0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
47 tayangan14 halaman

Analisis Sistem Dewatering Tambang 2015

Dokumen ini berisi ringkasan hasil analisis sistem penyaliran tambang (mine dewatering system) di Blok B Selatan PT. Mandala Karya Prima. Analisis ini bertujuan untuk menganalisis catchment area, curah hujan, debit air limpasan, kapasitas pompa dan sump agar air pada main sump tidak meluap kembali meskipun saat hujan deras. Hasilnya menunjukkan terdapat tiga catchment area dengan luas total 532,58 Ha. Debit air limpasan diperkirakan mencap

Diunggah oleh

Chandrika Raflesia
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
47 tayangan14 halaman

Analisis Sistem Dewatering Tambang 2015

Dokumen ini berisi ringkasan hasil analisis sistem penyaliran tambang (mine dewatering system) di Blok B Selatan PT. Mandala Karya Prima. Analisis ini bertujuan untuk menganalisis catchment area, curah hujan, debit air limpasan, kapasitas pompa dan sump agar air pada main sump tidak meluap kembali meskipun saat hujan deras. Hasilnya menunjukkan terdapat tiga catchment area dengan luas total 532,58 Ha. Debit air limpasan diperkirakan mencap

Diunggah oleh

Chandrika Raflesia
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

ANALISA MINE DEWATERING SYSTEM DI BLOK B SELATAN PT. MAN...

2015

ABSTRAK
Operasi penambangan yang dilakukan di PT. Mandala Karya Prima menggunakan metode
tambang terbuka/open pit. Berdasarkan pengamatan dilapangan terlihat adanya catchment area
yang luas dan air pada main sump yang meluap ke badan jalan hauling dikarenakan hujan lebat
dengan intensitas 10,94 mm/jam selama 7,77 jam, total lost time 11,77 jam (sumber : laporan
rainfall juni 2015). Analisa mine dewatering system bertujuan untuk menganalisis catchment area,
curah hujan, debit limpasan, kemampuan pompa dan kapasitas sump yang ada serta untuk
mengetahui solusi agar air pada main sump tidak meluap kembali. Setelah dilakukan analisis
diperoleh luasan catchment area yang terbagi tiga, catchment area I sebesar 111,558 Ha,
catchment area II sebesar 127,76 Ha, dan catchment area III sebesar 293,266 Ha. Curah hujan
rata-rata maksimum pada lokasi penelitian yaitu 101,11 mm/hari, curah hujan rencana diambil
periode ulang dua tahun sebesar 97,33 mm/hari dan intensitas hujan terbesar adalah 33,742
mm/jam. Debit limpasan yang masuk diestimasikan sebesar 142.057,2 m3/jam untuk seluruh
catchment area. Debit pompa maksimum sebesar 1644,74 m3/jam untuk pompa nomer lambung
771, 1631,655m3/jam untuk 772, 1980,028m3/jam untuk 747, 1206,016m3/jam untuk 731, dan
340,8175 m3/jam untuk pompa nomer lambung 728. Head total yang harus diatasi pompa lebih
kecil dari head maksimal yang dapat diatasi pompa tetapi pompa tidak beroperasi pada titik
efisiensi terbaik. Pada lokasi penelitian terdapat satu sump temporary (sump A7), satu sump transit
(sump A6) dan main sump (sump A5), dari hasil analisis sump A7 belum mampu menampung
volume limpasan, untuk rancangan baru sump A7 dirancang dengan menggunakan 1 pompa, 2
pompa, dan 3 pompa. Solusi agar air pada main sump tidak meluap kembali adalah dengan
mengoperasikan 3 pompa pada main sump.
A.

