100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
954 tayangan10 halaman

Metode dan Alat dalam Logging Geofisika

Metode logging digunakan untuk mengukur sifat fisik batuan di sepanjang lubang bor dan memberikan informasi mengenai formasi geologi. Terdapat dua jenis logging yaitu geological logging yang melakukan pengamatan sampel dan geophysical logging yang mengukur respon instrumen terhadap formasi. Output utama metode logging antara lain log gamma untuk menentukan zona permeabel, log densitas untuk mengukur densitas batuan, dan keduanya berhubungan dengan porositas dan kandungan mineral batuan.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
954 tayangan10 halaman

Metode dan Alat dalam Logging Geofisika

Metode logging digunakan untuk mengukur sifat fisik batuan di sepanjang lubang bor dan memberikan informasi mengenai formasi geologi. Terdapat dua jenis logging yaitu geological logging yang melakukan pengamatan sampel dan geophysical logging yang mengukur respon instrumen terhadap formasi. Output utama metode logging antara lain log gamma untuk menentukan zona permeabel, log densitas untuk mengukur densitas batuan, dan keduanya berhubungan dengan porositas dan kandungan mineral batuan.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

METODE LOGGING

Logging merupakan metode pengukuran besaran-besaran fisik batuan


reservoir terhadap kedalaman lubang bor. Loging sumur (well logging) juga
dikenal dengan borehole logging adalah cara untuk mendapatkan rekaman log
yang detail mengenai formasi geologi yang terpenetrasi dalam lubang bor. Log
dapat berupa pengamatan visual sampel yang diambil dari lubang bor (geological
log), atau dalam pengukuran fisika yang dieroleh dari respon piranti instrumen
yang di pasang didalam sumur (geohysical log). Well loging dapat digunakan
dalam bidang eksplorasi minyak dan gas, batubara, air bawah tanah dan
geoteknik.
Logging sumur adalah pengukuran dalam lubang sumur menggunakan
instrumen yang ditempatkan pada ujung kabel wireline dalam lubang bor. Sensor
yang terletak diujung kabel wireline akan mendeteksi keadaan dalm sumur.
Loging sumur dilakukan setelah drill string dikeluarkan dari sumur. Terdapat dua
kabel yang terkoneksi dengan permukaan, kedalaman sumur direkam ketika
sensor turun dan diangkat kembali untuk memulai pendeteksian. Subset kecil
dari

data

pengukuran

dapat

ditransmisikan

ke

permukaan

real

time

menggunakan pressure pulses dalam wells mud fluid colomn. Data telemetri dari
dalam tanah mempunyai bandwidth yang kecil kurang dari 100bit per detik,
sehingga informasi dapat didapat real time dengan bandwidth yang kecil.

A.

Peralatan Logging
Logging tool (peralatan utama logging, berbentuk pipa pejal berisi alat

pengirim dan sensor penerima sinyal) diturunkan ke dalam sumur melalui tali
baja berisi kabel listrik ke kedalaman yang diinginkan. Biasanya pengukuran
dilakukan pada saat logging tool ini ditarik ke atas. Logging tool akan mengirim
sesuatu sinyal (gelombang suara, arus listrik, tegangan listrik, medan magnet,
partikel nuklir, dsb.) ke dalam formasi lewat dinding sumur. Sinyal tersebut akan
dipantulkan oleh berbagai macam material di dalam formasi dan juga material
dinding sumur. Pantulan sinyal kemudian ditangkap oleh sensor penerima di
dalam logging tool lalu dikonversi menjadi data digital dan ditransmisikan lewat

kabel logging ke unit di permukaan. Sinyal digital tersebut lalu diolah oleh
seperangkat komputer menjadi berbagai macam grafik dan tabulasi data yang
diprint pada continuos paper yang dinamakan log. Kemudian log tersebut akan
diintepretasikan dan dievaluasi oleh geologis dan ahli geofisika. Hasilnya sangat
penting untuk pengambilan keputusan baik pada saat pemboran ataupun untuk
tahap produksi nanti.

Sumber: [Link]
Gambar 1
Alat Logging

B.

