0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
68 tayangan27 halaman

Mesin Pengecil Ukuran dalam Industri

size reductionnnnn........................................................................................................

Diunggah oleh

Intan Ayu Hapsari
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
68 tayangan27 halaman

Mesin Pengecil Ukuran dalam Industri

size reductionnnnn........................................................................................................

Diunggah oleh

Intan Ayu Hapsari
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

SIZE REDUCTION (PERALATAN INDUSTRI)

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Alat dan mesin dalam industri merupakan faktor fisik yang mendukung peningkatan
produktivitas kerja dalam industri. Bahan baku mentah yang akan diproses secara
industri tentunya perlu melalui beberapa tahapan untuk memenuhi standar ukuran alat
atau mesin produksi. Beberapa teknik dan metode dapat dilakukan untuk melakukan
perubahan bentuk pada bahan baku. Alat-alat pengecil ukuran ini biasanya dikenal
dengan Size Reduction. Alat pengecil ukuran ini merupakan unit mesin yang
digunakan untuk mengubah ukuran suatu bahan baku supaya lebih mudah dilakukan
proses produksi.
Karakteristik suatu bahan baku merupakan substansi utama yang secara garis besar
perlu dipertimbangkan dalam menentukan mesin pengecil ukuran yang tepat. Kadar air
suatu bahan baku serta kandungan penyusun suatu bahan baku tertentu akan berbedabeda setiap komoditinya. Sehingga mesin tertentu yang tepat perlu diperhatikan
kecocokannya dengan karakter bahan baku yang akan dikecilkan ukurannya. Selain itu
aspek penting yang perlu diperhatikan adalah kapasitas mesin dalam mengasilkan
rendeman karena hal tersebut menyangkut efektif atau tidaknya mesin pengecilan
ukuran bekerja.
Bahan baku dalam proses pengecilan ukuran pada dasarnya dapat dilakukan dengan
empat prinsip. Yakni prinsip kompresi, tumbukan, atrisi, serta pemotongan. Keempat
prinsip diatas memiliki fungsi dan kegunaan untuk menghasilkan ukuran bahan yang
lebih kecil dari ukuran awalnya sehingga proses lanjutan yang lebih kompleks dapat
dilakukan. Pada industri pengecilan ukuran akan selalu ditemukan dalam produksi
katagori apapun. Karena ukuran awal bahan baku umumnya lebih besar daripada
ukuran produknya. Oleh sebab itu alat pengecil ukuran sangat dibutuhkan dalam suatu
industri khususnya industri yang berbasis pertanian.
B. Tujuan
Praktikum mesin pengecil ukuran ini bertujuan untuk mahasiswa memahami prinsip
pengecilan ukuran pada suatu bahan baku produk. Kemudian mahasiswa dapat
memahami kegunaan mesin pengecil ukuran serta dapat menyebutkan contoh aplikasi
yang sering ditemukan dalam industri khususnya industri pertanian.
METODOLOGI
A. Alat dan Bahan
Pada praktikum peralatan industri yang bertajuk size reduction ini memiliki beberapa
perbedaan dalam metode pembahasan selama praktikum. Bila dalam praktikumpraktikum sebelumnya praktikan hanya melihat dan mengamati mesin-mesin industri kali
ini praktikan melakukan percobaan terhadap fungsi dan kegunaan mesin yang sedang
dipelajari. Adapun mesin yang digunakan adalah Neraca massa, Disk Mills, Multi Mills,

Hammer Mills, serta Alexanderwerk.


Sedangkan bahan yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah singkong (Manihot
utilissima) dan kacang dadap. Kedua bahan ini merupakan bahan yang digunakan untuk
mesimulasi kerja peralatan industri yang berguna untuk memperkecil ukuran.
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil
(Terlampir)
B. Pembahasan
Size reduction merupakan operasi suatu mesin yang memiliki utilitas untuk memperkecil
ukuran. Prinsip operasi ini utamanya sering ditemukan dalam industri-industri khususnya
yang membutuhkan ukuran partikel kecil pada produknya. Mesin pengecil ukuran
biasanya digunakan untuk bahan-bahan yang berada pada fasa padat. Bahan baku
supaya mudah dilakukan pengolahan proses perlu diperkecil ukurannya. Pengecil
ukuran menurut Earle (1983) merupakan mesin yang dapat memotong menghancurkan
atau mengecilkan ukuran dengan prinsip mekanis.
Pada prinsipnya mesin pengecil ukuran memiliki empat cara kerja yaitu kompresi,
tumbukan, gesekan, dan pemotongan. Mesin pengecil ukuran dengan prinsip kompresi
memiliki konsep untuk mengecilkan ukuran dimana agregat benda tidak mampu
menahan tekanan dari bidang penekan. Sehingga bahan yang dikecilkan ukurannya
dengan prinsip ini akan pecah misalnya pada kedondong. Pengecilan ukuran buah
kedondong secara konvensional ini menggunakan prinsip kompresi. Bahan yang
dikecilkan ukuran dengan prinsip ini biasanya bahan yang memiliki kekerasan tingkat
tinggi.
Prinsip selanjutanya adalah tumbukan yang mana dalam prinsip ini pada bahan yang
akan dikecilkan ukurannya memperoleh tekanan yang tidak sama antara bidang yang
tertumbuk dengan bidang yang tidak tertumbuk. Pada bidang bahan yang terkena
tumbukan akan memperoleh tekanan yang besar pada agregatnya sehingga bahan
akan hancur pada bagian yang tertumbuk. Sebagai contoh aplikasinya adalah ketika kita
menjatuhkan buah apel ke dasar lantai dengan gaya yang besar, maka bagian yang
pecah lebih adalah bagian bawah yang bersingungan dengan bidang tumbuk. Alat ini
disarankan digunakan untuk bahan yang kasar.
Prinsip ketiga yang sering digunakan untuk membuat pengecil ukuran adalah atrisi atau
gesekan. Gaya yang diberikan secara berlawanan terhadap dua bidang bahan akan
menyebabkan bahan tergerus dan menjadi bentuk yang lain. Bahan yang dapat
dikecilkan ukurannya dengan prinsip ini cuikup beragam karena biasanya mesin dengan
prinsip ini dirancang dengan mata paku pada bagian penggeseknya. Sehingga bahan
akan tergerus menjadi suatu partikel baru dari bahan yang ukurannya lebih besar
sebelumnya atau lebih sederhananya menghasilkan produk dengan ukuran halus.
Prinsip terakhir pada mesin pengecil ukuran yang umum digunakan adalah slicer atau

pemotong. Pada prinsip pemotongan ini merupakan prinsip yang paling sering
ditemukan dalam industri khususnya industri pengolahan pangan. Mesin dengan prinsip
pemotongan ini menggunakan mata pisau yang tajam yang berfungsi memotong ukuran
bahan baku sesuai ukuran yang telah di rencanakan.
Pengecilan ukuran pada bahan dalam suatu industri ditujukan untuk beberapa tujuan.
Beberapa tujuan tersebut diantaranya untuk mempermudah pencampuran dengan
bahan lain, untuk membantu proses ekstraksi, untuk memperluas luas permukaan, dan
secara spesifik membuat bahan menjadi ukuran yang diinginkan dalam suatu produksi
(Brennan et al, 1974).
Menurut Mc Cabe et al (1985) mesin pengecil ukuran dklasifikasikan menjadi beberapa
kelompok. Ada yang terkelompok dalam crussher, grinder, ultrafine grinder, serta cutting
machines. Mesin yang dikelompokkan dalam crushers adalah jaw crussher, gyratory
crushers,dan crushing [Link] mesin yang dikelomppokan dalam grinder
diantaranya hammer mills, rolling-compression mills, atrition mills, dan tumbling mills.
Aplikasi mesin yang paling sering ditemukan dalam banyak industri adalah jaw crusher,
mesin ini biasanya digunakan untuk industri tambang, gula tebu, tandan sawit, serta
dalam industri konstruksi. Mesin jaw crusher ini merupakan mesin yang mengaplikasikan
prinsip kompresi dimana alat ini bisa digunakan untuk memperkecil ukuran bahan yang
memiliki karakteristik keras sekalipun bebatuan sedimen. Operasi mesin ini bisa
digunakan untuk umpan bahan dengan ukuran pada kisaran 100-1000 mm dan
menghasilkan produk dengan ukuran 25-100 mm. Rasio pengecilan yang dapat
dilakukan alat ini hanya berada pada level 8 kali.
Gambar 1. Jaw crusher
Peralatan industri lainnya yang sering digunakan untuk mengecilkan ukuran pada bahan
adalah crushing rolls. Peralatan ini biasanya digunakan untuk mengecilkan ukuran pada
bahan-bahan yang memiliki karakteristik sangat keras seperti bebatuan. Denngan
menggunakan peralatan ini desain ukuran bahan dapat ditentukan ukurannya. Peralatan
ini sudah sering digunakan sejak dahulu dengan cara yang tradisional. Perawatan untuk
mesin ini tergolong sangat mudah dibandingkan mesin pengecil ukuran yang lainnya.
Gambar 2. Crushing rolls
Pada praktikum kali ini dilihat dan diamati beberapa contoh dari peralatan size reduction
yaitu multi mill, disk mill, hammer mil dan Alexanderwerk. Keempat peralatan tersebut
sudah banyak digunakan dalam beberapa industri khususnya industri pertanian dalam
prosesnya mengecilkan ukuran bahan. Peralatan tersebut memiliki perbedaan pada
prinsip kerjanya, jenis bahan yang dikecilkan, keperluan energi dan kapasitas dari mesin
tersebut.
Multi mill adalah mesin yang banyak digunakan untuk granulasi basah dan kering yang
pada dasarnya bahan yang ingin dikecilkan memiliki serat, alat ini banyak digunakan
pada industri farmasi, kosmetik, keramik, produk pangan, pertanian, plastik, dan resin

