0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
22 tayangan112 halaman

Tesis Rinosinusitis

Tesis ini membahas efektivitas larutan pencuci hidung salin isotonic dalam mempercepat waktu transpor mukosilia pada pasien rinosinusitis akut. Penelitian ini menggunakan desain eksperimental pre-post test dengan kelompok kontrol dan mengukur waktu transpor mukosilia menggunakan uji sakarin sebelum dan sesudah perlakuan pada 20 pasien. Hasilnya menunjukkan tidak ada perbedaan signifikan antara kelompok perlakuan

Diunggah oleh

jayaaaa1211
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
22 tayangan112 halaman

Tesis Rinosinusitis

Tesis ini membahas efektivitas larutan pencuci hidung salin isotonic dalam mempercepat waktu transpor mukosilia pada pasien rinosinusitis akut. Penelitian ini menggunakan desain eksperimental pre-post test dengan kelompok kontrol dan mengukur waktu transpor mukosilia menggunakan uji sakarin sebelum dan sesudah perlakuan pada 20 pasien. Hasilnya menunjukkan tidak ada perbedaan signifikan antara kelompok perlakuan

Diunggah oleh

jayaaaa1211
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

TESIS

LARUTAN PENCUCI HIDUNG SALIN ISOTONIS


TIDAK TERBUKTI MEMPERCEPAT WAKTU
TRANSPOR MUKOSILIA PADA
RINOSINUSITIS AKUT

NI PUTU OKTAVIANI RINIKA PRANITASARI

PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS UDAYANA
DENPASAR
2015

TESIS

LARUTAN PENCUCI HIDUNG SALIN ISOTONIS


TIDAK TERBUKTI MEMPERCEPAT WAKTU
TRANSPOR MUKOSILIA PADA
RINOSINUSITIS AKUT

NI PUTU OKTAVIANI RINIKA PRANITASARI


NIM 0914078202

PROGRAM MAGISTER
PROGRAM STUDI ILMU BIOMEDIK
PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS UDAYANA
DENPASAR
2015

LARUTAN PENCUCI HIDUNG SALIN ISOTONIS


TIDAK TERBUKTI MEMPERCEPAT WAKTU
TRANSPOR MUKOSILIA PADA
RINOSINUSITIS AKUT

Tesis untuk Memperoleh Gelar Magister


Pada Program Magister, Program Studi Ilmu Biomedik,
Program Pascasarjana Universitas Udayana

NI PUTU OKTAVIANI RINIKA PRANITASARI


NIM 0914078202

PROGRAM MAGISTER
PROGRAM STUDI ILMU BIOMEDIK
PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS UDAYANA
DENPASAR
2015

Tesis Ini Telah Diuji pada


Tanggal 27 Maret 2015

Panitia Penguji Tesis Berdasarkan


SK Rektor Universitas Udayana No: 797/UN14.4/HK/2015
Tanggal 12 Maret 2015

Ketua

: dr. Luh Made Ratnawati, [Link]-KL

Anggota
:
1. Prof. Dr. dr. N. Adiputra, PFK, MOH, [Link]
2. [Link]. Ida Sri Iswari, [Link], [Link]
3. [Link]. I. N. Tigeh Suryadhi, MPH, Ph.D
4. [Link]. I Wayan Putu Sutirta Yasa, [Link]

UCAPAN TERIMA KASIH

Om swastiastu,
Atas karunia Tuhan Yang Maha Esa akhirnya tersusunlah sebuah karya tulis
untuk memperoleh gelar keahlian di bidang THT-KL. Karya tulis ini selain
merupakan suatu karya akhir juga dilatarbelakangi suatu keinginan dan harapan
bagi perkembangan keilmuan di bidang THT-KL. Karya tulis ini dapat
diselesaikan berkat bantuan, motivasi, bimbingan dan peran serta berbagai pihak.
Pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih yang
tidak terhingga dengan segala ketulusan hati kepada yang terhormat:
1.

Rektor Universitas Udayana, Prof. Dr. dr. I Ketut Suastika, [Link]-KEMD


dan Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, Prof. Dr. dr. Putu
Astawa, [Link](K) yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk
mengikuti dan menyelesaikan Program Pascasarjana Kekhususan Kedokteran
Klinik (combined degree) dan PPDS-1 Ilmu Kesehatan Telinga Hidung
Tenggorok-Bedah Kepala Leher.

2.

dr. Anak Ayu Sri Saraswati, [Link], Direktur Utama RSUP Sanglah
Denpasar, atas segala fasilitas yang disediakan dan diberikan selama penulis
mengikuti pendidikan spesialis.

3.

Direktur Program Pascasarjana Universitas Udayana, Prof. Dr. dr. Raka


Sudewi, Sp.S(K), atas kesempatan yang telah diberikan pada penulis untuk
menjadi mahasiswa program pascasarjana, program studi kekhususan
kedokteran klinik (combined degree).

4.

dr. Eka Putra Setiawan, [Link]-KL(K), sebagai Kepala Bagian Ilmu


Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok-Bedah Kepala Leher Fakultas
Kedokteran Universitas Udayana/RSUP Sanglah Denpasar, atas segala
dorongan dan bimbingan selama penulis mengikuti pendidikan spesialis.

5.

dr. Dewa Gede Arta Eka Putra, [Link]-KL sebagai Ketua Program Studi
PPDS-1 Ilmu Kesehatan THT-KL, atas segala kesempatan, bimbingan dan
motivasinya.

6.

dr. I Gede Ardika Nuaba, [Link]-KL(K) sebagai Sekretaris Program Studi


PPDS-1 Ilmu Kesehatan THT-KL, atas segala kesempatan, bimbingan, dan
motivasinya.

7.

Ketua Program Pascasarjana Kekhususan Kedokteran Klinik (combined


degree), Prof. Dr. dr. Wimpie Pangkahila, [Link],FAACS yang telah memberikan kesempatan penulis untuk menjadi mahasiswa Program Pascasarjana
Kekhususan Kedokteran Klinik (combined degree).

8.

dr. Luh Made Ratnawati, [Link]-KL sebagai pembimbing I atas segala


dorongan, motivasi dan bimbingan yang diberikan sejak awal sampai akhir
pendidikan.

9.

Prof. Dr. dr. N. Adiputra, PFK, MOH, [Link] sebagai pembimbing II atas
segala waktu dan bimbingannya selama ini.

10. dr. Made Sudipta, [Link]-KL atas motivasi, bimbingan dan pengertiannya
selama penulis menempuh pendidikan spesialis.
11. Prof. Dr. dr. I Gede Raka Widiana, [Link]-KGH atas bimbingan dan arahan
statistika mulai dari penyusunan proposal penelitian kepada penulis.

12. dr. I Wayan Gede Artawan Eka Putra, [Link] atas bimbingan dan arahan
statistika yang diberikan kepada penulis.
13. Kepala-kepala sub bagian dan para konsultan di Bagian/SMF THT-KL FK
UNUD/RSUP Sanglah yang telah banyak memberikan kesempatan dan
bimbingan selama saya mengikuti pendidikan.
14. Para senior, rekan residen, dokter muda atas bantuan dan kerjasamanya
selama mengikuti pendidikan dan selama penelitian berlangsung.
15. Paramedis di poliklinik THT atas bantuan dan kerjasamanya selama penulis
menempuh pendidikan spesialis dan penelitian.
16. Ayahanda, Ir. I Wayan Kariadi dan Ir. Nym Ginastra serta ibunda tercinta, Ni
Putu Lasni dan Ni Wayan Sriadi, kakak dan adik terkasih maupun keluarga
besar saya atas segala pengorbanan, dukungan material, doa dan motivasinya
selama penulis menempuh pendidikan spesialis.
17. Suami tercinta, dr. Kadek Bayu Dwi Putra dan anak-anakku tersayang, Gde
Arjuna Prabasutha dan Kadek Anindya Pramesti atas pengertian dan
pengorbanan dalam mendampingi penulis selama menjalani masa pendidikan.
18. Semua pihak yang telah membantu karya akhir ini yang tidak bisa disebutkan
satu per satu.
Semoga Tuhan yang Maha Esa senantiasa melimpahkan karunia dan rahmatNya atas kebaikan yang telah dilakukan.
Denpasar, Februari 2015

Ni Putu Oktaviani Rinika P.

ABSTRAK
LARUTAN PENCUCI HIDUNG SALIN ISOTONIS TIDAK TERBUKTI
MEMPERCEPAT WAKTU TRANSPOR MUKOSILIA PADA
RINOSINUSITIS AKUT

Transpor mukosilia merupakan salah satu mekanisme pertahanan saluran


pernapasan. Adanya gangguan pada sistem tersebut menjadi predisposisi
terjadinya infeksi sinonasal. Larutan pencuci hidung dengan salin isotonis
dipercaya dapat mengurangi gejala akibat rinosinusitis dengan cara membersihkan
sekret, mengurangi odema dan mengeluarkan bahan-bahan berbahaya yang masuk
bersama udara pernapasan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menilai efektivitas
waktu transpor mukosilia larutan pencuci hidung salin isotonis pada pasien
rinosinusitis akut.
Desain penelitian: eksperimental, pre-post test with control group design.
Waktu transpor mukosilia diukur menggunakan uji sakarin terhadap 20 pasien
rinosinusitis akut sebelum dan 7 hari sesudah pemberian larutan pencuci hidung
salin isotonis dan terapi standar (ciprofloxacine, pseudoephedrine/triprolidine,
ambroxol) pada Kelompok Perlakuan dan terapi standar pada Kelompok Kontrol.
Hasil: Rerata waktu transpor mukosilia sebelum perlakuan pada Kelompok
Perlakuan adalah 35,5 10,7 menit dan 29,2 7,7 menit pada Kelompok Kontrol.
Rerata waktu transpor mukosilia sesudah terapi adalah 22,9 8,7 menit dan 18,0
5,6 menit berturut-turut pada Kelompok Perlakuan dan Kelompok Kontrol.
Median selisih waktu transpor mukosilia sebelum dan sesudah terapi adalah 11,0
7,5 menit pada Kelompok Perlakuan dan 9,4 5,3 menit pada Kelompok
Kontrol (p=0,499).
Kesimpulan: Penambahan larutan cuci hidung salin isotonis pada
rinosinusitis akut memiliki efek waktu transpor mukosilia yang sama dengan
pemberian antibiotika, dekongestan dan mukolitik tanpa larutan cuci hidung salin
isotonis.
Kata kunci: Salin isotonis, rinosinusitis akut, transpor mukosilia.

ABSTRACT
ISOTONIC SALINE NASAL SOLUTIONS WAS NOT PROVEN
IN INCREASING MUCOCILIARY TRANSPORT TIME IN ACUTE
RHINOSINUSITIS
Mucociliary clearance is a major element of the defense system of the entire
respiratory tract. Impairment of the mucociliary clearance serves as a medium for
sinonasal infections. Saline nasal irrigation is believed to alleviated rhinosinusitis
symptoms by clearing excess mucus, reducing congestion and remove infectious
materials from the inspired air. The aim of this study was to determine the
efficacy of mucociliary transport time of isotonic saline nasal solutions in patients
with acute rhinosinusitis.
This was an experimental study, pre-post test with control group design.
Mucociliary transport time was measured by the saccharine test on 20 acute
rhinosinusitis patients before and after 7 days treatment with intranasal isotonic
saline solutions and standard therapy (ciprofloxacine, pseudoephedrine/
triprolidine, ambroxol) for the case group and standard therapy for the control
group.
Result: The average mucociliary transport time before therapy were 35,5
10,7 minutes and 29,2 7,7 minutes for case group and control group,
respectively. The average mucociliary transport time after therapy were 22,9 8,7
minutes and 18,0 5,6 minutes for case group and control group, respectively.
The mean difference mucociliary transport time before and after therapy were
11,0 7,5 minutes and 9,4 5,3 minutes for the case and control group,
respectively (p=0,499).
Conclusions: The addition of intranasal isotonic saline solutions in acute
rhinosinusitis patients has the same effect of mucociliary transport time with oral
medication with antibiotic, decongestan and mucolitic without intranasal isotonis
saline solutions.
Keyword: Isotonic saline, acute rhinosinusitis, mucociliary clearance.

DAFTAR ISI
Halaman
SAMPUL DALAM ............................................................................................ i
PRASYARAT GELAR ...................................................................................... ii
LEMBAR PERSETUJUAN ............................................................................... iii
PENETAPAN PANITIA PENGUJI .................................................................. iv
PERNYATAAN BEBAS PLAGIAT ................................................................. v
UCAPAN TERIMA KASIH .............................................................................. vi
ABSTRAK ......................................................................................................... ix
ABSTRACT ....................................................................................................... x
DAFTAR ISI .................................................................................................... xi
DAFTAR TABEL ............................................................................................... xv
DAFTAR GAMBAR ......................................................................................... xvi
DAFTAR LAMPIRAN ...................................................................................... xviii
BAB I PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang ............................................................................ 1

1.2

Rumusan Masalah ....................................................................... 3

1.3

Tujuan Penelitian ........................................................................ 3

1.4

Manfaat Penelitian ...................................................................... 4

BAB II KAJIAN PUSTAKA .............................................................................. 5


2.1

Hidung dan Sinus Paranasal ........................................................ 5


2.1.1 Anatomi dan fisiologi hidung............................................. 5
2.1.2 Anatomi dan fisiologi sinus paranasal ............................... 7

2.2

Sistem mukosilia hidung .............................................................. 10


2.2.1 Palut lendir ......................................................................... 11
2.2.2 Silia ..................................................................................... 12
2.2.3 Sel goblet ............................................................................ 13
2.2.4 Transpor mukosilia ............................................................. 14
2.2.5 Pemeriksaan fungsi mukosilia............................................. 15

2.3

Rinosinusitis akut ......................................................................... 16


2.3.1 Definisi ................................................................................ 16
2.3.2 Insiden ................................................................................. 17
2.3.3 Patofisiologi ........................................................................ 18
2.3.4 Gejala klinis dan diagnosis ................................................. 20
2.3.5 Komplikasi .......................................................................... 22
2.3.6 Penatalaksanaan .................................................................. 22

BAB III KERANGKA BERPIKIR, KERANGKA KONSEP DAN


HIPOTESIS PENELITIAN ................................................................ 27
3.1

Kerangka berpikir ........................................................................ 27

3.2

Kerangka konsep .......................................................................... 28

3.3

Hipotesis penelitian ...................................................................... 28

BAB IV METODE PENELITIAN


4.1

Rancangan penelitian ................................................................... 29

4.2

Lokasi dan waktu penelitian ........................................................ 29

4.3

Subjek dan sampel penelitian ....................................................... 29


4.3.1

Populasi penelitian .......................................................... 29

4.4

4.3.2

Teknik pemilihan sampel ................................................ 30

4.3.3

Kriteria sampel ................................................................ 30

4.3.4

Besar sampel ................................................................... 32

Variabel penelitian ....................................................................... 32


4.4.1

Identifikasi dan klasifikasi variabel ................................ 32

4.5

Definisi operasional variabel......................................................... 32

4.6

Bahan dan alat penelitian .............................................................. 35

4.7

Prosedur kerja ............................................................................... 36

4.8

Alur penelitian............................................................................... 39

4.9

Analisis data ................................................................................. 40

BAB V HASIL PENELITIAN ........................................................................... 41


5.1

Karakteristik subjek berdasarkan kelompok perlakuan ................. 41

5.2

Gejala klinis subjek berdasarkan kelompok perlakuan .................. 42

5.3

Keadaan septum nasi subjek berdasarkan kelompok perlakuan .... 44

5.4

Perbedaan rerata waktu transpor mukosilia sebelum dan sesudah


perlakuan pada masing-masing kelompok perlakuan .................... 45

5.5

Perbandingan selisih waktu transpor mukosilia sebelum dan


sesudah perlakuan berdasarkan kelompok perlakuan ................... 47

BAB VI PEMBAHASAN .................................................................................. 49


6.1

Karakteristik subjek berdasarkan kelompok perlakuan ................. 49

6.2

Gejala klinis subjek berdasarkan kelompok perlakuan .................. 50

6.3

Keadaan septum nasi subjek berdasarkan kelompok perlakuan .... 50

6.4

Perbedaan rerata waktu transpor mukosilia sebelum dan sesudah

perlakuan pada masing-masing kelompok perlakuan ................... 51


6.5

Perbandingan selisih waktu transpor mukosilia sebelum dan


sesudah perlakuan berdasarkan kelompok perlakuan ................... 52

BAB VII SIMPULAN DAN SARAN .............................................................. 52


DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................ 57
LAMPIRAN ....................................................................................................... 62

DAFTAR TABEL
Halaman
5.1

Karakteristik subjek berdasarkan kelompok perlakuan ............................ 41

5.2

Gejala klinis subjek berdasarkan kelompok perlakuan ............................. 43

5.3

Keadaan septum nasi subjek berdasarkan kelompok perlakuan ............... 44

5.4

Hasil analisis perbedaan rerata waktu transpor mukosilia sebelum dan


sesudah perlakuan pada masing-masing kelompok perlakuan.................. 45

5.4

Perbandingan selisih waktu transpor mukosilia sebelum dan sesudah


perlakuan berdasarkan kelompok perlakuan ............................................. 47

DAFTAR GAMBAR
Halaman
2.1

Dinding lateral hidung............................................................................. 6

2.2

Kompleks ostiomeatal ............................................................................. 10

2.3

Lapisan mukus dan cairan perisilia ......................................................... 11

2.4

Struktur ultrasilia tubulus ........................................................................ 13

2.5a

Forsep aligator dan tablet sakarin ........................................................... 15

2.5b

Tablet sakarin diletakkan di ujung anterior konka inferior ..................... 15

2.6

Pencucian hidung dengan teknik irigasi menggunakan neti pot ............. 25

3.1

Bagan kerangka konsep penelitian .......................................................... 28

4.1

Bagan rancangan penelitian .................................................................... 29

4.2

Bagan alur penelitian............................................................................... 39

5.1a

Grafik boxplot waktu transpor mukosilia sebelum perlakuan pada


masing-masing kelompok perlakuan....................................................... 46

5.1b

Grafik boxplot waktu transpor mukosilia sesudah perlakuan pada


masing-masing kelompok perlakuan....................................................... 46

5.2

Grafik garis selisih waktu transpor mukosilia sebelum dan sesudah


perlakuan pada Kelompok Perlakuan dan Kelompok Kontrol ............... 48

6.1

Forsep alligator dan pinset bayonet......................................................... 71

6.2

Stopwatch dan tablet sakarin merk Equal ............................................... 71

6.3

Tablet sakarin diletakkan 1 cm di belakang ujung anterior konka inferior


kavum nasi (tampak depan) .................................................................... 72

6.3

Tablet sakarin diletakkan 1 cm di belakang ujung anterior konka inferior


kavum nasi (tampak samping) ................................................................ 72

DAFTAR LAMPIRAN
Halaman
Lampiran 1 Ethical clearance ........................................................................... 62
Lampiran 2 Informasi tertulis kepada responden ............................................... 63
Lampiran 3 Surat pernyataan persetujuan .......................................................... 65
Lampiran 4 Lembar penelitian ........................................................................... 66
Lampiran 5 Randomisasi blok ........................................................................... 70
Lampiran 6 Foto dokumentasi ........................................................................... 71
Lampiran 7 Data statistik ................................................................................... 73
Lampiran 8 Data responden ............................................................................... 83

