0
LAPORAN PENDAHULUAN
MANDIBULECTOMY
Di susun oleh :
RAVITMAN
(P 27220008-106)
POLITEKNIK KESEHATAN SURAKARTA
DIV KEPERAWATAN
TAHUN 2011
MANDIBULECTOMY
A. PENGERTIAN
Mandibulectomy adalah Operasi untuk membuka mandibula dengan
maksud untuk mengetahui dan memperbaiki kerusakan di daerah mandibula
atau rahang bawah.
Mandibulectomy adalah perbaikan pembedahan, reseksi atau pengangkatan
pertumbuhan atau abnormalitas di dalam kerangka mulut (mandibula), terdiri
atas pengangkatan dan perbaikan struktur tulang Mandibula.
B. ANATOMI FISIOLOGI
Rongga mulut adalah bagian dari saluran cerna dimulai dari vermillion
sampai perbatasan soft dengan hard palate dan papilla circumvallate lidah, jadi
yang termasuk dalam region ini terdiri dari bibir, mukosa bukal, lidah dua
pertiga depan,rahang atas (maksila) rahang bawah (mandibula) dan gigi, dasar
mulut, hard palatedan soft palate. Fungsi utama dari rongga mulut ini adalah
sebagai
jalur
masuk
utama
ke dalam saluran pencernaan sehingga dapat dilakukan proses pencernaan lebi
hlanjut. Selain itu, rongga mulut juga berfungsi sebagai saluran pernapasan
sekunder,memodifikasi suara sehingga dapat berbicara, dan sebagai organ
kemosensoris.
Rongga mulut bagian anterior dibatasi oleh bibir, pada bagian lateral
oleh pipi, pada daerah inferior dibatasi oleh otot-otot dasar mulut, dan pada
bagian atasoleh hard palate dan soft palate. Bagian rongga mulut bagian
belakang (tenggorok)dibentuk oleh ismus orofaring, yang terdiri dari bagian
anterior dan posterior ( arkus palatoglossal dan arkus palatofaringeal) dan di
antaranya terdapat uvula pada bagiantengah. Diantara arkus anterior dan
posterior terdapat tonsil palatina.
Makanan masuk ke dalam rongga mulut, di cerna secara mekanik, ditrasfo
rmasikan dalam bentuk semilikuid, dan dibawa ke faring. Gigi, bibir,dan
lidah berfungsi
untuk
menggiling
makanan
lalu
membantu
[Link] rasa dan bau juga ikut bekerja dalam proses pencernaan.
Sekresi
dari
kelenjar
ludah
juga
memudahkan makanan agar dapat ditelan dan masuk ke saluran pencernaan be
rikutnya, dan selain itu pada kelenjar ludah juga terdapat enzim pencernaan
tertentu(amilase) yang berguna untuk memecah karbohidrat.
C. ETIOLOGI
1. Tumor
2. Oleh benda tajam
3. Pukulan benda tumpul
4. Pukulan benda tajam
5. Kecelakaan lalu lintas
6. Terjatuh
7. Kecelakaan kerja
8. Kongenital
D. PATOFISIOLOGIS
Pathway dan Masalah Keperawatan
Trauma
Patah, remuk
Cedera primer/langsung
E.
Kerusakan
strukturjaringan tulang
F.
Risiko tinggi infeksi
Nyeri kepala
Tumor
Cedera sekunder/
tak langsung
Obstruksi
Kerusakan syaraf
Aliran darah
Reflek batuk
menurun
Suplai nutrien
(O2,glukosa)
Bersihan jalan nafas
tidak efektif
Perubahan metabolisme aerob
menjadi anaerob
Gangguan rasa
nyaman: nyeri
Asam laktat meningkat
G.
Hipoksia
Energi berkurang
Metabolisme Asidosis
Vasodilatasi
cerebral
H.
