0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
15 tayangan11 halaman

Teori Manajemen Ilmiah dan Perkembangannya

Teks tersebut membahas perkembangan teori manajemen ilmiah yang diperkenalkan oleh tokoh-tokoh seperti Frederick Taylor, Frank dan Lilian Gilbreth, serta Henry Gantt. Teori manajemen ilmiah menekankan penggunaan metode ilmiah untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas kerja. Taylor memperkenalkan empat prinsip manajemen ilmiah yang menekankan peningkatan produktivitas melalui pembagian kerja yang ilmiah.

Diunggah oleh

natta0207
Hak Cipta
© Attribution Non-Commercial (BY-NC)
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
15 tayangan11 halaman

Teori Manajemen Ilmiah dan Perkembangannya

Teks tersebut membahas perkembangan teori manajemen ilmiah yang diperkenalkan oleh tokoh-tokoh seperti Frederick Taylor, Frank dan Lilian Gilbreth, serta Henry Gantt. Teori manajemen ilmiah menekankan penggunaan metode ilmiah untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas kerja. Taylor memperkenalkan empat prinsip manajemen ilmiah yang menekankan peningkatan produktivitas melalui pembagian kerja yang ilmiah.

Diunggah oleh

natta0207
Hak Cipta
© Attribution Non-Commercial (BY-NC)
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd

I.

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Manajemen merupakan suatu bagian dalam sebuah organisasi yang memiliki peran yang
tidak dapat dipandang sebelah mata. Hal ini terlihat apabila didalam suatu organisasi
mempunyai manajer yang baik, maka organisasi akan menjadi besar, baik dalam ukuran,
jumlah anggota (pegawai) maupun tingkat kemakmuran atau pendapatan para anggotanya,
oleh karena itu manajemen sangat penting dipahami baik dari aspek yang paling sederhana
hingga kepada aspek yang lebih kompleks.
Jika ditinjau dari pengertian, manajemen sendiri memliki beragam pengertian :
- Proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengawasan usaha-usaha para
anggota organisasi dan penggunaan sumberdaya organisasi untuk mencapai tujuan
organisasi [Stoner]
- Seni dalam menyelesaikan pekerjaan melalui orang lain [M.P. Follet]

Dari dua contoh yang diatas, dapat disimpulkan bahwa manajemen merupakan suatu bentuk
profesi dan juga dapat dikatakan sebagai suatu bentuk ilmu atau seni. Walaupun manajemen
dipandang sebagai suatu bentuk profesi maupun ilmu atau seni, pada akhirnya manajemen
memiliki maksud untuk mencapai tujuan suatu organisasi dengan menggunakan sumber daya
yang ada.

Melihat dari peran manajemen, yakni mencapai tujuan yang ada dalam suatu organisasi. Hal
ini tidak dapat dipisahkan dari yang namanya persoalan atau permasalahan yang dihadapi
untuk mencapai tujuan tersebut. Untuk mengahadapi berbagai persoalan yang terjadi tersebut
dapat disimpulkan bahwa teori manajemen sendiri sudah mengalami berbagai perkembangan
dari dahulu hingga sekarang.

Manajemen pertama kali dikenalkan pada tahun 1870-1930. Dikenal sebagai Manajemen
Ilmiah atau manajemen yang menggunakan ilmu pengetahuan. Manajemen Ilmiah sendiri
diperkenalkan oleh F.W. Taylor, Frank and Lillian Gilbreth, H. Gantt, H. Emerson. Lalu
pengalami perkembangan di tahun 1900-1940, yang dikenal dengan Teori Organisasi Klasik.
Diperkenalkan oleh H. Fayol, J.D. Mooney, M.P. Follett, H. Simon, C.I. Banard, dll.
Selanjutnya di tahun 1930-1940 dikenal sebagai manajemen era Hubungan Manusiawi.
Dimana pada era ini teori manajemen ini di fokuskan pada hubungannya dengan manusia,
baik sebagai pekerja, pemimpin dalam suatu organisasi. Diperkenalkan oleh Hawthorne
Studies, Elton Mayo, Fritz Roethlisberger, Hugo Munsterberg. Hingga pada tahun 1940 dan
masih berlangsung sampai sekarang yang dikenal sebagai Manajemen Modern.

