100% menganggap dokumen ini bermanfaat (2 suara)
1K tayangan39 halaman

Reproduksi dan Morfologi Ascomycota

Makalah ini membahas tentang filum Ascomycota. Ciri-ciri umum Ascomycota adalah memiliki tubuh berupa hifa yang bersekat dan berinti banyak, baik uniseluler maupun multiseluler. Ascomycota dapat hidup sebagai parasit, saprofit, atau membentuk simbiosis. Metabolisme utama Ascomycota adalah metabolisme karbohidrat dan asam nukleat. Ascomycota juga memiliki siklus reproduksi seksual dan aseksual.

Diunggah oleh

SitiMasruroh
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
100% menganggap dokumen ini bermanfaat (2 suara)
1K tayangan39 halaman

Reproduksi dan Morfologi Ascomycota

Makalah ini membahas tentang filum Ascomycota. Ciri-ciri umum Ascomycota adalah memiliki tubuh berupa hifa yang bersekat dan berinti banyak, baik uniseluler maupun multiseluler. Ascomycota dapat hidup sebagai parasit, saprofit, atau membentuk simbiosis. Metabolisme utama Ascomycota adalah metabolisme karbohidrat dan asam nukleat. Ascomycota juga memiliki siklus reproduksi seksual dan aseksual.

Diunggah oleh

SitiMasruroh
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

MAKALAH

Filum Ascomycota
Makalah ini disusun guna untuk memenuhi tugas mata kuliah Mikologi

Disususn Oleh:
Siti Masruroh

130210103048

Program Studi Pendidikan Biologi


Jurusan Pendidikan MIPA
Fakultas Ilmu Pendidikan dan Keguruan
UNIVERSITAS JEMBER
2016

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT, yang telah
memberikan izin dan kekuatan kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan
makalah ini dengan judul Filum Ascomycota tepat pada waktunya.
Tugas ini ditujukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Mikologi. Kami
menyadari bahwa makalah ini masih banyak kekurangan dan kelemahannya, baik
dalam isi maupun sistematikanya. Hal ini disebabkan oleh keterbatasan pengetahuan
dan wawasan kami. Oleh sebab itu, kami sangat mengharapkan kritik dan saran untuk
menyempurnakan makalah ini.
Akhirnya, kami mengharapkan semoga makalah ini dapat memberikan
manfaat, khususnya bagi kami dan umumnya bagi pembaca.

Jember, 13 Januari 2016

Penyusun

DAFTAR ISI
HALAMAN

JUDUL
1

KATA

PENGANTAR
2

DAFTAR ISI
3
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar

Belakang

Masalah

4
1.2 Rumusan

Masalah

4
1.3

Tujuan
4

BAB II PEMBAHASAN
2.1

Morfologi
dan
Anatomi
Ascomycota
......................................................................................................
......................................................................................................
6
......................................................................................................
......................................................................................................
......................................................................................................
......................................................................................................
......................................................................................................
......................................................................................................
5

2.2

Metabolisme

pada

Ascomycota
8

6
2.3

Pertumbuhan

Ascomycota

12
2.4

Reproduksi

pada

Ascomycota

......................................................................................................
......................................................................................................
14
......................................................................................................
......................................................................................................
......................................................................................................
......................................................................................................
......................................................................................................
......................................................................................................
5
2.5

Sistematika

pada

Ascomycota
18

6
2.6

Peranan

Ascomycota

22
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan .......................................................................................
31
3.2

Saran
31

GLOSARIUM........................................................................................

32

PERTANYAAN DAN JAWABAN..........................................................


DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................

34
39

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Jamur (Fungi) termasuk makhluk hidup eukariot yang tidak berklorofil. Ciri khas
lainnya adalah dinding sel jamur tersusun atas kitin. Tubuhnya terdiri dari satu sel
atau berbentuk benang yang disebut hifa. Jamur tempe (Rhizopus) atau jamur oncom
(Neurospora) mempunyai hifa. Hifa jamur tempe dan jamur oncom seperti serabut
kapas. Hifa tumbuh bercabang-cabang membentuk anyaman yang disebut miselium.
Jamur yang terdiri dari satu sel miselium adalah jamur ragi (Saccharomyces).
Jamur tidak dapat berfotosintesis, sehingga jamur dapat mengambil makanan dari
lingkungannya (heterotrof). Jamur hidup secara saprofit maupun parasit. Jamur
saprofit banyak dijumpai diatas tanah, kayu lapuk atau bangkai binatang. Contoh
jamur saprofit adalah jamur kayu, jamur kuping, jamur merang, dan jamur karat.
Jamur yang hidup parasit misalnya jamur panu yamg hidup pada kulit manusia.
Jamur dapat diklasifikasikan berdasarkan hifa dan alat reproduksinya. Jamur
dibedakan menjadi 4 divisi, yaitu Zygomycota, Ascomycota, Basidiomycota dan
Deuteromycota. Saat ini masih terdapat jamur yang belum diketahui cara
reproduksinya seksualnya. Jamur yang demikian dikelompokkan dalam divisi
Deuteromycota yang berarti jamur tak tentu.
1.2 Rumusan Masalah
1. Jelaskan ciri-ciri morfologi dan anatomi Ascomycota?
2. Bagaimana metabolisme pada Ascomycota?
3. Bagaimana pertumbuhan pada Ascomycota?
4. Bagaimana reproduksi pada Ascomycota?
5. Bagaimana sistematika pada Ascomycota?
6. Apa saja peranan Ascomycota dalam fermentasi dan lingkungan?
1.3 Tujuan
1. Untuk menjelaskan ciri-ciri morfologi dan anatomi Ascomycota.
2. Untuk menjelaskan metabolisme pada Ascomycota.
3. Untuk mengetahui pertumbuhan pada Ascomycota.
4. Untuk mengetahui reproduksi pada Ascomycota.
5. Untuk mengetahui sistematika pada Ascomycota.
6. Untuk mengetahui peranan Ascomycota dalam fermentasi dan lingkungan.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Morfologi dan Anatomi Ascomycota
Ascomycota merupakan kelompok jamur yang terbesar, ada yang hidup
saprofit dan ada juga yang parasit. Ciri-ciri umum Ascomycota adalah sebagai
berikut:
1. Tubuh ada yang uniselluler dan ada yang multiselluler.
2. Memiliki hifa yang bersekat-sekat dan berinti banyak.
3. Hidupnya ada yang parasit, saprofit, dan ada yang bersimbiosis dengan
Lichenes.
Hifa adalah suatu struktur fungi berbentuk lubang menyerupai seuntai benang
panjangyang terbentuk dari pertumbuhan spora atau konidia (Gandjar, 2006). Selain
itu, terdapatt jenis jamur yang mempunyai hifa berlubang sehingga protoplasma dan
inti sel dapat mengalir dari satu sel ke sel yang lainnya. Struktur tubuh jamur dari
golongan Ascomycota ada yang multiselluler dan ada yang uni selluler seperti pada
ragi (Wahyuni, 2010). Hifa Ascomycota umumnya tegak tegak pada miselium yang
ada dipermukaan substrat yang disebut hifa fertil, karena berperan untuk reproduksi.
Hifa fertil dapat berupa sporangiofor atau konidiofor atau korpus dengan tujuan agar
penyebaran sel reproduksi yang dibawanya berlangsung lebih mudah. Hifa-hifa yang
sudah terjalin menjadi suatu jaringan miselium yang makin lama makin tebal akan
membentuk suatu koloniyang dapat dilihat secara kasat mata (Gandjar, 2006).
Hifa yang berseptum dan memiliki satu inti disebut hifa monositik,
sedangkan hifa yang tidak berseptum sehingga memiliki banyak inti disebut hifa
senositik. Fungi yang hifanya tidak berseptum baru membuat septum apabila
fungi tersebut akan membentuk suatu struktur yang akan dilepas dari tubuh
utama atau apabila fungi terpaksa membuat struktur tertentu untuk
melindungi dirinya terhadap keadaan yang kurang menguntungkan, misalnya
dengan membentuk klamidospora (Gandjar, 2006).
Dinding sel Ascomycota memberikan bentuk kepada sel dan melindungi isi sel
dari lingkungan. Meskipun kokoh, dinding sel tetap bersifat permiabel untuk nutrien7

nutrien yang dibutuhkan bagi kehidupan fungi. Komponen penting dinding sel
sebagian besar adalah kitin (Gandjar, 2006).
Septum adalah suatu sekat yang membagi hifa menjadi kompartemen. Meskipun
demikian protoplasma sel masih saling berhubungan karena septum tersebut memiliki
lubang-lubang. Septum pada Ascomycota mengalai suatu pembengkakan disekeliling
pori septum membentuk seperti cincin besar. Ukuran pori septa berkisar 50-500nm
yang berfungsi sebagai transfer sitoplasma dan nutrisi antar septa, sehingga
mempercepat pertumbuhan hifa muda. Beberapa jenis Ascomycota mempunyai
Woronin body yang tersusun atas protein, berfungsi menutup pori dan menjaga
sitoplasma apabila terdapat jaringan yang rusak.

