Tesis Rinosinusitis
Tesis Rinosinusitis
PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS UDAYANA
DENPASAR
2015
TESIS
PROGRAM MAGISTER
PROGRAM STUDI ILMU BIOMEDIK
PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS UDAYANA
DENPASAR
2015
PROGRAM MAGISTER
PROGRAM STUDI ILMU BIOMEDIK
PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS UDAYANA
DENPASAR
2015
Ketua
Anggota
:
1. Prof. Dr. dr. N. Adiputra, PFK, MOH, [Link]
2. [Link]. Ida Sri Iswari, [Link], [Link]
3. [Link]. I. N. Tigeh Suryadhi, MPH, Ph.D
4. [Link]. I Wayan Putu Sutirta Yasa, [Link]
Om swastiastu,
Atas karunia Tuhan Yang Maha Esa akhirnya tersusunlah sebuah karya tulis
untuk memperoleh gelar keahlian di bidang THT-KL. Karya tulis ini selain
merupakan suatu karya akhir juga dilatarbelakangi suatu keinginan dan harapan
bagi perkembangan keilmuan di bidang THT-KL. Karya tulis ini dapat
diselesaikan berkat bantuan, motivasi, bimbingan dan peran serta berbagai pihak.
Pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih yang
tidak terhingga dengan segala ketulusan hati kepada yang terhormat:
1.
2.
dr. Anak Ayu Sri Saraswati, [Link], Direktur Utama RSUP Sanglah
Denpasar, atas segala fasilitas yang disediakan dan diberikan selama penulis
mengikuti pendidikan spesialis.
3.
4.
5.
dr. Dewa Gede Arta Eka Putra, [Link]-KL sebagai Ketua Program Studi
PPDS-1 Ilmu Kesehatan THT-KL, atas segala kesempatan, bimbingan dan
motivasinya.
6.
7.
8.
9.
Prof. Dr. dr. N. Adiputra, PFK, MOH, [Link] sebagai pembimbing II atas
segala waktu dan bimbingannya selama ini.
10. dr. Made Sudipta, [Link]-KL atas motivasi, bimbingan dan pengertiannya
selama penulis menempuh pendidikan spesialis.
11. Prof. Dr. dr. I Gede Raka Widiana, [Link]-KGH atas bimbingan dan arahan
statistika mulai dari penyusunan proposal penelitian kepada penulis.
12. dr. I Wayan Gede Artawan Eka Putra, [Link] atas bimbingan dan arahan
statistika yang diberikan kepada penulis.
13. Kepala-kepala sub bagian dan para konsultan di Bagian/SMF THT-KL FK
UNUD/RSUP Sanglah yang telah banyak memberikan kesempatan dan
bimbingan selama saya mengikuti pendidikan.
14. Para senior, rekan residen, dokter muda atas bantuan dan kerjasamanya
selama mengikuti pendidikan dan selama penelitian berlangsung.
15. Paramedis di poliklinik THT atas bantuan dan kerjasamanya selama penulis
menempuh pendidikan spesialis dan penelitian.
16. Ayahanda, Ir. I Wayan Kariadi dan Ir. Nym Ginastra serta ibunda tercinta, Ni
Putu Lasni dan Ni Wayan Sriadi, kakak dan adik terkasih maupun keluarga
besar saya atas segala pengorbanan, dukungan material, doa dan motivasinya
selama penulis menempuh pendidikan spesialis.
17. Suami tercinta, dr. Kadek Bayu Dwi Putra dan anak-anakku tersayang, Gde
Arjuna Prabasutha dan Kadek Anindya Pramesti atas pengertian dan
pengorbanan dalam mendampingi penulis selama menjalani masa pendidikan.
18. Semua pihak yang telah membantu karya akhir ini yang tidak bisa disebutkan
satu per satu.
Semoga Tuhan yang Maha Esa senantiasa melimpahkan karunia dan rahmatNya atas kebaikan yang telah dilakukan.
Denpasar, Februari 2015
ABSTRAK
LARUTAN PENCUCI HIDUNG SALIN ISOTONIS TIDAK TERBUKTI
MEMPERCEPAT WAKTU TRANSPOR MUKOSILIA PADA
RINOSINUSITIS AKUT
ABSTRACT
ISOTONIC SALINE NASAL SOLUTIONS WAS NOT PROVEN
IN INCREASING MUCOCILIARY TRANSPORT TIME IN ACUTE
RHINOSINUSITIS
Mucociliary clearance is a major element of the defense system of the entire
respiratory tract. Impairment of the mucociliary clearance serves as a medium for
sinonasal infections. Saline nasal irrigation is believed to alleviated rhinosinusitis
symptoms by clearing excess mucus, reducing congestion and remove infectious
materials from the inspired air. The aim of this study was to determine the
efficacy of mucociliary transport time of isotonic saline nasal solutions in patients
with acute rhinosinusitis.
This was an experimental study, pre-post test with control group design.
Mucociliary transport time was measured by the saccharine test on 20 acute
rhinosinusitis patients before and after 7 days treatment with intranasal isotonic
saline solutions and standard therapy (ciprofloxacine, pseudoephedrine/
triprolidine, ambroxol) for the case group and standard therapy for the control
group.
Result: The average mucociliary transport time before therapy were 35,5
10,7 minutes and 29,2 7,7 minutes for case group and control group,
respectively. The average mucociliary transport time after therapy were 22,9 8,7
minutes and 18,0 5,6 minutes for case group and control group, respectively.
The mean difference mucociliary transport time before and after therapy were
11,0 7,5 minutes and 9,4 5,3 minutes for the case and control group,
respectively (p=0,499).
Conclusions: The addition of intranasal isotonic saline solutions in acute
rhinosinusitis patients has the same effect of mucociliary transport time with oral
medication with antibiotic, decongestan and mucolitic without intranasal isotonis
saline solutions.
Keyword: Isotonic saline, acute rhinosinusitis, mucociliary clearance.
DAFTAR ISI
Halaman
SAMPUL DALAM ............................................................................................ i
PRASYARAT GELAR ...................................................................................... ii
LEMBAR PERSETUJUAN ............................................................................... iii
PENETAPAN PANITIA PENGUJI .................................................................. iv
PERNYATAAN BEBAS PLAGIAT ................................................................. v
UCAPAN TERIMA KASIH .............................................................................. vi
ABSTRAK ......................................................................................................... ix
ABSTRACT ....................................................................................................... x
DAFTAR ISI .................................................................................................... xi
DAFTAR TABEL ............................................................................................... xv
DAFTAR GAMBAR ......................................................................................... xvi
DAFTAR LAMPIRAN ...................................................................................... xviii
BAB I PENDAHULUAN
1.1
1.2
1.3
1.4
2.2
2.3
3.2
3.3
4.2
4.3
4.4
4.3.2
4.3.3
4.3.4
4.5
4.6
4.7
4.8
Alur penelitian............................................................................... 39
4.9
5.2
5.3
5.4
5.5
6.2
6.3
6.4
DAFTAR TABEL
Halaman
5.1
5.2
5.3
5.4
5.4
DAFTAR GAMBAR
Halaman
2.1
2.2
2.3
2.4
2.5a
2.5b
2.6
3.1
4.1
4.2
5.1a
5.1b
5.2
6.1
6.2
6.3
6.3
DAFTAR LAMPIRAN
Halaman
Lampiran 1 Ethical clearance ........................................................................... 62
Lampiran 2 Informasi tertulis kepada responden ............................................... 63
Lampiran 3 Surat pernyataan persetujuan .......................................................... 65
Lampiran 4 Lembar penelitian ........................................................................... 66
Lampiran 5 Randomisasi blok ........................................................................... 70
Lampiran 6 Foto dokumentasi ........................................................................... 71
Lampiran 7 Data statistik ................................................................................... 73
Lampiran 8 Data responden ............................................................................... 83
BAB I
PENDAHULUAN
pada wajah, ingus kental dan post nasal drip purulen. Rinosinusitis akut
membawa dampak ekonomi berupa tingginya biaya pengobatan dan menurunnya
produktivitas kerja akibat banyaknya pekerja yang absen (Busquets dan Hwang,
2006). Sinus paranasal merupakan kelanjutan saluran pernapasan bagian atas
(Metson, 2005) dan sebanyak 0,5%-2% infeksi saluran napas atas berkembang
menjadi rinosinusitis (Levine, 2005). Di Indonesia, infeksi saluran napas atas
merupakan penyakit yang sering ditemukan, demikian pula dengan rinosinusitis
akut yang banyak dijumpai meskipun belum terdiagnosis, sehingga angka
kejadiannya belum jelas dan belum banyak dilaporkan (Mulyarjo, 2004).
Diagnosis rinosinusitis akut didapatkan melalui anamnesis, pemeriksaan fisik
dan pemeriksaan radiologi (Thaler, 2001). Penatalaksanaan rinosinusitis akut
berupa pemberian obat-obatan meliputi: antibiotika, dekongestan oral/topikal,
mukolitik maupun tindakan pembedahan (Thaler, 2001; Conrad, 2006). Pencucian
hidung dengan menggunakan larutan salin telah lama dikenal sebagai terapi
tambahan pada rinosinusitis, rinitis alergi maupun pascapembedahan sinus
(Garavello dkk., 2003). Pencucian hidung dengan larutan salin dapat memperbaiki
drainase sinus dan fungsi mukosilia hidung, mengurangi mediator inflamasi,
mempercepat penyembuhan mukosa dan mencegah perlengketan mukosa
pascapembedahan (Papsin dan McTavish, 2003; Rabago dan Zgierska, 2009).
Penggunaan larutan salin sebagai pencuci hidung juga dapat mengurangi waktu
penggunaan antibiotika sehingga dapat meningkatkan kepatuhan pasien dan
mengurangi biaya pengobatan (Papsin dan McTavish, 2003).
Manfaat cuci hidung dengan larutan salin pada rinosinusitis kronis telah
banyak dipublikasikan sedangkan penggunaan larutan cuci hidung salin pada
kasus rinosinusitis akut masih kontroversial (Achiles dan Mosges, 2013). Inanli
dkk. (2002) menyatakan tidak ada perbedaan waktu transpor mukosilia yang
signifikan pada rinosinusitis akut yang mendapat terapi amoxicillin/clavulanic
acid dibandingkan dengan amoxicillin/clavulanic acid dan larutan cuci hidung
salin isotonis. Sementara itu penelitian Ural dkk. (2009) menunjukkan perbedaan
yang signifikan terhadap waktu transpor mukosilia sebelum dan sesudah
pemberian larutan cuci hidung salin isotonis pada rinosinusitis akut. Penelitian
mengenai manfaat penggunaan larutan cuci hidung salin isotonis pada
rinosinusitis akut masih sangat sedikit (Kassel, 2010), karena itu penulis tertarik
untuk meneliti mengenai efektivitas larutan salin isotonis sebagai terapi tambahan
pada rinosinusitis akut.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1
Gambar 2.1
Dinding lateral hidung (Levine, 2005)
vertikal oblik dan mengalami aliran laminar. Ketika udara mencapai nasal valve
terjadi aliran turbulen sehingga udara inspirasi langsung mengadakan kontak
dengan permukaan mukosa hidung yang luas (Dhillon dan East, 1999; Probst
dkk., 2006). Aliran turbulen tersebut tidak hanya meningkatkan fungsi penghangat
dan humidifikasi tetapi juga fungsi proteksi (Krouse dan Stachler, 2006; Walsh
dan Kern, 2006).
