0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
26 tayangan22 halaman

Risiko Bunuh Diri dalam Keperawatan Jiwa

Laporan ini membahas risiko bunuh diri dengan fokus pada etiologi, gejala, dan faktor-faktor risiko. Beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko bunuh diri adalah depresi, gangguan psikologis, penyalahgunaan zat, dan riwayat keluarga dengan bunuh diri. Perawat perlu memperhatikan tanda-tanda seperti perubahan mood, isolasi diri, dan rencana bunuh diri saat menilai risiko pasien.

Diunggah oleh

ela
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
26 tayangan22 halaman

Risiko Bunuh Diri dalam Keperawatan Jiwa

Laporan ini membahas risiko bunuh diri dengan fokus pada etiologi, gejala, dan faktor-faktor risiko. Beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko bunuh diri adalah depresi, gangguan psikologis, penyalahgunaan zat, dan riwayat keluarga dengan bunuh diri. Perawat perlu memperhatikan tanda-tanda seperti perubahan mood, isolasi diri, dan rencana bunuh diri saat menilai risiko pasien.

Diunggah oleh

ela
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN PENDAHULUAN KEPERAWATAN JIWA

RESIKO BUNUH DIRI

Dosen Pembimbing :
Disusun Untuk Memenuhi Mata Kuliah Stase Jiwa

Oleh (Kelompok 2) :
1. Emi Rahmawati

6. Itha Kartika Ardina

2. Kristianto Dwi. N

7. Fitri Haryati

3. Lailatun Nurul C.

8. Putri Kumalasari

4. Rizky Asriningati

9. Alif Praningrum Miftahul Habib

5. Rida Pratika Sari

PROGRAM PROFESI NERS ANGKATAN XXVI


JURUSAN KEPERAWATAN FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS DIPONEGORO
2015

LAPORAN PENDAHULUAN
A. Masalah Utama
Risiko Perilaku Bunuh Diri
B. Teori
1. Pengertian Bunuh Diri
Bunuh diri adalah suatu tindakan yang dilakukan dengan sengaja
untuk membunuh dirinya sendiri (Sheila L, 2008). Risiko bunuh diri adalah
suatu kondisi ketika individu berisiko untuk membunuh dirinya sendiri
(Carpenito, 2009).
Menurut penelitian bunuh diri dibagi menjadi dua yaitu langsung dan
tidak langsung. Bunuh diri langsung adalah suatu tidakan yang disadari atau
disengaja untuk mengakhiri hidupnya dengan cara membakar diri, maracuni
diri sendiri, melompat dari tempat yang tinggi, mengantung diri dan lain
sebagainya. Sedangkan bunuh diri tidak langsung adalah suatu keinginan
yang tersembunyi yang tidak sadari untuk mati seperti makan berlebihan,
ketidakpatuhan terhadap program medis, olahraga atau pekerjaan yang
2.

3.

membahayakan diri sendiri (Sheila L, 2008).


Etiologi
Penyebab tentang mengapa seseorang melakukan bunuh diri (Wong, 2009) :
a. Remaja dengan emosional yang tinggi dan bergejolak
b. Memiliki variasi mood yang besar
c. Tidak mampu mengatasi situasi kritis, seperti kematian seorang teman,
d.

orang tua atau saudara kandung


Adanya gangguan psikiatrik aktif (depresi, gangguan bipolar, psikosis,

e.

penyalahguanaan zat, atau gangguan perilaku)


Remaja yang gay atau lesbian berisiko tinggi untuk melakukan bunuh

diri
f. Perasaan terisolasi, dapat terjadi karena kehilangan hubungan
g. Kegagalan beradaptasi, sehingga tidak dapat menghadapi stres.
Tanda Dan Gejala
Tanda atau peringatan terjadinya bunuh diri (Boyd,2012)
I/ideation

: mengucapkan/menulis rencana mati, bunuh diri,

S/Subtance abuse
P/Purposelessness
A/Anxiety
T/Trapped
H/Hopelessness
W/Withdrawal
A/Anger
R/Recklessness

kematian
: Peningkatan penggunakan alkohol/obat
: Merasa tidak berdaya, hidup tiada guna
: Ansietas, agitasi, tidak bisa tidur
: Merasa terpojok
: Menarik diri dari teman keluarganya, lingkungan
: Kemarahan, amarah yang tidak terkontrol,
pembalasan dendam
: Acting reckless (berperilaku sembrono)/engaging
in risky activites (melakukan kegiatan yang

M/Mood chage

4.

