A.
Definisi
Polycystic Ovarian Syndrome (PCOS) adalah suatu kelainan
heterogen berupa anovulasi kronik dan hiperandrogenik yang tidak dapat
dijelaskan penyebabnya, di mana semua penyebab sekunder (neoplasma
yang mensekresi androgen) telah disingkirkan (Cunningham., 2006).PCOS
bukanlah suatu penyakit namun merupakan suatu kumpulan gejala (POGI,
2006) dengan karakteristik berupa adanya anovulasi persisten dan
manifestasi klinis berupa kista multipel pada ovarium, amenore sekunder
atau oligomenore dan infertilitas (Norwitzt et al., 2006).
B. Etiologi
Etiologi PCOS masih belum diketahui, dan tidak ada gen atau
substansi lingkungan spesifik yang terbukti mengakibatkan terjadinya PCOS
(Norwitzet
al.,
2006),
meskipun
beberapa
penelitian
mencoba
menghubungkan kejadian PCOS dengan pengaruh genetik melalui aktifitas
5-reduktase (Cunningham, 2006).
Menurut POGI (2006) penyebab terbanyak PCOS adalah akibat
adanya gangguan [Link] hormonalberupa resistensi insulin,
adanya deposit lemak sentral(obesitas) dan Diabetes Mellitus tipe 2 sering
dianggap berhubungan dengan kejadian PCOS pada wanita usia subur
(Cunningham, 2006).
C. Faktor resiko
Faktor Resiko PCOS yaitu (Benson dan Pernoll, 2009) :
1. Riwayat PCOS dalam keluarga
Bila dalam satu keluarga terdapat penderita PCOS maka
kemungkinan terjadinyaPCOS adalah 50%. PCOS dapat diturunkan dari
pihak bapak atau ibu kepada anaknya.
2. Riwayat keluarga dengan diabetes diperkirakan juga akan meningkatkan
resikoterjadinya PCOS oleh karena ada hubungan yang sangat kuat
antara kejadian diabetes dan PCOS.
3. Resistensi insulin
Resistensi insulin menyebabkan kenaikan kadar gula darah dan
diabetes. Lebih dari 40%penderita SOPK menunjukkan adanya resistensi
insulin, dan lebih dari 10% diantaranyaakan menderita diabetes melitus
tipe 2 saat berusia sekitar 40 tahun. Kadar insulinyang tinggi seperti ini
dapat meningkatkan kadar hormon pria sehingga keluhan SOPKmenjadi
semakin [Link] akibat dari resistensi insulin mengacu pada
metabolisme [Link] akibat adanya hiperinsulinemia adalah
peningkatan kerja insulin danmenyebabkan efek-efek yang berlebihan
pada organ lain termasuk stimulasi sekresiandrogen ovarium oleh sel-sel
adrenal. Insulin juga dapat menurunkan produksi sexhormone-binding
globulin (SHBG) di liver.
4. Obesitas
Pada wanita pascamenopause, kebanyakan estrogen berasal dari
perubahanandrostenedion
menjadi
estron
pada
jaringan
lemak.
Kecepatan perubahan ini 15-20kali lebih besar pada wanita gemuk. Oleh
karena itu, estrogen dalam darah wanitagemuk diketahui lebih tinggi.
Kadar estrogen yang tinggi diyakini dapat meningkatkanresiko polikistik
5.
ovarium.
Menstruasi terlalu dini (Menarche)
Wanita yang mulai menstruasi pada usia di bawah usia 12 tahun
memiliki resiko yanglebih tinggi karena adanya peningkatan waktu
paparan dinding rahim terhadapestrogen.
6. Tingkat kesuburan.
7. Hipotoroid atau hormon yang tidak seimbang.
D. Manifestasi klinis
Awal perubahan hormon yang menyebabkan PCOS terjadi pada masa remaja
setelah menarche. Gejala akan menjadi jelas setelah berat badan meningkat
pesat. Gejala yang timbul dapat bervariasi mulai dari tanpa gejala sama
sekali sampai gejala seperti infertilitas, anovulasi kronik yang ditandai
dengan amenorea, oligomenorea, gangguan haid atau perdarahan uterus
disfungsional, jerawat, hirsutisme atau maskulinisasi, dan obesitas.