LATAR BELAKANG
Operasi penambangan yang dilakukan di PT. Mandala Karya Prima jobsite PT. Mandiri
Inti Perkasa terdiri dari pit Rawa Seribu Timur dan pit Rawa Seribu Barat. Metode Penambangan
yang digunakan adalah metode tambang terbuka/open pit. Metode ini akan menyebabkan
terbentuknya cekungan yang luas sehingga sangat potensial untuk menjadi daerah tampungan air,
baik yang berasal dari air limpasan permukaan maupun air tanah. Suatu ciri tambang terbuka yang
membedakannya dengan tambang bawah tanah adalah adanya pengaruh iklim dan cuaca pada
kegiatan penambangan. Elemen iklim yang sangat berpengaruh dalam kegiatan penambangan
adalah curah hujan. Curah hujan di Indonesia merupakan curah hujan yang tertinggi dibandingkan
Negara-Negara tambang yang lainnya, curah hujan yang tinggi/intensitas hujan yang tinggi sering
kali membuat genangan air pada pit bottom dan menyebabkan berlumpurnya front penambangan,
sehingga jika sistem penyaliran tambang tidak berfungsi dengan baik aktivitas penambangan akan
terganggu.
Berdasarkan pengamatan dilapangan terlihat adanya catchment area yang luas dan air
pada main sump yang meluap ke badan jalan hauling menuju pit Rawa Seribu Barat dikarenakan
hujan lebat dengan intensitas 10,94 mm/jam selama 7,77 jam, total lost time 11,77 jam (sumber :
laporan rainfall juni 2015). Permasalahan tersebut menghambat aktifitas penambangan yang dapat
mengakibatkan tidak tercapainya target produksi. Oleh sebab itu, diperlukan suatu bentuk upaya
yang optimal untuk penanganan air yang masuk ke bukaan tambang melalui suatu bentuk analisa
mine dewatering system dengan menganalisis aspek-aspek yang berpengaruh, sehingga masalah
tersebut dapat ditangani dengan baik walaupun datang hujan dengan intensitas yang tinggi.

B.

TUJUAN PENELITIAN
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk :
1. Menganalisis catchment area, curah hujan dan debit air limpasan yang masuk ke dalam bukaan
tambang.
2. Menganalisis kemampuan pompa dan kapasitas maksimum sump yang ada pada lokasi
penelitian.
3. Mengetahui solusi agar air pada main sump tidak meluap kembali ke badan jalan hauling.
4. Melakukan analisa terhadap sistem mine dewatering yang sudah ada untuk mendapat data
masukan sebagai dasar perbaikan dan perencanaan kembali.

1|P ag e

ANALISA MINE DEWATERING SYSTEM DI BLOK B SELATAN PT. MAN...

2015

C.

BATASAN MASALAH
Adapun batasan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Analisa hanya difokuskan pada Blok B Selatan pit Rawa Seribu Timur dan pit Rawa Seribu
Barat.
2. Kemajuan penambangan hanya dibatasi untuk tahun 2015 untuk pit Rawa Seribu Timur dan pit
Rawa Seribu Barat yang terdapat pada Blok B Selatan.
3. Evapotranspirasi dan pengaruh akifer atau hal lain yang berkaitan dengan hidrogeologi akan
diabaikan karena dianggap sangat kecil pengaruhnya terhadap debit rencana
4. Analisa ini tidak membahas kolam pengendap dan air asam tambang
5. Analisa sistem penyaliran tambang didasarkan pada pertimbangan aspek teknis dan tidak
memperhitungkan aspek ekonomi.

D.

METODOLOGI PENELITIAN
Penelitian dilakukan di PT. Mandala Karya Prima Job Site PT. Mandiri IntiPerkasa, secara
administratif lokasi penelitian berada pada Desa Sesayap, Kecamatan Kecamatan Sembakung,
Kabupaten Nunukan, Provinsi Kalimantan Utara. Secara geografis lokasi penelitian terletak pada
geografis paling Selatan adalah 3o 37 12.0 LU, paling Utara 3o 43 54.0 LS, paling Timur 117o
16 6.0 BT dan paling Barat 117o 11 0.0 BT.
Tahapan kegiatan penelitian ini dapat dilihat pada gambar 1.

Gambar 1. Diagram Alir Penelitian


E.

HASIL DAN PEMBAHASAN


1. Catchment Area
Pembagian catchment area dilakukan dengan cara melakukan pengamatan langsung
dilapangan dan menganalisis peta topografi Blok B Selatan dengan perangkat lunak
(software) Autocad 2010. Data yang dibutuhkan untuk analisis catchment area adalah peta
topografi dan boundary rencana penambangan tahun 2015. Dari analisis data tersebut,
diperoleh tiga catchment area dengan luasan sebagai berikut:

2|P ag e

ANALISA MINE DEWATERING SYSTEM DI BLOK B SELATAN PT. MAN...

2015

a.

2.

