Pengembangan Sumber Daya Air
Pengembangan Sumber Daya Air
ENGANTAR
Dengan memanjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT, usaha penyusunan buku Diktat
Pengembangan Sumberdaya Air dapat diwujudkan, walaupun belum lengkap. Buku ini
disusun oleh Tim Dosen Pengampu mata kuliah Pengembangan Sumberdaya Air. Materi
buku ini disesuaikan dengan silabi Kurikulum Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik
Universitas Diponegoro yang diberlakukan mulai Tahun Ajaran 2002/2003. Kami
berharap diktat ini sedikit dapat membantu mahasiswa dalam memperlajari dan
memahami materi pengembangan sumberdaya air yang begitu luas.
Diktat ini masih dalam bentuk draft, dan belum lengkap. Kritik, saran dan masukan
sangat diharapkan untuk kelengkapan dan kesempurnaan diktat ini.
Semarang,
September 2005
Penyusun
DIKTAT
PENGEMBANGAN SUMBER DAYA AIR
AFTAR ISI
PENGANTAR............................................................................................ I
DAFTAR ISI.............................................................................................II
DAFTAR TABEL........................................................................................V
DAFTAR GAMBAR...................................................................................VI
1
BAGIAN 1 PENDAHULUAN..................................................................1
1.1
1.2
1.3
1.4
1.5
1.6
1.7
2
ii
DIKTAT
PENGEMBANGAN SUMBER DAYA AIR
BAGIAN 5 WADUK...........................................................................43
iii
DIKTAT
PENGEMBANGAN SUMBER DAYA AIR
iv
DIKTAT
PENGEMBANGAN SUMBER DAYA AIR
AFTAR TABEL
DIKTAT
PENGEMBANGAN SUMBER DAYA AIR
AFTAR GAMBAR
Gambar 2-1.
Siklus Hidrologi.................................................................................................8
Gambar 2-2.
Gambar 2-3.
Gambar 2-4.
Gambar 2-5.
Gambar 2-6.
Pantai................................................................................................................16
Gambar 2-7.
Gambar 2-8.
Akifer Artesis...................................................................................................19
Gambar 3-1.
Gambar 3-2.
Gambar 3-3.
Gambar 3-4.
Gambar 3-5.
Sketsa PLTA.....................................................................................................28
Gambar 3-6.
Gambar 4-1.
Gambar 4-2.
Gambar 4-3.
Gambar 5-1.
Zonasi Waduk...................................................................................................46
Gambar 5-2.
Gambar 5-3.
Gambar 5-4.
Gambar 5-5.
Gambar 5-6.
Gambar 5-7.
Gambar 5-8.
Gambar 5-9.
vi
DIKTAT
PENGEMBANGAN SUMBER DAYA AIR
Gambar 7-2.
Siklus Hidrologi...............................................................................................78
Gambar 7-3.
Gambar 7-4.
Tipe akifer........................................................................................................83
Gambar 7-5.
Cara pengambilan air tanah dengan sumur dangkal, dan sumur dalam.............84
Gambar 7-6.
Percobaan Darcy...............................................................................................85
Gambar 7-7.
Gambar 7-8.
Gambar 7-9.
vii
DIKTAT
PENGEMBANGAN SUMBER DAYA AIR
AGIAN 1
PENDAHULUAN
1.1
Air merupakan salah satu sumber daya alam yang sangat penting bagi kelangsungan
hidup makhluk di muka bumi ini, di samping udara untuk pernafasan dan matahari/api
sebagai sumber tenaga.
Manusia tanpa makan makanan mungkin masih dapat bertahan hidup, tetapi tanpa
meminum air dalam beberapa hari akan dapat mati. Untuk tanaman, air berfungsi sama
seperti darah untuk tubuh manusia. Sehingga tanpa air yang cukup tanaman tidak dapat
tumbuh dengan baik. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa air bersama-sama
dengan sumber daya tanah (lahan) sebagai tempat pertanian bahan pangan dan bahan
baku industri telah dapat memberi kelangsungan hidup manusia dari dahulu sampai kini
dan masa yang akan datang.
Unsurnya : Manusia dan aktifitasnya , hal
ini menyangkut kuantitas, kualitas
pengetahuan dan keterampilannya
INSANI
(Sumber Daya
Manusia)
SUMBER
DAYA
(SD)
FISIK
(Sumber Daya
Alam)
Buatan
( sintetis)
Flora
Hayati
Alami
Fauna
Tanah
Non Hayati
Air
Mineral,dsb
Tabel 1-1.
DIKTAT
PENGEMBANGAN SUMBER DAYA AIR
Dari air ini pula dapat dihasilkan tenaga untuk memperoleh tenaga listrik yang sangat
dibutuhkan dalam menunjang kehidupan manusia, baik untuk keperluan rumah tangga
maupun industri-industri lain. Disamping itu di bidang pelayaran/navigasi pun air ini
banyak berperan.
Gambar (1.1) melukiskan bagan yang menunjukkan skema yang berisi klasifikasi
sumber daya. Sumber daya (resources) sebenarnya tersusun dari berbagai unsur, dan
sumber daya alam (termasuk didalamnya air), merupakan salah satu sumber daya air
potensial di Indonesia. Namun demikian diperkirakan sampai saat ini baru dimanfaatkan
dibawah 20%. Air sebenarnya termasuk sumber daya yang dapat diperbarui (renewableresources). Maka diperlukan pola penanganan dan pengelolaan yang baik. Dengan
demikian, air merupakan sumber daya yang harus mendapat perhatian besar.
LATAR BELAKANG
1.2
penduduk
produksi pertanian
produksi industri
sumber daya alam
pencemaran (polusi).
Sebagaimana diketahui, air bergerak membentuk suatu siklus air yang sering disebut
sebagai siklus hidrologi. Dipandang dari aspek ruang dan waktu, secara alamiah
distribusi air adalah tidak ideal. Hal ini merupakan alasan utama mengapa dibutuhkan
suatu pemahaman tentang teknik sumber daya air atau teknik pemanfaatan sumber daya
air.
Sebagai contoh, dalam manusia melakukan usaha cocok tanam, air yang tersedia di
alam melalui kejadian hujan, tidak selalu mengikuti fase-fase. Disini timbul pemikiran
bahwa usaha cocok tanam yang disesuaikan dengan musim hujan. Akan tetapi pada
kenyataannya tidaklah mudah, dan sering kali kurang memberi hasil seperti yang
diharapkan, jika usaha-usaha bidang keairan hanya mengikuti kenyataan ketersediaan
sumber daya air secara alami.
Pada sisi lain, dalam musim hujan, bila tidak ada usaha pengendalian, akan terjadi
banjir, erosi dan tanah longsor. Sementara itu, jika datang musim kemarau akan terjadi
kekeringan. Hal ini jelas amat sangat merugikan. Akibat dari kerugian-kerugian yang
DIKTAT
PENGEMBANGAN SUMBER DAYA AIR
mungkin timbul ini, dirasakan perlu adanya suatu konsepsi untuk pencegahannya yaitu
dengan pengembangan sumber daya air. Bahkan timbul anggapan bahwa sumber daya
air yang ada di bumi ini ternyata tidak bisa digunakan secara alamiah/langsung untuk
memenuhi kebutuhan air yang semakin meningkat, karena tidak efisien bahkan
berpotensi menimbulkan bencana.
1.3
Kebanyakan orang sering mengatakan bahwa hujan itu tidak pasti atau dikatakan
berubah-ubah. Kenyataannya, nilai hujan dan kejadian hujan \merupakan nilai
probabilistik. Demikian pula, untuk mengetahuai berapa jumlah air hujan yang jatuh
pada suatu daerah, diperlukan suatu cara/metoda untuk menentukannya. Disini perlu
adanya suatu pendekatan. Maka di dalam teknik sumber daya air ini dibicarakan
bagaimana cara-cara memahami kuantitas, kualitas, jadual ketersediaan, cara
pemanfaatan dan penaggulangan bencana dari daya air.
Maksud pengembangan sumber daya air adalah mengusahakan pemanfaatan sumber
daya air secara optimal dan lestari. Pengembangan sumber daya air optimal, yaitu
dengan memperhatikan usaha pemanfaatan dari bermacam-macam sumber daya air
yang ada, untuk memenuhi berbagai kebutuhan air, dengan manajemen pengelolaan
yang baik, sehingga diperoleh pemanfaatan yang optimal. Lestari dimaksudkan bahwa
dalam usaha pemanfaatan sumber daya air, dengan mempertimbangkan dampak yang
timbul dan dilakukan usaha pengendalian, sehingga dengan demikian diharapkan
sumber daya air tetap lestari.
Tujuan pengembangan sumber daya air adalah untuk mengetahui kuantitas, kualitas,
ketersediaan air, cara pemanfaatan (operasi) dan pelestarian sumber daya air. Seluruh
kegiatan tersebut, dan untuk mengetahui potensi sampai dengan pengelolaan sumber
daya air perlu dilakukan dalam satu sistem manajemen pengembangan yang
menyeluruh dan terpadu.
1.4
DIKTAT
PENGEMBANGAN SUMBER DAYA AIR
Dari uraian di atas, sebenarnya teknik sumber daya air penerapannya menyangkut
banyak aspek yang merupakan bidang-bidang sasaran teknik pengembangan sumber
daya air.
Secara garis besar, unsur-unsur pokok pengembangan sumber daya air dapat
diklasifikasikan :
1. Pengendalian Air (Control of Water), antara lain :
Pengendalian banjir.
Drainase lahan.
Pembuangan limbah.
Perencanaan gorong-gorong jalan raya.
Sedimentasi.
Pengaturan DAS (Daerah Aliran Sungai), menyangkut pencegahan erosi.
Dan lain-lain.
2. Pemanfaatan Air (Utilization of Water), antara lain :
Penyediaan air untuk rumah tangga.
Irigasi dan drainase.
Pengembangan tenaga hidroelektrik (listrik tenaga air).
Penyempurnaan alur pelayaran (lalu lintas air).
Perikanan dan kesatwaan pada umumnya.
Penggunaan sumber daya air untuk rekreasi.
Dan lain-lain.
3. Pengelolaan Mutu Air (Water Quality Management), antara lain :
Pengendalian pencemaran yang mengancam penggunaan air untuk keperluan
kota/rumah tangga/industri/irigasi/merusak nilai keindahan sungai.
Penjagaan keseimbangan ekologi.
Pengendalian kadar garam.
Pembuatan hujan.
Dan lain-lain.
1.5
Dari uraian di depan telah dijelaskan bahwa pengembangan sumber daya air
menyangkut dan terkait serta berkaitan erat dengan aspek-aspek sumber daya yang lain
(Gambar 1-1). Dengan demikian, jelas bahwa pengembangan sumber daya air harus
harus dibantu bidang-bidang ilmu yang terkait. Rekayasawan Teknik Sipil selalu
mempunyai peranan utama dalam pengembangan sumber daya air karena rekayasa
sumber daya air merupakan salah satu disiplin ilmu Teknik Sipil.
Setiap proyek pengembangan sumber daya air akan menghadapi seperangkat kondisi
yang unik yang harus diatasi secara khusus, sehingga rancangan baku yang menuju
kepada penyelesaian yang sederhana, yang bersandar pada buku pedoman (hand book)
DIKTAT
PENGEMBANGAN SUMBER DAYA AIR
jarang dapat digunakan. Kondisi-kondisi khusus setiap proyek harus diatasi melalui
penerapan pengetahuan dasar berbagai bidang ilmu Teknik Sipil, yang terkait maupun
dengan disiplin ilmu lainnya secara terpadu.
Untuk itu, rekayasawan Teknik Sipil harus dibekali dengan ilmu-ilmu tersebut tidak
terlalu secara rinci, namun cukup secara global.
Bekal ilmu yang harus diberikan para calon rekayasawan sumber daya air adalah:
1. Ilmu Hidrologi : Kemampuan untuk memprediksi jumlah air yang tersedia, jumlah
air yang dibutuhkan, volume air hujan, dll.
2. Ilmu Pengairan dan Bangunan Air : Kemampuan untuk memperkirakan kuantitas
dan kualitas air yang dibutuhkan, merencanakan system pembagian dan pengaturan
air yang efisien, merancang bangunan pembagi, pengontrol dan pengatur air.
3. Ilmu Rekayasa Sungai : Kemampuan untuk mengidentifikasi hal-hal tang berkaitan
dengan morfologi sungai untuk kepentingan perencanaan alur-alur pelayaran,
penelusuran banjir, angkutan sediment sungai dan pengaturan alur sungai supaya
tidak timbul erosi/sedimentasi yang tak diinginkan.
4. Ilmu Hidrolika : Kemampuan untuk mengetahui perilaku air, menentukan tipe
aliran, tenaga aliran dan cara mengatasinya.
5. Ilmu Rekayasa Penyehatan/Lingkungan : Kemampuan untuk menentukan,
merencanakan kualitas, kuantitas dan distribusi air minum, kapan dan berapa besar
debit air untuk penggelontoran kota, mengatasi polutan, pengendalian kadar garam
dan penjagaan keseimbangan ekologi.
6. Ilmu Ekonomi : Kemampuan didalam membuat suatu analisis ekonomi untuk
menentukan alternatif rencana yang paling optimum dan menentukan tipe keputusan
yang sesuai, cara-cara mengatasi masalah yang timbul dari berbagai aspek.
1.6
DIKTAT
PENGEMBANGAN SUMBER DAYA AIR
2. Teknologi pemanfaatan sumber daya air, termasuk disini adalah teknologi daur
ulang, desalinisasi, penyimpanan dan sebagainya.
3. Pengelolaan kualitas air.
4. Pemanfaatan sumber daya air secara optimal dengan memperhatikan alokasi air
berdasarkan skala prioritas (teknik optimasi).
5. Konservasi dan pelestarian sumber daya air.
6. Pengelolaan dan pengaturan air secara lebih efisien.
Selanjutnya perlu pula pemikiran lebih lanjut untuk pengembangan dari ilmu
pengembangan sumber daya air di masa mendatang seiring dengan perkembangan
peradaban yang lebih modern, antara lain.
1. Pengembangan teknologi hujan buatan.
2. Pengenalan teknologi instalasi penjernihan air, termasuk air laut.
3. Antisipasi melalui peraturan dan perundang-undangan serta sosialisasinya.
4. Pemanfaatan sumber air yang belum dikembangkan.
5. Mulai dipikirkannya pengembangan kelembagaan/institusi pengelolaan sumber daya
air secara baku. Hal ini sudah sangat mendesak supaya undang-undang yang sudah
ada lebih efektif.
1.7
DIKTAT
PENGEMBANGAN SUMBER DAYA AIR
DIKTAT
PENGEMBANGAN SUMBER DAYA AIR
AGIAN 2
2.1
Alam menyediakan air untuk kebutuhan manusia dan makhluk hidup lainnya. Air yang
ada terdistribusi dan bergerak mengikuti suatu siklus yang dikenal dengan siklus/daur
hidrologi(gambar 2.1)
Awan
Awan
Salju
Hujan
Transpirasi
Infiltrasi
Penguapan
Penguapan
Tampungan
Penguapan
Salju
Aliran Permukaan
Tanah
Air Tanah
Danau, Sungai
atau Waduk
Lautan
Perkolasi
DIKTAT
PENGEMBANGAN SUMBER DAYA AIR
Dari deskripsi di atas, dapat disebutkan bahwa alat transportasi distribusi air adalah
udara untuk perjalanannya di atmosfer. Sedangkan untuk perjalanannya di permukaan
tanah adalah alur-alur sungai besar dan kecil. Di sisi laindi bawah permukaan tanah, air
juga bergerak melewati pori-pori atau lubang-lubang dalam tanah.
Udara bergerak akibat perbedaan tekanan udara, menimbulkan angin. Angin membawa
uap air, yang pada kondisi tertentu mengembun, membentuk awan dan kemudian
menimbulkan hujan. Penyebab gerakan udara secara global, dan penyebab gerakan
udara secara local membentuk mekanisme gerakan udara yang beragam. Akibatnya
kejadian hujan juga beragam, dari tinjauan ruang maupun waktu.
Selanjutnya, dapat dikatakan pula, sumber air yang utama adalah dari air hujan. Wolman
(1962) memberikan perkiraan distribusi air di bumi adalah sebagai berikut :
Air Laut (97%)
Asin
Es di kutub dan glacier (75%)
Air (di bumi)
Air Tawar
(3%)
Sungai,
Danau/Tampung
an/Air Tanah
(25%)
Air Permukaan
(1,2 %)
Air Tanah
(98,8 %)
Dari bagan di atas potensi sumber daya air di muka bumi ini dapat diklasifikasikan :
1. Potensi Sumber Daya Air Permukaan
2. Potensi Sumber Daya Air Rawa, Pantai dan Laut
3. Potensi Sumber Daya Air Tanah
2.2
Air permukaan (surface water) adalah sumber air yang terdapat di atas permukaan
bumi, dapat dilihat secara visual dengan tidak menggunakan peralatan tertentu seperti
air yang terdapat dalam tanah.
DIKTAT
PENGEMBANGAN SUMBER DAYA AIR
Sebagian air hujan, mata air, akan turun dan mengalir mencari tempat-tempat yang lebih
rendah. Setelah melalui berbagai proses akibat gaya berat, lalu berkumpul di berbagai
tempat seperti di sungai, waduk, danau dan ke laut.
Air permukaan terdiri dari :
Air sungai dan air di saluran-saluran yang sifatnya mengalir mengikuti alurnya.
Air tampungan, yang sifatnya relative diam di suatu tempat tertentu, seperti di
danau, waduk (reservoir), embung, polder dan lain-lain.
Air permukaan ini sangat potensial untuk kepentingan kehidupan. Potesi sumber daya
air sangat tergantung dengan kebutuhan, misalnya untuk air minum tentu dituntut
criteria kualitas yang memenuhi syarat kesehatan, dan sebagainya. Untuk memenuhi
kepentingan dalam berbagai hal akan membutuhkan tenaga, energi dan biaya, sehingga
dapat menghasilkan manfaat dan nilai potensinya.
