Reproduksi dan Morfologi Ascomycota
Reproduksi dan Morfologi Ascomycota
Filum Ascomycota
Makalah ini disusun guna untuk memenuhi tugas mata kuliah Mikologi
Disususn Oleh:
Siti Masruroh
130210103048
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT, yang telah
memberikan izin dan kekuatan kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan
makalah ini dengan judul Filum Ascomycota tepat pada waktunya.
Tugas ini ditujukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Mikologi. Kami
menyadari bahwa makalah ini masih banyak kekurangan dan kelemahannya, baik
dalam isi maupun sistematikanya. Hal ini disebabkan oleh keterbatasan pengetahuan
dan wawasan kami. Oleh sebab itu, kami sangat mengharapkan kritik dan saran untuk
menyempurnakan makalah ini.
Akhirnya, kami mengharapkan semoga makalah ini dapat memberikan
manfaat, khususnya bagi kami dan umumnya bagi pembaca.
Penyusun
DAFTAR ISI
HALAMAN
JUDUL
1
KATA
PENGANTAR
2
DAFTAR ISI
3
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang
Masalah
4
1.2 Rumusan
Masalah
4
1.3
Tujuan
4
BAB II PEMBAHASAN
2.1
Morfologi
dan
Anatomi
Ascomycota
......................................................................................................
......................................................................................................
6
......................................................................................................
......................................................................................................
......................................................................................................
......................................................................................................
......................................................................................................
......................................................................................................
5
2.2
Metabolisme
pada
Ascomycota
8
6
2.3
Pertumbuhan
Ascomycota
12
2.4
Reproduksi
pada
Ascomycota
......................................................................................................
......................................................................................................
14
......................................................................................................
......................................................................................................
......................................................................................................
......................................................................................................
......................................................................................................
......................................................................................................
5
2.5
Sistematika
pada
Ascomycota
18
6
2.6
Peranan
Ascomycota
22
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan .......................................................................................
31
3.2
Saran
31
GLOSARIUM........................................................................................
32
34
39
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Jamur (Fungi) termasuk makhluk hidup eukariot yang tidak berklorofil. Ciri khas
lainnya adalah dinding sel jamur tersusun atas kitin. Tubuhnya terdiri dari satu sel
atau berbentuk benang yang disebut hifa. Jamur tempe (Rhizopus) atau jamur oncom
(Neurospora) mempunyai hifa. Hifa jamur tempe dan jamur oncom seperti serabut
kapas. Hifa tumbuh bercabang-cabang membentuk anyaman yang disebut miselium.
Jamur yang terdiri dari satu sel miselium adalah jamur ragi (Saccharomyces).
Jamur tidak dapat berfotosintesis, sehingga jamur dapat mengambil makanan dari
lingkungannya (heterotrof). Jamur hidup secara saprofit maupun parasit. Jamur
saprofit banyak dijumpai diatas tanah, kayu lapuk atau bangkai binatang. Contoh
jamur saprofit adalah jamur kayu, jamur kuping, jamur merang, dan jamur karat.
Jamur yang hidup parasit misalnya jamur panu yamg hidup pada kulit manusia.
Jamur dapat diklasifikasikan berdasarkan hifa dan alat reproduksinya. Jamur
dibedakan menjadi 4 divisi, yaitu Zygomycota, Ascomycota, Basidiomycota dan
Deuteromycota. Saat ini masih terdapat jamur yang belum diketahui cara
reproduksinya seksualnya. Jamur yang demikian dikelompokkan dalam divisi
Deuteromycota yang berarti jamur tak tentu.
