0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
210 tayangan18 halaman

Protokol Routing Distance Vector

Dokumen tersebut membahas tentang protokol routing distance vector seperti RIP, IGRP, dan EIGRP. Protokol-protokol ini bekerja dengan cara router secara berkala mengirimkan tabel routingnya ke router tetangga, sehingga memungkinkan setiap router untuk mengetahui topologi jaringan secara keseluruhan. Dokumen juga menjelaskan algoritma yang digunakan protokol-protokol ini dalam menghitung jalur terpendek dan mengupdate tabel routing.

Diunggah oleh

YoelWednes
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
210 tayangan18 halaman

Protokol Routing Distance Vector

Dokumen tersebut membahas tentang protokol routing distance vector seperti RIP, IGRP, dan EIGRP. Protokol-protokol ini bekerja dengan cara router secara berkala mengirimkan tabel routingnya ke router tetangga, sehingga memungkinkan setiap router untuk mengetahui topologi jaringan secara keseluruhan. Dokumen juga menjelaskan algoritma yang digunakan protokol-protokol ini dalam menghitung jalur terpendek dan mengupdate tabel routing.

Diunggah oleh

YoelWednes
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Distance Vector Routing Protocols

4.1 Introduction to Distance Vector Routing Protocols


4.1.1 Distance Vector Routing Protocols
Protocol routing dinamis membantu administrator jaringan dalam menghemat waktu dan
proses konfigurasi serta memelihara static route. Contohnya, pada gambar berikut
dengan 28 router dikonfigurasi secara statis, apa yang akan terjadi apabila salah satu
link rusak? Bagaimana memastikan redundant path tersedia? Routing dinamis pilihan
yang umum dalam mengkonfigurasi jaringan yang sangat luas.
Protokol routing distance antara lain: RIP, IGRP dan EIGRP.
RIP
Routing Information Protocol (RIP) merupakan protokol yang ada pada RFC 1058.
Memiliki karaktertistik berikut:
a. Hop count digunakan sebagai metric untuk memilih jalur.
b. Jika hop count lebih dari 15, RIP tidak bisa memberikan jalur ke jaringan tersebut.
c. Update routing di broadcast atau multicast setiap 30 detik, default.
IGRP
Interior Gateway Routing Protocol (IGRP) merupakan protokol yang dikembangkan oleh
Cisco. Memiliki karakteristik sebagai berikut:
a. Bandwidth, delay, load dan reliability diguanakn untuk membuat komposisi metric
b. Update routing di broadcast setiap 90 detik, default.
c. IGRP merupakan cikal bakal EIGRP dan sekarang sudah using.
EIGRP
Merupakan protokol routing distance vector yang dikembangkan oleh Cisco. Memiliki
karakteristik sebagai berikut:
a. Bisa menjalankan cost yang tidak sama pada load balancing
b. Menggunakan perhitungan Diffusing Update Algorithm (DUAL) untuk menghitung
jalur tersingkat.
c. Tidak ada update secara periodic. Update routing hanya dikirim pada saat terjadi
perubahan topologi jaringan.
4.1.2 Distance Vector Technology
The Meaning of Distance Vector
Dilihat dari namanya, distance vector merupakan route yang diberitahukan berdasarkan
jarak vektor dan arahnya. Jarak atau distance merupakan metric seperti halnya hop
count dan arah atau direction merupakan router next-hop atau exit interface.
Router yang menggunakan protokol routing distance vector tidak mengetahui semua
jalur menuju jaringan tujuan. Router ini hanya mengetahui:
a. Arah atau interface dimana paket akan dikirim

b. Jarak atau seberapa jauh titik ini ke jaringan tujuan.


Contohnya, pada gambar, R1 tahu bahwa arah yang digunakan untuk menuju jaringan
[Link]/24 adalah 1 hop dan arahnya keluar dari interface S0/0/0 menuju R2.

