Tiga Jenis Risiko Menurut Knight
Tiga Jenis Risiko Menurut Knight
1 Pengertian risiko
Menurut Frank Knight yang dikutip dalam Robison dan Barry (1987), risiko
menunjukkan peluang terhadap suatu kejadian yang dapat diketahui oleh pembuat keputusan
yang didasarkan pada data historis dan pengalaman selama mengelola kegiatan usaha. Risiko
juga menunjukkan peluang terjadinya peristiwa yang menghasilkan pendapatan di atas atau di
bawah rata-rata dari pendapatan yang diharapkan. Sementara itu, Debertin (1986) menyatakan
bahwa kejadian berisiko adalah kejadian dimana peluang dan hasil dari kejadian tersebut dapat
diketahui oleh pembuat keputusan. Risiko dapat pula diartikan sebagai kemungkinan kejadian
yang merugikan. Menurut Basyib (2007), risiko merupakan peluang terjadinya hasil yang tidak
diinginkan sehingga risiko hanya terkait dengan situasi yang memungkinkan munculnya hasil
negatif serta berkaitan dengan kemampuan memperkirakan terjadinya hasil negatif tersebut. Ada
tiga unsur penting dari suatu kegiatan yang dianggap masih sebagai risiko: 1) merupakan suatu
kejadian, 2) kejadian tersebut masih merupakan kemungkinan, dan 3) jika terjadi, maka akan
menimbulkan kerugian
Risiko berhubungan dengan ketidakpastian, akan tetapi terdapat perbedaan mendasar
antara risiko dan ketidakpastian. Menurut Robison dan Barry (1987), risiko adalah peluang dari
suatu kejadian yang dapat diperhitungkan dan akan memberikan dampak negatif yang dapat
menimbulkan kerugian, sedangkan ketidakpastian adalah peluang dari suatu kejadian yang tidak
dapat diperhitungkan oleh pebisnis selaku pengambil keputusan. Djohanputro (2006)
menyatakan risiko sebagai ketidakpastian yang telah diketahui tingkat probabilitas kejadiannya.
Menurut Kountur (2004) ketidakpastian ini terjadi akibat kurangnya atau tidak tersedianya
informasi yang menyangkut apa yang akan terjadi. Ketidakpastian yang dihadapi oleh
perusahaan dapat berdampak merugikan atau menguntungkan. Apabila ketidakpastian yang
dihadapi berdampak menguntungkan maka disebut dengan istilah kesempatan (opportunity),
sedangkan ketidakpastian yang berdampak merugikan disebut sebagai risiko.
2.1.3 Pengertian manajemen resiko
Manajemen risiko merupakan cara-cara yang digunakan manajemen untuk menangani
berbagai permasalahan yang disebabkan oleh adanya risiko. Keberhasilan perusahaan ditentukan
oleh kemampuan manajemen menggunakan berbagai sumberdaya yang ada untuk mencapai
tujuan perusahaan. Dengan adanya penanganan risiko yang baik segala kemungkinan kerugian
yang dapat menimpa perusahaan dapat diminimalkan sehingga biaya lebih kecil dan pada
akhirnya perusahaan akan mendapatkan keuntungan yang lebih besar
Manajemen risiko adalah suatu bidang ilmu yang membahas tentang bagaimana suatu
organisasi menempatkan berbagai permasalahan yang ada dengan menempatkan berbagai
pendekatan manajemen secara komprehensif dan sistematis (Fahmi 2010). Selain itu, menurut
AS/NZS 4360 Risk Management Standard dalam Soehatman Ramli (2010) menyebutkan bahwa
manajemen risiko menyangkut budaya, proses dan struktur dalam mengelola suatu risiko secara
efektif dan terencana dalam suatu sistem manajemen yang baik. Terdapat beberapa cara untuk
mengatasi risiko yaitu dengan cara menghindari dengan tidak mengambil risiko, mencegah
timbulnya risiko, mengurangi kerugian akibat risiko untuk meminimalkan akibatnya dan
mengalihkan risiko ke pihak lain. Suatu risiko yang kemungkinan terjadinya besar dan
konsekuensinya juga besar maka cara yang terbaik untuk menangani risiko tersebut adalah
menghindar. Jika tidak dapat menghindar dan harus menghadapi risiko tersebut maka cara yang
bisa dilakukan adalah mencegah, membuat kemungkinan terjadinya sekecil mungkin. Selain
mencegah kerugian, akibat dari kerugian itu harus dikurangi, pengurangan kerugian akibat risiko
dilakukan terutama jika konsekuensi dari risiko tersebut besar.