Prinsip Dasar Logging


Seiring dengan meningkatnya ilmu pengetahuan dan teknologi maka

hadirlah survey geofisika tahanan jenis yang merupakan suatu metode yang
dapat memberikan gambaran susunan dan kedalaman lapisan batuan dengan
mengukur sifat kelistrikan batuan. Loke (1999) mengungkapkan bahwa survey
geofisika tahanan jenis dapat menghasilkan informasi perubahan variasi harga
resistivitas baik arah lateral maupun arah vertical. Metode ini memberikan injeksi
listrik ke dalam bumi, dari injeksi tersebut maka akan mengakibatkan medan
potensial sehingga yang terukur adalah besarnya kuat arus (I) dan potensial
(V), dengan menggunakan survey ini maka dapat memudahkan para geologist
dalam melakukan interpretasi keberadaan cebakan-cebakan batubara dengan
biaya eksplorasi yang relatif murah.
Logging geofisik untuk eksplorasi batubara dirancang tidak hanya untuk
mendapatkan informasi geologi, tetapi untuk memperoleh berbagai data lain,
seperti kedalaman, ketebalan dan kualitas lapisn batubara, dan sifat geomekanik
batuan yang menyertai penambahan batubara. Dan juga mengkompensasi

berbagai masalah yang tidak terhindar apabila hanya dilakukan pengeboran,


yaitu pengecekan kedalaman sesungguhnya dari lapisan penting, terutama
lapisan batubara atau sequence rinci dari lapisan batubara termasuk parting dan
lain-lain.

Sumber: [Link]
Gambar 2
Proses Logging

C.

Output Metode Logging

2.1

Log Gamma
Log Sinar Gamma adalah log yang digunakan untuk mengukur tingkat

radioaktivitas suatu batuan. Radioaktivitas tersebut disebabkan karena adanya


unsur Uraniun, Thorium, Kalium pada batuan. Ketiga elemen ini secara terus
menerus memancarkan gamma ray yang memiliki energi radiasi yang tinggi.
Kekuatan radiasi sinar gamma yang paling kuat dipancarkan oleh mudstone dan
yang paling lemah dipancarkan batubara. Terutama yang dari mudstone laut
menunjukan nilai yang ekstra tinggi, sedangkan radiasi dari lapisan sandstone
lebih tinggi disbanding batubara. Log sinar gamma dikombinasikan dengan log
utama, seperti log densitas, netron dan gelombang bunyi, digunakan untuk
memastikan batas antara lapisan penting, seperti antara lapisan batubara
dengan langit-langit atau lantai.

Log gamma ray sangat efektif dalam menentukan zona permeable,


dengan dasar bahwa elemen radioaktif banyak terkonsentrasi pada shale yang
impermeable, dan hanya sedikit pada batuan yang permeable. Pada formasi
yang impermeable kurva gamma ray akan menyimpang ke kanan, dan pada
formasi yang permeable kurva gamma ray akan menyimpang ke kiri. Log gamma
ray memiliki jangkauan pengukuran 6 12 in. Dengan ketebalan pengukuran
sekitar 3 ft.
Pengukuran dilakukan dengan jalan memasukkan alat detektor ke dalam
lubang bor. Oleh karena sinar gamma dapat menembus logam dan semen, maka
logging gamma ray dapat dilakukan pada lubang bor yang telah dipasang casing
ataupun telah dilakukan cementing. Walaupun terjadi atenuasi sinar gamma
karena casing dan semen, akan tetapi energinya masih cukup kuat untuk
mengukur sifat radiasi gamma pada formasi batuan disampingnya. Formasi yang
mengandung unsur-unsur radioaktif akan memancarkan radiasi radioaktif dimana
intensitasnya akan di terima oleh detektor dan di catat di permukaan.
Beberapa jenis batuan dapat dikenal dari variasi kandungan fraksi
lempungnya, misalnya batu lempung hamper seluruh terdiri dari mineral
lempung, batu pasir kwarsa sangat sedikit mengandung mineral lempung, batu
lanau cukup banyak mengandung mineral lempung dan sebagainya. Oleh karena
itu respo gamma dapat digunakan untuk menafsirkan jenis litologinya. Beberapa
contoh batuan sesuai sifat radioaktifnya adalah sebagai berikut:

Radioaktifnya sangat rendah


Anhidrid, garam, batubara dan nodule silica. Silica yang berlapis

mengandung radioaktif lebih tinggi dari berbentuk nodule.

Radioaktif rendah
Batu gamping murni, dolomite dan batu pasir. Batu gamping dan dolomite

yang berwarna gelap lebih tinggi radioaktifnya daripada yang berwarna terang.

