MAKALAH
Pengembangan Evaluasi dan Proses Pembelajaran Fisika
Process Skills
Oleh:
FUJA NOVITRA
15175015
Dosen Pengampu:
Prof. Dr. FESTIYED, M.S
Dr. Djusmaini Djamas, [Link]
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA
1
PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS NEGERI PADANG
2016
KATA PENGANTAR
Syukur Alhamdulillah penulis ucapkan kehadirat Allah SWT yang senantiasa selalu
melimpahkan berkat rahmat dan hidayahNya, hingga akhirnya penyusunan makalah yang
berjudul Process Skills ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Shalawat beriring salam
tak lupa buat Nabi besar kita Nabi Muhammad SAW, Rahmatan Lilalamin.
Ucapan terimakasih penulis haturkan kepada semua pihak, terutama pada dosen
pembimbing Prof. Dr. Festiyed, M.S dan Dr. Djusmaini Djamas, [Link] yang telah
memberikan arahan dan bimbingan kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan
tugas makalah ini tanpa kendala yang cukup berarti. Dan semua pihak yang telah membantu
dan memberi dorongan penulis dalam penyusunan makalah ini yang tidak dapat disebutkan
satu persatu.
Penulis menyadari bahwa penulisan makalah ini belum sempurna, karena keterbatasan
pada penulis. Untuk itu, penulis dengan ikhlas menerima semua saran dan kritik yang bersifat
membangun demi kesempurnaan tulisan ini. Mudah-mudahan makalah ini dapat bermanfaat
bagi berbagai pihak.
Padang ,
Februari 2016
Penulis
DAFTAR ISI
Hal.
KATA PENGANTAR................................................................................................ I
DAFTAR ISI............................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN........................................................................................ 1
1
A. Latar Belakang..................................................................................................... 2
B. Rumusan Masalah................................................................................................ 3
C. Tujuan.................................................................................................................. 4
1
BAB II KAJIAN TEORI..........................................................................................
A. Landasan Agama.................................................................................................. 4
B. Definisi Process Skill........................................................................................... 5
C. Teori-Teori Belajar yang Mendukung Keterampilan Proses............................... 7
D. Hal-hal yang Mendasari Pembelajaran dengan Menggunakan Keterampilan
8
Proses...................................................................................................................
E. Perbedaan Pendekatan Proses dengan Pendekatan Keterampilan Proses............ 9
F. Jenis-jenis Keterampilan Proses Sains (KPS)...................................................... 10
BAB III PEMBAHASAN........................................................................................ 14
BAB IV PENUTUP.................................................................................................. 18
18
A. Kesimpulan..........................................................................................................
18
B. Saran....................................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................ 19
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kegiatan pembelajaran merupakan suatu proses belajar yang dialami oleh
peserta didik. Peserta didik akan mendapatkan pengalaman belajar manakala guru
memfalisitasi
kegiatan
pembelajaran
yang
berorientasi
pada
perolehan
keterampilan belajar kepada peserta didik. Proses adalah hal yang sangat penting
dalam pembelajaran. Mengimplementasikan kurikulum 2013 membutuhkan
perubahan paradikma tentang keberhasilan suatu pembelajaran. Sebelum
kurikulum 2013 pembelajaran dikatakan berhasil apabila peserta didik mampu
menyelesaikan soal-soal ulangan atau ujian dengan memperoleh nilai yang baik.
Selain itu, guru merasa telah melaksanakan tugasnya jika semua materi
pembelajaran sudah tersampaikan kepada peserta didik. Artinya perbelajaran
belum berpusat kepada peserta didik (student center), melainkan berpusat pada
guru (teacher center) dan materi pembelajaran (subject center).
Kondisi ini menunjukkan bahwa evaluasi pembelajaran belum dilaksanakan
dengan sesungguhnya. Tujuan dan fungsi evaluasi pembelajaran masih terabaikan.
Guru mengembangkan instrumen evaluasi masih berorientasi hanya pada materi
pembelajaran dan ruang lingkup instrumen tersebut masih bertumpu pada aspek
pengetahuan saja. Padahal salah satu prinsip pembelajaran yang dikemukakan
oleh UNESCO adalah kegiatan pembelajaran yang seyogyanya menanamkan
kemampuan belajar untuk belajar (learning to lern). Hal ini menunjukkan bahwa
proses belajar memiliki peran yang penting dalam pembelajaran.
Pembelajaran yang memiliki karakteristik tersebut adalah pembelajaran
yang berbasis process skills (keterampilan proses). Pembelajaran keterampilan
proses sebenarnya sudah lama dikenal dan digunkan dalam lingkungan
pendidikan sains. Prinsip pembelajaran sains adalah untuk memfasilitasi peserta
didik untuk memperoleh pengalaman secara langsung.
