0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
24 tayangan14 halaman

Analisis Mesin Diesel: Praktikum Teknik Mesin

Laporan praktikum ini membahas percobaan mesin diesel di laboratorium departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia. Laporan ini menganalisis cara kerja mesin diesel, menghitung parameter kinerjanya seperti tenaga kuda kering, konsumsi bahan bakar khusus, efisiensi termal, dan nilai gamma. Hasilnya digambarkan dalam bentuk grafik untuk menganalisis hubungan antara parameter-parameter tersebut dengan putaran mesin.

Diunggah oleh

leotriutomo
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
24 tayangan14 halaman

Analisis Mesin Diesel: Praktikum Teknik Mesin

Laporan praktikum ini membahas percobaan mesin diesel di laboratorium departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia. Laporan ini menganalisis cara kerja mesin diesel, menghitung parameter kinerjanya seperti tenaga kuda kering, konsumsi bahan bakar khusus, efisiensi termal, dan nilai gamma. Hasilnya digambarkan dalam bentuk grafik untuk menganalisis hubungan antara parameter-parameter tersebut dengan putaran mesin.

Diunggah oleh

leotriutomo
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Group 4

LAPORAN PRAKTIKUM
DIESEL ENGINE
Leo Tri Utomo ( 1306367012 )
Raja Fitrah Aulia Nurpalah ( 1306367025 )
Rara Rahil Inayah (1306367044 )
Aldy Syahrihaddin Hanifa ( 1306447253 )
Hanisa Ananda ( 1306367082 )
Husnoel (1306401643 )

Program Studi Teknik Perkapalan


Departemen Teknik Mesin
Universitas Indonesia
2015

Daftar Isi
I.

Tujuan.............................................................................................................. 2

II.

Peralatan......................................................................................................... 2

III.

Teori............................................................................................................. 2

IV.

Langkah Percobaan...................................................................................... 8

V.

Data Pengamatan............................................................................................ 9

VI.

Pengolahan Data.......................................................................................... 9

VII.

Analisis....................................................................................................... 10

VIII.

Kesimpulan................................................................................................. 12

IX.

Referensi.................................................................................................... 12

I.

II.

III.

Tujuan
1. Menganalisis cara kerja mesin diesel yang ada di laboratorium
departemen Teknik Mesin
2. Menghitung dan menganalisis beberapa parameter performance
engine ( bhp. Bsfc. Efisiensi thermal, nilai gamma ) dari mesin diesel
3. Menganalisis grafik
Bhp vs Rpm
Bsfc vs Rpm
Efisiensi Thermal vs Rpm
Nilai Gamma () vs Rpm
Peralatan
1. Mesin Diesel ( 4 Sylinder 4 Stroke)
2. Stopwatch
3. Alat Tulis
Teori
Mesin diesel ( juga dikenal sebagai mesin kompresi /
Compression) adalah sebuah mesin pembakaran internal yang
menggunakan panas kompresi untuk memulai pengapian dan
membakar bahan bakar yang telah disuntikkan ke dalam ruang
pembakaran. Ini berbeda dengan mesin busi seperti mesin bensin atau
mesin gas, yang
menggunakan busi untuk
menyalakan
campuran
udarabahan bakar.

Mesin diesel menggunakan prinsip kerja hukum Charles, yaitu


ketika udara dikompresi maka suhunya akan meningkat. Udara disedot
ke dalam ruang bakar mesin diesel dan dikompresi oleh piston yang
merapat dengan rasio kompresi antara 15:1 dan 22:1 sehingga
menghasilkan tekanan 40-bar (4.0 MPa; 580 psi), dibandingkan dengan
mesin bensin yang hanya 8 to 14 bars (0.80 to 1.40 MPa; 120 to
200 psi). Tekanan tinggi ini akan menaikkan suhu udara sampai 550 C
3

