0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
294 tayangan21 halaman

Model Desain Pembelajaran Terbaik

Model-model desain pembelajaran terdiri atas model Dick and Carey, model Kemp, model ASSURE, model ADDIE, dan model Hanafin dan Peck. Kesemua model ini memiliki langkah-langkah yang jelas dalam merancang pembelajaran mulai dari menganalisis tujuan, peserta didik, bahan ajar, hingga evaluasi.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
294 tayangan21 halaman

Model Desain Pembelajaran Terbaik

Model-model desain pembelajaran terdiri atas model Dick and Carey, model Kemp, model ASSURE, model ADDIE, dan model Hanafin dan Peck. Kesemua model ini memiliki langkah-langkah yang jelas dalam merancang pembelajaran mulai dari menganalisis tujuan, peserta didik, bahan ajar, hingga evaluasi.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

MODEL- MODEL DESAIN PEMBELAJARAN

1. Model Dick and Carrey.


Salah satu model desain pembelajaran adalah model Dick and Carey

(1985). Model ini termasuk ke dalam model prosedural.


Langkahlangkah Desain Pembelajaran menurut Dick and Carey adalah:
Mengidentifikasikan tujuan umum pembelajaran.
Melaksanakan analisi pembelajaran
Mengidentifikasi tingkah laku masukan dan karakteristik siswa.
Merumuskan tujuan performansi
Mengembangkan butirbutir tes acuan patokan
Mengembangkan strategi pembelajaran
Mengembangkan dan memilih materi pembelajaran
Mendesain dan melaksanakan evaluasi formatif
Merevisi bahan pembelajaran
Mendesain dan melaksanakan evaluasi sumatif.

Gambar :

Model Dick and Carey Model Dick and Carey terdiri dari 10 langkah. Setiap
langkah sangat jelas maksud dan tujuannya sehingga bagi perancang pemula sangat
cocok sebagai dasar untuk mempelajari model desain yang lain. Kesepuluh langkah

pada model Dick and Carey menunjukan hubungan yang sangat jelas, dan tidak
terputus antara langkah yang satu dengan yang lainya. Dengan kata lain, system yang
terdapat pada Dick and Carey sangat ringkas, namun isinya padat dan jelas dari satu
urutan ke urutan berikutnya. Langkah awal pada model Dick and Carey adalah
mengidentifikasi tujuan pembelajaran. Langkah ini sangat sesuai dengan kurikulum
perguruan tinggi maupun sekolah menengah dan sekolah dasar, khususnya dalam
mata pelajaran tertentu di mana tujuan pembelajaran pada kurikulum agar dapat
melahirkan suaturancangan pembangunan. Penggunaan model Dick and Carey dalam
pengembangan suatu mata pelajara dimaksudkan agar:
a. pada awal proses pembelajaran anak didik atau siswa dapat mengetahui dan
mampu melakukan halhal yang berkaitan dengan materi pada akhir
b.

pembelajaran.
adanya pertautan antara tiap komponen khususnya strategi pembelajaran dan

hasil pembelajaran yang dikehendaki.


c. menerangkan langkahlangkah yang perlu dilakukan dalam melakukan
perencanaan desain pembelajaran

2. Model Kemp.
Model Kemp termasuk ke dalam contoh model melingkar jika ditunjukkan
dalam sebuah diagram, model ini akan tampak seperti gambar berikut ini:

Gambar :

