II-1
STUDI PUSTAKA
BAB II
STUDI PUSTAKA
2.1.
TINJAUAN UMUM
Yang perlu diperhatikan dalam perencanaan struktur jembatan yang berfungsi
paling baik memenuhi pokok-pokok sebagai berikut: kekuatan & stabilitas struktural,
kelayanan, keawetan, kemudahan pelaksanaan, ekonomis, dan bentuk estetika yang
baik.
Struktur suatu jembatan terdiri atas: bangunan atas, bangunan bawah, pondasi,
bangunan pelengkap, serta oprit. Bangunan atas (upper structure) dapat memakai
balok/girder atau rangka baja, sandaran, pelat trotoir, pelat lantai kendaraan, andas
(elastomer bearing), serta pelat injak. Sedang bangunan bawah (sub structure) dapat
berupa kepala jembatan/abutment, pilar/pier (jika ada) dan Wing Wall. Pondasi dapat
menggunakan pondasi langsung, sumuran, bore pile maupun tiang pancang,
tergantung dari kondisi tanah dasarnya. Bangunan pelengkap seperti : dinding
penahan tanah. Serta oprit jembatan.
Sebelumnya, ada beberapa aspek yang perlu ditinjau yang nantinya akan
mempengaruhi dalam perencanaan jembatan, aspek tersebut antara lain :
Pemilihan lokasi jembatan.
Lalu lintas.
Hidrologi.
Tanah.
Pemilihan tipe struktur.
STUDI PUSTAKA
2.2.
II-2
STANDAR PERENCANAAN
Perencanaan jembatan ini didasarkan pada peraturan-peraturan yang berlaku
di Indonesia dan yang dikeluarkan oleh Dinas Pekerjaan Umum, antara lain:
1. Pedoman Perencanaan Pembebanan Jembatan Jalan Raya (PPPJJR) SKBI1.3.28. 1987
2. Bridge Management System (BMS), Panduan Perencanaan Teknik Jembatan,
1992
3.
Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Jembatan Jalan Raya SNI03.28.33. 1992
4. Peraturan Pelaksanaan Pembangunan Jembatan No.04/ST/BM/1974
5. Dasar-dasar Perencanaan Beton Bertulang SKSNI T-15-1991-03
6. Peraturan Beton Bertulang Indonesia (PBBI) NI-2-1971
7. Tata Cara Perencanaan Geometrik Jalan Antar Kota No.038/T/BM/1997
8. Manual Kapasitas Jalan Indonesia (MKJI) No.036/T/BM/1997
9.
Petunjuk Perencanaan Tebal Perkerasan Lentur Jalan Raya Dengan Metode
Analisa Komponen SKBI-2.3.26. 1987
10. Peraturan lain yang masih berlaku dan sesuai dengan kondisi yang ada.
2.3.
ASPEK LALU LINTAS
Dalam perencanaan, lebar jembatan sangat dipengaruhi oleh volume lalu-
lintas harian rata-rata (LHR) yang melintasi jembatan dengan interval waktu tertentu,
yang diperhitungkan baik dalam Satuan Mobil Penumpang (SMP) atau Passenger
Car Unit (PCU). Dalam penentuan volume lalu-lintas tahun yang direncanakan
(LHRT) yang lewat jembatan sungai Damar diambil beberapa analisa, antara lain dari
data volume lalu-lintas harian rata-rata (LHR) ruas jalan yang melewati jembatan
(perkiraan volume lalu-lintas yang lewat jembatan).
II-3
STUDI PUSTAKA
2.3.1. Pertumbuhan Lalu Lintas
Perkiraan pertumbuhan lalu-lintas dengan menggunakan metode Regresi
Linier merupakan metode penyelidikan terhadap suatu data statistik dalam hal ini
didasarkan pada metode nol bebas. Adapun rumus persamaan yang digunakan adalah
sebagai berikut :
Y = a + b . X
Dimana :
Y = besar nilai yang diramal
a = nilai trend pada nilai dasar
b = tingkat perkembangan nilai yang diramal
X = unit tahun yang dihitung dari periode dasar
Perkiraan (forecasting) Lalu-lintas Harian Rata-rata (LHR) yang ditinjau
dalam waktu 5, 10, 15, 20, 30, 40, atau 50 tahun mendatang, setelah waktu
peninjauan berlalu maka pertumbuhan lalu-lintas ditinjau kembali untuk mendapatkan
pertumbuhan lalu-lintas yang akan datang. Perkiraan perhitungan pertumbuhan lalulintas ini digunakan sebagai dasar untuk menghitung perencanaan kelas jembatan
yang ada pada jalan tersebut. Untuk lebih jelas tentang perkembangan lalu-lintas pada
ruas tersebut, kemudian dibuatlah grafik hubungan antara Tahun dan volume Lalulintas Harian Rata-rata (LHR).
Perkembangan Lalu-lintas Harian Rata-rata tiap tahun dirumuskan :
LHR n = LHR o * ( 1 + i ) n
i = 100 % * n ( LHR n / LHRo 1 )
Persamaan trend :
(%)
= a + b.X
= n * a + b * X
II
XY = a * X + b * X 2
Dari hasil perhitungan diatas maka didapat a dan b dalam bentuk konstanta yang
dimasukkan rumus Regresi Linier sebagai berikut :
Y=a + b.X
II-4
STUDI PUSTAKA
Sehingga perkiraan LHR selama umur rencana (UR) dapat diperhitungkan.
2.3.2. Kelas Jalan
Berdasarkan Tata Cara Perencanaan Geometrik Jalan Antar Kota, 1997
klasifikasi menurut kelas jalan berkaitan kemampuan jalan menerima beban lalulintas dinyatakan dalam Muatan Sumbu Terberat (MST) serta kaitannya dengan
klasifikasi menurut fungsi jalan dapat dilihat dalam Tabel 2.2. (pasal 11,
[Link].43/1993)
Tabel 2.1. Klasifikasi Menurut Kelas Jalan Berdasarkan MST
Nomor
Fungsi
Arteri
Penghubung
Kelas
Muatan Sumbu Terberat
MST (ton)
> 10
II
10
III A
III A
III B
Sumber : Tata Cara Perencanaan Goemetrik Jalan Antar Kota No. 038/T/BM/1997
[Link]. Kapasitas Jalan
Kapasitas suatu ruas jalan adalah kemampuan jalan tersebut untuk
menampung/melewatkan lalu-lintas. Jadi kapasitas suatu ruas jalan menyatakan
jumlah kendaraan maksimum yang melalui titik/tempat/penampungan dalam satu
satuan waktu. Perhitungan kapasitas dimaksud untuk mengetahui tingkat pelayanan
(Level Of Service) dari suatu ruas jalan, sehingga dapat diketahui kualitas pelayanan
dari jalan tersebut pada saat ini dan pada saat yang akan datang, dengan
memperlihatkan tingkat pertumbuhan lalu-lintasnya.
II-5
STUDI PUSTAKA
Sedangkan untuk menentukan kapasitas suatu ruas jalan digunakan
pendekatan
rumus
dari
Manual
Kapasitas
Jalan
Indonesia
(MKJI),
No.036/T/BM/1997 :
C = Co x FCw x FCsp x FCsf
Dimana :
C
= Kapasitas (smp/jam)
Arus lalu-lintas maksimum (mantap) yang dapat dipertahankan sepanjang
potongan jalan dalam kondisi tertentu (rencana geometrik, lingkungan dan arus lalu
lintas)
Co
= Kapasitas dasar (smp/jam)
Kapasitas suatu segmen jalan untuk suatu set kondisi yang ditentukan
sebelumnya (geometrik, pada arus lalu lintas dan faktor lingkungan).
Tabel 2.2. Kapasitas dasar pada jalan luar kota 4-lajur 2-arah (4/2)
Tipe Jalan / Tipe Alinyemen
Kapasitas dasar total kedua
arah (smp/jam/lajur)
Empat-lajur terbagi (4/2 D)
-
Datar
1900
Bukit
1850
Gunung
1800
Empat-lajur tak-terbagi (4/2 UD)
-
Datar
1700
Bukit
1650
Gunung
1600
Sumber : MKJI: Jalan Luar Kota, No.036/T/BM/1997
II-6
STUDI PUSTAKA
Tabel 2.3. Kapasitas dasar pada jalan luar kota 2-lajur 2-arah
tak-terbagi (2/2 UD)
Kapasitas dasar total kedua
Tipe Jalan / Tipe Alinyemen
arah (smp/jam/lajur)
Dua-lajur tak-terbagi(2/2 UD)
-
Datar
3100
Bukit
3000
Gunung
2900
Sumber : MKJI: Jalan Luar Kota, No.036/T/BM/1997
FCw
= Faktor penyesuaian kapasitas akibat lebar jalur
Tabel 2.4. Faktor penyesuaian kapasitas akibat lebar jalur lalu lintas (FCw)
Tipe Jalan
Lebar efektif jalur lalu-lintas (Wc)
(m)
FCw
Empat-lajur terbagi
Per Lajur
Enam-lajur terbagi
3,0
0,91
3,25
0,96
3,50
1,00
3,75
1,03
Empat-lajur tak
terbagi
Dua-lajur tak
terbagi
Per Lajur
3,00
0,91
3,25
0,96
3,50
1,00
3,75
1,03
Total kedua arah
5
0,69
0,91
II-7
STUDI PUSTAKA
1,00
1,08
1,15
10
1,21
11
1,27
Sumber : MKJI: Jalan Luar Kota, No.036/T/BM/1997
FCsp = Faktor penyesuaian pemisahan arah (hanya untuk jalan tak terbagi)
Faktor penyesuaian untuk kapasitas dasar akibat pemisahan arah (hanya untuk jalan
dua arah tak terbagi)
Tabel 2.5. Faktor penyesuaian kapasitas akibat pemisahan arah (FCsp)
Pemisah arah SP
50 50
55 45
60 40
65 35
70 30
Dua-lajur 2/2
1,00
0,97
0,94
0,91
0,88
Empat lajur 4/2
1,00
0,975
0,95
0,925
0,90
%-%
FCsp
Sumber : MKJI: Jalan Luar Kota, No.036/T/BM/1997
FCsf = Faktor penyesuaian hambatan samping dan bahu jalan
Faktor penyesuaian untuk kapasitas dasar akibat hambatan samping sebagai
fungsi dari lebar bahu.
