50% menganggap dokumen ini bermanfaat (2 suara)
933 tayangan26 halaman

Panduan Lengkap Prostatitis pada Pria

Prostatitis adalah peradangan pada kelenjar prostat yang dapat disebabkan oleh infeksi bakteri atau nonbakteri. Terdapat empat kategori prostatitis yaitu akut, kronis bakterial, kronis nonbakterial, dan asimtomatik. Gejala umum meliputi nyeri perineum, disuria, dan gangguan buang air kecil. Penatalaksanaan tergantung jenisnya, misalnya antibiotik untuk prostatitis bakterial akut dan kronis.

Diunggah oleh

Refika Rahmi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd
50% menganggap dokumen ini bermanfaat (2 suara)
933 tayangan26 halaman

Panduan Lengkap Prostatitis pada Pria

Prostatitis adalah peradangan pada kelenjar prostat yang dapat disebabkan oleh infeksi bakteri atau nonbakteri. Terdapat empat kategori prostatitis yaitu akut, kronis bakterial, kronis nonbakterial, dan asimtomatik. Gejala umum meliputi nyeri perineum, disuria, dan gangguan buang air kecil. Penatalaksanaan tergantung jenisnya, misalnya antibiotik untuk prostatitis bakterial akut dan kronis.

Diunggah oleh

Refika Rahmi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB I

PENDAHULUAN
1.1.

LATAR BELAKANG
Prostatitis menunjukkan adanya peningkatan jumlah sel-sel radang (paling
sering limfosit) pada stroma prostat didekat asinus kelenjar prostat (Nickel et
al 1999).
Prostatitis adalah Peradangan pada kelenjar prostat pada pria.

Prostatitis

adalah Istilah umum yang digunakan untuk menggambarkan radang prostat.


Prostatitis bukanlah suatu kondisi tunggal tetapi sekelompok gangguan dengan
gejala terkait. Kuman yang sering ditemukan adalah E. coli, Klebsiella spp,
Proteus mirabilis, Enterococcus faecalis dan Pseudomonas aeruginosa. Jenis
kuman yang juga dapat ditemukan adalah Staphylococci, Chlamydia trachomatis,
Ureaplasma urealyticum, Mycoplasma hominis walaupun masih menimbulkan
perdebatan.
Penderitanya nampak kesakitan, terutama di daerahperineal, Adanya
gangguan miksi (berkemih),Demam, Mengigil, Pada pemeriksaan fisis dengan
colok dubur, prostat terababengkak, hangat dan nyeri (pada keadaan ini
tidakdiperkenankan melakukan masase prostat untukmengeluarkan getah kelenjar
prostat

karena

dapatmanimbulkan

rasa

sakit

dan

akan

memacu

terjadinyabakteremia, bahkan bila tidak tertangani secara tepat dapatmenmbulkan


abses prostat atau menimbulkan urosepsis)
1.2 RUMUSAN MASALAH
1.2.1. Apa itu definisi prostatitis ?
1.2.2. Bagaimana epidemiologi prostatitis ?
1.2.3 bagaimana klasifikasi prostatitis ?
1.2.4. Apa etiologi prostatitis ?
1.2.5. Apa faktor resiko prostatitis ?
1.2.6. Bagaimana patofisiologi prostatitis ?
1.2.7. Apa tanda gejala prostatitis ?
1.2.8. Apa pemeriksaan penunjang prostatitis ?

1.2.9. Apa penatalaksaan prostatitis ?


1.2.10. Apa komplikaso prostatitis ?
1.2.11. Bagaimana pencegahan prostatitis ?
1.2.12. bagaimana asuahan keperwatan pada pasien prostatitis ?
1.3 TUJUAN PENULISAN
1.3.1. Untuk mengetahui apa itu definisi prostatitis ?
1.3.2. Untuk mengetahui Bagaimana epidemiologi prostatitis ?
1.3.3. Untuk mengetahui bagaimana klasifikasi prostatitis ?
1.3.4. Untuk mengetahui Apa etiologi prostatitis ?
1.3.5. Untuk mengetahui Apa faktor resiko prostatitis ?
1.3.6. Untuk mengetahui Bagaimana patofisiologi prostatitis ?
1.3.7. Untuk mengetahui Apa tanda gejala prostatitis ?
1.3.8. Untuk mengetahui Apa pemeriksaan penunjang prostatitis ?
1.3.9. Untuk mengetahui Apa penatalaksaan prostatitis ?
1.3.10. Untuk mengetahui Apa komplikaso prostatitis ?
1.3.11. Untuk mengetahui Bagaimana pencegahan prostatitis ?
1.3.12. Untuk mengetahui bagaimana asuahan keperwatan pada pasien
prostatitis ?