berisiko)
: Perubahan mood yang dramatis

Gejala yang timbul pada pasien risiko bunuh diri (Carpenito,2009)


a. Ansietas
b. Depresi
c. Isolasi/manarik diri
d. Fungsi sehari-hari
e. Gaya hidup
f. Penggunaan alkohol/obat
g. Usaha bunuh diri sebelumnya
h. Kejadian terkait
i. Tujuan tindakan
j. Reaksi dan struktur keluarga
k. Rencana bunuh diri (metode, lokasi, waktu)
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pemikiran Bunuh Diri.
Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi pemikiran seseorang untuk
bunuh diri (Nelson, 2000)
a. Depresi
b. Keasikan dengan kematian
c. Faktor psikopatologik umum.
Sedangkan adapun beberapa faktor yang mempengaruhi yaitu
(Sujono&Teguh, 2009):
a. Faktor Predisposisi
1) Diagnosa medis; gangguan jiwa

Diagnosa medis dengan gangguan jiwa yang memiliki risiko


tinggi untuk bunuh diri yaitu gangguan afektif, penyalahgunaan zat
dan schizophrenia.
2) Sifat kepribadian
Sifat kepribadian yang meningkatkan risiko bunuh diri yaitu
suka bermusuhan, impulsif, kepribadian antisosial dan depresif.
3) Lingkungan psikosial
Individu yang mengalami kehilangan dengan proses berduka
yang berkepanjangan akibat perpisahan atau bercerai, kehilangan
barang dan kehilangan dukungan sosial merupakan faktor penting
yang mempengaruhi individu untuk melakukan tindakan bunuh diri.
4) Riwayat keluarga
Keluarga yang pernah melakukan bunuh diri dan konflik yang
terjadi dalam keluarga merupakan faktor penting untuk melakukan
bunuh diri.
5) Faktor biokimia
Menurunnya neurotransmitter serotonin, opiat dam dopamin
dapat menimbulkan perilaku destruktif-diri.
b. Faktor Presipitasi
1) Sumber koping
Perlu diperhatikan dukungan yang diberikan masyarakat atau
keluarga terhadap pasien. Hal lain yang perlu dikaji adalah cara
pasien mengatasi masalah.
2) Mekanisme koping
Mekanisme pertahanan diri yang dimiliki tiap individu
berbeda-beda. Adapun mekanisme koping yang berhubungan
dengan perilaku mencederai diri tidak langsung berupa: denial,
rasionalisasi, intelektual dan regresi.
3) Intensitas bunuh diri
Intensitas bunuh diri dapat dikaji dengan menggunakan SIRS
(Suicidal

Intention

Rating

Scale).

Adapun

SIRS

tersebut

diungkapkan oleh Bailey dan Dreyer. Berikut merupakan tabel


SIRS:

Skor/Nilai
Intensitas
0
Tidak ada ide bunuh diri yang lalu atau sekarang.
1
Ada ide bunuh diri, tidak ada percobaan bunuh

5.

diri, tidak mengancam bunuh diri.


Memikirkan bunuh diri dengan aktif, tidak ada

percobaan bunuh diri.


Mengancam bunuh diri, misalnya: tinggalkan

saya sendiri atau saya akan bunuh diri.


Aktif mencoba bunuh diri.

Proses perilaku bunuh diri


Menurut (Stuart & Sundeen,2006):
Peningkatan verbal/nonverbal
Peningkatan untuk melakukan bunuh diri
Ancaman bunuh diri
Ambivelensi tentang kematian
kurangnya respon positif
Upaya bunuh diri
BUNUH
DIRI

Menurut (Farida&Yudi, 2010):


Akibat
Risiko Tinggi Mencederai Diri/ Orang Lain
Defisit Perawatan Diri
Akibat

Perubahan sensori persepsi : halusinasi


Kurang motivasi

Masalah utama

Isolasi sosial : menarik diri


Isolasi diri : menarik diri

Penyebab
6.

Harga diri rendah

Faktor risiko untuk bunuh diri


Faktor-faktor yang mempengaruhi untuk terjadinya perilaku bunh diri ialah
(Residen, 1997; Boyd, 2012)
a. Faktor risiko epidemiologik
1) Berpisah, bercerai, janda > sendiri > kawin
2) Berumur lebih dari 45 tahun
3) Pria > wanita
4) Lelaki amerika/ amerika lain
5) Remaja wanita hispanik/ amerika latin
6) Kulit putih > non kulit putih
7) Beru kehilangan (yang dicintai, kesehatan, pekerjaan)
b. Data historik
1) Riwayat keluarga dengan perilaku bunuh diri
2) Usaha atau perilaku bunuh diri sebelumnya
c. Keadaan medis penyerta
1) Keadaan sakit kronis atau terminal
2) Nyeri kronik
3) Kelainan psikiatrik
4) Ada anggota keluarga yang melakukan bunuh diri
5) Penyakit fisik berkepanjangan
d. Keadaan psikopatologik mutakhir
1) Kontrol implus yang buruk
2) Psikosis atau organiitis
3) Depresi
4) Penyalahgunaan obat atau alkohol
5) Gangguan kepribadian
e. Perilaku bunuh diri
1) Keinginan atau catatan bunuh diri tertulis
2) Ketidakmampuan untuk komitmen terhadap pengobatan
3) Konteks risiko tinggi (tinggal sendiri, tidak ada dukungan sosial
f.