Secara singkat, menurut model ini terdapat beberapa langkah dalam penyusunan
sebuah bahan ajar, yaitu:
a. Menentukan tujuan dan daftar topik,menetapkan tujuan umum untuk
pembelajaran tiap topiknya.
b. Menganalisis karakteristik pelajar, untuk siapa pembelajaran tersebut didesain.
c. Menetapkan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai dengan syarat dampaknya
dapat dijadikan tolak ukur perilaku pelajar.
d. Menentukan isi materi pelajaran yang dapat mendukung tiap tujuan.
e. Pengembangan prapenilaian/ penilaian awal untuk menentukan latar belakang
pelajar dan pemberian level pengetahuan terhadap suatu topik.
f. Memilih aktivitas pembelajaran dan sumber pembelajaran yang menyenangkan
atau menentukan strategi belajar-mengajar, jadi siswa siswa akan mudah
menyelesaikan tujuan yang diharapkan.
g. Mengkoordinasi dukungan pelayanan atau sarana penunjang yang meliputi
personalia, fasilitas-fasilitas, perlengkapan, dan jadwal untuk melaksanakan
rencana pembelajaran.
h. Mengevaluasi pembelajaran siswa dengan syarat mereka menyelesaikan
pembelajaran serta melihat kesalahankesalahan dan peninjauan kembali beberapa

fase dari perencanaan yang membutuhkan perbaikan yang terus menerus, evaluasi
yang dilakukan berupa evaluasi formatif dan evaluasi sumatif.

3. Model ASSURE.
Model ASSURE merupakan suatu model yang merupakan sebuah formulasi
untuk Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) atau disebut juga model berorientasi kelas.
Menurut Heinich et al (2005) model ini terdiri atas enam langkah kegiatan yaitu:
1). Analyze Learners
2). States Objectives
3). Select Methods, Media, and Material
4). Utilize Media and materials
5). Require Learner Participation
6). Evaluate and Revise

Gambar :

1). Analisis Pelajar.


Menurut Heinich et al (2005) jika sebuah media pembelajaran akan digunakan
secara baik dan disesuaikan dengan cirri-ciri Belajar, isi dari pelajaran yang akan
dibuatkan medianya, media dan bahan pelajaran itu sendiri. Lebih lanjut Heinich,
2005 menyatakan sukar untuk menganalisis semua cirri pelajar yang ada, namun ada
tiga hal penting dapat dilakuan untuk mengenal pelajar sesuai .berdasarkan cirri-ciri
umum, keterampilan awal khusus dan gaya belajar.
2). Menyatakan Tujuan.
Menyatakan tujuan adalah tahapan ketika menentukan tujuan pembeljaran
baik berdasarkan buku atau kurikulum. Tujuan pembelajaran akan menginformasikan
apakah yang sudah dipelajari anak dari pengajaran yang dijalankan. Menyatakan
tujuan harus difokuskan kepada pengetahuan, kemahiran, dan sikap yang baru untuk
dipelajari.

3). Pemilihan Metode, media dan bahan.


Heinich et al. (2005) menyatakan ada tiga hal penting dalam pemilihan
metode, bahan dan media yaitu menentukan metode yang sesuai dengan tugas
pembelajaran, dilanjutkan dengan memilih media yang sesuai untuk melaksanakan
media yang dipilih, dan langkah terakhir adalah memilih dan atau mendesain media
yang telah ditentukan.
4). Penggunaan Media dan bahan.
Menurut Heinich et al (2005) terdapat lima langkah bagi penggunaan media
yang baik yaitu, preview bahan, sediakan bahan, sedikan persekitaran, pelajar dan
pengalaman pembelajaran.
5). Partisipasi Pelajar di dalam kelas.
Sebelum pelajar dinilai secara formal, pelajar perlu dilibatkan dalam aktivitas
pembelajaran seperti memecahkan masalah, simulasi, kuis atau presentasi.
6). Penilaian dan Revisi
Sebuah media pembelajaran yang telah siap perlu dinilai untuk menguji
keberkesanan dan impak pembelajaran. Penilaian yang dimaksud melibatkan
beberaoa aspek diantaranya menilai pencapaian pelajar, pembelajaran yang
dihasilkan, memilih metode dan media, kualitas media, penggunaan guru dan
penggunaan pelajar.

