0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
27 tayangan15 halaman

Pendayagunaan IPeKB untuk Program KB

Dokumen ini membahas upaya pendayagunaan asosiasi Ikatan Penyuluh KB (IPeKB) dalam mendukung program KB nasional. IPeKB bertujuan memanfaatkan tenaga petugas lapangan untuk memperjuangkan aspirasi profesi, meningkatkan peran serta dalam KB nasional, dan meningkatkan kapasitas petugas melalui teknologi informasi. Dokumen ini juga membahas strategi, kebijakan, dan kegiatan IPeKB serta tantangan lemahnya d

Diunggah oleh

Ismail Andi Baso
Hak Cipta
© Attribution Non-Commercial (BY-NC)
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPT, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
27 tayangan15 halaman

Pendayagunaan IPeKB untuk Program KB

Dokumen ini membahas upaya pendayagunaan asosiasi Ikatan Penyuluh KB (IPeKB) dalam mendukung program KB nasional. IPeKB bertujuan memanfaatkan tenaga petugas lapangan untuk memperjuangkan aspirasi profesi, meningkatkan peran serta dalam KB nasional, dan meningkatkan kapasitas petugas melalui teknologi informasi. Dokumen ini juga membahas strategi, kebijakan, dan kegiatan IPeKB serta tantangan lemahnya d

Diunggah oleh

Ismail Andi Baso
Hak Cipta
© Attribution Non-Commercial (BY-NC)
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPT, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PENDAYAGUNAAN ASOSIASI IKATAN

PENYULUH KB (IPeKB)
DALAM UPAYA PEMBERDAYAAN
PLKB/PKB

DIREKTORAT INSTITUSI DAN PERAN SERTA


JAKARTA, 2007
LATAR BELAKANG
• Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2003 tentang Pemerintahan Daerah
• Keppres RI no. 103 tahun 2001 yg disempurnakan dengan Keppres No. 09
tahun 2004 tentang Kedudukan, Tugas, Fungsi, Kewenangan, Susunan
Organisasi dan Tata Kerja Lembaga Non Departemen
• Peraturan Presiden No. 64 tahun 2007 tentang Tunjangan Jabatan Fungsional
Penyuluh Keluarga Berencana.

• SK MENPAN Nomor Kep/I/ 120/[Link]/9/2004 tentang Jabatan Fungsional


PKB dan Angka Kreditnya

• SKB BKKBN dan BKN Nomor 280/HK007/B2/2004 dan no 34 tahun 2004


tentang Petunjuk Pelaksanaan Jabatan Fungsional PKB dan Angka Kreditnya.

• Surat Edaran Direktur Jenderal Perbendaharaan No. 73/PB/2007 tentang


Tunjangan Jabatan Fungsional Penyuluh Keluarga Berencana.

• Surat Sekretaris Utama BKKBN No. 2078/KT-504/F2/2007 tentang Hasil


Pertemuan Tim Formatur Ikatan Penyuluh KB Indonesia.
TUJUAN
A. Umum
Meningkatkan Pendayagunaan dan
Pengelolaan PLKB/PKB dalam wadah
asosiasi Ikatan Penyuluh Keluarga
Berencana (IPeKB) dalam rangka
pemanfaatan Teknologi Informasi untuk
mendukung Program KB Nasional.
B. Khusus
• Mendayagunakan tenaga petugas lapangan yang
terhimpun dalam asosiasi IPeKB yang mempunyai cita-
cita yang sama, baik yang berstatus PNS maupun non
PNS.
• Memperjuangkan aspirasi kompetensi profesi
• Meningkatkan kepedulian dan peran serta dalam Program
KB Nasional.
• Meningkatkan wawasan, pengetahuan petugas lapangan
tentang program KB Nasional dengan pemanfaatan
teknologi informasi sebagai sarana pembelajaran dan
penyebaran informasi.
RUANG LINGKUP
Sasaran
1. Penyuluh Keluarga Berencana (PKB)
2. Petugas Lapangan Keluarga Berencana (PLKB)
3. Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) di
Kabupaten/Kota
4. Pengelola Program KB di provinsi
Jangkauan seluruh wilayah Indonesia
KEANGGOTAAN

