, bisalah beberapa pihak mengklaim bahwa
teknologi itu netral, namun dengan keadaan sekompleks
saat ini, teknologi, dan saudaranya sains (teori maupun
terapan), akan selalu bergandengan tangan dengan bisnis
( ekonomi- makroekonomi). Jika mau meneliti lebih
dalam lagi, maka teknologi, sains, dan bisnis, akan
terhubung dengan substrat terdalam sebuah populasi
manusia, yaitu budaya khas komunitas. Sains teori dan
terapan, menjadi komponen penyusun utama teknologi
mutakhir, berkolaborasi dengan kapital, berbuah lembaga
interdisiplin yang disebut dengan perusahaan, yang
berkembang membesar menjadi industri. Industri
berevolusi membesar, yang bahkan bisa mencaplok
institusi bernama negara, seperti halnya VOC, perusahaan multinasional pertama di planet bumi, yang kerapkali kita
sebut sebagai ―kompeni‖, pelunakan dari idiom ―company‖ alias ―perusahaan‖.

Kita sudah mengalami sendiri, bahwa teknologi, sains, ekonomi, adalah alat budaya, atau pendeknya : alat produksi
politis. Ilmuwan, teknokrat, atau industriawan, tidaklah bisa murni bebas nilai, dan lalu lantas menutup mata, akan
selalu ada konflik dalam benaknya, karena memang ketiganya adalah alat budaya massa, yang sangat efektif untuk
perluasan pasar. Ahli fisika nuklir Cina, yang juga nobelis di bidang Fisika, Tsing Dao Lee, pada awal
perkenalannya dengan fisika modern, ternyata harus mengalami pergulatan pemikiran yang amat hebat, untuk bisa
beradaptasi dalam substruktur ala pemikiran Eropa Barat, terutama dalam sudut pandang terhadap ―materi‖, yang
menjadi inti kajian utama bidangnya : fisika [Link] kepercayaan transenden, dan filsafat kembangan budaya
tradisi Cina, tidak pernah memandang dunia realitas fenomena sebagai objek yang berharga, semua adalah fana.
Bahkan, segala hal yang empiris, adalah maya, semu, tidak sejati, tipuan, serta godaan penjerumusan kesejatian diri.
Konflik yang frontal bukan ? Dengan kerangka pemikiran kesarjanaan barat, yang dibentukkan untuk berkarakter
empiris, rasional ( terukur), dan simplifikatif.

Kita tidak bisa, dan justru tidak boleh abai, jika memang berkeinginan untuk membentuk jati diri yang utuh. Kajian
terapan teknologi, sains, bisnis, tidak bisa dipisahkan dengan urusan budaya dan politik. Mengenali dan membentuk
diri, dengan tradisi lokal khas, adalah mutlak, tanpa harus menjadi xenofobia, dengan menganggap bahwa segala hal
yang asing adalah ―musuh‖. Menganggap bahwa segala produk teknologi adalah bebas nilai, juga tidak tepat, karena
Asia Tenggara, adalah ―pasar potensial‖, yang selalu menjadi sasaran pemasaran produk terbaru, dari produsen Asia
timur jauh, Eropa barat utara, dan Amerika utara. Tak peduli dengan fungsionalitas, dengan alasan gaya hidup yang
―techie‖ namun dangkal pemikiran, seringkali produk teknologi tinggi, yang seharusnya menjadi alat penunjang
produktivitas, dan profitabilitas tentunya, malah oksimoron, menjadi sumber pemborosan waktu, asesoris tidak
penting, serta objek pengurang produktivitas. Dalam hubungannya dengan makroekonomi, konsumtivitas yang
cuma sekedar asesoris, dan tidak menunjang produktivitas, juga tidak sinergis dengan upaya untuk meningkatkan
devisa negara.

Saya tidak mengetahui angka pastinya, sebenarnya seberapa besar upaya untuk membangun karakter nasion
Indonesia, berikut upaya lain, untuk melakukan adaptasi,pencurian metode, dan lalu kolaborasi efektif- efisien
antara manusia yang berkecimpung di sains, teknologi, dan bisnis, buat mendistribusikan kesejahteraan, lalu
membangun kemandirian yang lebih kokoh. Dulu, Habibie pernah bercita semacam itu, tapi entah bagaimana
keadaannya sekarang, walaupun langkahnya kontroversial dan menimbulkan banyak efek kejut, yang luluh lantak
setelah Orde Baru meninggal, setidaknya ada langkah jelas. Hampir satu dekade yang lalu, Deklarasi Milenium yang
ditandatangani, mulai dari peningkatan bantuan bilateral dan multilateral sampai penanaman tumbuhan jenis polong-
polongan yang mengikat nitrogen untuk menambah kesuburan tanah; antiretroviral untuk AIDS; dari telepon seluler
untuk memperbarui informasi pasar sampai perencanaan kesehatan dan pemanfaatan air hujan. Proyek MDGs
mengusulkan 449 langkah untuk mencapai 18 target dari delapan tujuan [Link] orang miskin itu mudah,
begitu diyakini para ekonom dan pemimpin. Obat untuk mengurangi separuh kematian akibat malaria hanya 12 sen
[Link]

dollar AS per orang, kelambu hanya 4 dollar AS, dan mencegah kematian anak dan anak balita selama 10 tahun
hanya membutuhkan tambahan 3 dollar bagi setiap ibu yang melahirkan anak pertama.

David Sogge, dari Transnational Institute menyatakan, tak ada bantuan tulus karena tak pernah ada makan siang
gratis dalam fundamentalisme pasar yang terus dipromosikan oleh Dana Moneter Internasional (IMF). Sejak 1990-
an, aliran global, setelah diperhitungkan dengan bantuan luar negeri, bantuan investasi asing langsung (FDI) dan
remiten, justru mengalir dari yang miskin kepada yang kaya.

Mungkin ini terdengar klise, tapi memang untuk membangun kesadaran kritis, dari urusan sudut pandang, sampai ke
implementasi lapangan, hingga urusan aplikasinya ke aktivitas ekonomi, tentunya butuh waktu antar generasi dan
usaha yang tidak mudah. Urusannya pun, jadi bukan hanya urusan pemerintah negara, karena fungsi pemerintah
adalah semata administratur dan koordinator. Urusan semacam ini, jadi urusan kolektif warga negara, karena jadinya
membangun budaya. Menjadi penting bagi pemerintah negara, untuk menegaskan kembali, fungsionalitas
pendidikan dasar, untuk membangun generasi yang berbudaya, dan bisa menggunakan budayanya, untuk menyerap
sains- teknologi, demi kepentingan lokal juga, bukan malahan menjadi pasar, tanpa ada usaha sama sekali untuk
melakukan imbal balik [Link] sekarang, ada beberapa pihak yang berkoar ingin menanamkan jiwa
kewirausahaan di pendidikan formal, maka itu dimulainya di pendidikan dasar, bukan pendidikan tinggi, karena
sudah terlambat, walaupun tidak salah jika mau dimulai sekarang [Link] kewirausahaan, juga bukan cuma
urusan penyerapan tenaga kerja, karena urusan mengelola kapital dan memvaluasi aset, adalah urusan yang efeknya
jauh lebih besar, yaitu membangun industri dari nol, dengan aset yang semula hanya berupa ide dan pengetahuan.

Pendewasaan satu orang saja, prosesnya bukan main rumitnya, terkadang beberapa manusia sudah berusia tua pun,
nampak tidak menunjukkan kedewasaan sama sekali. Sekarang, untuk membangun kedewasaan satu negeri, yang
seluas jarak London sampai Moskwa, Stockholm sampai Roma,dengan 231 juta jiwa, yang tersebar di 17,504 pulau,
wow ! Ini tantangan yang luar biasa, belum lagi ancaman disintegrasi, yang suka jadi alat politik sesaat, para elit
yang kekanak-kanakan. Kalau boleh saya menilik ke kisah Bima muda, Bratasena, yang mencari makna
hidup,proses untuk bertemu Dewa Ruci yang begitu beratnya, dia mengajarkan kebijakan untuk menghadapi
kenyataan hidup, berikut nasehat untuk tidak lelah mencari kebenaran, dalam kendali hati yang tunduk pada Tuhan,
untuk menunjukkan jalan. Ini sebagai perimbangan, dari ideologi Faust, yang menjadi sumber energi tersirat, dari
upaya pencarian kebenaran tanpa henti ala budaya Eropa barat, yang bahkan sampai terkesan menantang Sang
Pencipta, yang dalam semesta mereka, Tuhan terkesan menyembunyikan api pengetahuan, untuk kemudian direbut
oleh para ilmuwan dan teknokrat, yang juga anak keturunan Prometheus, si pencuri api kebijakan dewa. Bratasena
yang egaliter, dan tidak pernah menaruh takut, bahkan terhadap dewa sekalipun, tetap mencari kebenaran, tanpa
harus menubrukkan dengan urusan keTuhanan, apalagi dengan upaya hipotesis prematur, yang mengkhianati
metode pencarian kebenaran itu sendiri.

Apapun itu, ini hanya upaya kecil, supaya kita paham, bahwa setiap produk, apapun muatan kompleksitas tingkat
teknologi yang dimuat, selalu mengandung budaya muatan, dari produsen, untuk diterimakan kepada konsumen.
Dalam tahapan yang lebih abstraknya, perluasan budaya, adalah perluasan pasar, untuk urusan ekonomi produsen.
Maka, jika ingin membalas, maka produksilah sendiri makna- makna baru, dari hasil renungan kita sendiri, buatlah
massal, gunakan sains dan teknologi sebagai alat, dan perluas pasar, maka budaya kita, juga akan bisa dikonsumsi
oleh konsumen dari komunitas bangsa lain, kuncinya diawali dari kesadaran diri.

Written by Maximillian
Posted in soul
Tagged with bratasena, budaya, dewa ruci, ekonomi, pengetahuan, sains,teknologi komoditas
[Link]

Teknologi Wadehel_________________________
Kemerdekaan Bangsa Indonesia hanyalah alat untuk mencapai
tujuan yang lebih luhur, yaitu kemerdekaan manusia- manusia
Indonesia ( Sutan Sjahrir, Perdana Menteri I Republik Indonesia)

J ika mau jujur, siapakah diantara kita ini sebetulnya


bukan Indo atau Indisch juga ? Apakah kita dapat
menjamin, dan dapat membuktikan tidak tercampuri 1 cc
darah Arab, misalnya, atau 10 mg darah India, Cina,
Portugis, Belanda, Jepang ? Apalagi di kalangan kaum
ningrat, yang istananya diperkaya selir- selir ―upeti‖ atau
tanda persahabatan dari Jambi, Brunei, Cina, Jawa, Batak,
Belanda, Jerman ?

Seperti bahasa, dengan gramatika dan idiomnya, sistem


negara nasional adalah perkara yang berkembang historis,
dimana nalar dan perhitungan ikut ambil bagian juga,
tetapi ramuan unsur emosi, paksaan para adikuasa,
kepentingan ekonomi,vested interest, agama, dan sebagainya, sangat berperan

Nasionalisme memang bibit sekawitnya sebagian terbesar adalah soal emosi, setidak- tidaknya bukan sesuatu yang
tumbuh karena rasionalitas melulu, apalagi ilmiah. Namun, bukan berarti tanpa logika. Kalau dipikir, apa alasan
Irian ikut RI dan bukan Papua Nugini ? Lalu Swiss, yang terdiri dari tiga ―bangsa‖; Frangkofonik, Jermanik, dan
Italianik ? Juga Belgia yang penduduknya terdiri dari dua nasionalisme sebetulnya, Kaum Walonia yang berafiliasi
pada Budaya Perancis, dan Vlaam, yang mengacu pada tata hidup, dan Bahasa Belanda ? Namun, memandang
gejala nasionalisme hanya selaku hal yang mengada- ada belaka, berarti kurang memahami proses sejarah dan
evolusi. Manusia adalah makhluk yang ada plus mengadakan plus mengada-adakan.

Orang eropa pun, butuh proses seribu tahun untuk memulai suatu kesadaran baru tentang kesatuan eropa. Padahal,
negeri kita seluas jarak London sampai Moskwa, Stockholm sampai Roma, dan sebagian terbesar terdiri dari lautan
serta selat- selat, dengan segala akibat cita rasa manusia pulau yang selalu cenderung untuk menafsirkan, ‖ Betapa
pulauku selalu yang paling hebat, sedangkan pulau lain adalah musuh, paling sedikit saingan‖.

Enam puluh tahun kita berdiskusi tentang usaha melek huruf bagi kaum terbelakang yang belum dapat membaca dan
menulis dengan huruf latin, namun diam- diam, kita masuk ke dunia zaman baru, dengan orang ―buta huruf‖ jenis
baru, bahasa, sains, dan teknologi. Anak- anak kita diam- diam sedang ―diculik‖ oleh suatu revolusi besar, masuk ke
dalam era budaya pasca Indonesia.

Namun, ternyata salah satu masalah sosial budaya yang sangat rawan dan rupa- rupanya menuju ke jurang ialah
dunia persekolahan kita. Ini kita catat tanpa menyalahkan para guru, karena mereka hanya menjalankan politik
pendidikan dan [Link] di jajaran sekolah dasar, karena disinilah dasar dari segala struktur
persekolahan di atasnya, maka harus dibangun secara bagus dan berkualitas tinggi. Berbicara ekstrem agar jelas,
dapat dikatakan bahwa universitas boleh bermutu rendah atau bobrok, akan tetapi sekolah, atau lebih tepatnya
pendidikan dasar jangan ! Kalau dunia sekolah dasar rendah mutunya, maka segala- galanya yang nanti akan
dibangun di atasnya, di perguruan menengah maupun tinggi, akan serba goyah dan hancur berpuing- puing.

Dari reaksi penilaian dan urutan berpikir logis dan bercita rasa dari kalangan terpelajar muda pun, ternyatalah betapa
sulitnya para pemuda kita diajak untuk berpikir sistematis, apalagi mengungkapkannya dalam bahasa yang teratur
[Link]

dan komunikatif lagi bertanggung jawab. Tentu saja terkecuali the happy few yang berkesempatan memperoleh
sekolah favorit bermutu atau yang sempat belajar berpikir di luar negeri. Di kalangan pembesar, dan yang tergolong
eselon tinggi sekalipun, kita melihat betapa daya pikir, gaya argumentasi, serta sistematika logika mereka sulit
dibanggakan bila berhadapan dengan masyarakat internasional yang setaraf dengan mereka, atau masyarakat
terpelajar dari dalam negeri sekalipun

Meski setiap orang punya potensi penuh menuntut sains, tetapi aktualisasinya, pengembangan cepatnya, atau
mendalamnya jiwa sains sungguh sangat terkondisi oleh lingkungan budaya, serta sejarah bangsanya. Jiwa sains
memerlukan suatu sikap keyakinan bahwa seluruh semesta alam, yang mikro maupun makro, ada dan bergerak
dalam suatu tatanan teratur, dalam suatu kosmos, artinya semesta yang teratur, mengikuti hukum- hukum yang tidak
mengizinkan sembarang berjalan serba sembarangan. Apabila sains terapan dituangkan dalam alam produksi yang
sistematis menjadi barang atau sistem, makan sains mengejawantah ke dalam teknologi yang berjalan lewat industri
dan bisnis. Di sini dunia ekonomi dan politik, taktik strategi, dan rekayasa, sudah masuk, juga aspek militernya.

Generasi muda yang sebentar lagi akan bertugas memikul tanggung jawab yang berat terhadap sains dan teknologi
semogalah selalu penuh harapan. Seriuskah kita dengan pembinaan generasi dan masyarakat baru yang berjiwa sains
dan teknologi, dengan memberi mereka tanah tumbuh dan iklim yang cocok, yang bersih ?

Tulisan di atas, adalah kompilasi dari koleksi pribadi, kumpulan esai Romo Yusuf Bilyarta Mangunwijaya, medio
1986- 1993 yang lampau. Beliau berpikir tentang makna nasionalisme Indonesia, terhubung dengan usaha untuk
memupuknya lewat pendidikan dasar, keluaran dari sistem persekolahan, yaitu manusia, dalam upayanya untuk
memahamkan esensi bahwa sains dan teknologi, punya kontribusi besar, untuk membangun kemanusiaan itu sendiri,
tetap dalam kerangka memakmurkan saudara sebangsa, Indonesia. Saya keluarkan lagi, karena ternyata masih
relevan dengan keadaan sekarang, terutama pasca bergantinya rezim pemerintahan, berikut lahirnya jejaring maya
global, internet

1. Buat Bapak Mendiknas, Prof.M. Nuh, yah, mengendalikan institusi dengan jejaring birokrasi seperti kementerian
Anda, tentunya tidak mudah, apalagi dengan tanggung jawabnya yang tidak ringan : Mencerdaskan kehidupan
bangsa, yang 2010 ini manusianya sekitar 237 jiwa, wow! Namun, ada satu hal yang diingatkan oleh Romo Mangun
( alm) diatas, bahwa keluaran dari sistem persekolahan yang Bapak ( dan staf) rancang, akan sangat mempengaruhi
pola pikir, terhadap sains dan teknologi. Sains dan teknologi, butuh budaya manusia yang mendukungnya, dan bisa
mengendalikannya, untuk melakukan inovasi- inovasi bernilai tambah ekonomi, ke aset di dalam tanah, air, dan
udara wilayah kedaulatan NKRI. Akan sangat absurd, apabila manusia- manusia Indonesia keluaran pendidikan
tingginya, dimanja oleh ―produk teknologi‖, menjadi konsumen ―produk teknologi‖, tetapi tidak becus mengolah
aset di otaknya ( pengetahuan), dan mengonversi bahan mentah, jadi punya nilai jual, dengan teknologi di otaknya.

Jumlah SD; 144,567 , SMP ; 26,277 , dan SMU; 10,239, terbayang tuh, kebijakan Kemendiknas sangat punya nilai
pengali yang luar biasa, dan tentunya tak bisa main- main menyusun kurikulum, apalagi coba- coba, karena
kebijakan Bapak akan signifikan, mempengaruhi wajah Indonesia, lima generasi yang akan datang, wow !

2. Buat Bapak Menkominfo, (Ustadz) Tifatul Sembiring yang jago pantun. Tulisan Romo Mangun ( alm), dibuat
jauh hari, ketika jejaring internet belum mewabah seperti sekarang. Jumlah pulau di Negara Kesatuan Republik
Indonesia itu, 17, 504 pulau, dengan luasan seperti yang telah dianalogikan Romo, ―seluas jarak London sampai
Moskwa, Stockholm sampai Roma‖, dengan konsentrasi penduduk, 58% di Jawa, 21% di Sumatra, 7% di Sulawesi,
6% di Kalimantan, 6% di Bali dan Nusa Tenggara, serta 3% di Papua dan Maluku.

Tantangan nasionalisme Indonesia, adalah distribusi ! Terlihat dari angka yang tercantum, walaupun harus
diverifikasi lagi, mensolidkan yang namanya ―nasionalisme‖ Indonesia, tidaklah mudah, karena itu akan
menyangkut ke kebutuhan dasar manusia, yaitu : Perut ! Perut tidak kenal makanan berlabel
[Link] Pak Tif, punya otoritas, yang setidaknya, bisa melakukan upaya menyeimbangkan
distribusi tadi, yaitu : Distribusi informasi. Apapun alasannya, infrastruktur informasi di Indonesia, punya tenaga
besar untuk melakukan kesetimbangan informasi, antara warga negara dengan warga negara, ataupun warga negara,
dengan pemerintah negara.
[Link]

Yah, kami adalah bagian dari ―warga negara‖, sedangkan Bapak berdua, adalah bagian dari pemerintah negara, yang
fungsinya, menjadi administratur negara, alangkah baiknya, jika pemikiran lama Romo Mangun ( alm) itu, jadi
bahan Bapak berdua buat memperbaiki lagi kondisi infrastruktur persekolahan dan informasi- komunikasi, yang
sesungguhnya, punya kekuatan besar, untuk memanusiakan manusia Indonesia

Written by Maximillian
Posted in rational
Tagged with budaya, ekonomi, infrastruktur, IT, pendidikan dasar, teknologi

Peluang___________________________________
Bagi yang sudah melakukan literasi terhadap tiga karya matematika quasi empirik, fisika kuantum, dan sosiologi
populer ini :

1. Black Swan ( Nicholas Taleb, JS. Mill, Popper )

2. Outliers ( Malcolm Gladwell)

3. Butterfly Effect ( Edward Lorenz, Henry Poincare)

Maka, ada satu kesimpulan menarik, yaitu :

“Peluang akan mendatangi siapa yang paling siap untuk


menerimanya”

B anyak, atau beberapa manusia yang


bekerja keras mencari ―peluang‖, lupa
bahwa peluang yang Tuhan berikan, sangatlah berlimpah, dan mereka justru melupakan untuk melakukan persiapan
diri dalam rangka mendapat peluang tadi.

Mempersiapkan ide yang ―belum jelas‖ nilai peluangnya, membutuhkan keyakinan diri ( faith), keuletan (
determination), dan keteguhan ( persistence). Karena, secara empirik matematis pun, dominan pasar manusia akan
mengikuti yang disebut dengan ―tren‖, atau seringkali pertanyaan bodoh keluar, ‖ Kira- kira, peluang bisnis yang
menjanjikan apa ya, tahun ini ?‖, secara empiris, semua hal punya peluang untuk memiliki nilai ekonomis, hanya
saja, siapa manusia yang paling siap untuk mengubah peluang ini jadi nyata ? Tentunya yang memiliki persiapan
paling tinggi, dialah ( merekalah) yang akan menjadi inspirator ( trend setter).

Ini hanya renungan pendek saya, semoga bermanfaat.

NB :

1. Buat yang agnostik atau (mengaku) atheis, teori ini bisalah dipakai untuk menafikan peran Tuhan.

2. Buat pemikir jabariyah, probabilitas ini untuk qadar, bukan qada. Jadi, untuk subjek eksakta di luar lingkungan
horizontal manusia, maka teori yang berlaku sifatnya definit.

3. Buat pelaku qadariyah, probabilitas ini adalah cara untuk mengenal apa pola takdir ( yang ternyata penuh dengan
uncredited randomness)
[Link]

4. Buat para investor dan spekulan, perhatikan baik- baik nasehat Buffet dan Soros, mereka menggunakan beberapa
pemikiran Popper soal ludic fallacy, randomness, dan black swan, perhatikan baik- baik !

5. Untuk saya, sementara ini masih memegang sumpah syahadat dan dengan bahagia menikmatinya.

6. Untuk mendapatkan kasus empiris, silakan telaah sejarah : Penisillin, Microsoft, Hitler, pengacara korporat
American- Jews yang terkonsentrasi di New York, kartel Bank global, PIXAR, dan relativitas.

Written by Maximillian
Posted in rational
Tagged with butterfly effect, karma, ketidakpastian, lorentz, resiko, takdir,teori peluang

Anarkisme The Simpson_____________________

I‟m not a bad guy! I work hard, and I love my kids. So why should I
spend half my Sunday hearing about how I‟m going to Hell?

How is education supposed to make me feel smarter? Besides, every


time I learn something new, it pushes some old stuff out of my brain.
Remember when I took that home winemaking course, and I forgot
how to drive?

But Marge, what if we chose the wrong religion? Each week we just
make God madder and madder.

America‟s health care system is second only to Japan … Canada,


Sweden, Great Britain … well, all of Europe. But you can thank your
lucky stars we don‟t live in Paraguay!

I‟m normally not a praying man, but if you‟re up there, please save
me, Superman.(Homer Simpson )

K eluarga Simpson yang apa adanya mereka itu, dengan


segala problema kehidupan mereka yang komikal ( ya iyalah,
memang kartun !), seringkali bisa menjadi bahan refleksi publik,
yang cerdas, kritis, menggigit, serta memberikan nuansa sudut
pandang baru, tentang kehidupan keluarga ―biasa saja‖, di
pinggiran kota kecil, dari kalangan kelas menengah pekerja (
atau buruh ?), di kota kecil AS.
[Link]

Homer Simpson,sang ayah dengan usia hampir kepala empat, botak, kelebihan berat badan, bertemperamen kasar,
suka main- main, impulsif, pelupa, cuek, spontan, suka meminjam barang tetangga dan sengaja lupa
mengembalikan, serta kecanduan alkohol. Dengan segala karakternya itu, Homer sangat mencintai keluarganya,
walaupun seringkali timbul konflik dengan istri dan anaknya, itu membuat mereka semakin kompak dan bahagia,
dengan segala permasalahan yang dihadapi.

Marge Simpson, tipikal ibu yang cerdas, berkebalikan dengan suaminya. Marge ini punya kesabaran tingkat tinggi,
berikut kemampuan untuk berpikir logis dan komprehensif. Marge juga, adalah satu- satunya sosok yang dihormati
oleh tipikal anak lelaki pemberontak nomor wahid, Bart Simpson, si putra pertama. Bart Simpson, menjadi simbol
anak lelaki hiperaktif yang cerdas, kritis, sekaligus anarkis. Menjadi anak bandel nomor satu di sekolahnya,
kerapkali dihukum karena ketidakpeduliannya dengan yang namanya otoritas dan aturan institusi. Lisa Simpson,
adik pertama Bart, justru mirip dengan ibunya yang pintar. Lisa sangat feminim, tipikal calon wanita karir
independen, yang kritis, serta berpola pikir ala aktivis heroik. Bart yang cerdas- anarkis, dan Lisa yang pintar- taat
aturan, seringkali berkelahi dengan komikal, ditambah Homer yang turun tangan, untuk menambah masalah jadi
tambah runyam, dan diakhiri dengan Marge yang mendamaikan semua.

Keseharian Keluarga Simpson ini, seringkali bertemakan muatan- muatan kritis yang reflektif,sekaligus menuntut
kesigapan mengikuti informasi terbaru, untuk bisa ikut tertawa dengan humor- humor satiris yang dilontarkan, oleh
Homer biasanya. Tentang sistem pajak, asuransi, pendidikan, upah buruh, transportasi, militer, kebodohan politisi
yang narsis, dan banyak hal lain. Menarik, karena sudut pandang yang diambil adalah : Keluarga kecil. Dalam
perbincangan media arus kuat, seringkali tingkah laku politisi membuat undang- undang, birokrat yang juga
pemalas, pebisnis rakus bermain dengan klik politik, guru yang tidak pantas diteladani, seolah- olah tidak terhubung
dengan kehidupan pribadi pembacanya. Disadari atau tidak, setiap perubahan sosial, dipicu dari sisi manapun itu,
apakah di kalangan warga negara, atau pemerintahan negara, sedikit banyak, serpihan- serpihannya akan
memberikan akibat pada lingkar terkecil sebuah komunitas negara : keluarga.

Di sini, Indonesia, mungkin bisa disebutkan beberapa karya yang punya muatan anarkis, semisal Panji Koming,
dengan tokoh Panji yang memiliki karakter lugu dan agak peragu, kekasihnya Ni Woro Ciblon yang cantik, pendiam
dan [Link] setia bernama Pailul yang agak konyol namun lebih terbuka dan berani bertinda, kekasih Pailul, Ni
Dyah Gembili, perempuan montok yang selalu bicara terus terang. Terkadang muncul tokoh Mbah, seorang ahli
nujum yang sering ditanya mengenai masalah-masalah spiritual, serta punya penerawangan fotografis ke masa
depan, serta seekor anjing buduk yang dijuluki ―Kirik‖. Atau, kalau yang sempat mengoleksi kompilasi sketsa
[Link] Kayam ( Alm),pasti akrab dengan tokoh Pak Ageng ( yang juga bentuk personifikasi dari Umar Kayam
sendiri), Bu Ageng, serta kabinet dapurnya, Mister Rigen, Missis Nansiyem, serta stafnya Beni Prakosa. Keluarga
hangat di kota pendidikan ( digambarkan Jogja), dengan segala kesehariannya yang penuh warna, serta sarat dengan
muatan falsafah kejawaan. Kalau dalam bentuk sinema berseri, dulu pernah ada Keluarga Cemara yang sempat
menjadi hit, walau sekejap.

George Orwell pernah mengatakan bahwa bentuk novel adalah yang ―paling anarkis‖ dalam kesusastraan. Orwell
benar, sepanjang sifat ―anarkis‖ itu diartikan penampikan novel kepada segala yang ortodoks dan mengekang.
Tetapi pada sisi lain, novel-seperti yang ditulis oleh Orwell terutama novel sejarah itu-mempunyai dorongan yang
dekat dengan kehendak ―mengetahui‖. Dan ―mengetahui‖ bukanlah sesuatu yang bisa terjadi dengan anarki;
mengetahui adalah proses yang tertib. Novel, cergam ( komik), esai, kartun, dengan media publik yang masif,
menjadi alat untuk menghorizontalkan entitas abstrak bernama ‖ otoritas kekuasaan‖. Anarkisme, dalam
perkembangannya tumbuh menjadi bentuk gerakan sosial politik dan pemikiran filsafat yang menyatakan bahwa
semua bentuk negara, pemerintahan dan kekuasaan adalah buruk dan oleh karena itu harus ditolak dan dihancurkan.

Bentuk sastra klasik, semacam Mahabarata, Ksatria Meja Bundar Arthur, atau Beowulf, yang istanasentris, tidak
memberikan tempat ke rakyat biasa, tanpa embel- embel kedigdayaan sakti mandraguna, atau label keningratan,
semacam Homer Simpson, atau Panji Koming. Tanpa berpihak ke genre manapun, namun sastra, komik, atau kartun
sekalipun, sebenarnya adalah manifestasi dari wajah sosiokultural, dari masyarakat yang menjadi modelnya.