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Saluran pernapasan merupakan bagian tubuh pertama yang berhubungan
langsung dengan lingkungan luar. Secara fisiologis hidung merupakan salah satu
organ pernapasan yang berfungsi sebagai penyaring dan pertahanan lini pertama
terhadap partikel inspirasi. Silia epitel respiratorius, kelenjar penghasil mukus dan
palut lendir membentuk mekanisme pertahanan dalam sistem pernapasan yang
dikenal sebagai sistem mukosilia.
Fungsi mukosilia yang efektif tergantung pada tiga komponen yaitu palut
lendir, gerakan silia dan sel goblet. Gangguan pada jumlah dan pergerakan silia
serta produksi palut lendir akan menyebabkan gangguan transpor mukosilia
hidung (Ramon dkk., 1999). Penilaian fungsi transpor mukosilia dapat dilakukan
dengan uji sakarin yang sederhana, non invasif, mudah, murah dan merupakan
pemeriksaan baku emas untuk uji perbandingan (Ramon dkk., 1999; Naxakis
dkk., 2009). Transpor mukosilia akan memanjang pada infeksi saluran napas atas,
rinitis alergi dan rinosinusitis (Inanli dkk., 2002). Pada rinosinusitis fungsi mukosilia terganggu karena perubahan kualitas dan kuantitas rheologi mukus
(Georgitis, 1994) atau kerusakan pada epitel bersilia hidung dan sinus paranasal
(Naclerio dan Gungor, 2001).
Rinosinusitis akut adalah inflamasi pada mukosa kavum nasi dan sinus
paranasal dalam waktu 4 minggu atau kurang dengan gejala hidung buntu, nyeri

pada wajah, ingus kental dan post nasal drip purulen. Rinosinusitis akut
membawa dampak ekonomi berupa tingginya biaya pengobatan dan menurunnya
produktivitas kerja akibat banyaknya pekerja yang absen (Busquets dan Hwang,
2006). Sinus paranasal merupakan kelanjutan saluran pernapasan bagian atas
(Metson, 2005) dan sebanyak 0,5%-2% infeksi saluran napas atas berkembang
menjadi rinosinusitis (Levine, 2005). Di Indonesia, infeksi saluran napas atas
merupakan penyakit yang sering ditemukan, demikian pula dengan rinosinusitis
akut yang banyak dijumpai meskipun belum terdiagnosis, sehingga angka
kejadiannya belum jelas dan belum banyak dilaporkan (Mulyarjo, 2004).
Diagnosis rinosinusitis akut didapatkan melalui anamnesis, pemeriksaan fisik
dan pemeriksaan radiologi (Thaler, 2001). Penatalaksanaan rinosinusitis akut
berupa pemberian obat-obatan meliputi: antibiotika, dekongestan oral/topikal,
mukolitik maupun tindakan pembedahan (Thaler, 2001; Conrad, 2006). Pencucian
hidung dengan menggunakan larutan salin telah lama dikenal sebagai terapi
tambahan pada rinosinusitis, rinitis alergi maupun pascapembedahan sinus
(Garavello dkk., 2003). Pencucian hidung dengan larutan salin dapat memperbaiki
drainase sinus dan fungsi mukosilia hidung, mengurangi mediator inflamasi,
mempercepat penyembuhan mukosa dan mencegah perlengketan mukosa
pascapembedahan (Papsin dan McTavish, 2003; Rabago dan Zgierska, 2009).
Penggunaan larutan salin sebagai pencuci hidung juga dapat mengurangi waktu
penggunaan antibiotika sehingga dapat meningkatkan kepatuhan pasien dan
mengurangi biaya pengobatan (Papsin dan McTavish, 2003).

Manfaat cuci hidung dengan larutan salin pada rinosinusitis kronis telah
banyak dipublikasikan sedangkan penggunaan larutan cuci hidung salin pada
kasus rinosinusitis akut masih kontroversial (Achiles dan Mosges, 2013). Inanli
dkk. (2002) menyatakan tidak ada perbedaan waktu transpor mukosilia yang
signifikan pada rinosinusitis akut yang mendapat terapi amoxicillin/clavulanic
acid dibandingkan dengan amoxicillin/clavulanic acid dan larutan cuci hidung
salin isotonis. Sementara itu penelitian Ural dkk. (2009) menunjukkan perbedaan
yang signifikan terhadap waktu transpor mukosilia sebelum dan sesudah
pemberian larutan cuci hidung salin isotonis pada rinosinusitis akut. Penelitian
mengenai manfaat penggunaan larutan cuci hidung salin isotonis pada
rinosinusitis akut masih sangat sedikit (Kassel, 2010), karena itu penulis tertarik
untuk meneliti mengenai efektivitas larutan salin isotonis sebagai terapi tambahan
pada rinosinusitis akut.

1.2 Rumusan Masalah


Apakah larutan pencuci hidung menggunakan salin isotonis dapat
mempercepat waktu transpor mukosilia pada pasien rinosinusitis akut ?

1.3 Tujuan Penelitian


Untuk mengetahui efektivitas waktu transpor mukosilia larutan pencuci
hidung salin isotonis sebagai terapi tambahan pada pasien rinosinusitis akut.

1.4 Manfaat Penelitian


Hasil penelitian dapat memberikan informasi dan pengetahuan mengenai
penggunaan larutan pencuci hidung salin isotonis pada pasien rinosinusitis akut.

BAB II
KAJIAN PUSTAKA

2.1

Hidung dan Sinus Paranasal

2.1.1 Anatomi dan fisiologi hidung


Struktur luar hidung dibentuk oleh sepasang tulang hidung pada bagian atas
lateral dan kartilago pada bagian inferior di sisi lateral. Struktur tersebut
membentuk piramid hidung sehingga memungkinkan terjadinya aliran udara di
dalam kavum nasi (Krouse dan Stachler, 2006). Septum nasi merupakan struktur
tengah hidung yang tersusun atas lamina perpendikularis os etmoid, kartilago
septum, premaksila dan kolumela membranosa (Ballenger, 2003; Krouse dan
Stachler, 2006). Deviasi septum yang signifikan dapat menyebabkan obstruksi
hidung dan menekan konka media yang menyebabkan obstruksi kompleks
ostiomeatal dan hambatan aliran sinus (Welch dan Goldberg, 2008).
Dinding lateral kavum nasi tersusun atas konka inferior, media, superior dan
meatus (Gambar 2.1). Meatus superior merupakan celah sempit di atas konka
media dan terletak di antara septum nasi dan os etmoid (Ballenger, 2003). Meatus
media terletak di antara konka media dan inferior. Meatus media merupakan
struktur penting dalam patofisiologi rinosinusitis karena melalui meatus ini
kelompok sinus anterior (sinus frontal, sinus maksila dan sinus etmoid anterior)
berhubungan dengan hidung (Ballenger, 2003; Krouse dan Stachler, 2006).
Meatus inferior berada di antara konka inferior dan dasar rongga hidung. Pada

permukaan lateral meatus lateral terdapat muara duktus nasolakrimalis (Ballenger,


2003).

Gambar 2.1
Dinding lateral hidung (Levine, 2005)

Perdarahan hidung bagian dalam berasal dari [Link] anterior, [Link]


posterior cabang dari [Link] dan [Link]. Bagian anterior dan
superior septum dan dinding lateral hidung mendapatkan aliran darah dari
[Link] anterior, sedangkan cabang [Link] posterior yang lebih kecil hanya
mensuplai area olfaktorius. Terdapat anastomosis antara arteri-arteri hidung di
lateral dan arteri etmoid di daerah antero-inferior septum yang disebut pleksus
Kiesselbach. Sistem vena di hidung tidak memiliki katup dan hal ini menjadi
predisposisi penyebaran infeksi menuju sinus kavernosus. Sedangkan persarafan
hidung terutama berasal dari cabang oftalmikus dan cabang maksila nervus
trigeminus (Ballenger, 2003).
Fungsi fisiologi hidung adalah filtrasi, proteksi, humidifikasi, penghangat
udara, penghidu dan renonansi suara. Sistem vaskuler dan sekresi hidung berperan
penting dalam mempersiapkan udara inspirasi sebelum masuk ke saluran napas
atas dan sistem trakeobronkial (Metson, 2005; Krouse dan Stachler, 2006; Walsh
dan Kern, 2006). Saat inspirasi aliran udara masuk ke vestibulum dengan arah

vertikal oblik dan mengalami aliran laminar. Ketika udara mencapai nasal valve
terjadi aliran turbulen sehingga udara inspirasi langsung mengadakan kontak
dengan permukaan mukosa hidung yang luas (Dhillon dan East, 1999; Probst
dkk., 2006). Aliran turbulen tersebut tidak hanya meningkatkan fungsi penghangat
dan humidifikasi tetapi juga fungsi proteksi (Krouse dan Stachler, 2006; Walsh
dan Kern, 2006).
Vibrise yang terletak di orifisium bertugas menyaring partikel besar yang
masuk melalui hidung. Partikel yang kecil akan mengenai mukosa dan menempel
pada sekret hidung, sedangkan partikel yang berukuran kurang dari 0,5 m akan
melewati sistem penyaringan di hidung dan masuk ke saluran napas bawah
(Dhillon dan East, 1999).
Udara inspirasi yang normal memiliki suhu sekitar 30C dan kelembaban
relatif sekitar 80%. Udara yang terlalu kering dan suhu yang terlalu ekstrim dapat
menghambat kerja silia (Dhillon dan East, 1999). Humidifikasi dipertahankan
oleh adanya sekresi dan transudasi dari kelenjar hidung, epitel sel goblet dan
pembuluh darah di lamina propria, sedangkan pengaturan suhu dikerjakan oleh
sistem vaskuler intranasal, terutama jaringan venous erektil yang banyak terdapat
pada konka inferior (Probst dkk., 2006).

2.1.2

Anatomi dan fisiologi sinus paranasal

Sinus paranasal terdiri atas sinus maksila, etmoid, sfenoid dan frontal.
Mukosa sinus dilapisi oleh epitel respiratorius pseudostratified yang terdiri atas
sel kolumnar bersilia, sel kolumnar tidak bersilia, sel mukus tipe goblet dan sel

basal. Membran mukosa bersilia bertugas menghalau mukus menuju ostium sinus
dan bergabung dengan sekret dari hidung. Ostium adalah celah alamiah tempat
sinus mengalirkan drainasenya ke jalan napas (Sargi, 2007). Jumlah silia makin
bertambah saat mendekati ostium (Ballenger, 2003).
Secara klinis berdasarkan lokasi perlekatan konka media dengan dinding
lateral hidung maka sinus dibagi menjadi dua kelompok yaitu kelompok sinus
anterior dan posterior. Kelompok sinus anterior terdiri dari sinus frontal, maksila
dan etmoid anterior yang bermuara ke dalam atau dekat infundibulum. Kelompok
sinus posterior terdiri dari sinus sfenoid dan etmoid posterior yang bermuara di
atas konka media (Ballenger, 2003).
Sinus maksila disebut juga antrum Highmore merupakan sinus paranasal
terbesar. Dasar sinus dibentuk oleh prosesus alveolaris os maksila dan palatum
durum. Dinding anteriornya berhadapan dengan fosa kanina. Gigi premolar kedua,
gigi molar pertama dan kedua tumbuh dekat dengan dasar sinus dan hanya
dipisahkan oleh membran mukosa sehingga proses supuratif di sekitar gigi
tersebut dapat menjalar ke mukosa sinus (Ballenger, 2003; Welch dan Goldberg,
2008). Silia sinus maksila membawa mukus dan debris langsung ke ostium
alamiah di meatus media (Ballenger, 2003; Welch dan Goldberg, 2008).
Perdarahan sinus maksila dilayani oleh cabang [Link] interna yaitu
[Link], [Link] cabang nasal lateral, [Link] descendens,
[Link] superior anterior dan posterior. Inervasi mukosa sinus maksila dilayani
oleh cabang nasal lateroposterior dan cabang alveolar superior [Link]
(Ballenger, 2003).

Sinus frontal merupakan pneumatisasi superior os frontal oleh sel etmoid


anterior. Sinus ini mengalirkan drainasenya melalui resesus frontal (Welch dan
Goldberg, 2008). Suplai darah sinus frontal dilayani oleh cabang supratrokhlear
dan suborbita [Link], sedangkan drainase vena dialirkan ke sinus kavernosus.
Inervasi mukosanya dilayani oleh cabang supratrokhlear dan supraorbital n. V1
(Ballenger, 2003).
Sinus etmoid terdiri atas dua kelompok sel, yaitu sel etmoid anterior yang
bermuara ke infundibulum di meatus media dan sel etmoid posterior yang
bermuara ke meatus superior (Ballenger, 2003; Krouse dan Stachler, 2006).
Cabang nasal [Link] dan [Link] anterior dan posterior, cabang
[Link] dari sistem karotis interna melayani sinus etmoid dan aliran venanya
menuju sinus kavernosus. Inervasi dilayani oleh cabang nasal posterior nervus V2
dan cabang etmoid anterior dan posterior nervus V1 (Ballenger, 2003).
Sinus sfenoid merupakan sinus terakhir yang mengalami perkembangan yaitu
pada usia dewasa awal. Struktur penting yang terletak dekat dengan sinus ini yaitu
[Link] dan kelenjar hipofisis yang terletak di atas sinus, pons serebri di
posterior, di lateral sinus sfenoid terdapat sinus kavernosus, fisura orbitalis
superior, a. karotis dan beberapa serabut nervus kranialis (Ballenger, 2003; Welch
dan Goldberg, 2008). Perdarahan sinus dilayani oleh cabang [Link] dan
[Link] posterior. Inervasinya dipersarafi oleh cabang etmoid posterior nervus V1
dan cabang sfenopalatina nervus V2 (Ballenger, 2003).
Fungsi utama sinus paranasal adalah mengeliminasi benda asing dan sebagai
pertahanan tubuh terhadap infeksi melalui tiga mekanisme, yaitu: terbukanya

kompleks ostiomeatal, transpor mukosilia dan produksi mukus yang normal


(Jackman dan Kennedy, 2006).
Kompleks ostiomeatal adalah pertemuan jalur drainase kelompok sinus
anterior yang terdiri dari meatus media, prosesus unsinatus, hiatus semilunaris,
infundibulum etmoid, bula etmoid, ostium sinus maksila dan resesus frontal
(Gambar 2.2). Jika terjadi obstruksi pada kompleks ostiomeatal oleh mukosa yang
inflamasi atau massa, akan menyebabkan terjadinya obstruksi ostium sinus, stasis
silia dan infeksi sinus (Ballenger, 2003; Probst dkk., 2006; Welch dan Goldberg,
2008).

Gambar 2.2
Kompleks ostiomeatal (Levine, 2005)

2.2 Sistem Mukosilia Hidung


Sistem mukosilia terdiri dari palut lendir, silia epitel respiratorius dan sel
goblet (Passali dkk., 2005; Probst dkk., 2006). Komponen mukosilia memiliki
peran penting dalam memelihara integritas hidung dan sinus paranasal (Quraishi
dkk., 1998). Gangguan pada sistem mukosilia oleh karena infeksi dapat menyebabkan perubahan pada mukosa dan terjadi rinosinusitis (Krouse dan Stachler,
2006). Rheologi dan komponen viskoelastisitas palut lendir ditentukan oleh

struktur polimerik dan derajat hidrasi. Perubahan pada rheologi palut lendir dapat
mempengaruhi mekanisme kerja silia.

2.2.1 Palut lendir


Palut lendir adalah lapisan mukus yang melapisi permukaan epitel hidung
berkonsistensi lengket dan liat, berukuran 12-15 m, dihasilkan oleh kelenjar
seromusinosa lamina propria dan sel-sel goblet pada mukosa hidung dengan
sebanyak 0,5-1 ml/cm3 dalam 24 jam (Quraishi dkk., 1998). Palut lendir terdiri
dari dua lapisan yaitu: a) lapisan sol disebut juga cairan perisilia, memiliki
kedalaman 0,5-2,0 m, terletak di lapisan dalam menyelimuti batang silia, bersifat
kurang viskus, merupakan komponen Newtonian yang memungkinkan terjadi
pergerakan silia, b) lapisan gel disebut juga lapisan mukus, memiliki kedalaman
7-10 m, terletak di superfisial ditembus oleh batang silia bila sedang tegak
sepenuhnya, bersifat lebih viskus merupakan komponen non Newtonian dan
bekerja membawa partikel asing (Gambar 2.3) (Quraishi dkk., 1998; Ballenger,
2003; Krouse dan Stachler, 2006; Probst dkk., 2006).

Gambar 2.3
Lapisan mukus dan cairan perisilia (Quraishi dkk., 1998)

Palut lendir mempunyai pH = 7 atau sedikit asam, mengandung 95% air,


2,5-3% protein dan glikoprotein, 1% lemak, 1% mineral serta 0,02% DNA
(Quraishi dkk., 1998). Komposisi ini tergantung pada aktivitas sel goblet, kelenjar
seromukus, kelenjar lakrimalis dan penguapan udara inspirasi (Passali dkk.,
2005). Fungsi palut lendir ini adalah sebagai pelicin, menangkap dan
mentransporasikan partikel maupun gas yang larut (Ballenger, 2003). Cairan
perisilia kaya akan albumin, Ig G, Ig M dan faktor komplemen (Stierna, 2001).
Sifat biorheologik palut lendir terdiri dari: kohesi dan kemampuan
mengangkut partikel, kemampuan meregang, elastotiksotrofi, kemampuan
merayap dan adhesif (Quraishi dkk., 1998). Palut lendir dibersihkan ke arah
nasofaring setiap 10-15 menit oleh gerakan silia dan digantikan oleh mukus segar
yang disekresikan kavum nasi dan mukosa sinus (Walsh dan Kern, 2006).

2.2.2 Silia
Silia memiliki ukuran panjang 6 m dan lebar 0,3 m. Tiap sel bersilia
memiliki sekitar 150-200 silia yang tersusun atas mikrotubulus dan dihubungkan
oleh lengan dynein (Probst dkk., 2006). Di dalam silia terdapat sebuah
mikrotubulus yang tersusun longitudinal yang disebut aksonema. Mikrotubulus ini
tersusun berpasangan yaitu sembilan pasang di bagian luar dan dua mikrotubulus
tunggal berada di tengah aksonema membentuk karakteristik pola 9 plus 2
(Gambar 2.4) (Ballenger, 2003).
Palut lendir selalu bergerak dan gerakan ini karena adanya silia. Silia
bergerak untuk menghalau mukus dan debris yang terperangkap melalui ostium

dan ke hidung. Silia juga dapat tertarik ke bawah searah gravitasi. Ostium sinus
maksila berada di superior dinding medial sinus sehingga tanpa gerakan silia yang
menyapu mukus ke atas maka sinus maksila tidak akan pernah mengalami
drainase (Metson, 2005).