1.2 Rumusan Masalah
1. Jelaskan ciri-ciri morfologi dan anatomi Ascomycota?
2. Bagaimana metabolisme pada Ascomycota?
3. Bagaimana pertumbuhan pada Ascomycota?
4. Bagaimana reproduksi pada Ascomycota?
5. Bagaimana sistematika pada Ascomycota?
6. Apa saja peranan Ascomycota dalam fermentasi dan lingkungan?
1.3 Tujuan
1. Untuk menjelaskan ciri-ciri morfologi dan anatomi Ascomycota.
2. Untuk menjelaskan metabolisme pada Ascomycota.
3. Untuk mengetahui pertumbuhan pada Ascomycota.
4. Untuk mengetahui reproduksi pada Ascomycota.
5. Untuk mengetahui sistematika pada Ascomycota.
6. Untuk mengetahui peranan Ascomycota dalam fermentasi dan lingkungan.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Morfologi dan Anatomi Ascomycota
Ascomycota merupakan kelompok jamur yang terbesar, ada yang hidup
saprofit dan ada juga yang parasit. Ciri-ciri umum Ascomycota adalah sebagai
berikut:
1. Tubuh ada yang uniselluler dan ada yang multiselluler.
2. Memiliki hifa yang bersekat-sekat dan berinti banyak.
3. Hidupnya ada yang parasit, saprofit, dan ada yang bersimbiosis dengan
Lichenes.
Hifa adalah suatu struktur fungi berbentuk lubang menyerupai seuntai benang
panjangyang terbentuk dari pertumbuhan spora atau konidia (Gandjar, 2006). Selain
itu, terdapatt jenis jamur yang mempunyai hifa berlubang sehingga protoplasma dan
inti sel dapat mengalir dari satu sel ke sel yang lainnya. Struktur tubuh jamur dari
golongan Ascomycota ada yang multiselluler dan ada yang uni selluler seperti pada
ragi (Wahyuni, 2010). Hifa Ascomycota umumnya tegak tegak pada miselium yang
ada dipermukaan substrat yang disebut hifa fertil, karena berperan untuk reproduksi.
Hifa fertil dapat berupa sporangiofor atau konidiofor atau korpus dengan tujuan agar
penyebaran sel reproduksi yang dibawanya berlangsung lebih mudah. Hifa-hifa yang
sudah terjalin menjadi suatu jaringan miselium yang makin lama makin tebal akan
membentuk suatu koloniyang dapat dilihat secara kasat mata (Gandjar, 2006).
Hifa yang berseptum dan memiliki satu inti disebut hifa monositik,
sedangkan hifa yang tidak berseptum sehingga memiliki banyak inti disebut hifa
senositik. Fungi yang hifanya tidak berseptum baru membuat septum apabila
fungi tersebut akan membentuk suatu struktur yang akan dilepas dari tubuh
utama atau apabila fungi terpaksa membuat struktur tertentu untuk
melindungi dirinya terhadap keadaan yang kurang menguntungkan, misalnya
dengan membentuk klamidospora (Gandjar, 2006).
Dinding sel Ascomycota memberikan bentuk kepada sel dan melindungi isi sel
dari lingkungan. Meskipun kokoh, dinding sel tetap bersifat permiabel untuk nutrien7
nutrien yang dibutuhkan bagi kehidupan fungi. Komponen penting dinding sel
sebagian besar adalah kitin (Gandjar, 2006).
Septum adalah suatu sekat yang membagi hifa menjadi kompartemen. Meskipun
demikian protoplasma sel masih saling berhubungan karena septum tersebut memiliki
lubang-lubang. Septum pada Ascomycota mengalai suatu pembengkakan disekeliling
pori septum membentuk seperti cincin besar. Ukuran pori septa berkisar 50-500nm
yang berfungsi sebagai transfer sitoplasma dan nutrisi antar septa, sehingga
mempercepat pertumbuhan hifa muda. Beberapa jenis Ascomycota mempunyai
Woronin body yang tersusun atas protein, berfungsi menutup pori dan menjaga
sitoplasma apabila terdapat jaringan yang rusak.
Anatomi Ascomycetes
a) Jamur Ascomycota jamur kantung ada yang uniseluler dan
multiseluler.
b) Ada yang bersifat parasit dan ada juga yang bersifat saprofit.
c) Hifa bersekat.
d) Berkembangbiak secara seksual dengan membentuk spora yang
dihasilkan dalam suatu kantung (askus) yang disebut askospora
e) Berkembangbiak secara aseksual dengan membentuk konidiospora,
yaitu spora yang dihasilkan secara berantai pada ujung suatu hifa
demikian, asam-asam organik seperti asam sitrat, asam fumarat, asam glukonat, asam
laktat, dan sebagainya juga digolongkan sebagai metabolit primer (Djide, 2007).
Salah satu contoh produksi metabolit primer yaitu produksi asam amino melalui
proses mikrobial antara lain adalah produksi L-asam glutamat, yang dikenal dengan
nama monosodium glutamat (Djide, 2007).