4. Model ADDIE.
Ada satu model desain pembelajaran yang lebih sifatnya lebih generik yaitu
model ADDIE (Analysis-Design-Develop-Implement- Evaluate). ADDIE muncul
pada tahun 1990-an yang dikembangkan oleh Reiser dan [Link] satu

fungsinya ADIDE yaitu menjadi pedoman dalam membangun perangkat dan


infrastruktur program pelatihan yang efektif, dinamis dan mendukung kinerja
pelatihan itu sendiri. Model ini menggunakan 5 tahap pengembangan yakni :
1. Analysis (analisa)
2. Design (disain / perancangan)
3. Development (pengembangan)
4. Implementation(implementasi/eksekusi)
5. Evaluation (evaluasi/ umpan balik)
Gambar :

Langkah 1: Analisis
Tahap analisis merupakan suatu proses mendefinisikan apa yang akan dipelajari
oleh peserta belajar, yaitu melakukan needs assessment (analisis kebutuhan),
mengidentifikasi masalah (kebutuhan), dan melakukan analisis tugas (task analysis).
Oleh karena itu, output yang akan kita hasilkan adalah berupa karakteristik atau

profile calon peserta belajar, identifikasi kesenjangan, identifikasi kebutuhan dan


analisis tugas yang rinci didasarkan atas kebutuhan.
Langkah 2: Desain
Tahap ini dikenal juga dengan istilah membuat rancangan (blueprint). barat
bangunan, maka sebelum dibangun gambar rancang bangun (blue-print) diatas kertas
harus ada terlebih dahulu. Apa yang kita lakukan dalam tahap desain ini? Pertama
merumuskan tujuan pembelajaran yang SMAR (spesifik, measurable, applicable, dan
realistic). Selanjutnya menyusun tes, dimana tes tersebut harus didasarkan pada
tujuan pembelajaran yag telah dirumuskan tadi. Kemudian tentukanlah strategi
pembelajaran yang tepat harusnya seperti apa untuk mencapai tujuan tersebut. Dalam
hal ini ada banyak pilihan kombinasi metode dan media yang dapat kita pilih dan
tentukan yang paling relevan. Disamping itu, pertimbangkan pula sumber-sumber
pendukung lain, semisal sumber belajar yang relevan, lingkungan belajar yang seperti
apa seharusnya, dan lainlain. Semua itu tertuang dalam sautu dokumen bernama blueprint yang jelas dan rinci.
Langkah 3: Pengembangan
Pengembangan adalah proses mewujudkan blue-print alias desain tadi
menjadi kenyataan. Artinya, jika dalam desain diperlukan suatu software berupa
multimedia pembelajaran, maka multimedia tersebut harus dikembangkan. Atau
diperlukan modul cetak, maka modul tersebut perlu dikembangkan. Begitu pula
halnya dengan lingkungan belajar lain yang akan mendukung proses pembelajaran
semuanya harus disiapkan dalam tahap ini. Satu langkah penting dalam tahap
pengembangan adalah uji coba sebelum diimplementasikan. Tahap uji coba ini
memang merupakan bagian dari salah satu langkah ADDIE, yaitu evaluasi. Lebih
tepatnya evaluasi formatif, karena hasilnya digunakan untuk memperbaiki sistem
pembelajaran yang sedang kita kembangkan.

Langkah 4: Implementasi
Implementasi adalah langkah nyata untuk menerapkan sistem pembelajaran
yang sedang kita buat. Artinya, pada tahap ini semua Yang telah dikembangkan
diinstal atau diset sedemikian rupa sesuai dengan peran atau fungsinya agar bisa
diimplementasikan. Misal, jika memerlukan software tertentu maka software tersebut
harus sudah diinstal. Jika penataan lingkungan harus tertentu, maka lingkungan atau
seting tertentu tersebut juga harus ditata. Barulah diimplementasikan sesuai skenario
atau desain awal.
Langkah 5: Evaluasi
Evaluasi adalah proses untuk melihat apakah sistem pembelajaran yang
sedang dibangun berhasil, sesuai dengan harapan awal atau tidak. Sebenarnya tahap
evaluasi bisa terjadi pada setiap empat tahap di atas. Evaluasi yang terjadi pada setiap
empat tahap diatas itu dinamakan evaluasi formatif, karena tujuannya untuk
kebutuhan revisi. Misal, pada tahap rancangan, mungkin kita memerlukan salah satu
bentuk evaluasi formatif misalnya review ahli untuk memberikan input terhadap
rancangan yang sedang kita buat. Pada tahap pengembangan, mungkin perlu uji coba
dari produk yang kita kembangkan atau mungkin perlu evaluasi kelompok kecil dan
lainlain.