1. Anggota IPeKB adalah PKB/PLKB dan pengelola


tingkat kecamatan serta perorangan yang peduli terhadap
Program KB.
2. Status IPeKB adalah ;
• Anggota Biasa
• Anggota Luar Biasa
• Anggota Kehormatan
3. Ketentuan anggota diatur dalam Anggaran Rumah
Tangga (ART)
STATUS DAN SIFAT IPeKB
A. Status
• Tidak ada hubungan hirarki dengan organisasi/lembaga
lain maupun perorangan ditingkat manapun
• Tidak berafiliasi pada partai politik, suku agama dan
golongan tertentu

B. Sifat
• Demokratis, independen, sosial kemasyarakatan dan
tidak komersial.
• Memiliki keleluasaan untuk mengembangkan dirinya.
• Berdasarkan kesamaan tujuan
STRATEGI, KEBIJAKAN DAN
KEGIATAN

A. Strategi
• Mengembangkan Pola Kemitraan
• Memanfaatkan Program-program keterpaduan
• Mendorong Kemandirian
• Mengembangkan Sistem Reward
B. Kebijakan
• Memantapkan komitmen Politis dan
operasional dengan lintas sektor
• Menggali sumber-sumber daya, dana dan
sarana.
• Peningkatan kualitas IMP dan Kinerja
Petugas Lapangan.
PROGRAM

• Pemantapan Mekanisme [Link] KB Lini


lapangan
• Peningkatan kerjasama dan keterpaduan dgn
mitra kerja
• Pemberdayaan PLKB)/PKB kecamatan
KEGIATAN
a) Program Pemantapan Mekop KB Lini Lapangan

• Sosialisasi Mekanisme Operasional


•Sarasehan dan Pendataan Keluarga
•Rakor diberbagai tingkatan
•Peneyempurnaan Pedoman Mekanisme Operasional
b) Program Peningkatan kerjasama dan keterpaduan
dengan mitra kerja

• Bhakti IBI tanggal 20 Juni


• Bhakti KB-Kes Bhayangkara tanggal 1 Juli
• TNI Manunggal KB-Kes (TMKK tanggal 5 Oktober
• Bhakti PGRI tanggal 25 Nopember
• Kesatuan Gerak PKK KB Kes. Tanggal 27 Desember
• Bhakti Pramuka Saka Kencana
• Pertikencana tingkat nasional
• Harganas, Hari Ibu, Hari Ulang Tahun organisasi profesi
• Penggalangan kesepakatan (MoU) dengan (PGRI, Fatayat NU,
Aisiyah, PKK dll)
c) Program Pemberdayaan Petugas Lapangan KB

• Advokasi dan Sosialisasi Petugas Lapangan


• Pendataan Ulang PLKB
• Peningkatan Kemampuan Petugas Lapangan
• Dukungan Operasional
• Pembinaan
HAMBATAN
SEMAKIN LEMAHNYA INSTITUSI DAERAH
DALAM PELAKSANAAN KB

UU 32/2004 memberikan kewenangan kepada


pemerintah Kab/Kota untuk menentukan
program-program pembangunan yang
diperlukan daerah sesuai dengan kebutuhan,
aspirasi, kemampuan dan sumber daya yang
tersedia.
KONDISI INSTITUSI DAN TENAGA LAPANGAN
SEBELUM DAN SESUDAH DESENTRALISASI

INSTITUSI/ TENAGA SEBELUM SESUDAH


DESENTRA DESENTRALISA
LISASI SI

A. INSTITUSI
- PPKBD 82.647 61.719 (81,3 %)
- Sub PPKBD 374.253 322.166 (86,0
%)
B. TENAGA LAPANGAN
- PLKB/PKB 26.074 21.889 (83,9 %)
- PPLKB 4.590 4.134 (90,0 %)
IDEAL : 1 PKB = 2 DESA
(Kurang 16.000 PKB dan 1.000 PPLKB

Common questions

Didukung oleh AI

Through activities such as Bhakti IBI and TNI Manunggal, IPeKB aims to strengthen inter-agency collaboration, enhance community engagement, and foster awareness and support for family planning initiatives. These activities serve to integrate various societal sectors into family planning efforts, promoting a cohesive strategy to address demographic challenges and ensuring community-wide participation and accountability .