industri (Anonim, 2005). Alat ini bekerja dengan motor listrik yang dihubungkan dengan
gear dan dapat bekerja dengan bolak-balik, bolak-balik di sini adalah keuntungan
tersendiri dari multi mill yang dibuat memiliki dua sisi mill yang berbeda. Satu sisi untuk
proses impact dan sisi lain untuk proses cutting.
Pengaturan perputaran pada multi mill ini menggunakan cam starter yang berfungsi
membolak-balik arah tegangan yang diberikan untuk mesin tersebut. Menurut Anonim
(2005), mesin ini memiliki putaran rotor sekitar 750-3000 rpm, dengan tegangan untuk
motor listrik 440v dan kapasitas 50-200 kg/jam. Alat ini bekerja menghancurkan bahan
yang dimasukkan dari atas ke dalam tabung yang dipasangi mill untuk size reduction
dan bahan yang sudah dihancurkan melewati lapisan (screen) yang pada praktikum kali
ini berukuran sekitar 30 mesh.
Peralatan lainnya yang diamati adalah disk mill, mesin ini digunakan dalam pembuatan
tepung dari bahan-bahan pertanian seperti beras, kedelai, cabe kering, kopi, jagung dan
juga bahan-bahan herbal untuk pengobatan. Alat ini bekerja menggunakan dua mill
yang mempunyai prinsip crushing yang dilakukan oleh mill tersebut dengan satunya
berputar dan mill satuya statis. Mill yang berbentuk disk di dalam tabung ini memilki
tonjolan yang berfungsi sebagai crusher bahan-bahan yang ingin dikecilkan, dan bahan
tersebut akan melewati screen yang diberikan mengelilingi tabung tersebut.
Mesin ini menggunakan tenaga dari motor listrik yang dihubungkan dengan as roda dan
gear langsung pada mill yang bergerak. Screen pada mesin ini memiliki mesh yang
berukuran sekitar 60-100 mesh, yang artinya mesin ini memiliki hasil yang berukuran
lebih kecil daripada multi mill, meskipun kalau dilihat langsung pada multi mill mesh
yang diberikan dapat diganti sesuai keinginan. Perbedaan yang terlihat jelas pada disk
mill adalah mesin ini menghancurkan bahan-bahan yang biasanya bersifat kering serta
hanya dapat melakukan crushing.
Hammer mill yang pada penggunaannya lebih kearah penghancuran bahan agregat
menjadi bahan yang lebih kecil, mesin ini seperti di atas banyak digunakan pada
industri-industri pertanian pembuatan pulp, kertas, hingga penghancuran batu. Alat ini
bekerja menggunakan tenaga dari motor bakar yang dihubungkan dengan rotor
berkecepatan tinggi yang memutar palu-palu di sepanjang lintasannya. Bahan yang
masuk akan terpukul oleh palu-palu yang berputar serta bertumbukan dengan dinding
hammer mill.
Mill yang digunakan pada mesin ini berprinsip sebagai impact sehingga bentuknya tidak
tipis, serta mill yang dipasang lebih longgar atau tidak statis karena terkadang bahan
yang ingin dikecilkan ukurannya tidak mudah dihancurkan. Bahan yang sudah melewati
tabung yang berisi mill yang berputar juga disaring melewati screen yang pada mesin ini
kira-kira 20-30 mesh dan artinya hasil yang didapat dari mesin ini lebih kasar daripada
kedua mesin yang sudah dibahas sebelumnya. Ada alasan tersendiri juga mengapa
pada hammer mill menggunakan motor bakar, karena mesin ini dikhususkan untuk

bahan-bahan yang padat, bahan berserat, bahan yang agak lengket, serta digunakan
untk industri bessar yang mana membutuhkan pemakaian energi lebih besar daripada
kedua mesin mill lainnya.
Peralatan lain untuk pengecilan ukuran dapat juga ditemukan yang menggunakan
prinsip cutting, pada praktikum kali ini diamati alat Alexanderwerk. Mesin ini
menggunakan motor listrik yang berkekuatan 1 hp, dan dihubungkan dengan as yang
memutar silinder yang dipasangi blade (pisau). Blade yang dipasangi dapat diatur untuk
ketebalan hasil yang diinginkan pada Alexanderwerk ketebalan yang didapat dari 0,5-5
mm. Semakin cepat perputaran silinder yang dihasilkan maka semakin cepat dan
banyak bahan yang didapat untuk hasilnya. Untuk kelebihan lainnya yang didapat dari
alat jenis ini adalah pisau ini dapat diganti untuk keperluan lain seperti potongan yang
berbentuk(bulat, bergerigi, gelombang dan lain-lain), serta untuk parutan, juga
pencampuran bahan.
Kelebihan alat ini juga pada penggunaan energi yang fleksibel, yaitu rotor untuk tabung
pemotong dapat dilepas dan jika harus bisa dipasangkan pada motor bakar. Alat ini
dapat digunakan juga sebagai penggiling dan pengiris hal tersebut dimungkinkan sesuai
silinder yang kita gunakan. Tetapi alat ini memiliki kekurangan pada proses yang
dilakukan relatif lebih lama karena bahan yang dikecilkan ukurannya harus dimasukkan
satu persatu, serta kecepatan hasil yang didapat tergantung dari kecepatan rotornya
serta bahan yang dapat dikecilkan menggunakan alat ini hanya terbatas pada bahan
yang tidak memiliki lignoselulosa. Pada alat yang diamati diketahui bahwa alat tersebut
masih menggunakan tenaga manual untuk dapat beroperasi, yaitu pemasukan
bahannya menggunakan tenaga manusia tidak seperti mesin lain yang sudah
menggunakan auto.
Setiap peralatan di atas memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing, pada multi
mill keuntungan yang bisa didapat adalah karena bahan yang bisa dikecilkan ukuran
menggunakan alat ini lebih fleksibel dan banyak, karena dapat di atur untuk bahan yang
sangat padat ataupun bahan yang hanya ingin dipotong-potong saja, dari segi bahan
alat ini dapat langsung digunakan untuk bahan-bahan yang masih basah. Tetapi alat ini
memiliki keterbatasan pada kapasitasnya, serta jika dibandingkan ukuran dan kapasitas
mesin pemakaian energi untuk multi mill terlalu besar yaitu hingga 3 hp.
Untuk disk mill kelebihan yang dapat dilihat adalah ukuran pengecilannya paling kecil
diantara ketiga mesin tersebut, yaitu hingga 100 mesh, serta konsumsi energinya lebih
sedikit. Juga bahan yang dihancurkan langsung dapat diambil artinya prosesnya lebih
cepat dan jika bahan yang masih berukuran besar kembali lagi pada putaran mill hingga
menjadi kecil. Sedangkan kekurangannya adalah untuk mesin yang berkapasitas kecil
ini harganya dipasaran tergolong lebih mahal, serta adanya resiko kerusakan, yaitu jika
pada as rotor terdapat selisih pergerakan akan terjadi tubrukan antara rotor mill dan
statornya.

Pada hammer mill kelebihan mesin ini dapat digunakan untuk bahan yang sangat padat
bahkan batu, serta rasio pengecilan yang dihasilkan dari mesin ini hingga 400 kali dari
bahan asalnya. Proses operasi mesin tersebut berlangsung cepat dan hasil yang
didapat sangat halus serta dapat melangsungkan proses yang continue. Alat ini memiliki
kontruksi yang sederhana, serta tidak mudah rusak walaupun ada benda asing di dalam
bahan yang dikecilkan juga pemeliharaanya lebih murah(Wiratakusumah,1992).
Kekurangan dari mesin ini adalah ketika mesin beroperasi sangat bising dan karena
menggunakan motor bakar menghasilkan residu, serta biaya pemasangan awalnya
relatif lebih besar. Alat ini juga tergolong mahal dan pada awal pengoperasian
dibutuhkan tenaga awal yang besar. Walaupun dapat menghasilkan hasil yang kecil
tetapi hasil yang didapat biasanya tidak beragam.
Pada praktikum diujicobakan peralatan size reduction multi mill dan Alexanderwerk,
bahan untuk multi mill adalah kacang dadap dan Alexanderwerk menggunakan
singkong. Dari data yang didapat diperoleh rendemen yang lebih tinggi pada alat
Alexanderwerk dibandingkan rendemen pada multi mill. Rendemen singkong didapat
93,1% rendemen yang artinya efektivitas Alexanderwerk lebih tinggi dari multi mill yang
hanya menghasilkan 78% rendemen.
Tidak dihasilkannya 100% rendemen pada kedua alat dapat terjadi karena pada
prosesnya untuk Alexanderwerk bahan yang dicutting melekat pada sisi pisau dan
tabung rotornya. Untuk multi mill bahan yang telah dihaluskan menempel pada tabung
meskipun bahan yang digunakan adalah bahan kering, hal ini dapat terjadi karena
bahan telah menjadi partikel yang sangat kecil dan paparan debu sehingga dengan
mudah melekat pada sisi tabung.
PENUTUP
A. Kesimpulan
Size reduction merupakan suatu operasi yang dilakukan dalam industri pertanian untuk
mempermudah proses pengolahan suatu produk. Prinsip mesin pengecil ukuran
umumnya hanya ada empat yakni kompresi, atrisi, tumbukan, dan pemotongan. Pada
aplikasi pembuatan mesin pengecil ukuran biasanya mengkombinasikan diantara keempat prinsip pengecilan ukuran dan hampir tidak ada yang mengkombinasikan empat
prinsip tersebut. Mesin yang umum digunakan dalam industri pertanian ungtuk
mengecilkan ukuran contohnya jaw crusher pada industri pembuatan gula tebu, tandan
sawit, serta konstruksi. Contoh mesin lainnya yang umum digunakan adalah crushing
rolls yang biasanya diaplikasikan untuk memperkecil ukuran pada bahan yang memiliki
tingkat kekerasan tinggi seperti batu. Oleh karena itu untuk aplikasi mesin ini akan
sering ditemukan pada industri konstruksi dan tambang. Mesin yang diamati dalam
praktikum ada empat jenis yakni hammer mills, disk mills, multi mills, dan
Alexanderwerk. Sedangakan yang digunakan untuk keperluan praktikum hanya dua
macam yakni multi mills dan Alexanderwerk. Bahan yang diujikan untuk mengetahui

cara kerja mesin adalah kacang dadap pada multi mills, dan singkong pada
Alexanderwerk. Diantara kedua percobaan yang dilakukan, rendemen terbesar diperoleh
dengan menggunakan Alexanderwerk. Hal ini disebabkan ukuran partikel yang
dihasilkan menggunakan multi mills yang cenderung lebih kecil dibandingkan dengan
Alexanderwerk. Faktor gravitasi mempengaruhi paparan yang menempel pada mesin.
Pada kacang dadap hasilnya cenderung kecil dan bobot partikelnya jelas lebih rendah
dibandingkan singkong, sehingga hasilnya mudah terpapar kesamping permukaan
penampang mesin dan menyebabkan rendemennya lebih rendah dibandingkan
singkong dengan mesin Alexanderwerk.
B. Saran
Supaya memperoleh penjelasan yang lebih pada mesin pengecil ukuran yang sering
digunakan dalam industri pertanian sebaiknya percobaan dilakukan untuk semua jenis
mesin. Hal ini akan memberikan rangsangan positif terhadap pemahaman mahasiswa
akan cara kerja dan prinsip kerja alat pengecil ukuran secara keseluruhan.
KATEGORI:
LAPORAN

