Filum Aplicomplexa dan Filum Microspora
MAKALAH
Disusun untuk memenuhi tugas matakuliah
Protista
yang dibimbing oleh ibu Sofia Ery Rahayu
Disusun oleh :
1.
Achamad Rodiansyah
(150342604537)
2.
Rina Fiji Lestari
(150342602674)
3.
Shufi Ridho L.A.Y.
(150342605441)
UNIVERSITAS NEGERI MALANG
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN BIOLOGI
PROGRAM STUDI S1 BIOLOGI
Januari 2016
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Dalam dunia ini banyak sekali organisme hidup yang ada, baik yang
berukuran mikroskopis maupun berukuran makroskopis. Dalam ilmu biologi
keanekaragaman tersebut akan dibahas secara satu persatu dalam sebuah
klasifiksinya. Makhluk hidup mikroskopis yang berukuran renik identik dapat hidup
dengan satu sel saja atau biasa disebut uniseluler . Makhluk hidup uniseluler ini
meliputi protista,bakteri dan arkabakteria. Namun pada makalah ini kami akan
membahas mengenai protista.
Protista merupakan makhluk uniseluler
yang mempunyai habitat yang
beragam. Protista memiliki tiga kelas besar , kelas besar tersebut meliputi protista
mirip hewan atau protozoa , protista mirip tumbuhan atau algae dan protista mirip
jamur. Dalam sistem klasifikasinya protozoa dapat dibagi berdasarkan alat geraknya.
Alat gerak protista meliputi bulu cambuk ( flagella) , kaki semu ( pseudopodia ),
rambut getar (ciliate ) namun ada juga yang tidak memiliki alat gerak sama sekali
yaitu sporozoa .
Banyaknya keragaman protista menyulitkan ilmuwan dalam mempelajarinya,
maka dari itu diperlukan adanya pembagian berdasarkan kesamaan cirinya. Pada
makalah ini kami akan membahas mengenai protista dari filum Apicomplexa dan
filum Microspora . dalam mempelajari protista perlu adanya pemahaman mengenai
struktur morfologi, fisiologi,reproduksi dan daur hidupnya.
B. Rumusan masalah
Rumusan masalah pada makalah ini adalah sebagai berikut,
1. Bagaimana ciri protista filum Apicomplexa dan filum Microspora
2. Bagaimana struktur morfologi dan struktur anatomi filum Apicomplexa dan filum
Microspora
3. Bagaimana reproduksi protista filum Apicomplexa dan filum Microspora
C. Tujuan
Tujuan pada makalah ini adalah sebagai berikut.
1. Mengetahui ciri protista filum Apicomplexa dan filum Microspora
2. Mendeskripsikan struktur morfologi dan struktur anatomi filum Apicomplexa dan
filum Microspora
3. Mengetahui reproduksi protista filum Apicomplexa dan filum Microspora
D. Manfaat
Manfaat pada makalah ini adalah sebagai berikut.
1. Dapat mengetahui ciri protista filum Apicomplexa dan filum Microspora
2. Dapat mendeskripsikan struktur morfologi dan struktur anatomi filum
Apicomplexa dan filum Microspora
3. Dapat mengetahui reproduksi protista filum Apicomplexa dan filum Microspora
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
Filum Apicomplexa(sporoza)
Sporozoa merupakan golongan protista yang dapat membentuk spora dalam
menginfeksi inangnya. Sporozoa tidak memiliki alat gerak khusus ,sehingga gerakannya
dilakukan dengan mengubah kedudukan tubuhnya. Berdasarkan (Pratiwi, D.A : 2007) yang
menyatakan bahwa: Sporozoa hidup secara parasit pada hewan dan mengambil makanan
dengan menyerap dari tubuh inangnya. Dikatakan parasit karena sporozoa ini merugikan bagi
inangnya. Struktur tubuh protista filum apicomplexa adalah sebagai berikut.
1. Umumnya tubuhnya berbentuk bulat dan panjang
2. Tubuh terbentuk dari kumpulan tropozoit memanjang terdapat alat hisap pada bagian
anterior.
3. Ujung apikalnya digunakan untuk menempel pada sel inangnya.
4. Umumnya tidak mengalami alat gerak kecuali pada fase-fase tertentu
5. Memiliki satu tipe inti sel
6. Tubuh berukuran kecil hanya beberapa micron
7. Mempunyai spora berbentuk lonjong
8. Dari depan ujung interior sama dengan lebar posterior
9. Dinding katub tidak jelas
Struktur Morfologi
Bagian-Bagian Tubuh dan Fungsinya
1. Nucleus berfungsi untuk mewadahi kromosom, yang terbuat dari kromatin (DNA,
alias materi genetik, dan protein).
2. Nucleolus (anak inti) merupakan tempat subunit ribosom dibuat
3. Badan golgi merupakan modifikasi protein, karbohiidrat pada protein, dan fosfolipid
yang berfungsi untuk mensintesis banyak polisakarida, pemilahan produk-produk
golgi yang kemudian dilepaskan dalam vesikel.