Tidak bisa dicegah


1) Perilaku impulsif
2) Isolasi
3) Pemikiran psikotik
4) Penggunaan alkohol/obat-obatan
C. Pohon Masalah

Risiko mencederai diri sendiri,


orang lain dan lingkungan

Risiko bunuh diri

Harga diri rendah


D. Masalah Keperawatan dan Data yang perlu Dikaji
Informasi harus didapatkan dari individu yang bersangkutan dan orang
terdekat dari pasien tersebut. Perawat tidak perlu ragu untuk menanyakan atau
mengajukan pertanyaan mengenai bunuh diri karena orang yang tidak memliki
pemikiran bunuh diri tidak akan terbawa oleh pemikiran tersebut karena
pertanyaan yang diajukan. Pertanyaan untuk mengkaji risisko bunuh diri pada
indivisu harus berfokus pada upaya mendorong individu menyampaikan perasaan
dan persepsinya tentang masa depan (Carpenito, 2009).
Adapun kriteria pengkajian yang fokus terhadap risiko bunuh diri yaitu
(Carpenito, 2009) :
1. Kekakuan pikiran
Penyamaran yang berlebihan
2. Pola bicara
a. Sesuai
b. Lompat dari satu topik ke topik lain
c. Tidak ada ide
d. Tidak mampu membuat keputusan
e. Ide ide tidak saling berhubungan
f. Tidak mampu melihat alternatif
3. Kecepatan bicara
a. Sesuai
b. Berkurang
c. Berlebihan
d. Tertekan
4. Reaksi orang terdekat
a. Mengabaikan ekspresi bunuh diri
b. Meninggalkan atau mengalihkan ekspresi berikutnya

c. Marah atas ekspersi tersebut


5. Aktivitas sehari-hari
a. Mampu merawata diri sendiri
b. Terhambat kemampuan merawat diri
6. Pola tidur-istirahat
a. Perubahan terbaru
b. Insomnia
c. Terjaga awal
d. Terlalu banyak tidur
7. Aktivitas motorik
a. Dalam batas normal
b. Menurun
c. Berulang
d. Meningkat
e. agitasi
8. Status nutrisi
a. Berat badan (peningkatan/penurunan)
b. Nafsu makan
9. Higienen personal
a. Kebersihan
b. Kerapian
c. Pakaian (kondisi, kesesuaian)
10. Bukti perilaku membahayakan diri
a. Sayatan pada pergelangan tangan
b. Luka bakar pada tubuh
c. Patah tulang
d. Enukleasi mata
e. Luka tembak
f. Overdosis

SP
PADA PASIEN DENGAN RISIKO BUNUH DIRI
Bunuh diri merupakan tindakan yang secara sadar dilakukan oleh pasien untuk
mengakhiri kehidupannya. Berdasarkan besarnya kemungkinan pasien melakukan
bunuh diri, kita mengenal tiga macam perilaku bunuh diri, yaitu:
1. Isyarat bunuh diri
Isyarat bunuh diri ditunjukkan dengan berperilaku secara tidak langsung
ingin bunuh diri, misalnya dengan mengatakan: Tolong jaga anak-anak karena
saya akan pergi jauh! atau Segala sesuatu akan lebih baik tanpa saya. Pada
kondisi ini pasien mungkin sudah memiliki ide untuk mengakhiri hidupnya,
namun tidak disertai dengan ancaman dan percobaan bunuh diri. Pasien umumnya
mengungkapkan perasaan seperti rasa bersalah / sedih / marah / putus asa / tidak
berdaya. Pasien juga mengungkapkan hal-hal negatif tentang diri sendiri yang
menggambarkan harga diri rendah.
2. Ancaman bunuh diri
Ancaman bunuh diri umumnya diucapkan oleh pasien, berisi keinginan untuk
mati disertai dengan rencana untuk mengakhiri kehidupan dan persiapan alat
untuk melaksanakan rencana tersebut. Secara aktif pasien telah memikirkan
rencana bunuh diri, namun tidak disertai dengan percobaan bunuh diri. Walaupun
dalam kondisi ini pasien belum pernah mencoba bunuh diri, pengawasan ketat
harus dilakukan. Kesempatan sedikit saja dapat dimanfaatkan
melaksanakan rencana bunuh dirinya.

