0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
190 tayangan24 halaman

Leasing di Indonesia: Definisi dan Manfaat

Dokumen tersebut membahas tentang sistem leasing di Indonesia sebagai salah satu lembaga pembiayaan. Ia menjelaskan pengertian leasing, unsur-unsur leasing, dan dasar hukum leasing di Indonesia. Leasing adalah pembiayaan penyediaan barang modal untuk digunakan selama periode tertentu dengan pembayaran secara angsuran. Dasar hukum leasing di Indonesia dimulai pada tahun 1974 dengan keluarnya peraturan bersama antara beberapa menteri

Diunggah oleh

HarianaLumbanGaol
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
190 tayangan24 halaman

Leasing di Indonesia: Definisi dan Manfaat

Dokumen tersebut membahas tentang sistem leasing di Indonesia sebagai salah satu lembaga pembiayaan. Ia menjelaskan pengertian leasing, unsur-unsur leasing, dan dasar hukum leasing di Indonesia. Leasing adalah pembiayaan penyediaan barang modal untuk digunakan selama periode tertentu dengan pembayaran secara angsuran. Dasar hukum leasing di Indonesia dimulai pada tahun 1974 dengan keluarnya peraturan bersama antara beberapa menteri

Diunggah oleh

HarianaLumbanGaol
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Pertumbuhan perekonomian Indonesia semakin pesat dengan munculnya
berbagai macam usaha. Dengan demikian, untuk memenuhi kebutuhan perusahaan
maka dibutuhkan modal/capital yang tidak sedikit. Jika perusahaan hanya
mengandalkan bank, kemungkinan untuk terpenuhinya kebutuhan perusahaan sangat
terbatas karena bank memiliki dana yang terbatas. Maka dari itu muncul berbagai
cara untuk memenuhi capital yaitu salah satunya dengan munculnya leasing.
Usaha leasing di Indonesia prinsipnya relatif baru. Usaha ini diperkenalkan
pada tahun 1974 berdasarkan surat keputusan bersama (SKB) menteri Menteri
keuangan, perindustrian dan perdagangan, No. Kep, 122/MK/IV/2/1974, No.
32/M/SK/2/1974, dan No. 30/kbp/I/1974 tanggal 7 Februari 1974 tentang Perizinan
Usaha Leasing. Selanjutnya menteri keuangan sebagai pihak yang berwenang dengan
lembaga usaha leasing mengeluarkan surat keputusan no.650/MK/IV/5/1974 tanggal
6 Mei 1974 yang mengatur tata cara perizinan dan kegiatan usaha leasing di
Indonesia. Selanjutnya menteri keuangan mengeluarkan Surat Keputusan Penegasan
Pemberian Pajak Penjualan dan Besarnya Bea Materai terhadap Usaha Leasing.
Sejak itu usaha leasing di Indonesia pada tahun 1980-an semakin bertambah dan
seiring itu dikeluarkan Keputusan Presiden No.61 Tahun 1988 sebagai bagian dari
deregulasi pakdes pada 20 Desember 1988.
Leasing adalah salah satu lembaga pembiayaan yang telah berkembang menjadi
industri pembiayaan alternatif selain bank dan lembaga keuangan lainnya serta
merupakan bentuk pembelanjaan yang sangat penting di dalam dunia usaha, karena
barang-barang modal ataupun alat-alat produksi untuk kepentingan usaha dapat
diperoleh tanpa harus membeli atau memilikinya. Untuk perusahaan-perusahaan
yang memiliki modal yang minim dapat menggunakan leasing sebagai alternatif
pencarian modal.

B. RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimana sistem Leasing di Indonesia sebagai salah satu Lembaga
Pembiayaan?
2. Mengapa pembiayaan dengan sistem Leasing diminati oleh pelaku usaha?

C. TUJUAN
Tujuan dari dibuatnya makalah ini adalah untuk mengetahui tentang sistem
Leasing sebagai salah satu Lembaga Pembiayaan di Indonesia dan juga mengetahui
alasan mengapa pembiayaan dengan sistem Leasing diminati oleh para pelaku usaha.

BAB II
PEMBAHASAN

A. PENGERTIAN LEASING
Sewa Guna Usaha (Bahasa Inggris: leasing) atau sering disingkat SGU adalah
kegiatan pembiayaan dengan menyediakan barang modal baik dengan hak opsi
(finance lease) maupun tanpa hak opsi (operating lease) untuk digunakan oleh
penyewa guna usaha (lessee) selama jangka waktu tertentu berdasarkan pembayaran
secara angsuran. Pengertian ini didapat dari Peraturan Menteri Keuangan Repulik
Indonesia Nomor 84/PMK.012/2006 tentang Perusahaan Pembiayaan.
Sedangkan pengertian Leasing yang tercantum dalam Surat Keputusan Bersama
Menteri Keuangan, Menteri Perindustrian, dan Menteri Perdagangan Republik
Indonesia No. KEP-122/MK/IV/2/1974, No. 21/M/SK/2/1974, No. 30/Kpb/I/1974,
tentang Perizinan Usaha Leasing, yang dimaksud dengan Leasing adalah Setiap
kegiatan pembiayaan perusahaan pembiayana perusahaan dalam bentuk penyediaan
barang-barang modal untuk digunakan oleh suatu perusahaan untuk jangka waktu
tertentu, berdasarkan pembayaran-pembayaran secara berkala disertai dengan hak
pilih (opsi) dari perusahaan tersebut untuk membeli barang-barang modal yang
bersangkutan atau memperpanjang jangka waktu leasing berdasarkan nilai sisa yang
telah disepakati bersama.
Hak opsi yang disebutkan diatas adalah hak untuk membeli objek sewa guna
usaha setelah berakhirya perjanjian berdasaran nilai sisa yang disepakati bersama.
Pengadaan barang modal dapat juga dilakukan dengan cara memberli barang
penyewa guna usaha yang kemudian disewa guna usahakan kembali. Sepanjang
perjanjian sewa guna usaha, hak milik atas barang modal berada pada perusahaan
pembiayaan.
Dari definisi-definisi tersebut di atas, dapat disebutkan bahwa yang menjadi
unsur-unsur dari suatu Leasing adalah sebagai berikut:
1. Suatu Pembiayaan Perusahaan
Awal mulanya Leasing memang dimaksudkan sebagai usaha memberikan
kemudahan pembiayaan kepada perusahaan tertentu yang memerlukannya.
Tetapi dalam perkembangan kemudian, bahkan Leasing dapat juga diberikan
kepada individu dengan peruntukan barang belum tentu untuk kegiatan