5. Model Hanafin and Peck


Model Hannafin dan Peck ialah model desain pengajaran yang terdiri daripada
tiga fase yaitu fase Analisis keperluan, fase desain, dan fase pengembangan dan
implementasi (Hannafin & Peck 1988). Dalam model ini, penilaian dan pengulangan
perlu dijalankan dalam setiap fase. Model ini adalah model desain pembelajaran
berorientasi produk. Gambar di bawah ini menunjukkan tiga fase utama dalam model
Hannafin dan Peck (1988).

Gambar :

Fase pertama dari model Hannafin dan Peck adalah analisis kebutuhan. Fase
ini diperlukan untuk mengidentifikasi kebutuhankebutuhan dalam mengembangkan
suatu media pembelajaran termasuklah di dalamnya tujuan dan objektif media
pembelajaran yang dibuat, pengetahuan dan kemahiran yang diperlukan oleh
kelompok sasaran, peralatan dan keperluan media pembelajaran. Setelah semua
keperluan diidentifikasi Hannafin dan Peck (1988) menekankan untuk menjalankan
penilaian terhadap hasil itu sebelum meneruskan pembangunan ke fase desain.
Fasa yang kedua dari model Hannafin dan Peck adalah fase desain. Di dalam
fase ini informasi dari fase analisis dipindahkan ke dalam bentuk dokumen yang akan
menjadi tujuan pembuatan media pembelajaran. Hannafin dan Peck (1988)
menyatakan fase desain bertujuan untuk mengidentifikasikan dan mendokumenkan
kaedah yang paling baik untuk mencapai tujuan pembuatan media tersebut. Salah satu
dokumen yang dihasilkan dalam fase ini ialah dokumen story board yang mengikut
urutan aktivitas pengajaran berdasarkan keperluan pelajaran dan objektif media
pembelajaran seperti yang diperoleh dalam fase analisis keperluan. Seperti halnya
pada fase pertama, penilaian perlu dijalankan dalam fase ini sebelum dilanjutkan ke
fase pengembangan dan implementasi.

Fase ketiga dari model Hannafin dan Peck adalah fase pengembangan dan
implementasi. Hannafin dan Peck (1988) mengatakan aktivitas yang dilakukan pada
fase ini ialah penghasilan diagram alur, pengujian, serta penilaian formatif dan
penilaian sumatif. Dokumen story board akan dijadikan landasan bagi pembuatan
diagram alir yang dapat membantu proses pembuatan media pembelajaran. Untuk
menilai kelancaran media yang dihasilkan seperti kesinambungan link, penilaian dan
pengujian dilaksanakan pada fase ini. Hasil dari proses penilaian dan pengujian ini
akan digunakan dalam proses pengubahsuaian untuk mencapai kualitas media yang
dikehendaki. Model Hannafin dan Peck (1988) menekankan proses penilaian dan
pengulangan harus mengikutsertakan proses-proses pengujian dan penilaian media
pembelajaran yang melibatkan ketiga fase secara berkesinambungan. Lebih lanjut
Hannafin dan Peck (1988) menyebutkan dua jenis penilaian yaitu penilaian formatif
dan penilaian sumatif. Penilaian formatif ialah penilaian yang dilakukan sepanjang
proses pengembangan media sedangkan penilaian.
6. Model Gerlach and Ely
Model pembelajaran Gerlach and Ely merupakan suatu metode perencanaan
pengajaran yang sistematis. Model ini menjadi suatu garis pedoman atau suatu peta
perjalanan pembelajaran karena dalam metode ini diperlihatkan keseluruhan proses
belajar mengajar yang baik, sekalipun tidak menggambarkan secara rinci setiap
komponennya. Dalam model ini juga diperlihatkan hubungan antara elemen yang satu
dengan yang lainnya serta menyajikan suatu pola urutkan yang dapat dikembangkan
dalam suatu rencana untuk mengajar.