pasien untuk

3. Percobaan bunuh diri


Percobaan bunuh diri adalah tindakan pasien mencederai atau melukai diri
untuk mengakhiri kehidupannya. Pada kondisi ini, pasien aktif mencoba bunuh
diri dengan cara gantung diri, minum racun, memotong urat nadi, atau
menjatuhkan diri dari tempat yang tinggi.
Berdasarkan jenis-jenis bunuh diri diatas dapat dilihat data-data yang harus
dikaji pada tiap jenisnya. Setelah melakukan pengkajian, perawat dapat
merumuskan diagnosa keperawatan berdasarkan tingkat risiko dilakukannya
bunuh diri. Jika ditemukan data bahwa pasien menunjukkan isyarat bunuh diri,
masalah keperawatan yang mungkin muncul adalah: Harga diri rendah. Bila
ORIENTASI
perawat telah merumuskan masalah ini, maka tindakan keperawatan yang paling
Selamat pagi A kenalkan saya adalah perawat B yang bertugas diPuskesmas ..., saya
utama dilakukan
adalah
meningkatkan
melakukan
kunjungan
rutin
ke sini. harga diri pasien.
Bagaimana
perasaan A hari
ini?
SP
1 Pasien: Percakapan
untuk
melindungi pasien dari percobaan bunuh diri
Bagaimana kalau kita bercakap-cakap tentang apa yang A rasakan selama ini. Dimana
dan berapa lama kita bicara?
KERJA
Bagaimana perasaan A setelah bencana ini terjadi? Apakah dengan bencana ini A
merasa paling menderita di dunia ini? Apakah A kehilangan kepercayaan diri? Apakah A
merasa tak berharga atau bahkan lebih rendah daripada orang lain? Apakah A merasa
bersalah atau mempersalahkan diri sendiri? Apakah A sering mengalami kesulitan
berkonsentrasi? Apakah A berniat untuk menyakiti diri sendiri, ingin bunuh diri atau
berharap bahwa A mati? Apakah A pernah mencoba untuk bunuh diri? Apa sebabnya,
bagaimana caranya? Apa yang A rasakan? Jika pasien telah menyampaikan ide bunuh
dirinya, segera dilanjutkan dengan tindakan keperawatan untuk melindungi pasien,
misalnya dengan mengatakan: Baiklah, tampaknya A membutuhkan pertolongan segera
karena ada keinginan untuk mengakhiri hidup. Saya perlu memeriksa seluruh isi kamar
A ini untuk memastikan tidak ada benda-benda yang membahayakan A.
Nah A, Karena A tampaknya masih memiliki keinginan yang kuat untuk mengakhiri
hidup A, maka saya tidak akan membiarkan A sendiri.
Apa yang A lakukan kalau keinginan bunuh diri muncul ? Kalau keinginan itu muncul,
maka untuk mengatasinya A harus langsung minta bantuan kepada perawat di ruangan
ini dan juga keluarga atau teman yang sedang besuk. Jadi A jangan sendirian ya, katakan
pada perawat, keluarga atau teman jika ada dorongan untuk mengakhiri kehidupan.
Saya percaya A dapat mengatasi masalah, OK A?
TERMINASI
Bagaimana perasaan A sekarang setelah mengetahui cara mengatasi perasaan ingin
bunuh diri?
Coba A sebutkan lagi cara tersebut
Saya akan menemani A terus sampai keinginan bunuh diri hilang
( jangan meninggalkan pasien )

2. Tindakan keperawatan untuk keluarga dengan pasien percobaan bunuh diri


a. Tujuan: Keluarga berperan serta melindungi anggota keluarga yang
mengancam atau mencoba bunuh diri
b. Tindakan:
1)

Menganjurkan keluarga untuk ikut mengawasi pasien serta jangan


pernah meninggalkan pasien sendirian

2)

Menganjurkan keluarga untuk membantu perawat menjauhi barangbarang berbahaya disekitar pasien

3)

Mendiskusikan dengan keluarga ja untuk tidak sering melamun sendiri

4)