BAB II
PEMBAHASAN MATERI
2.1 DEFINISI
Prostatitis adalah Istilah umum yang digunakan untuk menggambarkan
radang prostat Prostatitis adalah Peradangan pada kelenjar prostat pada pria
Prostatitis adalah infeksi atau inflamasi pada kelenjar prostat yang dapat di
sebabkan oleh bakteri maupun non bakteri (Basuki, 2009).
Prostatitis adalah peradangan kelenjar prostat, yang dapat bersifat akut
atau kronis. Prostatitis akut paling sering disebabkan oleh bakteri gram negatif.
Prostatitis kronis biasanya hasil dari invasi bakteri dari uretra.

2.2 EPIDEMIOLOGI
Prostatitis adalah salah satu penyakit yang paling sering di temui di praktek
urologi USA, terhitung hampir 2 juta pasien yang didapatkan tiap tahunnya,
dengan chronic bacterial prostatitis dan chronic pelvic pain sindrom yang paling
sering didiagnosis. Studi autopsy menemukan prevalensi prostatitis secara
histologik sekitar 64-86%.
Sekitar 8,2% laki-laki mengalami prostatitis dalam kehidupannya. Dari 4
kategori prostatitis, insidensi yang paling sering terjadi ialah chronic
[Link] pelvic pain syndrome, terhitung 90-95% dari seluruh kasus
prostatitis. Sedangkan acute bacterial prostatitis dan chronic bacterial prostatitis
sekitar 2-5% kasus. Insidensi prostatitis miobakterial meningkat di beberapa
negara berkembang (Taslan, 2010).

2.3 KLASIFIKASI
National Institute of Health (NIH) mengklasifikasikan prostatitis pada tahun
1999. Empat kategori prostatitis, yaitu :
A. Acute bacterial prostatitis
B. Chronic bacterial prostatitis
C. Chronic bacterial prostatitis and chronic pelvic pain syndrome (CPPS)
Pada kategori ini terdapat keluhan nyeri dan perasaan tidak nyaman di
daerah pelvis yang telah berlangsung paling sedikit 3 bulan.
D. Asymptomatic inflammatory prostatitis
2.4 ETIOLOGI
a. Neisseria gonorrhoeae dan Chlamydia trachomatis menginfeksi rata-rata
pada pria dewasa muda kurang dari 35 tahun dan memperlihatkan gejala
pada tractus urinarius (Taslan, 2010).
b. Kemacetan prostat: kemacetan salah satu penyebabnya, kemacetan pasif
merupakan faktor patogen penting. Penyakit ini biasanya bukan karena
infeksi atau mikroba patogen lainnya menyerang. Infeksi ini sangat
c. Stimulasi urin: Dalam urin mengandung banyak bahan kimia yang bersifat
basa. Ketika gangguan saraf endokrin lokal meningkatnya tekanan dan
uretra setelah pintu prostat rusak akan membuat rangsangan kimia seperti
nyeri saat buang air ke kecil.
d. Gangguan pada system saraf : pada system saraf bagian prostat mengalami
gangguan atau kemacetan pada saraf sehingga menyebabkan prostatitis.
e. Kekebalan tubuh yang rendah
f. Adanya cedera pada daerah prostat dan sekitarnya
Etiologi Berdasarkan Klasifikasi
1. Acute Bacterial Prostatitis, dapat disebabkan oleh :
- Infeksi ascendens melalui urethra
- Adanya refulks urin ke saluran prostat
- Infeksi langsung atau melalui limfogen dari rectum
- Sekitar 80% penyebabnya adalah bakteri gram-negatif (misalnya :
[Link], Klebsiella, Proteus, Pseudomonas spp., Enterobacter,
Serratia spp, Enterococcus). Jarang terjadi infeksi bakteri