1. Kelainan menstruasi
Pasien dapat mengeluh adanya oligomenorrhea, dimana
siklus
menstruasinya menjadi sangat lama yaitu antara 35 hari sampai dengan 6
bulan, dengan
periode menstruas i< 9 per tahun. Dapat terjadi
amenorrhea sekunder dimana ada fase tidak adanya menstruasi selama 6
bulan, dapat pula terjadi episode menometrorrhagia dengan anemia. Pada
PCOS sekresi estrogen berlangsung lama dan tidak disertai ovulasi.
Sekresi tersebut juga tidak diimbangi oleh progesteron yang selanjutnya
akan mempengaruhi pelepasan gonadotropin kelenjar hipofise. Umpan
balik yang dihasilkan dari estrogen yang normal dapat mengakibatkan
peningkatan sekresi LH. Peningkatan LH akan menstimulasi sel teka
ovarium untuk menghasilkan androgen dalam jumlah besar, akan tetapi
sekresi FSH sangat ditekan. Kurangnya stimulasi oleh FSH menyebabkan
kegagalan perkembangan folikel, tidak adekuatnya induksi terhadap
enzim aromatisasi yang penting untuk pembentukan estradiol serta
menyebabkan kegagalan ovulasi.
2. Kelainan hiperandrogenisme
a. Hirsutisme
Pada wanita, hirsutisme didefinisikan sebagai adanya rambut terminal
yang gelap dan kasar yang berdistribusi sesuai pola rambut pada lakilaki. Rambut sering terlihat di atas bibir, dagu, sekeliling putting susu,
dan sepanjang linea alba abdomen. Beberapa pasien dapat mengalami
perkembangan karakterisktik seks pria (virilisasi) lainnya seperti
penurunan ukuran dada, suara berat, peningkatan massa otot,
pembesaran klitoris. Untuk menentukan derajat hirsutisme dapat
digunakan system scoring Ferriman-Gallwey. Pada system ini,
distribusi rambut yang abnormal dinilai pada 9 bagian area tubuh dan
dinilai dari angka 0-4.
Gambar [Link] yang abnormal padahirsutisme
3.
Resistensi insulin
Resistensi insulin adalah berkurangnya respons glukosa terhadap insulin.
Sindrom metabolic atau juga disebut sindrom resistensi insulin merupakan
suatu kumpulan faktor-faktor resiko yang bertanggung jawab terhadap
peningkatan morbiditas penyakit kardiovaskuler. Pada keadaan resistensi
insulin dan obesitas, komponen utama dari sindrom metabolic adalah:
Hipertensi
Kadar Triglyceride
Kadar HDL-kolesterol
Obesitas abdominal
Glukosapuasa
130/85 mmHg
150 mg/dL
50 mg/dL
Lingkarpinggang 35 inci
110 mg/dL
Banyak mekanisme yang menjelaskan terjadinya resistensi insulin, yaitu
resistensi target jaringan perifer,
penurunan pengeluaran hepar atau
peningkatan sensitifitas pancreas. Hiperinsulinemia dapat mencetuskan
hipertensi
dan
meningkatkan
resiko
penyakit
jantung
coroner
.Hiperinsulinemia dan sindrom ovarium polikistik juga berhubungan dengan
peningkatan produksi plasminogen activator inhibitor type-1 (PAI-1) yang
dapat meningkatan resiko penyakit jantung coroner (Cibul, 2000).
E. Patogenesis
Patogenesis PCOS diduga bahwa defek primer kemungkinan
karena adanya resistensi insulin yang menyebabkan hiperinsulinemia (David,
2005).
Konsentrasi insulin dan LH didalam sirkulasi secara umum akan
meningkat. Sel theca yang membungkus folikel dan memproduksi androgen
yang nantinya akan dikonversi menjadi estrogen didalam ovarium menjadi
sangat aktif dan responsif terhadap stimulasi LH. Sel theca akan lebih besar
dan akan menghasilkan androgen lebih banyak. Sel-sel theca yang hiperaktif
ini akan terhalang maturasinya sehingga akan menyebabkan sel-sel granulosa
tidak
aktif
dan
aktifitas
aromatisasinya
menjadi
minimal. Akibat
ketidakmatangan folikel-folikel tersebut maka terjadi pembentukan kistakista dengan diameter antara 2-6mm dan masa aktif folikel akan memanjang,
sehingga akan terbentuk folikel-folikel baru sebelum folikel yang lain mati.
