0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
137 tayangan9 halaman

Rangkuman Prinsip UNIDROIT 2004

Dokumen tersebut merangkum Prinsip-Prinsip UNIDROIT 1994 yang mengatur hukum kontrak internasional. Prinsip-prinsip tersebut mencakup kebebasan berkontrak, itikad baik, pengakuan hukum kebiasaan dagang, kesepakatan melalui penawaran dan penerimaan, serta perlindungan pihak lemah dari syarat-syarat baku.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
137 tayangan9 halaman

Rangkuman Prinsip UNIDROIT 2004

Dokumen tersebut merangkum Prinsip-Prinsip UNIDROIT 1994 yang mengatur hukum kontrak internasional. Prinsip-prinsip tersebut mencakup kebebasan berkontrak, itikad baik, pengakuan hukum kebiasaan dagang, kesepakatan melalui penawaran dan penerimaan, serta perlindungan pihak lemah dari syarat-syarat baku.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Nama

NPM
Tugas
MatKul
Oleh

: Agil Okta Yohan Ferzia


: 110120140516
: Rangkuman UNIDROIT
: Hukum Kontrak Internasional
: Prof. Dr. Huala Adolf, S.H., LL.M., Ph.D.
Dr. Hj. Shinta Dewi, S.H., LL.M.

The UNIDROIT Principles of International Commercial Contract 1994


(Prinsip UNIDROIT)
The UNIDROIT Principles of International Commercial Contract 1994
(Prinsip UNIDROIT) merupakan salah satu upaya harmonisasi hukum atau
pengaturan dalam hukum kontrak internasional. Prinsip UNIDROIT ini
diperbaharui pada tahun 2004 untuk menyesuaikan diri dengan perkembangan
perdagangan [Link] UNIDROIT adalah hasil karya Working Group
yang terdiri dari para ahli sebagai perwakilan dari sistem-sistem hukum dan
ekonomi di dunia.
UNIDROIT sendiri adalah International Institute for the Unification of
Private Law. Indonesia telah meratifikasi Konvensi UNIDROIT melalui Peraturan
Presiden Republik Indonesia Nomor 59 Tahun 2008 tentang Pengesahan Statute
of International Institute for The Unification of Private Law (Statuta Lembaga
Internasional Untuk Unifikasi Hukum Perdata). Prinsip UNIDROIT sebenarnya
tidak memiliki kekuatan hukum apapun, namun dapat digunakan sebagai choice
of law atau diterapkan sebagai prinsip-prinsip hukum umum, kebiasaan atau
praktek dalam perdagangan internasional maupun lex mercatoria.
Perbedaan Prinsip UNIDROIT dengan CISG 1980 antara lain bahwa Prinsip
UNIDROIT merupakan upaya pengaturan hukum kontrak internasional terhadap
transaksi yang tidak terbatas pada jual-beli barang internasional sedangkan CISG

mengkhususkan pada kontrak jual-beli barang internasional. Tujuan Prinsip


UNIDROIT sesuai Preambul adalah:
1. Menciptakan suatu aturan yang berimbang, sehingga diharapkan para pelaku
perdagangan internasional yang berlatar belakang tingkat ekonomi, sistem
politik dan sistem hukum yang berbeda dapat menggunakannya.
2. Dapat digunakan oleh para pihak ketika terjadi kebuntuan dalam menentukan
hukum mana yang akan dipilih, dengan kesepakatan untuk memilih choice of
law prinsip UNIDROIT.
3. Dapat digunakan oleh para pihak untuk menafsirkan suatu klausul dalam
kontrak yang menimbulkan sengketa karena perbedaan penafsiran.
4. Dapat digunakan sebagai model law.
Prinsip UNIDROIT 2004 terdiri dari 10 Chapter dan 184 Articles. Sistematika
Prinsip UNIDROIT terdiri dari Preamble (Pembukaan), Chapter 1 : General
Provision (Ketentuan-ketentuan Umum)

dan Chapter 2 : Formation and

Authority of Agents (Pembentukan Perjanjian dan Kewenangan Agen), Chapter 3


: Validity (Validitas/Keabsahan Perjanjian), Chapter 4 : Interpretation (Penafsiran
Persyaratan Perjanjian), Chapter 5 : Content and Third Party Right (Isi Perjanjian
dan Hak Pihak Ketiga), Chapter 6

: Performance (Pelaksanaan Perjanjian),

Chapter 7 : Non Performance (Wanprestasi dan akibat-akibatnya), Chapter 8 :