Cross-sectoral collaborations are vital in leveraging diverse resource pools and expertise, allowing IPeKB to implement more comprehensive and sustainable family planning initiatives. By forming partnerships across educational, health, and community organizations, such as through Bhakti IBI and TNI Manunggal, IPeKB enhances program visibility and efficacy while fostering a collaborative environment essential for overcoming resource and personnel challenges .

IPeKB has adopted strategies such as developing partnerships, encouraging self-reliance, and implementing a reward system to empower PLKB/PKB. By fostering multi-sectoral cooperation and reinforcing political and operational commitments, these strategies aim to enhance the effectiveness of field officers. The potential effectiveness hinges on the ability to integrate these strategies into the existing local government frameworks, which may vary in their readiness and resources following decentralization .

The structure of IPeKB is democratic and independent by design, allowing members, including regular, extraordinary, and honorary, to focus on community service without political affiliation or external hierarchical influence. Membership rules, outlined in the organization’s bylaws, emphasize egalitarian and autonomous principles, fostering a collaborative environment conducive to achieving shared family planning goals .

Non-traditional collaborators like PGRI (Association of Teachers) and PKK (Family Welfare Program) play crucial roles in supporting IPeKB by providing platforms for advocacy, shared events, and integrating family planning messages into broader educational and welfare activities. These collaborations enable IPeKB to expand its reach and influence through community-based initiatives and partnerships, thereby enhancing the impact of family planning programs beyond traditional health sectors .

Post-decentralization, local institutions face challenges such as reduced financial and technical support from central authorities, resulting in resource constraints and personnel shortages. The transition has led to discrepancies in program priority across regions due to local government discretion under UU 32/2004, often causing a decline in service quality and availability. This necessitates stronger intergovernmental collaboration to align resources with local needs effectively, ensuring consistent family planning service delivery nationwide .

Decentralization shifted the responsibility of family planning programs to local governments, which has resulted in a reduction in the number of family planning officers due to varying regional priorities and resource allocations. Before decentralization, there were 26,074 PLKB/PKB personnel, which reduced to 21,889 after decentralization, indicating an 83.9% retention. This has impacted their effectiveness as the ideal ratio of one counselor to every two villages is unmet, with a shortfall of 16,000 counselors required nationwide to maintain optimal service delivery .

IT integration in IPeKB's strategy is pivotal in enhancing the accessibility and dissemination of family planning information. By utilizing technology for educational purposes, IPeKB aims to improve the efficiency of information exchange among PLKB/PKB and to facilitate a broader reach. This approach allows for continuous learning opportunities and up-to-date knowledge dissemination, which is crucial for adapting to local needs and advancements in family planning practices .

IPeKB's organizational status as democratic, independent, socially-oriented, and non-commercial allows it to operate without hierarchical ties to other organizations or affiliations with political parties, religions, or ethnic groups. This independence provides IPeKB the liberty to develop approaches based on common objectives and maintain an unbiased stance in enhancing family planning initiatives across Indonesia .

The Ikatan Penyuluh Keluarga Berencana (IPeKB) aims to maximize the utilization and management of Family Planning Field Officers (PLKB/PKB) by leveraging their association to increase awareness, enhance competence, and promote active participation in the National Family Planning Program. Specifically, the IPeKB seeks to encourage the use of information technology for learning and disseminating information, advocate for the professional aspirations of family planning counselors, and unify their efforts under shared goals, regardless of their status as civil servants or non-civil servants .

Anda mungkin juga menyukai