MATERI III
RESEARCH & DEVELOPMENT
Penelitian dan Pengembangan (Research and Development, R&D) telah menjadi inti (core)
dari industri Farmasi. Keberhasilan dari industri farmasi terletak pada kompetensi
organisasional R&D termasuk tim kerja, knowledge management dan hubungan yang kuat
dengan opinion leader (Holland dan Lazo, 2004). Menurut Holland dan Lazo (2004) inovasi
dapat pula dilakukan melalui sumber eksternal yakni aliansi dengan perusahaan yang berhasil
mengembangkan teknologi tersebut. Sebagai contoh, Aventis mengelola aliansi portal (web)
yang kompleks dengan 300 universitas dan perusahaan bioteknologi. Pada perusahaan seperti
ini, pengelolaan aliansi menjadi kompetensi kunci.
Tugas R&D adalah mengembangkan produk yang telah ada baik perbaikan bentuk sediaan,
perbaikan kemasan maupun perbaikan formula. Selain itu juga memformulasi produk baru,
koordinasi dengan QC untuk pengembangan proses analisis dan produksi, mencari produk
baru bersama bagian pemasaran, mengawasi proses pelaksanaan skala produksi, registrasi,
dan dokumentasi.
Struktur Organisasi R&D adalah sebagai berikut:
a. R&D bidang formulasi bertugas untuk membuat dan mengembangkan formula,
bertanggung jawab terhadap mutu rancangan, melakukan penelitian untuk mendapatkan
formula baru berdasarkan permintaan dari bagian pemasaran.
Alur Kerja bidang pengembangan formula:
b. R&D bidang standarisasi merupakan bagian R&D yang bertugas melakukan analisis dan
evaluasi terhadap produk mulai dari pembelian bahan baku sampai produk jadi.
Tujuannya adalah untuk menentukan kualitas produk yang dihasilkan. Analisis &
evaluasi yang dilakukan meliputi:bahan baku, bahan pengemas, validasi metode analisis,
stabilitas. Bagian standarisasi bahan baku bertugas mengelola sampel bahan baku,
memeriksa kesesuaian sampel dengan spesifikasi, meloloskan/menolak penggunaan
sampel bahan baku, dan membuat spesifikasi bahan baku yang dapat digunakan dalam
formulasi.
c. Kemasan sangat penting karena sangat menentukan harga jual produk, memberi proteksi
terhadap obat yang diwadahi serta sebagai identitas produk. Tugas R&D bagian kemasan
adalah melakukan pengembangan kemasan produk baru, pengurangan biaya kemasan
yang telah ada, serta mengoptimalkan kemasan dan proses pengemasan. Pengembangan
kemasan meliputi:
Desain:
Dilengkapi penandaan sesuai Depkes
Informasi penting tentang produk
Praktis
Material :
Netral/inert terhadap produk
Dilakukan uji stabilitas dan kompatibilitas antara kemasan dan produk
(dengan bagian produksi)
Harga murah
Menentukan supplier (dengan bagian pembelian)
Yang harus ada dalam kemasan yaitu:
Nama
Komponen bahan aktif (bahan tambahan harus)
No registrasi
No batch
Nama & alamat pabrik pembuat
Indikasi, kontra indikasi, petunjuk penyimpanan
d. Bidang validasi metode analisa melakukan standarisasi metode dan uji untuk pengecekan
bahan baku, produk antara, ruahan, dan produk jadi, pemeriksaan kimia terhadap produk
yang diteliti stabilitasnya oleh R&D, transfer hasil prosedur analisis ke QC, membantu
penentuan spek produk ruahan dan produk jadi.
Bidang stabilitas bertugas melakukan uji stabilitas. Uji stabilitas dapat dibagi 2 :
Uji jangka panjang
Setiap 3 bulan selama tahun pertama
Setiap 6 bulan selama tahun kedua
Setahun sekali sepanjang masa edar yang diusulkan
(Penyimpanan 30 0 C 20C dan RH 70%5% minimal 3 batch)
Uji dipercepat
Kondisi penyimpanan 400 C 20C dan RH 75%5%
e. Bidang Registrasi bertugas melakukan pendaftaran produk ke Balai POM dalam waktu
bersamaan dengan trial formulasi skala produksi. Bagian registrasi ini dibantu oleh
seorang administrasi desain yang bertugas membuat desain kemasan suatu produk.
