0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
35 tayangan11 halaman

Penggunaan dan Klasifikasi Admixture Beton

Dokumen tersebut membahas definisi dan klasifikasi additive dan admixture yang merupakan bahan tambahan yang ditambahkan pada proses pembuatan semen dan beton. Admixture diklasifikasikan menjadi beberapa jenis seperti air entraining agent, bahan kimia, mineral, dan lainnya untuk meningkatkan kinerja, mutu, keawetan, dan kemudahan pekerjaan beton. Standar penggunaan admixture juga diatur untuk memastikan efektivitas dan keamanannya.

Diunggah oleh

Dani Ramdani
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
35 tayangan11 halaman

Penggunaan dan Klasifikasi Admixture Beton

Dokumen tersebut membahas definisi dan klasifikasi additive dan admixture yang merupakan bahan tambahan yang ditambahkan pada proses pembuatan semen dan beton. Admixture diklasifikasikan menjadi beberapa jenis seperti air entraining agent, bahan kimia, mineral, dan lainnya untuk meningkatkan kinerja, mutu, keawetan, dan kemudahan pekerjaan beton. Standar penggunaan admixture juga diatur untuk memastikan efektivitas dan keamanannya.

Diunggah oleh

Dani Ramdani
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

A.

Definisi dan Klasifikasi


Istilah additive dan admixture dapat didengar dan dijumpai pada pembicaraan
sehari-hari. Arti additive dan admixture adalah sama yaitu bahan tambahan. Hanya
saja material additive, merupakan bahan tambahan yang ditambahkan pada saat
proses pembuatan semen di pabrik, sedangkan admixture bahan tambahan yang
ditambahkan pada saat pelaksanaan pembuatan beton di lapangan.
Di pasaran banyak sekali variasi produksi admixture, oleh karena itu penggunaan
dari salah satu admixture sebaiknya didahului dengan percobaan.
1. Tujuan pemakaian Admixture dalam campuran beton adalah untuk meningkatkan :
a. Penampilan ( Performance )
b. Mutu ( Qualty )
c. Keawetan ( Durability )
d. Kemudahan pekerjaan ( Workability )
2. Pemakaian Admixture dalam campuran beton harus mendapat persetujuan terlebih
dahulu dari Sarjana / Pengawas lapangan / Pemilik proyek dan harus sudah
pernah dilakukan percobaan pendahuluan.
3. Bahan Tambahan (Admixture) dibagi dalam beberapa kelompok diantaranya :
a. Air

Entraining

Agent

(ASTM

C260)

Yaitu

bahan

tambahan

untuk

meningkatkan kadar udara agar beton tahan terhadap pembekuan dan


pencucian terutama untuk daerah salju, juga harus memenuhi SNI 03 2496
1991.
b. Admixture Kimia (Bahan Tambahan Kimia), ASTM C49 dan BS 5075 Yaitu
bahan tambahan cairan kimia yang ditambahakan untuk mengendalikan waktu
pengerasan (mempercepat atau memperlambat), mereduksi kebutuhan air,
memudahkan pengerjaan beton (meningkatkan slump) dan sebagainya.
c. Mineral Admixture (Bahan Tambahan Mineral) Bahan tambahan mineral ini
merupakan

bahan

padat

yang

dihaluskan

yang

ditambahakan

untuk

memperbaiki sifat beton agar beton mudah dikerjakan dan kekuatan serta
keawetannya meningkat.
Bahan-bahan tambahan mineral seperti :
1. Pozzolan
2. Slag
3. Fly Ash (Abuterbang)
4. Abu sekam
5. Silika Fume

d. Bahan Tambahan Lainnya (Miscellanous Admixture) Yang termasuk


kategori bahan tambahan ini ialah semua bahan tambahan yang tidak termasuk
kategori diatas, seperti :
1. Polymer
2. Fiber Mash
3. Bahan pencegah karatan
4. Bahan tambahan yang dapat mengembang
5. Bahan tambahan untuk perekat (bonding admixture)

