0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan23 halaman

Analisis Rasio Keuangan Perusahaan

Diunggah oleh

aulia_rahma_7
Hak Cipta
© Attribution Non-Commercial (BY-NC)
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan23 halaman

Analisis Rasio Keuangan Perusahaan

Diunggah oleh

aulia_rahma_7
Hak Cipta
© Attribution Non-Commercial (BY-NC)
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

URAIAN TEORITIS

A. Penelitian Terdahulu

Saragih (2009) melakukan penelitian dengan judul “Pengaruh Profitability

dan Investment Opportunity Set Terhadap Dividen Tunai Pada Perusahaan

Terbuka Di Bursa Efek Indonesia”. Hasil penelitian menunjukkan Hasil uji secara

simultan atau secara serempak (Uji Statistik F) menunjukkan bahwa variabel ROE

(Return on equity),NPM (Net Profit Margin), MVA/BVA (Market to Book Value of

Assets), dan Property,Plant & Equipment to the Book Value of Assets (PPE/BVA)

secara bersamasama mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap dividen tunai.

Hasil uji secara individual atau secara parsial (Uji Statistik t) menunjukkan bahwa

hanya variabel Return on equity (ROE) dan NPM (Net Profit Margin),yang

mempunyai pengaruh positif dan signifikan terhadap dividen tunai, sedangkan

variabel bebas lain yaitu, MVA/BVA (Market to Book Value of Assets), dan

Property,Plant & Equipment to the Book Value of Assets (PPE/BVA) tidak

mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap dividen tunai.

Hamzah (2005) melakukan penelitian dengan judul “Analisis Rasio

Likuiditas, Profitabilitas, Aktivitas, Solvabilitas dan Investment Opportunity Set

Dalam Tahapan Siklus Kehidupan Perusahaan Manufaktur Yang Terdaftar Di

Bursa Efek Indonesia (BEI) Tahun 2001 -2005.”. Hasil penelitian menunjukkan

IOS berpengaruh secara signifikan pada tahap pendirian, ekspansi awal,

sedangkan pada tahap akhir, kedewasaan, dan penurunan tidak berpengaruh secara

signifikan. Untuk pengujian regresi secara parsial pada tahap pendirian hanya

Universitas Sumatera Utara


rasio aktivitas dan solvabilitas yang berpengaruh secara singnifikan pada IOS,

sedangkan pada tahapan ekspansi awal hanya rasio aktivitas yang berpengaruh

secara signifikan terhadap IOS.

B. Rasio Keuangan

1. Pengertian Rasio Keuangan

Analisis laporan keuangan sangat bergantung pada informasi yang diberikan

oleh laporan keuangan perusahaan. Laporan keuangan tidak akan bermakna

jika tidak dilakukan analisis lebih jauh terhadap angka - angka yang

terkandung didalamnya. Angka-angka itulah kemudian dapat membentuk

rasio-rasio keuangan. Analisis rasio keuangan memungkinkan untuk

mengindentifikasi, mengkaji dan merangkum hubunga-hubungan yang

signifikan dari data keuangan perusahaan.

Analisis rasio keuangan merupakan suatu alat yang digunakan untuk

mengetahui atau menggambarkan posisi kinerja keuangan perusahaan, yang

merupakan perbandingan dari dua unsur yang sistematis. Analisis dan

interpetasi dari macam-macam rasio dapat memberikan pandangan yang lebih

baik tentang kondisi keuangan dan prestasi perusahaan dibandingkan dengan

analisis yang hanya didasarkan atas data keuangan sendiri-sendiri yang tidak

berbentuk rasio (Van Horne, dalam Sawir, 2005 : 6). Dari hasil analisis rasio,

dapat diketahui posisi keuangan perusahaan yang berkaitan dengan masalah

likuiditas, solvabilitas, dan rentabilitas perusahaan.

Universitas Sumatera Utara


Pengertian rasio keuangan menurut Harahap (2006 : 297) adalah angka yang

diperoleh dari hasil perbandingan dari satu pos laporan keuangan dengan pos

lainnya yang mempunyai hubungan yang relevan dan signifikan.

2. Keunggulan dan Kelemahan Rasio Keuangan

a. Keunggulan Rasio Keuangan

Menurut Harahap (2006 : 298) rasio keuangan memiliki keunggulan antara lain

adalah :

1. Rasio merupakan angka-angka atau ikhtisar statistik yang lebih mudah

dibaca dan ditafsirkan.

2. Merupakan pengganti yang lebih sederhana dari informasi yang disajikan

laporan keuangan yang sangat rinci dan rumit.

3. Mengetahui posisi perusahaan ditengah industri lain.

4. Sangat bermanfaat untuk bahan dalam mengisi model-model pengambilan

keputusan.

5. Lebih mudah memperbandingkan perusahaan dengan perusahaan lain atau

melihat perkembangan perusahaan secara periodik.

