Persamaan Schrodinger dalam Fisika Kuantum
Persamaan Schrodinger dalam Fisika Kuantum
PERSAMAAN SCHRODINGER
1.
teramati. Gejala-gejala yang sulit diamati ini karena memiliki ukuran atomik.
Kriteria suatu entitas fisis dapat digolongkan sebagai partikel atau sebagai suatu
gelombang adalah panjang gelombang de Broglie. Jika suatu entitas mula-mula kita
kenali sebagai partikel ternyata memiliki gelombang de Broglie cukup besar
(sekurang-kurangnya dalam orde angstrom) maka entitas tersebut tidak dapat
dipastikan sebagai partikel.
Namun hipotesis de Broglie tidak dapat digunakan untuk mendapatkan fungsi
gelombang yang diasosiasikan dengan partikel. Berdasarkan kenyataan ini, timbul
suatu pertanyaan bagaimana mendapatkan fungsi gelombang itu dan bagaimana cara
mendapatkan informasi tentang keadaan sistem berdasarkan fungsi gelombang
tersebut.
Melalui fungsi gelombang kita dapat mengetahui keberadaan (posisi) partikel
dan besarnya momentum yang dimiliki, meskipun secara probabilistik. Peran fungsi
gelombang ini, jika dianalogikan dengan fisika klasik, analog dengan trayektori
parikel (posisi partikel pada sembarang waktu) dimana kita dapat mengetahui
bebagai besaran fisika yang dimiliki partikel setiap saat. Mengingat semua besaran
dinamis yang ada dalam fisika klasik (misalnya energi kinetik, energi potensial,
gaya, momentum anguler,dan sebagainya) selalu dapat dinyatakan sebagai fungsi
momentum dan posisi, maka dapat diharapkan bahwa dari fungsi gelombang tersebut
dapat diketahui berbagai informasi tentang dunia mikroskopis.
Berdasarkan pemikiran tersebut maka munculah postulat yang menyatakan
bahwa keadaan sistem dalam bentuk fungsi gelombang. Artinya bahwa sebagai
penyaji keadaan suatu sistem, maka fungsi gelombang tersebut harus memuat semua
informasi tentang sistem yang dibicarakan, misalnya: posisi, momentum, energi,
momentum anguler, dan besaran-besaran dinamis lain yang diperlukan.
2.
persyaratan-persyaratan berikut.
1
Persamaan Schrodinger
ke seluruh ruang
dV 1 ,
Persamaan (1) menyatakan bahwa semua peluang yang mungkin untuk suatu
partikel berada pada suatu tempat harus bernilai tertentu. Hal ini berarti
bahwa fungsi gelombang harus berhingga. Jika nilai fungsi gelombang tak
berhingga di suatu titik dan pada saat t maka probabilitas menemukan partikel
menjadi tak berhingga dan ini tidak bermakna fisis.
Fungsi gelombang harus berharga tunggal yang artinya tidak boleh ada dua
probabilitas atau kebolehjadian untuk menemukan partikel di titik yang sama.
Fungsi gelombang harus fungsi kontinu. Ini karena rapat probabilitas dan
rapat arus harus kontinu. Demikian juga fungsi juga harus mempunyai
turunan kontinu.
3.
2
Persamaan Schrodinger
untuk menyatakan kebolehjadian dimana partikel itu berada dapat dinyatakan dengan
2
perssamaan (r , t ) .
Persamaan Schrodinger yang merupakan persamaan pokok dalam mekanika
kuantum adalah persamaan gelombang dalam variabel . Jika suatu gelombang
merambat ke sumbu x dengan kelajuan v, maka persamaan gelombangnya dapat
dinyatakan dengan:
2 y 1 2 y
............................................................................ (2)
x 2 v 2 t 2
Dalam kasus gelombang pada tali yang terbentang, y menyatakan simpangan
tali dari sumbu x. Pada gelombang bunyi y menyatakan perbedaan gelombang tekan,
sedangkan pada gelombang cahaya y menyatakan besarnya medan listrik atau
magnet Ada yang menyatakan sederetan gelombang superposisi yang mempunyai
amplitudo dan panjang gelombang yang sama, suatu gelombang berdiri pada tali
yang kedua ujungnya terikat, dan sebagainya semua pemecahan tersebut harus
berbentuk:
y Ft
x
.............................................................................. (3)
v
Pemecahan F t
x
menyatakan gelombang yang menjalar dalam arah x .