Gambar 2.4
Struktur ultrasilia tubulus (Ballenger, 2003)

Pergerakan silia dikenal dengan ciliary beat. Makin ke depan pergerakannya,


maka pukulannya makin kuat di mana silia dalam keadaan ekstensi penuh. Ciliary
beat memiliki dua komponen yaitu effective stroke dan recovery stroke. Effective
stroke terjadi ketika silia berada dalam keadaan tegak lurus terhadap permukaan
sel dan ujung puncaknya menyentuh palut lendir (Quraishi dkk., 1998). Recovery
stroke merupakan pukulan yang bersifat kurang kuat dan lebih lambat, gerakannya
melengkung ke belakang ke arah dirinya sendiri sehingga tidak mencapai
gumpalan mukus di atasnya (Stierna, 2001). Pergerakan silia terjadi secara
metachronus dan berlangsung 3-25 mm/menit dengan frekuensi 12 Hz (Stierna,
2001) atau 1000 kali atau lebih per menit (Ballenger, 2003).

2.2.3

Sel goblet

Sel goblet epitel dan kelenjar seromukus pada mukosa hidung menghasilkan
palut lendir (Ballenger, 2003; Krouse dan Stachler, 2006; Probst dkk., 2006). Sel

goblet lebih banyak ditemui pada sinus maksila dibandingkan sinus lainnya,
sedangkan kelenjar lebih banyak ditemui pada hidung dibandingkan pada sinus
paranasal. Hal ini fisiologis karena pada ruang tertutup seperti pada sinus
paranasal, sel goblet cukup efektif dalam menghasilkan mukus untuk mencegah
terjadinya kekeringan mukosa dan untuk menunjang transpor mukosilia (Passali
dkk., 2005). Suatu penelitian eksperimental menggunakan kelinci ditemukan
penurunan jumlah sel goblet disertai involusi dan berkurangnya jumlah kelenjar
secara signifikan pada sinusitis dengan derajat inflamasi yang berat (Stierna,
2001).

2.2.4 Transpor mukosilia


Transpor mukosilia adalah mekanisme pergerakan silia untuk mengalirkan
sekret dari kavum nasi ke nasofaring. Durasi yang dibutuhkan bahan partikel
untuk berjalan di sepanjang permukaan kavum nasi menuju nasofaring disebut
dengan waktu transpor mukosilia (Probst dkk., 2006). Adanya infeksi dapat
menghambat siklus metachronous silia dan sistem transpor mukosilia yang
efisien. Beberapa virus, misalnya: virus influenza, rhinovirus, adenovirus, virus
herpes simpleks dan RSV dapat mengubah ultrastruktur aksonema dan bahan
viskoelastik palut lendir sehingga mengganggu fungsi transpor mukosilia
(Ballenger, 2003).
Transpor mukosilia dipengaruhi oleh a) faktor eksternal yaitu struktur kimia
partikel yang diangkut, b) faktor lingkungan yaitu suhu, humiditas, kontak dengan
larutan hipertonik atau hipotonik, bahan asam atau basa, bahan polusi, dan c)

faktor internal yaitu aktivitas silia dan bahan rheologik mukus (Ballenger, 2003;
Passali dkk., 2005).

2.2.5 Pemeriksaan fungsi mukosilia


Aktivitas silia pada mukosa nasal dapat dievaluasi dengan metode langsung
maupun metode tidak langsung. Metode langsung menggunakan stroboscopy,
roentgenography serta teknik photoelectron membutuhkan tehnologi yang
canggih sehingga tidak selalu tersedia pada masing-masing pelayanan kesehatan.
Metode tidak langsung misalnya uji sakarin dan penggunaan

99m

Tc-MAA. Uji

sakarin merupakan pemeriksaan yang aman, mudah, cepat dan dapat dipercaya
untuk menilai transpor mukosilia hidung (Ramon dkk., 1999; Naxakis dkk.,
2009). Sedangkan aktivitas transpor mukosilia pada sinus paranasal dilakukan
dengan menyuntikkan bahan pada kavum paranasal dan menunggu waktu
bersihannya, namun metode tersebut bersifat invasif (Passali dkk., 2005).

Gambar 2.5
(A). Forsep aligator dan tablet sakarin; (B). Tablet sakarin diletakkan di ujung
anterior konka inferior (Scadding dan Lund, 2004)

Pada uji sakarin, tablet sakarin berdiameter 1 mm diletakkan sekitar 1 cm di


belakang ujung anterior konka inferior untuk menghindari daerah metaplasia

skuamosa dengan menggunakan forsep kecil (Gambar 2.5). Pasien diminta tetap
bernapas biasa melalui hidung, tanpa bersin, mengendus, makan maupun minum.
Kemudian pasien diminta untuk menelan satu kali setiap satu menit dan
melaporkan jika merasakan rasa manis di tenggoroknya. Variasi lain adalah
dengan memberikan pewarna pada sakarin dengan menggunakan Evans blue,
sehingga pewarna dapat terlihat di nasofaring (Ballenger, 2003; Scadding dan
Lund, 2004).
Individu normal memiliki waktu transpor mukosilia kurang dari 20 menit.
Nilai rerata waktu transpor mukosilia hidung pada orang sehat dilaporkan
bervariasi. Inanli dkk. (2002) menyatakan rerata waktu transpor mukosilia sebesar
9,05 3,46 menit sedangkan Ural dkk. (2009) menyatakan 17,53 menit. Waktu
transpor mukosilia akan memanjang pada rinosinusitis, diskinesia silia primer dan
kistik fibrosis (Scadding dan Lund, 2004). Penelitian Inanli dkk. (2002)
melaporkan rerata waktu transpor mukosilia pada rinosinusitis akut sebesar 24,72
6,16 menit dan penelitian Ural dkk. (2009) sebesar 30,08 menit.

2.3

Rinosinusitis Akut

2.3.1 Definisi
Pada tahun 1997 The American Academy of Otolaryngology Head and Neck
Surgery Paranasal Sinus Committee mengusulkan untuk mengganti terminologi
sinusitis dengan rinosinusitis. Membran mukosa hidung dan sinus secara
embriologis saling berhubungan dan merupakan satu kesatuan serta menunjukkan
proses penyakit yang sama yaitu obstruksi hidung dan adanya sekret. Sinusitis

tidak akan terjadi tanpa adanya rinitis dan rinitis tidak terjadi tanpa sinusitis,
sehingga istilah rinosinusitis lebih tepat digunakan (Devaiah, 2004).
Rinosinusitis adalah kelainan yang ditandai oleh inflamasi mukosa kavum
nasi dan sinus paranasal atau keterlibatan tulang di bawahnya. Osteitis dapat
terjadi sebagai akibat langsung infeksi atau operasi sinus disertai kurangnya
preservasi mukosa. Osteitis merupakan salah satu penyebab utama kekambuhan
penyakit meskipun sudah dilakukan operasi atau pemberian antibiotik (Thaler,
2001; Devaiah, 2004; Benninger dan Gottschall, 2006).
Task Force on Rhinosinusitis pada tahun 1996 membuat klasifikasi
rinosinusitis sebagai berikut: a) Rinosinusitis akut, jika gejala berakhir dalam 4
minggu atau kurang; b) Rinosinusitis subakut, jika gejala menetap 4-12 minggu;
c) Rinosinusitis kronis, jika gejala menetap selama lebih dari 12 minggu; d)
Rinosinusitis akut rekuren, jika pasien dengan 4 episode serangan atau lebih per
tahun dengan interval bebas gejala di antaranya dan e) Rinosinusitis kronis
eksaserbasi akut, didefinisikan sebagai perburukan gejala tiba-tiba pada pasien
yang telah terdiagnosis rinosinusitis kronis setelah mendapat pengobatan, berupa
berulangnya gejala seperti awal (Thaler, 2001).

2.3.2

Insiden

Infeksi saluran napas adalah jenis infeksi paling sering yang ditemui dalam
praktek sehari-hari (File, 2006). Sinus paranasal merupakan kelanjutan saluran
pernapasan bagian atas sehingga sering terlibat infeksi (Metson, 2005). Sebanyak
0,5%-2% infeksi saluran napas atas berkembang menjadi rinosinusitis (Levine,

2005). Centers for Disease Control and Prevention melaporkan lebih dari 35 juta
(17,4%) orang Amerika dewasa terkena sinusitis pada tahun 2001 (Metson, 2005).
Sementara itu di Indonesia di mana penyakit infeksi saluran napas akut masih
merupakan penyakit utama di masyarakat, kiranya rinosinusitis juga banyak
dijumpai meskipun belum terdiagnosis, sehingga angka kejadiannya belum jelas
dan belum banyak dilaporkan (Mulyarjo, 2004).

2.3.3

Patofisiologi

Patofisiologi rinosinusitis digambarkan sebagai lingkaran tertutup dimulai


dengan inflamasi mukosa hidung khususnya kompleks ostiomeatal. Inflamasi akut
pada mukosa sinus berupa hipersekresi mukosa dan odema yang dapat
menyebabkan obstruksi aliran ke luar sinus (Busquets dan Hwang, 2006). Ketika
terjadi obstruksi kompleks ostiomeatal, mukus tidak dapat mengalir ke luar
ostium, silia berhenti bergerak secara efektif sehingga drainase sinus terhenti
(Metson, 2005). Perlambatan gerakan silia dan peningkatan sintesis mukus
menyebabkan terjadinya retensi sekret di sinus (Stierna, 2001). Lingkungan yang
hangat dan lembap akan menjadi media yang sangat baik bagi bakteri dan adanya
stasis sekret akan mempercepat multiplikasi bakteri (Metson, 2005; Benninger
dan Gottschall, 2006).
Adanya interleukin dan leukotrien serta infeksi bakteri menyebabkan mukus
menjadi lebih kental, berwarna kuning atau hijau disebut pus atau mukopurulen.
Beberapa pus di sinus dikeluarkan dari ostium melalui kompleks ostiomeatal dan
ke nasofaring menjadi post nasal drip (Metson, 2005).

Terjadinya rinosinusitis dipengaruhi oleh faktor host yaitu genetik dan struktur
anatomi, faktor agen dan lingkungan (Metson, 2005; Busquets dan Hwang, 2006;
Jackman dan Kennedy, 2006). Kistik fibrosis dan sindrom Kartagener merupakan
penyakit genetik berupa gangguan gerakan silia. Bahan polusi seperti asap rokok,
debu, bahan kimia, faktor alergi maupun infeksi dapat menginduksi peradangan
mukosa sinus (Naclerio dan Gungor, 2001). Rinitis alergi telah diketahui sejak
lama sebagai salah satu faktor predisposisi rinosinusitis (File, 2006).
Pada rinosinusitis akut mikroba yang berperan adalah virus, bakteri dan
jamur. Selain menimbulkan obstruksi pada kompleks ostiomeatal akibat inflamasi
dan odema virus respiratorius juga memiliki efek sitotoksik langsung pada epitel
dan silia nasal yang menyebabkan terganggunya bersihan mukosilia pada fase
resolusi pasca infeksi virus akut (Benninger dan Gottschall, 2006). Hal ini dapat
menjadi faktor predisposisi terjadinya infeksi bakterial sekunder (Busquets dan
Hwang, 2006). Rhinovirus juga dapat meningkatkan kemampuan adheren bakteri
patogen seperti Streptococcus pneumoniae dan Hemophilus influenzae di
nasofaring (Benninger dan Gottschall, 2006). Pasien dengan penurunan sistem
kekebalan tubuh akan mudah terinfeksi oleh jamur (Thaler, 2001). Pada kasus
rinosinusitis berulang maupun menetap setelah diberi pengobatan antibiotika yang
adekuat perlu dicurigai adanya imunodefisiensi sebagai faktor yang memperberat
(Busquets dan Hwang, 2006).
Obstruksi ostium sinus dapat disebabkan oleh polip hidung, deviasi septum,
konka bulosa dan konka media paradoksal. Jaringan parut akibat pembedahan
sebelumnya atau akibat trauma juga dapat mengganggu drainase sinus. Infeksi

gigi dapat menyebar ke kavum sinus dan menjadi sinusitis maksila persisten.
Kelainan anatomi kraniofasial di mana terjadi perubahan anatomi sinus juga dapat
menjadi predisposisi terjadinya sinusitis (Busquets dan Hwang, 2006).

2.3.4 Gejala klinis dan diagnosis


Diagnosis rinosinusitis didapatkan dari anamnesis, pemeriksaan fisik dan
pemeriksaan penunjang (Thaler, 2001; Benninger dan Gottschall, 2006). Anamnesis meliputi gejala, onset dan durasi gejala serta penyakit penyerta yang berhubungan misalnya riwayat asma, kistik fibrosis, penyakit imunodefisiensi, alergi,
perokok, polip hidung, massa pada hidung, riwayat trauma maksilofasial atau
infeksi gigi (Benninger dan Gottschall, 2006; Probst dkk., 2006).
Pasien dicurigai kuat menderita rinosinusitis jika memenuhi dua kriteria
gejala mayor atau satu gejala mayor dan dua minor atau jika ada sekret purulen
pada pemeriksaan endoskopi nasal. Pasien yang hanya memenuhi satu kriteria
gejala mayor atau dua kriteria minor dicurigai menderita rinosinusitis (Levine,
2005; Benninger dan Gottschall, 2006; Busquets dan Hwang, 2006). Kriteria
gejala mayor rinosinusitis meliputi nyeri/rasa tebal pada wajah, hidung tersumbat,
ingus kental, post nasal drip purulen, gangguan penghidu, demam, adanya sekret
purulen pada pemeriksaan endoskopi nasal. Kriteria gejala minor meliputi sakit
kepala, napas berbau, batuk, nyeri telinga, rasa penuh di telinga (Busquets dan
Hwang, 2006).
Pemeriksaan intranasal untuk menegakkan diagnosis rinosinusitis dilakukan
dengan rinoskopi anterior menggunakan spekulum hidung atau endoskopi hidung.

Pemeriksaan dengan endoskopi terutama bermanfaat dalam mengevaluasi


kompleks ostiomeatal (Probst dkk., 2006). Pada pemeriksaan intranasal didapatkan mukosa hidung hiperemi, konka kongesti atau hipertrofi, adanya sekret
hidung mukoid/purulen, dapat ditemukan polip hidung, deviasi septum, konka
bulosa atau konka media paradoksal (Thaler, 2001; Benninger dan Gottschall,
2006; Fokkens dkk., 2007). Pemeriksaan rongga mulut dilakukan untuk melihat
abses gigi. Dasar sinus maksila berdekatan dengan akar gigi rahang atas sehingga
infeksi pada gigi tersebut dapat menyebar ke sinus dan menimbulkan sinusitis.
Drainase sinus berupa sekret purulen ke nasofaring dapat terlihat di posterior
orofaring berupa post nasal drip (Benninger dan Gottschall, 2006).
Pemeriksaan sinus juga dapat dilakukan dengan menggunakan metode
palpasi. Nyeri pada rinosinusitis akut adalah khas berupa nyeri menusuk atau rasa
sakit yang terlokalisir pada sinus yang terkena. Palpasi pada sinusitis maksila akan
menimbulkan nyeri di infraorbital yang meluas ke gigi maksila dan kadangkadang ke telinga. Nyeri pada sinusitis etmoid berupa nyeri di kantus medial dan
dorsum hidung. Nyeri pada sinusitis frontal berupa nyeri di supraorbital yang
meluas ke bitemporal atau oksipital, sedangkan nyeri pada sinusitis sfenoid
terutama di verteks tulang tengkorak (Thaler, 2001; Benninger dan Gottschall,
2006).
Radiografi posisi Waters merupakan salah satu pemeriksaan diagnostik
rinosinusitis. Hasil dikatakan positif jika ditemukan perselubungan, penebalan
mukosa atau air fluid level di kavum sinus, namun hasil yang negatif tidak
menyingkirkan kemungkinan rinosinusitis (Thaler, 2001). CT scan menjadi

penunjang diagnostik pilihan dalam menilai kemungkinan terjadinya komplikasi


atau sebagai penunjang sebelum tindakan pembedahan dilakukan (Levine, 2005).
Aspirasi sinus dan pemeriksaan kultur sekret sinus merupakan pemeriksaan
baku emas dalam mendiagnosis rinosinusitis. Pemeriksaan ini diindikasikan pada
rinosinusitis yang gagal dengan pengobatan antibiotika multipel, rinosinusitis
disertai imunodefisiensi atau diabetes melitus yang tidak terkontrol (Benninger
dan Gottschall, 2006).

2.3.5

Komplikasi

Komplikasi rinosinusitis akut dibagi menjadi komplikasi ekstrakranial dan


intrakranial. Komplikasi ekstrakranial terutama mengenai orbita, yaitu berupa:
selulitis preseptal, selulitis orbita, abses subperiosteal, abses orbita. Komplikasi
intrakranial meliputi: meningitis, trombophlebitis sinus kavernosus, abses epidural, abses subdural dan abses otak (Thaler, 2001).

2.3.6

Penatalaksanaan

Penatalaksanaan rinosinusitis akut dapat berupa pemberian medikamentosa


atau tindakan pembedahan. Berdasarkan pedoman terapi rinosinusitis PERHATIKL Kelompok Studi Rinologi tahun 2007, pengobatan rinosinusitis akut adalah
pemberian antibiotika lini pertama atau antibiotika lini kedua jika tidak ada
perbaikan klinis dalam 2 x 24 jam (Soetjipto, 2007). Terapi tambahan dapat
berupa dekongestan oral/topikal, mukolitik atau pencucian hidung dengan larutan
salin isotonis (Papsin dan McTavish, 2003; Soetjipto, 2007; Yeung, 2011).

Pemakaian antibiotika untuk pengobatan rinosinusitis berdasarkan antibiotika


yang telah terbukti keefektifannya atau berdasarkan hasil kultur dan sensitivitas.
The Bacteriology of Rhinosinusitis di Amerika Serikat seperti dikutip dari Levine
(2005) menyatakan bakteri patogen terbanyak pada rinosinusitis akut adalah
Streptococcus pneumoniae, Haemophilus influenzae, Staphylococcus aureus,
dan Moraxella catarrhalis. Antibiotik lini pertama yang direkomendasikan untuk
pengobatan rinosinusitis akut adalah: amoxicillin, doxycicllin dan trimethoprim/
sulfamethoxazole. Namun tingginya angka resistensi menyebabkan amoxicillin
tidak lagi dipilih sebagai terapi lini pertama untuk rinosinusitis akut. The Food
and Drug Administration Amerika Serikat seperti dikutip dari Thaler (2001)
menyatakan beberapa antibiotika berikut dapat digunakan sebagai pengobatan
rinosinusitis akut yaitu: amoxycillin clavulanate, cefpodoxime, cefuroxime axetil
dan untuk pasien dewasa dapat digunakan ciprofloxacin, cefditoren, levofloxacin,
moxifloxacin. Jika pasien memiliki riwayat alergi terhadap antibiotik -lactam
atau merupakan kontraindikasi penggunaan fluoroquinolone, maka azithromycin
atau clarithromycin dapat menjadi pilihan alternatif. Pengobatan dengan
antibiotika harus dilanjutkan minimal selama 10-14 hari. Pengobatan yang lebih
singkat dapat menimbulkan kekambuhan infeksi dan kemungkinan terjadinya
resistensi antibiotika (Thaler, 2001).
Pemberian dekongestan memberikan efek vasokonstriksi pada pembuluh
darah hidung, menurunkan aliran darah dan mengurangi odema pada mukosa
hidung. Dekongestan oral golongan adrenergik- agonis misalnya: phenylpropanolamine dan pseudoephedrine. Penggunaan dekongestan topikal (oxy-

metazoline) dapat digunakan selama 3-5 hari untuk mengurangi gejala serta untuk
meningkatkan kecepatan drainase sinus. Penggunaan dekongestan topikal yang
lebih lama dapat menyebabkan terjadinya rinitis medikamentosa oleh karena efek
rebound vasodilatation (Thaler, 2001). Pemberian mukolitik (guanifesin,
ambroxol) berfungsi untuk mengencerkan sekret sehingga membantu fungsi
drainase (Thaler, 2001; Levine, 2005).
Penggunaan larutan cuci hidung dengan salin terbukti aman bagi anak-anak,
orang dewasa, kehamilan maupun usia lanjut (Papsin dan McTavish, 2003).
Pencucian hidung dengan larutan salin isotonis dapat diberikan sebagai terapi
tambahan pada rinosinusitis, rinitis alergi, infeksi saluran napas atas dan
pascapembedahan sinus. Kontraindikasi penggunaan terapi ini adalah trauma
wajah yang belum sembuh sempurna, gangguan neurologis dan muskuloskeletal.
Tidak ada peneliti yang melaporkan adanya efek samping yang serius terhadap
penggunaan larutan salin isotonis ini. Keluhan yang sering ditemui adalah rasa
tidak nyaman dan cemas pada saat penggunaan awal larutan tersebut (Rabago dan
Zgierska, 2009).
Pencucian hidung dilakukan dengan mengalirkan larutan salin ke dalam
kavum nasi menggunakan teknik irigasi maupun semprot. Teknik irigasi
dilakukan dengan memanfaatkan gaya gravitasi menggunakan tekanan tangan
dengan syringe atau neti pot (Gambar 2.6), sedangkan teknik pencucian hidung
dengan semprot menggunakan kemasan botol semprot yang bertekanan positif
rendah (Rabago dan Zgierska, 2009).

