1.
Program Mutu
Di dalam pelaksanaan pekerjaan jasa perlu adanya suatu program kerja yang
konsepsional, efektif dan efisien sedemikian sehingga setiap aktivitas kerja terprogram
dengan baik dalam rangka mencapai target sukses suatu pekerjaan.
Program kerja yang akan dilaksanakan disesuaikan dengan ketentuan dalam
Pengarahan Penugasan/RencanaKerjadanSyarat (RKS), Gambar serta Berita Acara
Aanwizjing.
Untuk menjamin kelancaran pelaksanaan pekerjaan dengan tercapainya azas efisiensi
dan efektifitas dalam pengertian tepatwaktu, hemat biaya dan tepat sasaran maka setiap
sumber daya (tenaga kerja, biaya, material dan peralatan) yang dipergunakan dalam
pelaksanaan proyek ini dapat dikelola dan dimanfaatkan sebagai factor produksi secara
maksimal secara professional.
2. Sarana Bekerja
2.1. Tenaga Kerja/Tenaga Ahli.
Tenaga Kerja dan Tenaga Ahli yang memadai dan berpengalaman dengan jenis dan
volume pekerjaan yang akan dilaksanakan.
2.2. Peralatan Bekerja
Menyediakan alat-alat Peralatan, seperti : (Terlampir dalam LDP)
peralatan-peralatan
serta
pelaksanaanpekerjaan ini.
lain
yang
benar-benar
diperlukan
dalam
2.3. Bahan-bahan.
Menyediakan bahan-bahan bangunan dalam jumlah yang cukup untuk setiap jenis
pekerjaan yang akan dilaksanakan serta tepat pada waktunya.
3. Shop Drawing.
Shop drawing merupakan gambar detail pelaksanaan di lapangan yang dibuat
berdasarkan Gambar Dokumen Kontrak yang telah disesuaikan dengan keadaan
lapangan.
Membuat shop drawing pada setiap akan melaksanakan suatu pekerjaan dan untuk
detail khusus yang belum tercakup lengkap dalam Gambar Kerja/Dokumen Kontrak
maupun yang diminta oleh Pengawas.
Dalam shop drawing ini harus jelas dicantumkan dan digambarkan semua data yang
diperlukan termasuk pengajuan contoh dari semua bahan, keterangan produk, cara
pemasangan dan atau spesifikasi/persyaratan khusus sesuai dengan spesifikasi
pabrik yang belum tercakup secara lengkap di dalam Gambar Kerja/Dokumen Kontrak.
Mengajukan shop drawing tersebut kepada Pengawas untuk mendapat persetujuan
tertulis dari Pengawas/Direksi .
4. Jangka Waktu Pelaksanaan Pekerjaan.
Sebelum mulai pelaksanaan pekerjaan di lapangan, membuat Rencana Kerja
Pelaksanaan dan bagian-bagian pekerjaan berupa Bar-Chart dan S-Curve Bahan dan
Tenaga.
Jangka Waktu Pelaksanaan Pekerjaan adalah selama 120 (seratus dua puluh ) Hari
Kelender terhitung dari sejak diterbitkannya Surat Perintah Mulai Kerja (SPMK) / SPK.
5. Rambu-Rambu Peringantan.
Sebelum pelaksanaan dimulai, membuat dan memasang Rambu-Rambu Peringatan
di lokasi kegiatan, bentuk dan ukuran sesuai dengan peraturan Pemerintah Daerah
setempat.
Semua papan dan tanda perhatian, dibuat dari papan yang cukup tebal minimum 3
cm, dicat warna dasar kuning dan tulisan "MOHON MAAF PERJALANAN ANDA
TERGANGGU" dengan tulisan warna hitam dan dasar warna kuning, dengan ukuran
panjang 300 cm dan lebar 40 cm;
Penempatan alat-alat dan bahan-bahan diusahakan sedapat mungkin tidak
mengganggu lalu lintas, dan apabila terpaksa bahan-bahan harus diturunkan ditepi
jalan, maka secepatnya bahan-bahan tersebut di angkut dari tepi jalan tersebut
selambat-lambatnya dalam waktu 1 x 24 jam sesudah penurunan barang tersebut;
6. Pemeriksaan Pekerjaan.
Pekerjaan atau bagian pekerjaan yang telah dilaksanakan, tetapi karena
bahan/material ataupun komponen jadi, maupun mutu pekerjaannya yang ditolak oleh
Pengawas/Direksi harus segera dihentikan. Selanjutnya dibongkar atas biaya sendiri
dalam waktu yang ditetapkan oleh Pengawas/Direksi.