Folikel-folikel tersebut akan berbentuk seperti kista yang dilapisi oleh sel-sel
theca yang hiperplastik yang mengalami liteinasi sebagai respon peningkatan
kadar LH (David, 2005).
Gambar 2.1Patomekanisme Sindroma Ovarium Polikistik (David, 2005)
Dalam patogenesis PCOS resistensi insulin telah memperoleh peran penting
dalam beberapa waktu. Insulin adalah hormon yang diperlukan oleh sel untuk
mendapatkan energi dari glukosa. Namun kadang-kadang sel tidak menunjukkan
respon yang memadai terhadap aktivitas insulin. Keadaan ini disebut sebagai
resistensi insulin.
Resistensi insulin menyebabkan kenaikan kadar gula darah dan diabetes.
Lebih dari 40% penderita PCOS menunjukkan adanya resistensi insulin, dan
lebih dari 10% diantaranya akan menderita diabetes melitus tipe 2 saat berusia
sekitar 40 tahun.. Kadar insulin yang tinggi seperti ini dapat meningkatkan kadar
hormon pria sehingga keluhan PCOS menjadi semakin parah.
Gangguan akibat dari resistensi insulin mengacu pada metabolisme glukosa.
Kompensasi akibat adanya hiperinsulinemia adalah peningkatan kerja insulin dan
menyebabkan efek-efek yang berlebihan pada organ lain termasuk stimulasi
sekresi androgen ovarium oleh sel-sel adrenal. Insulin juga dapat menurunkan
produksi sex hormone-binding globulin (SHBG) di liver (Brassard, 2008).
F. TERAPI SINDROM OVARIUM POLIKISTIK
Terdapat beberapa aspek yang perlu dipertimbangkan ketika mengevaluasi
dan mengobati PCOS. Pengobatan terapi bertujuan, pertama melancarkan
siklus haid dan mengembalikan kesuburan, kedua merubah gangguan
metabolik glukosa dan metabolisme lipid, ketiga mengidealkan berat badan
karena kejadiannya berhubungan dengan kesakitan dan keempat untuk
mengatasi aspek psikologis. Pengobatan PCOS adalah bersifat simptomatis.
Merubah gaya hidup adalah terapi utama pada PCOS (Norman, 2002).
1. intolerasi glukosa
Intoleransi glukosa dapat diatur dengan diet dan olahraga, dan
pengontrolan berat badan adalah yang paling tepat. Metformin dapat
mengubah sensitifitas insulin dan metabolisme glukosa dan memperbaiki
hiperandrogenisme dan haid yang tidak teratur. Metformin juga
bermanfaat untuk menormalkan lipid.
Terapi metformin dimulai pada dosis yang rendah yang diminum saat
makan,dan dosis ini ditingkatkan secara progresif. Pasisen-pasien diberi
metformin 500 mg sekali/hari diminum saat makan besar, biasanya
makan malam selama 1 minggu kemudian ditingkatkan
menjadi
2kali/sehari ,bersama sarapan dan makan malam, selama 1 minggu
kemudian dosis dinaikkan 500 mg saat sarapan dan 1000 mg saat makan
malam selama 1 minggu dan akhirnya dosis ditingkatkan menjadi 1000
mg 2kali/hari saat sarapan dan makan malam. Tidak terdapat penelitian
mengenai kisaran dosis metformin padasindrom ovarium polikistik, tapi
penelitian kisaran dosis pada pasien diabetes menggunakan kadar
hemoglobin glukosa sebagai pengukur outcome, menunjukkan bahwa
dosis 2000 mg per hari sudah optimal.