6. Lebih mudah melihat trend perusahaan serta melakukan prediksi dimasa

yang akan datang.

b. Kelemahan Rasio Keuangan

Menurut Syahyunan (2004 : 81) rasio keuangan memiliki kelemahan antara lain

adalah :

1. Kesulitan dalam mengindentifikasi kategori industri dari perusahaan yang

dianalisis apabila perusahaan tersebut bergerak di beberapa bidang usaha.

Universitas Sumatera Utara


2. Perbedaaan metode akuntansi akan menghasilkan perhitungan yang berbeda,

misalnya perbedaan metode penyusutan atau metode penilaian persediaan.

3. Rasio keuangan disusun dari data akuntansi dan data tersebut dipengaruhi

oleh cara penafsiran yang berbeda dan bahkan bisa merupakan hasil

manupulasi.

4. Informasi rata-rata industri adalah data umum dan hanya merupakan

perkiraan.

C. Rasio Likuiditas

Menurut Darsono dan Ashari (2005 : 51) rasio likuiditas adalah rasio yang

bertujuan untuk mengetahui kemampuan perusahaan dalam membayar kewajiban

jangka pendek. Perusahaan yang mampu membayar kewajiban jangka pendeknya

tepat waktu berarti perusahaan tersebut mempunyai alat pembayaran aktiva lancar

yang lebih besar daripada hutang lancar. Rasio yang umum di pergunakan adalah:

1) Rasio Lancar (Current Ratio)

Rasio lancar, yaitu kemampuan aktiva lancar perusahaan dalam memenuhi

kewajiban jangka pendek dengan aktiva lancar yang dimiliki oleh

perusahaan. Rumusnya untuk menghitung current ratio adalah (Darsono

dan Ashari, 2005 : 52) :

Aktiva Lancar
CR = x 100 %
Kewajiban Lancar

Universitas Sumatera Utara


Semakin tinggi rasio lancar seharusnya semakin besar kemampuan

perusahaan untuk membayar kewajiban jangka pendek. Tetapi rasio lancar

yang terlalu tinggi juga menunjukkan manajemen yang buruk atas sumber

likuiditas. Kelebihan dalam aktiva lancar seharusnya digunakan untuk

membayar dividen, membayar hutang jangka panjang, atau untuk investasi

yang bisa menghasilkan tingkat pengembalian yang lebih. Dalam melihat

rasio lancar, analisis juga harus memperhatikan kondisi dan lingkungan

perusahaan seperti rencana manajemen, sektor industri, dan kondisi

ekonomi makro secara umum.

2) Quick Test Ratio

Quick Test Ratio, yaitu kemampuan aktiva lancar dikurangi dengan

persediaan untuk membayar kewajiban lancarnya. Rasio ini memberikan

indikator yang lebih baik di dalam melihat likuiditas perusahaan jika

dibandingkan dengan rasio lancar, karena penghilangan unsur persediaan

memerlukan jangka waktu yang agak lama untuk dikonversi menjadi kas.

Rumus untuk menghitung Quick Test Ratio adalah (Darsono dan Ashari,

2005 : 52) :

Aktiva Lancar - Persediaan


QTR = x 100 %
Kewaiban Lancar

Dalam menganalisis Quick Test Ratio, faktor lain yang perlu

dipertimbangkan adalah sektor usaha dan lingkungan industri dari

perusahaan.

Universitas Sumatera Utara


3) Rasio Modal Kerja Bersih (Net Working Capital )

Rasio modal kerja bersih digunakan untuk mengetahui rasio modal kerja

bersih terhadap kewajiban lancar. Rumusnya untuk menghitung Net

Working Capital adalah (Darsono dan Ashari, 2005 : 53) :

Aktiva Lancar - Kewajiban Lancar


NWC = x 100 %
Kewajiban Lancar

4) Cash Ratio

Cash Ratio digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan membayar

hutang lancarnya dengan kas atau yang setara kas. Penggunaan cash ratio

juga mengasumsikan piutang sebagai komponen yang kurang liquid.

Ukuran ini umumnya dipergunakan dalam kondisi perekonomian yang

sulit, karena perusahaan akan mengalami kesulitan mengumpulkan piutang

dalam kondisi resesi. Karena itu yang dianggap mampu melunasi kewajiban

jangka pendek hanyalah kas dan surat-suart berharga. Dalam kondisi seperti

inilah, cash ratio dianggap lebih mampu menunjukkan kondisi likuiditas

perusahaan secara lebih aktual. Cash Ratio yang dianggap ideal bagi

perusahaan adalah sekitar 5% sampai dengan 10%. Rumusnya untuk

menghitung Cash Ratio adalah (Darsono dan Ashari, 2005 : 53) :

Kas
Cash Ratio = x 100 %
Kewajiban lancar

Universitas Sumatera Utara


D. Rasio Profitabilitas

Menurut Darsono dan Ashari (2005 : 56) rasio profitabilitas digunakan

untuk mengetahui kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba atau

seberapa efektif pengelolaaan perusahaan oleh manajemen. Rasio profitabilitas

seing digunakan di dalam penelitian ini adalah :

1). Gross Profit Margin

Rasio gross profit margin yaitu untuk mengukur efisiensi pengendalian

harga pokok penjualan, mengindikasikan kemampuan perusahaan untuk

berproduksi secara efisien. Rasio ini berguna untuk mengetahui

keuntungan kotor perusahaan dari setiap barang yang dijual. Jadi, dengan

mengetahui rasio ini, kita dapat tahu bahwa setiap satu barang yang terjual

oleh perusahaan, maka perusahaan akan memperoleh keuntungan kotor

sebesar x rupiah. Kelemahan dari rasio ini adalah hanya menyediakan

keuntungan kotor dari penjualan yang dilakukan tanpa memasukkan

struktur biaya yang ada pada perusahaan.