Harus diakui tidak sedikit manusia di dunia justru menjadi lebih humanis karena inspirasi pemikiran kaum anarkis.
Kekuasaan bukan lagi barang konkret yang sakral dan anti kritik, mitos orang kuat juga semakin sirna, berikut
semakin horizontalnya jarak kekuasaan, antara pemerintah, dengan warga negaranya. Bagaimanapun, pemikiran
[Link]

semacam ini, harus diimbangi dengan sikap tanggung jawab yang mumpuni, kenapa ? Karena otoritas, yang pada
awalnya untuk membangun sebuah peradaban, adalah bertujuan untuk membangun keteraturan antar hubungan
manusia, yang sarat dengan benturan antara kepentingan privat ( pribadi), dan publik ( umum). Sikap anarki tanpa
adanya kepentingan untuk membangun peradaban, tanpa ada tanggung jawab solidaritas sosial, justru akan
menimbulkan kekacauan di sisi yang lainnya, dan itu nampaknya bukan pilihan yang bijak pula.

Obrolan di warung kopi, forum maya bebas 2.0 semacam Politikana, mungkin terlihat hangat- hangat tahi ayam,
yang bagi sebagian ―manusia bersemangat‖, terlihat tidak heroik, tidak konkret, tidak revolusioner, dalam artian
dalam waktu pendek, secara serta merta, menimbulkan dentuman besar sosial, ―meruntuhkan‖ oligarki yang
dominan. Okelah, mungkin saya juga bukan termasuk ―manusia bersemangat‖ semacam itu, namun dalam skala
tertentu, dan dalam dimensi ruang waktu tertentu, setiap bahan obrolan, dalam bentuk lontaran serius penuh data,
sarkastis yang menyebalkan ( dan terlihat seksi karena nampak ―cerdas‖), atau humor ringan yang bermuatan satir,
ada serpihan ide yang tersebar, ada resonansi intelektual yang terproduksi ulang di benak manusia yang berada di
dalam lingkaran itu, entah seberapa besar serpihan itu terbentuk, namun sudah terjadi reproduksi ide, itu intinya.

Yah, apapun itu, dengan teknologi informasi yang ada sekarang, ada baiknya dimanfaatkan untuk berbagi
pemikiran, bentuk lain dari sikap beramal, hitung- hitung saling menasehati, karena walaupun ―cuma‖ lontaran
lelucon ringan, bisa jadi yang ―cuma ringan‖ itu, bisa memberi inspirasi manusia di sekelilingnya, untuk lebih
mawas diri dan sadar kritis, pelan tapi pasti, dan menyenangkan….

Ya, begitulah….

Menyitir lagi pendapat dari tokoh ―anarkis‖ yang mengedepankan langkah tanpa kekerasan, Mohandas Karamchand
Gandhi :

If one has no affection for a person or a system, one should feel free to
give the fullest expression to his disaffection so long as he does not
contemplate, promote, or incite violence.
Written by Maximillian
Posted in soul
Tagged with anarkisme komikal, kelas menengah, Keluarga Simpson, minum kopi, sastra egaliter, strata sosial

MITOS ORANG KUAT______________


A government big enough to give you everything you want is a
government big enough to take from you everything you have. ( Gerald
Ford)
If the government becomes a law-breaker, it breeds contempt for the
law. It invites every man to become a law unto himself. It invites
anarchy. ( Louis Brandeis, Hakim Agung AS)
“Do you know who is responsible?” “Why of course, it‟s the
government!” “Jill, „the government‟ is several million people.” (
Robert A Heinlein)
[Link]

I de tentang kekuasaan, dalam historiografi kerajaan-


kerajaan di kepulauan nusantara masa lalu, adalah
sesuatu hal yang konkret. Istilah ―darah biru‖ dan
―manusia kuat‖, adalah komoditas, yang seolah
menjadi pembenaran tak tertulis, selama beberapa
abad, yang digunakan oleh sebagian kecil manusia,
untuk mengklaim kekuasaan, atas sebagian besar
manusia lain, dalam format yang disebut dengan
negara dinasti.

Tidak heran, maka para penguasa, yang bergelar raja itu, selalu berusaha mengait-ngaitkan dirinya, dengan raja- raja
dari kerajaan yang sudah pernah ada sebelumnya. Selalu ada usaha- usaha pembenaran, untuk melegitimasi, bahwa
kursi kekuasaan yang diduduki, merupakan hak tak terbantahkan, salah satunya adalah mengklaim, bahwa dirinya
adalah keturunan penguasa. Dan, karena ide bahwa kekuasaan itu konkret, juga sudah mendarah daging dalam akal
budi manusia di nusantara, maka semakin lestarilah yang disebut dengan mitos ―manusia kuat‖, ―pemimpin
kharismatik‖, atau ―ratu adil‖ itu.

Apakah Anda berpikir bahwa manakala Republik Indonesia, dinyatakan berdiri di Kepulauan Nusantara, dengan
format negara-bangsa, maka mitos manusia kuat, yang berbau negara dinasti, akan serta merta hilang ? Oh, tentu
tidak. Bahkan, boleh saya bilang, bahwa semenjak Orde Lama, dilanjutkan sampai ke Orde Baru, terbentuk
semacam usaha- usaha pembentukan mitologi baru, bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia, adalah pelanjut
dari ―kerajaan nasional‖ yang sudah pernah ada sebelumnya, Majapahit dan Sriwijaya. Dan inipun, otentisitas data
sejarahnya masih harus digali lagi lebih dalam. Seolah- olah, nasionalisme Indonesia berdiri karena adanya
kesamaan sejarah, yang justru ini menjadi legitimasi budaya lamanya bercokol Presiden Sukarno, pada masa Orde
Lama, dan Presiden Suharto, pada masa Orde Baru.

Terminologi ―pusat kekuasaan‖, juga adalah frase yang sangat populer semasa pemerintahan Orde Lama, berikut
Orde Baru. Dikotomi ―pusat‖ dan ―daerah‖, sebenarnya adalah lazim, jika kita hidup pada masa sistem administrasi
publiknya, adalah negara dinasti, dimana rentang jarak kekuatan antara ―penguasa‖ dan ―rakyat‖nya, sangat
dipengaruhi oleh seberapa jauh letak geografisnya, dengan kediaman sang penguasa. Namun, dengan format negara-
bangsa, yang dibentukkan ke NKRI, seharusnya tidak semacam itu, ada terminologi ―pemerintah negara‖ dan
―warga negara‖, dalam lembaga yang bernama ―negara‖. Dimana dalam negara bangsa ini, batas- batas geopolitik
sebuah peradaban, ditentukan dengan tegas, berikut jarak kekuasaan dan distribusi keadilan sosial, tidak dipengaruhi
oleh letak geografis antara ―warga negara‖ dengan ―pemerintah negara‖.

Saya tidak ingin menyalahkan pemerintahan Orde Lama, maupun Orde Baru, atas lambatnya transformasi perspektif
tentang kekuasaan ini, dalam akal budi kolektif manusia Indonesia. Sekarang, dengan keadaan masih kuatnya mitos
orang kuat di benak kolektif manusia Indonesia, derasnya arus informasi dari luar, distribusi keadilan sosial yang
masih dalam taraf proses perbaikan pasca Orde Baru, dan serangkaian masalah dalam birokrasi pemerintah negara
sendiri, maka memahamkan diri secara kolektif, tentang peran dan posisi warga negara, dalam lembaga berformat
negara bangsa, semacam Indonesia ini, adalah kerja kolektif yang penting dan mendesak.

Saya ingin menyoroti tentang operasional sistem administrasi publik, yang menjadi peran- posisi pemerintah negara
kita, masih banyak masalah yang harus dibenahi di dalamnya. Pegawai Departemen Pendidikan Nasional (selain
[Link]

guru) jumlahnya lebih dari 200 ribu orang, Pegawai Departemen Agama jumlahnnya sekitar 180 ribu orang, apakah
aset SDM bernama PNS ini efektif menjalankan fungsionalitasnya dalam sistem operasi pemerintahan negara ?
Anggaran tahun 2009 untuk Depdiknas mencapai Rp 51 triliun—-terbesar di antara departemen teknis lainnya.
Sementara anggaran untuk Depag mencapai Rp 20 triliun—-sedikit di bawah kepolisian (Rp 25 triliun), namun di
atas Departemen Kesehatan (19 triliun), Departemen Perhubungan (Rp 16 triliun), dan Departemen Keuangan (Rp
15 triliun).

Saat ini, Depag dan Depdiknas menduduki peringkat atas lembaga terkorup, selain Kejaksaan dan Kepolisian. Maka,
salahkah kalau kita berpendapat bahwa rakyat membiayai sistem operasi penyelenggaraan negara terlalu boros?
Sebagian besar PNS pendidikannya SMA (35%) , yang Sarjana hanya 28,9%. PNS bergelar S2 dan S3 hanya 2,5%
dan 0,2% saja. Artinya, selain jumlahnya besar, kualitasnya pun masih perlu dipertanyakan. Terlebih lagi, ongkos
yang dikeluarkan untuk menggaji mereka begitu mahal—-lebih dari Rp 100 triliun per tahun.

Bukan apa- apa sih, tetapi jika pemerintah negara, yang peran dan posisinya adalah pengendali sistem administrasi
publik, berikut pemegang peran tunggal untuk distribusi keadilan sosial, dalam sebuah lembaga bernama negara,
ternyata komponen- komponen di dalamnya tidak bisa bekerja optimal, bahkan cenderung rusak parah, lalu apa yang
bisa diharapkan oleh warga negara, terhadap pemerintahnya sendiri ? Karena ini akan sangat berpengaruh terhadap
keberlangsungan lembaga bernama negara tersebut kedepannya, jika tidak ingin terjerumus ke ―negara gagal‖.

Menantikan sosok ―pemimpin kharismatik‖, ―orang kuat‖, atau ―ratu adil‖, mungkin saya bisa kategorikan sebagai
patologi sosial yang sebaiknya kita obati segera. Itu sama saja dengan berangan- angan di tengah masalah aktual
yang dihadapi sekarang. Dan misalnya ya, ternyata nih, sosok manusia yang sakti mandraguna, kharismatik, dan (
mungkin) masih keturunan Gajah Mada atau tokoh digdaya lain semacam Ki Ageng Selo, yang bisa menangkap
petir itu, benar- benar muncul, bisa dengan hebatnya menyelesaikan semua masalah yang kita hadapi sekarang,
sekejap, sendirian saja, lalu apa reaksi kita selanjutnya ? Apakah ini tidak lain hanyalah melahirkan lagi sosok tiran
baru, semacam yang sebelum- sebelumnya, dan ini berarti cari penyakit ! Kekuasaan itu legit soalnya, juga
cenderung korup, dan harus kita sadari bahwa kita juga manusia biasa, bukan malaikat.

Saya sendiri juga belum mendapat datanya, apakah tingkat literasi yang sudah sampai 92,5 %, di kalangan warga
negara Indonesia, juga berkorelasi positif terhadap minat baca ? Yang berarti berkontribusi positif terhadap tingkat
kemampuan logika dan sistem kognitifnya. Karena yang menyuburkan mitos orang kuat itu, ternyata kita- kita juga,
atau setidaknya kawan, saudara, tetangga sebelah kita. Mitos orang kuat ini, yang berulang kali menjadi
pembenaran, bahwa kekuasaan sebagian kecil manusia, terhadap manusia lain, adalah konkret. Ini secara kultural,
bertubrukan dengan konsepsi negara bangsa, yang selama ini sudah berjalan.

Yah, sebaiknya, sebagai warga negara, kita mulai sadar diri, akan peran dan posisi kita, dalam lembaga bernama
negara ini. Berikut, mengingatkan pemerintah negara, tentang peran dan posisinya. Walaupun ini terlihat klise,
namun percayalah, dengan keadaaan kolektif kita saat ini, kalau pekerjaan ini segera terlaksana, maka akan banyak
masalah yang bisa terselesaikan.

Written by Maximillian
Posted in rational
Tagged with despot, kekuasaan, kepemimpinan, negara bangsa, negara dinasti, orang kuat, tiran
[Link]

TRUTH___________________________________
Truths are not relative. What are relative are opinions about truth
Human kill each other to fight for our opinions of truth
We will confirm our opinions by meeting the absolute truth, we don’t really know when it will come to each of us
Just don’t kill your opponent to win your opinions
Homicide and genocide are hazardous for your own health, trust me, it can erase your own life and others

Written by Maximillian
Posted in soul
Tagged with Absolute Truth, Judgment Day, Relativity, TRUTH

eAvatar Aang dan Negara Fantasi_____________


…. Finally, [the nation] is imagined as a community, because,
regardless of the actual inequality and exploitation that may prevail in
each, the nation is conceived as a deep, horizontal comradeship.
Ultimately, it is this fraternity that makes it possible, over the past two
centuries for so many millions of people, not so much to kill, as willing
to die for such limited imaginings.”
— Benedict Anderson

Pernah meluangkan waktu sejenak untuk menonton


film Avatar, The Legend of Aang, bersama anak,
keponakan, atau keluarga ? Mungkin banyak yang
meremehkan film tersebut, yang segmentasinya untuk anak
dan remaja, sehingga terkesan tidaklah terlalu kompleks,
serius, dan aktual. Namun, anak- anak dan remaja tentunya
belajar dari apa yang mereka bisa lihat, baca, dan
diskusikan dengan lingkungan terdekat mereka, keluarga
Dan slogan bahwa mereka adalah masa depan bangsa,
kenapa kita tidak coba dari cara termudah, untuk
mendewasakan mereka ? Baiklah, terkhusus untuk warga
Politikana, mari kita amati apa yang bisa kita gunakan dari
film tersebut, untuk menjadi bahan diskusi menarik, seputar konsep kenegaraan, budaya peradaban, politik
internasional, dan ditarik ke keadaan aktual kita, sebagai warga negara di negara bangsa, bernama Indonesia.
Michael Dante diMartino dan Bryan Konietzko, menggunakan setting dunia fantasi, yang terbagi dalam empat
peradaban, yaitu Negara Api ( Fire Nation), Kerajaan Tanah ( Earth Kingdom), Suku Air ( Water Tribe), dan
Pengelana Udara ( Air Nomad). Dari namanya, Anda pasti sudah bisa menebak bukan, bahwa tingkat komplektitas
peradaban keempat komunitas tersebut, terutama dari administrasi publiknya, berbeda ? Baiklah, mari kita bahas
satu persatu disini :
[Link]

Negara Api ( Fire Nation)


Sebuah peradaban, yang manusianya memiliki kompetensi individu untuk mengendalikan api ( Firebending). Sistem
administrasi publiknya, adalah yang paling kompleks diantara ketiga peradaban yang lain. Sistem pertahanan
keamanan dan militernya, juga tertata dengan hirarki yang ketat dan rapi. Sistem pendidikannya, menggunakan
sistem kelas, yang kurikulumnya dikendalikan oleh pemerintah.

Mereka memadukan antara konsep negara dinasti dengan negara bangsa, karena penguasanya masih berdasarkan
pada genetik ( keturunan), mungkin kalau di keadaan aktual, Negara Api ini mirip dengan Britania Raya. Budaya
industrinya, yang paling maju diantara ketiga negara yang lain. Nampak sekali bahwa otomasi sudah berjalan
dengan baik, dan tahapan industrinya sudah meliputi industri primer sampai tersier, pusat kota adalah wahana pusat
bisnis servis. Perpaduan antara teknologi tinggi dan organisasi militer yang rapi, membuat kekuatan kolektif Negara
Api menjadi yang paling dominan, diantara tiga peradaban yang lain.

Jurus yang digunakan oleh militer Negara Api, menggunakan gerakan- gerakan dasar seni beladiri Kung Fu Shaolin
Utara, yang karakternya cenderung agresif.

Kerajaan Tanah ( Earth Kingdom)

Sebuah peradaban, yang manusianya memiliki kompetensi individu untuk mengendalikan tanah ( Earthbending).
Sistem administrasi publiknya, lebih sederhana dibandingkan Negara Api, namun lebih kompleks dibandingkan
Suku Air ( Water Tribe) dan Pengelana Udara ( Air Nomad). Sistem pendidikannya masih eksklusif, anak- anak
yang dilahirkan di keluarga aristokrat, bisa mendapatkan fasilitas guru privat, yang menjadikan kompetensi dan
pengetahuan terbatas, hanya pada beberapa kelompok kecil elit.
Di Kerajaan Tanah ini, nampaknya diperintah oleh raja yang lemah dan kekanak- kanakan, sehingga begitu mudah
disusupi oleh kekuatan- kekuatan politik dari Negara Api. Budaya ekonominya juga belumlah sekompleks Negara
Api, tebakan saya, mereka masih berkutat di Industri primer ( bahan baku), dan sedikit yang Industri sekunder (
pengolahan). Militer yang dimiliki oleh Kerajaan Tanah, sudah memiliki sistem administrasi yang rapi dan hirarki
yang ketat, yang jelas membedakan tingkat kemajuannya dengan Negara Api adalah, penggunaan senjatanya yang
jauh tertinggal dari segi teknologi. Dan kelemahan inilah yang menjadi titik lemah militer Kerajaan Tanah, ketika
militer Negara Api sudah sampai di pintu gerbang ibukota mereka, Ba Sing Se. Militer Kerajaan Tanah kalah.

Jurus yang digunakan oleh militer Kerajaan Tanah, menggunakan gerakan- gerakan dasar seni beladiri Kung Fu
Hung Ga, yang karakternya cenderung defensif.

Suku Air ( Water Tribe)


Sebuah peradaban, yang manusianya memiliki kompetensi individu untuk mengendalikan air ( Waterbending).
Sistem administrasi publiknya, lebih sederhana dibandingkan Negara Api dan Kerajaan Tanah, namun lebih
kompleks dibandingkan Pengelana Udara. Mereka juga diperintah oleh Kepala Suku, yang secara garis besar terbagi
menjadi dua, Suku Air Utara, dan Suku Air Selatan.

Sistem pendidikannya, masih elitis, belum ada sistem kelas, sehingga kompetensi dan pengetahuannya tidak
terdistribusi merata. Militer mereka, tidak terorganisir sebaik Kerajaan Tanah, apalagi Negara Api. Sehingga mudah
untuk dikalahkan satuan marinir dari Negara Api saat diserbu. Tidak terlalu jelas, bagaimana sistem ekonominya,
namun nampak bisa ditebak, bahwa budaya industrinya belum terbentuk.

Jurus yang digunakan oleh militer Suku Air, menggunakan gerakan- gerakan dasar seni beladiri Tai Chi, yang
karakternya halus dan mengutamakan harmoni kekuatan- kelembutan.
[Link]

Pengelana Udara ( Air Nomad)


Sebuah peradaban, yang manusianya memiliki kompetensi individu untuk mengendalikan udara ( Airbending).
Tidak ada sistem administrasi terpusat, yang mengatur kepentingan kolektif. Keberadaan mereka juga tidak
menetap, masih suka nomaden ( berpindah- pindah). Tidak memiliki sistem ekonomi terpusat, dan tidak memiliki
tenaga militer khusus.

Peradaban inilah yang dengan kejam dibunuh oleh militer Negara Api, karena memang paling kecil peluangnya
untuk bisa melawan dengan kekuatan setara, selain itu, mereka juga cendrung pasifis.

Jurus yang digunakan oleh warga Pengelana Udara, menggunakan gerakan- gerakan dasar seni beladiri Baguazhang,
yang lincah dan cenderung menghindari konflik terbuka.

Bahan Diskusi
Bentuk transformasi komunitas manusia, semenjak Homo sapiens eksis di Planet Bumi, dimulai dari Benua Afrika,
lalu keluar ke area Timur Tengah, dan menyebar ke benua lain, menarik untuk dicermati. Dari fase berburu dan
meramu, hingga menetap dan bertani. Dari yang sistem administrasinya kecil, berbasis kelompok suku, hingga ke
negara dinasti, dan saat ini bertransformasi lagi ke negara bangsa. Tentunya, di dalam komunitas- komunias manusia
tersebut, terjadi konsensus- konsensus, yang membentuk segala kompleksitas sistem dan budayanya.

DiMartino dan Konietzko, nampaknya sengaja menggabungkan bentuk sistem administrasi publik, yang dalam
sejarahnya selalu bertransformasi tiap termin waktu itu, ke dalam satu momen waktu yang sama. Dari situ, kita bisa
ajak diskusi anak- anak, dan remaja, untuk membuka wacana, beda antara negara dinasti dan negara bangsa, beda
antara sistem kelas dengan pendidikan privat, dan lain lain.

Ini menarik, karena sebenarnya, konsep negara bangsa sendiri belumlah lama dicetuskan, itu kalau kita merujuk ke
Revolusi Perancis, 1799, yang berarti kalau dihitung baru sekitar 3 abad lebih sedikit. Konsep negara bangsa, yang
masih baru ini, dengan segala modifikasinya, dengan konsep pemerintah negara dan warga negara, tentunya berbeda
dengan negara dinasti, yang membedakan antara rakyat dengan penguasa. Saya memahami bahwa ini adalah materi
yang kompleks dan rumit, namun, kalau dengan media film, bukankah akan lebih meringankan ?

Mungkin, bisa dicoba ? Mari…….explicit c

asually
Written by Maximillian
Posted in rational
Tagged with administrasi negara, avatar the legend of aang, negara bangsa, negara dinasti, peradaban

Wake Up Boys !!!__________________________


Tidak selembar daunpun yang jatuh, kecuali Tuhan tahu.

Bahkan, pembantaian di Baghdad, Armenia, Nanking, Auchswitch, Kamboja, Srebrenica, Jenin, kelaparan di
Ethiopia, atau pengangguran di Indonesia, semua itu terjadi, Dia pasti juga tahu.

Kenapa kau begitu lemah untuk mencegah sekelompok manusia membantai kelompok manusia lain, atau mengatur
distribusi kesejahteraan, atau buka lapangan kerja baru ?

Salahkanlah kelemahanmu itu ! Jangan merengek- rengek dan jangan salahkan Tuhan !
[Link]

Gunakan otakmu ! Pakai ototmu ! Kotori tanganmu ! Itulah iman, kataku.

Inspired by : Q.S 6; 59 & 13;11

Written by Maximillian
Posted in soul
Tagged with boys, knighthood, scout, Tambahkan tag baru

EKONOMI PENGETAHUAN________________
Saya kira, ke depan kita tak bisa hanya hidup dari produk yang
primitif dan pasar yang primitif….Untuk itu, wiraswasta harus
mengadopsi teknologi dari luar untuk keperluan lokal. Sebuah proses
yang disebutnya self-discovery….Inovasi membutuhkan
pembiayaan….Untuk melakukan eksperimen dengan produk baru
dibutuhkan insentif….( [Link] Basri, Ekspor yang Primitif)

Sukses riset bisa diukur dari tiga hal : Sukses secara akademik karena
makalah yang dihasilkan dikutip; berpotensi ekonomis atau
komersial; dan memberi manfaat kepada masyarakat. ( Menteri
Negara Riset dan Teknologi RI, Kusmayanto Kadiman, di depan Sidang
Paripurna Dewan Riset Nasional)

A university is a house of learning. It is a lighthouse and the same


time functions as the conscience of the nation. It provides the stage for
the young and old to be enganged in a great and exciting adventure of
ideas. A university generates and produces knowledge besides
educated people. A corporate produces goods or services through
knowledge based activities ( M.T. Zen. Guru Besar Institut Teknologi
Bandung)
[Link]

F avoritisme jurusan yang dipilih oleh siswa


SMU, ketika memilih disiplin ilmu di
universitas, terkena imbas kuat dari jumlah
tarikan lapangan kerja dan kondisi pasar tenaga
kerja. Jurusan favorit, adalah jurusan yang
prospektif untuk urusan karir profesional pasca
kuliah, yang dalam artian jangka panjang, adalah
menjadi kendaraan untuk melakukan mobilitas
vertikal, peningkatan status sosial di
masyarakatnya.

Pilihan manusia muda terdidik formal, untuk


melakukan mobilitas vertikal, di negara Indonesia, memang tidaklah terlalu banyak, menjadi profesional di
perusahaan swasta ( diusahakan yang multinasional, seperti kompeni VOC), menjadi PNS ( dan berharap bisa
makan gaji buta sambil cari obyekan), masuk ke partai politik ( kalau beruntung bisa cari sabetan proyek dan
tadahan korupsi lain), atau buat sedikit anak muda, bikin perusahaan sendiri, dengan konsekuensi logis, berhadapan
dengan kondisi makroekonomi payah, peta kompetisi pasar yang tidak jelas, yang itu artinya, pengetahuan di PTN
jelas tidak cukup untuk menghadapinya, dibutuhkan nyali lebih, kecerdasan lebih, kemampuan organisasi lebih,
serta pastinya, agak sinting, untuk mengambil pilihan ini. Atau, pilihan lain lagi, lari ke luar negeri,
untuk mengambil gelar master sampai doktor, lumayan bisa jalan- jalan ( pasang foto di jejaring sosial maya), kalau
beruntung, bisa ikut proyek riset dosen, dan berharap nanti ditawari posisi lebih enak kalau balik lagi ke Indonesia.

Beberapa pihak mengritik lembaga pendidikan tinggi formal, yang nampaknya berubah menjadi pabrik manusia,
untuk menyuplai kebutuhan tenaga kompeten, yang akan menjadi mesin produktivitas segar, dalam menunjang
profitabilitas perusahaan. Beberapa pihak lagi, menggiatkan terbentuknya lembaga- lembaga yang memang sengaja
―mempersiapkan‖ tenaga manusia siap pakai dan siap kerja, bagi kebutuhan sektor privat, bahkan itu yang dijadikan
nilai jual lembaga pendidikan tinggi tertentu. Saya sendiri kurang tahu, apakah pihak- pihak yang gemar bertengkar,
dan mengemukakan argumen canggih serta seksi di media itu, pernah duduk bersama untuk minum kopi, dan
menggali cara untuk mencari solusi yang lebih aplikatif dan membumi.

Pemerintah pasca reformasi 1998, yang diserahi tugas oleh rakyat, untuk menjadi administratur sebuah negara
bernama Indonesia, juga masih coba- coba dengan konsep- konsep baru, yang nampak terlihat trial and error. Setiap
ganti pemerintahan, ada saja yang berubah, perubahannya cukup signifikan, dan itu mahal, kalau kita lihat
ongkosnya. Saya tidak ingin menjadi romantis, dengan kilas balik sistem pemerintahan Orde Baru, tapi evaluasi itu
penting dan [Link] instrumen PELITA ( Pembangunan Lima Tahun), dan GBHN, yang secara
dokumentasi bisa diukur, untuk kemudian dievaluasi dan dikembangkan lagi. Untuk ukuran sebuah negara, dengan
manusia penghuninya sekitar 231 juta, dan 70%-nya adalah usia produktif ( 15- 64 tahun), mencerdaskan mereka (
kita), dan membuat potensi produktivitas tersebut berdaya guna, serta bisa meningkatkan kesejahteraan kolektif,
tentunya bukan tugas yang mudah buat pemerintah, jika mereka menyadari konsekuensi posisi ini tentunya.

Pendapat pendek M. Chatib Basri, MT. Zen, dan Kusmayanto Kadiman di atas, nampak jelas mengandung benang
merah kuat. Namun, penyelesaian di lapangan sungguh sangat jelas ketidakjelasannya. Apa pasal ? Aktivitas
ekonomi mikro ( perusahaan), yang akumulasinya akan menjadi parameter ekonomi makro, ditunjang sepenuhnya
oleh budaya manusia yang menjalankan, aspek budaya adalah aspek abstrak yang signifikan. Dan Anda pasti paham,
instrumen untuk membangun budaya bukan ? Ya, itulah hakekat lembaga pendidikan, untuk membangun manusia
[Link]

berbudaya. Mungkin Chatib Basri berharap bahwa, manusia Indonesia mampu mengolah bahan mentah di tanahnya,
dan diekspor, sehingga bisa meningkatkan nilai ekonominya. Mungkin MT. Zen berharap bahwa, sistem organik
dalam lembaga universitas, mampu menghasilkan ide- ide baru, yang salah satu efeknya adalah, menambah nilai
mentah bahan baku menjadi punya nilai fungsional lebih ( dan nilai ekonomi lebih tentunya). Mungkin Kusmayanto
juga berharap bahwa, manusia yang punya ide, manusia yang punya dana, manusia yang bisa berdagang, bisa
bekerjasama untuk membuat ide- ide brilian tidak berakhir di perpustakaan, berdebu tanpa pernah dibaca lagi.

Tapi, harapan- harapan di atas nampaknya cukup nangkring di media, menjadi komoditas romantis yang membuai
mimpi, lalu hilang keesokan harinya, karena berhadapan lagi dengan masalah yang nyata di depan mata.

Okelah, nampaknya, masalah tidak akan berhenti kalau kita saling menyalahkan, apalagi menyalahkan pemerintah,
karena nampaknya pemerintah juga masih belum sadar, bagaimana jalan yang benar. Tentunya kurang bijak
menyalahkan pihak yang sudah terbiasa menganggap yang salah itu benar, karena dianggap sudah biasa.
Dekomposisi pertumbuhan ekspor dari tahun 1990 hingga 2008 menunjukkan sebagian besar peningkatan ekspor
Indonesia dalam 18 tahun terakhir didorong oleh produk yang sama yang dijual ke pasar yang sama. Kalau saya
boleh tambahkan, mungkin tidak terlalu berubah juga sejak perusahaan multinasional pertama di dunia, bernama
VOC, mengajak ―berdagang‖ beberapa kerajaan di nusantara. Tentunya VOC mengajak ―berdagang‖ bukan tanpa
alasan bukan ? Karena tanah di nusantara punya bahan mentah yang layak jual (dan manusianya tidak paham nilai
jual bahan mentah di kebunnya sendiri).