Sedangkan menurut Darmawi (2005), manajemen risiko merupakan suatu usaha untuk
mengetahui, menganalisis serta mengendalikan risiko dalam setiap kegiatan perusahaan dengan
tujuan untuk memperoleh efektivitas dan efisiensi yang lebih tinggi dalam pengambilan
keputusan. Secara khusus manajemen risiko diartikan sebagai pengelolaan variabilitas
pendapatan oleh seorang manajer dengan menekan sekecil mungkin tingkat kerugian yang
diakibatkan oleh keputusan yang diambilnya dalam menggarap situasi yang tidak pasti.
Pemahaman manajemen risiko yang baik akan mengurangi kerugian atau akan dapat menambah
tingkat keyakinan bagi pembuat keputusan dalam mengurangi risiko kerugian.
Menurut Kountur (2008), manajemen risiko perusahaan adalah cara bagaimana
menangani semua risiko yang ada dalam perusahaan tanpa memilih risiko-risiko tertentu saja.
Penanganan risiko dapat dianggap sebagai salah satu. Setelah risiko risiko yang mungkin
terjadi diidentifikasi dan dianalisa, akan mulai memformulasikan strategi penanganan risiko yang
tepat. Strategi ini didasarkan kepada sifat dan dampak potensial / konsekuensi dari risiko itu
sendiri. Adapun tujuan dari strategi ini adalah untuk memindahkan dampak potensial risiko
sebanyak mungkin dan meningkatkan kontrol terhadap risiko.
1.
Menghindari risiko
Menghindari risiko merupakan strategi yang sangat penting, strategi ini merupakan strategi
yang umum digunakan untuk menangani risiko. Dengan menghindari risiko, kontraktor dapat
mengetahui bahwa perusahaannya tidak akan mengalami kerugian akibat risiko yang telah
ditafsir. Di sisi lain, kontraktor juga akan kehilangan sebuah peluang untuk mendapatkan
keuntungan yang mungkin didapatkan dari asumsi risiko tersebut.
Contohnya : seorang kontraktor yang ingin menghindari risiko politik dan finansial berkaitan
dengan proyek pada negara dengan kondisi politik yang tidak stabil, dapat menolak melakukan
tender proyek pada negara tersebut. Namun demikian, apabila kontraktor tersebut menolak untuk
melakukan tender, maka kemungkinan untuk mendapatkan keuntungan dari proyek tersebut juga
ikut menghilang.
2.
Meretensi risiko
Retensi risiko telah menjadi aspek penting dari manajemen risiko ketika perusahaan
menghadapi risiko proyek. Retensi risiko adalah perkiraan secara internal, baik secara utuh
maupun sebagian, dari dampak finansial suatu risiko yang akan dialami oleh perusahaan. Dalam
mengadopsi strategi retensi risiko ini, perlu dibedakan antara 2 jenis retensi yang berbeda.
1. Retensi risiko yang terencana (planned) adalah asumsi yang secara sadar dan sengaja
dilakukan oleh kontraktor untuk mengenali atau mengidentifikasi risiko. Dengan strategi seperti
itu, risiko dapat ditahan dengan berbagai cara, tergantung pada filosofi, kebutuhan khusus, dan
juga kapabilitas finansial dari kontraktor itu sendiri.
2. Retensi risiko yang tidak terencana (unplanned) terjadi ketika kontraktor tidak mengenali atau
mengidentifikasi kberadaan dari suatu risiko dan secara tidak sadar mengasumsi kerugian yang
akan muncul.
4.