Rumusnya untuk menghitung Gross Profit Margin adalah (Darsono dan

Ashari, 2005 : 56) :

Laba Kotor
GPM = x 100 %
Penjualan Bersih

2) Net Profit Margin

Net profit margin adalah laba bersih dibagi dengan penjualan bersih.

Rasio ini menggambarkan besarnya laba bersih yang diperoleh oleh

perusahaan pada setiap penjualan dilakukan. Rasio ini tidak

menggambarkan besarnya persentase keuntungan bersih yang diperoleh

Universitas Sumatera Utara


perusahaan untuk setiap penjualan karena adanya unsur pendapatan dan

biaya operasional. Rumusnya untuk menghitung Net Profit Margin adalah

(Darsono dan Ashari, 2005 : 56) :

Laba Bersih
NPM = x 100 %
Penjualan Bersih

3) Return on Asset (ROA)

Retun on asset menggambarkan kemampuan perusahaan untuk

menghasilkan keuntungan dari setiap rupiah aset yang digunakan oleh

perusahaan. Dengan mengetahui rasio ini, kita dapat menilai apakah

perusahaan ini efisien dalam memanfaatkan aktivanya dalam kegiatan

operasional perusahaan.

Rumusnya untuk menghitung Retun on Asset (ROA) adalah (Darsono dan

Ashari, 2005 : 57) :

Laba Bersih
ROA = x 100 %
Total Aktiva

4) Return on Equity (ROE)

Return on Equity adalah untuk mengukur kemampuan perusahaan untuk

memperoleh keuntungan yang tersedia bagi pemegang saham. Rumusnya

untuk menghitung Return on Equity (ROE) adalah (Darsono dan Ashari,

2005 : 57) :

Laba Bersih
ROE = x 100 %
Rata - rata Ekuitas

Universitas Sumatera Utara


E. Rasio Aktivitas

Menurut Darsono dan Ashari (2005 : 59) rasio aktivitas digunakan untuk

mengetahui seberapa efektif manajemen perusahaan menggunakan aktiva yang

dimilikinya dalam melaksanakan kegiatan [Link] aktivitas yang

digunakan didalam penelitian ini adalah :

1) Receivable Turnover

Receivable Turnover adalah penjulan bersih dibagi dengan rata-rata

piutang dagang. Rasio ini menggambarkan kualitas piutang perusahaan dan

kesuksesan perusahaan didalam penagihan piutang yang dimilikinya. Akan

tetapi, rasio yang terlalu tinggi dapat mengakibatkan para pelanggan lari

dikarenakan adanya kebijakan kredit yang terlalu ketat. Rasio ini dapat juga

dijadikan dasar untuk pemberian kebijakan kredit yang dapat meningkatkan

jumlah penjualan dengan memperhitungkan kerugian piutang yang tidak

tertagih. Rumusnya untuk menghitung Receivable Turnover adalah

(Darsono dan Ashari, 2005 : 59) :

Penjualan Bersih
Receivable Turnover = x 1 Kali
Rata - rata Piutang Dagang

2) Rata-rata Penerimaan Piutang (RPP)

Rata-rata penerimaan piutang adalah jumlah hari dalam setahun (365)

dibagi receivable turnover. Dengan melihat rasio ini, kita bisa melihat

dalam jangka waktu berapa hari piutang akan bisa diubah menjadi kas atau

ditagih.

Universitas Sumatera Utara


Rumusnya untuk menghitung rata-rata penerimaan piutang adalah (Darsono

dan Ashari, 2005 : 59) :

365
RPP = x 1 Hari
Re ceivaleTurnover

Rasio penerimaan piutang yang terlalu panjang akan mengakibatkan

kerugian bagi perusahaan karena banyaknya aktiva yang menganggur.

Aspek lain yang harus dipertimbangkan untuk mengurangi penerimaan

piutang adalah penurunan penjualan dan kerugian dari piutang tidak

tertagih.

