FLORA NORMAL
Definisi
Flora Normal adalah mikroorganisme yang hadir dalam suatu lingkungan tertentu yang
keberadaanya tidak membahayakn tubuh manusia
Mikroorganisme merupakan makhluk hidup yang berukuran sangat kecil yaitu dalam
skala micrometer atau micron () atau sepersejuta meter dan tidak dapat dilihat dengan
mata telanjang. Dalam percakapan sehari-hari atau untuk kepentingan praktis
mikroorganisme sering disebut sebagai mikroba atau [Link] mempelajarinya
diperlukan cara tertentu yaitu observasi mikroskopik dan biakan atau pure culture.
Termasuk dalam golongan mikroorganisme adalah bakteri (eubactera, archaebacteria),
fungi (yeasts, molds), protozoa, microscopicalgae dan virus serta beberapa macam
cacing (helmints).
Pengertian
1.
Asal Mula Mikrobiota Manusia
Pada keadaan alamiah, janin manusia mula-mula memperoleh mikroorganisme
ketika lewat sepanjang saluran lahir. Jasad-jasad renik itu diperolehnya melalui
kontak permukaan, penelanan atau penghisapan. Mikrobe-mikrobe ini segera
disertai oleh mikrobe-mikrobe lain dari banyak sumber yang langsung berada di
sekeliling bayi yang baru lahir tersebut. Mikroorganisme yang menemukan
lingkungan yang sesuai, pada permukaan luar atau dalam tubuh, dengan cepat
berbiak dan menetap.
Jadi di dalam waktu beberapa jam setelah lahir, bayi memperoleh flora mikrobe
yang akan menjadi mikrobiota yang asli. Setiap bagian tubuh manusia, dengan
kondisi lingkungan yang khusus, dihuni berbagai macam mikroorganisme
tertentu. Sebagai contoh, di rongga mulut berkembang populasi mikrobe alamiah
yang berbeda dengan yang ada di usus. Dalam waktu singkat, bergantung kepada
faktor-faktor seperti berapa seringnya dibersihkan, nutrisinya, penerapan prinsipprinsip kesehatan, serta kondisi hidup, maka anak tersebut akan mempunyai
2.
mikrobiota normal yang macamnya sama seperti yang ada pada orang dewasa.
Faktor-faktor yang mempengaruhi kehadiran flora normal pada tubuh manusia
adalah
3.
Nutrisi
kebersihan seseorang (berapa seringnya dibersihkan)
kondisi hidup
penerapan prinsip-prinsip kesehatan
Beberapa alasan yang menerangkan mengapa flora normal berada pada
jaringan/organ tertentu (tropisme):
Flora normal secara alami memiliki tissue tropism yaitu lebih menyukai
menghuni suatu jaringan dan tidak pada jaringan lainnya. Diduga tropisme ini
disebabkan karena kemampuan inang menyediakan nutrisi esensial bagi
pertumbuhan bakteri yang bersangkutan.
Terdapat kecocokan antara reseptor pada jaringan tersebut dengan ligan
(komponen dinding sel) bakteri flora normal.
Kemampuan flora normal membentuk biofilm yaitu suatu kemampuan
bakteri hidup berkelompok dan saling bekerjasama dalam merespon
lingkungannya.
Contoh tropisme adalah C. diphtheria (tenggorok), Streptococcus mutans
(email gigi), Streptococcus salivarius (lidah), S. aureus (nasal) dan S.
epidermidis (kulit).
Fungsi Flora Normal
1. Membantu sintesa vitamin K di usus besar, vitamin B12, bakteri asam laktat mampu membuat
vitamin B
2. Mencegah kolonisasi kuman patogen, contoh pada keadaan tidak ada flora normal infeksi
Salmonella terjadi pada dosis infeksi 101 sel bakteri/mL, sedangkan pada keadaan adanya flora
normal dibutuhkan dosis infeksi sebesar 106 sel/mL.