II-8
STUDI PUSTAKA
Tabel 2.6. Faktor penyesuaian kapasitas akibat hambatan samping (FCsf)
Faktor penyesuaian akibat hambatan samping
Tipe jalan
Kelas hambatan
(FCsf)
samping
Lebar bahu efektif Ws
0,5
1,0
1,5
2,0
VL (Sangat Rendah)
0,99
1,00
1,01
1,03
(Rendah)
0,96
0,97
0,99
1,01
M (Sedang)
0,93
0,95
0,96
0,99
H (Tinggi)
0,90
0,92
0,95
0,97
VH (Sangat Tinggi)
0,88
0,90
0,9
0,96
2/2 UD
VL (Sangat Rendah)
0,97
0,99
1,00
1,02
4/2 UD
(Rendah)
0,93
0,95
0,97
1,00
M (Sedang)
0,88
0,91
0,94
0,98
H (Tinggi)
0,84
0,87
0,91
0,95
VH (Sangat Tinggi)
0,80
0,83
0,88
0,93
4/2 D
Sumber : MKJI: Jalan Luar Kota, No.036/T/BM/1997
Arus jam rencana (kend/jam) yaitu: volume lalu-lintas per jam dari suatu ruas
jalan yang diperoleh dari penurunan besarnya volume lalu-lintas harian rata-rata.
Q
= LHRT x k
Dimana :
Q
= Arus jam rencana (kend/jam)
LHRT
= Volume lalu lintas harian rata rata tahunan dalam kurun
waktu umur rencana (50 tahun)
= a + b . X > a dan b = nilai konstanta awal regresi ( lihat hal II-4 )
X = waktu = data (10tahun) + umur rencana (50tahun)
= Faktor pengubah dari LHRT ke lalu lintas jam puncak
II-9
STUDI PUSTAKA
Tabel 2.7. Faktor k berdasarkan Volume Lalu lintas Harian Rata- rata (VLHR)
VLHR
Faktor k ( % )
> 50.000
46
30.000 - 50.000
68
10.000 30.000
68
5.000 10.000
8 10
1.000 5.000
10 12
< 1.000
12 - 16
Sumber : Tata Cara Perencanaan Geometrik Jalan Antar Kota, No.038/T/BM1997
[Link]. Derajat Kejenuhan
Derajat kejenuhan (DS) didefinisikan sebagai ratio arus terhadap kapasitas,
digunakan sebagai faktor utama dalam penentuan tingkat kinerja simpang dan segmen
jalan. Nilai DS menunjukkan apakah segmen jalan tersebut mempunyai masalah
kapasitas atau tidak.
DS = Q / C
Dimana : Q
C
= Volume kendaraan (kend/jam) = LHRT x k
= Kapasitas jalan (smp/jam)
Besaran nilai DS :
DS
2.3.2
0,75
= Macet
Jumlah Lajur
Untuk menentukan jumlah lajur lalu lintas digunakan metode Indonesian
Highway Capacity Manual (IHCM), dengan rumus :
N =
SF
(MSF . fw. fc. fhv. fp )
Dimana :
N
= Jumlah Lajur lalu lintas
SF
= Service flow rate
II-10
STUDI PUSTAKA
MSF
= Maximum service flow rate
fw
= Faktor jalur atau batas kebebasan samping
fhv
= Faktor prosentase beban kendaraan pada lajur lalu lintas
fc
= factor perkembangan lingkungan dan tipe jalan raya
fp
= Faktor jumlah pengendara
= Volume kendaraan 1 jam dalam kend/jam
PHF
= Peak Hour Factor ( faktor jam puncak )
Tabel 2.8. Level Of Service (LOS)
Free Flow Speed
60 MPH
45 MPH
Level
Max
of
Max
Average
Service
Density
Speed
PC/MI/LN
(MPH)
Max
(v/c)
Max
Service
Max
Average
Flow
Density
Speed
Rate
PC/MI/LN
(MPH)
Max
Service
Flow
(v/c)
(pcphpl)
Rate
(pcphpl)
12
60
0,33
720
12
45
0,28
540
20
60
0,55
1200
20
45
0,47
900
28
59
0,75
1650
28
45
0,66
1260
34
57
0,89
1940
34
44
0,79
1500
40
55
1,00
2200
45
42
1,00
1900
Sumber : Indonesian Highway Capacity Manual (IHCM), 1997
MSF = Cj * ( v/c )
Dimana :
Cj = Kapasitas pelaju dari jalan raya dengan kecepatan rencana j, untuk masing
masing kecepatan rencana dengan service flow rate los E adalah :
Kec. rencana 60 mph
c = 2.200 pcphpl
Kec. rencana 45 mph
c = 1.900 pcphpl
II-11
STUDI PUSTAKA
v/c = Maksimum perbandingan volume dan kapasitas yang diijinkan saat umur
rencana, dengan karakteristik yang diperlihatkan dari los i yang
diharapkan adalah los E yaitu kapasitas dan volume kendaraan selama 1
jam diambil dari jam puncak terbesar dari perhitungan lalu -lintas jam
puncak
fw = Faktor jalur atau kebebasan samping
Tabel 2.9. Factor to adjust for the effects of restriced lane widthns and lateral
clearance (fw)
Adjustment Factor
Distance
From
Obstruction on
Obstruction on
traveled
one side
two side
way to
Lane width
Lane width
obstruction
(ft)
(ft)
(ft)
12
11
10
12
11
10
>6
1,00
0,95
0,90
1,00
0,95
0,90
0,99
0,94
0,89
0,98
0,93
0,88
0,97
0,92
0,88
0,95
0,90
0,86
0,92
0,88
0,84
0,86
0,82
0,78
Sumber : Indonesian Highway Capacity Manual (IHCM), 1997
fc = Faktor perkembangan lingkungan dan tipe jalan raya diambil 0,80 - 0,90
fp = Faktor jumlah pengendara atau Faktor penyesuaian populasi pengemudi
Tabel 2.10. Adjustment factor for driver population (fp)
Traffic stream type
Adjustment Factor (fp)
Weekday, Cammuter (Familiar User)
1,00
Recreations or Other
0,75 - 0,99
Sumber : Indonesian Highway Capacity Manual (IHCM), 1997
II-12
STUDI PUSTAKA
fhv = Faktor prosentase beban kendaraan pada lajur lalu-lintas
fhv =
1
(1 + Pt(Et - 1) + Pr(Er - 1) + Pb(Eb - 1)
Pt = Prosentase kendaraan truck (%)
Pr = Prosentase kendaraan penumpang (%)
Pb = Prosentase kendaraan bus (%)
Et = Faktor beban kendaraan truck
Er = Faktor beban kendaraan penumpang
Eb = Faktor beban kendaraan bus
Tabel 2.11. Faktor beban kendaraan Truck, Penumpang dan Bus
Vehicle Type
Truck (Et)
RVs (Er)
Buses (Eb)
( Type of Terrain )
Level of
Service
Level
Rolling
Mountanious
2,0
4,0
7,0
B dan C
2,2
5,0
10,0
D dan E
2,0
5,0
12,0
2,2
3,2
5,0
B dan C
2,5
3,9
5,2
D dan E
1,6
3,3
5,2
1,8
3,0
5,7
B dan C
2,0
3,4
6,0
D dan E
1,6
2,9
6,5
Sumber : Indonesia Highway Capacity Manual (IHCM), 1997
PHF = Peak Hour Factor (Faktor Jam Puncak)
Jika digunakan periode 15 menit maka :
PHF = V / ( 4 x 15)
PHF secara umum besarnya berkisar antara 0.80 0.98
- Untuk Rural Multilane Highways = 0,85
- Untuk Suburban Multilane Highways = 0,92
II-13
STUDI PUSTAKA
DDHV = Directional Design Hour Volume
DDHV = AADT x K x D > AADT = LHRT dalam 50 tahunan
Tabel 2.12. Faktor K dan D
Facility Enviroment
Suburban
Rural
0,10
0,15
0,60
0,65
Sumber : Indonesian Highway Capacity Manual (IHCM), 1997
SF= DDHF * PHF
2.4.
ASPEK HIDROLOGI
Datadata hidrologi yang diperlukan dalam merencanakan suatu jembatan
antara lain adalah sebagai berikut :
1. Peta topografi DAS
2. Peta situasi dimana jembatan akan dibangun
3. Data curah hujan dari stasiun pemantau terdekat
4. Data sungai
Data-data tersebut nantinya dibutuhkan untuk menentukan elevasi banjir
tertinggi, kedalaman penggerusan (scouring) dan lain-lain. Dengan mengetahui hal
tersebut kemudian dapat direncanakan :
Clearence jembatan dari muka air tertinggi
Bentang ekonomis jembatan
Penentuan struktur bagian bawah
Analisa dari data-data hidrologi yang tersedia meliputi :
2.4.1. Analisa Frekuensi Curah Hujan
Besarnya curah hujan suatu Daerah Aliran Sungai (DAS) diperhitungkan
dengan mengikuti aturan pada metode gumbell yang menyebutkan bahwa data curah
II-14
STUDI PUSTAKA
hujan suatu stasiun pengamat curah hujan terdekat dapat dipakai sebagai data curah
hujan daerah pengaliran untuk analisis.