Set Off (Penjumpaan Hutang), Chapter 9 : Assigment of Right, Transfer of
Obligation, Assigment ofContract (Pengalihan Hak, Pengalihan Kewajiban dan
Pengalihan Perjanjian), Chapter 10: Limitation Periods (Tenggang Waktu
Daluarsa).
Terdapat antara lain 12 prinsip utama dalam hukum kontrak yang dipakai
dalam Prinsip UNIDROIT yaitu :
1. Prinsip Kebebasan Berkontrak (Pasal 1.1)

Para pihak bebas untuk membuat kontrak dan menentukan isi serta bentuk
kontrak. Kontrak tersebut mengikat sebagai Undang-undang bagi para pihak.
Terdapat

beberapa

pengecualian

terhadap

kebebasan

seperti

tidak

menyimpangi hukum yang berlaku, kesusilaan dan ketertiban umum.


Para pihak tidak hanya bebas untuk memutuskan kapan dan dengan siapa
melakukan negosiasi, namun juga bebas menentukan kapan, bagaimana dan
untuk berapa lama proses negosiasi dilakukan sebelum membuat kontrak.
2. Prinsip Itikad Baik (good faith)(Pasal 1.7)
Prinsip dasar yang melandasi seluruh proses kontrak yaitu mulai dari
proses negosiasi, pembuatan, pelaksanaan sampai berakhirnya kontrak.
Tujuannya adalah tercapainya suatu keadaan yang adil dalam transaksitransaksi dagang internasional.
Walaupun dinyatakan bebas untuk menentukan isi kontrak, tetapi segala
hal yang dicantumkan di dalam kontak tersebut harus berdasarkan dengan
prinsip bonafide. Berdasarkan prinsip ini, apa yang telah disepakati para
pihak, maka kesepakatan itu harus dihormati dan dilaksanakan dengan itikad
baik.
3. Prinsip Pengakuan Hukum sebagai Kebiasaan dagang (Pasal 1.9)
Prinsip ini mengakui kekuatan mengikat praktek kebiasaan dagang,
disebut pula sebagai keterbukaan terhadap kebiasaan dagang. Pengakuan ini
didasarkan pada pertimbangan bahwa kebiasaan dangan bukan saja secara
fakta mengikat tetapi juga karena perkembangannya dari waktu ke waktu.
Keterikatan ini tidak hanya terhadap kebiasaan dagang yang biasa dilakukan
atau disepakati para pihak namun juga terhadap kebiasaan dagang yang telah
umum dalam perdagangan internasional.
4. Prinsip Kesepakatan melalui Penawaran
(Acceptance)(Pasal 2.1.1)

(Offer)

dan

Penerimaan

Prinsip ini menganut teori bahwa saat terjadinya kontrak adalah saat
terjadinya kesepakatan, yaitukesepakatan terjadi setelah adanya penawaran
(offer) dari salah satupihak dan dikuti dengan penerimaantawaran
(acceptance) oleh pihak lain dalamkontrak tersebut. Teori ini diakui
secaraumum di setiap sistem hukum.
Namun dalam prakteknya terkadang kontrak menyangkut transaksi yang
rumit dan seringkali terwujud setelah melalui negosiasi yang cukup panjang
tanpa diketahui urutan penawaran dan penerimaannya, sehingga sulit untuk
menentukan kapan kata sepakat itu terjadi.
5. Prinsip Larangan Bernegosiasi dengan Itikad Buruk (Pasal 2.1.15)
Proses negosiasi antara para pihak walaupun belum menimbulkan
kontrak/hubungan hukum antara mereka, namun telah menimbulkan
tanggung jawab hukum, yaitu apabila seseorang membatalkan negosiasi tanpa
alasan yang sah atau dengan kata lain seseorang telah melakukan bad faith
dan/atau unfair dealing dalam proses negosiasi, maka ia dapat dituntut
pertanggung jawaban secara hukum.
Tanggung jawab atas negosiasi dengan itikad buruk terbatas hanya pada
kerugian yang diakibatkannya terhadap pihak lain. Pihak yang dirugikan
hanya dapat menuntut pengembalian atas biaya yang telah dikeluarkan dan
atas kehilangan kesempatan untuk melakukan kontrak dengan pihak ketiga.
Akan tetapi ia tidak dapat menuntut ganti rugi atas keuntungan yang
diharapkan dari kontrak yang batal diadakan itu.
6. Prinsip Kewajiban Menjaga Kerahasiaan(Pasal 2.1.16)
Ketika para pihak melakukan negosiasi, tentu ada rahasia perusahaan yang
terbuka dan diketahui oleh kedua belah pihak. Prinsip ini mewajibkan para
pihak untuk merahasiakan segala informasi yang diketahui selama proses
negosiasi.

