PENGARUH ADDITIVE PAC-R DAN PAC-L TERHADAP LUMPUR PEMBORAN
Oleh:
Deni Bhakti Adiyaksa (113110034)
Jhoni Wahyudi (113110004)
Abstrak
Lumpur pemboran dapat dikatakana sebagai nyawa dari proses pemboran minyak dan gas bumi,
karena semua prosesnya berhubungan erat dengan lumpur pemboran. Mulai dari mengontrol tekanan
formasi, menahan sebagian beban dari rangkaian drill string dan juga pada proses pengangkatan cutting.
Pada proses pemboran, lumpur kita harus terus kita evaluasi sebab jenis lumpur dan juga jenis
additive yang kita tambahkan berdasarkan jenis formasi yang kita tembus, ada banyak jenis additive
untuk lumpur pemboran ini guna memepertahankan lumpur kita tetap ideal sesuai dengan API Spec
Bentonite 13-A.
Pada paper ini kita akan membahas addtitive filtration loss control agent, dimana maksud dari
additive ini yakni untuk mengurangi banyak nya filtrat lumpur yang masuk ke formasi, sebab jika terlalu
banyak filtration loss maka akan mebuat mud cake terlalu tebal, yang dampaknya bisa menyebabkan
problem pemboran yaitu, pipe sticking.
Pendahuluan
Keberhasilan suatu pemboran sangat di
pengaruhi oleh lumpur pemboran. Semakin baik
sistem sirkulasi yakni lumpur pemboran maka
semakin baik hasil dari proses pemboran
tersebut. Dengan evaluasi yang baik yang selalu
dilakukan
oleh
mud
engineer
untuk
mengevaluasi lumpur pemboran agar tetap
dalam keadaan yang sesuai dengan formasi
yang kita tembus dan juga sesuai dengan API
Spec bentonite 13-A.
Ada beberapa masalah yang dapat terjadi
pada proses sirkulasi lumpur pemboran ini, di
antaranya terjadinya kick dan lost circulation,
problem ini hubungannya dengan sifat fisik
lumpur yaitu densitas lumpur pemboran.
Masalah lainnya yaitu pipe sticking. Masalah ini
yang nantinya erat hubungannya dengan
masalah yang akan kita bahas ini. Pengertian
dari pipe sticking yaitu tidak dapat bergeraknya
rangkaian dari drill string kita akibat terjepit
oleh formasi,cutting yang tidak terangkat
,reruntuhan formasi serta mud cake yang terlalu
tebal. Dimana ada beberapa hal yang dapat
menyebabkan terjadinya problem ini.
1.
Akibat tidak terangkat nya cutting
sehingga
menyebabkan
terjadinya
regrinding, cutting ini tidak dapat
terangkat akibat kurang baiknya rheologi
dari lumpur pemboran kita, sebab sifat
fisik lumpur ini erat hubungannya
dengan
mekanisme
pengangkatan
cutting.
2.
Akibat terjepit oleh lapisan formasi ini
maksudnya pada saat kita menembus
lapisan yang reaktif (shale) maka dapat
menyebabkan
lapisan
tersebut
mengembang (swelling).
3.
Akibat
reruntuhan
formasi
ini
berhubungan dengan mud cake, dimana
mud cake yang tidak dapat menahan
formasi agar tidak runtuh, jika formasi
ini runtuh maka sama halnya jika cutting
tidak dapat terangkat.
4.
Akibat mud cake yang terlau tebal, mud
cake ini terbentuk akibat fasa cair dari
lumpur itu masuk ke dalam formasi
sehingga fasa padatannya mengeras di
dinding bor dan inilah yang kemudian
menjadi mud cake . tetapi, ketebalan ini
harus ideal sesuai dengan API Spec
Bentonite 13-A ,yaitu 0.8 2 mm. Jika
terlalu tebal maka akan dapat
menyebabkan masalah pipe sticking.
Semakin banyak mud filtrate yang
masuk ke dalam formasi maka semakin
tebal mud cake kita yang terbentuk, oleh
sebab itu mud filtrate yang masuk ke
formasi harus dikontrol, salah satu
pengontrolannya dapat menggunakan
additive filtration loss control agent,
pada paper ini additive yang kita bahas
adalah penggunaan PAC-R dan juga
PAC-L.
Penambahan additive PAC-R dan PAC-L ini
pada lumpur pemboran dapat mengurangi
mud filtrate yang masuk ke dalam formasi,
sesuai dengan API Spec Bentonite 13-A
yakni 15 ml/ 30 menit untuk maksimalnya.
Ini sesuai dengan fungsi dari additive ini
sebagai filtration loss control agent.
Tinjaun Pustaka
Lumpur pemboran merupakan hal yang
sangat penting dalam proses pemboran, ini
termasuk ke dalam sistem sirkulasi pada sistem
pemboran.