Radioaktif menengah
Arkosa, pelapukan granit, batu lanau, batu gamping lempungan dan

napal. Batu yang berwarna gelap lebih tinggi radioaktifnya daripada yang
berwarna terang.

Radioaktif sangat tinggi


Serpih, batu lempung dan abu gunung api.

Tabel 3.1. Karakteristik Respon Sinar Gamma

Radioaktif
sangat

Radioaktif

rendah

Radioaktif

sangat

(0 32,5

Radioaktif rendah

menengah

tinggi

API)

(32,5 60 API)

(60 100 API)

(>100 API)

ArkoseBatuan
granit

Batuan

Lempungan

serpihAbu

AnhidritSalt

BatupasirBatugamping

Pasiran

vulkanik

Batubara

Dolomit

gamping

bentonit

Cara membaca respon gamma untuk mendapatkan batas litologi adalah


dengan cara mengambil sepertiga antara respon maksimal dan respon minimal.
Cara ini merupakan aturan yang ditara-ratakan untuk mendapat ketelitian batas
litologi. Biasanya aturan demikian cukup teliti untuk lapisan batubara yang tidak
banyak mengandung lapisan pemisah (parting) di dalamnya.
Sebelum bekerja dengan alat pngukur radiasi gamma harus diadakan
kalibrasi alat tersebut terhadap sumber radiasi sinar gamma yang telah diketahui
dan pembacaannya disesuaikan dengan selang waktu ynag sesuai. Apabila
selang waktu tersebut terlalu cepat respon cenderung menjadi rata dan kurang
peka terhadap perubahan litologi yang kecil. Sebaliknya apabila selang waktu
tersebut terlalu lambat perbedaan yang kecil terekam pada respon sehingga
perbedaan besar sukar terlihat.

2.2

Log Densitas
Awalnya penggunaan log ini dipakai dalam industri explorasi minyak

sebagai alat bantu interpretasi porositas. Kemudian dalam explorasi batubara


malah dikembangkan menjadi unsur utama dalam identifikasi ketebalan bahkan
qualitas seam batubara. Dimana rapat masa batubara sangat khas yang hampir
hanya setengah kali rapat masa batuan lain pada umumnya. Lebih extrem lagi
dalam aplikasinya pada idustri batubara karena sifat fisik ini (rapat masa) hampir

linier dengan kandungan abu sehingga pemakaian log ini akan memberikan
gambaran

khas

bagi

tiap

daerah

dengan

karakteristik

lingkungan

pengendapannya.
Dalam operasinya logging rapat masa dilakukan dengan mengukur sinar
g yang ditembakan dari sumber melewati dan dipantulkan formasi batuan
kemudian direkam kembali oleh dua detector yang ditempatkan dalam satu
probe dengan jarak satu sama lain diatur sedemikan rupa. Kedua detector
short dan long space diamankan dari pengaruh sinar g yang datang langsung
dari sumber radiasi. Sehingga yang terekam oleh kedua detector hanya sinar
yang telah melewati formasi saja. Dalam hal ini efek pemendaran sinar radiasi
seperti ditentukan dalam efek pemendaran Compton.
Sinar gamma dari sumber radioaktif dipancar oleh tumbukan dengan
elektron di dalam lapisan tanah dan energi sinar gamma akan hilang kepada
elektron untuk setiap tumbukan (efek compton). Densitas elektron di dalam
material sebanding dengan densitas curahan atau massa (bulk or mass density)
material.
Logging densitas dilakukan untuk mengukur densitas batuan disepanjang
lubang bor. Densitas yang diukur adalah densitas keseluruhan dari matriks
batuan dan fluida yang terdapat pada pori. Prinsip kerja alatnya adalah dengan
emisi sumber radioaktif. Semakin padat batuan semakin sulit sinar radioaktif
tersebut ter-emisi dan semakin sedikit emisi radioaktif yang terhitung oleh
penerima (counter).
Density Log menunjukkan besarnya densitas lapisan yang ditembus oleh
lubang bor sehingga berhubungan dengan porositas batuan. Besar kecilnya
density juga dipengaruhi oleh kekompakan batuan dengan derajat kekompakan
yang variatif, dimana semakin kompak batuan maka porositas batuan tersebut
akan semakin kecil. Pada batuan yang sangat kompak, harga porositasnya
mendekati harga nol sehingga densitasnya mendekati densitas matrik. Log
density adalah kurva yang menunjukkan besarnya densitas bulk density (rb)
dari batuan yang ditembus oleh lubang bor. Log densitas digunakan untuk
mengukur densitas semu formasi menggunakan sumber radioaktif yang
ditembakkan ke formasi dengan sinargamma yang tinggi dan mengukur jumlah
sinar gamma rendah yang kembali ke detektor.