Pendeknya, karakter industri di Indonesia didominasi industri primer ( bahan mentah), dan industri sekunder (
pengolahan bahan mentah ke bahan baku). Kalau Anda bertanya, lalu kenapa kita tidak mengolahnya lagi, maka
jawabannya adalah : Kalau dengan menjual bahan mentah dan bahan baku saya sudah bisa kaya, apalagi yang saya
cari. Menjual bahan jadi, apalagi bermerek, membutuhkan proses bisnis kompleks, pemasaran canggih, dan pola
kendali distribusi yang rumit. Nampaknya, kecukupan rasa menjadi kaya sudah menjebak beberapa pelaku usaha,
tanpa berusaha untuk mengembangkan lagi.

Kalaulah mau belajar dari pola proses yang dilakukan oleh masyarakat ekonomi Jerman, Jepang, atau Korea, maka
membangun karakter ekonomi, seperti yang dimaksudkan oleh Chatib Basri dan Kusmayanto Kadiman di atas,
membutuhkan proses transformasi sosial yang lama, dan detail tentunya. Proses itu juga sedang dijalani oleh negara
ekonomi baru, Brazil, India, dan Cina. Untuk membangun industri tersier ( servis) dan industri kuartener (
informasi- pengetahuan), maka terlebih dahulu, kita harus mau bangun budaya ekonomi yang beretika, mau
melakukan valuasi ekonomi atas ide di lab riset kita, mau mengendus potensi kerjasama yang kuat antar disiplin
ilmu, mau bergaul dengan masyarakat global dengan meminimalkan prasangka sempit, mau terjun langsung
menjadi pelaku pasar yang bisa memilih manusia berpengetahuan, mau menginvestasikan waktu dan konsentrasi
untuk menciptakan produk yang lebih punya nilai profit lebih ( dan disukai konsumen), mau bekerjasama sebagai
sesama warga negara…..

Oh iya, ngomong- ngomong, saya gunakan idiom ―kita‖, karena saya suka nasehat dari Eyang Thomas Jefferson,
bahwa sebuah semakin kecil peran pemerintah dalam urusan bernegara, maka semakin baguslah negara itu. Dalam
artian, rakyatnya memang mampu untuk mengorganisir diri, tanpa terlalu banyak campur tangan pemerintah. Dan
saya sih optimis, bahwa nampaknya, untuk saat ini, kita tidak bisa terlalu berharap ke pemerintah, jadi, untuk
kehidupan peradaban yang lebih baik, bagaimana kalau kita jadi lebih solider ? Mau minum kopi bersama,
Saudaraku ? Mari….

Written by Maximillian
Posted in rational
Tagged with ekonomi pengetahuan, ekonomi tersier, riset unggulan,universitas
[Link]

PEREMPUAN JAWA_______________________

P andangan pihak luar tentang posisi perempuan jawa,


beberapa feminis khususnya, sejauh literatur yang pernah
saya baca, cenderung peyoratif. Sebagai individu yang
dibesarkan dalam budaya jawa pasaran, perspektif internal
saya tentang perempuan memanglah kurang, jika
dibandingkan dengan yang saya dapatkan kemudian hari di
pergaulan dan buku. Masukan itu membuat saya mampu
sedikit banyak mendeteksi mana budaya jawa pasaran dan
ningrat, tengah dan pesisir, atau kompromis dan agresif.
Untuk lebih detail lagi, saya bisa membedakan mana
individu yang dibesarkan di pengaruh lingkaran dalam
Jogja- Solo- Semarang, dengan area Banyumas-
Pekalongan- Tegal- Cepu. Mulai dari aksen, kosakata, hingga cara untuk merespon ajakan berkonflik dan
kemampuan mengakomodasi resiko dalam perdagangan- bisnis.*

Lelaki jawa ( Jawa Tengah dan Jawa Timur khususnya), belum bisa dikatakan lelaki sebenarnya, jika belumlah
memiliki lima persyaratan yaitu : Wisma ( rumah), Kukila ( hobi khas), Curiga ( senjata/ posisi kuat), Turangga (
kendaraan pribadi), dan Garwa ( istri, aspek terakhir setelah empat sebelumnya didapatkan). Namun saya tidak
hendak membahas lelakinya, melainkan perempuan jawa, itupun dalam nuansa jawa pasaran, bukan ningrat, sesuai
latar belakang saya yang lahir dan dibesarkan di budaya jawa pasar.

Dalam prakteknya, nasib perempuan tidak sesimplifikatif yang digambarkan oleh media arus kuat , beberapa
literatur yang menggambarkan ideal perempuan khas jawa, semacam tulisan TS Raffles, di History of Java, kental
dengan nuansa visual, berikut kriteria ideal tentang sosok perempuan, juga mendalam dari segi fisik, saya curiga
bahwa penulisnya lelaki, yang memang cenderung maunya mereduksi sosok perempuan dari sisi fisik, selain itu
nuansa yang terbangun adalah nuansa ningrat, kebangsawanan, dan budaya [Link] memasuki lebih dalam
kawasan pusat perdagangan- kosmopolit di lingkaran Solo, Jogja, Pekalongan, atau kawasan pertanian- hutan di
Blora, Semarang, Gunungkidul ( Jogja), Cepu, kita akan melihat sosok- sosok perempuan yang kalau bisa
digambarkan sebagai pemegang peranan ekonomi signifikan, loyalitas tinggi dengan suami , daya tahan penderitaan
jangka panjang tinggi, emosi terkontrol, berusaha memahami (dan menjaga ) perasaan lawan bicara, mementingkan
harmoni, tidak suka berkonflik, kalem ( diam) sekaligus perasa, menjaga keutuhan institusi keluarga, dan yang
paling terlihat, tutur katanya halus, terutama buat yang mengerti struktur strata bahasa jawa tradisional, akan mampu
menangkapnya. Itu yang sedikitnya bisa saya tangkap dari perempuan di budaya jawa pasaran.

Disini, saya tidak mengambil Raden Ajeng Kartini sebagai contoh, melainkan Nyai Ontosoroh dan Siti Mariah. RA
Kartini kental bernuansa ningrat, yang saya tidak menutupi, memang kuat sekali budaya patriarkinya. Perempuan
hebat itu menembak sisi kritis yang menyebabkan perempuan lemah di sisi posisi publik kala itu, yaitu : Pendidikan.
Sosok Nyai Ontosoroh ( Tetralogi Pulau Buru, Pramoedya Ananta Toer) dan Siti Mariah ( Hikayat Siti Mariah, Haji
Mukti- diterbitkan berkala di harian Medan Prijaji milik Sarekat Islam oleh RM Tirto Adi Soerjo dan di terbitkan
kembali dengan editor Pramoedya Ananta Toer)** lebih dekat dan punya banyak irisan kesamaan dengan
perempuan jawa secara umum ( jawa pasaran) yang memposisikan diri untuk mengatur kebijakan keuangan rumah
tangga, pendidikan anak, dan penengah dalam konflik internal keluarga.
[Link]

Kalaupun kemudian ―dirasakan‖ kurangnya porsi pengambil kebijakan yang ―memihak‖ ke perempuan dalam ranah
publik, maka sisi yang harus menjadi solusi adalah : Pendidikan dan Kebijakan seputar Pendidikan. Saya juga
mengakui bahwa eksistensi budaya feodal- patriarkal punya artefak kuat di pulau jawa bagian selatan ke timur dan
semakin kuat nuansa egalitar di area utara- barat.***

Saya pribadi memandang bahwa pengetahuan adalah kekuatan, dan adalah hak perempuan untuk mendapatkan porsi
yang sama dengan lelaki. Dalam tema khusus perempuan jawa ini, dengan posisi seperti yang saya sebutkan di atas,
maka harapan kemampuan perempuan jawa berpendidikan tinggi, untuk menyelaraskan kearifan nilai budaya jawab
tersebut, dengan realitas dinamis zaman yang senantiasa berubah, akan mampu mendidik generasi penerus yang jauh
lebih berkualitas, tentunya.

Catatan tambahan :

* Untuk bisa mendapatkan gambaran lebih luas dan mendalam tentang realisme sosial jawa, saya sarankan untuk
mengkonsumsi karya tulisan padat bermutu yang disampaikan oleh Umar Kayam , Darmanto Jatman, dan Satjipto
Rahardjo .
** Hikayat Siti Mariah ini bernuansa kemajuan industri gula di Hindia Belanda yang mendominasi pasar
internasional saat itu, dan jawa adalah salah satu penghasil gula terbesar di Asia. Latar di Karesidenan Kedu dan
Banyumas pada tahun 1840- 1890, saat puncak hasil penerapan Cultuurstelsel, pasca Perang Diponegoro.
*** Gambaran budaya feodal dalam kultur internal universitas ini disampaikan oleh orang tua Dr. Sri Mulyani
Indrawati, keduanya adalah profesor- guru besar di Universitas Negeri Semarang ( UNNES), yang menyekolahkan
kesembilan putra- putrinya di universitas jawa bagian barat- utara ( UI dan ITB). Dr. Sri sendiri dalam pandangan
personal saya, dibalik kecerdasannya, dia menyimpan karakter perempuan jawa yang kuat dalam kepribadiannya,
terutama soal memegang rahasia internal pemerintah, dalam kasus Century dan kekerasan hatinya dalam kasus Pajak
Bakrie, yang saya prediksi masih banyak ―confidential file‖ tersimpan dipegangnya.

Tulisan ini beririsan dengan presentasi Kavita Ramdas , di TED

Written by Maximillian
Posted in rational
Tagged with feminisme, kecerdasan, keluarga, kemandirian, nyai ontosoroh,perempuan jawa, siti mariah, wanita jawa

Kedigdayaan Kolektif______________

Saya katakan pertahanan terbaik ( best defense) adalah keadilan


sosial ( social justice). Makin banyak orang terangkat dari
kemiskinan, makin banyak orang tidak tertarik pada radikalisme,
apakah sekuler apakah agama ( Juwono Sudarsono, Menteri
Pertahanan RI 2004- 2009)
[Link]

D engan luas wilayah geografis semacam


Indonesia, distribusi adalah permasalahan utama, maka
wajar jika Juwono bilang, kalau dia dikasih keluasan
mengatur anggaran, dia akan kembangkan pesawat
transpor, kapal transpor, dan kendaraan tempur
transpor, atau pendeknya, 70 persen masalah
pertahanan, adalah soal distribusi pengiriman logistik
maupun manusia.

Saya tidak akan bahas soal intelijen dan militer konvensional, dengan anggaran dan instrumen, berikut
bertebarannya pengguna telepon seluler dan internet, yang nampak dengan bebas menebar identitas, mengumpulkan
informasi, oleh pihak luar, nampak terlalu mudah di negara ini. Persekutuan pertahanan lima negara ( Five Power
Defence Arrangements /FPDA), yang melibatkan Inggris, Australia, Malaysia, Singapura, dan Selandia Baru,
membuat seolah- olah kekuatan militer konvensional Indonesia dikepung dari segala penjuru.
Merujuk ke pendapat Juwono, setidaknya untuk kekuatan esensial minimum, dengan wilayah kedaulatan seluas
Indonesia, dan rakyatnya yang 250 juta lebih nyawa, normalnya, dibutuhkan minimal anggaran 125 triliun, dan
anggaran kita saat ini di angka 42 triliun, 30% dari normal. Tidak heran jika setiap tahun, Indonesia kecolongan 196
triliun rupiah, karena pencurian ikan, penyelundupan, perompakan, dan pembalakan liar.

Peluang terjadinya invasi militer memang kecil, karena toh, tanpa diserang pun, kekayaan di kepulauan dan lautan
Indonesia bisa digarong, tanpa perlawanan berarti, selain itu perang konvensional juga butuh investasi besar, lihat
saja sudah berapa uang dikeluarkan oleh AS di Irak dan Afghanistan, walaupun saya yakin itu pasti balik modal dan
untung besar secara ekonomi buat AS.

Ada baiknya kita mulai menyadari bahwa yang wajib untuk menjaga kedaulatan Republik Indonesia bukan hanya
militer, tetapi juga sipil. Mungkin tidak harus ada wajib militer semacam IDF-nya Israel ( mulai 18 tahun, mereka 2
tahun ikut wajib militer), setidaknya kita mulai memahami bahwa aspek kejuangan juga dimiliki oleh masyarakat
sipil. Toh, walaupun demokrasi menginginkan supremasi sipil atas militer, namun kenyataan harian membuktikan,
bahwa pertahanan keamanan negara bukan masalah sepele, apalagi untuk negara dengan format geografis kepulauan
semacam Indonesia, distribusi kekuatan adalah mutlak perlu.

Kembali merujuk ke pendapat Juwono di atas, tentang keadilan sosial, yang berarti adalah kesamaan peluang bagi
setiap penduduk Indonesia untuk berusaha, dan meraih kelayakan hidup, mungkin inilah yang menjadi tugas besar
pemerintah RI. Itu berarti ke masalah efisiensi birokrasi, pemerataan infrastruktur, peluang pendidikan formal, dan
pengawasan kompetisi pasar.

Saya masih ingat dengan pernyataan beberapa TKI, yang nekat balik ke Malaysia lagi, walaupun disana dikejar-
kejar aparat. Mereka bilang, di Malaysia setidaknya ada kepastian penghasilan, walaupun kecil, tetapi mending
daripada di Indonesia. Begitu juga dengan rekomendasi hasil kongres Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia, di
Makasar, lima tahun lalu. Bahwa daya beli masyarakat Indonesia, secara umum, lemah, bukan hanya karena krisis
moneter, ada yang lebih fundamental lagi, yaitu kurangnya lapangan pekerjaan yang memadai.

Saya tidak hendak berharap juga kepada lulusan sarjana Indonesia, maupun yang pernah dikirim ke luar negeri,
untuk bisa membangun perusahaan sendiri ( dan bisa setidaknya, menyerap tenaga kerja), toh sebagian besar mereka
(kita) masuk pendidikan tinggi, karena memang berharap untuk menjadi instrumen mobilitas vertikal, mendapat gaji
layak dari perusahaan besar yang bisa menjamin hidup mereka di kemudian hari. Dan kurikulum pendidikan tinggi
memang terkena imbas tarikan pasar tenaga kerja, pendeknya, perguruan tinggi adalah penyuplai utama pasar tenaga
[Link]

kerja. Tidak bisa mengharapkan anak muda untuk mulai dari nol, itu bukan budaya manusia Indonesia, kata
sejarawan Belanda, JG Ballard. Gelar akademik nampaknya sudah menjadi status sosial tersendiri di Indonesia,
walaupun seringkali tidak punya karya apapun yang signifikan.

Kalau saya menggunakan instrumen interaksi budaya negara dengan budaya organisasinya Geert Hofstede, mungkin
dari sini kita bisa melakukan valuasi, dari mana kita sebaiknya membangun kedigdayaan bernegara secara kolektif.
Dari segi jarak kekuasaan ( Power Distance), Indonesia lumayan tinggi, 78, masih lebih rendah dibandingkan
dengan Malaysia ( 112), yang dari sini terlihat bahwa budaya Indonesia memang masih memandang bahwa relasi
kuasa itu ada, masih ada rasa feodalisme lama, berikut penghargaan terhadap hirarki kekuasaan. Untuk soal
kolektivitas, budaya Indonesia di angka tengah, 46, masih dibawah AS (91), yang dari angka ini terlihat, bahwa
manusia Indonesia nampak lebih suka mendefinisikan diri dalam kelompok masyarakat, komunitas agama, atau grup
keprofesian tertentu, mendefinisikan diri sebagai individu berkemampuan spesial nampak belum lazim disini.

Angka- angka itu organis dan temporer, artinya bisa jadi akan berubah, atau tetap seperti itu. Merujuk pada
pendapatnya Satjipto Rahardjo ( alm), bahwa potensi ekonomi sebuah negara bisa meledak, manakala aktivitas
ekonomi berlandaskan pada budaya setempat. Dari analisa Hofstede terlihat, bahwa secara kelompok, manusia
Indonesia cenderung menghargai hirarki, cenderung kolektif, cenderung feminim ( kurang suka kompetisi), dan
cenderung toleran terhadap ketidakpastian. Kalaupun ada yang memprotes, yah ini adalah instrumen untuk
menentukan model, cenderung deterministis memang.

Dari perayaan lahirnya Republik Indonesia yang ke- 65 kemarin itu, dari situ sebaiknya kita mulai berpikir ulang,
tentang makna nasionalisme Indonesia itu sendiri. Jika lahirnya Indonesia didasarkan atas kesamaan nasib, jelas
kurang tepat, karena tidak semua wilayahnya secara dejure menjadi daerah koloni Kerajaan Belanda, kalaupun iya,
tidak semuanya sampai 350 tahun. Menceritakan kembali romantisisme Sriwijaya dan Majapahit, juga bagian lain
absurditas imajinasi politisi, untuk melegitimasi kekuasaannya atas 250 juta lebih orang di nusantara. Saran saya
adalah soal kesamaan kepentingan kita untuk bersatu dalam satuan sinergis, kehidupan mutualis, dan tidak dijajah
oleh manusia dari sesama bangsa sendiri ( setelah ditinggal Belanda).

Sebaiknya, pemerintah mulai sadar diri, bahwa kedigdayaan itu bukan sekedar milik pemerintah Republik
Indonesia, atau milik Presiden SBY semata. Akan sangat absurd misalnya, ternyata militer Indonesia cukup punya
anggaran yang setara dengan Persekutuan Pertahanan Lima Negara, tetapi masih juga mengekspor TKI ( dan
mendapat kontribusi pemasukan negara) ke lima negara tadi ( kecuali Inggris), dengan kompetensi sebagai buruh
dan PRT. Atau ekonomi kita lebih didominasi oleh konsumsi domestik. Peran ekspor relatif kecil karena kita tidak
cukup kompetitif ( dan barang yang diekspor pun termasuk primer), sesuatu yang selama ini justru kita keluhkan.

Sekali lagi, cukuplah pemerintah berperan untuk mengefisiensikan birokrasi, memeratakan infrastruktur, menjaga
keseimbangan distribusi pendidikan formal, dan membuka peluang sebesar- besarnya bagi masyarakat Indonesia
untuk menjadi pelaku pasar riil. Rakyat Indonesia, walaupun tidak semua, punya kemampuan untuk membangun
kecerdasan kolektif, dan sekaligus kedigdayaan kolektif, dan itulah pertahanan keamanan jangka panjang untuk
nasion bernama Indonesia, jika memang kita serius ingin mempertahankannya.

Written by Maximillian
September 15th, 2010 at 10:12 pm
Posted in rational
[Link]

PEMBURU DAN PETANI___________________

D ari media, terdengar banyak pihak yang berharap


bahwa lulusan terdidik sekolah formal di Indonesia (
apalagi yang lulusan dari negara lebih maju) akan
membangun institusi perusahaan, mengimplementasikan
disiplin ilmunya berpadu disiplin bisnis, membuat
lapangan kerja, memberi nilai tambah ekonomi untuk
SDA mentah kita, dan tentunya mendinamisasikan
ekonomi nasional.

Bagaimanapun, saya tidak berpandangan bahwa


pengusaha berpengetahuan, lebih mulia dibanding
karyawan profesional, itu adalah sebuah pilihan kedewasaan, aktualisasi kapasitas personal, dan supremasi
pengetahuan, dipengaruhi budaya komunitas, dan keberadaan naluri pemburu prasejarah dalam rantai DNA kita.

Pemburu

Aktivitas pengusaha yang mulai dari nol, biasanya dimulai dari broker, perdagangan, dan berkembang ke distribusi,
baru merambah fungsi produksi. Fungsi kognitif perdagangan menuntut pelaku untuk mengenali peluang,
menghargai tinggi informasi, memahami pola pergerakan konsumen, mengendus karakter konsumen, berbagi
informasi dengan rekanan, mengukur resiko pengambilan keputusan, dan membiasakan diri berkompetisi dengan
pesaing.

Anda ingat fase berburu dan meramu lalu berganti ke fase bercocok tanam dalam deskripsi kehidupan prasejarah ?
Bentuk aktivitas manusia, secara kognitif, sebenarnya tidaklah signifikan berubah semenjak zaman prasejarah,
sampai sekarang, hanya kompleksitasnya bertambah dan berubah instrumentasi. Manusia mengalami pergeseran
fase dari berburu- meramu ke bercocok tanam, gaya hidup nomaden ( berpindah-pindah) ke sedenter ( menetap).

Evolusi kognitif dan sosial tidaklah merubah semua unsur, naluri pemburu itu masih ada, hanya bermodifikasi.
Manusia bergerak jika tiga tombol utama kesadaran disentuh : makanan, seks, dan bahaya. Saat ini, kita fokuskan ke
aspek pertama, makanan. Pada fase berburu- meramu, manusia harus bisa mengenali pola buruan, mengumpulkan
informasi, belajar dari pengalaman gagal, mengenali karakter buruan, beresiko tinggi terbunuh, membagi informasi
dengan kawanan, dan siaga bersaing dengan kawanan pemburu lain. Aktivitas ini menuntut keuletan, keberanian,
sikap pembelajar, dan pantang menyerah, karena kalau tidak begitu, mereka tidak mendapat buruan, dan mati.

Aktivitas berburu- meramu dominan pada fase masyarakat nomaden, dan pada fase masyarakat sedenter bergeser ke
bercocok tanam ( pertanian) lalu peternakan. Aktivitas bercocok tanam ini, manusia punya pola tetap musim panen
dan musim tanam, mengatur penggudangan, faktor keterjaminan makanan lebih tinggi, serta tidak perlu bersaing
untuk mendapatkan makanan.
[Link]

Tetapi, apakah naluri untuk berburu itu hilang sama sekali ? Oh, tentu saja tidak. Naluri pemburu itu masih ada
dalam pusat kesadaran organisme manusia, hanya saja jumlahnya menyempit, dimiliki oleh sebagian kecil individu
dari komunitas yang memang lebih memilih untuk melakukan aktivitas yang punya resiko lebih kecil, disinilah
evolusi kognitif dan transformasi sosial terjadi.

Dominan tombol pusat kesadaran pemburu ini lebih kepada organisme lelaki, kenapa ? Tombol pusat kesadaran
lelaki cenderung ke : peluang, dominasi, dan kekuasaan. Ingat, aktivitas berburu berarti harus mampu
mengkuantifikasi peluang, berhitung dengan resiko, dan cepat mengambil keputusan, bukan begitu ? Selain itu,
dalam perkembangan pengusaha yang mulai dari nol, dia pasti akan berpikir untuk melakukan penguasaan pasar (
dan kalau bisa, dimonopoli), berkembang lagi mengontrol distribusi, dan yang terakhir membangun basis produksi,
di tahap ini dia sudah menjadi yang berkuasa.

Organisme perempuan, tombol pusat kesadaran cenderung kepada : keamanan, komitmen, dan andil. Ingat, faktor
ini berhubungan dengan aktivitas bercocok tanam, yang cenderung aman, terpola, dan lebih kecil resiko dibanding
berburu. Lalu, apakah kemudian berarti perempuan tidak cocok menjadi pemburu, atau pengusaha ? Tidak juga,
bagaimanapun, lelaki dan perempuan tetaplah spesies yang sama, manusia. Hanya, saya tegaskan, evolusi kognitif
dan transformasi sosial turut mengkonstruksi identitas pembeda antara lelaki dan perempuan, jadi ini soal
perbandingan jumlah, bukan tertutupnya peluang perempuan tipe pemburu terwujud.

Kawula

Bagian ini, ontologi yang saya gunakan adalah antropologi, itu pun menyempit hanya pada Pulau Jawa, kenapa ?
Karena, faktanya, pola pikir perimbangan relasi kuasa masih dominan dipengaruhi perspektif kejawaan tinggalan
Orde Baru, yang wujudnya republik tapi bercita rasa kerajaan itu.

Kekuasaan kerajaan di Jawa sifatnya konsentris, tidak mengizinkan kekuatan lain selain sang baginda. Sifat
kekuasaan politik juga merambah ke ekonomi, sang baginda beserta perangkat institusi kerajaan juga menguasai
sumber- sumber kekayaan.

Cerapan ini menunjukkan bahwa budaya jawa tidak memberi peluang para kawula ( rakyat) untuk duduk sama
rendah, berdiri sama tinggi. Budaya ini mematikan peluang golongan pedagang/ swasta untuk mengembangkan
kapitalisme pasar, konsep politik tidak mentolerir orang kuat selain mereka, dan kekayaan berikut jejaring pasar
adalah bentuk lain kekuatan, yaitu kekuatan ekonomi, yang bisa sangat mengancam kekuatan politik raja.

Pengaruh ini masih terasa di lingkar dalam pusat budaya Jawa, Jogjakarta dan Surakarta ( Solo), berikut area di
sekelilingnya. Sedangkan untuk kota- kota kosmopolitan di pesisir Pantai Utara Jawa, semacam Semarang,
Surabaya, Pekalongan, atau Jakarta, bertumbuhan para pedagang yang punya peluang untuk membangun instrumen
ekonomi independen, berikut kesempatan untuk menantang kekuasaan politik raja.

Budaya ini turut mempengaruhi cara pandang masyarakat luas, tentang nilai status menjadi bagian dari pusat
kekuasaan, dalam format birokrat ( adipati, pegawai negeri sipil), serdadu punggawa raja ( senopati, tentara), punya
nilai lebih dari segi jaminan keamanan masa depan, atau dalam format ala Orde Baru, jikalaupun membangun
perusahaan, maka ada tangan baginda raja yang bermain dan mendapat jatah di dalamnya
[Link]

Orang Muda
Setiap pemburu pemula pasti merasakan beratnya jelajah penguasaan medan, pahitnya kegagalan meraih buruan,
atau malah terluka dan merasa putus asa. Tetapi, itulah momen disonansi kognitif, momen evaluasi untuk melatih
diri beradaptasi dengan keadaan yang jauh lebih berat dibanding kapasitas personalnya, berikut meningkatkan
kemampuan untuk perburuan berikutnya. Setiap sarjana terdidik di perguruan tinggi, atau master, bahkan doktor,
pasti memiliki kapasitas intelektual yang tinggi, tetapi tentunya motif awalan dia menempuh sekolah setinggi itu,
setiap orang pasti berbeda. Apakah dia ingin menjadi bagian kerumunan petani yang suka aman, atau kawanan
pemburu yang gemar bertualang , itu sangat menentukan akan dikemanakan ilmu yang telah diperolehnya selama
sekolah.

Sekolah formal tak bisa disalahkan jika tak mampu mendidik manusia yang bisa membangun lapangan
[Link] calon pemburu seyogyanya dilatih juga oleh pemburu , bukan [Link] di medan perburuan,
bukan cuma teori. Itupun harus sedari dini, bukan cuma saat di usia sekolah tinggi.

Mempelajari latar belakang budaya menjadi sangat penting, mengingat aktivitas ekonomi suatu kelompok bisa
meledak, manakala berbasis pada budaya setempat. Dari budaya kita akan tahu, darimana kita harus berangkat.
Senantiasa belajar itu harus, sekolah itu penting, dan melatih diri untuk memiliki mental pemburu itu wajib, karena
setiap kawanan pemburu berpengetahuan mumpuni tentunya akan lebih efektif meraih hasil buruan. Jika memang
ingin membangun Indonesia yang punya kemandirian ekonomi kuat, maka jadilah bagian kawanan pemburu, ini
bukan soal bagaimana caranya menjadi kaya mendadak, tetapi tentang menikmati perburuan itu sendiri, karena
berburu itu sungguh mengasyikkan, mari berburu Kawan…

Terinspirasi

Virus of the Mind, Richard Brodie

Politik Jawa dan Presiden Perempuan, Darmanto Jatman

Wahyu yang Hilang, Negeri yang Guncang, Ong Hok Ham

Written by Maximillian
Posted in rational
Tagged with entrepreneusthip, filosofi, genealogi entrepreneurship,hormonal, kewirausahaan, pemburu, pemuda, testosteron

Revelation; Does God Exist ?_________________

K arena terlahir sebagai muslim ( kebetulan),


terkadang sumpah, ‖ There’s no god beside God and
Muhammad is a God messenger‖, begitu mudah
diucapkan, tanpa ada rasa pertanyaan, kenapa dan
bagaimana bisa sumpah sedemikian berat itu
meluncur dari mulut kita ? Ikrar itu sungguh tidak
mudah dimaknai, bagi seseorang yang terlahir bukan
[Link]

sebagai muslim, saya salah satunya, untuk sepenuhnya berserah diri.

Kamu, pernah menanyakan hal- hal di bawah ini ? Saya harus berjuang mencari jawaban dari pertanyaan yang
keluar dari diri saya sendiri, sebelum mantap berikrar dua kalimat penyerahan diri itu. Tanpa ada Ayah yang
mendidik- Ayah kandung saya, bukan muslim, sudah meninggal saat saya berumur 5,5 tahun-, dan Ibu yang
membimbing, berikut lingkungan sekitar yang sinkretik abis, masa- masa pencarian itu rasanya berat sekali
dilupakan. 2 bulan lamanya terombang- ambing, dan rasanya tidak terlupakan juga, ketika satu persatu pertanyaan
itu mulai mendapat jawaban ( sementara ini…)

Mau berbagi ? Ini beberapa pertanyaan yang dulu sempat saya tanyakan. Keknya logika banget ya ? Iya nggak sih
?………. Waktu peristiwa ini terjadi, saya berumur 15 tahun.