Gambar :

7. Model PPSI
Model PPSI ini adalah gabungan dari perencanaan pengajaran versi
Performance Based Teacher Education (PBET), perencanaan pengajaran sistematika
dan perencanaan pengajaran model Davis. Di Indonesia dikembangkan menjadi PPSI
(Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional). Istilah sistem instruksional dalam
PPSI, mengandung pengertian bahwa PPSI menggunakan pendekatan sistem, maka
PPSI juga dapat disebut menggunakan pendekatan yang berorientasikan pada tujuan.
Model pengembangan instruksional PPSI ini memiliki 5 langkah pokok, yaitu:
1. Perumusan tujuan, terdiri dari:
Merumuskan tujuan instruksional khusus (TIK), TIK ini harus memenuhi 4 kriteria
yaitu:

Menggunakan istilah operasional

Berbentuk hasil belajar

Berbentuk tingkah laku

Hanya satu jenis tingkah laku

2. Pengembangan alat evaluasi, meliputi:

Menentukan jenis tes yang digunakan untuk menilai tercapai tidaknya tujuan

merencanakan pertanyaan (item) untuk menilai masing-masing tujuan

3. Kegiatan belajar, meliputi:

Merumuskan semua kemungkinan kegiatan belajar untuk mencapai tujuan

Menetapkan kegiatan belajar yang tak perlu ditempuh

Menetapkan kegiatan yang akan ditempuh

4. Pengembangan program kegiatan, meliputi:

Merumuskan materi pelajaran

Menerapkan metode yang dipakai

Alat pelajaran atau buku yang dipakai

Menyusun jadwal

[Link] meliputi:

Mengadakan pre tes

Menyampaikan materi pelajaran

Mengadakan pos tes

Gambar :

8. Model Degeng

Degeng (1997:13) mengemukakakan delapan langkah disain pembelajaran yang


berkonteks model elaborasi yaitu:

Analisis tujuan dan karakteristik Bidang Studi

Analisis sumber belajar (kendala)

Analisis karakteristik si-belajar

Menetapkan tujuan belajar dan isi pembelajaran

Menetapkan strategi pengorganisasian isi pembelajaran

Menetapkan strategi penyampaian isi pembelajaran

Menetapkan strategi pengelolaan pembelajaran, dan

Pengembangan prosedur pengukuran hasil pembelajaran.

Secara skematis kedelapan langkah tersebut digambarkan sebagai berikut:

9. Model ISD (Instructional system design).


Rancangan sistem pembelajaran merupakan prosedur terorganisir yang
mencakup langkah-langkah menganalisis, merancang, mengembangkan,
melaksanakan dan menilai pembelajaran. Langkah-langkah ini, dalam setiap poses
memiliki dasar yang terpisah dalam teori maupun praktek seperti halnya pada proses
ISD secara keseluruhan. Dalam pengutaraannya yang lebih sederhana adalah sebagai
berikut

Menganalisis adalah mengidentifikasi apa yang dipelajari.

Merancang adalah menspesifikasi proses dan produk.

Mengembangkan adalah memandu dan menghasilkan materi pembelajaran.

Melaksanakan adalah menggunakan materi dan strategi dalam konteks.

Menilai adalah menentukan kesesuaian pembelajaran.