Operation of Distance Vector Routing Protocols


Diantara protokol routing distance vector meminta routernya secara periodic mengirim
atau membroadcast semua routing table ke semua router yang terhubung padanya.
Metode ini tidak efisien karena selain mengkonsumsi badnwitdh, oetode ini juga
mengkonsumsi memori CPU dari router tersebut untuk melakukan updating.
Protokol routing distance vector dibagi atas beberapa karakteristik:
a. Periodic Updates mengirim update dengan interval waktu yang tetap (30 detik pada
RIP dan 90 detik pada IGRP). Walaupun tidak ada perubahan topologi yang terjadi,
update secara periodic tetap berlangsung dan dikirim kesemua router yang terhubung.
b. Neighbors merupakan router yang berbagi link dan dikonfigurasi dengan
menggunakan protokol routing yang sama. Router hanya memperhatika alamat network
dari interfacenya sendiri dan jaringan remite dapat diakses melalui router neighborsnya.
Router juga tidak mengetahui topologi jaringan yang lebih luas. Router yang
menggunakan protokol routing distance vector tidak mempedulikan terjadinya
perubahan topologi.
c. Broadcast update dikirim ke alamat [Link] dan router neighbors
memproses update tersebut. Semua perangkat lain melakukan update yang sama pada
layer 3 sebelum membuangnya. Beberapa protokol routing distance vector
menggunakan alamat multicast dari pada broadcast.
d. Entire routing table update dikirim. Neighbor router yang menerima update harus
memproses semua update untuk menemukan informasi yang bersangkutan dan

membuang yang lain. Beberapa protokol routing distance vector seperti EIGRP tidak
mengirim update routing table secara periodic.
4.1.3 Routing Protocol Algorithms
The Purpose of the Algorithm
Inti dari protokol routing distance vector adalah algoritma. Algoritma digunakan untuk
menghitung jalur terbaik dan mengirim informasi ke neighbors.
Algoritma adalah sebuah prosedur untuk memenuhi tugas khusus, memulai
memberi inisial state dan mengakhiri end state. Protokol routing tidak memiliki
slgoritma routing yang sama.
Algoritma tersebut melakukan beberapa proses, antara lain:
a. Mekanisme untuk mengirim dan menerima informasi routing
b. Mekanisme menghitung jalur terbaik dan menempatkan jalur tersebut ke routing
table.
c. Mekanisme mendeteksi dan bertindak apabila terdapat perubahan topologi.
Pada animasi, R1 dan R2 dikonfigurasi dengan menggunakan protokol routing.
Algortima mengirim dan menerima update. Kedua router R1 dan R2 mengumpulkan
informasi baru dari update. Pada kasus ini, setiap router baru mempelajari jaringan
baru. Masing-masing algoritma pada setiap router membuat kalkulasi dan update
routing table dari informasi baru secara terpisah. Ketika LAN pada R2 tidak
berfungsi, algoritma konstruksi akan mentrigger update dan mengirimnya ke R1. R1
akan menghapus jaringan LAN tersebut dari routing tablenya.

4.1.4 Routing Protocol Characteristics


Routing Protocols Characteristics
Beberapa protokol routing dapat dibandingkan berdasarkan karakteristik berikut:
a. Time to Convergence

Adalah seberapa cepat router yang terdapat pada sebuah topologi berbagi
informasi routing dan mencapai keadaan state of consistent knowledge. Semakin
cepat waktu convergencenya semakin baik protokol tersebut. Routing loop bisa
terjadi apabila routing table yang tidak konsisten tidak di update dikarenakan
waktu convergence lambat pada perubahan jaringan.
b. Scalability
Seberapa besar jaringan yang diatur oleh sebuah routing protokol menjadi lebih
berkembang atau menyebar. Jaringan yang lebih luas membutuhkan routing
protokol yang scalable.
c. Classless (Use of VLSM) or Classful
Pada protokol classless routing memasukkan subnet mask pada update
routingnya. Fitur ini mendukung penggunakan VLSM dan kesimpulan rute yang
lebih baik. Protokol classful routing tidak memasukkan subnet mask dan tidak
mendukung VLSM.
d. Resource Usage
Syarat sebuah protokol routing yang berhubungan dengan kapasitas memori,
penggunaan CPU, dan penggunaan bandwidth. Semakin tinggi syarat yang
dibutuhkan maka semakin kuat hardware yang dibutuhkan untuk melakukan
proses pengiriman paket.