1
Jadi maksud dari penulisan makalah ini adalah untuk mempelajari lebih lagi tentang
pemikiran-pemikiran dibalik munculnya berbagai teori mengenai manajemen dari tokoh yang
ada sesuai dengan era mereka masing-masing, dan juga melihat perbedaan yang ada diantara
berbagai pemikiran-pemikiran tokoh manajemen tersebut serta hubungannya dengan upaya
peningkatan produktivitas dalam suatu peruhaan ataupun negara.

II. Teori Manajemen Ilmiah

Teori tentang manajemen ilmiah adalah teori yang pertama kali muncul dalam sejarah
perkembangan dunia manajemen. Hal ini terjadi dikarenakan setelah negara Eropa Barat dan
Amerika dilanda revolusi industri. Yang terjadi sekitar awal abad 20, dimana pada saat itu
prinsip-prinsip yang sudah tidak efektif dan efisien mulai ditinggalkan.
Tokoh-tokoh yang berperan dalam munculnya teori manajemen ilmiah antara lain Frederick
Winslow Taylor, Frank dan Lilian Gilbreth, Henry L Gantt yang akan diuraikan satu
persatu.
A. Frederick Winslow Taylor

Manajemen ilmiah, atau dalam bahasa Inggris disebut scientific management, pertama
kali dipopulerkan oleh Frederick Winslow Taylor dalam bukunya yang
berjudul Principles of Scientific Management pada tahun 1911. Dalam bukunya itu,
Taylor mendeskripsikan manajemen ilmiah adalah “penggunaan metode ilmiah untuk
menentukan cara terbaik dalam menyelesaikan suatu pekerjaan.”

Ide tentang penggunaan metode ilmiah muncul ketika Taylor merasa kurang puas
dengan ketidakefesienan pekerja di perusahaannya. Ketidakefesienan itu muncul
karena mereka menggunakan berbagai macam teknik yang berbeda untuk pekerjaan
yang sama—nyaris tak ada standar kerja di sana. Selain itu, para pekerja cenderung
menganggap gampang pekerjaannya. Taylor berpendapat bahwa hasil dari para
pekerja itu hanyalah sepertiga dari yang seharusnya. Taylor kemudian, selama 20
tahun, berusaha keras mengoreksi keadaan tersebut dengan menerapkan metode
ilmiah untuk menemukan sebuah “teknik paling baik” dalam menyelesaikan tiap-tiap
pekerjaan.

Kemudian setelah 20 tahun berupaya keras, Taylor membuat prinsip-prinsip yang


menjadi intinya manajemen ilmiah yang terkenal dengan rencana pengupahan yang
menghasilkan turunnya biaya dan meningkatkan produktivitas, mutu, pendapatan
pekerjaan dan semangat kerja karyawan. Adapun filsafat Taylor memiliki 4 prinsip
yang ditetapkan yaitu :

2
1. Kembangkanlah suatu ilmu bagi tiap-tiap unsur pekerjaan seseorang, yang
akan menggantikan metode lama yang bersifat untung-untungan.
2. Secara ilmiah, pilihlah dan kemudian latihlah, ajarilah, atau kembangkanlah
pekerja tersebut.
3. Bekerja samalah secara sungguh-sungguh dengan para pekerja untu
menjamin bahwa semua pekerjaan dilaksanakan sesuai dengan prinsip-
prinsip ilmu yang telah dikembangkan tadi.
4. Bagilah pekerjaan dan tanggung jawab secara hampir merata antara
manajemen dan para pekerja. Manajemen mengambil alih semua pekerjaan
yang lebih sesuai baginya daripada bagi para pekerja.

Jadi dari empat prinsip yang ditetapkan oleh F.W. Taylor, semuanya itu
menganjurkan perlunya revolusi mental di kalangan manajer dan pekerja dalam
upaya peningkatan produktivitas dalam perusahaan. Dimana manajer adalah pelayan
bagi bawahannya yang bertentangan dengan pendapat sebelumnya yang mengatakan
bahwa bawahan adalah pelayan bagi manajer. Jika hal ini terjadi, manajer merupakan
pelayan bagi bawahannya, maka sebagai seorang manajer, ia akan dapat mengetahui
apa yang menjadi masalah, keiinginan, dan harapan dari seorang pegawai.