Gambar 2.6
Pencucian hidung dengan teknik irigasi menggunakan neti pot
(Rabago dkk., 2006)
Mekanisme kerja larutan salin sebagai larutan pencuci hidung belum
diketahui dengan jelas, namun diperkirakan dapat memperbaiki fungsi mukosilia
hidung melalui efek fisiologisnya yaitu: membersihkan mukosa hidung dari sekret
atau krusta, mengurangi odema mukosa, melembabkan kavum nasi, mengurangi
mediator inflamasi dan risiko perlengketan mukosa serta mempercepat
penyembuhan mukosa pascapembedahan sinus (Papsin dan McTavish, 2003;
Hauptman dan Ryan, 2007; Rabago dan Zgierska, 2009; Yeung, 2011).
Penggunaan larutan salin sebagai pencuci hidung juga dapat mengurangi waktu
penggunaan antibiotika sehingga dapat mening-katkan kepatuhan pasien dan
berkurangnya biaya pengobatan (Papsin dan McTavish, 2003).
Sediaan larutan salin berupa larutan salin hipotonis (NaCl 0,45%), isotonis
(NaCl 0,9%) dan hipertonis (NaCl 3%, 5%, 7%). Larutan cuci hidung salin
isotonis dan hipertonis sama-sama dapat memperbaiki waktu transpor mukosilia
hidung (Boek dkk., 1999; Ural dkk, 2009). Kedua larutan tersebut berbeda dalam
hal kekuatan osmotik dan gradien konsentrasinya (Hauptman dan Ryan, 2007).
Larutan salin isotonis adalah larutan yang tidak memiliki gradien osmotik

(Garavello dkk., 2003) dan diyakini sebagai larutan yang paling fisiologis terhadap morfologi seluler epitel hidung (Kim dkk., 2005), sehingga aman dan
nyaman digunakan pada bayi, ibu hamil maupun usia lanjut (Healtley dkk., 2001).
Pada larutan salin hipertonis, kondisi hiperosmolar di saluran pernapasan
menyebabkan pelepasan kalsium dan prostaglandin E2 dari intraseluler,
peningkatan availabilitas adenosine triphosphate pada aksonema silia sehingga
terjadi peningkatan ciliary beat frequency (Daviskas dkk., 1996; Shoseyov dkk.,
1998). Larutan salin hipertonis juga dapat menginduksi respon neural yang akan
menyebabkan perubahan vaskuler pada mukosa hidung dan menimbulkan rasa
tidak nyaman berupa sensasi terbakar dan iritasi pada mukosa hidung sehingga
akan mempengaruhi kepatuhan pasien dalam penggunaannya (Hauptman dan
Ryan, 2007).
Tindakan pembedahan diindikasikan pada rinosinusitis akut yang gagal
dengan terapi konservatif dan rinosinusitis akut dengan komplikasi intrakranial
atau ekstrakranial. Tindakan pembedahan dapat berupa irigasi sinus atau bedah
sinus endoskopi fungsional (Busquets dan Hwang, 2006).

BAB III
KERANGKA BERPIKIR, KONSEP DAN HIPOTESIS PENELITIAN

3.2 Kerangka Berpikir


Rinosinusitis akut adalah inflamasi pada mukosa hidung dan sinus paranasal
yang berlangsung selama 4 minggu atau kurang dengan gejala hidung buntu, nyeri
pada wajah, ingus kental kental dan post nasal drip purulen. Rinosinusitis dapat
berkembang dari infeksi saluran napas atas. Rinosinusitis dapat mempengaruhi
kualitas hidup pasien berupa berkurangnya waktu kerja yang efektif dan dampak
ekonomi berupa besarnya pengeluaran untuk mengobati penyakit tersebut.
Ada tiga hal utama yang berperan dalam menjaga fungsi fisiologis sinus,
yaitu: terbukanya kompleks ostiomeatal, transpor mukosilia yang normal, kualitas
dan kuantitas sekret yang normal. Gangguan pada sistem mukosilia menyebabkan
terjadinya rinosinusitis. Obstruksi pada kompleks ostiomeatal saat inflamasi akut
mukosa sinus menyebabkan sekret tidak dapat mengalir ke luar ostium. Odema
pada mukosa menyebabkan mukosa sinus yang berhadapan saling berdempetan,
sehingga pergerakan silia menjadi tidak efektif. Hal tersebut menyebabkan retensi
sekret yang akan menjadi media bagi pertumbuhan bakteri. Adanya bakteri
direspon oleh tubuh berupa perubahan kualitas dan kuantitas sekret sehingga
viskositasnya menjadi lebih kental dan purulen.
Aktivitas silia pada mukosa nasal dapat dievaluasi dengan dua metode yaitu
metode langsung dengan stroboscopy, roentgenography, photoelectron maupun
metode tidak langsung dengan uji sakarin dan

99m

Tc-MAA. Uji sakarin adalah uji

yang sederhana, non invasif, mudah dan murah serta merupakan pemeriksaan
baku emas untuk uji perbandingan.

3.2 Kerangka Konsep


Rinosinusitis akut

Umur
Jenis kelamin
Indeks massa tubuh

Riwayat operasi hidung


dan sinus paranasal
Gangguan pengecap
Dekongestan
Merokok

Tumor sinonasal
Polip hidung
Deviasi septum nasi
Hipertensi

Perubahan viskoelastisitas sekret


Gangguan fungsi silia

Terapi standar rinosinusitis:


Antibiotika
Dekongestan oral
Mukolitik

Larutan pencuci hidung


salin isotonis

Waktu transpor mukosilia hidung


melalui uji sakarin
Gambar 3.1
Bagan kerangka konsep penelitian

3.2 Hipotesis Penelitian


Larutan pencuci hidung menggunakan salin isotonis dapat mempercepat
waktu transpor mukosilia pada pasien rinosinusitis akut.

BAB IV
METODE PENELITIAN

4.1 Rancangan Penelitian


Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian eksperimental pre-postest
design with control group.

Populasi

Sampel

Uji sakarin
sebelum

K. Perlakuan

Uji sakarin
sesudah

Uji sakarin
sebelum

K. Kontrol

Uji sakarin
sesudah

Gambar 4.1
Bagan rancangan penelitian.

4.2 Lokasi dan Waktu Penelitian


Penelitian dilakukan di Poliklinik THT, RSUP Sanglah, Denpasar pada bulan
Agustus - Desember 2014.

4.3 Subjek dan Sampel Penelitian


4.3.1 Populasi penelitian
Populasi target adalah semua pasien rinosinusitis akut. Populasi terjangkau
adalah semua pasien rinosinusitis akut yang berobat ke Poliklinik THT-KL RSUP
Sanglah, Denpasar.

4.3.2 Teknik pemilihan sampel


Pengambilan sampel pada Kelompok Perlakuan maupun Kelompok Kontrol
dilakukan secara berurutan (consecutive sampling), yaitu setiap pasien yang
memenuhi kriteria inklusi penelitian dimasukkan dalam sampel penelitian sampai
kurun waktu tertentu hingga jumlah sampel yang diperlukan telah dipenuhi.
Sampel yang bersedia mengikuti prosedur penelitian kemudian menandatangani
informed concent dan selanjutnya ditetapkan sebagai sampel penelitian. Pemilihan
Kelompok Perlakuan maupun Kelompok Kontrol pada sampel dilakukan secara
random dengan teknik randomisasi blok. Subjek akan mendapat pengobatan A
yaitu terapi standar berupa antibiotika ciprofloxacin 2 x 500 mg, dekongestan
pseudoephedrin 60 mg/triprolidin HCl 2,5 mg 3 x 1 tablet dan mukolitik
ambroxol 3 x 30 mg selama 7 hari atau pengobatan B yaitu terapi standar
ditambah larutan pencuci hidung salin isotonis, sesuai dengan nomor amplop yang
telah ditentukan secara randomisasi blok (Lampiran 5).

4.3.3 Kriteria sampel


Kriteria sampel pada penelitian ini terdiri dari kriteria inklusi dan kriteria
eksklusi.
[Link] Kriteria inklusi
Sampel pada penelitian harus memenuhi kriteria inklusi meliputi:
a. Usia 15 - 60 tahun dan kooperatif.
b. Pasien terdiagnosis rinosinusitis akut
c. Bersedia mengikuti penelitian dengan menandatangani informed consent.

[Link] Kriteria eksklusi


Kriteria eksklusi pada penelitian ini meliputi:
a. Menderita polip hidung.
b. Menderita tumor sinonasal.
c. Menderita gangguan pengecap.
d. Menderita hipertensi.
e. Riwayat pengobatan dengan dekongestan dalam 2 hari terakhir.
f. Riwayat operasi hidung dan sinus paranasal dalam 3 bulan terakhir.

4.3.4 Besar sampel


Besar sampel dihitung menggunakan rumus Pocock (2002) sebagai berikut:
n=

n1=n2=

2 2
(2 -1 )2

2 (3,46)2
(4)2

.f(,)

.10,5 = 15,71 ~ 16

Keterangan:
n

: Besar sampel.

: Standar deviasi = 3,46 (Inanli, 2002)

: Tingkat kesalahan tipe I sebesar 0,05

: Tingkat kesalahan tipe II sebesar 0,1

f (,) : Nilai pada tabel = 10,5


2- 1 : Selisih waktu transpor mukosilia minimal antara kelompok
perlakuan dengan kelompok kontrol yang dianggap bermakna = 4 menit.
Besar sampel (n1=n2) = 16

Perkiraan drop out sebesar 10% dari jumlah sampel, sehingga didapatkan:
= n +

10
x 16
100

= 17,6 ~ 18
Jadi penelitian ini membutuhkan sampel minimal sebesar 36, yaitu 18 orang
untuk kelompok perlakuan dan 18 orang untuk kelompok kontrol.

4.4

Variabel Penelitian

4.4.1 Identifikasi dan klasifikasi variabel


a.

Variabel bebas: larutan pencuci hidung salin isotonis

b.

Variabel tergantung: waktu transpor mukosilia

c.

Variabel kendali: umur, jenis kelamin, indeks massa tubuh, tumor sinonasal,
polip hidung, operasi hidung dan sinus paranasal, gangguan pengecap,
dekongestan, merokok, hipertensi.

4.5
a.

Definisi Operasional Variabel


Umur adalah: lama hidup yang dihitung berdasarkan tanggal lahir yang
tercantum pada tanda pengenal dalam satuan tahun (kartu pelajar, kartu
tanda penduduk).

b.

Jenis kelamin adalah: laki-laki atau perempuan yang tercantum dalam tanda
pengenal (kartu pelajar, kartu tanda penduduk).

c.

Indeks massa tubuh atau IMT adalah: ukuran antropometri massa tubuh
yang ditentukan dengan membagi berat badan dalam kilogram dengan tinggi
badan dalam meter kuadrat. Kriteria dibagi menjadi underweight bila IMT

<18,5, normal bila IMT 18,5 22,9, overweight bila IMT 23 24,9, obese
bila IMT 25 29,9 dan obese tipe 2 bila IMT 30.
d.

Rinosinusitis akut adalah: peradangan mukosa hidung dan sinus paranasal


yang berlangsung kurang dari 4 minggu berdasarkan anamnesis,
pemeriksaan rinoskopi anterior dan foto Waters. Diagnosis ditegakkan
dengan adanya 2 atau lebih gejala mayor atau 1 gejala mayor dan 2 gejala
minor. Gejala mayor berupa hidung tersumbat, pilek kental, nyeri/rasa tebal
pada wajah, gangguan penghidu, sakit kepala. Gejala minor berupa demam,
napas berbau, batuk, nyeri telinga, rasa penuh pada telinga. Pada rinoskopi
anterior didapatkan mukosa hidung hiperemi, sekret mukoid atau
mukopurulen dari meatus nasi media. Foto Waters menunjukkan adanya
perselubungan, penebalan atau air fluid level pada sinus paranasal.

e.

Penderita tumor sinonasal adalah: pasien yang terdiagnosis tumor sinonasal


dengan ditemukannya massa tumor pada kavum nasi berdasarkan
pemeriksaan rinoskopi anterior atau berdasarkan pemeriksaan radiologi.

f.

Penderita polip hidung adalah: pasien yang terdiagnosis polip hidung


dengan ditemukannya massa putih bertangkai dan kenyal pada kavum nasi
berdasarkan rinoskopi anterior atau berdasarkan pemeriksaan radiologi.

g.

Deviasi septum nasi adalah: deformitas septum nasi berbentuk huruf C atau
S, deviasi ke salah satu sisi kavum nasi, penonjolan berupa krista atau spina
yang didapatkan berdasarkan rinoskopi anterior.

h.

Operasi hidung dan sinus paranasal adalah: setiap tindakan pembedahan


pada hidung dan sinus paranasal baik dengan bius lokal maupun umum yang
dilakukan dalam 3 bulan terakhir.

i.

Gangguan pengecap adalah: gangguan dalam merasakan sensasi rasa di


lidah berdasarkan anamnesis.

j.

Pemakaian dekongestan adalah: penggunaan obat yang mempunyai efek


dekongesti secara oral, semprot atau tetes hidung dalam 2 hari terakhir.

k.

Merokok adalah kebiasaan menghisap rokok sebanyak paling sedikit satu


batang per hari selama setahun yang diperoleh melalui anamnesis. Kriteria
dibagi menjadi perokok (IB 1) dan bukan perokok (IB=0) berdasarkan
Indeks Brinkman atau IB, yaitu hasil perkalian lama merokok dalam tahun
dengan jumlah batang rokok yang dihisap setiap hari.

l.

Hipertensi adalah: penyakit sistemik berupa tekanan darah sistole lebih dari
140 mmHg atau tekanan diastole lebih dari 90 mmHg berdasarkan kriteria
Joint National Comittee (JNC) 7 yang diukur menggunakan tensimeter atau
adanya riwayat konsumsi obat antihipertensi berdasarkan anamnesis.

m. Terapi standar rinosinusitis adalah pemberian terapi pada rinosinusitis


terdiri dari antibiotika: ciprofloxacin dengan dosis 2 x 500 mg per oral,
dekongestan: pseudoephedrine 60 mg/triprolidin 2,5 mg dengan dosis 3 x 1
tablet per oral dan mukolitik: ambroxol 3 x 30 mg per oral selama 7 hari.
n.

Larutan pencuci hidung salin isotonis adalah: larutan pencuci hidung yang
mengandung NaCl 0,9% dikemas dalam botol infus 500 ml yang diberikan

dengan cara disemprotkan ke dalam kavum nasi menggunakan syringe 10


ml dengan dosis pemberian 3 x 10 ml selama 7 hari.
o.

Kelompok perlakuan adalah: kelompok yang mendapat terapi standar


rinosinusitis dan larutan pencuci hidung salin isotonis.

p.

Kelompok kontrol adalah: kelompok yang mendapat terapi standar


rinosinusitis.

q.

Uji Sakarin adalah: uji yang dilakukan untuk mengukur waktu transpor
mukosilia menggunakan tablet sakarin merk Equal berukuran diameter 1
mm yang diletakkan 1 cm di belakang ujung anterior konka inferior
menggunakan forsep aligator.

r.

Waktu transpor mukosilia adalah: waktu yang dibutuhkan oleh tablet


sakarin mulai saat diletakkan 1 cm di belakang ujung anterior konka inferior
sampai ke nasofaring yang ditandai rasa manis di tenggorok dalam satuan
menit yang diukur menggunakan stopwatch. Waktu transpor mukosilia
dibagi menjadi waktu transpor mukosilia sebelum perlakuan yang diukur
sebelum pemberian terapi dan waktu transpor mukosilia sesudah perlakuan
yang diukur 7 hari setelah pemberian terapi.

s.

Selisih waktu transpor mukosilia adalah selisih waktu transpor mukosilia


sebelum dan sesudah perlakuan.

4.6 Bahan dan alat penelitian


Pada penelitian ini digunakan bahan berupa tablet sakarin merk Equal
berukuran diameter 1 mm, sedangkan alat yang digunakan berupa:

a.

Formulir kuesioner penelitian.

b.

Larutan NaCl 0,9%.

c.

Syringe 10 ml.

d.

Alat-alat pemeriksaan THT rutin.

e.

Forsep aligator.

f.

Stopwatch.

4.7 Prosedur kerja


a.

Pasien rinosinusitis akut yang berobat ke RSUP Sanglah, Denpasar yang


memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi serta bersedia mengikuti prosedur
penelitian dengan menandatangani formulir informed concent dimasukkan
sebagai sampel penelitian.

b.

Kemudian dilakukan pendataan sampel berdasarkan nama, jenis kelamin,


umur, berat badan, tinggi badan, keluhan dan riwayat pengobatan.

c.

Selanjutnya sampel dibagi menjadi dua kelompok yaitu Kelompok


Perlakuan yang mendapatkan terapi standar berupa antibiotika, dekongestan,
mukolitik dan larutan pencuci hidung salin isotonis serta Kelompok Kontrol
yang hanya mendapat terapi standar. Penentuan kelompok dilakukan secara
random dengan menggunakan teknik randomisasi blok.

d.

Pada Kelompok Perlakuan maupun Kelompok Kontrol dilakukan uji sakarin


sebelum perlakuan. Pasien diminta untuk berkumur dengan air putih
kemudian duduk di kursi periksa dalam posisi badan tegak dan kepala agak

menunduk kurang lebih 10, bernapas melalui hidung dengan mulut


tertutup, tanpa bersin, mengendus, makan maupun minum.
e.

Uji sakarin dilakukan dengan meletakkan tablet sakarin berukuran diameter


1 mm pada 1 cm di belakang ujung anterior konka inferior kavum nasi
menggunakan forsep aligator. Selanjutnya pasien diminta untuk menelan
ludah setiap 1 menit sampai terasa manis di tenggorokan. Dengan
menggunakan stopwatch ditentukan lamanya waktu mulai saat sakarin
diletakkan di mukosa hidung sampai dirasakan manis pertama kali di
tenggorok yang disebut waktu transpor mukosilia sebelum perlakuan dan
kemudian waktu dicatat dalam satuan menit.

f.