Beberapa
alasan
yang
melandasi
perlunya
diterapkan
pendekatan
ketrampilan proses sains dalam kegiatan pembelajaran, yaitu: pertama,
perkembangan ilmu pengetahuan berlangsung semakin cepat sehingga para guru
tidak mungkin lagi mengajarkan semua fakta dan konsep kepada peserta didiknya;
kedua, sesuai dengan pendapat para ahli psikologi yang mengatakan bahwa
peserta didik-peserta didik mudah memahami konsep-konsep yang rumit dan
abstrak jika disertai dengan contoh-contoh konkret, contoh-contoh yang wajar
sesuai dengan situasi dan kondisi yang dihadapi, dengan mempraktekkan sendiri
upaya penemuan konsep melalui perlakuan terhadap kenyataan fisik, melalui
penanganan benda-benda yang benar nyata; ketiga, penemuan ilmu pengetahuan
tidak bersifat mutlak benar seratus persen, penemuannya bersifat relatif. Suatu
teori mungkin terbantah dan ditolak setelah orang mendapatkan data baru yang
mampu membuktikan kekeliruan teori yang dianut. Muncul lagi teori baru, yang
prinsipnya mengandung kebenaran relatif; keempat, dalam proses pembelajaran
seharusnya pengembangan konsep tidak dilepaskan dari pengembangan sikap dan
nilai dari diri peserta didik.
Berdasarkan keempat alasan ini dicari cara mengajar-belajar yang sebaikbaiknya dengan melakukan pendekatan yang baru. Pendekatan itu adalah cara
belajar peserta didik aktif yang mengembangkan keterampilan proses.
Keterampilan proses ini melibatkan keterampilan-keterampilan kognitif atau
intelektual, manual, dan sosial. Keterampilan proses atau intelektual terlibat
dengan melakukan ketrampilan proses peserta didik menggunakan pikirannya.
Keterampilan manual jelas terlibat dalam ketrampilan proses karena mungkin
mereka melibatkan penggunaan alat dan bahan, pengukuran, penyusunan atau
perakitan alat. Dengan keterampilan proses dimaksudkan agar tercipta interaksi
antara sesama peserta didik dalam kegiatan belajar mengajar dengan keterampilan
proses.
Sebagaimana yang telah dikemukakan di atas penulis akan membahas
tentang Keterampilan Proses (Process Skills) yang bertujuan untuk menambah
wawasan dan juga sebagai tugas mata kuliah Evaluasi Pembelajaran Fisika.
B. Rumusan Masalah
Rumusan dalam penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Apa definisi process skills?
2. Apakah perbedaan pendekatan proses dengan pendekatan keterampilan
proses?
3. Apakah jenisjenis keterampilan proses sains (KPS)?
C. Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Untuk memahami definisi process skill.
2. Untuk memahami perbedaan pendekatan proses dengan pendekatan
keterampilan proses
3. Untuk mengetahui jenis jenis keterampilan proses sains.
BAB II
KAJIAN TEORI
A. Landasan Agama
Islam dengan sumber ajaran al-Quran dan hadits yang diperkaya penafsiran
para ulama ternyata menunjukkan dengan jelas berbagai masalah dalam bidang
pendidikan yang telah memberi corak hitam putihnya perjalanan hidup seseorang.
Oleh karena itu ajaran Islam menetapkan bahwa pendidikan merupakan salah satu
kegiatan yang wajib hukumnya baik pria maupun wanita yang berlangsung
seumur hidup semenjak dari buaran hingga ajal datang (al-Hadits) life is
education.
Dalam proses evaluasi pendidikan memiliki kedudukan penting dalam
pencapaian hasil yang digunakan sebagai input untuk perbaikan kegiatan
pendidikan. Untuk mengetahui lebih jelas tentang evaluasi pendidikan, akan
dipaparkan tafsiran surat al-ankabut ayat 2-3 tentang evaluasi pendidikan.
Al-Quran surat Al-Ankabut ayat 2-3:
(2)
(3)
Artinya:
(2) Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan:
Kami telah beriman, sedang mereka tidak diuji lagi?
(3) Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka,
maka
sesungguhnya
Allah
mengetahui
orang-orang
yang
benar
dan
sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.
Evaluasi itu perlu dilakukan, dengan mengingat akan sifat-sifat manusia itu
sendiri yaitu manusia adalah makhluk yang lemah, makhluk yang suka
membantah dan ingkar kepada Allah, mudah lupa dan banyak salah namun
mempunyai batas untuk sadar kembali. Tetapi di sisi lain manusia juga merupakan
makhluk terbaik dan termulia, yang dipercaya Allah untuk mengemban amanat
yang istimewa, yang diangkat sebagai khalifah di bumi dan yang telah diserahi
Allah apa yang ada di langit dan di bumi.
Bertolak dari kajian tersebut, maka ditemukan hal-hal prinsipal sebagai
berikut: bahwa manusia itu ternyata memiliki kelemahan-kelemahan dan
kekurangan-kekurangan tertentu, sehingga perlu diperbaiki baik oleh dirinya
sendiri maupun pihak lain. Namun manusia itu juga memiliki kelebihan-kelebihan
tertentu sehingga kemampuan tersebut perlu dikembangkan dan manusia
mempunyai kemampuan untuk mencapai posisi tertentu sehingga perlu dibina
kemampuannya untuk mencapai posisi tersebut. Dengan mengingat hal-hal
tersebut, maka evaluasi amatlah diperlukan, apalagi dalam proses pendidikan.