v
Untuk gelombang yang ekivalen dengan partikel bebas (partikel yang tidak
mengalami gaya sehingga menempuh lintasan lurus dengan kelajuan konstan)
mempunyai
pemecahan
umum
yang
setara
untuk
gelombang
harmonik
monokromatik tak teredam dengan frekuensi sudut konstan dan amplitudo konstan
A dalam arah x .
y Ae i t x v ............................................................................. (4)
Dalam mekanika kuantum fungsi gelombang
3
Persamaan Schrodinger
( x, t ) Ae i (t x / v ) ....................................................................(5)
dimana 2 dan v sehingga persamaan (5) menjadi:
( x, t ) Ae i 2 t x
( x, t ) Ae 2i (vt x / ) ..................................................................(6)
Hubungan antara dan dinyatakan dalam energi total E yang digambarkan oleh
, yaitu:
E h ....................................................................................... (7)
Hubungan antara dan dinyatakan dalam momentum p dari partikel yang
digambarkan oleh , yaitu:
p
Dimana
......................................................................................... (8)
h
h 2 sehingga persamaan (7) dan (8) menjadi:
2
E 2
E
2
.............................................................. (9)
2
............................................................. (10)
p
( x, t ) Ae
E
xp
2 i
t
2
2
Ae
.p
x
i
( x, t ) i E t p x
. p Ae
x
i
2 ( x, t ) p 2 E t p x
i Ae
x 2
E t p x
2 ( x, t )
p2
Ae
x 2
2
i
4
Persamaan Schrodinger
(
x
,
t
)
(
x
,
t
)
x 2
2
x 2
E t p x
( x, t )
iE
Ae
t
( x, t )
iE
( x, t )
.................... (13)
( x, t ) E( x, t )
t
i
t
i
Untuk kelajuan yang kecil terhadap kelajuan cahaya. Energi total partikel sama
dengan jumlah energi kinetik (K) dan energi potensial V, dengan V(x,t) merupakan
fungsi dari kedudukan x dan waktu t. Secara matematis hubungan ketiganya
dirumuskan dengan persamaan:
E K V
1 2
mv V
2
m2v 2
E
V
2m
E
p2
E
V ( x, t )
2m
...................................................................... (14)
Apabila kedua ruas pada persamaan (14) sama-sama dikalikan dengan fungsi
gelombang ( ) akan menghasilkan persamaan:
p2
E ( x, t ) =
( x, t ) + V(x) ( x, t ) ..................................... (15)
2m
Dengan mensubstitusikan persamaan (12) dan persamaan (13) ke persamaan (15)
diperoleh persamaan berikut.
( x, t )
2 2 ( x, t )
V ( x, t )( x, t )
i
t
2m x 2
( x, t )
2 2 ( x, t )
V ( x, t )( x, t ) ............................ (16)
t
2m x 2
5
Persamaan Schrodinger
(r , t )
2 2 (r , t ) 2 (r , t ) 2 (r , t )
V (r , t )(r , t )
i
2
2
2
t
2m x
y
z
(r , t )
2
d t
t 2 r V r , t t r i r
2m
dt
2 1
1 d t
2
............................... (18)
r V r , t i
2m r
t dt
Pada ruas kanan (18) merupakan fungsi t, sedangkan ruas kiri merupakan fungsi r
dan t. Satu-satunya suku yang memuat r dan t adalah V( r ,t). Ini berarti bahwa
pemisahan variabel hanya akan berhasil jika V hanya bergantung pada r saja atau
hanya bergantung pada t saja.
2 1
1 d t
2
r V r i
2m r
t dt
2 1 d 2 r
1 d t
V r i
.................................. (19)
2
2m r dr
t dt
t e
Et
Jika keadaan sistem secara eksplisit tidak bergantung pada waktu, maka bagian ruang
dan waktu penyelesaian persamaan Schrodinger memiliki bentuk,
r , t r t
6
Persamaan Schrodinger
iE t
r , t r e
Fungsi gelombang tersebut menghasilkan fungsi rapat peluang posisi:
iE t
iE t
2
(r , t ) (r , t ). * (r , t ) (r )e . (r )e (r ) ..... (20)
Yang ternyata tidak tergantung pada waktu. Oleh karena itu, fungsi gelombang
iE t
seperti yang dinyatakan r , t r e disebut sebagai fungsi gelombang
stasioner atau penyelesaian stasioner persamaan Schrodinger, dan sistem yang
bersangkutan dikatakan dalam keadaan stasioner. Keadaan stasioner juga merupakan
keadaan dengan energi pasti. Perhatikan bahwa fungsi gelombang tersebut hanya
memuat satu nilai E. Karena hanya ada satu macam nilai E, maka pengukuran
berulang terhadap energi sistem selalu menghasilkan nilai ukur yang sama, yaitu
sebesar E. Ini berarti bahwa keadaan stasioner merupakan keadaan dimana energi
sistem bernilai pasti (tertentu).