Mentransfer risiko
Pada dasarnya, transfer risiko dapat dilakukan, melalui negosiasi, kapanpun kontraktor
menjalani perencanaan kontraktual dengan banyak pihak seperti pemilik, subkontraktor ataupun
supplier material dan peralatan. Transfer risiko bukanlah asuransi. Biasanya, transfer risiko ini
dilakukan melalui syarat atau pasal pasal dalam kontrak seperti : hold harmless aggrement
dan klausul jaminan atau penyesuaian kontrak. Karakeristik esensial dari transfer risiko ini
adalah dampak dari suatu risiko, apabila risiko tersebut benar benar terjadi, ditanggung
bersama atau ditanggung secara utuh oleh pihak lain selain kontraktor. Contohnya : penyesuaian
pada harga penawaran, dimana kompensasi ekstra akan diberikan kepada kontraktor apabila
terjadi perbedaan kondisi tanah pada suatu proyek.
5.
Asuransi
Asuransi menjadi bagian penting dari program manajemen risiko, baik untuk sebuah
organisasi ataupun untuk individu. Asuransi juga termasuk di dalam strategi transfer risiko,
dimana pihak asuransi setuju untuk menerima beban finansial yang muncul dari adanya
kerugian. Secara formal, asuransi dapat didefinisikan sebagai kontrak persetujuan antara 2 pihak
yang terkait yaitu : pengasuransi (insured) dan pihak asuransi (insurer). Dengan adanya
persetujuan tersebut, pihak asuransi (insurer) setuju untuk mengganti rugi kerugian yang terjadi
(seperti yang tercantum dalam kontrak) dengan balasan, pengasuransi (insured) harus membayar
sejumlah premi tiap periodenya.
2.1.4 Analisis Langkah-langkah dalam pengambilan keputusan:
1.
Perumusan Masalah
Langkah ini sebagai awal menentukan batasan-batasan keputusan yang akan dibuat yang
Dalam langkah ini keputusan yang dibuat tidak dalam ruang hampa udara melainkan dibuat
berdasarkan fakta dan data yang akan dipakai dalam pengambilan keputusan.
2.
Penentuan Tujuan
Pada tahap ini pertanyaan yang diajukan untuk antara lain
tujuannya
-
Bagaimana jika pengambil keputusan tersebut ingin mencapai tujuan yang bertentangan
Pencarian Alternatif
Pada tahap ini ada beberapa hal yang perlu diajukan yaitu:
Seorang pengambil keputusan yang ideal, akan membuka semua kemungkinan pilihan yang ada
dan kemudian memilih satu diantaranya yang akan memberikan hasil terbaik bagi pencapaian
tujuannya.
4.
Peramalan Dampak
Pada tahap ini yang perlu dipahami adalah:
Dapatkan informasi yang lebih baik diperoleh untuk meramalkan suatu hasil
Tugas peramalan konsekuensi ini tergantung pada keadaannya bisa dilakukan secara langsung
atau diabaikan sama sekali.
5.
Penentuan Pilihan
Seteleah semua analisis selesai dilakukan, kita dapat menentukan pilihan yang paling
dingiinkan yaitu:
-
Menetapkan tujuan
6.
Analisis Sensitivitas
Pada tahap akhir ini ada beberapa hal yang perlu diperhatikan adalah:
-
Bagaimana sifat dari masalah yang menentukan pilihan tindakan yang optimal
Apakah pilihan tersebut peka terhadap perubahan variabel-variabel ekonomi utama yang
2.2.1 Probabilitas
Probabilitas digunakan untuk mengukur secara kuantitatif dalam berbagai kemungkinan yang
tidak pasti. Konsep probabilitas dapat dibagi manjadi 2, yaitu :
a)
Probabilitas obyektif
Adalah suatu konsep yang didasarkan pada frekuensi relative dalam jangka panjang. Misalkan :
sebuah kotak berisi 3 bbola putih dan 6 bola merah dengan ukuran dan berat yang sama (kecuali
warna). Percobaan ini sebagai teori spekulasi yang menunjukkan kepada ketidakpastiann, dan
dalam ekonomi disebut Economic of Uncertainty
b)
Probabilitas Subjektif
Dapat dimisalkan apabila kita menyaksikan pertandingan sepakbola antara dua kesbelasan.
Variabel random merupakan variabel yang memiliki nilai yang tidak pasti, tetapi mempunyai
distribusi probabilitas yang diketahui. Dalam contoh tersebut hasil pertandingan merupakan
variabel random. Misalkan suatu perusahaan tidak dapat meramalkan labanya, tetapi dapat
memperkirakan laba tersebut dalam probabilitas tertentu, disebut variabel random.