Setelah pengukuran selesai dilakukan pencucian hidung menggunakan


larutan

fisiologis

dan

pasien

berkumur

dengan

air

putih

untuk

menghilangkan efek tablet sakarin yang tersisa.


g.

Selanjutnya pada Kelompok Perlakuan diberikan terapi standar dan larutan


pencuci hidung salin isotonis yang dialirkan ke kavum nasi menggunakan
syringe dengan dosis 10 ml sebanyak 3 kali sehari selama 7 hari sedangkan
pada Kelompok Kontrol diberikan terapi standar yang terdiri dari antibiotika
ciprofloxacin 2 x 500 mg, dekongestan pseudoephedrin 60 mg/triprolidin
HCl 2,5 mg 3 x 1 tablet dan mukolitik ambroxol 3 x 30 mg selama 7 hari.

h.

Setelah pengobatan selama 7 hari, dilakukan uji sakarin sesudah perlakuan


pada Kelompok Perlakuan maupun Kelompok Kontrol dan didapatkan
waktu transpor mukosilia sesudah perlakuan dalam satuan menit.

i.

Kemudian waktu transpor mukosilia sebelum perlakuan pada ke dua


kelompok dibandingkan dengan waktu transpor mukosilia sesudah
perlakuan dan selanjutnya dilakukan analisis secara statistik.

4.8

Alur Penelitian
Rinosinusitis akut
Rinosinusitis akut di poliklinik THT
RSUP Sanglah, Denpasar
Kriteria eksklusi:
Tumor sinonasal
Polip hidung
Gangguan pengecap
Dekongestan
Operasi sinonasal
Hipertensi

Kriteria inklusi:
Usia 15-60 tahun
Kooperatif

Sampel penelitian
(consecutive sampling)
Informed concent
Pengambilan data:
Demografi, Keluhan, Riwayat pengobatan
Random (randomisasi blok)

Uji sakarin sebelum perlakuan


(waktu transpor mukosilia sebelum)

Kelompok Perlakuan:
Terapi standar (antibiotika,
dekongestan oral, mukolitik)
Larutan pencuci hidung salin
isotonis

7 hari terapi

Uji sakarin sebelum perlakuan


(waktu transpor mukosilia sebelum)

Kelompok Kontrol:
Terapi standar (antibiotika,
dekongestan oral, mukolitik)
7 hari terapi

Uji sakarin sesudah perlakuan


(waktu transpor mukosilia sesudah)

Uji sakarin sesudah perlakuan


(waktu transpor mukosilia sesudah)

Gambar 4.2
Bagan alur penelitian

4.9 Analisis Data


Hasil penelitian disajikan secara deskriptif, yaitu dalam bentuk persentase
untuk data umur, jenis kelamin dan indeks massa tubuh. Uji normalitas data waktu
transpor mukosilia sebelum perlakuan pada Kelompok Perlakuan dan Kelompok
Kontrol dilakukan dengan uji Shaphiro-Wilk.
Data waktu transpor mukosilia sebelum perlakuan pada ke dua kelompok
berdistribusi tidak normal, sehingga dilakukan analisis terhadap nilai selisih waktu
transpor mukosilia sebelum dan sesudah perlakuan pada ke dua kelompok.
Normalitas data selisih waktu transpor mukosilia sebelum dan sesudah perlakuan
pada ke dua kelompok menunjukkan data berdistribusi tidak normal, sehingga
selanjutnya uji perbandingan dilakukan menggunakan uji Mann-Whitney.

BAB V
HASIL PENELITIAN

5.1 Karakteristik Subjek Berdasarkan Kelompok Perlakuan


Pada penelitian ini terdapat 40 orang sampel yang memenuhi kriteria inklusi
dengan karakteristik seperti yang ditampilkan pada Tabel 5.1.
Tabel 5.1
Karakteristik subjek berdasarkan kelompok perlakuan
Karakteristik
Umur, rerata SD
15-25 tahun
26-35 tahun
36-45 tahun
46-55 tahun
Jenis kelamin
Laki-laki
Perempuan
Indeks massa tubuh, rerata SD
Underweight
Normal
Overweight
Obese
Obese 2
Status merokok
Merokok
Tidak merokok
a
: Hasil independent T-test
b
: Hasil Pearson Chi Square test
*
: Bermakna secara statistik

Kelompok
Perlakuan
Kontrol
(n=20)
(n=20)
33,5 11,8
6(30,0)
4(20,0)
6(30,0)
4(20,0)

30,3 8,8
5(25,0)
10(50,0)
4(20,0)
1(5,0)

15(75,0)
5(25,0)
23,8 3,8
2(10,0)
6(30,0)
5(25,0)
6(30,0)
1(5,0)

8(40,0)
12(60,0)
23,4 4,3
1(5,0)
9(45,0)
2(10,0)
7(35,0)
1(5,0)

5(25,0)
15(75,0)

2(10,0)
18(90,0)

nilai p
0,338a
0,182b

0,025b*
0,748a
0,682b

0,212b

Umur subjek dalam penelitian ini dibagi menjadi empat kategori dengan
frekuensi terbanyak pada Kelompok Perlakuan adalah umur 15-25 tahun dan 36-

45 tahun yaitu masing-masing sebesar 30%, sedangkan pada Kelompok Kontrol


frekuensi terbanyak adalah umur 26-35 tahun, yaitu sebesar 50%. Terdapat
perbedaan rerata umur antara Kelompok Perlakuan dengan Kelompok Kontrol,
dimana rerata umur pada Kelompok Perlakuan adalah 33,5 11,8 menit dan
rerata umur pada Kelompok Kontrol adalah 30,3 8,8 menit. Perbedaan rerata
umur tersebut tidak bermakna secara statistik dengan nilai p = 0,338.
Sebanyak 75% subjek pada Kelompok Perlakuan berjenis kelamin laki-laki
sedangkan pada Kelompok Kontrol sebanyak 60% subjek berjenis kelamin
perempuan. Terdapat perbedaan distribusi proporsi jenis kelamin yang bermakna
secara statistik dengan nilai p = 0,025.
Indeks massa tubuh subjek penelitian sebagian besar adalah normal yaitu
sebesar 30% pada Kelompok Perlakuan dan 45% pada Kelompok Kontrol. Rerata
indeks massa tubuh pada Kelompok Perlakuan adalah 23,8 3,8 kg/m2 sedangkan
pada Kelompok Kontrol adalah 23,4 4,3 kg/m2. Perbedaan rerata indeks massa
tubuh tersebut tidak bermakna secara statistik dengan nilai p = 0,748.
Subjek yang merokok pada Kelompok Perlakuan sebesar 5% dan pada
Kelompok Kontrol sebanyak 2% dan perbedaan distribusi proporsi status
merokok tersebut tidak bermakna secara statistik dengan nilai p = 0,212.

5.2 Gejala Klinis Subjek Berdasarkan Kelompok Perlakuan


Gejala klinis subjek berdasarkan kelompok perlakuan diuraikan pada Tabel
5.2 di bawah ini.

Tabel 5.2
Gejala klinis subjek berdasarkan kelompok perlakuan
Gejala klinis

Kelompok
Perlakuan
(n=20)

Kontrol
(n=20)

Hidung tersumbat
Hidung kanan
2(10,0)
3(15,0)
Hidung kiri
3(15,0)
3(15,0)
Keduanya
15(75,0)
14(70,0)
Tidak tersumbat
0(0)
0(0)
Pilek
Ya
20(100,0)
20(100,0)
Tidak
0(0)
0(0,0)
Nyeri pipi
Ya
6(30,0)
4(20,0)
Tidak
14(70,0)
16(80,0)
Sakit kepala
Ya
15(75,0)
15(75,0)
Tidak
5(25,0)
5(25,0)
Gangguan penghidu
Ya
7(35,0)
9(45,0)
Tidak
13(65,0)
11(55,0)
Demam
Ya
5(25,0)
2(10,0)
Tidak
15(75,0)
18(90,0)
Napas berbau
Ya
4(20,0)
3(15,0)
Tidak
16(80,0)
17(85,0)
Dahak di tenggorok
Ya
17(85,0)
16(80,0)
Tidak
3(15,0)
4(20,0)
Keluhan lain
Batuk
5(25,0)
3(15,0)
Nyeri telinga
1(5,0)
0(0)
Penuh di telinga
1(5,0)
2(10,0)
Tidak ada
13(65,0)
15(75,0)
a
: Hasil Pearson Chi Square test
* : No statistics are computed because pilek is a constant

nilai p

0,889a

0,465a
1,000a
0,519a
0,212a
0,677a
0,677a

0,577a

Sebagian besar subjek mengeluh ke dua hidung tersumbat yaitu sebanyak


75% pada Kelompok Perlakuan dan 70% pada Kelompok Kontrol. Gejala lain

yang dikeluhkan oleh pasien meliputi: pilek pada semua subjek ke dua kelompok
(100%), nyeri pipi sebanyak 30% pada Kelompok Perlakuan dan 20% pada
Kelompok Kontrol, sakit kepala sebanyak 75% pada ke dua kelompok, gangguan
penghidu sebanyak 35% pada Kelompok Perlakuan dan 45% pada Kelompok
Kontrol, demam sebanyak 25% pada Kelompok Perlakuan dan 10% pada
Kelompok Kontrol, napas berbau sebanyak 20% pada Kelompok Perlakuan dan
15% pada Kelompok Kontrol, dahak di tenggorok sebanyak 85% pada Kelompok
Perlakuan dan 80% pada Kelompok Kontrol.
Keluhan lain yang dirasakan subjek adalah batuk sebanyak 25% pada
Kelompok Perlakuan dan 15% pada Kelompok Kontrol, nyeri telinga sebanyak
5% pada Kelompok Perlakuan, rasa penuh pada telinga sebanyak 5% pada
Kelompok Perlakuan dan 10% pada Kelompok Kontrol.

5.3 Keadaan Septum Nasi Subjek Berdasarkan Kelompok Perlakuan


Sebanyak 60% subjek pada Kelompok Perlakuan dan 70% pada Kelompok
Kontrol tidak mengalami deviasi septum nasi seperti ditampilkan pada Tabel 5.3.
Tabel 5.3
Keadaan septum nasi subjek berdasarkan kelompok perlakuan
Kelompok
Septum nasi

Perlakuan (n=20)

Deviasi septum
Deviasi ke kiri
3(15,0)
Deviasi ke kanan
2(10,0)
Bentuk S
3(15,0)
Tidak deviasi
12(60,0)
a
: Hasil Pearson Chi Square test

Kontrol (n=20)
4(20,0)
2(10,0)
0(0)
14(70,0)

nilai p

0,348a

5.4 Perbedaan Rerata Waktu Transpor Mukosilia Sebelum dan Sesudah


Perlakuan Pada Masing-Masing Kelompok Perlakuan
Uji normalitas data waktu transpor mukosilia sebelum perlakuan pada
Kelompok Perlakuan dan Kelompok Kontrol menunjukkan data berdistribusi
normal sehingga uji perbandingan dilakukan dengan uji t-tidak berpasangan. Pada
Tabel 5.4 di bawah akan diuraikan hasil analisis perbedaan rerata waktu transpor
mukosilia sebelum dan sesudah perlakuan pada masing-masing Kelompok
Perlakuan.
Tabel 5.4
Hasil analisis perbedaan rerata waktu transpor mukosilia sebelum dan sesudah
perlakuan pada masing-masing Kelompok Perlakuan
Kelompok
Variabel

Beda
Rerata

95% CI

nilai p

Perlakuan
(n=20)

Kontrol
(n=20)

Waktu transpor
mukosilia sebelum
perlakuan

35,5 10,7

29,2 7,7

6,3

0,366-12,290 0,038a

Waktu transpor
mukosilia sesudah
perlakuan

22,9 8,7

18,0 5,6

5,0

0,249-9,703

0,040a

: Hasil independent T-test

Rerata waktu transpor mukosila sebelum perlakuan pada Kelompok


Perlakuan adalah 35,5 10,7 menit dan pada Kelompok Kontrol adalah 29,2 7,7
menit, seperti ditampilkan pada Gambar 5.1A. Beda rerata waktu transpor
mukosilia sebelum perlakuan pada Kelompok Perlakuan dan Kelompok Kontrol

adalah 6,3 menit dengan asumsi 95% confidence interval sebesar 0,366-12,290
adalah berbeda bermakna (nilai p=0,038).
Rerata waktu transpor mukosilar sesudah perlakuan pada Kelompok
Perlakuan adalah 22,9 8,7 menit dan 18,0 5,6 menit pada Kelompok Kontrol,
seperti ditampilkan pada Gambar 5.1B. Beda rerata waktu transpor mukosilia
sesudah perlakuan pada Kelompok Perlakuan dan Kelompok Kontrol adalah 5,0
menit dengan asumsi 95% confidence interval sebesar 0,249-9,703 adalah berbeda
bermakna (nilai p=0,040).

Gambar 5.1

Grafik boxplot waktu transpor mukosilia sebelum perlakuan (A)


dan sesudah perlakuan (B) pada masing-masing kelompok perlakuan

Nilai rerata waktu transpor mukosilia sebelum perlakuan pada Kelompok


Perlakuan dan Kelompok Kontrol berbeda secara statistik dengan nilai p=0,038
sehingga uji perbandingan dilakukan terhadap selisih waktu transpor mukosilia
sebelum dan sesudah perlakuan pada masing-masing kelompok perlakuan.

5.5 Perbandingan Selisih Waktu Transpor Mukosilia Sebelum dan Sesudah


Perlakuan Berdasarkan Kelompok Perlakuan
Uji normalitas data selisih waktu transpor mukosilia sebelum dan sesudah
perlakuan pada Kelompok Perlakuan dan Kelompok Kontrol tidak berdistribusi
normal, maka selanjutnya dilakukan uji non parametrik Mann-Whitney dengan
hasil seperti yang dipaparkan pada Tabel 5.5.
Tabel 5.5
Perbandingan selisih waktu transpor mukosilia sebelum dan sesudah
perlakuan berdasarkan kelompok perlakuan
Variabel
Selisih waktu transpor
mukosilia sebelum-sesudah
perlakuan, median (IQR)
a
: Hasil Mann-Whitney test

Kelompok

nilai p

Perlakuan (n=20)

Kontrol (n=20)

11,0(7,5)

9,4(5,3)

0,499a

Nilai median selisih waktu transpor mukosilia hidung sebelum dan sesudah
perlakuan pada Kelompok Perlakuan adalah 11,0 7,5 menit dan 9,4 5,3 menit
pada Kelompok Kontrol. Perbedaan tersebut secara statistik tidak bermakna
dengan nilai p = 0,499. Hasil tersebut dapat dilihat pada Gambar 5.2 di bawah ini.

Gambar 5.2
Grafik garis selisih waktu transpor mukosilia sebelum dan sesudah
perlakuan pada Kelompok Perlakuan dan Kelompok Kontrol

BAB VI
PEMBAHASAN

6.1 Karakteristik Subjek Berdasarkan Kelompok Perlakuan


Sebanyak empat puluh subjek yang memenuhi kriteria inklusi penelitian ini
memiliki kisaran usia antara 16 sampai 52 tahun dengan rerata 33,5 11,8 tahun
pada Kelompok Perlakuan dan 30,3 8,8 tahun pada Kelompok Kontrol. Pada
penelitian ini rentang usia yang dipilih adalah usia 15 tahun sampai 55 tahun yaitu
usia remaja sampai dewasa muda yang tingkat kooperatifnya baik serta untuk
meminimalisir bias oleh karena umur. Sakakura dkk. (1983) menyatakan tidak
adanya perbedaan waktu transpor mukosilia hidung pada subjek yang berusia < 60
tahun, demikian pula penelitian oleh Homer dkk. (2000) yang menyatakan tidak
ada perbedaan yang bermakna antara usia dengan waktu transpor mukosilia
hidung.
Sebagian besar subjek pada Kelompok Perlakuan berjenis kelamin laki-laki
(75%) sedangkan pada Kelompok Kontrol berjenis kelamin perempuan (60%).
Beberapa peneliti (Homer dkk., 2000; Ho dkk., 2001) menyatakan tidak ada
perbedaan yang signifikan mengenai jenis kelamin terhadap waktu transpor
mukosilia hidung.
Rerata indeks massa tubuh pada Kelompok Perlakuan dan Kelompok Kontrol
hampir sama yaitu sebesar 23,8 3,8 kg/m2dan 23,4 4,3 kg/m2. Valdez dan
Cruz (2009) menyatakan adanya perlambatan waktu transpor mukosilia pada
individu dengan indeks massa tubuh abnormal. Pada individu obese cenderung

bernapas lewat mulut sehingga membuat rongga hidung terkadang tidak aktif
sedangkan pada individu underweight, buruknya nutrisi akan mengganggu
imunitas sehingga rentan terkena infeksi saluran napas atas.
Sebanyak 25% subjek adalah perokok pada Kelompok Perlakuan dan 10%
pada Kelompok Kontrol. Penelitian oleh Proenca dkk. (2011) menunjukkan
adanya perlambatan waktu transpor mukosilia yang bermakna pada perokok
dibandingkan dengan bukan perokok. Asap rokok memiliki efek siliostatis
sehingga dapat mengubah sifat viskoelastisitas mukus yang berpengaruh terhadap
sistem mukosilia hidung (Corbo, 1989).

6.2 Gejala Klinis Subjek Berdasarkan Kelompok Perlakuan


Gejala klinis yang ditunjukkan oleh subjek sebagian besar adalah pilek,
hidung tersumbat, sakit kepala dan adanya dahak yang mengalir di tenggorok. Hal
ini sesuai dengan kriteria European Position Paper on Rhinosinusitis and Nasal
Polyps (EPOS) tahun 2007 yang menyatakan diagnosis rinosinusitis meliputi dua
atau lebih gejala seperti: hidung tersumbat, sekret hidung (anterior/posterior
nasal drip), nyeri wajah dan gangguan penghidu (Fokkens dkk., 2007).

6.3 Keadaan Septum Nasi Subjek Berdasarkan Kelompok Perlakuan


Sebagian besar subjek tidak mengalami deviasi septum, yaitu sebanyak 60%
pada Kelompok Perlakuan dan 70% pada Kelompok Kontrol. Penelitian oleh
Mariappan dkk. (2014) menyatakan bahwa deviasi septum nasi memperlambat
waktu transpor mukosilia hidung pada sisi konkaf kavum nasi. Hal ini diperkuat

oleh temuan histologi yang menyatakan mukosa septum sisi konkaf mengandung
banyak infiltrat inflamasi dan sedikit kelenjar mukosa dibandingkan mukosa
septum sisi konveks.