Adapun urutan sirkulasi lumpur
pemboran sebagai berikut :
1
Mud pit/mud tank
2
Mud pump
Discharge line
Stand pipe
Rotary hose
Swivel
Kelly
Drill pipe
Drill collar
10
Nozzle bit
11
Annulus ( DC,DP )
12
BOP Stack
13
Flowline
14
Conditioning area
Shale saker
Degasser
Desander
Desilter.
Setelah kita mengetahui urutan dari
sistem sirkulasi ini, kemudian kita harus
mengetahui komposisi dari lumpur pemboran.
Untuk komposisi dari lumpur pemboran
di laboratorium adalah :
350 ml air + 22.5 gr Bentonite.
Untuk formasi tertentu komposisi
lumpur ini dapat ditambahkan beberapa additive
lainnya.
Adapun fungsi dari lumpur pemboran ini
yakni :
1
Mengangkat cuttings dari dasar lubang
ke permukaan.
2
Menahan dinding lubang agar jangan
runtuh selama pemboran berlangsung.
3
Melumasi dan mendinginkan bit dan
rangkaian pemboran.
4
Mengontrol tekanan formasi.
5
Menahan cuttings dan material pemberat
selama sirkulasi berhenti agar jangan
turun.
6
Sebagai media logging.
7
Sebagai media informasi.
8
Sebagai tenaga penggerak.
9
Menahan sebagaian berat rangkaian
pemboran.
Lumpur terdiri dari tiga kelompok
komponen, antara lain :
1
FasaCair.
2
FasaPadat.
3
Fasa Kimia.
Fasacair dari lumpur bor merupakan fasa
dasar dari lumpur, yang mana dapat berupa air
atau minyak. Dapat berupa air tawar maupun air
asin, hal ini tentu disesuaikan dengan lokasi
setempat, manakah yang mudah didapat, dan
juga disesuaikan dengan formasi yang akan
ditembus.
Fasa padat terbagi atas dua macam, yaitu
reactive solid dan inert solid. Padatan yang
bereaksi dengan zat cair lumpur bor disebut
dengan reactive solid. Padatan ini membuat
Lumpur menjadi kental atau berbentuk koloid.
Sebagai contoh dalam kehidupan sehari-hari
sebagai reactive solid adalah susu. Susu bila
dicampurkan dengan air akan membuat air susu
yang berbentuk koloid.
Dalam lumpur pemboran yang bertindak
sebagai reactive solid adalah botonite. Yang
mana bila bontonite bercampur dengan air maka
terbentuk Lumpur bor yang berbentuk koloid.
Air yang bercampur dengan bontonite ini adalah
air tawar. Bila sebagai bahan dasar air laut maka
sebagai reactive solid adlah attapulgite, dalam
attapulgite dapat bereaksi dengan air asin
maupun dengan air tawar.
Inert solid merupakan padatan yang
tidak bereaksi dengan zat cair lumpur
pemboran. Dalam kehidupan sehari-hari pasir
yang diaduk dengan air kalau kita diamkan
beberapa saat, akan turun ke dasar bejana
dimana kita mengaduknya. Disini pasir disebut
dengan inert solid. Di dalam lumpur pemboran
inert solid berguna untuk menambah berat atau
berat jenis dari lumpur, yang tujuannya untuk
menahan tekanan dari formasi. Sebagai contoh
yang umum digunakan sebagai inert solid dalam
lumpur pemboran adalah barite.
Sedangkan pada fasa kimia, lumpur
pemboran bereaksi dengan suatu zat atau adiktif
dari bahan kimia yang menjadikan fasa lumpur
pemboran tersebut menjadi fasa kimia.
Ketika terjadi kontak antara lumpur
pemboran dengan batuan porous, batuan
tersebut akan bertindak sebagai saringan yang
memungkinkan fluida dan partikel-partikel kecil
melewatinya. Fluida yang hilang kedalam
batuan disebut filtrate, sedangkan lapisan
partikel-partikel
besar
yang
tertahan
dipermukaan batuan disebut filter cake.
Proses filtrasi di atas hanya terjadi apabila
terdapat perbedaan tekanan positif ke arah
batuan. Pada dasarnya ada dua jenis filtration
yang terjadi selama operasi pemboran, yaitu
static filtation dan dynamic filtration. Static
filtration terjadi jika lumpur pemboran berada
dalam keadaan diam dan dynamic filtration
terjadi ketika lumpur pemboran sedang
disirkulasikan.
Apabila filtration loss dan pembentukan
mud cake tidak dikontrol, maka akan
menimbulkan berbagai masalah, baik selama
operasi pemboran maupun dalam evaluasi
formasi dan tahap produksi. Mud cake yang
tipis akan merupakan bantalan yang baik antara
pipa pemboran dan permukaan lubang bor.