Karakteristik masing-masing batuan pada log densitas adalah sebagai


berikut:

Batubara mempunyai densitas yang rendah (1,20 1,80 gr/cc)

Konglomerat mempunyai densitas menegah (2,25 gr/cc)

Mudstone, batupasir, batugamping mempunyai densitas menengah


sampai tinggi (2,65 2,71 gr/cc)

Batuan vulkanik basa dan batuan vulkanik non basa mempunyai densitas
tinggi (2,7 2,85 gr/cc)
Tabel 3.2. Nilai Rapat Massa Batuan

Rapat massa
sebenarnya (gr/cc)

Jenis batuan

Rapat massa saat


logging (gr/cc)

Sandstone

2,650

2,684

Limestone

2,710

2,710

Dolomites

2,870

2,876

Anhidrid

2,960

2,977

Antrasite coal

1,400-1,800

1,355-1,796

Bituminous coal

1,200-1,500

1,173-1,514

C.

Mekanisme Kerja Geofisika Logging

1.

Operasional Logging

a. Logging unit dan personil harus siap di sekitar lobang bor setidaknya
setengah jam menjelang pemboran selesai.
b. Petugas logging harus dilengkapi/memakai film badge yang sudah dikalibrasi
di instansi yang terkait, atau ada dosimeter yang selalu dibawa dalam
kegiatan logging (bisa cukup dosimeter saku).
c. Sumber radiasi selalu jauh dari kerumunan manusia.
d. Detektor senantiasa dikalibrasi bila geologist memandang perlu kalibrasi.
e. Saat probe menjelang dimasukan ke lobang sumur, jendela sumber radiasi
senantiasa menghadap ke tempat yang tidak ada manusia

f. Walaupun pendaran radiasi sangat kecil, tetapi tidak dibenarkan meremehkan


efek dari radiasi. Hal yang harus diingat bahwa bagi manusia ambang
maksimal yang dibolehkan terkena radiasi hanya 5,000 miliram pertahun.
Sehingga meminimalkan terkena radiasi harus diusahakan sebisa mungkin.
g. Setelah juru bor menyatakan proses pemboran selesai sesuai permintaan
geologist, maka segera probe masuk ke lobang bor.
h. Peralatan bor baru boleh pindah ke lokasi berikutnya setelah probe berhasil
mencapai dasar sumur atau sudah mencapai kedalaman yang diinginkan oleh
geologist.
i. Log yang diperlukan adalah double gamma density, natural gamma dan
kaliper.
j. Untuk LSD (quality log) dibuat scala 1 : 100 sementara untuk SSD (thickness
log) dibuat scale 1 : 20 atau 1 : 25. Pembedaan scala harus didasarkan pada
perbedaan kecepatan perekaman. Dimana untuk LSD sekitar 6 meter
permenit sementara untuk detail scale sekitar 2 meter permenit. Atau hal ini
bisa dibicarakan dengan logging engineer.
k. Setelah perekaman selesai dan ujung probe sudah sampai ke permukaan,
segera sumber radiasi dimasukkan kembali ke container dan diamankan
dengan jarak aman.
l. Sumber radiasi disimpan di camp jauh dari tempat manusia berada.
Sebaiknya disimpan dalam lobang tanah yang digali husus sehingga mudah
mengeluarkan dan menyimpan. Posisi lobang ini tetap harus jauh dari tempat
orang-orang berada.
2.