3. Menjadi antagonis bagi kuman lainnya terutama kuman patogen
4. Merangsang pertumbuhan jaringan tertentu misalnya jaringan limfatik Peyer's patches di usus
5. Merangsang terbentuknya antibodi yang bersifat cross-reactive antibodies
Explain :
Mikroorganisme yang secara tetap terdapat pada permukaan tubuh bersifat
komensal. Pertumbuhan pada bagian tubuh tertentu bergantung pada faktor-faktor
biologis seperti suhu, kelembapan dan tidak adanya nutrisi tertentu serta zat-zat
penghambat. Keberadaan flora tersebut tidak mutlak dibutuhkan untuk kehidupan
karena hewan yang dibebaskan (steril) dari flora tersebut, tetap bisa hidup.
Flora yang hidup di bagian tubuh tertentu pada manusia mempunyai peran
penting dalam mempertahankan kesehatan dan hidup secara normal. Beberapa
anggota flora tetap di saluran pencernaan mensintesis vitamin K dan penyerapan
berbagai zat makanan. Flora yang menetap diselaput lendir (mukosa) dan kulit
dapat mencegah kolonialisasi oleh bakteri patogen dan mencegah penyakit akibat
gangguan bakteri. Mekanisme gangguan ini tidak jelas. Mungkin melalui
kompetisi pada reseptor atau tempat pengikatan pada sel penjamu, kompetisi
untuk zat makanan, penghambatan oleh produk metabolik atau racun,
penghambatan oleh zat antibiotik atau bakteriosin (bacteriocins). Selain itu,
diperkirakan bahwa stimulasi antigenik dilepaskan oleh flora adalah penting
untuk perkembangan sistem kekebalan tubuh normal.
Sebaliknya, flora normal juga dapat menimbulkan penyakit pada kondisi tertentu.
Berbagai organisme ini tidak bisa tembus (non-invasive) karena hambatanhambatan yang diperankan oleh lingkungan. Jika hambatan dari lingkungan
dihilangkan dan masuk le dalam aliran darah atau jaringan, organisme ini
mungkin menjadi patogen.
Spesies Bacteroides merupakan flora tetap yang paling sering dijumpai di usus
besar dan tidak membahayakan pada tempat tersebut. Tetapi jika masuk ke rongga
peritoneum atau jaringan panggul bersama dengan bakteri lain akibat trauma,
mereka menyebabkan supurasi dan bakterimia. Terdapat banyak contoh tetapi
yang penting adalah flora normal tidak berbahaya dan dapat bermanfaat bagi
tubuh inang pada tempat yang seharusnya atau tidak ada kelainan yang
menyertainya. Mereka dapat menimbulkan penyakit jika berada pada lokasi yang
asing dalam jumlah banyak dan jika terdapat faktor-faktor predisposisi.
Streptococcus viridians, bakteri yang tersering ditemukan di saluran nafas atas,
bila masuk ke aliran darah setelah ekstraksi gigi atau tonsilektomi dapat sampai
ke katup jantung yang abnormal dan mengakibat kan subacute bacterial
endocarditis. Bacteroides yang normal terdapat di kolon dapat menyebabkan
peritonitis mengikuti suatu trauma Spesies Bacteroides merupakan flora tetap
yang paling sering dijumpai di usus besar dan tidak membahayakan pada tempat
tersebut. Tetapi jika masuk ke rongga peritoneum atau jaringan panggul bersama
dengan bakteri lain akibat trauma, mereka menyebabkan supurasi dan bakterimia.
Terdapat banyak contoh tetapi yang penting adalah flora normal tidak berbahaya
dan dapat bermanfaat bagi tubuh inang pada tempat yang seharusnya atau tidak
ada kelainan yang menyertainya. Mereka dapat menimbulkan penyakit jika berada
pada lokasi yang asing dalam jumlah banyak dan jika terdapat faktor-faktor
predisposisi.