(1,022 F). Beberapa saat sebelum piston memasuki proses


kompresi, bahan bakar diesel disuntikkan ke ruang bakar langsung
dalam tekanan tinggi melalui nozzle dan injektor supaya bercampur
dengan udara panas yang bertekanan tinggi. Injektor memastikan
bahwa bahan bakar terpecah menjadi butiran-butiran kecil dan
tersebar merata. Uap bahan bakar kemudian menyala akibat udara
yang terkompresi tinggi di dalam ruang bakar. Awal penguapan bahan
bakar ini menyebabkan sebuah waktu tunggu selagi penyalaan, suara
detonasi yang muncul pada mesin diesel adalah ketika uap mencapai
suhu nyala dan menyebabkan naiknya tekanan diatas piston secara
mendadak. Oleh karena itu, penyemprotan bahan bakar ke ruang bakar
mulai dilakukan saat piston mendekati (sangat dekat) TMA untuk
menghindari detonasi. Penyemprotan bahan bakar yang langsung ke
ruang bakar di atas piston dinamakan injeksi langsung (direct injection)
sedangkan penyemprotan bahan bakar kedalam ruang khusus yang
berhubungan langsung dengan ruang bakar utama dimana piston
berada dinamakan injeksi tidak langsung (indirect injection).
Mesin Diesel 4 Tak
Berikut ini prinsip kerja dari mesin diesel 4 langkah
Yang perlu diperhatikan adalah, ada beberapa macam ruang bakar
yang ada pada motor diesel, diantaranya ada mesin diesel yang
menggunakan ruang bakar utama ditambah ruang bakar tambahan,
tetapi ada juga mesin diesel yang mengguanak ruang bakar utama
saja atau disebut ruang bakar langsung (direct injection). Nah, dibawah
ini merupakan cara kerja mesin diesel yang menggunakan ruang bakar
langsung (direct injection). Untuk yang menggunakan ruang bakar
tambahan mungkin akan saya share lain kali. Langsung saja berikut ini
cara kerja mesin diesel 4 langkah :
1. Langkah Hisap
Selama langkah pertama, yakni langkah
hisap, piston bergerak ke bawah (dari TMA ke TMB) sihingga
membuat kevakuman di dalam silinder, kevakuman ini membuat
udara terhisap dan masuk ke dalam silinder. Pada saat ini katup
hisap membuka dan katup buang menutup.
2. Langkah Kompresi
Langkah kedua disebut juga dengan langkah kompresi, udara
yang sudah masuk ke dalam silinder akan ditekan oleh piston yang
bergerak ke atas (TMA). Perbandingan kompresi pada motor diesel
berkisar diantara 14 : 1 sampai 24 : 1. Akibat proses kompresi ini

udara menjadi panas dan temperaturnya bisa mencapai sekitar 900


C. Pada lankah ini kedua katup dalam posisi menutup semua.
3. Langkah Pembakaran
Pada akhir langkah kompresi, injector nozzle menyemprotkan
bahan bakar dengan tekanan tinggi dalam bentuk kabut ke dalam
ruang bakar dan selanjutnya bersama sama dengan udara terbakar
oleh panas yang dihasilkan pada langkah kompresi tadi. Diikuti oleh
pembakaran tertunda, pada awal langkah usaha akhirnya
pembentukan atom bahan bakar akan terbakar sebagai hasil
pembakaran langsung dan membakar hampir seluruh bahan bakar.
Mengakibatkan panas silinder meningkat dan tekanan silinder yang
bertambah besar. Tenaga yang dihasilkan oleh pembakaran
diteruskan ke piston. Piston terdorong ke bawah (TMA) dan tenaga
pembakaran dirubah menjadi tenaga mekanik. Pada saat ini kedua
katu juga dalam posisi tertutup.
4. Langkah Buang\
Dalam langkah ini piston akan bergerak naik ke TMA dan
mendorong sisa gas buang keluar melalui katup buang yang sudah
terbuka, pada akhir langkah buang udara segar masuk dan ikut
mendorong sisa gas bekas keluar dan proses kerja selanjutnya akan
mulai. Pada langkah ini katup buang terbuka dan katup masuk
tertutup.

Perbedaan Direct dan indirect injection

Direct injection atau dalam bahasa indonesia artinya injeksi


langsung adalah sistem dimana injektor/nozzle diletakan langsung
didalam (bagian atas) ruang pembakaran. Sistem direct injection ini
biasanya memiliki desain kepala silinder yang berbentuk mahkota
untuk meningkatkan turbulensi saat terjadi pembakaran. Sedangkan
indirect injection / injeksi tidak langsung adalah kondisi dimana injektor
7

tidak diletakkan didalam ruang bakar seperti direct injection. Namun


terdapat satu ruangan lagi dalam ruang bakar tersebut yang disebut
swirl chamber. Swirl chamber adalah ruang dimana injektor
ditempatkan di kepala silinder / head cylinder, sehingga saat piston
melakukan langkah TMA (Titik Mati Atas) sebagian besar udara yang
masuk lewat langkah hisap akan masuk ke dalam swirl chamber dan
terjadilah pembakaran di swirl chamber tersebut dan menjadi sumber
tenaga dalam mesin tersebut.
1. Keuntungan dari Direct Injection:
Saat mesin dingin lebih mudah dihidupkan
Lebih hemat dalam pemakaian bahan bakar
Ruang bakar yang lebih kecil membuat efisiensi panas menjadi lebih
baik.