usaha. Misalnya, dalam praktek cukup banyak perusahaan Leasing


memberikan pembiayaan dalam bentuk Leasing kepada seseorang untuk
membeli kendaraan bermotor baik untuk keperluan bisnis maupun untuk
keperluan lainnya.
2. Penyediaan Barang Modal
Unsur selanjutnya dari Leasing adalah adanya penyediaan barang modal,
biasanya oleh pihak Suplier atas biaya dari Lessor. Barang modal tersebut
akan dipergunakan oleh Lessee umumnya untuk kepentingan bisnis. Barang
modal ini sangat bervariasi. Dapat misalnya berupa mesin-mesin, pesawat
terbang, peralatan kantor seperti komputer, mesin foto copy, kendaraan
bermotor, dan sebagainya.
Menurut Keputusan Menteri Keuangan No. 1169/KMK.01/1991, yang
dimaksudkan dengan barang modal adalah, setiap aktiva tetap yang
berwujud termasuk tanah sepanjang di atas tanah tersebut melekat aktiva
tetap berupa bangunan (plant), dan tanah serta aktiva dimaksud merupakan
satu kesatuan kepemilikan, yang mempunyai masa manfaat lebih dari 1
(satu) tahun dan digunakan secara langsung untuk menghasilkan atau
meningkatkan ataupun memperlancar produksi barang atau jasa oleh Lessee.
3. Keterbatasan Jangka Waktu
Salah satu unsur penting dari lembaga Leasing adalah adanya jangka waktu
yang terbatas. Sehingga apabila ada perjajian-perjanjian yang tidak terbatas
jangka waktunya, ini belumlah dapat dikatakan leasing, melainkan hanya
sewa menyewa biasa. Biasanya dalam kontrak Leasing ditentukan untuk
beberapa tahun Leasing tersebut dilakukan. Selanjutnya setelah jangka waktu
tertentu tersebut berakhir, ditentukan pula bagaimana status kepemilikan dari
barang tersebut. Misalnya pada saat itu kepada Lessee diberikan hak opsi,
yakni pilihan apakah Lessee akan membeli barang tersebut pada harga yang
teah disepakati bersama atau Lessee tetap menyewa, ataupun
mengembalikan barang kepada pihak Lessor.
4. Pembayaran Kembali Secara Berkala
Karena Lessor telah membayar lunas harga barang modal kepada pihak
penjual/suplier, maka adalah kewajiban bagi Lessee kemudian untuk
mengangsur pembayaran kembali harga barang modal kepada Lessor.
Besarnya dan lamanya angsuran sesuai dengan kesepakatan yang telah

dituangkan dalam kontrak leasing. Dilihat dari segi angsuran pembayaran


ini, maka Leasing mirip dengan suatu kredit bank, dengan barang modal itu
sendiri sebagai agunannya.
5. Hak Opsi untuk Membeli Barang Modal
Hak opsi yang dimiliki oleh Lessee untuk membeli barang modal pada saat
tertentu dengan syarat tertentu pula, juga merupakan salah satu unsur dari
Leasing. Artinya, di akhir masa Leasing, diberikan hak (bukan kewajiban)
kepada Lessee untuk apakah membeli barang modal tersebut dengan harga
yang terlebih dahulu ditetapkan dalam kontrak leasing yang bersangkutan.
Sungguhpun diakui pula bahwa tidak semua jeis Leasing memberikan hak
opsi ini. Karena ada juga jenis Leasing yang sama sekali tidak memberikan
hak opsi tersebut kepada Lessee, melainkan harus menyerahkan kembali
barang modal tersebut kepada pihak Lessorya di akhir masa Leasing. Tetapi
ada juga Leasing yang justru memberikan hak kepemelikan kepada pihak
Lessee di akhir masa Leasing tanpa perlu memberikan hak opsinya.
6. Nilai Sisa (Residu)
Nilai sisa merupakan besarnya jumlah uang yang harus dibayar kembali
kepada Lessor oleh Lessee di akhir masa berlakunya Leasing atau pada saat
Lessee mempunyai hak opsi. Nilai sisa biasanya sudah terlebih dahulu
ditentukan bersama dalam kontrak leasing.
B. DASAR HUKUM LEASING
Kegiatan Leasing secara resmi diperbolehkan beroperasi di Indonesia setelah
keluar keputusan bersama antara Menteri Keuangan, Menteri Perindustrian, dan
Menteri Perdagangan Republik Indonesia No. KEP-122/MK/IV/2/1974, No.
32/M/SK/1974, No. 30/Kpb/I/197474 tanggal 7 Februari Tahun 1974 tentang
Perizinan Usaha Leasing di Indonesia.
Wewenang untuk memberikan usaha leasing dikeluarkan oleh Menteri Keuangan
berdasaran Surat Keputusan Nomor 649/MK/5/1974 tanggal 6 Mei Tahun 1974 yang
mengatur mengenai Ketentuan Tata Cara Perizinan dan Kegiatan Usaha Leasing di
Indonesia.
Perkembangan selanjutnya adalah dengan keluarnya kebijaksanaan Deregulasi
20 Desember 1988 (Pakdes 20 1988) yang sisinya mengatur tentang Usaha Leasing
di Indonesia dan dengan keluarnya kebijaksanaan ini, maka ketentuan mengenai
usaha Leasing sebelumnya dinyatakan tidak berlaku lagi. Kemudian dalam

Keputusan Presiden Nomor 61 Tahun 1988 tanggal 20 Desember Tahun 1988


diperkenalkan adanya istilah pembiayaan dalam bentuk dana atau barang modal
dengan tidak menarik dana secara langsung dari masyarakat luas.
Lembaga pembiayaan menurut ketentuan ini dimungkinkan untuk melakukan
salah satu dari kegiatan pembiayaan seperti:
1. Sewa Guna Usaha (leasing)
2. Modal Ventura (venture capital)
3. Anjak Piutang (factoring)
4. Pembiayaan konsumen (consumer finance)
5. Kartu kredit
Pemberian izin untuk melakukan usaha-usaha pembiayaan seperti di atas,
terlebih dahulu harus memperoleh izin dari Menteri Keuangan.
Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan peraturan-peraturan yang termasuk
tonggak sejarah perkembangan hukum tentang Leasing di Indonesia antara lainnya:
1. Surat Keputusan Bersama Menteri Keuangan, Menteri Perindustrian, dan
Menteri Perdagangan Republik Indonesia No. KEP-122/MK/IV/2/1974, No.
32/M/SK/2/1974, No. 30/Kpb/I/1974, tertanggal 7 Februari Tahun 1974
tentang Perizinan Usaha Leasing.
2. Surat Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia No.
KEP.649/MK/IV/5/1974, tanggal 6 Mei Tahun 1974 tentang Perizinan Usaha
Leasing.
3. Surat Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia No. Kep.
650/MK/IV/5/1974, tanggal 6 Mei Tahun 1974 tentang Penegasan Ketentuan
Pajak Penjualan dan Besarnya Bea Materai terhadap Usaha Leasing.
4. Pengumuman Direktur Jenderal Moneter Nomor: Peng307/DJM/III.1/7/1974, tanggal 8 Juli Tahun 1974 tentang Pedoman
Pelaksanaan Peraturan Leasing.
C. CIRI-CIRI LEASING
Ciri-ciri Leasing adalah sebagai berikut:
1. Adanya perjanjian antara Lessor dengan pihak Lessee;
2. Berdasarkan perjanjian sewa guna usaha, Lessor mengalihkan hak
penggunana barang kepada Lessee;
3. Jangka waktu leasing terbatas. Jangka waktu ini terbagi atas:

a. Jangka waktu singkat yaitu dalam kurun waktu minimum 2 tahun dan
untuk barang modal Golongan I. Golongan I adalah harta yang
dapat disusutkan dan tidak termasuk Golongan Bangunna,
yang mempunyai masa manfaat tidak lebih dari 4 (empat) tahun;
b. Jangka menengah yaitu dalam kurun waktu minimum 3 tahun dan

untuk barang modal golongan II dan III. Yang dimaksud dengan barang
modal Golongan II adalah harta yang dapat disusutkan dan tidak
termasuk Golongan Bangunan, yang mempunyai manfaat lebih dari 4
(empat) tahun dan tidak lebih dari 8 (delapan) tahun. Golongan III
adalah harta yang dapat disusutkan dan yang tidak termasuk Golongan
Bangunan, yang mempunyai masa manfaat lebih dari 8 (delapan) tahun;
c. Jangka panjang yaitu dalam kurun waktu minimum 7 (tujuh) tahun dan
untuk Golongan Bangunan seperti kantor, gedung, gudang, dan
sebagainya.
4. Biasanya ada hubungan jangka waktu lease dan masa kegunaan benda lease
tersebut;
5. Hak milik benda lease ada pada Lessor;
6. Lessee membayar sejumlah uang sewa atas penggunaan benda lease kepada
Lessor;
7. Benda yang menjadi objek leasing adalah benda-benda yang digunakan dalam
suatu perusahaan;
8. Setelah jangka waktu leasing berakhir, Lessee akan mengembalikan objek
leasing kepada Lessor kecuali diperjanjikan lain. Misalnya, Lessee akan
membeli objek leasing pada hara yang telah disepakati atau Lessee tetap
menyewa objek tersebut atau mengembalikannya keapada Lessor.

Ciri-Ciri Kegiatan Leasing adalah:


1. Kriteria untuk finance lease apabila suatu perusahaan leasing memenuhi
persyaratan:
a. Jumlah pembayaran sewa guna usaha dan selama masa sewa guna usaha
pertama kali, ditambah dengan nilai sisa barang yang dilease harus dapat
menutupi harga perolehan barang modal yang dileasekan dan keuntungan
bagi pihak Lessor.
b. Dalam perjanjian sewa guna usaha memuat ketentuan mengenai hak opsi
bagi Lessee.

2. Kriteria untuk operating lease adalah memenuhi persyaratan sebagai berikut:


a. Jumlah pembayaran selama masa leasing pertama tidak dapat menutupi
harga perolehan barang modal yang dileasekan ditambah keuntungan
bagi pihak Lessor.
b. Di dalam perjajian leasing tidak memuat mengenai hak opsi bagi Lessee.
D. JENIS LEASING
Menurut Keputusan Menteri Keuangan No. 1251/KMK.013/1988 tanggal 20
Desember 1988 yang diperbarui dengan Keputusan Menteri Keuangan No.
1169/KMK.01/1991 ada 2 jenis Leasing, yaitu:
1. Finance Lease atau Capital Lease (Sewa Guna Usaha Pembiayaan)
Dalam finance lease, Lessor adalah pihak yang membiayai penyediaan
barang modal. Lessee biasanya memilih barang modal yang dibutuhkan dan atas
nama perusahaan sewa guna usaha, Lessee akan melakukan pemesanan,
pemeriksaan serta pemeliharaan barnag modal yang menjadi objek transaksi
sewa guna usaha. Selama masa sewa guna usaha, Lesse akan melakukan
pembayaran sewa guna usaha secara berkala dimana jumlah seluruhnya
ditambah dengan pembayaran nilai sisa (residual value) yang mana jika ada
maka itu akan mencakup pengembalian harga perolehan barang modal yang
dibiayai serta bunganya yang merupakan pendapatan sewa guna usaha. Dalam
finance lease ini, Lessor merupakan pemilik barang secara hukum, sedangkan
Lessee merupakan pihak yang menikmati keuntungan ekonomis atas barang
tersebut. Sebagai imbalan atas jasa penggunaan barang tersebut maka Lessee
akan membayar sejumlah uang yang berupa rental secara berkala kepada Lessor.
Dala finance lease, terdapat hak opsi bagi Lessee untuk membeli barang.
2. Operating Lease (Sewa Menyewa Biasa)
Dalam operating lease, Lessor membeli barang modal dan selanjutnya
disewa guna usahakan kepada Lessee. Jumlah seluruh pembayaran sewa guna
usaha berkala dalam operating lease tidak mencakup jumlah biaya yang
dikeluarkan untuk memperoleh barang modal tersebut berikut dengan bunganya.
Perbedaan ini disebabkan karena Lessor mengharapkan keuntugan justru dari
penjualan barang modal yang disewa guna usahakan, atau melalui beberapa
kontrak sewa guna usaha lainnya. Dalam sewa guna usaha jenis ini, dibutuhkan
keahlian khusus dari Lessor untuk memelihara dan memasarkan kembali barnag
modal yang disewa guna usahakan. Lessor biasanya bertanggung jawab atas