Karakteristik
(a) Sifat umum :
-normal
Tidak menyebabkan patogen
- oppurtunities
Oppurtunities adalah keadaan flora normal menjadi patogen penyebab penyakit
(b) Sifat khusus
1. Sifat simbiosis
2. Dinamis
3. Kuman patogen atau normal
Beberapa hal penting yang perlu diketahui seputar flora normal adalah:
1. Flora normal merupakan kuman komensal yang bersimbiosis secara seimbang dengan
manusia. Pada keadaan gangguaan keseimbangan misalnya penggunakan bahan kimia yang
menyebabkan kematian flora normal pada vagina akan terjadi infeksi oleh kuman patogen atau
patogen
oportunis dan mengakibatkan vaginitis.
2. Flora normal bersifat dinamis tidak statis artinya berada dalam komposisitertentu pada kulit
atau mukosa, tetapi dipengaruhi lingkungan local sehingga jumlahnya terkadang banyak dan
terkadang menyusut
3. Dapat terpengaruh pada pemberian antibiotik. Antibitoik yang diberikan untuk mengobati
infeksi juga berpengaruh terhadap flora normal, misalnya S. epidermidis yang menjadi resisten
terhadap penisilin karena pada infeksi kulit sering diberikan antibiotik penisilin
4. Bagi kalangan mikrobiologi klinis penting untuk menentukan apakah suatu kultur positif
memang benar merupakan kuman patogen atau karenakontaminasi oleh flora normal
5. Pengetahuan tentang distribusi flora normal penting untuk memperkirakanfokal infeksi yang
ditimbulkannya misalnya sepsis karena E. coli padakasus peritonitis
Berdasar kepustkaan : mikrobio UI
mikroorganisme
Mulut
Staphylococcus : epidermis , auerus, coeeus (saliva dan gigi) ,
Streptococcus :viridans, pyoegen, pneumoniae
enterococcus, Corynobacterium anaerob, Actynomyces, Escherecia coli,
Kleibsella-Enterobacter
group,
Haemophilus,
Bacteroides,
Fusobacterium, Spirochaeta,
Traktus
Faring : Streptococcus nonhemolitikus, dan alfahemolitik dan Neisseria.,
respiratorius
Staphylococcus epidermidis, Diptheroid, Haemophillus, Pneumococcus,
Mcoplasma, Bacteroides
Traktur digestivus
*Usus kecil, ileum, distal, hati, empedu, peritoneum
Kadang2 dudodenum dan jejunum : Streptococcus, Lactobacilus, yeast.
Kolon : Bacteroides, Bifudobacteria, Eubacteria, Lactobacillus, Bakteri
coliform, Streptococcus, Clostridium dan yeast
Neonatus usus : Lactobacillus bifidus, Enterococcus, Staphylococcus,
Traktus Genito-
Orifisium : Mycobacterium segementis, Difteroid, Streptococcus non
urinaris
heomlitikus, Staphylococcus epidermidis,
Wanita : Lactobacillus anaerob
Ureuplasma, yeast, Hemophilus vaginalis, Chlamydia,
Kulit
Staphylococcus epidermidid, micrococcus, Streptococcus alpha dan non
hemolyticus, difteroid anaerob dan aerob, kadangkadang jamur,
propioni bacterium acnes dan mycobacteroium bersifat saprofit.
Telinga
*bagian tengah
Streprococcus pneumoniae, batang gram negatif, pseudomonas
aeruginosa, Staphylococcus aureus dan kadang Mycobacteris Saprofit
Berdasarkan Jurnal mikrobiologi kedokteran
Penggolongan Flora Normal Tubuh Manusia
Flora normal tubuh manusia berdasarkan bentuk dan sifat kehadirannya dapat
digolongkan menjadi 2 jenis, yaitu :
Flora Menetap
Flora Tidak Menetap
Komensal (penting bagi tubuh)
Tidak patogen atau cenderung patogen
Memegang peranan tertentu dalam
Hanya dalam waktu tertentu
mempertahankan kesehatan dan fungsi
Kurang berarti selama flora penghuni
normal.
normal utuh, bila flora penghuni
Bila terganggu dari tempatnya, maka
terganggu, flora sementara dapat
flora akan segera tumbuh kembali
berploriferasi menimbulkan sakit.