e. Implementation and Maintenance


Menggambarkan pengetahuan yang dibutuhkan oleh seorang administrator
jaringan untuk mengimplementasikan dan memelihara jaringan berdasarkan
jenis protokol routing yang digunakan.
4.2 Network Discovery
4.2.1 Cold Start
Disaat router berada dalam keadaan cold start atau powers up, router tidak
mengetahui topologi jaringannya. Bahkan router tidak mengetahui perangkat lain
yang terhubung padanya. Router hanya mengetahui informasi yang tersimpan pada
NVRAMnya. Sesaat setelah router sukses menjalankan booting, router akan
menjalankan file konfigurasi yang tersimpan padanya. Jika alamat IP telah di
konfigurasi dengan benar, maka router akan mencari jaringan yang terhubung
langsung dengannya.
Initial Network Discovery
Pada contoh, setelah mengalami cold start dan sebelum terjadi perubahan pada
informasi routing, router akan mencari jaringan yang terhubung langsung padanya
dan juga subnet masks jaringan tersebut. Informasi ini ditambahkan pada routing
tablenya:

R1
[Link] terhubung melalui interface Fa 0/0
[Link] terhubung melalui interface S 0/0/0
R2

R3

[Link] terhubung melalui interface S 0/0/0


[Link] terhubung melalui interface S 0/0/1
[Link] terhubung melalui interface S 0/0/0
[Link] terhubung melalui interface Fa 0/0

4.2.2 Initial Exchange of Routing Information


Jika protokol routing table dikonfigurasi, router memulai pertukaran update routingnya.
Pada awalnya, update hanya terdiri dari informasi jaringan yang terhubung langsung
padanya. Pada saat menerima update, router memeriksa informasi baru ini. Router yang
tidak termasuk ke dalam routing tablenya ditambahkan berdasarkan informasi baru ini.
Intial Exchange
Ketiga router mengirim informasi routing table mereka ke router yang menjadi
neighborsnya, yang dikirim hanya jaringan yangterhubung langsung pada masingmasing router tersebut. Masing-masing proses update router ini berjalan sebagai
berikut:

R1

Mengirim update network [Link] melalui interface S 0/0/0


Mengirim update network [Link] melalui interface Fa 0/0
Menerima update dari R2 network [Link] dengan metric 1.
Menyimpan network [Link] pada routing table dengan metric 1.

Mengirim update network [Link] melalui interface S 0/0/0


Mengirim update network [Link] melalui interface S 0/0/1
Menerima update dari R1 network [Link] dengan metric 1.
Menyimpan network [Link] pada routing table dengan metric 1.
Menerima update dari R3 network [Link] dengan metric 1.
Menyimpan network [Link] pada routing table dengan metric 1.

Mengirim update network [Link] melalui interface S 0/0/0


Mengirim update network [Link] melalui interface Fa 0/0
Menerima update dari R2 network [Link] dengan metric 1.
Menyimpan network [Link] pada routing table metric 1.

R2

R3

Setelah putaran pertama perubahan update, masing-masing router mengetahui tentang


jaringan terhubung langsung pada router neighbornya. Namun pada routing table R1
belum terdapat network dengan alamat [Link] dan pada R3 juga belum terdapat
network dengan alamat [Link], maka dibutuhkan update informasi berikutnya.

4.2.3 Exchange of Routing Information

Pada titik ini semua router mengetahui jaringan yang terhubung langsung padanya,
maupun jaringan yang terhubung langsung pada router neighbornya. Untuk mencapai
keadaan convergence, router kembali melakukan periodic update. Masing-masing router
memeriksa update untuk informasi terbaru.

Next Update
Masing-masing router melakukan proses berikut:
R1

R2

Mengirim update network [Link] melalui interface S 0/0/0


Mengirim update network [Link] dan [Link] melalui interface Fa 0/0
Menerima update dari R2 network [Link] dengan metric 2.
Menyimpan network [Link] pada routing table dengan metric 2.
Update yang sama berasal dari R2 yang berisi informasi network [Link]
dengan metric 1. Tidak ada perubahan, pada routing table tetap.

Mengirim update network [Link] dan [Link] melalui interace S 0/0/0


Mengirim update network [Link] dan [Link] melalui interface S 0/0/1
Menerima update dari R1 network [Link]. Tidak terjadi perubahan, isi routing
table untuk ini sama.
Menerima update dari R3 network [Link]. Tidak ada perubahan.

