Pengertian Transformator
Trafo adalah suatu peralatan listrik yang berguna untuk mengubah nilai tegangan atau arus dari nilai yang
satu ke nilai yang lainnya sesuai dengan kebutuhan. Trafo bekerja berdasarkan pada hukum faraday. Jenis
trafo sangat beragam tergantung pada tegangan kerja, fasa yang dipakai, dan untuk apa trafo tersebut
digunakan. Salah satu jenis trafo yang dibahas kali ini adalah trafo tiga fasa yang umumnya memiliki
tegangan kerja yang tinggi dan biasanya berada pada gardu induk yang berfungsi untuk menurunkan
tegangan transmisi (tegangan tinggi) menjadi tegangan distribusi (menengah).
Transformator atau yang biasa di sebut trafo adalah suatu peralatan listrik yang termasuk dalam
klasifikasi mesin listrik statis. Transformator 3 fasa pada dasarnya merupakan Transformator 1 fase yang
disusun menjadi 3 buah dan mempunyai 2 belitan, yaitu belitan primer dan belitan sekunder.
Sesuai dengan namanya maka trafo tiga fasa bekerja pada tegangan yang memiliki tiga buah fasa. Sebuah
transformator tiga fasa secara prinsip sama dengan sebuah transformator satu fasa, perbedaan yang paling
mendasar adalah pada sistem kelistrikannya yaitu sistem satu fasa dan tiga fasa. Sehingga transformator
tiga fasa bisa dihubung bintang, segitiga, atau zig-zag. Transformator tiga fasa banyak digunakan pada
sistem tranmisi dan distribusi tenaga listrik karena pertimbangan ekonomis. Transformator tiga fasa
banyak sekali mengurangi berat dan lebar kerangka, sehingga harganya dapat dikurangi bila dibandingkan
dengan penggabungan tiga buah transformator satu fasa dengan rating daya yang sama.
Fungsi Transformator
Transformator berfungsi untuk menyalurkan tenaga/daya listrik dari tegangan tinggi ke tegangan rendah
atau sebaliknya, dengan frekuensi sama. Sistem kerja transformator tenaga pada umumnya di tanahkan
pada titik netral, sesuai dengan kebutuhan untuk sistem pengamanan atau proteksi. Contoh dari
transformator ini adalah transformator 250/50 kV yang ditanahkan secara langsung di sisi netral 50 kV
Prinsip Kerjanya
Pada dasarnya transformator 3 fasa sama dengan transformator 1 fasa. Baik cara kerja maupun teori
dasarnya yaitu bekerja pada dasar kerja induksi [Link] transformator 3 fasa dapat
diperoleh dari 3 buah transformator satu fasa atau unit transformator 3 fasa. Jika suplai 3 fasa yang
digunakan adalah V1,V2, dan V3 dan masing-masing menghasilkan fluks (1,2, dan 3) yang masingmasing fluks beda fasa 120, maka berdasarkan hukum faraday pada lilitan primer dan lilitan sekunder
masing-masing akan menghasilkan ggl induksi dan masing-masing fasa juga berjarak
[Link] kerja suatu transformator adalah induksi bersama (mutual induction) antara
dua rangkaian yang dihubungkan oleh fluks magnet. Dalam bentuk yang sederhana, transformator
terdiri dari dua buah kumparan yang secara listrik terpisah tetapi secara magnet dihubungkan oleh suatu
alur
induksi.
Kedua
kumparan
tersebut
mempunyai
mutual
induction
yang tinggi. Jika salah satu kumparan dihubungkan dengan sumber tegangan bolak-balik,
fluks bolak-balik timbul di dalam inti besi yang dihubungkan dengan kumparan yang lain
menyebabkan atau menimbulkan ggl (gaya gerak listrik) induksi ( sesuai dengan induksi
elektromagnet) dari hukum faraday.
Konstruksi Transformator 3 Fasa
Secara umum sebuah transformator tiga fasa mempunyai konstruksi hampir sama, yang membedakannya
adalah alat bantu dan sistem pengamannya, tergantung pada letak pemasangan, sistem pendinginan,
pengoperasian, fungsi dan pemakaiannya. Bagian utama, alat bantu, dan sistem pengaman yang ada pada
sebuah transformator [Link] mengurangi kerugian yang disebabkan oleh arus pusar di dalam inti,
rangkaian magnetik itu biasanya terdiri dari setumpuk laminasi tipis.
Dalam jenis inti (core type) kumparan dililitkan disekitar dua kaki inti magnetik persegi. Dalam jenis
cangkang (shell type) kumparan dililitkan sekitar kaki tengah dari inti berkaki tiga dengan laminasi
silikon-steel.