B. Definisi Process Skill
Keterampilan proses menurut para ahli:
1. Menurut Herlen (Indrawati, 1999:3) keterampilan proses (process skill)
sebagai proses kognitif ternasuk didalamnya juga interaksi dengan isinya
(content).
2. Keterampilan proses merupakan kemampuan peserta didik untuk mengelola
(memperoleh) yang didapat dalam kegiatan belajar mengajar (KBM) yang
memberikan kesempatan seluas-luasnya pada peserta didik untuk mengamati,
menggolongkan, menafsirkan, meramalkan, menerapkan, merencanakan
penelitian, mengkomunikasikan hasil perolehan tersebut (Azhar, 1993: 7).
3. Menurut Conny (1990: 23) pendekatan keterampilan proses adalah
pengembangan sistem belajar yang mengefektifkan peserta didik (CBSA)
dengan
cara
mengembangkan
keterampilan
memproses
perolehan
pengetahuan sehingga peserta didik akan menemukan, mengembangkan
sendiri fakta dan konsep serta menumbuhkan sikap dan nilai yang dituntut
dalam tujuan pembelajaran khusus.
4. Dimiyati (2002: 138) mengatakan
bahwa
pendekatan
keterampilan
proses dimaksudkan untuk mengembangkan kemampuan yang dimiliki oleh
peserta didik adalah:
5
a. Pendekatan keterampilan proses memberikan kepada pengertian yang tepat
tentang hakekat ilmu pengetahuan peserta didik dapat mengalami
rangsangan ilmu pengetahuan dan dapat lebih baik mengerti fakta dan
konsep ilmu pengetahuan.
b. Mengajar dengan keterampilan proses berarti memberi kesempatan kepada
peserta didik bekerja dengan ilmu pengetahuan tidak sekedar menceritakan
atau mendengarkan cerita tentang ilmu pengetahuan.
c. Menggunakan keterampilan proses untuk mengajar ilmu pengetahuan
membuat peserta didik belajar proses dan produk ilmu pengetahuan
sekaligus.
Pendekatan keterampilan proses (PKP) perlu diterapkan dalam kegiatan
belajar mengajar berdasarkan alasan-alasan sebagai berikut:
1.
Percepatan perubahan ilmu pengetahuan dan teknologi
2.
Pengalaman intelektual emosional dan fisik dibutuhkan agar didapatkan
agar hasil belajar yang optimal
3.
Penerapan sikap dan nilai sebagai pengabdi pencarian abadi kebenaran ini.
(Dimiyati, 2002: 137)
Pembinaan dan pengembangan kreatifitas berarti mengaktifkan murid dalam
kegiatan belajarnya. Untuk itu cara belajar peserta didik aktif (CBSA) yang
mengembangkan keterampilan proses yang dimaksud dengan keterampilan di sini
adalah kemampuan fisik dan mental yang mendasar
sebagai penggerak
kemampuan-kemampuan lain dalam individu.
Sedangkan Conny (1990: 14). mengatakan bahwa ada beberapa alasan yang
melandasi perlu diterapkan pendekatan keterampilan proses (PKP) dalam kegiatan
belajar mengajar yaitu:
1.
Perkembangan ilmu pengetahuan berlangsung semakin cepat sehingga tak
mungkin lagi para guru mengajarkan semua fakta dan konsep kepada peserta
2.
didik.
Para ahli psikologi umumnya berpendapat bahwa anak-anak muda
memahami konsep-konsep yang rumit dan abstrak jika disertai dengan
contoh-contoh kongkrit.
3.
Penemuan ilmu pengetahuan tidak bersifat relatif benar seratus persen
4.
penemuannya bersifat relatif
Dalam proses belajar mengajar pengembangan konsep tidak dilepaskand
ari pengembangan sikap dan nilai dalam diri anak didik.
C. Teori-Teori Belajar yang Mendukung Keterampilan Proses
Keterampilan proses merupakan asimilasi dari berbagai keterampilan
intelektual yang dapat diterapkan pada proses pembelajaran. Piaget (Duherti,
2003) mengemukakan bahwa kemampuan berpikir anak akan berkembang bila
dikomunikasikan secara jelas dan cermat yang dapat disajikan berupa grafik,
diagram, tabel, gambar atau bahasan isyarat lainnya.