biaya-biaya pelaksanaan sewa guna usaha seperti asuransi, pajak, maupun


pemeliharaan barnag modal yang bersangkutan. Dalam operating lease, tidak
terdapat hak opsi bagi Lessee untuk membeli barang.
Selain 2 jenis leasing yang tertuang dalam Keputusan Menteri Keuangan di
atas, ada 2 jenis leasing lagi yang dikenal oleh masyarakat yang tertuang dalam
Standar Akuntansi Keuangan Indonesia/PSAK No. 30 yaitu:
3. Sales-Type Lease (Sewa Guna Usaha Penjualan)
Sewa guna usaha jenis ini merupakan transaksi pembiayaan sewa guna
usaha secara langsung (direct finance lease) dimana dalam jumlah transaksi
termasuk laba yang diperhitungkan oleh pabrikan atau penyalur yang juga
merupakan perusahaan sewa guna usaha. Sewa guna usaha jenis ini seringkali
merupakan suatu jalur pemasaran bagi produk perusahaan tertentu.
4. Leverage Lease
Transaksi sewa guna usaha jenis ini melibatkan setidaknya tiga pihak, yakni
Lessee, Lessor, dan kreditur jangka panjang yang membiayai bagian terbesar
dari transaksi sewa guna usaha.
E. HAK OPSI PADA LEASING
Hak opsi adalah hak Lessee untuk membeli barang modal atau
memperpanjang jangka waktu perjanjian sewa guna usaha. Penggunaan hak opsi
pada akhir jangka waktu dalam perjanjian Sewa Guna Usaha (Leasing) disebut
juga sebagai finance lease. Adanya hak opsi ini, maka perjanjian sewa guna
usaha yang dilakukan harus memenuhi kriteria perjanjian ewa guna usaha
dnegan jenis finance lease.
Pelaksanaan Hak Opsi
1. Dalam hal Lessee menggunakan hak opsi untuk membeli barang modal,
maka pembelian dilakukan dengan melunasi pembayaran nilai sisa barang
modal yang disewa guna usahakan. Dasar penyusutan untuk opsi membeli
adalah nilai sisa barang modal;
2. Dalam hal Lessee menggunakan hak untuk memperpanjang jangka waktu
perjanjian sewa guna usaha, maka nilai sisa barang modal yang disewa guna
usahakan, akan digunakan sebagai dasar dalam menetapkan piutang sewa
guna usaha.

Akibat Hukum Penggunaa Hak Opsi dalam Akhir Jangka Waktu Masa
Leasing
1. Beralihnya kepemilikan dari barnag modal yang disewa guna usahakan dari
Lessor ke Lesse;
2. Perlakuan perpajakan, yaitu:
a. Selama masa sewa guna usaha, Lessee tidak boleh melakukan
penyusutan atas barang modal yang disewa guna usaha, sampai saat
Lessee menggunakan hak opsi untuk membeli;
b. Setelah Lessee menggunakan hak opsi untuk membeli barang modal
tersebut, Lessee melakukan penyusutan dan dasar penyusutannya adalah
nilai sisa (residual value) barang modal yang bersangkutan;
c. Pembayaran sewa guna usaha yang dibayar atau terutang oleh Lessee
kecuali pembebanan atas tanah, merupakan biaya yang dapat
dikurangkan dari penghasilan bruto Lessee sepanjang transaksi sewa
guna usaha tersebut memenuhi kriteria sebagai finance lease;
d. Dalam hal masa sewa guna usaha lebih pendek dari masa yang
ditentukan dalam kriteria finance lease, Direktur Jenderal Pajak
melakukan koreksi atas pembebanan biaya sewa guna usaha;
e. Menurut Pasal 23 UU No. 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan,
Lessee tidak memotong Pajak Penghasilan atas pembyaran sewa guna
usaha yang dibayar atau terutang berdasarkan perjanjian sewa guna usaha
dengan hak opsi.
F. MEKANISME LEASING
Dalam transaksi leasing sekurang-kurangnya melibat 4 (empat) pihak yang
berkepentingan, antara lain:
1. Lessor
Yaitu perusahaan leasing atau pihak yang memberikan jasa pembiayaan
kepada pihak Lesse dalam bentuk barang modal. Dalam finance lease,
Lessor bertujuan untuk mendapatkan kembali biaya yang telah dikeluarkan
untuk membiayai penyediaan barang modal dengan mendapatkan
keuntungan. Sedangkan dalam operating lease, Lessor bertujuan untuk
mendapatkan keuntungan dari penyediaan barang dan pemberian jasa-jasa
yang berkenaan dengan pemeliharaan dan pengoperasian barang modal
tersebut.

2. Lessee
Yaitu perusahaan atau pihak yang memperoleh pembiayaan dalam bentuk
barang modal dari Lessor. Dalam finance lease, Lessee bertujuan untuk
mendapatkan pembiayaan berupa barang atau peralata dengan cara
pembayaran angsuran atau secara berkala. Sedangkan dalam operating lease,
Lessee bertujuan dapat memenuhi peralatannya di samping tenaga operator
dan perawatan alat tersebut tanpa resiko bagi Lesse terhadap kerusakan.
3. Pemasok (Suplier)
Yaitu perusahaan atau pihak yang mengadakan atau menyediakan barang
untuk dijual kepada Lesse dengan pembayaran secara tunai oleh Lessor.
Dalam finance lease, pemasok langsung menyerahkan barang kepada Lessee
tanpa melalui pihak Lessor sebagai pihak yang memberikan pembiayaan.
Sedangkan dalam operating lease, pemasok menjual barangnya langsung
kepada Lessor dengan pembayaran sesuai dengan kesepakatan kedua belah
pihak secara tunai maupun secara berkala.
4. Bank atau Kreditur
Dalam suatu perjanjian kontrak leasing, pihak bank atau kreditur tidak
terlibat secara langsung dalam kontrak tersebut tetapi bank memegang
peranan dalam hal penyediaan dana kepada Lessor. Dalam hal ini, tidak
menutup kemungkinan pemasok menerima kredit dari bank.

Keterangan Gambar:

1. Lessee menhubungi pemasok untuk pemilihan dan penentuan jenis barang,


spesifikasi, harga, jangka waktu penagihan, dan jaminan purna jual atas
barang yang akan disewa.
2. Lessee melakukan negoisasi dengan Lessor mengenai kebutuhan pembiayan
barang modal. Dalam hal ini, Lessee dapat meminta lease quotation yang
tidak mengikat dari Lessor. Dalam quotation terdapat syarat-syarat pokok
pembiayaan leasing, antara lain: keterangan barang; harga barang; cash
security deposit; residual value; asuransi; biaya administrasi; jaminan uang
sewa (lease rental); dan persyaratan lainnya.
3. Lessor mengirimkan letter of offer atau commitment letter kepada Lessee
yang bersisi syarat-syarat pokok persetujuan Lessor untuk membiayai barang
modal yang dibutuhkan. Lessee menandatangani dan mengembalikannya
kepada Lessor.
4. Penandatanganan kontrak leasing setelah semua persyaratan dipenuhi Lessee
dimana kontrak tersebut mencakup hal-hal: pihak-pihak yag terlibat; hak
milik; jangka waktu; jasa leasing; opsi bagi Lessee; penutupan asuransi;
tanggung jawab atas objek leasing; perpajakan; jadwal pembayaran angsuran
sewa; dan sebagainya.
5. Pengiriman order beli kepada pemasok disertai instruksi pengiriman barang
kepada Lessee sesuai dengan tipe dan spesifikasi barang yang telah disetujui.
6. Pengiriman barang dan pengecekan barang oleh Lesee sesuai peranan serta
menandatangani surat tanda terim dan perintah bayar yang selanjutnya
diserahkan kepada pemasok.
7. Penyerahan dokumen oleh pemasok kepada Lessor termasuk fraktur dan
bukti-bukti kepemilikan barang lainnya.
8. Pembayaran oleh Lessor kepada pemasok.
9. Pembyaran sewa (lease payment) secara berkala oleh Lesse kepada Lessor
selama leasing yang seluruhnya mencakup pengembalian jumlah yang
dibiayai beserta bunganya.
G. KEUNTUNGAN DAN KERUGIAN MENGGUNAKAN LEASING
Kelebihan-kelebihan Leasing bila dibandingkan dengan metode-metode
pembayaran lainnya, terutama dengan kredit bank, dapat disebutkan sebagai berikut:
1. Unsur Fleksibilitas
Salah satu keunggulan yang merupakan andalan dari Leasing adalah adanya
unsur fleksibilitas. Unsur fleksibilitas ini terutama dalam hal dokumentasi,

collateral, struktur kontraknya, besarnya dan jangka waktu pembayaran


cicilan oleh Lessee, nilai residu, hak opsi, dan lain-lain.
2. Ongkos yang Relatif Murah
Karena sifatnya yang relatif sederhana, maka untuk dapat ditandatangani
kontrak dan direalisasi suatu leasing relatif tidak memerlukan ongkos/biaya
yang besar, yang biasanya dalam praktek semua biaya tersebut
diakumulasikan ke dalam suatu paket. Termasuk dalam komponen biaya ini
antara lain adalah konsultan fee, pengadaan dan pemasangan barang,
asuransi, dan lain-lain.
3. Penghematan Pajak
Sistem perhitungan pajak untuk Leasing menyebabkan/seyogyanya
menyebabkan pembayaran pajaknya lebih hemat.
4. Pengaturannya Tidak Terlalu Rumit
Pengatruan terhadap Leasing tidak terlalu rumit. Tidak seperti pengaturannya
terhadap kredit bank misalnya. Ini terutama sangat menguntungkan bagi
Lessor, mengingat perusahaan pembiayaan tidak perlu harus melaksanakan
banyak hal seperti diwajibkan untuk suatu bank.
5. Kriteria bagi Lessee yang Longgar
Dibandingkan debitur yang memanfaatkan fasilitas kredit bank, maka
persyaratan bagi perusahaan Lessee untuk menerima fasilitas Leasing jauh
lebih longgar. Ini mengingat pemberian fasilitas Leasing jauh lebih aman
bagi Lessor, karena setiap barang modal dapat dijual, dengan perhitungan
harga tidak lebih rendah dari sisa hutang Lessee. Karena itu pula
dimungkinkan pemberian fasilitas Leasing untuk perusahaan menengah ke
bawah, perusahaan-perusahaan yang mana sulit mendapatkan fasilitas lewat
kredit perbankan.
6. Pemutusan Kontrak Leasing oleh Lessee
Sering juga didapati bahwa dalam kontrak leasing diberikan hak yang begitu
mudah bagi Lessee untuk memutuskan kontrak di tengah jalan. Karena
sering juga harga barang modal dapat dijual kapan saja oleh Lessor dengan
harga yang dapat menutupi bahkan seringkali melebihi dari sisa hutang
Lessee. Dengan demikian, tidak banyak resiko yang harus dipikul oleh
Lessor maupun Lessee jika terjadi pemutusan kontrak leasing di tengah
jalan.
Tetapi tentunya ada beberapa jenis barang modal yang tidak gampang
dilakukan penjualan dalam keadaan bekas, seperti yang terjadi pada bebera

jenis mesin. Maka biasanya, untuk leasing seperti ini, tidak diberikan
kemudahan bagi Lessee untuk memutuskan kontrak di tengah jalan.
7. Pembukuan yang Lebih Mudah
Dari segi pembukuan, Leasing lebih mudah dan menguntungkan bagi
perusahaan Lessee. Bahkan cuku reasonable pula jika transaksi Leasing ini
dimasukan sebagai pembiayaan secara off balance sheet. Sehingga,
pembukuan perusahaan Lessee akan kelihatan lebih baik.
Di samping keuntungan seperti yang telah disebutkan di atas tersebut, terdapat
juga beberapa kelemahan dari pembiayaan dengan cara Leasing ini, antara lain:
1. Biaya Bunga yang Tinggi
Karena perusahaan Leasing juga memperoleh biaya dari bank, maka pada
prinsipnya keberadaan Lessor hanyalah sebagai perantara saja dalam
menyalurkan dana kepada Lessee. Untuk itu tentunya Lessor akan mendapat
keuntungan margin tertentu. Konsekuensinya, perhitungan bunga atau
kompensasi terhadap bunga dalam transaksi Leasing akan relatif tinggi.
2. Biaya Marginal yang Tinggi
Bisa saja biaya yang sebenarnya marginal menjadi tinggi jika biaya tersebut
tidak ditekan secara hati-hati oleh Lessor. Hal ini merupakan sisi lain dari
mata uang dalam transaksi Leasing. Sebab, di satu pihak Leasing banyak
memberikan kemudahan bagi Lessee, tetapi di pihak lain justru berbagi
kemudahan tersebut tidak mungkin diberikan secara gratis, melainkan
dengan harga-harga tertentu.
Di samping itu, eksistensi Lessor sebagai perantara antara penyedia dana
(misalnya bank) dengan pihak Lesse, menyebabkan mata rantai distribusi
dana menjadi lebih panjang. Tentunya, sebagaimana biasanya transaksi
dengan perantara, harganya akan menjadi lebih tinggi, mengingat perantara
tersebut juga memerlukan fee tertentu sebagai kompensasi atas jasa-jasanya.
3. Kurangnya Perlindungan Hukum
Karena Leasing termasuk bisnis yang loosely regulated, tidak seperti sektor
perbankan misalnya, maka perlndungan para pihak hanya sebatas itikad baik
dari masing-masing pihak tersebut yang semuanya dapat dituangkan dalam
bentuk perjanjian leasing. Dalam hal ini, akan berlaku prinsip pasar, antara
permintaan dan penawaran, dari Lessee dengan Lessor. Konsekuensi
logisnya, biasanya dalam hal seperti itu, pihak yang kedudukan lemah
menjadi kurang terlindungi.