3) Inventory Turn Over (ITO)

Inventory Turn Over yaitu rasio yang untuk mengukur efisiensi barang

dagangan. Rumusnya untuk menghitung Inventory Turn Over adalah

(Darsono dan Ashari, 2005 : 60) :

Harga Pokok penjualan


ITO = x 1 Kali
Rata - rata Persediaan

4) Lama Persediaan Mengendap (LPM)

Lama Persediaan Mengendap yaitu untuk mengetahui berapa lama jangka

waktu persediaan mengendap di gudang perusahaan. Rumusnya untuk

menghitung lama persediaan mengendap adalah (Darsono dan Ashari,

2005 : 60) :

365
LPM = x 1 Hari
InventoryTurnover

Universitas Sumatera Utara


5) Total Asset Turn Over (TATO)

Total Asset Turn Over yaitu untuk mengukur efektivitas penggunaan dana

yang tertanam pada seluruh aktiva didalam penjualan. Rumusnya untuk

menghitung Total Asset Turn Over adalah (Darsono dan Ashari, 2005 :

60) :

Penjualan Bersih
ITO = x 100 %
Total Aktiva

F. Rasio Solvabilitas

Menurut Darsono dan Ashari (2005 : 54) rasio solvabilitas adalah rasio

untuk mengetahui kemampuan perusahaan di dalam membayar kewajiban jika

perusahaan tersebut di likuidasi. Rasio ini disebut juga rasio leverage, yaitu

menilai batasan perusahaan dalam meminjam uang. Rasio yang umum di

pergunakan adalah :

1) Debt to Asset Ratio

Debt to Asset Ratio, yaitu total kewajiban terhadap asset. Rasio ini

menekankan pentingnya pendanaan hutang dengan jalan menunjukkan

persentase aktiva perusahaan yang didukung oleh hutang. Rasio ini

menyediakan informasi tentang kemampuan perusahaan dalam

mengadaptasi kondisi pengurangan aktiva akibat kerugian tanpa mengurangi

pembayaran bunga pada kreditur. Nilai rasio yang tinggi menunjukkan

peningkatan dari resiko pada kreditur berupa ketidakmampuan perusahaan

Universitas Sumatera Utara


dalam membayar semua kewajibannya. Dari pihak pemegang saham, rasio

yang tinggi akhirnya akan mengurangi pembayaran bunga yang tinggi yang

pada akhirnya akan mengurangi pembayaran dividen. Rumusnya untuk

menghitung debt to asset ratio adalah sebagai berikut (Darsono dan Ashari,

2005 : 54) :

Total Kewajiban
DAR = x 100 %
Total Aktiva

Untuk menilai rasio ini faktor lain yang perlu dipertimbangkan adalah

stabilitas laba perusahaan. Pada perusahaan yang memiliki catatan laba yang

stabil, peningkatan dalam hutang lebih bisa ditoleransi daripada perusahaan

yang memiliki catatan laba yang tidak stabil

2) Debt to Equity Ratio

Debt to Equity Ratio adalah Rasio yang menunjukkan persentase

penyediaan dana oleh pemegang saham terhadap pemberi pinjaman.

Semakin tinggi rasio, semakin rendah pendanaan perusahaan yang

disediakan oleh pemegang saham. Dari perspektif kemampuan membayar

kewajiban jangka panjang, semakin rendah rasio akan semakin baik

kemampuan perusahaan dalam membayar hutang jangka panjang.

Rumusnya untuk menghitunmg debt to equity ratio adalah (Darsono dan

Ashari, 2005 : 54) :

Total Kewajiban
DER = x 100 %
Total Ekuitas

Universitas Sumatera Utara


G. Investment Opportunity Set (IOS)

1. Pengertian Investment Opportunity Set (IOS)

Investment Opportunity Set (IOS) merupakan kombinasi antara aktiva

yang dimiliki dan pilihan investasi dimasa yang akan datang dengan NPV

positif ( Fijrianti 2000 ). Proksi IOS itu sendiri bervariasi bentuknya dan

diklasifikasikan dalam tiga jenis utama ( Gaver dan Gaver 1993 dalam

Pagalung 2003 ), yaitu :

a. Pendekatan berdasarkan harga (price-based proxies),

b. Pendekatan berdasarkan investasi (investment-based proxies),

c. Pendekatan berdasarkan varian (variance measures).

2. Alternatif Investment Opportunity Set (IOS)

Ada beberapa proksi yang digunakan untuk mengukur IOS yang dapat

dikelompokkan ke dalam tiga kelompok, yaitu proksi berbasis harga, proksi

berbasis investasi, dan variance measure. Proksi berbasis harga mendasarkan

pada perbedaan antara aset dan nilai perusahaan sehingga proksi ini sangat

tergantung pada harga saham. Proksi berbasis harga adalah (1) rasio market to

book value of equity; (2) rasio book to market value of asset; (3) Tobin’q; (4)

rasio earnings to price; (5) rasio firm value to property plant and equipment; (6)

rasio firm value to depreciation; (7) rasio market value of equity plus book value

of debt; (8) dividend yield; (9) return on equity; (10) rasio noninterest revenue to

total revenue.

Proksi berbasis investasi menunjukkan tingkat aktivitas investasi yang

tinggi secara positif berhubungan dengan IOS perusahaan. Proksi IOS berbasis

Universitas Sumatera Utara


investasi adalah (1) rasio research and development to assets; (2) rasio research

and development to sales; (3) rasio capital expenditure to book value asset; (4)

rasio capital expenditure to market value of asset; (5) rasio investment to net

sales; (6) rasio capital addition to asset book value; (7) rasio investment to

earning; (8) log of firm value.