Vibrise yang terletak di orifisium bertugas menyaring partikel besar yang
masuk melalui hidung. Partikel yang kecil akan mengenai mukosa dan menempel
pada sekret hidung, sedangkan partikel yang berukuran kurang dari 0,5 m akan
melewati sistem penyaringan di hidung dan masuk ke saluran napas bawah
(Dhillon dan East, 1999).
Udara inspirasi yang normal memiliki suhu sekitar 30C dan kelembaban
relatif sekitar 80%. Udara yang terlalu kering dan suhu yang terlalu ekstrim dapat
menghambat kerja silia (Dhillon dan East, 1999). Humidifikasi dipertahankan
oleh adanya sekresi dan transudasi dari kelenjar hidung, epitel sel goblet dan
pembuluh darah di lamina propria, sedangkan pengaturan suhu dikerjakan oleh
sistem vaskuler intranasal, terutama jaringan venous erektil yang banyak terdapat
pada konka inferior (Probst dkk., 2006).
2.1.2
Sinus paranasal terdiri atas sinus maksila, etmoid, sfenoid dan frontal.
Mukosa sinus dilapisi oleh epitel respiratorius pseudostratified yang terdiri atas
sel kolumnar bersilia, sel kolumnar tidak bersilia, sel mukus tipe goblet dan sel
basal. Membran mukosa bersilia bertugas menghalau mukus menuju ostium sinus
dan bergabung dengan sekret dari hidung. Ostium adalah celah alamiah tempat
sinus mengalirkan drainasenya ke jalan napas (Sargi, 2007). Jumlah silia makin
bertambah saat mendekati ostium (Ballenger, 2003).
Secara klinis berdasarkan lokasi perlekatan konka media dengan dinding
lateral hidung maka sinus dibagi menjadi dua kelompok yaitu kelompok sinus
anterior dan posterior. Kelompok sinus anterior terdiri dari sinus frontal, maksila
dan etmoid anterior yang bermuara ke dalam atau dekat infundibulum. Kelompok
sinus posterior terdiri dari sinus sfenoid dan etmoid posterior yang bermuara di
atas konka media (Ballenger, 2003).
Sinus maksila disebut juga antrum Highmore merupakan sinus paranasal
terbesar. Dasar sinus dibentuk oleh prosesus alveolaris os maksila dan palatum
durum. Dinding anteriornya berhadapan dengan fosa kanina. Gigi premolar kedua,
gigi molar pertama dan kedua tumbuh dekat dengan dasar sinus dan hanya
dipisahkan oleh membran mukosa sehingga proses supuratif di sekitar gigi
tersebut dapat menjalar ke mukosa sinus (Ballenger, 2003; Welch dan Goldberg,
2008). Silia sinus maksila membawa mukus dan debris langsung ke ostium
alamiah di meatus media (Ballenger, 2003; Welch dan Goldberg, 2008).
Perdarahan sinus maksila dilayani oleh cabang [Link] interna yaitu
[Link], [Link] cabang nasal lateral, [Link] descendens,
[Link] superior anterior dan posterior. Inervasi mukosa sinus maksila dilayani
oleh cabang nasal lateroposterior dan cabang alveolar superior [Link]
(Ballenger, 2003).
Gambar 2.2
Kompleks ostiomeatal (Levine, 2005)
struktur polimerik dan derajat hidrasi. Perubahan pada rheologi palut lendir dapat
mempengaruhi mekanisme kerja silia.
Gambar 2.3
Lapisan mukus dan cairan perisilia (Quraishi dkk., 1998)
2.2.2 Silia
Silia memiliki ukuran panjang 6 m dan lebar 0,3 m. Tiap sel bersilia
memiliki sekitar 150-200 silia yang tersusun atas mikrotubulus dan dihubungkan
oleh lengan dynein (Probst dkk., 2006). Di dalam silia terdapat sebuah
mikrotubulus yang tersusun longitudinal yang disebut aksonema. Mikrotubulus ini
tersusun berpasangan yaitu sembilan pasang di bagian luar dan dua mikrotubulus
tunggal berada di tengah aksonema membentuk karakteristik pola 9 plus 2
(Gambar 2.4) (Ballenger, 2003).
Palut lendir selalu bergerak dan gerakan ini karena adanya silia. Silia
bergerak untuk menghalau mukus dan debris yang terperangkap melalui ostium
dan ke hidung. Silia juga dapat tertarik ke bawah searah gravitasi. Ostium sinus
maksila berada di superior dinding medial sinus sehingga tanpa gerakan silia yang
menyapu mukus ke atas maka sinus maksila tidak akan pernah mengalami
drainase (Metson, 2005).
Gambar 2.4
Struktur ultrasilia tubulus (Ballenger, 2003)
2.2.3
Sel goblet
Sel goblet epitel dan kelenjar seromukus pada mukosa hidung menghasilkan
palut lendir (Ballenger, 2003; Krouse dan Stachler, 2006; Probst dkk., 2006). Sel
goblet lebih banyak ditemui pada sinus maksila dibandingkan sinus lainnya,
sedangkan kelenjar lebih banyak ditemui pada hidung dibandingkan pada sinus
paranasal. Hal ini fisiologis karena pada ruang tertutup seperti pada sinus
paranasal, sel goblet cukup efektif dalam menghasilkan mukus untuk mencegah
terjadinya kekeringan mukosa dan untuk menunjang transpor mukosilia (Passali
dkk., 2005). Suatu penelitian eksperimental menggunakan kelinci ditemukan
penurunan jumlah sel goblet disertai involusi dan berkurangnya jumlah kelenjar
secara signifikan pada sinusitis dengan derajat inflamasi yang berat (Stierna,
2001).
faktor internal yaitu aktivitas silia dan bahan rheologik mukus (Ballenger, 2003;
Passali dkk., 2005).
99m
Tc-MAA. Uji
sakarin merupakan pemeriksaan yang aman, mudah, cepat dan dapat dipercaya
untuk menilai transpor mukosilia hidung (Ramon dkk., 1999; Naxakis dkk.,
2009). Sedangkan aktivitas transpor mukosilia pada sinus paranasal dilakukan
dengan menyuntikkan bahan pada kavum paranasal dan menunggu waktu
bersihannya, namun metode tersebut bersifat invasif (Passali dkk., 2005).
Gambar 2.5
(A). Forsep aligator dan tablet sakarin; (B). Tablet sakarin diletakkan di ujung
anterior konka inferior (Scadding dan Lund, 2004)
skuamosa dengan menggunakan forsep kecil (Gambar 2.5). Pasien diminta tetap
bernapas biasa melalui hidung, tanpa bersin, mengendus, makan maupun minum.
Kemudian pasien diminta untuk menelan satu kali setiap satu menit dan
melaporkan jika merasakan rasa manis di tenggoroknya. Variasi lain adalah
dengan memberikan pewarna pada sakarin dengan menggunakan Evans blue,
sehingga pewarna dapat terlihat di nasofaring (Ballenger, 2003; Scadding dan
Lund, 2004).
Individu normal memiliki waktu transpor mukosilia kurang dari 20 menit.
Nilai rerata waktu transpor mukosilia hidung pada orang sehat dilaporkan
bervariasi. Inanli dkk. (2002) menyatakan rerata waktu transpor mukosilia sebesar
9,05 3,46 menit sedangkan Ural dkk. (2009) menyatakan 17,53 menit. Waktu
transpor mukosilia akan memanjang pada rinosinusitis, diskinesia silia primer dan
kistik fibrosis (Scadding dan Lund, 2004). Penelitian Inanli dkk. (2002)
melaporkan rerata waktu transpor mukosilia pada rinosinusitis akut sebesar 24,72
6,16 menit dan penelitian Ural dkk. (2009) sebesar 30,08 menit.
2.3
Rinosinusitis Akut
2.3.1 Definisi
Pada tahun 1997 The American Academy of Otolaryngology Head and Neck
Surgery Paranasal Sinus Committee mengusulkan untuk mengganti terminologi
sinusitis dengan rinosinusitis. Membran mukosa hidung dan sinus secara
embriologis saling berhubungan dan merupakan satu kesatuan serta menunjukkan
proses penyakit yang sama yaitu obstruksi hidung dan adanya sekret. Sinusitis
tidak akan terjadi tanpa adanya rinitis dan rinitis tidak terjadi tanpa sinusitis,
sehingga istilah rinosinusitis lebih tepat digunakan (Devaiah, 2004).
Rinosinusitis adalah kelainan yang ditandai oleh inflamasi mukosa kavum
nasi dan sinus paranasal atau keterlibatan tulang di bawahnya. Osteitis dapat
terjadi sebagai akibat langsung infeksi atau operasi sinus disertai kurangnya
preservasi mukosa. Osteitis merupakan salah satu penyebab utama kekambuhan
penyakit meskipun sudah dilakukan operasi atau pemberian antibiotik (Thaler,
2001; Devaiah, 2004; Benninger dan Gottschall, 2006).
Task Force on Rhinosinusitis pada tahun 1996 membuat klasifikasi
rinosinusitis sebagai berikut: a) Rinosinusitis akut, jika gejala berakhir dalam 4
minggu atau kurang; b) Rinosinusitis subakut, jika gejala menetap 4-12 minggu;
c) Rinosinusitis kronis, jika gejala menetap selama lebih dari 12 minggu; d)
Rinosinusitis akut rekuren, jika pasien dengan 4 episode serangan atau lebih per
tahun dengan interval bebas gejala di antaranya dan e) Rinosinusitis kronis
eksaserbasi akut, didefinisikan sebagai perburukan gejala tiba-tiba pada pasien
yang telah terdiagnosis rinosinusitis kronis setelah mendapat pengobatan, berupa
berulangnya gejala seperti awal (Thaler, 2001).
2.3.2
Insiden
Infeksi saluran napas adalah jenis infeksi paling sering yang ditemui dalam
praktek sehari-hari (File, 2006). Sinus paranasal merupakan kelanjutan saluran
pernapasan bagian atas sehingga sering terlibat infeksi (Metson, 2005). Sebanyak
0,5%-2% infeksi saluran napas atas berkembang menjadi rinosinusitis (Levine,
2005). Centers for Disease Control and Prevention melaporkan lebih dari 35 juta
(17,4%) orang Amerika dewasa terkena sinusitis pada tahun 2001 (Metson, 2005).