4. Mitokondria berfungsi dalam respirasi seluler, proses metabolik yang menghasilkan
ATP dengan cara mengambil energi dari gula, lemak, dan bahan bakar lain dengan
bantuan oksigen.
5. Polikel berfungsi sebagai pelindung bagian luar (seperti kulit)
Struktur Anatomi
Tubuhnya berbentuk bulat panjang, ukuran tubuhnya hanya beberapa micron, tetapi
didalamusus manusia atau hewan yang dapat mencapai 10 mm. Tubuh dari kumpulan
tropozoid berbentuk memanjang dan dibagian anterior kadang terdapat kait pengikat atau
filament sederhana untuk melekatkan diri pada inang.
Sistem Pencernaan
Sporozoa mendapatkan makanan dengan cara menyerap zat makanan dari tubuh hopesnya.
Sistem Respirasi dan Ekskresi
Respirasi dan ekskresi sporozoa dilakukan dengan cara difusi.
Sistem Reproduksi
1. Reproduksi Aseksual
Reproduksi secara aseksual dengan skizogoni yaitu pembelahan diri yang berlangsung
didalam tubuh inang tetap, dan sporogoni yaitu pembentukan spora yang berlangsung pada
inang perantara.
Sporozoit yang terdapat dalam kelenjar ludah nyamuk masuk ke dalam darah
manusia pada saat nyamuk menghisap darah, yang selanjutnya masuk dalam system
retikuloendotelial.
Setelah beberapa hari berada dalam system retikuloendotelial, barulah sporozoit ini
menyerang eritrosit dan berubah menjadi trofozoit yang mempunyai bentuk seperti cincin.
Selanjutnya, trofozoit berubah menjadi schizont, yang kemudian membelah diri berulangulang
menjadi
6-36
merozoit
yang
akan
tumbuh
menjadi
sporozoit-sporozoit
baru,pembentukan merozoit-merozoit ini disebut sporulasi.
Sporozoit yang terbentuk akan menyerang eritrosit baru sehingga terulanglah
pembiakan vegetatif ini. Di antara sporozoit yang terdapat dalam eritrosit ada yang
membentuk gametosit. Gametosit jantan disebut mikrogamet, sedang gametosit betina
disebut makrogamet.
2. Reproduksi Seksual
Reproduksi secara seksual melalui persatuan gamet jantan (mikrogamet) dan gamet
betina (makrogamet) yang berlangsung ditubuh nyamuk. Salah satu contoh sporozoa adalah
plasmodium.
Gametosit yang terisap ketika nyamuk mengisap darah penderita malaria, akan
berubah menjadi mikrogamet dan makrogamet. Perkawinan antara mikrogamet dan
makrogamet menghasilkan zigot. Selanjutnya zigot akan berubah menjadi ookinet di dalam
dinding usus nyamuk. Inti ookinet membelah berulang-ulang, kemudian masing-masing inti
baru membungkus diri dengan sedikit protoplasma dan berubah menjadi sporozoit-sporozoit
baru. Selanjutnya sporozoit menyebar di dalam alat pencernaan nyamuk, sebagian ada yang
sampai di kelenjar ludah dan siap untuk dikeluarkan.
Filum Microspora (mikrosporodia)
Mikrosporidia merupakan intraseluler yang dapat ditemui pada banyak vertebrata dan
invertebrata. Organisme ini, cukup unik sehingga di klasifikasikan dalam filum yang berbeda
dari filum protista, yaitu filum microspora. Parasit ini dikarakteristikan melalui struktur
daripada sporanya, yang memiliki mekanisme pipa pengeluaran yang kompleks, yang
digunakan untuk menginjeksi materi infeksi (sporoplasma) kedalam sel inang. Parasit ini
biasanya menjadi penyebab penyakit dari beberapa spesies hewan, terutama kelinci, rubah,
anjing, dan tupai. Baru-baru ini, beberapa jenis dari filum microspora telah dikenali berada
pada jaringan manusia, dan telah diketahui menjadi penyebab dari penyakit pada manusia.(
Shadduck & Greeley: 1989).
Ciri umum filum mikrospora
1. tubuh berukuran micron sekitar 1-20 mikron
2. memiliki banyak bentuk spora (oval,memanjang)
3. Spora berdinding tebal yang mengandung bahan infeksi
4. sporoplasma berperan dalam proses invasi
5. parasit pada hewan inverbrata dan vertebrata rendah
Klasifikasi Microspora
1. Genus Pleistophora
Organisme menyerupai microsporidia dari genus Pleistophora telah diakui
dalam satu penderita manusia. Pada pasien ini, serat otot atrofi dan degenerasi yang
disusupi oleh spora yang terjadi dalam kelompok minimal 12 organisme, setiap gugus
tertutup oleh membran menyelimuti. Spora yang lonjong, sekitar 2,8 sebesar 3,4 jim.