Catchment Area I
Catchment area secara keseluruhan pit Rawa Seribu Timur boundary tahun
2015 beserta catchment area luar (outpit) dengan luas 111,558 Ha.
b. Catchment Area II
Catchment area secara keseluruhan pit Rawa Seribu Barat boundary tahun
2015 beserta catchment area luar (outpit) dengan luas 127,76 Ha.
c. Catchment Area III
Catchment area secara keseluruhan merupakan disposal area, dengan luas
293,266 Ha.
Analisis Data Curah Hujan
Berdasarkan analisis data curah hujan, diperoleh data curah hujan rata-rata 101,11
mm/hari dan curah hujan maksimum harian terjadi pada tahun 2013 dengan curah hujan
tertinggi sebesar 150 mm/hari.
a. Curah Hujan Rencana
Perhitungan curah hujan rencana pada kajian ini menggunakan metode
distribusi gumbel dengan data curah hujan tahun 2006-2014. Dari hasil perhitungan data
curah hujan, diperoleh curah hujan rencana sebesar 97,33 mm dengan periode ulang
hujan selama 2 tahun.
Tabel 1. Nilai Curah Hujan Rencana pada Berbagai Periode Hujan
2
3
4
5
Periode Ulang (tahun)
Curah Hujan Rencana (mm/hari)
b.

3.

97,33

113,73

124,23

132,00

Intensitas Curah Hujan


Nilai dari intensitas curah hujan tertinggi di Blok B Selatan yang mungkin
terjadi pada periode ulang hujan 2 tahun sebesar 33,74 mm/jam.

Gambar 2. Kurva Intensity Duration Frequency (IDF)


Dari kurva IDF terlihat bahwa intensitas hujan tinggi berlangsung dengan
durasi yang pendek , namun sebaliknya, intensitas hujan rendah berlangsung dengan
durasi yang lama. Hal ini menunjukkan bahwa pada umumnya hujan deras berlangsung
dalam waktu yang singkat, dan hujan yang tidak deras berlangsung dalam waktu yang
lama.
Debit Air Limpasan
Dari hasil pengamatan dan perhitungan yang dilakukan untuk daerah penelitian yang
terdiri dari tiga catchment area dengan koefisien limpasan yang berbeda. Hal ini dipengaruhi
oleh kemiringan dan tata guna lahan tutupan tersebut.
Tabel 2. Hasil Perhitungan Debit Air Limpasan
Catchment
Luas
Koefisien
I
Q
No
Q (m3/jam)
Area
(Ha)
Limpasan (C) (mm/jam) (m3/detik)
1
I
111,56
0,9
33,742
9,4180
33904,84
2
II
127,76
0,9
33,742
10,7859
38829,33
3
III
293,27
0,7
33,742
19,2564
69323,02
532,58
39,46
142057,2
Total

3|P ag e

ANALISA MINE DEWATERING SYSTEM DI BLOK B SELATAN PT. MAN...

4.

2015

Sump
a. Rancangan Dimensi Sump
Pada lokasi penelitian terdapat satu sump temporary (sump A7), satu sump
transit (sump A6) dan main sump (sump A5), volume dan elevasi air pada masingmasing sump saat penelitian dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 3. Volume dan Elevasi Air pada saat Penelitian
No
Nama
Elevasi
Volume (m3)
1
Sump A7
-6,69
31,315.00
2
Sump A6
7,45
222,164.00
3
Sump A5
18,24
1,465,998.00
Keterangan : Data survey [Link] week 27 PT. MKP
Berdasarkan perhitungan debit air limpasan yang masuk pada sump A7 yang
termasuk kedalam catchment area 1 melebihi kapasitas maksimum, maka perlu
rancangan sump A7 baru dengan dengan asumsi menggunakan 2 pompa nomer lambung
731 dan 728(rancangan 1), menggunakan 3 pompa nomer lambung 731, 728, dan 719
(rancangan 2)
serta menggunakan 1 pompa nomer lambung 748 (rancangan 3). Rancangan
dimensi sump berpatokan atas volume sisa atau volume air yang tertampung, untuk
perhitungan dimensi sump dilakukan dengan cara menentukan volume terbesar (volume
sisa) dari hasil iterasi antara volume limpasan dan volume pemompaan selama durasi
hujan tertentu. Dimensi dan volume maksimum sump rancangan dapat dilihat pada
gambar berikut :

Gambar 3. Rancangan Sump dengan Menggunakan 2 Pompa


Tabel 4. Rancangan Sump dengan Menggunakan 2 Pompa
No
Operating Speed
No
Pump Model
Lambung
1
728
Sykes HH 150 SS
1700
2
731
Slurry Pump CP300i
1300
Total

Debit Aktual
(m3/jam)
340.817
1206.016
1546.8335

Gambar 4. Grafik Penentuan Dimensi sump dengan Menggunakan 2 Pompa

4|P ag e

ANALISA MINE DEWATERING SYSTEM DI BLOK B SELATAN PT. MAN...