Trafo Jenis Inti
Trafo Jenis Cangkang
Umumnya digunakan untuk transformator yang bekerja pada
frekuensi dibawah beberapa ratus Hz. Silikon-steel memiliki sifatsifat yang dikehendaki yaitu murah, rugi inti rendah dan
permeabilitas tinggi pada rapat fluks tinggi. Inti transformator
yang dipergunakan dalam rangkaian komunikasi pada frekuensi
tinggi dan tingkat energi rendah, kadang-kadang dibuat dari
campuran tepung ferromagnetik yang dimanfaatkan sebagai
permalloy.
Inti trafo
Seperti halnya pada transformator satu fasa inti besi berfungsi
sebagai tempat mengalirnya fluks dari kumparan primer ke kumparan sekunder sehingga akan didapatkan
induksi medan yang lebih kuat. Sama seperti transformator satu fasa, berdasarkan cara melilit
kumparannya ada dua jenis, yaitu tipe inti dan tipe cangkang.
Inti trafo dibuat dari lempengan-lempengan besi tipis dari bahan besi silicon (Grain Oriented Silicon
Steel) yang berisolasi, yang tujuannya adalah untuk mengurnagi panas (sebuah rugi-rugi besi) yang
ditimbulkan oleh Eddy Current
Sebuah transformator pada umumnya mempunyai inti atau core menggunakan baja terlaminasi silicon
atau lebih dikenal sebagai CRGO Steel (Cold-Rolled Grain Oriented) dan nama umumnya adalah silicon
steel.
CRGO merupakan bahan magnetik lunak yang paling penting yang digunakan saat [Link] di trafo kecil,
trafo distribusi atau di trafo besar & generator, berorientasi listrik baja CRGO adalah suatu keharusan
untuk produksi menghemat mesin listrik energi.
Grain Oriented Baja Listrik (CRGO) lebih terbatas dalam komposisi. Tekstur dikembangkan oleh
serangkaian kerja dan operasi yang hati-hati, dan bahan
harus tetap pada dasarnya di fase tunggal seluruh
pengolahan, khususnya selama fase akhir karena
transformasi fase menghancurkan tekstur. Untuk
menghindari y loop sistem fase Fe-Si, baja komersial saat
ini memiliki sekitar 3,25% Si. Varietas silikon yang lebih
tinggi, yang mungkin digunakan atas dasar peningkatan
resistivitas dan magnetic lebih rendah. Suhu, komposisi
atmosfer, dan titik embun erat dikendalikan tanpa oksidasi
permukaan. Selama perawatan ini, rekristalisasi primer
terjadi, terbentuk kecil, seragam, biji-bijian sama-sumbu.
Lapisan magnesium silicate glass yang membentuk akan memberikan isolasi listrik antara laminasi
berturut ketika berkumpul dalam inti transformator. Pada tahap ini, baja listrik yang dinilai dengan
memotong sampel Epstein dari kumparan.
Susunan laminasi ini pada dasarnya telah mempunyai sifat magnetis sehingga ketika diinduksi oleh aliran
arus listrik maka akan timbul jalur flux magnet dan secara kualitatif dapat digambarkan oleh Gambar 5
berikut:
Inti Besi dan Laminasi yang diikat Fiber Glass
Gambar 5
Pada Gambar 6 diperlihatkan sebentuk interaksi sederhana antara flux magnet, arus listrik dan gaya
mekanis pada susunan inti magnet dan lilitan/winding. Tampak bahwa gaya tolak-menolak muncul pada
susunan tersebut, gaya inilah yang menjaga bentuk winding/lilitan sehingga tidak cekung ataupun
cembung terhadap inti magnet dan winding-winding berikutnya.
Inti besi stator dari generator sinkron 3 fasa 100kva 380v 50hz
Komponen utama motor sinkron adalah
Rotor. Perbedaan utama antara motor sinkron dengan motor induksi adalah bahwa rotor mesin sinkron
berjalan pada kecepatan yang sama dengan perputaran medan magnet. Hal ini memungkinkan sebab
medan magnit rotor tidak lagi terinduksi. Rotor memiliki magnet permanen atau arus DC-excited, yang
dipaksa untuk mengunci pada posisi tertentu bila dihadapkan dengan medan magnet lainnya.
Stator. Stator menghasilkan medan magnet berputar yang sebanding dengan frekwensi yang dipasok.
