TEKNIK RADIOGRAFI BITEWING
Radiografi bitewing (sering disubut juga interproximal) mencakup
mahkota gigi rahang atas dan bawah serta ouncak tulang alveolarnya.
Pemeriksaan ini dapat memperlihatkan gambaran karies interproksimal pada tahap
awal sebelum karies dapat terlihat secara klinis. Pemeriksaan radiografi ini jga
dapat memperlihatkan karies sekunder di bawah restorasi, yang mana sering tidak
terdeteksi pada pemeriksaan radiografi periapikal. Pemeriksaan radiografi
bitewing juga berguna untuk melihat kondisi jaringan pendukung gigi.
Pemeriksaan ini memperlihatkan gambaran puncak tulang alveolar dengan baik
dan dapat mendeteksi adanya penurunan tinggi tulang alveolar dengan
membandingkan dengan gigi yang berdekatan. Sebagai tambahan, karena sudut
proyeksi dilewatkan langsung pada interproximal, pemeriksaan ini juga efektif
untuk mendeteksi adanya kalkulus pada area interproximal (karena memiliki
radiodensitas yang relative rendah, kalkulus lebih jelas terlihat secara radiografis
dengan paparan yang dikurangi). Sumbu panjang receptor bitewing biasaya
diletakkan secara horizontal, tetapi juga dapat diletakkan secara vertikal.
Receptor Bitewing Horizontal
Untuk mendapatkan karakteristik yang diinginkan untuk pemeriksaan
bitewing, paparan harus diarahkan secara hati-hati ke antara gigi dan paralel
dengan occlusal plane. Area dimana receptor atau penahan receptor dilketakkan di
mulut, area tersebut yang akan tercakup dalam hasil gambaran radiografi.
Beberapa perbedaan dapat terjadi pada pemaparan antara rahang atas dan bawah.
Ketika sinar memapar langsung pada kontak premolar rahang bawah, overlap
yang terjadi pada premolar rahang atas minimal atau bahkan tidak ada. Sudut
horizontal sangat menentukkan terjadinya overlapping tersebut. Sudut kontak
molar pertama dan kedua rahang atas pada umumnya lebih ke anterior
dibandingkan kontak molar pertama dan kedua rahang bawah. Silinder
diposisikan kurang lebih 10 derajat untuk mendapat paparan yang paralel
denganocclusal
plane
(occlusal
dento-enamel
junction-DEJ).
Hal
ini
meminimalisasi terjadinya overlap pada kedua cusp yang berlawanan sehingga
memungkinkan deteksi awal lesi pada bagian oklusal gigi.
Instrumen
XCP
bitewing
memiliki external
guide
ring untuk
memposisikanhead tube. Hal ini mengurangi kemungkinan terjadinya cone cut.
Unutk memposisikan XCP dengan benar, guide bar ditempatkan paralel dengan
gigi yang akan diperiksa.
Kedua radiografi bitewing posterior, untuk gigi premolar dan molar,
direkomendasikan untuk masing-masing kuadran. Bagaimnapun, untuk anak-anak
berusia 12 tahun atau kurang, satu reseptor bitewing (No. 2) mencukupi. Proyeksi
premolar harus mencakupi bagian distal gigi caninus dan mahkota gigi-gigi
premolar. Karena gigi caninus rahang bawah pada umumnya terletak lebih mesial
dari gigi caninus rahang atas, maka biasanya gigi caninus rahang bawah dijadikan
pedoman untuk menempatkan reseptor bitewing premolar. Reseptor bitewing
molar ditempatkan 1 atau 2mm dari gigi molar paling distal yang telah erupsi
(pada rahang atas mapun rahang bawah).
Reseptor Bitewing Vertikal
Receptor bitewing vertikal biasanya digunakan pada pasien yang
mengalami bone loss sedang sampai berat. Prinsip penempatan receptor dan
orientasi paparan sinar kurang lebih sama dengan proyeksi bitewing horizontal.
IINDIKASI
Mendeteksi adanya karies
Memonitor penjalaran karies
Menilai restorasi
Melihat keadaan periodontal
Gambar 1. Film intraoral yang terbungkus pelindung dengan wing
atau tab yang dilekatkan.