Efek samping ringan yang dialami seperti gejala gangguan sistem
pencernaan (mual, rasa logam di mulut, dan perubahan frekuensi buang
air besar) dapat terjadi pada 5-10% kasus, tapi obat dapat ditoleransi
dengan baik jika peningkatan dilakukan secara bertahap. Komplikasi
yang paling ditakutkan adalah asidosis laktat yang untungnya terjadi
sangat jarang dan hampir selalu berhubungan dengan kondisi hipoksia
yang menjadi kontraindikasi terapi dengan metformin (Nestler, 2008)
2. Infertilitas
Pengobatan terhadap infertilitas akibat gangguan ovulasi terdiri dari
bermacam-macam modalitas. Cara konvensional yang paling sering
dilakukan
adalah
induksi
ovulasi
dengan
preparat
anti
estrogen clomiphene citrate (CC). Preparat lain yang juga sering
digunakan termasuk preparat gonadotropin (Human Menopausal
Gonadotropin). Cara bedah untuk memicu ovulasi seperti tusukan
elektrokauter pada ovarium (TEKO)/ovarian drilling dengan laparoskopi
juga mulai banyak digunakan karena diperkirakan angka keberhasilan
untuk hamil lebih tinggi dibandingkan dengan terapi konvensional
Terapi lini utama yang dapat diberikan untuk menginduksi ovulasi dan
infertilitas pada pasien PCOS diantaranya metformin dan CC, dapat
diberikan tunggal atau kombinasi.
Clomiphene citrate merupakan estrogen lemah sintetis yang meniru
aktivitas antagonis estrogen bila diberikan pada dosis farmakologi khas
untuk induksi ovulasi. Fungsi hipofise-hipotalamus-ovarium axis
diperlukan untuk kerja CC yang tepat. Lebih khusus lagi, CC
diperkirakan dapat mengikat dan memblokir reseptor estrogen di
hipotalamus untuk periode yang lama, sehingga mengurangi umpan balik
estrogen normal hipotalamus-ovarium. Blokade ini meningkatkan jumlah
GnRH di beberapa wanita yang anovulatoir. Peningkatan kadar GnRH
menyebabkan
peningkatan
sekresi
hipofise
gonadotropin,
yang
memperbaiki perkembangan folikel ovarium. Clomiphene citrate juga
dapat mempengaruhi ovulasi melalui tindakan langsung pada hipofisis
atau
ovarium.
Sayangnya,
efek
antiestrogen
CC
pada
tingkat
endometrium atau serviks memiliki efek yang merugikan pada kesuburan
pada sebagian kecil individu. Penggunaan CC untuk induksi ovulasi
memiliki hasil yang sangat baik. Bahkan, pada beberapa populasi, 80%
hingga 85% wanita akan berovulasi dan 40% akan hamil
Pada wanita dengan sindrom ini, terapi jangka panjang dengan metformin
dapat meningkatkan ovulasi, memperbaiki siklus menstruasi, dan
menurunkan kadar androgen serum serta penggunaan metformin juga
dapat memperbaiki hirsutism (Nestler, 2008).
Daftar pustaka
Benson, P., Pernoll. 2009. Buku Saku Obstetry Gynecology William. Jakarta: EGC
Brassard, maryse. Et all. Basic Infertility Including Polycystic Ovary Syndrom .Med
Clin N Am;2008: 92 : 11631192.
Cunningham, F. G. 2006. Obstetry Gynecology William. Jakarta: EGC
Cibula D, Cifkova R, Fanta M, et al. Increased risk of non-insulin dependent diabetes
mellitus, arterial hypertension and coronary artery disease in perimenopausal women
with a history of the polycystic ovary syndrome. Hum Reprod 2000;15(4):785-9.
David, A. Ehrmann. Polycystic ovary syndrome. [Link] 2005; 352:1223-36
Nestler JE. Metformin for the treatment of the polycystic ovary syndrome. N Engl J
Med 2008; 358: 4754.
Norman RJ, Davies MJ, Lord J, Moran LJ. The role of lifestyle modification in
polycystic ovary syndrome. Trends Endocrinol Metab. 2002;13: 251257.
Norwitz, E., Jhon, S (2006). At a Glance Obstetri & Ginekologi ed 2. Jakarta: Erlangga
Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI). 2006. Standar Pelayanan
Medis Obstetri dan Ginekologi di Indonesia. Jakarta: Indonesia