6.4 Perbedaan Rerata Waktu Transpor Mukosilia Sebelum dan Sesudah


Perlakuan Pada Masing-Masing Kelompok Perlakuan
Rerata waktu transpor mukosila sebelum perlakuan pada Kelompok
Perlakuan adalah 35,5 10,7 menit dan 29,2 7,7 menit pada Kelompok Kontrol,
sedangkan rerata waktu transpor mukosila sesudah perlakuan pada Kelompok
Perlakuan adalah 22,9 8,7 menit dan 18,0 5,6 menit pada Kelompok Kontrol.
Nilai rerata waktu transpor mukosilia pada rinosinusitis akut dilaporkan
bervariasi. Inanli dkk. (2002) mendapatkan nilai rerata waktu transpor mukosilia
pada kelompok rinosinusitis akut sebelum diberikan terapi oxymetazoline topikal
sebesar 24,72 6,16 menit sedangkan pada kelompok rinosinusitis akut sebelum
diberikan terapi larutan cuci hidung salin isotonis didapatkan rerata waktu
transpor mukosilia sebesar 16,84 9,56 menit. Ural dkk. (2009) melaporkan nilai
rerata waktu transpor mukosilia pada kelompok rinosinusitis akut sebelum
diberikan terapi larutan cuci hidung salin isotonis adalah 25 menit sedangkan pada
kelompok rinosinusitis akut sebelum diberikan terapi larutan cuci hidung salin
hipertonis adalah 30,08 menit. Nilai rerata waktu transpor mukosilia pada
rinosinusitis akut sesudah pemberian larutan cuci hidung salin isotonis
berdasarkan penelitian Ural dkk. (2009) adalah 17,75 menit dan 15,07 9,20
menit pada penelitian Inanli dkk. (2002).

6.5 Perbandingan Selisih Waktu Transpor Mukosilia Sebelum dan Sesudah


Perlakuan Berdasarkan Kelompok Perlakuan
Nilai median selisih waktu transpor mukosilia hidung sebelum dan sesudah
pemberian terapi pada Kelompok Perlakuan adalah 11,0 7,5 menit dan 9,4 5,3
menit pada Kelompok Kontrol dengan nilai p =0,499. Hasil penelitian tersebut
menunjukkan tidak ada perbedaan waktu transpor mukosilia hidung yang
bermakna antara rinosinusitis akut yang mendapat terapi antibiotika, dekongestan,
mukolitik dan larutan cuci hidung salin isotonis dengan rinosinusitis akut yang
mendapat terapi antibiotika, dekongestan dan mukolitik saja.
Penelitian mengenai efektivitas larutan cuci hidung salin isotonis pada
rinosinusitis akut sangat terbatas dan dengan hasil yang bervariasi. Inanli dkk.
(2002) melakukan penelitian pada 60 pasien rinosinusitis akut dengan rerata umur
27 tahun (kisaran usia: 12-75 tahun) dan 10 orang sehat dengan rerata umur 20
tahun (kisaran umur: 15-32 tahun). Pasien rinosinusitis akut dibagi menjadi 5
kelompok yaitu: Kelompok I (n=12) yang mendapat terapi antibiotika oral
amoxicillin 500 mg/clavulanic acid 125 mg 3 x sehari, Kelompok II (n=14) yang
mendapat antibiotika oral dan fluticasone propionate 1x2 semprot pada masingmasing kavum nasi, Kelompok III (n=9) yang mendapat antibiotika oral dan
oxymetazoline 0,05% 3x1 semprot pada masing-masing kavum nasi, Kelompok
IV (n=12) yang mendapat antibiotika oral dan larutan cuci hidung NaCl 3% 3x10
ml sehari dan Kelompok V (n=13) yang mendapat antibiotika oral dan larutan
cuci hidung salin isotonis 3x10 ml sehari. Uji sakarin dilakukan sebelum

pemberian terapi, 20 menit sesudah pemberian terapi serta minggu pertama, ke


dua dan ke tiga sesudah pemberian terapi.
Rerata waktu transpor mukosilia pada rinosinusitis akut sebelum terapi pada
Kelompok I adalah 17,16 8,48 menit, Kelompok II adalah 11 4,70 menit,
Kelompok III adalah 24,72 6,16 menit, Kelompok IV adalah 19,45 9,35
menit, Kelompok V adalah 16,84 9,56 menit. Pada kelompok yang mendapat
larutan cuci hidung salin isotonis tidak menunjukkan perbaikan waktu tranpsor
mukosilia yang bermakna secara statistik antara sebelum terapi yaitu sebesar
16,84 9,56 menit dan 20 menit sesudah pemberian terapi yaitu sebesar 15,07
9,20 menit. Waktu transpor mukosilia menunjukkan perbaikan yang bermakna
secara statistik antara sebelum terapi dan tiga minggu sesudah terapi ditunjukkan
pada kelompok yang mendapat larutan cuci hidung salin hipertonis 3%, namun
perbaikan waktu transpor mukosilia tersebut tidak bermakna secara signifikan jika
dibandingkan dengan perbaikan waktu transpor mukosilia pada kelompok yang
mendapat terapi antibiotika oral.
Penggunaan larutan cuci hidung dengan salin hipertonis telah banyak
dilaporkan dan terbukti efektif dapat mempercepat waktu transpor mukosilia
dibandingkan dengan larutan salin isotonis. Hal ini dikemukakan oleh Talbot dkk.
(1997) yang menyatakan perbaikan waktu transpor mukosilia yang bermakna
secara statistik setelah pemberian larutan cuci hidung salin hipertonis 3%
dibandingkan kelompok yang mendapat larutan cuci hidung salin isotonis pada
orang sehat. Hasil tersebut dikuatkan oleh penelitian Homer dkk. (2000) yang
menyatakan perbaikan waktu transpor mukosilia yang berbeda bermakna pada

orang sehat yang diberikan larutan cuci hidung salin hipertonis 5% dibandingkan
pemberian larutan cuci hidung salin isotonis.
Larutan salin hipertonis merupakan larutan alkali ringan. Suasana alkali
menyebabkan palut lendir berada dalam fase sol sehingga sekret bersifat kurang
viskus. Pemberian larutan salin hipertonis menyebabkan keadaan hiperosmolar di
saluran pernapasan sehingga terjadi pelepasan kalsium dan prostaglandin E2 dari
intraseluler, peningkatan availabilitas adenosine triphosphate pada aksonema silia
dan peningkatan ciliary beat frequency (Daviskas dkk., 1996; Shoseyov dkk.,
1998; Garavello dkk., 2003). Larutan hipertonis juga memiliki efek mukolitik
pada konsentrasi NaCl 7% (Boek dkk., 1999), efek antibakteri (Shoseyov dkk.,
1998) serta dapat mengurangi odema mukosa (Lee dkk., 2003).
Ural dkk. (2009) melakukan penelitian pada 12 pasien rinosinusitis akut yang
mendapat terapi larutan cuci hidung salin isotonis 4 ml yang disemprotkan pada
masing-masing kavum nasi menggunakan syringe, sebanyak 2 kali sehari selama
10 hari. Uji sakarin dilakukan sebelum terapi dan setelah 10 hari pemberian terapi.
Rerata waktu transpor mukosilia sebelum pemberian larutan cuci hidung salin
isotonis adalah 25 menit dan sesudah terapi adalah 17,75 menit dengan nilai
p=0,041. Hasil penelitian tersebut menunjukkan perbaikan waktu transpor
mukosilia yang bermakna secara statistik pada rinosinusitis akut yang mendapat
larutan cuci hidung salin isotonis.
Hasil penelitian Ural dkk. (2009) berbeda dengan hasil penelitian ini
dimungkinkan karena pada penelitian Ural dkk. (2009) terapi yang diberikan
hanya larutan cuci hidung salin isotonis tanpa pemberian antibiotika, dekongestan

dan mukolitik. Selain itu, uji sakarin evaluasi dilakukan setelah 10 hari pemberian
terapi. Pada penelitian ini dilakukan pemeriksaan uji sakarin evaluasi setelah 7
hari pemberian terapi berdasarkan pedoman penatalaksanaan rinosinusitis akut
oleh Kelompok Studi Rinologi PERHATI-KL tahun 2007, yaitu: pemberian
antibiotika, dekongestan dan mukolitik selama 7-14 hari (Soetjipto dkk., 2007).
Chodankar dkk. (2014) melakukan penelitian pada 20 pasien rinosinusitis
akut yang dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu: Kelompok I (n=5) mendapat
terapi antibiotika amoxicillin/clavulanic acid 3x sehari dan analgetika ibuprofen
2x400mg, Kelompok II (n=8) mendapat terapi antibiotika, analgetika dan larutan
cuci hidung salin hipertonis, Kelompok III (n=7) mendapat terapi antibiotika,
analgetika dan larutan cuci hidung salin isotonis. Uji sakarin dilakukan sebelum
dan 10 hari sesudah pemberian terapi. Rerata waktu transpor mukosilia pada
rinosinusitis akut sebelum terapi adalah 16,34 1,78 menit. Perbaikan waktu
transpor mukosilia yang bermakna secara statistik ditunjukkan pada kelompok
yang mendapat terapi larutan cuci hidung salin hipertonis dan salin isotonis.
Chodankar dkk. (2014) tidak melakukan analisis lebih lanjut terhadap perbaikan
waktu transpor mukosilia antara kelompok yang mendapat terapi oral tanpa
larutan cuci hidung, kelompok yang mendapat larutan cuci hidung salin hipertonis
maupun salin isotonis.
Hauptman dan Ryan (2007) melakukan penelitian terhadap 80 pasien
rinosinusitis akut maupun kronis yang mendapat larutan cuci hidung salin isotonis
dan hipertonis 3%. Kriteria inklusi pada penelitian ini adalah skor minimal
SNOT-20 sebesar 20. Skor SNOT-20 bekisar antara 0 sampai 100, dengan skor

yang lebih tinggi menunjukkan beratnya gejala. Sebelum uji sakarin dilakukan,
pada masing-masing subjek dilakukan penilaian derajat obstruksi hidung
menggunakan skala Likert dengan skor berkisar 1 sampai 10, dimana skor 1
menunjukkan tidak ada gangguan sedangkan skor 10 menunjukkan gejala yang
sangat mengganggu. Hasil penelitian ini menunjukkan perbaikan waktu transpor
mukosilia dan keluhan obstruksi hidung yang bermakna secara statistik pada
kelompok yang mendapat larutan cuci hidung salin isotonis maupun hipertonis.
Karakteristik umur dilaporkan memiliki pengaruh yang bervariasi terhadap
waktu transpor mukosilia. Meskipun beberapa peneliti menyatakan tidak ada
pengaruh faktor umur terhadap waktu transpor mukosilia, namun Kao dkk. (1994)
dan Agius dkk. (1998) menyatakan bahwa peningkatan umur berpengaruh
terhadap pemanjangan waktu transpor mukosilia.
Sebagian besar peneliti melaporkan bahwa jenis kelamin tidak mempengaruhi
waktu transpor mukosilia, namun penelitian oleh Valia dkk. (2008) menyatakan
bahwa pada laki-laki terjadi pemanjangan rerata waktu transpor mukosilia
dibandingkan dengan perempuan.
Larutan cuci hidung salin isotonis dilaporkan memiliki efek terhadap
perbaikan waktu transpor mukosilia pada rinosinusitis kronis yang lebih nyata
dibandingkan pada rinosinusitis akut. Pada rinosinusitis akut terjadi perubahan
viskoelastisitas sekret, sedangkan pada rinosinusitis kronis telah terjadi kerusakan
epitel dan hilangnya struktur silia sehingga terjadi gangguan ciliary beat
frequency (Georgitis, 1994). Pemberian larutan cuci hidung salin isotonis pada
rinosinusitis akut diharapkan dapat memperbaiki aktivitas mukosilia hidung

secara langsung dengan cara membersihkan sekret dan bahan iritan yang masuk
melalui udara pernapasan, menjaga kelembaban, mengurangi odema mukosa dan
mediator inflamasi (Papsin dan McTavish, 2003; Ural dkk., 2009), sedangkan
pada rinosinusitis kronis, larutan cuci hidung salin isotonis dapat memperbaiki
aktivitas mukosilia dengan cara meningkatkan ciliary beat frequency.
Penggunaan larutan cuci hidung dengan salin isotonis pada rinosinusitis akut
masih banyak diperdebatkan. Pada penelitian ini tidak terjadi perbaikan waktu
transpor mukosilia yang bermakna dengan penggunaan larutan cuci hidung salin
isotonis pada rinosinusitis akut. Pemberian larutan cuci hidung nampaknya lebih
menunjukkan hasil yang bermakna terhadap perbaikan waktu transpor mukosilia
melalui peningkatan ciliary beat frequency (Ural dkk., 2009).
Keterbatasan penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Tidak dilakukannya
pembagian subjek berdasarkan derajat beratnya penyakit yang dapat dihitung
menggunakan skor SNOT-20 maupun derajat beratnya obstruksi hidung yang
dapat diukur menggunakan skala Likert maupun peak nasal inspiration flow, 2.
Tidak dilakukannya metode matching terhadap variabel umur, jenis kelamin dan
waktu transpor mukosilia sehingga distribusi variabel tersebut pada ke dua
kelompok perlakuan tidak merata.

BAB VII
SIMPULAN DAN SARAN

7.1 Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa penambahan
larutan cuci hidung salin isotonis pada rinosinusitis akut memiliki efek waktu
transpor mukosilia yang sama dengan pemberian antibiotika, dekongestan dan
mukolitik tanpa larutan cuci hidung salin isotonis.

7.2 Saran
1. Sebaiknya dilakukan pembagian subjek berdasarkan derajat beratnya penyakit
yang diukur bersadarkan skor SNOT-20 dan derajat obstruksi hidung yang
dapat diukur dengan skala Likert maupun peak nasal inspiration flow.
2. Sebaiknya dilakukan metode matching terhadap variabel umur, jenis kelamin
dan waktu transpor mukosilia sehingga variabel tersebut terdistribusi secara
merata pada kedua kelompok perlakuan.
3. Sebaiknya dilakukan penghisapan sekret hidung sebelum pemeriksaan uji
sakarin untuk mengurangi kemungkinan subjek memiliki sekret hidung yang
sangat kental.

DAFTAR PUSTAKA

Achiles, N. and Mosges, R. 2013. Nasal Saline irrigations for The Symptoms
of Acute and Chronic Rhinosinusitis [abstract]. Curr Allergy Asthma Rep 13(2)
Agius, A.M., Smallman, L.A., Pahor, A.L. 1998. Age, Smoking and Nasal
Ciliary Beat Frequency. Clin Otolaryngol 23: 227-30.
Ballenger, J.J. 2003. Anatomy and Physiology of The Nose and Paranasal
Sinuses. In : Snow, J.B. and Ballenger, J.J., editors. Otorhinolaryngology Head
and Neck Surgery. 16th. Ed. Spanyol: BC Decker Inc. p. 547-60.
Benninger, M.S. and Gottschall, J. 2006. Rhinosinusitis: Clinical Presentation
and Diagnosis. In: Brook, I., editor. Sinusitis From Microbiology to Management.
New York: Taylor & Francis Group. p. 39-52.
Boek, W.M., Keles, N., Graamans, K., Natzijl, H., Rijk, P. 1999. Physiologic
and Hyper-tonic Saline Solutions Impair Ciliary Activity in Vitro. Laryngoscope
109: 396-9.
Busquets, J.M. and Hwang, P.H. 2006. Nonpolypoid Rhinosinusitis:
Classification, Diagnosis, and Treatment. In: Bailey B.J., and Johnson, J.T.,
editors. Head & Neck Surgery-Otolaryngology. 4th. Ed. Philadephia: Lippincott
Williams & Wilkins. p. 405-16.
Chodankar, S., Dsa, C., Tiwari, M., Goel, H.C., Andhale-Goa, D. 2014.
Imapct of Isotonic and Hypertonic Saline on Mucociliary Activity in Various
Nasal Pathologies. National Journal of Otorhinolaringology and Head & Neck
Surgery 2(11): 9-11.
Conrad, D.A.2006. Medical Management of Acute Sinusitis. In: Brook, I.,
editor. Sinusitis from Microbiology to Management. New York: Taylor & Francis
Group. p. 203-17.
Corbo, G.M. 1989. Measurement of Nasal Mucociliary Clearance. Archieves
of Disease in Childhood 64:546-50.
Daviskas, E., Anderson, S.D., Gonda, I., Eberl, S. Meikle, S., Seale, J.P.,
Bautovich, G. 1996. Inhalation of Hypertonic Saline Aerosol Enhance in
Asthmatic and Healthy Subjects. Eur Resp J 9: 725-32.
Devaiah, A.K. 2004. Adult Chronic Rhinosinusitis: Diagnosis and Dilemmas.
Otolaryngol Clin N Am 37: 243-52.
Dhillon, R.S. and East, C.A. 1999. Ear, Nose and Throat and Head and Neck
Surgery. Philadelphia: Churchill Livingstone. p. 30-5.