10
DIKTAT
PENGEMBANGAN SUMBER DAYA AIR
Intensitas
MASUKAN
HUJAN
Frekuensi
PROSES
DPS
(Chatchnent Area)
KELUARAN
- AIR
ALIRAN
DI SUNGAI
KE LAUT
- SEDIMEN
Debit banjir
Corak banjir
Debit dasar
Debit rata-rata
Angkutan sediment
Morfologi sungai dan
catchment area
Selanjutnya secara sederhana alur utama atau daerah aliran suatu sungai dapat dibagi
atas tiga bagian yaitu :
a. Bagian Atas (up stream, hulu), di mana :
Proses erosi berjalan
Terletak di lereng gunung dengan ketinggian besar (ribuan meter di atas muka
laut)
Kecepatan aliran besar (torrent)
b. Bagian Tengah (middle stream, pertengahan), di mana terjadi proses erosi dan
sedimentasi secara seimbang dinamik.
c. Bagian Bawah (down stream, hilir/pantai), di mana proses sedimentasi/pengendapan
lebih dominan.
Dengan kondisi alam tersebut di atas diperlukan usaha-usaha pengendalian alur sungai
untuk mengamankan daerah tersebut dari bahaya yang akan terjadi, disamping usahausaha pemanfaatan akan sumber daya airnya. Direktorat irigasi dan pihak-pihak terkait
lain sudah memberikan berbagai acuan di dalam usaha pemanfaatan dan pengendalian,
antara lain criteria perencanaan dan gambar-gambar tata letak dan bangunan-bangunan
air, bendungan, bendung tetap, bendung gerak dan lain-lain.
11
DIKTAT
PENGEMBANGAN SUMBER DAYA AIR
2.2.2
2.2.3
Waduk adalah tempat menyimpan air yang merupakan hasil rekayasa manusia dan
dilengkapi dengan berbagai bangunan pengaturan/pengendalian. Waduk dibuat untuk
memenuhi penyediaan air bagi pemakainya manakala pengambilan air secara langsung
dari sungai tidak dimungkinkan terutama pada saat air rendah (musim kemarau).
Sehingga di sini, waduk berfungsi untuk menampung kelebihan air dalam periode
pengaliran air tinggi (kelebihan air) yang kemudian akan dapat digunakan selama
musim kering berikutnya.
Di samping berfungsi sebagai penyimpan air pada waktu musim hujan, waduk dapat
pula difungsikan sebagai tempat menampung air banjir untuk sementara waktu dan
dilepas/dibuang ke hilir pada waktu banjir mulai surut. Kondisi semacam ini merupakan
fungsi waduk sebagai pengendalian banjir.
Jadi berapapun ukuran suatu waduk, atau apapun tujuan akhir dari pemanfaatan airnya,
fungsi utama dari suatu waduk adalah untuk memantapkan aliran air sungai yaitu
pemantapan dengan cara pengaturan persediaan air yang berubah-ubah pada suatu
sungai alamiah, maupun dengan cara memenuhi tuntutan kebutuhan yang berubah-ubah
dari para pemakai air.
2.3
Indonesia sebagai Negara kepulauan mempunyai lebih dari 3700 pulau dan wilayah
pantai sepanjang 80.000 km, juga sejumlah rawa. Rawa dengan keadaan airnya yang
12
DIKTAT
PENGEMBANGAN SUMBER DAYA AIR
bersifat payau, mengandung kadar asam yang cukup tinggi, sering kali disertai dengan
kondisi di mana lahannya adalah daerah lahan gambut.
Kondisi pantai di beberapa tempat merupakan daerah rawa dengan ditandai oleh
tumbuhan bakau dan atau mangrove. Wilayah pantai ini merupakan daerah yang sangat
intensif dimanfaatkan untuk kegiatan manusia, seperti sebagai kawasan pusat
pemerintahan, pemukiman, industri, pelabuhan, pertanian/perikanan, pariwisata dan
sebagainya.
Definisi dan batasan pantai dapat dilihat pada Gambar 2.4 berikut.
Pantai
Sempadan
Pantai
Pesisir
Perairan
Pantai
Laut
Daratan
13
DIKTAT
PENGEMBANGAN SUMBER DAYA AIR
Di dalam menggali potensi sumber daya air rawa dilakukan upaya peningkatan dan
pemanfaatan rawa untuk kepentingan masyarakat luas. Usaha ini dikenal dengan
reklamasi rawa yang dapat diselenggarakan baik oleh pemerintah maupun swasta.
Reklamasi rawa yang bersifat komersil dapat dilaksanakan oleh pihak swasta, untuk
keperluan sendiri dapat juga dilaksanakan oleh badan sosial masyarakat dan anggota
masyarakat.
Untuk reklamasi rawa diperlukan rekomendasi teknis dari dinas terkait setelah
konsultasi dengan Kakanwil Pekerjaan Umum untuk mendapatkan izin dari gubernur.
Reklamasi rawa dapat dilakukan dengan cara :
a. membangun jaringan reklamasi rawa-tambak
b. mengeringkan rawa
c. menimbun rawa
Sehingga dapat didefinisikan bahwa daerah reklamasi rawa adalah kesatuan wilayah
yang mendapat pelayanan air dari satu jaringan reklamasi.
Khusus untuk rawa ini, pemerintah telah mengeluarkan peraturan Menteri Pekerjaan
Umum No. 64/PRT/1993, tanggal 27 Febuari 1993, tentang Reklamasi Rawa. Peraturan
ini menitik beratkan pada penyelenggaraan konservasi rawa, mencakup kegiatan
perlindungan pengawetan secara lestari dan peningkatan fungsi serta pemanfaatan rawa
sebagai ekosistem sumber
Berikut ini beberapa yang perlu diketahui :
Jaringan reklamasi rawa adalah keseluruhan saluran baik primer, sekunder maupun
tersier dan bangunan pelengkapnya serta pembagian penggunaan air.
Jaringan reklamasi rawa teknis adalah reklamasi rawa dengan tata pengaturan air
terkendali dan terukur dengan konstruksi bangunan yang seluruhnya permanent.
14
DIKTAT
PENGEMBANGAN SUMBER DAYA AIR
Untuk itu, perlu dikaji lebih lanjut tentang kondisi pasang-surut air laut yang terjadi
pada setiap pantai. Perlu kiranya diteliti faktor-faktor berikut :
a. kualitas air
b. kualitas tanah
c. gerakan air yang disebabkan pasang-surut air laut dan aliran sungai yang ada.
Kondisi pasang-surut air laut memberikan pengaruh positif dan negatif, dimana air laut
dapat masuk ke daratan melalui sungai antara 10 sampai dengan 15 km atau lebih pada
tempat-tempat tertentu. Pengaruh positifnya adalah berkaitan dengan pengairan pasangsurut. Sedangkan pengaruh negatifnya adalah berkaitan dengan intrusi air laut ke
daratan.
y
Air Tanah
Tawar
Lautan
H = 40y
Air Tanah
Asin
H = Permukaan Laut
= 40 y
15
DIKTAT
PENGEMBANGAN SUMBER DAYA AIR
L
Ombak Pecah
Di sini diperlukan pengetahuan yang memadai tentang konservasi rawa dan pantai.
2.4
Dilihat dari Gambar 2.2, distribusi air di bumi ditunjukkan bahwa air tanah mempunyai
jumlah yang paling besar. Air tanah di sini adalah tanah air tanah dalam yaitu sejumlah
air yang ada dan tersimpan di dalam perut bumi. Air tanah adalah sumber persediaan air
yang sangat penting, terutama di daerah-daerah di mana musim kemarau atau
kekeringan yang panjang menyebabkan berhentinya aliran sungai.
Potensi air tanah yang ada tidak bisa terlepas dari keberadaan sumber air yang ada di
permukaan bumi. Hal ini bisa dilihat dari siklus hidrologi, yang menunjukkan
keterkaitan kedua sumber persediaan air tersebut. Banyak sungai di permukaan tanah
yang menerima sebagian besar alirannya dari air tanah. Di sisi lain, air dari aliran
permukaan merupakan sumber utama untuk imbuhan air tanah. Sehingga penggunaan
salah satu dari kedua sumber ini mungkin mempengaruhi persediaan air dari sumber
lainnya. Jadi di dalam membuat rancangan pengembangan sumber daya air, masalah air
permukaan dan air tanah ini harus dipertimbangkan bersama-sama.
2.4.1
Gambar 2.7 berikut ini menunjukkan keberadaan (zona-zona) air di bawah permukaan
tanah.
16
DIKTAT
PENGEMBANGAN SUMBER DAYA AIR
Transpirasi
Sungai yang
tidak lancar
Lengas tanah bergerak
ke bawah setelah hujan
Lapisan
kapiler
Penguapan
Transpirasi
Sungai yang
lancar
Zona aerasi
Permukaan Air tanah
17
DIKTAT
PENGEMBANGAN SUMBER DAYA AIR
terutama jika untuk dikonsumsi, maka harus memenuhi kriteria kesehatan, dan
sebelumnya harus diperiksa dulu di laboratorium untuk mengetahui kandungan
mineralnya, apakah cukup aman dan layak untuk dikonsumsi.
2.4.2 Akifer
Akifer adalah formasi-formasi yang berisi dan memancarkan air tanah. Jumlah air tanah
yang dapat diperoleh di sebarang daerah tergantung pada sifat-sifat dari akifer yang ada
di bawahnya serta pada luas cakupan dan frekuensi dari imbuhan. Kapasitas dari suatu
formasi untuk menampung air diukur dengan porositas.
Porositas adalah perbandingan antara volume pori-pori terhadap volume keseluruhan
dari formasi tersebut. Porositas yang tinggi tidak merupakan petunjuk bahwa suatu
akifer akan menghasilkan volume air yang besar bagi sebuah sumur. Satu-satunya air
yang dapat diperoleh dari akifer itu adalah yang akan mengalir secara gravitasi. Hasil
spesifik adalah volume air yang akan mengalir secara bebas dari akifer itu dan
dinyatakan dalam persentase dari seluruh volume akifer itu. Hasil spesifik selalu lebih
kecil dari porositas karena sejumlah air akan tetap tertahan dalam akifer akibat gayagaya molekuler atau kapiler. Hasil spesifik dari bahan berbutir halus jauh lebih kecil
daripada bahan berbutir kasar. Lempung, dengan porositas yang tinggi, merupakan
bahan berbutir halus sehingga biasanya menghasilkan air sedikit bagi sumur-sumur.
Sebaliknya, batu kapur yang berguna atau batu pasir yang retak dengan porositas yang
rendah mungkin menghasilkan hampir seluruh kandungan airnya. Akifer yang paling
penting secara ekonomis adalah endapan-endapan pasir dan kerikil di mana hasil
spesifikasinya cukup tinggi.
18
DIKTAT
PENGEMBANGAN SUMBER DAYA AIR
Sumur artesis
yang mengalir
Permukaan tanah
Sumur permukaan
Air tanah
Permukaan
piezometrik
Permukaan
air tanah
Akifer artesis
Lapisan kedap air
19
DIKTAT
PENGEMBANGAN SUMBER DAYA AIR
AGIAN 3
Neraca air merupakan keseimbangan air yang terjadi dalam sistem/subsistem hidrologi:
yaitu antara jumlah masukan, keluaran dan perubahan kandugnan air dalam sistem.
Skema sistem sederhana digambarkan sebagai berikut.
I
I
20
DIKTAT
PENGEMBANGAN SUMBER DAYA AIR
I = masukan (inflow)
O = keluaran (outflow)
S = perubahan tampungan (storage change)
Contoh :
1. Neraca air di daratan/lautan
SR
Daratan
Laut
GWF
Gambar 3-10.
21
DIKTAT
PENGEMBANGAN SUMBER DAYA AIR
S
5
2
6
Keterangan :
1 : surface run off
2 : sub surface run off
3 : presipitasi (hujan)
4 : Evaporasi (penguapan)
5 : kebutuhan air (irigasi, tenaga listrik, dll)
6 : rembesan/bocoran
Persamaan Neraca Airnya :
a. untuk S > 0
1 + 2 + 3 = 4 + 5 + 6 +S
b. untuk S > 0
1 + 2 + 3 + S = 4 + 5 + 6
Di dalam pengembangan sumber daya air prinsip neraca air dipakai sebagai suatu cara
analisis untuk memecahkan persoalan-persoalan perencanaan dan eksploitasi adalah
mutlak diperlukan. Persamaan neraca air didasarkan pada hukum kekekalan massa yang
menyatakan bahwa suatu zat tidak dapat diciptakan atau dimusnahkan, tetapi suatu zat
dapat berubah bentuk seperti telah diuraikan di atas, persamaan neraca air
memperlihatkan besaran-besaran masukan (inflow/gain) dan keluaran (outflow/losses)
serta storage. Berbeda dengan neraca pada perhitungan akuntan yang periode waktunya
22
DIKTAT
PENGEMBANGAN SUMBER DAYA AIR
sesaat, maka pada neraca air, karena periode waktunya tidak sesaat, terpaksa selalu ada
penyeimbang S (storage) yaitu sesuatu yang bersifat dinamis selama interval waktu
yang dilihat.
Dengan demikian persamaan umum neraca air adalah :
Masukan = Keluaran Storage
I = O S
Jadi jelas di sini, bahwa persamaan neraca air akan mempunyai makna hanya jika
diterapkan dua hal sebagai pembatas, yaitu ;
1. Batas daerah atau wadah, yang dapat membentuk suatu system. Contohnya
waduk/reservoir, kolom suatu lahan, suatu aquifer air tanah, suatu panjang sungai
atau saluran tertentu, suatu petak irigasi, suatu daerah pengaliran sungai (DPS) atau
sub wilayah sungai dan wilayah sungai tertentu.
2. Perode tertentu atau spesifik (t)
3. Misalnya t = 1 jam, 1 hari, 1 bulan, 1 tahun atau 5 tahun, tergantung system yang
ditangani.
Contoh :
Neraca air untuk sebuah waduk dengan periode 15 (lima belas) hari atau bulanan (30
hari).
1
8
Gambar [Link] Air Suatu Waduk
23
DIKTAT
PENGEMBANGAN SUMBER DAYA AIR
Parameter-parameternya adalah :
Masukan = Increments = Gain
Supply = Inflow
1. Presipitasi (hujan) P
2. Aliran dari sungai I
3. Rembesan (seepage) U
4. Perubahan (storage) S
3.2
KETERSEDIAAN AIR
Dari uraian pada bab di atas, dijelaskan bahwa sumber segala air, menurut siklus
hidrologinya, hanya satu yaitu presipitasi (hujan). Kemudian dari proses tersebut
sumber air sering dibagi dalam dua kategori :
1. Air diatas tanah disebut air permukaan (over ground atau surface water) yang terdiri
dari :
a. Air sungai dan air di saluran-saluran (mengalir)
b. Air di danau-danau dan waduk buatan
2. Air bawah tanah disebut air tanah (under ground atau ground water), di mana
menurut cara me,perolehnya terdiri atas :
a. Sumber alam (natural springs)
b. Sumber artesis (artesian wells)
c. Galeri atau terowongan (galleries, karazes,khanats)
d. Sumur-sumur dangkal dan dalam (shallow and deep/tube wells)
Distribusi air pada bumi dapat dilihat pada gambar 2.2 di depan (dari Wolman, 1962).
Prosentase dari air tanah dan air permukaan tersebut, bukanlah ketersediaan yang nyata
dan langsung. Karena air tanah berada jauh dari tempat penggunaannya atau pada
kedalaman akifer yang pengambilannya tidak mungkin atau tidak ekonomis. Sedangkan
untuk air permukaan sebagian merupakan air mengalir yang memperbarui volume aliran
di sungai-sungai rata-rata 30 kali setahun.
Bila dilihat dari potensi yang ada, ketersediaan air permukaan relative tetap dari waktu
ke waktu karena mengikuti siklus hidrologi. Sebagai gambaran, Chow, dkk (1988)
memberikan jumlah volume ketersediaan air di dunia sebagai berikut :
Total volume air (asin + tawar) = [Link] km 3 yang terdiri dari :
24
DIKTAT
PENGEMBANGAN SUMBER DAYA AIR
= [Link] km 3 (96,53 %)
=
47.984.610 km 3 ( 3,47 %)
Dimana untuk volume air tawar total = 35.029.210 km 3 atau sekitar 2,53 %.
Di Indonesia ketersediaan air ini tersebar dibanyak pulau. Perbandingan ketersediaan air
dan kebutuhan air menunjukkan bahwa ketersediaan air di Pulau Jawa da Bali telah
mengalami tingkat kritis, kemudian disusul NTB dan Sulawesi-Selatan. Berdasarkan
data distribusi ketersediaan sumber daya air menurut pulau, Irian Jaya berada di posisi
teratas, berikut ini data jumlah ketersediaan airdan dari kebutuhan air pada tahun 1995
dibeberapa pulau besar di Indonesia.
Pulau
Irian Jaya
Kalimantan
Sulawesi
350 x 10 m /tahun
140 x 10 9 m 3 /tahun
34 x 10 9 m 3 /tahun
Sumatera
Jawa
111 x 10 9 m 3 /tahun
30 x 10 9 m 3 /tahun
Kebutuhan Air
128 x 10 6 m 3 /tahun (0,036 %)
56 x 10 6 m 3 /tahun (0,4 %)
153 x 10 6 m 3 /tahun (45 %)
18,87 x 10 6 m 3 /tahun (17 %)
61,8 x 10 6 m 3 /tahun (20,6 %)
Data di atas menunjukkan adanya ketidak seimbangan antara ketersediaan air serta tidak
meratanya distribusi sumber daya air antar pulau yang ada di Indonesia (Robert JK dan
Sugiyanto, Banjir 2002). Jadi di sini, hal pokok di dalam masalah sumber daya air
adalah masalah kuantitas, masalah kualitas dan masalah distribusi air itu sendiri.