Proksi berbasis variance mendasarkan pada ide bahwa pilihan akan menjadi

lebih bernilai sebagai variabilitas dari return dengan mendasarkan pada

peningkatan aset. Proksi berbasis variance adalah variance return, beta asset,

dan variance of asset deflated sales.

H. Penggabungan Usaha

1. Pengertian Penggabungan Usaha

Salah satu strategi untuk mempertahankan kelangsungan hidup dan

mengembangkan perusahaan yang saat ini berkembang adalah dengan

penggabungan usaha. Dengan penggabungan dua perusahaan atau lebih, akan

dapat mengatasi kesulitan yang dihadapi oleh perusahaan yang bersangkutan,

baik dalam masalah manajemen, pemasaran, keuangan, maupun pemasokan.

Sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan dalam Pernyataannya Nomor

22 mengenai Akuntansi Penggabungan Usaha paragraf 08 menyatakan bahwa,

“Penggabungan usaha (business combination) adalah penyatuan dua atau lebih

perusahaan yang terpisah menjadi satu entitas ekonomi karena satu perusahaan

Universitas Sumatera Utara


menyatu dengan (uniting with) perusahaan lain atau memperoleh kendali

(control) atas aktiva dan operasi perusahaan lain”.

Dari definisi penggabungan usaha menurut PSAK Nomor 22 tersebut

dapat disimpulkan bahwa penggabungan usaha terjadi apabila dua perusahaan

atau lebih membentuk satu organisasi tunggal untuk menjalankan usaha.

Penggabungan kesatuan-kesatuan usaha ini seringkali dicapai melalui

penyatuan bermacam-macam perusahaan menjadi unit tunggal yang lebih

besar. Penggabungan usaha juga dicapai dengan perolehan pengendalian oleh

perusahaan yang satu terhadap operasi perusahaan yang lain.

Penggabungan usaha pada umumnya merupakan cara yang dianggap lebih

menguntungkan karena melalui penggabungan usaha itu dapat diperoleh

adanya kepastian mengenai: daerah pemasaran, sumber bahan baku atau

penghematan biaya melalui penggunaan fasilitas dan sarana lebih ekonomis

dan efisien.

2. Bentuk-bentuk Penggabungan Usaha

Dalam PSAK No. 22, dinyatakan bahwa penggabungan usaha dapat

dibedakan menjadi dua, yaitu akuisisi dan penyatuan kepemilikan. Akuisisi

(acquisition) adalah suatu penggabungan usaha dimana salah satu perusahaan,

yaitu pengakuisisi (acquirer) memperoleh kendali atas aktiva neto dan operasi

perusahaan yang diakuisisi (acquiree) dengan memberikan aktiva tertentu,

mengakuisisi suatu kewajiban, atau mengeluarkan saham. Sedangkan

penyatuan kepemilikan (uniting of interest/pooling of interest) adalah suatu

penggabungan usaha dimana para pemegang saham perusahaan yang

Universitas Sumatera Utara


bergabung bersama-sama menyatukan kendali atas seluruh, atau secara efektif

seluruh aktiva neto dan operasi perusahaan yang bergabung tersebut dan

selanjutnya memikul bersama segala resiko dan manfaat yang melekat pada

entitas gabungan, sehingga tidak ada pihak yang dapat diidentifikasi sebagai

perusahaan pengakuisisi (acquirer).

Husnan dan Enny Pujiastuti (2004: 64) menyatakan bahwa, ada tiga

prosedur dasar yang dapat dilakukan perusahaan untuk mengambil alih

perusahaan lain. Tiga cara tersebut adalah :

a. Merger atau Konsolidasi

Istilah merger sering dipergunakan untuk menunjukkan penggabungan dua

perusahaan atau lebih, kemudian tinggal nama salah satu perusahaan yang

bergabung. Sedangkan konsolidasi menunjukkan penggabungan dari dua

perusahaan atau lebih, dan nama dari perusahaan-perusahaan yang bergabung

tersebut hilang, kemudian muncul nama baru dari perusahaan gabungan.

b. Akuisisi Saham

Yaitu cara mengambil alih perusahaan lain dengan membeli saham

perusahaan tersebut, baik dibeli secara tunai ataupun menggantinya dengan

sekuritas lain (saham atau obligasi).

c. Akuisisi Asset

Merupakan cara mengakuisisi perusahaan lain dengan membeli aktiva

perusahaan tersebut. Cara ini akan menghindarkan perusahaan dari

kemungkinan memiliki pemegang saham minoritas, yang dapat terjadi pada

Universitas Sumatera Utara


akuisisi saham. Akuisisi assets dilakukan dengan cara pemindahan hak

kepemilikan aktiva yang dibeli.

3. Pengertian Merger dan Akuisisi

Dalam bahasa akuntansi, peristiwa merger dan akuisisi disebut sebagai

kombinasi bisnis (business combination) yang didefinisikan sebagai penyatuan

dua atau lebih perusahaan yang terpisah menjadi satu entitas ekonomi.