2. Kerugian dari Direct Injection:


Cederung suara mesin lebih kasar dan bising
Lebih rentan terhadap penyumbatan dalam injektor karena lubang
injektor lebih kecil
Output tenaga yang cenderung lebih kecil
Turbulensi kecil pada kecepatan rendah
3. Keuntungan dari Indirect Injection:

4.

Tingkat turbulen yang tetap tinggi di berbagai putaran mesin


Tidak memerlukan sistem injeksi yang tinggi
Kecil kemungkinan untuk terjadinya penyumbatan pada injektor
Kerugian dari Indirect Injection:

Konsumsi BBM yang kurang efisien dan perpindahan panas yang


rendah
Rasio kompresi yang lebih tinggi dibutuhkan saat start
Mesin (machine) adalah alat mekanik atau elektrik yang mengirim
atau mengubah energi untuk melakukan atau membantu pelaksanaan
tugas manusia. Biasanya membutuhkan sebuah masukan sebagai
pemicu, mengirim energi yang telah diubah menjadi sebuah keluaran
yang melakukan tugas yang telah disetel.
Ada 10 parameter performance mesin, yaitu :
1. Indicated Thermal Efficiency
9

Indicated Thermal Efficiency yaitu Rasio antara output daya yang


ditunjukkan mesin dengan tingkat pasokan energi dalam uap atau
bahan bakar atau diartikan perbandingan energy dalam daya
indikatif terhadap bahan bakar.

2. Brake Thermal Efficiency


Kerja berguna yang dihasilkan selalu lebih kecil dari pada energi
yang dibangkitkan piston karena sejumlah energi hilang akibat
adanya rugirugi mekanis (mechanical losses). Dengan alasan
ekonomis perlu dicari kerja maksimum yang dapat dihasilkan dari
pembakaran sejumlah bahan bakar. Efisiensi ini sering disebut
sebagai efisiensi termal brake (brake thermal efficiency, ) brake
thermal efficiency adalah perbandingan energy dalam daya brake

terhadap energy bahan bakar.

3. Mechanical Efficiency
Mechanical Efficiency yaitu perbandingan daya efektif ( daya
yang dihasilkan ) terhadap daya indikasi (daya yang menggerakkan
piston).
Efisiensi mekanik mengukur efektivitas mesin dalam
mengubah energi dan kekuatan yang masukan ke perangkat
menjadi kekuatan output dan gerakan..

4. Volumetric Efficiency
11

Efesiensi volumetric adalah petunjuk kemampuan mesin dalam


menghisap dan didefinisikan sebagai perbandingan udara actual
yang terhisap pada kondisi atmosfir terhadap volume langkah dari
mesin. Efisiensi volumetric dapat dihitung berdasarkan massa atau
volume udara, namun untuk hal ini lebih disukai yang menggunakan
basis massa.

5. Relative Efficiency / Efficiency ratio


Relative Efficiency yaitu perbandingan efisiensi termal siklus
terhadapsiklus ideal.

6. Mean
Efffective Pressure
Mean Effeciency Pressure besaran yang berkaitan dengan
pengoperasian mesin reciprocating dan merupakan ukuran yang
berharga kapasitas mesin untuk melakukan pekerjaan yang
independen dari perpindahan mesin . [1] Saat dikutip sebagai
tekanan efektif rata-rata yang ditunjukkan atau IMEP (didefinisikan
di bawah ini ), mungkin dianggap sebagai rata-rata tekanan yang
bekerja pada piston selama stroke kekuatan itu siklus

7. Main Piston Speed


Main
Piston
Speed
adalah ratarata kecepatan dari piston dalam mesin reciprocating . Ini adalah
fungsi dari stroke yang dan [Link] faktor 2 dalam persamaan
untuk memperhitungkan satu stroke terjadi pada 1/2 dari revolusi
engkol (atau alternatif: dua stroke per satu putaran engkol) dan '60'
untuk mengkonversi detik dari menit dalam jangka RPM. Atau
kecepatan piston rata-rata (mps v) adalah kecepatan rata-rata piston
dalam mesin reciprocating yang berhubungan dengan stroke (S) dan
crankshaft perpindahan
sudut untuk
satu
stroke ( s) dengankecepatan sudut tertentu ().