Micrococcaceae, Corynobacteriaceae
Aerobic diptheroids (mikro UI)
Organisme aerobik, (Bacillus) ;
Streptococcus ; Neisseria ; negatif gram
ke daerah lain (Mikro UI)
1.
Mikroorganisme tetap/normal (resident flora/indigenous)
yaitu mikroorganisme jenis tertentu yang biasanya ditemukan pada bagian tubuh tertentu
dan pada usia tertentu.
2.
Keberadaan mikroorganismenya akan selalu tetap, baik jenis ataupun jumlahnya,
Mikroorganisme sementara (transient flora)
yaitu mikroorganisme nonpatogen atau potensial patogen yang berada di kulit dan selaput
lendir/mukosa selama kurun waktu beberapa jam, hari, atau minggu.
Keberadaan mikroorganisme ini ada secara tiba-tiba (tidak tetap) dapat
disebabkan oleh pengaruh lingkungan, tidak menimbulkan penyakit dan tidak
menetap. Flora sementara biasanya sedikit asalkan flora tetap masih utuh, jika
flora tetap berubah, maka flora normal akan melakukan kolonisasi, berbiak dan
menimbulkan penyakit.
Flora menetap penyebab sakit
Dalam keadaan tertentu bila flora ini masuk kedalam lingkungan lain, terjadi
predisposisi
dalam
dapat menyebabkan [Link] penetap yang terdapat
penyakit disebut Opportunist.
Contoh :
Streptokokus yang biasa menetap di saluran pernafasan bagiam atas,
karena tonsilektomi atau ekstraksi gigimasuk melalui aliran darahmenetap pada
katup-katup jantungEndokarditis infektif akut.
terdapat
Sprikheta, Fusobakteria dan Bacteroides melaninogenicus,
pada mulut normal, bila terdapat trauma, defisiensi gizi atau infeksi
kuman akan
berproliferasi dengan jaringan nekrotikmenimbulkan penyakit
fusospirokheta.
Contohnya : Escherichia coli, Salmonella sp, Shigella sp, Clostridium perfringens, Giardia
lamblia, virus Norwalk dan virus hepatitis A.
Hubungan dengan hospes
Virulensi
mikroorganisme atau microgram toksin yang dibutuhkan untuk menyerang sel hospes
Daya invasi :
Adalah Toxin yang stabil terhadap panas, terdapat di dalam sel
Adalah derajat patogenitas yang dinyatakan dengan jumlah
bakteri utuh tetapi tidak bebas di dalam filtrat bebas sel biakan bakteri yang utuh,
berbentuk lipopolisakarida bersifat pirogenik dan meningkatkan permeabilitas kapiler
Toksigenitas :
-eksotoksin -endotoksin
Eksoktosin
hidup,
Endotoksin
Tempat
Kuman
tinggi
Bagian dari integral dinding
produksi
pada medium sangat cair
sel kuman negatif gram
Struktur kimia
polipeptida
Kompleks lipopolisakarida
Sifat fisik
Relatif tidak stabil
Relatif stabil
Sifat
Sangat antigenik ; dapat
Tidak
imunologis
dibuat toksoid
nterbentuknya antitoksin
menginduksi
tidak dapat dibuat toksoid
toksisitas
Sangat toksik
Kurang toksik
Reaksi badan
Badan tidak memberikan
Ada reaksi demam
reaksi
patogenitas
Adalah kemampuan untuk mikroorgnaisme menyebabkan oenyakit
-Kolonisasi
Kolonisasi adalah multiplikasi bakteri yang telah mengkontaminasi pada tempat tertentu
-infeksi
Infeksi adalah invasi dan mutiplikasi m ikroorganisme di jaringan tubuh terutama
neyebabkan cedera seluler lokal aklibat metabolisme yang kompetitif, toksin, replikasi
intraseluller, respon antigenik
R
e
s
p
o
n
B
a
k
e
t
r
i
P
e
n
y
e
b
a
a
n
Patogenitas :
1. Jalan Masuk Mikroorganisme Ke Tubuh Inang
Mikroorganisme patogen dapat memasuki tubuh inang melalui berbagai macam jalan, misalnya
melalui membran mukosa, kulit, ataupun rute parental. Banyak bakteri dan virus memiliki akses
memasuki tubuh inang melalui membran mukosa saluran pernafasan, gastrointestinal, saluran
genitourinari, konjungtiva, serta membran penting yang menutupi bola mata dan kelopak mata.