R3

Mengirim update network [Link] melalui S 0/0/0


Mengirim update network [Link] dan [Link] melalui interface Fa 0/0
Menerima update dari R2 network [Link] dengan metric 2.
Menyimpan network [Link] pada routing table dengan metric 2.
Update yang sama datang dari R2 berisi informasi network [Link] dengan
metric 1. Tidak ada perubahan untuk informasi ini.

Note: protokol routing disntance vector biasanya diimplementasikan dengan teknik split
horizon. Split horizon mencegah informasi dari mengirim data pada interface yang sama
dengan menerima informasi pada interface tersebut. Contohnya, R2 tidak akan
mengirim update melalui S 0/0/0 yang berisi network [Link] karena R2 mempelajari
jaringan melalui S 0/0/0.
4.2.4 Convergence
Sejumlah waktu dibutuhkan oleh jaringan untuk mencapai keadaan converge
bergantung pada ukuran jaringan tersebut. pada animasi, B2-R4 dalam keadaan cold
starting. Animasi menampilkan propagasi (perambatan) informasi routing baru yang
merupakan update dan dikirim antar router neighbors. Dibutuhkan lima babak interval
periodic update sebelum semua router pada region 1, 2 dan 3 mempelajari rute baru
yang diumumkan oleh B2-R4. Protokol routing dibandingkan berdasarkan seberapa
cepat perambatan informasi.
Kecepatan untuk mencapai keadaan convergence terdiri dari:
a. Seberapa cepat router merambatkan perubahan topologi pada routing update ke
neighborsnya.
b. Kecepatan menghitung jalur terbaik menggunakan informasi routing yang baru yang
telah dikumpulkan.
Jaringan tidak akan bekerja sampai keadaan converged tercapai. Oleh sebab itu
administrator jaringan memilih protokol routing dengan convergence time yang terkecil.

4.3 Routing Table Maintenance


4.3.1 Periodic Updates: RIPv1 and IGRP
Maintaining the Routing Table
Banyak diantara protokol distance vector menggunakan update secara berkala untuk
pertukaran informasi routing dengan router neighbornya dan memelihara up-to-date
informasi routing yang ada pada routing tablenya. RIP dan IGRP merupakan dua contoh

protokol

ini.

Pada animasi diatas, router secara berkala mengirim routing tablenya ke neighbor.
Periodic update adalah keadaan dimana router mengirim routing table yang sudah
lengkap ke router neighbornya dengan interval waktu tertentu. Untuk RIP, update
dilakukan setiap 30 detik dengan mengirim secara broadcast ([Link]) ada atau
tidak terjadi perubahan topologi. Interval per 30 detik ini menjadi timer update router yang
bersangkutan dan juga bisa digunakan untuk melacak umur informasi routing yang ada
pada routing table.
Umur informasi routing pada routing table diperbaharui setiap update diterima. Melalui
inilah informasi yang ada pada routing table bisa dipelihara apabila terdapat perubahan
topologi. Perubahan terjadi akibat beberapa sebab:
a. Kerusakan pada link
b. Pengenalan link baru
c.
Kerusakan yang terjadi pada router
d. Perubahan parameter link

RIP Timers
Pada implementasi IOS, terdapat tiga timer tambahan untuk RIP:
a. Invalid
b. Flush
c.
Holddown

Invalid Timer
Jika update tidak diterima untuk memperbaharui rute yang sudah ada setelah 180 detik,
maka router tersebut ditandai sebagai router yang invalid dengan nilai metric sama
dengan 16. Rute akan tetap ada pada routing table sampai flush timer habis.
Flush Timer
Secara default flush timer di set selama 240 detik, 60 detik lebih lama dari invalid timer.
Ketika flush timer habis, rute akan dibuang dari routing table.
Holddown Timer
Timer ini menstabilkan informasi routing dan membantu untuk mencegah terjadinya
routing loop selama topologi jaringan mencapai keadaan converge berdasarkan informasi
baru. Sesaat sebuah router ditandai sebagai unreachable network (jaringan yang tidak
bisa dijangkau), router ini harus berada dalam keadaan holddown untuk waktu yang cukup
lama bagi semua router pada topologi untuk mempelajari unreachable network (jaringan
yang tidak bisa dijangkau) tersebut. Secara default, holddown timer diset selama 180
detik.