B. Standard Yang Mencakup Bahan Tambahan


Beberapa negara seperti Amerika, Inggris, dan Indonesia telah mengatur
persyaratan dan petunjuk penggunaannya. Misalnya Inggris dengan BS 5075 part
1:1985, mengatur persyaratan dari beberapa tipe admxture (tabel 1) Amerika C494-82
mengatur masalah tersebut sesuai dengan ASTM C494-82 (tabel 2). Khusus
Superplastizer diatur dalam BS 5075 part 1:1985 (tabel3).
Secara umum juga ditampilkan tabel mengenai standard-standart di Amerika,
Inggris, Jerman, yang menyangkut masalah admixture ini dapat dilihat pada tabel 4.
dari Technical Report no. 18 dari Concrete Society di Inggris, didapat tabel petunjuk
mengenai garis besar penggunaan admixture-admixture tersebut di atas (tabel 5).
Dengan mengetahui standar dan petunjuk tersebut diharapkan memudahkan
para engineer untuk memahami bagaimana penggunaan admixture yang tepat dan
efisien.

C. Hal-hal yang harus dihindari dalam penggunaan bahan tambahan


Semua para engineer yang secara rutin bekerja dalam pembuatan beton
mempunyai cerita yang menarik mengenai admixture dalam peranannya menghambat
waktu pengikatan dan pengerasan atau masalah-masalah yang sulit diduga yang tidak
menguntungkan, lagi pula kurangnya pengertian bagaimana interaksi antara admixture
dan beton.
Untuk mengurangi dan mencegah sesuatu hal yang tidak terduga dalam
penggunaan admixture, maka perlu pertimbangan mengenai hal-hal seperti dibawah
ini:
a. Gunakan bahan tambahan (admixture) sesuai dengan spesifikasi dan ASTM
(American Society for Testing and Material).
Sebuah pabrik yang mempunyai reputasi baik akan memberikan data-data
teknik dari hasil produksinya. Data-data tersebut antara lain :
Pengaruh pentingnya bahan tambahan pada penampilan beton.
Pengaruh sampingan yang diakibatkan oleh admixture baik yang positif

maupun yang negative.


Sifat-sifat fisik admixture

Konsentrasi dari komposisi bahan yang aktif


Adanya bahan kimia yang berpotensi merusak seperti klorida, sulfat, sulfida,

posfat, juga nitrat dan amoniak


Nilai pH (derajat keasaman)
Bahaya yang terjadi terhadap pemakai admixture
Kondisi penyimpanan dan batas umur kelayakan
Persiapan bahan tambahan dan prosedur pencampuran pada beton
Dosis yang dianjurkan pada kondisi tertentu dan akibatnya bila dosisnya

berlebihan
b. Mengikuti petunjuk yang berhubungan dengan dosis, dan melakukan pengetesan
untuk mengontrol pengaruh yang telah didapat. Khususnya penggunaan bahan
yang akan dipakai di lapangan untuk pengetesan adalah sangat penting. Pastikan
pengaruh admixture terhadap faktor: komposisi semen, sifat agregat, campuran
beton dan lamanya pencampuran, temperature dan kondisi perawatannya.
c. Yakinkan ketelitian prosedur yang ditetapkan untuk ketelitian pencampuran
admixture. Khususnya penting untuk Air Entraining Admixture (AEA) dan admixture
kimia, dimana dosisnya dibawah 0.1% dari berat semen. Dalam kasus seperti ini
over dosis dapat dengan mudah terjadi dan akan mengakibatkan kerusakan beton.

D. Air Entraining Admixture ( AEA )


Bahan tambahan jenis air entraining menyebabkan terjadinya gelembunggelembung udara sangat halus (berdiameter 1/100 2 mm) dalam beton, yang dapat
memperbaiki sifat pengerjaannya (workability), oleh karena gelembung udara bersifat
sebagai minyak pelumas dalam beton. Bleeding dapat dikurangi, sedangkan butiran
yang besar tidak mudah terpisah dari adukannya. Hal ini menjadi sangat penting
apabila beton itu harus diangkut melalui perjalanan yang panjang.
Apabila beton tidak banyak mengandung fraksi halus dalam campurannya,
maka sifat pengerjaannya kurang baik, ini dapat diperbaiki dengan menggunakan air
entraining agent. Pada umumnya dibutuhkan 3 4% udara untuk memperbaiki sifat
pengerjaan beton. Overdosis akan mengurangi kekuatan tekan beton.