INTERGRATED RIVER MANAGEMENT


Tugas Responsi Hari/ Tanggal : Selasa/ 8 Mei 2012
Manajemen Lingkungan Industri Dosen : Prof. Dr. Ir. Suprihatin
Integrated River Management
Disusun oleh:
1. Daud Geraldy S. F34100001
2. Ridha Alfhia F34100018
3. Feri Julianto F34100114
4. M. Adhi Baskara F34100134
5. Daniel Kristianto F34100151
6. Alfyandi F34100155
DEPARTEMEN TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN
FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2012
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sebagai salah satu hal yang berperan dalam siklus hidrologi, sungai haruslah dijaga
agar dapat berperan dengan baik. Sungai yang tidak termanajemen akan menjadi
potensi bahaya bagi kehidupan, terutama ketika terjadi luapan saat hujan ataupun
adanya penambahan kuantitas air dari sumber mata air yang lain.

Sungai juga menjadi sumber penghidupan bagi banyak makhluk hidup baik dari
mikroorganisme, tumbuhan, hewan serta manusia. Oleh karena itu untuk memanajemen
sungai tersebut juga harus memperhatikan faktor-faktor untuk menjaga ekosistem
sebagai tempat [Link] itu, diperlukan sebuah manajemen yang terpadu untuk
mengelola sungai agar tidak begitu memberikan ancaman bahaya bagi populasi yang
disekitarnya
1.2 Tujuan
1. Mengetahui Definisi Sungai secara umum
2. Mengklasifikasikan Sungai
3. Memahami Daerah Aliran Sungai (DAS)
4. mengetahui masalah dari Daerah Aliran Sungai (DAS)
5. Memberikan solusi dari permasalahan DAS
6. Mengetahui resiko pencemaran sungai
1.3 Rumusan Masalah
1. Apakah yang disebut sungai
2. Apakah yang disebut DAS
3. Mengapa DAS dapat bermasalah
4. Bagaimanakah pengendalian sungai yang terpadu
BAB II
ISI
2.1 Definisi Sungai
Sungai merupakan tempat air tawar mengalir yang datangnya dari hulu, baik dari
gunung maupun air hujan. Menurut Anonim (2012), sungai merupakan bagian dari
bentuk permukaan bumi yang terbentuk secara alamiah. Sungai juga menjadi kebutuhan
bagi sebagian makhluk hidup termasuk manusia. Aliran airnya dapat digunakan sebagai
pembangkit tenaga listrik, selain itu kebutuhan akan air pun biasanya diambil dari
sungai.
Sungai adalah salah satu bagian dari siklus hidrologi. Air dalam sungai umumnya
terkumpul dari presipitasi, seperti hujan, embun, mata air, limpasan bawah tanah, dan di
beberapa negara tertentu air sungai juga berasal dari lelehan es / salju. Selain air,
sungai juga mengalirkan sedimen dan polutan. Air sungai mengalir dari tempat sumber
air yang disebut hulu sungai hingga ke daerah hilir atau muara dan berakhir di laut
(Anne, 2012).
Selain sebagai jalur air tawar sungai juga merupakan tempat ekosistem beberapa
organisme, baik mikroorganisme hingga makroorganisme, ini merupakan hal yang
penting untuk menjaga kelangsungan ekosistem yang bergantung pada sungai. Air
sungai mengalir di atas tanah yang dibatasi tanggul, tetapi pada sungai buatan ada
tanggul yang disusun oleh semen hal ini menyebabkan beberapa organisme tidak bisa
hidup.

2.2 Klasifikasi Sungai


Berdasarkan sumber airnya, sungai dibagi atas sungai hujan, gletsyer dan campuran.
Sedangkan jika berdasarkan aliran airnya sungai dibagi atas sungai konsekuen,
inkonsekuen, subsekuen, obsekuen dan resekuen. Meskipun hingga saat ini seperti
yang telah dikatakan di atas sungai juga dapat dibagi atas sungai alami dan sungai
buatan. Sungai alami adalah sungai yang terbentuk atau tepatnya dibentuk oleh alam,
berasal dari aliran air yang terjadi di atas daratan. Sedangkan sungai buatan adalah
sungai yang dibuat oleh manusia, sungai berasal dari aliran air yang ditujukan untuk
bermacam kebutuhan mulai dari sumber air hingga pembangkit energi (Anonim, 2010).
Sungai hujan banyak ditemui di daerah tropis, akibat memiliki iklim yang basah. Sungai
gletser adalah sungai yang terbentuk akibat dari es yang mencair, biasanya sungai ini
banyak ditemui di daerah kutub dan eropa bagian utara, akibat cuaca disana yang
sangat dingin. Sungai campuran adalah sungai yang alirannya bersumber dari air hujan
dan mencairnya es. Sungai ini dapat ditemui di daerah Papua. Daerah Aliran Sungai
atau DAS adalah hamparan pada permukaan bumi yang dibatasi oleh punggungan
perbukitan atau pegunungan di hulu sungai ke arah lembah di hilir. DAS oleh karenanya
merupakan satu kesatuan sumberdaya darat tempat manusia beraktivitas untuk
mendapatkan manfaat darinya. Agar manfaat DAS dapat diperoleh secara optimal dan
berkelanjutan maka pengelolaan DAS harus direncanakan dan dilaksanakan dengan
sebaik-baiknya.
Pengertian daerah aliran sungai (DAS) adalah keseluruhan daerah kuasa (regime)
sungai yang menjadi alur pengatur (drainage) utama. Pengertian DAS sepadan dengan
istilah dalam bahasa inggris drainage basin, drainage area, atau river basin. Sehingga
batas DAS merupakan garis bayangan sepanjang punggung pegunungan atau
tebing/bukit yang memisahkan sistem aliran yang satu dari yang lainnya. Dari pengertian
ini suatu DAS terdiri atas dua bagian utama daerah tadah (catchment area) yang
membentuk daerah hulu dan daerah penyaluran air yang berada di bawah daerah tadah.
Batas DAS kebanyakan tidak sama dengan batas wilayah administrasi. Akibatnya
sebuah DAS bisa berada pada lebih dari satu wilayah administrasi. Ada DAS yang
meliputi wilayah beberapa negara (misalnya DAS Mekong), beberapa wilayah kabupaten
(misalnya DAS Brantas), atau hanya pada sebagian dari suatu kabupaten.
Tidak ada ukuran baku (definitif) suatu DAS, ukurannya mungkin bervariasi dari
beberapa hektar sampai ribuan hektar. DAS Mikro atau tampungan mikro (micro
catchment) adalah suatu cekungan pada bentang lahan yang airnya mengalir pada
suatu parit. Parit tersebut kemungkinan mempunyai aliran selama dan sesaat sesudah
hujan turun (intermitten flow) atau ada pula yang aliran airnya sepanjang tahun
(perennial flow) (Fahmudin dan Widianto, 2004). Sebidang lahan dapat dianggap
sebagai DAS jika ada suatu titik penyalur aliran air keluar dari DAS tersebut. Sebuah

DAS yang menjadi bagian dari DAS yang lebih besar dinamakan sub DAS; merupakan
daerah tangkapan air dari anak sungai.
2.3 Ruang Lingkup Daerah Aliran Sungai (DAS)
Menurut Fahmudin dan Widianto (2004), DAS dapat dibagi ke dalam tiga komponen
yaitu: bagian hulu, tengah dan hilir. Ekosistem bagian hulu merupakan daerah
tangkapan air utama dan pengatur aliran. Ekosistem tengah sebagai daerah distributor
dan pengatur air, sedangkan ekosistem hilir merupakan pemakai air. Hubungan antara
ekosistem-ekosistem ini menjadikan DAS sebagai satu kesatuan hidrologis. Di dalam
DAS terintegrasi berbagai faktor yang dapat mengarah kepada kelestarian atau
degradasi tergantung bagaimana suatu DAS dikelola.
Di pegunungan, di dataran tinggi dan dataran rendah sampai di pantai dijumpai iklim,
geologi, hidrologi, tanah dan vegetasi yang saling berinteraksi membangun ekosistem.
Setiap ekosistem di dalam DAS memiliki komponen hidup dan tak-hidup yang saling
berinteraksi. Memahami sebuah DAS berarti belajar tentang segala proses-proses alami
yang terjadi dalam batas sebuah DAS.
Sebuah DAS yang sehat dapat menyediakan:
Unsur hara bagi tumbuh-tumbuhan
Sumber makanan bagi manusia dan hewan
Air minum yang sehat bagi manusia dan makhluk lainnya
Tempat berbagai aktivitas manusia dan hewan
2.4 Permasalahan DAS
Beberapa proses alami dalam DAS bisa memberikan dampak menguntungkan kepada
sebagian kawasan DAS tetapi pada saat yang sama bisa merugikan bagian yang lain.
Banjir di satu sisi memberikan tambahan tanah pada dataran banjir tetapi untuk
sementara memberikan dampak negatif kepada manusia dan kehidupan lain.
Masalah DAS pada dasarnya dapat dibagi menjadi:
a. Kuantitas (jumlah) air
o Banjir dan kekeringan
o Menurunnya tinggi muka air tanah
o Tingginya fluktuasi debit puncak dengan debit dasar.
b. Kualitas air
o Tingginya erosi dan sedimentasi di sungai
o Tercemarnya air sungai dan air tanah oleh bahan beracun dan berbahaya
o Tercemarnya air sungai dan air danau oleh hara seperti N dan P (eutrofikasi)
Masalah ini perlu dipahami sebelum dilakukan tindakan pengelolaan DAS. Sebagai
contoh, apabila masalah utama DAS adalah kurangnya debit air sungai untuk
menggerakkan turbin pembangkit listrik tenaga air (PLTA), maka penanaman pohon
secara intensif tidak akan mampu meningkatkan hasil air. Seperti telah diterangkan
terdahulu, pohon-pohonan mengkonsumsi air lebih tinggi dibandingkan dengan tanaman