Deskripsi Log Chart

a. Chart yang resminya, diterima geologist dari logging operator setelah


dilengkapi dengan segala keperluan data dan kepala/judul dengan segala
atributnya (tanggal, total kedalaman yang dibor, total kedalaman logging, jenis
kalibrasi yang dilakukan, jenis parameter logging yang dilakukan).
b. Chart Quality dan Chart ketebalan sebaiknya disimpan dalam anplop yang
erpisah.
c. Perhatikan chart density apakah ideal atau tidak. Bila ada kelainan, perhatikan
chart kaliper, apakah kelainan disebabkan oleh kerusahan lobang bor atau

kesalahan perekaman. Kalau ada kelainan akibat kesalahan perekaman


segera bicarakan dengan logging engineer.
d. Kerusakan dinding lobang bor biasanya tidak mempengaruhi chart natural
gamma (juga kecil pengaruhnya terhadap log LSD, kecuali ada cave/caving
dengan kedalaman lebih dari 8 centimeter dari dinding normal lobang bor).
e. Deskripsi dimulai dengan penafsiran thickness log, memberi batas-batas
kedalaman batas roof dan floor serta parting (kalau ada). Karena tujuan utama
adalah pencarian batubara.
f. Setelah detail log selesai, baru quality log yang merekam semua batuan yang
terlewati sepanjang lobang bor. Sementara pembedaan batuan didasarkan
pada log natural gamma. Dimana empiris terhadap perbedaan batuan
didasarkan pada asumsi kandungan unsur radioaktif dalam formasi batuan.
Katakanlah batuan berukuran lempung diendapkan oleh regim aliran bawah
yang akan banyak mengendapkan unsur K, sementara batuan berukuran
kasar

diendapkan

oleh

regim

aliran

atas

yang

akan

lebih

sedikit

mengendapkan unsur K.
g. Untuk log yang baik, akan ada perbedaan bentuk antara log detail dan quality.
Gunakan log SSD untuk batubara dan LSD untuk batuan lain. Tetapi kalau
terpaksa harus semua dengan LSD, maka deskripsi batubara harus dilakukan
empiris-empiris kedalaman. Bila hubungan antara kekuatan radiasi dengan
kedalaman adalah logaritmik, maka dibuat pendekatan logaritmik. Sementara
kalau hubungannya linier, penentuan batas bisa langsung berdasarkan batas
density yang ditentukan (sebagai batasan density batuara adalah 1.3
gram/cc). Sebagai pegangan log SSD biasanya linier, sementara LSD adalah
logaritmik (akibat perbedaan jarak sumber terhadap detector).
h. Rekonsiliasikan antara hasil deskripsi serbuk bor ataupun core terhadap chart
log yang dihasilkan dari pekerjaan logging geofisika.
i. Hasil rekonsiliasi dipisahkan dari hasil deskripsi di lapangan. Tetapi tetap
difilekan sebagai arsip dan akan diperlukan sewaktu-waktu.

DAFTAR PUSTAKA

Sitio,

Arnold Saragih,

Logging Geofisika, [Link] /

252130214/Logging-Geofisika#download. Diakses pada tanggal 2 Juni


2015
Maria, Shanta, 2013, Logging Batubara, [Link] /
2013/05/29/interpretasi-data-logging-geofisika-di-daerah-tambangbatubara/. Diakses pada tanggal 2 Juni 2015
Agus, 2011,

Logging

Geofisika

dalam

Eksplorasi,

[Link]/2011/02/[Link]. Diakses pada tanggal 2 Juni 2015

[Link]

Common questions

Didukung oleh AI

Borehole logging serves multiple functions and applications in geological exploration. Primarily, it is used to obtain detailed records of the geological formations penetrated by a borehole, helping in the exploration of oil and gas, coal, groundwater, and geotechnical studies . The process involves measuring physical properties of the reservoir rock against borehole depth using a variety of instruments, which allow the acquisition of geological logs (physical observation of samples) and geophysical logs (measurement from instrument responses). This data helps determine depth, thickness, and quality of coal seams, as well as geomechanical properties of rocks, and compensates for depth discrepancies in drilling alone . Each logging method provides unique insights, such as gamma logs for identifying radioactive formations and density logs for assessing formation compactness and porosity .

The Compton scattering effect is utilized in density logging to measure the bulk density of geological formations. This phenomenon occurs when gamma rays emitted from a radioactive source collide with electrons in the formation, causing the rays to scatter. The scattering intensity decreases with increasing formation density, as denser materials have more electrons per unit volume to interact with the gamma rays . By measuring the scattered gamma ray intensity with detectors, the bulk density of the formation can be inferred, which is vital for determining rock porosity and minerals present, critical parameters in exploration for oil, gas, and coal . This method provides a non-intrusive way to assess subsurface formations' physical properties without core sampling, offering timely insights into geological conditions .