Sementara itu di Indonesia di mana penyakit infeksi saluran napas akut masih
merupakan penyakit utama di masyarakat, kiranya rinosinusitis juga banyak
dijumpai meskipun belum terdiagnosis, sehingga angka kejadiannya belum jelas
dan belum banyak dilaporkan (Mulyarjo, 2004).
2.3.3
Patofisiologi
Terjadinya rinosinusitis dipengaruhi oleh faktor host yaitu genetik dan struktur
anatomi, faktor agen dan lingkungan (Metson, 2005; Busquets dan Hwang, 2006;
Jackman dan Kennedy, 2006). Kistik fibrosis dan sindrom Kartagener merupakan
penyakit genetik berupa gangguan gerakan silia. Bahan polusi seperti asap rokok,
debu, bahan kimia, faktor alergi maupun infeksi dapat menginduksi peradangan
mukosa sinus (Naclerio dan Gungor, 2001). Rinitis alergi telah diketahui sejak
lama sebagai salah satu faktor predisposisi rinosinusitis (File, 2006).
Pada rinosinusitis akut mikroba yang berperan adalah virus, bakteri dan
jamur. Selain menimbulkan obstruksi pada kompleks ostiomeatal akibat inflamasi
dan odema virus respiratorius juga memiliki efek sitotoksik langsung pada epitel
dan silia nasal yang menyebabkan terganggunya bersihan mukosilia pada fase
resolusi pasca infeksi virus akut (Benninger dan Gottschall, 2006). Hal ini dapat
menjadi faktor predisposisi terjadinya infeksi bakterial sekunder (Busquets dan
Hwang, 2006). Rhinovirus juga dapat meningkatkan kemampuan adheren bakteri
patogen seperti Streptococcus pneumoniae dan Hemophilus influenzae di
nasofaring (Benninger dan Gottschall, 2006). Pasien dengan penurunan sistem
kekebalan tubuh akan mudah terinfeksi oleh jamur (Thaler, 2001). Pada kasus
rinosinusitis berulang maupun menetap setelah diberi pengobatan antibiotika yang
adekuat perlu dicurigai adanya imunodefisiensi sebagai faktor yang memperberat
(Busquets dan Hwang, 2006).
Obstruksi ostium sinus dapat disebabkan oleh polip hidung, deviasi septum,
konka bulosa dan konka media paradoksal. Jaringan parut akibat pembedahan
sebelumnya atau akibat trauma juga dapat mengganggu drainase sinus. Infeksi
gigi dapat menyebar ke kavum sinus dan menjadi sinusitis maksila persisten.
Kelainan anatomi kraniofasial di mana terjadi perubahan anatomi sinus juga dapat
menjadi predisposisi terjadinya sinusitis (Busquets dan Hwang, 2006).
2.3.5
Komplikasi
2.3.6
Penatalaksanaan
metazoline) dapat digunakan selama 3-5 hari untuk mengurangi gejala serta untuk
meningkatkan kecepatan drainase sinus. Penggunaan dekongestan topikal yang
lebih lama dapat menyebabkan terjadinya rinitis medikamentosa oleh karena efek
rebound vasodilatation (Thaler, 2001). Pemberian mukolitik (guanifesin,
ambroxol) berfungsi untuk mengencerkan sekret sehingga membantu fungsi
drainase (Thaler, 2001; Levine, 2005).
Penggunaan larutan cuci hidung dengan salin terbukti aman bagi anak-anak,
orang dewasa, kehamilan maupun usia lanjut (Papsin dan McTavish, 2003).
Pencucian hidung dengan larutan salin isotonis dapat diberikan sebagai terapi
tambahan pada rinosinusitis, rinitis alergi, infeksi saluran napas atas dan
pascapembedahan sinus. Kontraindikasi penggunaan terapi ini adalah trauma
wajah yang belum sembuh sempurna, gangguan neurologis dan muskuloskeletal.
Tidak ada peneliti yang melaporkan adanya efek samping yang serius terhadap
penggunaan larutan salin isotonis ini. Keluhan yang sering ditemui adalah rasa
tidak nyaman dan cemas pada saat penggunaan awal larutan tersebut (Rabago dan
Zgierska, 2009).
Pencucian hidung dilakukan dengan mengalirkan larutan salin ke dalam
kavum nasi menggunakan teknik irigasi maupun semprot. Teknik irigasi
dilakukan dengan memanfaatkan gaya gravitasi menggunakan tekanan tangan
dengan syringe atau neti pot (Gambar 2.6), sedangkan teknik pencucian hidung
dengan semprot menggunakan kemasan botol semprot yang bertekanan positif
rendah (Rabago dan Zgierska, 2009).
Gambar 2.6
Pencucian hidung dengan teknik irigasi menggunakan neti pot
(Rabago dkk., 2006)
Mekanisme kerja larutan salin sebagai larutan pencuci hidung belum
diketahui dengan jelas, namun diperkirakan dapat memperbaiki fungsi mukosilia
hidung melalui efek fisiologisnya yaitu: membersihkan mukosa hidung dari sekret
atau krusta, mengurangi odema mukosa, melembabkan kavum nasi, mengurangi
mediator inflamasi dan risiko perlengketan mukosa serta mempercepat
penyembuhan mukosa pascapembedahan sinus (Papsin dan McTavish, 2003;
Hauptman dan Ryan, 2007; Rabago dan Zgierska, 2009; Yeung, 2011).
Penggunaan larutan salin sebagai pencuci hidung juga dapat mengurangi waktu
penggunaan antibiotika sehingga dapat mening-katkan kepatuhan pasien dan
berkurangnya biaya pengobatan (Papsin dan McTavish, 2003).
Sediaan larutan salin berupa larutan salin hipotonis (NaCl 0,45%), isotonis
(NaCl 0,9%) dan hipertonis (NaCl 3%, 5%, 7%). Larutan cuci hidung salin
isotonis dan hipertonis sama-sama dapat memperbaiki waktu transpor mukosilia
hidung (Boek dkk., 1999; Ural dkk, 2009). Kedua larutan tersebut berbeda dalam
hal kekuatan osmotik dan gradien konsentrasinya (Hauptman dan Ryan, 2007).
Larutan salin isotonis adalah larutan yang tidak memiliki gradien osmotik
(Garavello dkk., 2003) dan diyakini sebagai larutan yang paling fisiologis terhadap morfologi seluler epitel hidung (Kim dkk., 2005), sehingga aman dan
nyaman digunakan pada bayi, ibu hamil maupun usia lanjut (Healtley dkk., 2001).
Pada larutan salin hipertonis, kondisi hiperosmolar di saluran pernapasan
menyebabkan pelepasan kalsium dan prostaglandin E2 dari intraseluler,
peningkatan availabilitas adenosine triphosphate pada aksonema silia sehingga
terjadi peningkatan ciliary beat frequency (Daviskas dkk., 1996; Shoseyov dkk.,
1998). Larutan salin hipertonis juga dapat menginduksi respon neural yang akan
menyebabkan perubahan vaskuler pada mukosa hidung dan menimbulkan rasa
tidak nyaman berupa sensasi terbakar dan iritasi pada mukosa hidung sehingga
akan mempengaruhi kepatuhan pasien dalam penggunaannya (Hauptman dan
Ryan, 2007).
Tindakan pembedahan diindikasikan pada rinosinusitis akut yang gagal
dengan terapi konservatif dan rinosinusitis akut dengan komplikasi intrakranial
atau ekstrakranial. Tindakan pembedahan dapat berupa irigasi sinus atau bedah
sinus endoskopi fungsional (Busquets dan Hwang, 2006).
BAB III
KERANGKA BERPIKIR, KONSEP DAN HIPOTESIS PENELITIAN
99m
yang sederhana, non invasif, mudah dan murah serta merupakan pemeriksaan
baku emas untuk uji perbandingan.
Umur
Jenis kelamin
Indeks massa tubuh
Tumor sinonasal
Polip hidung
Deviasi septum nasi
Hipertensi
BAB IV
METODE PENELITIAN
Populasi
Sampel
Uji sakarin
sebelum
K. Perlakuan
Uji sakarin
sesudah
Uji sakarin
sebelum
K. Kontrol
Uji sakarin
sesudah
Gambar 4.1
Bagan rancangan penelitian.
n1=n2=
2 2
(2 -1 )2
2 (3,46)2
(4)2
.f(,)
.10,5 = 15,71 ~ 16
Keterangan:
n
: Besar sampel.
Perkiraan drop out sebesar 10% dari jumlah sampel, sehingga didapatkan:
= n +
10
x 16
100
= 17,6 ~ 18
Jadi penelitian ini membutuhkan sampel minimal sebesar 36, yaitu 18 orang
untuk kelompok perlakuan dan 18 orang untuk kelompok kontrol.
4.4
Variabel Penelitian
b.
c.
Variabel kendali: umur, jenis kelamin, indeks massa tubuh, tumor sinonasal,
polip hidung, operasi hidung dan sinus paranasal, gangguan pengecap,
dekongestan, merokok, hipertensi.
4.5
a.
b.
Jenis kelamin adalah: laki-laki atau perempuan yang tercantum dalam tanda
pengenal (kartu pelajar, kartu tanda penduduk).
c.
Indeks massa tubuh atau IMT adalah: ukuran antropometri massa tubuh
yang ditentukan dengan membagi berat badan dalam kilogram dengan tinggi
badan dalam meter kuadrat. Kriteria dibagi menjadi underweight bila IMT
<18,5, normal bila IMT 18,5 22,9, overweight bila IMT 23 24,9, obese
bila IMT 25 29,9 dan obese tipe 2 bila IMT 30.
d.
e.
f.
g.
Deviasi septum nasi adalah: deformitas septum nasi berbentuk huruf C atau
S, deviasi ke salah satu sisi kavum nasi, penonjolan berupa krista atau spina
yang didapatkan berdasarkan rinoskopi anterior.
h.
i.
j.
k.
l.
Hipertensi adalah: penyakit sistemik berupa tekanan darah sistole lebih dari
140 mmHg atau tekanan diastole lebih dari 90 mmHg berdasarkan kriteria
Joint National Comittee (JNC) 7 yang diukur menggunakan tensimeter atau
adanya riwayat konsumsi obat antihipertensi berdasarkan anamnesis.
Larutan pencuci hidung salin isotonis adalah: larutan pencuci hidung yang
mengandung NaCl 0,9% dikemas dalam botol infus 500 ml yang diberikan
p.
q.
Uji Sakarin adalah: uji yang dilakukan untuk mengukur waktu transpor
mukosilia menggunakan tablet sakarin merk Equal berukuran diameter 1
mm yang diletakkan 1 cm di belakang ujung anterior konka inferior
menggunakan forsep aligator.
r.
s.
a.
b.
c.
Syringe 10 ml.
d.
e.