Dengan kata lain, walaupun secara menyeluruh air di dunia ini cukup untuk setiap
orang, akan tetapi distribusinya sangat bervariasi. Seringkali antara kepadatan penduduk
dan ketersediaan air tidak seirama (not compatible). Sebagai contoh manusia tinggal di
daerah yang kekurangan air karena iklim yang menarik atau alasan-alasan kebudayaan,
atau karena relokasi yang tidak praktis oleh adanya hambatan politis, social dan
ekonomis.
Daerah yang kekurangan hujan untuk pertanian, sering memiliki lahan yang subur yang
merupakan lahan yang baik untuk irigasi. Banyak pengembangan ekonomi yang baik
berada di bantaran sungai-sungai, akan tetapi daerah ini perlu pengamanan terhadap
banjir. Sehingga biasanya para perancang sumber daya air ditantang untuk mengatasi
problem air berlebihan atau terlalu banyak dan air kekurangan atau kekeringan.
Tuntutannya adalah harus dapat mengembangkan kemudahan dan sarana yang dapat
memenuhi kebutuhan air dan menggunakan peluang-peluang lain guna pengembangan,
pelestarian dan peningkatan sumber daya air itu sendiri.
3.3
25
DIKTAT
PENGEMBANGAN SUMBER DAYA AIR
keseluruhan dalam satu system untuk mendapatkan hasil yang optimal. Pemanfaatan
sumber daya air antara lain adalah :
3.3.1
Air baku adalah air bersih yang dipakai untuk memenuhi kebutuhan air minum, air
rumah tangga dan industri. Seiring dengan laju pertumbuhan penduduk, bertambah pula
kebutuhan akan air baku ini untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Air baku dapat
diperoleh dari sungai, air tanah, dsb di mana pemakaiannya harus memenuhi
persyaratan sesuai dengan kegunaannya. Terutama jika akan dimanfaatkan untuk
kebutuhan air minum, maka harus memenuhi syarat kesehatan untuk dikonsumsi.
Sumber daya air sungai untuk penyediaan air baku harus ditampung untuk memenuhi
pola distribusi kebutuhan air yang kadang-kadang tidak sesuai dengan pola debit aliran.
Jumlah penggunaan air untuk rumah tangga yang meliputi untuk minum, mandi, cuci,
masak dan sanitasi akan bervariasi dari 100 liter/orang/hari sampai 300 liter/orang/hari
tergantung pada kondisi suatu Negara. Untuk Negara maju seperti AS penggunaan air
bisa mencapai 300 liter/orang/hari. Untuk standar di Indonsia, sementara ini adalah :
= 120 liter/orang/hari
= 100 liter/orang/hari
= 90 liter/orang/hari
= 60 liter/orang/hari
= 45 liter/orang/hari
Untuk ternak, kebutuhannya tidak sebesar air irigasi tetapi harus tersedia. Kebutuhan
air untuk ternak menjadi penting terutama untuk daerah-daerah yang relative kecil curah
hujannya, tetapi lahannya potensial untuk ternak komersial seperti di daerah NTB, NTT.
Kebutuhan air untuk perikanan apabila harus disediakan secara khusus kebutuhannya
cukup besar juga. Oleh karena itu untuk penghematan sering digabung dengan
kebutuhan lain seperti untuk waduk, rekreasi dan irigasi pertanian.
Sedangkan kebutuhan air untuk industri dan komersial lainnya tergantung pada
kegunaan untuk proses pembuatan hasil produksi industri itu sendiri, sebagai contoh :
Tabel 3-2.
Jenis Produksi
Buah kaleng
Kacang-kacangan kaleng
Coca-cola
Kilang minyak
Kertas
Kulit
Benang rayon
Baja
Listrik tenaga uap
Satuan Produksi
2 kaleng
2 kaleng
Ton
Barel (200 ltr)
Ton
Ton
Ton
Ton
KWH
Kebutuhan rata-rata
(liter)
360
1.125
16.200
3.470
175.500
72.000
81.000
157.500
360
26
DIKTAT
PENGEMBANGAN SUMBER DAYA AIR
3.3.2
3.3.3
Seiring dengan kemajuan pembangunan suatu Negara, makin meningkat juga kebutuhan
masyarakat akan listrik yang banyak digunakan antara lain untuk penerangan, industri,
alat-alat rumah tangga dan sebagainya. Air adalah sumber daya alam yang cukup
banyak, yang tidak ada polusi. Jika topografinya menunjang maka sumber daya air ini
bisa dimanfaatkan untuk pembangkit listrik tenaga air.
Pemanfaatan air untuk pembangkit listrik tenaga air ini bukan bersifat konsumtif atau
habis dipakai melainkan dengan menggunakan tenaga aliran air itu dalam tekanan untuk
memutar turbin air. Energi potensial dan kinetis air oleh turbin dirubah menjadi energi
mekanis, kemudian energi mekanis turbin oleh generator (yang disatukan oleh turbin)
dapat dirubah menjadi tenaga listrik. Selanjutnya dengan jaringan-jaringan transmisi,
energi listrik ini didistribusikan ke konsumen.
Tenaga potensial air dalam praktek disebut head (beda tinggi muka air di hulu dengan
ketinggian turbin atau air di hilir). Head ini diperoleh dari pembuatan dam/bendungan
di sungai-sungai sehingga air sungai yang terbendung itu akan membentuk suatu
tampungan air dengan volume yang besar dan disebut waduk/reservoir. Kemudian
27
DIKTAT
PENGEMBANGAN SUMBER DAYA AIR
dengan membawa air dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah dengan melalui
pipa pesat (tertekan) akan diperoleh head untuk PLTA. Biasanya kondisi semacam ini
bisa dilakukan pada daerah yang mempunyai potensi air yang cukup banyak. Sebagai
contoh adalah PLTA Jatiluhur, PLTA saguling, PLTA Cirata, dsb. Sedangkan untuk
keperluan listrik desa, dapat dibuat pembangkit tenaga air mikro hidro, untuk tinggi
terjunan minimum 3 meter. Jadi pada pemanfaatan sumber daya air sungai untuk PLTA
dapat diklasifikasikan dalam 2 jenis :
a. Pemanfaatan aliran sungai secara langsung (Run of River Plant)
b. Pemanfaatan sumber daya air untuk PLTA dengan pembuatan bendungan dan
waduk.
Berikut ini, contoh sketsa penampang lintang suatu PLTA :
MA max
Waduk
Power house
Bendungan
generator
Head
(H)
Pengambilan
Pipa penstok
turbin
MA
(kg m/detik)
1 TK = 0,736 KW
Maka :
Pp =
1000QH
= 13,33 Q H (TK)
75
= (0,736) (13,33) Q H
= 9,8 Q H (KW)
28
DIKTAT
PENGEMBANGAN SUMBER DAYA AIR
3.3.4
Sudah sejak dahulu, sungai atau saluran air (water way) digunakan untuk jalan
trnsportasi kapal komersial karena biayanya yang cukup murah dan dapat masuk jauh
ke pedalaman (ke hulu sungai). Untuk Negara dimana banyak terdapat pulau dan
sungai, seperti di Indonesia, pemanfaatan air sebagai sarana lalu lintas air ini sangat
menguntungkan. Sungai-sungai besar dengan panjang dan hidrolika sungai yang baik
seperti Sungai Musi (di Sumatera), Sungai Kapuas dan Sungai Mahakam (di
Kalimantan) mempunyai potensi yang besar untuk dikembangkan menjadi sarana
transportasi air. Sayangnya, di Indonesia belum ada criteria yang jelas mengenai
persyaratan layak tidaknya lintasan air sebagai sarana lalu lintas air. Sehingga di sini
pertimbangan utamanya adalah ekonomi. Kriteria lalu lintas air yang harus dipenuhi
adalah: Kedalaman, lebar dan garis arah dari lalu lintas air. Ini hanya dapat ditetapkan
dengan menghitung biaya pengangkutan untuk berbagai tingkat perbaikan dan
membandingkannya untuk setiap pertambahan penghematan tahunan terhadap besarnya
biaya tahun guna biaya sarana-sarana tersebut.
Sarana untuk pelayaran sungai yang perlu diperhatikan adalah ketika kapal harus
melintasi alur sungai yang memiliki beda muka air sungai yang cukup tinggi. Di sini
diperlukan suatu bangunan agar kapal bisa naik ke hulu atau turun ke hilir dengan aman,
yaitu dengan perantaraan kolam lock.
Ruang Lock
Pintu Lock
Bendung, Lock
dan Jembatan
Hilir
Hulu
Kapal
Ruang Lock
Pintu lock
29
DIKTAT
PENGEMBANGAN SUMBER DAYA AIR
Bila kapal mau ke hulu (naik), pintu hulu lock ditutup, kapal masuk ke kolam lock
kemudian pintu hilir lock ditutup. Selanjutnya lock diisi air sampai ketinggian muka
airnya sama dengan di hulu. Pintu hulu dibuka dan kapal dapat meneruskan
perjalanannya. Sehingga di sini kebutuhan untuk navigasi tergantung pada :
Dimensi saluran
Kecepatan aliran
Lamanya waktu locking kapal
Fasilitas terminal
Dan lain-lain
3.3.5
Di Jakarta
Di Surabaya
(c) Aliran Sungai untuk Menahan Intrusi air Laut Pada Muara Sungai
Pengaruh pasang naik air laut yang menyusup jauh ke pedalaman daratan banyak
terjadi pada sungai dengan aliran yang relatif kecil. Sifat air asin/payau ini
berpengaruh negatif pada tanaman dan lingkungan hidup pada umumnya (misal :
air tanah). Besarnya air untuk menahan penyusupan air laut supaya tetap pada
batas yang wajar, tergantung pada kemiringan dasar sungai, besar sungai dan
pasang laut setempat.
30
DIKTAT
PENGEMBANGAN SUMBER DAYA AIR
3.4
31
DIKTAT
PENGEMBANGAN SUMBER DAYA AIR
4.
5.
6.
Selanjutnya, sejak ditetapkan dan disahkan di Jakarta pada tanggal 18 Maret 2004,
maka diberlakukan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 7 tahun 2004 tentang
SUMBER DAYA AIR.
Secara garis besar, hal-hal yang termaktub dalam UU No. 7 Tahun 2004 Tentang
Sumber Daya Air adalah :
32
DIKTAT
PENGEMBANGAN SUMBER DAYA AIR
Bab X. Pembiayaan
Pembiayaan pengelolaan SDA ditetapkan berdasarkan kebutuhan nyata
pengelolaannya Adapun jenis pembiayaannya meliputi :
a. Biaya sistem informasi
b. Biaya perencanaan
c. Biaya pelaksanaan konstruksi
d. Biaya operasi, pemeliharaan
e. Biaya pemantauan, evaluasi, dan pemberdayaan masyarakat
Sumber dana untuk setiap jenis pembiayaan dapat berupa :
a. Anggaran pemerintah
b. Anggaran swasta
c. Hasil penerimaan biaya jasa pengelolaan SDA
Pembiayaan tersebut bisa secara sendiri-sendiri atau dalam bentuk
kerjasama.
33
DIKTAT
PENGEMBANGAN SUMBER DAYA AIR
34
DIKTAT
PENGEMBANGAN SUMBER DAYA AIR
AGIAN 4
Tujuan Survai
Gagasan mewujudkan suatu bangunan selalu didahului dengan survai dan investigasi untuk
mendapatkan data guna mendukung terrealisasinya sisi pelaksanaan pembangunanan fisk
bangunan tersebut.
Data yang benar, akurat dan lengkap akan mempermudah terwujudnya sebuah bangunan.
Berdasarkan analisis data dapat didesain perencanaan struktur, gambar-gambar rencana
bangunan dan detail-detailnya, perhitungan rencana anggaran biaya, dan lain sebagainya.
Survai merupakan tahapan yang penting dilaksanakan agar proyek yang dibangun sesuai
rencana.
Untuk mendapatkan hasil survai dan investigasi yang baik, perlu diperhatikan beberapa
hal, yaitu sebagai berikut ini.
1). Tujuan dan sasaran survai.
Tujuan dan sasaran survai ini sangat berkaitan dengan sisi-sisi tujuan didirikannya
bangunan, fungsi bangunan, dan dampak dari adanya bangunan tersebut.
2). Peralatan.
Peralatan yang digunakan harus cukup dan memadai memenuhi syarat secara
kualitatif dan kuantitatif artinya sesuai dengan kondisi di lapangan dan akurat dalam
pembacaan sesuai batas-batas toleransi.
3). Tenaga ahli.
Tenaga ahli yang dilibatkan kedalam survai haruslah secara kualitas dan kuantitas
memenuh syarat sisi teknis dan administrasinya serta terorgansasi secara baik .
4). Lingkup kegiatan.
Kegiatan survai dan investigasi harus cukup jelas baik dari sisi-sisi di lapangan
maupun di laboratorium, jenis survai yang perlu dilakukan, lingkupnya sejauh mana,
metoda yang digunakan, dan lain sebagainya.
Arah dan langkah selanjutnya ditentukan berdasarkan data awal ini. Secara garis besar
tahapan realisasi suatu bangunan dapat digambarkan dengan skema sebagai berikut ini.
35
DIKTAT
PENGEMBANGAN SUMBER DAYA AIR
STUDI
KELAYAKAN
TAHAP
DESAIN
TAHAP
PELAKSANAAN
TAHAP
OPERASI
PEMELIHARA
AN
Data yang digunakan untuk dapat mendukung pelaksanaan pengembangan sumberdaya air,
diantaranya adalah sebagai berikut :
data Topografi, merupakan pemetaan lahan yang dilengkapi garis ketinggian (kontur)
dengan profil dalam skala tertentu dan jika diperlukan dapat disertakan pula foto-foto
udaranya.
data Geologi, yaitu data yang menunjukkan jenis-jenis tanah termasuk lapisan-lapisan
tanah yang perlu ditinjau terhadap daya dukung tanah bagi konstruksi suatu bangunan yang
akan dibangun di atasnya.
data tanah, data ini harus diambil langsung dari lokasi/lapangan dan kemudian diolah di
laboratorium mekanika tanah. Umumnya jenis survai geoteknik yang dilakukan : sondir,
boring, DPC (Dinamic Cone Penetrometer) dan lain-lain. Dilaboratorium dilaksanakan
analisis tentang gradasi tanah, kadar air tanah, berat volume, proctor tanah, rembesan,
konsolidasi, dsb.
data hidrologi, secara garis besar data ini haruslah merupakan rekaman data hujan berskala
waktu lebih dari sepuluh tahun, sehingga diharapkan dapat memberikan informasi dan
besaran-besaran yang merupakan masukan yang penting untuk dapat dilakukan analisis
selanjutnya secara komprehensif.
data morfologi sungai, data ini terdiri dari data tentang daerah pengaliran sungai (DPS),
sedimen sungai ( air sungai dan sedimen yang mengalir pada alur sungai merupakan
variabel utama yang mempengaruhi morfologi sungai), pemanfaatan sungai, geometrik
sungai (tampang lintang, profil memanjang, dan kemiringan lembah), bentuk sungai
( dapat diklasifikasikan : meandering, lurus dan braided) dan lain sebagainya yang
berkaitan dengan fisik sungai.
data ekologi, data ini diharapkan dapat melengkapi hubungan antara makhluk hidup
dengan lingkungan, dan hubungan timbal balik antara makhluk hidup (terutama manusia)
dengan lingkungan hidupnya.
4.2
4.2.1
36
DIKTAT
PENGEMBANGAN SUMBER DAYA AIR
dsb.,
yang
akan
4.2.2
Survai Geologi
Tujuan survai dan investigasi geologi untuk mengetahui kondisi geologi di lokasi terutama
untuk tujuan pembuatan pondasi bangunan, dimana diperlukan data yang akurat sehingga
dapat diambil keputusan yang tepat untuk pemilihan jenis atau macam pondasi bangunan.
Berbagai survai yang dapat dilakukan antara lain meliputi survai tentang :
1). jenis batuan menurut sifat-sifatnya,
2). Pemeriksaan tegangan geser
3). Perubahan bentuk sebelim rusak
4). Karakteristik rusaknya batuan
5). Kesatuan batuan
6). Kelangsungan reformasi
7). jenis jatuan menurut pelapukannya.
8). Batuan segar.
9). Batuan agak lapuk.
10). Batuan lapuk sedang.
11). Batuan sangat lapuk.
12). Batuan lapuk
37
DIKTAT
PENGEMBANGAN SUMBER DAYA AIR
13). Tanah.
Pengujian di Laboratorium.
1). Pemeriksaan Petrografi, digunakan untuk menentukan nama [Link] tersebut dapat
dilakukan dalam dua cara ,yaitu :
2). Cara Makroskopis, dilaksanakan secara visual dengan melihat batuan yang ada untuk
ditentukan warna, struktur dan tekstur batuan.
3). Cara Mikroskopis, dilaksanakan denga alat mikroskop untuk dapat melihat dan
membandingkan mineral yang membentuk batuan untuk ditentukan warna, struktur
dan tekstur batuan.
Pengujian Reaksi Alkali pada Batuan
Digunakan untuk memeriksa apakah batuan mengandung bahan-bahan yang bereaksi
dengan alkali semen sehingga dapat menimbulkan kerusakan.
Ada tiga cara yang dilakukan ,yang terdiri dari :
1). secara kimia,
2). pengujian batang uji,
3). pengujian ketahan aus.
Penelitian Dan Penyelidikan Di Lapangan
1). Pembuatan lubang pengujian (test Pit).
2). Pembuatan lubang pengujian dalam (test Shaft).
3). Pengujian dengan alat standard penetrasi.
4). Pembuatan bor inti.
5). Pengujian seismik
4.2.3
Survai Tanah
Tujuan penelitian dan penyelidikan tanah adalah untuk meneliti, mempelajari dan
menyelidiki keseimbangan serta perubahan dari tanah baik dengan tekanan maupun tanpa
tekanan. Survai tanah dipergunakan untuk keperluan pembangunan konstruksi yang dapat
berupa bangunan gedung, jalan, jembatan, bandar udara, pelabuhan termasuk bangunanbangunan pengembangan sumberdaya air.