pertanian semusim dan tajuk pohon-pohonan mengintersepsi sebagian air hujan dan
menguapkannya kembali ke udara sebelum mencapai permukaan tanah.
Masalah utama suatu DAS adalah kerawanan terhadap banjir maka teknik yang dapat
ditempuh adalah dengan mengusahakan agar air lebih banyak meresap ke dalam tanah
di hulu dan di bagian tengah DAS. Usaha ini dapat ditempuh dengan menanam pohon
dan/atau dengan tindakan konservasi sipil teknis seperti pembuatan sumur resapan,
rorak dan sebagainya.
Apabila yang menjadi masalah DAS adalah tingginya sedimentasi di sungai maka pilihan
teknik konservasi yang dapat dilakukan adalah dengan memperbaiki fungsi filter dari
DAS. Peningkatan fungsi filter dapat ditempuh dengan penanaman rumput, belukar, dan
pohon pohonan atau dengan membuat bangunan jebakan sedimen (sediment trap).
Apabila menggunakan metode vegetatif, maka penempatan tanaman di dalam suatu
DAS menjadi penting. Penanaman tanaman permanen pada luasan sekitar 10% saja
dari luas DAS, mungkin sudah sangat efektif dalam mengurangi sedimentasi ke sungai
asalkan tanaman tersebut ditanam pada tempat yang benar-benar menjadi masalah,
misalnya pada zone riparian (zone penyangga di kiri kanan sungai).
Apabila suatu DAS dihutankan kembali maka pengaruhnya terhadap tata air DAS akan
memakan waktu puluhan tahun. Pencegahan penebangan hutan jauh lebih penting dari
pada membiarkan penebangan hutan dan menanami kembali lahan gundul dengan
pohonpohonan.
Lagipula apabila penanaman pohon dipilih sebagai metode pengatur tata air DAS,
penanamannya harus mencakup sebagian besar wilayah DAS tersebut. Jika hanya 2030% dari wilayah DAS ditanami, pengaruhnya terhadap tata air mungkin tidak nyata.
2.5 Manajemen DAS
Penyebaran tanaman kayu-kayuan secara merata dalam suatu DAS tidak terlalu
memberikan arti dalam menurunkan sedimentasi. Menurut Fahmudin dan Widianto
(2004), berikut masalah DAS dan alternatif teknologi yang dapat dipilih untuk
mengatasinya.
Dalam memanajemen sungai hal yang terlebih dahulu harus diperhatikan adalah
bagaimana memanajemen biosfer pada umumnya. Seperti yang kita ketahui biosfer
bukan hanya untuk tempat tinggal manusia, banyak organisme lainnya yang bergantung
pada biosfer yang kita tempati ini. Dalam memanajemen sungai tidak hanya mengalirkan
air pada tempat yang kita butuhkan akan tetapi juga tidak merusak ekosistem.
Dalam proses mengalirnya, sungai dapat tercemar. Air yang tercemar adalah air yang
apabila warna, bau, dan rasanya berubah. Biasanya sungai dicemari oleh perbuatan
buruk manusia. Contohnya adalah membuang sampah rumah tangga ke sungai dan
aktifitas pembuangan limbah industri. Sampah yang dibuang tidak hanya sampah
organik, namun ada juga sampah non-organik yang sulit terdegradasi. Walaupun sudah
ada peringatan jangan membuang sampah, tetap saja slogan tersebut tidak diindahkan.

Pada industri-industri yang lokasinya dekat dengan sungai, pembuangan limbahnya


akan dialirkan ke sungai. limbah yang dibuang dari beberapa industri mengandung
logam berat seperti merkuri yang dapat mencemari sungai.
Dengan tercemarnya sungai, dapat disebutkan akibat yang ditimbulkan dari beberapa
aspek, antara lain : 1) Kesehatan umumnya, penyebab yang ditimbulkan akan berisiko
pada kesehatan. Penyakit seperti diare dan gangguan pencernaan akan diderita bagi
siapa saja mengkonsumsi air yang tercemar. 2) Ekonomi, air sungai yang tercemar akan
mengganggu stabilitas ekonomi. Kebutuhan akan air bersih sangat diperhatikan oleh
orang-orang. Jika air bersih sedikit jumlahnya, maka diperlukan teknologi memerlukan
investasi yang dapat mengolah air yang tercemar. Pada akhirnya, hal ini pun menjadi
suatu pemborosan. Selain itu, dari populasi ikan yang hidup di sungai akan berkurang
jumlahnya. Hal ini dapat merugikan warga yang berprofesi sebagai penangkap ikan atau
nelayan. 3) Ekologi, jika ditinjau dari aspek ini, bahaya yang ditimbulkan berasal dari
ancaman banjir. Banjir dapat mengganggu interaksi komponen abiotik dan biotik yang
berada di sekitar sungai. 4). Sosial, banjir juga dapat merusak tempat tinggal atau
rumah warga. Hal ini menyebabkan banyak warga yang harus mengungsi ke pos-pos
pengungsian. Sehingga banyak aktifitas yang terhambat, seperti anak-anak yang tidak
bisa bermain seperti biasanya. 5) Budaya, akibat banjir anak-anak jadi sulit untuk pergi
sekolah, bahkan diliburkan.
Banjir merupakan kondisi dimana keadaan sungai meluap hingga masuk ke dataran.
Banjir dapat terjadi akibat buruknya penyaluran air. Hal ini umumnya disebabkan karena
banyaknya sampah yang tergenang atau membangun rumah di bantaran sungai. Di
ibukota Jakarta, hampir setiap tahunnya mengalami bencana banjir yang bersumber dari
sungai ciliwung. Di daerah tersebut pintu air tidak dapat menampung air dan sampah
yang mengapung sehingga ketika terjadi penambahan kuantitas air terjadi luapan. Untuk
itu diperlukan penanganan yang baik terhadap sungai agar dapat mengurangi resiko
banjir.
Masalah utama yang dihadapi dalam pengaturan aliran air adalah bagaimana air
tersebut dapat digunakan untuk kebutuhan manusia serta tidak menyebabkan adanya
luapan ketika terjadi penambahan kuantitas air pada sungai. Beberapa manfaat dalam
pengaturan aliran sungai seperti pembangkit tenaga listrik dan pengairan pada sawah
telah banyak dilakukan sampai saat ini, cara yang umum digunakan adalah adanya
pembuatan pintu air di daerah hilir.
Pintu air ini berfungsi mengatur aliran air yang digunakan untuk keperluan manusia serta
jika terjadi luapan akan dapat di keluarkan atau dibuka untuk langsung mengalir ke laut.
Pintu air ini menahan aliran air sesuai kapasitas yang diperlukan yang dapat
dimanfaatkan, serta di beberapa tempat dijadikan tempat budidaya ikan air tawar.
2.6 Manajemen Banjir

Dalam mengatasi segala ancaman bahaya yang ditimbulkan sungai, maka diperlukan
manajemen dalam hal pengendalian sungai tersebut. Salah satu ancaman yang paling
dikhawatirkan adalah bencana banjir. Berikut akan dijelaskan berbagai macam
pengendalian yang dapat dilakukan.
Ada berbagai macam cara pengendalian ancaman bahaya banjir, antara lain :
kesiapsiagaan menghadapi banjir dan penanggulangan bencana banjir. Kesiapsiagaan
menghadapi banjir merupakan langkah awal untuk mengatasi resiko bencana ini.
Kesiapsiagaan ini dapat memberikan kita kesempatan untuk mengamankan sesuatu
yang perlu diamankan. Kesiapsiagaan dapat kita ketahui dari ramalan-ramalan yang
ditayangkan oleh media, komunikasi yang efektif, dan pemberitaan.
Langkah kedua adalah penanggulangan bencana banjir. Cara yang dapat dilakukan
antara lain: 1) mencegah pembuangan sampah di sungai, 2) pemindahan rumah-rumah
warga yang berada di bantaran sungai, 3) memperbaiki daerah aliran sungai.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Sungai adalah salah satu bagian dari siklus hidrologi. Air dalam sungai umumnya
terkumpul dari presipitasi, seperti hujan,embun, mata air, limpasan bawah tanah, dan di
beberapa negara tertentu air sungai juga berasal dari lelehan es / salju. Selain air,
sungai juga mengalirkan sedimen dan polutan. Air sungai mengalir dari tempat sumber
air yang disebut hulu sungai hingga ke daerah hilir atau muara dan berakhir di laut.
Berdasarkan sumber airnya, sungai dibagi atas sungai hujan, gletsyer dan campuran.
Sedangkan jika berdasarkan aliran airnya sungai dibagi atas sungai konsekuen,
inkonsekuen, subsekuen, obsekuen dan resekuen. Meskipun hingga saat ini seperti
yang telah dikatakan di atas sungai juga dapat dibagi atas sungai alami dan sungai
buatan.
Menurut Fahmudin dan Widianto (2004), DAS dapat dibagi ke dalam tiga komponen
yaitu: bagian hulu, tengah dan hilir. Dalam memanajemen sungai hal yang terlebih
dahulu harus diperhatikan adalah bagaimana memanajemen biosfer pada umumnya.
Seperti yang kita ketahui biosfer bukan hanya untuk tempat tinggal manusia, banyak
organisme lainnya yang bergantung pada biosfer yang kita tempati ini. Dalam
memanajemen sungai tidak hanya mengalirkan air pada tempat yang kita butuhkan akan
tetapi juga tidak merusak ekosistem.
3.2 Saran
Sebaiknya pengelolaan sungai yang terpadu harus segera diterapkan di berbagai
daerah di Indonesia, terutama pada daerah-daerah yang sering mengalami banjir. Serta
masyarakat disadarkan akan pentingnya pengendalian aliran sungai yang sehat agar
tidak terjadi bermacam bahaya baik fisik, ekonomi hingga kesehatan.
DAFTAR PUSTAKA