PERSYARATAN TEKNIK
Tab atau bite-platform harus diletakkan pada pertengahan film dan terletak
paralel terhadap tepi insisal gigi rahang atas dan rahang bawah.
Film harus diletakkan horizontal panjang gigi untuk vertical bitewing atau
vertikal panjang gigi untuk vertical bitewing (Gbr 2)
Gigi posterior dan film harus berkontak
Gigi posterior dan film harus sejajar - bentuk lengkung gigi mungkin saja
membutuhkan dua posisi film yang terpisah untuk mendapatkan
persyaratan yang baik pada gigi premolar dan molar (Gbr 3).
Pada arah horizontal, tube X-ray diarahkan sehingga sinar menembus gigi
dan film berada pada sudut yang benar, dan langsung melewati seluruh
area kontras (Gbr 3).
Pada arah vertikal, tube X-ray diarahkan ke arah bawah (kira-kira 5 - 8
ke arah horizontal) untuk mengkompensasi kecenderungan naiknya kurva
monson (Gbr 4).
Posisi harus sesuai
TEKNIK POSISI
Ada 2 teknik, yaitu :
Menggunakan tab yang dilekatkan pada film dan tube X-ray diletakkan
sejajar mata.
Menggunakan film pocket holder dengan arah sinar untuk memfasilitasi
posisi dan kesejajaran tube X-ray.
Gambar 2. Gambaran posisi film yang ideal pada beberapa tipe bitewing yang berbeda.
Gambar 3. Gambaran posisi film dan tube X ray yang ideal untuk radiografi bitewing pada bentuk
lengkung gigi yang berbeda.
Gambar 4. Posisi film yang ideal dengan sudut sinar X-ray rata-rata 5 - 8 ke arah vertikal untuk
mengkompensasi kurva Monson.
PENGGUNAAN TAB YANG DILEKATKAN PADA FILM
Teknik radiografi dapat diringkaskan sebagai berikut :
1. Ukuran film yang sesuai dan tab yang dilekatkan seperti terlihat pada
gambar 5 (ii) :
a. Film ukuran besar (31 x 41 mm) untuk dewasa
b. Film ukuran kecil (22 x 35 mm) untuk anak-anak di bawah 12 tahun.
Apabila gigi molar kedua permanen telah tumbuh, dapat digunakan
film ukuran besar.
c. Film ukuran lebih panjang (53 x 26 mm) digunakan untuk orang
dewasa.
Gambar 5
(i). Film packet yang bersatu dengan tab.
A. Vertikal bitewing untuk dewasa.
B. Horizontal bitewing untuk dewasa.
C. Horizontal bitewing untuk anak-anak.
(ii) A. Posisi ideal bitewing dan film packet pada gigi untuk dewasa.
(ii) B. Posisi ideal bitewing dan film packet pada gigi untuk anak-anak.
(iii). Posisi pasien dan kepala tabung sinar-X untuk bitewing bagian kiri.
2. Posisikan pasien dengan kepala tersangga dan bidang oklusal gigi sejajar
horizontal.
3. Perkirakan bentuk dari lengkung gigi dan banyaknya film yang diperlukan.
4. Operator memegang tab di antara ibu jari dan jari telunjuk, lalu masukkan
film packet ke sulcus lingualis pada gigi posterior
5. Tepi anterior film packet harus berada di distal gigi caninus rahang bawah
pada bagian lingual - pada posisi ini, tepi posterior film packet meluas,
biasanya hanya sampai sisi mesial gigi molar ketiga rahang bawah
6. Tab diletakkan pada permukaan oklusal rahang bawah
7. Pasien diinstruksikan untuk menggigit tab
8. Untuk memastikan film packet dan gigi sudah berkontak, operator dapat
menarik tab yang terdapat di antara gigi rahang atas dan rahang bawah
dengan kuat
9. Kemudian operator dapat melepaskan tab
10. Lalu arahkan berkas sinar X langsung pada daerah yang berkontak, dengan
sudut yang tepat antara gigi dan film packet, kira-kira 5-8 angulasi
vertikal ke arah bawah
11. Lakukan exposure
12. Ulangi prosedur untuk gigi premolar dengan menggunakan film packet
yang baru dan posisi kepala tabung sinar X yang sesuai.