4. Proses Eksekusi Leasing Macet yang Sulit


Tidak ada suatu prosedur yang khusus terhadap eksekusi Leasing yang macet
pembayaran cicilannya. Karena itu, jia ada sengketa haruslah beracara
seperti biasa lewat pengadilan dengan prosedur biasa. Dan ini tentunya akan
terlalu banyak menghabiskan waktu dan biaya, di samping hasilnya yang
tidak dapat diduga. Lamanya waktu yang diperlukan dna berbelitnya
prosedur pengadilan, akan sangat riskan bagi Leasing company. Satu dan
lain hal diakibatkan karena selama sengketa terjadi, barang leasing berada
dalam keadaan satatus quo (setelah adanya sita revindikator misalnya), yang
berarti barang leasing tersebut tetap dikuasai dan dipergunakan oleh Lessee.
Dan nilai ekonomisnya semakin lama semakain turun akibat proses
amortisasi yang biasanya relatif cepat.
H. CONTOH LEASING DI INDONESIA
1. Leasing yang Digunakan oleh PT. Garuda Indonesia (Persero)
Industri penerbangan adalah industri yang padat akan modal. Sehingga para
pemain di industri ini akan berupaya menyiasati operation cost yang tinggi,
termasuk salah satunya dalam hal pengadaan pesawat yang merupakan aset
utama di bisnis ini.
Skema yang paling favorit buat para pelaku industri dalam pengadaan
pesawat adalah skema leasing atau hak sewa operasi. Leasing merupakan salah
satu cara yang dapat ditempuh oleh para perusahaan penerbangan negara
maupun swasta dalam rangka penambahan armada pesawat udaranya.
Sebelum Undang-Undang No. 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan
diterapkan, yang salah satu pasalnya mewajibkan maskapai mengoperasikan 10
(sepuluh) pesawat yang beroperasi, skema leasing merupakan salah satu faktor
yang membuat industri penerbangan di tanah air berkembang bak jamur di
musim hujan.
Sejumlah maskapai memilih menyewa pesawat ketimbang membelinya.
Saat ini, berdasar UU No. 1 Tahun 2009, setiap maskapai diwajibkan
mengoperasikan 10 (sepuluh) pesawat, yang lima di antaranya merupakan
berstatus milik maskapai, dan lima lainnya sewa.

Tak sekadar memudahkan maskapai untuk bisa mengoperasikan pesawat


lebih banyak untuk berekspansi, pola Leasing ini juga dinilai memiliki nilai
lebih ketimbang membeli pesawat.
Sempat disampaikan oleh Direktur Keuangan Garuda Indonesia, Elisa
Lumbantoruan, operating lease merupakan opsi terbaik yang dimiliki maskapai
untuk memenuhi target pengadaan pesawat. Dengan opsi ini, kata Elisa,
maskapai cukup menggunakan pesawat hingga akhir periode sewa. Sementara
pesawat berstatus hak milik, harus digunakan hingga usia porduktifnya, yang
rata-rata mencapai masa 20 tahun. Terlebih lagi armada yang digunakan akan
selalu baru. Dari sisi kenyamanan bagi penumpangan tentunya akan terpenuhi
karena interior yang baru.
Selain itu, dengan menggunakan armada baru, perseroan akan diuntungkan
dengan murahnya biaya perawatan. Pasalnya pesawat dengan usia lima tahun ke
bawah tidak memerlukan dana perawatan sebesar pesawat yang telah berusia
lebih dari lima tahun. Armada baru juga mengonsumsi bahan bakar lebih efektif
karena menggunakan teknologi mesin terbaru.
Namun demikian, ada juga kasus Leasing yang akhirnya bisa mengganggu
stabilitas finansial maskapai. Ini terjadi jika biaya leasing yang harus
ditanggung maskapai sangat besar, sementara utilitas pesawat di maskapai
tersebut relatif rendah.
Maskapai sebesar Garuda pun masih menggunakan skema Leasing untuk
pengadaan sebagian besar pesawatnya. Alasannya itu tadi, murahnya biaya
perawatan serta umur pesawat yang relatif muda. Untuk momen tertentu langkah
menyewa pesawat juga dianggap lebih baik. Misalnya saja saat musim haji,
Garuda pernah menyewa pesawat berbadan besar hanya untuk melayani peak
season Haji.
Garuda telah menjalin kerja sama dengan sejumlah lembaga pembiayaan
untuk pengadaan pesawatnya hingga tahun 2012. Awal tahun 2012 misalnya, PT.
Garuda Indonesia (Persero) bekerjasama dengan Standard Chartered

Bank (SCB) melalui anak perusahaan Pembroke Group Limited berupa


penyediaan 10 unit pesawat B737-800NG.
Flag carrier Tanah Air ini juga menggaet perusahaan pembiayaan aviasi dan
lessor milik Royal Bank of Scotland (RBS), RBS Aviation Capital, dalam
penyediaan empat unit pesawat tipe yang sama.
Tak hanya RBS Aviation Capital dan Pembroke Group, perusahaan leasing,
financing, dan lessor General Electric Capital Aviation Services (GECAS) digaet
oleh Garuda Indonesia untuk mendatangkan enam pesawat Boeing 737-800NG
dan tiga mesin CFM56-7B.
Bentuk kerja sama dengan GECAS dilakukan menggunakan pola operating
lease (sewa untuk operasional). Tiga unit pertama diterima pada Juni,
September, dan Oktober 2013. Tiga lainnya didatangkan di bulan yang sama
pada 2014. Sementara itu tiga mesin diterima pada Juli dan Agustus 2011 serta
Juni 2012.
Pengadaan 10 pesawat baru B737-800NG ini merupakan bagian dari
pengembangan dan peremajaan armada (fleet revitalization). Ia juga merupakan
bagian dari 25 pesawat baru B737-800NG yang dipesan Garuda kepada Boeing
pada tahun 2009.
Pesawat Garuda seluruhnya merupakan sewaan dengan sistem leasing.
Leasing didapatkan dengan kerjasama keuangan dengan sistem leasing
oleh Aviation Finance Standard Chartered Bank. Leasing dilakukan dengan cara
order pembelian pesawat oleh Standard Chartered Bank langsung ke penyedia
pesawat Garuda, yaitu Boeing dan Airbus, kemudian Garuda melakukan
pembayaran sewa berkala untuk tempo waktu tertentu, kemudian setelah masa
waktunya habis, pesawat dikembalikan ke Standard Chartered Bank untuk
kemudian disewakan kembali ke budget airline di negara-negara Afrika atau
dijual kembali ke Boeing dan Airbus.
Selanjutnya diberitakan bahwa PT. Garuda Indonesia Tbk (GIAA) akan
menggunakan skema beli dan menyewa kembali (sale and lease back) sebagian