1. Metabolit primer
Metabolit primer adalah senyawa yang berupa produk akhir dalam metabolisme
dengan bobot molekul yang kecil dan digunakan sebagai bahan dasar pembangun
makromolekul atau dikonversikan menjadi koenzim. Selain itu termasuk senyawasenyawa intermediet pada jalur Embden-Meyerhof, Pentosa Phosphate,siklus asam
trikarboksilat (siklus Krebs). Contohnya: Asam-asam organik seperti asam sitrat,
asam fumarat, asam amino, dan lain-lain (Fardiaz, 1992). Senyawa metabolisme
primer merupakan senyawa yang dihasilkan oleh makhluk hidup dan bersifat
essensial bagi proses metabolisme sel tersebut. Senyawa ini dikelompokkan menjadi
4 kelompok makromolekul yaitu karbohidrat, protein, lipid,dan asam nukleat
(Fardiaz, 1992).
a. Karbohidrat
Karbohidrat merupakan kelompok makromolekul yang tersusun atas atom
C,H,dan O. kelompok ini sering disebut juga gula-gula hidrokarbon. Berdasarkan
jumlah monomer penusunnya, karbohidrat terbagi atas:
b.
10
d.
11
acremonium).
Imunosupresan: silosporin (Trichoderma polysoprum).
Bidang pertanian: growth promoter Zearalonone (Gibberella zeae).
Enzim: amylase (Aspegillus niger), lipase (Pseudomonas aeruginosa).
Pigmen: ankaflavin (Monascus purpureus).
(Penicillium citrinum).
Toksik dari bakteri bakterotoksin, contoh: endotoksin.
Dapat dimanfaatkan untuk merancang obat berdasarkan struktur molekul
toksin.
Penicillium di atas selain menghasilkan patulin, senyawa yang paling awal
dirancang untuk menjadi antibiotik, tetapi ternyata toksik untuk mamalia
(Fardiaz, 1992).
Metabolisme pada jamur berhubungan dengan nutrisi yang dimakan
oleh jamur tersebut. Jamur akan mengeluarkan enzim yang dapat memecah
makanan atau nutrisi yang tersedia menjadi zat yang lebih sederhana sehingga
jamur tesebut dapat menggunakan nutrisi yang ada. Dengan begitu maka hasil
dari metabolisme pada setiap jamur akan berbeda-beda. Misalnya jamur yang
menggunakan nutrisi berupa karbohidrat maka jamur tersebut akan
mengeluarkan enzim amylase yang merubahnya menjadi glukosa yang mampu
digunakan oleh jamur tersebut.
12
benang
juga
memiliki
kurva
pertumbuhan
seperti
semua
mikroorganisme. Kurva tersebut diperoleh dari menghitung massa sel pada jamur
benang dalam waktu tertentu. Kurva pertumbuhannya memiliki beberapa fase, antara
lain (Gandjar dkk., 2006):
a. Fase Lag, yaitu fase penyesuaian sel-sel dengan lingkungan, pembentukan
enzim-enzim untuk mengurangi substrat.
b. Fase akselerasi, yaitu fase mulainya sel-sel membelah dan menjadi aktif.
c. Fase eksponensial, merupakan fase perbanyakan jumlah sel yang sangat
banyak, aktivitas sel sangat meningkat, dan fase ini merupakan fase yang
penting dalam kehidupan fungi. Pada awal dari fase ini, enzim-enzim dapat
dipanen pada fase akhir ini.
d. Fase deselerasi, yaitu waktu sel-sel mulai kurang aktif membelah. Pada fase
ini dapat dipanen biomassa sel atau senyawa-senyawa yang tidak lagi
diperlukan oleh sel-sel.
e. Fase stasioner, yaitu fase jumlah sel yang bertambah dan jumlah sel yang mati
relatif seimbang. Kurva pada fase ini merupakan garis lurus yang horizontal.
Senyawa metabolit sekunder padat dipanen pada fase ini.
f. Fase kematian dipercepat, jumlah sel-sel yang mati atau tidak aktif sama
sekali lebih banyak daripada sel-sel yang masih hidup.