Brunner (Hendrik, 2000) mengemukakan bahwa dalam pengajaran dengan
pendekatan keterampilan proses penemuan anak akan menggunakan pikirannya
untuk melakukan berbagai konsep atau prinsip. Dalam proses penemuan
(discovery) anak melakukan operasi mental berupa pengukuran, prediksi,
pengamatan, inferensi, dan pengelompokkan. Operasi mental yang menyangkut
keterampilan intelektual tersebut dapat mengembangkan kemampuan anak dalam
membentuk pengetahuan, anak akan mengetahui lingkungan dengan bekal konsep
atau pengetahuan (prior knowledge) yang telah ada. Jika objek yang diamati
dengan konsep prior tadi, maka pengetahuan anak akan bertambah. Pada
hekekatnya
hasil
kegiatan
pengamatan
itu
menyebabkan
meningkatnya
pengetahuan si anak. Oleh sebab itu proses mental di atas digunakan sebagai dasar
bagi pengembangan keterampilan proses sains untuk menemukan konsep dan
prinsip. Kemudian Bruner (Hendrik, 2000) menyatakan jika seseorang individu
belajar dan mengembangkan pikirannya, maka sebenarnya ia telah menggunakan
potensi intelektual untuk berfikir dan ia setuju bahwa melalui sarana
keterampilan-keterampilan proses sains anak akan dapat didorong secara internal
membentuk intelektual secara benar.
Ausubel (Dahar, 1996) berpendapat jika anak belajar dengan perolehan
informasi melalui penemuan, maka belajar ini menjadi belajar yang bermakna.
Hal ini termasuk apabila informasi yang diperolehnya dapat berkaitan dengan
konsep atau infromasi yang sudah ada padanya.
Dari tiga pakar di atas menurut Hendrik (2000) dapatlah ditarik kesimpulan
yang menghubungkan ketiganya dalam suatu bentuk dukungan terhadap
penggunaan keterampilan proses sains yaitu adanya kemampuan dan tahap
intelektual serta pandangan belajar terhadap perkembangan pengetahuan anak,
maka cara belajar anak dengan mengembangkan berbagai aspek discovery akan
menyebabkan hasil belajar yang bermakna. Hal tersebut dapat terjadi jika
7
dikembangkan proses belajar mengajar dengan menerapkan pendekatan
keterampilan proses.
D. Hal-hal
yang
Mendasari
Pembelajaran
dengan
Menggunakan
Keterampilan Proses
Penerapan Pendekatan Keterampilan Proses dalam kegiatan pembelajaran
didasarkan pada hal-hal berikut:
1. Percepatan Perubahan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Percepatan perubahan IPTEK ini, tidak memungkinkan bagi guru bertindak
sebagai satu-satunya orang yang menyalurkan semua fakta dan teori-teori.
Untuk mengatasi hal-hal ini perlu pengembangan keterampilan memperoleh
dan memproses semua fakta, konsep, dan prinsip pada siri peserta didik.
2. Pengalaman intelektual, emosional, dan fisik dibutuhkan agar didapatkan hasil
belajar yang optimal.
Ini berarti kegaitan pembelajaran yang mampu memberi kesempatan kepada
peserta didik memperlihatkan unjuk-kerja melalui sejumlah keterampilan
memproses semua fakta, konsep, dan prinsip sangat dibutuhkan.
3. Penanaman sikap dan nilai sebagai pengabdi pencarian abadi kebenaran ilmu.
Hal ini menuntut adanya pengenalan terhadap tata cara pemprosesan dan
pemerolehan kebenaran ilmu yang bersifat kesementaraan. Hal ini akan
mengarahkan peserta didik pada kesadaran keterbatasan manusiawi dan
keunggulan manusiawi, apabila dibandingkan dengan keterbatasan dan
keunggulan ilmu pengetahuan dan teknologi
E. Perbedaan Pendekatan Proses dengan Pendekatan Keterampilan Proses
Pendekatan keterampilan proses dapat diartikan sebagai wawasan atau
anutan pengembangan keterampilan- keterampilan intelektual, sosial dan fisik
yang bersumber dari kemampuan- kemampuan mendasar yang prinsipnya telah
ada dalam diri peserta didik (DEPDIKBUD, dalam Moedjiono, 1992/1993 : 14).
Menurut Semiawan, dkk (Nasution, 2007: 1.9-1.10) menyatakan bahwa
keterampilan proses adalah keterampilan fisik dan mental terkait dengan
kemampuan-
kemampuan
yang
mendasar
yang
dimiliki,
dikuasai
dan
diaplikasikan dalam suatu kegiatan ilmiah, sehingga para ilmuan berhasil
menemukan sesuatu yang baru.
Dimyati dan Mudjiono (Sumantri, 1998/1999: 113) mengungkapkan bahwa
pendekatan keterampilan proses bukanlah tindakan instruksional yang berada
diluar jangkauan kemampuan peserta didik. Pendekatan ini justru bermaksud
mengembangkan kemampuan- kamapuan yang dimiliki peserta didik.
Jadi, pendekatan keterampilan proses menekankan pada bagaimana peserta
didik belajar, bagaimana mengelola perolehannya, sehingga dipahami dan dapat
dipakai sebagai bekal untuk memenuhi kebutuhan dalam kehidupannya di
masyarakat.