Tidak semua tahap perkembangan terlihat. Ada bukti yang jelas dari proses sporogoni
di mana beberapa spora dikembangkan dari sporont tunggal dalam membran, sering
disebut sebagai membran pansporoblastic. Dinding spora khas untuk banyak
microsporidia, memiliki elektron-padat lapisan tipis exospore, tebal elektron-berkilau
endospora, dan plasmalemma internal yang tipis. Sekitar 11 penampang tubulus kutub
diakui di spora.
2. Genus Encephalitozoon
Merupakan satu dari empat genus parasit yang terdapat pada manusi,
berkembang biak dengan pembelahan biner.
3. Genus Nesoma
Ditemukan pada jaringan manusia, hanya dalam bentuk sporoblast, dengan
spora yang matang dan spora yang tidak matang.
4. Genus Enterocytozon
Meruapkan parasit yang banyak ditemukan dimanusia, parasit ini cukup kecil
sekitar 2 sampai 4 mikronmeter, mempunyai membran plasma sederhana.
Struktur morfologi
Dalam microspora terdapat organel seperti ribosom dan nukleus, tetapi tidak memilki
mitokondria.( Shadduck & Greeley: 1989). Mikrosporodia adala eukariot yang memilki inti
dengan nuclear envelope dengan dengan berbagai intraccyro-membran plasma. Dibeberapa
jenis, dua nukleasnya saling berdempetan sehingga bergabung biasa disebut diplokaryon.
Sistem Reproduksi
Untuk mempertahankan jenisnya, Protozoa berkembang biak dengan cara aseksual
atau vegetatif dan seksual atau generatif.
1. Reproduksi Aseksual
Reproduksi secara aseksual mikrospora , yaitu dengan cara membelah diri atau
pembagian selnya sama. Pembelahan ini dapat terjadi, baik secara membujur atau
melintang pada sepanjang selnya sehingga menghasilkan anak-anak sel yang dapat
berukuran sama atau tidak sama. dengan pembentukan 1, 2, 4, 8, atau 16 zoospora,
yang akan terlepas dari sel induk karena putusnya sambungan fragmen H dinding sel,
atau karena dinding sel induk mengalami [Link] pada proses pembelahan diri
(pembagiannya) menghasilkan dua anak sel, maka disebut pembelahan biner, namun
apabila terbentuk banyak anak sel dinamakan pembelahan bahu rangkap (multipel
fission).
2. Reproduksi Seksual
Reproduksi secara seksual dengan dengan membentuk aplanospora, bentuknya
bulat dan hanya satu dalam setiap sel. Beberapa kelompok Protozoa bereproduksi
secara seksual, yaitu dengan cara penggabungan atau penyatuan fisik sementara
antara dua individu kemudian terjadi pertukaran nukleus. Dengan demikian, akan
terjadi perpaduan sifat yang dibawa oleh kedua individu tersebut dan menghasilkan
satu individu baru. Cara pembiakan ini disebut dengan konjugasi. Berikut adalah
gambar dari proses konjugasi.
Kesimpulan
1. Sporozoa merupakan golongan protista yang dapat membentuk spora dalam
menginfeksi inangnya.
Sporozoa tidak memiliki alat gerak khusus ,sehingga
gerakannya dilakukan dengan mengubah kedudukan tubuhnya.
2. Struktur tubuh protista filum apicomplexa adalah sebagai berikut.
a. Umumnya tubuhnya berbentuk bulat dan panjang
b. Tubuh terbentuk dari kumpulan tropozoit memanjang terdapat alat hisap
pada bagian anterior
c. Ujung apikalnya digunakan untuk menempel pada sel inangnya.
d. Umumnya tidak mengalami alat gerak kecuali pada fase-fase tertentu
e. Memiliki satu tipe inti sel
f. Tubuh berukuran kecil hanya beberapa micron
g. Mempunyai spora berbentuk lonjong
h. Dari depan ujung interior sama dengan lebar posterior
i. Dinding katub tidak jelas
3. Reproduksi secara aseksual dengan skizogoni yaitu pembelahan diri yang berlangsung
didalam tubuh inang tetap, dan sporogoni yaitu pembentukan spora yang berlangsung
pada inang perantara.
4. Mikrosporidia merupakan intraseluler yang dapat ditemui pada banyak vertebrata dan
invertebrata. Organisme ini, cukup unik sehingga di klasifikasikan dalam filum yang
berbeda dari filum protista, yaitu filum microspora.
5. Ciri umum filum mikrospora
a. tubuh berukuran micron sekitar 1-20 mikron
b. memiliki banyak bentuk spora (oval,memanjang,sferis)
c. Spora berdinding tebal yang mengandung bahan infeksi
d. sporoplasma berperan dalam proses invasi
e. parasit pada hewan inverbrata dan vertebrata rendah
Daftar Pustaka
Murti, Harry, Arief Boediono, boenjamin Setiawan, Ferry Sandra.2007. Regulasi Siklus Sel:
Kunci
Sukses
Somatic
Cell
Nuclear
Transfer.
Bogor:
Laboratori
Of
[Link] Of Veterinary Medicine,Bogor Agricultural Univercity, Bogor
16680,Indonesia.
Pratiwi, D.A. dkk. 2006. Biologi. Jakarta: Penerbit Erlangga.