Tidak ada pekerjaan yang boleh ditutup atau menjadi tidak terlihat sebelum
mendapatkan persetujuan pengawas dan pemborong harus memberikan kesempatan
sepenuhnya kepada pengawas
ahli
untuk memeriksa surat permohonan
pemeriksaan.
Bila melalaikan perintah, Pengawas/Direksi berhak menyuruh membongkar bagian
pekerjaan sebagian atau seluruhnya untuk diperbaiki.
7. Kemajuan Pekerjaan.
Seluruh bahan, peralatan konstruksi dan tenaga kerja yang harus disediakan, demikian
pula metode/cara pelaksanaan pekerjaan harus diselenggarakan sedemikian rupa,
sehingga diterima oleh Pengawas.
Apabila laju kemajuan pekerjaan atau bagian pekerjaan pada suatu waktu menurut
penilaian Pengawas telah terlambat, untuk menjamin penyelesaian pada waktu yang
telah ditentukan atau pada waktu yang diperpanjang.
Maka pengawas harus memberikan petunjuk secara tertulis langkah-langkah yang
perlu diambil guna melancarkan laju pekerjaan sehingga
pekerjaan dapat
diselesaikan pada waktu yang telah ditentukan.
8. MOBILISASI
Mobilisasi meliputi :
1) Mendatangkan peralatan-peralatan terkait yang diperlukan dalam pelaksanaan
pekerjaan;
2) Mempersiapkan fasilitas seperti kantor, gudang dan sebagainya;
3) Mendatangkan personil dan tenaga kerja lapangan.
Mobilisasi peralatan terkait dan personil penyedia barang/jasa dapat dilakukan secara
bertahap sesuai dengan ketentuan;
9. Laporan-Laporan
Laporan Harian
1. Untuk kepentingan pengendalian dan pengawasan pelaksanaan pekerjaan,
seluruh aktifitas kegiatan pekerjaan dilapangan dicatat di dalam Buku Harian
Lapangan (BHL) sebagai laporan harian pekerjaan berupa rencana dan realisasi
pekerjaan harian;
2. Buku Harian Lapangan (BHL) berisi :
a. Kuantitas dan macam bahan yang berada di lapangan;
b. Penempatan tenaga kerja untuk tiap dan macam tugasnya;
c. Jumlah, jenis dan kondisi peralatan;
d. Kuantitas dan kualitas jenis pekerjaan yang dilaksanakan;
e. Keadaan cuaca termasuk hujan, banjir dan peristiwa alam lainnya yang
berpengaruh terhadap kelancaran pekerjaan;
f. Catatan-catatan lain yang berkenaan dengan pelaksanaan.
3. Buku Harian Lapangan (BHL) disiapkan dan diisi oleh penyedia barang/jasa setiap
harinya, diperiksa oleh pengawas teknis dan dilengkapi catatan instruksiinstruksi, petunjuk pelaksanaan yang dianggap perlu dan disetujui oleh Pengawas;
4. Mentaati dan melaksanakan selaku pelaksana kegiatan terhadap instruksi,
arahan dan petunjuk yang diberikan pengawas teknis dalam Buku Harian
Lapangan (BHL);
5. Menerima/menyetujui pendapat/perintah pengawas harus mengajukan keberatankeberatan secara tertulis dalam jangka waktu 3 x 24 jam;
Laporan mingguan
Laporan mingguan dibuat setiap minggu yang terdiri dari rangkuman laporan
harian dan hal kemajuan fisik pekerjaan dalam periode satu minggu, serta hal-hal
penting yang perlu dilaporkan;
Laporan bulanan
Laporan bulanan dibuat setiap bulan yang terdiri dari rangkuman laporan mingguan
dan berisi hal kemajuan fisik pekerjaan dalam periode satu bulan, serta halhal penting yang perlu dilaporkan.
Rencana Harian, Mingguan dan Bulanan
Selambat-lambatnya setiap sore hari, menyerahkan Rencana Kerja Harian, yang
berisi Rencana Pelaksanaan dari berbagai bagian pekerjaan yang akan
dilaksanakan pada keesokan harinya.
