0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
398 tayangan11 halaman

Definisi dan Teknik Block Coding

Dokumen tersebut membahas tentang teknik-teknik block coding yang digunakan untuk mendeteksi dan memperbaiki kesalahan transmisi data tanpa meminta transmisi ulang. Teknik-teknik block coding yang dijelaskan meliputi 4B/5B encoding, 8B/10B encoding, serta teknik-teknik coding lain seperti Hamming code, Hadamard code, Golay code, cyclic code, dan Reed Solomon code.

Diunggah oleh

rusdi ariawan
Hak Cipta
© Attribution Non-Commercial (BY-NC)
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
398 tayangan11 halaman

Definisi dan Teknik Block Coding

Dokumen tersebut membahas tentang teknik-teknik block coding yang digunakan untuk mendeteksi dan memperbaiki kesalahan transmisi data tanpa meminta transmisi ulang. Teknik-teknik block coding yang dijelaskan meliputi 4B/5B encoding, 8B/10B encoding, serta teknik-teknik coding lain seperti Hamming code, Hadamard code, Golay code, cyclic code, dan Reed Solomon code.

Diunggah oleh

rusdi ariawan
Hak Cipta
© Attribution Non-Commercial (BY-NC)
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Block Coding

KOMUNIKASI DATA

OLEH :

PUTU RUSDI ARIAWAN (0804405050)

JURUSAN TEKNIK ELEKTRO


FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS UDAYANA
DENPASAR
2010
Block Coding

Block coding adalah salah satu kode yang mempunyai sifat forward error
correction (FEC) yang bisa mendeteksi dan mengkoreksi error tanpa meminta
proses transmisi ulang. Dalam sistem encoding terdapat tiga teknik encoding,
salah satunya adalah 4B/5B yang disebut juga Block Coding, dimana setiap 4 bit
data diterjemahkan menjadi 5 bit data. 5 bit simbol yang dihasilkan selalu
mempunyai 2 buah kode ‘1’.

Block Coding dapat digunakan untuk meningkatkan performansi sistem


komunikasi jika cara lain seperti dengan meningkatkan daya atau menggunakan
demodulator yang rumit dan mahal menjadi tidak praktis lagi. Pada block coding,
sejumlah bit pariti ditambahkan pada bit informasi sehingga terbentuk sebuah
codeword atau code block.

Pada bagian pengirim, sejumlah k bit informasi dikodekan kedalam n code bit.
Dengan demikian jumlah bit redundansi yang ditambahkan pada data
informasinya ada sebanyak n-k bit untuk digunakan pada proses deteksi dan
koreksi error yang mungkin terjadi. Hasil blok coding yang berupa Block code
dapat direpresentasikan dalam bentuk (n,k) code, dan rate dari kode tersebut
adalah sebesar Rc = k/n yang sebanding dengan rate transmisi dibagi dengan rate
kanal. Kemampuan block code untuk mengkoreksi error yang timbul merupakan
fungsi dari jarak kode (code of a distance). Selain kedua parameter code rate dan
jarak terdapat juga kode rate dan jarak yang lainnya yaitu weight of a code.

a. Distance of a code (jarak kode)

Jarak dari code word adalah jumlah elemen diantara dua codeword Ci dan Cj
yang berbeda.

PUTU RUSDI ARIAWAN


dimana d adalah jarak codeword, q adalah jumlah kemungkinan nilai dari Ci,
dan Cj. Jika menggunakan kode biner, jarak tersebut dikenal sebagai jarak
Hamming. Jarak minimum (dmin) adalah jarak terkecil diantara dua kode
tersebut dan dinyatakan dengan :

dmin = Min{d(Ci,Cj)}

b. Weight of a code (bobot kode)

Weight of a code adalah nilai bobot dari code word yaitu jumlah elemen bukan
nol sepanjang code word. Untuk kode biner, maka weight of code adalah 1
dalam code word tersebut.

Sifat-sifat block code adalah sebagai berikut:

1) Linearity

Misalkan Xi dan Xj adalah dua code word didalam (n,k) block code. Ambil
a 1 dan a 2 adalah dua nilai sembarang. Kode dikatakan linier jika dan
hanya a 1X1+a 2 X2 juga adalah code word.

2) Systematic

Suatu kode dikatakan sistematik apabila salah satu diantara bit-bit


paritinya berfungsi sebagai penanda akhir dari suatu deretan informasi
yang dikirimkan. Untuk (n,k) code, k bit pertama identik dengan bit
informasi, dan n-k bit tiap code wordnya adalah kombinasi linier dari k bit
informasinya.

PUTU RUSDI ARIAWAN


3) Cyclic

Cyclic code ialah bagian dari kode linier yang mengikuti sifat cyclic shift.
Jika X = (Xn-1,Xn-2,....,X0) adalah codeword dari suatu cyclic code, maka
(Xn-2, Xn-3,....,X0,Xn-1) yang merupakan cyclic shift dari X adalah juga
codeword. Karena itu semua cyclic shift dari X adalah codeword.