13
14
15
benang (hifa) yang bercabang-cabang. Kemudian, salah satu dari beberapa sel pada
ujung hifa berdiferensiasi menjadi askogonium, yang ukurannya lebih lebar dari hifa
biasa. Sedangkan ujung hifa yang lainnya membentuk Anteridium. Anteridium dan
Askogonium tersebut letaknya berdekatan dan memiliki sejumlah inti yang haploid.
Pada askogonium tumbuh trikogin yang menghubungkan askogonium dengan
anteredium. Melaui trikogin ini inti dari anteredium pindah ke askogonium dan
kemudian berpasangan dengan inti pada askogonium. Selanjutnya pada askogonium
tumbuh sejumlah hifa yang disebut hifa askogonium. Inti-inti membelah secara
mitosis dan tetap berpasangan. Hifa askogonium tumbuh membentuk septa
bercabang. Bagian askogonium berinti banyak, sedangkan pada bagian ujungnya
berinti 2. Bagian ujung inilah yang akan tumbuh menjadi bakal askus. Hifa
askogonium ini kemudian berkembang disertai pertumbuhan miselium vegetatif yang
kompak, membentuk tubuh buah. Dua inti pada bakal askus membentuk inti diploid
yang kemudian membelah secara meiosis untuk menghasilkan 8 spora askus
(askospora). Apabila askospora tersebut jatuh pada lingkungan yang sesuai maka ia
akan tumbuh membentuk hifa atau miselium baru. Reproduksi aseksual pada
Ascomycotina adalah dengan cara membentuk tunas dan spora aseksual.
Pembentukan tunas terjadi pada jamur uniseluler dan spora aseksual pada jamur
terjadi pada jamur multiseluler. Spora aseksual tersebut terbentuk pada ujung hifa
khusus yang disebut konidiofor dan sporanya disebut konidia. Konidia merupakan
spora yang dihasilkan secara eksternal, yaitu di luar kotak spora atau sporangium.
Reproduksi aseksual pada ascomycota multiseluler dengan fragmentasi
miselium dan membentuk konidia (spora pada ujung konidifor). Pada jamur bersel
banyak berlangsung dengan membentuk Konida atau Konidiospora yang merupakan
spora vegetatif. Pada jamur bersel satu berlangsung dengan cara membentuk Tunas
(blastospora). Pada waktu masih muda, tunas menempel pada sel induk dan setelah
dewasa, tunas melepaskan diri dari sel induk, misalnya Saccharomyces. Reproduksi
seksual pada ascomycota dilakukan dengan pembentukan askospora melalui beberapa
tahap, yaitu:
16
trikogin (menghubungkan
berpasangan.
Kedua inti mengalami kariogami (penyatuan inti) sehingga terbentuk diploid.
Diploid mengalami meiosis membentuk 4 inti haploid.
Masing masing membelah secara mitosis
Didalam askus terdapat 8 inti haploid
Kedelapan inti dikelilingi dinding sel membentuk askosphora.
Askosphora masak akan pecah keluar jatuh di tempat yang cocok akan
berkecambah membentuk hifa haploid baru (miselia)
Siklus Hidup
Ascomycotina disebut juga sebagai the sac fungi. Merupakan fungi yang
reproduksi seksualnya dengan membuat askospora di dalam askus (ascus = sac
17
atau
kantung/pundi-pundi).
Askus
adalah
semacam
sporangium
yang
18
dan padi. Sedangkan jamur saprofit hidup pada bahan makanan atau sampah.
Organisme yang disebut fungi bersifat heterotroph, dinding selnya mengandung kitin,
tidak berplastid, tidak berfotosintesis, tidak bersifat fagosit, umumnya memiliki hifa
yang berdinding yang dapatberinti banyak atau berinti tunggal, dan memperoleh
nutrient dengan cara absorbs.
Klasifikasi organisme berdasarkan kekerabatan evolusi diawali Whittaker
(1969) yang mengenalkan system lima kingdom (=reknum) menumbangkan system
tiga kingdom. Menurut Whittaker, system tiga kingdom yaitu prokariota, hewan dan
tumbuhan tidak menunjukkan kekerabatan mereka. System lima kingdom yang
diusulkannya, menunjukkan kekerabatan evolusi diantara kelima kingdom tersebut.