Menjelaskan kepada keluarga pentingnya pasien minum obat secara


teratur

SP 1 Keluarga: Percakapan dengan keluarga untuk melindungi pasien yang


mencoba bunuh diri
ORIENTASI
Selamat pagi Bapak/Ibu, kenalkan saya B yang merawat putra bapak dan ibu.
Bagaimana kalau kita berbincang-bincang tentang cara menjaga agar A tetap selamat
dan tidak melukai dirinya sendiri. Bagaimana kalau di sini saja kita berbincangbincangnya Pak/Bu?Sambil kita awasi terus A.
KERJA
Bapak/Ibu,A sedang mengalami putus asa yang berat karena kehilangan sahabat
karibnya akibat bencana yang lalu, sehingga sekarang A selalu ingin mengakhiri
hidupnya. Karena kondisi A yang dapat mengakiri kehidupannya sewaktu-waktu, kita
semua perlu mengawasi A terus-menerus. Bapak/Ibu dapat ikut mengawasi ya..pokoknya
kalau alam kondisi serius seperti ini A tidak boleh ditinggal sendidrian sedikitpun
Bapak/Ibu bisa bantu saya untuk mengamankan barang-barang yang dapat digunakan
A untuk bunuh diri, seperti tali tambang, pisau, silet, tali pinggang. Semua barangbarang tersebut tidak boleh ada disekitar A. Selain itu, jika bicara dengan A fokus
pada hal-hal positif, hindarkan pernyataan negatif.
Selain itu sebaiknya A punya kegiatan positif seperti melakukan hobbynya bermain
sepak bola, dll supaya tidak sempat melamun sendiri
TERMINASI
Bagaimana perasaan bapak dan ibu setelah mengetahui cara mengatasi perasaan ingin
bunuh diri?
Coba bapak dan ibu sebutkan lagi cara tersebutBaik, mari sama-sama kita temani A,
sampai keinginan bunuh dirinya hilang.
Isyarat Bunuh Diri dengan diagnosa harga diri rendah
1. Tindakan keperawatan untuk pasien isyarat bunuh diri
a. Tujuan:
1) Pasien mendapat perlindungan dari lingkungannya
2) Pasien dapat mengungkapkan perasaanya
3) Pasien dapat meningkatkan harga dirinya
4) Pasien dapat menggunakan cara penyelesaian masalah yang baik
[Link] keperawatan

1) Mendiskusikan tentang cara mengatasi keinginan bunuh diri, yaitu dengan


meminta bantuan dari keluarga atau teman.
2) Meningkatkan harga diri pasien, dengan cara:
a) Memberi kesempatan pasien mengungkapkan perasaannya.
b) Berikan pujian bila pasien dapat mengatakan perasaan yang positif.
c) Meyakinkan pasien bahwa dirinya penting
d) Membicarakan tentang keadaan yang sepatutnya disyukuri oleh pasien
e) Merencanakan aktifitas yang dapat pasien lakukan
3) Meningkatkan kemampuan menyelesaikan masalah, dengan cara:
a)

Mendiskusikan

dengan

pasien

cara

menyelesaikan masalahnya
b)

Mendiskusikan

dengan

pasien

efektifitas

masing-masing cara penyelesaian masalah


c)

Mendiskusikan

dengan

pasien

cara

menyelesaikan masalah yang lebih baik

ORIENTASI
SP 2 Pasien: Percakapan melindungi pasien dari isyarat bunuh diri
Selamat pagi B!, masih ingat dengan saya khan?Bagaimana perasaanB hari ini?
O... jadi B merasa tidak perlu lagi hidup di dunia ini. Apakah B ada perasaan ingin
bunuh diri? Baiklah kalau begitu, hari ini kita akan membahas tentang bagaimana
cara mengatasi keinginan bunuh diri. Mau berapa lama? Dimana?Disini saja yah!
KERJA
Baiklah, tampaknya B membutuhkan pertolongan segera karena ada keinginan
untuk mengakhiri hidup. Saya perlu memeriksa seluruh isi kamar B ini untuk
memastikan tidak ada benda-benda yang membahayakan B.
Nah B, karena B tampaknya masih memiliki keinginan yang kuat untuk mengakhiri
hidup B, maka saya tidak akan membiarkan B sendiri.
Apa yang B lakukan kalau keinginan bunuh diri muncul ? Kalau keinginan itu
muncul, maka untuk mengatasinya B harus langsung minta bantuan kepada perawat
atau keluarga dan teman yang sedang besuk. Jadi usahakan B jangan pernah
sendirian ya...

TERMINASI
Bagaimana perasaan B setelah kita bercakap-cakap? Bisa sebutkan kembali apa yang
telah kita bicarakan tadi? Bagus B. Bagimana Masih ada dorongan untuk bunuh diri?
Kalau masih ada perasaan / dorongan bunuh diri, tolong panggil segera saya atau
perawat yang lain. Kalau sudah tidak ada keinginan bunh diri saya akan ketemu B
lagi, untuk membicarakan cara meninngkatkan harga diri setengah jam lagi dan disini
saja.