Ahira, Anne (2012). Mengenal Jenis Sungai. [Link] .[terhubung berkala] 5 Mei 2012
Anonim (2010). Pengertian dan Macam-macam [Link]://[Link]/writingand-speaking/2068816-pengertian-dan-macam-macam-sungai/ [terhubung berkala] 5
Mei 2012
Anonim (2012). Sungai. [Link] [tehubung berkala] 5 Mei
2012
Fahmudin, Agus dan Widianto (2004). Petunjuk Praktik Konservasi Tanah Pertanian
Lahan Kering . Bogor: World Agroforestry Centre ICRAF Southeast Asia. Hal 3 4
KATEGORI:
LAPORAN

PEMISAHAN BAHAN
Dalam industri khususnya yang menggunakan bahan-bahan pertanian, dibutuhkan
banyak proses untuk mendapatkan hasil yang terbaik diantaranya adalah pemisahan
bahan. Pemisahan bahan bertujuan agar bahan yang ingin diproses adalah bahan yang
murni dan tidak ada campuran bahan lain atau juga agar bahan yang digunakan lebih
mudah untuk diproses.
Pemisahan bahan pada dasarnya ada 2 jenis, yaitu pemisahan mekanis dan pemisahan
kontak keseimbangan bahan, ini dibedakan menurut prinsip kerja dari pemisah tersebut.
Pemisahan mekanis adalah pemisahan yang dalam prosesnya tidak merubah fase dari
bahan yang digunakan, contohnya seperti pengayakan (screen), pengendapan, filtrasi
(penyaringan), pengkompresan dan penghembusan. Sedangkan pemisahan kontak
keseimbangan bahan menggunakan sifat-sifat dari bahan yang ingin dipisah seperti titik
didih atau titik kristal. Contoh proses dari pemisahan ini adalah distilasi, kristalisasi,
absorbsi, ekstraksi dan sublimasi (anonim, 2010).
Pada praktikum kali ini dipelajari tentang separator mekanis yang menggunakan proses
pengayakan dan pengendapan. Alat yang menggunakan prinsip pengayakan adalah
vibrating screen dan yang menggunakan prinsip pengendapan adalah settling tank.
Vibrating screen adalah alat pemisah bahan padatan yang lebih halus dengan bahan
yang kasarnya, contohnya seperti tepung. Untuk pemisahan bahan dalam skala industri
digunakan pengayakan atau screening sedangkan untuk skala laboratorium digunakan
penyaringan atau sieving(Prabowo, 2009). Vibrating screen bekerja dengan
menggunakan lapisan berlubang yang berukuran sangat kecil sehingga hanya bisa
dilewati bahan yang sangat halus, jika pada industri rumah tangga biasanya hanya
menggunakan alat pengayakan yang digerakkan oleh tangan tetapi pada industri besar
digunakan vibrating screen yang digerakkan oleh motor. Lapisan(screen) yang
digunakan memiliki lubang-lubang kecil yang ukurannya biasa disebut mesh. Mesh
adalah banyak lubang yang terdapat pada lapisan screening per inch. Semakin tinggi
nilai Meshnya maka semakin halus hasil yang didapatkan dari screening tersebut.

Vibrating screen memiliki beberapa komponen yaitu lapisan(screen),


vibrator(penggetar), saluran hasil dan saluran sisa. Screen seperti dijelaskan di atas
adalah komponen utamanya, vibrator pada alat ini menggunakan tenaga listrik atau
sederhananya dapat menggunakan motor listrik yang dipasang untuk menggetarkan
tabung untuk screening. Saluran hasil untuk menampung hasil screening dan saluran
sisa untuk bahan yang masih berukuran besar dan tidak melewati screening.
Settling tank adalah alat yang digunakan untuk pengendapan, yang mana digunakan
untuk pemisahan bahan cairan dan padatannya. Alat ini bekerja mengandalkan gaya
gravitasi dan selisih massa jenis dari bahan yang ingin dipisahkan. Campuran cairan
dan padatan yang didiamkan di dalam settling tank lama-kelamaan akan menghasilkan
endapan, dimana endapan tersebut karena ada gaya untuk membentuk sedimennya
(anonim, 2012). Proses pengendapan ini dipengaruhi juga oleh luas permukaan dari
settling tank tersebut, karena semakin luas permukaannya maka semakin lebar tempat
untuk terjadinya pengendapan.
Namun hal ini tidak dipengaruhi oleh ketinggian dari settling tank, karena walaupun
ketinggiannya berubah, daerah dan gravitasi yang digunakan untuk pengendapan tetap
sama. Yang penting dari pengendapan adalah beda dari massa jenis cairan dan
padatan tersebut serta gaya yang diberikan untuk pengendapannya. Jika massa
jenisnya lebih besar maka zat tersebut akan berada di bawah permukaan settling tank
dan semakin besar gaya yang diterima juga lebih cepat menghasilkan endapan.
Kedua alat tersebut banyak digunakan di beberapa industri pertanian, karena
pemisahan bahan juga adalah hal yang sangat penting dalam menghasilkan produk
yang baik. Alat vibrating screen contohnya digunakan dalam pemisahan atau
pembersihan tepung dalam banyak industri pangan. Pembersihan menggunakan alat ini
juga dapat ditemukan pada industri palm oil, karena palm oil sangat kental maka
digunakan screening untuk membersihkan kotoran hasil dari pemisahan oilnya dari
bahan baku(anonim, 2010). Serta pada pabrik-pabrik pertambangan, vibrating screen
digunakan untuk pembersihan barang tambang dari debu dan pasir.
Untuk settling tank banyak juga digunakan dalam industri produk-produk pangan.
Misalnya pada pembuatan produk tahu dan tempe, pemisahan antara kedelai dan
kulitnya, serat dan kotorannya. Alat ini juga banyak digunakan pada pengolahan limbah
pada tingkat proses fisiknya. Selain itu pada pengolahan limbah terkadang
menggunakan pemisahan campuran yaitu memakai cara penyaringan dan pengendapan
sekaligus(Musanif, 2009). Dalam industri palm oil juga digunakan settling tank, yaitu
pada pemisahan antara minyak sawit impuriti dan minyak sawit yang masih memiliki
kandungan airnya. Untuk proses di atas alat settling tank yang digunakan menggunakan
tambahan pemanas, karena prinsip minyak yang memiliki perbedaan berat jenis pada
suhu yang berbeda(anonim, 2012).
Seperti telah disebut di awal, pemisahan juga ada yang menggunakan sifat-sifat dari

bahan yang ingin dipisah. Pemisahan ini adalah sublimasi, kristalisasi, distilasi,
ekstraksi, dan absorbsi. Biasanya pemisahan ini menggunakan bahan cairan dan
padatannya meskipun ada yang dari padatan langsung menjadi uap.
Sublimasi merupakan metode pemisahan campuran dengan menguapkan zat padat
tanpa melalui fasa cair terlebih dahulu sehingga kotoran yang tidak menyublim akan
tertinggal. bahan-bahan yang menggunakan metode ini adalah bahan yang mudah
menyublim, seperti kamfer dan iod.
Kristalisasi merupakan metode pemisahan untuk memperoleh zat padat yang terlarut
dalam suatu larutan. Dasar metode ini adalah kelarutan bahan dalam suatu pelarut dan
perbedaan titik beku. Contoh proses kristalisasi dalam kehidupan sehari-hari adalah
pembuatan garam dapur dari air laut dan pembuatan gula putih dari tebu.
Destilasi merupakan metode pemisahan untuk memperoleh suatu bahan yang berwujud
cair yang terkotori oleh zat padat atau bahan lain yang mempunyai titik didih yang
berbeda. Ekstraksi merupakan metode pemisahan dengan melarutkan bahan campuran
dalam pelarut yang sesuai. Dasar metode pemisahan ini adalah kelarutan bahan dalam
pelarut tertentu.
Adsorbsi merupakan metode pemisahan untuk membersihkan suatu bahan dari
pengotornya dengan cara penarikan bahan pengadsorbsi secara kuat sehingga
menempel pada permukaan bahan pengadsorbsi. Penggunaan metode ini dipakai untuk
memurnikan air dari kotoran renik atau mikroorganisme, memutihkan gula yang
berwarna coklat karena terdapat kotoran (anonim, 2010).
Daftar Pustaka
Anonim (2010). Metode Pemisahan
[Link]://[Link]/2010/05/[Link].
[terhubung berkala] 25 april 2012
Anonim (2012). Continuous Settling
[Link]://[Link]/2012/02/[Link].
[terhubung berkala] 25 april 2012
Anonim, 2010. Proses Pengolahan Minyak kelapa sawit (Crude Palm
Oil).[Link] [terhubung berkala]
25 april 2012
Anonim, 2012. Settling. [Link] . [terhubung berkala] 25 april
2012
Musanif, Jamil (2009). Pedoman Desain Teknik IPAL Agroindustri.
[Link]/layanan_informasi/pengolahan_hasil_pertanian/draft_pedoman_desain_t
eknik_ipal_agroindustri.pdf[terhubung berkala] 25 april 2012
KATEGORI:
LAPORAN