Forsep aligator.
f.
Stopwatch.
b.
c.
d.
f.
fisiologis
dan
pasien
berkumur
dengan
air
putih
untuk
h.
i.
4.8
Alur Penelitian
Rinosinusitis akut
Rinosinusitis akut di poliklinik THT
RSUP Sanglah, Denpasar
Kriteria eksklusi:
Tumor sinonasal
Polip hidung
Gangguan pengecap
Dekongestan
Operasi sinonasal
Hipertensi
Kriteria inklusi:
Usia 15-60 tahun
Kooperatif
Sampel penelitian
(consecutive sampling)
Informed concent
Pengambilan data:
Demografi, Keluhan, Riwayat pengobatan
Random (randomisasi blok)
Kelompok Perlakuan:
Terapi standar (antibiotika,
dekongestan oral, mukolitik)
Larutan pencuci hidung salin
isotonis
7 hari terapi
Kelompok Kontrol:
Terapi standar (antibiotika,
dekongestan oral, mukolitik)
7 hari terapi
Gambar 4.2
Bagan alur penelitian
BAB V
HASIL PENELITIAN
Kelompok
Perlakuan
Kontrol
(n=20)
(n=20)
33,5 11,8
6(30,0)
4(20,0)
6(30,0)
4(20,0)
30,3 8,8
5(25,0)
10(50,0)
4(20,0)
1(5,0)
15(75,0)
5(25,0)
23,8 3,8
2(10,0)
6(30,0)
5(25,0)
6(30,0)
1(5,0)
8(40,0)
12(60,0)
23,4 4,3
1(5,0)
9(45,0)
2(10,0)
7(35,0)
1(5,0)
5(25,0)
15(75,0)
2(10,0)
18(90,0)
nilai p
0,338a
0,182b
0,025b*
0,748a
0,682b
0,212b
Umur subjek dalam penelitian ini dibagi menjadi empat kategori dengan
frekuensi terbanyak pada Kelompok Perlakuan adalah umur 15-25 tahun dan 36-
Tabel 5.2
Gejala klinis subjek berdasarkan kelompok perlakuan
Gejala klinis
Kelompok
Perlakuan
(n=20)
Kontrol
(n=20)
Hidung tersumbat
Hidung kanan
2(10,0)
3(15,0)
Hidung kiri
3(15,0)
3(15,0)
Keduanya
15(75,0)
14(70,0)
Tidak tersumbat
0(0)
0(0)
Pilek
Ya
20(100,0)
20(100,0)
Tidak
0(0)
0(0,0)
Nyeri pipi
Ya
6(30,0)
4(20,0)
Tidak
14(70,0)
16(80,0)
Sakit kepala
Ya
15(75,0)
15(75,0)
Tidak
5(25,0)
5(25,0)
Gangguan penghidu
Ya
7(35,0)
9(45,0)
Tidak
13(65,0)
11(55,0)
Demam
Ya
5(25,0)
2(10,0)
Tidak
15(75,0)
18(90,0)
Napas berbau
Ya
4(20,0)
3(15,0)
Tidak
16(80,0)
17(85,0)
Dahak di tenggorok
Ya
17(85,0)
16(80,0)
Tidak
3(15,0)
4(20,0)
Keluhan lain
Batuk
5(25,0)
3(15,0)
Nyeri telinga
1(5,0)
0(0)
Penuh di telinga
1(5,0)
2(10,0)
Tidak ada
13(65,0)
15(75,0)
a
: Hasil Pearson Chi Square test
* : No statistics are computed because pilek is a constant
nilai p
0,889a
0,465a
1,000a
0,519a
0,212a
0,677a
0,677a
0,577a
yang dikeluhkan oleh pasien meliputi: pilek pada semua subjek ke dua kelompok
(100%), nyeri pipi sebanyak 30% pada Kelompok Perlakuan dan 20% pada
Kelompok Kontrol, sakit kepala sebanyak 75% pada ke dua kelompok, gangguan
penghidu sebanyak 35% pada Kelompok Perlakuan dan 45% pada Kelompok
Kontrol, demam sebanyak 25% pada Kelompok Perlakuan dan 10% pada
Kelompok Kontrol, napas berbau sebanyak 20% pada Kelompok Perlakuan dan
15% pada Kelompok Kontrol, dahak di tenggorok sebanyak 85% pada Kelompok
Perlakuan dan 80% pada Kelompok Kontrol.
Keluhan lain yang dirasakan subjek adalah batuk sebanyak 25% pada
Kelompok Perlakuan dan 15% pada Kelompok Kontrol, nyeri telinga sebanyak
5% pada Kelompok Perlakuan, rasa penuh pada telinga sebanyak 5% pada
Kelompok Perlakuan dan 10% pada Kelompok Kontrol.
Perlakuan (n=20)
Deviasi septum
Deviasi ke kiri
3(15,0)
Deviasi ke kanan
2(10,0)
Bentuk S
3(15,0)
Tidak deviasi
12(60,0)
a
: Hasil Pearson Chi Square test
Kontrol (n=20)
4(20,0)
2(10,0)
0(0)
14(70,0)
nilai p
0,348a
Beda
Rerata
95% CI
nilai p
Perlakuan
(n=20)
Kontrol
(n=20)
Waktu transpor
mukosilia sebelum
perlakuan
35,5 10,7
29,2 7,7
6,3
0,366-12,290 0,038a
Waktu transpor
mukosilia sesudah
perlakuan
22,9 8,7
18,0 5,6
5,0
0,249-9,703
0,040a
adalah 6,3 menit dengan asumsi 95% confidence interval sebesar 0,366-12,290
adalah berbeda bermakna (nilai p=0,038).
Rerata waktu transpor mukosilar sesudah perlakuan pada Kelompok
Perlakuan adalah 22,9 8,7 menit dan 18,0 5,6 menit pada Kelompok Kontrol,
seperti ditampilkan pada Gambar 5.1B. Beda rerata waktu transpor mukosilia
sesudah perlakuan pada Kelompok Perlakuan dan Kelompok Kontrol adalah 5,0
menit dengan asumsi 95% confidence interval sebesar 0,249-9,703 adalah berbeda
bermakna (nilai p=0,040).
Gambar 5.1
Kelompok
nilai p
Perlakuan (n=20)
Kontrol (n=20)
11,0(7,5)
9,4(5,3)
0,499a
Nilai median selisih waktu transpor mukosilia hidung sebelum dan sesudah
perlakuan pada Kelompok Perlakuan adalah 11,0 7,5 menit dan 9,4 5,3 menit
pada Kelompok Kontrol. Perbedaan tersebut secara statistik tidak bermakna
dengan nilai p = 0,499. Hasil tersebut dapat dilihat pada Gambar 5.2 di bawah ini.
Gambar 5.2
Grafik garis selisih waktu transpor mukosilia sebelum dan sesudah
perlakuan pada Kelompok Perlakuan dan Kelompok Kontrol
BAB VI
PEMBAHASAN
bernapas lewat mulut sehingga membuat rongga hidung terkadang tidak aktif
sedangkan pada individu underweight, buruknya nutrisi akan mengganggu
imunitas sehingga rentan terkena infeksi saluran napas atas.
Sebanyak 25% subjek adalah perokok pada Kelompok Perlakuan dan 10%
pada Kelompok Kontrol. Penelitian oleh Proenca dkk. (2011) menunjukkan
adanya perlambatan waktu transpor mukosilia yang bermakna pada perokok
dibandingkan dengan bukan perokok. Asap rokok memiliki efek siliostatis
sehingga dapat mengubah sifat viskoelastisitas mukus yang berpengaruh terhadap
sistem mukosilia hidung (Corbo, 1989).
oleh temuan histologi yang menyatakan mukosa septum sisi konkaf mengandung
banyak infiltrat inflamasi dan sedikit kelenjar mukosa dibandingkan mukosa
septum sisi konveks.
orang sehat yang diberikan larutan cuci hidung salin hipertonis 5% dibandingkan
pemberian larutan cuci hidung salin isotonis.
Larutan salin hipertonis merupakan larutan alkali ringan. Suasana alkali
menyebabkan palut lendir berada dalam fase sol sehingga sekret bersifat kurang
viskus. Pemberian larutan salin hipertonis menyebabkan keadaan hiperosmolar di
saluran pernapasan sehingga terjadi pelepasan kalsium dan prostaglandin E2 dari
intraseluler, peningkatan availabilitas adenosine triphosphate pada aksonema silia
dan peningkatan ciliary beat frequency (Daviskas dkk., 1996; Shoseyov dkk.,
1998; Garavello dkk., 2003). Larutan hipertonis juga memiliki efek mukolitik
pada konsentrasi NaCl 7% (Boek dkk., 1999), efek antibakteri (Shoseyov dkk.,
1998) serta dapat mengurangi odema mukosa (Lee dkk., 2003).
Ural dkk. (2009) melakukan penelitian pada 12 pasien rinosinusitis akut yang
mendapat terapi larutan cuci hidung salin isotonis 4 ml yang disemprotkan pada
masing-masing kavum nasi menggunakan syringe, sebanyak 2 kali sehari selama
10 hari. Uji sakarin dilakukan sebelum terapi dan setelah 10 hari pemberian terapi.
Rerata waktu transpor mukosilia sebelum pemberian larutan cuci hidung salin
isotonis adalah 25 menit dan sesudah terapi adalah 17,75 menit dengan nilai
p=0,041. Hasil penelitian tersebut menunjukkan perbaikan waktu transpor
mukosilia yang bermakna secara statistik pada rinosinusitis akut yang mendapat
larutan cuci hidung salin isotonis.
Hasil penelitian Ural dkk. (2009) berbeda dengan hasil penelitian ini
dimungkinkan karena pada penelitian Ural dkk. (2009) terapi yang diberikan
hanya larutan cuci hidung salin isotonis tanpa pemberian antibiotika, dekongestan
dan mukolitik. Selain itu, uji sakarin evaluasi dilakukan setelah 10 hari pemberian
terapi. Pada penelitian ini dilakukan pemeriksaan uji sakarin evaluasi setelah 7
hari pemberian terapi berdasarkan pedoman penatalaksanaan rinosinusitis akut
oleh Kelompok Studi Rinologi PERHATI-KL tahun 2007, yaitu: pemberian
antibiotika, dekongestan dan mukolitik selama 7-14 hari (Soetjipto dkk., 2007).
Chodankar dkk. (2014) melakukan penelitian pada 20 pasien rinosinusitis
akut yang dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu: Kelompok I (n=5) mendapat
terapi antibiotika amoxicillin/clavulanic acid 3x sehari dan analgetika ibuprofen
2x400mg, Kelompok II (n=8) mendapat terapi antibiotika, analgetika dan larutan
cuci hidung salin hipertonis, Kelompok III (n=7) mendapat terapi antibiotika,
analgetika dan larutan cuci hidung salin isotonis. Uji sakarin dilakukan sebelum
dan 10 hari sesudah pemberian terapi. Rerata waktu transpor mukosilia pada
rinosinusitis akut sebelum terapi adalah 16,34 1,78 menit. Perbaikan waktu
transpor mukosilia yang bermakna secara statistik ditunjukkan pada kelompok
yang mendapat terapi larutan cuci hidung salin hipertonis dan salin isotonis.