campuran. Satu kasus di laporkan adanya prostatitis di sebabkan oleh


methicillin-resistant Staphylococcus aureus pada pasien diabetes
(Taslan, 2010).
2. Chronic Bacterial Prostatitis, dapat disebabkan oleh:
- Disfungsi pengosongan VU primer, baik secara struktur atau
fungsinya.
- [Link] bertanggung jawab 75-80% terhadap kasus chronic bacterial
prostatitis.
- C. trachomatis, Ureaplasma species, Trichomonas vaginalis
- Organisme yang tidak biasa seperti M. Tuberculosis, Coccidioides,
Histoplasma, dan Candida species, dapat di pertimbangkan.
Tuberculosis prostatitis dapat ditemukan pada pasien dengan renal
tuberculosis.
- Human immunodeficiency virus (HIV)
- Sitomegalovirus
- Kondisi iflamasi seperti sarcoidosis (Taslan, 2010)
3. Chronic prostatitis dan chronic pelvic pain syndrome
- Sekitar 5-8% pada pria dengan sindrom ini, memiliki bakteri
pathogen yang
terisolasi dari urine mereka atau cairan prostat.
- Etiologi dari katergori ini masih belum di mengerti sepenuhnya.
- Patologi fungsi atau struktur vesica urinaria seperti obstruksi leher
VU primer,
pseudodyssynergia (kegagalan sfingter eksternal untuk berelaksasi
saat pengosongan VU) , lemahnya kontrakso detrusor, atau
kelainan kontraktilitas otot detrusor.
- Obstruksi saluran ejakuliasi
- Peningkatan tekanan dinding pada bagian pelvis
- Inflamasi non spesifik prostatitis (Taslan, 2010)
4. Asymptomatic Inflammatory Prostatitis
-

Penyebabnya mirip dengan chronic inflammatory prostatitis tanpa


gejala-gejala (Taslan, 2010).

2.5 FAKTOR RESIKO


Taslan (2010) mengungkapkan beberapa faktor resiko prostatitis, antara lain :
a. Jenis Kelamin :

Laki-laki

b. Usia. Memasuki usia paruh baya.


c. Pernah mengalami prostatitis sebelumnya.
d. Infeksi kandung kemih.

e. Kurang minum, dehidrasi.


f. Menggunakan kateter.
g. Menderita HIV/AIDS.
h. Gangguan psikologis.
i. Seks tidak sehat.
j. Gangguan genetis.
2.6 PATOFISIOLOGI
Prostatitis adalah peradangan pada prostat. Dapat bersifat akut maupun
kronis dan sebabnya dapat berupa bakterial ataupun non bakterial, prostatitis
bakterial biasanya disebabkan oleh karena bakteri escherichia coli dan kadang
kadang enterokok. Infeksi dapat terjadi karena organisme naik keatas melalui
uretra. Refkuks kemih dari kandung kemih yang terinfeksi atau penyebaran
langsung melalui aliran limfe atau darah.
Prostatitis bakterial akut menyebabkan demam, menggigil, nyeri pada
pinggang bawah,nyeri perineum,disuria,dan spasme uretra. Pada periksaan rektal,
prostat teraba nyeri, membengkak, hangat dan keras. Resiko bakteremia
merupakan kontra indikasi pemijatan prostat, sewaktu melakukan pemeriksaan,
karena biasanya disertai dengan sistisis, pembiakan spesimen kemih sering kali
dapat mengidentifikasi organismenya.
Pengobatan prostatitis bakterial adalah dengan pemberian agen agen
antibakteri spesifik untuk organisme penyebab. Terapi penyokong berupa tirah
baring, hidrasi, analgesik, dan antipiretik. Prostatektomi transuretral dapat
dilakukan jika terapi dengan obat obatan tidak berhasil
Prostatitis bakterial kronik adalah sebab utama dari infeksi saluran kemih
yang sering kambuh pada pria. Gejala gejalanya adalah disuria, kebelet sering
berkemih dan nokturia. Nyeri dapat terjadi dipunggung bawah daerah
[Link], skrotum, dan suprapubik. Pemeriksaan rektal untuk meraba
prostat mungkin tidak menghasilkan apa apa. Seringkali orang yang
bersangkutan tidak menunjukkan gejala sampai terjadi bakteriuria yang bermakna.
Acapkali terjadi sistisis simtomatik yang rekuren. Jika diobati dengan antibody,
gejala gejala ini meredakan biakan kemih menjadi negatif. Tetapi organismenya