Kenapa Tuhan harus ada ?


Kalau Dia mau dia ada, dia akan mengadakan, kalau Dia mau Dia tidak ada, itu juga terserah Dia, karena Dia juga
punya kehendak. Tidak penting Dia ada atau tidak, yang jelas, ciptaan ada karena manusia mampu mendefinisikan.
Mendefinisikan adalah kemampuan mengenali suatu objek untuk kemudian berusaha memberikan label, itulah yang
disebut dengan nama benda. Kemampuan yang Tuhan berikan kepada Adam, adalah kemampuan mendefinisikan
sesuatu hal.

Kenapa Tuhan harus didefinisikan ?


Biarkan Dia mendefinisikan diriNya sendiri, jika dia memang mengaku bernama Allah, maka bolehlah kita panggil
Dia dengan sebutan Allah. Kalaupun kita berusaha mendefinisikan Dia, itupun hanya terbatas pada memahami
ciptaan Dia, salah satunya adalah kita sendiri. Cara Tuhan berbahasa adalah dengan karyaNya. Itu adalah lingua
franca Dia. Kalau mau mendefinisikan Dia, pahami bahasa-Nya. Cuma, terkadang manusia suka mendefinisikan
kata- kata Tuhan dengan hasrat mereka sendiri, jadinya suka saling menumpahkan darah, yang secara nalar terlihat
bodoh, memangnya sukar sekali ya, berdiskusi baik- baik ?

Kenapa Manusia mencari Tuhan ?


Mungkin, kita yang punya tiga kemampuan, yaitu Cipta, Rasa, dan Karsa. Mulai merasa bahwa ada sesuatu yang
lain yang punya otoritas selain kita. Mulai mencipta bahwa ternyata Dia punya sifat dan kehendak. Mulai
berkehendak bahwa Dia sebaiknya ada.

Kenapa Tuhan menciptakan aturan ?


Saya tidak tahu, tanyakan pada Dia langsung, hanya saja, Dia tidak pernah bicara dengan kita secara langsung. Dia
menciptakan aturan yang kompleks dalam ranah semesta yang luas, dimana setiap aturan punya aksioma sendiri.
Kita baru bisa mendefinisikan tentang kausalitas saja, dugaan saya, ada takdir lain selain kausalitas. Hanya saja,
terkadang manusia cukup sombong untuk berhenti bertanya lalu dengan tergesa menyimpulkan, ‖ Ini loh maksud
Tuhan…‖, lupa bahwa dalam setiap akhir kata, selalu ada kata, ‖ Wallahu a‘lam bishshowab‖.

Kenapa ada Takdir ?


Saya tidak merasa tahu juga apa itu takdir. Setahu saya, takdir adalah hukum, semacam hukum matahari berputar
pada porosnya, dan bumi berevolusi selama 365,5 hari, itulah takdir. Ya, itulah yang orang sebut dengan The Law of
Universe. Orang suka bilang soal universalitas hukum, dan sifat kesemestaan hukum itu sendiri. Kita memang harus
tahu takdir, tapi sepertinya takdir yang dimaksud, adalah mendefinisikan kita, siapa kita dan seperti halnya
[Link]

memahami hukum kausalitas akademis, kita harus senantiasa mengobservasi diri dan alam semesta. Tentunya,
dengan data, yang diawali oleh asumsi.

Ayat pertama saja sudah bicara, ‖ Observasilah‖, kata Tuhan- yang mengakunya bernama Allah itu- untuk membaca
takdir semesta, dan tentunya termasuk kita di dalamnya. Walaupun yang namanya ‖ Teori Segala Sesuatu‖ itu belum
ketemu, cuma, kalau yang saya pahami sejauh ini dalam kata Tuhan di ayat pertama surat itu, bahwa ada hukum-
hukum dalam setiap penciptaan Dia, yang sifatnya sudah Dia tentukan, bisa ambil contoh mengenai Gravitasi dan
Kecepatan Cahaya, yang ternyata, ada. Dan, itu harus diobservasi sedemikian rupa, dari yang semula di otak,
kemudian dilakukan penelitian, dan memang ada kan ?

Kenapa kita harus percaya adanya Takdir ?


Kenapa kamu bilang harus ? Sebenarnya, kamu akan paham bahwa yang namanya takdir itu ada, kalau kamu
mengobservasi bahasa Dia, karya Dia. Seperti Tuhan bilang, itu buat kita juga [Link], setelah tahu bahwa
takdir bumi berevolusi selama 365,5 hari, ada banyak konstruksi yang manusia bisa perbuat bukan ? Kalau kamu
mau tahu ‖hukum‖ apa yang telah, sedang, dan akan terjadi kamu, ya kamu harus senantiasa mengobservasi diri
kamu sendiri. Ya, kan itu yang seseorang bijak pernah bilang, ‖ Kalo loe mo tahu siapa Tuhan, loe kudu kenali diri
loe sendiri. Siapapun yang kenal dirinya, dia bakalan kenal siapa TuhanNya‖. Artinya, hukum itu berlaku di kita
juga. Dan harusnya, setelah tahu riwayat takdir yang pernah berlaku pada kita, kita bisa berbuat lebih, soalnya,
takdir masa depan kita juga punya hak buat ngebuat sendiri, kan ?

Saya ambil contoh mengenai Gravitasi dan Relativitas Umum, awalnya dari pemikiran, yang berarti si penemu
berusaha bertanya pada dirinya sendiri, kenapa ? Benar ? Lalu, dia berusaha melakukan pembuktian pemikirannya (
atau, hipotesisnya) dengan melakukan serangkaian penghitungan dan penelitian, dan jikalau dia berhasil
membuktikan bahwa pemikirannya itu eksis, maka, dia menemukan salah satu takdir semesta.

Artinya, sebenarnya takdir itu sudah ada dari dulu, dia terperangkap dalam ruang dan waktu, manusia, setelah
berusaha mengenali dirinya dengan bertanya dan membuat hipotesis personal, lalu dia mencari, dan hola, ketemu si
takdir ini! Tapi, manusia menemukan sesuatu, yang sebenarnya, sudah eksis, kan ?

Kenapa Tuhan menurunkan Agama ?


Saya tidak tahu, itu maunya Dia sendiri kan ? Tanyakan langsung saja ke Dia. Kalau kata Dia, bahwa Dia
menurunkan pembawa pesan sebentuk dengan bentuk makhluk yang Dia tuju, itu juga terserah Dia sih. Mengenai
legalitas lembaga berlabel agama, itu kan inovasi manusianya sendiri, memangnya Tuhan meminta Anda untuk
melembagakan risalah-Nya secara eksplisit juga dalam bentuk objek fisik ? Karena sepemahaman saya, inspirasi
soal keberadaan Dia, dan konfirmasi kenapa Dia menciptakan semesta, itu adalah sebuah berita, dan terserah pada
manusia, apakah mau mematuhinya, atau tidak.

Kenapa manusia menggagas bahwa Tuhan itu ada ?


Tuhan bisa jadi merupakan gagasan saja, jika kamu menganggapnya seperti itu. Maksud saya, bedakan Tuhan,
dengan Konsep KeTuhanan, dua hal yang [Link] mengalami evolusi fisik ( anatomis- fisiologis), moral (
etika), dan akal ( intelektual). Paradigma tentang Tuhan ternyata dipengaruhi variabel tiga evolusi tersebut, namun,
apakah Tuhannya sendiri berubah, saya pikir tidak, itu hanya soal manusianya sendiri yang berpikir dia mengenal
Tuhan dengan baik, padahal, dia hanya sok kenal Tuhan, paham ?

Kenapa Tuhan menurunkan pembawa pesan ?


Itu juga terserah Dia sih. Sepengalaman saya, kalimat sumpah yang menyatakan bahwa ‖There‘s no god beside God
and Muhammad is a God messenger‖, lebih susah dipahami pada aspek kedua, paham maksud saya ? Memahami
bahwa Tuhan itu eksis dengan sendirinya, dalam hal ini, Dia tidak berada dalam ruang dan waktu, sesuai
pemahaman saya mengenai relativitas umum, melainkan di luar ruang dan waktu, jauh lebih mudah dibanding
[Link]

sumpah kedua, bahwa Tuhan yang mengaku bernama Allah ini mengutus pembawa pesan, bernama Muhammad,
yang notabene Muhammad ini adalah makhluk bumi, spesies manusia, dan bukan alien, atau mungkin kita
bahasakan lebih halus, malaikat.

Jika pemahaman kamu seperti saya, sempat- sempatnya Tuhan- yang bernama Allah, kata Dia sendiri- ini,
menyuruh seseorang untuk menjadi pembawa pesannya, padahal, secara kuantitatif maupun kualitatif, Planet Bumi
itu kecil, dengan jumlah penghuni yang mungkin kecil juga, apa kepentingan Tuhan mengirimkan pembawa pesan ?
Saya tidak tahu pastinya, yang pasti, Dia bilang, bahwa pesan ini adalah bentuk kasih sayang-Nya, wow, penuh
kasih rupanya ya, kreator kosmos ini, baru paham

Who said that business streetfighter always shallow minded ‘bout God ? I‘m not really juga tuh…Ah, pusing !

Written by Maximillian
Posted in rational,soul
Tagged with epiphany, experience, god, hidayah, islam, muslim, personal,revelation, syahadah

SIMBOL__________________________________

P asca kekalahan kelompok Pangeran Diponegoro pada Perang Jawa (


20 Juli 1825- 23 Maret 1830), implikasi kultural yang terbentuk pada
kalangan masyarakat Jawa ( lingkar dalam Jogja- Solo, dan daerah
sekitarnya) sangatlah mendalam, bahkan diturunkan sampai beberapa
generasi setelahnya. Perang Jawa mencatat, dari 23 ribu serdadu Belanda
yang dikerahkan (tiga ribu di antaranya didatangkan langsung dari
Belanda), delapan ribu di antara tewas. Sementara jumlah serdadu
bumiputera yang dikerahkan Belanda ditemukan tujuh ribu di antaranya
[Link] MC Ricklefs mengajukan angka hingga 200 ribu orang
Jawa kedapatan tewas, sehingga penduduk Yogyakarta disebut-sebut
hanya tinggal separuhnya.

Sejak kekalahan telak itu, para bangsawan Jawa, baik dari Surakarta
maupun Yogyakarta, membuang jauh-jauh impian-impian untuk mengusir pemerintah kolonial Hindia Belanda dari
tanah Jawa. Peran kraton-kraton Jawa surut ke dalam dan hanya menjadi lembaga-lembaga ritual, itupun dengan
bentuk- bentuk ritualitas yang semakin kompleks, rumit, simbolistis, sekaligus tidak fungsional sama sekali.
Diponegoro, Sentot Prawirodirdjo, Untung Suropati, Trunojoyo, masih bisa dengan bangga menyandang keris di
depan, lalu kenapa sekarang lelaki jawa harus menundukkan sikap, dan dengan malu- malu menyembunyikan
kerisnya di punggung belakang dekat pantat ? Lalu membuat pembenaran bahwa keris di depan itu tidak sopan,
[Link]

kurang tata krama ? Tidak seharusnyalah beban kekalahan dan rasa malu itu ditanggung juga oleh generasi muda
yang ada jauh setelahnya. Sebuah simbol terkadang menjadi lebih kuat dibanding substansi, bahkan simbol menjadi
bentuk lain dari substansi, jauh lebih penting karena secara visual lebih dapat dibuktikan keberadaannya.

Kalangan sejarawan mengenal Teori Perifer. Teori ini menyatakan bahwa peradaban yang tumbuh di daerah
pinggiran ( perifer), cenderung lebih mampu beradaptasi dengan perubahan zaman, berikut cepat merespon untuk
kembali membentuk budaya baru. Sedangkan peradaban yang menjadi pusat tumbuhnya peradaban baru, atau agama
baru, cenderung untuk terbebani dengan sejarah masa lalu, lalu kesulitan untuk beradaptasi dengan perubahan
zaman dan kemudian mati. Kasusnya jamak, terjadi pada pusat peradaban klasik Sungai Eufrat Tigris ( Afrika
Barat), Mesopotamia ( Timur Tengah), Kuning ( Asia Timur), dan Indus- Gangga ( Asia Barat) yang pernah menjadi
pusat pengetahuan, kekuasaan, ekonomi, dan militer, ada masa matinya juga

Dalam perkembangannya, Eropa Barat, Eropa Utara, Asia Timur jauh ( Jepang- Korea), dan Amerika Utara, melesat
cepat, menggantikan hegemoni masa lalu, dan menjadi pusat peradaban baru. Tesis Ibnu Khaldun tentang pola
pergantian peradaban, dalam rentang waktu tertentu, memang terjadi nyata, manusia lahir dan mati. Yang hidup
akan berkelompok lalu membentuk tradisi [Link], adalah peradaban perifer

Republik Indonesia, lahir sebagai sebuah komunitas terbayang, sebelumnya telah hadir komunitas konkret yang
meninggali Kepulauan Nusantara. Otomatis, sebagai sebuah komunitas terbayang, peradaban Indonesia lahir atas
sebuah komitmen persatuan dalam keberagaman, yang sifatnya memang lebih membutuhkan proses berpikir lebih
canggih dibandingkan dengan persatuan sebuah negara berdasar atas kesamaan etnis, suku, agama, atau bahasa.
Komitmen persatuan atas keberagaman ini tidaklah selesai dalam satu generasi, karena manusia lahir, hidup, dan
mati. Komitmen satu Indonesia atas keberagaman seharusnya diwariskan antar generasi yang lahir dalam setiap
zaman baru. Setiap generasi akan menghadapi tantangan zamannya masing- masing, maka komitmen tentang
―Indonesia Satu‖ sebaiknya juga tidak terbangun dari trauma masa lalu yang terkadang terasa hiperbolik, dramatik,
romantik, sekaligus melankolik yang bikin mual orang muda

Memahami akar budaya itu penting, dan saya sepakat dengan itu, namun jika masa lalu justru membebani langkah
menuju masa depan, berikut merenggut rasa kemerdekaan sebagai manusia berakal, di situlah letak ketidaksetujuan
saya. Tanpa mengurangi rasa hormat saya dengan Pemerintahan Orde Baru dan Jenderal Soeharto, dalam hemat
saya, pasca naiknya Jenderal Soeharto sebagai Presiden RI awal ‘70-an, memang terlihat signifikan perubahan
budaya di Indonesia, terutama dari segi keterbukaan investasi ekonomi, luar biasa. Namun, di sisi lain, mulai ‘80-an,
terlihat wajah lain dari cantiknya kekuasaan, yaitu kecenderungannya untuk korup dan menghancurkan kepercayaan.
Terasa sekali kolonialisme Jakarta dan hegemoni Jawa tumbuh subur di kalangan birokrat dan militer ( Angkatan
Darat khususnya). Disadari atau tidak, terlihat sekali dari segi pendidikan, universitas terbaik terkonsentrasi di Pulau
Jawa. Segi ekonomi, 80% perputaran uang terkonsentrasi di Jakarta, padahal Jakarta notabene tak punya sumber
bahan baku, daerah luar Jakarta jauh lebih kaya bahan baku, secara de facto.

Kenyataan ini tentunya menyakitkan, terutama bagi yang tahu faktanya, bagi manusia Indonesia yang bermukim di
luar Jakarta, atau luar Jawa. Paradoks dengan slogan- slogan kosong nasionalisme yang sesaat nampak seksi itu,
masalah perut tentu tak bisa diajak kompromi bukan ? Tetapi, semoga ini tidak menjadi alasan untuk melemahnya
komitmen Indonesia Satu, seberapapun menyakitkannya. Saya lebih suka jika komitmen Indonesia Satu dibangun
dengan kejujuran terhadap masa lalu tanpa terperangkap oleh nostalgia melankolik yang bikin kambuh rasa mual
muntah, berikut optimisme melangkah ke depan dengan pembentukan identitas keIndonesiaan yang realistis, jujur,
tanpa menghilangkan keberagaman yang sudah ada, bahkan tetap menjaga sinerginya

Lagi pula, di sisi lain, saya menaruh belas kasihan dengan posisi Jakarta yang sudah hampir tenggelam itu. Setiap
kali harus mengurus pendanaan perusahaan saya ke bekas Batavia itu, saya tidak mau membayangkan untuk tinggal
di kota yang untuk bernapas saja susah cari yang bersih, airnya diambil dari Sungai yang warnanya ( dan bau) tidak
[Link]

karuan, kendaraan yang tidak bisa bergerak bebas, dan panasnya setengah mampus. Kawan muda mantan sekampus
kebanyakan lari ke Jakarta memang soal imajinasi penghidupan yang layak, namun dengan kualitas kehidupan
seperti itu, atau cara pilihan mati karena kanker paru, stres, kolesterol, kanker rahim, atau sipilis, bukan pilihan cara
mati yang keren buat saya. Sebaiknya, simbol Jakarta sebagai pusat politik sekaligus ekonomi ini mulai direduksi,
kasihan Penduduk Jakarta, kota yang kelihatan cantiknya cuma kalau sudah malam hari itu

Pelan- pelan Sobat, kita usahakan untuk membangun pusat- pusat ekonomi di kota luar Jakarta. Ada Bandung, Jogja,
Solo, Semarang, Surabaya, Lampung, Medan, Aceh, Pontianak, Kutai, Manado, Makasar, Ambon, Halmahera, dan
kota- kota lain yang orang mudanya siap membangun masa depan Indonesia Satu yang lebih baik dan beradab, tanpa
harus tergantung dengan Ibukota. Cukuplah Jakarta menjadi Ibukota politik, kami orang muda ini, berbaik hati ingin
mengurangi beban pemerintah pusat untuk mengatur seluruh manusia di Kepulauan Nusantara yang luas ini. Lagi
pula, sekarang sudah ada internet, Singapura, transito perdagangan Asia Tenggara mudah dicapai dengan maskapai
murah, dan anak- anaknya Pak Harto sudah tidak punya pelindung lagi, apalagi yang menjadi halangan ?

Sekali lagi, saya tidak mau terbebani trauma masa lalu, apalagi terjebak simbolisme. Bagi saya, menjadi keren itu
penting sekali ! Dan manusia terkeren adalah yang paling bermanfaat buat sesamanya. Menaruh senjata di depan,
adalah keren menurut saya, tanpa ada rasa rendah diri, apalagi beban sejarah masa lalu. Masa depan masih banyak
tantangan yang harus dihadapi, berikut prestasi yang harus diraih. Sobat…

Written by Maximillian
Posted in rational
Tagged with introspektif, lelaki jawa, masa depan, perang jawa, retrsopektif,satria jawa, simbol kejawaan

PRAMUKA !______________________________

Angkatan Bersenjata Republik Indonesia


Tidak berguna, bubarkan saja
Diganti Menwa, ya sama saja..
Lebih baik diganti Pramuka..
( Plesetan Mars ABRI, mars demonstran 1998)

P ramuka ya ? Apa yang terbayang di kamu ? Kotor, dekil,


tidak canggih, murahan, kurang kerjaan, membosankan,
udik, kekanak- kanakan, tidak berasa urban, kuno, bau badan
apek, seragam cokelat kucel, kulit legam dijemur , tenda
kumal, masakan campur aduk, ceria berlebihan, tidak
higienis, korsa absurd, sampai berasa militeristik.

Itu lazim, saya sendiri kurang tahu, apakah saat ini yang
namanya gerakan kepanduan Indonesia ( Pramuka), masih
diminati oleh adik- adik saya di sekolahnya. Yang pasti,
[Link]

Pramuka memberikan pembelajaran penting, momen indah, dan kesan yang mendalam buat saya pribadi. Tahapan
Siaga dan Penggalang terutama, karena pasca itu, saya tidak mau aktif lagi di Pramuka, ada pilihan lain yang lebih
menarik.

Substansi epistemologis kepramukaan ini adalah pada fungsi pemandu ( Scout), yang juga menjadi fungsi dasar
kemiliteran, serta pendidikan dasar bela negara untuk kalangan sipil. Kemampuan bertahan hidup di alam liar,
membaca peta dan menentukan posisi, mencari jejak layaknya pemburu, berkomunikasi dengan kode- kode sandi,
membuat peralatan darurat siap pakai ( dan siap bongkar), menerjemahkan tanda alam, solidaritas kelompok,
disiplin komunitas, serta rasa keriangan untuk menjaga lingkungan sekitar. Lord Baden Powell yang memulai
gerakan kepanduan ini di Inggris, untuk kalangan pelajar sekolah dasar dan menengah, sedang di Indonesia, dibawa
oleh Sneevliet ( Hindia Belanda waktu itu).

Pada Orde Baru, Presiden Soeharto nampak sangat peduli dengan Gerakan Pramuka. Pramuka menjadi bagian
ekstrakurikuler wajib pendamping kegiatan akademik sekolah, momen pertemuan dan kompetisi juga terselenggara
rutin lokal, nasional, bahkan internasional. Adalah sebuah kebanggaan tersendiri bagi kami, waktu itu, untuk bisa
mengikuti momen pertemuan antar Pramuka, semacam Jambore Daerah, atau Jambore Nasional. Akan tetapi, waktu
itu, saya tidak berkesempatan mengikuti Jambore, melainkan Lomba Tingkat. Jika Jambore adalah momen pesta dan
keceriaan, maka Lomba Tingkat ini adalah momen kompetisi dan sangat serius. Lomba Tingkat juga berjenjang,
dari Lomba Tingkat 1 di sekolah, sampai Lomba Tingkat 5 di nasional. Regu tergiat ( terbaik) Lomba Tingkat 5
dipastikan mewakili Indonesia mengikuti Jambore Kepanduan Internasional.

Saya ingat, waktu itu satu regu terdiri dari sepuluh personel. Kita berkemah dalam satu kawasan luas bersama
dengan puluhan regu lain. Ada tenda utama, tenda pendukung, dan tenda tamu dalam satu wilayah regu. Lomba
Tingkat berlangsung selama 7 hari penuh, dan sistem penilaian berlangsung 24 jam. Kita harus siap dengan berbagai
bentuk kompetisi, mulai baris berbaris, mencari jejak, semaphore ( kode bendera untuk kapal laut), morse tengah
malam, jurit malam, tali temali, memecahkan sandi, halang rintang ala militer, keterampilan panorama, elektronika
dasar, sampai pertunjukan seni di acara api unggun bersama. Kegiatan selalu dimulai apel tiap pagi, dan tiap malam
kami harus bergiliran jaga, karena bisa jadi ada panggilan peluit untuk morse suara di tengah malam, untuk petunjuk
kegiatan esok, kalau ketiduran, bahaya.

Kami harus memasak sendiri, jangan bayangkan soal rasa, bagi kami saat itu, rasa lapar dan capek membuat nasi
tidak matang jadi enaknya bukan main. Kami harus siaga terus, jadi 7 hari tidak mandi, kalau sempat ganti celana
dalam, itu juga sudah beruntung ( seringnya sih dibolak- balik, side a- side b, tolong jangan dibayangkan ya !).
Belum urusan MCK yang serba darurat, untung ada sungai dekat area perkemahan. Keadaan itu sangat beralasan
membuat orang sakit, diare misalnya, dan kalau ada yang sakit, kita akan semakin runyam lagi. Rasanya, daya tahan
tubuh kita berlipat luar biasa waktu itu. Mau tidak mau, di tengah kompetisi yang menuntut kerja tim seefisien dan
efektif mungkin, kita harus bisa berbagi, saling menjaga kawan, melaksanakan semua tugas secara mandiri, tidak
merepotkan sesama anggota regu ( karena semua repot), saling dukung, dan berusaha memperkecil potensi konflik.
Usia kita 13 tahun waktu itu, saya masih ingat.

Disadari atau tidak, dari momen itulah saya belajar banyak makna potensi diri, karakter pribadi, persahabatan,
komitmen, kemandirian, kerja sama, dan menghargai alam dalam urusan bertahan untuk tetap hidup, berikut
mengetahui potensinya dan menjaganya, tanpa banyak teori atau slogan kosong. Kita langsung berada di tempat dan
waktu yang tepat.

Sangat membekas karena usia saat itu 7- 14 tahun ( Siaga- Penggalang), kepramukaan lebih pada tataran praktek
lapangan, bertepatan dengan usia psikologis akhir masa kanak- kanak, dan awal usia remaja, potensial untuk
[Link]

dibentuk fungsi kognitif, afektif, dan psikomotoriknya. Pasca 15 tahun, remaja mulai merasa bisa semua, egosentris,
jika sudah merasakan nuansa egaliter ala Pramuka, maka ada ruang toleransi dan solidaritas sesama di dalam
dirinya.

Ngomong- ngomong, di tengah santer slogan tentang pendidikan karakter, apa kabar Pramuka hari ini ?

Written by Maximillian
Posted in soul
Tagged with baris berbaris, bela negara, cinta alam, elang buana, jambore,kemandirian, lomba tingkat, mencari
jejak, morse, penggalang, pramukla,semaphore, semi militer, tali temali, tenda

Menyoal Pendidikan Privat__________________

M emberikan kepercayaan kepada institusi sekolah, sebagai


instrumen pendidikan dan pengajaran utama, nampaknya terwujud
sebagai satu kelaziman sosial. Pandangan ini epidemik, nampak idiom
pendidikan hampir pasti menyeret idiom lain bernama sekolah.
Sekolah adalah instrumen negara untuk membangun peradabannya
secara sistemik, opini ini terbentuk dari otoritas penuh negara untuk
menciptakan kurikulum dan standar.

Menafikan bentuk lain instrumen pendidikan, adalah sebuah kenaifan sosial. Membebankan fungsi pendidikan,
pembentukan karakter, dan penumbuhan sifat kemanusiaan, hanya pada instrumen sekolah, juga pilihan
ketidakbijaksanaan dalam bentuk lain. Variabel individu manusia sangatlah kompleks, paduan individu manusia
dalam satu kelas, jelas akan membentuk kompleksitas baru yang lebih canggih. Kelindan keunikan individu ini
bertemu dengan nilai dan ilmu yang sifatnya generik, dalam ruangan kecil bernama sekolah, hasil yang dicapai pun,
diukur lagi dalam standar yang juga generik. Sifat kelas yang simplifikatif, reduksionis, dan empiris ini adalah
karakter dunia akademis.

Dalam satu sisi, fokus pengambilan keputusan misalnya, adalah sifat yang layak dijadikan pilihan. Namun, di sisi
lain, mempertimbangkan keunikan karakter, keluasan kreativitas, keaslian ide, dan kedalaman pemikiran, satu ruang
kelas dengan satu pembimbing berlabel guru nampaknya bukan pilihan konstruktif untuk bisa memanusiakan
manusia. Bahkan, sisi lain yang bisa terjadi justru destruktif, pembunuhan karakter, penyangkalan kreativitas,
penyeragaman ide, dan pendangkalan pemikiran.
Sekolah penting, tentu saja, namun pembebanan fungsi pendidikan hanya pada satu instrumen generik bernama
sekolah, opsi itu menjadi tidak bijaksana. Instrumen pendidikan pertama dan paling penting bukanlah sekolah, jika
memang tujuannya untuk membentuk manusia. Pilihan bijak untuk memperkuat pendidikan justru pada instrumen
yang lebih kecil dan dinamis, yaitu : Keluarga.

Keluarga adalah instrumen pendidikan pertama dan paling utama untuk membentuk karakter, menumbuhkan sifat
kemanusiaan, dan dalam skala lebih besar, membangun peradaban. Sifatnya yang independen, privat, terfokus,
dinamis, intim, unik, dan fleksibel, berpadu dengan keluasan ruang- waktu pembelajaran, serta sosok pendidik
berlabel ―Ayah‖ dan ―Ibu‖ yang interaktif, membuat institusi bernama keluarga ini memiliki kekuatan tersendiri
untuk mengkonstruksi sifat kemanusiaan.
[Link]

Objek
Isu penguatan institusi bernama keluarga nampaknya bukan isu yang cukup seksi binti bahenol untuk diangkat
media saat ini. Memetika ide ini tertangkap dari karya sastra dan sinematika yang berbuah penghargaan, isu sosial-
populer urban , hingga opini media arus kuat yang mengangkat heroisme individualitas serta relasi negatif interaksi
keluarga. Isu kegagahan gaya hidup selibat khas kosmopolit , perselingkuhan yang memabukkan, hingga erotisme
dalam berbagai modus masyarakat urban sedenter, menjadi komoditas pasar berbungkus cantik ,dan nampak cukup
atraktif untuk membangun arus budaya berlabel ―modern‖ dalam definisinya sendiri, walaupun wajah artifisialnya
nampak menonjol malu di sana- sini.

Ada beberapa objek ilmu dalam institusi keluarga sebagai instrumen pendidikan, untuk diperhatikan mekanisme
transfernya antar generasi. Sains- matematika dasar, membantu untuk menafsir semesta di luar manusia yang
kompleks dengan ukuran- ukuran definit sekaligus mencari inovasi kreatif untuk memanfaatkan ukuran- ukuran
tersebut. Sosial- humaniora, manusia nampaknya lebih mengetahui semesta besar di luar diri, dibandingkan dengan
semesta kecil dalam [Link] ini akan membantu interaksi dan relasi sosial dalam berbagai format serta
membentuk model- model toleransi sekaligus reduksi antar nilai budaya masyarakat yang beragam.