Untuk keperluan analisa ini, dipilih curah hujan tertinggi yang terjadi tiap
tahun sehingga diperoleh curah hujan harian maksimum. Dari metode gumbell,
analisa distribusi frekuensi extreme value adalah sebagai berikut :
Xrata rata =
x
n
Sx =
( Xi Xrata rata)
i =1
(n 1)
Kr = Ytr Yn
Sn
Xtr = R = Xrata rata + ( Kr * Sx)
Keterangan :
Xrata2 = Curah hujan maksimum rata-rata selama tahun pengamatan (mm)
Sx
= Standar deviasi
Kr
= Faktor frekuensi gumbell
Xtr
= Curah hujan untuk periode tahun berulang Tr (mm)
2.4.2. Analisa Banjir Rencana
Di Indonesia terdapat beberapa cara perkiraan banjir, antara lain :
1. Metode Rational Mononobe-Rhiza
Metode Rational yang digunakan, jika daerah tangkapan (catchment area)
kecil, untuk menghitung debit banjir sungai dengan DAS < 10 km2.
Kecepatan Aliran, V (m/dtk)
II-15
STUDI PUSTAKA
H
V = 72
L
0,6
dimana ;
V = Kecepatan aliran (m/dtk)
H = Selisih elevasi (m)
L = Panjang aliran (m)
Time Concentration / TC
TC =
L
V
dimana ;
TC = Waktu pengaliran (detik)
L = Panjang aliran (m)
V = Kecepatan aliran (m/dtk)
Intensitas Hujan / I
R 24
I=
24 TC
0 , 67
dimana ;
I = Intensitas hujan (mm/jam)
R = Curah hujan (mm)
Debit Banjir Q (m3)
Qtr = C * I * A * 0,278
di mana ;
Qtr = Debit banjir rencana (m3)
A = Luas DAS (km2)
C = Koefisien run off
Analisa Debit Penampang
Q = A * V A = (B * mH ) H
dimana ;
Qtr = Debit banjir (m3)
m = Kemiringan lereng sungai
B = Lebar penampang sungai (m)
A = Luas penampang basah (m2)
H = Tinggi muka air sungai (m)
2. Metode Haspers
Metode Haspers yang digunakan, jika daerah tangkapan (catchment area)
cukup besar, untuk menghitung debit banjir sungai dengan DAS > 100 km2.
II-16
STUDI PUSTAKA
1 + 0,012 * A 0,7
C=
1 + 0,075 * A 0, 7
t = 0,1 * L0,8 * S-0,3
1/ = 1 +
t + 3,7 * 104 * t
* ( A0,75 / 12)
2
t
kalau 2 jam < t < 19 jam, maka :
R1 =
t + R24 maks
t +1
R = R1 / ( 3,6 * t )
Debit rencana banjir Q = C * * R * A
di mana ; Q = Debit banjir rencana (m3/dt)
A = Luas DAS (km2)
C = Koefisien pengaliran
= Koefisien reduksi
L = Panjang sungai (km)
S = Kemiringan sungai rata-rata
R = Hujan maksimum (mm)
R1 = Intensitas hujan (m2)
t = Waktu pengaliran (det)
2.4.3. Perhitungan Tinggi Muka Air Banjir (MAB)
Penampang sungai direncanakan sesuai dengan bentuk kali Tangsi dibawah
jembatan yaitu dengan ketentuan sebagai berikut :
Qr = Debit banjir 50 tahunan (m3/det)
S = Kemiringan dasar sungai = beda tinggi (+H) / panjang sungai (L)
V = Kecepatan aliran sungai (m/det) = 72 * (S)0,6
F = Luas sungai (m2) = ( B + m . H ) . H
F =
Qr
V
II-17
STUDI PUSTAKA
Dengan coba-coba didapat kedalaman air banjir (H) = z (m)
Jadi tinggi muka air banjir sebesar z m
2.4.4. Analisa Penggerusan (Scouring)
Tinjauan mengenai kedalaman penggerusan ini memakai metode lacey
dimana kedalaman penggerusan ini dipengaruhi oleh jenis material dasar sungai.
Tabel faktor lacey yang diambil dari DPU Bina Marga Propinsi Jawa Tengah adalah
sebagai berikut :
Tabel 2.13. Faktor Lempung Lacey (f)
No.
Type of Material
Diameter (mm)
Faktor (f)
Lanau sangat halus (very fine silt)
0,052
0,4
Lanau halus (fine silt)
0,12
0,8
Lanau sedang (medium silt)
0,233
0,85
Lanau (standart silt)
0,322
1,0
Pasir (medium sand)
0,505
1,25
Pasir kasar (coarse sand)
0,725
1,5
Kerikil (heavy sand)
0,29
2,0
Sumber : Bridge Management System (BMS), Direktorat Jenderal Bina Marga,1992
Kedalaman Penggerusan berdasarkan tabel yang diambil dari DPU Bina
Marga Propinsi Jawa Tengah adalah sebagai berikut ;
Tabel 2.14. Kedalaman Penggerusan
No.
Kondisi Aliran
Penggerusan Maks.
Aliran lurus
1,27d
Aliran belok
1,5d
Aliran belok tajam
1,75d
Belokan sudut lurus
2d
Hidung pilar
2d
Sumber : Bridge Management System (BMS), Direktorat Jenderal Bina Marga,1992
II-18
STUDI PUSTAKA
Formula Lacey :
L
Untuk L < W d = H
W
0,6
Q
Untuk L > W d = 0,473
f
Keterangan : L = Bentang jembatan
0 , 333
W = Lebar alur sungai
H = Tinggi banjir rencana
Q = Debit maksimum
f = Faktor lempung lacey
2.5.
ASPEK TANAH
2.5.1. Daya Dukung Tanah Dasar ( DDT) dan CBR
Kekuatan dan keawetan konstruksi perkerasan jalan sangat tergantung dari
sifat-sifat dan daya dukung tanah dasar. Tanah dasar yang baik untuk konstruksi
perkerasan jalan adalah tanah dasar yang berasal dari lokasi itu sendiri atau
didekatnya, yang telah dipadatkan sampai tingkat kepadatan tertentu sehingga
mempunyai daya dukung yang baik serta berkemampuan mempertahankan perubahan
volume selama masa pelayanan walaupun terdapat perbedaan kondisi lingkungan dan
jenis tanah setempat.
Daya dukung tanah dasar (DDT) ditetapkan berdasarkan grafik korelasi DDT
dan CBR. CBR laboratorium biasanya dipakai untuk perencanaan pembangunan jalan
baru. CBR lapangan biasanya dipakai untuk perencanaan overlay. Sementara ini
dianjurkan untuk mendasarkan daya dukung tanah dasar hanya kepada pengukuran
nilai CBR. Tipe tanah dasar yang baik CBR 10% dan PI 10%.
2.5.2. Daya Dukung Tanah Pondasi
Merupakan kemampuan tanah dasar untuk menahan beban pondasi tanpa
terjadi keruntuhan geser, hal ini bergantung pada kekuatan geser tanah, untuk
STUDI PUSTAKA
II-19
mengantisipasinya digunakan faktor keamanan yang cukup terhadap daya dukung
batasnya. Daya dukung pondasi tergantung dari sifat & kuat geser tanah, jenis
pondasi, muka air tanah dan kondisi pembebanan.
Untuk tanah non kohesif (C = 0) seperti tanah pasiran dan kerikilan sangat sulit
diperoleh contoh tidak terganggu, sehingga hasil pemeriksaan laboratorium tidak
mewakili keadaan aslinya, harga dapat diperkirakan dari korelasi dengan nilai N dari
SPT. Harga Cu dapat diperkirakan secara kasar dari nilai sondir, tetapi harus
dikorelasikan dengan jenis tanah & kedalaman air tanah.
Untuk tanah non kohesif ( = 0) harga C harus diambil dari hasil pemeriksaan
undrained, dari hasil pemeriksaan kuat tekan bebas.
2.6.
ASPEK PEMILIHAN TIPE STRUKTUR
Dalam menentukan bentang Jembatan Tangsi untuk mendapatkan efisiensi yang
tinggi seperti dimensi yang ekonomis dan pelaksanaannya yang mudah.
2.6.1. Pembebanan Struktur
Beban yang bekerja pada struktur Jembatan Tangsi ini disesuaikan dengan
Pedoman Perencanaan Pembebanan Jembatan Jalan Raya (PPPJJR) SKBI
1.3.28.1987, DPU yaitu :
[Link]. Beban Primer
Beban primer adalah beban atau muatan yang merupakan muatan utama dalam
perhitungan tegangan pada setiap perencanaan jembatan. Yang termasuk muatan
primer adalah :
a.
Beban Mati
Yaitu merupakan beban yang berasal dari berat sendiri jembatan atau bagian
jembatan yang ditinjau, termasuk segala unsur tambahan yang dianggap
merupakan satu kesatuan tetap dengannya.
II-20
STUDI PUSTAKA
Dalam menentukan besarnya muatan mati tersebut, harus dipergunakan nilai
berat volume untuk bahan bangunan dibawah ini :
- Baja tuang
7,85 t / m3
- Aluminium paduan
2,80 t / m3
- Beton bertulang
2,50 t / m3
- Beton biasa, tumbuk, siklop
2,20 t / m3
- Pasangan batu
2,00 t / m3
- Kayu
1,00 t / m3
- Tanah, pasir, kerikil ( dalam keadaan padat )
2,00 t / m3
- Perkerasan jalan beraspal
-
b.