Hal tersebut merupakan awal usaha menetapkan kelompok mono filetik untuk
mengembangkan suatu klasikasi yang menunjukkan kekerabatan evolusi kelompokkelompok (Alexopoulus et al, 1996).
Ada banyak cara mengelompokkan fungi. Pada taksonomi kondisional
dikelompokkan berdasarkan informasi fenotipik, yaitu informasi yang berdasarkan
protein dan fungsinya, karakter-karakter kemotaksonomi fisiologi dan anatomi.
Kemotaksonomi
adalah
pengelompokan
fungi
dengan
pendekatan
analitik,
informasi genotipik dari suatu organisme. Informasi genotipik adalah informasi yang
berasal dari asam nukleat (DNA atau RNA) yang berada di dalam sel.
Ascomycota dibagi menjadi tiga kelas yaitu :
1. Archiascomycetes
2. Hemiascomycetes
3. Euastomycetes.
19
Ascomycotina, Divisi ini bercirikan talus yang terdiri dari miselium bersepta.
Reproduksi seksual membentuk askospora di dalam askus. Ada yang hidup sebagai
parasit, yang menimbulkan panyakit pada tumbuhan. Bentuk askus ada bermacammacam, antara lain :
anggur minuman.
B. Kelas Archiascomycetes
Merupakan bentuk Ascomycota primitive atau basal Ascomycetes.
Merupakan keturunan yang mengalami reduksi dari spesies-spesies yang lebih
kompleks yang mempnyai askomata. Memiliki tahapan seksual ascogenos,
tetapi tidak memiliki hifa ascogenos. Reproduksi aseksual dengan pertunasan
20
atau pembelahan kecuali pada genus Neolekta tidak ada ascomata ataupun
konidiomata. Kelas ini dibagi 5 ordo antara lain :
a. Ordo Pneumocystidales
Merupakan penyebab pneumonia pada pasien HIV, contohnya adalah
Pnemocystis carinii. Fungi ini dahulunya dianggap sebagai protozoa
b. Ordo Schizosaccharomycetales
Lebih dikenal denga fission yeasts karena reproduksi vegetatifnya dengan
pembelahan sel.
c. Ordo Neolectales
Pada genus Neolecta mempunyai apotecia berbentuk clavatus dan
bertangkai
d. Ordo Promycetales
Terdiri dari satu family protomycetaceae dengan 5 genera yang terdiri dari
20 spesies. Merupakan parasit pada tumbuhan berpembuluh.
e. Ordo Taprinales
Terdiri dari satu family taprinaceae dengan genus tunggal kaprina yang
terdiri dari hamper 100 spesies. Genus kaprina merupakan parasit bersifat
demorfik, membentuk miselia dikariotik. Dan askus terbuka pada fase
parasitic membentuk pertunasan sel.
C. Kelas Euascomycetes
Umumnya fungi Ascomycetous memiliki filament. Komposisi dinding
selnya didominasi oleh kitin dan glukan. Mempunyai lubang septum dengan
woronin bodies. Euascomycetes dapat membentuk ascogonia dan ascomata.
Kebanyakan menghasilkan hifa pada medium buatan. Euascomycetes ini
terdiri dari 3 sub klas yaitu:
a. Sub kelas Plektomycetes
Tidak dapat membentuk askomaseluler dan askusnya yang prototunikata
tidak mempunyai hamathecium, askus terdapat bebas di atas miselium,
askokarpanya berupa cleistotecium, askokarpanya tidak berseptum,
misalnya Monascus sp. Dan Emirecela sp. Kelas ini terdiri dari 3 ordo
yaitu Ascosphaerales, Onygenales, dan Eurotyales
b. Sub kelas Hymenoascomycetes
21
sumber
adonan
gula
dan
roti Saccharomyces
salah
satu hasil
8. Aspergillus
oryzae merombak
zat
pati
dalam
pembuatan
minuman
Penicillium
chrysogenum
bioteknologi
dalam
pembuatan
tape
siongkong
adalah
saat
ditambahkannya ragi sebagai bahan dalam pembuatan tape siongkong. Ragi adalah
mikroorganisme hidup yang dapat ditemukan dimana-mana. Ragi berasal dari
keluarga
Fungus
bersel
species cereviciae,
dan
satu
(sugar
memilki
fungus)
ukuran
dari
genus
sebesar
Saccharomyces,
6-8
mikron.