Registrasi adalah prosedur pendaftaran dan evaluasi obat untuk mendapat izin edar,
tujuannya untuk memberi perlindungan yang optimal kepada masyarakat dari peredaran
obat yang tidak memiliki persyaratan efikasi, keamanan, mutu, dan kemanfaatannya.
Syarat obat untuk mendapat ijin edar adalah:
a. Efikasi (khasiat meyakinkan dan keamanan yang memadai dibuktikan melalui
uji preklinik dan uji klinik atau bukti-bukti lain yang sesuai dengan status
perkembangan ilmu pengetahuan yang bersangkutan
b. Proses produksi yang memenuhi syarat CPOB, spesifikasi & metode analisa
terhadap semua bahan yang digunakan serta produk jadi dengan bukti yang
sah
c. Penandaan berisi informasi lengkap & obyektif yang dapat menjamin
penggunaan obat secara tepat, rasional dan aman
d. Syarat tambahan: sesuai dengan kebutuhan nyata masyarakat dan terjangkau
Ketentuan izin edar:
a. Izin edar berlaku 5 tahun
b. Obat jadi yang telah mendapat no registrasi wajib memproduksi atau
mengimport dan mengedarkan obat selambat-lambatnya 12 bulan setelah izin
dikeluarkan
Evaluasi kembali
a. Obat dengan resiko efek samping lebih besar vs efektifitasnya
b. Obat dengan efektifitas tidak lebih baik dari plasebo
c. Obat tidak memenuhi persyaratan bioavailability/bioeqivalency
Pembatalan izin edar
a. Berdasarkan pemantauan tidak memenuhi persyaratan
b. Penandaan atau promosi menyimpang dari persetujuan izin edar
c. Izin
industri
farmasi/PBF
yang
mendaftarkan,
memproduksi,
atau
mengedarkan dicabut
d. Pemilik izin edar melakukan pelanggaran di bidang
produksi dan atau
peredaran obat
Nomor registrasi obat ditunjukkan sebagai berikut:
Terdiri 15 digit (3 huruf dan 12 angka)
ABC123456789101112
Contoh:DBL011080371611
Digit 1:obat dagang (D) atau generik (G)
Digit 2:golongan obat (B,T,K,N,P)
Digit 3:asal obat impor (I) atau lokal (L)
Digit 4-5:tahun daftar (2001=01)
Digit 6-8:nomor urut pabrik (108=Berlico Mulia Farma)
Digit 9-11:nomor urut obat jadi yang disetujui dari pabrik tersebut
Digit 12-13:macam jenis bentuk sediaan yang ada (16=tablet salut non
antibiotik)
Digit 14:kekuatan sediaan
Digit 15:kemasan
Perusahaan di luar negri biasanya tidak ada bagian Research Product Development karena
berupa multicompany dimana anak perusahaan ada di banyak negara. Bagian research
dipusatkan di satu negara/perusahaan sentral. Alokasi dana untuk penelitian dan
pengembangan obat sangat besar dan alokasi terbesar untuk uji klinik. Proses penemuan obat
baru adalah sebagai berikut:
Sintesis & screening molekul
Studi pada hewan percobaan
Studi pada manusia sehat (Healthy volunteers)
Studi pada manusia sakit (pasien)
Studi pada pasien dg populasi yang lebih besar
Studi lanjutan (post marketing surveillance)
1. Sintesis & screening molekul
a. Pada tahap ini berbagai molekul atau senyawa yang berpotensi sebagai obat disintesis,
dimodifikasi, atau bahkan direkayasa untuk mendapatkan senyawa atau molekul obat
yang diinginkan.
b. Dengan perkembangan IT dapat dilakukan sintesis molekul secara masal
menggunakan komputer secara cepat mencapai ratusan ribu molekul per minggu.