LIMBAH PADA INDUSTRI KERTAS

Limbah merupakan buangan yang dihasilkan dari suatu proses produksi baik industri
maupun domestic (rumah tangga atau yang lebih dikenal sabagai sampah), yang
kehadirannya pada suatu saat dan tempat tertentu tidak dikehendaki lingkungan karena
tidak memiliki nilai ekonomis. Jenis sampah ini pada umumnya berbentuk padat dan
cair.
Pabrik kertas menghasilkan limbah cair yang mengandung logam berat jenis Hg dan Cu.
Limbah cair tersebut berupa bubur kertas encer yang apabila dibuang sembarangan
akan mengakibatkan pencemaran [Link] kimia dalam air limbah pabrik
kertas seperti sulfite, fenol, klorin, metal merkaptan sangat membahayakan kehidupan
biota perairan, dapat mengendap ke dasar perairan dan mengganggu keseimbangan
dan kelestarian kehidupan perairan. Tingginya kebutuhan oksigen untuk menguraikan
limbah pabrik kertas akan menurunkan kadar oksigen terlarut (DO) dalam air dan dapat
menyebakan kondisi anoksik di perairan, sehingga tidak dapat dihuni lagi oleh biota
alami.
Industri kertas menggunakan air dalam jumlah yang sangat besar, sehingga dapat
mengancam keseimbangan air pada lingkungan sekitarnya karena akan mengurangi
jumlah air yang diperlukan makhluk perairan sungai dan mengubah suhu air. Limbah
pabrik kertas dapat menyebabkan kelainan reproduktif pada plankton dan invertebrate
yang menjadi makanan ikan serta kerang-kerangan. Sludge pabrik kertas yang dibuang
ke Kali menimbulkan pendangkalan sungai dan membunuh tumbuhan air di tepi sungai
karena tumbuhan tersebut tertutupi oleh lapisan bubur kertas. Limbah sludge tersebut
mestinya tidak dibuang ke sungai bersama air limbah tetapi diendapkan dan dikeringkan
untuk kemudian dibuang secara sanitary land fill atau dibakar agar tidak mencemari
tanah,airdanudara.
Sludge pabrik kertas sebenarnya dapat di tangani dengan cara air limbah tersebut
diendapkan terlebih dahulu dan kemudian dikeringkan untuk selanjutnya dibuang secara
sanitary land fill atau dibakar agar tidak mencamari tanah, air dan udara. Ada juga
Limbah pabrik kertas dapat didaur ulang menjadi karton yang memiliki nilai jual
[Link] hasil pengolahan limbah pabrik kertas ini disebut dengan kertas gembos.
Proses pembuatannya relative sederhana. Sludge dan kertas pemulung diproses
menjadi bubur kertas. Kemudian dicetak menjadi lembaran dengan ukuran 66 x 78 cm.
Setelah itu, dijemur di bawah terik matahari selama empat [Link] dihaluskan
dengan rol [Link] di pak dengan berat 25 [Link] ini tentu saja terasa lebih
bernilai ekonomis serta dapat mengurangi dampak terhadap lingkungan.
Pencemaran lingkungan yang disebabkan industri kertas antara lain :
a. Membunuh ikan, kerang dan invertebrata akuatik lainnya
b. Memasukkan zat kimia karsinogen dan zat pengganggu aktivitas hormon ke dalam
lingkungan
c. Menghabiskan jutaan liter air tawar

d. Menimbulkan risiko terpaparnya masyarakat oleh buangan zat kimia berbahaya dari
limbah industri yang mencemari lingkungan.
Zat pencemar dari proses pembuatan kertas yang berpotensi mencemari lingkungan
dibagi menjadi 4 kelompok yaitu :
(1) Efluen limbah cair:
(a) Padatan tersuspensi yang terdiri dari partikel kayu, serat, pigmen, debu dan
sejenisnya
(b) Senyawa organik koloid terlarut serat hemisellulosa, gula, lignin, alkohol, terpentin,
zat pengurai serat, perekat pati dan zat sintetis yang menghasilkan BOD tinggi.
(c) Limbah cair berwarna pekat yang berasal dari lignin dan pewarna kertas
(d) Bahan anorganik terlarut seperti NaOH, Na2SO4, klorin dan lain-lain
(e) Limbah panas
(f) Mikroorganisme seperti golongan bakteri coliform
(2) Partikulat:
(a) Abu dari pembakaran kayu bakar dan sumber energi lain
(b) Partikulat zat kimia terutama yang mengandung Na dan Ca
(3) Gas:
(a) Gas sulfur yang berbau busuk seperti merkaptan dan H2S yang dilepaskan dari
berbagai tahap dalam proses kraft pulping dan proses pemulihan bahan kimia
(b) Oksida sulfur dari pembakaran bahan bakar fosil, kraft recovery furnace dan lime
(a) Kiln
(b) Uap yang akan membahayakan karena mengganggu jarak pandangan
(4) Solid Wastes:
(a) Sludge dari pengolahan limbah primer dan sekunder
(b) Limbah padat seperti potongan kayu dan limbah pabrik lainnya
Limbah cair industri pulp and paper tersebar ke seluruh ekosistem
[Link] percobaan laboratorium, efluen industri kertas menyebabkan
penyimpangan reproduktif pada zooplankton dan invertebrata yang merupakan prey dari
ikan serta kerusakan genetik dan reaksi sistem kekebalan tubuh [Link] ini
menyebabkan penurunan keanekaragaman hayati sungai dan berkurangnya sumber
pangan hewani masyarakat di sekitar sungai.
Sebagian besar industri kertas menggunakan pemutih yang mengandung klorin. Klorin
akan bereaksi dengan senyawa organik dalam kayu membentuk senyawa toksik seperti
dioksin. Dioksin ditemukan dalam proses pembuatan kertas, air limbah (efluen), bahkan
di dalam produk kertas yang dihasilkan.
Program minimisasi limbah yang efektif akan mengurangi biaya produksi dan beban
pelaksanaan peraturan pengelolaan limbah berbahaya sehingga akan meningkatkan
efisiensi, kualitas produk dan hubungan yang baik dengan masyarakat. Teknik minimasi
limbah yang dapat membantu mengurangi jumlah limbah yang dihasilkan mencakup :

Perencanaan produksi dan tahapannya


Penyesuaian peralatan/proses atau modifikasi
Penggantian (substitusi) bahan baku
Pemisahan (segregasi) limbah
Daur ulang bahan
Pelatihan dan pengawasan para pekerja operator juga merupakan bagian penting
dalam keberhasilan program ini.
Berbagai cara untuk mencapai minimisasi limbah mencakup tiga bagian utama yaitu :
a. Pengurangan dari sumbernya, mencakup pemeliharan dan perawatan yang baik
(good house keeping) dengan menerapkan kebiasaan baru dalam pengoperasian dan
pemeliharan alat industri antara lain dengan mencegah terjadinya ceceran dan
tumpahan bahan. Perubahan dalam proses produksi juga dapat dilakukan yang
mencakup perubahan input bahan, pengawasan proses yang lebih ketat, modifikasi
peralatan dan perubahan teknologi. Pemeliharaan peralatan dan lingkungan pabrik,
pemilihan peralatan yang sesuai dengan proses produksi kertas yang diinginkan dan
pengoperasian peralatan dengan benar juga ikut mengurangi limbah dari sumbernya.
b. Daur ulang, dengan melakukan recovery bahan dan energi bekas pakai untuk
digunakan kembali dalam proses berikutnya.
c. Modifikasi produk, untuk meningkatkan usia produk (tahan lama), untuk
mempermudah daur ulang dan minimisasi dampak lingkungan dari pembuangan produk
tersebut.

KATEGORI:
LAPORAN

KUANTIFIKASI MIKROORGANISME
Pengukuran kuantifikasi populasi mikroorganisme sering kali amat diperlukan di dalam
berbagai macam penelaahan mikrobiologis. Pada hakikatnya terdapat 2 macam
pengukuran dasar, yaitu penentuan jumlah sel dan penentuan massa sel. Pengukuran
jumlah sel biasanya dilakukan bagi organisme bersel tunggal (misalnya bekteri),
sedangkan penentuan massa sel dapat dilakukan tidak hanya bagi organisme bersel
tunggal tetapi juga bagi organisme berfilamen (misalnya kapang). Ada berbagai macam
cara untuk mengukur mikroorganisme, antara lain dengan hitungan cawan (plate count/
TPC), hitungan mikroskopis langsung (DMC), hitungan secara MPN (Most Probable
Number), dan secara turbidimetrik.
Metode Hitungan Cawan (TPC)
Metode hitungan cawan didasarkan pada anggapan bahwa setiap sel yang dapat hidup
akan berkembang menjadi satu koloni. Jadi jumlah koloni yang muncul oada cawan
merupakan suatu indeks bagi jumlah organisme yang dapat hidup yang terkandung di
dalam sampel. Teknik yang harus dikuasai dalam teknik ini ialah mengencerkan sampel
dan mencawankan hasil pengenceran tersebut. Stelah inkubasi, jumlah koloni m,asing-

masing cawan diamati. Untuk memenuhi persyaratan statistic, cawan yang dipilih untuk
penghitungan koloni ialah mengandung antara 30 sampai 300 koloni. Karena jumlah
mikroorganisme dalam sampel tidak diketahui sebelumnya, maka untuk memperoleh
sekurang-kurangnya satu cawan yang mengandung koloni dalam jumlah yang
memenuhi syarat tersebut maka harus dilakukan sederet pengenceran dan
pencawanan. Jumlah organisme yang terdapat dalam sampel asal ditentukan dengan
mengalikan jumlah koloni yang terbentuk dengan faktor pengenceran pada cawan yang
bersangkutan
Metode Hitungan Mikroskopis Langsung (DMC)
Pada metode hitungan mikroskopis langsung, sampel ditaruh di suatu ruang hitung
(seperti hemasitometer) dan jumlah sel dapat ditentukan secara langsung dengan
bantuan mikroskop. Keuntungan metode ini adalah pelaksanaannya cepat dan tidak
memerlukan banyak peralatan. Namun kelemahannya ialah tidak membedakan sel-sel
yang hidup dari yang mati; dengan perkataan lain hasil yang diperoleh ialah jumlah total
sel yang ada di dalam populasi. Pada beberapa macam sel eukariotik, penambahan zat
warna tertentu (misalnya biru meteilena sebanyak 0,1%) pada sampel yang akan
dihitung dapat membedakan sel hidup dan sel mati. Pada sel khamir misalnya baik sel
hidup maupun sel mati akan menyerap biru metilena namun hanya sel hidup mampu
mereduksi warna tersebut secara enzimatik menjadi tidak berwarna; jadi sel-sel mati
akan tampak berawarna biru.
Kelemahan lain metode hitungan mikroskopis langsung ialah sulitnya menghitung sel
yang berukuran sangat kecil seperti bakteri karena ketebalan hemasitometer tidak
memungkinkan digunakannya lensa obyektif celup minyak. Hal ini biasanya diatasi
dengan cara mewarnai sel sehingga menjadi lebih mudah dilihat. Kelemahan lain lagi
ialah kadang-kadang sel cenderung bergerombol sehingga sukar membedakan sel-sel
individu. Cara mengatasinya ialah mencerai-beraikan gerombolan sel-sel tersebut
dengan menambahkan bahan anti gumpal seperti dinatrium etilenadiaminatetraasetat
dan Tween 80 sebanyak 0,1 persen.
Metode MPN (Most Probable Number)
MPN adalah metode enumerasi mikroorganisme yang menggunakan data dari hasil
pertumbuhan mikroorganisme pada medium cair spesifik dalam seri tabung yang
ditanam dari sampel padat atau cair yang ditanam berdasarkan jumlah sampel atau
diencerkan menurut tingkat seri tabungnya sehingga dihasilkan kisaran jumlah
mikroorganisme yang diuji dalam nilai MPN/satuan volume atau massa sampel. Prinsip
utama metode ini adalah mengencerkan sampel sampai tingkat tertentu sehingga
didapatkan konsentrasi mikroorganisme yang [Link] dan jika ditanam dalam tabung
menghasilkan frekuensi pertumbuhan tabung positif kadang-kadang tetapi tidak selalu.
Semakin besar jumlah sampel yang dimasukkan (semakin rendah pengenceran yang
dilakukan) maka semakin sering tabung positif yang muncul. Semakin kecil jumlah