Science A Process Approach (SAPA) dan pendekatan keterampilan proses
sains (KPS) merupakan pendekatan pembelajaran yang berorientasi kepada proses
IPA. Namun dalam tujuan dan pelaksanaannya terdapat perbedaan. SAPA
(Science A Process Approach) tidak mementingkan konsep. Selain itu SAPA
(Science A Process Approach) menuntut pengembangan pendekatan proses secara
utuh yaitu metode ilmiah dalam setiap pelaksanaannya, sedangkan jenis-jenis
keterampilan proses dalam pendekatan keterampilan proses sains (KPS) dapat
dikembangkan secara terpisah-pisah, bergantung metode yang digunakan.
Umpamanya dalam metode demonstrasi dapat dikembangkan keterampilan proses
tertentu (observasi, interpretasi, komunikasi, dan aplikasi konsep).
Berdasarkan definisi dari Pendekatan Proses dan Pendekatan Keterampilan
Proses, maka perbedaan keduanya dapat ditulis dalam matrik sebagai berikut:
Tabel 1. Perbedaan Pendekatan Proses Dengan Pendekatan Keterampilan Proses
No
1
Kriteria
Pembeda
Definisi
Pendekatan Proses
Pendekatan
pembelajaran
yang
memberikan
kesempatan kepada peserta
didik untuk menghayati
proses
penemuan
atau
penyusunan suatu konsep
sebagai suatu keterampilan
proses.
Pendekatan Keterampilan
Proses
Depdikbud : Wawasan atau
anutan
pengembangan
keterampilan - keterampilan
intelektual, sosial dan fisik
yang
bersumber
dari
kemampuan-kemampuan
mendasar yang prinsipnya
telah ada dalam diri peserta
didik
Semiawan,
dkk
:
Keterampilan fisik dan mental
terkait dengan kemampuankemampuan yang mendasar
yang dimiliki, dikuasai dan
diaplikasikan dalam suatu
kegiatan ilmiah, sehingga
para
ilmuan
berhasil
menemukan sesuatu yang
baru.
2
Orientasi
utama
Proses bukan hasil.
Menekankan pada bagaimana
peserta
didik
belajar,
bagaimana
mengelola
perolehannya,
sehingga
dipahami dan dapat dipakai
sebagai
bekal
untuk
memenuhi kebutuhan dalam
kehidupannya di masyarakat.
Keunggulan
Melatih daya pikir atau
mengembangkan kemampuan
berpikir
dan
melatih
psikomotor peserta didik.
Proses
yang
mencakup
kebenaran
cara
kerja,
ketelitian,
keakuratan,
keuletan dalam bekerja dan
sebagainya.
Evaluasi
Melibatkan keterampilan keterampilan kognitif atau
intelektual, manual dan sosial.
Proses
mencakup
pengembangan sikap dan nilai
dalam diri peserta didik
F. Jenis-jenis Keterampilan Proses Sains (KPS)
Ilmuwan-ilmuwan
yang
menemukan
sesuatu
yang
baru,
menurut
pengamatan, tidak menguasai semua konsep dan fakta dalam suatu bidang ilmu,
namun mereka mempunyai kemampuan dasar untuk mengembangkan konsep dan
fakta yang terbatas itu, sehingga mereka bias menciptakan dan menemukan
sesuatu yang baru.
Dalam Conny (1987) menyatakan kemampuan-kemampuan dasar yang
dimaksud
tersebut
adalah
mengobservasi,
menghitung,
mengukur,
mengklasifikasi, mencari hubungan ruang dan waktu, membuat hipotesis,
merencanakan penelitian atau eksperimen, mengendalikan verbal, menafsirkan
data,
membuat
kesimpulan
sementara,
meramalkan,
menerapkan,
dan
mengkomunikasikan.
Dalam Nuryani (1995) menyatakan bahwa keterampilan proses terdiri dari
sejumlah keterampilan yang satu sama lain sebenarnya tak dapat dipisahkan,
10
namun ada penekanan khusus dalam masing-masing keterampilan tersebut.
keterampilan tersebut yaitu:
1. Melakukan pengamatan (observasi)
Menggunakan indera penglihatan, pembau, pendengar , pengecap, dan
peraba pada waktu mengamati ciri-ciri obyek merupakan kegiatan yang
sangat dituntut dalam belajar IPA. Menggunakan fakta yang relevan dan
memadai dari hasil pengamatan juga termasuk keterampilan proses
mengamati.
2. Menafsirkan pengamatan (interpretasi)
Mencatat setiap hasil pengamatan tentang fermentasi secara terpisah
antara hasil utama dan hasil sampingan termasuk menafsirkan atau
interpretasi. Menghubung-hubungkan hasil pengamatan tentang bentuk
alat-alat gerak dengan habitatnya menunjukkan bahwa peserta didik
melakukan interpretasi, begitu pula jika peserta didik menemukan pola atau
keteraturan dari satu seri pengamatan tentang jenis-jenis makanan berbagai
burung, misalnya semuanya bergizi tinggi, dan menyimpulkan bahwa
makanan bergizi diperlukan oleh burung.