23
hidup, ragi membutuhkan air, makanandan lingkungan yang sesuai. Ragi memiliki
sifat dan karakter yang sangat penting dalam industri pangan. Ragi akan berkembang
dengan baik dan cepat bila berada pada temperatur antara 250C 300C.
Saccharomyces cereviciae yang penting dalam pembuatan tape singkong
memiliki sifat dapat memfermentasikan maltosa secara cepat (lean dough yeast),
memperbaiki
dough
yeast), rapid
fermentation
24
25
n(C6H12O6)
2C6H12O6
2 C2H5OH + 2 CO2
Adapun secara rinci reaksi dalam proses fermentasi tape dapat dijelaskan sebagai
berikut:
a. Perubahan pati menjadi komponen gula
oleh enzim amylase yang dihasilkan oleh kapang Amylomices rouxii,
Aspergillus oruzae, Mucos rouxii.
( C6H1206)n + nH2O -> C6H12O6
pati
glukosa
(C6H10O5)n + n/2 H2O -> n/2 (C12H22O11)
pati
maltosa
b. Perubahan komponen disakarida menjadi monosakarida
Oleh enzim maltase atau invertase
C12H22O11 + H2O -> C6H12O6 + C6H12O6
maltose
glukosa
glukosa
C12H22O11 + H2O -> C6H12O6 + C6H12O6
sukrosa
glukosa
fruktosa
26
Invertase
Mengubah sukrosa menjadi invert sugar ( glukosa dan sukrosa ) yang
difermentasi secara langsung oleh ragi. sukrosa dalam adonan akan diubah
menjadi glukosa pada tahap akhir mixing. reaksi yang terjadi adalah :
sukrosa + air gula invert
C12H22+H2O invertase 2C6H12O6
Maltase
Mengubah malt sugar atau maltose yang ada pada malt syrup menjadi dekstrosa.
dekstrosa difermentasi secara langsung oleh ragi.
Zymase
Mengubah invert sugar dan dekstrosa menjadi gas karbondioksida yang akan
menyebabkan adonan menjadi mengembang dan terbentuk alcohol. enzim
zymase merupakan biokatalis yang digunakan dalam proses fermentasi.
Rasa masam disebabkan pati yang diubah oleh enzim amilase menjadi gula
Selain enzim yang dihasilkan oleh ragi, pada proses pembungkusan dan
penyimpanan juga melibatkan beberapa enzim. Secara singkat perubahan biokimia
selama fermentasi tape dapat ditulis sebagai berikut :
Mula-mula pati dalam singkong akan diubah oleh enzim amilase yang
dikeluarkan oleh mikroba tersebut menjadi maltosa.
Pada fermentasi tape yang lebih lanjut alkohol oleh enzim alkoholase dapat
diubah menjadi asam asetat, asam piruvat dan asam laktat. Terbentuknya asam
asetat, asam piruvat dan asam laktat karena adanya bakteri Acetobacter yang
sering terdapat dalam ragi yang bersifat oksidatif.
Menyatakan bahwa asam piruvat adalah produk yang terbentuk pada hidrolisis
glukosa menjadi etanol. Asam piruvat dapat diubah menjadi etanol dan asam laktat.
Asam-asam organik dari alkohol membentuk ester aromatik sehingga tape memiliki
cita rasa yang khas.
Peranan dari Senyawa yang Dihasilkan dalam Fermentasi Tape pada
Bidang Kesehatan
28
Dalam proses fermentasi tape, senyawa yang dihasilkan yaitu berupa ethanol
(alkohol) serta gas CO2. Adapun beberapa manfaat alkohol bagi kesehatan yaitu:
1. Mengurangi Tekanan Darah
Jika alkohol dikonsumsi dalam dosis yang cukup rendah diketahui sangat
efektif membantu mengurangi tekanan darah yang tinggi. Dalam hal ini alkohol akan
bekerja membersihkan timbunan lemak pada pembuluh arteri dan sekaligus
mengurangi pembekuan darah yang terjadi. Hal ini berarti risiko penyakit jantung dan
juga serangan jantung bisa ditekan. Manfaat yang luar biasa pastinya terlebih setelah
mengetahui penyakit jantung menjadi salah satu jenis penyakit mematikan yang patut
dihindari. Ingat untuk tidak mengonsumsi alkohol secara berlebihan meski ada
manfaat untuk tubuh. Jika Anda mengkonsumsi alkohol dalam dosis berlebih efeknya
malah bisa mengundang sejumlah dampak negatif dan mengganggu reaksi obat yang
dikonsumsi.