Selambat-lambatnya pada setiap hari Sabtu dalam masa dimana pelaksanaan
Pekerjaan berlangsung, Pemborong berkewajiban untuk menyerahkan kepada
Pengawas suatu Rencana Mingguan yang berisi Rencana Pelaksanaan dari
berbagai pekerjaan yang akan dilaksanakan dalam minggu berikutnya.
Selambat-lambatnya pada minggu terakhir dari setiap bulan, menyerahkan kepada
Pengawas suatu Rencana Bulanan yang menggambarkan dalam garis besarnya,
berbagai Rencana Pelaksanaan dari berbagai bagian pekerjaan yang direncanakan
untuk dilaksanakan dalam bulan berikutnya.
Untuk memulai suatu bagian pekerjaan yang baru, memberitahu Pengawas
mengenai hal tersebut paling sedikit 2 x 24 jam sebelumnya, dengan format ijin yang
akan ditentukan oleh Pengawas.
Laporan Harian, Mingguan dan Bulanan
Selambat-lambatnya pada setiap sore hari, menyerahkan Laporan Harian, yang
berisikan uraian lengkap dan terinci tentang pekerjaan-pekerjaan yang telah
dilaksanakan pada hari itu.
Selambat-lambatnya pada setiap hari Senin, menyerahkan Laporan Mingguan, yang
berisikan uraian tentang pekerjaan-pekerjaan yang telah dilaksanakan pada Minggu
sebelumnya, lengkap dengan prestasi & bobot masing-masing item pekerjaan.
Selambat-lambatnya pada akhir Minggu pertama bulan berikutnya menyerahkan
Laporan Bulanan, yang berisikan uraian tentang pekerjaan-pekerjaan yang telah
dilaksanakan pada satu bulan sebelumnya, lengkap dengan kumulatif prestasi &
bobot, serta dilengkapi pula dengan foto-foto dokumentasi.
10. Penerangan
Listrik untuk bekerja harus disediakan Kontraktor dan diperoleh dari sambungan PLN
setempat selama masa pelaksanaan pekerjaan.
Penggunaan Diesel untuk pembangkit tenaga listrik hanya diperkenankan untuk
penggunaan sementara atas petunjuk Pengawas.
11.
12.
Air Kerja
Air kerja yang akan digunakan harus bersih dan jernih (bebas dari bahan kimia yang
dapat merusak bahan lain yang akan digunakan).
Memeriksakan air tersebut kepada Pengguna Barang/jasa dan atau pejabat yang
ditunjuk mewakili sebelum digunakan.
Menyediakan air yang bersumber dari sumur pompa di tapak proyek yang bebas dari
bau, bebas dari lumpur, minyak dan bahan kimia lainnya yang merusak. Penyediaan
air harus sesuai dengan petunjuk dan persetujuan dari Pengawas/Direksi.
Kebutuhan air :
Air Kerja
MCK Pekerja
Asumsi Kebutuhan air untuk mck /orang
Asumsi rata-rata pekerja & team aktif /hari
Asumsi rata-rata air kerja /hari
Kebutuhan pemakaian air kerja & mck /hari
Kebutuhan pemakaian air kerja & mck /bulan
Pembersihan Lokasi
Sebelum melakukan kegiatan terlebih dahulu melakukan pembersihan lokasi
pekerjaan dari segala kotoran atau sampah atau benda benda lain yang dapat
mengganggu pelaksanaan pekerjaan;
Kotoran atau sampah tersebut harus segera dikeluarkan atau dibuang dari lokasi
pekerjaan dan tidak diperkenankan berada / ditempatkan disekitar lokasi
pekerjaan.
URAIAN METODE PELAKSAAN PEKERJAAN
I.
PEKERJAAN PENDAHULUAN
1. PEMBUATAN KANTOR DIREKSI KEET
a. Membangun Direksi keetdilokasi pekerjaan atau tempat lain yang akan ditentukan
dengan ukuran 3 x 4 m, atau sesuai dengan rencana dalam Rencana Anggaran
Biaya (RAB) dengan tiang kayu, dinding triplek tebal 4 mm dan atap seng
gelombang BJLS 27 , lantai floor beton tumbuk adukan 1 PC : 2 psr : 3 split tebal 6
cm dan jendela kaca nako tebal 5 mm. Direksi keetharus memenuhi persyaratan
teknis serta kesehatan;
b. Penempatan Bedeng buruh harus mendapatkan persetujuan dari Pengawas
Teknis;
c. Bedeng buruh merupakan milik Pengguna Barang/Jasa dan pembongkaran harus
mendapatkan persetujuan dari pengawas Teknis serta dilaksanakan setelah
pekerjaan selesai.