Penelitian Dan Penyelidikan di Laboratorium
38
DIKTAT
PENGEMBANGAN SUMBER DAYA AIR
4.2.4
Survai Hidrologi
Penelitian hidrologi dilakukan untuk mendapatkan informasi besaran debit air yang
selanjutnya digunakan untuk patokan rancangan perhitungan pada bangunan-bangunan
pengembangan sumberdaya air.
Hidrologi berkaitan langsung dengan air didalam tanah, sungai, danau, telaga, waduk,
sawah, dan semua air yang terdapat di atmosfir baik dalam keadaan diam ataupun bergerak
(mengalir).
Dalam hal ini data pokok yang harus didapatkan,meliputi sebagai berikut :
a. data curah hujan,
b. data debit aliran sungai,
c. data klimatologi ( temperatur, kelembaban udara, kecepatan angin, penguapan dsb.)
39
DIKTAT
PENGEMBANGAN SUMBER DAYA AIR
4.2.5
Definisi sungai adalah suatu daerah yang di dalamnya terdapat air yang mengalir secara
terus menerus, dan suatu daerah yang kondisi topografinya, keadaan tanamannya, dan lainlainnya mirip dengan daerah yang didalamnya terdapat air yang mengalir secara terus
menerus. Jadi daerah sungai meliputi aliran air dan alur sungai termasuk bantaran, tanggul,
dan areal yang dinyatakan sebagai daerah sungai. Hasil survai ini nantinya akan digunakan
sebagai acuan untuk pembuatan tanggul, perkuatan dinding sungai dan lain-lain.
Secara skematis gambar 2 memperlihatkan dua buah sungai yang mengalir ke laut. DAS A
dikelilingi oleh oleh AGDHJ dan daerah pengaliran yang ada hubungannya dengan titik E
adalah daerah yang dikelilingi oleh EGDHI.
Garis putus-putus GD adalah batas daerah pengaliran sungai A dan B, sedangkan garis
putus-putus HI adalah batas daerah pengaliran anak sungai E dan F pada sungai A.
H
Tipe Sejajar
Tipe Kipas
I
J
Laut
DIKTAT
PENGEMBANGAN SUMBER DAYA AIR
yang mengalir menuju suatu titik pusat, pada gambar seperti sungai B, tipe ini disebut
sebagai tipe kipas. Gambar 3 adalah tipe yang disebut sebagai tipe cabang pohon.
Jenis-jenis survai yang dilakukan tergantung pada problem sungainya antara lain, terdiri
dari :
1). survai DPS,
2). survai geometri sungai,
3). survai sedimentasi / erosi,
4). survai muara sungai,
5). survai pemanfaatan air sungai,
6). survai lalulintas sungai.
4.2.6
Survai Ekologi
Survai ekologi (lingkungan) adalah mengkaji lebih jauh permasalahan lingkungan hidup,
dalam hal ini adanya hubungan timbal balik antara makhluk hidup (manusia) dengan
lingkungan hidupnya dan masalah ini sedang mendapat perhatian negara-negara di dunia.
Pada umumnya pembangunan sumberdaya air memerlukan langkah yang total secara
simultan dengan ruang lingkup mencakup sisi-sisi daerah yang sangat luas, oleh sebab itu
karena harus membebaskan tanah, serta memindahkan sejumlah penduduk. Pembangunan
tersebut akan merubah suasana aman, tentram menjadi gemuruh akibat adanya hilirmudiknya alat-alat berat, kendaraan dan pekerja bahkan ledakan dari bahan-bahan peledak
yang mungkin perlu digunakan dalam pelaksanaan pembangunannya.
Timbulnya dampak negatif ini diharapkan akan dapat diatasi dengan terlebih dahulu
dengan mengadakan penelitian mengenai keadaan lingkungan di daerah lokasi guna
mencegah hal-hal yang tidak diinginkan. Dengan tujuan untuk membuat kedaan lebih baik
dibanding keadaan sebelumnya, dan dengan harapan mendapat manfaat yang lebih besar
dengan adanya bangunan tersebut, maka diharapkan masyarakat sekitar lokasi dapat
memakluminya.
Penelitian tersebut secara keseluruhan disebut sebagai AMDAL (Analisa Mengenai
Dampak Lingkungan) atau AMRIL ( Analisa Manfaat dan Resiko Lingkungan).
Beberapa hal perlu diteliti sehubungan dengan aktifitas diatas, berkait dengan perolehan
data untuk analisis guna antisipasi kedepan. Adapun data yang diperlukan antara lain
meliputi hal-hal sebagai berikut :
1). Geografi Regional dan Fisik.
Untuk mengetahui perluasan daerah yang akan terkena pembangunan dalam kaitannya
dengan pembebasan tanah.
2). Kependudukan.
Untuk mengetahui jumlah penduduk lengkap dengan rincian tentang umur, anak-anak,
dewasa, laki-laki, wanita, pekerjaan dll, dan dilakukan dengan mengadakan kuisioner.
41
DIKTAT
PENGEMBANGAN SUMBER DAYA AIR
42
DIKTAT
PENGEMBANGAN SUMBER DAYA AIR
INVENTARISASI
SUMBER DAYA LAHAN
PENILAIAN
KEMAMPUAN
LAHAN
RUMUSKAN
POTENSI DAN
KECOCOKAN
LAHAN
INDEKS EROSI
SEDIMENTASI
TINDAKAN
TINDAKAN
PENGELOLAAN
PENGELOLAAN
RUMUSKAN
KEBUTUHAN
KONSERVASI
KECOCOKAN ANTARA
KEBUTUHAN KONSERVASI
DAN POTENSI LAHAN
RUMUSKAN
OPSI DAN
PRIORITAS
EVALUASI
DAMPAK
KUANTIFIKASI
DAMPAK PD
LANDSKAP &
PRODUKTIFITAS
43
DIKTAT
PENGEMBANGAN SUMBER DAYA AIR
AGIAN 5
WADUK
Air merupakan salah satu tanda kehidupan. Semua makhluk mutlak membutuhkan air agar
dapat bertahan hidup. Secara kuantitas air yang ada di bumi tetap, namun keberadaannya
tidak tetap sepanjang waktu dan di semua tempat, atau dengan kata lain distribusi air tidak
merata sepanjang waktu dan di setiap tempat.
Ketersediaan air di sungai dipengaruhi oleh kondisi DPS, curah hujan, perilaku dan campur
tangan manusia terhadap alam sekitarnya. Sejalan dengan hal tersebut ditambah dengan
adanya perkembangan kota ,maka kebutuhan air meningkat dari waktu ke waktu. Hal ini
disebabkan antara lain karena jumlah populasi penduduk yang semakin tinggi, peningkatan
aktifitas masyarakat seperti pada bidang industri, irigasi, pemukiman dll.
Salah satu solusi untuk mengatasi kebutuhan air adalah dengan dibangunnya reservoirreservoir baik yang berupa waduk maupun embung di sepanjang sungai agar air yang
berlebihan di musim hujan dapat ditampung dan dapat digunakan di musim kemarau.
Perancangan suatu reservoir tergantung pada sisi-sisi kondisi aliran atau ketersediaan air,
jumlah permintaan/kebutuhan air, tingkat keandalan yang diinginkan. Berdasarkan
fungsinya reservoir dapat dirancang sebagai reservoir/waduk eka guna atau serba guna.
Komponen-komponen fungsi tersebut sangat menentukan serta saling berkaitan erat, yaitu
terdiri dari, (USDI 1965 dalam Principles of Reservoir Engineering oleh Ersin Seyhan) :
1). penyediaan kebutuhan air ( dg kualitas baik) untuk irigasi,
2). penyediaan kebutuhan air ( dg kualitas baik) untuk pemerintah kota dan domestik,
3). penyediaan kebutuhan air bagi pemakaian industri,
4). penyediaan kebutuhan air untuk PLTA
5). penyediaan kebutuhan air untuk rekreasi yang tidak polutif,
6). penyediaan kebutuhan air untuk cadangan di musim kemarau
7). pengendalian banjir,
8). dan lain lainnya.
Suatu DPS yang masih alamiah memiliki keseimbangan sistem sungai yang sangat baik.
Pembangunan waduk-waduk akan mengganggu sistem yang ada dan sistem akan berubah
secara alamiah. Para ahli sumberdaya air telah banyak melakukan observasi tentang
keterkaitan pembangunan waduk dengan rusaknya / berubahnya sistem sungai alamiah.
Untuk menghindari beberapa kerusakan alam dan lingkungan karena dibangunnya waduk
yang berakibat terjadinya penghilangan sebagian hutan di daerah hulu, perencanaan proyek
harus membuat beberapa alternatif pada tiap-tiap studinya. Kemudian dapat dipilih
44
DIKTAT
PENGEMBANGAN SUMBER DAYA AIR
alternatif terbaik secara teknis, ekonomi dan sosial dengan dampak negatif yang paling
kecil.
5.1
Perencanaan Waduk
Keputusan untuk membangun waduk pada suatu daerah pada prinsipnya memerlukan
observasi teliti, dan akan memakan waktu serta biaya yang tidak sedikit. Ada tahapantahapan yang harus dilakukan untuk menentukan apakah usulan proyek tersebut layak
secara teknis, ekonomi dan sosial. Secara umum tahapan proyek tersebut dapat terdiri dari :
1). planning (rencana), didalamnya berisi tentang garis besar rencana proyek,
2). feasibility study (studi kelayakan),
3). Pre Design (pra desain),
4). Design (desain),
5). procurement ( pengadaan), terdiri dari : mesin/alat, tenaga ahli, material
6). Construction (pelaksanaan fisik),
7). Start up/Trial run/Commissionng (uji coba)
Dalam tahapan tersebut diperlukan berbagai jenis data, baik data primer maupun sekunder.
Data sekunder dapat diperoleh dari instansi-instansi terkait, sedang data primer dengan
melakukan percobaan langsung di lapangan misalnya pengukuran lokasi, analisa
laboratorium tentang kondisi tanah lokasi, dll.
Investigasi yang akan dilakukan tergantung dari besarnya proyek, kekompleksan lokasi
lahan, kondisi geologi, hidrologi dan lain-lain.
Kelayakan dalam pembangunan suatu waduk dapat ditinjau dari kelayakan teknis,
kelayakan ekonomi dan kelayakan sosial. Kelayakan teknis terutama merupakan tugas bagi
ahli teknik sipil, dalam hal ini yang perlu ditinjau menyangkut masalah lokasi waduk /
letak bangunan bendungan, kekuatan konstruksi, ketersediaan air, sedimentasi, dan lain
lain.
Adapun garis besar uraiannya terdiri dari :
5.1.1
Kelayakan Teknik
45
DIKTAT
PENGEMBANGAN SUMBER DAYA AIR
5.1.2
Kelayakan ekonomi
Dilihat dari segi ekonomi, proyek hendaknya dapat memberikan solusi bagi penduduk
yang menjadi sasaran proyek untuk dapat meningkatkan pendapatan sesuai dengan mata
pencahariannya.
5.1.3
Kelayakan sosial
5.1.4
Karakteristik fisik waduk merupakan bagian-bagian pokok dari waduk yaitu volume hidup,
volume mati, tinggi muka air maksimum, tinggi muka air minimum, tinggi mercu
bangunan pelimpah berdasarkan debit rencana.
Skema bagian-bagian dari waduk dapat dilihat pada gambar berikut:
46
DIKTAT
PENGEMBANGAN SUMBER DAYA AIR
Mercu
bangunan
pelimpah
Saluran
pengambila
n
VolVolume hidup
Tampungan
lembah
Dasar sungai
sebelum
pembendungan
m.a
minimum
VolVolume
mati
LUAS AREA
km2
0,01
1,37
1,90
5,07
7,43
10,89
16,28
25,37
34,90
44,60
54,90
75,66
93,63
111,59
131,03
149,48
170,67
184,42
204,71
225,69
kumulatif
0,00
0,69
2,33
5,81
12,06
21,22
34,80
55,63
85,76
125,52
175,27
240,55
325,20
427,81
549,12
689,38
849,45
1.026,99
1.221,55
1.436,76
47
DIKTAT
PENGEMBANGAN SUMBER DAYA AIR
Dari tabel tersebut, dapat kita gambarkan grafik hubungan antara elevasi, luas genangan
permukaan air dan volume tampungan seperti pada gambar 2 ( Grafik Hubungan antara
Elevasi, Luas Permukaan Air dan Volume Tampungan) pada halaman berikut.
Informasi ini sangat penting baik untuk perencanaan maupun saat pengoperasian waduk.
Pada saat perencanaan setelah ditentukan besarnya volume waduk, maka elevasi puncak
mercu bendungan dan mercu spillway (pelimpah) dapat diketahui. Perkiraan luas daerah
proyek yang akan tergenang juga dapat diketahui sehingga dapat diperkirakan berapa luas
desa/sawah/kebun/ sarana/prasarana lainnya yang harus dipindahkan. Informasi ini
diperlukan untuk analisis ekonomi yang berkaitan dengan perhitungan biaya pemindahan
penduduk, dll. Adapun hubungan antar komponen waduk akan berorientasi pada volume
tampungan dan luas genangan permukaan,seperti pada grafik dibawah ini.
5.2
Analisis kapasitas waduk dapat dilakukan dengan berbagai cara, mulai dari kurva massa
(simple mass curve ) sampai pada pendekatan stokastik yang kompleks. Menurut Thomas
[Link] Mahon dalam bukunya Reservoir Capacity and Yield, penentuan kapasitas waduk
dapat dikelompokkan sebagai berikut ini.
1). Metode Periode Kritik (Critical Period Method).
2). Metode Moran dkk.
3). Metode Pembangkitan Data Stokastik.
Perbedaan pada kelompok-kelompok tersebut tidak jelas, sehingga masih mungkin untuk
mengklasifikasikannya dengan cara yang berbeda tergantung dari tujuannya.
48
DIKTAT
PENGEMBANGAN SUMBER DAYA AIR
5.2.1
Metode ini secara umum dapat dilakukan dengan 2 pendekatan, untuk menghitung
kapasitas waduk. Pertama dengan menggunakan semua data inflow historis dan kebutuhan
yang sudah diperhitungkan untuk mensimulasi perilaku tampungan waduk dalam keadaan
penuh dengan waktu. Kedua hanya data periode-periode kering saja yang dipakai pada
analisisnya.
5.2.2
Periode Kritik
Periode Kritik ditakrifkan sebagai periode yang dimulai saat kondisi waduk penuh sampai
kondisi waduk kosong tanpa terjadi limpasan selama periode tersebut. Untuk lebih jelasnya
dapat digambarkan pada diagram berikut ini.
Reservoir
Volume
195
0
C
P
195
1
C
P
Kondisi Penuh
195
2
195
3
Waktu ( Tahun )
49
Kondisi Kosong
DIKTAT
PENGEMBANGAN SUMBER DAYA AIR
5.2.3
Metoda Rippl
Metode kurva massa yang dikemukakan oleh Rippl, 1889 merupakan cara yang tidak
empiris untuk menentukan ukuran tampungan suatu waduk untuk memenuhi besarnya
suatu rencana pengambilan tertentu. Pada cara ini waduk diasumsikan bahwa waduk pada
kondisi penuh pada saat permulaan musim kering.
Langkah prosedur penen tuan kapasitas waduk :
Buat kurva massa debit kumulatif berdasarkan data, dapat berupa data historis ataupun data
bangkitan. Untuk lebih jelasnya dapat Gambar 5-4 berikut ini. Skala untuk metode ini
perlu diperhatikan, karena pengukuran kapasitas dengan mengukur secara grafis.
Gambarkan garis laju pengambilan waduk, yang merupakan tangen dari besarnya
kebutuhan air dengan periode satu tahun.
Buat garis sejajar dengan laju pengambilan dan digeser ke garis grafik, garis akan
memotong di titik A, E dan
6000,00
5000,00
C2
4000,00
F
3000,00
Laju pengambilan
2000,00
1000,00
C1
Draft
D
1 tahun
0,00
Tahun
50
DIKTAT
PENGEMBANGAN SUMBER DAYA AIR
Asumsi
Pada saat awal musim kering, waduk dalam kondisi penuh, dan saat itu merupakan saat
awal periode kritis, sampai waduk menjadi kosong.
Batasan Batasan
Pengambilan kebutuhan biasanya ditentukan secara tetap, namun permintaan kebutuhan
secara musiman dapat dilakukan tetapi pelepasan (release) waduk yang terbatas (sebagai
fungsi tampungan waduk) sulit dilakukan.
Kapasitas tampungan ditentukan berdasarkan prosedur kurva massa yang akan bertambah
panjang tergantung panjang catatan data. Hal tersebut sulit untuk menghitung kapasitas
tampungan secara ekonomis.
Probabilitas kegagalan daya tampung waduk tidak dapat dihitung, sehingga suatu sisi
kekeringan puncak tidak dapat diprediksi.
Metoda analisis ini tidak memperhitungkan kehilangan air akibat evaporasi.
5.2.4
Metode ini sedikit lebih sulit dibandingkan dengan metode Rippl. Adapun langkah
prosedurnya dapat dilakukan dengan penjelasan Tabel 5-2 berikut grafiknya seperti pada
gambar 6 berikut di bawah ini.
Kurangi nilai inflow data dengan nilai rata-ratanya (jika digunakan data bulanan dikurangi
dengan rata-rata bulanan, dan jika data tahunan dikurangi dengan rata-rata tahunannya).
Hasil hitungan tersebut yang disebut sebagai nilai residu.
Hitung residu dari draft pengambilan, dengan mengurangi draft pengambilan dengan rataratanya. Jika diketahui rata-rata draft pengambilan 106,1 x106m3 dan draft pengambilan =
75%nya (=75%x106,1=79,57579.6 x106m3), maka nilai residunya =-25,6 x106m3 .