Frank Knight (1922), menggambarkan suatu hubungan antara risiko dengan
[Link] melukiskan suatu keadaan sebagai suatu keadaan yang berisiko jika kita
dapat menentukan probabilitas obyektif secara pasti terhadap hasil atau kejadian. Sementara itu,
suatu keadaan dianggap mengandung ketidakpastian jika tidak ada probabilitas obyektif yang
dapat ditentukan. Knight menyimpulkan bahwa keputusan enterpreneurial dan laba termasuk
teori ketidakpastian, bukan teori risiko. Permasalahan dalam analisis knight adalah bahwa dia
Pohon keputusan menunjukan hasil yang diharapkan pada tahun pertama dan kedua
setelah keputusan dibuat. Pada tabel diatas harga mesin besar Rp. 100 juta dan harga mesin kecil
Rp. 50 juta, untuk menentukan mesin mana yang akan dibeli maka manajer harus mengevaluasi
EPV untuk setiap alternative . Untuk menganalisis EPV perlu diketahui probabilitas setiap
alternative, yaitu probabilitas bahwa permintaan pasar tinggi sebesar 0,6 dan terendah 0,4. Pada
tahun kedua probabilitas tertinggi 0,7 dan terendah 0,3.
Dihitung pada tabel diatas: Analisis Resiko Keputusan Alternative Dengan mengetahui
adanya tingkat resiko dari setiap keputusan alternative maka kita akan selalu dapat
memperhitungkan resiko dari keputusan yang kita ambil. Tingkat resiko dan ketidakpastian
Resiko untuk setiap keputusan tertentu diartikan sebagai sebaran hasil. Secara sederhana sebaran
hasil dapat ditentukan dengan melihat hasil yang paling kecil hingga yang paling besar. Jika
jarak antara nilai hasil yang paing kecil dengan yang paling besar cukup jauh maka hal itu
memperlihatkan bahwa keputusan yang diambil mempuyai resiko tinggi. Untuk mengukur resiko
dari keputusan alternative tersebut dilakukan dengan membandingkan sebaran hasil yang ungkin
terjadi. Standar deviasi distribusi probabilitas Standar deviasi dari distribusi probabilitas adalah
penyimpangan rata-rata dari semua hasil yang mungkin diharapkan. Deviasi dari nilai yang
diharapkan dibobot dengan probabilitas terjadinya hasil terebut. Karena yang dicari adalah
standar deviasi maka tanda negatif maupun positif diabaikan, oleh karena itu nilai yang kita cari
adalah nilai absolutnya. Untuk menghindari plus dan minus, selisih penyimpangan tersebut
dikuadratkan. Rumus yang digunakan adalah :
Dengan menggunakan rumus diatas maka sandar deviasi merupakan akar dari varian.
Risk averson, risk preference, dan risk neutrality Risk aversion Risk averion merupakan
ketidakpuasan psikis sebagai akibat adanya ketidakpastian, yang digambarkan dngan adanya
sebaran hasil yang mungkin terjadi dpandang sebagai ketidaknyamanan. Risk averter, orang yang
enggan terhadap resiko, karna resko adalah sesuatu yang tidak baik, yang merugikan dan tidak
memuaskan. Untuk menggambarkan hubungan kombinasi antara resiko dan hasil yang
diharapkan maka digunakan kurva indeferen untuk mengetahui tingkat kepuasan yang sama.
Pada gambar diatas sumbu tegak mengambarkan EPV dan sumbu datar menggambarkan resiko.
Pada kombinasi A, EPV sebesar E, dan resiko sebesar SDi.
Diantara I, yang paling baik adalah I1 karena untuk memperoleh E maka resiko yang
dihadapi adalah yang paling kecil yaitu SDi. Risk preference Seseorang yang tergolong risk
preference menganggap bahwa resiko merupakan utility (kepuasan). Hal ini berbanding terbalik
dengan risk averter yang menganggap bahwa resiko adalah disutilities. Oleh kerena itu,
kemiringan kurva indeferen yang dihadapi mempunyai slope negative. Pada gambar tersebut
bahwa risk preference bersedia mengorbankan EPV keuntungan untuk resiko yang tinggi. Risk
neutrality Risk neutrality adalah seseorang yang merasa sama saja atau tidak merasa berbeda
terhadap resiko, baik resiko merugikan maupun menguntungkan tanpa memeperhatikannya,
sehingga kurva indeferenya adalah horizontal.