Mual, muntah, nafsu
makan turun
Lemah,lesu
Depresi sistem
pernapasan
Aliran darah ke otak
bertambah
Risiko kurang nutrisi
dari kebutuhan
Gangguan mobilitas
fisik/intoleran
aktivitas
Pola nafas
tak efektif
I. TANDA DAN GEJALA
1. Nyeri hebat, pusing.
2. Pergerakan rongga mulut terganggu
3. Kelemahan respon motorik
4. Gangguan tanda vital dan fungsi pernafasan.
J. KOMPLIKASI
1. Kegagalan pernafasan
2. Defisit neurologis
Sedangkan komplikasi Post-Operasi Mandibulectomy antara lain:
1. Hypovolemik syok
2. Ketidakseimbangan cairan dan elektrolit
3. Gangguan perfusi jaringan
4. Infeksi luka
5. Kerusakan integritas kulit sehubungan dengan dehisensi luka atau
eviserasi.
6. Dehisensi luka merupakan terbukanya tepi-tepi luka. Eviserasi luka adalah
keluarnya organ-organ dalam melalui insisi. Faktor penyebab dehisensi
atau eviserasi adalah infeksi luka, kesalahan menutup waktu pembedahan
K. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK (Doengoes Marillyn.2000)
1. CT-Scan (Ceputeraise Tomografi Scanning)
Untuk mengindentifikasi luasnya lesi, perdarahan, determinasi ventikuler
2. X-Ray
Mendeteksi perubahan struktur tulang (fraktur) perubahan stuktur garis
3. Kadar elektrolit
Untuk mengoreksi keseimbangan elektrolit sebagai akibat peningkatan
TIK (Tekanan Intra Kranial).
4. GDA (Gas Darah Analisa)
Untuk mengetahui adanya masalah ventilasi atau oksigen yang dapat
meningkatkan TIK (Tekanan Intra Kranial).
L. PENATALAKSANAAN MEDIS
1. Penatalaksanaan umum cedera mandibula sebagai berikut :
a. Rawat inap
b. Tirah baring
c. Antiboitik dan tutup dengan kapaa steril untuk mencegah masuknya
bakteri.
2. Penatalaksanaan khusus pada cedera mandibula adalah :
a. Penilaian ulang jalan nafas dan ventilasi
b. Monitor tekanan darh jika pasien mempoerlihatkan tanda kestabilan
hemodinamik
c. Pemasangan alat monitor
M. PENATALAKSANAAN KEPERAWATAN
1. Mengurangi komplikasi akibat pembedahan.
2. Mempercepat penyembuhan.
3. Mengembalikan fungsi pasien semaksimal mungkin seperti sebelum
operasi.
4. Mempertahankan konsep diri pasien.
5. Mempersiapkan pasien pulang.
Perawatan pasca pembedahan :
1. Tindakan keperawatan post operasi
a. Monitor kesadaran, tanda-tanda vital, CVP, intake dan output.
b. Dalam mengatur dan menggerakan posisi pasien harus hati-hati
c. Perawatan luka operasi secara steril.
2. Mobilisasi
Biasanya pasien diposisikan untuk berbaring ditempat tidur agar
keadaanya stabil. Biasanya posisi awal adalah terlentang, tapi juga harus
tetap dilakukan perubahan posisi agar tidak terjadi dekubitus.
3. Pemenuhan kebutuhan eliminasi
a. Sistem Perkemihan.
Kontrol volunter fungsi perkemihan kembali setelah 6 8 jam post
anesthesia inhalasi, IV, spinal.
b. Anesthesia, infus IV, manipulasi operasi, retensi urine.
1) Pencegahan : Inspeksi, Palpasi, Perkusi abdomen bawah (distensi
buli-buli).
2) Dower catheter : kaji warna, jumlah urine, out put urine < 30 ml /
jam, komplikasi ginjal.
c. Sistem Gastrointestinal.
1) Mual muntah 40 % klien dengan GA selama 24 jam pertama dapat
menyebabkan stress dan iritasi luka GI dan dapat meningkatkan TIK
pada bedah kepala dan leher serta TIO meningkat.
2) Kaji fungsi gastro intestinal dengan auskultasi suara usus.
3) Kaji paralitic ileus suara usus (-), distensi abdomen, tidak flatus.
4) Kaji jumlah, warna, konsistensi isi lambung tiap 6 8 jam.