2015

Dari grafik diatas dapat diketahui volume sump rancangan (minimum) dengan
melihat volume sisa terbesar 67000,865 m3 dengan waktu pemompaan selama 25 jam,
dan akan habis dipompakan dengan waktu pemompaan 51,978 jam (tanpa hujan) artinya
dalam merancang dimensi sump, minimal sump dapat menampung volume sebesar
67000,865 m3.
Tabel 5. Rancangan Sump dengan Menggunakan 3 Pompa
No
Operating Speed
No
Pump Model
Lambung
1
728
Sykes HH 150 SS
1700
2
731
Slurry Pump CP300i
1300
3
719
Sykes HH 150 SS
1700
Total

Debit Aktual
(m3/jam)
340.817
1206.016
340.817
1887.651

Gambar 5. Rancangan Sump dengan Menggunakan 3 Pompa

Gambar 6. Grafik Penentuan Dimensi sump dengan Menggunakan 3 Pompa


Dari grafik diatas dapat diketahui volume sump rancangan (minimum) dengan
melihat volume sisa terbesar 60606,827 m3 dengan waktu pemompaan selama 19 jam,
dan akan habis dipompakan dengan waktu pemompaan 38,5 jam (tanpa hujan) artinya
dalam merancang dimensi sump, minimal sump dapat menampung volume sebesar
60606,827 m3.

5|P ag e

ANALISA MINE DEWATERING SYSTEM DI BLOK B SELATAN PT. MAN...

2015

Gambar 7. Rancangan Sump dengan Menggunakan 1 Pompa


Rancangan ketiga dibuat dengan asumsi 1 pompa yang beroperasi pada sump
A7 dan langsung dipompakan ke sump A5 (sump A6 sudah menjadi lokasi in pit dump),
dengan mempertimbangkan kesediaan pompa dan pipa yang ada dilokasi penelitian
maka dipilih pompa nomer lambung 748 untuk dioperasikan di sump A7, berdasarkan
head total pompa yang direncanakan maka diperoleh debit pemompaan 900 m3/jam
dengan operating speed 1250 rpm (lihat grafik spesifikasi pompa).

Gambar 8. Grafik Penentuan Dimensi sump dengan Menggunakan 1 Pompa


Dari grafik diatas dapat diketahui volume sump rancangan (minimum) dengan
melihat volume sisa terbesar 87984,299 m3 dengan waktu pemompaan selama 56 jam,
dan akan habis dipompakan dengan waktu pemompaan 117,31 jam (tanpa hujan) artinya
dalam merancang dimensi sump, minimal sump dapat menampung volume sebesar
87984,299m3.

Gambar 9. Sump A7

6|P ag e

ANALISA MINE DEWATERING SYSTEM DI BLOK B SELATAN PT. MAN...

b.

2015

Pengeringan pit (pit dewatering)


1) Pengeringan Sump A7
Volume air sump A7 pada saat penelitian adalah 31.315 m3, pengeringan
dihitung dengan menggunakan 2 pompa nomer lambung 731 operating speed 1300
rpm yang menghasilkan debit aktual 1206,016 m3/jam dan nomer lambung 728
operating speed 1700 rpm yang menghasilkan debit aktual 340,817 m3/jam,
pengeringan sump A7 diestimasikan akan berlangsung selama 20,24 jam ( asumsi ;
tanpa hujan dan pompa beroperasi selama pengeringan berlangsung).
2) Pengeringan Sump A6
Volume air sump A6 pada saat penelitian adalah 222.164 m3, dikarenakan
sump A6 merupakan sump transit maka volume air ditambahkan dengan hasil
pemompaan sump A7 sebesar 31.315 m3, jadi total volume air adalah 253.479 m3.
Pengeringan dihitung dengan menggunakan 1 pompa nomer lambung 747 operating
speed 1200 rpm yang menghasilkan debit aktual 1980,028 m3/jam, pengeringan
sump A7 diestimasikan akan berlangsung selama 153,62 jam ( asumsi ; tanpa hujan
dan waktu efektif pompa 20 jam perhari).
3) Elevation Control dan Pengeringan Sump A5
Elevation Control adalah kontrol elevasi air yang bertujuan agar air tidak
meluap kejalan hauling menuju pit Rawa Seribu Barat. Volume air sump A5 pada
saat penelitian adalah 1.465.998 m3 dan pada elevasi +18,24, elevasi pada badan
jalan hauling terendah adalah +20,00 dan dikarenakan pernah meluap pada badan
jalan terendah maka dilakukan penimbunan sehingga elevasi badan jalan +21,47.
Setelah dilakukan perhitungan dengan bantuan software Autocad 2010 volume air
yang masih dapat ditampung sump A5 sampai dengan elevasi +20,00 adalah sebesar
284.627,42 m3. Elevation Control dilakukan dengan asumsi hujan turun selama 12
jam dengan intensitas 33,74 mm/jam dan pompa beroperasi dengan waktu efektif 20
jam perhari (83,33%).