2. Meminimalisir Risiko Stroke
Manfaat alkohol selanjutnya yaitu dapat meminimalisir risiko penyakit stroke.
Namun, tentu manfaat ini bisa didapat selama pengonsumsian alkohol masih dalam
batasan wajar. Adapun jenis stroke iskemik menjadi salah satu jenis stroke yang
paling umum menyerang. Jenis stroke yang satu ini diketahui disebabkan karena
adanya penyumbatan pada pembuluh darah yang menuju organ otak. Sementara jenis
stroke yang lain yaitu stroke hemoragik yang terjadi akibat darah merembes atau
bocor dan keluar dari pembuluh darah dalam otak. Tentu selama risiko stroke bisa
dicegah dan di minimalisir, upaya yang bisa dilakukan harus dicoba dan salah satunya
dengan mengambil alkohol. Sangat menarik bukan mengupas tentang khasiat alkohol
dalam kehidupan sehari-hari.
3. Membantu Memperbaiki Kualitas Tidur
Manfaat alkohol dalam kehidupan sehari-hari selanjutnya yaitu dapat
membantu memperbaiki kualitas tidur malam. Pastinya manfaat ini bisa membantu
Anda yang sering mengalami gangguan susah tidur atau insomnia. Hal ini tidak lain
karena efek mengantuk yang diberikan alkohol pada tubuh manusia. Untuk
mendapatkan manfaat ini bisa dicoba dengan menonsumsi alkohol sesuai dengan
29
dosis yang dianjurkan oleh dokter. Diketahui dosis yang aman dan dianjurkan untuk
membantu memperbaiki kualitas tidur tidak lebih dari satu gelas.
4. Menjaga Kesehatan Kardiovaskular
Alkohol dalam jumlah terkontrol dapat meningkatkan kadar HDL (high density
lipoprotein) atau kolesterol baik dan tingkat HDL yang lebih tinggi terkait dengan
perlindungan yang lebih besar terhadap penyakit jantung. Konsumsi alkohol dalam
jumlah sedang juga telah dikaitkan dengan perubahan yang bermanfaat mulai dari
sensitivitas insulin yang lebih baik untuk perbaikan dalam faktor-faktor yang
mempengaruhi pembekuan darah. Proses ini sangat penting untuk mencegah
pembentukan gumpalan darah kecil yang dapat memblokir arteri di jantung, leher,
dan otak, penyebab utama banyak serangan jantung dan stroke.
5. Meningkatkan Kehangatan Tubuh
Sudah tentu manfaat ini akan anda peroleh otomatis ketika mengkonsumsi
alkohol, tubuh akan terasa hangat. Alkohol telah lama digunakan di berbagai negara
eropa dengan intensitas musim dingin yang tinggi untuk menghangatkan badannya.
6. Mengurangi batu Ginjal
Studi yang dilakukan oleh peneliti dari University of East Anglia, menemukan
bahwa konsumsi alkohol dalam batas normal dapat menekan terjadinya batu ginjal.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
1. Sebagian besar Ascomycota bersifat multiseluler, hifa bersekat, memiliki
tubuh buah (askokarp) yang bentuknya beragam. Didalamnya terdapat
kantong spora (askus).
30
2. Metabolit
tiga
kelas
yaitu
Archiascomycetes,
makalah
ini
masih
banyak
kekurangan,
maka
diperlukan
GLOSARIUM
miselium
Arkegonium : Alat reproduksi betina pada Jamur Ascomycotina.
31
Askospora: Spora yang terdaat di dalam askus yang dibentuk oleh dua jenis
terurai.
Hifa: Benang benang halus penyusun jamur.
Karyogami: penggabungan inti
Klamidiospora: spora yang berdinding tebal.
Klasifikasi: Pengelompokan makhluk hidup berdasarkan persamaan dan
perbedaan diri.
Konidiofor: Hifa generative pendukung konidia.