3. Mengelompokkan (klasifikasi)
Penggolongan makhluk hidup dilakukan setelah peserta didik
mengenali ciri-cirinya. Dengan demikian dalam proses mengelompokkan
tercakup beberapa kegiatan seperti mencari perbedaan, mengontraskan ciriciri, mencari kesamaan, membandingkan, dan mencari dasar penggolongan.
4. Meramalkan (prediksi)
Keterampilan meramalkan atau prediksi mencakup keterampilan
mengajukan perkiraan tentang sesuatu yang belum terjadi berdasarkan suatu
kecenderungan atau pola vang sudah ada. Memperkirakan bahwa besok
matahari akan terbit pada jam tertentu di sebelah timur merupakan contoh
prediksi.
5. Berkomunikasi
Membaca grafik, tabel, atau diagram dari hasil percobaan tentang
faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan atau pernafasan termasuk
berkomunikasi dalam pembelajaran IPA. Menggambarkan data empiris
dengan grafik, tabel atau diagram juga termasuk [Link] itu
termasuk ke dalam berkomunikasi juga adalah menjelaskan hasil percobaan,
misalnya memerikan tahap-tahap perkembangan daun, termasuk menyusun
dan menyampaikan laporan secara sistematis dan jelas.
11
6. Berhipotesis
Hipotesis menyatakan hubungan antara dua variable, atau mengajuka
perkiraan penyebab sesuatu terjadi. Dengan berhipotesisi diungkapkan cara
melakukan pemecahan masalah, karena dalam rumusan hipotesis biasanya
terkandung cara untuk [Link] ingin diketahui faktor-faktor yang
mempengaruhi kecepatan tumbuh, dapat dibuat hipotesis. "Jika diberikan
pupuk NPK, maka tumbuhan akan lebih cepat tumbuh". Dalam hipotesis
tersebut terdapat dua variable (faktor pupuk dan cepat tumbuh), ada perkiraan
penyebabnya (meningkatkan), serta mengandung cara untuk mengujinya
(diberi pupuk NPK).
7. Merencanakan percobaan atau penyelidikan
Beberapa kegiatan menggunakan pikiran
termasuk
ke
dalam
keterampilan proses merencanakan penyelidikan. Apabila dalam lembar
kegiatan peserta didik tidak dituliskan alat dan bahan secara khusus, tetapi
tersirat dalam masalah yang dikemukakan, berarti peserta didik diminta
merencanakan dengan cara menenetukan alat dan bahan untuk penyelidikan
tersebut.
Menentukan variabel atau peubah yang terlibat dalam suatu percobaan
tentang pengaruh pupuk terhadap laju pertumbuhan tanaman juga termasuk
kegiatan merancang penyelidikan. Selanjutnya menentukan variable kontrol
dan variable bebas, menentukan apa yang diamati, diukur atau ditulis, serta
menentukan cara dan langkah kerja juga termasuk merencanakan
penyelidikan.
Sebagaimana dalam penyusunan rencana kegiatan penelitian perlu
ditentukan cara mengolah data untuk dapat disimpulkan, maka dalam
merencanakan penyelidikan pun terlibat kegiatan menentukan cara mengolah
data sebagai bahan untuk menarik kesimpulan.
8. Menerapkan konsep atau prinsip
Setelah memahami konsep pembakaran zat makanan menghasilkan
kalori, barulah seorang peserta didik dapat menghitung jumlah kalori yang
dihasilkan
sejumlah
gram
bahan
makanan
yang
mengandung
zat
[Link] seseorang peserta didik mampu menjelaskan peristiwa baru
(misal banjir) dengan menggunakan konsep yang telah dimiliki (erosi) dan
pengangkutan oleh air, berarti ia menerapkan prinsip yang telah dipelajarinya.
12
Begitu pula apabila peserta didik menerapkan konsep yang telah dipelajari
dalam situasi baru.
9. Mengajukan pertanyaan
Pertanyaan yang diajukan dapat meminta penjelasan tentang apa,
mengapa, bagaimana ataupun menanyakan latar belakang hipotesis.
Pertanyaan yang meminta penjelasan tentang pembahasan ekosistem
menunjukkan bahwa peserta didik ingin mengetahui dengan jelas tentang hal
itu. Pertanyaan tentang mengapa dan bagaimana keseimbangan ekosistem
dapat dijaga menunjukkan si penanya berpikir. Pertanyaan tentang latar
belakang hipotesis menunjukkan si penanya sudah memiliki gagasan atau
perkiraan untuk menguji atau memeriksanya. Dengan demikian jelaslah
bahwa bertanya tidak sekedar bertanya, tapi melibatkan pikiran.