Linguistik dan seni, keduanya adalah manifestasi peradaban manusia yang khas sekaligus universal. Keduanya
adalah ‖ wajah peradaban‖ dalam bentuk humanis dan dinamis, mampu merasakan keindahan kedua objek tadi
adalah sebuah hadiah terindah yang harus ditransfer antar generasi.

Objek yang lebih privat mengenai konsep keTuhanan, membutuhkan mediasi antar ilmu yang sudah disebutkan
sebelumnya. Di tengah klaim para demagog- bigot serta kepentingan besar mengatasnamakan Tuhan untuk urusan
klise dan arus berkebalikan yang nyaman dengan membunuh opsi Tuhan sejak awal, objek satu ini bertambah
kompleks proses [Link] motif bersyukur pun, butuh kecukupan pengetahuan untuk mendorong
kemunculan rasa tersebut. Akomodasi rasio dan rasa yang bersenyawa dengan transformasi kerumitan persoalan
hidup serta simpangan- simpangan pengambilan keputusan, membantu pendewasaan pemahaman konsep yang
sangat privat [Link] memutuskan apakah nilai dalam konsep keTuhanan ini akan mempengaruhi area privat
sekaligus publik atau salah satu area saja.

Objek berikutnya yang juga privat adalah disiplin kepemimpinan dan kemandirian. Bahwa setiap individu harus
bertanggung jawab terhadap segala konsekuensi dari keputusan yang diambilnya, adalah pemahaman yang dibentuk
dalam simulakra simpangan- simpangan kehidupan. Kedua objek ini sekaligus membangun konsep untuk membawa
diri memasuki beragamnya jejaring sosial dengan berbagai warnanya, berinteraksi dan melebur dalam relasi
interpersonalnya, sekaligus menjaga independensi dalam kecamuk kontestasi memetikanya.

Fenomena ―data smog‖, bundel informasi yang justru tidak lebih sekedar sampah penimbun otak, karena
ketidaksiapan individu mengolah arus banjir data menjadi bentuk lain yang lebih konstruktif, bisa jadi adalah salah
satu bentuk ketidakmampuan instrumen bernama sekolah mendeteksi keunikan masing- masing individu. Di sini,
sekali lagi, deteksi keunikan individu adalah hak istimewa yang dimiliki institusi pendidikan bernama keluarga.

Membentuk institusi pendidikan sistemik berformat generik yang mampu membangun kesadaran kritis bagi peserta
didik, tetap salah satu kewajiban pemerintah. Tetapi besarnya kepercayaan yang diberikan kepada instrumen sekolah
ini untuk ―membentuk manusia‖ tidak tak terbatas, banyak keterbatasan yang harus diantisipasi jika melihat sisi lain
kompleksitas manusia.

Keluarga adalah institusi pendidikan tersolid pertama dan tulang punggung spesies manusia untuk mewariskan
pengetahuan antar generasinya.

NB :
[Link]

1. Tulisan terinspirasi berbagai sumber yang terlampau banyak untuk dituliskan, mengingat ruang ketik yang
sengaja penulis batasi.
2. Pembaca dibebaskan untuk tidak mempercayai tulisan di atas, mengingat penulisnya sendiri masih malas
mencari ―rekanan‖ yang cocok dan bisa saling percaya untuk membangun institusi pendidikan solid bernama
―keluarga‖.
3. Memberikan ―komitmen‖ itu tidak bisa sembarangan, itu menurut hemat penulis, apalagi berurusan dengan
makhluk berjenis ―perempuan‖, itu sangat membutuhkan penanganan intensif, intim, dan berkelanjutan.
Berikut kompleksitas variabelnya yang lebih berupa ketidakpastian daripada resiko.
4. Tulisan di atas adalah manifestasi imajinasi liar penulis, jadinya mohon dimaafkan ya Saudara- saudara
sekalian sidang pembaca yang budiman… ^_^

Written by Maximillian
Posted in rational
Tagged with institusi pendidikan, karakter, kekuatan keluarga, pendidikan keluarga, pendidikan privat, sekolah formal

SELF MADE MAN_________________________


“Success is not a random act. It arises out of a predictable and
powerful set of circumstances and opportunities. These circumstances
include family background, ethnic heritage, who your parents are,
who they know, how much money they have, what year you were born,
and even when in the year you were born. The successful are those
who have been given opportunities, and who have had the strength
and presence of mind to seize them.” ( Malcolm Gladwell, on The
Outliers)

D ulu, jujur, kalau ditanya, siapa yang mengilhami saya


untuk suka ikutan mencoba kompetisi atau lomba, apapun itu,
sejak SD sampai SMU ( bahkan kuliah), adalah Bruce
Wayne dan Tony Stark, lho, kok bisa ? Ya, biasalah, imajinasi
anak- anak. Keduanya, punya alter ego yang keren,
yaitu Batman, dan Iron Man. Namun, bukan cuma itu yang
menginspirasi saya, melainkan perjalanan hidup mereka,
hingga mereka bisa menjadi pribadi serba bisa, sekaligus bisa
mewujudkan apapun yang mereka mau, saat itu juga.
[Link]

Keduanya adalah sosok superhero, yang juga paling antihero. Bruce, okelah dia juga Batman, tapi dia punya latar
belakang tragis, kedua orang tuanya dibunuh, langsung dimukanya, saat masih 10 tahun. Itu juga yang membuat aksi
Batman cenderung brutal dan sadis, dia punya dendam masa lalu, dendam itu juga yang memotivasi dia untuk jadi
vigilante. Kalau Tony, dia pemabuk berat, sekaligus bajingan cerdas yang beruntung sempat disadarkan, untuk jadi
Iron Man. Tapi, dibalik aksinya itu, dia punya segala cara untuk menjadi sangat arogan, dan nampak konyol, yang
seringkali justru membuatnya hampir celaka.

Kesamaannya, mereka sama- sama cerdas, Bruce, sarjana sains ( matematika) , dan berkelana sambil mempelajari
segala kebijakan, berikut seni perang, sekaligus kemampuan detektif, langsung dari para ahlinya. Tony, sarjana
teknik, belajar langsung dari ayahnya, yang sudah milyarder, berikut kebebasan peluang untuk mempelajari segala
sesuatu, dan membuat apapun yang dia mau, Tony punya semua aksesnya. Mereka juga sama- sama tajir
mampus, Tony, CEO Stark Industries, warisan dari ayahnya yang lalu dia kembangkan, adalah figur terkaya nomor
4 ( 8,8 triliun USD), dan Bruce, CEO Wayne Enterprise, juga warisan dari ayahnya, yang dia kembangkan bersama
orang- orang kepercayaan ayahnya, adalah figur terkaya nomor 7 ( 6,5 triliun USD). Sayang, dari daftar figur
terkaya resmi versi Forbes itu, keduanya masih tetap kalah kaya dari Gober Bebek (2) dan Richie Rich (3).
Bruce dan Tony nampaknya memang cukup kurang kerjaan, dibandingkan CEO perusahaan pesaingnya, sehingga
mereka punya cukup konsentrasi ( dan masih sempat- sempatnya) untuk menjadi vigilante. Jika dibandingkan
dengan Clark Kent, yang sudah super dari lahir ceprot, dan karakternya kalem, sedangkan Bruce dan Tony pada
kenyataannya adalah manusia brengsek, tentunya ini menjadi tanda tanya besar bukan ? Kembali ke pernyataan
Gladwell yang paling atas, ini adalah soal peluang, berikut kekuatan serta penemuan kesadaran diri, untuk
memanfaatkan peluang itu. Manusia aneh semacam Bruce dan Tony, memiliki variabel- variabel pendukung, yang
membuat peluang untuk berposisi seperti itu, atau minimal mereka punya peluang lebih besar untuk memilih, jalan
mana yang akan mereka ambil. Ya, mereka adalah orang- orang tahu peluang, sadar akan peluang itu, berikut punya
pilihan atas opsi yang telah mereka sadari tersebut, dan mereka membuat keputusan sadar atas pilihannya.

Gladwel menggunakan penguat argumen, Oppenheimer, bos proyek bom Manhattan yang tersohor dijuluki
Bapak Bom Atom itu, dengan Chris Langan, manusia ber IQ 195 (salah satu dari sedikit manusia super
cerdas), yang nasibnya menjadi pekerja peternakan kuda di pedesaan. Perbandingan perjalanan
keduanya sungguh unik, Oppenheimer lahir di kalangan kelas atas Manhattan, dan Langan lahir
di kalangan kelas bawah yang menyedihkan. Oppenheimer memang cerdas, tapi
lingkungan juga memberikan peluang lebih besar buat dia, untuk mengakses tata nilai
budaya antar kelas, pendidikan, berikut pergaulan lain yang secara langsung
membuat mobilitasnya melesat. Sedangkan Langan sebaliknya, jauh dari itu, tidak
banyak yang menyadari bahwa dia adalah manusia super cerdas, termasuk orang
tuanya sendiri.

Kalau bicara soal peluang, maka kita sudah bicara ke ranah yang
lebih luas, yaitu komunitas masyarakat. Ini, adalah soal bagaimana
lingkungan manusia, mulai dari keluarga, tetangga, guru, kawan
sekolah, secara langsung mempengaruhi peluang anak manusia, untuk membentuk kepibadiannya, berikut
memberikan pilihan- pilihan dalam hidupnya, yang pilihan itu menjadi peluang untuk melakukan mobilitas sosial,
baik itu vertikal, maupun horizontal.

Gladwell mengambil contoh yang cermat, dari perjalanan pebisnis berbasis teknologi informasi, yang menurut
Gladwell paling meritokratis, di AS. Bahwa Bill Gates ( Microsoft), Paul Allen ( Microsoft), Bill Joy ( SUN
Microsystem), Scott McNealy ( SUN Microsystem), dan Steve Jobs ( Apple), lahir pada tahun yang berdekatan,
1954- 1955, dan mereka berada di kota yang berdekatan, universitas yang mereka jadikan tempat kuliah, juga
[Link]

sedang mengembangkan program komputer, kalaupun Gates dan Jobs DO, tetapi mereka sudah terpapar dunia
pemrograman sejak usia SMP, bahkan Jobs sudah kerja di perusahaan tetangganya sejak usia 12 tahun, oh iya,
tetangga Jobs namanya Dave Packard, pemilik Hewlett Packard. Koinsiden ? Kebetulan ? Bukan juga, mereka lahir
di tahun yang tepat, di negara yang tepat ( militer AS sedang mengembangkan program komputer, kerjasama dengan
industri dan universitas), di kota yang tepat, di universitas yang tepat, di tetangga yang tepat, dari orang tua yang
tepat, serta mereka mengembangkan kesukaan mereka tersebut. Mereka adalah manusia yang berada pada momen
yang tepat, dan momen inilah yang membuat pencapaian mereka sukar untuk disamai.

Kalau bicara soal distribusi peluang, maka ( ini yang saya tidak suka), berarti itu melibatkan ke pemerintah. Fungsi
pemerintah saat sebuah sistem negara dibentuk, adalah menjadi administrator, penjaga keseimbangan distribusi
keadilan sosial ( Itu, Sila 5 memang benar adanya, soal keadilan sosial). Saya mencoba menggunakan valuasi
bernama Koefisien Gini, yang mengukur tingkat kesamaan, dalam sebuah peradaban bernama kenegaraan. Koefisien
ini melibatkan komponen disiplin ekonomi, kesehatan, ekologi, kimia, dan rekayasa keteknikan.

Koefisien Gini adalah pendefinisian matematis berbasis pada kurva Lorenz, yang membandingkan antara jumlah
penerimaan pendapatan dalam persentase kumulatif. ( sumbu horizontal, y), dengan sumbu vertikal, yang
menyatakan bagian dari total pendapatan yang diterima oleh masing-masing persentase jumlah (kelompok)
penduduk tersebut. Angkanya berkisar antara nol (pemerataan sempurna) hingga satu (ketimpangan yang
sempurna). Koefisien Gini dapat diperoleh dengan menghitung rasio bidang yang terletak antara garis diagonal dan
kurva Lorenz dibagi dengan luas separuh bidang di mana kurva Lorenz itu berada. Dalam ilmu Ekonomi Industri,
Koefisien Gini juga dapat dipergunakan untuk melihat konsentrasi pasar.

Okelah, nampaknya itu sangat teknis sekali. Pendeknya, dari hasil koefisien Gini memang biasa dipakai untuk
mengukur rentang pendapatan atau pengeluaran kelompok kaya dan miskin. Semakin tinggi nilai Gini, maka
semakin besar jurang pemisah yang ada. Kembali ke soal peluang tadi, bahwa nilai gini yang rendah, dalam artian
pemerataan pendapatan merata, tidak sama sekali menjamin kesamaan peluang. Akan tetapi, memang distribusi
pendapatan yang sama, akan memunculkan terjadinya peluang baru, ini memang sangat dinamis.

Indonesia, sebagai sebuah peradaban dengan administrasi negara demokratis, koefisien gininya antara 0,35- 0,39,
dibandingkan dengan Eropa Barat ( dan Kanada) ( 0,3- 0,34) atau Eropa Utara ( 0,25- 0,29), kita nampak lebih
terjadi kesenjangan. Tapi, jika dibandingkan dengan AS, Cina, atau Malaysia ( 0,45- 0,49), maka kita mending,
lebih merata distribusinya. Koefisien gini Indonesia mirip dengan India, dan Jepang.

Yah, pasti akan ada perdebatan soal angka- angka yang terlihat deterministik dan positivistik di atas. Okelah, saya
paham, koefisien gini ini adalah sebuah pemodelan matematis, yang sifatnya memang simplifikatif dan reduksionis,
[Link]

tetapi sekali lagi, ini adalah instrumen. Saya hanya ingin menyampaikan bahwa, membandingkan kondisi sosial,
dalam artian fasilitas, budaya, kemudahan, antara kita, yang di Indonesia, dengan peradaban negara lain, yang kita
anggap lebih ―maju‖, tanpa adanya usaha penyadaran diri, bahwa mereka ( negara yang kita sebut ―maju‖ tadi), juga
punya masalahnya masing- masing, sebenarnya akan membuat kita semakin jauh terttinggal di belakang. Menjadi
komunitas melankolik yang sukanya menyiksa diri sendiri ( dan anehnya, nampak menikmati).

Kita sekarang punya masalah, ya benar. Kita punya banyak masalah, itu harus disyukuri, setidaknya masalah sudah
terdefinisikan, karena syarat pertama untuk menyelesaikan masalah adalah : mendefinisikan masalah. Kedua,
menyelesaikan masalah komunitas dalam sistem organik bernama negara, jelas sangatlah kompleks.
Membandingkan dengan negara lain yang lebih ―maju‖ ( saya kok risih bilang ini ya ?), tidak akan menyelesaikan
masalah, jika sikap kita lalu menjelekkan komunitas kita sendiri. Sebenarnya, yang paling bisa menyelesaikan
masalah di Indonesia, ya orang Indonesia sendiri, walaupun mungkin sesekali butuh pembanding. Tetapi, kita punya
fungsi kognitif. Apakah butuh waktu ? Iyalah. Kalaupun ada yang tidak sabar, ya itu biasalah. Pokoknya, kita
optimis bahwa kita punya masa depan lebih baik, dan sekarang bukan saatnya untuk menikmati keterpurukan, asal
kita yakin untuk mengambil langkah, walaupun itu kecil.

Sebuah peradaban bisa lahir, berdiri, dan berkembang, karena memang terjadi kompromi- kompromi di dalam
kesehariannya. Karena tentu saja banyak kepentingan yang ingin mengambil peran. Kembali ke soal ―manusia
berkualitas‖ tadi. Banyak sekali saya menyaksikan peristiwa ―pembunuhan karakter‖, di keluarga, sekolah, dan
bermasyarakat, seperti yang dialami oleh Chris Langan. Banyak juga saya menyaksikan, ―kemubaziran peluang‖,
dari beberapa manusia yang bertebar fasilitas, namun menggunakannya untuk urusan destruktif. Minder dengan
peradaban di Eropa Barat ? Anda harus pernah mengalami dua kali perang dunia yang berdarah, dan pergolakan
yang tidak ringan.

Minder dengan Jepang ? Anda harus mengalami di sebuah kawasan yang cuma 30% wilayahnya layak ditinggali,
dan itupun cuma 10% yang bisa ditanami. Kalau mereka tidak bekerja keras, mereka mati, kata Kenichi
[Link] dengan siapa lagi ? Bagi saya, jalan ―kesuksesan‖ sebuah komunitas, memang jauh lebih kompleks
dibandingkan individu. Padahal kita tahu, bahwa yang dimaksud dengan kesuksesan individu, ternyata juga banyak
peluang yang didapat adalah kontribusi dari lingkungan yang mendukung. Jadi, peluang itu memang dibuat kawan.
Ada imajinasi, manusia bergerak, berusaha mencapai citanya, peluang lahir disitu, dan dari peluang, keputusan
dihasilkan. Interaksi manusia, yang punya kesamaan cita, dengan metode berbeda untuk meraih, melahirkan hibrida
baru, peluang lain yang membutuhkan keputusan lain lagi, dibanding yang pertama, dan seterusnya.

Ada satu hal yang harus disyukuri sebenarnya, dan saya tidak tahu, berapa manusia Indonesia yang bisa
membandingkan keadaan pasca Orde Reformasi, dengan saat Orde Lama, maupun Orde Baru memang peran
administrasi negara, apa itu ? Ya, kebebasan.. Kenapa kebebasan ? Amartya Sen mengatakan bahwa kemiskinan
harus dipandang dalam konsep kapabilitas. Kapabilitas merefleksikan kebebasan yang memungkinkan orang untuk
menjalankan pelbagai fungsi dalam hidupnya (functionings). Orang menjadi miskin karena ruang kapabilitas mereka
kecil, bukan karena mereka tidak memiliki barang. Dengan kata lain orang menjadi miskin karena mereka tidak bisa
melakukan sesuatu, bukan karena mereka tidak memiliki sesuatu. Implikasinya: kesejahteraan tercipta bukan karena
barang yang kita miliki, tetapi karena aktifitas yang memungkinkan kita memiliki barang tersebut. Itu sebabnya
peran dari kebebasan menjadi begitu penting. Kebebasan adalah syarat utama dari dimungkinkannnya sebuah
tindakan untuk memiliki sesuatu.

Yah, kalau masih pada kaget dengan suasana ―kebebasan‖ ini, wajar sih, asal tidak terlalu lama. Ada negatifnya,
misalnya yang dulu tidak bisa korupsi, sekarang bisa bebas korupsi. Efek positifnya, kita juga bisa bebas
menunjukkan sikap dan mendukung segala upaya menentang korupsi, ada adu kekuatan yang lebih transparan.
[Link]

Menurut saya, akan ada titik kulminasi kebosanan ( semoga saja). Sampai kita secara bijak, mampu memanfaatkan
kebebasan ini untuk bertindak lebih, menciptakan peluang.

Itu saja, ini cuma tulisan ringan kok, iseng, karena nggak bisa tidur. 45 menit buat bikin tulisan, biar
capek…..Selamat Ramadhan, buat yang merayakan, dan selamat mingguan, buat yang tidak merayakan, pokoknya
selamat buat semua ya… Damai.

Written by Maximillian
Posted in rational
Tagged with Amartya Sen, Batman, Black Swan, Bruce Wayne, distribusi pendapatan, Gladwell, Iron Man, Keadilan Sosial, Koefisien
Gini, orang kelebihan duit, Outliers, Peluang, superhero kurang kerjaan, Tony Stark

MITOS TENTANG PERAN PEMUDA____________


What does not destroy me, makes me stronger ( Friedrich Nietzsche)

I diom pemuda, biasanya jadi komoditas laik jual saat Pemilu


Nasional atau Pilkada, isunya jamak yaitu soal peluang suksesi
tahta. Kalau coba kita tengok sejarah, label pemuda ini lazim
disematkan pada anak muda ( 20- 40 tahun) yang berpolitik (
paham, sadar, dan berpartisipasi aktif dalam bernegara).
Kebangkitan Nasional ada para ―pemuda‖ disitu, Sumpah Pemuda
bahkan di judulnya ada kata ―pemuda‖, dentuman besarnya pada
Revolusi 1945, yang Ben Anderson bilang itulah Revolusi Pemuda.

Kenapa disebut mitos ? Karena memang setiap perubahan sosial cenderung terdapat keberadaan anak muda di
dalamnya, aspek semangat dan intelektualitas terutama. Akan tetapi, jika mereduksi komponen revolusi hanya pada
para ―pemuda‖ ini, apalagi membuat mereka menjadi satu- satunya pemicu, maka disitulah letak
kekurangtepatannya. Tidak mungkin sebuah pemerintahan rezim runtuh hanya karena gerakan ―pemuda‖ saja,
realitasnya, banyak kekuatan lebih besar lain yang ikut bermain dalam tumbangnya rezim, walaupun mungkin
sengaja tidak memperlihatkan jati dirinya.

Akhir- akhir ini, malah terjadi pendefinisian ulang akan label ―pemuda‖ ini. Label ini digeser dengan istilah pelajar
dan mahasiswa untuk menyebut anak muda yang berusia di bawah 30 tahun dan berpikir serta berniat dalam
kehidupan bernegara. Sebenarnya, pergeseran label ini memang cukup mendasar sebabnya, para ―pemuda‖ momen
1908, 1928, dan 1945 identik dengan mahasiswa sekarang, yaitu mendapat akses pengetahuan luas, terdidik, dan
relatif dari kalangan mampu secara ekonomi. Namun, sebenarnya ini adalah gejala elitisme, yaitu penyempitan
terhadap golongan yang aktif berpolitik. Selain itu, akses pengetahuan sekarang bisa dikonsumsi begitu mudahnya,
asalkan orang muda yang tidak kuliah mau belajar, dia bisa menjadi intelektual. Belum tentu juga mahasiswa mau
memanfaatkan kemudahan akses pengetahuan dan didikan di kampusnya untuk lebih memperadabkan kehidupan
bernegara bukan ?

Lalu, jika memang Revolusi 1945 dilabelkan Revolusi Pemuda, apakah peta kekuatan saat itu memang didominasi
anak muda intelek semua ? Apakah anak muda intelek juga semuanya pro dengan lahirnya Republik Indonesia di
Nusantara ? Seorang ahli hukum Indonesia, penasehat Pemerintah Hindia Belanda, membagi kekuatan politik
[Link]

menjadi tiga besar, yaitu : Pertama, loyalis Pemerintahan Hindia Belanda, yang rata- rata terdidik dengan pendidikan
barat, berkedudukan sosial ekonomi mapan, dan diperlakukan setaraf dengan orang Belanda. Mereka paham
nasionalisme, tetapi nyaman dengan suasana kolonial. Kedua, subversif dan kontra Pemerintahan Hindia Belanda,
yang terdidik dengan pendidikan barat, tidak menempati kedudukan sosial ekonomi mapan dalam negara kolonial,
dan paham nasionalisme. Jumlahnya sekitar 500,000. Dan ketiga, bagian terbesar masyarakat yang acuh tak acuh
dengan keberadaan Pemerintahan Hindia Belanda, dan mereka ini yang berpeluang besar merintangi usaha
Pemerintah Hindia Belanda kembali bercokol di Nusantara, yang waktu itu Dai Nippon diambang kekalahan. Dai
Nippon dapat memicu gelora semangat penduduk nusantara dan golongan intelektual subversif untuk membangun
negara independen, walaupun sesungguhnya mereka punya niat sama seperti Pemerintahan Hindia Belanda, tidak
berniat sungguh- sungguh memberi kemerdekaan.

Kalau sudut pandangnya adalah revolusi sosial, kita coba bandingkan Revolusi Indonesia dengan Revolusi Perancis,
yang seringkali mengilhami para ―pemuda‖ di Nusantara kala itu. Komponen pemicu utama Revolusi Perancis
adalah Kaum Borjuis, yang terbagi menjadi tiga; Borjuis atas, para industrialis dan bankir, lalu Borjuis menengah,
usahawan menengah dan kaum profesional, serta Borjuis bawah, pegawai subsisten yang hanya punya dana untuk
kehidupan sehari- hari. Golongan ketiga ini yang paling militan dan menjadi motor massa dalam gerakan.
Sedangkan Revolusi Indonesia, dipicu oleh para mahasiswa, dan intelektual muda, yang mulai sadar nasionalisme
pasca terbukanya akses pendidikan dan pengetahuan dari barat.

Perbedaan ini sangat mendasar justru terlihat pada perkembangan stabilitas kenegaraan pasca revolusi, di Indonesia,
yang pelakunya adalah para ―pemuda‖ ini, mereka belum masuk ke proses produksi atau transaksi ekonomi riil
apapun, dan selalu bisa berteriak bahwa revolusi belumlah selesai. Sedangkan di Perancis, golongan borjuis rendah
yang jumlahnya terbesar serta paling militan, mulai bosan dan tidak sabar dengan ketidakstabilan politik, pada
jamaknya, golongan ini diricuhi anak dan istrinya untuk lebih menyelesaikan masalah pangan keluarga yang tidak
terselesaikan dengan revolusi politik. Intinya, Revolusi Perancis berhenti karena masyarakatnya memang sudah
bosan dengan gejolak politik yang menghambat aktivitas ekonomi, dimana aktivitas ekonomi berurusan dengan
perut.

Orde Baru yang 32 tahun berkuasa menekankan pada stabilitas politik, berikut kontinuitas. Terlihat dari hirarki ketat
di militer, politik, dan birokrasi. Para ―pemuda‖ ini tidak memiliki tempat di hirarki manapun, kalaupun mau ikut
sistem, maka harus dimulai dari bawah. Ada yang unik dengan momen dentuman sosial revolusioner yang dimotori
oleh para ―pemuda‖, yaitu legitimasi angkatan. Ada angkatan ‘28, ‘45, ‘66, ‘78, dan ‘98, yang seolah- olah membuat
―pemuda‖ ini menjadi akses plus mendapat saluran cepat untuk kedudukan politis tertentu. Bahkan sudah ada
rahasia umum bahwa legitimasi angkatan ―pemuda‖ ini, menjadi kendaraan buat para oportunis politik yang
mengambil jalur cepat sebuah kedudukan di sisi tahta utama.

Sebenarnya, keresahan utama anak muda ada di satu saluran : mobilitas sosial masyarakat Indonesia. Mobilitas
vertikal sebenarnya bisa disalurkan lewat jalur ekonomi, itu yang terjadi di anak muda daerah Eropa Barat, Amerika
Utara, dan Asia Timur jauh yang memang budaya ekonominya sudah terbentuk baik dan pengetahuan memang
benar bisa dijadikan nilai tambah ekonomi signifikan. Masalahnya, saluran ekonomi sempat tertutup di masa Orde
Baru, dan sekarang para ―pemuda‖ ini masih menganut paradigma lama, bahwa satu- satunya mobilitas vertikal
adalah jalur politik, maka tidak heran jika menjamur politisi yang tidak kompeten tetapi bisa duduk jadi pengambil
kebijakan. Tidak juga terpikir untuk terjun menjadi praktisi ekonomi riil aktif ( entrepreneur) dengan pengetahuan
yang dimiliki, karena budaya kemapanan pola lama masih terpatri kuat di benak para ―pemuda‖ ini. Membangun
perusahaan dari nol dengan menghadapi ketidakpastian berikut kalkulasi resiko tingkat tinggi, bukan pilihan yang
cukup ―aman‖.
[Link]

Bagaimanapun, konsekuensi dari tekad para ―pemuda‖ pendahulu kita yang memproklamasikan kemerdekaan
Republik Indonesia ini adalah kemandirian yang menyejahterakan bersama. Tidak lucu jika keadaan Nusantara
ternyata lebih teratur dan rapi saat dikelola Pemerintah Hindia Belanda daripada Pemerintah Indonesia, karena
berarti itulah tanda bahwa Nusantara tidak siap menerima konsekuensi logis dari kemerdekaan itu sendiri. Dan,
dengan akses pengetahuan yang begitu luas sekarang, berikut kesempatan mencuri ilmu dari peradaban lain yang
dirasa lebih maju, serta keterbukaan lapangan ekonomi dibanding masa Orde Baru, maka sebaiknya para ―pemuda‖
sadar diri, mau mengukur dirinya, serta berani berdiri dengan pengetahuan serta optimis realistis dengan masa
depan. Tidak menganut aji mumpung, ―Mumpung Masih Muda‖, atau ‗Mumpung Mahasiswa‖, dan segala
pembenaran lain, mengisi momen kemudaan usia dengan karya nyata, kreativitas penuh keberanian, dan
kemampuan menjadi diri sendiri, nampaknya keren juga menurut saya, bukan begitu Sobat ?

Diekstrak dari :

Ong Hok Ham, Wahyu yang Hilang Negeri yang Guncang

NB : Soal pemerintah saat ini, saya belum mau komentar dulu, sudah terlalu banyak yang mengomentari, maaf.

Written by Maximillian
Posted in rational
Tagged with ekonomi riil, indonesia, intelektualitas anak muda, kepadatan penduduk, kewirausahaan, militer muda, mobilitas
vertikal, negarawan,pembonceng politik, pemuda, pencoleng, pengusaha muda

BANGSAT !_______________________________
If one has no affection for a person or a system, one should feel free to
give the fullest expression to his disaffection so long as he does not
contemplate, promote, or incite violence. ( Gandhi)

S alah seorang anggota dewan yang berbadan pendek


gempal, dan dulunya sempat berkuncir itu, memang gemar
menarik perhatian publik dengan idiom umpatan, belum
lagi pilihan frase yang sengaja dibuat untuk memancing
keluar kemarahan ( pedas), ditambah gaya penyampaian
tengil serta nada bicara keras, beliau sengaja diposisikan (
dan memposisikan) diri sebagai agitator di tengah ruang
sidang, atau tokoh selebritis badass yang memilih posisi
antihero pengumpat kalau di layar kaca ( tipikal karakter
pilihan Clint Eastwood dan Bruce Willis) . Menarik,
karena syarat pertama sebuah ide mampu diterima di tengah kerumunan adalah dengan memancing perhatian.
[Link]

Perhatian pertama berwujud penolakan ( denial) , berkembang kemarahan ( angerness), lalu kritik ( critics), dan
terakhir justru adalah simpati ( symphaty), ini adalah soal strategi memenangkan kontestasi ideologi ( memetika)
dalam pemikiran masyarakat manusia.