besar pesawat Boeing 737 Max 8 mulai 2017. Rencana pembelian 50 pesawat
senilai US$ 4,9 miliar itu diyakini tidak mengganggu keuangan Garuda ke
depan. Sebagian besar akan didatangkan melalui skema sale and lease back.
Alasannya tidak menggunakan hak opsi lease to purchase dikarenakan sale and
lease back lebih ringan biayanya.
Melalui skema sale and lease back tersebut, Garuda akan menjual kembali
pesawat yang dibelinya dari Boeing Commercial Airplanes kepada pihak Lessor,
bank, atau lembaga keuangan lain untuk kemudian menyewa kembali pesawat
tersebut. Transaksi model ini banyak digunakan di industri penerbangan dengan
tujuan mengambil kembali uang yang diinvestasikan untuk membeli aset
tersebut.
Laporan keuangan semester I tahun 2014 menyebutkan Garuda menyewa
Boeing 737-800NG dari sejumlah perusahaan penyewa pesawat dari luar negeri,
seperti Gecas SARL, International Lease Finance Corporation, Pembroke Lease
France SAS, SMBC Aviation Capital Paris Leasing 1 SARL, AABS Aviation 1
France SARL, ACG Acquisition LLC, BBAM Aircraft Holding SARL, dan
beberapa perusahaan lain. Total Boeing 737-800NG yang dioperasikan Garuda
sampai akhir Juni Tahun 2014 berjumlah 70 unit, bertambah 11 unit
dibandingkan akhir Juni 2013.
Sampai Juni Tahun 2014, Garuda membayar US$ 325,96 juta untuk
menyewa sebagain besar pesawat yang dioperasikannya. Jumlah tersebut
meningkat 47,14% dibandingkan biaya sewa pesawat sepanjang periode yang
sama pada tahun lalu. Peningkatan biaya sewa pesawat seiring dengan semakin
banuaknya jumlah pesawat yang dioperasikan.

2. Leasing yang Digunakan oleh PT. Lion Mentari Airlines


Langkah yang sama juga dilakukan maskapai Lion Air, demi
mengoperasikan 100 pesawat. Maskapai ini mendapatkan dukungan pembiayaan
dari 17 bank dan lembaga keuangan internasional, untuk pengadaan tahap
pertama 27 pesawat B737-900ER Lion Air sampai dengan 2009.

Lembaga keuangan yang berhasil digaet Lion Air saat itu antara lain ANZ
Investment Bank, Babcoco and Brown, Bank of China, Beaufort Group, BNP
Paribas, Citibank, DBS Bank, DVB Bank, Fuyo GL, GECAS, HSH Nordbank,
Macquarie Bank, dan Natixis T Finance.
Di level global, sejumlah Lessor mulai melihat makin menariknya prospek
di bisnis angkutan udara ini dengan melakukan pembelian pesawat besarbesaran. Setidaknya hal ini dilakukan perusahaan penyewaan (Leasing) pesawat
terbang International Lease Finance Corporation (ILFC) yang merupakan sebuah
unit bisnis dari American International Group (AIG).
Manajemen ILFC yang berbasis di Los Angeles ini, pada awal Maret lalu
seperti dilansir Antara mengatakan akan membeli 100 Airbus A320 dan 33
Boeing 737-800, dalam transaksi senilai lebih dari US$ 12 miliar. Perusahaan
pemilik 930 jet yang disewakan kepada maskapai penerbangan di seluruh dunia
ini, tidak memberikan rincian target pasar untuk jet baru tersebut, namun
mengatakan pengiriman akan dimulai tahun 2012.

3. Perusahaan Leasing: PT. SMFL Leasing Indonesia


PT. SMFL Leasing Indoensia didikiran pada tanggal 23 bulan Desember
tahun 2009. Perusahaan Leasing ini memiliki 5 basis di antaranya di Medan,
Palembang, Surabaya, Balikpapan, dan Makasar.
Pemegang saham utamanya adalah Sumitomo Mitsui Finance and Leasing
Co., Ltd (85%); PT. Bank Sumitomo Mitsui Indonesia (9%); dan PT. Sumitomo
Indonesia (6%).
Kegiatan usaha yang dilakukan oleh PT. SMFL Leasing Indonesia antara
lain:
a.
b.
c.
d.
e.

Pembiayaan Sewa Guna Usaha dengan Hak Opsi


Jual Beli dengan Pembiayaan Sewa Guna Usaha Kembali
Pembiayaan Sewa Guna Usaha tanpa Hak Opsi
Pembiayaan Anjak Piutang
Jasa lainnya

PT. SMFL Leasing Indoneisa (SMFLI) didirikan dengan Akta Pendirian


Nomor 9 tang dibuat oleh Notaris Sri Hasmiyanti, SH. SMFLI memperoleh
pengesahan perusahaan berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehakiman dan

Hak Azasi Manusia Nomor [Link].01.01 Tahun 2010 tertanggal 25


Januari Tahun 2010. Izin usaha SMFLI didasarkan pada Keputusan Menteri
Keuangan Nomor KEP-336/KM.10/2919 yang diterbutkan pada 6 Juli Tahun
2010.
Layanan Jasa SMFLI dapat dijabarkan sebagai berikut:
a. Pembiayaan Sewa Guna Usaha dengan Hak Opsi
Metode yang paling umum dalam pembiayaan adalah saat pelanggan
(customer) memperoleh mesin atau peralatan dari Produsen dan Dealer,
PT. SMFL Leasing Indonesia akan membeli mesin atau peralatan itu dan
menyewa guna usahakannya kepada pelanggan.
PT. SMFL Leasing Indonesia menawarkan beragam pilihan Barang
Modal termasuk peralatan informasi, mesin dan peralatan industri ataupun
konstruksi, peralatan transportasi, peralatan komersial serta peralatan medis.
Lebih jauh, penggunaaan optimal skema pembiayaan memungkinkan
para pelanggan untuk mempercepat penyusutan aktiva tetap.
Karakteristik Pembiayaan Sewa Guna Usaha yang dilakukan adalah:
1) Total Biaya Sewa Guna Usaha (Pokok dan Bunga) dapat dianggap
sebagai biaya yang dapat dikurangkan untuk keperluan pajak.
2) Jangka waktu Sewa Guna Usaha minimal adalah 2 atau 3 tahun,
yang memungkinkan percepatan penyusutan aktiva tetap untuk
keperluan pajak.