Anatomi Ascomycetes
a) Jamur Ascomycota jamur kantung ada yang uniseluler dan
multiseluler.
b) Ada yang bersifat parasit dan ada juga yang bersifat saprofit.
c) Hifa bersekat.
d) Berkembangbiak secara seksual dengan membentuk spora yang
dihasilkan dalam suatu kantung (askus) yang disebut askospora
e) Berkembangbiak secara aseksual dengan membentuk konidiospora,
yaitu spora yang dihasilkan secara berantai pada ujung suatu hifa

f) Didalam askus terdapat 8 buah spora karena 2 inti diploid melakukan


pembelahan meiosis menghasilkan 4 inti haploid. setiap haploid akan
membelah secara mitosis sehingga setiap askus terdiri dari 8
Contohnya yaitu Aspergillus sp. , Penicillium sp. , Saccharomyces cerevisiae
buah spora.
2.2 Metabolisme Pada Ascomycota
Metabolisme adalah seluruh proses kimia di dalam organisme hidup untuk
memperoleh dan menggunakan energi. Ada beberapa macam metabolisme yang
terjadi pada fungi yaitu metabolisme karbon, metabolisme karbohidrat, fermentasi,
metabolisme protein, metabolisme lipid, metabolisme asam nukleat, metabolisme
nitrogen (Gandjar, 2006).
Pada metabolisme Ascomycota, menurut Indrawati, Ascomycota mengalami
metabolisme karbohidrat, yaitu metabolisme fungi yang diawali dengan tahap
transpor. Transpor monosakarida melalui membran dilakukan oleh suatu protein
transpor spesifik, yaitu permease. Metabolisme ini terjadi pada [Link].
Metabolisme asam nukleat terjadi pada Ascomycota, yaitu kemampuan
menggunakan basa purin dan pirimidin bervariasi pada khamir. [Link] tumbuh
baik pada medium mengandung allatonin, asam allantoat. Di samping untuk
menghasilkan energi, pemecahan karbohidrat juga bertujuan untuk menghasilkan
metabolit primer dan metabolit sekunder. Senyawa metabolit ada dua jenis, yakni
metabolit primer dan metabolit sekunder (Djide, 2007).
Metabolit primer adalah hasil metabolisme yang digunakan untuk
kelangsungan hidup organisme misalnya untuk pertumbuhan. Contohnya, asam
amino, asetil Ko-A, karbohidrat, asam nukleat, nukleotida, asam sitrat, dan lain-lain.
Metabolit sekunder adalah hasil metabolisme yang tidak digunakan untuk proses
pertumbuhan organisme tetapi untuk keperluan lain, misalnya untuk pertahanan diri.
Untuk mikroorganisme contohnya, asam indol asetat, giberelin, penisilin, dan
aflatoksin (Rao, 1994). Beberapa ahli mengemukakan bahwa metabolit primer juga
mencakup senyawa-senyawa intermediet yang terbentuk selama katabolisme melalui
Embden-Meyerhof-Parnas, siklus pentose, dan siklus trikarboksilat. Dengan

demikian, asam-asam organik seperti asam sitrat, asam fumarat, asam glukonat, asam
laktat, dan sebagainya juga digolongkan sebagai metabolit primer (Djide, 2007).
Salah satu contoh produksi metabolit primer yaitu produksi asam amino melalui
proses mikrobial antara lain adalah produksi L-asam glutamat, yang dikenal dengan
nama monosodium glutamat (Djide, 2007).
1. Metabolit primer
Metabolit primer adalah senyawa yang berupa produk akhir dalam metabolisme
dengan bobot molekul yang kecil dan digunakan sebagai bahan dasar pembangun
makromolekul atau dikonversikan menjadi koenzim. Selain itu termasuk senyawasenyawa intermediet pada jalur Embden-Meyerhof, Pentosa Phosphate,siklus asam
trikarboksilat (siklus Krebs). Contohnya: Asam-asam organik seperti asam sitrat,
asam fumarat, asam amino, dan lain-lain (Fardiaz, 1992). Senyawa metabolisme
primer merupakan senyawa yang dihasilkan oleh makhluk hidup dan bersifat
essensial bagi proses metabolisme sel tersebut. Senyawa ini dikelompokkan menjadi
4 kelompok makromolekul yaitu karbohidrat, protein, lipid,dan asam nukleat
(Fardiaz, 1992).
a. Karbohidrat
Karbohidrat merupakan kelompok makromolekul yang tersusun atas atom
C,H,dan O. kelompok ini sering disebut juga gula-gula hidrokarbon. Berdasarkan
jumlah monomer penusunnya, karbohidrat terbagi atas:

b.

Monosakarida yang tersusun atas 1 monomer


Disakarida yang tersusun atas 2 monomer,
Oligosakarida yang tersusun atas 3-10, dan
Polisakarida yang tersusun atas lebih dari 10 monomer.
Protein

Protein merupakan suatu senyawa makromolekul yang tersusun atas atom C, H,


O, N, dan S. Berdasarkan fungsinya protein dikelompokkan menjadi dua kelompok
besar, yaitu: Protein fungsional yaitu kelompok Enzim, dan Protein Struktural yaitu
protein yang menyusun bagian struktural dari dalam sel seperti protein integral dan
protein perifer yang menyusun bagian membran sel.
c. Lipid

10

Lemak merupakan golongan senyawa metabolit primer yang bersifat hidrofobik.


Senyawa ini dapat dibagi menjadi beberapa kelompok yaitu:

d.

Lemak yang tersusun atas asam lemak dan gliserol,


Sterol yang merupakan penyusun membran sel makhluk hidup, dan
Kolesterol
Nukleat

Asam nukleat merupakan komponen yang terdiri atas atom C, H, O, dan P.


Biasanya asam nukleat terdiri atas 3 bagian yaitu gula ribosa, basa nitrogen, dan
fosfat. Berdasarkan fungsinya, asam nukleat dibagi menjadi 4 kelompok yaitu:

Sebagai komponen materi genetik, contohnya: DNA, RNA.


Sebagai energi kimia, contohnya: ATP, GTP, UTP
Sebagai kofaktor, contohnya: NAD, FAD, Koenzim A Sebagai komponen

regulator, contohnya : cAMP, cGMP


2. Metabolisme sekunder
Metabolit sekunder adalah senyawa metabolit yang tidak esensial bagi
pertumbuhan organisme dan ditemukan dalam bentuk yang unik atau berbeda-beda
antara spesies yang satu dan lainnya. Setiap organisme biasanya menghasilkan
senyawa metabolit sekunder yang berbeda-beda, bahkan mungkin satu jenis senyawa
metabolit sekunder hanya ditemukan pada satu spesies dalam suatu kingdom.
Senyawa ini juga tidak selalu dihasilkan, tetapi hanya pada saat dibutuhkan saja atau
pada fase-fase tertentu. Fungsi metabolit sekunder adalah untuk mempertahankan diri
dari kondisi lingkungan yang kurang menguntungkan, misalnya untuk mengatasi
hama dan penyakit, menarik polinator, dan sebagai molekul sinyal (Fardiaz, 1992).
Metabolit sekunder, hasil matebolisme yang tidak digunakan untuk proses
pertumbuhan, tetapi untuk pertahanan diri, contoh: protein, asam lemak, karbohidrat,
senyawa antimikroba, dll. Pada jalur biosintesis metabolit sekunder dapat terdiri dari
berbagai jalur, mulai dari yang sederhana sampai dengan jalur yang rumit. Umumnya
berasal atau berawal dari metabolit primer (asetil CoA, asam mevalonat, asam
sikimat, dll). Metabolit sekunder ini unik untuk setiap mikroorganisme, bergantung
pada lingkungan habitatnya. Ada beberapa contoh metabolit sekunder pada

11

mikroorganisme yaitu: antibiotic, pigmen, vitamin, dan lain-lain (Fardiaz, 1992).


Beberapa contoh metabolit sekunder mikroba dan manfaatnya (Fardiaz, 1992):

Antibiotik: penisilin (Penicillium chrysogeum), sefalosporin (Cephalosporium

acremonium).
Imunosupresan: silosporin (Trichoderma polysoprum).
Bidang pertanian: growth promoter Zearalonone (Gibberella zeae).
Enzim: amylase (Aspegillus niger), lipase (Pseudomonas aeruginosa).
Pigmen: ankaflavin (Monascus purpureus).