Gambarkan laju pengambilan residunya.
Tabel 5-4.
Tahun
1936
1937
1938
1939
1940
1941
1942
1943
1944
1945
Kumulatif Residu,
(10 6 m3)
279,38
-623,62
-860,62
992,38
-764,62
-563,62
360,38
-166,62
-872,62
-588,62
51
DIKTAT
PENGEMBANGAN SUMBER DAYA AIR
Tahun
1946
1947
1948
1949
1950
1951
1952
1953
1954
1955
1956
1957
1958
1959
1960
1961
1962
1963
1964
1965
1966
1967
1968
1969
Jumlah
Rata-rata
Q (106m3)
1.548
1.578
1.012
1.151
1.190
1.690
2.610
1.613
1.113
2.410
3.834
757
1.776
936
1.473
717
928
850
1.888
553
1.139
369
1.230
1.010
43.303
1.273,62
Kumulatif Residu,
(10 6 m3)
274,38
304,38
-261,62
-122,62
-83,62
416,38
1.336,38
339,38
-160,62
1.136,38
2.560,38
-516,62
502,38
-337,62
199,38
-556,62
-345,62
-423,62
614,38
-720,62
-134,62
-904,62
-43,62
-263,62
Buat grafik kumulatif nilai residu seperti pada Gambar 5-5 dan plot garis laju pengambilan
residu ke grafik tersebut yang menyinggung puncak-puncak grafik.
Ukurlah jarak antara garis laju pengambilan residu dengan grafik kurva massanya.
Asumsi dan batasan metoda ini sama dengan pada metoda Kurva Massa Rippl, keduanya
membutuhkan ketelitian dalam membuat skala, sehingga hasilnya lebih akurat.
52
DIKTAT
PENGEMBANGAN SUMBER DAYA AIR
5.2.5
Metoda ini dikemukakan oleh [Link] dari Middle East Tecnical University, Ankara.
Selain dengan asumsi yang sama pada periode kritik, metode ini juga mengasumsikan
bahwa,
1). debit tahuan berdistribusi normal,
2). debit tahunan bersifat independen,
3). dratt tetap,
4). evaporasi diabaikan.
Sesuai dengan asumsi tersebut di atas dengan rerata Error! Objects cannot be created
from editing field codes. dan simpangan baku s, maka
Error! Objects cannot be created from editing field codes.
Rangkaian debit berdistribusi normal, maka
Error! Objects cannot be created from editing field [Link]! Objects cannot be
created from editing field codes.
Selama periode kritik,
kapasitas waduk = Outflow- inflow
Error! Objects cannot be created from editing field codes.
Error! Objects cannot be created from editing field codes.
Untuk menghitung panjang periode kritik dan kapasitas maksimum tampungan waduk
53
DIKTAT
PENGEMBANGAN SUMBER DAYA AIR
persamaan diatas diturunkan ke n dan menyamakan hasil turunannya dengan nol, maka
akan diperoleh rumus :
Error! Objects cannot be created from editing field codes.
Error! Objects cannot be created from editing field codes.
dengan
CP =
cv =
tahunan
Karena debit aliran dianggap independen sedangkan pada dasarnya debit itu dependen atau
korelasi serialnya tidak sama dengan nol, maka kapasitas harus dibagi dengan 1+rk
([Link],1978). rk dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut ini.
Error! Objects cannot be created from editing field codes.
dengan : rk =
debit
= panjang data.
Sebagai contoh hitungan misal diketahui data debit (xi) tahunan seperti pada Tabel 5-3
berikut.
Tabel 5-5.
Tahun
1950
1951
1952
1953
1954
1955
1956
1957
1958
1959
1960
1961
1962
1963
1964
1965
1966
1967
1968
1969
i (106)
1.190
1.690
2.610
1.613
1.113
2.410
3.834
757
1.776
936
1.473
717
928
850
1.888
553
1.139
369
1.230
1.010
28.086
Xi+
k(106)
1.690
2.610
1.613
1.113
2.410
3.834
757
1.776
936
1.473
717
928
850
1.888
553
1.139
369
1.230
1.010
0
26.896
Xi
* Xi+k(106)
2.011.100
4.410.900
4.209.930
1.795.269
2.682.330
9.239.940
2.902.338
1.344.432
1.662.336
1.378.728
1.056.141
665.376
788.800
1.604.800
1.044.064
629.867
420.291
453.870
1.242.300
0
39.542.812
i2
1.416.100
2.856.100
6.812.100
2.601.769
1.238.769
5.808.100
14.699.556
573.049
3.154.176
876.096
2.169.729
514.089
861.184
722.500
3.564.544
305.809
1.297.321
136.161
1.512.900
1.020.100
52.140.152
(Xi+k)2
2.856.100
6.812.100
2.601.769
1.238.769
5.808.100
14.699.556
573.049
3.154.176
876.096
2.169.729
514.089
861.184
722.500
3.564.544
305.809
1.297.321
136.161
1.512.900
1.020.100
0
50.724.052
1.404
54
DIKTAT
PENGEMBANGAN SUMBER DAYA AIR
=
=
=
=
s
cv
cs
rk
818
1
2
0
= 2.515,104 *106m3
5.2.6
Metoda ini merupakan modifikasi dari metoda Dincer. Pada metoda ini debit tahunan
dianggap berdistribusi gamma, karena dianggap lebih sesuai dengan kenyataan. Untuk
memudahkan perhitungan parameter-parameter yang digunakan adalah parameter
distribusi normal, karena tabel probabilitasnya sudah tersedia. Kemudian diberikan koreksi
supaya mendekati distribusi gamma.
Asumsi yang digunakan sama dengan metoda Dincer, kecuali debit tahunan yang dianggap
berdistribusi gamma.
Rerata dan varian dari distribusi gamma, satu parameter, sama dengan parameter C.
Rerata Error! Objects cannot be created from editing field codes. dan standar deviasi s
yang berdistribusi normal dapat diubah menjadi satuan gamma dengan cara membagi
keduanya dengan s2/Error! Objects cannot be created from editing field codes.,
sehingga distribusi normal akan mempunyai rerata dan varian yang sama dengan satuan
gamma.
Seperti rumus Dincer sebelumnya besarnya kapasitas yang dibutuhkan adalah sbb,
Error! Objects cannot be created from editing field codes.
dengan C
cv
debit
tahunan rerata,
zp
55
DIKTAT
PENGEMBANGAN SUMBER DAYA AIR
Gould mengemukakan bahwa selisih d antara aliran masuk yang berdistribusi gamma dan
yang berdistribusi normal dengan rerata dan varian yang sama kurang lebih konstan untuk
nilai p tertentu. Nilai d diberikan pada Tabel 5-4 berikut ini.
Tabel 5-6. Nilai zp dan d
p%
0,5
1,0
2,0
3,0
4,0
5,0
7,5
10,5
zp
3,30
2,33
2,05
1,88
1,75
1,64
1,44
1,28
d
d tidak konstan
1,5
1,1
0,9
0,8
0,6
0,4
0,3
Sumber McMahon,1978
Karena d konstan untuk nilai p tertentu, maka Gould mengemukakan bahwa kapasitas yang
dibutuhkan untuk aliran masuk berdistribusi gamma lebih kecil d satuan gamma dari pada
kapasitas yang dibutuhkan untuk aliran masuk yang berdistribusi normal. Sehingga
kapasitasnya harus dikurangi dengan d satuan gamma,
Error! Objects cannot be created from editing field codes.
Kapasitas tang dibutuhkan dapat diubah dari satuan gamma menjadi satuan volume dengan
mengalikan persamaan dengan ( s2/Error! Objects cannot be created from editing field
codes. ) (1/Error! Objects cannot be created from editing field codes.), dan diperoleh :
Error! Objects cannot be created from editing field codes.
dengan
T
= yang dibutuhkan dibagi dengan debi tahunan rerata dalam satuan volume.
Seperti pada metode Dincer, debit tahunan dianggap independen, jika ternyata dependen
atau koefisien korelasi serialnya tidak sama dengan nol, jadi kapasitasnya harus dibagi
dengan 1 + rk (McMahon, 1978). Besarnya rk sama dengan rk pada persamaan
sebelumnya.
5.2.7
Metoda Simulasi
Pada metoda simulasi atau analisis perilaku, besarnya kapasitas waduk dapat dihitung
dengan persamaan kontinyuitas penampungan sebagai berikut, (McMahon,1978 ) :
Z t +1 = Zt + Qt Dt Et Lt
dengan batasan
0 Zt C
56
DIKTAT
PENGEMBANGAN SUMBER DAYA AIR
dengan
Z t +1
Zt
Qt
Dt
Et
Lt
waktu t.
Jika umur waduk diperhitungkan maka tampungan aktif harus dikurangi dengan perkiraan
volume sedimennya.
Pada metoda ini dapat dihitung tingkat keandalan waduk dengan rumus sebagai beriku ini.
Error! Objects cannot be created from editing field codes.
dengan, R
57
DIKTAT
PENGEMBANGAN SUMBER DAYA AIR
Tahun
Tahun ke
Bulan
1966
17
17
17
17
17
17
17
17
17
17
17
18
18
18
18
18
18
18
18
18
18
18
18
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
1967
1968
1969
Qt
Draft
15
14
15
12
25
44
68
136
212
242
152
204
58
22
16
15
15
15
20
35
52
91
20
10
7
2
1
6
80
128
51
222
155
342
163
73
35
20
27
42
79,6
79,6
79,6
79,6
79,6
79,6
79,6
79,6
79,6
79,6
79,6
79,6
79,6
79,6
79,6
79,6
79,6
79,6
79,6
79,6
79,6
79,6
79,6
79,6
79,6
79,6
79,6
79,6
79,6
79,6
79,6
79,6
79,6
79,6
79,6
79,6
79,6
79,6
79,6
79,6
Zt+1
183,2
117,6
53
0
0
0
0
56,4
188,8
351,2
423,6
548
526,4
468,8
405,2
340,6
276
211,4
151,8
107,2
79,6
91
31,4
0
0
0
0
0
0,4
48,8
20,2
162,6
238
500,4
583,8
577,2
532,6
473
420,4
382,8
Keterangan
OK
OK
OK
gagal
gagal
gagal
gagal
OK
OK
OK
OK
OK
OK
OK
OK
OK
OK
OK
OK
OK
OK
OK
OK
gagal
gagal
gagal
gagal
gagal
OK
OK
OK
OK
OK
OK
OK
OK
OK
OK
OK
OK
58
DIKTAT
PENGEMBANGAN SUMBER DAYA AIR
5.2.8
Moran dan kawan-kawan mengemukakan dalam bukunya Theory of Storage, 1959 dalam
Sudjarwadi, 1989 bahwa pendekatan Moran terbagi menjadi 3 kelompok yaitu :
waktu dan volume adalah variabel [Link] pada metoda ini sangat kompleks
dan kurang realistis.
waktu dianggap sebagai variebel terputus dan volume variabel menerus. Persamaan
integralnya dapat ditulis sebagai berikut :
untuk x C - D
Error! Objects cannot be created from editing field codes.
untuk x > C - D
Error! Objects cannot be created from editing field codes.
dengan :
= aliran masuk,
= kapasitas waaduk
f(x)
g(x)
DIKTAT
PENGEMBANGAN SUMBER DAYA AIR
digunakan oleh suatu model yang disebut model tidak simultan ( mutually exclusive
model)
pengembangan dari Moran di atas (bukan oleh Moran) yaitu dengan menganggap
aliran masuk dan keluar terjadi pada waktu berbarengan (simultaneous model).
Kedua model tersebut untuk lebih jelasnya dapat diterangkan dengan contoh sebagai
berikut ini.
2). Model tidak simultan.
Jika diketahui :
Kapasitas waduk 2 satuan,
Kebutuhan 1 satuan tiap interval waktu,
Aliran masuk independen dan terputus yang berdistribusi seperti pada gambar di
bawah.
Error! Objects cannot be created from editing field codes.
Persamaan penampungan yang digunakan adalah sebagai berikut :
Z t +1 = 0
jika Zt + Xt M
Z t +1 = (Zt + Xt ) - M
jika M Zt + Xt K
Z t +1 = K M
jika K Zt + Xt
= kapasitas waduk
Xt
Setelah kapasitas, kebutuhan dan aliran masuk diketahui, langkah pertama membuat
matrik transisi isi waduk (lihat persamaan di atas). Matrik transisi adalah suatu matrik
yang menunjukkan probabilitas keadaan akhir waduk pada periode waktu untuk setiap
kemungkinan keadaan awal waduk pada permulaan periode waktu tersebut.
Pemahaman matrik ini dapat dengan membuat sebuah tally sheet yang menunjukkan
hubungan kondisi tampungan waduk pada awal periode dan pada akhir periode melalui
running yang berdasar pada data historis.
Keadaan Awal (Zt)
Keadaan
Kosong 0
Kosong
0
1/5+2/5
1
1/5
Penuh
2
_
60
DIKTAT
PENGEMBANGAN SUMBER DAYA AIR
akhir
1/5+1/5
2/5+1/5+1/5
(Zt+1)
Penuh 2
Jumlah
Hasilnya dapat dilihat bahwa waduk tidak pernah berakhir dan mulai pada keadaan
penuh. Hal ini disebabkan anggapan aliran masuk selalu mendahului aliran keluar.
Berikutnya dianggap bahwa interval waktunya 1 tahun dan waduk kosong pada awal
tahun pertama, sehingga probabilitas isi waduk mula-mula adalah :
Kondisi
0
1
tampungan
1
0
2
Probabilitas isi waduk pada akhir tahun pertama dapat diperoleh dengan mengalikan
matrik transisi isi waduk dengan probabilitas isi waduk mula-mula. Berdasarkan hasil
perkalian tersebut didapatkan : pada akhir tahun pertama atau awal tahun ke dua
probabilitas isi waduk seperti berikut ini.
0,6
0,4
0,2
0,8
1
0
Matrik
transisi
kondisi
tampungan
pada awal
tahun
pertama
Kondisi
tampungan
pada akhir
tahun
pertama
=1
0.2
0.8
0.6
0.4
0.6
0.4
0.44
0.56
Perhitungan tersebut dapat dilanjutkan hingga didapatkan probabilitas pada akhir tahun
ke sembilan adalah :
0.33
0.67
Jika prosedur tersebut di atas diulangi dengan keadaan awal waduk yang berbeda maka
akan diperoleh hasil yang sama dengan hasil tersebut di atas, artinya keadaan akhir
waduk akna selalu tetap tidak tergantung pada keadaan awal waduk.
3). Model simultan.
Sebagai contoh dapat disajikan perhitungan berikut ini. Persamaan penampungan yang
digunakan adalah :
Z t +1 =
jika Zt + Xt M
Z t +1 =
(Zt + Xt ) - M
jika 0 Zt + Xt - M K
Z t +1 =
jika Zt + Xt - M K
61
DIKTAT
PENGEMBANGAN SUMBER DAYA AIR
Pada persamaan tersebut dapat dilihat bahwa waduk mungkin berakhir dan mulai pada
keadaan penuh. Keadaan ini sangat bertentangan dengan model tidak simultan.
Penuh
Keadaan
Kosong
0
1/5+2/5
1/5
akhir
1/5
2/5
1/5
(Zt+1)
Penuh
2
1/5
1/5+1/5
2/5+1/5+1/
5
Jumlah
Bila keadaan waduk kosong, maka probabilitas isi waduk pada akhir tahun tertentu
adalah :
0.6
0.2
0.2
0.2
0.4
0.4
0.0
0.2
0.8
1
0.60
0 = 0.20
0
0.20
Akhir
tahun
pertama
0.40
0.24
0.36
Akhir
tahun
kedua
0.29
0.25
0.46
Akhir
tahun
ketiga
0.18
0.13
0.25 . . . 0.25
0.56
0.62
Akhir
tahun
kelima
Keada
an tetap
(steady
state)
Bila keadaan waduk penuh, maka probabilitas isi waduk pada akhir tahun tertentu
adalah :
0.6
0.2
0.2
0.2
0.4
0.4
0.0
0.2
0.8
0
0.00
0 = 0.20
1
0.80
Akhir
tahun
pertama
0.04
0.24
0.72
Akhir
tahun
kedua
0.07
0.25
0.68
Akhir
tahun
ketiga
0.11
0.13
0.25 . . . 0.25
0.64
0.62
Akhir
tahun
kelima
Keada
an tetap
(steady
state)
berdasarkan hasil perhitungan diatas terbukti bahwa keadaan tetap ternyata adalah tidak
tergantung (independent) pada keadaan awalnya (initial condition).
Ada 3 metoda perhitungan untuk mencapai kondisi keadaan tetap (steady state
condition) pada matrik probabilitas di atas, baik bagi yang simultan maupun tidak
simultan.
Gunakan cara seperti di atas dimana tampungan dihitung dari tahun ke tahun dengan
rumus umum sebagai berikut ini.
[ P ] t +1 = [ T ] [ P ] t , hingga mencapai keadaan : [ P ] t +1 = [ P ] t
62
DIKTAT
PENGEMBANGAN SUMBER DAYA AIR
[T]
= matrik transisi,
Penyelesaian yang ke tiga berdasarkan matrik transisi bahwa kondisi tetap adalah :
[ T ] [ P ] t = [ P ] t +1, akan menghasilkan :
0.6 P0 + 0.2 P1 + 0 P2
= P0
5.3
5.3.1
63
Muka air
DIKTAT
PENGEMBANGAN SUMBER DAYA AIR
Daerah relatif
jernih air
Saluran
pengambilan
delta
Dasar waduk
Aliran densitas
Sedimen halus
Gambar 5-24. Skema Pengendapan
Sedimen di waduk
64
DIKTAT
PENGEMBANGAN SUMBER DAYA AIR
Dalam mengevaluasi serahan sedimen, perlu dilakukan suatu inspeksi lapangan oleh ahli
sedimentasi untuk menentukan peran ke 9 faktor diatas dalam mempengaruhi serahan
sedimen.