2. FOTO PROYEK VISUIL
Untuk merekam kegiatan pelaksanaan kegiatan, pengguna barang/jasa dengan
menugaskan kepada penyedia barang/jasa, membuat foto-foto dokumentasi untuk
tahapan-tahapan pelaksanaan pekerjaan dilapangan;
Foto kegiatan menggunakan camera digital dan dibuat dalam bentuk hard copy dan
soft copy.
Foto kegiatan dibuat oleh penyedia barang/jasa sesuai petunjuk pengawas teknis,
disusun dalam 3 (tiga) tahapan disesuaikan dengan tahapan pekerjaan, yaitu
sebagai berikut :
Tahap I
Bobot 0 % - 20 %
Tahap II
Tahap III
Bobot 20 % - 50 %
Bobot 50 % - 100 %
Papan nama kegiatan, Bedeng
buruh, existing jalan
, pekerjaan galian/bongkaran.
Pekerjaan konstruksi jalan.
Pekerjaan finishing
Foto kegiatan tiap tahapan tersebut diatas dibuat 3 (tiga) set dilampirkan pada saat
pengambilan tagihan/termin terakhir, yang masing-masing adalah untuk :
1) Satu set untuk Kepala Unit/Satuan Kerja (Pengguna Anggaran);
2) Satu set untuk Pengawas Teknis;
3) Satu set untuk Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK).
Pengambilan titik pandang (minimal 3 titik) dari setiap pemotretan harus tetap/sama
sesuai dengan petunjuk pengawas teknis;
Foto setiap tahapan diberikan keterangan singkat mengenai tahapan bobot
pekerjaan, penempatan didalam album sesuai standard / ketentuan yang diberikan
Pengawas Teknis serta disahkan oleh Kepala Unit/Satuan Kerja (Pengguna
Anggaran);
Setiap pekerjaan Kontruksi jalan yang dominan harus dilengkapi dengan Foto,
seperti : Pengecoran lantai kerja, Pemasangan Bekisting , Pengurugan Agregat
kelas B, Pembesian, Pengecoran beton, turap, Pengecoran beton badan Jalan ;
Pada saat mobil Molen cor beton (Mixer) datang kelokasi, Pelaksana,
mendokumendasikan untuk mengetahui Suplier cor beton yang digunakan.
Khusus untuk pemotretan pada kondisi keadaan kahar/memaksa force majure
diambil 3 (tiga) kali.
3. PAPAN NAMA
Papan Nama Proyek dibuat dengan multiplek
tebal 6 mm dengan ukuran lebar 240 cm dan
tinggi 175 cm. Papan Nama dipasang pada
tiang kaso dengan ketinggian disesuaikan
dengan kondisi lokasi agar mudah dilihat
umum. Papan Nama Proyek ditulis dengan
menggunakan huruf cetak denggan tulisan
dan garis berwarna hitam. Petunjuk bentuk
Papan Nama Proyek mengenai ukuran, isi
dan warnanya dalam surat Keputusan Gubenur Propinsi DKI Jakarta Nomor 438/2000
tanggal 9 maret 2000. Papan Nama Proyek dilakukan pada saat mulai pekerjaan dan di
cabut kembali setelah mendapat persetujuan Pipinan Proyek.
PERKERASAN BERBUTIR DAN BETON SEMEN
Adapun item pekerjaan yang akan dilaksanakan untuk pekerjaan sbb :
DEVISI-1. UMUM
Peningkatan Jl. Sunter Permai Raya
DIVISI - 5. PERKERASAN BERBUTIR DAN BETON SEMEN
DIVISI - 7. PEKERJAAN STRUKTUR
Peningkatan Jl. Cemara - Kel. Sunter Agung
DIVISI - 5. PERKERASAN BERBUTIR DAN BETON SEMEN
DIVISI - 7. PEKERJAAN STRUKTUR
Peningkatan Jl. Dadap
DIVISI - 5. PERKERASAN BERBUTIR DAN BETON SEMEN
DIVISI - 7. PEKERJAAN STRUKTUR
Peningkatan Jl. Usaha
DIVISI - 5. PERKERASAN BERBUTIR DAN BETON SEMEN
Peningkatan Jl. Upaya
DIVISI - 5. PERKERASAN BERBUTIR DAN BETON SEMEN
Peningkatan Jl. Sunter Permai Raya
DIVISI - 5. PERKERASAN BERBUTIR DAN BETON SEMEN
DIVISI - 7. PEKERJAAN STRUKTUR
Dari data tersebut Jalan akses utama adalah melalu Jalan Sunter Utara, Pada lokasi
penggalian dilaksanakan untuk pematian saja.