Sebagai contoh; ada perusahaan A dimana dalam peruhaan itu terdapat seorang
manajer dengan 20 bawahannya. Jika manajer itu menempatkan diri sebagai pelayan,
bukan berarti dia harus turun pangkat, maka akan terjadi yang namanya hubungan
harmonis antara manajer dan bawahannya. Karena sebagai manajer dia dapat
mengerti permasalahan, keiinginan, dan harapan yang dimiliki oleh bawahannya.

Dan jika hubungan yang harmonis dapat di capai, maka segala masalah yang timbul
akan dapat di selesaikan oleh sang manajer. Dan manajer tersebutpun akan dapat
memberikan solusi yang paling terbaik, dan juga tau apa yang akan dilakukannya
dalam rangka memajukan perusahaan itu. Sebagai tambahan, Taylor mengatakan
bahwa scientific manajemen merupakan tugas setiap manager untuk mengetahui hal
yang terbaik (best of the best) melalui penganalisaan, observasi, dan percobaan-
percobaan.

Akan tetapi dalam pelaksanaan dari teori manajemen ilmiah yang diberikan oleh F.W.
Taylor tidaklah mudah. Karena untuk merubah mental dikalangan manajer dan
pekerja tidak seperti membalikan telapak tangan hal itu memerlukan proses. Selain
itu, jika seorang sebagai manajer, maka yang ada di pikirannya adalah mengenai
konsep bahwa dia adalah seorang yang berkuasa dan memiliki bawahan. Maka hal
untuk menjadi bawahan adalah suatu hal yang mustahil.

B. Frank dan Lilian Gilbert

Setelah muculnya teori oleh Frederick Winslow Taylor, teori mengenai manajamen
ilmiah dikembangkan lebih jauh oleh suami-istri, Frank dan Lilian Gilbert.

3
Keduanya tertarik dengan ide Taylor setelah mendengarkan ceramahnya pada sebuah
pertemuan profesional.

Frank Gilbert adalah pelopor study gerak dan waktu. Dia cenderung tertarik pada
pengerjaan suatu pekerjaan yang memperoleh efisiensi tertinggi. Sedangkan Lilian
Gilbert lebih tertarik pada aspek-aspek dalam kerja, seperti penyeleksian
penerimaan tenaga kerja baru, penempatan dan latihan bagi tenaga kerja baru. Dengan
bukunya yang berjudul The Pshicology of Management.

Selain dari pada itu, mereka juga terkenal dengan tiga peran dari setiap pekerja yaitu
sebagai pelaku, pelajar dan pelatihan yang senantiasa mencari kesempatan baru,
atau terkenal dengan konsep "three position plan of promotion". Banyak manfaat
dan jasa yang diberikan oleh manajemen ilmiah, namun satu hal penting dilupakan
oleh manajemen ini, yaitu kebutuhan social manusia dalam berkelompok, karena
terlalu mengutamakan keuntungan dan kebutuhan ekonomis dan fisik perusahaan dan
pekerjaan. Aliran ini melupakan kepuasan pekerjaan pekerja sebagai manusia biasa.

C. Henry L. Gantt

Henry Gantt adalah seorang yang pernah bekerja bersama Taylor di Midvale Steel
Company. Sumbangan Henry L. Grant yang terkenal adalah sistem bonus harian
dan bonus ekstra untuk para mandor. Beliau juga memperkenalkan system
"Charting" yang terkenal dengan "Gant Chart".

Ia menekankan pentingnya mengembangkan minat hubungan timbal balik antara


manajernen dan para karyawan, yaitu kerja sarna yang harmonis. Henry beranggapan
bahwa unsur manusia merupakaan suatu hal yang sangat penting dalam sebuah
perusahaan ataupun organisasi. Sehingga ia menggarisbawahi pentingnya
mengajarkan, mengembangkan pengertian tentang sistem pada pihak karyawan dan
manajemen, serta perlunya pemberian penghargaan dalam segala masalah
manajemen.