5) Insersi NG tube intra operatif mencegah komplikasi post operatif
dengan decompresi dan drainase lambung.
a) Meningkatkan istirahat.
b) Memberi kesempatan penyembuhan pada GI trac bawah.
c) Memonitor perdarahan.
d) Mencegah obstruksi usus.
e) Irigasi atau pemberian obat.
Proses penyembuhan luka
1. Fase pertama
Berlangsung sampai hari ke 3. Batang lekosit banyak yang rusak / rapuh.
Sel-sel darah baru berkembang menjadi penyembuh dimana serabutserabut bening digunakan sebagai kerangka.
2. Fase kedua
Dari hari ke 3 sampai hari ke 14. Pengisian oleh kolagen, seluruh
pinggiran sel epitel timbul sempurna dalam 1 minggu. Jaringan baru
tumbuh dengan kuat dan kemerahan.
3. Fase ketiga
Sekitar 2 sampai 10 minggu. Kolagen terus-menerus ditimbun, timbul
jaringan-jaringan baru dan otot dapat digunakan kembali.
4. Fase keempat
Fase terakhir. Penyembuhan akan menyusut dan mengkerut.
Upaya untuk mempercepat penyembuhan luka
1. Meningkatkan intake makanan tinggi protein dan vitamin C.
2. Menghindari obat-obat anti radang seperti steroid.
3. Pencegahan infeksi.
4. Pengembalian Fungsi fisik.
5. Pengembalian fungsi fisik dilakukan segera setelah operasi dengan latihan
napas dan batuk efektif, latihan mobilisasi dini.
ASUHAN KEPERAWATAN
A. Pengkajian
Pengkajian adalah tahap awal dari proses keperawatan dan merupakan
suatu proses yang sistematis dalam pengumpulan data untuk evaluasi dan
mengidentifikasi status pasien (Nursalam, 2001).
1. Pengkajian primer
Survey primer dalam asuhan keperawatan gawat darurat (RSUD
[Link], 2008) adalah :
a. Airway
1) Bebas, ada obstruksi: parsial/total, penyebab obstruksi: darah,
lendir, lidah jatuh.
2) Normal, suara nafas karena obstruksi: snoring, gurling, growing,
stridor.
3) Kondisi utama sevikal/spine control: bebas, jelas, fraktur.
4) Penggunaan otot bantu pernafasan
5) Sianosis : di sekitar mulut/mukosa, kuku
b. Breathing
1) Respirasi berapa kali per menit, regular/irregular
2) Gerakan otot pernafasan tambahan
3) Suara abnormal : wheezing, ronkhi, krekles, friction rub pleural.
4) Eupnea, bradipnoe, cheyne stokes, apnoe, takhipnoe
c. Sirkulasi
1) Tekanan darah.
2) Nadi.
3) Suhu.
4) Abnormalisasi warna kulit : pucat, kebiruan, eritema, ikterik,
kehilangan pigmen, merah.
5) Henti jantung : bradycardi, tachycardi.
6) Capilary refill: < 2 detik, > 2 detik.
7) Kehilangan cairan dalam jumlah besar : muntah, diare.
8) Perdarahan : tidak terlihat, terlihat : 500 cc, > 500cc
9) Luka bakar: luas, grade.
d. Disability
1. Kesadaran.
2. Nilai GCS E, M,V, total GCS.
3. Pupil : isokor, anisokor, miosis, midriasis, pin point.
4. Reaksi pupil terhadap cahaya : positif, negatif
5. Lateralisasi motorik : reflek abnormal satu sisi, kejang salah satu
sisi.
e. Eksposure
Buka semua pakaian pasien untuk melihat adanya luka.
2. Pengkajian sekunder
Pengkajian pola fungsional menurut Doenges (2000) :
a. Aktivitas/Istirahat
Gejala :
Merasa lemah, lelah, kaku, hilang keseimbangan.
Tanda:
Perubahan
kesadaran,
letargi,
hemiparese,
quadreplegia, ataksia cara berjalan tak tegap, masalah
dalam
keseimbangan,
cedera
(tauma)
ortopedi,
kehilangan tonus otot, otot spastik.