Waktu yang kami laksanakan untuk menyelesaikan pekerjaan ini sesuai skedul yang kami
ajukan adalah 70 hari kalender.
Pekerjaan kami awali dengan Pelaksanaan Lapis Pondasi Agregat Kelas B. Dalam
pelaksanaan ini tentunya telah terlebih dahulu melakukan pengukuran dan pemasangan
bowplank secara bersama-sama antara Kontraktor dengan Pengawas/Direksi yang
dibuatkan secara tertulis.
Tahapan Pekerjaan Agregat Kelas B kami laksanakan sebagai berikut :
1. Pengukuran Badan Jalan
Sebelum dilaksanakan pekerjaan badan jalan terlebih dahulu dilaksanakan pengukuran
badan jalan yaitu pengukuran vertical maupun horizontal, Hasil dari pengukuran
dicatatkan serta dibuat laporan hasil pengukuran untuk persetujuan dalam pelaksanaan
pekerjaan, Selanjutnya dibuatkan patok-patok referensi sebagai acuan dalam
pelaksanaan pekerjaan nantinya.
2. Pekerjaan Lapis pondasi Agregat Kelas B
Pekerjaan ini dilaksanakan diatas permukaan dasar/asli dan badan jalan sesuai
ketebalan yang direncanakan. Penghamparan agregat kami laksanakan step by step
untuk seluruh badan jalan. Dalam pelaksanaannya kami senantiasa selalu
menempatkan Petugas Lalu Lintas dan juga berkoordinasi dengan aparat terkait secara
resmi.
Metoda kerja dari pekerjaan ini adalah sebagai berikut :
Sebelum melakukan pekerjaan harus dibuat request dan diserahkan kepada direksi
untuki untuk disetujui
Sebelum gmelaksanakan pekerjaan ini terlebih dahulu dibuatkan pengujian material
(job mix design) agregat kelas B yang akan digunakan pada saat pelaksanaan sesuai
spesifikasi teknik yang disyaratkan.
Material agregat kelas B dicampur di base camp dengan menggunakan wheel loader
dengan komposisi sesuai job mix design yang telah disetujui kemudian material
agregat kelas B dibawa kelokasi pekerjaan menggunakan dump truck.
Material agregat kelas B dihampar dengan tenaga manusia dan dengan ketebalan
padat sesuai gambar.
Hamparan pondasi agregat disiram dengan air dengan menggunakan water tank
truck dan dipadatkan dengan menggunakan mesin gilas.
Selama pemadatan, sekelompok pekerja merapihkan tepi hamparan dan level
permukaan dengan menggunakan alat bantu.
Setelah pelaksanaan pekerjaan ini dilakukan pengetesan kepadatan lapangan
dengan test sencon untuk mengetahui kepadatan yang disyaratkan dalam spesifikasi
teknik.
Setelah seluruh badan jalan telah selesai dihampar pekerjaan akan dilanjutkan dengan
Betonisasi Jalan Raya. Adapun tahapan Betonisasi jalan dilaksanakan bertahap dengan
membagi 2 bidang jalan agar lalu lintas tidak terganggu.
Pekerjaan betonisasi jalan dimulai dari Pekerjaan Wet Lean Concrete/Lantai Kerja sbb :
Pekerjaan lantai kerja ini dilaksanakan untuk seluruh badan jalan dengan Readymik B0,
Tebal lantai kerja pada pekerjaan ini 5 cm secara merata. Readymik digelar dengan rapih
dengan ketebalan sesuai gambar kerja.
Setelah pekerjaan wet lean concrete/Lantai kerja selesai pekerjaan dilanjutkan dengan
pekerjaan pembetonan, dimana tahapannya akan kami laksanakan sbb :
3. Pekerjaan Perkerasan Badan Jalan Beton
1. Pasang Bekisting :
Bila pekerjaan persiapan telah selesai dilaksanakan dengan segera akan dilakukan
pekerjaan pabrikasi bekisting, dimana ukuran dan bentuk bekisting tersebut akan
disesuaikan dengan gambar kerja. Bila bekisting tersebut telah selesai dipabrikasi
kemudian akan dipasang pada lokasi pengecoran badan jalan.