Metabolit sekunder mikroba yang merupakan senyawa toksik (Fardiaz, 1992):

Toksik dari fungi mikotoksin, contoh: aflatoksin (Aspergillus flavus), sitrinin

(Penicillium citrinum).
Toksik dari bakteri bakterotoksin, contoh: endotoksin.
Dapat dimanfaatkan untuk merancang obat berdasarkan struktur molekul

toksin.
Penicillium di atas selain menghasilkan patulin, senyawa yang paling awal
dirancang untuk menjadi antibiotik, tetapi ternyata toksik untuk mamalia
(Fardiaz, 1992).
Metabolisme pada jamur berhubungan dengan nutrisi yang dimakan

oleh jamur tersebut. Jamur akan mengeluarkan enzim yang dapat memecah
makanan atau nutrisi yang tersedia menjadi zat yang lebih sederhana sehingga
jamur tesebut dapat menggunakan nutrisi yang ada. Dengan begitu maka hasil
dari metabolisme pada setiap jamur akan berbeda-beda. Misalnya jamur yang
menggunakan nutrisi berupa karbohidrat maka jamur tersebut akan
mengeluarkan enzim amylase yang merubahnya menjadi glukosa yang mampu
digunakan oleh jamur tersebut.

2.3 Pertumbuhan Ascomycota


Dari askogonium tumbuh hifa dikariotik. Pada ujung hifa terjadi singami dan
terbentuk askus. Di dalam askus terjadi fertilisasi antara 2 inti sehingga terbentuk sel
diploid. Sel diploid mengadakan pembelahan meiosis sehingga terbentuk 4 sel anak

12

haploid. Masing-masing sel anak haploid mengadakan pembelahan mitosis dan


terbentuk 8 sel askospora yang haploid.
Jamur

benang

juga

memiliki

kurva

pertumbuhan

seperti

semua

mikroorganisme. Kurva tersebut diperoleh dari menghitung massa sel pada jamur
benang dalam waktu tertentu. Kurva pertumbuhannya memiliki beberapa fase, antara
lain (Gandjar dkk., 2006):
a. Fase Lag, yaitu fase penyesuaian sel-sel dengan lingkungan, pembentukan
enzim-enzim untuk mengurangi substrat.
b. Fase akselerasi, yaitu fase mulainya sel-sel membelah dan menjadi aktif.
c. Fase eksponensial, merupakan fase perbanyakan jumlah sel yang sangat
banyak, aktivitas sel sangat meningkat, dan fase ini merupakan fase yang
penting dalam kehidupan fungi. Pada awal dari fase ini, enzim-enzim dapat
dipanen pada fase akhir ini.
d. Fase deselerasi, yaitu waktu sel-sel mulai kurang aktif membelah. Pada fase
ini dapat dipanen biomassa sel atau senyawa-senyawa yang tidak lagi
diperlukan oleh sel-sel.
e. Fase stasioner, yaitu fase jumlah sel yang bertambah dan jumlah sel yang mati
relatif seimbang. Kurva pada fase ini merupakan garis lurus yang horizontal.
Senyawa metabolit sekunder padat dipanen pada fase ini.
f. Fase kematian dipercepat, jumlah sel-sel yang mati atau tidak aktif sama
sekali lebih banyak daripada sel-sel yang masih hidup.

13

Gambar . Fase Hidup Jamur benang


Sumber: (Gandjar, 2006)
Keterangan: (1) Fase lag, (2) Fase akselerasi, (3) Fase eksponensial, (4)
Fase deselerasi, (5) Fase stasioner, (6) Fase kematian.
Aspergillus dapat tumbuh optimum pada suhu 35- 37C, dengan suhu
minimum 6-8 C, dan suhu maksimum 45-47C. Selain itu, dalam proses
pertumbuhannya fungi ini memerlukan oksigen yang cukup (Madigan dan Martinko,
2006). Aspergillus dalam pertumbuhannya berhubungan langsung dengan zat
makanan yang terdapat dalam substrat, molekul sederhana yang terdapat disekeliling
hifa dapat langsung diserap sedangkan molekul yang lebih kompleks harus dipecah
dahulu sebelum diserap ke dalam sel, dengan menghasilkan beberapa enzim
ekstraseluler seperti protease, amilase, mananase, dan -glaktosidase (Madigan dan
Martinko, 2006). Bahan organik dari substrat digunakan oleh Aspergillus untuk
aktivitas transport molekul, pemeliharaan struktur sel, dan mobilitas sel (Madigan dan
Martinko, 2006; Samson dkk., 2001).
Sel-sel hifa yang tua senantiasa mengalirkan nutrien ke sel-sel apikal
agar hifa dapat tumbuh terus. Sel-sel apikal ukurannya lebih besar
dibandingkan sel-sel hifa lainnya. Pembentukan cabang pada hifa dapat
terbentuk sepanjang hifa. Cabang hifa tersebut akan menjauhi hifa induk atau
hifa pertama agar nutrien dilingkungan dapat terjangkau sejauh mungkin.
Pembentukan miselium terjadi karena anastomosis pada titik temu atau
titik-titik sentuh cabang-cabang hifa. Anastomosis hifa mempunyai dua peran
yaitu pertama memperluas sistem hifa menjadi suatu jala yang disebut miselium
untuk memungkinkan penyerapan nutrien dari substrat seefisien mungkin dan
juga untuk memfasilitasi pembentukan tubuh buah yang besar. Kedua untuk
mempersatukan hifa yang terpisah (Tarigan, 1988).
2.4 Reproduksi pada Ascomycota

14

Ascomycota melakukan reproduksi secara aseksual dan seksual. Reproduksi


aseksual terjadi dengan membentuk konidium, fragmentasi, dan pertunasan.
Konidium ini dapat berupa kumpulan spora tunggal atau berantai. Konidium
merupakan hifa khusus yang terdapat pada bagian ujung hifa penyokong yang disebut
konidiofor. Reproduksi aseksual pada ascomycota uniseluler dilakukan dengan
membentuk kuncup atau tunas. Pembentukan tunas (blastosphora) diawali dengan
dinding sel menonjol keluar membentuk tunas kecil. Nukleus didalam sel induk
membelah dan salah satu nukleus bergerak ke dalam sel tunas. Sel tunas kemudian
memisahkan diri dari sel induk untuk memebentuk individu baru. Kadang tunas
hanya melekat pada induk memebentuk rantai hifa semu (pseudohifa).
Reproduksi Ascomicotina uniseluler

Gambar a. Reproduksi seksual (pembentukan askospora) dan b. Reproduksi


aseksual dengan mementuk tunas.
Ciri khas Ascomycota berkembang biak secara seksual dengan struktur
pembentuk spora yang disebut Askus. Contoh ascomycota adalah Penicilium,
Aspergillus, dan Saccharomycetes.
Ascomycotina disebut juga sebagai the sac fungi. Merupakan fungi yang
reproduksi seksualnya dengan membuat askospora di dalam askus (ascus = sac atau
kantung/pundi-pundi). Askus adalah semacam sporangium yang menghasilkan
askospora. Siklus hidup Ascomycotina dimulai dari askospora yang tumbuh menjadi

15

benang (hifa) yang bercabang-cabang. Kemudian, salah satu dari beberapa sel pada
ujung hifa berdiferensiasi menjadi askogonium, yang ukurannya lebih lebar dari hifa
biasa. Sedangkan ujung hifa yang lainnya membentuk Anteridium. Anteridium dan
Askogonium tersebut letaknya berdekatan dan memiliki sejumlah inti yang haploid.
Pada askogonium tumbuh trikogin yang menghubungkan askogonium dengan
anteredium. Melaui trikogin ini inti dari anteredium pindah ke askogonium dan
kemudian berpasangan dengan inti pada askogonium. Selanjutnya pada askogonium
tumbuh sejumlah hifa yang disebut hifa askogonium. Inti-inti membelah secara
mitosis dan tetap berpasangan. Hifa askogonium tumbuh membentuk septa
bercabang. Bagian askogonium berinti banyak, sedangkan pada bagian ujungnya
berinti 2. Bagian ujung inilah yang akan tumbuh menjadi bakal askus. Hifa
askogonium ini kemudian berkembang disertai pertumbuhan miselium vegetatif yang
kompak, membentuk tubuh buah. Dua inti pada bakal askus membentuk inti diploid
yang kemudian membelah secara meiosis untuk menghasilkan 8 spora askus
(askospora). Apabila askospora tersebut jatuh pada lingkungan yang sesuai maka ia
akan tumbuh membentuk hifa atau miselium baru. Reproduksi aseksual pada
Ascomycotina adalah dengan cara membentuk tunas dan spora aseksual.
Pembentukan tunas terjadi pada jamur uniseluler dan spora aseksual pada jamur
terjadi pada jamur multiseluler. Spora aseksual tersebut terbentuk pada ujung hifa
khusus yang disebut konidiofor dan sporanya disebut konidia. Konidia merupakan
spora yang dihasilkan secara eksternal, yaitu di luar kotak spora atau sporangium.
Reproduksi aseksual pada ascomycota multiseluler dengan fragmentasi
miselium dan membentuk konidia (spora pada ujung konidifor). Pada jamur bersel
banyak berlangsung dengan membentuk Konida atau Konidiospora yang merupakan
spora vegetatif. Pada jamur bersel satu berlangsung dengan cara membentuk Tunas
(blastospora). Pada waktu masih muda, tunas menempel pada sel induk dan setelah
dewasa, tunas melepaskan diri dari sel induk, misalnya Saccharomyces. Reproduksi
seksual pada ascomycota dilakukan dengan pembentukan askospora melalui beberapa
tahap, yaitu:

16

1) Pembentukan askospora didalam askus. dari 2 hifa berlainan jenis saling


berdekatan. Salah satu hifa membentuk alat kelamin jantan (anteridium) dan hifa
lainnya membentuk alat kelamin betina (askogonium). Setiap jenis kelamin
punya inti haploid. Pada askogonium tumbuh

trikogin (menghubungkan

arkegonium dan anteridium)


2) Plasma pindah dari anteridium ke askogonium (plasmogami). Kedua inti haploid
nya berpasangan
3) Askogonium membentuk hifa. kumpulan hifa askogonium dikariotik membentuk
askokarp. ujung hifapada askokarp membentuk askus dengan 2 inti haploid
4)
5)
6)
7)
8)
9)

berpasangan.
Kedua inti mengalami kariogami (penyatuan inti) sehingga terbentuk diploid.
Diploid mengalami meiosis membentuk 4 inti haploid.
Masing masing membelah secara mitosis
Didalam askus terdapat 8 inti haploid
Kedelapan inti dikelilingi dinding sel membentuk askosphora.
Askosphora masak akan pecah keluar jatuh di tempat yang cocok akan
berkecambah membentuk hifa haploid baru (miselia)

Siklus Hidup
Ascomycotina disebut juga sebagai the sac fungi. Merupakan fungi yang
reproduksi seksualnya dengan membuat askospora di dalam askus (ascus = sac
17

atau

kantung/pundi-pundi).

Askus

adalah

semacam

sporangium

yang

menghasilkan askospora. Siklus hidup Ascomycotina dimulai dari askospora


yang tumbuh menjadi benang (hifa) yang bercabang-cabang. Kemudian, salah
satu dari beberapa sel pada ujung hifa berdiferensiasi menjadi askogonium,
yang ukurannya lebih lebar dari hifa biasa. Sedangkan ujung hifa yang lainnya
membentuk Anteridium. Anteridium dan Askogonium tersebut letaknya
berdekatan dan memiliki sejumlah inti yang haploid.
Pada askogonium tumbuh trikogin yang menghubungkan askogonium
dengan anteredium. Melaui trikogin ini inti dari anteredium pindah ke
askogonium dan kemudian berpasangan dengan inti pada askogonium.
Selanjutnya pada askogonium tumbuh sejumlah hifa yang disebut hifa
askogonium. Inti-inti membelah secara mitosis dan tetap berpasangan. Hifa
askogonium tumbuh membentuk septa bercabang. Bagian askogonium berinti
banyak, sedangkan pada bagian ujungnya berinti 2. Bagian ujung inilah yang
akan tumbuh menjadi bakal askus. Hifa askogonium ini kemudian berkembang
disertai pertumbuhan miselium vegetatif yang kompak, membentuk tubuh
buah. Dua inti pada bakal askus membentuk inti diploid yang kemudian
membelah secara meiosis untuk menghasilkan 8 spora askus (askospora).
Apabila askospora tersebut jatuh pada lingkungan yang sesuai maka ia akan
tumbuh membentuk hifa atau miselium baru. Reproduksi aseksual pada
Ascomycotina adalah dengan cara membentuk tunas dan spora aseksual.
Pembentukan tunas terjadi pada jamur uniseluler dan spora aseksual pada
jamur terjadi pada jamur multiseluler. Spora aseksual tersebut terbentuk pada
ujung hifa khusus yang disebut konidiofor dan sporanya disebut konidia.
Konidia merupakan spora yang dihasilkan secara eksternal, yaitu di luar kotak
spora atau sporangium (Tarigan, 1988).
2.5 Sistematika Ascomycota
Ascomycotina merupakan kelompok jamur yang terbesar, ada yang hidup
parasit atau saprofit. Jamur yang hidup sebagai parasit, dapat menimbulkan penyakit
yang sangat merugikan seperti pada tanaman tembakau, pepaya, karet, teh, cokelat,

18

dan padi. Sedangkan jamur saprofit hidup pada bahan makanan atau sampah.
Organisme yang disebut fungi bersifat heterotroph, dinding selnya mengandung kitin,
tidak berplastid, tidak berfotosintesis, tidak bersifat fagosit, umumnya memiliki hifa
yang berdinding yang dapatberinti banyak atau berinti tunggal, dan memperoleh
nutrient dengan cara absorbs.
Klasifikasi organisme berdasarkan kekerabatan evolusi diawali Whittaker
(1969) yang mengenalkan system lima kingdom (=reknum) menumbangkan system
tiga kingdom. Menurut Whittaker, system tiga kingdom yaitu prokariota, hewan dan
tumbuhan tidak menunjukkan kekerabatan mereka. System lima kingdom yang
diusulkannya, menunjukkan kekerabatan evolusi diantara kelima kingdom tersebut.
Hal tersebut merupakan awal usaha menetapkan kelompok mono filetik untuk
mengembangkan suatu klasikasi yang menunjukkan kekerabatan evolusi kelompokkelompok (Alexopoulus et al, 1996).
Ada banyak cara mengelompokkan fungi. Pada taksonomi kondisional
dikelompokkan berdasarkan informasi fenotipik, yaitu informasi yang berdasarkan
protein dan fungsinya, karakter-karakter kemotaksonomi fisiologi dan anatomi.
Kemotaksonomi

adalah

pengelompokan

fungi

dengan

pendekatan

analitik,

mengumpulkan informasi dari konsituen-konsituen kimia dari sel. Karakter-karakter


fenotipik yang sering digunakan adalah; morfologi makroskopik, mikroskopik,
reproduksi seksual, sifat-sifat fisiologi dan biokimia. Pengelompokan berdasarkan
taksonomi konvensional umumnya mempunyai kelemahan, saat mendeteksi spesies
baru atau sulit mengidentifikasi fungi anamorfik sering ditemukan variabilitas pada
tingkatan strain.
Kelemahan-kelemahan tersebut dapat diatasi oleh taksonomi modern yang
mengelompokkan

fungi tidak saja berdasarkan informasi fenolitik, tapi juga

informasi genotipik dari suatu organisme. Informasi genotipik adalah informasi yang
berasal dari asam nukleat (DNA atau RNA) yang berada di dalam sel.
Ascomycota dibagi menjadi tiga kelas yaitu :
1. Archiascomycetes
2. Hemiascomycetes
3. Euastomycetes.
19

Ascomycotina, Divisi ini bercirikan talus yang terdiri dari miselium bersepta.
Reproduksi seksual membentuk askospora di dalam askus. Ada yang hidup sebagai
parasit, yang menimbulkan panyakit pada tumbuhan. Bentuk askus ada bermacammacam, antara lain :

Askus tanpa askokarp


Askus yang askokarpnya berbentuk deperti mangkok disebut aposetium.
Askus yang askokarpnya berbentuk bola tanpa ostiulum disebut kleistotesium.
Askus yang askokarpnya berbentuk botol dengan leher dan memiliki ostiulum
disebut peritesium.

Bermacam-macam askus tersebut menjadi landasan dalam klasifikasi tingkat kelas


pada fungi Ascomycota.
A. Kelas Hemiascomycetes
Kelas ini hanya memiliki satu ordo Saccharomycetales atau
Endomycetales. Taksa yang termasuk ke dalam ordo Saccharomycetales
memiliki dinding sel yang umumnya terdiri dari manan dan glukan. Pada saat
pembentukan septa, septanya terdiri dari satu atau beberapa pori yang
mempunyai sumbat dan tidak terdapat woronin. Kelompok jamur ini tidak
membentuk askokarp, tidak mempunyai hifa, tubuhnya terdiri dari sel bulat
atau oval yang dapat bertunas sehingga terbentuk rantai sel atau hifa senu.
Contoh anggota Hemiascomycetes adalah khamir Saccharomyces. Beberapa
jenis Saccharomyces antara lain:

Saccharomyces cerevisiae, khamir roti atau khamir bir.