Penekanannya adalah dalam penggabungan bisnis ini akuntansi tidak

memandang apakah penggabungan tersebut merupakan merger atau akuisisi,

kecuali dalam definisi. Hal ini juga mengacu pada pengklasifikasian

sebagaimana dilakukan oleh Ross e.t al, bahwa merger adalah bentuk khusus

dari akuisisi, maka dalam penelitian ini menggunakan istilah merger dan

akuisisi (M&A).

Merger dan akuisisi, dalam konteks keuangan dibagi menjadi dua yaitu

keuangan perusahaan (corporate finance) dan manajemen strategi (strategic

management). Dari sisi keuangan perusahaan, merger dan akuisisi adalah salah

satu bentuk keputusan investasi jangka panjang (penganggaran modal/capital

budgeting) yang harus diinvestigasi dan dianalisis dari aspek kelayakan

bisnisnya. Dari perspektif manajemen strategi, merger dan akuisisi adalah salah

satu alternatif strategi pertumbuhan melalui jalur eksternal untuk mencapai

tujuan perusahaan. Hal ini dapat disimpulkan bahwa tujuan dari merger dan

akuisisi adalah untuk membangun keunggulan kompetitif perusahaan jangka

panjang yang pada gilirannya dapat meningkatkan nilai perusahaan atau

memaksimumkan kemakmuran pemilik perusahaan atau pemegang saham.

Universitas Sumatera Utara


Dibawah ini akan dijelaskan definisi merger dan akuisisi serta macam-

macamnya.

a). Definisi Merger

Merger merupakan suatu strategi bisnis yang diterapkan dengan

menggabungkan antara dua atau lebih perusahaan yang setuju menyatukan

kegiatan operasionalnya dengan basis yang relatif seimbang, karena mereka

memiliki sumber daya dan kapabilitas yang secara bersama-sama dapat

menciptakan keunggulan kompetitif yang lebih kuat, (Hitt, [Link]., 2001).

Sedangkan menurut Brian Coyle (2000) merger dapat diartikan secara luas

maupun secara sempit. Dalam pengertian yang luas, merger juga menunjuk

pada setiap bentuk pengambilalihan suatu perusahaan oleh perusahaan lainnya,

pada saat kegiatan usaha dari kedua perusahaan tersebut disatukan. Pengertian

yang lebih sempit merujuk pada dua perusahaan dengan ekuitas hampir sama,

menggabungkan sumber-sumber daya yang ada pada kedua perusahaan

menjadi satu bentuk usaha. Pemegang saham atau pemilik dari kedua

perusahaan sebelum merger menjadi pemilik dari saham perusahaan hasil

merger, dan top manajemen dari kedua perusahaan tetap menduduki posisi

senior dalam perusahaan setelah merger.

Merger menurut Morris (2000), adalah “the absorption of one corporation

into another corporation,….. Usually but not always, the selling corporation’s

shareholders receive stock in the buying corporation” . Bagi Morris merger

dapat dengan mudah dimengerti sebagai suatu bentuk yang secara struktural

serupa dengan pengambilalihan saham. Semua hak dan kewajiban dari

Universitas Sumatera Utara


perusahaan yang merger dialihkan demi hukum kepada perusahaan yang

mengambil alih tersebut. Dalam suatu transaksi merger yang sebenarnya terjadi

adalah pengalihan hak dan kewajiban dari perusahaan yang diambil alih ke

perusahaan yang mengambil alih. Pada pengambilalihan saham biasa, hak dan

kewajiban dari perusahaan yang diambil alih tetap dipisahkan dalam suatu

perusahaan independen yang berbeda dari perusahaan yang mengambil alih

tersebut. Agar tidak merugikan kepentingan dari perusahaan yang

mengakuisisi, dalam merger, maka diciptakanlah triangular merger, dimana

perusahaan yang mengambil alih mendirikan satu perusahaan baru yang akan

mengabsorbsi seluruh hak dan kewajiban dari perusahaan yang diambil alih

tersebut.

b). Definisi Akuisisi


Akuisisi dalam terminologi bisnis diartikan sebagai berikut :

Akuisisi adalah pengambilalihan kepemilikan atau pengendalian atas

saham atau asset suatu perusahaan oleh perusahaan lain, dan dalam peristiwa

ini baik perusahaan pengambilalih atau yang diambil alih tetap eksis sebagai

badan hukum yang terpisah. (Abdul Moin, 2004).

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 27 Tahun 1998 tentang

Penggabungan, Peleburan dan Pengambilalihan Perseroan Terbatas

mendefinisikan akuisisi sebagai perbuatan hukum yang dilakukan oleh badan

hukum atau orang perseorangan untuk mengambil alih baik seluruh atau

sebagian besar saham perseroan yang dapat mengakibatkan beralihnya

pengendalian terhadap perseroan tersebut.

Universitas Sumatera Utara


4. Macam-macam Merger dan Akuisisi

a). Merger Horisontal

Merger horisontal adalah merger antara dua atau lebih perusahaan yang

bergerak dalam industri yang sama. Sebelum terjadi merger perusahaan-

perusahaan ini bersaing satu sama lain dalam pasar/industri yang sama.