Motor ini berputar pada kecepatan sinkron, yang diberikan oleh persamaan berikut (Parekh, 2003):
Ns = 120 f / P
Dimana:
f = frekwensi dari pasokan frekwensi
P= jumlah kutub
Stator, adalah bagian yang tak berputar (diam) yang mempunyai bagian terdiri dari rangka stator yang
merupakan salah satu bagian utama dari generator yang terbuat dari besi tuang dan ini merupakan rumah
dari semua bagian-bagian generator, kutub utama beserta belitannya, kutub-kutub pembantu beserta
belitannya, bantalan-bantalan poros
Perbedaan perbedaan yang mendasar antara motor sinkron dan motor induksi berdasarkan pernyataan di
atas meliputi kecepatan medan magnet putar rotor dan medan magnet putar stator, arus medan yang
dihasilkan, dan juga konstruksi rotor yang akan dibahas pada bagian konstruksi
Konstruksi
Stator dari Mesin Sinkron terbuat dari bahan ferromagnetik , seperti telah dibahas di sini, yang berbentuk
laminasi untuk mengurangi rugi-rugi arus pusar. Dengan inti ferromagnetik yang bagus berarti
permebilitas dan resistivitas dari bahan tinggi.
Gambar 4. Inti Stator dan Alur pada Stator
Gambar 4 memperlihatkan alur stator tempat kumparan jangkar. Belitan jangkar (stator) yang umum
digunakan oleh mesin sinkron tiga fasa, ada dua tipe yaitu :
a. Belitan satu lapis (Single Layer Winding).
b. Belitan berlapis ganda (Double Layer Winding)
Stator sinkron pada generator merupakan gulungan kawat penghantar yang disusun sedemikian rupa dan
ditempatkan pada alur-alur inti besi. Pada penghantar tersebut adalah tempat terbentuknya GGL induksi
yang diakibatkan dari medan magnit putar dari rotor yang memotong kumparan penghantar stator.
Kumparan yang ditempatkan pada alur-alur tersebut dibagi menjadi 3 (tiga) grup, sehingga menjadi
keluaran 3 phasa, dan biasanya disambung sistem bintang (Y). Inti besi stator terdiri dari laminasilaminasi plat besi yang satu dan lainnya terisolasi dengan vernis atau kertas isolasi (implegnated paper).
Tujuan dari laminasi-laminasi tersebut adalah untuk mengurangi besarnya arus pusar (Eddy Current),
karena arus pusar ini dapat menimbulkan panas pada inti stator dan akhirnya dapat merusak isolasi
kumparan penghantar
Pada mulanya stator akan dicatu oleh sumber tiga fasa sehingga akan muncul arus tiga fasa pada
kumparan. Arus yang mengalir akan menimbulkan medan magnet putar. Kemampuan dan kualitas
generator ditentukan juga oleh bahan inti besi dan bahan tembaga yang dipakai serta tingkat ketahanan
isolasi terhadap panas yang melaluinya. Bahan inti dari stator merupakan bahan terpilih yang mempunyai
tingkat permeabilitas magnetic yang tinggi, terbentuk dari lapisan lapisan plat yang terlaminasi satu sama
lain. Hal ini adalah dimaksudkan untuk mengurangi rugi besi karena rugi arus hystrisis yang berpusar
dalam inti besi. Terbuat dari besi tuang. Rangka motor merupakan rumah dari bagian-bagian motor yang
lain.
Besi Tuang adalah Besi yang mempunyai kandungan karbon antara 2,5%- 4%, karena kandungannya
hanya 2,5%- 4% maka besi tuang ini mempunyai kemampuan las yang rendah. Karbon dalam Besi Tuang
dapat berupa sementit (Fe3C) atau biasa disebut dengan Karbon Bebas (grafit).
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI SIFAT MAMPU LAS PADA BESI TUANG :
1. Ketegangan saat pendinginan.
Secara teori pengelasan (welding) material las (logam las / weld metal) akan berkontraksi selama
pendinginan. Karena kerapuhan dari besi tuang inilah kontraksi cast iron mempunyai kemampuan yang
lebih rendah dibandingkan Baja.
2. Bentuk yang tidak beraturan.
Umumnya Besi Tuang ini dibuat dalam bentuk yang tidak berarturan atau boleh saya bilang artistic.
Dengan adanya bentuk yang rumit besi tuang tersebut sedikit banyak mempunyai ketebalan yang tidak
seragam hal ini akan mempengaruhi konstraksi tegangan yang terjadi pada material tersebut dan mudah
terjadi retak dan perlu diingat juga yang melatarbelakangi ini adalah sifatnya yang mempunyai daya
lentur yang sangat rendah.
3. HAZ yang keras.
HAZ pada Besi Tuang yang berdekatan dengan Weld Metal akan mempunyai sifat yang keras. Pengerasan
ini diakibatkan oleh adanya bagian HAZ yang tidak ikut mencair.