Kerahasiaan

ini

dilindungi,

sehingga

bagi

pihak

yang

membocorkan atau menggunakan informasi tersebut demi kepentingan


sendiri dapat dimintai ganti rugi terutama berdasarkan keuntungan yang
didapatkannya dari informasi tersebut.
Apabila tidak ada kewajiban yang disepakati, para pihak dalam negosiasi
pada dasarnya tidak wajib untuk memberlakukan bahwa informasi yang
mereka pertukarkan sebagai hal yang rahasia. Dengan kata lain, para pihak
diberi kebebasan untuk menentukan informasi mana yang bersifat rahasia dan
tidak.
7. Prinsip Perlindungan Pihak Lemah dari Syarat-syarat Baku (Pasal [Link].22)
Pasal ini mengandung ketentuan sebagai berikut:
a. Apabila salah satu pihak atau kedua belah pihak menggunakan syarat baku, maka
berlaku aturan umum tentang pembentukan kotrak dengan tunduk pada
UNIDROIT Principles Pasal 2.1.20 sampai 2.1.22
b. Syarat baku merupakan aturan yang dipersiapkan terlebih dahulu untuk
dipergunakan secara umum dan berulang-ulang oleh salah satu pihak yang
secara nyata digunakan tanpa negosiasi dengan pihak lain
Dalam penggunaan syarat baku ini, tetap harus dicapai kesepakatan dan
jika kesepakatan tersebut mengubah salah satu syarat baku, maka yang
dianggap berlaku adalah kesepakatan yang dicapai.
8. Prinsip Syarat Sahnya Kontrak (Pasal 3.1)
Prinsip ini menyatakan bahwa suatu kontrak tidak sah jika subjeknya tidak
memiliki kemampuan, tidak memiliki kewenangan, serta objeknya amoralitas
dan ilegalitas. Tidak memungkinkan bahwa semua dasar syarat sahnya
kontrak yang ditemukan dalam berbagai sistem hukum nasional dipakai
dalam ruang lingkup prinsip UNIDROIT, sehingga UNIDROIT menyatakan
prinsip syarat sahnya kontrak lewat pembatasan ini.
9. Prinsip dapat dibatalkannya kontrak bila mengandung perbedaan besar (gross
disparity) (Pasal 3.10)

10. Prinsip ini pada dasarnya merupakan pelaksanaan dari prinsip itikad baik
serta prinsip keseimbangan dan keadilan. Hal ini dilandasi kenyataan bahwa
terkadang terjadiperbedaan yang besar dari para pihak dalam perdagangan
internasional. Oleh karena itu, diperlukannya sistem aturan yang dapat
melindungi pihak yang memiliki posisi yang tidak menguntungkan.
Salah satu pihak boleh meminta pembatalan kontrak apabila terjadi
perbedaan mencolok (gross disparity) yang memberikan keuntungan
berlebihan dan secara tidak sah kepada salah satu pihak.\
Adanya perbedaan yang besar mengenai keuntungan yang tidak
dibenarkan, hal ini disebabkan oleh posisi tawar yang seimbang, sifat dan
tujuan dari kontrak, dan faktor-foktor lain sehingga menimbulkan hak untuk
membatalkan atau mengubah kontrak tersebut.
Atas permintaan pembatalan kontrak oleh pihak yang berhak, pengadilan
dapat mengubah kontrak atau syarat tersebut agar sesuai dengan standar
komersial yang wajar dari transaksi yang jujur. Pengadilan dapat juga
mengubah seluruh kontrak atau sebagian syaratnya atas permintaan pihak
yang menerima pemberitahuan pembatalan. Pemohon harus memberitahu
pihak lawan tentang permohonannya tersebut.
11. Prinsip contra proferentem dalam penafsiran kontrak baku (Pasal 4.6)
Ketentuan ini menyatakan bahwa jika syarat kontrak yang diajukan oleh
salah satu pihak tidak jelas, maka penafsiran yang berlawanan dengan pihak
tersebut harus didahulukan.
Para pihak harus bertanggung jawab atas rumusan syarat kontrak, baik
kontrak yang dirancang sendiri maupun karena adanya pengajuan syaratsyarat terhadapkontrak tersebut.
Apabila para pihak dalam kontrak tidak sepakat atas suatu syarat yang
penting dalam menentukan hak dan kewajiban mereka, maka harus dipilih

syarat yang paling tepat dengan keadaan tersebut. Faktor-faktor yang dapat
a.
b.
c.
d.