Chodankar dkk. (2014) tidak melakukan analisis lebih lanjut terhadap perbaikan
waktu transpor mukosilia antara kelompok yang mendapat terapi oral tanpa
larutan cuci hidung, kelompok yang mendapat larutan cuci hidung salin hipertonis
maupun salin isotonis.
Hauptman dan Ryan (2007) melakukan penelitian terhadap 80 pasien
rinosinusitis akut maupun kronis yang mendapat larutan cuci hidung salin isotonis
dan hipertonis 3%. Kriteria inklusi pada penelitian ini adalah skor minimal
SNOT-20 sebesar 20. Skor SNOT-20 bekisar antara 0 sampai 100, dengan skor
yang lebih tinggi menunjukkan beratnya gejala. Sebelum uji sakarin dilakukan,
pada masing-masing subjek dilakukan penilaian derajat obstruksi hidung
menggunakan skala Likert dengan skor berkisar 1 sampai 10, dimana skor 1
menunjukkan tidak ada gangguan sedangkan skor 10 menunjukkan gejala yang
sangat mengganggu. Hasil penelitian ini menunjukkan perbaikan waktu transpor
mukosilia dan keluhan obstruksi hidung yang bermakna secara statistik pada
kelompok yang mendapat larutan cuci hidung salin isotonis maupun hipertonis.
Karakteristik umur dilaporkan memiliki pengaruh yang bervariasi terhadap
waktu transpor mukosilia. Meskipun beberapa peneliti menyatakan tidak ada
pengaruh faktor umur terhadap waktu transpor mukosilia, namun Kao dkk. (1994)
dan Agius dkk. (1998) menyatakan bahwa peningkatan umur berpengaruh
terhadap pemanjangan waktu transpor mukosilia.
Sebagian besar peneliti melaporkan bahwa jenis kelamin tidak mempengaruhi
waktu transpor mukosilia, namun penelitian oleh Valia dkk. (2008) menyatakan
bahwa pada laki-laki terjadi pemanjangan rerata waktu transpor mukosilia
dibandingkan dengan perempuan.
Larutan cuci hidung salin isotonis dilaporkan memiliki efek terhadap
perbaikan waktu transpor mukosilia pada rinosinusitis kronis yang lebih nyata
dibandingkan pada rinosinusitis akut. Pada rinosinusitis akut terjadi perubahan
viskoelastisitas sekret, sedangkan pada rinosinusitis kronis telah terjadi kerusakan
epitel dan hilangnya struktur silia sehingga terjadi gangguan ciliary beat
frequency (Georgitis, 1994). Pemberian larutan cuci hidung salin isotonis pada
rinosinusitis akut diharapkan dapat memperbaiki aktivitas mukosilia hidung
secara langsung dengan cara membersihkan sekret dan bahan iritan yang masuk
melalui udara pernapasan, menjaga kelembaban, mengurangi odema mukosa dan
mediator inflamasi (Papsin dan McTavish, 2003; Ural dkk., 2009), sedangkan
pada rinosinusitis kronis, larutan cuci hidung salin isotonis dapat memperbaiki
aktivitas mukosilia dengan cara meningkatkan ciliary beat frequency.
Penggunaan larutan cuci hidung dengan salin isotonis pada rinosinusitis akut
masih banyak diperdebatkan. Pada penelitian ini tidak terjadi perbaikan waktu
transpor mukosilia yang bermakna dengan penggunaan larutan cuci hidung salin
isotonis pada rinosinusitis akut. Pemberian larutan cuci hidung nampaknya lebih
menunjukkan hasil yang bermakna terhadap perbaikan waktu transpor mukosilia
melalui peningkatan ciliary beat frequency (Ural dkk., 2009).
Keterbatasan penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Tidak dilakukannya
pembagian subjek berdasarkan derajat beratnya penyakit yang dapat dihitung
menggunakan skor SNOT-20 maupun derajat beratnya obstruksi hidung yang
dapat diukur menggunakan skala Likert maupun peak nasal inspiration flow, 2.
Tidak dilakukannya metode matching terhadap variabel umur, jenis kelamin dan
waktu transpor mukosilia sehingga distribusi variabel tersebut pada ke dua
kelompok perlakuan tidak merata.
BAB VII
SIMPULAN DAN SARAN
7.1 Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa penambahan
larutan cuci hidung salin isotonis pada rinosinusitis akut memiliki efek waktu
transpor mukosilia yang sama dengan pemberian antibiotika, dekongestan dan
mukolitik tanpa larutan cuci hidung salin isotonis.
7.2 Saran
1. Sebaiknya dilakukan pembagian subjek berdasarkan derajat beratnya penyakit
yang diukur bersadarkan skor SNOT-20 dan derajat obstruksi hidung yang
dapat diukur dengan skala Likert maupun peak nasal inspiration flow.
2. Sebaiknya dilakukan metode matching terhadap variabel umur, jenis kelamin
dan waktu transpor mukosilia sehingga variabel tersebut terdistribusi secara
merata pada kedua kelompok perlakuan.
3. Sebaiknya dilakukan penghisapan sekret hidung sebelum pemeriksaan uji
sakarin untuk mengurangi kemungkinan subjek memiliki sekret hidung yang
sangat kental.
DAFTAR PUSTAKA
Achiles, N. and Mosges, R. 2013. Nasal Saline irrigations for The Symptoms
of Acute and Chronic Rhinosinusitis [abstract]. Curr Allergy Asthma Rep 13(2)
Agius, A.M., Smallman, L.A., Pahor, A.L. 1998. Age, Smoking and Nasal
Ciliary Beat Frequency. Clin Otolaryngol 23: 227-30.
Ballenger, J.J. 2003. Anatomy and Physiology of The Nose and Paranasal
Sinuses. In : Snow, J.B. and Ballenger, J.J., editors. Otorhinolaryngology Head
and Neck Surgery. 16th. Ed. Spanyol: BC Decker Inc. p. 547-60.
Benninger, M.S. and Gottschall, J. 2006. Rhinosinusitis: Clinical Presentation
and Diagnosis. In: Brook, I., editor. Sinusitis From Microbiology to Management.
New York: Taylor & Francis Group. p. 39-52.
Boek, W.M., Keles, N., Graamans, K., Natzijl, H., Rijk, P. 1999. Physiologic
and Hyper-tonic Saline Solutions Impair Ciliary Activity in Vitro. Laryngoscope
109: 396-9.
Busquets, J.M. and Hwang, P.H. 2006. Nonpolypoid Rhinosinusitis:
Classification, Diagnosis, and Treatment. In: Bailey B.J., and Johnson, J.T.,
editors. Head & Neck Surgery-Otolaryngology. 4th. Ed. Philadephia: Lippincott
Williams & Wilkins. p. 405-16.
Chodankar, S., Dsa, C., Tiwari, M., Goel, H.C., Andhale-Goa, D. 2014.
Imapct of Isotonic and Hypertonic Saline on Mucociliary Activity in Various
Nasal Pathologies. National Journal of Otorhinolaringology and Head & Neck
Surgery 2(11): 9-11.
Conrad, D.A.2006. Medical Management of Acute Sinusitis. In: Brook, I.,
editor. Sinusitis from Microbiology to Management. New York: Taylor & Francis
Group. p. 203-17.
Corbo, G.M. 1989. Measurement of Nasal Mucociliary Clearance. Archieves
of Disease in Childhood 64:546-50.
Daviskas, E., Anderson, S.D., Gonda, I., Eberl, S. Meikle, S., Seale, J.P.,
Bautovich, G. 1996. Inhalation of Hypertonic Saline Aerosol Enhance in
Asthmatic and Healthy Subjects. Eur Resp J 9: 725-32.
Devaiah, A.K. 2004. Adult Chronic Rhinosinusitis: Diagnosis and Dilemmas.
Otolaryngol Clin N Am 37: 243-52.
Dhillon, R.S. and East, C.A. 1999. Ear, Nose and Throat and Head and Neck
Surgery. Philadelphia: Churchill Livingstone. p. 30-5.
File, T.M. 2006. Sinusitis : Epidemiology. In : Brook, I., editor. Sinusitis from
Microbiology to Management. New York: Taylor & Francis Group. p. 1-14.
Fokkens, W., Lund, V., Mullol, J., Bachert, C., Cohen, N., Cobo, R.,
Desrosiers, M., Hellings, P., Holmstorm, M., Hytonen, M., Jones, N., Kalogjera,
L. 2007. European Position Paper on Rhinosinusitis and Nasal Polyps (EPOS),
[cited 2014 Oct 1]. Available from: URL: [Link] [Link].
Garavello, W., Romagnoli, M. Sordo, L., Gaini, R.M., Di Berardino, C.,
Angrisano, A. 2003. Hypersaline Nasal Irrigation in Children With Symptomatic
Seasonal Allergic Rhinitis: A Randomized Study. Pediatr Allergy Immunol 14(2):
140-3.
Georgitis, J.W. 1994. Nasal Hyperthermia and Simple Irrigation for Perrenial
Rhinitis. Changes in Inflamatory Mediators. Chest 106: 1487-92.
Hauptman, G. and Ryan, MW. 2007. The Effect of Saline Solutions on Nasal
Patency and Mucociliary Clearance in Rhinosinusitis Patients. OtolaryngologyHead and Neck Surgery 137(5): 815-21.
Healtley, D.G., McConnell, K.E., Kille, T.L., Leverson, G.I. 2001. Nasal
Irrigation for The Alleviation of Sinonasal Symptoms. Otolaryngol Head and
Neck Surgery 125(1): 44-8.
Ho, H.C., Chan, K.N., Hu, W.H., Kan, W.K., Zheng, L, Tipoe, G.L., Sun, J.,
Leung, R., Tsang, K.W. 2001. The Effect of Aging on Nasal Mucociliary
Clearance, Beat Frequency and Ultrastructure of Respiratory Cilia. Am J Respir
Crit Care Med 163: 983-8.
Homer, J., England, R., Harwood, G., Stafford, N. 2000. The Effect of pH of
Douching Solution on Mucociliary Clearance. Clin Otolaryngol 24: 312-3.
Inanli, S., Ozturk, O., Korkmaz, M., Tutkun, A., Batman, C. 2002. The
Effects of Topical Agents of Fluticasone Propionate, Oxymetazoline, and 3% and
0,9% Sodium Chloride Solutions on Mucociliary Clearance in The Therapy of
Acute Bacterial Rhinosinusitis In Vivo. Laryngoscope 112: 320-5.