1. Pengaruh-pengaruh Air Entraining Admixture terhadap sifat-sifat beton


a. Kekuatan Tekan Beton AEA pada umumnya meningkatkan kelecehan beton
danmempe rbaiki workabilitas (kemudahan) pengerjaan beton tapi mengurangi
kekuatan

tekan

beton.

Oleh

karena

itu

penggunaan

AEA

harus

mempertimbangkan faktor-faktor tersebut.


b. Workabilitas Beton (kemudahan pekerjaan) AEA meningkatkan slump atau
memudahkan pekerjaan beton. Dalam praktek 5% air entrained akan menambah
10-50 mm slump.
c. Pengikatan Waktu Penggunaan AEA tidak ada pengaruh yang berarti pada
waktu pengikatan.

d. Bleeding (keluarnya air ke permukaan beton) AEA mengurangi terjadinya


bleeding dalam beton.
e. Perubahan Volume (volume deformation) AEA tidak berpengaruh pada sifat
f.

susut beton. Untuk AEA 6% sifat creep beton tidak berpengaruh juga.
Kohesif Sifat kohesif beton dapat ditingkatkan dengan adanya AEA pada beton,

khususnya sangat berarti bila kondisi grading pasir dan agregatnya sangat jelek.
g. Density (berat jenis) Berat jenis beton akan berkurang langsung dengan adanya
AEA pada beton. AEA juga digunakan untuk mendapatkan beton dengan density
3
yang rendah sampai penurunan 500 kg/m .
h. Keawatan Beton (durability) AEA umumnya meningkatkan keawetan beton,
dengan adanya AEA sifat permeable beton berkurang. Penggunaan AEA ini juga
meningkatkan ketahanan terhadap pembekuan dan pencairan garam. Hal ini
dapat dicapai dengan cara reaksi pengembangan untuk mengakomodasi
pembekuan (ice form) dalam kapilaritas beton. Selain itu juga gelembunggelembung udara dapat memotong kapilaritas yang menerus (continue capilarity)
menjadi kapilaritas yang terpotong (discontinue capilarity) dan akhirnya
mengurangi rembesan dan resapan.
2. Pemakaian Air Entraining Admixture
Pada pokoknya penggunaan AEA untuk ketahanan terhadap pembekuan dan
pencairan (freeze and resistance). Menurut BS CP110, untuk ketahanan
pembekuan (frost resistance), untuk diameter tertentu kadar udara diperlukan
seperti pada tabel dibawah ini.

1) Digunakan untuk mengurangi bleeding dan meningkatkan kohesi dan


workability beton yang mempunyai kondisi bahan yang jelek.
2) Mengurangi bleeding, meningkatkan kohesi dan workability agar beton dapat
ditransport lewat pipa (pumpable concrete). Dimana tekanan dibawah 5.2
2
2
N/mm atau 6 N/mm atau 60 bar.

3. Hal-hal yang perlu diperhatikan :


a. Penambahan jumlah pasir dari 35% sampai 40% akan menambah kadar udara
3
4.5% sampai 5%. Penambahan semen 90 kg/m akan mengurangi 1% udara.
b. Pengukuran kadar udara sebaiknya teratur (regular), menurut standard yang
ada, ASTM atau BS 1881 Part 2.
c. Kenaikan temperatur beton akan mengurangi kandungan udara (air content).

d. Waktu pencampuran (Mixing) akan mempengaruhi kadar udara (air content).


e. Pengikatan beton dapat mengurangi kadar udara sampai 0.5%.

E. Bahan Tambahan Kimia


Type Bahan Tambahan kimia
Ketentuan dan syarat mutu bahan tambahan kimia sesuai dengan ASTM C
494-81 Standard Specification for Chemical Admixture for Concrete. Definisi type dan
jenis bahan tambahan kimia tersebut dapat diterangkan sebagai berikut:

Type A : Water Reducing Admixture, adalah bahan tambahan yang bersifat


mengurangi jumlah air pencampuran beton untuk menghasilkan beton yang

konsistensinya tertentu.
Type B : Retarding Admixture, adalah bahan tambahan yang berfungsi

menghambat pengikatan beton.