Density logs play a significant role in exploring coal seams by measuring the bulk density of formations, which directly influences the interpretation of seam thickness and quality. Coal, with its distinctively low density compared to other rocks, can be effectively identified using density logs . The density of coal is usually between 1.2 and 1.8 g/cc, significantly less than surrounding lithologies, allowing geologists to delineate coal seams from other formations . Moreover, since density is linearly related to ash content, density logging helps in estimating the coal's quality by providing a proxy for its ash composition, influencing decisions on mining and processing .

The integration of gamma log and density log data significantly enhances geological interpretations by providing complementary information on subsurface formations. Gamma logs offer insights into the composition and permeability of formations through radioactivity measurements, identifying shale from sand and coal due to differences in radioactive element concentration . Density logs, providing measurements of bulk density, help infer porosity, lithology type, and fluid content, crucial for resource assessments . Together, these data sets allow geologists to correlate lithological and compositional variations with porosity and permeability characteristics, refining geological models and predictions on fluid distribution and potential resource zones . This integrated approach reduces uncertainty and improves decision-making in exploration and development activities.

The presence of casing and cementing in a borehole can attenuate gamma radiation, affecting gamma ray logging results by reducing the intensity of detected signals. However, despite this attenuation, the gamma rays are robust enough to penetrate both casing and cement, allowing the logging process to provide reliable measurements of formation radiation properties . The attenuation primarily impacts the intensity of the gamma signal rather than the overall detection capability, allowing for the identification and analysis of subterranean formations even after casing installation, although precision might be slightly reduced . Proper calibration and correction techniques are applied to account for these effects and ensure accurate interpretation of logging data .

Resistivity logging is utilized to measure the electrical resistance of subsurface formations, providing insights into rock composition, porosity, and fluid content. Conducting a resistivity survey involves injecting electrical currents into the ground, where variations in resistivity indicate different rock types and fluid contents . Low-resistivity zones often suggest presence of conductive fluids like water or certain minerals, whereas high-resistivity zones indicate hydrocarbon presence, as hydrocarbons are poor conductors of electricity . This method is crucial for mapping underground water, assessing coal bed quality, and identifying hydrocarbon zones within reservoir rocks .

Handling and operation of radioactive sources during well logging activities necessitate strict safety protocols to minimize radiation exposure risks. Safety measures include ensuring logging personnel wear dosimeters, maintaining sources at a safe distance from personnel at all times, and positioning windows of radioactive sources away from populated areas during deployment . Logging operations must comply with regulatory radiation exposure limits, keeping doses below prescribed thresholds, such as 5,000 millirem per year for personnel . Equipment calibration, proper storage in radiation-safe containers, and keeping sources secure from theft or unauthorized access are imperative. Rigorous adherence to these protocols prevents health hazards and regulatory violations .

Calibration of gamma ray logging instruments is crucial to ensure accurate measurement and interpretation of radioactivity in geological formations. Before conducting a survey, calibration is necessary to adjust the detectors to known gamma radiation sources, ensuring that the instrument's readings reflect true formation characteristics rather than artifacts of instrument settings . Inadequate calibration can lead to inaccurate logging results, making it difficult to correctly distinguish lithologic boundaries and potentially resulting in erroneous interpretation of formation properties. This can lead to incorrect decisions regarding drilling or resource estimation, affecting subsequent operational planning and economic viability of mining or extraction projects .

Gamma ray logs are used to measure the radioactivity of rock formations, which helps distinguish between different geological formations based on their elemental composition. Formations containing uranium, thorium, and potassium emit gamma rays with varying intensities, which are detected by logging tools . Shales typically exhibit higher gamma radiation due to higher concentrations of radioactive elements and are often impermeable, whereas sandstones and coals tend to show lower gamma ray readings due to lower concentrations of these elements . By interpreting gamma ray curves—rightward shifts indicating impermeable shale and leftward shifts indicating permeable formations—geologists can distinguish boundaries between critical layers like coal seams and overburden .

Both Short Space Detector (SSD) and Long Space Detector (LSD) are used in density logging to measure formation density at different spatial resolutions. The SSD provides high-detail density measurements for thin bed analysis, detecting subtle changes due to its closer proximity to the source, thus responding predominantly to near-source scattering events . Conversely, the LSD measures density over a broader area, integrating scattered gamma rays over a larger volume, which helps to average out heterogeneities, providing a more general density reading necessary for gross geological interpretations . The combination helps accurately profile density variations and identify lithological layers with different density characteristics, supporting comprehensive subsurface geological assessments .

Anda mungkin juga menyukai