5.
waktu, sehingga hanya berubah terhadap kedudukan partikel (x, y, z). Fungsi
gelombang partikel bebas pada persamaan Ae
i
E t p x
berikut.
Ae
Ae
i
E t p x
ip
x
iE
t
Ae
iE
t
ip
x
iE
t
................................................................................ (21)
Jadi merupakan perkalian dari fungsi yang bergantung pada kedudukan dan
waktu e
iE
t
2 2
V diperoleh
t
2m x 2
e
Ve
2
t
2m x
7
Persamaan Schrodinger
ie
Ee
E
i t
E
i t
iE
iE
t
2 t 2
iE
e
e
2
2m
x
iE
iE
t
2 t 2
................................ (22)
e
2m
x 2
2 2
V
2m x 2
2
2
E V 2
2m x
E
2m
2
2
x 2
2 2m
E V 0 ............................................................ (23)
x 2 2
Persamaan (23) merupakan persamaan Schrodinger bebas waktu. Dalam
bentuk 3 dimensi persamaan (23) menjadi:
2 2 2 2m
E V 0
x 2 y 2 z 2 2
2m
2 r 2 E V r r 0 ............................................... (26)
E i
t ................................................................................. (27)
p i
(r , t )
2 2
(r , t ) V (r , t ) (r , t ) ............................. (28)
t
2m
8
Persamaan Schrodinger
partikel di dalam potensial V ( r , t). Dalam banyak hal, sistem fisis dapat didekati
dengan model satu dimensi. Persamaan Schrodinger satu dimensi berbentuk:
(r , t )
2 2 ( x, t )
i
V ( x, t ) ( x, t ) ............................. (29)
t
2m x 2
Secara umum, karena energy E dapat dinyatakan dalam Hamiltonian
E=H( r , p, t ) ............................................................................. (30)
Maka persamaan (29) dapat dituliskan menjadi:
(r , t )
i
H (r , i, t )
t
Hamiltonian H sekarang berperan sebagai operator:
2
H
V (r , t ) ................................................................ (31)
2m
Yang bekerja pada fungsi gelombang (r , t ).
Tinjau partikel yang bergerak di dalam ruang dengan potensial tidak
r , t r f t ...................................................................... (32)
Selanjutnya substitusi persamaan (32) ke dalam persamaan persamaan (29)
i df
2 2
V r ...................................................... (33)
f t dt
2m
Oleh karena ruas kiri persamaan di atas bergantung waktu sedangkan ruas
kanan hanya bergantung variabel ruang , maka keduanya akan selalu sama jika dan
hanya jika keduanya sama dengan konstanta, misalkan E. dengan demikian
persamaan (33) akan terpisah menjadi dua persamaan yaitu:
i df
2 2
E dan
V r E
f dt
2m
df
E
i f ............................................................................. (34)
dt
9
Persamaan Schrodinger
2 2
V r r E r ................................................ (35)
2m
Persamaan di atas adalah persamaan diferensial orde satu dengan solusi akan
sebanding dengan exp iEt / . Karena itu persamaan (32) akan menjadi:
probabilitas:
r , t r ...................................................................... (37)
Yang
tidak
bergantung
waktu.
Karena
itu
menggambarkan keadaan stasioner karena tidak ada karakter atau sifat partikel yang
berubah terhadap waktu. Sedangkan persamaan (34) disebut sebagai persamaan
Schrodinger bebas waktu.
H r E r .................................................................................. (38)
Persamaan di atas disebut sebagai persamaan karakteristik atau persamaan nilai eigen
dengan r sebagai fungsi eigen dan H adalah operator differensial dari energi. E
adalah nilai eigen dari operator H , dan disebut sebagai energi gelombang dan
ditafsirkan sebagai energi partikel.