sampel yang dimasukkan (semakin tinggi pengenceran yang dilakukan) maka semakin
jarang tabung positif yang muncul. Jumlah sampel/pengenceran yang baik adalah yang
menghasilkan tabgung positif kadang-kadang tetapi tidak selalu. Semua tabung positif
yang dihasilkan sangat tergantung dengan probabilitas sel yang terambil oleh pipet saat
memasukkanya ke dalam media. Oleh karena itu homogenasi sangat mempengaruhi
metode ini. Frekuensi positif (ya) atau negative (tidak) ini menggambarkan konsentrasi
mikroorganisme pada sampel sebelum diencerkan.
Terdapat beberapa asumsi yang diterapkan dalam metode MPN, yaitu : Pertama, bakteri
terdistribusi sempurna dalam sampel. Kedua, sel bakteri terpisah-pisah secara individu,
tidak dalam bentuk rantai atau kumpulan. Ketiga, media yang dipilih telah sesuai untuk
pertumbuhan bakteri target dalam suhu dan waktu inkubasi tertentu sehingga minimal
satu sel hidup mampu menghasilkan tabung positif selama masa inkubasi tersebut.
Keempat, jumlah yang didapatkan menggambarkan bakteri yang hidup (viable) saja. Sel
yang terluka dan tidak mampu menghasilkan tabung positif tidak akan terdeteksi.
Metode Turbidimetrik
Saat akan memeriksa konsentrasi sel sejumlah besar biakan, maka metode hitung
cawan bukanlah pilihan yang baik karena tidak hanya memakan waktu tetapi juga
memerlukan media dan pecah-belah dalam jumlah besar. Untuk kasus demikian
tersedia metode yang lebih cepat dan praktis, yaitu pengukuran kekeruhan biakan
dengan fotokolorimeter. Namun agar data yang diperoleh dari pengukuran ini dapat
dinyatakan sebagai konsentrasi organisme, diperlukan suatu kurva standar yang
menyatakan korelasi antara kekeruhan biakan dengan jumlah organisme per ml biakan.
Kurva semacam ini dapat diperoleh dengan cara menggunakan metode hitungan cawan
untuk menentukan hitungan organisme di dalam biakan yang kekeruhannya diketahui.
Sekali kurva standar ini diperoleh, maka sejumlah besar biakan organisme sejenis dapat
dengan cepat diukur kekeruhannya dan konsentarsinya segera diketahui dengan cara
membaca kurva standar tersebut.
KATEGORI:
LAPORAN

HEAT TRANSFER, MESIN PENDINGIN DAN


MESIN PEMANAS
Di dalam dunia industri terutama pada proses industri suatu bahan yang ingin diolah
menjadi produk pasti mengalami beberapa perlakuan, di antara perlakuan tersebut
terdapat proses yang menghasilkan perpindahan panas. Perpindahan panas ini bisa
terjadi dari bahan ke mesin dan dari mesin ke lingkungan, biasanya perpindahan panas
ini memang diperlukan untuk proses menghasilkan produk yang diinginkan dan
terkadang juga terjadi perpindahan panas yang tidak diinginkan. Oleh karena itu untuk
menjalankan proses yang dilakukan tentunya yang memelukan perpindahan panas

memerlukan mesin pendingin serta mesin pemanas.


Efektivitas suatu heat exchanger didefinisikan sebagai perbandingan antara
perpindahan panas yang diharapkan (nyata) dengan perpindahan panas maksimum
yang mungkin terjadi dalam heat exchanger tersebut. Secara umum pengertian alat
penukar panas atau heat exchanger, adalah suatu alat yang memungkinkan
perpindahan panas dan bisa berfungsi sebagai pemanas maupun sebagai pendingin.
Biasanya, medium pemanas dipakai uap lewat panas (super heated steam) dan air
biasa sebagai air pendingin (cooling water). Penukar panas dirancang sebisa mungkin
agar perpindahan panas antar fluida dapat berlangsung secara efisien. Pertukaran
panas terjadi karena adanya kontak, baik antara fluida terdapat dinding yang
memisahkannya maupun keduanya bercampur langsung begitu saja. Penukar panas
sangat luas dipakai dalam industri seperti kilang minyak, pabrik kimia maupun
petrokimia, industri gas alam, refrigerasi, pembangkit listrik. Salah satu contoh
sederhana dari alat penukar panas adalah radiator mobil di mana cairan pendingin
memindahkan panas mesin ke udara sekitar(anonim, 2012).
Pada dasarnya mesin pendingin tidak menghasilkan udara dingin langsung terhadap
bahan atau mudahnya ruangan yang berisi bahan untuk didinginkan, karena mesin
pendingin tidak langsung menurunkan suhu dari bahan tersebut. Ruangan yang
digunakan untuk menurunkan suhu pada awalnya memiliki suhu ruang yang normal,
dengan mesin pendingin suhu tersebut dapat diturunkan. Metode pengkondisian
temperatur ruangan agar tetap berada di bawah temperatur lingkungan disebut
refrigerasi, atau juga metode pendinginan.
Mesin pendingin menyerap panas yang berada di dalam ruangan dan menghasilkan
udara dingin yang dilepaskan kembali ke ruangan, mesin ini ada yang untuk ruang
terbuka dan untuk ruang tertutup contohnya untuk ruang terbuka adalah pada pendingin
ruangan dan mesin pendingin ruang tertutup seperti kulkas/ refrigerator.
Mesin pendingin atau refrigerator dalam prosesnya memiliki beberapa tahap, yaitu
evaporasi, kompresi dan kondensasi yang tahap tersebut berulang menjadi suatu siklus.
Dalam pertukaran panas maka dibutuhkan sejumlah kalor, maka pada mesin pendingin
misalnya kulkas, kalor yang diambil berasal dari bahan di dalamnya serta ruangannya,
untuk memudahkan proses tersebut maka tekanan udara pada ruangan harus
diturunkan terlebih dahulu proses ini disebut evaporasi. Alat yang bekerja dalam proses
evaporasi sering disebut evaporator, alat ini juga berfungsi sebagai penukar panas saat
semua proses telah dilalui sehingga membentuk siklus(Indra, 2004).
Di dalam evaporasi panas yang diambil dari ruangan didinginkan menggunakan
refrigerant, refrigerant adalah bahan yang dapat digunakan untuk menurunkan
temperatur uap yang berasal dari ruangan serta pada prakteknya panas yang diturunkan
juga berasal dari mesin penyerap panasnya sendiri(Rasta, 2008).
Refrigerant yang digunakan untuk menurunkan temperatur uap haruslah memiliki sifat

mudah diturun-naikkan temperaturnya, dapat diganti (reversible), sebaiknya fluida yang


dapat dengan mudah berubah dari cair ke gas dan sebaliknya. Bahan yang bisa
digunakan untuk menjadi refrigerant adalah air, amonia, sulfur dioksida, hidrokarbon takberhalogen, dan methana (anonim, 2012).
Setelah uap dari ruangan telah didinginkan oleh refrigerant maka diserap oleh
kompresor, uap yang diserap dikumpulkan terlebih dahulu hingga tekanan yang cukup
untuk proses kondensasi. Kompresor digerakkan dengan tenaga mesin penggerak
seperti motor bakar, dan motor listrik. Tetapi sekarang motor bakar sudah jarang
digunakan untuk mesin pendingin ruangan, kecuali untuk perkapalan, mesin pendingin
yang digunakan memiliki motor bakar untuk kompresornya.
Kondensor diperlukan untuk membuang uap yang tidak digunakan lagi, uap yang datang
dari kompresor dikondensasikan menjadi cairan dan dikeluarkan dari mesin pendingin.
Uap yang datang harus bertekanan tinggi dan suhu yang rendah, panasnya keluar
melalui permukaan rusuk-rusuk kondensor ke udara. Sebagai akibat dari kehilangan
panas, bahan pendingin gas mula-mula didinginkan menjadi gas jenuh, kemudian
mengembun berubah menjadi cair.
Pada kondensor terjadi pertukaran panas yang besar, maka dari itu bentuk kondesor
berrongga-rongga yang menjadikan luas permukaan perpindahan panasnya semakin
besar. Pada kondensor terjadi selisih panas yang tinggi sehingga pada kondensor ada
bagian yang sangat panas dan ada bagian yang dingin. Selisih panas yang terjadi pada
kondensor dialirkan kembali ke evaporate untuk keperluan penurunan tekanan
berikutnya.
Dalam penggunaannya mesin pendingin memiliki manfaat untuk keperluan industri pada
umumnya. Bahan yang disimpan di dalam refrigerator rata-rata menjadi tahan lama dan
kesegarannya terjaga. Mesin ini juga bermanafaat untuk proses pengolahan yang
memerlukan proses penurunan suhu dari bahan yang akan diolah karena mesin
pendingin dapat diatur letaknya di dalam sistem produksi. Meskipun begitu terhadap
bahan-bahan yang memiliki kadar air yang tinggi penggunaan mesin pendingin akan
merubah tekstur dan sifat fisik dari bahan tersebut biasanya yang terjadi adalah
pengkerutan, serta untuk bahan yang kadar air tinggi biasanya akan terlalu cepat
membeku atau membentuk es.
Mesin perpindahan panas yang lainnya adalah mesin pemanas, jika mesin pendingin
untuk menurunkan suhu bahan maka mesin pemanas melakukan hal yang sebaliknya,
yaitu menaikkan suhu dari bahan, contoh sederhana dari mesin pemanas adalah oven.
Pada dasarnya di dalam pemanasan bahan mengalami pergerakkan molekul yang
energinya berasal dari sumber panas, panas ini dapat mengalir melalui 3 cara, yaitu
konduksi, konveksi dan radiasi. Konduksi adalah perpindahan panas yang melalui
perantara selama perantaranya tidak berpindah dari sumber panas ke bahan. Konveksi
adalah perpindahan panas yang melalui fluida, bahan yang dipanaskan mendapat