c. Selain itu komputer dapat menunjukkan manipulasi dari site of biochemical action
dan prediksi tentang toksisitas dan efikasi dari struktur kimia dimaksud serta efek
biologisnya (Molecular Docking)
2. Studi pada hewan percobaan
Percobaan Pra Klinik merupakan persyaratan untuk calon obat untuk mengetahui efek
farmakologi, profil farmakokinetik, dan toksisitas obat yang meliputi:
a. Uji toksisitas akut dan kronik
b. Pengujian teratogenitas, mutagenesis, karsinogenitas
Hewan uji :mencit, tikus, hamster, kelinci, marmot, anjing, primate
3. Studi pada manusia
Uji klinik diteliti kelayakannya oleh komite etik mengikuti deklarasi Helsinki. Uji klinik
terdiri 4 fase:
a. Fase I
Calon obat diuji pada sukarelawan sehat untuk mengetahui apakah sifat yang diamati
pada hewan percobaan juga terlihat pada manusia Pada fase ini ditentukan hubungan
dosis dengan efek yang ditimbulkannya dan profil farmakokinetik obat pada manusia.
b. Fase II
Calon obat diuji pada pasien tertentu diamati efikasi pada penyakit yang diobati.
Diharapkan obat memiliki efek yang potensial dengan efek samping rendah atau tidak
toksik. Pada fase ini mulai dilakukan pengembangan dan uji stabilitas bentuk sediaan
obat.
c. Fase III
Melibatkan kelompok besar pasien, obat dibandingkan efek dan keamanannya
terhadap obat pembanding yang sudah diketahui. Data uji preklinik dan klinik sesuai
indikasi yang diajukan, efikasi dan keamanannya harus sudah ditentukan dalam
bentuk sediaannya ke BPOM. Setelah calon dibuktikan sekurang kurangnya memiliki
efek dan keamanan sesuai obat yang sudah ada diijinkan diproduksi dan dipasarkan
secara legal dengan nama dagang tertentu serta dapat diresepkan dokter.
d. Fase IV
Setelah obat dipasarkan dilakukan post marketing surveillance yang diamati pada
pasien dengan berbagai kondisi, berbagai usia, dan ras. Studi ini dilakukan dalam
jangka panjang untuk melihat terapetik dan pengalaman jangka panjang dalam
menggunakan obat. Setelah studi fase IV masih ada kemungkinan obat ditarik dari
pasaran (cerivastatin, entero-vioform, PPA, triglitazon, viox.
R&D Perusahaan Farmasi Domestik Indonesia
Industri farmasi indonesia bergerak pada produksi dan pemasaran branded generik, obat
generik, dan obat lisensi perusahaan farmasi luar negri. Industri farmasi indonesia adalah
industri formulasi bukan research based company. Riset hanya terbatas pada formulasi
produk bukan pengembangan bahan baku. R&D industri farmasi indonesia tidak feaseble
untuk penemuan molekul obat baru (New Chemical Entity) karena biaya NCE > 300 juta US
dollar. R&D industri farmasi indonesia diarahkan untuk pengembangan New Delivery
System (Sustain released) dan penelitian obat herbal (fitofarmaka:ekstrak temulawak, ekstrak
meniran). R&D industri farmasi tidak harus dilakukan sendiri tapi bisa aliansi dan kolaborasi
dengan lembaga penelitian di perguruan tinggi.
Kesimpulan
Penelitian dan Pengembangan (Research and Development, R&D) telah menjadi inti (core)
dari industri Farmasi. Keberhasilan dari industri farmasi terletak pada kompetensi
organisasional R&D termasuk tim kerja, knowledge management dan hubungan yang kuat
dengan opinion leader. Industri farmasi indonesia bergerak pada produksi dan pemasaran
branded generik, obat generik, dan obat lisensi perusahaan farmasi luar negri. Industri
farmasi indonesia adalah industri formulasi bukan research based company. Riset hanya
terbatas pada formulasi produk bukan pengembangan bahan baku.
Referensi
Anonim, 2006, Pedoman Cara Pembuatan Obat Yang Baik, Badan Pengawas Obat dan
Makanan Republik Indonesia
Holland, S., Lazo, B., 2004, The Global Pharmaceutical Industry, Manchester Business
School
Sampurno, 2007, Kapabilitas Teknologi dan Penguatan R&D : Tantangan Industri Farmasi
Indonesia, Majalah Farmasi Indonesia, Universitas Gadjah Mada
Setiono, I, 2004, Hand Out Kuliah, Farmasi Sains & Industri Fakultas Farmasi Universtas
Gadjah Mada Jogjakarta