File, T.M. 2006. Sinusitis : Epidemiology. In : Brook, I., editor. Sinusitis from
Microbiology to Management. New York: Taylor & Francis Group. p. 1-14.
Fokkens, W., Lund, V., Mullol, J., Bachert, C., Cohen, N., Cobo, R.,
Desrosiers, M., Hellings, P., Holmstorm, M., Hytonen, M., Jones, N., Kalogjera,
L. 2007. European Position Paper on Rhinosinusitis and Nasal Polyps (EPOS),
[cited 2014 Oct 1]. Available from: URL: [Link] [Link].
Garavello, W., Romagnoli, M. Sordo, L., Gaini, R.M., Di Berardino, C.,
Angrisano, A. 2003. Hypersaline Nasal Irrigation in Children With Symptomatic
Seasonal Allergic Rhinitis: A Randomized Study. Pediatr Allergy Immunol 14(2):
140-3.
Georgitis, J.W. 1994. Nasal Hyperthermia and Simple Irrigation for Perrenial
Rhinitis. Changes in Inflamatory Mediators. Chest 106: 1487-92.
Hauptman, G. and Ryan, MW. 2007. The Effect of Saline Solutions on Nasal
Patency and Mucociliary Clearance in Rhinosinusitis Patients. OtolaryngologyHead and Neck Surgery 137(5): 815-21.
Healtley, D.G., McConnell, K.E., Kille, T.L., Leverson, G.I. 2001. Nasal
Irrigation for The Alleviation of Sinonasal Symptoms. Otolaryngol Head and
Neck Surgery 125(1): 44-8.
Ho, H.C., Chan, K.N., Hu, W.H., Kan, W.K., Zheng, L, Tipoe, G.L., Sun, J.,
Leung, R., Tsang, K.W. 2001. The Effect of Aging on Nasal Mucociliary
Clearance, Beat Frequency and Ultrastructure of Respiratory Cilia. Am J Respir
Crit Care Med 163: 983-8.
Homer, J., England, R., Harwood, G., Stafford, N. 2000. The Effect of pH of
Douching Solution on Mucociliary Clearance. Clin Otolaryngol 24: 312-3.
Inanli, S., Ozturk, O., Korkmaz, M., Tutkun, A., Batman, C. 2002. The
Effects of Topical Agents of Fluticasone Propionate, Oxymetazoline, and 3% and
0,9% Sodium Chloride Solutions on Mucociliary Clearance in The Therapy of
Acute Bacterial Rhinosinusitis In Vivo. Laryngoscope 112: 320-5.
Jackman, A.H. and Kennedy, D.W. 2006. Pathophysiology of Sinusitis. In:
Brook, I., editor. Sinusitis from Microbiology to Management. New York: Taylor
& Francis Group. p. 109-29.
Kao, C.H., Jiang, R.S., wang, S.J., Yeh, S.H. 1994. Influence of Age, Gender
and ethnicity on Nasal Mucociliary Clearance Function. Clin Nucl Med 19: 813-6.
Kassel, J.C., King, D., Spurling, G.K. 2010. Saline Nasal Irrigation for Acute
Upper Respiratory Tract Infections [abstract]. Cochrane Database Syst Rev 17(3)

Kim, C.H., Song, M.H., Young, E.A. Lee, J.G., Yoon, J.H. 2005. Effect of
Hypo-, Iso- and Hypertonic Saline Irrigation on Secretory Mucins and
Morphology of Cultured Human Nasal Epithelial Cells. Acta Otolaryngol 125:
1296-300.
Krouse, J.H. and Stachler, R.J. 2006. Anatomy and Physiology of the
Paranasal Sinuses. In: Brook, I., editor. Sinusitis from Microbiology to
Management. New York: Taylor & Francis Group. p. 95-108.
Lee, S.H., Song, J.S., Lee, S.H., Hwang, S.J., Lee, H.M. 2003. Effect of
Hypertonic Seawater (Sinomarin) on Mucociliary clearance in normal subjects. J
Rhinol 10(1,2): 19-22.
Levine. H.L. 2005. Diagnosis and Management of Rhinosinusitis. In: Levine,
H.L. and Clemente, M.P., editors. Sinus Surgery Endoscopic and Microscopic
Approaches. New York: Thieme. p. 90-9.
Mariappan, R.G., Dhanalakshmi, M., Mathaikutty, D.M., Shanmugam, R.,
Shanmugam, U., Swaminathan, B. et al. [Link]-Pathological Correlation
and the Effects of Septal Surgery on Nasal Mucociliary Clearance. Sch. J. App.
Med. Sci 2(5C):1691-5.
Metson, R.B. 2005. The Harvard Medical School Guide to Healing Your
Sinuses. New York: McGraw-Hill. p. 3-33.
Mulyarjo. 2004. Diagnosis Klinik Rinosinusitis. Naskah Lengkap Pendidikan
Kedokteran Berkelanjutan IV Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok-Kepala
Leher FK Unair. Surabaya 28 Agustus. h. 17-25.
Naclerio, R.M. and Gungor, A. 2001. Etiologic Factors in Inflammatory
Sinus Disease. In : Kennedy, D.W.,.Bolger, W.E., Zinreich, S.J., editors. Disease
of The Sinus, Diagnosis and Management. London: B.C. Decker Inc. p. 47-55.
Naxakis, S., Athanasopoulos, I., Vlastos, I.M., Giannakenas, G., Vasiilakos,
P., Goumas, P. 2009. Evaluation of Nasal Mucociliary Clearance After Medical or
Surgical Treatment of Chronic Rhinosinusitis. European Archieves of Oto-RhinoLaryngology and Head & Neck 266(9): 1423-6.
Papsin, B. and McTavish, A. 2003. Saline Nasal Irrigation: Its Role As An
Adjunct Treatment. Can Fam Physician 49: 168-73.
Passali, P., Passali, G.C., Passali, F.M., Bellussi, L. 2005. Physiology of The
Paranasal Sinuses. In : Levine, H.L. and Clemente, M.P., editors. Sinus Surgery
Endoscopic and microscopic Approaches. New York: Thieme. p. 57-63.
Pocock, SJ. 2002. Clinical Trials: A Practical Approach. Chichester: John
Wiley and Sons.

Probst, R., Grever, G., Iro, H.. 2006. Basic Otorhinolaryngology, A Step-byStep Learning Guide. New York: Thieme. p. 1-25.
Proenca, M., Xavier, R.F., Ramos, D., Cavalheri, V., Pitta, F., Ramos, E.M.C.
2011. Immediate and Short Term Effects of Smoking on Nasal Mucociliary
Clearance in Smokers. Rev Port Pneumol 17: 172-6.
Quraishi, M.S., Jones, N.S., Mason, J. 1998. The Rheology of Nasal Mucus: a
Review. Clin. Otolaryngol 23: 403-13.
Rabago, D., Barret, B., Marchand, L., Mundt, M. 2006. Qualitative Aspects
of Nasal Irrigation Use by Patients With Chronic Sinus Disease in a Multimethod
Study. Ann Fam Med 4: 295-301.
Rabago, D. and Zgierska, A. 2009. Saline Nasal Irrigation for Upper
Respiratory Conditions. Am Fam Physician 80(10): 1117-9.
Ramon, P., Victor-John, C., Benjamin, S. 1999. A Comparison of The Mucus
Transport Time Between Filipinos Living in Urban and Rural Areas. The
Phillipppine Journal of Oto-Rhino-Laryngology Head & Neck Surgery 14(3): 2-6.
Sakakura, Y., Ukai, K., Majima, Y., Murai, S., Harada, T., Miyoshi, Y. 1983.
Nasal Mucociliary Clearance Under Various Conditions. Acta Otolaryngol 96:
167-73.
Sargi, Z.B. and Casiano, R.R. 2007. Rhinologic and Sleep Apnea Surgical
Techniques. In: Kountakis, S.E. and Onerci, M., editors. Surgical Anatomy of
Paranasal Sinuses. Berlin: Springer-Verlag. p. 17-21.
Scadding, G.K. and Lund, V.J. 2004. Investigative Rhinology. London:
Taylor & Francis Group. p. 83-94.
Shoseyov, D., Bibi H., Shai, P., Shosayov, N., Shazberg, G., Hurvitz, H.
1998. Treatment With Hypertonic Saline Versus Normal Saline Nasal Wash of
Pediatric Chronic Sinusitis. J Allerg Clin Immunol 101: 602-5.
Soetjipto, D dkk. 2007. Perhimpunan Dokter Spesialis THT-KL Indonesia
(PERHATI-KL). In: Kelompok Studi Rinologi, editors. Guideline Penyakit THTKL di Indonesia. Jakarta: PT. Bristol Myers Squibb [Link]. h. 63.
Stierna, P. 2001. Physiology, Mucociliary Clearance, and Neural Control. In :
Kennedy, D.W., Bolger, W.E., Zinreich, S.J., editors. Disease of The Sinus,
Diagnosis and Management. London: B.C. Decker Inc. p. 35-45.
Thaler, E.R. 2001. Management of Acute Rhinosinusitis. In : Kennedy, D.W.,
Bolger, W.E., Zinreich, S.J., editors. Disease of The Sinus, Diagnosis and
Management. London: B.C. Decker Inc. p. 149-54.

Talbot, A.R., Herr, T.M., Parsons, D.S. 1997. Mucociliary Clearance And
Buffered Hypertonic Saline Solution. Laryngoscope 107: 500-3.
Ural, A., Oktemer, T.K., Kizil, Y., Ileri, F., Uslu, S. 2009. Imapact of Isotonic
and Hypertonic Saline Solutions on Mucociliary Activity in Various Nasal
Pathologies: Clinical Study. The Journal of Laryngology & Otology 123: 517-21.
Valia, P.P., Valero, F.C., Pardo, J.M., Rentero, D.B., Monte, C.G. 2008.
Saccharin Test For The Study of Mucociliary Clearance: Reference Values for a
Spanish Population. Arch Bronconeumol 44: 540-5.
Valdez, R.J.L. dan Cruz, E.S. 2009. Nasal Mucociliary Clearance (Mucus
Transit Time) and Abnormal Body Mass Index (Underweight and Obese) in
Filipino Adult Volunteers. Philippine Scientific Journal 42(1): 10-3.
Walsh, W.E. and Kern, R.C. 2006. Sinonasal Anatomy, Function and
Evaluation. In : Bailey B.J, and Johnson, J.T., editors. Head & Neck SurgeryOtolaryngology. 4th Ed. Vol.1 Philadephia: Lippincott Williams & Wilkins. p.
307-18.
Welch, K.C. and Goldberg, A.N. 2008. Sinusitis. In : Mahmoudi, M., editor.
Allergy & Asthma, Practical Diagnosis and Management. New York:
McGrawHill. p. 62-7.
Yeung, DF. 2011. Efficacy of Nasal Saline Spray to Relieve Symptoms of
Chronic Sinusitis. UTMJ 88(2): 84-7.

Lampiran 2
INFORMASI TERTULIS KEPADA RESPONDEN
Penelitian

: Larutan pencuci hidung salin isotonis mempercepat waktu


transpor mukosilia pada rinosinusitis akut.

Peneliti Utama

: dr. Ni Putu Oktaviani Rinika Pranitasari


Handphone 081338940957

Alamat tugas

: Sub Bagian/SMF THT-KL FK UNUD/RSUP Sanglah


Denpasar

Kepada
YTH. Bapak/Ibu/Saudara/i
Di tempat

Rinosinusitis akut adalah inflamasi pada mukosa hidung dan sinus paranasal
yang terjadi selama 4 minggu atau kurang, ditandai gejala hidung buntu, nyeri
wajah, ingus kental dan dahak kental (post nasal drip) di tenggorok. Rinosinusitis
akut sering terjadi menyertai infeksi saluran napas atas, pilek alergi maupun
paparan polusi. Pada infeksi tersebut terjadi gangguan pengaliran lendir di dalam
rongga sinus sehingga lama-kelamaan lendir akan menumpuk dan memperparah
infeksi yang telah terjadi. Pengobatan standar yang diberikan adalah pemberian
antibiotika, dekongestan dan mukolitik. Penggunaan larutan pencuci hidung salin
isotonis masih terbatas pada rinosinusitis kronis yang telah menjalani pembedahan
sinus. Beberapa penelitian telah mengungkapkan manfaat pemberian larutan
pencuci hidung terhadap kesembuhan pasien.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas pemberian larutan
pencuci hidung salin isotonis pada penderita rinosinusitis akut dibandingkan
dengan pengobatan standar. Larutan salin isotonis adalah larutan yang relatif
aman, murah, mudah ditemui di apotek dan mudah digunakan.
Bapak/Ibu/Saudara/i diundang untuk berpartisipasi dalam penelitian ini.
Penelitian ini dilakukan sama seperti pemeriksaan rutin THT yang biasa dilakukan
untuk mendiagnosis suatu penyakit, yaitu wawancara, pemeriksaan fisik rutin

pada telinga, hidung, tenggorok serta pemeriksaan radiologi (foto polos sinus
paranasal). Kemudian saya akan memeriksa uji sakarin menggunakan tablet
sakarin yang akan diletakkan pada permukaan bagian dalam rongga hidung
bawah. Saya akan meminta Bapak/Ibu/Saudara/i untuk menelan ludah setiap
setengah atau satu menit, sampai terasa manis pertama kali di tenggorok, yang
merupakan waktu transpor mukosilia. Waktu diukur dengan menggunakan
pengukur waktu (stopwatch). Setelah itu, tablet sakarin yang masih tersisa di
dalam hidung akan dicuci menggunakan larutan isotonis yang disemprotkan ke
dalam hidung dan kemudian berkumur dengan larutan air mineral. Bahan kristal
sakarin bersifat aman dan tidak menimbulkan risiko yang berbahaya bagi subjek
penelitian.
Bapak/Ibu/Saudara/i akan dibagi menjadi dua kelompok, kelompok yang
akan mendapatkan pengobatan standar dan kelompok yang akan mendapatkan
pengobatan standar ditambah larutan pencuci hidung salin isotonis. Pembagian
kelompok akan dilakukan secara acak berdasarkan randomisasi blok. Setelah 7
hari mendapatkan pengobatan, Bapak/Ibu/Saudara/i akan diperiksa uji sakarin
evaluasi dengan cara yang sama seperti pemeriksaan sebelumnya.
Partisipasi Bapak/Ibu/Saudara/i dalam penelitian ini bersifat sukarela. Apabila
tidak bersedia ikut serta dalam penelitian ini, Bapak/Ibu/Saudara/i tetap akan
mendapat pelayanan kesehatan standar rutin sesuai dengan standar prosedur
pelayanan.
Identitas Bapak/Ibu/Saudara/i dalam penelitian ini akan disamarkan. Hanya
dokter peneliti, anggota peneliti dan anggota komisi etik yang dapat melihat data
Bapak/Ibu/Saudara/i. Kerahasiaan data akan dijamin sepenuhnya.

Lampiran 3
SURAT PERNYATAAN PERSETUJUAN
(INFORMED CONSENT)
Saya yang bertanda tangan di bawah ini :
Nama

Umur / Jenis kelamin :


Alamat

:
menyatakan bahwa saya telah mengerti sepenuhnya atas penjelasan yang

diberikan oleh dr. Ni Putu Oktaviani Rinika P. dari bagian THT / FK Udayana,
RSUP Sanglah, Denpasar mengenai: prosedur pemeriksaan, prosedur tindakan,
resiko serta manfaat tindakan uji sakarin yang akan dilakukan kepada diri saya.
Dengan demikian saya bersedia mengikuti / menjalani seluruh prosedur
pemeriksaan yang dilakukan untuk penelitian mengenai:
LARUTAN PENCUCI HIDUNG SALIN ISOTONIS MEMPERCEPAT
WAKTU TRANSPOR MUKOSILIA PADA RINOSINUSITIS AKUT
Surat pernyataan persetujuan (informed consent) ini saya buat dengan
sukarela dan tanpa ada paksaan dari pihak manapun, agar dapat dipergunakan
bilamana diperlukan.

Denpasar, .. 20..
Penanggungjawab peneliti,

Peserta penelitian,

dr. Ni Putu Oktaviani Rinika P.

Lampiran 4
LEMBAR PENELITIAN
Nomor Penelitian

Tanggal berobat

Nomor rekam medis :

A.

Identitas Penderita
Nama

Jenis kelamin :

B.

Umur

Alamat

Telepon

tahun

Tinggi badan :

cm

Berat badan

kg

IMT

kg/m2

Tekanan darah :

mmHg

Anamnesis
1. Apakah ada keluhan hidung tersumbat? Jika Ya, pada hidung yang mana?
a. Ya, hidung kiri / kanan / keduanya
b. Tidak
2. Apakah ada keluhan pilek/ingus kental?
a. Ya
b. tidak
3. Apakah ada keluhan nyeri pipi?
a. Ya
b. Tidak
4. Apakah ada keluhan sakit kepala?
a. Ya
b. Tidak
5. Apakah ada gangguan penciuman/penghidu?
a. Ya
b. Tidak
6. Apakah ada keluhan demam? Jika Ya, sejak kapan?
a. Ya, sejak .
b. Tidak

7. Apakah ada keluhan dahak yang mengalir di tenggorok?


a. Ya
b. Tidak
8. Apakah ada keluhan bau mulut atau nafas berbau?
a. Ya
b. Tidak
9. Apakah ada keluhan lainnya? Batuk, nyeri telinga, penuh di telinga?
10. Apakah Saudara pernah dinyatakan menderita tumor hidung dan sinus
paranasal atau sedang menjalani pengobatan kemoterapi/radioterapi
berkaitan tumor tersebut? Jika Ya, sebutkan sejak kapan?
a. Ya, sejak .. bulan
b. Tidak
11. Apakah Saudara menderita gangguan pengecapan?
a. Ya
b. Tidak
12. Apakah Saudara menggunakan obat tetes/semprot hidung? Jika Ya,
sebutkan nama obatnya dan sudah berapa lama!
a. Ya, .
b. Tidak
13. Apakah Saudara pernah menjalani operasi hidung dan sinus paranasal?
Jika Ya, sebutkan alasannya dan kapan.
a. Ya, .., pada ..
b. Tidak
14. Apakah Saudara pernah dinyatakan menderita hipertensi atau sedang
mengkonsumsi obat antihipertensi?
a. Ya
b. Tidak
15. Apakah Saudara merokok? Jika Ya, sebutkan sudah berapa lama merokok
dan berapa batang per hari?
a. Ya, .. tahun, batang per hari
b. Tidak

C. Pemeriksaan Fisik THT


1. Telinga
Kanan

Kiri

Daun telinga

Normal/abnormal

Normal/abnormal

Liang telinga

Lapang/odema

Lapang/odema

Membran

Intak/perforasi/retraksi/hiperemi Intak/perforasi/retraksi/hiperemi

timpani

2. Hidung
Kanan

Kiri

Kavum nasi

Lapang/sempit/massa

Lapang/sempit/massa

Konka

Dekongesti/kongesti

Dekongesti/kongesti

Mukosa

Merah muda/hiperemi/livide

Merah muda/hiperemi/livide

Sekret

Tidak ada/serus/mukoid/

Tidak ada/serus/mukoid/

purulen

purulen

Deviasi septum

Deviasi ke kanan/kiri/bentuk S//tidak ada deviasi

Post nasal drip

Ada/tidak ada

[Link]
Kanan

Kiri

Mukosa faring

Merah muda/hiperemi

Merah muda/hiperemi

Tonsil

T1/T2/T3/T4

T1/T2/T3/T4

Merah muda / hiperemi

Merah muda/hiperemi

Rata/tidak rata

Rata/tidak rata

Kripte melebar -/+

Kripte melebar -/+

Detritus -/+

Detritus -/+

Granula hipertrofi -/+

Granula hipertrofi -/+

Dinding belakang
faring

D. Hasil foto Waters :

E. Diagnosis :
F. Terapi :

G. Hasil pemeriksaan uji sakarin :


1. Uji sakarin sebelum terapi : .......................... menit.
2. Uji sakarin sesudah terapi : ...... menit.

Lampiran 5
RANDOMISASI BLOK
a. Kelompok kontrol mendapat terapi standar, diberi kode A.
b. Kelompok perlakuan mendapat terapi standar ditambah larutan pencuci
hidung salin isotonis, diberi kode B.
c. Besar blok = 6
d. Sekuens pengobatan :
No.

Sekuens

No.

Sekuens

No.

Sekuens

No.

Sekuens

00-04 AAABBB

25-29 ABABAB 50-54 BAAABB 75-79

BABBAA

05-09 AABABB

30-34 ABABBA 55-59 BAABAB 80-84

BBAAAB

10-14 AABBAB

35-39 ABBAAB 60-64 BAAABB 85-89

BBAABA

15-19 AABBBA

40-44 ABBABA 65-69 BABAAB 90-94

BBABAA

20-24 ABAABB

45-49 ABBBAA 70-74 BABABA 95-99

BBBAAA

e. Jumlah sampel = 36, dipilih 6 angka yaitu:


f. Maka sekuens pengobatan sbb:
[Link]
1

17

25

33

10

18

26

34

11

19

27

35

12

20

28

36

13

21

29

37

14

22

30

38

15

23

31

39

16

24

32

40

AABBBA-ABBBAA-BABAAB-ABAABB-BBABAA-ABBABA-AABBBA.

Lampiran 6
FOTO DOKUMENTASI

Gambar 6.1 Forsep alligator (kiri) dan pinset bayonet (kanan)

Gambar 7.2 Stopwatch (kiri) dan tablet sakarin merk Equal (kanan)

Gambar 6.3 Tablet sakarin diletakkan 1 cm di belakang ujung anterior konka


inferior kavum nasi (tampak depan).

Gambar 6.4 Tablet sakarin diletakkan 1 cm di belakang ujung anterior konka


inferior kavum nasi (tampak samping).