Qs
Qw
65
DIKTAT
PENGEMBANGAN SUMBER DAYA AIR
Lengkung tersebut merupakan hubungan antara debit air (Qw dalam m3/detik) dan
debit sedimen ( Qs dalam ton/hari ) dalam skala logaritma. Gambar 9 adalah contoh
kurva yang menggambarkan variasi muatan sedimen yang terjadi di seluruh kisaran air.
Lengkung debit sedimen layang dan data debit air ini biasanya digunakan untuk
menentukan serahan sedimen rata-rata dalam jangka waktu yang panjang. Sehingga
makin panjang data makin baik hasil yang akan didapatkan dan jika kurva tersebut
mewakili aliran sungai jangka panjang, maka dapat dianggap sebagai kurva
probabilitas yang dapat menggambarkan kondisi yang akan datang.
Waktu pengambilan contoh sedimen minimal 5 tahun yang mencakup seluruh kisaran
aliran air secara memadai untuk menghindari ekstrapolasi kurva yang berlebih. Namun
bisa juga kurang dari waktu tersebut asalkan kisaran debit air dan debit sedimen sudah
tercakup. Hal ini penting karena satu kejadian debit yang besar mungkin membawa
sedimen yang jumlahnya sama dengan produksi sedimen beberapa tahun normal.
66
DIKTAT
PENGEMBANGAN SUMBER DAYA AIR
= Vw { ( I -1 ) / 5} * Vw
dengan VBi
Vw
= VBi / VA
Dengan Xi =
VA =
= konstanta,
a = 100,
a = 130,
= ( Yi+1 + Yi )
Ymi
Yi+1
Yi
Rumus volume sedimen rata-rata yang mengendap pada tiap bagian waduk
VEi
= Ymi x Vs
DIKTAT
PENGEMBANGAN SUMBER DAYA AIR
Vdi
= Vdi / VEi
( dalam tahun )
= Vw / TL
Dengan LS
Vw
TL
CONTOH PERHITUNGAN
Diketahui :
Volume sebuah waduk
= 140 juta m3
(1)
1
2
3
4
Volume
bagian
waduk
(VBi)
(2)
140
112
84
56
Perbandingan
vol. waduk dg.
Vol. aliran total
Xi, %
(3) = (2) / VA
5,58%
4,47%
3,35%
2,23%
Efisiensi tangkapan
pada
kapasitas yg
rata-rata
ditunjuk
Yi, %
Ymi, %
(4)
(5)
78,11%
73,86%
75,98%
67,59%
70,72%
57,41%
62,50%
140 106 m3
2.507 106 m3 / tahun
3.886 106 m3 / tahun
Volume
sedimen yg
mengendap
Selisih
bagian vol.
waduk
Vei, juta m3
(6) = (5) x Vs
Vdi , juta m3
(7)
2.953
2.748
2.429
Lama
pengisian
endapan
sedimen
Tli, tahun
(8) = (7)/(6)
28
28
28
9.483
10.188
11.529
68
DIKTAT
PENGEMBANGAN SUMBER DAYA AIR
28
1,12%
38,32%
47,87%
1.860
28
Total lama pengisian endapan sedimen =
3.027
15.053
46.252
106 m3 / tahun
MA max
i=4
Elevasi (m)
i=1
i=2
i=3
i=5
MA min
Jarak (m)
Konsentrasi
sedimen
layang (mg/l)
1 (1)
< 1000
pasir
20-50% pasir
2,5 - 150
2 (1)
<1000 - 7500
pasir
20-50% pasir
10 - 35
> 7500
pasir
20-50% pasir
Konsentrasi
tak terbatas
Lempung
padatan,kerikil,ker
akal,bongkah
Konsentrasi
tak terbatas
Lempung
lanau
Bahan dasar
sungai
Analisis ukuran
butir sedimen
layang
Prosentase muatan
dasar thd sedimen
layang
<2
69
DIKTAT
PENGEMBANGAN SUMBER DAYA AIR
Alat pengambil contoh sedimen internal sampler container, dimana karakteristik alat dan
metoda pengukuran bakunya sudah diterbitkan oleh The International Organization for
Standardization
Program pengambilan contoh sedimen untuk tiap-tiap sungai tidak sama, tergantung pada :
a. variasi sesaat muatan sedimen
b. distribusi ukuran partikel sedimen layang dan sedimen dasar.
[Link] Pengukuran Sedimentasi Waduk
Jika pembangunan sebuah bendungan sudah selesai dilaksanakan, perlu dibuat rencana
pengukuran atau pemantauan akumulasi sedimen. Metode pengukuran waduk dapat
dilakukan dengan,
1). metoda garis tinggi,
umumnya pengukuran awal waduk sudah menghasilkan suatu peta garis kontur areal
waduk dengan interval garis kontur bervariasi dari 1 sampai 5 meter. Untuk waduk
yang sudah berfungsi metoda ini biasanya dilaksanakan pada waduk kecil atau
waduk yang dapat dikosongkan sewaktu-waktu hingga muka airnya sangat rendah,
mengingat biaya yang biasanya menjadi kendala.
2). metoda rentang garis.
Dengan melakukan pengukuran batimetri atau pemeruman dibawah muka air
disepanjang suatu rentang garis yang sudah ditentukan. Serangkaian rentang garis
diidentifikasi dari peta garis tinggi awal hingga mencakup seluruh luas waduk dan
biasanya ditentukan sebelum pengisian waduk. Suatu peta tipikal yang
memperlihatkan lokasi rentang dan rambu-rambu di ujungnya dapat dilihat pada
Gambar 5-9. Sedangkan Gambar 5-10 menunjukkan perubahan areal garis tinggi
akibat pengendapan yang terjadi.
70
DIKTAT
PENGEMBANGAN SUMBER DAYA AIR
Gambar
5-27.
Perubahan
Areal Garis
Tinggi
DIKTAT
PENGEMBANGAN SUMBER DAYA AIR
c. model matematik.
2). Evaluasi persamaan laju erosi bruto.
Persamaan the Universal Soil Loss Equation ( USLE ) telah banyak digunakan
untuk menentukan laju erosi bruto dan rumusnya merupakan rumus empirik. Setiap
metoda empirik untuk menghitung erosi bruto merupakan pendekatan dan metoda
tersebut masih dianggap sebagai suatu perkiraan kasar. Persamaan USLE ditulis :
A = R x K x LS x C x P
dengan
A
LS
lokal ( EI )
DIKTAT
PENGEMBANGAN SUMBER DAYA AIR
73
DIKTAT
PENGEMBANGAN SUMBER DAYA AIR
5.3.2
Faktor utama yang berpengaruh terhadap endapan sedimen seperti aliran sedimen yang
masuk, efisisiensi penangkapan sedimen, kerapatan endapan, volume endapan sedimen,
dan perkiraan bentuk sedimen, dapat mengurangi kapasitas tampungan waduk, yang
akhirnya dapat mempengaruhi umur layanan waduk. Seperti telah disebutkan sebelumnya
sediment didistribusi ke seluruh kedalaman waduk, sediment yang lebih kasar diendapkan
di delta yang lebih halus di endapkan di dekat bendungan. Distribusi inilah yang
mempengaruhi perkiraan umur berbagai fungsi sebuah waduk. Waduk dengan tampungan
yang besar dan kapasitas yang dapat menapung volume sedimen lebih dari 100 tahun,
bagian bawah bangunan pembuang biasanya dipasang di atas elevasi sedimen yang
terendapkan selama 100 tahun yang diperkirakan di bendungan.
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
74
DIKTAT
PENGEMBANGAN SUMBER DAYA AIR
dengan berbagai tingkat keberhasilan. Beberapa aspek penting untuk mengalirkan sedimen
antara lain :
Air aliran permukaan tersedia cukup besar untuk mengaliran air ke luar waduk,
Banguan pembuang harus mempunyai kapasitas yang cukup untuk mengalirkan aliran air
masuk tanpa pengendapan bahan kohesif yang berlebihan,menggerus bahan [Link]
tingkat yang diinginkan
Waduk harus dioperasikan petugas yang terlatih. Operasi waduk merupakan bagian
penting. Operasi waduk merupakan bagian penting dalam pengaliran sedimen ke luar
waduk.
75
DIKTAT
PENGEMBANGAN SUMBER DAYA AIR
AGIAN 6
76
AGIAN 7
AIR TANAH
POTENSI AIR TANAH
7.1
Air tanah merupakan sumber air tawar terbesar di planet bumi, mencakup kira-kira 30%
dari total air tawar atau 10,5 juta km3, untuk jelasnya lihat Tabel 7-1 dan Gambar 7-1
berikut.
Tabel 7-10.
No.
1.
Jenis air
Tempat
ASIN
1.1.
1.2.
1.3.
2.
3.
Laut
Tanah
Danau
PAYAU
TAWAR
3.1.
3.2.
3.3.
3.4.
3.5.
3.6.
3.7.
3.8.
Es kutub
tanah
salju
danau
kelembaban tanah
atmosfir
sungai
biologi
Total
Volume, km3
[Link]
[Link]
12.870.000
85.400
11.470
35.017.740
24.023.500
10.530.000
340.600
91.000
16.500
12.900
2.120
1.120
[Link]
0,0008
2,5266
100
68,6038
30,0705
0,9726
0,2599
0,0471
0,0368
0,0061
0,0032
100
77
Gambar 2.
Tawar
2.53%
0.0032%
Sungai
0.0061%
Atmosfir
0.0368%
Kelembaban tanah
0.0471%
Salju
0.9726%
Danau
0.2599%
Akhir-akhir ini pemanfaatan air tanah meningkat dengan cepat, bahkan di beberapa tempat
tingkat eksploitasinya sudah sampai tingkat yang membahayakan. Air tanah biasanya
diambil, baik untuk sumber air bersih maupun untuk irigasi, melalui sumur terbuka, sumur
tabung, spring, atau sumur horisontal. Kecenderungan memilih air tanah sebagai sumber
air bersih, dibanding air permukaan, mempunyai keuntungan sebagai berikut:
1). Tersedia dekat dengan tempat yang memerlukan, sehingga kebutukan bangunan
7.2
Air tanah adalah air yang menempati rongga-rongga dalam lapisan geologi. Sebagian besar
air tanah berasal dari air hujan, sebagaimana dapat dilihat dalam siklus hidrologi (Gambar
2). Walaupun kita tidak tahu kapan dan dari mana berawalnya dan kapan pula akan
berakhir siklus hidrologi tersebut, namun mengingat bahwa sebagian besar air berada di
lautan, maka biasanya penjelasan tentang siklus hidrologi dimulai dari lautan.
78
K o n d e n s a s i
P r e s ip it a s i
E v a p o r a s i a ir h u ja n
A lir a n p e r m u k a a n
In f i l t r a s i
E v a p o r a s i a ir
T r a n s p ir a s i
E v a p o r a s i a ir la u t
d a n a u , k o la m
M u k a a ir t a n a h
E v a p o r a s i a ir
s u n g a i
A lir a n a ir t a n a h
M a t a a ir
D a n a u
L a u t
A lir a n a ir t a n a h
S u n g a i
79
atau lapisan tanah sampai akhirnya keluar ke permukaan sebagai sumber air (spring), atau
sebagai rembesan ke danau, waduk, sungai, atau ke laut.
air dangkal
zone dangkal
air gravitasi
zone antara
dangkal
air kapiler
muka air tanah
air tanah
zone kapiler
dangkal
zone jenuh
dangkal
Hampir semua air tanah merupakan bagian dari siklus hidrologi, hanya sebagian kecil air
tanah yang berasal dari sumber lain. Air connate, air yang terperangkap dalam ronggarongga batuansedimen pada saat diendapkan, dapat berasal dari air tawar dan bermineral
tinggi. Air juvenil, air yang berasal dari magma gunung berapi, vulkanik, atau kosmik dan
bercampur dengan air terestrik. Sesuai sumbernya, maka air juvenil dapat disebut air
magma, air vulkanik, atau air kosmik.
a). Porositas
Porositan tanah atau batuan adalah nisbah antara volume ruang-runag kosong (poripori) antar butiran tanah dan volume massa tanah. Besar-kecilnya volume rongga
tergantung pada ukuran, bentuk, dan gradasi batuan dan laju pemadatannya.
Porositas dirumuskan dalam bentuk:
80
Vv
x100
V
(7-
0)
dimana:
P
porositas (%)
Vv =
volume pori-pori
Gambar an umum porositas beberapa jenis tanah/batuan disajikan dalam Tabel 7-2
berikut.
Tabel 7-12.
No.
1
2
3
4
5
6
7
81
atau
SY
Vw
V
(7-0)
82
Simpanan spesifik
atau
Vr
( 7-0)
V
Dalam kondisi jenuh, volume pori sama dengan volume air tanah. Sehingga jelas
bahwa porositas total sama dengan jumlah antara produksi aman dan simpanan
spesifik:
Sr
P SY S r
(7-0)
(7-0)
Tabel 7-14. Ukuran standar sedimen dengan batas diameter butiran dalam
satuan mm dan phi [phi = log2 d (mm)]
Batas diameter butiranUkuranKlasmmphiSangat besarBatu
besarGRAVEL2048- 11Besar1024- 10Medium512- 9Kecil2568BesarBatu128- 7Kecil84- 6Sangat kasarKoral32- 5Kasar16- 4Medium81m
3Lembut4- 2Sangat Lembut2- 1Sangat kasarPASIR10MikronKasar
+
1500Medium+ 2250Lembut1/8+ 3125Sangat Lembut1/16+ 462Sangat
kasarLempungLUMPUR1/32+ 531Kasar1/64+ 616Medium1/128+
10
78Lembut1/256+ 84Sangat Lembut1/512+ 92 Liat1/1024+
101
-1
10-2
10-3
10-4
10-5
83
7.2.2
Tipe akifer
Akifer adalah formasi geologi yang menahan air atau jenuh air dan mampu menghasilkan
air dengan jumlah yang cukup untuk dieksploitasi secara ekonomis. Akifer berfungsi
sebagai saluran transmisi dari tampungan. Akifer membawa air dari daerah pengisian ke
badan air atau tempat-tempat pengumpul air lainnya. Ada bebeapa jenis akifer
sebagaimana tersebut di bawah ini :
a). Akifer kaya. Kemampuan ai untuk menahan air tergantung pada porositas tanah dan
ukuran partikelnya. Namun demikian, porositas yang tinggi bukan berarti bahwa akifer
mempunyai produktifitas tinggi. Akifer terbaik adalah akifre yang mempunyai
tampungan ai tanah masif pada kedalaman yang terjangkau. Pasir dan kerikil seragam
dengan kepadatan sedang merupakan akifer terbaik.
b). Akifer tertekan (Confine aquifer). Jika air dalam akifer tertekan, yakni di bawah
tekanan oleh lapisan kedap, maka akifernya dinamakan akifer tertekan
c). Akifer artetis (Artesian aquifer). Akifer artetis adalah akifer yang diisi dari sutau
tempat yang elevasinya lebih tinggi dari muka tanah pada lokasi akifer dan terkait
dengan tekanan hidrostatis. Sumur pada akifer jenis ini dapat menalir tanpa pompa.
Permukaan bayangan dimana muka air dalam sumur artetis naik dinamakan permukaan
piezometrik. Kadang-kadang istilah artesian dipakai untuk mengganti akifer tertekan.
d). Akifer tak tertekan (Unconfined aquifer). Jika akifer terbuka ke atmosfir atau
mempunyai permukaan bebas, dinamakan akifer tak tertekan. Batas atas akifer
didefinisikan sebagai muka air tanah. Tinggi hidraulik pada sembarang titik dalam
akifer adalah sama dengan kedalaman air dari muka air ke titik tinjau.
Sumur
Sumur
Muka tanah
Muka tanah
Permukaan piezometrik
Akifer tertekan
Aquaclude
Aquaclude
Cara pengambilan air tanah yang paling tua dan sederhana adalah dengan membuat sumur
gali (dug wells) dengan kedalaman lebih rendah dari posisi permukaan air tanah. Jumlah
air yang dapat diambil dari sumur gali biasanya terbatas, dan yang diambil adalah air tanah
84
dangkal. Untuk pengambilan yang lebih besar diperlukan luas dan kedalaman galian yang
lebih besar. Sumur gali biasanya dibuat dengan kedalaman tidak lebih dari 5 8 meter di
bawah permukaan tanah. Cara ini cocok untuk daerah pantai dimana air tawar berada di
atas air asin. Perlu diperhatikan untuk sumur di daerah pantai lengkung penurunan
permukaan (depression cone) air tanah harus sekecil mungkin untuk menghindari
tersedotnya air asin ke dalam sumur (intrusi).
Untuk pengambilan air tanah dengan jumlah cukup besar, misalnya untuk daerah industri,
cara yang banyak dipakai adalah dengan membuat sumur dalam (deep wells) yang pada
umunya terbuat dari pipa, dan air yang diambil adalah air tanah dalam (confined aquifer).
Gambar 5 memperlihatkan kedua jenis sumur.
Daerah
resapan
Muka air
tanah
Sumu
r
dangk
al
Sumur
dalam (air
menyembur
)
Muka
piezometrik
Sumur
dalam
Permukaan
tanah
Muka air
tanah
Akifer
bebas
Lapisan kedap
air
Akifer
tertekan
Gambar [Link] pengambilan air tanah dengan sumur dangkal, dan sumur dalam
7.2.4
Kecepatan aiar tanah melewati akifer tergantung pada tipe tanah, susunan butiran tanah,
porositas tanah, kemiringan, viskositas air, dll. Beberapa rumus utuk menetukan kecepatan
aliran air pada akifer adalah:
a). Slichter
V K'S
2
D10
(7-0)
b). Hazen
V
2
K 1SD10
1,8T 42
60
(7-0)
dimana :
V
85
K =
D10 =
K1 =
temperatur
Sampel tanah
A
h
L
(7-0)
Contoh 7-1.