7.
iE t
r , t r e . Jika solusi stasioner fungsi gelombang r , t disubstitusi ke
persamaan Schrodinger bergantung waktu, maka diperoleh:
iE t
iE t
r e
2 2 iE t
i
r e
V (r , t ) r e
t
2m
10
Persamaan Schrodinger
e
i r
iEn t
iE t
2 iEn t 2
e
r V (r , t ) r e n
2m
iE iE t
iE t
2 iE t 2
i r e
e
r V (r , t ) r e
2m
2 2
E r
r V (r , t ) r
2m
E V r
2m
2 r
2 2
r E V r 0
2m
Persamaan terakhir yang diperoleh merupakan persamaan Schrodinger bebas waktu
sama dengan persamaan (26).
8.
Bagaimana
melakukan
transformasi
koordinat
kartesian
menjadi
2m
2 r 2 E V r r 0
x
Hubungan antara koordinat kartesius dan kordinat bola yaitu:
r 2 x2 y2 z2
x r sin cos
11
Persamaan Schrodinger
y r sin sin
z r cos
x
tan
tan
y2
z
1
2
y
x
x r
xr
r sin z cos
x cos y sin sin z cos
x cos sin y sin sin z cos ...............................................(39)
sin 90 z cos 90
cos z sin
x cos y sin cos z sin
x cos cos y sin cos z sin ...............................................( 40)
r
cos cos x cos sin y sin z
r
................................................................................................(42)
12
Persamaan Schrodinger
r..............................................................................................(43)
sin x cos y
0...............................................................................................(44)
r
sin sin x sin cos y
r
sin .......................................................................................( 45)
sin x cos y
cos x sin y
r rr
dr drr r
Berdasarkan
dr
dr
d r
d
d
d
persamaan
dan
persamaan
diperoleh
bahwa
dr
dr
dan
sin . Maka,
d
d
dr drr rd r sin d.............................................................(48)
Berdasarkan
definisi
gradien
dan
diferensial
parsial
diperoleh
13
Persamaan Schrodinger
dU dr.U
dU
U
...........................................................................................(49)
dr
dU
U
U
U
dr
d
d ...................................................... (50)
r
Sehingga,
U r
U 1 U
1 U
r
r
r sin
1
1
U
U r
r
r sin
r
1
1
r
r
r
r sin
2 .
1
1
1
1
r
2 r
r
r sin r
r
r sin
r
2
1 2
1
.................................................(51)
2 2 2
2
2
2
r
r sin
r
2 2
r Vr r E r
2m
2m
2m
2 r 2 Vr r 2 E r
2m
2m
2 r 2 Vr r 2 E r 0
2m
E Vr r 0
2
2
1 2
1
2m
2 2
r , , 2 E Vr , , r , , 0
2 2
2
r
r sin
r
2 r , ,
r , ,
1 2 r , ,
1
1
sin
r r 2 sin
r 2 sin 2 2
r 2 r
2m
E Vr , , r , , 0...............................................................................................(52)
2
2 r
14
Persamaan Schrodinger
9.
d t
2
t 2 r V r , t t r i r
2m
dt
(19)
Karena termasuk gaya konservatif maka fungsi V-nya adalah fungsi posisi saja.
d t
2
t 2 r V r t r i r
2m
dt
(20)
2 1
1 d t
2
r V r i
2m r
t dt
(21)
2 1
1 d t
2
r V r i
2m r
t dt
(22)
Pada ruas kanan persamaan (22) merupakan fungsi t, sedangkan pada ruas kiri
merupakan fungsi r. Suku kedua diruas kiri adalah energi potensial maka suku-suku
lainnya baik diruas kiri maupun diruas kanan harus berdimensikan energi. Karena
ruas kiri tersebut menyatakan jumlah energi kinetik ditambah energi potensial maka
tetapan yang digunakan memiliki arti fisik sebagai energi total yang dilambangkan
dengan E.