Type C : Accelerating Admixture, adalah

mempercepat pengikatan dan pengembangan kekuatan awal beton.


Type D : Water Reducing and Retarding Admixture, adalah bahan tambahan

bahan

tambahan berfungsi

berfungsi ganda untuk mengurangi jumlah air pencampuran yang diperlukan untuk
menghasilkan beton dengan konsistensi tertentu dan menghambat pengikatan

beton.
Type E : Water Reducing and Accelerating Admixture, adalah bahan tambahan
berfungsi ganda untuk mengurangi jumlah air pencampuran yang diperlukan untuk
menghasilkan beton dengan konsistensi tertentu dan mempercepat pengikatan

beton.
Type F : Water Reducing and High Range Admixture, adalah bahan tambahan
yang berfungsi mengurangi jumlah air pencampuran yang diperlukan untuk

menghasilkan beton dengan konsistensi tertentu sebanyak 12%.


Type G : Water Reducing, High Range and Retarding Admixture, adalah bahan
tambahan yang berfungsi mengurangi jumlah air pencampuran yang diperlukan
untuk menghasilkan beton dengan konsistensi tertentu sebanyak 12% atau lebih
dan juga menghambat pengikatan beton.

1. Water Reducing Admixture - WRA (Type A, Plasticizer)


a. Fungsi dan kegunaan
Bahan tambahan ini merupakan material organik yang larut dalam air
yang dapat mengurangi jumlah air yang diperlukan untuk mencapai konsistensi
tertentu tanpa mempengaruhi kadar udara atau sifat setting dari beton. Secara
diagram, fungsi dan pengaruh water reducing admixture dapat digambarkan
sebagai berikut.

b. Bahan
Kelompok bahan tambahan yang mengurangi penggunaan air bahan
dasarnya adalah :
1. Sulphitelye
2. Albumin Compound
3. Komposisi-komposisi gula
4. Salts of hynosalphonic acids
5. Salts of hydroxy carbonxylic acids
6. Low molecular weight polysochranides (hydroxylated polymer)
c. Penggunaan
Penggunaan water reducing admixture bertujuan untuk :
- Pembuatan mutu beton tinggi
- Mempermudah pengecoran dan pemadatan
- Meningkatkan kualitas
- Beton lebih ekonomis

2. Retarding Admixture - RA (Type B)


Retarder digunakan karena dapat memperlambat waktu pengikatan beton,
sehingga beton dapat diangkut melalui jarak jauh, apabila terdapat gangguan dalam
produksi dan pengecoran pada suhu tinggi.
Penghambatan pengembangan kekuatan tekan pada umumnya tidak kita
kehendaki. Akan tetapi pengurah kecepatan menyebarnya panas hidras adalah
menguntungkan karena dapat mencegah timbulnya retak-retak pada bangunan