Akifer tertekan mempunyai koefisien transmisibilitas 40 m 2/hari. Kemiringan permukaan
piezometrik 0,25 m/km. Berapa jumlah air yang mengalir setiap hari per km lebar akifer.
Jawab:
Q = KBS
Q = 40 x 0,25/1000 x 1000 = 1 m3/hari/km.
Contoh 7-2.
Tentukan kecepatan air tanah pada akifer dengan data sebagai berikut:
Ukuran efektif butiran patiker pada akifer
0,015 mm
86
Kemiringan hidraulik
Koefisien viskositas air pada T=10oC
Konstanta Slichter
Konstanta Hazen
=
=
=
=
1 : 75
1,0
400
1000
Tentukan pula debit yang lewat akifer jika lebar dan kedalaman akifer masing-masing 250
m, dan 12 m
Jawab:
Slichter :
V
400x
1
x 0,15 2
75
1,0
= 0,12 m/hari
Hazen :
V
1000x
1
x 0,15 2
75
1,8x10 42 = 0,3 m/hari
60
Debit :
3
Hazen :
7.3
Produksi sumur terbuka dapat ditentukan dengan dua cara : yaitu pumping test, dan
recuperation test.
7.3.1
Pumping test
Cara ini merupakan cara yang paling akurat untuk menetukan produksi aman sumur
terbuka. Dalam metode ini, muka air dalam sumur diturunkan dengan pemompaan sampai
mencapai penurunan kritis atau maksimum. Pada tahap ini kecepatan pompa diatur
sehingga laju pengambilan air sama dengan laju perkolasi, atau dengan kata lain tinggi
muka air konstan. Laju pemompaan per jam, pada kondisi keseimbangan ini, memberikan
produksi perjam (Q) dari sumur pada penurunan (drawdown) tertentu (S).
Rumus debit:
87
Q = KH
Q
K
AH
A
(7-0)
dimana:
Q
= debit, m3/dt
K/A
= produksi spesifik sumur (m2/jam) per m2 luas aliran pada depresi 1 meter.
K
AH
A
3
A = 7,2 m
Jadi diameter sumur
4 x 7,2
3m
88
Recuperation test
7.3.2
Metode ini kurang akurat dibandingkan dengan pumping test. Metode ini dipakai apabila
timbul kesulitan dalam mengatur laju pemompaan dalam rangka menjaga ketinggian muka
air dalam sumur konstan. Dalam metode ini, muka air diturunkan dengan pemompaan
sampai pada kedalaman tertentu di bawah muka air normal, kemudian pemompaan
dihentikan. Muka air dalam sumur mulai naik kembali. Waktu yang diperlukan oleh air
untuk mencapai kondisi muka air normal direkam dan digunakan untuk menghitung debit
dengan rumus:
h
2,3
log10 1 A.H
T
h2
(7-0)
dimana:
T
waktu yang diperlukan untuk mencapai muka air normal kembali (jam)
h1
h2
Contoh 7-4.
Hitung produksi rata-rata suatu sumur dengan diameter 3 m. Hasil recuperation test
menunjukkan bahwa muka air terdepressi sampai 2,5 m dengan laju pengembalian 1,5 m
per jam. Tinggi depresi rata-rata 3 m.
Jawab:
h1
2,5 m
h2
Q
=
7.4
2,3
4
2,5 1
log10
32 3
1,0
3
1,0 4
26 m3/jam.
Ketika air dalam sumur tabung dipompa keluar, muka air di sekitar sumur akan mengalami
penurunan. Penurunan muka air di sembarang titik dinamakan drawdown pada titik
tersebut. Drawdown bervariasi terhadap jarak dari sumur, dan maksimum di sumur itu
sendiri dan berkurang secara berangsur-angsur hingga mendekati nol pada suatu jarak
tertentu terhadap sumur. Jarak antara pusat sumur ke batas lengkung depresi, yakni titiktitik dimana drawdown sama dengan nol dinamakan jari-jari pengaruh (radius of
89
influence). Jarak ini bervariasi tergantung pada debit sumur, dan formasi akifer. Pada akifer
tertekan, jarak ini lebih besar dibandingkan pada akifer tidak tertekan.
7.4.1
Rumus keseimbangan Thiem digunakan untuk menghitung produksi sumur tabung pada
akifer tertekan maupun akifer tidak tertekan.
Dalam metode ini diperlukan sumur utama yang dipompa, dan dua buah sumur
pengamatan yang terletak dalam radius lengkung depresi (misalnya sumur 1 dan 2,
masing-masing berjarak r1 dan r2 dari pusat sumur utama). Sumur utama dipompa sampai
terjadi penurunan muka air yang cukup, kemudian pemompaan diatur untuk mencapai
kondisi seimbang. Kondisi seimbang yaitu suatu kondisi dimana laju pemompaan sama
dengan laju produksi dan muka air dalam sumur menjadi [Link] yang terjadi
pada sumur pengamatan 1 dan 2 berturut-turut adalah S1 dan S2.
Rumus keseimbangan diturunkan berdasarkan asumsi sebagai berikut:
1). Akifer adalah homogen, isotropik dan terbentang luas tak terbatas, sehingga koefisien
(7-0)
gradien hidraulik
=
A
Sumur pengamatan
Sumur utama
Muka tanah
r2
S
Lengkung depresi
r1
S1
S2
h1
h2
h
90
QK
atau
dr 2K
hdh
r
Q
Integrasikan antara batas-batasnya (r1, r2) dam (h1, h2), diperoleh:
r2
dr
r1
2K h 2
hdh
Q h1
log e r
(7-0)
K h 2
Q 2
r2
r1
r2
r1
log e
h2
h1
K 2
h 2 h 12
Q
K h 22 h 12
Q
r
log e 2
r1
atau
r2
r1
Q log e
h 22
h 12
91
atau
r2
r1
2,3 Q log10
h 22 h 12
(7-0)
Jika jumlah drawdown kecil dibandingkan dengan ketebalan akifer jenuh, kemudian h 1 dan
h2 hampir sama dan masing-masing besarnya hampir sama dengan ketebalan akifer jenuh,
B, maka:
h 1 h 2 B B 2B
, dan
h 2 h 1 S1 S 2
2
2
h 12 h 2 h 1 h 2 h 1
2
2
h 12 2B S1 S 2
r2
r1
2,3 Q log10
2B S1 S 2
atau
Q
2KB S1 S 2
r
2,3 log10 2
r1
atau
Q
2,72 KB S1 S 2
r
log10 2
r1
atau
Q
2,72 T S1 S 2
r
log10 2
r1
(7-0)
92
( 7-0)
dh
2rH
dr
QK
dh
r
Q
Integrasikan antara batas-batasnya (r1, r2) dam (h1, h2), diperoleh:
r2
dr
r1
(7-0)
2KH h 2
dh
Q h1
log e r r2
1
2KH h 2
hh
1
Q
Sumur pengamatan
Sumur utama
Muka tanah
r2
S
Permukaan piezometrik
r1
S1
S2
h
Akifer tertekan
h1
h2
93
r2
2KH
h 2 h1
Q
r1
log e
r2
r1
2,3Q log10
2H h 2 h 1
r2
r1
2,3Q log10
2H S1 S 2
atau
r2
r1
K
2,72H S1 S2
log10
Koefisien transmisibilitas, T = KH
r2
r1
T
2,72 S1 S2
Q log10
(7-0)
7.4.2
Teori Dupuit
Dupuit (1863) menganalisa aliran radial menuju sumur pada akifer tidak tertekan. Dia
membuat asumsi sederhana sebagai berikut:
1). Untuk permukaan bebas dengan kemiringan kecil, maka garis aliran dianggap
horizontal.
94
2). Kemiringan permukaan bebas sama dengan gradien hidraulik yang tidak berubah
terhadap kedalaman.
3). Akifer adalah homogen, isitropik dengan luasan tidak terbatas.
4). Sumur adalah terpenetrasi sempurna dan disuplai dari seluruh tebal akifer.
5). Kecepatan aliran proporsional dengan tangen gradien hidraulik bukan sinusnya.
6). Koefisien transmisibilitas adalah konstan terhadap waktu dan tempat.
7). Air tanah alamiah yang mempengaruhi akifer adalah konstan terhadap waktu.
8). Aliran adalah laminer, sehingga berlaku Hukum Darcy.
95
7.4.3
Ambil
r
ketebaln akifer, dihitung dari lapisan kedap air (impermeable) sampai muka
air tanah mula-mula (m)
kedalaman air dalam sumur, di atas permukaan lapisan kedap air (m)
S
Lengkung depresi
P (x,y)
H
h
Ix
( 7-0)
96
dy/dx
Ax =
Q K 2xy
Q
dy
dx . Masukkan ke dalam persamaan (7-18)
dx
2Kydy
x
Q
r
2K ydy
Q log e x
R
r
y2
2K
2
atau
R
2
2
K H h
r
Q log e
Q
K H 2 h 2
R
log e
r
atau
Q
K H 2 h 2
R
2.3 log10
r
Rumus Dupuit
atau
1,36K H 2 h 2
Q
atau
R
log10
r
1,36K h 22 h 12
Q
r
log10 2
r1
(7-0)
dan
R
K
H2 h2
Q log e
atau
97
r
R
2,3 Q log10 2
r atau
r1
K
K
2
2
1,36 H h
1,36 h 22 h 12
2,3 Q log10
7.4.4
(7-0)
Kita perhatikan titik P pada lengkung drawdown dengan koordinat (x,y) dengan titik asal
O, adalah titik tengah dasar sumur (Gambar 7-10).
Q
Muka tanah
R
Muka piezometrik awal
Lengkung depresi
P (x,y)
Akifer tertekan
Gambar 7-39.
Berdasarkan Hukum Darcy, aliran yang melewati bidang vertikal melalui P adalah:
Q KI x A x
dimana:
Q
Ix
dy/dx
Ax =
=
(7-0)
98
Q K 2xb
Q
dy
dx . Masukkan ke dalam persamaan (7-21)
dx
2Kbdy
x
Q
r
2Kb dy
h
Q log e x r 2Kb y h
atau
R
2Kb H h
r
Q log e
Q
2Kb H h
R
log e
r
Rumus Dupuit
atau
Q
2,72Kb H h
R
log10
r
Q
atau
2,72Kb h 2 h 1
r
log10 2
r1
2,72TS
R
log10
r
atau
Q
2 KLS
R
2,3 log10
r
(7-0)
dimana:
L
Berdasarkan persamaan (22d) tampak bahwa debit dapat ditingkatkan dengan menaikkan
panjang saringan, tinggi depresi, dan diameter saringan, tetapi secara praktis untuk
koefisien transmisibilitas tertentu:
1). Jika debit dinaikkan dengan menambah panjang saringan, sumur menjadi sangat dalam
dan batas ekonomisnya adalah 125 m. Secara umum, panjang saringa dibatasi sampai
maksimum 150 kali diameter sumur.
99
2). Dari pertimbangan ekonomi, diperlukan koefisien transmisibilitas lebih besar dari
1x10-2 cm/detik. Akifer dengan koefisien transmisibilitas kurang dari 0,3x10 -3 cm/detik
tidak cocok.
3). Diameter sumur tabung dibatasi sampai 20 25 cm, karena pemnambahan diameter
dibatasi sampai 1/10 kedalaman air dalam sumur pada strata aluvial. Pada gravel atau
boulder batas ini makin tinggi, tetapi tidak lebih dari 1,5 sampai 2 meter.
[Link] Penetrasi penuh, muka air dalam sumur di bawah lapisan kedap
(Gb. 7-11)
Muka tanah
R
Muka piezometrik awal
Lengkung depresi
H
Akifer tertekan
K 2bH b 2 h 2
1,36K 2bH b 2 h 2
Q
atau
R
R
log e
log10
r
r
(7-0)
dimana:
b
jarak antara garis piezometrik awal dan permukaan atas lapisan kedapa air
jari-jari sumur
100
12).
Q
2Kb H h
G
R
2,3 log10
r
(7-0)
dimana
G
r
b
G 1 7
cos
2b
2T
(7-0)
Q
Muka tanah
r
H
h
b
Akifer tertekan
K T 2 h 2
r
b
Q
cos
1 7
2b
2T
R
2 ,3 log10
r
(7-0)
Q
Muka tanah
r
101
Lapisan kedap air
7.4.5
Perbedaan karakteristik hidraulik yang berkaitan dengan pemompaan dari sumur pada
akifer tak tertekan dengan sumur pada akifer tertekan adalah sebagai berikut:
Tabel 7-16. Perbedaab karakteristik hidraulik akifer tertekan dan akifer tak
tertekan
Akifer tak tertekan
1. Muka air tanah turun akibat pemompaan
2. Pada umumnya lengkung depresi dan luas
daerah pengaruhnya kecil
3. Lengkung depresi berkembang secara
perlahan karena air dalam material keluar
secara berangsur-angsur
4. Air yang dipompa diambil langsung dari
muka air tanah
5. Lengkung muka air tanah membatasi
volume air yang ditahan oleh akifer
Akifer tertekan
Tidak berpengaruh pada muka air tanah dangkal
Lengkung depresi dan luas daerah pengaruhnya
sangat luas
Lengkung tekanan mengembang sangat cepat
Tidak ada pengambilan dari air tanah dangkal,
kecuali sumur mempunyai saringan/lobang-lobang di
atas akifer kedap air
Lengkung tekanan yang berkembang adalah
permukaan imajener yang mengindikasikan kondisi
tekanan dalam saluran penuh air.
Contoh 7-5.
Hitung debit sumur tabung pada akifer tertekan (penetrasi penuh) dengan data sebagai
berikut:
Diameter tabung (sumur)
: 30 cm
: 20 m
Drawdown
:3m
Koef. Permeabilitas
: 50 m/hari
Jari-jari pengaruh
: 150 m
Berapa debit yang diperoleh jika diameter sumur dikurangi menjadi hanya separonya saja?
Penyelesaian:
102
2,72KbS
R
log10
r
2,72 x 50x 20 x3
150
log10
0,15
2700 m 3 / hari
112 m 3 / jam
0,03 m 3 / det ik
Debit dengan diameter sumur setengah diameter semula (15 cm):
Q
2470 m 3 / hari
0,0286 m 3 / det ik
Contoh 7-6.
Sumur pada akifer tak tertekan dengan tebal lapisan jenuh air 100 meter mempunyai debit
250 liter per menit pada drawdown 12 meter. Anggap aliran dalam kondisi ekuilibrium dan
akifer adalah homogin, perkirakan debit sumur untuk drawdown 18 meter. Jari-jari
pengaruh relatif tetap.
Penyelesaian:
H
100 m
Qo =
100-12 = 88 m.
Qo
1,36K H 2 h 2
R
log10
r
0,0042
1,36K 100 2 88 2
R
log10
r
103
K
0,0042
R
1,36 x 100 2 88 2
log10
r
1,368x10 6
Dengan drawdown 18 meter, R dan r tetap sama:
h
= 100 18 = 82 m.
1,36K 100 2 82 2
Q1
R
log10
r
1,36 x3276 x
log R
10
r
Q = 1,32x3276x1,368x10-6
= 0,0059 m3/detik
Contoh 7-7.
Sumur pada akifer tertekan homogen dengan tebal lapisan jenuh air 100 meter mempunyai
debit 240 liter per menit pada drawdown 10 meter. Anggap aliran dalam kondisi
ekuilibrium, perkirakan debit sumur untuk drawdown 15 meter. Jari-jari pengaruh relatif
tetap yaitu 1000 meter.
Penyelesaian:
Debit sumur, Q
Tebal akifer, b
= 100 m.
Drawdown, S
= 10 m.
2,72KbS
R
log10
r
0,004
Kasus 1, S = 10 meter
Q
Kasus 2, S = 15 meter
(i)
(ii)
104
0,004 10
Q
15
10 cm
Tebal akifer, b
10 m
Radius pengaruh, R
300 m
Drawdown, S
5m
Koef. Permeabilitas
0,0005 m/dt.
Rumus debit:
Q
2,72KbS
R
log10
r
2,72 x 0,0005x10x 5
3
300
log10
= 0,0196 m /detik.
0,1
2,72 x 0,0005x10x 5
3
300
log10
= 0,0214 m /detik.
0,2
Contoh 7-9.
Pumping test pada sumur tabung berdiameter 30 cm penetrasi penuh pada akifer tak
tertekan, menghasilkan data sebb.:
105
Debit sumur
= 0,05 m3/detik
= 228,0 m
= 223,0 m
= 227,0 m.
= 200,0 m.
Diminta:
1). Koefisien permeabilitas akifer.
2). Radius pengaruh sumur.
Penyelesaian:
1). Gunakan persamaam (13c), dimana:
r2
r1
2,3 Q log10
h 22
h 12
50
0,15
3,14 27 2 23 2
-4
= 4,6 x 10 m/det.
1,36K H 2 h 2
R
log10
r
dimana:
H
log10
0,15
R
3,19
0,15
106
R = 232 m.
Contoh 7-10.
Sumur penetrasi penuh berdiameter 0,3 meter dibuat pada akifer tak tertekan dengan
koefisien permeabilitas 10-3 m/det, menghasilkan debit konstan 120 m3/jam. Akibat
pemompaan prmukaan air tanah turun 1,5 meter pada titik 12 meter dari pusat sumur. Jika
muka air tanah awal adalah 15 meter di atas lapisan kedap, hitung drawdown pada jarak 30
meter dari pusat sumur (Gambar 7- 14)?
Penyelesaian:
Pakai persamaan (7-19c):
Q
1,36K H 2 h 2
R
log10
r
dimana:
r1
12 m
h1
15-1,5 = 13,5 m.
1 1,36x10 3 x h 22 13,5 2
30
30
log10
12
h
h2
2
2
13,5 2
=
30
12
30 x1,36 x10 3
log10
13,86 meter.
Q
Muka tanah
300 m
1,14 m
12,0 m
1,5 m
Lengkung depresi
H= 15,0 m
13,5 m
13,86 m
107
Lapisan kedap air
Gambar 7-43. Sumur penetrasi penuh pada akifer tak tertekan (Contoh 7-10).