2) Sirkulasi
Gejala:
Perubahan tekanan darah atau normal (hipertensi),
perubahan frekuensi jantung (bradikardi, takikardi
yang diselingi dengan bradikardi, disritmia).
3)
Integritas EGO
Gejala :
Perubahan tingkah laku atau kepribadian (tenang atau
dramatis).
Tanda:
Cemas, mudah tersinggung, delirium, agitasi, bingung,
depresi dan inpulsif.
10
4)
Eliminasi
Gejala:
Inkontinensia kandung kemih/usus atau mengalami
gangguan fungsi.
5)
Makanan/Cairan
Gejala:
Mual, muntah, dan mengalami perubahan selera.
Tanda:
Muntah (mungkin proyektil), gangguan menelan
(batuk, air liur keluar, disfagia).
6)
Neurosensori
Gejala:
Kehilangan kesadaran sementara, amnesia seputar
kejadian.
Vertigo,
pendengaran,
sinkope,
tingling,
baal
tinitus,
kehilangan
pada
ekstermitas.
Perubahan dalam penglihatan, seperti ketajamannya,
diplopia,
kehilangan
sebagian
lapang
pandang,
fotofobia. Gangguan pengecapan dan juga penciuman.
Tanda:
Perubahan kesadaran bisa sampai koma, perubahan
status mental (orientasi, kewaspadaan, perhatian,
konsentrasi,
pemecahan
masalah,
pengaruh
emosi/tingkah laku dan memori). Perubahan pupil
(respon terhadap cahaya, simetri), deviasi pada mata,
ketidakmampuan mengikuti. Kehilangan pengindraan,
seperti: pengecapan, penciuman dan pendengaran.
Wajah tidak simetris.
Genggaman lemah, tidak
seimbang. Reflek tendon dalam tidak ada atau lemah.
Apraksia,
hemiparase,
quadreplegia.
Postur
(dekortikasi, deserebrasi), kejang. Sangat sensitive
terhadap sentuhan dan gerakan. Kehilangan sensasi
sebagian tubuh, kesulitan dalam menentukan posisi
tubuh.
11
7)
Nyeri/kenyamanan
Gejala:
Sakit kepala dengan intensitas dan lokasi yang berbeda,
biasanya lama.
Tanda:
Wajah menyeringai, respon menarik pada rangsangan
nyeri yang hebat, gelisah tidak bisa beristirahat,
merintih.
8)
Pernafasan
Tanda:
Perubahan pola nafas (apnea yang diselingi oleh
hiperventilasi). Napas berbunyi, stridor, tersedak.
Ronkhi, mengi positif (kemungkinan karena respirasi).
9)
Keamanan
Gejala:
Trauma baru/trauma karena kecelakaan.
Tanda:
Fraktur/dislokasi, gangguan penglihatan.
Kulit:
Laserasi, abrasi, perubahan warna, seperti raccoon
eye, Tanda battle disekitar telinga (merupakan Tanda
adanya trauma). Adanya aliran cairan (drainase) dari
telinga/hidung (CSS). Gangguan kognitif, gangguan
rentang gerak, tonus otot hilang, kekuatan secara umum
mengalami paralisis. Demam, gangguan dalam regulasi
suhu tubuh.
10) Interaksi Sosial
Tanda:
Afasia motorik dan sensorik, bicara tanpa arti, bicara
berulang-ulang, disartria, anomia.
11) Penyuluhan/pembelajaran
Gejala:
Penggunaan alkohol/obat lain
Pertimbangan rencana pemulangan:
Membutuhkan
bantuan pada perawatan diri, ambulasi, transportasi,
menyiapkan makan, belanja, perawatan, pengobatan,
tugas-tugas rumah tangga, perubahan tata ruang, atau
penempatan fasilitas lainnya dirumah.
12
B. Diagnosa Keperawatan
1. Resiko tidak efektifnya bersihan jalan nafas dan tidak efektifnya pola
nafas berhubungan dengan gagal nafas, adanya sekresi
2. Kurangnya perawatan diri berhubungan dengan tirah baring dan
menurunnya kesadaran.