yang sedang melaksanakan pembetonan massal. Kekuatan tekan akhir dapat


sedikit bertambah apabila digunakan retarders, akan tetapi sering terjadi
pengurangan kekuatan tekan akhir jika penggunaan retarders itu jauh melebihi
dosis yang ditetapkan.
Bahan penghambat yang terdapat di pasaran biasanya menggunakan gula
sebagai bahan dasarnya. Jika menggunakan retarders jenis ini sebaiknya jangan
melebihi dosis yang disyaratkan. Bilamana memakai dosis yang jauh melampaui
batas maka beton yang menggunakan bahan jenis penghambat ini tidak pernah
akan mengikat. Sifat-sifat lain seperti kekedapan terhadap air dan penyusutan pada
umumnya tidak dipengaruhi secara negatif, jika menggunakan bahan penghambat.
Bahan penghambat biasanya digunakan bila pad waktu melaksanakan pembetonan
dalam cuaca panas, waktu pengikatan semen dipercepat akibat suhu tinggi.
Disamping itu bahan penghambat digunakan juga ditempat pembuatan beton tua
dan beton muda setelah terjadi penghentian pengecoran.
Efek penghambatan seringkali digabungkan dengan air entraining serta
perbaikan sifat pengerjaan atau keduanya.
3. Accelerating Admixture - AA (Type C)
Jenis bahan tambahan ini mempercepat waktu hidrasi dari semen. Beton yang
menggunakan accelarator lebih cepat mengikat serta mencapai kekuatan tekannya.
Pada umumnya kita tidak memerlukan waktu pengikatan beton yang cepat. Waktu
pengikatan yang cepat hanya diperlukan kalau kita perlu menutup bocor dalam
bangunan, yang harus menahan tekanan air dalam segala arah. Jenis Ultra Rapid
Accelerators seperti water-glass sangat menguntungkan oleh karena jenis ini
menyebabkan pengikatan beton dengan segera.
4. Water Reducing and Retarding Admixture (Type D)
a. Fungsi
Bahan tambahan penghambat pengikatan adalah cairan kimia yang
menghambat waktu pengikatan dari semen.
b. Bahan
Bahan dasar kimia dari Retarding Admixture (RA) adalah Salt of
Lignosulphonic acids, salt of hydroxycarboxilic acids, low molekuler weight
polysaccharides, salt of boric acid, salt of phosphoric acid. Bahan dasar kimia
RA hampir sama dengan WRA, hanya dosisnya agak lebih sedikit.
c. Mekanisme
Seperti pada WRA normal, bahan kimianya diserap oleh partikel semen
sehingga melapisi permukaan partikel semen sehingga perubahan sifat dari
lapisan beton memperlambat penetrasi kedalaman semen dan hasilnya
memperlambat perkembangan reaksi hidrasi.
5. Accelerating and Water Reducing Admixture (Type E)
a. Fungsi

Accelerating admixture merupakan bahan kimia organik yang larut dalam


air dan meningkatkan tingkat reaksi antara semen dan air, dengan demikian
percepatan

pengikatan

dan

pengembangan

kekuatan

akan

meningkat.

Accelerating water reducing admixture juga berkaitan dengan sifat water


reducing.
b. Bahan
Hampir semua accelerator berbahan dasar kalsium klorida atau kalsium
format. Namun penggunaannya dibatasi hanya pada beton tanpa tulangan saja,
karena berpotensi mempengaruhi korosi pada tulangan.
c. Mekanisme
Kekuatan awal beton merupakan akibat dari hidrasi trikalsium silikat
(C S) dan trikalsium aluminate (C A) dari semen portland. Saat mencampur
3
3
dengan air C S mengeras dengan cepat, baik C S dan C A sama-sama
3
3
3
menghasilkan panas.
Accelerator meningkatkan tingkat hidrasi dan dengan cara demikian
memberikan evolusi panas awal dan pengembangan kekuatan.

Accelerator

tidak menekan titik beku air dan tidak menunjukkan sebagai anti beku.

6. Superplasticizer
a. Fungsi
Superplasticizer merupakan bahan kimia, biasanya long chain molecules,
yang pada saat ditambahkan pada beton normal mengurangi air yang
diperlukan untuk mencapai workablility yang ditentukan, atau memberi
perbedaan workability yang besar dibawah workability yang ingin dicapai
dengan menambahkan admixture water reducing normal.
b. Bahan
Bahan kimia yang digunakan dalam superplasticizer :
- Sulphonat melamine formaldehyde condensates
- Sulphonat napthaline formaldehyde condensates
- Modified lignosulphonate
c. Mekanisme
Superplasticizer terserap dalam partikel semen. Dengan demikian
merendahkan daya tarik partikel dalam menghasilkan lebih banyak dispersi butir
semen seperti halnya dengan menggunakan water reducer normal.

F. Bahan Tambahan Mineral


1. Pozzolan

a. Definisi
Pozzolan adalah bahan yang mengandung senyawa silika atau silika
alumina dan alumina, yang tidak mempunyai sifat mengikat seperti semen akan
tetapi dalam bentuknya yang halus dan dengan adanya air, maka senyawasenyawa tersebut akan bereaksi dengan kalsium hidroksida pada suhu normal
akan membentuk senyawa kalsium silikat hidrat dan kalsium hidrat yang
bersifat hidraulis dan mempunyai angka kelarutan yang cukup rendah.
b. Standar Mutu Pozzolan
Menurut ASTM C 618-86 mutu pozzolan dibedakan menjadi tiga kelas,
dimana tiap-tiap kelas ditentukan komposisi kimia dan sifat fisiknya. Pozzolan
mempunyai mutu yang baik apabila jumlah kadar SiO + Al O + Fe O tinggi
2
2 3
2 3
dan reaktifitasnya tinggi dengan kapur. Ketiga kelas pozzolan yang disebutkan
diatas adalah :
Kelas N : Pozzolan alam atau hasil pembakaran, pozzolan alam yang
dapat digolongkan didalam jenis ini seperti tanah diatomic, opaline cherts
dan shales, tuff dan abu vulkanik atau pumicite, dimana biasa diproses
melalui pembakaran maupun tidak. Selain itu ada juga berbagai material