Air
2,00 2,50 t / m3
1,00 t/m3
Beban Hidup
Muatan hidup adalah semua muatan yang berasal dari berat kendaraan
kendaraan bergerak/lalu lintas dan atau berat pejalan kaki yang dianggap bekerja
pada jembatan.
Macam-macam beban hidup
Muatan hidup pada jembatan yang harus ditinjau dinyatakan dalam dua macam
yaitu muatan T yang merupakan beban terpusat untuk lantai kendaraan dan
muatan D yang merupakan beban jalur untuk gelagar.
Lantai Kendaraan dan Jalur Lalu lintas
Yang dimaksud dengan lantai kendaraan adalah seluruh lebar bagian
jembatan yang digunakan untuk lalu lintas kendaraan. Yang dimaksud dengan satu
jalur lalu lintas adalah bagian dari lantai kendaraan yang digunakan oleh suatu
rangkaian kendaraan. Jalur lalu lintas ini mempunyai lebar minimum 2,75 meter
dan lebar maksimum 3,75 meter. Lebar jalur minimum ini harus untuk
menentukan muatan D per jalur. Jumlah jalur lalu lintas untuk lantai kendaraan
dengan lebar 5,50 meter atau lebih ditentukan menurut Tabel.2.15. untuk
selanjutnya jembatan ini digunakan dalam menentukan muatan D pada
perhitungan reaksi perletakan.
II-21
STUDI PUSTAKA
Tabel 2.15. Jumlah Lajur Lalu Lintas
Lebar Lantai kendaraan
Jumlah jalur lalu
lintas
5,50 sampai dengan 8,25 m
lebih dari 8,25 sampai dengan 11,25 m
lebih dari 11,25 sampai dengan 15,00 m
lebih dari 15,00 sampai dengan 18,75 m
lebih dari 18,75 sampai dengan 32,50 m
Sumber : Pedoman Perencanaan Pembebanan Jembatan Jalan Raya, SKBI1.3.28.1987
Catatan : daftar tersebut diatas hanya digunakan dalam menentukan jumlah
jalur pada jembatan
Beban T
Untuk perhitungan kekuatan lantai kendaraan atau sistem lantai kendaraan
jembatan, harus digunakan beban T seperti dijelaskan berikut ini :
Beban T adalah muatan yang merupakan kendaraan truk yang mempunyai beban
dua roda ( Two Wheel Load ) sebesar 10 ton.
a
a1 = a2 = 20 cm
b1 = 12,50 cm
b2 = 50,00 cm
Ms = muatan rencana sumbu = 20 ton
II-22
STUDI PUSTAKA
275
400
0,25 Ms
500
50
Ms
b1
175
50
Ms
b2
275 m
a2
a1
0,5 Ms
0,5 Ms
0,125 Ms
275 m
Gambar 2.1. Ketentuan beban T yang dikerjakan pada jembatan jalan raya
Beban D
Untuk perhitungan kekuatan gelagar-gelagar harus digunakan beban D.
Beban D atau beban jalur adalah susunan beban pada setiap jalur lalu lintas yang
terdiri dari beban pada setiap jalur lalu lintas yang terdiri dari beban terbagi rata
sebesar q ton per meter panjang per jalur dan beban garis P ton per jalur lalu
lintas tersebut.
Besar q ditentukan sebagai berikut :
q = 2,2 t/m`
untuk L < 30 m
q = 2,2 t/m` - 1,1/60 x (L-30) t/m untuk 30 m < L < 60 m
q = 1,1 ( 1+30/L) t/m`
untuk L > 60 m
L = panjang dalam meter, ditentukan oleh tipe konstruksi jembatan sesuai dengan
tabel III (PPPJJR hal 11)
t/m` = ton meter panjang, per jalur
II-23
STUDI PUSTAKA
B e b a n g a ris P = 1 2 to n
1 Jalu r
B eb an terb a g i rata q t/m '
Gambar 2.2. Distribusi beban D yang bekerja pada jembatan jalan raya
Ketentuan penggunaan beban D dalam arah melintang jembatan adalah
Sebagai berikut :
Untuk jembatan dengan lebar lantai kendaraan sama atau lebih kecil daripada
5,50 meter, muatan D sepenuhnya ( 100% ) harus dibebankan pada seluruh
lebar jembatan
Untuk jembatan dengan lebar lantai kendaraan lebih besar dari pada 5,50 meter,
muatan D sepenuhnya (100%) dibebankan pada lebar jalur 5,50 meter sedang
lebar selebihnya dibebani hanya separuh dari muatan D (50%)
1/2
1/2
1/2
5,5
1/2
5,5
Gambar 2.3. Ketentuan Penggunaan beban D pada jembatan jalan raya
II-24
STUDI PUSTAKA
Dalam menentukan beban hidup ( beban terbagi rata dan beban garis ) perlu
diperhitungkan ketentuan bahwa :
Muatan hidup per meter beban jalur lalu lintas jembatan menjadi sebagai
berikut :
Beban terbagi rata =
q ton / meter
2,75 meter
Beban garis
P ton
2,75 meter
Angka pembagi 2,75 meter diatas selalu tetap dan tidak tergantung pada lebar
jalur lalu lintas.
Beban pada trotoir, kerb dan sandaran
- Konstruksi trotoir harus diperhitungkan terhadap beban hidup sebesar 500 kg/m2.
Dalam perhitungan kekuatan gelagar karena pengaruh beban hidup pada trotoir,
diperhitungkan beban 60% beban hidup trotoir.
- Kerb yang terdapat pada tepi-tepi lantai kendaraan harus dipehitungkan untuk
dapat menahan satu beban horisontal kearah melintang jembatan sebesar 500
kg/m yang bekerja pada puncak kerb yang bersangkutan atau pada tinggi 25 cm
di atas permukaan lantai kendaraan apabila kerb yang bersangkutan lebih tinggi
dari 25 cm.
- Tiang-tiang sandaran pada setiap tepi trotoir harus diperhitungkan untuk dapat
menahan beban horizontal sebesar 100 kg/m, yang bekerja pada tinggi 90 cm di
atas lantai trotoir.
c. Beban Kejut
Yaitu merupakan beban akibat dari getaran dan pengaruh dinamis lain.
Tegangan akibat beban D harus dikalikan koefisien kejut.
Koefisien kejut ditentukan dengan rumus :
k = 1+
20
(50 + L)
dimana :
k = koefisien kejut.
STUDI PUSTAKA
II-25
L = Panjang bentang dalam meter, ditentukan oleh tipe konstruksi jembatan
(keadaan statis) dan kedudukan muatan garis P.
Koefisien kejut tidak diperhitungkan terhadap bangunan bawah apabila
bangunan bawah dan bangunan atas tidak merupakan satu kesatuan.
d. Gaya akibat tekanan tanah
Bagian bangunan jembatan yang menahan tanah harus direncanakan dapat
menahan tekanan tanah sesuai rumus-rumus yang ada. Beban kendaraan
dibelakang bangunan penahan tanah diperhitungkan senilai dengan muatan tanah
setinggi 60 cm.
[Link]. Beban Sekunder
Beban sekunder adalah muatan pada jembatan yang merupakan muatan
sementara yang selalu diperhitungkan dalam perhitungan tegangan pada setiap
perencanaan jembatan. Yang termasuk beban sekunder adalah :
a. Beban angin
Pengaruh beban angin yang ditetapkan sebesar 150 kg/m2 dalam arah horisontal
terbagi rata pada bidang vertikal setinggi 2 meter menerus di atas lantai kendaraan
dan tegak lurus sumbu memanjang seperti tercantum dalam Pedoman Perencanaan
Pembebanan Jembatan Jalan Raya pasal 2 (1) hal 13.
b. Gaya akibat perbedaan suhu
Peninjauan diadakan terhadap timbulnya tegangan-tegangan structural karena
adanya perubahan bentuk akibat perbedaan suhu antara bagian-bagian jembatan
baik yang menggunakan bahan yang sama maupun dengan bahan yang berbeda.
Tercantum dalam PPPJJR pasal 2 (2) tabel II hal 14.
c. Gaya rangkak dan susut
Pengaruh rangkak dan susut dihitung dengan menggunakan beban mati dari
jembatan. Jika susut dan rangkak dapat mengurangi pengaruh muatan lain, maka
harga dari rangkak tersebut harus diambil minimum (PPPJJR pasal 2 (3)
II-26
STUDI PUSTAKA
d. Gaya rem
Pengaruh gaya rem sebesar 5% dari beban D tanpa koefisien kejut yang
memenuhi semua jalur lalu lintas yang ada dan dalam satu jurusan. Gaya tersebut
bekerja dalam arah horisontal sejajar dengan sumbu memanjang jembatan setinggi
1,8 meter di atas lantai kendaraan (PPPJJR pasal 2 ayat 4)
e. Gaya gempa
Jembatan-jembatan yang akan dibangun pada daerah-daerah dimana dapat
diharapkan adanya pengaruh-pengaruh dari gempa bumi, harus direncanakan
dengan memperhitungkan pengaruh-pengaruh gempa tersebut. Pengaruh-pengaruh
gempa bumi pada jembatan dipehitungkan senilai dengan pengaruh suatu gaya
horizontal, yang bekerja pada titik berat konstruksi / bagian konstruksi yang
ditinjau, dalam arah yang paling berbahaya.
Gaya horizontal yang dimaksud ditentukan dengan rumus :
K=ExG
Dimana :
K = Gaya horizontal.
G = Muatan mati dari konstruksi / bagian konstruksi yang ditinjau.