Penyesuaian Resiko Dalam Pengambilan Keputusan Ada beberapa metode dalam
membandingkan keptusan alternative yaitu sebagai berikut: Kriteria maksimum Kriteria ini
digunakan untuk memilih alternative yang mengandung hasil maksimum. Kriteria ini juga
mendasar pada hasil yang maksimum yang paling jekek, dengan kata lain Kriteria ini mencari
nilai yang paling besar dari nilai yang paling kecil. Kriteria koefisien variasi Arti dari koefesien
variasi adalah rasio standar deviasi dengan EPV. Rasio koefesien variasi distribusi probabilitas
SD/ EPV menunjukan sejumlah rasio per rupiah hasil yang diharapkan. Pengambil keputusan
yang tergolomg risk averter akan memilih keputusan alternative dengan koefisien alternative
yang paling rendah. Kriteria EPV dengan discount rate yang berbeda.
Metode ini merupakan tingkat diskon yang tinggi untuk keputusan alternative yang
tinggi. Opportunity discount rate diartikan sebagai tingkat bunga yang paling baik yang
memberikan penerimaan dengan tingkat resiko yang sama. Kriteria ekuivalen tertentu Ekuivalen
tertentu suatu keputusan alternative adalah sejumlah uang tertentu yang membuat manajer
indeferen antara mengambil keputusan dan menerima sejumlah uang tertentu. Berdasarkan
Kriteria ini maka manajer melakukan seleksi atas keputusan alternative yang memiliki ekuivalen
tertentu yang paling tinggi. Untuk itu hal-hal yang perlu di pertimbangkan dalam memilih
kriteria tersebut yaitu : frekuensi keputusan dengan tipe yang sama yang dihadapi besarnya
taruhan perilaku pengambil keputusan biaya mencari informasi kekurangan informasi yang
dihadapi perusahaan memnyebabkan keputusan alternative yang diambil menjadi tidak pasti.
Kekurangan informasi dapat diantisipasi dengan mencari informasi dan hal tersenut memerlukan
biaya serta waktu. Nilai informasi merupakan perbedaan apa yang diperoleh dari adanya
keputusan yang didasarkan pada informasi disbanding dengan keputusan sebelumnnya. Apabila
biaya yang diperlukan untuk mencari informasi lebih besar dari nilai informasi maka pembuat
keputusan akan menggunakan dasar informasi yang telah ada dan tidak mencari tambahan
informasi.
[Link] pengambilan keputusan dalam ketidakpastian
a.
Teknik Optimasi
optimalisasi mencakup terminologi maksimalisasi output dan minimalisasi input atau biaya.
Pemahaman atas solusi optimal ini dapat diterapkan baik pada kajian tentang perilaku produksi
maupun prilaku konsumsi.
b.
dilakukan manusia, termasuk aktivitas proyek pembangunan dan proyek konstyruksi. Karena
dalam setiap kegiatan, seperti kegiatan konstruksi, pasti ada berbagai ketidakpastian
(uncertainty). Faktor ketidakpastian inilah yang akhirnya menyebabkan timbulnya risiko pada
suatu kegiatan.
c.
Teknik Pendugaan/Peramalan
Tujuan dari peramalan ekonomi adalah untuk mengurangi resiko atau ketidak pastian yang
dihadapi suatu perusahaan dalam pengambilan keputusan operasional jangka pendeknya dan
dalam merencanakan pertumbuhan jangka panjangnya. Teknik peramalan bervariasi dari yang
sederhana dan tidak mahal hingga yang canggih tetapi mahal. Dengan mempertimbangkan
semua keuntungan dan batasan dari berbagai macam teknik ramalan tersebut, manajer dapat
memilih metode atau kombinasi dari metode yang paling cocok dengan perusahaannya.