Saccharomyces ellipsoideus, mempermentasi buah anggur menjadi

anggur minuman.
B. Kelas Archiascomycetes
Merupakan bentuk Ascomycota primitive atau basal Ascomycetes.
Merupakan keturunan yang mengalami reduksi dari spesies-spesies yang lebih
kompleks yang mempnyai askomata. Memiliki tahapan seksual ascogenos,
tetapi tidak memiliki hifa ascogenos. Reproduksi aseksual dengan pertunasan

20

atau pembelahan kecuali pada genus Neolekta tidak ada ascomata ataupun
konidiomata. Kelas ini dibagi 5 ordo antara lain :
a. Ordo Pneumocystidales
Merupakan penyebab pneumonia pada pasien HIV, contohnya adalah
Pnemocystis carinii. Fungi ini dahulunya dianggap sebagai protozoa
b. Ordo Schizosaccharomycetales
Lebih dikenal denga fission yeasts karena reproduksi vegetatifnya dengan
pembelahan sel.
c. Ordo Neolectales
Pada genus Neolecta mempunyai apotecia berbentuk clavatus dan
bertangkai
d. Ordo Promycetales
Terdiri dari satu family protomycetaceae dengan 5 genera yang terdiri dari
20 spesies. Merupakan parasit pada tumbuhan berpembuluh.
e. Ordo Taprinales
Terdiri dari satu family taprinaceae dengan genus tunggal kaprina yang
terdiri dari hamper 100 spesies. Genus kaprina merupakan parasit bersifat
demorfik, membentuk miselia dikariotik. Dan askus terbuka pada fase
parasitic membentuk pertunasan sel.
C. Kelas Euascomycetes
Umumnya fungi Ascomycetous memiliki filament. Komposisi dinding
selnya didominasi oleh kitin dan glukan. Mempunyai lubang septum dengan
woronin bodies. Euascomycetes dapat membentuk ascogonia dan ascomata.
Kebanyakan menghasilkan hifa pada medium buatan. Euascomycetes ini
terdiri dari 3 sub klas yaitu:
a. Sub kelas Plektomycetes
Tidak dapat membentuk askomaseluler dan askusnya yang prototunikata
tidak mempunyai hamathecium, askus terdapat bebas di atas miselium,
askokarpanya berupa cleistotecium, askokarpanya tidak berseptum,
misalnya Monascus sp. Dan Emirecela sp. Kelas ini terdiri dari 3 ordo
yaitu Ascosphaerales, Onygenales, dan Eurotyales
b. Sub kelas Hymenoascomycetes

21

Cirinya dibedakan berdasarkan anatomi dan morfologi Dari asal askusnya,


yaitu Ascohymenial atau Ascolocular dari Ascomata dan Ascus yang unitunikata pada hypemenoas comycetes atau bitunikata.
c. Sub kelas Loculoascomycetes
Terdiri dari ordo-ordo Apothe chioid: Arthoneales, Patellariales,
Lahmiales; ordo-ordo Perithecioid: Melanommatales, Pleosporales,
Verrucariales, Chaetothyriales

2.6 Peranan dalam Fermentasi dan Lingkungan


Beberapa Ascomycota yang menguntungkan dalam kehidupan sehari-hari: untuk
pembuatan roti, dan minuman beralkohol salah satunya berguna untuk pembuatan bir,
maupun alkohol mapu mengubah glukosa menjadi alkohol dan CO2 dengan proses
fermentasi. Peranan Ascomycota dalam fermentasi adalah:
1. Saccharomyces cerevisiae
Saccharomyces cerevisiae berperan dalam proses pembuatan tape dan roti,
amur ini dapat memfermentasi glukosa menjadi alkohol dan karbon dioksida,
misalnya dalam fermentasi tape dapat menghasilkan etanol yang berasal dari
fermentasi gula. Gula akan diubah menjadi bentuk yang paling sederhana oleh
enzim invertase baru kemudian gula sederhana tersebut akan dikonversi
menjadi etanol dengan adanya enzim zymase. Kedua enzim tersebut dihasilkan
oleh Saccharomyces cerevisiae. Dalam
cerevisiae memetabolisme
2.
3.
4.
5.
6.

sumber

adonan
gula

dan

roti Saccharomyces
salah

satu hasil

metabolismenya adalah gas CO2 yang dapat mengembangkan adonan roti.


Saccharomyces tuac memfermentasi air nira (legen) menjadi tuak.
Saccharomyces ellipsoideus memfermentasi buah anggur menjadi wine.
Saccharomycopsis fibuligera berguna dalam pembuatan tape
Saccharomycopsis malanga berguna dalam pembuatan tape
Aspergillus wentii berguna dalam pembuatan kecap. Pada proses pembuatan
kecap ada tahap yang dinamakan dengan fermentasi garam, dimana pada proses
ini kedelai dilakukan perendaman dalanm larutan garam dengan menggunakan

jamur aspergillus wentii.


7. Aspergillus soyae berguna dalam pembuatan kecap
22

8. Aspergillus

oryzae merombak

zat

pati

dalam

pembuatan

minuman

beralkohol. Selain itu juga berperan dalam pembuatan kecap, mikroorganisme


ini menghasilkan asam laktat sehingga dapat mengakibatkan pH turun yang
berfungsi untuk pembentukan aroma dan flavor spesifik pada kecap.
9. Neurospora sitophila dimanfaatkan dalam pembuatan oncom merah dari ampas
tahu. Konidianya berwarna merah bata.
10. Peniciliium
nojajum
dan

Penicillium

chrysogenum

penghasil antibiotika penisilin.


Contoh dan peranan spesies yang merugikan
1. Venturia inaequalis penyebab penyakit yang merusak buah apel.
2. Clavisceps purpurea penyebab penyakit ergot pada tanaman gandum.
Gandum yang terkena spesies ini akan menimbulkan ergotisma pada
hewan atau manusia yang memakannya
3. Aspergillus flavus, yang hidup pada Kacang dan media lain yang sejenis,
dapat membahayakan lever dan mengandung karsinogenik serta
menghasilkan racun aflatoksin hidup pada biji-bijian. flatoksin salah
satu penyebab kanker hati (Tarigan, 1988).
Fermentasi tape
Tape merupakan makanan fermentasi tradisional yang sudah tidak asing lagi.
Tape dibuat dari beras, beras ketan, atau dari singkong (ketela pohon). Salah satu
pemanfaatan

bioteknologi

dalam

pembuatan

tape

siongkong

adalah

saat

ditambahkannya ragi sebagai bahan dalam pembuatan tape siongkong. Ragi adalah
mikroorganisme hidup yang dapat ditemukan dimana-mana. Ragi berasal dari
keluarga

Fungus

bersel

species cereviciae,

dan

satu

(sugar

memilki

fungus)
ukuran

dari

genus

sebesar

Saccharomyces,
6-8

mikron.

Saccharomyces cereviciae merupakan genom eukariotik yang pertama kali disekuensi


secara penuh. Dalam satu gram ragi padat (compressed yeast) terdapat kurang lebih
10 milyar sel hidup.
Ragi ini berbentuk bulat telur, dan dilindungi oleh dinding membran yang
semi berpori (semipermeable), melakukan reproduksi dengan cara membelah diri
(budding), dan dapat hidup di lingkungan tanpa oksigen (anaerob). Untuk bertahan

23

hidup, ragi membutuhkan air, makanandan lingkungan yang sesuai. Ragi memiliki
sifat dan karakter yang sangat penting dalam industri pangan. Ragi akan berkembang
dengan baik dan cepat bila berada pada temperatur antara 250C 300C.
Saccharomyces cereviciae yang penting dalam pembuatan tape singkong
memiliki sifat dapat memfermentasikan maltosa secara cepat (lean dough yeast),
memperbaiki

sifat osmotolesance (sweet

dough

yeast), rapid

fermentation

kinetics, freeze, thaw tolerance, dan memiliki kemampuan memetabolisme substrat.