Gambar 10. Penimbunan Jalan Hauling


Elevation Control pertama dilakukan dengan menggunakan 1 pompa
dengan nomer lambung 771 operating speed 1360 rpm yang menghasilkan debit
aktual 1644.748 m3/jam. Nilai volume sisa pemompaan melebihi batas elevation
control yaitu 284,627.42 m3.

7|P ag e

ANALISA MINE DEWATERING SYSTEM DI BLOK B SELATAN PT. MAN...

2015

Gambar 11. Elevation Control dengan menggunakan 1 pompa


Elevation Control kedua dilakukan dengan menggunakan 2 pompa
dengan nomer lambung 771 operating speed 1360 rpm yang menghasilkan debit
aktual 1644.748 m3/jam dan nomer lambung 772 operating speed 1360 rpm yang
menghasilkan debit aktual 1631.655 m3/jam. Nilai volume sisa pemompaan
melebihi batas elevation control yaitu 284,627.42 m3.

Gambar 12. Elevation Control dengan menggunakan 2 pompa


Elevation Control ketiga dilakukan dengan menggunakan 3 pompa
dengan nomer lambung 771 operating speed 1360 rpm yang menghasilkan debit
aktual 1644.748 m3/jam, nomer lambung 772 operating speed 1360 rpm yang
menghasilkan debit aktual 1631.655 m3/jam dan nomer lambung 773 operating
speed 1360 rpm debit yang dihasilkan diasumsikan sama dengan pompa nomer
lambung 771. Nilai volume sisa pemompaan kurang dari batas elevation control
yaitu 284,627.42 m3.

8|P ag e

ANALISA MINE DEWATERING SYSTEM DI BLOK B SELATAN PT. MAN...

2015

Gambar 13. Elevation Control dengan menggunakan 3 pompa


Pengeringan sump A5 dihitung dengan menggunakan 2 pompa dengan
nomer lambung 771 operating speed 1360 rpm yang menghasilkan debit aktual
1644.748 m3/jam dan nomer lambung 772 operating speed 1360 rpm yang
menghasilkan debit aktual 1631.655 m3/jam, pengeringan sump diestimasikan
akan berlangsung selama 536,93 jam ( asumsi ; tanpa hujan dan waktu efektif
pompa 20 jam perhari).
5.

Pompa dan Pipa


PT. Mandala Karya Prima memiliki 12 unit pompa sentrifugal, pada saat penelitian
hanya 5 unit pompa diukur kecepatan aliran pemompaan pada sisi outletnya dikarenakan
pompa yang lain sedang tidak beroperasi.
Tabel 6. Kesediaan Pompa
No
No Lambung
Pump Model
Keterangan
1
708
Sykes HH 150 SS
Ready, water fill
2
719
Sykes HH 150 SS
Ready, standby
3
727
Sykes HH 150 SS
standby
4
728
Sykes HH 150 SS
Ready
5
729
Sykes HH 150 SS
standby
6
730
Sykes HH 220 SS
standby
7
731
Slurry Pump CP300i
Ready
8
747
Godwin Pump HL260M
Ready
9
748
Godwin Pump HL260M
Ready, standby
10
771
Volvo KSB
Ready
11
772
Volvo KSB
Ready
12
773
Volvo KSB
standby

9|P ag e

ANALISA MINE DEWATERING SYSTEM DI BLOK B SELATAN PT. MAN...