hasil pembakaran yang mempunyai sifat pozzolan yang baik.


Kelas C : Fly ash yang mengandung CaO diatas 10% yang dihasilkan dari

pembakaran lignite atau sub-bitumen batu bara.


Kelas F : Fly ash yang mengandung CaO kurang dari 10% yang dihasilkan
dari pembakaran antrhacite atau bitumen batu bara.

c. Jenis-jenis pozzolan
Menurt proses pembentukannya (asalnya) didalam ASTM C 593-82, bahan
pozzolan dapat dibedakan menjadi 2 jenis, yaitu :
1) Pozzolan Alam
Pozzolan alam adalah bahan alam yang merupakan sedimentasi dari abu
atau lava gunung berapi yang mengandung silika aktif, yang bila dicampur
dengan kapur padam akan mengadakan proses sedimentasi.
Keberadaan pozzolan alam di Indonesia banyak di jumpai di daerah dekat
pegunungan yang masih aktif seperti di daerah Nagrek (Jawa Barat), Gunung
Muria (Jawa Tengah), Gunung Lawu (Jawa Timur), dan daerah lainnya baik di
Pulau Jawa, Sumatera Sulawesi. Bahan pozzolan alam itu sendiri sudah lama
dikenal di Indonesia sebagai bahan bangunan yang dicampur dengan kapur
padam. Hanya saja pengolahannya masih terbatas dan belum dimanfaatkan
secara optimal. Untuk itu diperlukan teknologi yang lebih maju dalam
pengelolaannnya.
Pozzolan alam mempunyai mutu, bentuk serta warna yang berbeda-beda
antara satu dengan yang lainnya. Karena mutu pozzolan alam tidak sama
disetiap tempat, maka untuk mengotrol kualitasnya digunakan standarisasi mutu
pozzolan dari ASTM yang terperinci seperti diatas.
Sifat pozzolan alam terhadap beton pada dasarnya mirip dengan pozzolan
lainnya, yaitu memperlambat waktu setting sehingga kekuatan awal beton
rendah, bereaksi dengan Ca(OH)

membentuk senyawa kalsium silikat hidrat

(CSH) sehingga mengurang kandungan Ca(OH) dalam beton, membuat beton


2
tahan terhadap air laut dan sulfat.
2) Pozzolan Buatan
Pozzolan buatan sebenarnya banyak macamnya, baik merupakan sisa
pembakaran dari tungku, maupun hasil pemanfaatan limbah yang diolah
menjadi abu yang mengandung silika reaktif dengan melalui proses
pembakaran, seperti abu terbang (fly ash), abu sekam (rice husk ash), silika
fume dan lain-lain.
d. Sifat-sifat Semen yang Memakai Pozzolan
Didalam proses hidrasi semen selain menghasilkan senyawa CSH, CAH, dan
CAF yang bersifat sebagai bahan perekat juga menghasilkan kapur yang angka
kelarutannya tinggi dan bersifat basa. Dengan adanya pozzolan maka kapur
yang timbul akan bereaksi membentuk CSH, CAH, dan CFH yang mempunyai
sifat sebagai perekat.

Semen yang mempunyai bahan tambahan pozzolan akan juga mempunyai


sifat-sifat sebagai berikut :
Panas hidrasi akan turun karena adanya tambahan pozzolan kandungan C A
3

dalam semen berkurang.


Campuran pasta semen pada keadaan konsistensi normal maka faktor air

semen akan meningkat dengan adanya pozzolan.


Workability dari beton yang memakai semen pozzolan akan lebih baik.
Merubah waktu setting.
Merubah kekuatan beton dan lain sebagainya.

Anda mungkin juga menyukai