Pemakaian ragi dalam pembuatan tape singkong sangat penting karena enzim dari
ragi tersebutlah yang nantinya berperan dalam proses fermentasi, serta memberi
aroma (alkohol). Kesterilan ragi dan bahan dasar pembuatan tape ketika akan
digunakan amat penting. Hal ini dimaksudkan agar tidak dicemari bakteri lain. Jika
hal ini terjadi maka proses fermentasi akan terhambat. Bakteri yang sering
mengeluarkan racun berbahaya bagi kesehatan manusia akan ada dalam tape
singkong.
Mikroorganisme dari kelompok kapang akan menghasilkan enzim-enzim
amilolitik yang akan memecahkan amilum pada bahan dasar menjadi gula-gula yang
lebih sederhana (disakarida dan monosakarida). Proses tersebut sering dinamakan
sakarifikasi (saccharification). Kemudian khamir akan merubah sebagian gula-gula
sederhana tersebut menjadi alkohol. Inilah yang menyebabkan aroma alkoholis pada
tape. Semakin lama tape tersebut dibuat, semakin kuat alkoholnya. Pada beberapa
daerah, seperti Bali dan Sumatera Utara, cairan yang terbentuk dari pembuatan tape
tersebut diambil dan diminum sebagai minuman beralkohol.
Reaksi pada Fermentasi Tape
Fermentasi dapat didefinisikan sebagai proses metabolisme dimana akan
terjadi perubahan-perubahan kimia dalam substrat organik, kegiatan atau aktivitas
mikroba yang membusukkan bahan-bahan yang difermentasi. Perubahan kimia tadi
tergantung pada macam bahan, macam mikroba, pH, suhu, adanya aerasi atau
perlakuan lain yang berbeda dengan faktor-faktor diatas, misalnya penambahanpenambahan bahan tertentu untuk menggiatkan fermentasi.

24

Fermentasi diperkirakan menjadi cara untuk menghasilkan energi pada


organisme purba sebelum oksigen berada pada konsentrasi tinggi di atmosfer seperti
saat ini, sehingga fermentasi merupakan bentuk purba dari produksi energi sel.
Produk fermentasi mengandung energi kimia yang tidak teroksidasi penuh tetapi
tidak dapat mengalami metabolisme lebih jauh tanpa oksigen atau akseptor elektron
lainnya (yang lebih highly-oxidized) sehingga cenderung dianggap produk sampah
(buangan). Konsekuensinya adalah bahwa produksi ATP dari fermentasi menjadi
kurang effisien dibandingkan oxidative phosphorylation, di mana pirufat teroksidasi
penuh menjadi karbon dioksida. Fermentasi menghasilkan dua molekul ATP per
molekul glukosa bila dibandingkan dengan 36 ATP yang dihasilkan respirasi aerobik.
"Glikolisis aerobik" adalah metode yang dilakukan oleh sel otot untuk
memproduksi energi intensitas rendah selama periode di mana oksigen berlimpah.
Pada keadaan rendah oksigen, makhluk bertulang belakang (vertebrata) menggunakan
"glikolisis anaerobik" yang lebih cepat tetapi kurang effisisen untuk menghasilkan
ATP. Kecepatan menghasilkan ATP-nya 100 kali lebih cepat daripada oxidative
phosphorylation. Walaupun fermentasi sangat membantu dalam waktu pendek dan
intensitas tinggi untuk bekerja, ia tidak dapat bertahan dalam jangka waktu lama pada
organisme aerobik yang kompleks. Sebagai contoh, pada manusia, fermentasi asam
laktat hanya mampu menyediakan energi selama 30 detik hingga 2 menit.
Tahap akhir dari fermentasi adalah konversi piruvat ke produk fermentasi
akhir. Tahap ini tidak menghasilkan energi tetapi sangat penting bagi sel anaerobik
karena tahap ini meregenerasi nicotinamide adenine dinucleotide (NAD+), yang
diperlukan untuk glikolisis. Ia diperlukan untuk fungsi sel normal karena glikolisis
merupakan satu-satunya sumber ATP dalam kondisi anaerobik.
Dalam proses pembuatan tape, kadang kadang sering dijumpai adanya
tape yang berasa masam. Hal ini dapat disebabkan oleh adanya kontaminasi
sejenis bakteri karena proses pembuatan tape yang kurang teliti. Misalnya,
penambahan ragi yang berlebihan dan penutupan bahan pada saat fermentasi
berlangsung serta waktu fermentasi yang terlalu lama (Azizah, 2012).

25

Kualitas ragi tape sangat mempengaruhi proses pembuatan dan kualitas


tape yang dihasilkan. Bila ragi tape berkualitas baik, maka tape yang dihasilkan
juga akan baik. Namun sebaliknya, bila kualitas ragi tape yang dipergunakan
kurang baik, maka tape yang dihasilkan juga akan berkualitas rendah (Azizah,
2012).
Reaksi reaksi dalam fermentasi singkong ataupun beras ketan menjadi tape
adalah glukosa (C6H12O6) yang merupakan gula paling sederhana. Melalui
fermentasi ini akan menghasilkan etanol (2C2H5OH ).
Pembuatan tape dari singkong melalui dua proses utama yaitu proses hidrolisa
dan fermentasi. Hidrolisa adalah proses antara reaktan dengan air agar suatu senyawa
pecah atau terurai. Proses hidrolisa dalam pembuatan tape terjadi pada proses
perebusan/pengukusan singkong. Melalui proses hidrolisa senyawa pati diubah
menjadi glukosa, reaksinya sebagai berikut.
(C6H10O5)n + nH2O
C12H22O11 + H2O

n(C6H12O6)
2C6H12O6

Glukosa hasil hidrolisa kemudian difermentasi dengan bantuan ragi yang


umumnya Saccharomyces cereviseae. Proses fermentasi menghasilkan alkohol seperti
terlihat dalam persamaan reaksi berikut.
(C6H12O6)

2 C2H5OH + 2 CO2

Adapun secara rinci reaksi dalam proses fermentasi tape dapat dijelaskan sebagai
berikut:
a. Perubahan pati menjadi komponen gula
oleh enzim amylase yang dihasilkan oleh kapang Amylomices rouxii,
Aspergillus oruzae, Mucos rouxii.
( C6H1206)n + nH2O -> C6H12O6
pati
glukosa
(C6H10O5)n + n/2 H2O -> n/2 (C12H22O11)
pati
maltosa
b. Perubahan komponen disakarida menjadi monosakarida
Oleh enzim maltase atau invertase
C12H22O11 + H2O -> C6H12O6 + C6H12O6
maltose
glukosa
glukosa
C12H22O11 + H2O -> C6H12O6 + C6H12O6
sukrosa
glukosa
fruktosa
26

c. Perubahan komponen gula menjadi etanol


Oleh sel khamir
C6H12O6 -> 2C5H5OH + 2CO2
glukosa
etanol
d. Perubahan gula menjadi asam laktat oleh bakteri asam laktat yang mempunyai
sifat heterofermentatif atau homofermentatif
homofermentatif : C6H12O6 -> 2CH3CHOHCOOH
glukosa
asam laktat
heterofermentatif : C6H12O6 -> CH3CHOHCOOH +CO2 + C2H5OH
glukosa
asam laktat
etanol
e. Perubahan gula menjadi asam asetat
Oleh bakteri asam asetat Acetobacter
C6H12O6 -> 2C2H5OH + 2CO2
glukosa
etanol
Enzim yang Terlibat Proses Fermentasi Tape
Dalam pembuatan tape terdapat enzim yang terlibat dalam proses fermentasi.
Pada proses fermentasi oleh ragi juga berhubungan dengan aktivitas enzim yang
terdapat pada ragi. Enzim yang terdapat pada ragi adalah invertase, maltase dan
zymase. Gula pasir atau sukrosa tidak difermentasi secara langsung oleh ragi.

Invertase
Mengubah sukrosa menjadi invert sugar ( glukosa dan sukrosa ) yang
difermentasi secara langsung oleh ragi. sukrosa dalam adonan akan diubah

menjadi glukosa pada tahap akhir mixing. reaksi yang terjadi adalah :
sukrosa + air gula invert
C12H22+H2O invertase 2C6H12O6
Maltase
Mengubah malt sugar atau maltose yang ada pada malt syrup menjadi dekstrosa.
dekstrosa difermentasi secara langsung oleh ragi.
Zymase
Mengubah invert sugar dan dekstrosa menjadi gas karbondioksida yang akan
menyebabkan adonan menjadi mengembang dan terbentuk alcohol. enzim
zymase merupakan biokatalis yang digunakan dalam proses fermentasi.
Rasa masam disebabkan pati yang diubah oleh enzim amilase menjadi gula

(sukrosa). Enzim invertase mengubahnya lagi menjadi glukosa. Hasilnya berupa


alkohol. Jika proses fermentasi terlalu lama alkohol akan menghasilkan asam asetat
sehingga dapat menghasilkan tape yang terasa masam.
27

Selain enzim yang dihasilkan oleh ragi, pada proses pembungkusan dan
penyimpanan juga melibatkan beberapa enzim. Secara singkat perubahan biokimia
selama fermentasi tape dapat ditulis sebagai berikut :

Mula-mula pati dalam singkong akan diubah oleh enzim amilase yang
dikeluarkan oleh mikroba tersebut menjadi maltosa.

Maltosa dapat dirombak menjadi glukosa oleh enzim maltase.