E = Koefisien gempa bumi, yang ditentukan menurut daftar di bawah ini
Tabel 2.16. Koefisien Gempa Bumi
Keadaan Tanah / Pondasi
Daerah Zone Gempa
I
II
II
Untuk jembatan yang didirikan diatas pondasi 0,12
0,06
0,03
0,10
0,05
langsung dengan tekanan tanah sebesar 5 kg/cm
atau lebih
Untuk jembatan yang didirikan diatas pondasi 0,20
langsung dengan tekanan tanah kurang dari 5
kg/cm2
II-27
STUDI PUSTAKA
Untuk jembatan yang didirikan diatas pondasi 0,28
0,14
0,07
selain pondasi langsung
Sumber:Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa untuk JembatanJalanRayaSNI03.28.33.1992
Catatan : Pengaruh gempa pada muatan hidup tidak perlu diperhatikan
f. Gaya akibat gesekan pada tumpuan bergerak
Jembatan perlu ditinjau terhadap gaya yang timbul akibat gesekan pada
tumpuan bergerak, karena adanya pemuaian dan penyusutan jembatan akibat
perbedaan suhu atau akibat-akibat lain (PPPJJR pasal 2 (6) hal 15)
Gg = R x Ft
Dimana :
Gg = Gaya gesekan pada tumpuan.
R = Reaksi akibat beban mati.
Ft = Koefisien gesek antara gelagar dengan tumpuan.
0,01 untuk tumpuan ( 1 ) roll baja
0,05 untuk tumpuan ( 2 atau lebih ) roll baja.
0,15 untuk tumpuan gesekan ( tembaga baja )
0,25 untuk tumpuan gesekan ( baja besi tuang )
0,15 s/d 0,18 untuk tumpuan gesekan ( baja beton )
[Link]. Beban Khusus
Beban khusus adalah muatan yang merupakan beban-beban khusus untuk
perhitungan tegangan pada perencanaan jembatan, muatan ini umumnya mempunyai
salah satu atau lebih sifat-sifat berikut ini :
Hanya berpengaruh pada sebagian konstruksi jembatan
Tidak selalu bekerja pada jembatan
Tergantung dari keadaan setempat
Hanya bekerja pada sistem-sistem tertentu
II-28
STUDI PUSTAKA
Beban khusus seperti yang termuat dalam Pedoman Perencanaan Pembebanan
Jembatan Jalan Raya (PPPJJR) pasal 3 hal.16, berupa :
a.
Gaya sentrifugal (Ks)
V2
Ks = 0,79
R
dimana ; V = Kecepatan rencana
R = Jari-jari tikungan
b.
Gaya tumbuk
Gaya tumbuk antara kendaraan dan pilar dimaksudkan pada jembatan-
jembatan layang dimana bagian dibawah jembatan digunakan untuk lalu-lintas
c.
Gaya pada saat pelaksanaan
Gaya-gaya khusus yang mungkin timbul dalam masa pelaksanaan
pembangunan jembatan, dimana ditinjau sesuai dengan cara pelaksanaan pekerjaan
yang digunakan.
d.
Gaya akibat aliran air dan tumbukan benda-benda hanyutan
Ah = K (Va
)2
dimana ; Ah = Tekanan air
Va = Kecepatan aliran
K = Koefisien aliran
[Link]. Kombinasi Pembebanan
Konstruksi jembatan beserta bagianbagiannya harus ditinjau terhadap
kombinasi pembebanan dan gaya yang mungkin bekerja. Tegangan yang
digunakan dalam pemeriksaan kekuatan konstruksi yang bersangkutan dinaikkan
terhadap tegangan yang diijinkan sesuai keadaan elastis. Tegangan yang digunakan
dinyatakan dalam persen terhadap tegangan yang diijinkan sesuai kombinasi
pembebanan dan gaya pada tabel berikut :
II-29
STUDI PUSTAKA
Tabel 2.17. Kombinasi pembebanan
Tegangan yang dipakai
No.
Kombinasi Pembebanan dan Gaya
terhadap Tegangan Ijin
1.
M + (H + K) Ta + Tu
100%
2.
M + Ta + Ah + Gg + A + SR + Tm + S
125%
3.
Kombinasi (1) + Rm + Gg + A + SR + Tm
140%
4.
M + Gh + Tag + Gg + AHg + Tu
150%
5.
M + P1
6.
M + (H + K) +Ta + S + Tb
130% *)
150%
Sumber : Pedoman Perencanaan Pembebanan Jembatan Jalan Raya SKBI1.3.28.1987
*) Khusus untuk jembatan baja
Keterangan :
A
= Beban angin
Ah
= Gaya akibat aliran dan hanyutan
AHg
= Gaya akibat aliran dan hanyutan pada saat terjadi gempa
Gg
= Gaya gesek pada tumpuan bergerak
Gh
= Gaya horisontal ekivalen akibat gempa bumi
(H+K) = Beban hidup dan kejut
M
= Beban mati
P1
= Gaya-gaya pada saat pelaksanan
Rm
= Gaya rem
= Gaya sentrifugal
SR
= Gaya akibat susut dan rangkak
Tm
= Gaya akibat perubahan suhu
Ta
= Gaya tekanan tanah
Tag
= Gaya tekanan tanah akibat gempa bumi
Tb
= Gaya tumbuk
Tu
= Gaya angkat
II-30
STUDI PUSTAKA
2.6.2. Struktur Atas (Upper Structure)
Struktur atas merupakan struktur dari jembatan yang terletak dibagian atas
dari jembatan. Pertimbangan pemilihannya berdasarkan :
- Bentang sungai
- Kekuatan struktur aman dan kuat
- Biaya pelaksanaan dan perawatan ekonomis
- Kemudahan pelaksanaan dilapangan
Tabel 2.18. Pemilihan konstruksi berdasarkan bentang jembatan
No
A
Jenis Bangunan Atas
Jembatan balok dengan lantai
Gelagar kayu gergaji dengan
papan lantai
Rangka lantai atas dengan
papan kayu
Gelagar baja dengan lantai
papan kayu
Konstruksi Baja
Gelagar baja dengan lantai plat
baja
Gelagar baja dengan lantai
beton komposit (bentang
Sederhana dan menerus)
Perbandingan
Bentang
H /L Tipikal
5 20 m
1 / 15
Kurang
5 10 m
1/5
Kurang
20 50
1/5
Kurang
5 35
1/17 1/30
Kurang
5 25
1/25 1/27
Kurang
1 / 20
Fungsional
1/8 1/11
Kurang
Penampilan
Konstruksi Kayu :
urug atau lantai papan
2
Variasi
Rangka lantai bawah dengan
plat beton
15 50
35 90
30 100
II-31
STUDI PUSTAKA
Rangka Baja Menerus
Konstruksi Beton Bertulang :
60 150
1 / 10
Baik
Plat beton bertulang
5 10
1 / 12,5
Fungsional
Pelat berongga
10 18
1 / 18
Fungsional
Gelagar beton T
6 25
1/12 1/15
Fungsional
Lengkung beton (Parabola)
30 70
1 / 30
Estetik
Jembatan Beton Pratekan :
Segmen pelat
6 12
1 / 20
Fungsional
Gelagar I dengan lantai beton
20 40
1 / 17,5
Fungsional
komposit, bentang menerus.
3
Gelagar T pasca penegangan
20 45
1/16,5-1/17,5
Fungsional
Gelagar boks menerus,
6 150
1/ 18 1 / 20
Estetik
pelaksanaan kantilever
Sumber : Bridge Management System (BMS), 1992
Struktur Atas (Upper Structure) terdiri dari :
1. Sandaran ( Railling )
Merupakan pembatas antara kendaraan dengan pinggiran jembatan yang
berfungsi sebagai pengaman bagi pemakai lalu lintas yang melewati jembatan
tersebut.
Konstruksi sandaran terdiri dari :
Tiang sandaran (Raill Post), biasanya dibuat dari beton bertulang untuk jembatan
girder beton, sedangkan untuk jembatan rangka tiang sandaran menyatu dengan
struktur rangka tersebut.
Sandaran (Hand Raill), biasanya dari pipa besi, kayu dan beton bertulang.
Beban yang bekerja pada sandaran adalah beban sebesar 100 kg yang bekerja
dalam arah horisontal setinggi 0,9 meter.
II-32
STUDI PUSTAKA
2. Trotoir
Trotoir berfungsi untuk memberikan pelayanan yang optimal kepada pejalan
kaki baik dari segi keamanan maupun kenyamanan .Konstruksi trotoir direncanakan
sebagai pelat beton yang diletakkan pada lantai jembatan bagian samping yang
diasumsikan sebagai pelat yang tertumpu sederhana pada pelat jalan. Prinsip
perhitungan pelat trotoir sesuai dengan SKSNI T15199103.
Pembebanan pada trotoir meliputi :
a) Beban mati berupa berat sendiri pelat.
b) Beban hidup sebesar 500 kg/m2 berupa beban merata dan beban terpusat pada
kerb dan sandaran.
c) Beban akibat tiang sandaran.
Penulangan pelat trotoir diperhitungkan sebagai berikut :
M/bd2 =
d = h p 0,5
(GTPBB)
min dan max dapat dilihat pada tabel GTPBB (Grafik dan Tabel Perhitungan Beton
Bertulang)
syarat : min < < maks
As = * b * d
dimana ; d = tinggi efektif pelat
h = tebal pelat
= tebal selimut beton
= diameter tulangan
b = lebar pelat per meter
3. Pelat Lantai Kendaraan
Berfungsi sebagai penahan lapisan perkerasan. Pelat lantai diasumsikan
tertumpu pada dua sisi. Pembebanan pada pelat lantai meliputi :
a) Beban mati berupa berat sendiri pelat, berat pavement dan berat air hujan.
b) Beban hidup berupa muatan T dengan beban gandar maksimum 10 T.