Untuk mengetahui lebih detail nilai timer yang ada pada system dengan mengetikkan dua
perintah: show ip route dan show ip protocols. Output dari perintah show ip route
menyatakan bahwa masing-masing rute mengetahui informasi routing melalui protokol
RIP. Dari gambar dapat dilihat update terakhir dalam hitungan detik.

Dengan mengetikkan perintah show ip protocols kita dapat mengetahui waktu kirim
update berikutnya. Perintah ini juga menampilkan nilai default invalid, holddown, dan
flush timer.

4.3.2 Bounded Updates: EIGRP


Tidak seperti protokol routing distance vector lainnya, EIGRP tidak mengirim update
secara periodic. EIGRP mengirim bounded updates (update yang dikirim ke router yang
memang membutuhkan update, tidak ke semua router) tentang rute ketika jalur
mengalami perubahan atau metric untuk rute tersebut berubah. Saat terdapat rute baru
yang bisa dilalui atau saat sebuah rute harus dihapus, EIGRP mengirim update hanya
mengenai jalur (network) tersebut. Informasi ini pun dikirim ke router yang memang
membutuhkannya.
Update adalah EIGRP:
Tidak bersifat periodic karena tidak dikirim secara terus menerus
Sebagian update dikirim hanya disaat terjadi perubahan topologi yang akan
mempengaruhi informasi routing.
Terbatas, artinya perambatan sebagian update secara otomatis terbatas sehingga
hanya router yang membutuhkan update saja yang mendapatkan informasi routing
tersebut.
4.3.3 Triggered Updates
Untuk meningkatkan kecepatan mencapai keadaan convergence disaat terdapat
perubahan topologi, RIP menggunakan triggered updates. Triggered update merupakan
update routing table yang dikirim langsung untuk merespon perubahan routing.
Triggered update tidak menunggu update timer habis. Router yang mendeteksi
perubahan tersebut mengirim langsung pesan update ke router yang berdekatan. Router
yang menerima pesan ini akan membangkitkan triggered updates untuk
memberitahukan router neighbor tentang perubahan yang terjadi.
Triggered update dikirim apabila beberapa hal berikut terjadi:
a. Terjadi perubahan pada interface (up atau down)
b. Rute berada dalam keadaan unreachable atau tidak
c. Rute baru terdaftar pada routing table.

Menggunakan triggered update tidaklah cukup untuk menjamin update yang dikirim
sampai ke semua router dengan cepat. Namun, ada dua masalah yang berhubungan
dengan triggered update:
Paket yang berisi update bisa hilang atau mengalami kerusakan pada salah satu
link saat perjalanan menuju router tujuan.
Triggered update tidak terjadi secara instan. Mungkin saja router yang belum
menerima triggered update akan mengeluarkan update regular pada saat yang
tidak tepat, yang akan mengakibatkan dimasukkannya rute yang tidak layak ke
routing table pada router neighbor yang telah menerima triggered update.
4.3.4 Random Jitter
Issues with Synchronized Updates
Ketika sejumlah router mentransmisikan update routingnya pada waktu yang bersamaan
pada segmen multi-access LAN (LAN terhubung menggunakan hub), paket update akan
mengalami tumbukan yang akan mengakibatkan terjadinya delay atau konsumsi
bandwidth yang banyak.
Pengiriman update secara bersamaan dikenal dengan istilah update sinkronisasi.
Sinkronisasi bisa menjadi masalah pada protokol routing distance vector karena
memakai update periodic. Semakin banyak router yang sinkron, semakin besar
kemungkinan terjadinya tumbukan update dan semakin banyak delay yang terjadi pada
jaringan. Pada awalnya, update pada router tidak sinkron. Namun dengan seiringnya
waktu, timer yang melewati jaringan akan sinkron secara bersamaan.
The Solution
Untuk mencegah sinkronisasi update pada router, IOS Cisco variable acak, yang disebut
RIP_JITTER, akan menambahkan sejumlah waktu variable waktu ke interval update
untuk masing-masing router pada jaringan. Random jitter ini berkisar antara 0% sampai
15% dari interval update.