Tabel 7. Hasil Perhitungan Debit Aktual Pompa


No
Pump
No
Lokasi RPM
Lambung
Model
1360
Volvo KSB
1330
Sump
1.
771
LCC-H 200A5
1300
610
1270
1360
Volvo KSB
1330
Sump
2.
772
LCC-H 200A5
1300
610
1270
1200
Godwin
1100
Sump
3.
747
Pump
A6
900
HL260M
700
1300
Slurry Pump
Sump
4.
731
1200
CP300i
A7
1100
1700
Sykes HH
Sump
5.
728
150 SS
A7
1500

Kecepatan
aliran (m/s)
8.96
8.51
7.56
7.13
8.23
7.82
6.98
6.81
10.06
9.94
8.92
6.48
6.3
4.98
3.6
7.16
6.06

2015

Debit Aktual
(m3/Jam)
1644.748
1562.143
1387.756
1308.823
1631.655
1550.369
1383.833
1350.130
1980.028
1949.926
1739.886
1258.616
1206.016
906.814
466.9331
340.8175
267.5981

Berdasarkan pengamatan dilapangan, sistem pemompaan yang digunakan adalah


sistem pararel dengan tujuan untuk memperoleh jumlah volume pemompaan yang lebih besar
dan pompa bekerja selama 20 jam perhari (waktu efektif = 83,33%). Alur pemompaan pada
lokasi penelitian dapat dilihat pada gambar 14.

Gambar 14. Alur Pemompaan

a.

Head Total Pompa


1) Pompa Volvo KSB LCC-H 200-610 dengan nomer lambung 771
Berdasarkan spesifikasi pump performance head maksimum pompa adalah
130 meter @1400 rpm, dengan efisiensi terbaik 80%. Setelah dilakukan percobaan
dilapangan dengan operating speed yang berbeda-beda diperoleh head total seperti
pada tabel 8.
Tabel 8. Head Total Pompa Nomer Lambung 771

10 | P a g e

ANALISA MINE DEWATERING SYSTEM DI BLOK B SELATAN PT. MAN...

2015

2) Pompa Volvo KSB LCC-H 200-610 dengan nomer lambung 772


Berdasarkan spesifikasi pump performance head maksimum pompa adalah
130 meter @1400 rpm, dengan efisiensi terbaik 80%. Setelah dilakukan percobaan
dilapangan dengan operating speed yang berbeda-beda diperoleh head total seperti
pada tabel 9.
Tabel 9. Head Total Pompa Nomer Lambung 772

3) Pompa Godwin Pump HL260M dengan nomer lambung 747


Berdasarkan spesifikasi pump performance head maksimum pompa adalah
160 meter @1800 rpm, dengan efisiensi terbaik 70%. Setelah dilakukan percobaan
dilapangan dengan operating speed yang berbeda-beda diperoleh head total seperti
pada tabel 10.
Tabel 10. Head Total Pompa Nomer Lambung 747

4) Pompa Slurry Pump CP300i dengan nomer lambung 731


Berdasarkan spesifikasi pump performance head maksimum pompa adalah
60 meter @1200 rpm. Setelah dilakukan percobaan dilapangan dengan operating
speed yang berbeda-beda diperoleh head total seperti pada tabel 11.
Tabel 11. Head Total Pompa Nomer Lambung 731

5) Pompa Sykes HH 150 SS dengan nomer lambung 728


Berdasarkan spesifikasi pump performance head maksimum pompa adalah
98 meter @2000 rpm. Setelah dilakukan percobaan dilapangan dengan operating
speed yang berbeda-beda diperoleh head total seperti pada tabel 12. (operating
speed atas dasar perkiraan karena instrument panel pada pompa tidak berfungsi).
Tabel 12. Head Total Pompa Nomer Lambung 728

6) Pompa Godwin Pump HL260M dengan nomer lambung 748


Berdasarkan spesifikasi pump performance debit yang dapat dihasilkan
pada head 36.8 meter dengan operating speed 1250 rpm adalah 900 m3/jam.
Rencana head total dapat dilihat pada tabel 13.
11 | P a g e

ANALISA MINE DEWATERING SYSTEM DI BLOK B SELATAN PT. MAN...

2015

Tabel 13. Head Total Pompa Nomer Lambung 748

b.

c.