digunakan untuk menentukan syarat-syarat yang tepat, sebagai berikut:


Kehendak para pihak;
Sifat dan tujuan dari kontrak
Itikad baik dan transaksi wajar;
Kelayakan.
Jika keinginan para pihak tidak ditentukan secara jelas, syarat yang
diajukan dapat ditentukan sesuai dengan sifat dan tujuan dari kontrak
tersebut. Hal ini dengan tetap memperhatikan prinsip itikad baik serta
kewajaran.
12. Prinsip menghormati Kontrak ketika terjadi Kesulitan (hardship)(Pasal [Link].3)
Apabila pelaksanaan kontrak menjadi lebih berat bagi salah satu pihak,
pihak tersebut bagaimanapun juga terikat melaksanakan perikatannya dengan
tunduk pada ketentuan tentang hardship. Ketentuan ini menentukan dua hal
pokok, yaitu sifat mengikat dari kontrak sebagai aturan umum dan perubahan
keadaan yang relevan dengan kontrak jangka panjang.
Definisi tentang peristiwa yang dapat dikategorikan sebagai hardship
adalah peristiwa yang secara fundamental telah mengubah keseimbangan
kontrak. Hal ini diakibatkan oleh biaya pelaksanaan kontrak meningkat
sangat tinggi atau nilai pelaksanaan kontrak bagi pihak yang menerima sangat
menurun, sementara itu:
[Link] itu terjadi atau diketahui oleh pihak yang dirugikan setelah
penutupan kontrak;
[Link] tidak dapat diperkirakan secara semestinya oleh pihak yang
dirugikan pada saat penutupan kontrak;
[Link] terjadi di luar kontrol dari pihak yang dirugikan;
[Link] dari peristiwa itu tidak diperkirakan oleh pihak yang dirugikan.

Menurut prinsip umum, adanya perubahan keadaan tidak mempengaruhi


kewajiban pelaksanaan kontrak, oleh karena itu adanya hardship tidak dapat
dijadikan alasan pembatalan kontrak, kecuali perubahan itu bersifat
fundamental. Akibat hukum dari peristiwa ini sebagai berikut:
[Link] yang dirugikan berhak untuk meminta renegosiasi kontrak kepada
pihak lain. Permintaan tersebut harus diajukan segera dengan menunjukan
dasar-dasarnya;
[Link] renegosiasi tidak dengan sendirinya memberikan hak kepada
pihak yang dirugikan untuk menghentikan pelaksanaan kontrak;
[Link] para pihak gagal untuk mencapai kesepakatan dalam jangka waktu
yang wajar, masing-masing pihak dapat mengajukannya ke pengadilan;
[Link] pengadilan membuktikan adanya hardship maka pengadilan dapat
memutuskan untuk mengakhiri kontrak pada tanggal dan jangka waktu
yang pasti, atau dapat pula mengubah kontrak untuk mengembalikan
keseimbangannya.
13. Prinsip pembebasan tanggung jawab dalam keadaan memaksa (force
majeure)(Pasal 7.1.7)
Rumusan force majeure sendiri adalah :
a. Peristiwa yang menyebabkan force majeure adalah perisitiwa yang di luar
kemampuannya
b. Adanya peristiwa tersebut mewajibkan pihak yang mengalaminya untuk
memberitahukan pihak lainnya mengenai telah terjadinya force majeure
Prinsip ini sebenarnya lebih dikenal dalam konsep hukum Eropa kontinental,
sedangkan dalam common law dikenal doktrin Frustation dan impossibility of
performance. Definisi atau batasan prinsip ini penting, karena dapat
menimbulkan perbedaan penafsiran dari para pihak. Namun dalam Prinsip
UNIDROIT definisi prinsip ini tidak dijelaskan sehingga dikembalikan pada
para pihak.

Ketentuan ini tidak mencegah salah satu pihak untuk menggunakan haknya
mengakhiri kontrak, menahan pelaksanaan kontrak, atau meminta pembayaran
bunga atas uang yang telah jatuh tempo

Anda mungkin juga menyukai