Glukosa oleh enzim zymase dirombak menjadi alkohol. Alkohol yang


dihasilkan dari proses fermentasi tape singkong kemudian dianalisis dengan
menggunakan metode kromatografi gas (GC).

Pada fermentasi tape yang lebih lanjut alkohol oleh enzim alkoholase dapat
diubah menjadi asam asetat, asam piruvat dan asam laktat. Terbentuknya asam
asetat, asam piruvat dan asam laktat karena adanya bakteri Acetobacter yang
sering terdapat dalam ragi yang bersifat oksidatif.
Menyatakan bahwa asam piruvat adalah produk yang terbentuk pada hidrolisis

glukosa menjadi etanol. Asam piruvat dapat diubah menjadi etanol dan asam laktat.
Asam-asam organik dari alkohol membentuk ester aromatik sehingga tape memiliki
cita rasa yang khas.
Peranan dari Senyawa yang Dihasilkan dalam Fermentasi Tape pada
Bidang Kesehatan

28

Dalam proses fermentasi tape, senyawa yang dihasilkan yaitu berupa ethanol
(alkohol) serta gas CO2. Adapun beberapa manfaat alkohol bagi kesehatan yaitu:
1. Mengurangi Tekanan Darah
Jika alkohol dikonsumsi dalam dosis yang cukup rendah diketahui sangat
efektif membantu mengurangi tekanan darah yang tinggi. Dalam hal ini alkohol akan
bekerja membersihkan timbunan lemak pada pembuluh arteri dan sekaligus
mengurangi pembekuan darah yang terjadi. Hal ini berarti risiko penyakit jantung dan
juga serangan jantung bisa ditekan. Manfaat yang luar biasa pastinya terlebih setelah
mengetahui penyakit jantung menjadi salah satu jenis penyakit mematikan yang patut
dihindari. Ingat untuk tidak mengonsumsi alkohol secara berlebihan meski ada
manfaat untuk tubuh. Jika Anda mengkonsumsi alkohol dalam dosis berlebih efeknya
malah bisa mengundang sejumlah dampak negatif dan mengganggu reaksi obat yang
dikonsumsi.
2. Meminimalisir Risiko Stroke
Manfaat alkohol selanjutnya yaitu dapat meminimalisir risiko penyakit stroke.
Namun, tentu manfaat ini bisa didapat selama pengonsumsian alkohol masih dalam
batasan wajar. Adapun jenis stroke iskemik menjadi salah satu jenis stroke yang
paling umum menyerang. Jenis stroke yang satu ini diketahui disebabkan karena
adanya penyumbatan pada pembuluh darah yang menuju organ otak. Sementara jenis
stroke yang lain yaitu stroke hemoragik yang terjadi akibat darah merembes atau
bocor dan keluar dari pembuluh darah dalam otak. Tentu selama risiko stroke bisa
dicegah dan di minimalisir, upaya yang bisa dilakukan harus dicoba dan salah satunya
dengan mengambil alkohol. Sangat menarik bukan mengupas tentang khasiat alkohol
dalam kehidupan sehari-hari.
3. Membantu Memperbaiki Kualitas Tidur
Manfaat alkohol dalam kehidupan sehari-hari selanjutnya yaitu dapat
membantu memperbaiki kualitas tidur malam. Pastinya manfaat ini bisa membantu
Anda yang sering mengalami gangguan susah tidur atau insomnia. Hal ini tidak lain
karena efek mengantuk yang diberikan alkohol pada tubuh manusia. Untuk
mendapatkan manfaat ini bisa dicoba dengan menonsumsi alkohol sesuai dengan

29

dosis yang dianjurkan oleh dokter. Diketahui dosis yang aman dan dianjurkan untuk
membantu memperbaiki kualitas tidur tidak lebih dari satu gelas.
4. Menjaga Kesehatan Kardiovaskular
Alkohol dalam jumlah terkontrol dapat meningkatkan kadar HDL (high density
lipoprotein) atau kolesterol baik dan tingkat HDL yang lebih tinggi terkait dengan
perlindungan yang lebih besar terhadap penyakit jantung. Konsumsi alkohol dalam
jumlah sedang juga telah dikaitkan dengan perubahan yang bermanfaat mulai dari
sensitivitas insulin yang lebih baik untuk perbaikan dalam faktor-faktor yang
mempengaruhi pembekuan darah. Proses ini sangat penting untuk mencegah
pembentukan gumpalan darah kecil yang dapat memblokir arteri di jantung, leher,
dan otak, penyebab utama banyak serangan jantung dan stroke.
5. Meningkatkan Kehangatan Tubuh
Sudah tentu manfaat ini akan anda peroleh otomatis ketika mengkonsumsi
alkohol, tubuh akan terasa hangat. Alkohol telah lama digunakan di berbagai negara
eropa dengan intensitas musim dingin yang tinggi untuk menghangatkan badannya.
6. Mengurangi batu Ginjal
Studi yang dilakukan oleh peneliti dari University of East Anglia, menemukan
bahwa konsumsi alkohol dalam batas normal dapat menekan terjadinya batu ginjal.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
1. Sebagian besar Ascomycota bersifat multiseluler, hifa bersekat, memiliki
tubuh buah (askokarp) yang bentuknya beragam. Didalamnya terdapat
kantong spora (askus).
30

2. Metabolit

primer adalah hasil metabolisme yang digunakan untuk

kelangsungan hidup organisme misalnya untuk pertumbuhan. Metabolit


sekunder adalah senyawa metabolit yang tidak esensial bagi pertumbuhan
organisme dan ditemukan dalam bentuk yang unik atau berbeda-beda antara
spesies yang satu dan lainnya. Setiap organisme biasanya menghasilkan.
3. Pertumbuhannya memiliki beberapa fase, antara lain (Gandjar dkk., 2006):
fase lag, fase akselerasi, fase eksponensial, fase deselerasi, fase stasioner, dan
fase kematian
4. Secara aseksual ascomycota uniseluler membentuk tunas. Sedangkan
multiseluler dengan fragmentasi. Reproduksi seksual dengan membentuk
askospora didalam askus. Askospora yang jatuh kemudian berkecambah
membentuk haploid baru.
5. Ascomycota dibagi menjadi

tiga

kelas

yaitu

Archiascomycetes,

Hemiascomycetes dan Euastomycetes.


6. Beberapa Ascomycota yang menguntungkan dalam kehidupan sehari-hari:
untuk pembuatan roti, dan minuman beralkohol salah satunya berguna untuk
pembuatan bir, maupun alkohol mapu mengubah glukosa menjadi alkohol dan
CO2 dengan proses fermentasi.
3.2 Saran
Karena

makalah

ini

masih

banyak

kekurangan,

maka

diperlukan

penyempurnaan untuk makalah ini sehingga ruang lingkup pengetahuan mengenai


jamur semakin luas.

GLOSARIUM

Aerob : sifat makhluk hidup yang untuk hidupnya membutuhkan oksigen.


Alkoholase: enzim yang dapat merubah alkohol menjadi asam asetat, asam

piruvat dan asam laktat.


Amylase: enzim yang mengubah amilum atau pati menjadi gula
Anastomosis: proses penggabungan antar hifa sehingga membentuk

miselium
Arkegonium : Alat reproduksi betina pada Jamur Ascomycotina.

31

Askospora: Spora yang terdaat di dalam askus yang dibentuk oleh dua jenis

hifa pada ascomycotina.


Askus: Tempat terbentuknya spora pada ascomycota.
Autotrof: mahluk hidup yang dapat membuat makanan sendiri
Heterotrof: mahluk hidup yang tidak dapat membuat makanan sendiri
Hidrolisa: proses antara reaktan dengan air agar suatu senyawa pecah atau

terurai.
Hifa: Benang benang halus penyusun jamur.
Karyogami: penggabungan inti
Klamidiospora: spora yang berdinding tebal.
Klasifikasi: Pengelompokan makhluk hidup berdasarkan persamaan dan

perbedaan diri.
Konidiofor: Hifa generative pendukung konidia.
Konidiospora: Spora aseksual yang dihasilkan di ujung konidiofor pada

Ascomycota, Basidiomycota, dan Deuteromycota.


Lichen: Jamur dan ganggang hijau biru atau ganggang hijau yang hidup

bersama saling menguntungkan.


Maltase: enzim yang mengubah komponen disakarida menjadi mono

sakarida
Meiosis: Proses seluler yang membelah sel diploid menjadi sel haploid.
Miselium primer: Miselium yang sel selnya berinti satu.
Miselium sekunder: Miselium yang sel selnya berinti dua.
Miselium: Hifa bercabang membentuk bangunan seperti anyaman.
Mitosis: Cara pembelahan sel yang menghasilkan dua sel anak yang secara

genetik sama satu sama lain.