Sehingga ruas kanan diselesaikan untuk E maka diperoleh:
15
Persamaan Schrodinger
i t
t t
(t )
E dt t t
to
E
dt
i to
t
(t )
d t
t
1
Et
ln t ln o t
i
Et
t
ln
i
o t
e
Et
Et
t
t
e i
o t
o t
t o t e
Et
(23)
o A 1, i 2 1 dan E h 2 , jadi persamaannya
2
Karena
menjadi:
t e
i 2 t
t e it
(24)
t e it e it e o 1
(25)
r , t r t
(26)
r , t r e it
(27)
Sehingga fungsi rapat peluangnya menjadi :
2
2
| (r , t ) | 2 | (r ) | 2 t | (r ) | 2 1 | (r ) | 2
(28)
Ini berarti bahwa rapat peluang global tidak tergantung pada waktu.
Fungsi rapat peluang yang diasosiasikan dengan fungsi gelombang sebagai
16
Persamaan Schrodinger
r , t d 3 x 1
(29)
Persamaan (29) menunjukkan bahwa jika kita melacak kehadiran partikel keseluruh
ruang maka peluang untuk mendapatkannya adalah 1, artinya pasti mendapatkan
partikel tersebut. Persamaan itu juga menunjukkan bahwa rapat peluang global
(dihitung meliputi seluruh ruang) bersifat konstan, tidak bergantung pada waktu. Ini
berarti bahwa rapat peluang global bersifat kekal (tidak bergantung waktul.
Sebaliknya jika rapat peluang tersebut dihitung secara lokal (meliputi ruang
yang terbatas, maka rapat peluang lokal bergantung waktu. Adapun penurunannya
sebagai berikut.
r , t
* r , t
* r , t
t
t
t
(30)
Menurut
persamaan
Schrdinger
r , t
2 2
r , t V r , t r , t i
,
2m
t
kedua derivatif fungsi gelombang terhadap waktu diruas kanan persamaan (30)
tersebut masing-masing menghasilkan
r , t i 2
(r , t ) V (r , t ) (r , t )
t
2m
dan
(31)
* r , t i 2 *
(r , t ) V (r , t ) * (r , t )
t
2m
r , t i
i
* 2 2 *
* *
t
2m
2m
(32)
17
Persamaan Schrodinger
dengan menyatakan vektor operator (nabla) yang dalam sistem koordinat Cartesan
r , t
J r , t 0
t
(33)
dengan vektor rapat arus peluang J r , t didefinisikan sebagai
J r , t
* *
i 2m
(34)
Persamaan (33) memiliki bentuk yang sama dengan persamaan kontinuitas yang
sudah kita kenal dalam fisika klasik. Sebagai misal, dalam elektrodinamika berlaku
r , t
persamaan kontinuitas
J r , t , dengan rapat muatan (persatuan
t
volume) dan J vektor rapat arus muatan (persatuan luas). Persamaan kontinuitas
ini menyatakan bahwa jika rapat muatan dalam suatu volume tertutup berubah
(berkurang atau bertambah) terhadap waktu maka harus ada aliran muatan (keluar
atau masuk) yang menembus luasan yang membatasi ruang tertutup tersebut secara
tegak lurus. Persamaan kontinuitas dalam elektrodinamika ini merupakan manifestasi
dari hukum kekekalan muatan listrik.
Pemaknaan secara fisik persamaan (33) tersebut dapat dilakukan dengan
mengambil analogi dengan persamaan kontinuitas dalam elektrodinamika. Jika
dalam ektrodinamika sebagai rapat muatan dan J sebagai vektor rapat arus
muatan, maka dalam kontek persamaan (33) sebagai rapat peluang dan
18
Persamaan Schrodinger
* Adx
*dx
(35)
Dan dalam ruang momentum satu dimensi didefinisikan sebagai
( A)~
~ * A~ dp
~ *~dp
(36)
Tanda bintang menyatakan konjugat kompleks dari, artinya * adalah konjugat
kompleks dari . Penulisan lambang nilai harap dapat dilakukan dengan dua cara,
~
( A) * Adx
Atau
( A)~ ~ * A~dp
19
Persamaan Schrodinger
A * Adx
(37)
Konjugat kompleks nilai harap tersebut adalah
*
^
^
* A dx ( A ) * dx
(38)
Jika merupakan operator hermitan maka ruas kanan persamaan (38) sama dengan
ruas kanan persamaan (37). Ini berarti kedua ruas kiri persamaan tersebut sama. Jadi:
^
OPERATOR
a.
Operator posisi
Dalam ruang posisi, di mana fungsi gelombang berbentuk (r, t ) , operasi
(39)
Yang berarti hanya mengalikan fungsi gelombang dengan vektor posisi r. Dalam
bentuk komponen-kompenen cartesannya dapat dinyatakan sebagai berikut.