Jackman, A.H. and Kennedy, D.W. 2006. Pathophysiology of Sinusitis. In:
Brook, I., editor. Sinusitis from Microbiology to Management. New York: Taylor
& Francis Group. p. 109-29.
Kao, C.H., Jiang, R.S., wang, S.J., Yeh, S.H. 1994. Influence of Age, Gender
and ethnicity on Nasal Mucociliary Clearance Function. Clin Nucl Med 19: 813-6.
Kassel, J.C., King, D., Spurling, G.K. 2010. Saline Nasal Irrigation for Acute
Upper Respiratory Tract Infections [abstract]. Cochrane Database Syst Rev 17(3)
Kim, C.H., Song, M.H., Young, E.A. Lee, J.G., Yoon, J.H. 2005. Effect of
Hypo-, Iso- and Hypertonic Saline Irrigation on Secretory Mucins and
Morphology of Cultured Human Nasal Epithelial Cells. Acta Otolaryngol 125:
1296-300.
Krouse, J.H. and Stachler, R.J. 2006. Anatomy and Physiology of the
Paranasal Sinuses. In: Brook, I., editor. Sinusitis from Microbiology to
Management. New York: Taylor & Francis Group. p. 95-108.
Lee, S.H., Song, J.S., Lee, S.H., Hwang, S.J., Lee, H.M. 2003. Effect of
Hypertonic Seawater (Sinomarin) on Mucociliary clearance in normal subjects. J
Rhinol 10(1,2): 19-22.
Levine. H.L. 2005. Diagnosis and Management of Rhinosinusitis. In: Levine,
H.L. and Clemente, M.P., editors. Sinus Surgery Endoscopic and Microscopic
Approaches. New York: Thieme. p. 90-9.
Mariappan, R.G., Dhanalakshmi, M., Mathaikutty, D.M., Shanmugam, R.,
Shanmugam, U., Swaminathan, B. et al. [Link]-Pathological Correlation
and the Effects of Septal Surgery on Nasal Mucociliary Clearance. Sch. J. App.
Med. Sci 2(5C):1691-5.
Metson, R.B. 2005. The Harvard Medical School Guide to Healing Your
Sinuses. New York: McGraw-Hill. p. 3-33.
Mulyarjo. 2004. Diagnosis Klinik Rinosinusitis. Naskah Lengkap Pendidikan
Kedokteran Berkelanjutan IV Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok-Kepala
Leher FK Unair. Surabaya 28 Agustus. h. 17-25.
Naclerio, R.M. and Gungor, A. 2001. Etiologic Factors in Inflammatory
Sinus Disease. In : Kennedy, D.W.,.Bolger, W.E., Zinreich, S.J., editors. Disease
of The Sinus, Diagnosis and Management. London: B.C. Decker Inc. p. 47-55.
Naxakis, S., Athanasopoulos, I., Vlastos, I.M., Giannakenas, G., Vasiilakos,
P., Goumas, P. 2009. Evaluation of Nasal Mucociliary Clearance After Medical or
Surgical Treatment of Chronic Rhinosinusitis. European Archieves of Oto-RhinoLaryngology and Head & Neck 266(9): 1423-6.
Papsin, B. and McTavish, A. 2003. Saline Nasal Irrigation: Its Role As An
Adjunct Treatment. Can Fam Physician 49: 168-73.
Passali, P., Passali, G.C., Passali, F.M., Bellussi, L. 2005. Physiology of The
Paranasal Sinuses. In : Levine, H.L. and Clemente, M.P., editors. Sinus Surgery
Endoscopic and microscopic Approaches. New York: Thieme. p. 57-63.
Pocock, SJ. 2002. Clinical Trials: A Practical Approach. Chichester: John
Wiley and Sons.
Probst, R., Grever, G., Iro, H.. 2006. Basic Otorhinolaryngology, A Step-byStep Learning Guide. New York: Thieme. p. 1-25.
Proenca, M., Xavier, R.F., Ramos, D., Cavalheri, V., Pitta, F., Ramos, E.M.C.
2011. Immediate and Short Term Effects of Smoking on Nasal Mucociliary
Clearance in Smokers. Rev Port Pneumol 17: 172-6.
Quraishi, M.S., Jones, N.S., Mason, J. 1998. The Rheology of Nasal Mucus: a
Review. Clin. Otolaryngol 23: 403-13.
Rabago, D., Barret, B., Marchand, L., Mundt, M. 2006. Qualitative Aspects
of Nasal Irrigation Use by Patients With Chronic Sinus Disease in a Multimethod
Study. Ann Fam Med 4: 295-301.
Rabago, D. and Zgierska, A. 2009. Saline Nasal Irrigation for Upper
Respiratory Conditions. Am Fam Physician 80(10): 1117-9.
Ramon, P., Victor-John, C., Benjamin, S. 1999. A Comparison of The Mucus
Transport Time Between Filipinos Living in Urban and Rural Areas. The
Phillipppine Journal of Oto-Rhino-Laryngology Head & Neck Surgery 14(3): 2-6.
Sakakura, Y., Ukai, K., Majima, Y., Murai, S., Harada, T., Miyoshi, Y. 1983.
Nasal Mucociliary Clearance Under Various Conditions. Acta Otolaryngol 96:
167-73.
Sargi, Z.B. and Casiano, R.R. 2007. Rhinologic and Sleep Apnea Surgical
Techniques. In: Kountakis, S.E. and Onerci, M., editors. Surgical Anatomy of
Paranasal Sinuses. Berlin: Springer-Verlag. p. 17-21.
Scadding, G.K. and Lund, V.J. 2004. Investigative Rhinology. London:
Taylor & Francis Group. p. 83-94.
Shoseyov, D., Bibi H., Shai, P., Shosayov, N., Shazberg, G., Hurvitz, H.
1998. Treatment With Hypertonic Saline Versus Normal Saline Nasal Wash of
Pediatric Chronic Sinusitis. J Allerg Clin Immunol 101: 602-5.
Soetjipto, D dkk. 2007. Perhimpunan Dokter Spesialis THT-KL Indonesia
(PERHATI-KL). In: Kelompok Studi Rinologi, editors. Guideline Penyakit THTKL di Indonesia. Jakarta: PT. Bristol Myers Squibb [Link]. h. 63.
Stierna, P. 2001. Physiology, Mucociliary Clearance, and Neural Control. In :
Kennedy, D.W., Bolger, W.E., Zinreich, S.J., editors. Disease of The Sinus,
Diagnosis and Management. London: B.C. Decker Inc. p. 35-45.
Thaler, E.R. 2001. Management of Acute Rhinosinusitis. In : Kennedy, D.W.,
Bolger, W.E., Zinreich, S.J., editors. Disease of The Sinus, Diagnosis and
Management. London: B.C. Decker Inc. p. 149-54.
Talbot, A.R., Herr, T.M., Parsons, D.S. 1997. Mucociliary Clearance And
Buffered Hypertonic Saline Solution. Laryngoscope 107: 500-3.
Ural, A., Oktemer, T.K., Kizil, Y., Ileri, F., Uslu, S. 2009. Imapact of Isotonic
and Hypertonic Saline Solutions on Mucociliary Activity in Various Nasal
Pathologies: Clinical Study. The Journal of Laryngology & Otology 123: 517-21.
Valia, P.P., Valero, F.C., Pardo, J.M., Rentero, D.B., Monte, C.G. 2008.
Saccharin Test For The Study of Mucociliary Clearance: Reference Values for a
Spanish Population. Arch Bronconeumol 44: 540-5.
Valdez, R.J.L. dan Cruz, E.S. 2009. Nasal Mucociliary Clearance (Mucus
Transit Time) and Abnormal Body Mass Index (Underweight and Obese) in
Filipino Adult Volunteers. Philippine Scientific Journal 42(1): 10-3.
Walsh, W.E. and Kern, R.C. 2006. Sinonasal Anatomy, Function and
Evaluation. In : Bailey B.J, and Johnson, J.T., editors. Head & Neck SurgeryOtolaryngology. 4th Ed. Vol.1 Philadephia: Lippincott Williams & Wilkins. p.
307-18.
Welch, K.C. and Goldberg, A.N. 2008. Sinusitis. In : Mahmoudi, M., editor.
Allergy & Asthma, Practical Diagnosis and Management. New York:
McGrawHill. p. 62-7.
Yeung, DF. 2011. Efficacy of Nasal Saline Spray to Relieve Symptoms of
Chronic Sinusitis. UTMJ 88(2): 84-7.
Lampiran 2
INFORMASI TERTULIS KEPADA RESPONDEN
Penelitian
Peneliti Utama
Alamat tugas
Kepada
YTH. Bapak/Ibu/Saudara/i
Di tempat
Rinosinusitis akut adalah inflamasi pada mukosa hidung dan sinus paranasal
yang terjadi selama 4 minggu atau kurang, ditandai gejala hidung buntu, nyeri
wajah, ingus kental dan dahak kental (post nasal drip) di tenggorok. Rinosinusitis
akut sering terjadi menyertai infeksi saluran napas atas, pilek alergi maupun
paparan polusi. Pada infeksi tersebut terjadi gangguan pengaliran lendir di dalam
rongga sinus sehingga lama-kelamaan lendir akan menumpuk dan memperparah
infeksi yang telah terjadi. Pengobatan standar yang diberikan adalah pemberian
antibiotika, dekongestan dan mukolitik. Penggunaan larutan pencuci hidung salin
isotonis masih terbatas pada rinosinusitis kronis yang telah menjalani pembedahan
sinus. Beberapa penelitian telah mengungkapkan manfaat pemberian larutan
pencuci hidung terhadap kesembuhan pasien.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas pemberian larutan
pencuci hidung salin isotonis pada penderita rinosinusitis akut dibandingkan
dengan pengobatan standar. Larutan salin isotonis adalah larutan yang relatif
aman, murah, mudah ditemui di apotek dan mudah digunakan.
Bapak/Ibu/Saudara/i diundang untuk berpartisipasi dalam penelitian ini.
Penelitian ini dilakukan sama seperti pemeriksaan rutin THT yang biasa dilakukan
untuk mendiagnosis suatu penyakit, yaitu wawancara, pemeriksaan fisik rutin
pada telinga, hidung, tenggorok serta pemeriksaan radiologi (foto polos sinus
paranasal). Kemudian saya akan memeriksa uji sakarin menggunakan tablet
sakarin yang akan diletakkan pada permukaan bagian dalam rongga hidung
bawah. Saya akan meminta Bapak/Ibu/Saudara/i untuk menelan ludah setiap
setengah atau satu menit, sampai terasa manis pertama kali di tenggorok, yang
merupakan waktu transpor mukosilia. Waktu diukur dengan menggunakan
pengukur waktu (stopwatch). Setelah itu, tablet sakarin yang masih tersisa di
dalam hidung akan dicuci menggunakan larutan isotonis yang disemprotkan ke
dalam hidung dan kemudian berkumur dengan larutan air mineral. Bahan kristal
sakarin bersifat aman dan tidak menimbulkan risiko yang berbahaya bagi subjek
penelitian.