akan menetap didalam prostate dan sewaktu waktu akan menginfeksi saluran
kemih kembali
Prostatitis non bakterial menimbulkan gejala gejala yang sama dengan
prostatitis kronik tetapi ada infeksi saluran kemih dan tidak ditemukan organisme
penyebabnya. Kadang kadang orang yang bersangkutan akan menemukan
benang benang mukus didalam kemihnya. Tidak ada pengobatan dan tindakan
spesifik untuk keadaan ini

2.7 TANDA DAN GEJALA


Menurut Taslan (2010), berikut ini merupakan gejala dan tanda yang dapat
muncul pada penderita prostatitis, setiap kategori mempunyai karakteristik
tertentu :

a. Acute bacterial prostatitis


-

demam

menggigil

malaise

atralgia

myalgia

sakit pada perineal prostat

Disuria

Gejala seperti obstruksi pada tractus urinarius termasuk frekuensi,


urgensi,
disuria, nokturia, hesistansi, pancaran lemah dan pengosongan yang

inkomplit
-

Nyeri punggung bawah

Nyeri perut bawah

Keluarnya cairan secara spontan melalui urethra

b. Chronic bacterial prostatitis


-

Disuria intermiten

Gejala obstruktif tractus urinarius intermiten

Infeksi rekuren tractus urinarius

Gejala sistemik tidak ada yang spesifik

c. Chronic prostatitis and chronic pelvic pain syndrome


-

Nyeri pelvis atau rasa tidak nyaman di perineal, suprapubic, coccygeal,


rectal, urethral, dan

nyeri padatestisr/ scrotal selama lebih dari 3

sampai 6 bulan tanpa infeksi tractus urinarius dari uropatogen.


-

Gejala obstruksi tractus urinarius

termasuk frekuensi, disuria dan

pengosongan inkomplit
-

Nyeri ejakulasi

Disfungsi erektil

d. Asymptomatic inflammatory prostatitis


-

Kategori memiliki gejala yang kurang spesifik

2.8 PEMERIKSAAN PENUNJANG


Berikut merupakan pemeriksaan laboratorium yang dapat dilakukan pada
penderita prostatitis (Taslan, 2010) :
[Link]
1. Complete blood count : dindikasikan pada kasus pasien toksik secara
akut atau pasien suspek septicemia.
2. -

Urinalisis

: terdiri dari jumlah hitung sel darah putih dan

bacterial, oval fat bodies, dan lipid-laden makrofag. Pemeriksaan ini


penting untuk membedakan tipe-tipe prostatitis.
3. Kultur urin
4. Kimia : terdiri dari cairan elektrolit, termasuk kadar BUN dan kretinin,
pada pasien dengan retensi urin atau obstruksi.
5. Prostate-spesific antigen determination : Inflamasi prostat dapat
meningkatkan serum prostate-spesific antigen (PSA). Tetapi PSA lebih
sering digunakan untuk menscreening kanker jarang untuk prostatitis.
b. Pemeriksaan Urin Empat Porsi (Meares Stamey)
Pemeriksaan ini dilakukan untuk penderita prostatitis. Pemeriksaan ini
terdiri dari urin empat porsi yaitu :
1.

Porsi pertama (VB1) : 10 ml pertama urin, menunjukkan kondisi


uretra,

2.

Porsi kedua (VB2) : sama dengan urin porsi tengah, menunjukkan


kondisi buli-buli,

3.

Porsi ketiga (EPS) : sekret yang didapatkan setelah masase prostat,

4.