Sedangkan mud cake yang tebal akan menjepit
pipa pemboran sehingga sulit diangkat dan
diputar, dan filtratnya akan masuk ke formasi
dan dapat menimbulkan damage pada formasi.
Persamaan untuk volume filtrate yang
dihasilkan dapat diturunkan dari persamaan
Darcy, persamaannya adalah sebagai berikut :
1
2
cc
2k cm 1
PT
Vf = A
Dimana :
A
: Filtration Area
k
: Permeabilitas Cake
Cc : Volume fraksi solid dalam mud cake
Cm : Volume fraksi solid dalam lumpur
P
: Tekanan filtrasi.
t
: Waktu filtrasi = viskositas filtrate.
Pembentukan mud cake dan filtration
loss adalah dua kejadian dalam pemboran yang
berhubungan erat, baik waktu kejadiannya
maupun sebab dan akibatnya. Oleh sebab itu
maka
pengukurannya
dilakukan
secara
bersamaan.
Persamaan yang umum digunakan untuk static
filtration loss adalah :
Q2 = Q1 x
Dimana:
: Fluida loss pada waktu
: Fluida loss pada waktu
Volume air/filtrate yang mengalir sebelum
terbentuk mud cake disebut spurt loss
volume
(Vsp).Persamaannya
adalah
sebagai berikut:
V1
V7,5 V1
7,5 1
Vsp=
Dimana:
Vsp = Spurt loss volume
V1 = Volume filtrat yang terbentuk dalam
waktu 1 menit
V7,5= Volume filtrat yang terbentuk dalam
waktu 7,5 menit
Spurt loss volume mempengaruhi harga
API water loss (V30) yang mengikuti
persamaan di bawah ini.
V30 = 2 (V7,5- Vsp) + Vsp
Dimana :
V30=Volume filtrat yang terbentuk dalam
waktu30 menit
V7,5 = Volume filtat yang terbentuk dalam
waktu 7,5 menit
Vsp= spurt loss volume
Penambahan Adiktif PAC-R Dalam Lumpur
Pemboran
Penambahan adiktif filtration control
agent sangatlah dibutuhkan apabila dalam
lumpur pemboran memiliki volume filtrat yang
besar dimana tidak sesuai dengan standar API
Spec Bentonite 13-A dengan range (13,5-15)
ml/30 menit. Dalam hal ini kita menggunakan
PAC-R sebagai additive filtration control agent
agar dapat menurunkan volume filtrat lumpur
pemboran dimana bila tidak kontrol volume
filtrat pada saat pemboran berlangsung maka
dapat menyebabkan terjadinya pipe sticking.
Dan masalah tersebut haruslah dihindari agar
pemboran suatu sumur dapat berlangsung
dengan lancar dan baik.
PAC-R juga memiliki secondary
function yang dapat meningkatkan viskositas
suatu lumpur pemboran agar lumpur yang kita
gunakan memiliki sifat rhelogy lumpur yang
ideal sesuai API Spec Bentonite 13-A, yaitu C600
minimal 30, Plastic Viscosity minimal 8 cp dan
Yield Point maksimal 3 kali dari Plastic
Viscosity.
Bilamana lumpur pemboran di suatu
lapangan memiliki masalah dalam volume filtrat
yang melebihi 15 ml/30 menit dan mud cake
yang tebalnya melebihi 2 mm serta sifat dari
rheology lumpur pemboran tersebut belum
ideal, maka kita dapat menambahkan adiktif
pada lumpur pemboran tersebut dengan
menggunakan PAC-R. Pada praktikum Analisa
Lumpur Pemboran kami melakukan percobaan
terhadap penambahan adiktif PAC-R dimana
pada penambahan 2 gr PAC-R + Lumpur Dasar
(350 ml air + 22,5 gr bentonite) didapatkan
volume filtrat sebesar 14,5 ml dalam waktu 30
menit dan tebal mud cake sebesar 1,7 mm. Dan
untuk sifat rheology lumpur pemboran
didapatkan dari hasil percobaan dengan harga
pada C600 sebesar 60, plastic viscosity sebesar 17
cp dan yield point sebesar 26 lb/100ft2. Pada
hasil percobaan tersebut maka dapat dikatakan
bahwa lumpur pemboran yang akan kita
gunakan sudah ideal karena memenuhi standar
API Spec Bentonite 13-A.
Penambahan Adiktif PAC-L Dalam Lumpur
Pemboran
PAC-L merupakan jenis adiktif filtration
control agent juga sehingga dengan melakukan
penambahan PAC-L terhadap lumpur pemboran
dapat menurunkan volume filtrat dari lumpur
pemboran tersebut. Tetapi penambahan PAC-L
ini tidak terlalu mempengaruhi viskositas
lumpur pemboran dibandingkan dengan
penambahan PAC-R.