Salah satu tujuan utama merger dan akuisisi horisontal adalah untuk

mengurangi persaingan atau untuk meningkatkan efisiensi melalui

penggabungan aktivitas produksi, pemasaran dan distribusi, riset dan

pengembangan dan fasilitas administrasi. Efek dari merger horisontal ini

adalah semakin terkonsentrasinya struktur pasar pada industri tersebut.

Apabila hanya terdapat sedikit pelaku usaha, maka struktur pasar bisa

mengarah pada bentuk oligopoli, bahkan akan mengarah pada monopoli.

b.) Merger Vertikal

Merger vertikal adalah integrasi yang melibatkan perusahaan-perusahaan

yang bergerak dalam tahapan-tahapan proses produksi atau operasi.

Merger dan akuisisi tipe ini dilakukan jika perusahaan yang berada pada

industri hulu memasuki industri hilir atau sebaliknya. Merger dan akuisisi

vertikal dilakukan oleh perusahaan-perusahaan yang bermaksud untuk

mengintegrasikan usahanya terhadap pemasok dan/atau pengguna produk

dalam rangka stabilisasi pasokan dan pengguna. Tidak semua perusahaan

memiliki bidang usaha yang lengkap mulai dari penyediaan input sampai

pemasaran. Untuk menjamin bahwa pasokan input berjalan dengan lancar

maka perusahaan tersebut bisa mengakuisisi atau merger dengan pemasok.

Universitas Sumatera Utara


Merger dan akuisisi vertikal ini dibagi dalam dua bentuk yaitu integrasi ke

belakang atau ke bawah (backward/downward integration) dan integrasi

ke depan atau ke atas (forward/upward integration).

c.) Merger Konglomerat


Merger konglomerat adalah merger dua atau lebih perusahaan yang

masing-masing bergerak dalam industri yang tidak terkait. Merger dan

akuisisi konglomerat terjadi apabila sebuah perusahaan berusaha

mendiversifikasi bidang bisnisnya dengan memasuki bidang bisnis yang

berbeda sama sekali dengan bisnis semula. Apabila merger dan akuisisi

konglomerat ini dilakukan secara terus menerus oleh perusahaan, maka

terbentuklah sebuah konglomerasi. Sebuah konglomerasi memiliki bidang

bisnis yang sangat beragam dalam industri yang berbeda.

d.) Merger Ekstensi Pasar

Merger ekstensi pasar adalah merger yang dilakukan oleh dua atau lebih

perusahaan untuk secara bersama-sama memperluas area pasar. Tujuan

merger dan akuisisi ini terutama untuk memperkuat jaringan pemasaran

bagi produk masing-masing perusahaan. Merger dan akusisi ekstensi pasar

sering dilakukan oleh perusahan-perusahan lintas Negara dalam rangka

ekspansi dan penetrasi pasar. Strategi ini dilakukan untuk mengakses pasar

luar negeri dengan cepat tanpa harus membangun fasilitas produksi dari

awal di negara yang akan dimasuki. Merger dan akuisisi ekstensi pasar

dilakukan untuk mengatasi keterbatasan ekspor karena kurang

memberikan fleksibilitas penyediaan produk terhadap konsumen luar

negeri.

Universitas Sumatera Utara


e). Merger Ekstensi Produk

Merger ekstensi produk adalah merger yang dilakukan oleh dua atau lebih

perusahaan untuk memperluas lini produk masing-masing perusahaan.

Setelah merger perusahaan akan menawarkan lebih banyak jenis dan lini

produk sehingga akan menjangkau konsumen yang lebih luas. Merger dan

akuisisi ini dilakukan dengan memanfaatkan kekuatan departemen riset

dan pengembangan masing-masing untuk mendapatkan sinergi melalui

efektivitas riset sehingga lebih produktif dalam inovasi.

5. Alasan Perusahaan melakukan merger

Ada beberapa alasan perusahaan melakukan merger, diantaranya :

a. Economies of scale. Dengan merger perusahaan diharapkan dapat

mencapai skala operasi yang ekonomis, yaitu suatu tingkat operasi dengan

biaya rata-rata yang terendah.

b. Memperbaiki manajemen. Dengan merger diharapkan perusahaan dapat

mengelola perusahaan dengan lebih baik sehinggadapat meningkatkan

profitabilitasnya.

c. Penghematan pajak. Sering perusahaan mempunyai potensi memperoleh

penghematan pajak tapi tidak dapat memanfaatkannya karena perusahaan

tidak pernah mendapatkan laba. Untuk itu lebih baik menggabungkan diri

dengan perusahaan yang profitable agar pajak yang dibayarkan perusahaan

tersebut menjadi lebih kecil

Universitas Sumatera Utara


d. Diversifikasi/risk reduction

Dengan merger maka perusahaan dapat melakukan diversifikasi usaha

tanpa harus membangun usaha dari awal dan juga dapat mengurangi resiko

resiko karena usaha perusahaan sekarang telah di diversifikasi ( don’t put

your eggs in one basket )

e. Meningkatkan corporate growth rate

Dengan merger perusahaan dapat meningkatkan pertumbuhannya karena

jaringan pemasaran yang dimiliki kini semakin luas, manajemen yang

lebih baik dan efisiensi yang lebih tinggi.