Peramalan kualitatif dalam didasari oleh survei terhadap rencana para eksekutif bisnis untuk
rencana pengeluaran pembangunan dan peralatan, perubahan inventori, dan harapan penjualan,
serta survei terhadap rencana pengeluaran konsumen. Ramalan penjualan dapat didasari oleh
jajak pendapat terhadap eksekutif perusahaan, tenaga penjual, dan konsumen perusahaan
biasanya meminta pandangan dari pejabat luar negeri atau orang-orang bisnis.
Salah satu metode peramalan yang paling sering digunakan adalah analisis deret waktu. Data
deret waktu biasanya berfluktuasi karena adanya tren sekuler, fluktuasi siklis, variasi musiman,
dan pengaruh acak atau tak beraturan. Bentuk yang paling sederhana dari analisis deret waktu
adalah proyeksi tren. Suatu tren yang linear mengasumsikan perubahan absolut yang konstan
dalam jumlah tertentu setiap periodenya. Kadang eksponensial (menunjukan persentasi
perubahan yang konstan setiap periodenya) lebih cocok dengan data yang ada dengan
memperhatikan variasi musiman, kita dapat meningkatkan ramalan tren secara lebih signifikan.
Peramalan secara meningkat dapat menggunakan metode ekonometrik. Model ini bertujuan
menerangkan hubungan yang akan diramal dan penting untuk menentukan kebijakan yang
optimal. Model peramalan ekonometrik sering menggabungkan teknik peramalan yang lain dan
berkisar antara model persamaan tunggal dari penjualan perusahaan hingga sesuatu yang lebih
besar, model persamaan makro berganda tentang keseluruhan perekonomian. Ramalan dengan
model persamaan tunggal dapat melibatkan pensubstitusian ke dalam persamaan permintaan,
nilai-nilai variabel penjelas atau bebas hasil prediksi untuk periode yang akan diramalkan dan
memecahkan nilai ramalan dari variabel terikat. Dalam model persamaan berganda, nilai estimasi
dari variabel eksogen (yang ditentukan di luar sistem) harus di substitusikan ke dalam model
yang diestimasi untuk menghasilkan ramalan bagi variabel endogen.
Perusahaan dapat juga meramal penjualan dengan menggunakan tabel input output. Tabel input
output menguji ketergantungan diantara berbagai industri dan sektor dalam perekonomian. Hal
tersebut menunjukan penggunaan output setiap industri dan input industri lainnya dan untuk
konsumsi akhir, dengan demikian kita dapat menggunakannya untuk meramal. Peramalan input
output sekarang sudah tidak populer dan tidak digunakan lagi oleh perusahaan saat ini.
Analisis Nilai
Analisa Nilai pertama kali dipromosikan pada Angkatan Darat AS selama perang Korea, tetapi
pihak yang pertama menerapkan teknik tersebut adalah Biro Perkapalan Angkatan Laut AS saat
merencanakan sebuah program untuk mengatur pengurangan biaya pembuatan kapal dan
peralatan perang pada tahap perancangan, program tersebut dikenalkan sebagai Rekayasa Nilai.
Pada tahun pertama penerapan program tersebut diakui telah menghemat biaya sampai 18 juta
dolar. Keberhasilan tersebut mendorong peluncuran program sejenis yang mendatangkan
penghematan substansial di Angkatan Udara AS pada tahun 1955 dan Korps Artileri Angkatan
Darat AS pada tahun 1956. Pada tahun 1959, Sekretaris Negara Pertahanan AS membuat
keputusan untuk mengurangi biaya belanja pertahanan, dengan mendorong penerapan Rekayasa
Nilai sebagai program penurunan
Dari Society of American Value Engineers, mendefinisikan Rekayasa Nilai adalah usaha
yang terorganisasi secara sistematis dan mengaplikasikan suatu teknik yang telah diakui, yaitu
teknik mengidentifikasi fungsi produk atau jasa yang bertujuan memenuhi fungsi yang
diperlukan dengan harga yang terendah (paling ekonomis). Sedangkan menurut E. R. Fisk
(1982), definisi rekayasa nilai yang lebih spesifik untuk proyek adalah:
Rekayasa nilai adalah evaluasi sistematis atas desain-engineering suatu proyek untuk
mendapatkan nilai yang paling tinggi bagi setiap dolar yang dikeluarkan. Selanjutnya, rekayasa
nilai mengkaji dan memikirkan berbagai komponen kegiatan, seperti pengadaan, pabrikasi, dan
konstruksi serta kegiatan-kegiatan lain dalam kaitannya antara biaya terhadap fungsinya, dengan
tujuan mendapatkan penurunan biaya proyek secara keseluruhan.