Tiba- tiba saja publik memasang muka keheranan, bagaimana bisa di ruang sidang anggota dewan yang wangi dan
terhormat, ada tukang umpat bermulut kotor, dan berlidah tajam ? Dimana etika para pemimpin negara yang penuh
sopan santun ini ? Tetapi di luar itu, tayangan televisi berrating tinggi justru dipenuhi berbagai idiom umpatan,
kekerasan verbal, dan pola komunikasi agresif lain. Anehnya, jurang budaya antagonistik ini sengaja dibiarkan, ada
pandemik hipokrit kolektif yang tidak terlihat tapi nyata di peradaban kita nampaknya, epidemik bernama impunitas
( pembiaran) kolektif. Pengharapan yang sangat tinggi terhadap tokoh- tokoh yang dianggap sebagai pemerintahnya,
sampai- sampai seolah mereka dianggap manusia setengah dewa, di lain sisi, ini seperti melemahkan potensi warga
negara yang sebenarnya punya kecerdasan tidak lebih rendah dibanding pemerintah. Disini pemerintah juga adalah
sekelompok manusia, dengan fungsi anatomi, fisiologis tidak jauh beda dengan warga yang diperintah. Kesamaan
metabolisme berikut fungsi kognitif dengan warganya. Bedanya adalah soal kekuasaan, pemerintah dipercaya untuk
menguasai hajat hidup yang mengendalikan warga yang diperintahnya. Tetapi tetap saja, pemerintah juga adalah
jenis spesies manusia, yang punya potensi korup terhadap kuasa, atau lemah dengan kelompok yang secara de facto
lebih kuat, walaupun de jure lebih lemah ( sikap pemerintah terhadap korporasi Bakrie tentang lumpur Lapindo,
penggelapan pajak, dengan koalisi antar partainya, yang nampak paradoks dan tidak lucu, contohnya)

Bicara soal strata tingkat status sosial antara pemerintah dengan warga yang diperintah, maka kita kembali ke sikap
anggota dewan penggemar umpatan di atas. Idiom umpatan seringkali dipilih sebagai cara mengekspresikan
kemarahan terhadap orang lain, atau sesuatu yang memancing amarah. Di sisi lain, idiom ini diekspresikan sebagai
bahasa pergaulan antar teman sederajat, untuk ungkapan keakraban yang egaliter. Idiom ini sungguh unik karena
setiap suku atau etnis, punya kosakata khas. Idiom bisa dipilih dari jenis mamalia ( Anjing, kambing, kerbau, tupai
(bajing) dan babi. Anjing, babi, dan tupai ( bajing) paling terkenal ), serangga ( Jengkerik, kutu busuk), kotoran
manusia ( Faeces/ tahi), dan aktivitas privat lain semacam kopulasi/ senggama ( kawin). Keberagaman gaya ekspresi
ini bisa terungkap manakala kita bergaul dengan manusia yang berasal dari berbeda daerah, ambil contoh Surabaya
dengan dantjuk-nya, Bandung dengan njing-nya, Solo dengan asem-nya, atau Ambon dengan puki-nya. Banyak
sekali sebenarnya pilihan kata yang bisa digunakan sebagai instrumen kekesalan, dengan label ―tidak sopan‖ jika
menggunakan nilai budaya setempat. Mengekspresikan kekesalan dengan pilihan idiom umpatan seringkali justru
menghasilkan rasa kepuasan sekejap, kenikmatan rasa berdosa (guilty pleasure), berikut sensasi kehebatan
pemberontakan terhadap nilai, yang terasa mengungkung kebebasan berekspresi pribadi di ruang publik. Atau, kalau
dalam interaksi perkawanan, maka idiom ini seringkali terlontar sebagai bagian ungkapan keakraban yang egaliter,
sekaligus membuang jauh- jauh sikap snobisme budaya yang terkadang menjengkelkan.

Apakah manusia yang memposisikan diri sebagai pemerintah selalu lebih tahu dan lebih cerdas dibanding
sekelompok warga manusia yang diperintah ? Tentu saja tidak. Mereka, yang dipilih oleh warga diperintah, untuk
duduk dalam pemerintahan, dalam mekanisme demokrasi, adalah karena faktor kepercayaan populis, bahwa
keadilan akan dipegang dalam membuat kebijakan ( policy) untuk umum. Kuncinya adalah pada pengetahuan (
epistemologi). Dan kunci bernama pengetahuan ini pulalah yang memotivasi salah seorang anak muda, bernama
Soewardi Soerjaningrat ( Ki Hajar Dewantara), untuk menuliskan ekspresi kekesalannya terhadap sikap
Pemerintahan Hindia Belanda waktu itu, di tulisannya yang fenomenal Als Ik Nederlander Was. Tulisan yang
didasari epistemologi kuat, tentang rasa kebangsaan yang terinjak, oleh ulah sekelompok manusia yang duduk
sebagai penguasa ini, menjadi bagian gelombang besar revolusi berdirinya Negara bernama Republik Indonesia, di
kepulauan Nusantara. Ekspresi kekesalan yang didasari oleh kedalaman epistemologi ( pengetahuan) dan kejelasan
ontologi ( sudut pandang), dalam satuan ungkapan jalinan kata berwujud tulisan, mampu menginspirasi pemikiran
[Link]

kerumunan manusia secara kolektif, artinya terjadi reproduksi kekesalan dalam frekuensi yang sama bagi manusia
yang membaca tulisan tersebut.

Mungkin, disinilah letak pembeda antara kekesalan yang diekspresikan lewat idiom umpatan dengan tulisan, yaitu
efek resonansi intelektual yang terjadi selanjutnya. Umpatan memang efektif untuk memancing rasa kesal dengan
cepat, apalagi bagi yang paham dan sensitif rasa bahasanya, tetapi tidak akan cukup efektif untuk menimbulkan
kekesalan kolektif dan resonansi intelektual masif. Sedangkan tulisan yang terstruktur dengan kedalaman
epistemologis ( pengetahuan) dan ketegasan ontologis ( sudut pandang), sama- sama memancing perhatian publik
dan mereproduksi kekesalan, akan menimbulkan resonansi intelektual masif, orang menyebutnya menginspirasi.
Walaupun di lain sisi, akan membutuhkan banyak waktu untuk memahaminya.

Kekagetan publik terhadap seorang anggota dewan, yang melontarkan idiom umpatan, terasa wajar apabila dilihat
dari mekanisme seleksinya ( Pemilu) yang rumit dan boros duit. Tentunya publik berharap banyak bahwa spesies
manusia- manusia yang terpilih menjadi sosok pemerintah ini, memang memiliki kedalaman epistemologis (
pengetahuan) dan ketegasan ontologis ( sudut pandang) dalam membuat kebijakan (policy), menyangkut hajat hidup
warga yang diperintahnya. Adalah wajar apabila ada segelintir warga diperintah yang mengumpat dengan intelek,
karena warga diperintah bisa jadi jauh lebih cerdas daripada pemerintahnya. Pemerintah sebaiknya jangan berharap
akan lahir lagi snobisme nilai atau negara drama seperti Orde Baru yang lampau, apalagi jika berharap bahwa
Negara Indonesia memang terbangun sebagai sebuah peradaban yang cerdas kolektif. Bagaimanapun juga, itu resiko
yang harus dihadapi manusia yang memerintah manusia lain, dimana sebenarnya fungsi kognitif dan
metabolismenya sama saja. Pemerintah bukanlah manusia setengah dewa atau dewa seperti laiknya Dewa Olympus
yang bisa membodohi manusia.

Jangan kaget juga jika saking kesalnya, maka warga diperintah akan mengumpat dengan sangat tidak intelek,
menggunakan idiom mamalia, serangga, kotoran, atau senggama, karena kapasitas intelektual dipengaruhi oleh
kedalaman epistemologi. Dan kedalaman epistemologi dipengaruhi oleh distribusi peluang mendapatkan pendidikan
formal dan informasi. Tugas pemerintah untuk memastikan pendidikan warganya bukan ?Anggap saja umpatan
sebagai idiom tanda keakraban antara pemerintah dengan warga yang diperintah, bahwa manusia pemerintah
tidaklah lebih sakti mandraguna dibanding manusia warga diperintah..

Mengumpat secara intelek, dengan kedalaman epistemologis ( pengetahuan) dan ketegasan ontologis ( sudut
pandang), akan lebih mampu melahirkan rasa kesal kolektif, berikut reproduksi ide, untuk selanjutnya bisa
mengingatkan manusia yang duduk sebagai pemerintah. Dan jurnalisme warga cukup terbuka untuk terjadinya
resonansi intelektual itu, maka manfaatkanlah sebaik- baiknya, Sobat. Percayalah, P ini bukan sekedar
omongdoang ( omdo).
NB :

Bangsat :

1. Sejenis serangga penghisap darah yang hidup di sela- sela lipatan kursi atau kasur, sering disebut dengan kutu
busuk

2. Idiom umpatan yang ekspresinya bisa memicu terjadi konflik bahkan pertumpahan darah sesama spesies manusia

Written by Maximillian
Posted in rational
Tagged with demokrasi, demokrasi manusiawi, kebangsaan, kritik sosial,nasionalisme, peradaban, resonansi intelektual
[Link]

SALAD DAYS_____________________________

H m, pernah ―ada rasa‖ dengan cewek ? Jatuh cinta ? Umur berapa itu
? Kalau, sekitar usia SMP- SMU, sudah berapa kali pengalaman ? Pernah
saingan berebut perhatian cewek, dengan kakak ( adik) sendiri , kawan
baik, atau preman ? Ditembak adik kelas ? Atau justru menembak kakak
kelas ? Ditolak dan merasa merana, atau justru menolak dia lalu
menyesali diri ? Menemukan semangat belajar setelah diskusi dengan
cewek cerdas yang misterius, atau malahan terganggu kehadiran cewek
cakep yang merusak konsentrasi ? Kamu masih ingat dengan momen-
momen itu ? Atau butuh stimulan grafis yang sanggup membangunkan
kenangan indah ( atau, mungkin kenangan buruk) masa remaja awal itu ?

Fragmen realistis, menggelitik, cerdas, lazim, penuh kejutan, dan


sekaligus komikal ala Shinobu Inokuma ini, terjajar di daftar manga (
komik Jepang), yang masuk standar layak koleksi saya, bersanding
dengan Urasawa Naoki tentunya, bertetangga dengan Frank Miller ( AS)
dan Marjane Satrapi ( Iran- Perancis) serta grafis klasikGoschinni-
Uderzo ( Perancis) dan Herge ( Belgia). Grafisnya realistis, dengan
anatomi yang masuk akal. Kekuatan Salad Days justru pada temanya yang ―mudah‖, soal cinta remaja, di
lingkungan sekolah.

Kelindan masalah khas remaja usia sekolah, semacam pencarian jati diri, ujian akhir nasional, ulangan mingguan,
laboratorium, tawuran, organisasi sekolah, kompetisi ranking, sampai motivasi mencapai universitas favorit,
menjadi baluran bumbu sedap, yang membuat tema romantis ala Shinobu Inokuma ini menarik diikuti. Latar ruang
dan waktu, berikut sudut pandang pentingnya pendidikan formal, membuat Salad Days tidak linear ( makanya, saya
koleksi), sangat lateral, sekaligus realistis. Faktor fokus pada sudut pandang pelajar inilah, yang membuat seolah
saya kembali lagi ke masa itu, dan bisa menyelami saat- saat kebingungan menghadapi soal ujian, tetapi masih saja
menoleh kalau lihat siswi kelas sebelah ( yang cantik) lagi lewat.

Optimisme pelajar, untuk menatap masa depan, atau justru malah kebingungan dengan nasib masa depannya,
menjadi poin kultural terpenting dalam sajian grafis Inokuma. Tanpa harus kehilangan momen kejutan romantis,
atau mengganggu proses belajar akademis- seperti yang selama ini menjadi kekhawatiran orang tua siswa-, relasi
cowok dan cewek yang baru merasakan ada rasa aneh bin ajaib antara mereka itu tergambar secara sederhana, wajar,
serta masih dalam koridor batasan etika yang sesuai dengan prinsip etika saya saat ini. Bagi saya, disinilah letak
kecerdasan Inokuma, galian fragmen romantis dalam suasana kebingungan psikologis khas remaja untuk
menemukan dirinya, dibalut suasana realistis sistem pendidikan formal yang sarat penanaman nilai.

O iya, apakah saya punya memori dipendam, yang tidak sengaja tergali, pasca menyelami Salad Days ? Tentu saja,
maka itulah saya tulis ini. Waktu itu sedang bingung memilih universitas,tanpa dinyana tiba- tiba ada telepon yang
masuk, suara halus yang memberi ucapan selamat ( secara kebetulan, dia mendengar dari adiknya, saya juara sebuah
kompetisi di propinsi, waktu itu).Suara seseorang yang saya kenal, cewek manis dan cerdas, sahabat lama yang
sekolah di lain tempat. Si manis ini juga mengajak untuk masuk institut di Kota Bandung, yang mendadak sontak
membuat saya menghapus opsi pilihan sebuah universitas di Kota Depok atau akademi militer di Kota Magelang,
[Link]

dan akademi akuntansi di Kota Bekasi. Dua pilihan dimasukkan ke satu institut yang sama langsung, saya sangat
yakin dengan itu, apalagi suara si manis menguatkan tekad.

Setelah diterima, baru saya tahu kalau si manis ternyata memilih universitas di kotanya, tidak jadi ke Bandung. Lalu,
kenapa bisa telepon dia yang masuk membuat saya memutuskan langkah ? Yup, sebuah kisah masa lalu, kami satu
sekolah sebelumnya, dan ada peristiwa tidak mengenakkan, dia merasa saya tolak, atau pendeknya, bertepuk sebelah
tangan bukan ?. Ini membuat semacam perasaan bersalah di dalam diri saya, walaupun sebenarnya, saya punya rasa
yang sama dengan dia, yang baik, manis dan cerdas lagi ( beliau memegang juara kompetisi sains propinsi). Tetapi
posisi saya kala itu, ketua OSIS dan Pratama Pramuka, membuat pertimbangan jadi lain, soal etika publik. Jadinya
CLBK ( Cinta Lama Bersemi Kembali) istilahnya ? Dan kilatan memori itu membawa kembali ke momen keputusan
bodoh kala itu.

Dari Salad Days, baru saya paham, bahwa rasa ditolak ternyata bisa sangat menyakitkan buat seorang cewek, baru
saya pahami kemarahan beliau waktu itu ( dan bodohnya saya !)…..Itupun setelah tujuh tahun terlewat LOL!

Selamat menempuh hidup baru, Sahabat manis. Semoga berkah selalu. -_-‘

Written by Maximillian
Posted in soul
Tagged with cinta pertama, entahlah, komitmen, lupa ingatan, salad days,soal cewek

SIANG HWEE_____________________________

M igrasi sudah lazim dijalankan komunitas


manusia, sejak awal munculnya jenis kita di
Planet Bumi. Diawali dari keluarnya nenek
moyang pertama manusia modern keluar dari
Benua Afrika, menuju benua di sekitarnya,
memenuhi hasrat keingintahuan, atau sekedar
bertahan untuk tetap hidup, mencegah kepunahan
[Link] kemudian hari muncul batasan-
batasan abstrak, semacam kerajaan dan nasion (
kebangsaan), maka itu adalah salah dua bentuk transformasi sosial, modusnya evolutif lebih sering revolutif, upaya
sekumpulan manusia untuk menegaskan identitas ras, atau sukunya, atas sejengkal tanah wilayah. Juga antitesis dari
upaya sekelompok manusia untuk menguasai kelompok manusia lain, atas nama egosentrisme dan berujung
monopoli pasar tentunya. Migrasi diikuti adaptasi, asimilasi, kohabitasi, dan hibridisasi, beberapa konflik terjadi,
rekonsiliasi menjadi solusi, dan seterusnya.

Migrasi kelompok manusia berkulit kuning langsat bermata sipit, dari Kekaisaran Tiongkok, menuju Kepulauan
Nusantara, yang dihuni mayoritas manusia berkulit sawo matang bermata lebar, tercatat terjadi besar- besaran
[Link]

pertama (1860- 1890) berjumlah 318.000 orang, 40% mendarat di Pulau Jawa, dan 60% di pulau lain, terutama
pesisir Timur Sumatera, Bangka dan Belitung. Apakah sudah ada manusia berkulit kuning bermata sipit sebelum
migrasi ini ? Tentu. Bahkan jumlah hasil hibridisasi antara kulit sawo matang dan kulit kuning langsat ( peranakan)
berbanding 60: 40 dengan manusia yang baru datang kemudian dari Tiongkok ( totok). Manusia berkulit kuning
bermata sipit ini tidaklah homogen, walaupun untuk awam terlihat susah dibedakan. Marga Hokkien, yang datang
lebih dulu, jumlahnya terbesar, kebanyakan peranakan di Pulau Jawa bermarga ini. Abad ke-19 migrasi besar-
besaran berikutnya adalah Marga Hakka, Kanton, Teochew, dan yang paling akhir, Hokchia, mereka berbeda dialek,
sangat heterogen. Urutan migrasi mempengaruhi cara beradaptasi dengan penduduk sebelumnya, berikut model
bangunan bisnis yang dibangun di Kepulauan Nusantara, yang kala itu bernama Hindia Belanda. Peranakan, yang
mayoritas Hokkien, lebih suka berusaha dengan kekuatan sendiri, menjadi pebisnis. Sedangkan totok, karena tidak
punya modal cukup dan masih harus meraih kepercayaan, memilih menjadi pegawai negeri Hindia Belanda, atau
orang upahan.

Waktu berlalu, dan dalam perkembangannya, bisnis Marga Hokkien cenderung memainkan peranan penting dalam
perdagangan hasil bumi di kota- kota besar, ini membutuhkan modal paling besar. Orang Hakka, kebanyakan
memainkan peran distribusi, menjadi pemilik toko dan warung eceran, butuh modal lebih kecil. Posisi ekonomi
Kelompok Hakka lebih rendah daripada Hokkien pada umumnya di Pulau [Link] besar migrasi paling
akhir, Marga Hokchia, segera membentuk posisi kuat, dengan pilihan yang lebih sedikit, kebanyakan terjun di
bidang kredit, terutama untuk agrobisnis.

Konsentrasi Hokkien cenderung terpusat di area urban ( perkotaan) Pulau Jawa dan Sumatra. Migrasi berikutnya
membuat persebaran konsentrasi sedikit berubah, untuk Pulau Jawa, 30% terkonsentrasi di kota besar, 30% kota
sekunder, dan 40% di pedesaan. Menariknya, di Pulau Sumatera dan Kalimantan, 70% konsentrasi justru di area
pedesaan. Tahun 1900, kaum peranakan dan totok membentuk lembaga terpusat, Tiong Hua Hui Koan ( THHK),
untuk meruntuhkan dinding pemisah antara mereka sendiri, serta antar dialek.

Dalam area persebarannya, Kelompok Tiong Hua mendiami kota besar sebagai pusat aktivitas bisnis, Semarang,
Batavia, dan Surabaya di Jawa, serta Medan dan Palembang, untuk Sumatera. Kota sekunder lain dihuni konsentrasi
dengan tingkat ekonomi lebih rendah adalah Solo, Jogjakarta, Bandung, lalu Makasar di Sulawesi dan Pontianak di
Kalimantan. Konsentrasi terus terdistribusi di daerah- daerah di sekitarnya. Ketika tingkat kemampuan meningkat,
cenderung terjadi urbanisasi. Apakah terjadi hibridisasi ? Tentu. Perkawinan antara manusia berkulit kuning bermata
sipit dengan manusia berkulit sawo matang bermata lebar, banyak terjadi, menghasilkan hibrid manusia berkulit
sawo matang bermata sipit, berkulit kuning langsat bermata lebar, dan segala bentuk modifikasi morfologi lain.

Situasi politik sejak 1900 sampai 1950 di Kepulauan Nusantara terus berubah, dimulai dari Pemerintahan Hindia
Belanda di bawah Kerajaan Belanda, invasi oleh Kekaisaran Jepang, hingga revolusi kemerdekaan dan lahirnya
Republik Indonesia di Kepulauan Nusantara. Bahkan, jika boleh dilanjutkan lagi, sejak 1950 sampai 2010 pun,
situasi politik di Republik Indonesia, yang berkomitmen membangun negara atas dasar kesamaan tujuan ini, bukan
berdasar pada kesamaan ras atau suku, bergolak hingga setidaknya tiga kali perubahan besar, Pemerintahan Orde
Lama yang suka bergelut mencari bentuk ideal , Pemerintahan Orde Baru yang suka sekali membangun dengan
modal pinjaman, kemudian berganti Pemerintahan Orde Reformasi yang sedang berusaha mencari identitas di
tengah arus globalisasi. Di setiap periode rezim, selalu ada kelompok manusia yang mendukung dan menentang,
apakah dia berkulit kuning bermata sipit, ataupun berkulit sawo matang bermata lebar. Bentrokan horizontal di
masyarakat dalam setiap periode bisa terjadi, dan sengaja disulut, dengan motif apapun bisa, sentimen ras,
kepercayaan transenden, hingga yang paling lazim terjadi, kesenjangan ekonomi.
[Link]

Jika memang manusia yang menghuni Kepulauan Nusantara ini bersepakat untuk mempertahankan kedaulatan
Republik Indonesia, maka komitmen awal dahulu untuk membangun sebuah negara persatuan, bukan penyatuan,
harus selalu dibangunkan, di setiap generasi yang baru lahir, yang menggantikan generasi tua sebelumnya. Apakah
dia berkulit sawo matang bermata lebar, atau berkulit kuning bermata sipit, tentunya pilihan sejak lahir itu bukanlah
halangan untuk membangun kedewasaan bernegara bukan ?

Oh iya, ngomong- ngomong, belum membahas kelompok manusia berkulit hitam bermata cerah di pojok timur
nusantara, mereka juga warga negara Republik Indonesia [Link] mereka yang bergunung emas, digali terus
menerus oleh perusahaan milik manusia berkulit pucat bermata biru. Kelompok manusia yang dipercaya
memerintah, sebagian kecil yang dipercaya untuk memegang senjata, serta beberapa manusia cerdas yang
diupahnya, kebanjiran sedikit bagian dolar hasil penjualan gunung emas, merasa sudah cukup lebih kaya. Tidak adil
? Ah, itu kan bagi orang yang tahu. Beruntunglah, masih banyak yang enggan mengumpulkan pengetahuan.
Percayalah, keengganan belajar pengetahuan adalah anugerah, bagi sekelompok manusia yang ingin tetap
mempertahankan penguasaan atas manusia lain.

Inspirasi :
1. Imagined Community, Benedict Anderson

2. Out of Africa Theory

3. Selfish Meme, Richard Dawkins

4. Hoa Kiau di Indonesia, Pramoedya Ananta Toer

5. Animal Farm, George Orwell

Literasi :
Chinese Business Elite in Indonesia and the Transition to Independence 1940- 1950, Twang Peck Yang. National
University of Singapore, Singapura.

Referensi Literasi :

1. Lea E. Williams, Overseas Chinese Nationalism: The Genesis of the Pan- Chinese Movement in
Indonesia, 1900- 1916, Glencoe: Free Press, 1960, hlm. 9- 10, 11,
2. Cator, The Economic Position of The Chinese in The Nederland Indies, hlm. 112
3. Volkstelling 1930, Deel VII, Chineezen en andere Vreemde Oosteringen in Nederlandsche- Indie, Batavia.
Departement van Ekonomische Zaken, 1935, hlm. 11

Keterangan :
Siang Hwee : Majelis dagang; Kamar dagang.

Written by Maximillian
Posted in rational
Tagged with cina perantauan, cina semarang, cina surabaya, hakka, hokkia,kanton, kapitalis cina, nasionalisme, nusantara, siang
hwee, teochew, tiong hoa Indonesia, voc

PSIKOPATOLOGI KOLONIALISME________
[Link]

P enduduk Singapura pada suatu masa pernah secara


kolektif beranggapan bahwa jalan di sepanjang Kota
London, di Kerajaan Britania Raya yang agung, dilapisi
oleh emas. Para penduduk berkulit kuning itu begitu
kagum dengan negeri penakluk lautan dan benua,
tempat lahir pendiri negara Singapura, yang berkulit
pucat dan bermata biru.

Dalam satu ruangan kelas, di sebuah institut teknologi yang penduduknya berkulit sawo matang, seorang perwakilan
perusahaan telekomunikasi dari negeri utara nun jauh, yang penduduknya berkulit pucat dan berambut jagung,
berceramah penuh semangat, mereka kagum dengan tingkat penerimaan konsumen di negeri yang penduduknya
berkulit sawo matang itu, terhadap setiap produk baru yang mereka luncurkan. Setiap ada produk baru dengan
teknologi tambahan yang mereka luncurkan, konsumen selalu antusias menyambutnya, dan anehnya setiap kali
harganya turun, turun pula tingkat penjualannya. Si perwakilan perusahaan ini juga bercerita salah satu pengalaman
unik mereka, pernah mereka meluncurkan produk yang berteknologi 3G sebagai upaya tes selera konsumen, dan
produk 3G langsung diserbu oleh konsumen dengan sangat antusias. Anehnya lagi, pada masa itu,infrastruktur di
negara berpenduduk sawo matang itu belum mendukung penggunaan teknologi baru itu, lalu kenapa mereka
antusias membelinya jika tak dapat digunakan ? Apakah produk telekomunikasi itu akan fungsional, atau asesoris ?
Yah, semakin senanglah perwakilan perusahaan dari negeri berpenduduk pucat dan berambut jagung tadi, mereka
membanggakan sebuah negeri yang pasarnya sangat sangat potensial untuk menjadi pasar utama semua produk
mereka, yaitu negeri sawo matang. Toh mereka tidak peduli dengan fungsionalitas, mereka hanya butuh asesoris
bukan ?

Tahun 1990, di sebuah benua yang disimbolkan berwarna biru, dalam sebuah perebutan bola oleh 22 orang lelaki,
seorang berkulit hitam dengan lincah mengecoh sang kiper dan membuat gol. Dia bergoyang merayakan
kemenangannya, dia berharap bahwa akan ada suatu masa, dimana kaumnya, manusia- manusia berkulit hitam, akan
mampu mengalahkan kaum kulit pucat, untuk berebut bola. 20 tahun kemudian, di benua yang semua wilayahnya
pernah diklaim dikuasai oleh kaum kulit pucat, walaupun penduduknya sebagian besar berkulit hitam, terjadi
momen besar dalam rangka mencari yang terbaik dalam soal perebutan bola oleh tim berisi 11 lelaki, dari seluruh
dunia. Namun, kaum si lelaki berkulit hitam tadi nampaknya tak bisa bicara banyak. Mereka cukup menjadi
penyelenggara dan penonton di benua mereka sendiri, bukan pemenang, mereka kalah budaya.

Kembali ke negara yang penduduknya mayoritas sawo matang, mereka beranggapan bahwa di dalam tanah yang
mereka injak itu, ada harta luar biasa besarnya, dan mereka merasa dirinya sudah kaya. Nun jauh di wilayah negara
itu, yang penduduknya berkulit hitam, sebuah perusahaan milik manusia berkulit pucat, menggali gunung emas
terbesar di dunia, dan mereka bilang itu bukan emas, tapi tembaga! Di pulau yang mayoritas penduduknya tinggal di
situ, sebuah perusahaan milik manusia berkulit pucat lain, berebut sumber energi yang tak akan habis, panas bumi.
Penduduk berkulit sawo matang selalu diajari bahwa mereka harus merasa kaya, karena adanya harta karun
terpendam di tanah yang sekarang sedang mereka injak, tapi cukuplah dengan merasa kaya, karena kekayaan
sesungguhnya dinikmati oleh manusia lain nun jauh, yang membuai mereka seolah- olah mereka masih kaya.
Manusia- manusia berkulit pucat itu lebih mengetahui apa dan berapa harta yang ada di dalam tanah, mereka mampu
mengolahnya, dan penduduk berkulit sawo matang itu, tidak tahu sama sekali, apa dan berapa yang dimaksud
dengan harta karun terpendam, untuk mengolahnya, apalagi menikmatinya.
[Link]

Bolehlah sebuah kaum mengklaim bahwa mereka telah merdeka, secara politik. Namun, efek kolonialisme yang
bertahan jangka panjang adalah sifat inferioritas, rendah diri. Rasa kagum secara kolektif yang terdapat dalam satu
kumpulan orang terhadap pencapaian prestasi sekumpulan orang lain ternyata berbanding lurus dengan rasa rendah
diri dan ketidakmampuan untuk berdiri di atas kaki mereka sendiri, menentukan akan kemana mereka melangkah .
Kolonialisme, yang secara substansial adalah penguasaan sekelompok kaum dengan akumulasi pengetahuan lebih
banyak, terhadap sekumpulan kaum lain, yang tidak mendapat akses pengetahuan, membuat efek reproduksi budaya,
imitasi status sosial, berikut destruksi identitas, dan ujung- ujungnya adalah perluasan pasar hasil produksi. Adalah
sebuah keanehan manakala suatu kaum bangga berstatus sebagai pasar potensial terbesar, tanpa merasa terdorong
untuk memproduksi sesuatu dan mampu memperdagangkannya, padahal mengakunya punya sumber daya alam
berlimpah, ah!