10. Model Pengembangan Instruksional (MPI)


Secara umum MPI menurut Atwi Suparman terdiri dari tiga tahap yaitu tahap
mengidentifikasi, tahap mengembangkan, dan tahap mengevaluasi dan merevisi.
Adapun tahap-tahap tersebut adalah sebagai berikut:
a. Tahap Mengidentifikasi

Mengidentifikasi kebutuhan instruksional dan menulis tujuan instruksional umum

Melakukan analisis instruksional

Mengidentifikas perilaku dan karakteristik siswa

b. Tahap Mengembangkan

Menulis tujuan instruksional khusus

Menulis tes acuan patokan

Menyusun strategi instruksional

Mengembangkan bahan instruksional

c. Tahap Mengevaluasi dan Merevisi


Mendesain dan melaksanakan evaluasi formatif yang termasuk di dalamnya
kegiatan merevisi.

11. Model Bela [Link]


Model pengembangan system pembelajaran ini berorientasi pada tujuan
pembelajaran. Langkah-langkah pengembangan system pembelajaran terdiri dari 6
jenis kegiatan. Model desain ini bertitik tolak dari pendekatan system (system
approach), yang mencakup keenam komponen (langkah) yang saling berinterelasi dan
berinteraksi untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan.
Pada langkah terakhir para pengembang diharapkan dapat melakukan perubahan dan
perbaikan sehingga tercipta suatu desain yang diinginkan. Model ini tampaknya
hanya diperuntukan bagi guru-guru di sekolah, mereka cukup dengan merumuskan
tujuan pembelajaran khusus dengan mengacu pada tujuan pembelajaran umum yang
telah disiapkan dalam system.
Komponen-komponen tersebut menjadi dan merupakan acuan dalam menetapkan
langkah-langkah pengembangan, sebagai berikut:
Langkah 1 : Merumuskan tujuan
Pada langkah ini pengembang merumuskan tujuan pembelajaran, yang merupakan
pernyataan tentang hal-hal yang diharapkan untuk dikerjakan, diketahui, dirasakan,
dan sebagainya oleh peserta didik atau siswa sebagai hasil pengalaman belajarnya.
Langkah 2 : Mengembangkan tes
Pada langkah ini dikembangkan suatu tes sebagai alat evaluasi, yang
digunakan untuk mengetahui tingkat keberhasilan belajar, atau ketercapaian tujuan
pembelajaran oleh peserta didik/siswa. Penyusunan tes berdasarkan tujuan
pembelajaran yang telah dirumuskan pada langkah sebelumnya.
Langkah 3 : Menganalisis tugas belajar
Pada langkah ini dirumuskan tugas-tugas yang harus dilakukan oleh peserta
didik/siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan, yakni

perubahan tingkah laku yang diharapkan. Pada langkah ini, perilaku awal peserta
didik/siswa perlu dinilai dan dianalisis.
Berdasarkan gambar tentang perilaku awal tersebut dapat dirancang materi pelajaran
dan tugas-tugas belajar yang sesuai, sehingga mereka tidak perlu mempelajari hal-hal
yang telah diketahui atau telah dikuasai sebelumnya.

Langkah 4 : Mendesain Sistem Pembelajaran


Pada langkah ini dikembangkan berbagai alternative dan mengidentifikasi
kegiatan-kegiatan pembelajaran, baik yang harus dilakukan oleh siswa/peserta didik
maupun kegiatan-kegiatan guru/tenaga pengajar. Langkah ini dikembangkan
sedemikian rupa yang menjamin agar peserta didik melaksanakan dan menguasai
tugas-tugas yang telah dianalisis pada langkah 3 desain system juga meliputi
penentuan siswa yang mempunyai potensi paling baik untuk mencapai tujuan
pembelajaran, dan oleh karena perlu disediakan alternative kegiatan tertentu yang
cocok. Selain dari itu, dalam desain system supaya ditentukan waktu dan tempat
melakukan kegiatankegiatan pembalajaran.
Langkah 5 : Melaksanakan Kegiatan dan mengetes hasil
System yang sudah di desain selanjutnya dilaksanakan dalam bentuk uji coba
di lapangan (sekolah) dan di tes hasilnya. Hal-hal yang telah dilaksanakan dan dicapai
oleh peserta didik merupakan output dari implementasi system, yang harus dinilai
supaya dapat diketahui hingga mereka dapat mempertunjukan atau menguasai tingkah
laku sebagaimana dirumuskan dalam tujuan pembelajaran
Langkah 6 : Melakukan Perubahan Untuk Perubahan
Pada langkah ini ditentukan, bahwa hasil hasil yang diperoleh dari evaluasi
digunakan sebagai umpan balik bagi system keseluruhan dan bagi kompinen-