Multiseluler: organisme bersel banyak
Parasit: Organisme yang hidup menumpang pada organism lain dan

mengambil makanan dari orgnisme yang ditumpangi (inang).


Plasmogami: Penyatuan sel/hifa yang berbeda jenis.
Saprofit: Organisme yang memperoleh makanan dari sisa-sisa organism

atau produk organism lain.


Senositik: Sel atau hifa yang banyak mengandung inti.
Septa: Hifa yang bersekat.
Uniseluler: organisme bersel satu
Zymase: enzim yang mengubah gula menjadi alkohol atau etanol

32

PERTANYAAN DAN JAWABAN


1. Sebutkan beberapa ciri-ciri morfologi dari ascomycota!
Jawaban:
a) Memiliki hifa bersekat dan berinti banyak.
b) Struktur tubuhnya ada yang uniseluler (contoh: Saccharomyces), bersel
banyak dan membentuk miselium soenositik (contoh: Penicillium). Akan
tetapi, ada pula Ascomycotina yang bersel banyak dan membentuk badan
buah (contoh: Nectria).
c) Cara hidupnya ada yang saprofit dan ada yang parasit.
d) Menghasilkan spora dalam askus (askospora). Setiap askus mengandung 8
spora. Askus-askus tersebut berkumpul membentuk badan yang disebut
askokarp. Beberapa bentuk askus sebagai berikut.

33

1) Askus tanpa askokarp. Jamur yang tergolong kelompok ini tidak


memiliki askokarp dan biasanya merupakan jamur uniseluler. Sel
jamur bersel tunggal ini berfungsi sebagai askus. Nukleusnya yang
diploid membelah secara meiosis membentuk empat sel askospora
yang haploid. Contoh: Saccharomyces dan Candida.
2) Askus dengan askokarp berbentuk bola (kleistotesium).Contoh:
Penicillium.
3) Akus dengan askokarp berbentuk botol berleher dan mempunyai
ostiolum yaitu lubang untuk melepas askus dan askospora. Badan buah
seperti ini disebut peritesium. Contoh: Neurospora crassa.
4) Askus dengan askokarp berbentuk mangkuk atau cawan (apotesium),
contoh: Ascobolus.
2. Apakah fungsi dari hasil metabolit primer dan sekunder?
Jawaban: Metabolit primer adalah hasil metabolisme yang digunakan untuk
kelangsungan hidup organisme misalnya untuk pertumbuhan, sehingga hasil
dari metabolit primer ini bermanfaat bagi organisme tersebut. Contohnya,
asam amino, asetil Ko-A, karbohidrat, asam nukleat, nukleotida, asam sitrat,
dan lain-lain. Metabolit sekunder adalah hasil metabolisme yang tidak
digunakan untuk proses pertumbuhan organisme tetapi untuk keperluan lain,
misalnya untuk pertahanan diri. Untuk mikroorganisme contohnya, asam
indol asetat, giberelin, penisilin, dan aflatoksin. Hasil dari metabolit sekunder

34

ini ada yang bermanfaat bagi organisme lain dan ada juga yang merugikan
organisme lain.
3. Bagaimana hubungan antara ketersediaan nutrisi dengan fase pertumbuhan
fungi?
Jawaban:

Fase

Lag,

yaitu

fase

penyesuaian

sel-sel

dengan

lingkungan,

pembentukan enzim-enzim untuk mengurangi substrat, pada fase ini


ketersediaan nutrisi masih sangat melimpah karena belum digunakan

sama sekali.
Fase akselerasi, yaitu fase mulainya sel-sel membelah dan menjadi aktif.
Pada fase ini ketersediaan nutrisi banyak dan sudah bisa digunakan oleh

fungi.
Fase eksponensial, merupakan fase perbanyakan jumlah sel yang sangat
banyak, aktivitas sel sangat meningkat, dan fase ini merupakan fase yang
penting dalam kehidupan fungi. Pada awal dari fase ini, enzim-enzim
dapat dipanen sehingga fungi sudah mampu menggunakan nutrisi yang

tersedia.
Fase deselerasi, yaitu waktu sel-sel mulai kurang aktif membelah. Pada
fase ini dapat dipanen biomassa sel atau senyawa-senyawa yang tidak lagi

diperlukan oleh sel-sel. Nutrisi yang tersediapun juga mulai berkurang.


Fase stasioner, yaitu fase jumlah sel yang bertambah dan jumlah sel yang
mati relatif seimbang. Kurva pada fase ini merupakan garis lurus yang
horizontal. Senyawa metabolit sekunder padat dipanen pada fase ini.
Nutrisi yang tersedia pada fase ini sudah relatif sedikit dan mulai adanya

kompetisi memperoleh nutrisi.


Fase kematian dipercepat, jumlah sel-sel yang mati atau tidak aktif sama
sekali lebih banyak daripada sel-sel yang masih hidup. Pada fase ini
nutrisi yang tersedia sudah sangat terbatas, bahkan nutrisi/medium
terkontaminasi dengan sisa metabolisme sehingga beracun.

4. Apakah reproduksi seksual dengan reproduksi aseksual terjadi secara


berkesinambungan atau terjadi secara sendiri-sendiri?

35

Jawaban:

sebenarnya

reproduksi

pada

fungi

itu

terjadi

secara

berkesinambungan antara reproduksi seksual dengan reproduksi aseksual,


yakni pada reproduksi seksual setelah terbentuk miselia maka akan
berlangsung reproduksi aseksual yaitu dengan menggunakan spora pada ujung
miselia. Namun adakalanya fungi cenderung melakukan reproduksi aseksual
apabila lingkungannya tidak mendukung, sebab reproduksi seksual lebih
banyak membutuhkan energi dibandingkan reproduksi aseksual.
5. Tuliskan beberapa spesies dari phylum ascomycota beserta klasifikasi
lengkapnya!
Jawaban:
1. Saccharomyces cerevisiae
Kingdom

: Fungi

Subkingdom

: Dikarya

Divisi

: Ascomycota

Subdivisi

: Saccharomycotina

Kelas

: Saccharomycetes

Ordo

: Saccharomycotales

Family

: Saccharomycotaceae

Genus

: Saccharomyces

Spesies

: Saccharomyces cerevisiae

2. Candida utilis
Kingdom

: Fungi

Subkingdom

: Dikarya

Divisi

: Ascomycota

Subdivisi

: Saccharomycotina

Kelas

: Saccharomycetes

Ordo

: Saccharomycotales

Family

: Saccharomycopsidaceae

Genus

: Candida

Spesies

: Candida utilis

36

3. Neurospora sitophila
Kingdom

: Fungi

Divisi

: Ascomycota

Kelas

: Ascomycetes

Ordo

: Sordariales

Family

: Sordariaceae

Genus

: Neurospora

Spesies

: Neurospora sitophila

6. Apa yang terjadi jika fermentasi tape dilakukan di dalam kulkas atau dalam
suhu yang sangat rendah?
Jawaban : Singkong yang telah diberi ragi tersebut tidak akan dapat
difermentasi dengan sempurna oleh jamur karena semakin rendah suhu maka
proses fermentasi semakin lambat. Hal ini kaitannya dengan respirasi yang
dilakukan oleh jamur, yang disebut pula dengan fermentasi. Jamur akan tidak
bekerja secara maksimal atau bahkan jamur tersebut dapat inaktif karena
suhunya terlalu rendah.

37

DAFTAR PUSTAKA
Azizah, N. 2012. Pengaruh Lama Fermentasi Terhadap Kadar Alkohol, pH, dan
Produksi Gas pada Proses Fermentasi Bioetanol Dari Whey dengan
Substitusi Kulit Nanas. Jurnal Aplikasi Teknologi Pangan. Vol 1 (2).
Djide, N., Sartini, dan Kadir, S., 2007. Bioteknologi Farmasi. Makassar: UNHAS
press.
Fardiaz, S., 1992. Mikrobiologi Pangan 1. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Gandjar, Indrawati dan Sjamsuridzal W. 2006. Mikologi dasar dan Terapan. Jakarta:
Yayasan Obor Indonesia.
Madigan MT, Martinko JM. 2006. Brock Biology of Microorganisms 11th ed. New
Jersey : Pearson Education.
Samson RA, Houbraken J, Summerbell RC, Flannigan B, Miller JD. 2001. Common
and important species of fungi and actinomycetes in indoor environments. In:
Microogranisms in Home and Indoor Work Environments. New York: Taylor &
Francis.

38

Tarigan, J., 1988, Pengantar Mikrobiologi Umum, Jakarta: Departemen


Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi
Proyek Pengembangan Lembaga Pendidikan Tenaga Pendidikan.
Wahyuni, Dwi. 2010. Mikologi Dasar. Jember : Jember University Press.

39

Anda mungkin juga menyukai