Porsi keempat (VB4) : urin setelah masase prostat.

c. Radiografi
1. Ultrasonography pada trans-abdominal atau scan kandung kemih
untuk mengetahui berapa volume urin yang ada.
2. Ultarasonography transrektal
3. Doppler Ultrasonography
4. Computed

Tomography

berguna

untuk

mengevaluasi

abses

prostatitis atau suspek neoplasma


5. Sistoskopi
6. Intravena uropgraphy atau voiding cystourethrography
2.9 PENATALAKSANAAN
a. Pengobatan Acute bacterial prostatitis
Pengobatan untuk acute bacterial prostatitis adalah antibiotikantibiotik

oral,

biasanya

ciprofloxacin

(Cipro)

atau

tetracycline

(Achromycin). Perawatan di rumah termasuk minum cairan-cairan yang


banyak, obat-obat pengontrol nyeri, dan istirahat. Jika pasiennya sakit
secara akut atau mempunyai sistim imun yang dikonmpromiskan (contoh,
sedang mengambil kemoterapi atau obat-obat penekan imun atau
mempunyai HIV/AIDS), perawatan di rumah sakit untuk antibiotikantibiotik intravena dan perawatan mungkin diperlukan (Taslan, 2010 ;
Anonim, 2011).
b. Pengobatan Chronic bacterial prostatitis
Pengobatan chronic bacterial prostatitis adalah dengan antibiotikantibiotik jangka panjang, sampai delapan minggu, dengan ciprofloxacin
(Cipro, Cipro XR), obat-obat sulfa [contoh, sulfamethoxazole dan
trimethoprim,(Bactrim)], atau erythromycin. Bahkan dengan terapi yang

tepat, tipe prostatitis ini dapat kambuh. Tidak menentu kenapa, mungkin
disebabkan pengosongan kantong kemih yang buruk.
Sejumlah kecil dari urin yang retensi dapat menyebabkan terjadinya
kekambuhan infeksi. Situasi ini dapat disebabkan oleh benign prostatic
hypertrophy (BPH), batu-batu kantong kemih, ata batu-batu prostate
(Taslan, 2010).
c. Pengobatan Chronic prostatitis without infection
Pengobatan chronic prostatitis without infection mengarah untuk
kontrol nyeri kronis dan termasuk terapi fisik dan teknik-teknik relaksasi
(pengenduran) serta obat-obat tricyclic antidepressant. Kemungkinankemungkinan

pengobatan

lain

termasuk

alpha-adrenergic

blockers.

Tamsulosin (Flomax) dan terazosin (Hytrin) adalah obat-obat yang


menghambat reseptor-reseptor adrenalin yang bukan jantung dan digunakan
dalam merawat BPH dan resistensi saluran keluar kantong kemih. Sehingga
terjadi pengosongan kantong kemih yang lebih baik yang dapat membantu
meminimalkan gejala-gejala (Taslan, 2010 ; Anonim, 2011).
d. Pengobatan Asymptomatic inflammatory prostatitis
Pengobatan tidak diperlukan untuk tipe prostatitis ini. Pada pasienpasien in dapat diberikan obat anti-peradangan nonsteroidal (ibuprofen,
Motrin, Advil) atau antibiotik-antibiotik (Anonim, 2011).

2.10.

KOMPLIKASI
Menurut Anonim (2011) komplikasi dari prostatitis adalah sebagai berikut:

Hematospermia

Acid phosphatase levels raised (plasma or serum)

Haematuria

Dysuria

Back pain

[Link]
a. Minum air putih dalam jumlah yang banyak agar urin yang keluar juga
meningkat.
b. BAK sesuai kebutuhan untuk membilas mikroorganisme yang mungkin
naik ke uretra.
c. Menjaga kebersihan sekitar organ saluran kencing.
d. Mengkonsumsi makanan yang kaya akan zat besi.
e. Mengkonsumsi jus anggur atau cranberry untuk mencegah ISK berulang.
f. Tidak menahan bila ingin berkemih

2.12.

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN PROSTATITIS

A. PENGKAJIAN
1. IDENTITAS
Nama

Umur

Jenis Kelamin

Alamat

Pekerjaan

Keluarga

Alamat

2. KELUHAM UTAMA
Klien mengeluhkan sulit buang air kecil , nyeri saat buang air kecil
3. RIWAYAT KESEHATAN
Riwayat Kesehatan Sekarang
Klien mengatakan bawah klien sulit buang air kecil, klien
sering ingin buang air kecil, terasa panas dan nyeri saat buang air
kecil,buang air kecil tampak keruh, dan pasien mengeluh merasa
tidak puas setelah buang air kecil. Biasaya juga klien mengeluh
demam, mengigil, nyeri otot dan sendi, nyeri perut bagian bawah
Riwayat Kesehatan Dahulu
Biasanya klien mengatakanpernah menderita penyakit ini
sebelumnya, klien mengalami benturan pada daerah perut bagian
bawah, klien menderita penyakit HIV AIDS, Biasanya klien
mengatakan Kurang minum.
Riwayat Kesehatan Keluarga
Biasanya klien mengatakan bahwa ada keluarga klien yang
menderita penyakit yang sama, ada keluarga pasien yang menderita
penyakit menular seperti HIV AIDS.