4
III. Teori Organisasi Klasik

Setelah munculnya teori manajemen klasik oleh Frederick Winslow Taylor, Frank dan
Lilian Gilbreth, Henry L Gantt di era 1870-1930. Hal ini membuat banyak perubahan yang
sangat berarti dimana produksi massal dalam artian barang diproduksi dengan cepat dan
sebanyak-banyaknya dapat tercapai dengan cukup baik, lalu mendorong pendekatan rasional
untuk memecahkan masalah, dan yang terakhir mendorong profesionalisme manajemen juga
meningkatkan dan mencapai produktivitas dalam perusahaan tersebut.
Walaupun demikian dalam pelaksanaan teori manajemen klasik terdapat yang namanya
keterbatasan. Diantaranya:
1. Asumsi manusia akan berusaha memenuhi kebutuhan ekonomi dan fisiknya tidak
selalu
benar.
2. Produktivitas kerja memang tercapai dengan baik, namun pada pelaksanaannya
cenderung mengarah pada eksploitasi pekerja.

Dua hal inilah yang menjadikan gagasan munculnya teori organisasi klasik.
Tokoh-tokoh yang berperan dalam munculnya teori organisasi klasik antara lain H. Fayol,
M.P. Follett yang akan diuraikan satu persatu:
A. Henry Fayol
Henry Fayol adalah seorang industrialis Perancis. Dalam bukunya yang berjudul
Administration Industrielle et General atau Gneral and Industrial Management
tahun 1908, Fayol mengatakan bahwa teori dan teknik administrasi merupakan dasar
pengelolaan organisasi yang kompleks.

5
Jadi, Fayol berkeyakinan bahwa keberhasilan para manajer tidak hanya ditentukan
oleh mutu pribadinya, tetapi karena adanya penggunaan metode manajemen yang
tepat. Sumbangan terbesar dari Fayol berupa pandangannya tentang manajemen yang
bukanlah semata kecerdasan pribadi, tetapi lebih merupakan satu keterampilan yang
dapat diajarkan dari dipahami prinsip-prinsip pokok dan teori umumnya yang telah
dirumuskan.

Fayol membagi kegiatan bisnis menjadi enam bagian:


1. Teknis 4. Keamanan
2. Komersial 5. Akutansi
3. Keuangan 6. Manajemen

Selanjutnya, Fayol membagi manajemen menjadi lima unsur:


1. Perencanaan 4. Pengorganisasian
2. Pemberian Perintah 5. Pengawasan
3. Pengkoordinasikan
Sebagai tokoh yang berperan dalam munculnya teori organisasi klasik, Henry Fayol
terkenal akan 14 prinsip manajemennya. Prinsip ini disebut Fayol dalam karya
aslinya sebagai 14 prinsip administrasi. Adapun prinsip administrasi tersebut, yaitu:
1. Pembagian Kerja
2. Wewenang
3. Disiplin
4. Kesatuan Komando
5. Kesatuan Pengarahan
6. Kepentingan Individu harus tuntuk pada kepentingan organisasi
7. Sistem Penggajian harus Fair
8. Sentralisasi
9. Hirarki (garis wewenang)
10. Perintah (Sumberdaya dikoordinasi agar selalu siap)
11. Persamaan (Manajer fair memperlakukan karyawan dan bersahabat dengan
karyawan).
12. Stabilitas Staf
6
13. Inisiatif
14. Esprit de Corp

Melalui teori yang diberikan oleh Henry Fayol tersebut Manajer lebih disadarkan
terhadap persoalan-persoalan yang sering muncul dalam organisasi. Yang nantinya
manajer juga tau apa yang harus dilakukannya dalam upaya peningkatan produktivitas
dalam suatu perusahaan. Sebenarnya peranan Fayol dapat disamakan dengan Taylor.
Karena kedua tokoh ini mengemukakan bahwa prinsip-prinsip manajemen harus
diajarkan dan di pelajari oleh para manajer dan karyawan. Akan tetapi, tingkat
perhatian Fayol tertuju pada manajer tingkat rendah, sedangkan Taylor pada
manajer tingkat menengah dan atas.

B. Mary Parker Follet


Mary Parker Follett yang mendapatkan pendidikan di bidang filosofi dan ilmu politik
menjadi terkenal setelah menerbitkan buku berjudul Creative Experience pada tahun
1924. Mary adalah seorang yang menjembatani antara teori klasik dan hubungan
manusiawi. Dia percaya bahwa adanya hubungan yang harmonis antara
karyawan dan manajemen berdasar persamaan tujuan, namun tidak sepenuhnya
benar untuk memisahkan atasan sebagai pemberi perintah dengan bawahan sebagai
penerima perintah. Selain itu M.P. Follet mengajukan suatu filosofi bisnis yang
mengutamakan integrasi sebagai cara untuk mengurangi konflik tanpa kompromi
atau [Link] dia menerapkan psikologi dalam perusahaan, industri dan
pemerintahan.