BAB III
PEMBAHASAN
Penerapan Keterampilan Proses dalam Pembelajaran
Penerapan Keterampilan Proses dalam pembelajaran bukan meruapakan hal
yang mengada-ada, akan tetapi merupakan hal yang wajar dan harus dilaksanakan
oleh setiap guru dalam pembelajarannya. Untuk dapat menerapkan Pembelajaran
Keterampilan Proses dalam pemeblajaran, kita perlu mempertimbangkan dan
memperhatikan karakteristik peserta didik dan karakteristik mata pelajaran/bidang
studi. Selain itu, kita perlu menyadari bahwa dalam suatu kegiatan pembelajaran
dapat terjadi pengembangan lebih dari satu macam keterampilan proses.
Untuk
memprediksi,
keterampilan
mengukur,
dasar
yakni
mengobservasi,
menyimpulkan,
dan
mengklasifikasi,
mengkomunikasikan
pengembangannya tidak berhenti hanya jenjang sekolah dasar. Dalam
pembelajaran sekolah lanjutan tingkat pertama (SLTP) maupun sekolah menengah
atas (SMA) atau sekolah menengah kejuruan (SMK), penerapan pengembangan
keterampilan proses tetap dilakukan. Penerapan keterampilan dasar Pendekatan
Keterampilan Proses pada semua jenjang pendidikan diperlukan untuk
mendukung penerapan keterampilan terintegrasi PKP.
Cony Semiawa, [Link], (1986) dalam bukunya Pendekatan Keterampilan
Proses, beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam merencanakan suatu
13
pengajaran. Menurutnya dalam merencanakan suatu pembelajaran harus
dipikirkan beberapa hal sebagai berikut:
1. Peserta didik sebagai orang yang terlibat dalam situasi belajar mengajar.
2. Waktu yang akan digunakan dalam pengajaran.
3. Urutkan bagaimana materi akan dibahas.
4. Rangkaian perkembangan bagaimana proses berpikir dan jenis keterampilan
yang akan ditumbuhkan pada peserta didik.
5. Alat peraga yang akan digunakan, dan
6. Penilaian pelajran yang diberikan
Dalam perencanaan pengajaran tentu harus tergambar juga teknik
pelaksanaan yang dilakukan guru, juga penilaian keseluruhan juga teknik
pelaksanaan yang dilakukan guru, juga penilaian keseluruhan yang meliputi
penilaian
prestasi
(acchievement)
dan
penilaian
perbuatan
(kemampuan/keterampilan serta sikap dalam melakukan tugas). Secara praktis
dapat dilakukan langkah-langkah untuk menyusun perencanaan pengajaran
sebagai berikut:
1. Melihat kurikulum, dalam hal ini standar kompetensi dan kompetensi dasar,
pokok bahasan dan indikator pencapaiannya, kelas, semester, dan waktu
pengajaran.
2. Menjabarkan kompetensi dasar dan standar konpetensi ke dalam indikatorindikator keberhasilan/capaian.
3. Mengusahakan agar setiap indikator pencapaian tersebut dapat diukur dengan
cara membuat rencana penilaian berupa bentuk soal atau bentuk lainnya.
4. Menentukan pendekatan dengan metode yang akan dipilih.
5. Mencari sebanyak mungkin sumber untuk memperkaya pemberian
pengalaman belajar serta tentukan alat dan bahan pelajaran yang akan
digunakan untuk [Link] gambaran teknik pelaksanaan bisa dalam
bentuk Lembar Kerja Peserta didik (LKPD) yang mudah dipahami dan
dipelajari.
Pengembangan keterampilan proses peserta didik dapat dilatihkan melalui
suatu kegiatan pembelajaran yang menggunakan pendekatan keterampilan proses.
Pendekatan keterampilan proses adalah proses pembelajaran yang dirancang
sedemikian rupa sehingga peserta didik dapat menemukan fakta-fakta,
14
membangun konsep-konsep dan teori-teori dengan keterampilan intelektual dan
sikap ilmiah peserta didik sendiri. Peserta didik diberi kesempatan untuk terlibat
langsung dalam kegiatankegiatan ilmiah seperti yang dikerjakan para ilmuwan,
tetapi pendekatan keterampilan proses tidak bermaksud menjadikan setiap peserta
didik menjadi ilmuwan. Pembelajaran dengan pendekatan keterampilan proses
dilaksanakan dengan maksud karena IPA merupakan alat yang potensial untuk
membantu mengembangkan kepribadian peserta didik. Kepribadian yang
berkembang merupakan prasyarat untuk melangkah ke profesi apapun yang
diminati peserta didik.
Berikut tabel yang menjelaskan indikator keterampilan proses.
Jenis keterampilan proses
yang dilatihkan
Merumuskan masalah
Membuat hipotesis
Mengidentifikasi variable
Menginterpretasikan data
Menarik kesimpulan
Mengkomunikasikan
Keterampilan yang diterapkan
1. Menganalisis beberapa masalah tentang
suatu topik
2. Mengajukan
pertanyaan
dari
permasalahan tersebut
3. Merumuskan pertanyaan dalam kalimat
Tanya yang mengandung beberapa
variabel
1. Mengidentifikasi
masalah
atau
pertanyaan yang diajukan
2. Memastikan hipotesis dapat diuji
3. Merumuskan sebagai pernyataan Jika
maka
1. Mengidentifikasi variabel control
2. Mengidentifikasi variabel manipulasi
3. Mengidentifikasi variabel respon
1. Membuat dan menggunakan tabel, grafik,
atau diagram untuk mengorganisasikan.