Perhitungan untuk penulangan pelat lantai jembatan sama dengan prinsip
penulangan pada pelat trotoir.
II-33
STUDI PUSTAKA
4. Gelagar Memanjang ( Girder )
Gelagar memanjang berfungsi menahan beban pelat lantai, lapis perkerasan
dan beban air hujan, kemudian menyalurkannya ke andas (jembatan balok prestress/
beton bertulang) atau ke gelagar melintang (jembatan rangka baja)
5. Gelagar Melintang atau Diafragma
Diafragma hanya sebagai pengaku gelagar memanjang tidak menyalurkan
beban, sedangkan gelagar melintang menerima limpahan beban dari gelagar
memanjang kemudian menyalurkannya ke rangka baja.
Baik gelagar memanjang maupun melintang harus ditinjau terhadap :
Kontrol kekuatan :
M
W
: dimana M = Momen
W = Momen tahanan
Kontrol Kekakuan :
L
<
500
: dimana L = Bentang
5ML2
48EI
: dimana E = Modulus Elastisitas Bahan
I = Inersia
6. Andas
Merupakan perletakan dari jembatan yang berfungsi untuk menahan beban
berat baik yang vertikal maupun horizontal serta untuk meredam getaran sehingga
abutment tidak mengalami kerusakan.
Untuk perletakkan jembatan direncanakan digunakan bearings merk CPU
buatan Indonesia.
a. Elastomeric Bearing Pads
Spesifikasi :
STUDI PUSTAKA
II-34
Merupakan bantalan atau perletakan elastomer yang dapat menahan beban
berat, baik yang vertikal maupun horisontal.
Bantalan atau perletakan elastomer disusun atau dibuat dari lempengan
elastomer dan logam yang disusun secara lapis perlapis.
Merupakan satu kesatuan yang saling melekat kuat dan diproses dengan
tekanan tinggi.
Bantalan atau perletakan elastomer berfungsi untuk meredam getaran,
sehingga kepala jembatan (abutment) tidak mengalami kerusakan.
Lempengan logam yang paling luar dan ujung-ujung elastomer dilapisi
dengan lapisan elastomer supaya tidak berkarat.
Bantalan atau perletakan elastomer juga disebut bantalan neoprene yang
dibuat dari karet sinthetis.
Pemasangan :
Bantalan atau perletakan elastomer dipasang diantara tumpuan kepala
jembatan dan gelagar jembatan.
Untuk melekatkan bantalan atau perletakan elastomer dengan beton atau besi
dapat dipergunakan lem epoxy rubber.
Ukuran :
Selain ukuran-ukuran standar yang sudah ada, juga dapat dipesan ukuran sesuai
permintaan.
b. Bearing Pads / Strip
Spesifikasi :
Merupakan lembaran karet (elastomer) tanpa plat baja
Berfungsi untuk meredam getaran mesin maupun ujung gelagar jembatan
Dipasangkan diantara beton dengan beton atau beton dengan besi
Ukuran :
STUDI PUSTAKA
II-35
Selain ukuran-ukuran standar yang sudah ada, juga dapat dipesan ukuran sesuai
permintaan.
7. Pelat Injak
Pelat injak berfungsi sebagai landasan yang kuat terhadap penurunan tanah
timbunan pada oprit sehingga dapat mengurangi loncatan pada waktu melewati
jembatan dan menyalurkan beban dari beban lalu lintas yang melewatinya ke
abutment.
2.6.3. Struktur Bawah (Sub Structure)
Bangunan bawah berfungsi sebagai pendukung yang meneruskan gaya dari
bangunan atas ke bagian lapisan tanah keras.
Pertimbangan perencanaan bangunan bawah :
Penempatan bangunan bawah diusahakan tidak mengganggu penampang basah
sungai akibat penyempitan penampang basah sungai karena adanya bangunan
bawah sehingga tergerusnya tanah tebing atau dasar sungai.
Gerusan / scouring pada tanah disekitar bangunan bawah dapat menyebabkan
ketidakstabilan konstruksi.
Material yang diangkut sungai (balok kayu & batuan) dapat merusak bangunan
bawah sungai.
Kecepatan aliran yang tinggi dapat mendorong jembatan, sehingga bangunan
bawah harus kuat menahan gaya horisontal dan gaya vertikal.
Timbunan tinggi pada oprit jembatan jika tanahnya lembek akan mendorong
kedepan dan menimbulkan tekanan horisontal terhadap pondasi.
Abutment ( Pangkal Jembatan )
Dalam perencanaan ini, struktur bawah jembatan berupa pangkal jembatan
(abutment) yang dapat diasumsikan sebagai dinding penahan tanah, ada 3 jenis umum
antara lain: Pangkal tembok penahan tanah, pangkal kolom spill-through, dan pangkal
II-36
STUDI PUSTAKA
tanah bertulang. Yang sering dipakai adalah pangkal tembok penahan kantilever yang
disesuaikan jenis pondasinya. Abutment berfungsi menyalurkan seluruh beban
vertikal dan momen serta gaya horizontal akibat tekanan tanah aktif yang terjadi pada
jembatan menuju ke pondasi serta mengadakan peralihan tumpuan oprit ke bangunan
atas jembatan. Dalam hal ini perhitungan abutment meliputi :
a) Menentukan bentuk dan dimensi rencana penampang abutment serta mutu
beton serta tulangan yang diperlukan.
b) Menentukan pembebanan yang terjadi pada abutment :
Beban mati berupa gelagar, diafragma, plat lantai jembatan, plat trotoir,
perkerasan (pavement) jembatan, sandaran, dan air hujan.
Beban hidup berupa beban merata dan garis serta beban di trotoir.
Beban sekunder berupa beban gempa, tekanan tanah aktif, rem dan
traksi, koefisien kejut, beban angin dan beban akibat aliran dan tumbukan
benda-benda hanyutan.
c) Menghitung momen, gaya normal dan gaya geser yang terjadi akibat
kombinasi dari beban-beban yang bekerja.
d) Mencari dimensi tulangan dan cek apakah abutment cukup memadai untuk
menahan gayagaya tersebut.
e) Ditinjau juga kestabilan terhadap sliding dan bidang runtuh tanah.
f) Ditinjau juga terhadap settlement (penurunan tanah)
2.6.4.
Pondasi
Pondasi menyalurkan beban-beban terpusat vertikal dan lateral dari bangunan
bawah kedalam tanah pendukung dengan cara demikian sehingga hasil tegangan dan
gerakan tanah dapat dipikul oleh struktur keseluruhan.
pondasi yang biasanya dipakai adalah sebagai berikut :
Alternatif-alternatif jenis
II-37
STUDI PUSTAKA
Jenis Pondasi
Dangkal
Pondasi Telapak
Pondasi Plat
Dalam
Sumuran
Tiang Bor
Kayu
Tiang H
Tiang Pancang
Baja
Tiang Pipa
Beton
Bertulang
Pratekan
Gambar 2.4. Jenis Pondasi
Pertimbangan pemilihan jenis pondasi adalah sebagai berikut :
-
Jenis tanah, tebal lapisan pendukung dan kedalaman tanah keras.
Muka air tanah.
Sifat aliran sungai, sifat terkikisnya/gerusan dan sedimentasi.
Gaya dari konstruksi jembatan
Kapasitas daya dukung tanah & stabilitas tanah yang mendukung pondasi.
Metoda pelaksanaan.
Alternatif tipe pondasi yang dapat digunakan antara lain :
a. Pondasi Langsung ( pondasi telapak & pondasi plat )
Pondasi langsung diperlukan jika lapisan tanah keras (lapisan tanah yang
dianggap baik mendukung beban) terletak tidak jauh (dangkal) < 5 m dari muka
tanah. Dalam perencanaan jembatan
pada sungai yang masih aktif, pondasi
STUDI PUSTAKA
II-38
telapak tidak dianjurkan mengingat untuk menjaga kemungkinan terjadinya
pergeseran akibat gerusan.
b. Pondasi Sumuran
Pondasi sumuran digunakan untuk kedalaman tanah keras antara 5 - 8 m.
Pondasi sumuran dibuat dengan cara menggali tanah berbentuk lingkaran
berdiameter > 80 cm. Penggalian secara manual dan mudah dilaksanakan.
Kemudian lubang galian diisi dengan beton siklop (1pc : 2ps : 3kr) atau beton
bertulang jika dianggap perlu. Pada ujung atas pondasi sumuran dipasang poer
untuk menerima dan meneruskan beban ke pondasi secara merata.
c. Pondasi Bore Pile
Pondasi bore pile merupakan jenis pondasi tiang yang dicor di tempat, yang
sebelumnya dilakukan pengeboran dan penggalian. Sangat cocok digunakan pada
tempat-tempat yang padat oleh bangunan-bangunan, karena tidak terlalu bising
dan getarannya tidak menimbulkan dampak negatif terhadap bangunan di
sekelilingnya.
d. Pondasi Tiang Pancang
Pondasi tiang pancang, umumnya digunakan jika lapisan tanah keras /
lapisan pendukung beban berada jauh dari dasar sungai dan kedalamannya > 8,00
m.
Sedangkan Poer adalah sebagai kepala dari kumpulan sumuran, berfungsi untuk
mengikat beberapa sumuran menjadi satu kesatuan agar letak/posisi dari sumuran
tidak berubah dan beban dari struktur atas dapat disalurkan dengan sempurna ke
lapisan tanah keras melalui pondasi sumuran tersebut sehingga sruktur jembatan
dapat berdiri dengan stabil dan kuat sesuai dengan umur rencana.
Wingwall
Wingwall merupakan sayap pada abutment yang berfungsi menyalurkan beban
dari pelat injak ke abutment dan untuk menahan tanah oprit agar tidak keluar
kesamping.