Obat, solusi dari psikopatologi kolonialisme, adalah kemauan penguasaan atas


pengetahuan, episteme [Link] itu adalah tentang diri mereka sendiri, maupun segala sesuatu di
luar dirinya. Teknik itu adalah strategi untuk membuat pengetahuan menjadi lebih memperadabkan sesama manusia.

Terinspirasi Oleh :

Frantz Omar Fanon, The Wretched of the Earth


Kishore Mahbubani, Can Asian Think ?

Written by Maximillian
Posted in rational
Tagged with budaya, ekonomi, frantz fanon, inferior, kebangsaan,kolonialisme, medioker, peradaban, psikopatologi

VAN HEUTZ______________________________

S osoknya tegap, berkepala botak, pandangan mata tajam, dan


kumis melintang. Lelaki ini memainkan salah satu peranan
penting dalam epik penuh pertumpahan darah, adu strategi,
perjuangan harga diri, dan sikap kepahlawanan, yaitu Perang
Aceh. Namanya Johannes Baptista Van Heutz, memori tentang
jenderal gemilang ini terpatri kuat dalam memori rakyat Aceh
dan kalangan militer Belanda , dalam sudut pandang yang
bertolak belakang.

Tahun 1873, Pemerintah Hindia Belanda, cikal bakal Indonesia


sekarang, melancarkan perang terhadap negara merdeka dan
berdaulat, Kesultanan Aceh. Serangan militer pertama pada April
[Link]

1873, dipimpin Jenderal Kohler, berujung pada tewasnya sang jenderal, di area Masjid Baiturahman. Gelombang
serangan berikutnya Desember 1873, berakibat Jenderal Van der Heyden kehilangan mata kirinya, kena tembak.
Pemerintah Hindia Belanda nampaknya tidak boleh menyamakan Perang Aceh dengan Perang Diponegoro di Jawa
atau Perang Paderi di Minangkabau , ada sesuatu yang menjadi inti kekuatan Kerajaan Aceh, mereka harus segera
mencari tahu inti itu, dan menghancurkannya, kalau ingin memenangkan perang itu.
Kampanye perang dirancang ulang dengan perencanaan lebih dimatangkan. Jenderal Van Heutz bekerjasama dengan
ilmuwan pakar keIslaman, Dr. Christiaan Snouck Hourgronje. Sarjana, pakar teologi dan bahasa semit Universitas
Leiden ini pada 1885 belajar tentang orang- orang Islam Indonesia yang naik Haji, langsung di Mekah. Mengganti
namanya menjadi Abdul Ghaffar, mengaku memeluk Islam. Dia menjadi penasehat khusus Jenderal Van Heutz pada
1896. Snouck fasih berbicara bahasa Aceh, Melayu, Jawa, dan dua belas bahasa lain.

Ada perbedaan mendasar antara Peradaban Aceh dengan Peradaban Jawa .Sejarah menunjukkan bahwa rakyat Aceh
punya memori kolektif sebagai bangsa merdeka dan berdaulat di zaman sultan. Dalam sisi tata nilai, sistem organik
masyarakat Aceh beradab dengan tata nilai Islami, bukan hanya untuk ritual atau simbol politis saja. Paparan nilai
Islami lewat interaksi perdagangan dengan dunia internasional waktu itu- sejak abad 13 M sudah berdiri Samudera
Pasai- membuat konstruksi tata nilai sistem organis masyarakat Aceh berbeda dengan sistem organis
masyarakatJawa. Penetrasi nilai Islam di Jawa belum sampai memperadabkan masyarakatnya, cenderung
kompromis dan sinkretis, nilainya bersifat simbolik dan ritual, tata nilai sistem organis masyarakatnya juga
mencampurkan nilai Islami dengan kepercayaan yang sudah ada sebelumnya. Akibat dari hal ini, salah satunya
adalah karakter kepemimpinan orang Aceh cenderung lebih egaliter-kolektif, dibanding orang Jawa yang cenderung
feodal- patriarkal. Kesultanan Aceh pernah pernah dipimpin empat ratu perempuan secara berurutan pada periode
1641- 1699* dan satu laksamana angkatan laut perempuan, Keumalahayati. Karakter masyarakat Aceh punya
kemiripan dengan Minangkabau, dibandingkan dengan Jawa. Terbukti, Perang Jawa berhenti setelah pemimpin
utamanya, Diponegoro, [Link] di Aceh, pergerakan mereka tidak pernah bergantung pada satu sosok
individu, dan itu butuh pemetaan kekuatan lebih detail.

Snouck Hourgronje, yang sebelumnya sudah dikenal oleh banyak pemimpin Aceh dan mengenal peta simpul
kekuatannya, menjelaskan bahwa ada tiga simpul utama, yaitu Sultan, ulama, dan hulubalang. Simpul sultan boleh
dianggap sepi, simpul hulubalang yang feodal, bisa diajak bekerja sama, dan yang harus dipukul keras adalah simpul
ulama, yang paling dipercaya masyarakat Aceh sekaligus ideolog perlawanan. Simpul ulama juga menjustifikasi
Perang Aceh sebagai Perang Sabil ( konflik ideologi). Justifikasi ini membuat inti perlawanan menjadi lebih abstrak,
masif, dan heroik, mereka berani mati untuk membela prinsip yang mereka yakini itu benar.

Van Heutz menerima saran Snouck, dia membentuk pasukan khusus gerilya, kumpulan serdadu pilihan orang
Belanda, juga impor dari Jerman, Austria, serta orang lokal, serdadu Jawa dari Purworejo, karakter ulet orang Jawa,
yang jarang mengeluh dibandingkan serdadu lokal Ambon, dianggap cocok menghadapi ketangguhan orang dan
medan berat Aceh. Pasukan ini bernama Marechaussee ( Marsose), dalam kelompok kecil gerilya jalan kaki, senjata
lengkap, berkarakter pemberani- petarung agresif, dan tingkat mobilitas tinggi. Medan perang yang dihadapi mulai
dataran sampai pegunungan.

Dalam perkembangannya, 1899, Van Heutz dan serdadu marsose-nya membunuh pemimpin perlawanan
berpengaruh kuat, Teuku Umar, di tepi pantai. Perlawanan lanjutan dipimpin Cut Nyak Dien, jandanya. 4 November
1905, Cut Nyak Dien disergap pasukan Letnan Van Vuuren. Perlawanan pasangan lelaki hebat dan perempuan
tangguh itu berpusat di Takengon dan Gayo. 1910, pasukan marsose pimpinan Mayor Christoffel membunuh Pang
Nanggu, perlawanan lanjutan dipimpin jandanya, Cut Meutia, sampai 24 Oktober 1941. Cut Meutia tewas dalam
kontak senjata dengan pasukan marsose pimpinan Sersan Mosselman di Alue Kuning. 1904, Sultan Aceh terakhir,
Muhammad Daud Syah menyatakan diri menyerah. Tetapi perlawanan rakyat Aceh ternyata tidak berhenti
walaupun sultannya menyerah. Tahun 1909, Letnan H.J Schmidt diperintahkan melenyapkan simpul ulama ( para
[Link]

Tengku) yang masih melawan dan bertahan di Pegunungan Tangse. Mei 1910 ia menemukan persembunyian klan
Tengku Di Tiro, penyergapan menewaskan sejumlah besar anggota klan Di Tiro, tapi tidak semua. 1911, sisa klan
Di Tiro ditemukan persembunyiannya, semua lelaki keturunan klan Di Tiro dihabisi, kecuali seorang anak laki- laki
enam tahun, dan bayi lima bulan.

Perang Aceh ini menjadi perang paling berdarah yang pernah dialami Pemerintah Hindia Belanda, tercatat 70.000
orang, atau seperempat penduduk Aceh terbunuh. Di pihak Hindia Belanda, 35.000 serdadu – bule maupun lokal-
tewas. Menderita luka- luka satu juta orang keseluruhan. Perang Aceh juga menghancurkan kewarasan, banyak
orang Aceh sampai depresi dan gila. Tercatat, sekitar 1.000 orang gila berat. Pemerintah Hindia Belanda mendirikan
rumah sakit jiwa terbesar seantero negeri, di Pulau Sabang.

Jenderal Johannes Baptista van Heutz menerima banyak penghargaan tinggi atas keberhasilannya memadamkan
Perang Aceh. Dia diangkat menjadi pemimpin tertinggi Hindia Belanda oleh Kerajaan Belanda, sebagai gubernur
jenderal setelah turunnya William Rooseboom pada 1904.

Dr. Christiaan Snouck Hourgronje, yang sebelumnya bersahabat dekat, kecewa dengan langkah yang diambil Van
Heutz berdasarkan dari hasil investigasinya. Snouck sebenarnya lebih cenderung ke metode asosiasi, daripada
konfrontasi militer. 1906 dia kembali ke Belanda dan menjadi profesor di almamaternya, Universitas Leiden. Dia
menyerukan reformasi kebijakan Kerajaan Belanda di Hindia Belanda, terutama pada kebebasan hak pribumi,
namun tak pernah didengar. Snouck pernah menetap di Garut, dan menikahi perempuan Sunda, keturunan Snouck
kemungkinan besar masih ada.

Marsose menjadi cikal bakal korps polisi militer Kerajaan Belanda, hingga saat ini. Dan nama Van Heutz
diabadikan dalam salah satu satuan militer Kerajaan Belanda, bernama Resimen Van Heutz.

Sementara, kisah tentang Aceh masih terus berlanjut sampai tahun 2010 ini, dalam simpul- simpul penuh epik
kepahlawanan, diwarnai tema kepercayaan dan pengkhianatan, pembangunan dan pemiskinan, penindasan dan
kesalahpahaman, serta bencana alam yang justru membuka kembali pintu persahabatan.

3 Juni 2010 kemarin, Hasan Di Tiro, Sang Wali pemimpin Gerakan Aceh Merdeka, yang sebelumnya
menggerakkan perlawanan kepada pemerintah Republik Indonesia, meninggal di Banda Aceh. Dalam status yang
dia sendiri mengajukan, sebagai Warga Negara Indonesia.

Terinspirasi oleh :
Bernard H M Vlekke, Nusantara
Rosihan Anwar, Sejarah Kecil Indonesia
Ismail Sofyan, Prominent Women in the Glimpse of History
Pramoedya Ananta Toer, Jejak Langkah

* Empat Sultanah Kerajaan Aceh


1. Sri Ratu Safi al-Din Taj al-Alam (1641-1675).
2. Sri Ratu Naqi al-Din Nur al-Alam (1675-1678)
3. Sri Ratu Zaqi al-Din Inayat Syah (1678-1688)
4. Sri Ratu Kamalat Syah Zinat al-Din (1688-1699)

Written by Maximillian
Posted in rational
Tagged with cut nyak dien, infanteri, marsose, perang aceh, perang jawa,serdadu lokal, snouck hourgronje, tengku cik ditiro, teuku
umar, van heutz
[Link]

The Prominent Women_____________


Selama aku masih hidup masih berdaya, perang suci melawan kaphir ini hendak kuteruskan, demi Allah! Polem
hidup, Bait hidup, Imam Long Bata hidup, menantuku Teuku Mayet hidup, Di Tiro hidup, Sultan Daud hidup, dan
kita hidup ! Belum ada yang kalah, Umar syahid, marilah kita meneruskan pekerjaannya, guna agama, guna
kemerdekaan bangsa kita, guna Aceh, guna Allah!…

Cut Nyak Dien memandang pada orang yang berbadan tinggi kurus yang berdiri di depannya itu, seolah- olah
mengharap daripadanya pertolongan guna menjalankan maksudnya dengan sempurna, hati Umar terasuk melihat
muka wanita yang lusuh oleh geram dan berang itu. Saudara sepupunya itu berdarah bangsawan yang panas,
sikapnya seolah- olah harimau betina yang hendak menyerang si pengacau keluarganya, tapi pandangan mata itu
mengisyaratkan pula, bahwa ia seorang perempuan. Kata kesetiannya membisikkan padanya untuk membantu
wanita yang menjanda ini…

Jika hati Dien sesudah itu dapat pula melekat kepada Teuku Umar, maka yang menjadi dasar dan sebabnya
hanyalah satu; Tertariknya hati oleh seorang laki- laki, yang di dalam Sabilillah, melawan kafir hendak dijadikan
kawan seikhwan, rekan seperjuangan. Rekan itulah yang akan mengangkat senjata untuknya, penumpas kafir yang
sedang menodai tanah airnya. Kawan itulah yang yang akan menyertainya dalam ia berhasrat hendak mengusir
orang kafir dari tanah Aceh! Bukanlah suami pengantin yang hilang hendak dicarinya, penghibur hati yang
gundah, melainkan ia hendak mencari rekan berjuang karena ia kehilangan kawan guna menyambung tangan yang
puntung di dalam ia berhasrat hendak menerkam musuhnya

Cut Nyak Dien seorang wanita luar biasa, ibu yang hebat, melahirkan seorang putri pejuang bernama Cut Gambang,
putrinya ini menikah dengan Teuku Mayet, putra Tengku Cik Di Tiro M Saman, seorang pejuang [Link]
nama wanita- wanita muslim utama yang turut menghiasi sejarah panjang Bumi Rencong Aceh, mereka adalah Ratu
Nur Ilah, Ratu Nahsariyah, Laksamana Keumalahayati, Sultanah Tajul Alam Safiatuddin Syah, Sultanah Nurul
Alam, Sultanah Inayat Syah, Sultanah Kamalat Syah, Cut Nyak Meutia, Pocut Baren, dan Pocut Meurah Intan

Mereka adalah Ratu Kerajaan Aceh, komandan tentara angkatan laut Kerajaan Aceh, dan pemimpin pejuang
kemerdekaan.

Di balik semua itu, mereka juga adalah seorang Ibu…

Hanya wanita hebat yang akan mampu mendidik calon- calon pahlawan peradaban, bukan hanya karena keturunan,
namun lebih karena karakter didikan, teladan langsung seorang Ibunda berkarakter pejuang, bukankah Al Ummu
Madrasatun ? Ibu adalah madrasah pertama dan yang utama untuk membentuk karakter pahlawan sejati.

Selamat untuk para Ibu hebat yang telah melahirkan dan mendidik Anda semua yang telah membaca tulisan ini, dan
tentunya untuk Anda, para calon Ibu pembangun peradaban.

Semoga dari tanah Indonesia ini akan terwujud kembali pahlawan- pahlawan wanita hebat seperti di atas, dan
semoga itu adalah Anda, salah satunya.

Ref : The Prominent Women in the Glimpse of History, Ismail Sofyan dkk

Written by Maximillian
[Link]

Posted in soul
Tagged with cut nyak dien, kekuatan perempuan, kesetaraan gender,maskulinitas, perang aceh

Paradoks Stockdale_________________________
“I never lost faith in the end of the story, I never doubted not only that
I would get out, but also that I would prevail in the end and turn the
experience into the defining event of my life, which, in retrospect, I
would not trade.”
“Oh, that‟s easy, the optimists. Oh, they were the ones who said,
„We‟re going to be out by Christmas.‟ And Christmas would come, and
Christmas would go. Then they‟d say, „We‟re going to be out by
Easter.‟ And Easter would come, and Easter would go. And then
Thanksgiving, and then it would be Christmas again. And they died of
a broken heart.”
“This is a very important lesson. You must never confuse faith that
you will prevail in the end—which you can never afford to lose—with
the discipline to confront the most brutal facts of your current reality,
whatever they might be.”

Kolonel Stockdale, salah seorang veteran yang mampu bertahan hidup hingga saat ini, dia salah satu alumni
sadisnya ―Hotel Vietnam‖ hasil kreasi milisi Vietnam Selatan, Vietkong, dalam era Perang Vietnam yang tragis dan
mengharukan itu.

Mungkin bagi Anda penggemar layar lebar pendeskripsi Perang Vietnam semacam Tour of Duty dan Platoon, akan
menyimpan memori seputar penjara bagi tawanan tentara Amerika Serikat yang sial tertangkap. Salah satu yang
masih saya ingat hingga saat ini, adalah penjara terbuka yang berada dalam rawa, dimana si tawanan yang sial itu
tubuhnya sebagian tenggelam di air rawa berwarna lumpur, dia akan mati pelan karena tekanan psikis, kedinginan,
kelaparan, atau menjadi salah satu aduan judi milisi Vietkong yang butuh hiburan sesaat, indah namun dramatis.

Dalam kondisi yang Stockdale sebutkan sebagai ―Fakta Brutal‖ itu, memang hanya beberapa gelintir makhluk
manusia yang mampu bertahan hidup. Dia akan meninggal cepat atau lamban, itu adalah pilihan umum di antara
tawanan. Kalaupun ada peluang untuk terus hidup, maka itu adalah pilihan yang sangat bergantung pada diri pribadi
masing- masing personal. Tekanan itu menyergap lebih cepat manakala menyaksikan teman di samping mereka
yang satu persatu tewas dengan cara- cara yang sama sekali tidak menyenangkan. Menghadapi fakta brutal
mengenai ketidakpastian kesempatan untuk hidup dan melihat matahari esok hari, menghadirkan siksaan psikis yang
membunuh pelahan para prajurit sial itu, setidaknya harapan yang terbunuh adalah titik awal sebelum jiwanya
benar- benar tewas, cepat atau lambat, entah [Link] karena kehilangan harapan untuk hidup
[Link]

Beberapa jenis manusia mematikan rasa ―Optimis‖ dengan kata ―Realistis‖. Ada semacam ketergelinciran logika
definisi, bahwa realistis bukanlah antonim dari optimis. Realistis adalah antonim imajinatif dan optimis sendiri
adalah lawan dari pesimis. Sadarkah pengucap dengan realitas relativitas waktu ? Bahwa ruang dan waktu adalah
entitas relatif yang senantiasa berubah sesuai dengan titik acuan ukuran ? Keterselipan logika ini, mungkin tidak
akan berpengaruh manakala masih pada ranah definisi kosakata. Hal ini akan menjadi problem kompleks, karena
logika ini terselip dalam benak beberapa jenis manusia, yang mereka berinteraksi dan membentuk budaya pembunuh
rasa optimis, menggunakan teriakan, ‖ Realistis dong !‖.

Rasa optimis, yang berarti adanya semacam pengharapan perubahan keadaan menjadi lebih baik pada waktu- waktu
mendatang, dengan tetap berpijak pada realitas saat ini, berikut memperhitungkan variabel yang kemungkinan akan
terjadi, terkadang menjadi satu- satunya yang dimiliki oleh spesies manusia, untuk sekadar bertahan hidup.
Stockdale adalah salah satunya. Dan, rasa itulah yang tidak setiap orang mampu untuk merasionalisasi apa dan
kenapa bisa memiliki akibat timbulnya rasa itu ? Tanpa bisa menjelaskan sebabnya. Dalam beberapa literatur
psikologi terdapat idiom Adversity Quotient- kemampuan mewujudkan ide menjadi realitas- dan Creativity –
mewujudkan sesuatu ide dari abstrak menjadi konkret-. Kedua idiom tadi membutuhkan rasa kuat akan satu hal yang
tidak semua manusia memiliki kekuatan rasa ini, yaitu optimisme.

Lalu, apakah bisa beralasan dengan realitas untuk menghabisi optimisme ? Bisa ! Dan, itulah yang menjadi pilihan
mungkin sebagian besar makhluk manusia. Beralasan kondisi saat ini, untuk tidak melangkah menghampiri masa
depannya.

Menghadapi fakta brutal semacam pengalaman Stockdale, sebenarnya bukanlah menghadapi fakta itu sendiri,
melainkan melawan persepsi diri terhadap fakta brutal, yang terkadang jauh lebih kejam, dramatis, dan sadis
dibandingkan fakta brutal sebenarnya. Fakta atau fiksi, persepsi kitalah yang menentukan respon terhadapnya. Pada
hakekatnya, makhluk bernama manusia ini, harus melawan persepsi dirinya terhadap suatu fakta brutal, dengan
menciptakan fakta- fakta baru abstrak yang harus dia gapai pada waktu yang akan datang, dengan rasa optimis dan
usaha nyata, bahwa fakta- fakta abstrak di kepalanya- yang dia sebut dengan ide itu- akan menjadi konkret. Inilah
yang disebut dengan ‖Harapan‖, salah sekian idiom terkejam yang saya miliki hingga saat ini.

Kata Tuhan, Dia tidak akan merubah keadaan suatu kelompok atau individu manusia, sebelum kelompok manusia
atau suatu individu itu berusaha merubah persepsi mereka bahwa mereka punya kemampuan dan kemauan untuk
berusaha berubah. Yah, itu kata Tuhan. Dia memberikan kebebasan bahkan hingga pada ranah perubahan keadaan,
yang oleh beberapa manusia menyebutnya merubah takdir. Tetapi saya tidak tahu, apakah semua manusia tahu
mengenai kabar yang Tuhan sampaikan ini. Metafora dalam wahyu-Nya memang membutuhkan refleksi substansi
tindakan, bukan hanya simbolitas yang merepresentasikan persepsi sekelompok makhluk manusia.

Bahkan manusia pun, punya kebebasan penuh untuk mempertahankan optimisme, menghadapi fakta brutal untuk
mewujudkan fakta abstrak dalam kepalanya, menjadi fakta konkret pada waktu yang berjalan, sesuai relativitasnya.
Apakah manusia tahu itu ? Ah, memang sebenarnya manusia kan hanya makhluk sok tahu, kita tidak tahu apa-
apa…Hanya yang Mahatahu yang tahu semuanya, makanya saya selalu minta Dia tunjukkan jalan, apapun itu,
silakan menikmati realitas detik ini, dan optimis menghadapi keadaan yang akan berubah, 60 detik lagi.

Ah, Tuhan memang indah, realitas ruang dan waktu , hanya beberapa gelintir manusia yang memahami karya-Nya
ini, itu relatif kawan! Hak manusia untuk membunuh harapan berikut menumbuhkan harapan pun, Dia juga
membebaskan sepenuhnya.

Dan nikmat Tuhan manakah yang akan kau dustakan ?


[Link]

Salah satu kenikmatan saya tahu, bahwa Tuhan membebaskan manusia buat memilih seluas- luasnya. Bahkan hak
memilih untuk menjalani kehidupan itu atau membunuh kehidupannya sendiri. Keren memang…

“ Measure what is measurable, and make measurable what is not so”.


Galileo Galilei
“An optimist may see a light where there is none, but why must the
pessimist always run to blow it out?”
Rene Descartes
Written by Maximillian
Posted in rational
Tagged with brutal fact, fakta brutal, optimisme, persistensi, realistis,realitas, stockdale, valuasi

EKONOMI MAKRO DAN


ENTREPRENEURSHIP_____________________

T erinspirasi kembali oleh karya klasik Yoshihara


Kunio, The Rise of Ersatz Capitalism in Southeast Asia
( 1988), saya berusaha untuk mencari interkoneksi
antara kondisi ekonomi makro yang nampak dinamis
dan canggih di media ( namun sulit dimengerti oleh
awam yang telanjur terkesima dengan penjelasan penuh
istilah keren a la akuntansi ), dengan posisi saya
sebagai pelaku ekonomi mikro serta gembar- gembor
soal ―kebangkitan ekonomi‖ Indonesia 2030 ( mencari
tahu, apakah ini optimisme realistik atau optimisme platonik).

Secara singkat, Yoshihara berpendapat bahwa kapitalisme Asia Tenggara menjadi ersatz karena dua hal, pertama;
Campur tangan pemerintah terlalu banyak, sehingga mengganggu prinsip kompetisi pasar. Belum lagi sebenarnya
banyak pihak di dalam pemerintahan yang main di dua kaki, bisnis dan politik, atau saudara seiblis-nya, bisnis dan
militer. Kedua hal ini menimbulkan jamur beracun bernama pemburu rente ( dan KKN tentunya). Bagi Anda yang
suka dengan buku investigatif, tentu paham bagaimana detail berjalannya Pertamina di bawah Ibnu Sutowo,atau
monopoli terigu Bogasari- Indofood yang nampak gagah tapi bikin miris itu. Hal ini membentuk budaya yang
mematikan wirausahawan sejati, yang sebenarnya terbentuk dari bibit persamaan kesempatan untuk berusaha. Yang
kedua; kapitalisme di Indonesia ( Asia Tenggara) tidak didasarkan pada perkembangan teknologi yang memadai,
akibatnya, sampai sekarang kita merasakan bahwa industrialisasi yang mandiri itu tak pernah tumbuh.

Kapitalisme di Asia Tenggara dominan di bidang jasa, kalaupun di bidang industri, dia hanya bergerak sebagai
―kapitalisme komprador‖ yaitu bertindak sebagai agen industri manufaktur asing di negerinya sendiri ( faktor
murahnya manpower berkemampuan teknis tinggi). Padahal untuk membangun kemandirian ekonomi, maka industri
yang berbasis kreasi teknologi khas- budaya masyarakat ( yang paling tahu target dan kebutuhannya), adalah sangat
penting. [ Jadi, Anda jangan berharap pada kami yang digodok di institut teknologi untuk mampu menjadi motor
[Link]

lahirnya industri berbasis teknologi-yang bisa memberi nilai tambah ekonomi buat faktor produksi di Indonesia-
kenapa ? Sejak semula didirikan oleh Pemerintah Hindia Belanda, institut ini memang dimaksudkan untuk
menyuplai tenaga ahli teknis murah bagi perusahaan Belanda dari kalangan pribumi. Menilik cerita Bernard HM
Vlekke, saya mulai tersadar nampaknya keadaaan itu tidak berubah hingga sekarang, kami dengan bangga hati dan
bersemangat tinggi menjadi bagian dari para "komprador" *]

Memetik pendapat dari Noam Chomsky, bahwa Asia Tenggara secara defaultnya adalah penghasil bahan baku, dan
port-nya adalah Singapura. Sekali lagi, kalau mengingat kembali memori sejarah, bukankah Portugis dan Belanda
dulu sempat- sempatnya mampir ke sini memang karena kita ―kaya‖ bahan baku ? Kalau tidak ―kaya‖, lalu apa yang
membuat nusantara layak untuk diajak ―berdagang‖ ( baca : dijajah) oleh perusahaan multinasional bernama VOC ?
Dan kesadaran bahwa yang berdagang ( baca : menjajah) nusantara itu adalah sebuah perusahaan quasi militer ( baca
: kongsi dagang yang dillindungi tentara) pun, jarang sekali yang menyadari*. Artinya, jika sampai sekarang ekspor
Indonesia masih di sekitaran bahan baku ( misal : sawit, batubara, tembaga, atau emas-nya Freeport), menurut hemat
saya, tidak ada perubahan signifikan .Industri kita mengalami stagnasi selama 30 tahun terakhir. Jika pemahaman
yang dimaksud dalam konsep industri adalah kontribusinya pada pemasukan negara, ditinjau dari proporsi industri
terhadap pertanian, maka sudah signifikan. Tapi, jika mengacu pada pandangan industri kontemporer, kita jauh
panggang dari api. Karena yang dimaksud dengan industrialisasi adalah pendalaman industri. Kemajuan pendalaman
industri ini terlihat dari gradasi peningkatan teknologi proses dan nilai tambah terhadap bahan baku asal ( faktor
produksi).

Kita tidak bisa stagnan bergantung pada industri berbasis low technology yang nilai tambahnya rendah sekali.
Banyak industri kita terjebak pada budaya merakit ( assembling). Saya mencoba untuk menengok ke tetangga, siapa
tahu ada yang bisa kita pelajari, yaitu Korea Selatan. Setiap sepuluh tahun pada mereka terjadi perubahan
pengembangan industri. Selalu ada yang bisa diunggulkan, misalkan pada 1960-an, mereka unggul pada ekspor raw
silk. Bertahap pada 1970-an ke wigs, ships pada 1980-an, leather goods pada 1990-an, dan pada 200-an sampai
dengan sekarang pengembangan automobiles. Kunci dari pendalaman industri adalah pada kekuatan perbaikan terus
menerus ( Continues Improvement), yang tentunya bertumpu pada riset dan pengembangan.

Prof Michael Porter membagi tahapan industrialisasi menjadi tiga, yaitu tahap factor driven (digerakkan oleh
ketersediaan faktor produksi) didalamnya adalah : Angola, Bolivia, dan India; tahap investment driven (didorong
oleh kekuatan investasi) terdapat : Brasil, Afrika Selatan, dan Rusia dan tahap innovation driven (dimotori
kemampuan inovasi) didalamnya : Israel, Jepang, Jerman, dan AS. Pada awalnya,industrialisasi lebih mengandalkan
pada upah buruh rendah dan ketersediaan sumber daya yang berlimpah. Setelah itu laju industrialisasi lebih
ditentukan oleh faktor investasi. Itu sebabnya, persaingan antarnegara berkembang yang paling menonjol saat ini
adalah persaingan untuk menciptakan iklim investasi yang kondusif agar para investor dapat bergerak leluasa di
negara-negara tersebut. Bermacam cara dilakukan, dari deregulasi sampai pemberian insentif besar-besaran.