X(r, t ) x(r, t )
Y(r, t ) y(r, t )
Z(r, t ) z(r, t )
Jadi, cara kerja operator komponen vektor posisi dalam ruang posisi adalah
mengalikan fungsi gelombang dengan komponen vektor posisi pada arah yang
bersesuaian.
Dalam ruang momentum, fungsi gelombang berbentuk
~
(p, t ) yang
merupakan transform Fourier dari (r, t ) . Dengan demikian, operasi operator posisi
~ (p, t ) . Untuk penyederhanaan, tanpa
dalam ruang momentum dituliskan secara R
20
Persamaan Schrodinger
1
~
X ( p, t ) X
2
e ipx / ( x, t )dx
e ipx / X( x, t )dx
e ipx / x( x, t )dx
(40)
Integran dalam integral tersebut dapat diubah menjadi i
ipx /
e
( x, t ) , sebab
p
ipx /
e Z ( x, t ) ix / e ipx / ( x, t ) . Sehingga persamaan (40) menjadi
p
1
~
X( p, t ) i
p 2
e ipx / ( x, t )dx
~
( p, t )
p
(41)
Persamaan di atas menyatakan bahwa dalam ruang momentum, operator posisi
berbentuk i
.
p
X i
p x
Y i
p y
Z i
p z
(42)
Dalam bentuk vektor:
i
R
p
(43)
Dengan p (i / p x j / p y k / p z )
21
Persamaan Schrodinger
b.
~
Dalam ruang momentum, di mana fungsi gelombang berbentuk (p, t ) , operasi
P
(p, t ) (p, t )
(44)
Yang berarti hanya mengalikan fungsi gelombang dengan momentum p. Dalam
bentuk komponen-komponen Cartesian yang dinyatakan sebagi berikut:
~
~
Px (p, t ) p x (p, t )
~
~
Py (p, t ) p y (p, t )
~
~
Pz (p, t ) p z (p, t )
Jadi, cara kerja operator komponen vektor momentum linear dalam ruang momentum
adalah mengalikan fungsi gelombang dengan komponen momentum linear pada arah
yang bersesuaian.
Dalam ruang posisi, fungsi gelombang berbentuk (r, t ) . Sehingga operator
(r, t ) .
momentum dalam ruang posisi dituliskan secara P
~
Karena (r, t ) , merupakan pasangan Fourier dari (p, t ) , yaitu
dan
(45)
~
(r, t ) (2) 3 / 2 e ip.r / (p, t )d 3p
-
(46)
Dengan r (i / x j / y k / z) . Ini berarti, dalam ruang posisi, operator
momentum berbentuk:
22
Persamaan Schrodinger
i
P
r
(47)
Dalam bentuk komponen-komponen Cartesannya:
Py i
y
Px i
x
c.
Pz i
z
Operator Hermitan
Perkalian skalar antara fungsi dan ' A (dalam urutan yang demikian)
(, A )
* A dx
(48)
Jika urutannya dibalik kita dapatkan bilangan
( A , ) ( A ) * dx (2)
* A dx ( A ) * dx
(49)
Untuk sebarang fungsi yang square integrable.
23
Persamaan Schrodinger
dt
i
t
............................................(1)
d
X
dt
1
X,H
i
X
............................................... (2)
t
P 2
) dikenal dengan hamiltonan, maka
V
(
X
2m
P 2
P 2
X , H X ,
V ( X ) X ,
X , V ( X )
......................(3)
2
m
2
m
Pada komutator X ,V ( X ) , operator X dan V (X ) saling komute, sehingga
X ,V ( X )
P 2
berharga nol, sedangkan komutator X ,
mempunyai suatu
2m
harga
P 2
1 2
1
iP
X,P
X,P P P X,P
X ,
2m
m
2m 2m
Diketahui bahwa X , P i , dengan demikian persamaan (3) menjadi
X , H imP
...................(4)
maka
X / t 0 ,
sehingga
nilai
harapnya
juga
nol;
jadi:
X , H imP
d
X
dt
1 iP
i m
24
Persamaan Schrodinger
d
X
dt
P m
P
m
d X
.........................(5)
dt
Oleh karena operator P mewakili momentum linier benda (P) dan operator X
mewakili posisi benda (X), maka dapat dibentuk suatu persamaan baru sebagai
berikut
Pm
d X
dt
d(X )
menunjukkan hubungan antara besaran momentum
dt
dengan posisi berdasarkan tinjauan mekanika kuantum.