Contoh 7-11.
Sumur penetrasi penuh pada akifer tertekan dengan ketebalan 2,5 meter mempunyai
diameter 0,4 meter. Drawdown yang terjadi pada jarak 8 dan 50 meter berturut-turut 2,5
meter dan 0,6 meter (Gambar 7-15). Hitung debit sumur jika koefisien permeabilitas akifer
10-3 m/detik.
Penyelesaian:
Gunakan persamaan (7-22)
Q
2,72Kb h 2 h 1
r
log10 2
r1
dimana:
h 2 H - S2
h 1 H S1
h 2 h 1 H - S 2 H - S1
h 2 h 1 S1 S 2
sehingga:
Q
8
Q
Muka tanah
50 m
0,6 m
8m
2,5 m
Lengkung depresi
b= 2,5 m
108
Lapisan kedap air
Contoh 7-12.
Sumur pada akifer tertekan dengan ketebalan 24 meter mempunyai debit 6000 m3/hari pada
depresi 12 meter. Akifer tertekan terletak 25 meter di bawah muka tanah. Muka air statik
terletak pada 15 meter di bawah muka tanah. Hitung diameter sumur jika koefisien
permeabilitas akifer 24,5 m/hari dan radius pengaruh 300m .
Q
Muka tanah
300 m
15 m
25 m
h=12 m
Lengkung depresi
H= 34 m
b= 24 m
1,36K 2bH b 2 h 2
R
log10
r
dimana:
b
24 m
109
sehingga:
log10
r
6000
log10
300
3,177
r
r = 0,20 m.
7.4.6
Dalam merencanakan instalasi sejumlah sumur perlu diperhatikan jarak antara sumur.
Jarak yang terlalu dekat akan dapat menyebabkan pemompaan yang berlebihan (over
pumping) karena pengaruh interferensi. Jika sumursumur beroperasi secara simultan,
maka akan terjadi perpotongan lengkung depresi. Drawdown pada sembarang titik dalam
wilayah yang terpengaruh oleh operasi simultan sumur-sumur merupakan superposisi
drawdown yang disebabkan oleh sumur-sumur individual, sehingga:
St = S1+S2++Sn
(7-0)
Dimana:
St
Q1
Muka tanah
Lengkung depresi
akibat Q2 saja
Lengkung depresi
gabungan
Lengkung depresi
akibat Q2 saja
110
1). Untuk dua buah sumur identik pada akifer tertekan dengan jarak D :
Q1 Q 2 Q i
2,72Kb h o h w
(7-0)
R2
rD
dimana : (ho-hw) = St atau kombinasi drawdown pada salah satu sumur, yakni
perbedaan antara muka air awal (ho) dan muka air dalam sumur
(hw).
log10
2). Untuk tiga buah sumur identik pada akifer tertekan dengan jarak D dengan pola
Q1 Q 2 Q 3 Q i
R3
rD 2
3). Untuk dua buah sumur identik pada akifer tak tertekan dengan jarak D :
log10
Q1 Q 2 Q i
1,36Kb h o2 h 2w
log10
(7-0)
R
rD
(7-0)
Contoh 7-13.
Dua buah sumur tabung penetrasi penuh dibuat pada akifer tertekan tebal 10 meter dengan
antar sumur 200 meter. Data-data sumur adalah sebagai berikut:
Diameter sumur
= 30 cm
Tinggi depresi
=5m
Radius pengaruh
= 300 m
Koef. permeabilitas
= 10-3 m/det.
Ditanyakan:
1). Apakah kedua sumur saling interferensi?
2). Debitr sumur jika satu sumur beroperasi?
3). Persentase pengurangan debit jika kedua sumur beroperasi secara simultan dengan
sumur 200 meter, maka terjadi interferensi atau saling mempengaruhi antara kedua
sumur tersebut (Gambar 7-18).
2). Jika satu sumur beroperasi
111
2,72KbS
R
persamaan (7-22) dimana T = Kb
log10
r
2,72 x10 3 x10 x 5
3
300
= 0,041 m /detik
log10
0,15
Q2
Q1
Muka tanah
300 m
300 m
5m
Lengkung depresi
akibat Q2 saja
Lengkung depresi
gabungan
D=200 m
Lengkung depresi
akibat Q2 saja
b= 10 m
Q1 Q 2
2,72Kb h o h w
log10
R2
rD
persamaan (28)
2,72x10 3 x10 x 5
3
300 2
= 0,039 m /det.
log10
0,15x 200
112
0,041 0,039
0,041
x 100% = 4,88%.
113
AGIAN8
KONSERVASI SUMBERDAYA
AIR
PERLUNYA PENGEMBANGAN SUMBER DAYA AIR
8.1
8.1.1
Keberadaan air di permukaan bumi tidak tersebar secara merata secara spasial maupun
temporal. Rata-rata hujan tahunan di seluruh permukaan bumi siperkirakan sebesar 834
mm, 540 mm diantaranya hilang melalui evapotranspirasi. Sisanya sebesar 294 mm
mengalir sebagai air permukaan atau masuk ke dalam tanah dan akhirnya mengalir ke laut,
membentuk sumber air tawar. Sumber air tawar ini membentuk siklus air-hujan, evaporasi,
dan aliran gravitasi.
8.1.2
Perlunya pengembangan sumber daya air mengemuka ketika terjadi kesenjangan antara
produksi air (water yield) dan kebutuhan sumber daya air. Tujuan pengembangan sumber
daya air aalah untuk meningkatkan produksi air sampai paa tingkat kebutuhan.
Pengembangan sumber daya air adalah penting tidak hanya bahwa hal ini dapat
mencukupi kebutuhan air tetapi juda dapat mempersubur lahan berdasar siklus air dan
memungkinakn penciptaan diversifikasi kegiatan. Beberapa obyektif pengembangan
sumber daya air adalah:
Meningkatkan sumber daya air dengan menahan kecepatan aliran
Menstabilkan produksi air (water yield): mengingat hujan yang jatuh ke bumi tidak
permanen (steady), produksi air secara alamiah selalu berubah terhadap waktu.
Perubahan sangat kentara pada daerah yang mempunyai beda signifikan antara musim
hujan dan musim kemarau. Untuk kepentingan pemakai, akan sangat diharapkan
produksi air yang stabil sehingga pemakaian air tidak tergantung pada ketersediaan air
setiap waktu.
Untuk membuat produksi air yang tinggi flukuasinya menjadi sedapat mungkin
permanen merupakan salah satu tujuan utama pengembangan sumber daya air.
Menghilangkan pebedaan regional: perbedaan regional produksi air disebabkan oleh
beberap faktor:
114
Pengembangan sumber daya air didasarkan pada penggunaan, dalam berbagai kombinasi,
dari berbagai fasilitas untuk memenuhi fungsinya. Berdasarkan lokasi sumber air,
pengembangan sumbe daya air dapat diklasifikasikan menjadi:
1. Pengembangan air permukaan
1. Pengembangan air tanah
2. Filtrasi : filtrasi mengacu pada menghilangkan ketidakmurnian untuk daur ulang air.
Fasilitas yang terkait meliputi:
Fasilitas pengolah air limbah
Fasilitas desalinsi air laut
3. Konservasi air: konservasi air didisain untuk mengurangi aliran mati atau air terbuang
selama distribusi dan pemakaian air untuk meningkatkan produksi air. Penghematan air
dengan konservasi air dapat diterapkan pada pengguna atau wilayah dimana kebutuhan
air hanya terpenuhi sebagian. Hal penting dalam konservasi air adalah mencegah
kebocoran, dan kecermatan pengelolaan.
8.2
8.2.1
Air tanah, yang mengisis pori-pori tanah, secara garis besar dibedakan menjadi dua jenis
berdasarkan cara pengisian pori-pori tanah, yaitu air lapisan (stratum water), dan air celah
(fissure ater). Air lapisan mengacu pada air tanah yang berada diantara butiran pertikel
sedimen, sedangkan air celah mengacu pada air anah yang berada di celah dan patahan
batuan.
115
Air celah
(fissure water)
Jenis tanah
Sedimen periode kuarter
Lapisan gravel
Lapisan pasir
Lapisan lumpur
Batuan sedimen periode
Batu pasir dan
tersier
konglomerat
Breccia vulkanik
Batu gamping porus
Batuan lapuk
Retakan
Batuan beku
Sambungan dingin
dan tabung lava
Batuan metamorpik atau
lainnya
Makin besar porositas efektif akifer makin tinggi produktifitasnya. Akifer paling produktif
adlah lapisan gravel dan pasir periode kuarter. Sedimen ini ditemukan di wilayah dataran
rendah dan tepi sungai seperti dataran alluvial, delta aluvial, dataran jurang, yang
semuanya rawan terhadap perubahan muka air laut jangka panjang. Secara umum, akifer
ini makin tebal dan lebar makin dekat ke laut. Di daerah pantai sering dijumpai lapisan
kedap air (lempung) yang menyebabkan fragmentasi vertikal pada akifer.
Daerah yang bergelombang dan dataran tinggi biasanya terbentuk sebelum periode tertier.
Lapisan kuarter sangat jarang terbentuk sekalipun di tepi sungai. Air tanah dijumpai
senagai air celah dalam lapisan hasil pelapukan dekat permukaan atau dalam batuan di
bawah lapisan hasil pelapukan. Batu gamping, yang terbuat dari kalsium karbonat yang
larut dalam air tanah dan membentuk lubang-lubang dan ruang membantu pembentukan
akifer produktif.
8.2.2
Di wilayan dimana intrusi air laut ke dalam air tanah menjadi permasalahan,
pembuatan sumur kolektor untuk pengambilan air tanah dangkal yang intensif
mungkin dapat diperkenalkan.
3). Peningkatan pengisian air tanah
Adalah sangat penting untuk membanguan waduk penyeimbang pada lokasi kawasan
akifer yang relatif tinggi untuk meresapkan genangan air sungai dan meningkatkan
pengisian air tanah. Infiltrasi bawah permukaan adalah yang paling signifikan dalam
menahan limpasan. Air irigasi di daerah hulu dan tengah juga dapat meningkatkan
pengisian air tanah. Air yang meresap ke bawah permukaan dapat didaur ulang di
bagian hilir sungai.
Dilihat dari sudut pandang lain, pengambilan air tanah dapat menurunkan muka air
tanah dan mampu mempercepat infiltrasi, meningkatkan air yang masuk dalam poripori tanah pada saat banjir dan dapat membantu pengendalian banjir.
4). Menggunakan sumber air lain
Jika penggunaan air tanah telah berlebihan dan sumber air tanah tidak lagi
berkelanjutan (sustainable) sekalipun jika usaha (1) dan (3) sudah dilakukan,
penggunan air tanah harus dibatasi untuk melindungai sumber air tanah di daerah
tersebut. Jika lingkungan memungkinkan untuk mengurangi penggunaan air tanah,
maka sumber air lain harus tersedia. Persyaratan untuk penggantian adalah bahwa
potensi produksi air harus lebih besar dibanding yang ada dan dan terletak tidak jauh
dari lokasi.
Dataran alluvial di daerah pantai kemungkinan rentan terhadap penurunan muka
tanah akibat pemompaan air tanah. Jika permasalahan ini telah terjadi, penggunaan
air tanah harus dikurangi. Mengingat daerah pantai biasanya ditandai dengan
penggunaan dan pembuangan air yang besar, adalh sangat penting untuk
mempertimbangkan pengembangan desalinasi air laut dan pengolahan air limbah.
5). Pengembangan waduk bawah tanah (subsurface dam)
Jika pengujian usaha-usaha untuk mengembangkan dan melindungi air tanah
sebagaimana dijelaskan dalam (1) sampai (4) ternyata tidak mampu memenuhi
kebutuhan air atau usaha-usaha tersebut tidak ekonomis, maka perlu diuji
kemungkinan pengembangan waduk bawah tanah. Namun, perlu diingat bahwa
daerah sasaran kemungkinan tidak memenuhi syarat untuk pengembangan waduk
bawah tanah. Oleh karena itu perlu dicari lokasi yang cocok untuk pengembangan
waduk bawah tanah.
117
8.2.3
1.
2.
1.
2.
SISTEM
KEBUTUHAN
SISTEM SUPLAI
DAS
TUJUAN
PERMASALAHAN
1.
Penampungan &
Bendung
Sistem Distribusi
Tekanan
1.
Tingkat
1.
Kehilangan
pendududk
penguapan tinggi
air tinggi
2.
Eksploitasi
2.
Tingkat
2.
Tingkat
lahan berlebihan
sedimentasi tinggi
sedimentasi
3.
Kesalahan
3.
Pertumbuhan
tinggi
tata guna lahan
gulma air cepat
3.
Pencemaran
4.
Salah
4.
Pencemaran
4.
Gangguan
pengelolaan
5.
Pengoperasian
gulma air
5.
Penebanga
waduk tidak optimal
n hutan
6.
Curah
hujan tinggi
7.
Jenis tanah
rentan erosi
8.
Tingkat
erosi tinggi
1.
Meningkatkan kemampuan sistem.
2.
Memperkecil tingkat kebocoran sistem.
3.
Memenlihara fungsi sietm secara berkesinambungan (sustainable).
4.
Alokasi air sesuai kebutuhan dan memberikan manfaat optimal.
Mempertah
Menagkap/m
Meningka
ankan
enahan aliran
tkan efisiensi
keseimbangan dan
seoptimal mungkin
sistem
fungsi hidroorologis
Optimasi
Meningka
kawasan (watershed
rancangan/operasi dan
tkan pengendalian
management)
pengelolaan waduk
pencemaran air
Operasi
dan pemeliharaan
yang memadai
Sistem Aplikasi
1.
Keboc
oran air
tinggi
2.
Pema
kaian air
tidak efisien
Men
gurangi
kebocoran
Men
ingkatkan
efisiensi
Pemakai
1.
Penggunaan
air yang
berlebihan
2.
Masyarakat
boros air
3.
Pemakaian
air yang tidak
hati-hati
Mengenda
likan dan
mengurangi
permintaan
Mendaur
ulang air buangan
(reuse & recycling)
Membuda
yakan masyarakat
arif air
118
SISTEM
KEBUTUHAN
SISTEM SUPLAI
Penampungan &
Bendung
DAS
TEKNIS
PERUNDANGAN
Penghutan
an kembali
Penghijaua
n
Tata guna
lahan yang sesuai
Pemasyara
katan terras
Perkuatan
tebing rawan
longsor
Check
dam, dll
Peraturan
yang
melindungai/memba
tasi pemanfaatan
kawasan
Penetapan
tata guna lahan
(zoning) yang sesuai
untuk tujuan
konservasi tanah
dan air
Pengendalian
sedimentasi
Pengendalian
gulma air
Pengelolaan
kualitas air
Pengelolaan
waduk terpadu
Optimasi
alokasi air
Penetapan
zona perlindungan
waduk
Peraturan
tentang pencemaran
air
DAS
Penampungan
& Bendung
DAS
Pengendal
ian sedimen
Pengendal
ian gulma air
Pengeloaa
n kualitas air
Saluran
kedap air dan pipa
Peng
embangan
dan
penggunaan
teknologi
hemat air
Kont
rol kebocoran
mete
ring
Peraturan
yang melarang
membuang sampah
rumah tangga dan
industri ke badan
air
Peraturan
tentang
pencemaran air
Pera
turan
penggunaan
bahan dan
peralatan
bangunan
untuk hemat
air
pemakaia
n ulang dan daur
ulang
kampanye
hemat air melalui
media massa
Larangan
penggunaan air
untuk keperluan
tertentu yang
berkaitan dengan
kekeringan
Sistem
water right &
water permit yang
kondusif
EKONOMI
CARA
KELEMBAGAAN
Koordinasi
antar lembaga untuk
pengelolaan terpadu
kawasan
Mencipta
kan mekanisme
yang dapat
meningkat-kan
nilai air dari benda
yang bernilai sosial
menjadi barang
bernilai ekonomis,
melalui:
Sistem
tarif
Insentif &
penalti
Alokasi
biaya konservasi
pada penerima
manfaat
Privatisasi
, dll.
Pembinaa
n
organisasi/masyara
kat pemakai air
Meningka
tkan peran serta
masyarajkat
Penyampa
ian pesan hemat air
melalui pendidikan
formal/non formal
Koordinas
i dengan lembagalembaga pemakai
air sektoral untuk
pengelolaan dan
pemakaian air
119
DAFTAR REFERENSI
1. Arsyad, S. (1976). Pengawetan tanah dan air. Depat. Ilmu-ilmu Tanah IPB, Bogor.
2. Arsyad, S. (1989). Konservasi Tanah dan Air. Penerbit IPB. Bogor.
3. Hjulstrom, F. (1935) Studies of the morphological activity of rivers as illustrated by the River
Fyries, [Link]. Inst. Univ. Uppsala 25, 221-527.
4. Hudson, N.W. (1971). Soil conservation. Cornell University Press. Ithaca, New York.
5. Jetten, V., Ad De Roo, Wessleing, C., and Retsema, C. (1977). LISEM : Distributed, Event
based hydrological and soil erosion modeling. International Workshop: Experiences with soil
erosion models. Prague, October 6-8, 1997.
6. Julien, P.Y. (1995). Erosion and sedimentation. Cambridge University Press. New York.
7. Kothayari, U.C., Tawari, A.K., and Ranvir Singh. (1994). Prediction od sediment yield. J.
Irrigt. And Drainage Eng. ASCE. Vol. 120. No. 6. pp. 1122-1131.
8. Lal, R. (1980). Soil erosion as a constraint to crop production. In Soil related constraint to food
production in the tropics. IRRI. Los Benos, Phillipines.
9. Leopold, L.B., Wolman, M.G. and Miller, J.P. (1964) Fluvial processes in geomorphology,
Freeman.
10. Suripin (2004). Pelestarian Sumberdaya Tanah dan Air. ed. 3. ANDI Offset Yogyakarta.
120