Universitas Sumatera Utara

Common questions

Didukung oleh AI

The Cash Ratio provides a more effective measure of liquidity compared to other ratios in scenarios where economic conditions restrict the rapid conversion of assets to cash. It is particularly useful during economic downturns or recessions when collecting receivables becomes challenging. The Cash Ratio, which considers only cash and cash equivalents as liquid assets, reflects a company's immediate ability to meet short-term obligations, providing a clearer picture of liquidity in times of economic stress . This more stringent criteria make it a reliable indicator of financial health during economic volatility.

Strategic considerations in choosing between types of mergers and acquisitions involve assessing the company's growth objectives, market position, and strategic goals. Horizontal mergers reduce competition and increase market share within the same industry, enhancing efficiency by unifying operations. Vertical mergers integrate supply chains to stabilize inputs and outputs, fostering operational efficiency and control over production. Conglomerate mergers diversify risk by entering unrelated markets, providing stability across economic cycles. Market and product extension mergers enhance geographical or product line expansion, boosting revenues by reaching new customers or product lines. These strategic choices must align with the company's long-term goals for sustainable growth, competitiveness, and shareholder value .

A horizontal merger results in market consolidation, reducing competition and increasing market share within the same industry, potentially leading to monopoly power. It can enhance efficiency by unifying operations and reducing redundant resources but may face regulatory scrutiny due to antitrust concerns. Conversely, a vertical merger integrates the supply chain, stabilizing input supply and output distribution, which improves operational efficiency and reduces dependency on external suppliers or distributors. While it may not increase market power directly, it can create competitive advantages through enhanced coordination and reduced transaction costs. Each type of merger affects competitive dynamics differently and should align with the firm's overarching strategic goals .

A high Debt to Asset Ratio indicates substantial leverage, which can entail significant financial risks for a company. High leverage increases the company's vulnerability to economic downturns, as greater portions of cash flow are diverted to debt service rather than reinvestment or operational needs. This can decrease financial flexibility, heighten exposure to interest rate fluctuations, and raise bankruptcy risk if cash flows are insufficient to meet debt obligations. Consequently, while leveraging can maximize shareholder returns, it can also increase the probability of financial distress and insolvency .

Profitability ratios, such as Gross Profit Margin, Net Profit Margin, Return on Assets (ROA), and Return on Equity (ROE), are essential in assessing a company's managerial performance by evaluating the efficiency and effectiveness with which management utilizes resources to generate profit. These ratios reveal how well management controls costs, utilizes assets, and rewards shareholders, directly reflecting managerial competence in both strategic decision-making and operational execution. High profitability ratios indicate effective management practices, whereas low ratios may signal inefficiencies or mismanagement .

Economies of scale justify mergers as a business growth strategy by enabling companies to reduce overall costs per unit through increased production and operational efficiencies. By merging, firms can capitalize on lower average costs achieved through bulk purchasing, shared technology, and centralized administration, which enhances their competitive edge. This synergetic effect allows merged entities to service larger markets at reduced costs, improve profitability by spreading fixed expenses over a greater output, and allocate resources more effectively for strategic investments and value creation .

A high Receivable Turnover ratio implies efficient credit policy management and rapid collection of debts, reflecting good credit control and strong cash flow. However, it could also indicate overly stringent credit terms that might drive customers away, potentially affecting sales growth. The implication for customer relationships can be negative if customers perceive the credit policy as inflexible, leading to lost sales opportunities or damaged relationships. Companies must balance stringent credit control with customer retention and satisfaction to maintain growth and operational efficiency .

Financial ratios offer several advantages for decision-making in a business context. They provide detailed and complex data presentations allowing for the monitoring of a company's position relative to industry peers, which can be beneficial for strategic planning and resource allocation. Ratios enable easy comparison of a company over different periods or with other companies, as well as the identification of business trends and future predictions. This comparative and predictive analysis capability can significantly aid in informed decision-making regarding investments and operational strategies .

Differences in accounting methods can significantly impact the evaluation of financial ratios. These differences can arise from variations in accounting for inventory (e.g., FIFO vs. LIFO) and depreciation methods, which can lead to differing financial outcomes. These inconsistencies affect how financial data is interpreted, potentially altering the perception of a company's financial health and performance. Consequently, this can complicate comparisons across companies unless these accounting differences are normalized or adjusted for, which can be challenging and may obscure a true comparative analysis .

Mergers and acquisitions contribute to a company’s risk diversification strategy by allowing it to spread its investments across different industries or geographic regions, thereby reducing the impact of sector-specific risks. For example, conglomerate mergers facilitate risk diversification by incorporating businesses in unrelated sectors, thereby minimizing adverse effects from a downturn in any single industry. Similarly, market extension mergers can geographically diversify revenue streams, mitigating risk exposure to localized economic conditions. This strategic diversification enhances a firm's stability and resilience in the face of economic volatility, ensuring sustainable growth and shareholder value .

Anda mungkin juga menyukai