Bapak/Ibu/Saudara/i akan dibagi menjadi dua kelompok, kelompok yang
akan mendapatkan pengobatan standar dan kelompok yang akan mendapatkan
pengobatan standar ditambah larutan pencuci hidung salin isotonis. Pembagian
kelompok akan dilakukan secara acak berdasarkan randomisasi blok. Setelah 7
hari mendapatkan pengobatan, Bapak/Ibu/Saudara/i akan diperiksa uji sakarin
evaluasi dengan cara yang sama seperti pemeriksaan sebelumnya.
Partisipasi Bapak/Ibu/Saudara/i dalam penelitian ini bersifat sukarela. Apabila
tidak bersedia ikut serta dalam penelitian ini, Bapak/Ibu/Saudara/i tetap akan
mendapat pelayanan kesehatan standar rutin sesuai dengan standar prosedur
pelayanan.
Identitas Bapak/Ibu/Saudara/i dalam penelitian ini akan disamarkan. Hanya
dokter peneliti, anggota peneliti dan anggota komisi etik yang dapat melihat data
Bapak/Ibu/Saudara/i. Kerahasiaan data akan dijamin sepenuhnya.
Lampiran 3
SURAT PERNYATAAN PERSETUJUAN
(INFORMED CONSENT)
Saya yang bertanda tangan di bawah ini :
Nama
:
menyatakan bahwa saya telah mengerti sepenuhnya atas penjelasan yang
diberikan oleh dr. Ni Putu Oktaviani Rinika P. dari bagian THT / FK Udayana,
RSUP Sanglah, Denpasar mengenai: prosedur pemeriksaan, prosedur tindakan,
resiko serta manfaat tindakan uji sakarin yang akan dilakukan kepada diri saya.
Dengan demikian saya bersedia mengikuti / menjalani seluruh prosedur
pemeriksaan yang dilakukan untuk penelitian mengenai:
LARUTAN PENCUCI HIDUNG SALIN ISOTONIS MEMPERCEPAT
WAKTU TRANSPOR MUKOSILIA PADA RINOSINUSITIS AKUT
Surat pernyataan persetujuan (informed consent) ini saya buat dengan
sukarela dan tanpa ada paksaan dari pihak manapun, agar dapat dipergunakan
bilamana diperlukan.
Denpasar, .. 20..
Penanggungjawab peneliti,
Peserta penelitian,
Lampiran 4
LEMBAR PENELITIAN
Nomor Penelitian
Tanggal berobat
A.
Identitas Penderita
Nama
Jenis kelamin :
B.
Umur
Alamat
Telepon
tahun
Tinggi badan :
cm
Berat badan
kg
IMT
kg/m2
Tekanan darah :
mmHg
Anamnesis
1. Apakah ada keluhan hidung tersumbat? Jika Ya, pada hidung yang mana?
a. Ya, hidung kiri / kanan / keduanya
b. Tidak
2. Apakah ada keluhan pilek/ingus kental?
a. Ya
b. tidak
3. Apakah ada keluhan nyeri pipi?
a. Ya
b. Tidak
4. Apakah ada keluhan sakit kepala?
a. Ya
b. Tidak
5. Apakah ada gangguan penciuman/penghidu?
a. Ya
b. Tidak
6. Apakah ada keluhan demam? Jika Ya, sejak kapan?
a. Ya, sejak .
b. Tidak
Kiri
Daun telinga
Normal/abnormal
Normal/abnormal
Liang telinga
Lapang/odema
Lapang/odema
Membran
Intak/perforasi/retraksi/hiperemi Intak/perforasi/retraksi/hiperemi
timpani
2. Hidung
Kanan
Kiri
Kavum nasi
Lapang/sempit/massa
Lapang/sempit/massa
Konka
Dekongesti/kongesti
Dekongesti/kongesti
Mukosa
Merah muda/hiperemi/livide
Merah muda/hiperemi/livide
Sekret
Tidak ada/serus/mukoid/
Tidak ada/serus/mukoid/
purulen
purulen
Deviasi septum
Ada/tidak ada
[Link]
Kanan
Kiri
Mukosa faring
Merah muda/hiperemi
Merah muda/hiperemi
Tonsil
T1/T2/T3/T4
T1/T2/T3/T4
Merah muda/hiperemi
Rata/tidak rata
Rata/tidak rata
Detritus -/+
Detritus -/+
Dinding belakang
faring
E. Diagnosis :
F. Terapi :
Lampiran 5
RANDOMISASI BLOK
a. Kelompok kontrol mendapat terapi standar, diberi kode A.
b. Kelompok perlakuan mendapat terapi standar ditambah larutan pencuci
hidung salin isotonis, diberi kode B.
c. Besar blok = 6
d. Sekuens pengobatan :
No.
Sekuens
No.
Sekuens
No.
Sekuens
No.
Sekuens
00-04 AAABBB
BABBAA
05-09 AABABB
BBAAAB
10-14 AABBAB
BBAABA
15-19 AABBBA
BBABAA
20-24 ABAABB
BBBAAA
17
25
33
10
18
26
34
11
19
27
35
12
20
28
36
13
21
29
37
14
22
30
38
15
23
31
39
16
24
32
40
AABBBA-ABBBAA-BABAAB-ABAABB-BBABAA-ABBABA-AABBBA.
Lampiran 6
FOTO DOKUMENTASI
Gambar 7.2 Stopwatch (kiri) dan tablet sakarin merk Equal (kanan)
Lampiran 7
Data statistik
Explore
Kelompok
Case Processing Summary
Cases
Valid
Kelompok
Missing
Percent
Percent
20
100.0%
.0%
20
100.0%
.0%
nasal salin
Terapi standar
Case Processing Summary
Cases
Total
Kelompok
Percent
20
100.0%
20
100.0%
nasal salin
Terapi standar
Descriptives
Std.
Kelompok
waktu sakarin
Statistic
Mean
Error
35.5185 2.38187
pretest
95% Confidence
Lower Bound
30.5332
Upper Bound
40.5038
5% Trimmed Mean
35.0494
Median
34.7550
Variance
113.466
Std. Deviation
10.6520
4
Terapi standar
Minimum
21.23
Maximum
58.25
Range
37.02
Interquartile Range
13.98
Skewness
.737
.512
Kurtosis
-.090
.992
Mean
95% Confidence
29.1905 1.73193
Lower Bound
25.5655
Upper Bound
32.8155
5% Trimmed Mean
28.8633
Median
27.3200
Variance
59.991
Std. Deviation
7.74541
Minimum
18.90
Maximum
45.37
Range
26.47
Interquartile Range
10.76
Skewness
.825
.512
Kurtosis
-.173
.992
Tests of Normality
Kolmogorov-Smirnova
Kelompok
Statistic
df
Sig.
.138
20
.200*
.140
20
.200*
nasal salin
Terapi standar
a. Lilliefors Significance Correction
*. This is a lower bound of the true significance.
Tests of Normality
Shapiro-Wilk
Kelompok
Statistic
df
Sig.
.937
20
.210
.921
20
.106
nasal salin
Terapi standar
Cases
Valid
Kelompok
Missing
Percent
20
Percent
100.0%
.0%
Mean
nasal salin
T-Test
Group Statistics
Kelompok
20
35.5185
20
29.1905
salin
Terapi standar
Group Statistics
Kelompok
Std. Deviation
10.65204
2.38187
7.74541
1.73193
salin
Terapi standar
Variances
of Means
Sig.
1.476
.232
2.149
2.149
df
Sig. (2-tailed)
Mean Difference
38
.038
6.32800
34.702
.039
6.32800
Lower
Upper
2.94497
.36621
12.28979
2.94497
.34755
12.30845
GGraph
GGraph
Explore
Kelompok
Case Processing Summary
Kelompok
Cases
Valid
Missing
Percent
Percent
20
100.0%
.0%
20
100.0%
.0%
Statistic
Std. Error
salin
Terapi standar
Cases
Total
Kelompok
Percent
20
100.0%
20
100.0%
salin
Terapi standar
Descriptives
Kelompok
22.9475
1.95639
nasal salin
Lower Bound
18.8527
Upper Bound
27.0423
for Mean
5% Trimmed Mean
22.6528
Median
20.9750
Variance
76.550
Std. Deviation
Terapi standar
8.74926
Minimum
10.00
Maximum
41.20
Range
31.20
Interquartile Range
12.98
Skewness
.680
.512
Kurtosis
-.145
.992
17.9710
1.25012
Mean
Lower Bound
15.3545
Upper Bound
20.5875
for Mean
5% Trimmed Mean
17.9217
Median
17.7950
Variance
31.256
Std. Deviation
Minimum
5.59070
9.43
Maximum
27.40
Range
17.97
Interquartile Range
8.67
Skewness
.237
.512
Kurtosis
-.777
.992
Tests of Normality
Kolmogorov-Smirnova
Kelompok
Statistic
df
Sig.
.148
20
.200*
.126
20
.200*
salin
Terapi standar
a. Lilliefors Significance Correction
*. This is a lower bound of the true significance.
Tests of Normality
Shapiro-Wilk
Kelompok
Statistic
df
Sig.
.940
20
.236
.944
20
.288
salin
Terapi standar
T-Test
Group Statistics
Kelompok
Mean
20
22.9475
20
17.9710
salin
Terapi standar
Group Statistics
Kelompok
Std. Deviation
8.74926
1.95639
5.59070
1.25012
salin
Terapi standar
Variances
of Means
Sig.
4.606
.038
2.143
2.143
df
Sig. (2-tailed)
Mean Difference
38
.039
4.97650
32.299
.040
4.97650
GGraph
Explore
Kelompok
Lower
Upper
2.32170
.27647
9.67653
2.32170
.24907
9.70393
Cases
Valid
Kelompok
selisih waktu sakarin pretest dan Terapi standar dan larutan nasal
postest
Missing
Percent
Percent
20
100.0%
.0%
20
100.0%
.0%
salin
Terapi standar
Case Processing Summary
Cases
Total
Kelompok
selisih waktu sakarin pretest dan Terapi standar dan larutan nasal
postest
Percent
20
100.0%
20
100.0%
salin
Terapi standar
Descriptives
Kelompok
Statistic
nasal salin
12.5710
10.0594
for Mean
Upper Bound
15.0826
5% Trimmed Mean
12.1622
Median
10.9650
Std. Error
1.19998
Variance
28.799
Std. Deviation
5.36646
Minimum
5.47
Maximum
27.03
Range
21.56
Interquartile Range
Terapi standar
7.48
Skewness
1.149
.512
Kurtosis
1.364
.992
11.2200
.99053
Mean
9.1468
for Mean
Upper Bound
5% Trimmed Mean
13.2932
10.9978
Median
9.3850
Variance
19.623
Std. Deviation
4.42980
Minimum
5.52
Maximum
20.92
Range
15.40
Interquartile Range
Skewness
5.25
1.112
.512
Cases
Valid
Kelompok
Percent
selisih waktu sakarin pretest dan Terapi standar dan larutan nasal
postest
Missing
20
Percent
100.0%
salin
Kurtosis
.472
Tests of Normality
Kolmogorov-Smirnova
Kelompok
Statistic
selisih waktu sakarin pretest dan Terapi standar dan larutan nasal
postest
df
Sig.