4. Pengikatan Karbon dari Base Metal.
Akibat Pengelasan Besi tuang yang tercampur dengan logam dasar akan menyebabkan terjadinya
pengikatan karbon pada sambungan las sehingga menyebabkan peningkatan kandungan sulfur dan
[Link] logam las tersebut.
5. Penyerapan Minyak pada Besi Tuang.
Karena bentuk karekteristik material ini rata-rata berpori maka kemungkinan terjadinya peresapan minyak
dalam gravit yang menyebabkan porositas pada logam las. Biasanya sering dialami oleh para praktisi
pada saat memperbaiki sambungan las ketika sedang dilakukannya perawatan.
Faktor yang menyebabkan terjadinya retak pada besi tuang setelah terjadinya pengelasan.
1. Chemical Composition : %C = Carbon terlalu tinggi. Unsur C yang tinggi memang akan
menurunkan Titik Lebur baja (Mesti dibahas juga Diagram Fe-Fe3C) sehingga antara proses
peleburan dan penuangan di cetakan lebih mudah. Tetapi karena sifatnya yang lunak akan
menjadi sumber keretakan di paduan Besi Cor, apalagi yang C nya berbentuk Flake (Besi cor
mempunyai Carbon bebas, mungkin seperti radikal bebas di tubuh kita). %P= Posphor dan %S=
Sulphur Tinggi. Dalam paduan Fe, kadar P dan S tidak boleh lebih besar dari keteentuan. Karena
lebih dari itu akan menyebabkan sumber keretakan (kalau di proses rolling pembuatan besi beton
bisa pecah) . Lantas mengapa unsur P dan S ini tidak diturunkan saja? Dalam proses pengecoran,
unsur P dan S sangat diperlukan untuk meningkatkan mampu alir dari cairan besi.
2. Faktor-faktor lain seperti bentuk yang kompleks dan lain tidak banyak berpengaruh, karena
kebanyakan pada proses pengelasan Cast Iron, keretakan terjadi pada daerah HAZ.
3. Bagaimana pengaruh Oli ? Pengotor seperti ini lebih banyak berpengaruh terhadap terjadinya
Porosity pada besi lasan.
Cara menghindari terjadinya keretakan pada pada proses pengelasan besi tuang.
1. Gunakan kawat las Nickel.
2. Kontrol heat input dan Cooling rate.
3. Sebelum mengelas harus dibersihkan terlebih dulu dari misalnya Oli, Cat dan sebagainya.
Pada umumnya Besi Tuang (Cast Iron) mempunyai bentuk yang rumit suatu contoh (pipe fitting,
sprokect, pump, crank shaft mesin mobil dan beberapa peralatan yang terdapat pada pabrik gula) bukan
dalam bentuk mild seperti steel yang sering kita temui dipasaran.
HUBUNGAN ANTRA BESI TUANG DENGAN TEGANGAN
Dengan adanya bentuk yang rumit besi tuang tersebut sedikit banyak mempunyai ketebalan yang tidak
seragam hal ini akan mempengaruhi konstraksi tegangan yang terjadi pada material tersebut dan mudah
terjadi retak.
Untuk menghindari timbulnya keretakan pada sebuah besi tuang karena ketegangan akibat konstraksi
tegangan selama pengelasan sering dilakukan dengan memperluas bidang yang dipanasi dengan
pemanasan awal untuk menyeimbangkan kontraksi tegangan dalam hal ini ada metode yang dilakukan
dalam preheating :
1. Preheating [Link] untuk menghambat tingkat pendinginan sambungan las.
2. Preheating [Link] fungsi untuk melepaskan tegangan internal yang tersembunyi
dan untuk memperlambat pendinginan pengelasan. Hal ini cocok untuk material yang mempunyai
bentuk rumit Seperti roda gigi, sproket dsb.
Alasan penggunaan kawat las besi tuang berbasis pada unsur nickel (ni).
Nickel adalah suatu logam berwarna Putih perak, Mempunyai Berat Jenis 8.5 yang hampir sama dengan
[Link] dijadikan sebagai bagian dari bahan kawat las cast iron karena nickel mempunyai
karakteristik low solubility pada carbon. Dengan menyatunya nickel & besi dapat menghindari terjadinya
crack (retak) pada daerah fusion line akibat Adanya perbedaan expansion temperature pengelasan pada
material cast iron. selain itu logam las ini mempunyai karakteristik yang lentur dan mudah untuk
dimachining.
Perlu diketahui juga tidak selamanya kawat las cast iron berbasiskan pada nickel tetapi ada juga kawat las
yang berbasiskan tembaga (copper).