2. Pekerjaan Bond Breaker :
Sebelum melakukan pemasangan besi tulangan untuk dudukan tie bar dan dowel
terlebih dahulu dilakukan pemasangan bond breaker yang akan dihamparkan
memanjang
sejajar
bekisting
dimana
sebagian dari plastik
tersebut
akan
menutup
bekisting
sehingga celah-celah
pada bagian bawah
bekisting
tertutup.
Sehingga pada waktu
pelaksanaan
pengecoran
air
semen tidak akan
keluar dari adukan
Pemasangan Plastik Membran
beton yang baru dicor.
3. Pasang Tulangan Untuk Dudukan :
Bila bond breaker telah terpasang
kemudian akan dilanjutkan dengan
pekerjaan pemasangan tulangan
untuk dudukan dowel dan tie bar.
Pemasangan ini akan dilakukan
sesuai dengan bentuk dan jarak
yang tertera dalam gambar kerja.
Dimana tulangan untuk dudukan
dowel dan tie bar tersebut telah
dipabrikasi sebelumnya sesuai
dengan bentuk dan diameter
tulangan yang tertera dalam
gambar kerja.
Posisi Tulangan Bangku dan Dowel
4. Pasang Dowel
Bila tulangan dowel tersebut telah dimeni kemudian akan dipasang dengan cara terlebih
dahulu memasukkan batang besi / tulangan dowel tersebut kedalam selongsong pipa
PVC yang telah dipersiapkan sebelumnya. Kemudian tulangan dowel tersebut akan
dirakit dan diikat pada besi dudukan tulangan dowel dengan menggunakan kawat beton
sesuai dengan jarak yang tertera dalam gambar kerja. Kemudian ujung pipa PVC akan
dipasang dop penutup lubang untuk menjaga agar adukan beton tidak akan masuk
kedalam selongsong pipa PVC. Jika dowel tersebut telah terpasang kemudian akan
diangkut kelokasi pekerjaan untuk dipasang pada titik-titik lokasi pemasangan.
5. Pekerjaan Beton K-350 :
Setelah tulangan dudukan, tie bar dan dowel telah terpasang kemudian akan dilanjutkan
dengan pengececoran.
Sebelum melakukan pengecoran akan diajukan Surat
Pemberitahuan Pengececoran kepada pengawas/direksi untuk mendapatkan izin untuk
melakukan
pengecoran.
Bila telah mendapat izin
pengecoran
dari
pengawas/direksi
maka
dengan
segera
akan
dilakukan
pengecoran,
dengan bahan coran yang
akan didatangkan dari
supplier.
Sebelum
melakukan
pengecoran
terlebih dahulu
akan
dipersiapkan
segala
peralatan
dan
perlengkapan
yang
dibutuhkan
pada
saat
pengecoran antara lain
genenator set, concrete vibrator, garukan, jidar dan kabel-kabel serta lampu-lampu
penerangan. Pada saat pengecoran truk mixer akan dipandu untuk mundur hingga
mencapai awal dari pengecoran/opritan dan jika telah mencapai lokasi pengecoran
kemudian adukan beton tersebut dituang dari truk mixer secara berlahan-lahan
kemudian bahan adukan coran tersebut akan diambil sebagian untuk melakukan
pengujian slump beton kemudian dan sampel kubus beton. Kemudian dilanjutkan
dengan pengecoran dimana adukan beton tersebut akan dituang dari truk mixer dan
kemudian ditarik dengan mengunakan pacul sambil dipadatkan dengan menggunakan
concrete vibrator kemudian diratakan dengan menggunakan jidar hingga mendapatkan
permukaan yang rata.
6. Pekerjaan Cutter Joint Beton + Joint Sealent :
Bila beton coran tersebut telah mengering
dan sudah mengeras maka akan dilakukan
pemotongan beton
pada
lokasi
pemasangan tie bar dan dowel sesuai jarak
yang telah ditentukan. Pemotongan ini
akan dilakukan dengan menggunakan alat
mesin pemotong beton hingga mencapai
kedalaman yang telah ditentukan dimana
terlebih dahulu telah dilakukan penggarisan
pada permukaan beton sebagai acuan
untuk melakukan pemotongan.