Jadi dalam upaya peningkatan produktivitas dalam perusahaan, Mary percaya bahwa
harus ada yang namanya hubungan harmonis yang terjadi antara karyawan dan
manajemen. Karena jika tidak adanya hubungan yang harmonis, manajemen dalam
pelaksanaannya cuma bisa menuntut untuk menjalankan sistem yang telah ditetapkan
dan diberikan pihak manajemen kepada karyawan untuk mencapai yang namanya
produktivitas. Jika karyawan terus menerus dituntut untuk bekerja, maka akan timbul
yang namanya rasa tidak suka dengan manajemen. Apabila hal ini terus menerus
terjadi, itulah yang menjadi awal timbulnya konflik internal dalam perusahaan.
Sebagai akibatnya mungkin karyawan akan sering tidak masuk untuk bekerja dengan
berbagai alasan, ataupun mungkin dia juga dapat membocorkan rahasia produk yang
dihasilkan oleh perusahaan tempatnya bekerja ke pada perusahaan lain, karena
mungkin di perusahaan yang lain tersebut dia lebih dihargai dan terjalin hubungan
yang harmonis dengan manajemen perusahaan tersebut.

7
IV. Hubungan Manusia

Setelah munculnya teori organisasi klasik dan manajemen ilmiah. Banyak perkembangan
yang terjadi terutama dalam bidang produktivitas dalam perusahaan ataupun organisasi. Akan
tetapi melalui pendekatan klasik tersebut tidak sepenuhnya menghasilkan efisiensi dalam
produksi dan keselarasan kerja. Karena manusia dalam sebuah organisasi tidak selalu
dapat dengan mudah diramalkan prilakunya karena sering juga tidak rasional. Oleh sebab itu
para manajer perlu dibantu dalam menghadapi rnanusia, melalui antar lain ilmu sosiologi dan
psikologi.
Oleh karena hal itulah muncul tokoh-tokoh yang berperan dalam terbentuknya teori
hubungan manusia antara lain Hugo Munsterberg, Elton Mayo yang akan diuraikan satu
persatu.
A. Hugo Munsterberg
Hugo Munsterberg adalah seorang pencetus psikologi industri sehingga dikenal
sebagai bapak psikologi industri. Sumbangannya yang terpenting adalah berupa
8
pemanfaatan psikologi dalam mewujudkan tujuan-tujuan produktivitas sama seperti
dengan teori-teori manajemen lainnya. Dalam bukunya yang berjudul Psychology
and Indutrial Efficiency, ia memberikan 3 cara untuk meningkatkan produktivitas:

a. Menempatkan seorang pekerja terbaik yang paling sesuai dengan bidang


pekerjaan yang akan dikerjakannya (best possible person).
b. Menciptakan tata kerja yang terbaik yang memenuhi syarat-syarat psikologis
untuk memaksimalkan produktivitas (best possible work).
c. Menggunakan pengaruh psikologis agar memperoleh dampak yang paling
tepat dalam mendorong karyawan (best possible effect).

B. Elton Mayo
Elton Mayo terkenal dengan percobaan-percobaan Howthorne, dimana hubungan
manusiawi menggambarkan manajer bertemu atau berinteraksi dengan bawahan. Dari
hasil percobaan Mayo bersama Roethlisberger dan Dickson di pabrik Howthorne
milik perusahaan Western Electric, dia menemukan bahwa rangsangan uang tidak
menyebabkan membaiknya produktivitas.
Dia berpendapat bahwa para pekerja akan bekerja lebih keras, apabila mereka yakin
bahwa manajemen memikirkan kesejahteraan mereka. Selain itu, juga ditemukan
pengaruh kehidupan lingkungan sosial dalam kelompok yang lebih informal lebih
besar pengaruhnya terhadap produktivitas. Mayo beryakinan terhadap konsepsnya
yang terkenal dengan Social-man, yaitu seharusnyalah dimotivasi oleh kebutuhan-
kebutuhan sosial dalam hubungan yang lebih efektif daripada pengawasan ataupun
pengendalian manajemen. Jadi, Mayo mengusulkan perlunya pelatihan yang
mendalam tentang psikologi, sosiologi serta metode penelitian yang canggih.