Persamaan P m
Perumusan ini ternyata sama dengan perumusan nilai momentum linier (P)
pada mekanika klasik sebagai berikut
P m.v
d(X )
dt
Hali ini menunjukkan adanya transisi dari mekanika kuantum ke mekanika
Pm
klasik
d
P
dt
1
P, H
i
P
t
.....................................6)
25
Persamaan Schrodinger
P 2
P 2
P, H P,
V ( X ) P,
P,V ( X ) .........7)
2
m
2
m
P , P 0 .
2
P ,V ( X )
Akibatnya X x dan P i / x
P ,V ( X ) P V ( X ) V ( X )P i x V x V ( x) i x
V ( x)
V ( x)
i
V ( x)
V ( x)
i
x
x
x
x
V ( x)
Akibatnya P ,V ( X ) i
x
P , H i Vx( x) .........................................................8)
Secara eksplisit, operator momentum ( P ) tidak bergantung waktu, sehingga
d
P
dt
d
P
dt
1
P, H
i
1
P, H
i
1
dV ( x)
i
i
dx
dV ( x)
...................................................9)
dx
maka
persamaan
9)
akan
menjadi
d
dV ( x)
( P)
...............................10)
dt
dx
26
Persamaan Schrodinger
dp
dt
Dalam kasus sistem konservativ, terdapat hubungan antara gaya dengan energi
potensial, di mana gaya merupakan negatif gradien energi potensial.
F
dV
dx
dp
dV
dt
dx
Teori Ehrenfest
Teori Ehrenfest berawal setelah Paul Ehrenfest berhasil menghubungkan antara
waktu derivative dari harga ekspektasi untuk operator mekanika kuantum ke dalam
komutator. Secara matematis, teori Ehrenfest ini dirumuskan dengan persamaan
d
1
A
( A) ( [ A, H ] )
dt
i
t
Di mana,
H = operator hermitian
27
Persamaan Schrodinger
d
*
A
3
3
* A dx 3
A dx * A
dx
dt
t
t
t
Jadi persamaan waktu derivative dari harga ekspektasi A adalah sebagai berikut
d
*
A
3
3
( A)
A dx * A
dx 1)
dt
t
t
t
Kadang-kadang operator A bersifat bebas waktu (time independent). Jika hal ini
terjadi, maka persamaan 1) akan menjadi
d
*
3
3
( A)
A dx * A
dx
dt
t
t
Dalam hal ini, H adalah Hamiltonian, sedangkan H * adalah hermitian. Oleh karena
Hamiltonian merupakan hermitian, maka H H * , maka persamaan 1) akan menjadi
d
A 1 * AH HA dx 3 A
dt
i
t
d
A 1 [ A, H ] A ..4)
dt
i
t
28
Persamaan Schrodinger
maka E tidak boleh bernilai sembarang. Dengan kata lain, untuk menghasilkan r
yang memenuhi syarat maka E harus bernilai tertentu. Energi total (E) bersifat
membedakan antara pasangan yang satu dengan lainnya digunakan indeks diskrit n.
Sehingga persamaannya menjadi:
H (r ) E (r )
n ( x, t ) n ( x)e iE t /
n
(31)
Bilangan n disebut bilangan kuantum (quantum number). Nilai terendah n, biasanya
0, menyatakan keadaan dasar (ground state). Nilai berikutnya: 1, 2, dst, menyatakan
keadaan tereksitasi (terbangkit) pertama, kedua, dan seterusnya.
x, t x f t
2 1 d 2 x
1 df t
V x, t i
2
2m x dx
f t dt
bila V hanya bergantung pada x maka:
2 1 d 2 x
1 df t
V x i
2
2m x dx
f t dt
(32)
Ruas kiri dan ruas kanan ini menyatakan suatu kesamaan namun tidak
menyatakan saling ketergantungan sehingga karena masing-masing menyatakan
jumlah energi, persamaan tersebut dapat diselesaikan sebagai berikut.