Bila
pemotongan beton ini
telah selesai
Cutter Badan Jalan
dikerjakan kemudian dilanjutkan dengan
pemasangan joint sealent pada lubang bekas pemotongan beton hingga lubang tersebut
tertutup rata dengan permukaan beton.
MEMPERBAIKI PERMUKAAN
Setelah pelepaan selesai dan kelebihan air dibuang, sementara beton masih lembek,
bagian-bagian yang melesak harus segera diisi dengan beton baru, ditempa,
dikonsolidasi dan di finishing [Link] yang menonjol / berlebih harus dipotong
dan
di-finishing
lagi. Sambungan harus diperiksa [Link] harus terus diperiksa dan
dibetuikan sampai tak ada lagi perbedaan tinggi pada permukaan dan perkerasan
beton sesuai dengan kelandaian dan tampang melintang yang ditentukan.
Perbedaan tinggi permukaan menurut pengujian mal datar (straight edge) tidak boleh
melebihi toleransi yang ditentukan.
PENYELESAIAN PERMUKAAN (Finishing)
Setelah
sambungan
dan
tepian
selesai,
dan
sebelum
bahan
perawatan (curing)dilakukan, permukaan beton harus dikasarkan dengan disikat
melintang garis sumbu (centre line) jalan, atau dengan cara pembuatan
alur (grooving) pada arah melintang atau memanjang jalan.
Pengkasaran
yang
dilakukan
dengan
menggunakan
sikat
kawat selebar tidak
kurang dari 45 cm, dan
panjang kawat sikat
dalam keadaan baru
adalah 10 cm dengan
masing-masing untaian
terdiri dari 32 kawat.
Sikat hams terdiri dari 2
baris untaian kawat,
yang diatur berselangseling sehingga jarak
Pembuatan Alur
masing-masing
pusat
untaian maksimum 1 cm.
Sikat harus diganti bila bulu terpendek panjangnya sampai 9 cm. Kedalaman tekstur
rata-rata tidak boleh kurang dari 0,75 mm.
PENGUJlAN KERATAAN PERMUKAAN
Begitu beton mengeras, permukaan jalan harus diuji memakai mal datar (straight
edge) 3 m. Daerah yang menunjukkan ketinggian lebih dari 3 mm tapi tidak lebih dari
12,5 mm sepanjang 3 m itu harus ditandai dan segera diturunkan dengan alat gerinda
yang telah disetujui sampai bila diuji lagi, ketidakrataannya tidak lebih dari 3 mm. Bila
penyimpangan dari penampang melintang yang sebenarnya lebih dari 12,5 mm,
lapisan jalan harus dibongkar dan diganti.
Bagian yang dibongkar tidak boleh kurang dari 3 m ataupun kurang dari lebar lajur
yang kena [Link] yang tersisa dari pembongkaran pada perkerasan
beton dekat sambungan yang panjangnya kurang dari 3 m, harus ikut dibongkar dan
diganti.
PERAWATAN DAN PERLINDUNGAN BETON
Perawatan
Setelah penyelesaian akhir selesai dan lapisan air menguap dari permukaan atau
segera setelah pelekatan dengan beton tidak terjadi maka seluruh permukaan beton
harus segera ditutup dan dirawat sesuai dengan metode yang disetujui.
Dalam semua hal, dimana perawatan memerlukan penggunaan air, maka operasi
perawatan harus dititikberatkan pada penyediaan air. Biasanya masa perawatan
dilakukan selama 7 hari, tetapi waktu tersebut dapat diperpendek bila 70 % kekuatan
tekan atau lentur beton dapat dicapai lebih awal.
Perawatan dengan Lembar Goni atau Terpal
Permukaan dan bidang tegak beton harus seluruhnya ditutup dengan lembar goni /
[Link] ditutup, lembar penutup harus dibuat jenuh air.
Lembar penutup harus
diletakkan sedemikian
rupa
sehingga
menempel
dengan
permukaan beton, tetapi
tidak boleh diletakkan
sebelum beton cukup
mengeras
guna
mencegah pelekatan.
Selama masa perawatan, lembar penutup harus tetap dalam keadaan basah dan
tetap pada tempatnya.
Perawatan Celah Gergajian
Selama perawatan celah gergajian perkerasan harus dilindungi dari pengeringan
yang [Link] ini seringkali dilakukan dengan kertas pilihan atau bahan lainnya yang
sesuai.