komponen system, yang pada gilirannya menjadi dasar untuk mengadakan perubahan
untuk perbaikan system pemabalajaran.
Kendatipun 6 komponen tersebut tampaknya sangat sederhana, namun untuk
mengembangkan rancangan system pembelajaran model ini memerlukan kemampuan
akademik yang cukup tinggi serta pengalaman yang memadai serta wawasan yang
luas. Selain dari itu, proses pengemabnagan suatu system menuntut partisipasi pihakpihak terkait, seperti kepala sekolah, administrator, supervisor dan kelompok guru,
sehingga rancangan kurikulum yang dihasilkan sesuai dengan kebutuhan pendidikan
di sekolah dan dapat diterapkan dalam system sekolah.
12. Model DSI-PK
Desain Sistem Instruksional Berorientasi Pencapaian Kompetensi atau DSIPK yaitu gambaran proses rancangan sistematis tentang pengembangan pembelajaran
baik mengenai proses maupun bahan pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan
dalam upaya pencapaian kompetensi. Karakter utama desain berorientasi pencapaian
tujuan adalah :
a. Memuat sejumlah kompetensi yang harus dikuasai siswa.
b. Menekankan proses pengalaman dengan memperhatikan keragaman tiap individu.
c) Evaluasi hasil dan proses belajar.
Prosedur pengembangan DSI-PK terdiri dri tiga bagian penting. Pertama
analisis kebutuhan, yakni proses penjaringan informasi tentang kompetensi yang
dibutuhkan anak didik sesuai dengan jenjang pendidikan.
Kedua, pengembangan, yakni proses mengorganisasikan materi pelajaran dan
pengembangan proses pebelajaran.
Ketiga, pengembangan alat evaluasi, yang memiliki dua fungsi utama yaitu evaluasi
formatif dan evaluasi sumatif.

13 . Model IDI (INTRUKSIONAL DEVELOPMENT INSTITUTE).


IDI secara umum memiliki langkah sebagai berikut:
a) Pembatasan, ada 3 hal yang perlu dipertimbangkan :
Karakteristik Siswa,
Kondisi,
Sumber-sumber yang relevan
b) Pengembangan, tujuan yang hendak dicapai.
c) Penilaian.

Common questions

Didukung oleh AI

In the Hannafin and Peck model, the storyboard acts as a documented sequence of teaching activities that visually maps out the instructional design based on needs analysis. It serves as a guiding framework for developing and implementing educational media . In contrast, the blueprint document in the ADDIE model serves a similar organizational purpose but focuses more broadly on the instructional strategy, including the design of learning objectives, testing strategies, and media integration . Both tools are essential for translating analysis findings into actionable instructional plans, although the storyboard is more focused on sequence visualization, whereas the blueprint encompasses a wider range of instructional planning elements .

In the ADDIE model, formative evaluation is a continuous process that occurs within each stage, particularly highlighted during the development stage where it involves testing and revising learning materials before full-scale implementation . This process allows for ongoing adjustments and improvements, ensuring that the instructional design remains effective and meets learning goals . In the PPSI model, formative evaluation is explicitly part of the evaluation and revising steps, focusing on refining instructional materials and activities after initial implementation to resolve emerging issues or adapt better to learner needs . Both models use formative evaluation to enhance instructional quality, though ADDIE integrates it more seamlessly into all stages .