STUDI PUSTAKA
II-39
2.6.5. Bangunan Pelengkap
Tembok Sedada (Parapet)
Tembok sedada berfungsi sebagai dinding pengaman pengguna jalan ketika
melewati oprit masuk ke jembatan dan sebagai tempat menempel marmer nama
jembatan.
Dinding Penahan Tanah
Konstruksi dinding penahan tanah direncanakan untuk mencegah bahaya
keruntuhan tanah yang curam ataupun lereng dan dibangun pada tempat-tempat yang
stabilitas dan kemantapannya tidak dapat dijamin oleh lereng tersebut. Data tanah
yang diperlukan untuk keperluan perencanaan dinding penahan tanah antara lain data
soil properties seperti: nilai kohesi tanah c, sudut geser tanah dan berat jenis tanah
.
2.6.6. Oprit
Oprit dibangun agar memberikan kenyamanan saat peralihan dari ruas jalan
ke jembatan. Pada perencanaan oprit, perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut :
a. Tipe dan kelas jalan / kelas jembatan, hal ini sangat berhubungan dengan
kecepatan rencana.
b. Volume lalu lintas
c. Tebal perkerasan
[Link].
Alinyemen Horisontal dan Alinyemen Vertikal Oprit
1. Alinyemen Horisontal
Alinyemen horisontal adalah garis proyeksi sumbu jalan tegak lurus pada bidang
datar peta (trase). Trase jalan biasa disebut situasi jalan, secara umum menunjukkan
arah dari jalan yang bersangkutan. Trase merupakan susunan terdiri dari potonganpotongan garis lurus yang biasa disebut dengan tangen dan satu sama lainnya
dihubungkan dengan lengkung-lengkung berupa busur lingkaran (circle) yang disebut
II-40
STUDI PUSTAKA
dengan bagian lengkung (curve), atau ditambah dengan lengkung peralihan (spiral).
Berikut gambar lengkung horisontal :
E
1/2
PC
PT
R
1/2
1/2
Gambar 2.5. Lengkung Horisontal
Dalam sket lengkung horisontal diperlihatkan bagian busur lingkarannya
mempunyai jari-jari R. Titik awal perubahan dari bagian lurus kebagian busur
lingkaran disebut titik lengkung (PC), dan titik akhirnya dimana mulai perubahan dari
busur lingkaran ke bagian lurus kembali disebut titik tangen (PT). Titik perpotongan
antara kedua tangen tersebut adalah titik tangen (AV atau BV) yang panjangnya
disebut T, dan panjang tangen dihitung dengan rumus :
T = R tg
Tali busur AB dengan panjang C, akan diperoleh sebesar : C = 2 R . sin
II-41
STUDI PUSTAKA
Jarak eksternal E adalah jarak dari titik perpotongan tangen ke lengkung lingkaran
dihitung dengan : E = R . sec
R
2
Ordinat tengah M adalah jarak antara titik tengah tali busur dan titik tengah lengkung
lingkaran, dengan hubungan : M = R (1 cos
)
2
Dan panjang lengkung lingkaran (L), dihitung : L =
R
180
a. Bentuk Tikungan Circle (Full Circle)
Bentuk tikungan ini digunakan pada tikungan yang mempunyai jari-jari besar dan
sudut tangen relatif kecil. Besarnya jari-jari tikungan hanya dimungkinkan
bilamana kondisi topografi memungkinkan untuk ukuran tersebut.
Tabel 2.19. Jari jari Lengkung Minimum
Kecepatan Rencana
Jari-jari Lengkung
Jari-jari Lengkung
(km/jam)
Luar Kota (m)
Dalam Kota (m)
120
7.500
100
5.500
1.500
80
3.500
1.000
60
2.000
600
40
800
250
30
500
150
20
200
50
Sumber : Perencanaan Teknik Jalan Raya, Politeknik Negeri Bandung, 2000
II-42
STUDI PUSTAKA
PI
T
TC
CT
LC
R
1 /2
Gambar 2.6. Bentuk Tikungan Circle (Full Circle)
Gambar 2.7 Diagram Superselevasi Lengkung Full Circle
II-43
STUDI PUSTAKA
Keterangan gambar bentuk Circle
PI Sta
: Nomor stasiun (Point of Intersection)
: Kecepatan rencana (km/jam)
: Jari-jari kelengkungan (m)
: Sudut tangen (derajad)
TC
: Tangen circle
CT
: Circle tangen
: Jarak antara TC dan PI (m)
: Panjang tikungan (m)
: Jarak PI ke lengkung peralihan (m)
Dari gambar tersebut didapat hubungan sebagai berikut :
tg = 1/R sehingga
T = R . tg
dan E = T . tg 1/4 sehingga E = ( R 2 + T 2 R)
atau E = R (sec - 1) dan, L =
.2 .R
360
b. Bentuk Tikungan Spiral Circle Spiral
Lengkung peralihan dibuat untuk menghindari terjadinya perubahan alinyemen
yang tiba tiba dari bentuk lurus ke bentuk lingkaran (R = R = Rc). Jadi
lengkung peralihan ini diletakkan antara bagian lurus dan bagian lingkaran
(circle), yaitu pada sebelum dan sesudah tikungan berbentuk busur lingkaran.
Lengkung peralihan dengan bentuk spiral (clothoid) banyak digunakan juga oleh
Bina Marga. Dengan adanya lengkung peralihan, maka tikungan menggunakan
jenis SCS. Panjang lengkung peralihan (Ls), menurut Tata Cara Perencanaan
Geometrik Jalan Antar Kota, 1997, diambil nilai yang terbesar dari tiga
persamaan di bawah ini, :
a. Berdasarkan waktu tempuh maksimum (3 detik), untuk melintas lengkung
peralihan, maka panjang lengkung : Ls =
VR
T
3,6
II-44
STUDI PUSTAKA
b. Berdasarkan antisipasi gaya sentrifugal, digunakan rumus Modifikasi Shortt,
sebagai berikut : Ls = 0,022
VR
V .e
2,727 R
RC C
C
Berdasarkan tingkat pencapaian perubahan kelandaian
Ls =
(e m e n )
VR
3,[Link]
dimana :
T = waktu tempuh = 3 detik
Re = jari jari lingkaran (m)
C = perubahan percepatan 0,3 1,0 disarankan 0,4 m/det
re = tingkat pencapaian perubahan kelandaian melintang jalan, sebagai
berikut:
untuk VR 70 km/jam rc maks = 0,035 m/m/det
untuk VR 80 km/jam rc maks = 0,025 m/m/det
PI
Ts
Xc
Es
W
Yc
CS
SC
TS
LS
P
ST
RC
Ta
(Lu nge
rus nt
)
Gambar 2.8. Bentuk Tikungan Spiral Circle Spiral
STUDI PUSTAKA
II-45
Gambar 2.9 Diagram Superselevasi Lengkung Spiral - Circle - Spiral
Keterangan :
Xc = absis titik SC pada garis tangent, jarak dari titik TS ke SC (jarak lurus
lengkung peralihan)
Yc= ordinat titik SC pada garis tegak lurus garis tangent, jarak tegak lurus ke titik
SC pada lengkung.
Ls = panjang lengkung peralihan (panjang dari titik TS ke SC atau CS ke ST).
Lc = panjang busur lingkaran (panjang dari titik SC ke CS)
Ts = panjang tangent dari titik PI ke titik TS atau ke titik ST
TS = titik dari tangent ke spiral.
Es = jarak dari PI ke busur lingkaran
s = sudut lengkung spiral
Rc = jari jari lingkaran
p = pergeseran tangent terhadap spiral
k = absis dari p pada garis tangent spiral
II-46
STUDI PUSTAKA
Ls 2
Xc = Ls1
2
40 Rc
Yc =
Ls 2
6 Rc
s =
90 Ls
Rc
p=
Ls 2
Rc(1 cos s)
6 Rc
k = Ls
Ls 2
RcSins
40 Rc 2
Ts = ( Rc + p) tan 1 + k
2
Es = ( Rc + p) sec 1 Rc
2
Lc =
( 2s)
x x Rc
180
Ltot = Lc + 2 Ls
Jika diperoleh Lc < 25 m, maka sebaiknya tidak digunakan bentuk S-C-S, tetapi
digunakan lengkung S-S, yaitu lengkung yang terdiri dari dua lengkung peralihan.
Jika P yang dihitung dengan rumus p =
Ls
< 0,25 m , maka ketentuan tikungan
24 Rc
yang digunakan bentuk FC.
Untuk : Ls = 1,0 meter, maka p=p dan k=k
Untuk : Ls = Ls, maka p = p x Ls dan k = k x Ls
Nilai p dan k dapat diambil dari tabel 5.6 hal 100 (Perencanaan Teknik Jalan
Raya, 2000)
II-47
STUDI PUSTAKA
c. Bentuk Tikungan Spiral Spiral
Bentuk tikungan jenis ini dipergunakan pada tikungan tajam. Rumus-rumus yang
digunakan seperti pada tikungan spiral circle spiral tetapi dengan cara
menghilangkan panjang circlenya, seperti berikut :
c = 0 sehingga = 2 s dan Lc = 0
L = 2 L' S dimana L' S =
c
LS + LS
2 .S
YC =
LS
6 . RC
X C = L' S
dan
P = YC RC (1 cos
K = X C RC sin
LS
40 . RC
1
)
2
Selanjutnya harga Ts dan Es dihitung :
1
+K
2
1
R
2
PI
Ts
Yc
Es
Xc
SCS
PT
PC
K
E S = ( R + P) sec
ST
TS
TS = ( R + P) tg
t
en
ng )
T a ru s
u
(L
Gambar 2.10. Bentuk Lengkung Spiral Spiral
STUDI PUSTAKA
II-48
Gambar 2.11 Diagram Superselevasi Lengkung Spiral - Spiral
2. Alinyemen Vertikal
Lengkung vertikal direncanakan untuk merubah secara bertahap perubahan
dari dua macam kelandaian arah memanjang jalan pada setiap lokasi yang diperlukan.