ORIENTASI
Selamat pagi B! Bagaimana perasaan B saat ini? Masih adakah dorongan
mengakhiri kehidupan? Baik, sesuai janji kita dua jam yang lalu sekarang kita akan
membahas tentang rasa syukur atas pemberian Tuhan yang masih B miliki. Mau
berapa lama? Dimana?
KERJA
Apa saja dalam hidup B yang perlu disyukuri, siapa saja kira-kira yang sedih dan
SP 3 Pasien: Percakapan untuk meningkatkan harga diri pasien isyarat bunuh
rugi kalau B meninggal. Coba B ceritakan hal-hal yang baik dalam kehidupan B.
diri
Keadaan yang bagaimana yang membuat B merasa puas? Bagus. Ternyata
kehidupan B masih ada yang baik yang patut B syukuri. Coba B sebutkan kegiatan
apa yang masih dapat B lakukan selama [Link] kalau B mencoba
melakukan kegiatan tersebut, Mari kita latih.
TERMINASI
Bagaimana perasaan B setelah kita bercakap-cakap? Bisa sebutkan kembali apaapa saja yang B patut syukuri dalam hidup B? Ingat dan ucapkan hal-hal yang baik
dalam kehidupan B jika terjadi dorongan mengakhiri kehidupan (affirmasi). Bagus
B. Coba B ingat-ingat lagi hal-hal lain yang masih B miliki dan perlu disyukuri!
Nanti jam 12 kita bahas tentang cara mengatasi masalah dengan baik. Tempatnya
dimana? Baiklah. Tapi kalau ada perasaan-perasaan yang tidak terkendali segera
hubungi saya ya!

SP 4 Pasien: Meningkatkan kemampuan dalam menyelesaikan masalah pada


pasien isyarat bunuh diri
ORIENTASI
Selamat pagi, B. Bagaimana perasaannyai? Masihkah ada keinginan bunuh diri?
Apalagi hal-hal positif yang perlu disyukuri? Bagus! Sekarang kita akan berdiskusi
tentang bagaimana cara mengatasi masalah yang selama ini timbul. Mau berapa
lama? Di saja yah ?

KERJA
Coba ceritakan situasi yang membuat B ingin bunuh diri. Selain bunuh diri, apalagi
kira-kira jalan keluarnya. Wow banyak juga yah. Nah coba kita diskusikan
keuntungan dan kerugian masing-masing cara tersebut. Mari kita pilih cara mengatasi
masalah yang paling menguntungkan! Menurut B cara yang mana? Ya, saya setuju. B
bisa dicoba!Mari kita buat rencana kegiatan untuk masa depan.
TERMINASI
Bagaimana perasaan B, setelah kita bercakap-cakap? Apa cara mengatasi masalah
yang B akan gunakan? Coba dalam satu hari ini, B menyelesaikan masalah dengan
cara yang dipilih B tadi. Besok di jam yang sama kita akan bertemu lagi disini untuk
membahas pengalaman B menggunakan cara yang dipilih.

2. Tindakan keperawatan untuk keluarga dengan pasien isyarat bunuh diri


a. Tujuan : keluarga mampu merawat pasien dengan risiko bunuh diri.
b. Tindakan keperawatan:
1) Mengajarkan keluarga tentang tanda dan gejala bunuh diri
a)

Menanyakan keluarga tentang tanda dan gejala bunuh diri yang


penah muncul pada pasien.

b)

Mendiskusikan tentang tanda dan gejala yang umumnya muncul


pada pasien berisiko bunuh diri.

2) Mengajarkan keluarga cara melindungi pasien dari perilaku bunuh diri


a)

Mendiskusikan tentang cara yang dapat dilakukan keluarga


bila pasien memperlihatkan tanda dan gejala bunuh diri.

b)

Menjelaskan tentang cara-cara melindungi pasien, antara


lain:

(1)

Memberikan tempat yang aman. Menempatkan


pasien di tempat yang mudah diawasi, jangan biarkan pasien mengunci
diri di kamarnya atau jangan meninggalkan pasien sendirian di rumah

(2)

Menjauhkan barang-barang yang bisa digunakan


untuk bunuh diri. Jauhkan pasien dari barang-barang yang bisa
digunakan untuk bunuh diri, seperti: tali, bahan bakar minyak / bensin,
api, pisau atau benda tajam lainnya, zat yang berbahaya seperti obat
nyamuk atau racun serangga.