4.4 Routing Loops


4.4.1 Definition and Implication
What is a Routing Loop?
Sebuah routing loop adalah suatu kondisi di mana sebuah paket secara terus menerus
ditransmisikan dalam serangkaian router tanpa pernah mencapai tujuan jaringan.
Sebuah routing loop bisa terjadi apabila dua buah atau lebih router memiliki informasi
routing yang salah yang mengindikasikan jalur yang benar menuju jaringan tujuan yang
tidak terjangkau.

Loop berasal dari keadaan:


a. Konfigurasi yang salah pada static route
b. Konfigurasi yang salah pada rute redistribusi (redistribusi merupakan proses
penanganan informasi routing dari satu protokol routing ke protokol routing lainnya).
c. Routing table yang tidak konsisten karena tidak terupdate yang terjadi disebabkan
oleh lambatnya mencapai keadaan convergence pada saat terjadinya perubahan
jaringan.
d. Konfigurasi yang salah atau menginstal rute yang tidak dipakai lagi

Protokol routing distance vector sederhana dalam pengoperasiannya. Namun


menghasilkan routing loop. Pada protokol routing link-state keadaan routing loop jarang
terjadi tapi bisa terjadi pada lingkungan tertentu.
4.4.2 Problem: Count in Infinity
Merupakan kondisi dimana terdapat update routing yang tidak akurat yang akan
meningkatkan nilai metric yang tidak terhingga untuk jaringan yang tidak bisa
diakses lagi.
4.4.3 Setting a Maximum
Untuk menghentikan peningkatan nilai metric, dilakukan menyetingan nilai maximal dari
metric tersebut. Contohnya, untuk protokol RIP batasnya 16 hop merupakan
unreachable metric. Apabila router menghitung sebuah rute dengan nilai metric nya
sama dengan 16, maka rute itu sudah tidak digunakan lagi.

4.4.4 Preventing Routing Loops with Holddown Timers


Sebelum telah dipelajari bahwa protokol routing distance vector menggunakan triggered
update untuk meningkatkan kecepatan dalam proses convergence. Namun dengan

menggunakan triggered update, router yang menggunakan protokol routing distance


vector juga mengirim update yang periodic. Hal ini akan mengakibatkan beberapa
network berada dalam keadaan tidak stabil. Interface mengalami reset dari up ke down
dan kembali ke posisi up dengan cepat. Rute akan menutup. Dengan menggunakan
triggered update, router akan bereaksi terlalu cepat dan tidak menyadari akan
menciptakan routing loop. Routing loop juga bisa tercipta oleh update yang periodic
yang dikirim oleh router-router selama terjadi ketidakstabilan system. Holddown timer
mencegah terjadinya routing loop dalam kondisi yang seperti ini. Holddown juga
membantu mencegah kondisi menghitung hop tanpa henti.
Holddown timer digunakan untuk mencegah pesan update regular dari masuknya rute
yang sudah tidak valid. Holddown timer menginstruksi router untuk menahan semua
kesempatan yang mungkin mempengaruhi rute untuk periode waktu tertentu. Jika rute
teridentifikasi down, semua informasi untuk rute tersebut berisi status yang sama, atau
bahkan lebih buruk, akan diabaikan untuk periode waktu tertentu (yang dikenal dengan
periode holddown). Ini berarti router akan menandakan bahwa rute itu unreachable
untuk periode waktu yang lamanya cukup untuk update dalam menyebarkan informasi
ini pada routing table.
Holddown bekerja dengan cara berikut:
a. Router menerima update dari neighbornya yang mengindikasikan bahwa network
yang awalnya bisa diakses dalam waktu dekat tidak bisa diakses.
b. Router tersebut menandakan network tersebut berkemungkinan down dan mulai
menset holddown timer.
c. Jika menerima update dengan nilai metric yang lebih baik untuk jaringan tersebut
yang berasal dari router neighbor lain selama periode holddown, jaringan tersebut
akan dikembalikan ke routing tablenya dan holddown timer dihapus.
d. Jika router tersebut menerima update tentang jaringan tadi dengan nilai metric yang
sama atau bahkan lebih buruk lagi, update tersebut diabaikan. Dengan demikian
akan lebih banyak waktu untuk menyebarkan perubahan yang ada. Router tetap
mengirim paket ke jaringan tujuan yang sudah ditandakan akan mengalami down.
Hal ini memungkinkan router untuk mengatasi masalah apapun yang terkait dengan
konektivitas intermiten. Jika jaringan tujuan benar-benar tidak bisa diakses lagi dan
paket tetap dikirim, akan muncul black hole routing sampai holddown timer habis.
4.4.5 Split Horizon Rule
Metode lain yang digukan untuk mencegah terjadinya routing loop yang disebabkan
lambatnya convergence pada protokol routing distance vector adalah split horizon. Split
horizon menyatakan bahwa router tidak menyebarkan informasi routing tentang jaringan
melalui interface tempat router tersebut menerima informasi update.
Menerapkan split horizon pada contoh sebelumnya yaitu rute [Link] melalui prosedur
berikut:
R3 memberitahukan network [Link] ke R2