1. Teknik-teknik coding yang sudah dikenal dapat dijelaskan secara singkat


berikut ini:

a. Hamming Code

Hamming code adalah kode nontrivial untuk koreksi error yang pertama
kali diperkenalkan. Kode ini dan variasinya telah lama digunakan untuk
error control pada sistem komunikasi digital. Hamming code ini ada dua
macam yaitu binary dan nonbinary Hamming code. Binary Hamming code
dapat direpresentasikan dalam bentuk persamaan berikut :

(n,k) = (2m-1, 2m-1-m) (1.7)

dimana k adalah jumlah bit informasi yang membentuk n bit codeword,


dan m adalah bilangan bulat positif. Jumlah bit paritinya adalah sejumlah
m = n-k bit.

b. Hadamard Code

Hadamard code merupakan teknik coding dengan cara memilih baris dari
matriks Hadamard sebagai codeword. Matriks Hadamard A adalah matriks
NxN dimana jumlah bit 1 dan 0 untuk tiap barisnya berbeda dari baris
lainnya pada N/2 lokasi. Satu baris dari matriks ini terdiri 0 semua
sedangkan sisanya terdiri dari 0 untuk N/2 baris dan 1 untuk N/2 baris.
Untuk N = 2, maka matriks Hadamard-nya adalah :

PUTU RUSDI ARIAWAN


c. Golay Code

Golay code merupakan kode biner linier yang mempunyai jarak kode
minimum (dmin) sebesar 7 dan memiliki kemampuan untuk mengkoreksi
error sebanyak 3 bit untuk setiap codeword-nya.

d. Cyclic Code

Cyclic code adalah jenis kode linier yang memenuhi sifat cyclic seperti
telah dijelaskan diatas. Cyclic code dapat dihasilkan dengan menggunakan
generator polinomial dengan orde (n-k). Generator polinomial (n,k) Cyclic
code adalah faktor pn + 1 dan memiliki bentuk umum :

g(p) = pn-k + gn-k-1 pn-k-1 + .........+ g1p + 1 (1.9)

sedangkan informasi yang dibawa dapat dinyatakan dalam bentuk


polinomial x(p) :

x(p)= xk-1pk-1 + .......+ x1p + x0 (1.10)

dimana (xk-1, ........, x0) menunjukkan k bit-bit informasinya. Maka


codeword yang dihasilkan adalah

c(p) = x(p)g(p) (1.11)

dimana c(p) adalah polinomial yang memiliki orde lebih kecil dari n.
Sebagai pembangkit pariti biasanya adalah digunakan linier feedback shift
register.

e. BCH Code

BCH code adalah merupakan jenis block code yang penting karena
mampu bekerja pada rentang rate yang lebar dan memiliki coding gain
yang besar. Panjang dari block code ini adalah n = 2m-1 untuk m ³ 3 dan
jumlah error yang dapat dikoreksi berada pada nilai t < (2m-1)/2. Kode
biner BCH juga dapat digunakan untuk membuat jenis kode nonbiner yang

PUTU RUSDI ARIAWAN


menggunakan m bit persimbolnya. Salah satu jenis kode nonbiner BCH
yang paling terkenal adalah kode Reed Solomon. Kode Reed Solomon ini
pertama kali digunakan pada U.S. Cellular Digital Packet Data (CDPD)
yang menggunakan m = 6 bit untuk setiap simbolnya.

f. Reed Solomon Code

Kode Reed Solomon merupakan jenis kode nonbiner yang mampu


mengkoreksi error yang muncul secara acak dan tak terduga (bursty) dan
biasanya digunakan pada sistem koding gandeng. Panjang block code ini
adalah n = 2m-1. Panjang kode ini dapat dinaikkan menjadi 2m atau 2m+1.
Jumlah simbol pariti yang harus ditambahkan untuk mengkoreksi sejumlah
error e adalah n-k = 2e. Jarak minimum kode ini adalah dmin =

2. Teknik - teknik Encoding

a. 4B/5B Encoding

Disebut juga blok coding yaitu setiap 4 bit data diterjemahkan menjadi 5
bit data. 5 bit symbol yang dihasilkan selalu mempunyai 2 buah kode ‘1’.
5 bit symbol tersebut kemudian diencode dengan metode NRZ-I.
Persentase efisiensi encoding 80%. Digunakan dalam FDDI. Bentuk sinyal
dari teknik ini dapat dilihat pada tabel di bawah ini :

Data Input Code Group NRXI pattern Interpolation


(4 bit) (5 bit)
0000 11110 Data 0
0001 01001 Data 1
0010 10100 Data 2
0011 10101 Data 3
0100 01010 Data 4
0101 01011 Data 5
0110 01110 Data 6
0111 01111 Data 7
1000 10010 Data 8
1001 10011 Data 9