3. Resiko kurangnya volume cairan berhubungan mual dan muntah.
4. Nyeri berhubungan dengan trauma, luka post op.
5. Resiko infeksi berhubungan dengan luka post op.
6. Resiko gangguan integritas kulit berhubungan dengan immobilisasi.
7. Perubahan nutrisi: kurang dari kebutuhan berhubungan dengan anoreksia,
mual, muntah
C. Intervensi Keperawatan
1.
Resiko tidak efektifnya jalan nafas dan tidak efektifnya pola nafas
berhubungan dengan gagal nafas, adanya sekresi. Tujuan : Pola nafas dan
bersihan jalan nafas efektif yang ditandai dengan tidak ada sesak atau
kesukaran bernafas, jalan nafas bersih, dan pernafasan dalam batas
normal.
Intervensi
a.
Kaji
Airway,
Breathing, Circulasi.
b.
Kaji anak, apakah ada
fraktur cervical dan vertebra. Bila ada hindari memposisikan kepala
ekstensi dan hati-hati dalam mengatur posisi bila ada cedera vertebra.
c.
Pastikan jalan nafas
tetap terbuka dan kaji adanya sekret. Bila ada sekret segera lakukan
pengisapan lendir.
d.
Kaji status pernafasan
kedalamannya, usaha dalam bernafas.
13
e.
Bila tidak ada fraktur
servikal berikan posisi kepala sedikit ekstensi dan tinggikan 15 30
derajat.
f.
Pemberian
oksigen
sesuai program.
2. Kurangnya perawatan diri berhubungan dengan tirah baring dan
menurunnya kesadaran. Tujuan : Kebutuhan sehari-hari anak terpenuhi
yang ditandai dengan berat badan stabil atau tidak menunjukkan
penurunan berat badan, tempat tidur bersih, tubuh anak bersih, tidak ada
iritasi pada kulit, buang air besar dan kecil dapat dibantu.
Intervensi :
a.
Bantu anak dalam memenuhi kebutuhan aktivitas, makan minum,
mengenakan pakaian, BAK dan BAB, membersihkan tempat tidur, dan
kebersihan perseorangan.
b. Berikan makanan via parenteral bila ada indikasi. Perawatan kateter
bila terpasang.
c. Kaji adanya konstipasi, bila perlu pemakaian pelembek tinja untuk
memudahkan BAB.
d. Libatkan orang tua dalam perawatan pemenuhan kebutuhan sehari-hari
dan demonstrasikan, seperti bagaimana cara memandikan anak.
3. Resiko kurangnnya volume cairan berhubungan dengan mual dan muntah.
Tujuan : Tidak ditemukan tanda-tanda kekurangan volume cayran atau
dehidrasi yang ditandai dengan membran mukosa lembab, integritas kulit
baik, dan nilai elektrolit dalam batas normal. Intervensi : Kaji intake dan
out put. Kaji tanda-tanda dehidrasi: turgor kulit, membran mukosa, dan
ubun-ubun atau mata cekung dan out put urine. Berikan cairan intra vena
sesuai program.
4.
Nyeri berhubungan dengan luka post op Tujuan : Anak akan merasa
nyaman yang ditandai dengan anak tidak mengeluh nyeri, dan tanda-tanda
vital dalam batas normal. Intervensi : Kaji keluhan nyeri dengan
14
menggunakan skala nyeri, catat lokasi nyeri, lamanya, serangannya,
peningkatan nadi, nafas cepat atau lambat, berkeringat dingin. Mengatur
posisi sesuai kebutuhan anak untuk mengurangi nyeri. Kurangi
rangsangan. Pemberian obat analgetik sesuai dengan program. Ciptakan
lingkungan yang nyaman termasuk tempat tidur. Berikan sentuhan
terapeutik, lakukan distraksi dan relaksasi.
5.
Resiko infeksi berhubungan dengan adanya injuri. Tujuan : Anak akan
terbebas dari infeksi yang ditandai dengan tidak ditemukan tanda-tanda
infeksi: suhu tubuh dalam batas normal, tidak ada pus dari luka, leukosit
dalam batas normal. Intervensi : Kaji adanya drainage pada area luka.