29
Persamaan Schrodinger
2 1 d 2 x
V x, t E
2m x dx 2
(33)
dan
1 df t
E
f t dt
(34)
Dari penyelesaian persamaan (34) diperoleh perumusan persamaan Schrodinger
menjadi:
x, t x e
iEt
(35)
Persamaan bebas waktu dinyatakan pada persamaan (33) dapat dinyatakan dengan:
H x E x
^
(36)
^
(37)
Persamaan umun Schrodinger menjadi:
n x, t n x e
iEn t
(38)
E E dx
2
(39)
Untuk x, t , kita harus menyatakan E sebagai fungsi dari x dan t untuk
kemudian diintegrasi. Tapi, dari prinsip ketaktentuan mengakibatkan tidak
terdapatnya fungsi E(x,t), sekali x dan t ditentukan hubungan:
Et
(40)
Berarti bahwa kita tidak dapat pada prinsipnya menentukan E secara eksak.
Jika E tertentu seperti kasus keadaan tunak (stasioner) seperti yang dinyatakan oleh
tingkat energi atomik x, dan t tidak dapat ditentukan secara eksak.
Dalam fisika klasik tidak dapat pembatasan seperti itu, karena dalam dunia
makroskopik prinsip ketaktentuan dapat diabaikan. Jika kita terapkan hukum gerak
kedua pada gerak benda yang mengalami berbagai gaya, kita mengharapkan untuk
mendapatkan E(x,t) dari solusinya seperti juga x(t), untuk memecahkan persoalan
tersebut dalam mekanika klasik pada pokoknya berarti menetukan tempuhan masa
depan gerak benda tersebut. Dalam fisika kuantum, di lain pihak semua yang kita
dapatkan secara langsung dari persamaan Schrodinger dari gerak partikel itu ialah
fungsi gelombang , dan tempuhan masa depan gerak partikel itu, seperti juga
keadaan awalnya, hanya diketahui peluangnya, sebagai ganti sesuatu yang sudah
tertentu.
Untuk
mendapatkan
dengan
cara
yang
benar
ialah dengan
i
E
t
(41)
yang dapat ditulis dengan cara:
31
Persamaan Schrodinger
E i
(42)
Jelaslah kuantitas dinamis p dalam cara tertentu bersesuaian dengan operator
diferensial ( / i) x dan kuantitas dinamis E bersesuaian dengan operator
diferensial i x . Operator i x mengintruksikan kepada kita untuk mengambil
turunan parsial kuantitas yang terdapat setelahnya terhadap tdan hasilnya dikalikan
dengan i .
Kita bisa melambangkan operator dengan huruf tebal tegak, sehingga E ialah
operator yang bersesuaian dengan energi total E. Operator E dinyatakan dalam
bentuk:
E i
(43)
Persamaan tersebut berlaku untuk partikel bebas, dan memiliki kesahan dengan
persamaan Schrodinger. Untuk mendukung penyataan ini, persamaan E = T + V
untuk energi total partikel dapat diganti dengan persamaan operator.
E=T+V
(44)
dengan T
p2
diperoleh persamaan operator energi-kinetik, yakni:
2m
p 2
1
2
2m 2m i x
2m x
(45)
Sehingga persamaan (44) dapat ditulis:
2 2
V
t
2m x 2
(46)
Kalikan kedua ruas persamaan (46) dengan , diperoleh:
2 2
V
t
2m x 2
(47)
32
Persamaan Schrodinger
E Edx i dx i
x
t
t
(48)
x 2 2
V x x
t
2m
(49)
Operator energi total dapat dibuat dalam bentuk operator Hamilton H antara
lain sebagai berikut.
2 2
H
V
2m
(50)
Dengan demikian persamaan (50) dapat dituliskan sebagai berikut.
H x E x
(51)
Jika kita analisis persamaan (51) maka kita dapatkan bahwa E adalah nilai
eigen energi pada persamaan schrodinger bebas waktu dan x adalah fungsi eigen
energi. Sifat-sifat yang dimiliki oleh fungsi eigen energi ini adalah sebagai berikut.
1. Fungsi eigen energi tidak tergantung pada waktu karena fungsi ini diturunkan
dari persamaan schrodinger bebas waktu.
2. Nilai (x) dan
d ( x)
berhingga di semua x karena (x) bersifat real.
dx
d ( x)
tunggal di semua x.
dx
d ( x)
kontinu di semua x.
dx
33
Persamaan Schrodinger
F(x)
F(x)
F(x)
X1
X2
x1 xx2
34
Persamaan Schrodinger