Berdasarkan analisis perhitungan head total, terlihat bahwa total head yang
harus diatasi pompa lebih kecil dari head maksimal yang dapat diatasi pompa
(shutoff head).
Perbandingan kondisi pompa aktual dan spesifikasi
1) Pompa Volvo KSB LCC-H 200-610 dengan nomer lambung 771
Operating speed yang digunakan untuk perbandingan adalah 1300 rpm,
dilihat dari grafik performance pompa bahwa penggunaan operating speed 1300
rpm pada head 74,7 meter masuk pada efisiensi 70% artinya pompa tidak bekerja
pada efisiensi terbaik, efisiensi terbaik pompa akan dapat dicapai jika pada head
74,7 meter pompa menggunakan operating speed 1170 rpm dan akan menghasilkan
debit 900 m3/jam. Setelah dilakukan pengukuran debit pompa aktual pada operating
speed 1300 rpm pompa menghasilkan debit 1387,756 m3/jam, jika dibandingkan
dengan debit spesifikasi pompa maka pompa seharusnya dapat menghasilkan debit
1510 m3/jam. Dari hasil pengamatan lapangan pada pompa nomer lambung 771
terdapat kebocoran pada impeller dan pipa.
2) Pompa Volvo KSB LCC-H 200-610 dengan nomer lambung 772
Operating speed yang digunakan untuk perbandingan adalah 1300 rpm,
dilihat dari grafik performance pompa bahwa penggunaan operating speed 1300
rpm pada head 74,0 meter masuk pada efisiensi 70% artinya pompa tidak bekerja
pada efisiensi terbaik, efisiensi terbaik pompa akan dapat dicapai jika pada head
74,0 meter pompa menggunakan operating speed 1170 rpm dan akan menghasilkan
debit 900 m3/jam. Setelah dilakukan pengukuran debit pompa aktual pada operating
speed 1300 rpm pompa menghasilkan debit 1383,833 m3/jam, jika dibandingkan
dengan debit spesifikasi pompa maka pompa seharusnya dapat menghasilkan debit
1515 m3/jam. Dari hasil pengamatan lapangan pada pompa nomer lambung 772
terdapat empat kebocoran pada pipa.
3) Pompa Godwin Pump HL260M dengan nomer lambung 747
Operating speed yang digunakan untuk perbandingan adalah 1200 rpm,
dilihat dari grafik performance pompa bahwa penggunaan operating speed 1200
rpm pada head 21,3 meter tidak masuk dalam recommended pump operating range.
Setelah dilakukan pengukuran debit pompa aktual pada operating speed 1200 rpm
pompa menghasilkan debit 1980,028 m3/jam.
4) Pompa Sykes HH 150 SS dengan nomer lambung 728
Operating speed yang digunakan untuk perbandingan adalah 1700 rpm,
dilihat dari grafik performance pompa bahwa penggunaan operating speed 1700
rpm pada head 33,3 meter tidak masuk dalam recommended pump operating range.
Setelah dilakukan pengukuran debit pompa aktual pada operating speed 1700 rpm
pompa menghasilkan debit 340,8175 m3/jam, jika dibandingkan dengan debit
spesifikasi pompa maka pompa seharusnya dapat menghasilkan debit lebih dari
debit aktual tersebut dan seharusnya jika menghasilkan debit 340,8175 m3/jam pada
head 33,3 meter pompa cukup menggunakan operating speed 1400 rpm.
Pipa
Jenis pipa yang digunakan adalah pipa HDPE (High Density Poly Ethelene)
yang mempunyai panjang 6 meter perbatang, Rincian pipa yang digunakan dapat dilihat
pada tabel berikut:

12 | P a g e

ANALISA MINE DEWATERING SYSTEM DI BLOK B SELATAN PT. MAN...

2015

Tabel 14. Rincian Diameter dan Panjang Pipa yang digunakan


No
Inlet Outlet Panjang
Keterangan
Lambung (inci)
(inci)
Pipa (m)
Koordinat line pipa diambil
771
14
12
1200
bidik survey
Koordinat line pipa diambil
772
14
12
1212
bidik survey
Koordinat line pipa diplot
747
10
12
150
pengamatan lapangan
Koordinat line pipa diplot
731
14
12
180
pengamatan lapangan
Koordinat line pipa diplot
728
8
6
450
pengamatan lapangan

6.