R2 menerima ifnromasi tersebut dan melakukan update routing tablenya.


Selanjutnya R2 memberitahukan network [Link] ke R1 melalui interface S
0/0/0. R2 tidak memberitahukan jaringan [Link] ke R3 melalui interface S
0/0/1, karena rute ini berasal dari interface tersebut.
R1 menerima informasi tersebut dan melakukan update terhadap routing
tablenya.
Karena diimplementasikannya split horizon, R1 juga tidak memberitahukan
informasi tentang jaringan [Link] kembali ke R2.

Pertukaran update routing secara menyeluruh sudah selesai, dengan mengecualian


rute yang tidak mengikuti aturan split horizon. Hasilnya akan seperti berikut:
R2 akan memberitahukan jaringan [Link] dan [Link] ke R1
R2 memberitahukan jaringan [Link] dan [Link] ke R3
R1 memberitahukan jaringan [Link] ke R2
R3 memberitahukan jaringan [Link] ke R2.

4.4.6 Split Horizon with Poison Reverse or Route Poisoning


Route Poisoning
Route poisoning merupakan metode lain yang digunakan oleh protokol routing distance
vector untuk mengatasi routing loops. Routing poisoning digunakan untuk menandakan
rute yang unreachable (rute yang tidak bisa dijangkau) pada update routing yang dikirim
ke router lain. Unreachable ditandakan dengan nilai metric di set ke angka yang
maksimum. Untuk RIP metric maksimumnya adalah 16.
Proses yang terjadi antara lain:
Jaringan [Link] menjadi tidak tersedia yang diakibatkan oleh link yang rusak
R3 meracuni metric dengan nilai 16 dan kemudian mengirim triggered update
yang menyatakan jaringan [Link] tidak tersedia.
R2 memproses update tersebut. karena nilai metriknya adalah 16, R2
menyatakan bahwa rute tersebut tidak berlaku ke routing tablenya.
R2 kemudian mengirim update yang telah teracuni ke R1, yang mengidikasikan
rute tersebut tidak tersedia, kembali dengan menyeting nilai metricnya sama
dengan 16.
R1 memproses update tersebut dan menyatakan routing entry jaringan [Link]
yang ada pada routing table sudah tidak berlaku lagi.
Split Horizon with Poison Reverse
Poison reverse dapat dikombinasikan dengan teknik split horizon. Metode ini disebut
dengan split horizon dengan poison reverse. Aturan pada split horizon dengan poison
reverse adalah disaat mengirim update keluar melalui interface khusus, menunjukkan