Hal ini dimaksudkan untuk mengurangi goncangan akibat perubahan kelandaian dan
menyediakan jarak pandang henti yang cukup, untuk keamanan dan kenyamanan.
Lengkung vertikal terdiri dari dari dua jenis yaitu :
- Lengkung Cembung
- Lengkung Cekung
II-49
STUDI PUSTAKA
PV1
Ev
g1
g2
Gambar 2.12. Tipikal Lengkung Vertikal
Rumus yang digunakan :
X =
L g1
L g1
=
g1 g 2
A
Y=
L ( g1 ) 2
L ( g1 ) 2
=
2A
2 ( g1 g 2 ) 2
Dimana :
X = Jarak dari titik P ke titik yang ditinjau pada sta. (sta)
Y = Perbedaan elevasi antara titik P dan titik yang ditinjau pada sta. (m)
L = Panjang lengkung vertikal parabola yang merupakan jarak pandang
proyeksi dari titik Q . (sta)
g1 = Kelandaian tangen dari titik P. (%)
g2 = Kelandaian tangen dari titik Q. (%)
Rumus diatas untuk lengkung simetris.
(g1 g2) = A = perbedaan aljabar untuk kelandaian (%).
II-50
STUDI PUSTAKA
Kelandaian untuk menaik (pendakian), diberi tanda (+), sedangkan kelandaian
menurun (penurunan), diberi tanda (-), Ketentuan pendakian atau penurunan ditinjau
dari kiri.
Ev =
A L
800
untuk : x = L
y = Ev
(1). Lengkung vertikal cembung
Ketentuan tinggi menurut Bina Marga (1997) untuk lengkung cembung seperti
pada tabel 2.20
Tabel 2.20. Ketentuan tinggi untuk jenis jarak pandang
Untuk jarak pandang
h1 (m) tinggi mata
h2 (m) tinggi obyek
Henti (jh)
1,05
0,15
Mendahului (jd)
1,05
1,05
Sumber
Tata
Cara
Perencanaan
No.038/T/BM/1997
a. Panjang L, berdasarkan Jh
2
Jh < L, maka : L =
A.J h
399
Jh < L, maka : L = 2 J h
399
A
b. Panjang L, berdasarkan Jd
2
A.J d
Jd < L, maka : L =
840
Geometrik
Jalan
Antar
Kota,
II-51
STUDI PUSTAKA
Jd < L, maka : L = 2 J d
840
A
(2). Lengkung vertikal cekung
Tidak ada dasar yang dapat digunakan untuk menentukan panjang lengkung
cekung vertikal (L), akan tetapi ada empat criteria sebagai pertimbangan yang
dapat digunakan, yaitu :
- Jarak sinar lampu besar dari kendaraan
- Kenyamanan pengemudi
- Ketentuan drainase
- Penampilan secara umum
2
Jh < L, maka : L =
A.J h
120 + 3,5 J h
Jh < L, maka : L = 2 J h
120 + 3,5 J h
A
Panjang untuk kenyamanan
L=
A *V 2
389
Tabel 2.21. Kelandaian Maksimum
Kelandaian Maksimum
Kecepatan rencana
(km/jam)
Luar Kota
Dalam Kota
Standart
Mutlak
100
80
60
II-52
STUDI PUSTAKA
50
10
40
11
30
12
20
13
Sumber : Perencanaan Teknik Jalan Raya, Politeknik Negeri Bandung, 2000
Tabel 2.22. Standart Panjang Minimum Lengkung Vertikal
Standart Panjang Minimum
Kecepatan rencana
Luar Kota
(km/jam)
Dalam Kota
Luar Kota
100
85
80
70
70
60
50
50
50
40
40
40
35
35
30
25
25
20
20
20
Sumber : Perencanaan Teknik Jalan Raya, Politeknik Negeri Bandung, 2000
[Link]. Stabilitas Oprit
Stabilitas timbunan oprit terhadap keruntuhan/kelongsoran permukaan
tanah, dengan faktor keamanan 3, dengan rumus = S (t/m) > Pa (t/m)
3
II-53
STUDI PUSTAKA
Tegangan tanah Pa = * * Ka* H2
Gaya internal lapisan tanah S = H * Cu * tan &
[Link]. Tebal Perkerasan Oprit
Perumusan konsep untuk mendapatkan tebal perkerasan :
a. Lalu lintas Harian Rata-rata (LHR) setiap jenis kendaraan ditentukan pada awal
umur rencana, yang dihitung untuk dua arah pada jalan tanpa median atau
masing-masing arah pada jalan dengan median.
b. Angka Ekuivalen (E) Beban Sumbu Kendaraan
Angka Ekuivalen (E) masing-masing golongan beban sumbu (setiap kendaraan)
ditentukan menurut rumus daftar dibawah ini :
Angka ekuivalen sumbu tunggal = (
Beban satu sumbu tunggal (kg ) 4
)
8160
Angka ekuivalen sumbu ganda = 0,086 (
Beban satu sumbu ganda (kg ) 4
)
8160
c. Lintas Ekuivalen Permulaan (LEP) dihitung dengan rumus sebagai berikut :
n
LEP = LHR j * C j * E j
j =1
Catatan : j = jenis kendaraan.
d. Lintas Ekuivelen Akhir (LEA) dihitung dengan rumus sebagai berikut :
n
LEA = LHR j (1 + i )UR * C j * E j
j =1
Catatan : i = perkembangan lalu lintas.
j = jenis kendaraan.
e. Lintas Ekuivalen Tengah (LET) dihitung dengan rumus sebagai berikut :
LET =
LET + LEA
2
f. Lintas Ekuivalen Rencana (LER) dihitung dengan rumus sebagai berikut :
LER = LET * FP
Faktor penyesuaian (FP) tersebut diatas ditentukan dengan rumus :
II-54
STUDI PUSTAKA
FP = UR/10
g. Analisa Komponen Perkerasan
Perhitungan perencanaan ini didasarkan pada kekuatan relatif masing-masing
lapis perkerasan jangka panjang, dimana penentuan tebal perkerasan dinyatakan
oleh ITP (Indeks Tebal Perkerasan), dengan rumus sebagai berikut:
ITP = a1 D1 + a2 D2 + a3 D3
a1, a2, a3
Koefisien kekuatan relatif bahan perkerasan yang
pada umumnya diambil ;
a1 = 0,25 ; a2 = 0,12 ; a3 = 0,10
D1, D2, D3
Tebal masing-masing lapis perkerasan (cm)
Angka 1, 2, 3 : masing-masing untuk lapis permukaan, lapis pondasi dan lapis
pondasi bawah.
Batas-batas Minimum Tebal Lapisan Perkerasan yaitu sebagai berikut :
1. Lapis Permukaan
Tabel 2.23. Lapis Permukaan
ITP
Tebal Minimum
Bahan
(cm)
< 3,00
Lapis Pelindung : (Buras/Burtu/Burda)
3,00 6,70
Lapen/Aspal Macadam, HRA, Lasbutag,
6,71 7,49
7,5
Laston.
II-55
STUDI PUSTAKA
7,50 9,99
7,5
Lapen/Aspal Macadam, HRA, Lasbutag,
> 10,00
10
Laston.
Lasbutag, Laston
Laston
Sumber:Petunjuk Perencanaan Tebal Perkerasan Lentur Jalan Raya Dengan Metode
Analisa Komponen SKBI-2.3.26.1987
2. Lapis Pondasi
Tabel 2.24. Lapis Pondasi
ITP
< 3,00
Tebal Minimum
Bahan
(cm)
15
Batu pecah, stabilisasi tanah dengan semen,
stabiliasi tanah dengan kapur.
3,00 7,49
20 * )
10
7,50 9,99
20
Batu pecah, stabilisasi tanah dengan semen,
stabiliasi tanah dengan kapur.
Laston Atas.
Batu pecah, stabilisasi tanah dengan semen,
stabiliasi tanah dengan kapur, pondasi
10 12,14
15
macadam.
20
Laston Atas.
Batu pecah, stabilisasi tanah dengan semen,
> 12,25
25
stabiliasi tanah dengan kapur, pondasi
macadam, Lapen, Laston Atas.
Batu pecah, stabilisasi tanah dengan semen,
II-56
STUDI PUSTAKA
stabiliasi tanah dengan kapur, pondasi
macadam, Lapen, Laston Atas.
Sumber:Petunjuk Perencanaan Tebal Perkerasan Lentur Jalan Raya Dengan Metode
Analisa Komponen SKBI-2.3.26.1987
* ) Batas 20 cm tersebut dapat diturunkan menjadi 15 cm bila untuk pondasi
bawah digunakan material berbutir kasar.
3. Lapis Pondasi Bawah
Untuk setiap nilai ITP bila digunakan pondasi bawah, tebal minimum = 10 cm.
Oprit dibangun dengan tujuan untuk memberikan keamanan dan kenyaman
pada saat peralihan dari ruas jalan ke jembatan. Untuk desain jalan ini, tebal oprit
ditentukan berdasarkan nilai CBR, tanah dasar yang dipadatkan (Compacted
Subgrade). Dan untuk keperluan perencanaan, digunakan nilai desain CBR dengan
memperhatikan faktor-faktor dibawah ini :
1. Kadar air tanah
2. Berat isi kering pada saat tanah dipadatkan.