dari hasil
dari hasil
dari hasil
dari hasil
dari hasil

Gambar 15. Pengambilan Koordinat Pipa


Rekomendasi Dimensi Saluran Terbuka
Pada saat pengamatan lapangan, saluran terbuka yang digunakan untuk mengalirkan
volume air yang dipompa dari sump A5 menuju setling pond 22 belum ada analisis untuk
perhitungan dimensinya, sehingga perlu dianalisis dimensi saluran terbuka tersebut untuk
data rekomendasi jika dimensi saluran pada saat ini belum mampu mengalirkan volume air
maksimum. Saluran yang dibuat berbentuk trapesium, material pembentuknya tanah dan
penentuan dimensinya menggunakan persamaan Manning. Berdasarkan hasil perhitungan,
untuk mengalirkan debit air limpasan sebesar 1,45472 m3/detik diperoleh usulan dimensi
saluran terbuka sebagai berikut:
Kedalaman air (h)
= 0,803 m
Lebar dasar saluran terbuka (b)
= 1,07 m
Lebar permukaan air (B)
= 2,323 m
Tinggi jagaan saluran terbuka (l)
= 0,12 m
Kemiringan dinding saluran ()
= 60o
Adapun gambaran dimensi saluran terbuka tersebut seperti Gambar 16.

Gambar 16. Dimensi Saluran Terbuka


13 | P a g e

ANALISA MINE DEWATERING SYSTEM DI BLOK B SELATAN PT. MAN...

F.

2015

KESIMPULAN DAN SARAN


1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian, maka dapat disimpulkan :
a. Hasil analisis Elevation control pada main sump dengan menggunakan 3 pompa nomer
lambung 771, 772 dan 773 menunjukkan bahwa air pada main sump tidak akan meluap
jika datang hujan selama 12 jam dengan intensitas 33,74 mm/jam
b. Head total yang harus diatasi pompa lebih kecil dari head maksimal yang dapat diatasi
pompa tetapi pompa tidak beroperasi pada titik efisiensi terbaik.
2. Saran
a. Sebaiknya dalam mengoperasikan pompa menggunakan titik efisiensi terbaik pompa
artinya agar disesuaikan kembali operating speed pompa yang digunakan dengan head
totalnya, untuk perawatan pompa dan penghematan pemakaian fuel dll.
b. Perlunya perbaikan pada pipa dan impeller yang bocor agar air yang keluar dari outlet
pemompaan lebih optimal.
c. Pada instalasi pipa sebaiknya menghindari belokan patah agar tidak memperbesar head
pompa.
d. Perlu ada perbaikan pada pompa nomer lambung 773 agar dapat digunakan kembali pada
main sump.
e. Perlu adanya pemasangan patok/tanda pada main sump pada elevasi +18,24 agar air tidak
meluap kembali kebadan jalan hauling.
f. Sebaiknya pompa nomer lambung 771,772 dan 773 pada main sump tidak perlu
beroperasi jika elevasi air dibawah +18,24 untuk penghematan pemakai fuel dan umur
pompa.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2012. Studi Geoteknik dan Hidrogeologi PT Mandiri Inti Perkasa. LPPM ITB,
Bandung.
Ardi Gunawan, dkk. 2015. Studi Hidrologi dan Hidrogeologi untuk Rencana Penambangan
Batubara PT Pacific Global Utama Kecamatan Tanjung Agung Kabupaten Muara Enim
Sumatera Selatan. Jurnal Penelitian Sains dan Teknologi. Hlm. 29-40.
Farisyah. 2012, Kajian Teknis Sistem Penyaliran Tambang di Wilayah Pit Paringin PT. Rante
Mutiara Insani Site PT. Adaro Indonesia Kalimantan Selatan. Skripsi Program Studi
Teknik Pertambangan, Universitas Pembangunan Nasional Veteran.
Muhammad Endriantho dan Muhammad Ramli. 2013. Perencanaan Sistem Penyaliran Tambang
Terbuka Batubara. Jurnal Geosains. No.01 Hlm. 29-40.
Oki Lingga Putra, dkk. 2013. Kajian Teknis Sistem Penirisan Tambang Banko Barat Guna
Menanggulangi dan Mengoptimalisisasi Sistem Pemompaan Air Tambang di Pit III
Barat PT Bukit Asam (Persero) Tbk Tanjung Enim . Laporan Penelitian. Universitas
Sriwijaya.
Rudy Sayoga Gautama. 2012. Pengelolaan Lingkungan pada Kegiatan Pertambangan. Slide
Presentasi. Teknik Pertambangan ITB.
Sugi Rahmat. 2012, Analisa Kerugian Head Akibat Perluasan dan Penyempitan Penampang pada
Sambungan 90. Skripsi Jurusan Studi Teknik Mesin, Universitas Hasanudin.

14 | P a g e

Anda mungkin juga menyukai