Perlindungan Perkerasan Yang Sudah Selesai
Perkerasan yang sudah selesai dan perlengkapannya harus dilindungi dari lalu-lintas
umum dan lalu-lintas [Link] ini termasuk penyediaan petugas
untuk mengatur lalu-lintas, memasang dan memelihara rambu peringatan, lampulampu, rintangan, dan jembatan penyeberangan.
Setiap kerusakan yang terjadi pada perkerasan sebelum dibuka untuk lalu-lintas
umum harus diperbaiki atau diganti.
Perlindungan terhadap hujan
Untuk melindungi beton yang belum cukup keras terhadap pengaruh hujan, maka
setiap saat harus tersedia bahan untuk melindungi beton tersebut, seperti lembar
goni, terpal, kertas perawat atau lembar plastik.
Disamping itu apabila digunakan metoda acuan gelincir maka harus direncanakan
penanggulangan darurat untuk melindungi permukaan dan tepi. Apabila diperkirakan
akan segera turun hujan maka semua petugas harus mengambil tindakan yang perlu
guna memberikan perlindungan menyeluruh kepada beton yang belum keras.
TOLERANSI TEBAL
Semua lapisan permukaan dan lapis pondasi harus dibuat dengan tebal sesuai
dengan Gambar [Link] yang teliti terhadap elevasi acuan dan
pengukuran ketebalan terhadap permukaan tanah dasar atau lapis pondasi bawah
dengan menggunakan benang dipandang cukup memadai. Apabila dipandang perlu
memeriksa tebal perkerasan setelah penghamparan, maka tebal perkerasan dapat
ditentukan dengan cara pemboran (core drill). Pemboran harus dilakukan pada
interval yang disyaratkan.
PEMBUKAAN DAN PEMBATASAN LALU-LINTAS
Perkerasan yang sudah jadi harus dilindungi terhadap kerusakan akibat operasi dan
lalu-lintas pelaksanaan sampai saat penyerahan hasil pekerjaan.
Dalam hal apa pun, peralatan pengangkut adukan atau mesin pengaduk di lapangan,
truk pengangkut adukan hanya diijinkan lewat di atas jalur yang baru selesai, setelah
perkerasan dirawat paling sedikit 4 hari dan beton telah mencapai kekuatan (flexural
strength) umur minimum 40 kg/cm2.
Sambungan melintang dan memanjang harus ditutup atau dilindungi dengan cara
lain sebelum lalu-lintas pelaksanaan diijinkan lewat. Semua tepi pelat harus dilindungi
dari kerusakan.
Perkerasan yang dilewati peralatan pelaksanaan harus tetap bersih, dan ceceran
beton atau bahan lainnya harus segera disingkirkan. Lalu-lintas umum harus dicegah
masuk dengan memasang rintangan dan rambu-rambu sampai beton berumur paling
sedikit 14 hari atau lebih lama bila diperlukan untuk memperoleh kekuatan cukup.
Lalu-lintas tidak diijinkan masuk selama sambungan belum [Link] perkerasan
yang rusak akibat lalu-lintas / peralatan pelaksanaan atau kareha hal lainnya sebelum
penerimaan hasil pekerjaan, harus diperbaiki atau diganti dengan metoda yang telah
teruji.
PEKERJAAN PERAPIHAN/PEMBERSIHAN
Pekerjaan yang sudah terlaksana seluruhnya dilakukan pengecekan kembali, apabila
ada yang kurang menurut Pengawas Teknis akan dilakukan perbaikan kembali.
Pembersihan seluruh area/job site dari bahan bekas lainnya, maupun puing sisa dan
diangkut keluar area lokasi pekerjaan dengan petunjuk dan persetujuan Pengawas
Teknis.
Pengangkutan sisa bahan material dan peralatan dengan dengan petunjuk dan
persetujuan Pengawas Teknis.
METODE KAMI INI AKAN KAMI LAKSANAKAN UNTUK RUAS BADAN YANG LAIN
SEPERTI DITUNJUKKAN DALAM GAMBAR KERJA, RAB DAN RKS.
YAITU UNTUK LOKASI PEKERJAAN :
Peningkatan Jl. Cemara - Kel. Sunter Agung
Peningkatan Jl. Dadap
Peningkatan Jl. Usaha
Peningkatan Jl. Upaya
DALAM PELAKSANAAN UNTUK LOKASI YANG LAIN DISESUAIKAN DENGAN TIME
SCHEDULE YANG TELAH KAMI SERAHKAN.