Masa Manfaat
Minimal Jangka Waktu

4 tahun
2 tahun

8 tahun
3 tahun

16 tahun
3 tahun

Sewa Guna Usaha

3) Pembiayaan Sewa Guna Usaha dengan Hak opsi adalah sewa guna
usaha yang memungkinkan pelanggan untuk membeli Barang
Modal di akhir masa sewanya.

b. Jual Beli dengan Pembiayaan Sewa Guna Usaha Kembali (Sales and
Lease Back)
Pembiayaan ini dilakukan dengan cara PT. SMFL Leasing Indonesia
membeli asset berupa mesin atau peralatan yang dimiliki oleh pelanggan
dan kemudian menyewa guna usahakan kembali kepada pelanggan,
sehingga pelanggan dapat terus menggunakan aset yang telah dijual tersebut
dan juga mendapatkan dana setara dengan harga asset yang dijual tersebut.

c. Pembiayaan Sewa Guna Usaha tanpa Hak Opsi (Operating Lease)


Pembiayaan ini dilakukan dengan skema dimana jumlah pembayaran
sewa oleh pelanggan tidak meliputi jumlah keseluruhan biaya perolehan
Barang Modal beserta bunganya. PT. SMFL Leasing Indonesia menanggung
segala risiko terkait dengan nilai Barang Modal di kemudian hari. Pelanggan
di akhir masa sewa harus mengembalikan Barang Modal kepada PT. SMFL
Leasing Indonesia. Struktur Operating Lease, sesuai dengan prinsip akutansi
dan perpajakan memungkinkan pelanggan untuk mengatur strategi
finansialnya secara efektif dengan memindahkan investasi modalnya diluar
neraca.

d. Pembiayaan Anjak Piutang (Factoring)


PT. SMFL Leasing Indonesia dapat membeli nota dan piutang dari
pelanggan secara nonrecourse. Dalam hal piutang tidak dapat ditagih karena
kasus-kasus seperti kebangkrutan dari debitur asli, pelanggan kami tidak
berkewajiban untuk membeli kembali piutang, berlawanan dari pembelian
tagihan dengan diskon. Anjak Piutang memungkinkan pelanggan kami
terlindung dari nilai risiko kredit atas debitur asli, merampingkan neraca,
meningkatkan arus kas dan diversifikasi pengadaan dana.

e. Jasa lainnya
Untuk para Produsen dan Dealer, PT. SMFL Leasing Indonesia dapat
bekerjasama guna meningkatkan penjualan dalam skema kerjasama yang
fleksibel, dengan cara menawarkan jasa pembiayaan kami kepada para
pelanggan sesuai dengan kebutuhan mereka.

BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Leasing atau Sewa Guna Usaha (Bahasa Inggris: leasing) atau sering disingkat
SGU adalah kegiatan pembiayaan dengan menyediakan barang modal baik dengan
hak opsi (finance lease) maupun tanpa hak opsi (operating lease) untuk digunakan
oleh penyewa guna usaha (lessee) selama jangka waktu tertentu berdasarkan
pembayaran secara angsuran.
Peraturan-peraturan yang termasuk tonggak sejarah perkembangan hukum
tentang Leasing di Indonesia antara lainnya:
5. Surat Keputusan Bersama Menteri Keuangan, Menteri Perindustrian, dan
Menteri Perdagangan Republik Indonesia No. KEP-122/MK/IV/2/1974, No.
32/M/SK/2/1974, No. 30/Kpb/I/1974, tertanggal 7 Februari Tahun 1974
tentang Perizinan Usaha Leasing.
6. Surat Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia No.
KEP.649/MK/IV/5/1974, tanggal 6 Mei Tahun 1974 tentang Perizinan Usaha
Leasing.
7. Surat Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia No. Kep.
650/MK/IV/5/1974, tanggal 6 Mei Tahun 1974 tentang Penegasan Ketentuan
Pajak Penjualan dan Besarnya Bea Materai terhadap Usaha Leasing.
8. Pengumuman Direktur Jenderal Moneter Nomor: Peng307/DJM/III.1/7/1974, tanggal 8 Juli Tahun 1974 tentang Pedoman
Pelaksanaan Peraturan Leasing.
Ciri-ciri dari Leasing antara lain adalah adanya perjanjian anatara Lessor dengan
pihak Lesse; berdasarkan perjanjian sewa guna usaha, Lessor mengalihkan hak
penggunaan barang kepada Lessee; jangka waktu terbatas; biasanya ada hubungan
jangka waktu lease dan masa kegunaan benda lease tersebut; hak milik benda lease
ada pada Lessor; Lessee membayar sejumlah uang sewa atas penggunaan benda lease

kepada Lessor; benda yang menjadi objek leasing adalah benda-benda yang
digunakan dalam suatu perusahaan; dan yang terakhir adalah setelah jangka waktu
leasing berakhir, Lessee akan mengembalikan objek leasing kepada Lessor kecuali
diperjanjikan lain.
Jenis Leasing di Indonesia menurut Keputusan Menteri Keuangan No.
1169/KMK.01/1991 ada 2 jenis Leasing yaitu Finance Lease atau Capital Lease
(Sewa Guna Usaha Pembiayaan) dan Operating Lease (Sewa Menyewa Biasa).
Mekanisme pelaksanaan Leasing di Indonesia melibatkan 4 (empat) pihak yakni
Lessor, Lessee, Pemasok (Suplier); dan Bank atau Kreditur.
Kelebihan menggunakan Leasing sebagai salah satu cara pembiayaan antara lain
karena unsur fleksibilitas; ongkos yang relatif murah; hemat pajak; pengaturan yang
tidak terlalu rumit; kriteria bagi Lessee yang longgar; pemutusan kontral Leasing
oleh Lessee dapat dilakukan; dan pembukuan yang lebih mudah. Sedangkan
kelemahan dari pembiayaan dengan cara Leasing ini antara lain biaya bunganya yang
tinggi; biaya marginal yang tinggi; kurangnya perlindungan hukum; dan proses
eksekusi terhadap Leasing macet yang sulit.
Contoh kegiatan Leasing di Indonesia seperti misalnya pembiayaan Leasing
yang digunakan oleh PT. Garuda Indonesia dan PT. Lion Mentari Airlines sebagai
perusahaan maskapai penerbangan di Indonesia. Sedangkan salah satu contoh
perusahaan Leasing yang beroperasi di Indonesia adlaah PT. SMFL Leasing
Indonesia.

B. SARAN

Anda mungkin juga menyukai