Konidiospora: Spora aseksual yang dihasilkan di ujung konidiofor pada
sakarida
Meiosis: Proses seluler yang membelah sel diploid menjadi sel haploid.
Miselium primer: Miselium yang sel selnya berinti satu.
Miselium sekunder: Miselium yang sel selnya berinti dua.
Miselium: Hifa bercabang membentuk bangunan seperti anyaman.
Mitosis: Cara pembelahan sel yang menghasilkan dua sel anak yang secara
32
33
34
ini ada yang bermanfaat bagi organisme lain dan ada juga yang merugikan
organisme lain.
3. Bagaimana hubungan antara ketersediaan nutrisi dengan fase pertumbuhan
fungi?
Jawaban:
Fase
Lag,
yaitu
fase
penyesuaian
sel-sel
dengan
lingkungan,
sama sekali.
Fase akselerasi, yaitu fase mulainya sel-sel membelah dan menjadi aktif.
Pada fase ini ketersediaan nutrisi banyak dan sudah bisa digunakan oleh
fungi.
Fase eksponensial, merupakan fase perbanyakan jumlah sel yang sangat
banyak, aktivitas sel sangat meningkat, dan fase ini merupakan fase yang
penting dalam kehidupan fungi. Pada awal dari fase ini, enzim-enzim
dapat dipanen sehingga fungi sudah mampu menggunakan nutrisi yang
tersedia.
Fase deselerasi, yaitu waktu sel-sel mulai kurang aktif membelah. Pada
fase ini dapat dipanen biomassa sel atau senyawa-senyawa yang tidak lagi
35
Jawaban:
sebenarnya
reproduksi
pada
fungi
itu
terjadi
secara
: Fungi
Subkingdom
: Dikarya
Divisi
: Ascomycota
Subdivisi
: Saccharomycotina
Kelas
: Saccharomycetes
Ordo
: Saccharomycotales
Family
: Saccharomycotaceae
Genus
: Saccharomyces
Spesies
: Saccharomyces cerevisiae
2. Candida utilis
Kingdom
: Fungi
Subkingdom
: Dikarya
Divisi
: Ascomycota
Subdivisi
: Saccharomycotina
Kelas
: Saccharomycetes
Ordo
: Saccharomycotales
Family
: Saccharomycopsidaceae
Genus
: Candida
Spesies
: Candida utilis
36
3. Neurospora sitophila
Kingdom
: Fungi
Divisi
: Ascomycota
Kelas
: Ascomycetes
Ordo
: Sordariales
Family
: Sordariaceae
Genus
: Neurospora
Spesies
: Neurospora sitophila
6. Apa yang terjadi jika fermentasi tape dilakukan di dalam kulkas atau dalam
suhu yang sangat rendah?
Jawaban : Singkong yang telah diberi ragi tersebut tidak akan dapat
difermentasi dengan sempurna oleh jamur karena semakin rendah suhu maka
proses fermentasi semakin lambat. Hal ini kaitannya dengan respirasi yang
dilakukan oleh jamur, yang disebut pula dengan fermentasi. Jamur akan tidak
bekerja secara maksimal atau bahkan jamur tersebut dapat inaktif karena
suhunya terlalu rendah.
37
DAFTAR PUSTAKA
Azizah, N. 2012. Pengaruh Lama Fermentasi Terhadap Kadar Alkohol, pH, dan
Produksi Gas pada Proses Fermentasi Bioetanol Dari Whey dengan
Substitusi Kulit Nanas. Jurnal Aplikasi Teknologi Pangan. Vol 1 (2).
Djide, N., Sartini, dan Kadir, S., 2007. Bioteknologi Farmasi. Makassar: UNHAS
press.
Fardiaz, S., 1992. Mikrobiologi Pangan 1. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Gandjar, Indrawati dan Sjamsuridzal W. 2006. Mikologi dasar dan Terapan. Jakarta:
Yayasan Obor Indonesia.
Madigan MT, Martinko JM. 2006. Brock Biology of Microorganisms 11th ed. New
Jersey : Pearson Education.
Samson RA, Houbraken J, Summerbell RC, Flannigan B, Miller JD. 2001. Common
and important species of fungi and actinomycetes in indoor environments. In:
Microogranisms in Home and Indoor Work Environments. New York: Taylor &
Francis.
38
39