Resource analysis plays a critical role in both the ADDIE and IDI models by identifying necessary materials, tools, and human resources to support instructional objectives. In the ADDIE model, resource analysis occurs primarily in the Analysis phase and informs subsequent stages by determining what resources are needed to effectively design and deliver content . Similarly, the IDI model incorporates resource analysis in its initial stage, ensuring that instructional planning considers available conditions and relevant resources, which influences the feasibility and scalability of a design . Both models use resource analysis as a foundational step that impacts the entire instructional design process, guiding strategic decisions and optimizing resource allocation for effective learning outcomes .

The ADDIE model consists of five stages: Analysis, Design, Development, Implementation, and Evaluation. It emphasizes a linear and systematic approach where each phase serves as a foundation for the next. Evaluation in the ADDIE model is a continuous process that feeds back into each stage, allowing for formative improvements . Meanwhile, the Hannafin and Peck model also begins with an Analysis phase, focusing on identifying needs and setting objectives but emphasizes iterative assessment throughout each of its three phases: Analysis, Design, and Development/Implementation . While both models value evaluation, the Hannafin and Peck model integrates continuous feedback more intrinsically in all phases to fine-tune and revise instruction continually .

The DSI-PK model ensures individualized learning experiences by emphasizing the variability in learner experiences and competencies. It incorporates a needs analysis to tailor learning objectives and materials that align with the diverse competencies students are expected to master . The model encourages consideration of individual differences during the designing of learning processes, ensuring materials and methods support varied learning paths and outcomes. Additionally, it includes a strong focus on evaluative procedures to continuously adapt the learning experience to meet evolving individual needs .

The use of operational terms in PPSI objectives enhances clarity and effectiveness by specifying observable and measurable outcomes. This precision facilitates the design of evaluation tools that accurately assess whether objectives have been met, ensuring that instructional activities are aligned with intended learning outcomes . By focusing on specific, actionable learning objectives, instructors can more effectively develop targeted instructional strategies and materials, thus improving the overall instructional process and making it easier to assess student progress accurately .

The Degeng model's focus on elaborative learning strategies impacts instructional design by emphasizing the organization and delivery of content to enhance understanding and retention. By prioritizing detailed content analysis and tailoring strategies that connect new information to learners' prior knowledge, the model supports deeper processing and improves learning outcomes . This focus on elaboration helps instructors create more meaningful learning experiences, fostering higher-order thinking skills and facilitating the transfer of learning to new contexts .

The ADDIE model is significant in developing dynamic and effective training programs due to its comprehensive, iterative approach that ensures continual improvement. Each stage—Analysis, Design, Development, Implementation, and Evaluation—contributes to creating a structured yet flexible framework, fostering training programs that are adaptable to learner needs and evolving educational contexts . Its evaluative processes, particularly formative and summative assessments, facilitate ongoing feedback that enhances the training program's effectiveness and responsiveness, ensuring alignment with organizational goals and learner requirements .

The Gerlach and Ely model supports a systematic approach by providing a structured framework for instructional planning, which outlines the entire teaching-learning process without detailing each component extensively. It establishes clear relationships between different instructional elements, thereby supporting comprehensive design and implementation strategies. The model acts as a roadmap, guiding educators through planning steps in a sequential and organized manner, which inherently supports systematic instruction .

In the ASSURE model, understanding learner characteristics is central to selecting appropriate media. The model suggests analyzing learners based on their general characteristics, initial skills, and learning styles to tailor instructional methods and media effectively . This analysis ensures that the chosen media align with the learners' needs and the lesson content, facilitating effective learning experiences. Heinich et al. (2005) further argue that adapting media to learner characteristics aids in achieving learning objectives by accommodating different learning preferences and enhancing engagement .

Anda mungkin juga menyukai