4.

PEMERIKSAAN FISIK
a.

Keadaan umum
Baik, kooperatif, Kesadaran compos mentis

b.

Tanda - tanda vital


TD

: 120/90 mmhg, dan meningkat ketika nyeri

Suhu

: biasanya antara 37,5 38,5

Nadi

: 100 x/mnt (biasanya >100 x/mnt ketika nyeri)

Pernapasan

: 20x/mnt dan meningkat ketika nyeri

Menurut Taslan (2010), hasil dari pemeriksaan fisik yang akan


didapatkan dari penderita prostatitis, yaitu :
a. Acute bacterial prostatitis
- Nyeri tekan, hangat, nodul, boggy, atau normal prostat pada rectal

examination
- Nyeri tekan pada suprapubic abdominal
- Pembesaran kandung kemih karena retensi urin

b. Chronic bacterial prostatitis


- Normal examination ditemukan diantara episode akut
- Nyeri tekan, nodular, atau normal prostat pada rectal examination
- Nyeri tekan pada suprapubic selama episode akut
c. Chronic prostatitis and chronic pelvic pain syndrome
- Nyeri tekan yang ringan atau normal prostate pada rectal
examination
- Sfingter anal yang kencang pada rectal examination
d.

Asymptomatic inflammatory prostatitis


- Normal atau kalsifikasi prostate pada rectal examination

5.

PEMERIKASAAN PENUNJANG
Berikut

merupakan

pemeriksaan

laboratorium

yang

dapat

dilakukan pada penderita prostatitis (Taslan, 2010) :


a.

Laboratorium
1. Complete blood count : dindikasikan pada kasus pasien toksik
secara akut atau pasien suspek septicemia.
2. Urinalisis : terdiri dari jumlah hitung sel darah putih dan
bacterial,

oval

Pemeriksaan

ini

fat

bodies,

penting

dan

untuk

lipid-laden
membedakan

makrofag.
tipe-tipe

prostatitis.
3. Kultur urin
4. Kimia : terdiri dari cairan elektrolit, termasuk kadar BUN dan
kretinin, pada pasien dengan retensi urin atau obstruksi.

5. Prostate-spesific antigen determination : Inflamasi prostat


dapat meningkatkan serum prostate-spesific antigen (PSA).
Tetapi PSA lebih sering digunakan untuk menscreening kanker
jarang untuk prostatitis.
b. Pemeriksaan Urin Empat Porsi (Meares Stamey)
Pemeriksaan ini dilakukan untuk penderita prostatitis. Pemeriksaan
ini terdiri dari urin empat porsi yaitu :
1. Porsi pertama (VB1) : 10 ml pertama urin, menunjukkan
kondisi uretra,
2. Porsi kedua (VB2) : sama dengan urin porsi tengah,
menunjukkan kondisi buli-buli,
3. Porsi ketiga (EPS) : sekret yang didapatkan setelah masase
prostat,
4. Porsi keempat (VB4) : urin setelah masase prostat.
c. Radiografi
1. Ultrasonography pada trans-abdominal atau scan kandung
kemih untuk mengetahui berapa volume urin yang ada.
2. Ultarasonography transrektal
3. Doppler Ultrasonography
4. Computed Tomography berguna untuk mengevaluasi abses
prostatitis atau suspek neoplasma
5. Sistoskopi
6. Intravena uropgraphy atau voiding cystourethrography
6.

ANALISA DATA

NO
1.