Monitor tanda-tanda vital: suhu tubuh. Lakukan perawatan luka dengan
steril dan hati-hati. Kaji tanda dan gejala adanya meningitis, termasuk
kaku kuduk, iritabel, sakit kepala, demam, muntah dan kenjang.
6. Resiko gangguan integritas kulit berhubungan dengan immobilisasi.
Tujuan : Tidak ditemukan tanda-tanda gangguan integritas kulit yang
ditandai dengan kulit tetap utuh. Intervensi : Lakukan latihan pergerakan
(ROM). Pertahankan posisi postur tubuh yang sesuai. Rubah Kaji area
kulit: adanya lecet. Lakukan back rub setelah mandi di area yang
potensial menimbulkan lecet dan pelan-pelan agar tidak menimbulkan
nyeri.
7. Perubahan nutrisi: kurang dari kebutuhan berhubungan dengan anoreksia,
mual, muntah, Tujuan: Mempertahankan masukan nutrisi yang adekuat
dengan kriteria hasil: menunjukan BB stabil, Awasi konsumsi makanan /
cairan, Perhatikan adanya mual dan muntah, Beikan makanan sedikit tapi
sering, Tingkatkan kunjungan oleh orang terdekat selama makan, Berikan
perawatan mulut sering
D. Implementasi Keperawatan
Implementasi keperawatan menurut Doenges (2000) adalah deskripsi
untuk perilaku spesifik yang diharapkan dari pasien atau tindakan yang harus
dilakukan. Tindakan keperawatan menjadi mandiri (dilakukan perawat) dan
15
kolaboratif (dilakukan oleh pemberi perawatan lainnya). Independent:
menciptakan lingkungan yang tenang, nyaman mengurangi kebisingan atau
aktivitas lingkungan dan membatasi jumlah pengunjung.
E. Evaluasi Keperawatan
Evaluasi keperawatan menurut Doenges (2000) setelah asuhan
keperawatan diberikan pengkajian yang berkelanjutan respon pasien
terhadap terapi dan kemajuan mengarah pencapaian hasil yang diharapkan.
Aktivitas ini berfungsi sebagai umpan balik dan control proses keperawatan
melalui mana status pernyataan diagnosis pasien secara individual dinilai
untuk diselesaikan, dilanjutkan atau memerlukan perbaikan.
Evaluasi dicantumkan pada catatan perkembangan. Catatan berisi data
dan topik masalah dengan informasi yang dicatat dalam format SOAP. S:
subjective adalah informasi yang didapat dari pasien, O: objective adalah
informasi yang didapat berdasarkan pengamatan, A: assessment (pengkajian)
adalah analisa masalah pasien, P: planning of action adalah rencana tindakan
yang akan diambil (Effendy, 1995).
16
DAFTAR PUSTAKA
Brunner & Suddart, 2001, Keperawatan Medikal Bedah Volume 1, Jakarta : EGC
Brunner & Suddart, 2001, Keperawatan Medikel Bedah Volume 2, Jakarta : EGC
Carpenito LJ, 2000, Diagnosa Keperawatan Aplikasi pada Praktek Klinik, Edisi
6, Jakarata: EGC
Doenges M.E., 2000, Rencana Asuhan Keperawatan: Pedoman Untuk
Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Edisi 3 ,
Jakarta: EGC.
Indarwati, 2004, edisi 2,[Link] suaramerdeka .com, diperoleh pada tanggal
16 Maret 2008
Mansjoer A, 2000, Kapita Selekta Kedokteran, Edisi III, Jilid II, Jakarta: Media
Aesculapis FKUI
Muttaqin, Arif. 2009. Pengantar Asuhan Keperawatan dengan Gangguan Sistem
Persarafan. Salemba Medika : Jakarta
Nur Jannah, Intansari. 2005. Aplikasi Proses Keperawatan. Mocomedia :
Yogyakarta
Wilkinson, Juditth M. , 2006, Buku Saku Diagnosa Keperawatan, Jakarta: EGC