PUTU RUSDI ARIAWAN


1010 10110 Data A
1011 10111 Data B
1100 11010 Data C
1101 11011 Data D
1110 11100 Data E
1111 11101 Data F
11111 Idle

11000 Start of Stream


delimiser part 1
10001 Start of Stream
delimiser part 2
01101 End of Stream
delimiser part 1
00111 End of Stream
delimiser part 2
00100 Transmit Error

other Invalid other

b. 8B/10B Encoding

Mengubah 8 bit data menjadi 10 bit data. 8 bit data dipisah menjadi 3 most
significant bit dan 5 least significant bit. Diterjemahkan ke desimal dengan
least significant bit sebagai angka pertama. 10 bit yang dihasilkan harus
terdiri dari:

5 buah ‘1’ dan 5 buah ‘0’

4 buah ‘1’ dan 6 buah ‘0’

6 buah ‘1’ dan 4 buah ‘0’

Syarat di atas untuk sinkronisasi clock. Di sini juga perlu ada DC


balancing, karena itu dilakukan Running Disparity, yaitu untuk menjaga
agar jumlah ‘0’ dan ‘1’ yang ditransferkan sama besar.

PUTU RUSDI ARIAWAN


Fungsi Utama dari 8B/10B Encoding adalah :

 Mendeteksi Error
 Frame delimination dari transparansi data
 Clock recovery, DC voltage balancing
 Kemampuan untuk mengimplementasikan Fiber Optic, Wireless, atau
ATM

Keuntungan 8B/10B Encoding adalah:


 mempermudah sinkronisasi bit
 menyederhanakan desain transmitter dan receiver
 peningkatan mutu pendeteksian error

8B/10B Encoding digunakan dalam:


 Gigabit Ethernet
 IBM’s SNA

c. 8B/6T Encoding
8B/6T adalah pengiriman 8 bit data sebagai 6 ternary(1 dari 3 level
tegangan) sinyal. Arus data yang datang dibagi menjadi model 8 [Link]
data bermodel 8 bit dengan dua level tegangan(0,V) diuji. Model 8 bit
dikonversikan menjadi 6 bit tetapi dengan menggunakan 3 level
tegangan(-V,0,V), jadi setiap model 8 bit memiliki sebuah kode 6T yang
unik. Contoh : sebuah model bit 0000 0000 (0x00) menggunakan kode +-
00+- dan bit 0000 1110 (0x)E) menggunakan kode -+0-0+. Sehingga ada
36=729 model symbol yang mungkin.
Aturan simbol adalah harus ada setidaknya 2 transisi tegangan dan rata-
rata tegangan DC harus 0, ini disebut DC balance yaitu tegangan DC yang
dijumlahkan hingga menjadi 0V.

PUTU RUSDI ARIAWAN


3. Perbandingan Bipolar, Polar dan Block Coding
a. Bipolar
- Kekurangan
 Dalam penggunaannya line coding bipolar membutuhkan biaya
yang sangat besar dalam pengoperasiannya.
 Untuk Teknik pengkodeannya ada 3 yaitu AMI (Alternate Mark
Inversion), B-8ZS (Bipolar 8-Zero Substitution), dan HDB3 (High
Density Bipolar 3). Ketiganya ini dibuat untuk saling melengkapi
satu sama lainnya. Teknik AMI memiliki kekurangan yaitu
memiliki deret biner 0 yang panjang dan hal ini bisa menyebabkan
hilangnya sinkronisasi sinyal.

- Kelebihan
 Dalam pentransmisian sinyalnya teknik Bipolar ini bisa
membangkitkan pensinyalan dengan level yang tinggi dengan rate
data yang tinggi pula sehingga sangat cocok untuk aplikasi
komunikasi jarak jauh.
 Selain itu juga dalam line coding bipolar ini tidak ada DC
komponen karena peyimpangan sinkronisasi sinyal tersebut sudah
dikonversi oleh sistem HDB3 (High Density Bipolar 3).

b. Polar
- Kekurangan
 Bandwidth untuk kode biphase lebih besar dan lebar dibanding
bandwidth untuk kode biner lainnya.

- Kelebihan
 Karena terdapat transisi yang dapat diprediksikan sebelumnya
sepanjang setiap satuan waktu bit waktu, receiver menjadi sinkron
pada transisi tersebut. Untuk alasan ini, kode-kode biphase dikenal
sebagai kode swadetak

PUTU RUSDI ARIAWAN


 Tanpa Komponen DC
kode-kode biphase tidak memiliki komponen Dc
 Pendeteksian kesalahan

PUTU RUSDI ARIAWAN


BIODATA PENULIS

Nama : Putu Rusdi Ariawan

TTL : Denpasar. 19 April 1990

Agama : Hindu

Mahasiswa Teknik Elektro Unv. Udayana

Email : [Link]@[Link]

[Link]/turusdi

PUTU RUSDI ARIAWAN

Anda mungkin juga menyukai