Catatan : ketika memposisikan kepala tabung sinar X, setelah pasien
mnutup mulut, film tidak dapat terlihat. Untuk mematikan bagian anterior
dari film terpapar dan untu mencegah coning off atau cone cutting ,
petunjuk sederhana untuk dingat adalah bagian depan spacer cone
(kerucut pengatur jarak) yang terbuka harus berada pada sudut mulut.
Keuntungan :
Sederhana
Relatif murah
Tab dapat dibuang (disposible), sehingga tida diperlukan prosedur
pengontrolan infeksi silang secara extra
Dapat digunakan pada anak-anak dengan mudah
Kerugian :
Penilaian operator pada angulasi vertikal dan horizontal kepala tabung
sinar-X seringkali tidak tepat
Gambaran radiografinya tidak dapat direproduksi dengan akurat, sehingga
tidak cocok untuk memriksa penjalaran karies
Sering terjadi coning off atau cone cutting pada bagian anterior
Film packet dapat tergeser dengan mudah oleh lidah
KESIMPULAN
Teknik radiografi bitewing, walaupun sederhana dan masih banyak
digunakan, tetapi tergantung pada operator dan kurang akurat. Dianjurkan untuk
memilih teknik yang tidak tergantung pada pemeriksaan subyektif dan yang lebih
akurat dalam menggunakan film holder dan beam-aming devices.
Akan tetapi, teknik radiografi bitewing dapat digunakan karena hasil foto
dan struktur anatomis yang terlihat tidak berbeda jauh yaitu suatu variasi
keakuratan. Dapat dilihat pada gambar 6 dan 7.
Gambar 6.
Contoh foto bitewing horizontal kanan dan kiri pada pasien dewasa, yang dapat
digunakan untuk pemeriksaan karies dan restorasi dengan bagian-bagian gigi
yang terlihat pada foto.
Gambar 7.
Contoh foto bitewing horizontal kanan dan kiri pada pasien anak-anak dengan
bagian-bagian gigi yang terlihat pada foto.
Gambar 8.
Contoh foto bitewing vertikal kanan dan kiri pada pasien dewasa. Masingmasing sisi menggunakan dua film untuk dapat melihat premolar dan molar.
Alasan klinis dalam menggunakan teknik bitewing harus memperhatikan
faktor paparan yang digunakan, sebagai contoh :
-
Pemeriksaan karies dan restorasi harus menggunakan film yang terpapar
dengan baik sehingga terlihat dengan jelas untuk membedakan antara email
dan dentin dan untuk melihat DEJ (Dentin Enamel Junction).
Pemeriksaan jaringan periodontal harus menggunakan film dengan paparan
yang dikurangi untuk mengindari terjadinya burn-out pada puncak tulang
alveolar.
Pengaruh perbedaan paparan termasuk pada DEJ dan puncak tulang
alveolar dapat terlihat pada gambar 9.
Gambar 9.
Tiga pasang foto bitewing pada pasien yang sama, tetapi
dengan paparan yang berbeda.
A. Paparan yang dikurangi pada foto
10
B. Normal paparan pada foto
C. Paparan yang ditambah pada foto
Kontras yang bertambah pada email dan dentin dengan
bertambahnya paparan, tetapi juga bertambah burn-out pada
puncak tulang alveolar dan servikal gigi.
Untuk mendapatkan hasil yang baik dibutuhkan dua set foto bitewing.
Pada prakteknya teknik bitewing dipengaruhi oleh faktor paparan, sehingga dosis
radiasi bagi pasien harus dijaga agar tetap minimal, tetapi hasil foto tidak dapat
untuk semua tujuan diagnosis.
Paler FA. Color atlas of dental medicine: Radiology. Thieme; 2002.
White SC, Pharoah MJ. Oral radiology: Principles and interpretation. Fifth
Edition. St Louis: Mosby; 2004.