8. Specific Power Output


13

Specific power output didefinisikan sebagai output daya per


satuan luas piston dan merupakan ukuran keberhasilan perancang
mesin dalam menggunakan area piston yang tersedia terlepas dari
ukuran silinder.

9.

Specific
Fuel
Consumption
Specifik Fuel Consumption adalah parameter unjuk kerja mesin
yang berhubungan langsung dengan nilai ekonomis sebuah mesin,
karena dengan mengetahui hal ini dapat dihitung jumlah bahan
bakar yang dibutuhkan untuk menghasilkan sejumlah daya dalam
selang
waktu
tertentu.

10.

Fuel air or Air-Fuel ratio


Fuel-air Ratio adalah rasio massa udara untuk bahan bakar hadir
dalam pembakaran proses
seperti
dalam mesin
pembakaran
internal atau tungku [Link] udara cukup tepat diberikan untuk
benar-benar membakar semua bahan bakar, rasio dikenal
sebagai stoikiometri campuran,
sering
disingkat
menjadi tabah. Untuk perhitungan AFR yang tepat, oksigen isi udara
pembakaran harus ditentukan karena kemungkinan pengenceran
oleh
ambient uap
air ,
atau
pengayaan
dengan
penambahan
oksigen.

11.

Calorific Value of the Fuel


Calorific Value of the Fuel adalah jumlah panas yang dihasilkan
oleh pembakaran yang - pada tekanan konstan dan di bawah
"normal" (standar) kondisi (yaitu untuk 0 o C dan di bawah tekanan
dari 1.013 mbar).

15

IV.

Proses pembakaran menghasilkan uap air dan teknik tertentu dapat


digunakan untuk memulihkan jumlah panas yang terkandung dalam
uap air ini dengan kondensasi itu.
Tinggi Nilai Kalor (atau Gross Nilai Kalor - GCV, atau lebih tinggi
Heating Value - HHV) - air pembakaran sepenuhnya kental dan
panas yang terkandung dalam uap air pulih;
Lebih rendah Nilai Kalor (atau Net Nilai Kalor - NCV, atau lebih
rendah Pemanasan Nilai - LHV) - produk pembakaran mengandung
uap air dan panas di uap air tidak pulih.

Langkah Percobaan
Langkah Percobaan yang dilakukan adalah sebagai berikut:
1. Mengecek kondisi mesin deisel yang digunakan untuk
praktiku
2. Mengatur parameter-parameter di mesin pada kondisi
3.
4.
5.
6.
7.

normal
Memanaskan mesin dengan glow plug
Menyalakn mesin
Menetapkan throrttle pada kondisi idle(konstan)
Mengubah rpm mesin pada rpm 1100, 1300, dan 1500
Mencatat parameter-parameter yang dibutuhkan pada
setiap kondisi rpm.

V.

Data Pengamatan
Adapun data yanng kami peroleh selama praktikum berlangsung
adalah sebagai berikut:
s

0.082 m

torsi

1.17424 rpm

1100

rc

1.56

1300

8.2

1500

spesific weight
0.83 kg/l
0.00083 kg/ml
no

thorttl
e

RP
M

Wkgf/cylind
er

W lbf/
cylind
17

W
newton/Cylin

Time(fuel
consumpti

P1
(pa)

er

VI.

40

40

40

110
0
130
0
150
0

der

on 30 ml

4.5

9.918

44.13

3.75

8.265

36.75

6.612

29.42

58.8
3
68.8
0.686
3
93.1
0.682
6
0.693

Pengolahan Data
Setelah mendapatkan data-data yang ada, muncullah hasil dari
pengolahan data yang dilakukan selama praktikum berlangsung, yaitu:
rpm

bhp(hp)

1100 2.439209 1.81891785


130
0
150
0

fuel
consumtion
(kg/h)

bhp(kwh)

0.035930736

2.402251 1.79135849

0.036297376

2.217462 1.65356168

0.036510264

bsfc
(kw)
0.0653
6
0.0650
2
0.0603
7

gamma

efficiency
thermal

wout
(joule)

1.165

26.70%

7.23732

1.078

13.50%

6.027

0.975

4.68%

4.82488

Praktikan mencari besar nilai-nilai di atas dengan menggunakan


rumus-rumus sebagai berikuit:
Bhp=

Wout=

thermal eff .=1

VII.