Tak ada negara yang mau ketinggalan dalam perlombaan memberi kemudahan dan kenyamanan untuk investasi ini.
Negara yang peraturannya berbelit- belit, birokrasinya ruwet, korupsinya meluas, kualitas sumber daya manusianya
rendah, dan infrastruktur bisnisnya parah, tak akan banyak menarik investor. Yang akan terjadi adalah lingkaran
setan (vicious circle) ekonomi biaya [Link] akan memilih negara lain sebagai basis produksinya. Lalu,
apakah jika investasi asing masuk dalam jumlah besar maka Indonesia layak masuk kategori tahap ketiga ? Belum
tentu, kondisi pemain pasar uang di Indonesia masih didominasi oleh asing, berkisar antara 60- 70 %. Hal tersebut
menyebabkan kondisi ekonomi kita masih sangat terpengaruh oleh asing. Arus uang masuk ke Indonesia sifatnya
hanya untuk mencari keuntungan ( gain) sementara, sehingga tidak masuk menjadi modal permanen bagi
pembangunan Indonesia.
[Link]

Saya cenderung kepada pembangunan bertahap, transformasi progresif ini harus ada dan terjadi, mulai dari yang
kecil namun masif -melibatkan semua pihak- dan mulai dari sekarang tentunya. Bukan hanya pemerintah saja yang
bisa diharapkan ( kali ini saya berpikir positif semoga pemerintah benar- benar bisa dikasih harapan), tapi semua
pihak masyarakat. Ada data yang menarik, korelasi positif antara indeks entrepreneurship ( kewirausahaan) dengan
peningkatan positif pendapatan perkapita. Tapi kewirausahaan macam mana yang berpengaruh positif terhadap
pendapatan perkapita negara ? Dalam hal ini, fokusnya sekali lagi pada Opportunity Based Entrepreneurship (
kewirausahaan karena tersedianya peluang untuk menjadi pemain pasar). Untuk negara semacam Indonesia, maka
ada beberapa prasyarat utama yang harus ada, yaitu efisiensi institusi negara ( birokrasi), pemerataan infrastruktur,
stabilitas makroekonomi, dan pemerataan kualitas pendidikan serta kesehatan.

Jika selama ini banyak ahli di media yang berkoar untuk mencontoh apa yang telah dihasilkan oleh Jepang, Jerman,
atau AS, maka itu adalah tahapan berikutnya, yaitu peningkatan kualitas pendidikan tinggi, efisiensi pasar, efisiensi
pasar tenaga kerja, kesiapan untuk melakukan adopsi dan akulturasi ( baca : pencurian) teknologi, serta ukuran pasar
lokal ( untuk yang terakhir ini, Indonesia sangat potensial). Seperti kata George Orwell, ‖ Ignorance is Bliss‖, yup,
bermimpi dan menancapkan target memang indah dan puitis, namun hidup nyatanya adalah prosa, bukan puisi.

Ketika ditargetkan bahwa Indonesia akan ―sejajar‖ dengan Brasil, Cina, dan India, bahkan mengalahkan AS dan
Jepang di suatu masa, maka mari kita lihat detailnya, dimana posisi kita sekarang dan seberapa jauh posisi ini
terhadap target yang akan kita raih. Saya suka ketika ada tokoh yang dengan optimis mengungkapkan optimisme
Indonesia 2020 atau 2030 yang akan jadi raja dunia, namun saya kembali ragu karena yang dijadikan parameter
adalah indikator ekonomi makro, lalu lupa menjelaskan proses- proses ekonomi mikro yang menunjang
keberlangsungan aktivitas ekonomi jangka panjangnya, kali ini saya sepakat dengan Nassem Nicholas Thaleb, ‖
Jangan percaya dengan peramal tren ekonomi, mereka pembual ―. Dari penjelasan Global Entrepreneurship Monitor
saya bisa ambil kesimpulan, bahwa manusia adalah aset ekonomi terbesar suatu negara, dan kunci untuk
membangun aset adalah pada kualitas pendidikan.

Kekuatan ekonomi makro ditunjang oleh solidnya ekonomi mikro, yaitu perusahaan- perusahaan yang dikendalikan
oleh manusia berpengetahuan.

Saya pribadi berharap kepada kawan- kawan pemenang atau nominator kompetisi bisnis anak muda semacam Shell
LiveWire, Wirausaha Muda Mandiri, Telkom Indigo, dan macam- macam kompetisi wirausaha muda lain untuk
tetap solid dan teguh membangun ide inovasi bisnis berkarakter khas, melakukan perbaikan berkelanjutan terus
menerus ( Continues Improvement- KAIZEN; Edward Deming), pertumbuhan berkelanjutan ( Sustainable Growth;
Januar Darwaman, PhD), dan berharap banyak beberapa dekade lagi ( 10 tahun lagi 2020, 20 tahun lagi 2030, mari
kita hitung mundur) kemandirian ekonomi Indonesia menjadi terwujud riil, bukan ersatz lagi. Kali ini saya mulai
memahami nasehat kakek saya, ‖ Alon alon waton kelakon, sing temen bakal tinemu ( Pelan pelan asalkan terwujud,
siapa yang bersungguh- sungguh akan menemukan kesuksesan)‖.

Masih banyak kerja yang harus dilaksanakan, jika memang target kemandirian ekonomi tersebut mau dijadikan
optimisme realistik, ya manjadda wa jada !

Terinspirasi oleh :

Kapitalisme, Noam Chomsky


Black Swan, Nassem Nicholas Taleb
Nusantara, Bernard HM Vlekke
The Rise of Ersatz Capitalism in South East Asia, Yoshihara Kunio
Global Entrepreneurship Monitor Review 2008, GEM
Koran Republika 12 Oktober 2009
[Link]

Global Entrepreneurship Index, Jena Economic Research Paper 2009 ( Grafik diambil dari salah satu halaman paper
ini)
* Vlekke menulis bahwa Kerajaan Belanda belajar dari kegagalan imperium politik Portugis dan Spanyol yang
justru kesusahan untuk mengatur besarnya wilayah politik. Kerajaan Britania Raya dan Kerajaan Belanda justru
membangun imperium ekonomi dengan perusahaan multinasional EIC ( East India Company) dan VOC (
Vereenigde Oost Indische Compagnie) untuk membangun imperium ekonomi. VOC sendiri hancur karena korupsi
di dalamnya. Modus operandi ini masih berlangsung sampai sekarang.

Written by Maximillian
Posted in rational
Tagged with ekonomi riil, entrepreneurship, inovasi pengetahuan,kewirausahaan, makroekonomi, pendidikan tinggi

ENTREPRENEURSHIP KATA SAYA_________

K alau Anda dilahirkan di budaya manusia asli jawa pedesaaan atau


pegunungan macam saya ini, maka pilihan untuk mencapai status sosial
terpuja itu lewat pilihan profesi terbatas, yaitu menjadi tentara- perwira (
senopati), guru- dosen ( begawan), pegawai negeri- pejabat negara ( abdi
dalem- adipati),atau yang lebih kompleks pendidikannya adalah dokter.

Dulu menjadi pegawai kumpeni ( VOC- Perusahaan multinasional


pertama di dunia- lahir di Indonesia) juga adalah primadona, mungkin
transformasi saat ini adalah menjadi pegawai perusahaan multinasional (
positif dari segi status,fasilitas dan prospek masa depan). Mobilitas
vertikal itu harus didapatkan dengan biaya yang tidak sedikit, Jer Basuki
Mawa Beya, kata kakek saya yang juga guru itu. Selain biaya, maka
keuletan dan kerja keras adalah prasyarat berikutnya, kemudian doa
didukung sikap prihatin sebagai sikap pendukung mutlak. Sungguh sangat lazim jika untuk mendukung anaknya
mendapatkan status empat tersebut, orang tua rela puasa senin kamis, puasa ngrowot, puasa mutih, dan segala
macam perilaku kebatinan ala pandhita ( orang soleh model jawa kuno). Orang tua akan bangga menyaksikan
masyarakat menjura pada keempat posisi tersebut, yang akan diperoleh anaknya. Label keluarga sukses pun pasti
disematkan, karena keberhasilan ―mengantar‖ ke posisi yang ―Basuki‖ versi jawa kawasan tertentu.

Posisi pedagang dalam masyarakat jawa bagian tengah- selatan- timur bukanlah posisi terpuja, bahkan stereotype
yang terbentuk cenderung negatif. Idiom populer yang diberikan oleh lingkungan kami semacam Melik Nggendong
Lali, Urip Namung Sawang Sinawang , Mangan Ora Mangan Kumpul, Alon alon Waton Kelakon, Ngono Yo Ngono
Ning Aja Ngono, tidak menempatkan ambisi atau target mendapatkan keuntungan dari marjin perdagangan sebagai
tujuan menarik atau mulia. Bahkan karena menjadi pedagang tidaklah membutuhkan sekolah, sangat aneh jika ada
manusia berpendidikan tinggi bersedia bersusah payah membangun perusahaan dari nol untuk membuka lapangan
pekerjaan atau mendinamisasi ekonomi, berdagang itu untuk kaum pariah, bukan satria apalagi brahmin. Seloroh
Kaya itu Mulia tutur Eyang Deng tidak mendapat tempat di benak kita. Sifat kikir, curang, cerdik, licin, atau yang
lebih canggih via media metafisika menggunakan jasa pesugihan ternak tuyul, babi ngepet, dan ngalap berkah ke
Gunung Kawi sudah menjadi prasangka awalan jika melintas kata ―pedagang sukses kaya raya bermata lebar
berkulit sawo matang‖.
[Link]

Segala cara menghalalkan cara yang haram jadi halal, sikut- menyikut, tindas- menindas, jalan pintas metafisika, dan
hal negatif lain sudah menjadi halangan psikologis, alih alih mencoba untuk terjun langsung membanting tulang
membangun institusi ekonomi swasta. Maka sekilas pintas dapat dilihat, pelaku ekonomi strategis di kota besar jawa
bagian tengah- selatan- timur yaitu Jogjakarta, Solo, Semarang, dan Surabaya mayoritas adalah kawan- kawan
Tionghoa. Saya mengamati bahwa bukannya peluang usaha itu tidak ada, bahkan mungkin sangat besar, namun
persepsi antropologis yang sudah mengurat mengakar itu nampaknya endemik, bahkan hingga saat ini, mengingat
saya sendiri adalah pelaku empiris.

Menyitir pernyataan Muhamad Yunus, peraih nobel perdamaian dengan gerakan bisnis sosial Grameen Bank yang
sudah dikembangkan ke beberapa negara di luar Bangladesh itu, bahwa substansi ekonomi pasar adalah terletak
pada terciptanya peluang untuk menjadi pelaku usaha aktif bagi semua orang, termasuk orang paling miskin,
pengemis bahkan. Setiap orang memiliki kesempatan setara untuk menjadi produsen sekaligus konsumen. Beliau
menantang konsep literatur universitas di AS dan Eropa Barat yang memandang bahwa solusi penciptaan lapangan
kerja adalah dengan membangun megaproyek atau pabrik padat karya dengan modal hutang luar [Link]
tersebut hanyalah temporer, sifatnya untuk menyiasati statistik, dan sama sekali tidak memandang manusia sebagai
faktor ekonomi paling signifikan, dus memandang bahwa pendidikan formal tidak berfungsi signifikan, atau secara
substansi memandang pendidikan formal sebagai institusi penyuplai pekerja, bukan pelaku usaha aktif. Bahwa ilmu
pengetahuan dan teknologi mampu memberikan nilai tambah ekonomi, tidak menjadi bagian dari solusi ala literatur
fakultas ekonomi yang menjadi rujukan konsultan di banyak negara berkembang ( termasuk Indonesia, dan manusia
jawa didalamnya) ini.

Mantan rektor saya, Kusmayanto Kadiman, yang sempat- sempatnya jadi abdi dalem bertitel menteri riset dan
teknologi itu, pernah berkomentar, bahwa kesuksesan riset sains dan teknologi itu bisa dilihat dari tiga hal, secara
pendidikan, mampu menjadi referensi bagi pelaku dan siswa didik. Secara sosial mampu memberikan manfaat
kemudahan baru bagi masyarakat luas, dan secara ekonomi mampu memberikan nilai tambah signifikan. Untuk itu,
kewirausahaan berbasis pengetahuan ( Knowledge Based Entrepreneurship) yang diharapkan ditumbuhkan dalam
institusi pendidikan formallah yang akan menjadi tumpuan dominan perekonomian negara berkembang untuk
mandiri secara ekonomi. Kemampuan untuk memberikan nilai tambah faktor- faktor produksi via pengetahuan dan
teknologi, dengan memadukan kemampuan dagang sekaligus kompetensi sains- teknologi untuk bersaing di pasar
global adalah kuncinya. Namun dalam hal ini, sikap responsif terhadap perubahan, inovatif dan kreatif, tahan
banting dan mampu mengambil resiko tanpa ada contoh, adalah prasyarat yang perlu untuk mencapai tujuan
kewirausahaan berbasis pengetahuan itu.

Kewirausahaan berbasis pengetahuan punya prasyarat budaya yang harus dipenuhi, yaitu sifatnya yang Opportunity
Based Entrepreneurship ( Bisnis karena terbuka peluang) mengharuskan persamaan peluang, kebersihan regulasi (
regulator maksudnya), keadilan peraturan, penegakan hukum, stabilitas politik dalam sebuah negara. Riset Global
Entrepreneurship Monitor ( GEM) menggambarkan jelas, bahwa untuk negara berkembang, model kewirausahaan
yang marak adalah Necessity Based Entrepreneurship ( Bisnis karena terdesak kebutuhan), dan seringkali model
semacam ini susah untuk berkembang pesat, alih- alih membangun nilai tambah ekonomi.

Kembali ke manusia jawa, Prof. Satjipto Rahardjo ( almarhum) yang tulisan renyahnya saya gemari itu memberikan
tesis simpel, bahwa ledakan ekonomi dalam suatu negara dimulai dari aktivitas ekonomi yang berbasis pada budaya
masyarakatnya. Jepang, Cina, Korea, dan Jerman, punya ciri khas masing- masing, sudah terlalu banyak ahli- ahli
pintar bangsa ini yang memberikan puja puji pada budaya mereka, dan tidak lupa menghinadinakan budaya bangsa
sendiri, lalu pura- pura lupa untuk memberikan solusi, jadi bagaimana seharusnya kita memulai menginsafi
kesalahan ( Jika memang sekarang kita salah) ?
[Link]

Saya sangat positif bahwa yang namanya kemajuan ekonomi itu haruslah dinikmati proses pencapaiannya, dan
kenikmatan itu tidak lain tidak bukan adalah dengan berusaha untuk menjadi diri sendiri. Kemajuan yang didapatkan
dengan mengekor manusia lain bukanlah hakekat kemajuan yang sesungguhnya, melainkan cuma mengekor.
Mencari solusi sebuah masalah sebaiknya dimulai dengan mendefinisikan sumber masalah dulu, sepakat dengan
Bang Faisal Basri, selama ini persepsi UKM ( Usaha Kecil Menengah) adalah UKM sampai mampus, dan tidak
melihat bahwa masalahnya ada pada manusia penggeraknya, jikalaupun dua orang manusia dengan kemampuan
dagang sama, namun yang satu lulusan SD inpres dan seorang lagi lulusan institut teknologi bagus, dengan awalan
modal dan model bisnis sama, maka kemungkinan besar orang kedua akan membangun perusahaan lebih pesat,
karena bisnis adalah soal mencampurkan imajinasi, kreativitas, informasi, pengetahuan, dan ambisi.

Ada sedikit catatan kecil, saat ini pun, label ―pengusaha‖ ala media lazimnya masih diberikan kepada pelaku
ekonomi kapitalisme ersatz** yang bisnisnya tidak bisa hidup kalau tidak berdiri di dua kaki, bisnis dan politik (
atau militer). Bukan berbasis ide yang mampu diterima-cobakan dan tangguh bermain di pasar,melainkan peluang
―demand‖ yang didapat karena informasi berbasis kolusi- nepotis ( bahasa halusnya : networking), kemudahan (
privilege), yang lebih tepat disebut tipikal ―pemburu rente‖, ―tukang mroyek‖, dan para ―penadah tender‖, bukan
entrepreneur sejati. Contoh yang didapatkan masih sangat sedikit di sini, dan masih butuh banyak lagi kedepannya.

Sambil berjalannya waktu, bertambah luasnya pemakai internet, semakin egaliternya dunia pendidikan, saya
memandang positif bahwa persepsi negatif, stereotype kaum pariah, turunan nenek moyang jawa saya itu akan
bertransformasi baru. Bahwa pengetahuan itu adalah kekuatan, bisa dimaknai lebih luas lagi, tidak perlu beternak
tuyul, ngalap berkah di Gunung Kawi, atau berdiri di dua kaki bisnis- politik untuk berhasil berbisnis. Bahwa status
sosial itu dibentuk oleh kontribusi karya, bukan bentukan profesinya. Bahwa menjadi wirausahawan intelek didikan
perguruan tinggi ( bahkan sampai setingkat doktor kalau perlu) yang membangun institusi bisnis swasta, atau
kasarnya ―dagang‖ alias saudagar, bukanlah posisi yang lebih rendah atau bodoh dibandingkan dokter, adipati,
senopati, maupun begawan. Bahwa menjadi pelaku ekonomi riil yang aktif, sebagai produsen, dengan digabung
pengetahuan- kompetensi yang didapat lewat sekolahan itu, dampak ekonominya akan lebih dahsyat untuk ikut serta
membangun bangsa Indonesia yang mandiri dan bermartabat.

Terinspirasi oleh :

Para Priyayi, Umar Kayam


Mangan Ora Mangan Kumpul,Sketsa Umar Kayam
Majalah SWA sembada, edisi 22 Januari- 4 Februari 2009
Membangun Dunia Tanpa Kemiskinan, Muhamad Yunus
Global Entrepreneurship Review 2008, GEM
Hoa Kiau di Indonesia, Pramoedya Ananta Toer
Kompas, edisi 9 Januari 2010
Kapitalisme Semu Asia Tenggara, Yoshihara Kunio
Catatan :
* Judul ini adalah majas pars pro toto
** Sistem kapitalisme semu, dibangun oleh birokrat dan militer yang berfungsi sebagai penjual jasa untuk para
pengusaha pemburu rente ( kasus di Indonesia dan Asia Tenggara kebanyakan). Sistem ini ikut mematikan budaya
kewirausahaan masyarakat Indonesia.

Written by Maximillian
Posted in rational
[Link]

Tagged with bisnis daerah, ekonomi mikro, entrepreneurship, homo economicus, knowledge based
entrepreneurship, makroekonomi, pemuda

MENSYUKURI RASA SYUKUR_____________


“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah
(nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka
sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”
( Q.S. Ibrahim; 7)

S yukur itu apa ? Atas dasar apa saya bersyukur ? Kalau


semua, adalah karena hasil kerja keras, kejeniusan, visi saya,
usaha saya, dan memang sudah saya rencanakan semuanya,
apakah Tuhan ikut campur tangan di setiap proses itu ? Semua
probabilitas memang sudah kita perhitungkan, kompetitor pun,
bertekuk lutut mengakui kita, semua karena dedikasi,
konsistensi, kekuatan kita, dan kompetitor terhebat pun, tidak
dalam kondisinya yang terbaik, apa mau dikata ?

Saya adalah manusia terbodoh dan miskin, atas dasar apa saya bersyukur ? Saya akan bersyukur jika dan hanya jika
doa saya terkabul. Saya kalah, terhina, dan terus dikecewakan, kalaupun doa, saya tidak merasa akan didengar,
tidak terlintas di kepala saya, bersyukur, sedetikpun. Saya adalah orang hilang, dari kaum yang terbuang, saya bukan
siapa- siapa, bahkan di keluarga sekalipun, bagian mana yang harus disyukuri ?

Jujur, dari sudut pandang pelaku, kecepatan komunikasi dan informasi, dari seluruh dunia, membuat kompetisi dan
benturan, semakin tinggi intensitasnya. Gelora prestasi atas pencapaian, yang dilandasi motivasi personal atau
kelompok, untuk selalu menjadi lebih baik, daripada hari kemarin, atau selalu menjadi paling unggul, dibanding para
pesaing, membuat rasa senang, sekaligus capek [Link] rasa ekstrem, antara menang dan kalah,
membuat sebagian kalangan urban, mencari momen- momen kontemplatif, yang berasa spiritual komunal, maka
tidak heran jika forum kajian yang berusaha mendekatkan personal dengan Tuhan, atau momen spiritual personal,
semacam meditasi dan yoga, menjadi marak dan terlihat seksi. Momen- momen yang berasa menjadi tempat
relaksasi, atau menemukan identitas diri, mengumpulkan tenaga kembali, untuk kembali terjun di medan
pertarungan lagi, keesokan harinya.

Saya harus mengakui, bahwa variabel produktivitas, adalah parameter sakti bin seksi, yang menjadi salah satu
penguat variabel profitabilitas. Inovasi teknologi menjadi sungguh teramat keren, fasilitas semua seolah
memanjakan konsumen, manusia berusaha membuat semua hal dapat dipastikan sedetailnya, berikut membuat
peradaban manusia menjadi semakin produktif, dalam menghasilkan pencapaian baru, setiap sepersekian detiknya.
Peradaban manusia berevolusi, transformasi sosial maju melesat.

Formulasi baru, pemodelan strategis, atau inovasi instrumen tercanggih, dibuat untuk mengakomodasi kemauan
manusia, memastikan segala sesuatu, yang ada di luar dirinya, ataupun di dalam dirinya. Jika saya bedakan pada dua
kategori besar peluang, yaitu ―Ketidakpastian‖ dan ―Resiko‖. Maka manusia berusaha keras mendefinisikan semua
[Link]

komponen, merubah ―Ketidakpastian‖ menjadi ―Resiko‖. ―Ketidakpastian‖ tidak memiliki komponen elemen yang
terdefinisikan, sedang ―Resiko‖, memiliki komponen elemen terdefinisikan, yang memudahkan proses pengambilan
keputusan. Hidup manusia memang soal ketidakpastian, dan manusia,dengan fungsi kesadarannya, berusaha
membuat ketidakpastian itu menjadi resiko, yang bisa dipilih opsi- opsinya.

Rasa syukur, yang seringkali didefinisikan sebagai :berterima kasih dan merasa berhutang budi kepada Allah atas
karunia-Nya, bahagia atas karunia tersebut dan mencintai-Nya dengan melaksanakan ketaatan kepada-Nya, seolah
diasosiasikan bahwa ada variabel yang belum terkuantifikasi, yang turut mempengaruhi proses, yaitu campur tangan
Allah, dalam pencapaian target. Di beberapa kalangan, mereka ogah mengasosiasikan variabel perhitungan dengan
aspek transendental. Akan lebih terasa ―bebas nilai‖, jika mendefinisikannya dengan : faktor X, keberuntungan, atau
limit mendekati 100%, tidak sampai 100%, cukup 99,99% sudah sepenuhnya ―dikendalikan‖.

Okelah, saya tidak ingin menghakimi siapapun, dengan label manusia syukur, atau kufur, karena sudut pandang
manusia dipengaruhi oleh budaya, pengalaman, dan pengetahuan yang telah tersimpan di otaknya. Lagian, hidayah
juga variabel yang diluar otoritas manusia, itu adalah urusan prerogratif Allah.

Kenapa ? Karena toh saat saya menuliskan ide ini pun, saya masih menghisap beberapa liter oksigen dengan
nikmatnya, saraf simpatik dan parasimpatik saya bekerja lancar, fungsi hormonal juga nampak efektif, berikut
pencahayaan matahari yang dipantulkan ke fungsi optik saya, fungsi organ kranial saya normal, memungkinkan saya
untuk mengetik sekaligus membaca. Saya tidak tahu, harus kemana saya berterima kasih atas semua yang
menunjang kehidupan saya, sebagai manusia, kecuali kepada yang Maha Menciptakan.

Bahkan, saat berusaha keras memvaluasi dan mengalkulasikan segala kemungkinan ke depan, manusia masih berada
di dalam lapisan atmosfer, lingkup pengaruh gravitasi bumi, masih di lingkungan ekosistem biosfer, yang memang
memungkinkan segala proses aktivitas kehidupan, bisa terjadi. Bahkan sepengetahuan saya, saat beberapa manusia
mengaku tidak punya Tuhan, atau membunuh Tuhan, atau mengeluarkan aspek Tuhan, dalam setiap kesuksesan
target, tidak serta merta juga terjadi penghentian suplai oksigen, atau suplai cahaya, atau pengusiran dari lingkup
gravitasi Planet Bumi, ke manusia tersebut, ini fenomena yang menarik.

Terkadang, segala hasil observasi manusia, semenjak penemuan tulisan pertama kalinya, hingga detik ini, dalam
bentuk konkret maupun abstrak, baik itu sains maupun teknik, membuat manusia merasa bahwa segala sesuatunya
bisa dikendalikan dan dipastikan. Tapi, tetap, bahwa sebuah formulasi terbentuk karena inspirasi pemikiran, hasil
dari observasi semesta. Dan ketika manusia yang terobsesi mengendalikan ketidakpastian merasa sudah selesai,
disitulah titik dimana manusia akan punah.

Bersyukur adalah berterima kasih, atas segala sesuatu, baik itu yang kita definisikan sebagai baik atau buruk.
Bersyukur adalah berterima kasih, atas segala hal yang sudah bisa kita definisikan, maupun belum bisa kita
definisikan, dan sedang berusaha kita definisikan.

Bersyukur juga bukan berarti merasa puas, karena merasa puas adalah jebakan pertama yang membuat manusia
malas bergerak membuat [Link] manusia merasa bahwa segala ketidakpastian telah diubah menjadi
resiko, yang terlihat komponen- komponennya, maka perasan itu akan menggiring ke posisi celaka.

Bersyukur juga bukan hanya saat posisi kita sukses, karena saat kita di posisi yang paling bawah pun, bersyukur
adalah sebuah aktivitas yang menyadarkan fungsi kesadaran kita, bahwa masih ada peluang untuk memperbaiki
keadaan.

Bersyukur sebenarnya tidaklah butuh alasan yang spesifik, bersyukur menurut saya tidak mengenal motif, apalagi
batasan ruang dan waktu.
[Link]

Saya berucap syukur atas rasa syukur yang telah dianugerahkan oleh Allah, Alhamdulillahirabbil alamin…..

“Ini adalah anugerah dari Tuhanku, agar ia mencoba aku, apakah


aku bersyukur ataukah aku kufur. Siapa yang bersyukur,
sesungguhnya ia bersyukur kepada dirinya sendiri, dan siapa yang
kufur, sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya dan Maha Mulia.”
(QS. An Naml: 40)
-Ramadhan Moment-

Written by Maximillian
Posted in soul
Tagged with ketidakpastian, kontemplasi, probabilitas, ramadhan, resiko,syukur

PROMETHEUS LEGACY___________________
Aku tahu kamu tidak tahu apa yang aku tahu.
Dan aku diam, berpura- pura tidak tahu sehingga kamu merasa untuk tidak perlu tahu.
Aku tahu apa yang kamu tidak tahu.
Dan aku sengaja bilang kamu bodoh sehingga kamu merasa tidak mampu untuk tahu
Aku tahu kamu bisa tahu.
Dan aku sengaja bilang kamu akan celaka jika sampai tahu sehingga kamu tidak akan pernah tahu.
Aku tahu kamu belum tahu.
Dan aku tidak akan pernah akan memberi kamu tahu sehingga aku akan tetap mengendalikan hidupmu.
Aku tahu tidak semua manusia yang tahu itu baik.
Aku tahu tidak semua manusia yang baik itu tahu.
Aku tahu hanya sedikit manusia yang baik dan tahu.
Aku tahu semua manusia berhak untuk tahu. Dan aku tahu hanya sedikit yang berusaha untuk mencari tahu.
Aku tahu manusia malas mencari tahu. Dan aku juga tahu manusia tidak serba tahu.
Tuhan Mahatahu, dan Dia menunggu.

Aku akan selalu berusaha mencari tahu, kenapa Dia menunggu.


Aku tahu apa yang kamu tidak tahu dan kamu tahu apa yang aku tidak tahu.
Mau berbagi tahu ?
Maximillian

Note :

Prometheus adalah salah satu titan dalam mitologi Yunani, saudara


Atlas dan Epimetheus. Dia adalah titan yang mencuri api pengetahuan
dari Zeus untuk diberikan kepada manusia. Prometheus dihukum diikat
pada batu dan tiap hari datang burung Elang mencabik dada dan
memakan hatinya, hukuman itu terus berulang karena setiap kali
selesai dicabik, tubuhnya akan utuh kembali untuk
mendapatkan cabikan esok harinya.
[Link]

Prometheus adalah pahlawan bagi makhluk manusia, sehingga manusia mendapatkan pengetahuan, yang
sebelumnya hanya dimiliki oleh para dewa. Dengan pengetahuan itulah manusia bisa merdeka, yang semula dewa
mengendalikan manusia dengan apa yang mereka punyai, yaitu pengetahuan.

Sekarang beberapa jenis manusia bertindak hendak menjadi “DEWA”, menyembunyikan pengetahuan bukan untuk
maksud membangun peradaban, menyampaikan seolah- olah dia ( mereka) tidak tahu apa yang orang lain tahu.
Hanya manusia- manusia baik yang mau berbagi tahu dan mencari tahu yang bisa membangun peradaban manusia
berkualitas, bukan manusia yang merasa serba tahu atau mereka yang enggan berbagi pengetahuan

Written by Maximillian
Posted in soul
Tagged with dominasi, filosofi pengetahuan, hegemoni, pendobrakan,prometheus

Anda mungkin juga menyukai