Apabila lumpur pemboran di suatu
lapangan memiliki masalah dalam volume filtrat
yang melebihi 15 ml/30 menit dan mud cake
yang tebalnya melebihi 2 mm serta sifat dari
rheology lumpur pemboran tersebut sudah ideal
sesuai dengan standar API Spec Bentonite 13-A,
maka kita dapat menggunakan adiktif PAC-L
agar peningkatan viskositas dalam lumpur
pemboran tidak terlalu signifikan.
Kesimpulan
1
Apabila volume filtrat tidak dikontrol
dengan baik maka dapat menyebabkan
pipe sticking.
2
Filtration loss berbanding lurus dengan
terbentuknya mud cake pada dinding
lubang bor, semakin besar filtration loss
maka akan semakin tebal mud cake yang
terbentuk dan sebaliknya.
3
Penambahan PAC-R dapat dilakukan
apabila volume filtrat lumpur pemboran
dan tebal mud cake serta sifat rheology
lumpur pemboran belum ideal sesuai
dengan standar API Spec Bentonite 13A.
4
Penambahan PAC-L dapat dilakukan
apabila sifat rheology lumpur pemboran
sudah ideal tetapi volume filtrat dan
tebal mud cake belum ideal sesuai
dengan standar API Spec Bentonite 13A.
Daftar Pustaka
1
Bourgoyne Jr., Adam T., Millheim, Keith
K., Chenevert, Martin E., Young Jr., F.S.
1991. Applied Drilling Engineering,
Society
of
Petroleum
Engineering,
United State of America.
2
________,
2013,
Laporan
Resmi
Praktikum Analisa Lumpur Pemboran,
Laboratorium
Teknik
Perminyakan,
UPN Veteran Yogyakarta.
Tabel 1. Pengukuran Filtrasi dan Mud Cake semua Plug
Additive
PLUG
A
B
C
D
E
F
PAC-R
Lumpur Dasar
350 ml aquadest +
22,5 gr bentonite
350 ml aquadest +
22,5 gr bentonite
350 ml aquadest +
22,5 gr bentonite
350 ml aquadest +
22,5 gr bentonite
350 ml aquadest +
22,5 gr bentonite
350 ml aquadest +
22,5 gr bentonite
Filter Press
PAC-L Volume Filtrat Mud Cake
(gr)
(gr)
(ml/ 30 menit)
(cm)
16
0,175
1,5
17
0,145
14,5
0,17
16,5
0,153
1,5
19
0,15
19,4
0,146
Grafik 1. Mud Cake Vs Additive
f(x)
f(x) =
= -- 0.04x
0.02x +
+ 0.2
0.2
R
=
0.95
R = 0.57
PAC-R (gr)
Linear (PAC-R (gr))
PAC-L (gr)
Linear (PAC-L (gr))
Mud Cake (cm)
Additive (gr)
Tabel 2. Pengukuran Viskositas dan Gel Strength
Viskositas
Plug
C600
Komposi
(sec/quart
si
()
)
C300
Pv
()
(cp)
Yp
GS
GS
detik
10
10menit
(lb/10
(lb/10 (lb/100
0 ft2)
0 ft2)
ft2)
Lumpur
dasar
36
30
22
14
Lumpur
dasar +
1,5 gr
PAC-R
62
42
29
13
16
20
Lumpur
dasar + 2
gr PAC-R
83
60
43
17
26
23
Lumpur
dasar +
2,5 gr
PAC-R
161,03
72
56
16
40
12
34
Lumpur
dasar + 2
gr PAC-R
+ 50 ml
air
60
44
30
14
16
20
Lumpur
dasar + 2
gr PAC-R
+ 100 ml
air
46
35
24
11
13
10
Lumpur
dasar + 2
gr PAC-R
+ 150 ml
air
43
32
21,5
10,5
11
Grafik 2. Additive PAC-R VS Plastic Viscosity
f(x) = 3x + 9.33
R = 0.52
Plastic Viscosity (Cp)
Plastic viscosity vs PAC-R
Linear (Plastic viscosity vs PAC-R)
PAC-R (Gram)
Grafik 3. Additive PAC-R VS Yield Point
f(x) = 24x - 20.67
R = 0.99
Yield Point (lb/100ft2)
Additive PAC-R VS Yield Point
Linear (Additive PAC-R VS Yield Point)
Additive PAC-R (Gram)
Grafik 4. Additive PAC-R VS Gel Strength 10 Detik
f(x) = 8x - 8
R = 1
Gel Strength (lb/100ft2)
Additive PAC-R VS GS 10 Detik
Linear (Additive PAC-R VS GS 10 Detik)
Additive PAC-R (Gram)