DATA
DS :
-

Klien mengatakan Klien


bawah sulit buang air

PENYEBAB

MASALAH
KEPERAWATAN

Pembengkakan

Gangguan eliminasi

prostat

urine berhubungan
dengan

kecil,
-

pembengkakan prostat

klien mengatakan sering


ingin buang air kecil,

klien mengeluh merasa


tidak puas setelah buang
air kecil

DO :
- Pembesaran kandung kemih
karena retensi urin
- Klien tampak meringis
- Klien tampak sulit bauang ir

2.

kecil
DS :

Infeksi prostat

Nyeri berhubungan
dengan inflamasi dan

klien mengatakan terasa


panas air kecil

nyeri saat buang air kecil

klien mengatakan nyeri


otot dan sendi,

klien mengatakan nyeri


perut bagian bawah

DO:
-

klien tampak meringis

Nyeri

tekan

pada

suprapubic abdominal
-

klien tmapak memegang


daerah nyeri

nadi meningkat
(biasanya >100 x/mnt
ketika nyeri)

Pernapasan meningkat
ketika nyeri > 24 x/mnt

Tekanan darah meningkat

infeksi prostat

ketika nyeri
kurang

Defisiensi

Klien mengatakan tidak

terpajannya

pengetahuan

mengerti dengan

informasi.

berhubungan dengan

DS :
-

kurang terpajannya

penyakitnya
-

informasi.

Klien mengtakan tidak


mengerti dengan
penyebab penyakitnya

3.

DO:
-

Klien tmapak bingung

Klien tampak gelisah

Klien banyak bertanya


tentang penyakitnya

B. DIAOGNOSA KEPERAWATAN
1 Nyeri berhubungan dengan inflamasi dan infeksi prostat
2. Gangguan eliminasi urine berhubungan dengan pembengkakan prostat
3. Defisiensi pengetahuan berhubungan dengan kurang terpajannya
informasi.

C . INTERVENSI
Diagnosa
No
1.

keperawatan
Gangguan eliminasi

Tujuan dan Kriteria

NOC :

urine berhubungan Urinary elimination


dengan

Intervensi

Hasil
NIC :

Urinary Retentiuon care

pembengkakan
prostat

Urinary continence
-

- Intake cairan dalam


batas normal

Monitor

intake

dan

output

kosog secara penuh


urin > 100 200 cc

yang

komprehensif

kemih -

- Tidak ada residu

penilain

kemih

Kriteria Hasil :
- kandung

Lakukan

Memonitor obat yang


diresepkan

Gunakan

kekutan

sugesti

dengan

menjalankan air atau

- Bebas dari ISK

siram toilet
-

Sediakan waktu untuk


pengosongan kandung
kemih

Memantau
distensi

tingkat
kandung

kemih

2.

Nyeri berhubungan

NOC :

dengan inflamasi dan


infeksi prostat

NIC :
Pain Management

Pain Level,

Pain control,

Comfort level

Kriteria Hasil :

- Lakukan pengkajian
nyeri secara
komprehensif
termasuk lokasi,
karakteristik, durasi,
frekuensi, kualitas dan

Mampu
mengontrol nyeri

faktor presipitasi

- Observasi reaksi
(tahu penyebab

nonverbal dari

nyeri, mampu

ketidaknyamanan

menggunakan
tehnik

- Gunakan teknik

nonfarmakologi

komunikasi terapeutik

untuk

untuk mengetahui

mengurangi

pengalaman nyeri

nyeri, mencari

pasien

bantuan)
-

Melaporkan
bahwa nyeri
berkurang
dengan
menggunakan
manajemen nyeri

Mampu
mengenali nyeri
(skala, intensitas,
frekuensi dan
tanda nyeri)

Menyatakan rasa
nyaman setelah
nyeri berkurang

Kaji kultur yang


mempengaruhi respon
nyeri

- Evaluasi pengalaman
nyeri masa lampau
- Evaluasi bersama
pasien dan tim
kesehatan lain tentang
ketidakefektifan
kontrol nyeri masa
lampau
- Bantu pasien dan
keluarga untuk
mencari dan
menemukan dukungan
- Kontrol lingkungan
yang dapat
mempengaruhi nyeri
seperti suhu ruangan,
pencahayaan dan