(3)

Selalu

mengadakan

pengawasan

dan

meningkatkan pengawasan apabila tanda dan gejala bunuh diri


meningkat. Jangan pernah melonggarkan pengawasan, walaupun
pasien tidak menunjukan tanda dan gejala untuk bunuh diri.
c) Menganjurkan keluarga untuk melaksanakan cara tersebut di atas.
3) Mengajarkan keluarga tentang hal-hal yang dapat dilakukan apabila pasien
melakukan percobaan bunuh diri, antara lain:
a)

Mencari bantuan pada tetangga sekitar atau pemuka


masyarakat untuk menghentikan upaya bunuh diri tersebut

b)

Segera membawa pasien ke rumah sakit atau puskesmas


mendapatkan bantuan medis

4) Membantu keluarga mencari rujukan fasilitas kesehatan yang tersedia bagi


pasien
a)

Memberikan informasi tentang nomor telepon darurat tenaga


kesehatan

b)

Menganjurkan

keluarga

untuk

mengantarkan

pasien

berobat/kontrol secara teratur untuk mengatasi masalah bunuh dirinya.


c)

Menganjurkan keluarga untuk membantu pasien minum obat


sesuai prinsip lima benar yaitu benar orangnya, benar obatnya, benar
dosisnya, benar cara penggunakannya, benar waktu penggunaannya

ORIENTASI
Selamat pagi Bapak/Ibu. Bagaimana keadaan anak Bpk/Ibu?
2 Keluarga:
untuk
mengajarkan
keluarga
tentang
cara
SPHari
ini kita akan Percakapan
mendiskusikan
tentang
tanda dan gejala
bunuh
diri dan
cara
melindungi dari bunuh
diri.
merawat
Dimana kita akan [Link] kalau di ruang wawancara? Berapa lama
keluarga
berisiko bunuh diri. (isyarat bunuh diri)
Bapak/Ibu punyaanggota
waktu untuk
diskusi?
KERJA
Apa yang Bapak/Ibu lihat dari perilaku atau ucapan B?
Bapak/Ibu sebaiknya memperhatikan benar-benar munculnya tanda dan gejala
bunuh diri. Pada umumnya orang yang akan melakukan bunuh diri menunjukkan
tanda melalui percakapan misalnya Saya tidak ingin hidup lagi, orang lain lebih
baik tanpa saya. Apakah B pernah mengatakannya?
Kalau Bapak / Ibu menemukan tanda dan gejala tersebut, maka sebaiknya Bapak /
Ibu mendengarkan ungkapan perasaan dari B secara serius. Pengawasan terhadap B
ditingkatkan, jangan biarkan dia sendirian di rumah atau jangan dibiarkan
mengunci diri di kamar. Kalau menemukan tanda dan gejala tersebut, dan
ditemukan alat-alat yang akan digunakan untuk bunuh diri, sebaiknya dicegah
Usahakan
sedikitnyapengawasan
5 kali seharidan
bapak
dan ibudukungan
memuji Buntuk
dengan
tulus
dengan
meningkatkan
memberi
tidak
melakukan
Tetapi
kalau
sudah
terjadi
percobaan
bunuh
diri,
sebaiknya
Bapak/Ibu
mencari
tindakan tersebut. Katakan bahwa Bpk/Ibu sayang pada B. Katakan juga kebaikanbantuanB!
orang lain. Apabila tidak dapat diatasi segeralah rujuk ke Puskesmas atau
kebaikan
rumah sakit terdekat untuk mendapatkan perawatan yang lebih serius. Setelah
kembali ke rumah,
Bapak/Ibu perlu membantu agar B terus berobat untuk
mengatasi keinginan bunuh diri.
TERMINASI
Bagaimana Pak/Bu? Ada yang mau ditanyakan? Bapak/Ibu dapat ulangi kembali
cara-cara merawat anggota keluarga yang ingin bunuh diri?
Ya, bagus. Jangan lupa pengawasannya ya! Jika adatanda-tanda keinginan
bunuh diri segera hubungi kami. Kita dapat melanjutkan untuk pembicaraan yang
akan datang tentang cara-cara meningkatkan harga diri B dan penyelesaian
masalah
Bagaimana Bapak/Ibu setuju? Kalau demikian sampai bertemu lagi minggu
depan disini.