V. Manajemen Modern

Perkembangan konsep manajemen mengenai Hubungan Manusia ternyata tidak menjelaskan


sepenuhnya perilaku manusia. Karena, manusia adalah makluk social dimana segala prilaku
yang dilakukan oleh manusia dapat berubah sesuai dengan kondisi lingkungan dimana dia
berada. Usaha perbaikanpun terus dilakukan dalam rangka meningkatkan produktivitas baik
dalam perusahaan ataupun organisasi. Hal inilah yang menjadi dasar timbulnya konsep
mengenai manajemen modern.
Manajemen modern sendiri dalam pengembangannya dibagi menjadi dua; pertama aliran
hubungan manusiawi (prilaku organisasi), dan kedua adalah aliran kuantitatif. Namun
manajemen modern ini lebih kepada aliran kuantitatif merupakan gabungan dari Operation
Research dan Management Science. Era manajemen modern dimulai dari tahun 1940 dan
masih tetap berkembang hingga sekarang. Oleh karena manajemen modern tetap berkembang
hingga sekarang, tokoh yang berperan dalam munculnya konsep ini yang akan diurakan
adalah Abraham Maslow.

9
A. Abraham Maslow

Abraham Maslow adalah psikolog Amerika yang merupakan seorang pelopor


aliran psikologi humanistik. Ia terkenal dengan teorinya tentang hirarki kebutuhan
manusia. Dengan teori tersebut ia mengemukakan tentang kebutuhan yang
memotivasi manusia untuk mendapatkan kepuasan dapat dibuat menjadi sebuah
hierarki. Hirarki kebutuhan manusia tersebut terdiri dari peringkat bawah sampai
dengan peringkat yang paling tinggi. Dimana kebutuhan peringkat bawah harus
dipuaskan terlebih dahulu sebelum kebutuhan peringkat yang lebih tinggi dapat
dipenuhi.
Tingkatan Kebutuhan manusia menurut Maslow sebagai berikut :
1. Kebutuhan Fisologis, hampir semua kebutuhan dasar manusia kebutuhan
akan pemelioharaan biologis, makan, minum dan kesejahteraan fisik.
2. Kebutuhan Keamanan, kebutuhan akan perlidungan dan kepastian dalam
kehidupan sehari-hari.
3. Kebutuhan Sosial, kebutuhan akan kasih sayang, rasa memiliki dalam
hubungan dengan orang lain.
4. Kebutuhan Harga Diri secara Penuh, kebutuhan akan harga diri dimata
orang lain, penghormatan, prestise, harga diri, kemampuan diri dan dianggap ahli.
5. Kebutuhan Aktualisasi Diri, tingkat kebutuhan yang paling tinggi,
kebutuhan akan self fulfilment berkembang dan menggunakan kemampuannya.

VI. KESIMPULAN

Keempat aliran manajemen yang telah diuraikan di atas ternyata sampai sekarang
berkembang terus. Dimana aliiran hubungan manusiawi dan ilmu manajemen memberikan
pendekatan yang penting dalam meneliti, menganalisis dan memecahkan masalah-masalah
manajemen. Demikian pula aliran klasik yang telah berkembang ke arah pemanfaatan hasil-
hasil penelitian dari aliran lain dan terus tumbuh menjadi pendekatan baru yang disebut
pendekatan system. Dan yang paling penting adalaha perkembangan teori manajaem antara
satu teori dengan teori lainnya berbeda, karena menurut pada pandangan manajemn saat itu.
Yang perlu diingat adalah semua teori manajem tersebut adalah baik dan saling melengkapi
satu dengan lainnya.

Namun yang terpenting adalah, Manajer saat ini dituntut mempelajari dan memahami semua
teori manajemen yang dihasilkan oleh berbagai aliran, karena manajer bisa memilih teori

10
yang paling sesuai untuk menghadapi situasi tertentu. Disamping itu seorang manajer dapat
saja menggabungkan dan memanfaatkan teori dan konsep yang paling cocok atau pendekatan
untuk menghadapi masalah sederhana maupun yang kompleks dan pendekatan-pendekatan
ini yang menggambarkan kedudukan dan peranan manajemen saat ini dan di masa datang.

11

Anda mungkin juga menyukai