jaringan manapun yang telah dipelajari oleh interface sebagai jaringan yang tidak dapat
dicapai.
Konsep split horizon dengan poison reverse adalah lebih baik menyatakan secara
eksplisit kepada router untuk mengabaikan rute yang daripada tidak.
Proses yang terjadi adalah sebagai berikut:
Network [Link] menjadi tidak tersedia karena terjadi kerusakan pada link.
R3 meracuni metric dengan nilai 16 dan mengirim keluar dengan triggered
update dan menyatakan bahwa [Link] tidak tersedia.
R2 memproses update tersebut, menyatakan tidak berlaku lagi routing yang ada
telah ada pada routing table, dan mengirim kembali poison reverse ke R3.
Poison reverse adalah keadaan khusus yang menolak split horizon. Ini terjadi untuk
memastikan bahwa R3 tidak terkontaminasi oleh update yang salah mengenai jaringan
[Link]
Note: Split horizon tersedia secara default. Namun split horizon dengan poison reverse
tidak tersedia secara default oleh implementasi IOS manapun.
4.4.7 IP and TTL
TTL adalah field yang ada pada header IP yang dengan panjang 8-bit yang merupakan
batas jumlah hop yang bisa dilintasi oleh paket melewati jaringan sebelum paket
tersebut dibuang. Tujuan dari field TTL ini untuk menghindari situasi dimana paket yang
tidak dapat sampai ke tujuan tetap berputar-putar pada jaringan terus-menerus. Dengan
TTL, field di set bernilai 8-bit oleh perangkat sumber paket tersebut. Nilai TTL berkurang
disetiap router yang dilaluinya pada jalur yang dilewatinya untuk sampai ke tujuan. Jika
TTL bernilai nol sebelum paket tersebut sampai ke titik tujuan, paket tersebut dibuang
dan router dimana paket tersebut dibuang akan mengirim pesan ICMP error ke sumber
dari paket IP tersebut.
4.5 Distance Vector Routing Protocols today
4.5.1 RIP and EIGRP
Untuk protokol routing distance vector, hanya terdapat dua pilihan: RIP atau EIGRP.
Pemilihan salah satu diantara kedua protokol tersebut dipengaruhi oleh beberpa factor,
antara lain:
Ukuran jaringan
Kecocokan natara jenis router
Pengetahuan dari administrator jaringan.
RIP
Selama bertahun-tahun, RIP berevolusi dari protokol classful routing (RIPv1) sampai ke
protokol classless routing (RIPv2). RIPv2 merupakan protokol routing standard yang
bekerja pada lingkungan router yang berasal dari vendor yang berbeda. Router yang

dibuat oleh pabrik yang berbeda dapat saling berkomunikasi menggunakan RIP. Ini
merupakan salah satu protokol rputing yang paling mudah dikonfigurasi, menjadi pilihan
yang baik untuk jaringan yang tidak terlalu besar. Namun, RIPv2 masih mempunyai
keterbatasan. RIPv1 dan RIPv2 mempunyai rute metric berdasarkan hop count dengan
angka maksimal 15 hop.
Fitur RIP:
Mendukung split horizon dan split horizon dengan poison reverse untuk
mencegah terjadi loops.
Sangggup menangani load balancing sampai ke enam jalur dengan cost yang
sama. Defaultnya adalah empat.
RIPv2 memperkenalkan peningkatan adri RIPv1:
Memasukkan subnet mask pada update routing, sehingga membuat RIPv2
menjadi protokol classless routing.
Mempunyai mekanisme pembuktian untuk mengamankan update routing table.
Mendukung VLSM
Menggunakan alamat multicast
Mendukung penyimpulan rute secara manual.

EIGRP
Dikembangkan dari IGRP, merupakan protokol routing distance vector lainnya. EIGRP
merupakan protokol classless routing, fitur distance vector yang ada ditemukan pada
protokol routing link-state. Namun, tidak seperti RIP dan OSPF, EIGRP merupakan
protokol yang dikembangkan oleh Cisco dan hanya dipakai pada router Cisco.
Fitur EIGRP antara lain:
Update Triggered (EIGRP tidak memiliki update yang periodik)
Menggunakan topologi tabke untuk memelihara semua rute yang diterima dari
router neighbor (tidak hanya jalur terbaik).
Membangun . Dengan router neighbor menggunakan protokol hello EIGRP
Kelebihan EIGRP:
Meskipun informasi rute disebarkan melalui distance vector, metric dihitung
berdasarkan jumlah bandwidth minimum dan nilai komulatif dari delay yang ada
daripada menggunakan hop count.
Mencapai keadaan convergenve yang lebih cepat karena menggunakan
Diffusing Update Algorithm (DUAL) untuk menghitung rute. DUAL memungkinkan
penyisipan rute backup ke table topologi EIGRP, yang digunakan apabila rute
utama mengalami kerusakan. Karena ini bekerja pada jaringan local, maka

pertukaran rute backup akan lebih cepat dan tidak dipengaruhi oleh kerja router
manapun.
Pembatasan update berarti EIGRP menggunakan bandwidth yang lebih sedikit,
khususnya pada jaringan yang lebih besar dengan jumlah router yang banyak.
Protokol EIGRP juga mendukung berbagai jenis protokol lapisan network melalui
protokol dependent modules, yaitu protokol IP, IPX dan Apple Talk.

Anda mungkin juga menyukai