SP 3 Keluarga: Melatih keluarga cara merawat pasien risiko bunuh diri/isyarat


bunuh diri

ORIENTASI
Selamat pagi pak, bu, sesuai janji kita minggu lalu kita sekarang ketemu lagi
Bagaimana pak, bu, ada pertanyaan tentang cara merawat yang kita bicarakan minggu
Latihan 8: Membuat perencanaan pulang bersama keluarga
lalu?
Sekarang kita akan latihan cara-cara merawat tersebut ya pak, bu?
Kita akan coba disini dulu, setelah itu baru kita coba langsung ke B ya?
Peragakan
kepada
pasangan
dibawah ini
Berapa
lama
bapak
dan ibuanda
maukomunikasi
kita latihan?
KERJA
Sekarang anggap saya B yang sedang mengatakan ingin mati saja, coba bapak dan ibu
praktekkan cara bicara yang benar bila B sedang dalam keadaan yang seperti ini
Bagus, betul begitu caranya
Sekarang coba praktekkan cara memberikan pujian kepada B
Bagus, bagaimana kalau cara memotivasi B minum obat dan melakukan kegiatan
positifnya sesuai jadual?
Bagus sekali, ternyata bapak dan ibu sudah mengerti cara merawat B
Bagaimana kalau sekarang kita mencobanya langsung kepada B?
(Ulangi lagi semua cara diatas langsung kepada pasien)
TERMINASI
Bagaimana perasaan bapak dan ibu setelah kita berlatih cara merawat B di rumah?
Setelah ini coba bapak dan ibu lakukan apa yang sudah dilatih tadi setiap kali bapak
dan ibu membesuk B
Baiklah bagaimana kalau dua hari lagi bapak dan ibu datang kembali kesini dan kita
akan mencoba lagi cara merawat B sampai bapak dan ibu lancar melakukannya
Jam berapa bapak dan ibu bisa kemari?
Baik saya tunggu, kita ketemu lagi di tempat ini ya pak, bu

SP 4 Keluarga : Membuat perencanaan pulang bersama keluarga dengan pasien


risiko bunuh diri
ORIENTASI
Selamat pagi pak, bu, hari ini saya sudah mengakhiri kunjungan saya, maka
sebaiknya kita membicarakan jadual B selama dirumahBerapa lama kita bisa
diskusi?, baik mari kita diskusikan.
KERJA
Pak, bu, ini jadual B, coba perhatikan, dapatkah dilakukan? tolong dilanjutkan,
baik jadual aktivitas maupun jadual minum obatnya
Hal-hal yang perlu diperhatikan lebih lanjut adalah perilaku yang ditampilkan
oleh B selama di rumah. Kalau misalnya B terus menerus mengatakan ingin
bunuh diri, tampak gelisah dan tidak terkendali serta tidak memperlihatkan
perbaikan, menolak minum obat atau memperlihatkan perilaku membahayakan
orang lain, tolong bapak dan ibu segera hubungi Suster H di Puskesmas...,
puskesmas terdekat dari rumah ibu dan bapak, ini nomor telepon puskesmasnya:
(0651) 853xxx
Selanjutnya suster H yang akan membantu memantau perkembangan B
TERMINASI
Bagaimanpak/bu? Ada yang belum jelas? Ini jadual kegiatan harian B . Ini
surat rujukan untuk perawat K di puskesmas .... Jangan lupa kontrol ke puskesmas
sebelum obat habis atau ada gejala yang tanpak.

Ringkasan tindakan keperawatan untuk pasien berisiko bunuh diri


berdasarkan perilaku bunuh diri yang ditampilkan
Tiga macam perilaku Tindakan

keperawatan Tindakan

bunuh diri

untuk pasien

1. Isyarat bunuh diri

1. Mendiskusikan
mengatasi

keperawatan

untuk keluarga
cara 1. Melakukan pendidikan
keinginan

bunuh diri
2. Meningkatkan harga diri
pasien

kesehatan tentang cara


merawat

anggota

keluarga yang ingin


bunuh diri

3. Meningkatkan
kemampuan pasien dalam
1. Ancaman

menyelesaikan masalah
bunuh 1. Melindungi pasien

diri
2. Percobaan
diri

1. Melibatkan
untuk

bunuh

keluarga
mengawasi

pasien secara ketat

DAFTAR PUSTAKA
Boyd, mary. 2012. Psychiatrc Nursing: Contemporary Practice. Philadelphia: Lippincott
williams&wilkins
Carpenito, Lynda Juall. 2009. Diagnosis Keperawatan: Aplikasi Pada Praktik Klinis, Ed.9.
Jakarta:EGC
Kusumawati, Farida & Yudi Hartono. 2010. Buku Ajar Keperawatan Jiwa. Jakarta:
Salemba Medika
Nelson. 2000. Ilmu Kesehatan anak Nelson ed. 15, Vol. 1. Jakarta: EGC
Riyadi, Sujono & Teguh Purwanto. 2009. Asuhan Keperawatan Jiwa. Yogyakarta: Graha
Ilmu
Sheila L. 2008. Buku Ajar Keperawatan Jiwa. Jakarta: EGC
Stuart, G.W., Laraia, M.T. 2006. Principles and Practice of Psychiatric Nursing. 8th
edition. Missouri: Mosby
Wong. 2009. Buku Ajar Keperawatan Pediatrik Ed. 6, Vol. 1. Jakarta: EGC

Anda mungkin juga menyukai