Pemahaman Rekayasa Nilai dan Analisa Nilai secara umum menurut L.W. Crum dalam
buku Value Engineering The Organised Search for Value : Rekayasa Nilai adalah suatu prosedur
disiplin menuju pencapaian fungsi-fungsi yang diperlukan untuk mencapai biaya minimum tanpa
mengurangi mutu, kehandalan, kemampuan dan distribusi.
Analisa Nilai dalam pengertian yang luas adalah sebuah prosedur disiplin yang diarahkan
menuju penerimaan fungsi-fungsi yang diperlukan untuk mencapai biaya minimal, tanpa
mengurangi mutu, kehandalan, kemampuan dan distribusi. Sedangkan Rekayasa Nilai adalah
pelaksanaan teknik-teknik Analisa Nilai dalam tahap perancangan utama dan pengembangan.
Kontrol nilai adalah prosedur operasi yang digunakan oleh perusahaan untuk memastikan
bahwa pertimbangan nilai akan terus diterapkan secara berkelanjutan. Pengertian biaya minimum
adalah biaya terendah yang dapat diterima untuk melakukan fungsi-fungsi yang telah ditetapkan,
sehingga dapat diketahui besarnya pengeluaran dari biaya tak perlu.
Biaya tak perlu adalah biaya yang tidak menambahkan apa-apa pada nilai suatu produk
atau jasa, atau biaya yang muncul tapi tidak memberikan fungsi tertentu. Dengan adanya
penggunaan istilah biaya tak perlu pada biaya minimum, pengertian Analisa Nilai menjadi :
Analisa Nilai adalah prosedur disiplin yang diarahkan untuk menghilangkan biaya-biaya tak
perlu dari fungsi-fungsi tertentu. Atau dapat disingkat dengan pengertian : Analisa Nilai adalah
prosedur disiplin yang diarahkan untuk menghilangkan biaya-biaya tak perlu dari setiap produk
atau jasa. Pengertian tersebut menekankan pada biaya, yang bila dipahami dan dikenali akan
memberikan langkah awal yang baik pada usaha pencapaian nilai. Dengan demikian rekayasa
nilai bertujuan memberi sesuatu yang optimal untuk setiap uang yang dikeluarkan, dengan
teknik-teknik Rekayasa Nilai. Definisinya menurut Crum (1971), adalah sebagai berikut :
Teknik-teknik Rekayasa Nilai adalah panduan yang direkomendasikan, digunakan untuk
keberhasilan praktek dari Rekayasa Nilai dan Analisa Nilai.
Teknik-teknik dalam Rekayasa Nilai adalah panduan yang memungkinkan dapat
dicapainya nilai yang baik.
17
2.5 LANGKAH PELAKSANAAN
Menurut Soeharto (2001), proses pelaksanaan rekayasa nilai mengikuti suatu
metodologi berupa langkah sistematis berupa Rencana Kerja Rekayasa Nilai (RK-RN)
(value engineering job plan). Dengan urutan; Mendefinisikan Masalah, Merumuskan
Pendapat, Kreativitas, Analisis, dan Penyajian. Sebenarnya terdapat bermacam interpretasi
terhadap urutan langkah RK-RN, seperti yang pada tabel berikut, yang disusun oleh L.
Miles dan Department Of Defense USA (DOD), dengan sistematika dan pendekatan
yang sama.
Robinson, L.J. dan P. J. Barry. 1987. The Competitive Firms Response to Risk.
Macmillan Publisher. London.
Debertin, D.L. 1986. Agricultural Production Economics. Macmillan Publishing
Company. New York.
Debertin, D.L. 1986. Agricultural Production Economics. Macmillan Publishing
Company. New York
Fahmi,[Link] [Link]
Djohanputro, Bramantyo, 2006. Prinsip-Prinsip Ekonomi Makro. Cet.I. Penerbit
PPM: Jakarta.
Ramli, Soehatman. Sistem Manajemen Keselamatan & Kesehatan Kerja
OHSAS 18001. Jakarta : Dian Rakyat, 2010.