[
1

Torsi x Wlbf x rpm


5252

P 1V 1 R( 1) [ ( rc1 )r (1 ) ( rc 1 ) ]
1

rc 1
]
( rc1 )

Analisis
Pada kurva antara BHP dengan putaran mesin (RPM) menunjukkan
bahwa nilai dari BHP mengalami penurunan seiring dengan kenaikan
19

nilai dari putaran mesin (RPM). Dengan kata lain, BHP berbanding
terbalik dengan kenaikan putaran RPM, walaupun seharusnya kenaikan
nilai putaran pada mesin meningkatkan power dari mesin itu sendiri.
Kurva dari hasil percobaan kami pun tidak begitu linier. Kenaikan kurva
BHP terhadap putaran mesin (N) seharusnya memiliki garis linier yang
halus, namun pada data yang kami dapatkan tidak berlaku seperti itu.
Kemungkinan besar hal ini dikarenakan nilai kenaikan putaran mesin
yang tepat seperti di data tidak bisa kami dapatkan pada percobaan.
Misalnya untuk putaran 1100 rpm, pada Dynamometer Controller tidak
dapat menunjukkan angka yang tepat 1100 rpm melaikan kurang atau
lebih dari 1100 rpm.

BHP Vs RPM
2.5
2.4

BHP Vs RPM

2.3

Linear (BHP Vs
RPM)

2.2
2.1
1100

Pada

kurva

1300

antara

1500

BSFC

dengan

putaran

mesin

(RPM),

menunjukkan nilai dari BSFC akan meningkat seiring dengan naiknya


nilai dari RPM. Dengan kata lain, BSFC berbanding lurus dengan RPM.
Sementara itu, nilai dari BSFC sendiri berbanding terbalik dengan nilai
dari BHP yang mengalami penurunan terhadap kenaikan nilai RPM.

Bsfc VS RPM
0.07
0.07
BSFC 0.06
0.06
1100

Series 1

1300
RPM

21

1500


Pada kurva antara

thermal

dengan RPM menunjukkan bahwa nilai dari

thermal

semakin kecil dan menurut kami sangat signifikan, seiring

dengan kenaikan nilai dari RPM. Penurunan kurva tersebut disebabkan

karena nilai dari

thermal

sendiri bergantung dari nilai BHP pada mesin

dimana dari hasil percobaan menunjukkan bahwa nilai BHP semakin

menurun seiring kenaikan RPM. Kemudian, nilai

th

juga

berbanding

terbalik dengan nilai dari BSFC yang mengalami kenaikan. Tetapi, dari
sini kami dapat mengetahui bahwa nilai rasio dari heat sebanding
dengan nilai brake.

Effisiensi Termal ( th)Vs RPM


30.0%
25.0%
20.0%
15.0%
10.0%
5.0%
0.0%
1100

Effisiensi Termal
Vs RPM

1300

1500

Sementara pada kurva antara nilai Gamma () dengan RPM


menghasilkan garis linier dengan penurunan pada tiap kenaikan nilai
putaran pada mesin.

Vs RPM
1.2
1.15
1.1

Vs RPM

1.05
1
0.95
0.9
0.85
1100

1300

23

1500

VIII.

Kesimpulan
Dari praktikum dan pengolahan data yang dilakukan oleh praktikan,
dapat ditarik kesimpulan bahwa :
a. Nilai BHP menunjukkan penurunan seiring dengan kenaikan nilai
dari putaran mesin (RPM). BHP berbanding terbalik dengan
kenaikan putaran, kemudian juga tidak membentuk suatu garis
yang linier.
b. Nilai dari BSFC akan meningkat seiring dengan naiknya nilai dari
putaran mesin (RPM).
c. Nilai BHP dan Gamma akan mempengaruhi nilai BSFC juga
Efisiensi Termal pada mesin diesel. Jika nilai BHP dan Gamma
semakin menurun seiring kenaikan nilai putaran mesin, maka hal
ini akan menyebabkan berbanding terbalik dengan nilai BSFC
serta akan berbanding lurus dengan Efisiensi Termal mesin.

IX.

Referensi

1. Ganesan, v. Internal Combustion Engine. Tata McGraw-Hill. 2006.

25

Anda mungkin juga menyukai