kebisingan
-

Kurangi faktor
presipitasi nyeri

- Pilih dan lakukan


penanganan nyeri
(farmakologi, non
farmakologi dan inter
personal)
- Kaji tipe dan sumber
nyeri untuk
menentukan intervensi
- Ajarkan tentang teknik
non farmakologi
- Berikan analgetik
untuk mengurangi
nyeri
- Evaluasi keefektifan
kontrol nyeri
- Tingkatkan istirahat
- Kolaborasikan dengan
dokter jika ada
keluhan dan tindakan
nyeri tidak berhasil
- Monitor penerimaan
pasien tentang

manajemen nyeri
Analgesic
Administration
- Tentukan lokasi,
karakteristik, kualitas,
dan derajat nyeri
sebelum pemberian
obat
- Cek instruksi dokter
tentang jenis obat,
dosis, dan frekuensi
- Cek riwayat alergi
- Pilih analgesik yang
diperlukan atau
kombinasi dari
analgesik ketika
pemberian lebih dari
satu
- Tentukan pilihan
analgesik tergantung
tipe dan beratnya nyeri
- Tentukan analgesik
pilihan, rute
pemberian, dan dosis
optimal
- Pilih rute pemberian
secara IV, IM untuk

pengobatan nyeri
secara teratur
- Monitor vital sign
sebelum dan sesudah
pemberian analgesik
pertama kali
- Berikan analgesik
tepat waktu terutama
saat nyeri hebat
- Evaluasi efektivitas
analgesik, tanda dan
gejala
3.

Defisiensi
pengetahuan

NOC :
- Kowlwdge : disease

berhubungan dengan

Teaching : disease
Process

process

kurang terpajannya - Kowledge : health


informasi.

NIC :

Berikan penilaian
tentang tingkat

Behavior

pengetahuan pasien
tentang proses penyakit

Kriteria Hasil :

yang spesifik
- Pasien dan

Jelaskan

keluarga

patofisiologi dari

menyatakan

penyakit dan bagaimana

pemahaman

hal ini berhubungan

tentang penyakit,

dengan anatomi dan

kondisi, prognosis

fisiologi, dengan cara

dan program

yang tepat.

pengobatan
- Pasien dan
keluarga mampu

Gambarkan tanda
dan gejala yang biasa

melaksanakan

muncul pada penyakit,

prosedur yang

dengan cara yang tepat

dijelaskan secara

Gambarkan proses

benar

penyakit, dengan cara


yang tepat

- Pasien dan

kemungkinan penyebab,

menjelaskan
kembali apa yang

identifikasi

keluarga mampu

dengna cara yang tepat


Sediakan informasi

dijelaskan

pada pasien tentang

perawat/tim

kondisi, dengan cara

kesehatan lainnya

yang tepat
Hindari harapan

yang kosong
Sediakan bagi

keluarga informasi
tentang kemajuan
pasien dengan cara yang
tepat
-

Diskusikan
perubahan gaya hidup
yang mungkin
diperlukan untuk
mencegah komplikasi di
masa yang akan datang
dan atau proses
pengontrolan penyakit

Diskusikan pilihan
terapi atau penanganan

Dukung pasien
untuk mengeksplorasi
atau mendapatkan

second opinion dengan


cara yang tepat atau
diindikasikan
-

Eksplorasi
kemungkinan sumber
atau dukungan, dengan
cara yang tepat

Instruksikan pasien
mengenai tanda dan
gejala untuk
melaporkan pada
pemberi perawatan
kesehatan, dengan cara
yang tepat.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 2011. Prostatitis Symptoms, Diagnosis, Treatments dan Causes.
[Link]
Diakses pada tanggal 25 Februari 2016.
Gray, D. 2009. Gonorrheae Treatment Recommendation. Diakses pada
tanggal

25

Februari

2016.

dari

[Link] 20gc% 20rx%20


guides .pdf
Gray, E.,Morgan, J. 2008. Increasing Ciprofloxacin Resistance in
Gonorrhoeae.

Diakses

pada

tanggal

25

Februari

2016.

[Link]
Doenges, Marilyn E. (1999). Rencana Asuhan Keperawatan: pedoman untuk
perencanaan dan pendokumentasian perawatan pasien. Alih Bahasa: I Made
Kariasa, Ni made Sumarwati. Edisi: 3. Jakrta: EGC
Smeltzer, Suzanne C. (2001). Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah
Brunner & Suddart. Alih Bhasa: Agung Waluyo. Edisi: 8. Jakarta: EGC.

Anda mungkin juga menyukai