Lampiran 7
Data statistik
Explore
Kelompok
Case Processing Summary

Cases

Valid

Kelompok

waktu sakarin pretest Terapi standar dan larutan

Missing

Percent

Percent

20

100.0%

.0%

20

100.0%

.0%

nasal salin

Terapi standar
Case Processing Summary

Cases

Total

Kelompok

waktu sakarin pretest Terapi standar dan larutan

Percent

20

100.0%

20

100.0%

nasal salin

Terapi standar
Descriptives

Std.
Kelompok

waktu sakarin

Terapi standar dan

Statistic

Mean

Error

35.5185 2.38187

pretest

larutan nasal salin

95% Confidence

Lower Bound

30.5332

Upper Bound

40.5038

Interval for Mean

5% Trimmed Mean

35.0494

Median

34.7550

Variance

113.466

Std. Deviation

10.6520
4

Terapi standar

Minimum

21.23

Maximum

58.25

Range

37.02

Interquartile Range

13.98

Skewness

.737

.512

Kurtosis

-.090

.992

Mean

95% Confidence

29.1905 1.73193

Lower Bound

25.5655

Upper Bound

32.8155

Interval for Mean

5% Trimmed Mean

28.8633

Median

27.3200

Variance

59.991

Std. Deviation

7.74541

Minimum

18.90

Maximum

45.37

Range

26.47

Interquartile Range

10.76

Skewness

.825

.512

Kurtosis

-.173

.992

Tests of Normality
Kolmogorov-Smirnova

Kelompok

Statistic

waktu sakarin pretest Terapi standar dan larutan

df

Sig.

.138

20

.200*

.140

20

.200*

nasal salin

Terapi standar
a. Lilliefors Significance Correction
*. This is a lower bound of the true significance.
Tests of Normality

Shapiro-Wilk

Kelompok

waktu sakarin pretest Terapi standar dan larutan

Statistic

df

Sig.

.937

20

.210

.921

20

.106

nasal salin

Terapi standar

Case Processing Summary

Cases

Valid

Kelompok

waktu sakarin pretest Terapi standar dan larutan

Missing

Percent

20

Percent

100.0%

.0%

Mean

nasal salin

T-Test
Group Statistics

Kelompok

waktu sakarin pretest

Terapi standar dan larutan nasal

20

35.5185

20

29.1905

salin

Terapi standar
Group Statistics

Kelompok

waktu sakarin pretest

Terapi standar dan larutan nasal

Std. Deviation

Std. Error Mean

10.65204

2.38187

7.74541

1.73193

salin

Terapi standar

Independent Samples Test

Levene's Test for Equality of

t-test for Equality

Variances

of Means

waktu sakarin pretest

Sig.

Equal variances assumed

1.476

.232

2.149

Equal variances not assumed

2.149

Independent Samples Test

t-test for Equality of Means

df

waktu sakarin pretest

Equal variances assumed

Equal variances not assumed

Sig. (2-tailed)

Mean Difference

38

.038

6.32800

34.702

.039

6.32800

Independent Samples Test

t-test for Equality of Means


95% Confidence Interval of the
Difference
Std. Error
Difference

waktu sakarin pretest

Lower

Upper

Equal variances assumed

2.94497

.36621

12.28979

Equal variances not assumed

2.94497

.34755

12.30845

GGraph

GGraph

Explore
Kelompok
Case Processing Summary

Kelompok

Cases

Valid

waktu sakarin postest

Terapi standar dan larutan nasal

Missing

Percent

Percent

20

100.0%

.0%

20

100.0%

.0%

Statistic

Std. Error

salin

Terapi standar

Case Processing Summary

Cases

Total

Kelompok

waktu sakarin postest

Terapi standar dan larutan nasal

Percent

20

100.0%

20

100.0%

salin

Terapi standar
Descriptives

Kelompok

waktu sakarin postest

Terapi standar dan larutan Mean

22.9475

1.95639

nasal salin

95% Confidence Interval

Lower Bound

18.8527

Upper Bound

27.0423

for Mean

5% Trimmed Mean

22.6528

Median

20.9750

Variance

76.550

Std. Deviation

Terapi standar

8.74926

Minimum

10.00

Maximum

41.20

Range

31.20

Interquartile Range

12.98

Skewness

.680

.512

Kurtosis

-.145

.992

17.9710

1.25012

Mean

95% Confidence Interval

Lower Bound

15.3545

Upper Bound

20.5875

for Mean

5% Trimmed Mean

17.9217

Median

17.7950

Variance

31.256

Std. Deviation

Minimum

5.59070

9.43

Maximum

27.40

Range

17.97

Interquartile Range

8.67

Skewness

.237

.512

Kurtosis

-.777

.992

Tests of Normality
Kolmogorov-Smirnova

Kelompok

waktu sakarin postest

Statistic

Terapi standar dan larutan nasal

df

Sig.

.148

20

.200*

.126

20

.200*

salin

Terapi standar
a. Lilliefors Significance Correction
*. This is a lower bound of the true significance.
Tests of Normality

Shapiro-Wilk

Kelompok

waktu sakarin postest

Terapi standar dan larutan nasal

Statistic

df

Sig.

.940

20

.236

.944

20

.288

salin

Terapi standar

T-Test
Group Statistics

Kelompok

waktu sakarin postest

Mean

Terapi standar dan larutan nasal

20

22.9475

20

17.9710

salin

Terapi standar
Group Statistics

Kelompok

waktu sakarin postest

Std. Deviation

Terapi standar dan larutan nasal

Std. Error Mean

8.74926

1.95639

5.59070

1.25012

salin

Terapi standar

Independent Samples Test

Levene's Test for Equality of

t-test for Equality

Variances

of Means

waktu sakarin postest

Equal variances assumed

Sig.

4.606

.038

Equal variances not assumed

2.143

2.143

Independent Samples Test

t-test for Equality of Means

df

Sig. (2-tailed)

Mean Difference

waktu sakarin postest

Equal variances assumed

Equal variances not assumed

38

.039

4.97650

32.299

.040

4.97650

Independent Samples Test

t-test for Equality of Means


95% Confidence Interval of the
Difference
Std. Error
Difference

waktu sakarin postest

GGraph

Explore
Kelompok

Lower

Upper

Equal variances assumed

2.32170

.27647

9.67653

Equal variances not assumed

2.32170

.24907

9.70393

Case Processing Summary

Cases

Valid

Kelompok

selisih waktu sakarin pretest dan Terapi standar dan larutan nasal
postest

Missing

Percent

Percent

20

100.0%

.0%

20

100.0%

.0%

salin

Terapi standar
Case Processing Summary

Cases

Total

Kelompok

selisih waktu sakarin pretest dan Terapi standar dan larutan nasal
postest

Percent

20

100.0%

20

100.0%

salin

Terapi standar
Descriptives

Kelompok

Statistic

selisih waktu sakarin

Terapi standar dan larutan Mean

pretest dan postest

nasal salin

12.5710

95% Confidence Interval Lower Bound

10.0594

for Mean
Upper Bound

15.0826

5% Trimmed Mean

12.1622

Median

10.9650

Std. Error

1.19998

Variance

28.799

Std. Deviation

5.36646

Minimum

5.47

Maximum

27.03

Range

21.56

Interquartile Range

Terapi standar

7.48

Skewness

1.149

.512

Kurtosis

1.364

.992

11.2200

.99053

Mean

95% Confidence Interval Lower Bound

9.1468

for Mean
Upper Bound

5% Trimmed Mean

13.2932

10.9978

Median

9.3850

Variance

19.623

Std. Deviation

4.42980

Minimum

5.52

Maximum

20.92

Range

15.40

Interquartile Range

Skewness

5.25

1.112

.512

Case Processing Summary

Cases

Valid

Kelompok

Percent

selisih waktu sakarin pretest dan Terapi standar dan larutan nasal
postest

Missing

20

Percent

100.0%

salin

Kurtosis

.472

Tests of Normality
Kolmogorov-Smirnova

Kelompok

Statistic

selisih waktu sakarin pretest dan Terapi standar dan larutan nasal
postest

df

Sig.

.159

20

.200*

.204

20

.029

salin

Terapi standar
a. Lilliefors Significance Correction
*. This is a lower bound of the true significance.
Tests of Normality

Shapiro-Wilk

Kelompok

selisih waktu sakarin pretest dan Terapi standar dan larutan nasal
postest

Statistic

df

Sig.

.898

20

.038

.875

20

.015

salin

Terapi standar

NPar Tests

.0%

.992

Mann-Whitney Test
Ranks

Kelompok

selisih waktu sakarin pretest dan Terapi standar dan larutan nasal
postest

Sum of Ranks

20

21.75

435.00

Terapi standar

20

19.25

385.00

Total

40

salin

Test Statisticsb

selisih waktu
sakarin pretest dan
postest

Mann-Whitney U

175.000

Wilcoxon W

385.000

-.676

Asymp. Sig. (2-tailed)

.499

Exact Sig. [2*(1-tailed Sig.)]

.512a

a. Not corrected for ties.


b. Grouping Variable: Kelompok

GGraph

Mean Rank

GGraph

Lampiran 8
DATA RESPONDEN
No

Nama

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40

1
LTD
WSM
NAY
AMP
JSM
DUT
NBR
YMA
DYP
FSL
CHS
DPM
MSR
BTK
NND
HAM
WNS
PNB
FDP
KHM
LIM
GKP
WAR
ALD
WDU
CGA
ASP
AST
LGS
DRS
ARW
BSR
CKE
WRD
TRA
MBL
SRN
NTM
KSD
MTR

Jenis
kelamin
2
L
P
L
L
L
P
P
L
P
L
L
P
L
L
L
P
P
L
L
L
P
L
L
L
P
L
P
P
P
L
P
L
P
L
L
P
P
L
L
P

Umur

Tinggi

Berat

IMT

3
23
34
28
32
20
30
16
20
27
39
32
30
55
37
47
27
45
22
38
23
49
17
39
16
36
18
36
29
21
16
32
42
39
30
49
27
33
32
36
52

4
175
155
165
165
160
155
148
174
165
178
170
157
180
165
173
155
155
160
170
170
160
165
182
180
160
175
168
156
167
172
158
165
158
165
166
160
155
162
160
150

5
57
50
65
82
45
42
42
58
57
84
97
51
90
80
70
46
60
60
75
83
55
71
72
56
72
69
55
46
60
56
62
64
61
66
73
66
64
75
73
51

6
18.61
20.81
23.86
30.12
17.58
17.48
19.17
19.16
20.93
26.51
33.56
20.69
27.78
29.38
23.39
19.15
24.97
23.44
25.95
28.72
21.48
26.08
21.74
17.28
28.13
22.53
19.49
18.9
21.51
18.93
24.83
23.51
24.44
24.24
26.49
25.78
26.64
28.58
28.52
22.67

Hidung
tersumbat
7
Keduanya
Kiri
Keduanya
Keduanya
Keduanya
Keduanya
Keduanya
Keduanya
Keduanya
Keduanya
Kanan
Keduanya
Keduanya
Kanan
Kiri
Keduanya
Kiri
Kiri
Keduanya
Kiri
Keduanya
Keduanya
Keduanya
Keduanya
Keduanya
Kanan
Keduanya
Keduanya
Keduanya
Kiri
Keduanya
Keduanya
Keduanya
Keduanya
Keduanya
Keduanya
Keduanya
Kanan
Keduanya
Kanan

Pilek
8
Ya
Ya
Ya
Ya
Ya
Ya
Ya
Ya
Ya
Ya
Ya
Ya
Ya
Ya
Ya
Ya
Ya
Ya
Ya
Ya
Ya
Ya
Ya
Ya
Ya
Ya
Ya
Ya
Ya
Ya
Ya
Ya
Ya
Ya
Ya
Ya
Ya
Ya
Ya
Ya

Nyeri
pipi
9
Ya
Tidak
Ya
Tidak
Ya
Ya
Tidak
Tidak
Tidak
Ya
Tidak
Tidak
Ya
Tidak
Tidak
Tidak
Ya
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Ya
Tidak
Ya
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Ya

Sakit
kepala
10
Ya
Ya
Ya
Ya
Ya
Ya
Ya
Tidak
Ya
Ya
Tidak
Ya
Ya
Ya
Ya
Tidak
Ya
Tidak
Tidak
Tidak
Ya
Tidak
Tidak
Ya
Ya
Ya
Tidak
Ya
Ya
Ya
Ya
Ya
Ya
Ya
Ya
Ya
Tidak
Ya
Ya
Tidak

Ggn
penghidu
11
Tidak
Ya
Ya
Ya
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Ya
Ya
Ya
Ya
Tidak
Tidak
Ya
Ya
Tidak
Tidak
Ya
Tidak
Tidak
Ya
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Ya
Tidak
Tidak
Ya
Ya
Ya
Ya
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak

Demam
12
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Ya
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Ya
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Ya
Ya
Ya
Tidak
Tidak
Ya
Tidak
Tidak
Ya

Napas
bau
13
Tidak
Tidak
Tidak
Ya
Ya
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Ya
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Ya
Ya
Ya
Tidak
Tidak
Tidak
Ya
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak

Dahak
tenggorok
14
Ya
Ya
Tidak
Ya
Ya
Ya
Ya
Ya
Ya
Ya
Ya
Tidak
Ya
Tidak
Ya
Ya
Tidak
Ya
Ya
Ya
Ya
Ya
Ya
Ya
Ya
Ya
Ya
Ya
Ya
Ya
Ya
Ya
Tidak
Ya
Ya
Ya
Tidak
Ya
Ya
Tidak

Keluhan lain
15
Batuk
Telinga penuh
Tdk ada
Tdk ada
Tdk ada
Tdk ada
Tdk ada
Tdk ada
Tdk ada
Batuk
Tdk ada
Tdk ada
Tdk ada
Tdk ada
Nyeri telinga
Tdk ada
Tdk ada
Tdk ada
Tdk ada
Tdk ada
Telinga penuh
Tdk ada
Tdk ada
Telinga penuh
Batuk
Tdk ada
Tdk ada
Tdk ada
Tdk ada
Tdk ada
Tdk ada
Batuk
Batuk
Batuk
Tdk ada
Tdk ada
Batuk
Tdk ada
Tdk ada
Batuk

DATA RESPONDEN

Tumor
sinonasal
16
Tidak

Ggn
pengecap
17
Tidak

Obat
topikal
18
Tidak

Riw.
Operasi
19
Tidak

Hipertensi

Merokok

20
Tidak

21
Tidak

Deviasi
septum
22
Ke kiri

Tidak

Tidak

Tidak

Tidak

Tidak

Tidak

Ke kanan

3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13

Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak

Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak

Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak

Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak

Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak

Ya
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Ya
Ya
Tidak
Tidak

Bentuk S
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Ke kiri
Tidak
Tidak
Ke kanan
Tidak
Bentuk S

14

Tidak

Tidak

Tidak

Tidak

Tidak

Tidak

Ke kiri

15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33

Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak

Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak

Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak

Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak

Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak

Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Ya
Tidak

34

Tidak

Tidak

Tidak

Tidak

Tidak

35
36
37
38
39
40

Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak

Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak

Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak

Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak

Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak

No

25
Kontrol

Waktu
sebelum
26
18.9

Waktu
sesudah
27
9.43

Rinosinusitis akut

Kontrol

27.47

18.37

Rinosinusitis akut
Rinosinusitis akut
Rinosinusitis akut
Rinosinusitis akut
Rinosinusitis akut
Rinosinusitis akut
Rinosinusitis akut
Rinosinusitis akut, tonsilofaringitis akut
Rinosinusitis akut
Rinosinusitis akut
Rinosinusitis akut

Perlakuan
Perlakuan
Perlakuan
Kontrol
Kontrol
Perlakuan
Perlakuan
Perlakuan
Kontrol
Kontrol
Perlakuan

58.25
48.93
28.73
23
34.5
28.83
35.23
40
36.42
41.32
43.1

41.2
21.9
12.15
15.22
25.45
20.33
21.58
31.2
16.22
27.4
29.45

Rinosinusitis akut

Kontrol

27.17

18.4

Rinosinusitis akut, OE difusa S


Rinosinusitis akut
Rinosinusitis akut
Rinosinusitis akut
Rinosinusitis akut
Rinosinusitis akut
Rinosinusitis akut
Rinosinusitis akut
Rinosinusitis akut
Rinosinusitis akut
Rinosinusitis akut, tonsilofaringitis akut
Rinosinusitis akut
Rinosinusitis akut
Rinosinusitis akut
Rinosinusitis akut
Rinosinusitis akut
Rinosinusitis akut
Rinosinusitis akut, tonsilofaringitis akut
Rinosinusitis akut, tonsilofaringitis akut
Rinosinusitis akut, tonsilofaringitis kronis
[Link]
Rinosinusitis akut
Rinosinusitis akut
Rinosinusitis akut, tonsilofaringitis akut
Rinosinusitis akut
Rinosinusitis akut
Rinosinusitis akut, tonsilofaringitis akut

Perlakuan
Kontrol
Kontrol
Perlakuan
Kontrol
Perlakuan
Kontrol
Kontrol
Perlakuan
Perlakuan
Perlakuan
Perlakuan
Kontrol
Perlakuan
Kontrol
Kontrol
Kontrol
Perlakuan
Perlakuan

24.8
25.23
26.88
46.02
43.92
36.07
20.73
21.1
24.35
21.23
31.42
21.73
21.82
56.23
24.37
28.42
23.67
34.28
36.7

16.38
17.72
17.87
31.18
23
14.5
13.35
14.6
16.65
10
15.45
16.27
9.7
40.55
13.07
17.05
10.18
26.15
26.52

Kontrol

31.67

19.02

Perlakuan
Perlakuan
Kontrol
Kontrol
Perlakuan
Perlakuan

28.22
45.37
32.23
29.62
29.07
37.18

20.37
26.33
26.72
20.32
18.37
28.75

Foto Waters

Diagnosis

Kelompok

24
Rinosinusitis akut, faringitis

Ke kiri
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Ke kiri
Ke kiri
Tidak
Tidak
Ke kanan
Tidak
Bentuk S
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak

23
Sinusitis maksila
Rinitis, sinusitis maksila, sinusitis
etmoid
Rinitis, sinusitis maksila
Sinusitis maksila
Sinusitis maksila, sinusitis etmoid
Sinusitis maksila
Sinusitis maksila
Rinitis, sinusitis maksila
Sinusitis maksila
Sinusitis maksila , sinusitis etmoid
Rinitis, sinusitis maksila
Sinusitis maksila
Rinitis, sinusitis maksila
Rinitis, sinusitis maksila , sinusitis
etmoid
Sinusitis maksila
Sinusitis maksila
Sinusitis maksila
Rinitis, sinusitis maksila
Sinusitis maksila , sinusitis etmoid
Rinitis, sinusitis maksila
Rinitis, sinusitis maksila
Sinusitis maksila
Sinusitis maksila
Rinitis, sinusitis maksila
Sinusitis maksila
Sinusitis maksila , sinusitis etmoid
Rinitis, sinusitis maksila
Rinitis, sinusitis maksila
Rinitis, sinusitis maksila
Sinusitis maksila
Sinusitis maksila
Sinusitis maksila , sinusitis etmoid
Sinusitis maksila

Tidak

Tidak

Rinitis, sinusitis maksila

Ya
Tidak
Tidak
Ya
Ya
Tidak

Tidak
Ke kiri
Tidak
Tidak
Tidak
Ke kanan

Sinusitis maksila
Rinitis, sinusitis maksila
Sinusitis maksila
Sinusitis maksila
Rinitis, sinusitis maksila
Sinusitis maksila

Anda mungkin juga menyukai