pergerakkan dari zat yang menjadi penghantar panas. Sedangkan radiasi adalah
perpindahan panas yang tanpa ada perantara zat, panas yang dihasilkan sangat besar
dari sumber hingga sampai pada bahan yang dipanaskan.
Mesin pemanas sat ini banyak yang menggunakan tenaga listrik meskipun masih ada
beberapa yang menggunakan tenaga bahan bakar. mesin dengan tenaga bahan bakar
contohnya seperti oven yang dihubungkan dengan kompor, vacuum frying, dan mesin
las. Mesin tersebut menggunakan bahan bakar yang dibakar seperti minyak tanah dan
gas. Untuk mesin pemanas yang menggunakan tenaga listrik menggunakan sistem
penyerap panas dari luar, menggunakan pemanasan yang menggunakan material panas
yang langsung bersentuhan dengan bahan, dan menggunakan gelombang mikro. Dalam
prosesnya energi panas yang datang dari sumber panas menjadikan bahan yang ingin
dipanaskan mengalami perubahan energi sehingga menaikkan temperaturnya.
Penggunaan alat pemanas memiliki keuntungan tersendiri, yaitu untuk alat penukar
panas yang memakai tenaga bakar cocok untuk pemanasan yang memang memerlukan
panas yang tinggi dan cepat. Bahan yang ingin dipanaskan juga jika menggunakan
pemanas ini bisa dalam jumlah besar. Tetapi kelemahan dari alat pemanas bakar ketika
dipanaskan harus selalu diawasi karena pemanasan yang terjadi bisa saja terjadi
browning sehingga mutu produk yang dihasilkan berkurang.
Dengan menggunakan pemanas yang berenergi listrik, dapat diatur dalam proses
pemanasannya sehingga tidak terjadi pemanasan yang berlebihan dan mutu produk
juga terjaga. Adapun demikian pemanas yang menggunakan tenaga listrik ini relatif
lumayan lebih mahal dari yang menggunakan tenaga bakar, dan untuk penggunaan alat
ini bahan yang ingin dipanaskan biasanya lebih sedikit. Tetapi untuk pemanas listrik
dapat dengan mudah dipindahkan untuk keperluan industri.
KATEGORI:
LAPORAN

MINIMISASI LIMBAH PADA INDUSTRI PULP


DAN KERTAS
Zero Waste adalah sebuah konsep kuat yang menantang cara lama berpikir dan
mengilhami sikap dan perilaku baru. Ini adalah pendekatan multifaset untuk menjaga
kelestarian sumber daya bumi yang terbatas. Zero Waste memaksimumkan recycling,
meminimumkan limbah, mengurangi konsumsi dan memastikan bahwa suatu produk
dibuat untuk dapat digunakan kembali, diperbaiki atau di-recycle kembali ke alam
maupun pasar. Konsep zero waste diartikan sebagai konsep untuk mengupayakan agar
suatu kegiatan itu menghasilkan limbah dalam jumlah yang sekecil-kecilnya, bahkan
kalau bisa, tidak menghasilkan limbah sama sekali. Upaya ini disebut sebagai
minimisasi limbah.
Dalam minimisasi limbah terdapat tiga hal yang harus dilakukan, yaitu perubahan bahan

baku industri, perubahan proses produksi, dan daur ulang limbah. Perubahan bahan
baku dan perubahan proses produksi dimaksudkan untuk menekan jumlah limbah yang
dihasilkan, termasuk di dalamnya adalah efisiensi pemakaian bahan-bahan penolong
dalam proses produksi. Bila dalam proses produksi ini masih menghasilkan limbah,
maka upaya minimisasi dilakukan dengan daur ulang atau pemanfaatan kembali limbah
yang dihasilkan. Limbah yang dibuang ke lingkungan hanyalah limbah yang benar-benar
tidak dapat dimanfaatkan kembali.
Perubahan Bahan Baku Industri
Pada industri pulp dan kertas, bahan baku utama yang digunakan adalah serat yang
berasal dari tanaman (dengan kandungan utama berupa selulosa). Dalam proses
produksinya, ditemukan adanya serat yang hilang dan terbawa bersama air limbah.
Adanya serat dalam air limbah ini tentu akan menambah beban pada instalasi
pengolahan air limbah yang pada akhirnya akan menambah beban pencemaran pada
lingkungan (sungai). Oleh karena itu perlu dilakukan upaya menangkap kembali serat ini
agar tidak terbuang dan dapat digunakan kembali sebagai bahan baku. Alat yang dapat
digunakan untuk menangkap serat adalah disc filter. Disc filter mempunyai efisiensi
penangkapan serat yang bervariasi tergantung pada kecepatan putaran dan jumlah
serat yang digunakan sebagai pemancing yang disebut sweetener. Kadar serat dalam
air sebelum dan setelah melewati disc filter, meliputi :
white water, artinya air yang mengandung serat yang berasal dari proses produksi
sweetener, artinya serat pancingan yang berfungsi sebagai prefilter
cloudy filtrate, artinya filtrat yang akan dibuang sebagai air limbah
clear filtrate, artinya filtrate dengan kadar serat yang lebih rendah daripada cloudy
filtrate, yang airnya dapat dimanfaatkan kembali sebagai air proses
filtered stock, artinya serat yang berhasil disaring oleh disc filter dan dapat
dimanfaatkan kembali sebagai bahan baku
Perubahan Proses Produksi dengan Pengendalian di dalam pabrik
Karena banyak bahan perusak lingkungan dihasilkan oleh pabrik konvensional penghasil
pulp yang dikelantang dengan proses kraft atau sulfit, maka banyaak industri baru
dirancang untuk pembuatan pulp secara termo-mekanik atau kimia-mekanik. Proses
sulfit dan kraft tanpa pengambilan kembali bahan kima khususnya yang menimbulkan
pencemaran, sebaiknya dipertimbangkan untuk tidak digunakan dalam pabrik baru.
Pengelantangan dengan menggunakan senyawa klorin menimbulkan hidrokarbin klor
dengan kadar yang tidak dapat diterima oleh lingkungan, termasuk dioksin. Akhir-akhir
ini pengelantang dengan menggunakan oksigen dan peroksida mulai digunakan untuk
menggantikan klor. Pengelantangan dengan menggunakan oksigen menghasilkan
produk dengan kualitas lebih tinggi daripada yang menggunakan klor. Demikian juga,
pengelantangan dengan penukaran (di mana zat-zat warna asli pada serat ditukar
dengan zat pemutih) mulai dipasang pada pabrik-pabrik baru, menghasilkan lebih sedikit

buangan dari kilang pengelantangan. Langkah-langkah lain yang harus dimasukkan ke


dalam pabrik baru termasuk :
Sistem pengambilan kembali bahan kimia secara efisien
Pelepasan kulit kayu secara kering
Pembakaran limbah dan pengambilan panas kembali
Pendaur-ulangan buangan kilang pengelantangan ke ketel pengambilan kembali bahan
kimia
Sistem pencucian brownstock bertahap banyak dengan aliran berlawanan yang efisien
Penggunaan klor dioksida untuk menggantikan klorin dalam proses pngelantangan
konvensional
Pemasakan berlanjut dalam proses pembuatan pulp secara kimia
Pengurangan lignin oksigen setelah pemasakan secara kimia
Pengendalian penggunaan klor yang ketat dalam pengelantangan dengan cara
pemantauan: apabila klor sisa dikurangi maka zat organic klor juga berkurang
Konservasi dan daur ulang air dalam pabrik kertas dapat mengurangi volume air
limbahsebesar 77 %
Sistem deteksi dan pengambilan kembali tumpahan
Daur Ulang Limbah dengan Produksi Bersih
Konsep Cleaner Production dicetuskan oleh United Nation Environmental Program
(UNEP) pada bulan Mei 1989. UNEP menyatakan bahwa Cleaner Production
merupakan suatu strategi pengelolaan lingkungan yang bersifat preventif, terpadu dan
diterapkan secara kontinu pada proses produksi, produk dan jasa untuk meningkatkan
eko-efisiensi sehingga mengurangi resiko terhadap kesehatan manusia dan lingkungan.
Di tengah-tengah produksi kertas yang semakin melonjak, bahan baku kertas dunia
menjadi suatu hal yang harus diperhatikan. Selain itu, peningkatan produksi kertas
dapat pula meningkatkan jumlah limbah yang dihasilkan. Sehingga pemecahan
masalah-masalah tersebut harus segera dilakukan, yaitu dengan menerapkan produksi
bersih misalnya melalui tindakan recovery white water, reuse, recycle atau house
keeping. Pada Recovery white water, kegiatan yang dilakukan adalah mengolah air sisa
produksi atau back water dengan menambahkan zat kimia untuk memisahkan serat
dengan air. Serat yang berhasil dipisahkan akan dipress untuk mengurangi kadar air
kemudian dikirim ke tempat penyimpanan bahan baku untuk diproses kembali ke dalam
pulper. Sedangkan white water akan dikirim ke tangki air untuk digunakan kembali
sebagai media pembuburan bahan baku dalam proses produksi. Alat yang digunakan
untuk memisahkan serat dan air ini disebut purgomat dan pengoperasiannya
dikendalikan atau dilakukan dengan menggunakan komputer di ruang Distribution
Control System (DCS). Pengolahan air sisa produksi ini merupakan upaya untuk
menghemat penggunaan air dari sungai dan mengurangi terbentuknya limbah cair yang
harus diolah. Selain itu serat yang diperoleh dari proses recovery ini digunakan kembali

untuk proses produksi, hal ini dapat menghemat penggunaan sumber daya alam dan
sangat menguntungkan dari segi ekonomi bagi perusahaan.

Anda mungkin juga menyukai