.159
20
.200*
.204
20
.029
salin
Terapi standar
a. Lilliefors Significance Correction
*. This is a lower bound of the true significance.
Tests of Normality
Shapiro-Wilk
Kelompok
selisih waktu sakarin pretest dan Terapi standar dan larutan nasal
postest
Statistic
df
Sig.
.898
20
.038
.875
20
.015
salin
Terapi standar
NPar Tests
.0%
.992
Mann-Whitney Test
Ranks
Kelompok
selisih waktu sakarin pretest dan Terapi standar dan larutan nasal
postest
Sum of Ranks
20
21.75
435.00
Terapi standar
20
19.25
385.00
Total
40
salin
Test Statisticsb
selisih waktu
sakarin pretest dan
postest
Mann-Whitney U
175.000
Wilcoxon W
385.000
-.676
.499
.512a
GGraph
Mean Rank
GGraph
Lampiran 8
DATA RESPONDEN
No
Nama
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40
1
LTD
WSM
NAY
AMP
JSM
DUT
NBR
YMA
DYP
FSL
CHS
DPM
MSR
BTK
NND
HAM
WNS
PNB
FDP
KHM
LIM
GKP
WAR
ALD
WDU
CGA
ASP
AST
LGS
DRS
ARW
BSR
CKE
WRD
TRA
MBL
SRN
NTM
KSD
MTR
Jenis
kelamin
2
L
P
L
L
L
P
P
L
P
L
L
P
L
L
L
P
P
L
L
L
P
L
L
L
P
L
P
P
P
L
P
L
P
L
L
P
P
L
L
P
Umur
Tinggi
Berat
IMT
3
23
34
28
32
20
30
16
20
27
39
32
30
55
37
47
27
45
22
38
23
49
17
39
16
36
18
36
29
21
16
32
42
39
30
49
27
33
32
36
52
4
175
155
165
165
160
155
148
174
165
178
170
157
180
165
173
155
155
160
170
170
160
165
182
180
160
175
168
156
167
172
158
165
158
165
166
160
155
162
160
150
5
57
50
65
82
45
42
42
58
57
84
97
51
90
80
70
46
60
60
75
83
55
71
72
56
72
69
55
46
60
56
62
64
61
66
73
66
64
75
73
51
6
18.61
20.81
23.86
30.12
17.58
17.48
19.17
19.16
20.93
26.51
33.56
20.69
27.78
29.38
23.39
19.15
24.97
23.44
25.95
28.72
21.48
26.08
21.74
17.28
28.13
22.53
19.49
18.9
21.51
18.93
24.83
23.51
24.44
24.24
26.49
25.78
26.64
28.58
28.52
22.67
Hidung
tersumbat
7
Keduanya
Kiri
Keduanya
Keduanya
Keduanya
Keduanya
Keduanya
Keduanya
Keduanya
Keduanya
Kanan
Keduanya
Keduanya
Kanan
Kiri
Keduanya
Kiri
Kiri
Keduanya
Kiri
Keduanya
Keduanya
Keduanya
Keduanya
Keduanya
Kanan
Keduanya
Keduanya
Keduanya
Kiri
Keduanya
Keduanya
Keduanya
Keduanya
Keduanya
Keduanya
Keduanya
Kanan
Keduanya
Kanan
Pilek
8
Ya
Ya
Ya
Ya
Ya
Ya
Ya
Ya
Ya
Ya
Ya
Ya
Ya
Ya
Ya
Ya
Ya
Ya
Ya
Ya
Ya
Ya
Ya
Ya
Ya
Ya
Ya
Ya
Ya
Ya
Ya
Ya
Ya
Ya
Ya
Ya
Ya
Ya
Ya
Ya
Nyeri
pipi
9
Ya
Tidak
Ya
Tidak
Ya
Ya
Tidak
Tidak
Tidak
Ya
Tidak
Tidak
Ya
Tidak
Tidak
Tidak
Ya
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Ya
Tidak
Ya
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Ya
Sakit
kepala
10
Ya
Ya
Ya
Ya
Ya
Ya
Ya
Tidak
Ya
Ya
Tidak
Ya
Ya
Ya
Ya
Tidak
Ya
Tidak
Tidak
Tidak
Ya
Tidak
Tidak
Ya
Ya
Ya
Tidak
Ya
Ya
Ya
Ya
Ya
Ya
Ya
Ya
Ya
Tidak
Ya
Ya
Tidak
Ggn
penghidu
11
Tidak
Ya
Ya
Ya
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Ya
Ya
Ya
Ya
Tidak
Tidak
Ya
Ya
Tidak
Tidak
Ya
Tidak
Tidak
Ya
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Ya
Tidak
Tidak
Ya
Ya
Ya
Ya
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Demam
12
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Ya
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Ya
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Ya
Ya
Ya
Tidak
Tidak
Ya
Tidak
Tidak
Ya
Napas
bau
13
Tidak
Tidak
Tidak
Ya
Ya
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Ya
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Ya
Ya
Ya
Tidak
Tidak
Tidak
Ya
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Dahak
tenggorok
14
Ya
Ya
Tidak
Ya
Ya
Ya
Ya
Ya
Ya
Ya
Ya
Tidak
Ya
Tidak
Ya
Ya
Tidak
Ya
Ya
Ya
Ya
Ya
Ya
Ya
Ya
Ya
Ya
Ya
Ya
Ya
Ya
Ya
Tidak
Ya
Ya
Ya
Tidak
Ya
Ya
Tidak
Keluhan lain
15
Batuk
Telinga penuh
Tdk ada
Tdk ada
Tdk ada
Tdk ada
Tdk ada
Tdk ada
Tdk ada
Batuk
Tdk ada
Tdk ada
Tdk ada
Tdk ada
Nyeri telinga
Tdk ada
Tdk ada
Tdk ada
Tdk ada
Tdk ada
Telinga penuh
Tdk ada
Tdk ada
Telinga penuh
Batuk
Tdk ada
Tdk ada
Tdk ada
Tdk ada
Tdk ada
Tdk ada
Batuk
Batuk
Batuk
Tdk ada
Tdk ada
Batuk
Tdk ada
Tdk ada
Batuk
DATA RESPONDEN
Tumor
sinonasal
16
Tidak
Ggn
pengecap
17
Tidak
Obat
topikal
18
Tidak
Riw.
Operasi
19
Tidak
Hipertensi
Merokok
20
Tidak
21
Tidak
Deviasi
septum
22
Ke kiri
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Ke kanan
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Ya
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Ya
Ya
Tidak
Tidak
Bentuk S
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Ke kiri
Tidak
Tidak
Ke kanan
Tidak
Bentuk S
14
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Ke kiri
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Ya
Tidak
34
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
35
36
37
38
39
40
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
No
25
Kontrol
Waktu
sebelum
26
18.9
Waktu
sesudah
27
9.43
Rinosinusitis akut
Kontrol
27.47
18.37
Rinosinusitis akut
Rinosinusitis akut
Rinosinusitis akut
Rinosinusitis akut
Rinosinusitis akut
Rinosinusitis akut
Rinosinusitis akut
Rinosinusitis akut, tonsilofaringitis akut
Rinosinusitis akut
Rinosinusitis akut
Rinosinusitis akut
Perlakuan
Perlakuan
Perlakuan
Kontrol
Kontrol
Perlakuan
Perlakuan
Perlakuan
Kontrol
Kontrol
Perlakuan
58.25
48.93
28.73
23
34.5
28.83
35.23
40
36.42
41.32
43.1
41.2
21.9
12.15
15.22
25.45
20.33
21.58
31.2
16.22
27.4
29.45
Rinosinusitis akut
Kontrol
27.17
18.4
Perlakuan
Kontrol
Kontrol
Perlakuan
Kontrol
Perlakuan
Kontrol
Kontrol
Perlakuan
Perlakuan
Perlakuan
Perlakuan
Kontrol
Perlakuan
Kontrol
Kontrol
Kontrol
Perlakuan
Perlakuan
24.8
25.23
26.88
46.02
43.92
36.07
20.73
21.1
24.35
21.23
31.42
21.73
21.82
56.23
24.37
28.42
23.67
34.28
36.7
16.38
17.72
17.87
31.18
23
14.5
13.35
14.6
16.65
10
15.45
16.27
9.7
40.55
13.07
17.05
10.18
26.15
26.52
Kontrol
31.67
19.02
Perlakuan
Perlakuan
Kontrol
Kontrol
Perlakuan
Perlakuan
28.22
45.37
32.23
29.62
29.07
37.18
20.37
26.33
26.72
20.32
18.37
28.75
Foto Waters
Diagnosis
Kelompok
24
Rinosinusitis akut, faringitis
Ke kiri
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Ke kiri
Ke kiri
Tidak
Tidak
Ke kanan
Tidak
Bentuk S
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
23
Sinusitis maksila
Rinitis, sinusitis maksila, sinusitis
etmoid
Rinitis, sinusitis maksila
Sinusitis maksila
Sinusitis maksila, sinusitis etmoid
Sinusitis maksila
Sinusitis maksila
Rinitis, sinusitis maksila
Sinusitis maksila
Sinusitis maksila , sinusitis etmoid
Rinitis, sinusitis maksila
Sinusitis maksila
Rinitis, sinusitis maksila
Rinitis, sinusitis maksila , sinusitis
etmoid
Sinusitis maksila
Sinusitis maksila
Sinusitis maksila
Rinitis, sinusitis maksila
Sinusitis maksila , sinusitis etmoid
Rinitis, sinusitis maksila
Rinitis, sinusitis maksila
Sinusitis maksila
Sinusitis maksila
Rinitis, sinusitis maksila
Sinusitis maksila
Sinusitis maksila , sinusitis etmoid
Rinitis, sinusitis maksila
Rinitis, sinusitis maksila
Rinitis, sinusitis maksila
Sinusitis maksila
Sinusitis maksila
Sinusitis maksila , sinusitis etmoid
Sinusitis maksila
Tidak
Tidak
Ya
Tidak
Tidak
Ya
Ya
Tidak
Tidak
Ke kiri
Tidak
Tidak
Tidak
Ke kanan
Sinusitis maksila
Rinitis, sinusitis maksila
Sinusitis maksila
Sinusitis maksila
Rinitis, sinusitis maksila
Sinusitis maksila