1. Mencari kecenderungan-kecenderungan
atau pola-pola dalam data
2. Membuat satu inferensi atau lebih dari
data, kemudian membandingkannya
dengan pengetahuan yang dimliki
3. Menarik kesimpulan/pernyataan terkait
hasil percobaan dengan mengacu pada
hipotesis yang telah dibuat
1. Mendeskripsikan
hasil
pengamatan
secara jujur dan lengkap
2. Menyampaikan hasil pengamatan atau
percobaan dalam bentuk tulisan berupa
poster tentang upaya pencegahan
15
Jenis keterampilan proses
yang dilatihkan
Keterampilan yang diterapkan
pemanasan global ataupun secara lisan.
Berdasarkan indikator keterampilan proses pada tabel di atas, akan
mempermudah menyusun rubrik ketercapaian ketuntasan peserta didik. Dalam
permendikbud No. 103 tahun 2014, kriteria ketuntasan minimal untuk
keterampilan proses sains peserta didik dalam kurikulum 2013 adalah 2,67
dengan kategori (B-). Dan secara klasikal akan diadakan remedial apabila terdapat
lebih dari 75% peserta didik yang belum mencapai ketuntasan minimal yang telah
ditetapkan.
Berdasarkan pernyataan di atas, maka untuk mengukur keterampilan proses
IPA yang dimiliki peserta didik dapat dilakukan dengan bentuk tes tertulis, lisan
dan observasi. Keterampilan proses IPA bukanlah keterampilan tangan dengan
menggunakan
alat-alat
melainkan
keterampilan
berpikir
proses
dengan
menggunakan proses-proses IPA. Oleh karena itu pokok ujinyapun dapat
berbentuk tes tertulis walaupun seringkali diperlukan alat untuk melengkapi pokok
uji tersebut (Darliana, 1990 dalam Duherti, 2000).
16
BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Pendekatan keterampilan proses menekankan pada bagaimana peserta didik
belajar, bagaimana mengelola perolehannya, sehingga dipahami dan dapat dipakai
sebagai bekal untuk memenuhi kebutuhan dalam kehidupannya di masyarakat.
Pendekatan
Keterampilan
Proses
Sains
(KPS)
merupakan
pendekatan
pembelajaran yang berorientasi kepada proses IPA. Jenis keterampilan proses
sains, yaitu: melakukan pengamatan (observasi), menafsirkan pengamatan
(interpretasi),
mengelompokkan
(klasifikasi),
meramalkan
(prediksi),
berkomunikasi, berhipotesis, merencanakan percobaan atau penyelidikan,
menerapkan konsep atau prinsip, dan mengajukan pertanyaan. Hal yang
diperhatikan dalam menyusun butir soal evaluasi keterampilan proses sains, yaitu:
karakteristik butir soal keterampilan proses sains, penyusunan butir soal
keterampilan proses sains, pemberian skor butir soal keterampilan proses sains.
B. Saran
Setelah
mengetahui
pendekatan
keterampilan
proses,
diharapkan
mahapeserta didik calon pendidik dalam menerapkannya dalam pembelajaran di
kelas. Seorang pendidik, khususnya bidang IPA dapat menerapkan tahapan-tahapan
dari keterampilan proses [Link] ini dilakukan agar peserta didik mendapatkan
makna pembelajaran yang lebih, tidak hanya sekedar hasil, namun juga proses
pembelajaran.
17
DAFTAR PUSTAKA
Ahmad Samsudin. Keterampilan Proses Sains. [Link]
FPMIPA/JUR._PEND._FISIKA/AHMAD_SAMSUDIN/BPF/KETERAM
PILAN_PROSES_SAINS_%5BCompatibility_Mode%[Link]. Pendidikan
Fisika UPI. Bandung. (Diakses 8 februari 2016)
Emilliannur. 2010. Process Skill. [Link]
process-skills/ (Diakses 8 februari 2016)
M. Yanto. 2011. Process Skill. [Link]
[Link] (Diakses 8 februari 2016)
Nuryani Rustaman. 1995. Penyusunan Butir Soal KPS. Bandung: FMIPA UPI
Rina Eka. 2015. Pendekatan Dalam Pembelajaran. [Link]
7310855/ (Diakses 8 februari 2016)
Sarwanto. 2009. Pendekatan Keterampilan Proses Sains. [Link]
[Link]/files/2009/04/[Link]. Semarang: UNS
Suryosubroto.2002. Proses Belajar Mengajar Di Sekolah. Jakarta: Penerbit
Rineka Cipta
18