a)
Saluran pernafasan
Saluran pernafasan merupakan jalan termudah bagi mikroorganisme infeksius. Mikroorganisme
terhirup melalui hidung atau mulut dalam bentuk partikel debu. Penyakit yang muncul umumnya
adalah pneumonia, campak, tuberkulosis, dan cacar air.
b)
Saluran pencernaan
Mikroorganisme dapat memasuki saluran pencernaan melalui bahan makanan atau minuman dan
melalui jari tangan yang terkontaminasi mikroorganisme patogen. Mayoritas mikroorganisme
tersebut akan dihancurkan oleh asam klorida (HCL) dan enzim-enzim di lambung, atau oleh
empedu dan enzim di usus halus. Mikatroorganisme yang berahan dapat menimbulkan penyakit.
Misalnya demam tifoid, disentri amoeba, hepatitis A, dan kolera. Patogen ini selanjutnya
dikeluarkan melalui feses dan dapat ditransmisikan ke inang lainnya melalui air, makanan, atau
jari-jari tangan yang terkontaminasi.
c)
Kulit
Kulit sangat penting sebagai pertahanan terhadap penyakit. Kulit yang tidak mengalami
perlukaan tidak dapat dipenetrasi oleh mayoritas mikroorganisme. Beberapa mikroorganisme
memasuki tubuh melalui daerah terbuka pada kulit, folikel rambut, maupun kantung kelenjar
keringat. Mikroorganisme lain memasuki tubuh inang pada saat berada di jaringan bawah kulit
atau melalui penetrasi atau perlukaan membran mukosa. Rute ini disebut rute perenteral.
Suntikan, gigitan, potongan, luka, atau pembedahan dapat membuka rute infeksi parenteral.
d)
Rongga mulut
Pada permukaan rongga mulut terdapat banyak koloni mikroorganisme. Salah satu penyakit yang
umum pada rongga mulut akibat kolonisasi mikroorganisme adalah karies gigi. Karies gigi
diawali akibat pertumbuhan Streptococcus mutans dan spesies Streptococcus lainnya pada
permukaan gigi. Hasil fermentasi metabolism menghidrolisis sukrosa menjadi komponen
monosakarida, fruktosa, dan glukosa. Enzim glukosiltransferasi selanjutnya merakit glukosa
menjadi dekstran. Residu fruktosa adalah gula utama yang difermentasi menjadi asam laktat.
Akumulasi bateri dan dekstran menempel pada permukaan gigi dam membentuk plak gigi.
Populasi bakteri plak didominasi oleh Streptococcus dan anggota Actinomyces. Karena plak
sangat tidak permeabelm terhadap saliva, maka asam laktat yang diproduksi oleh bakteri tidak
dilarutkan atau dinetralisasi dan secara perlahan akanmelunakkan enamel gigitepat plak tersebut
melekat.
5. Interaksi Antara Flora Normal dengan Inangnya
Pada kenyataannya, tidak banyak yang diketahui tentang sifat hubungan antara manusia dan flora
normal mereka, tetapi mereka dianggap sebagai interaksi dinamis daripada saling asosiasi
ketidak pedulian. Baik host dan bakteri berpikir untuk memperoleh manfaat dari satu sama lain,
dan asosiasi, untuk sebagian besar, mutualistik. Flora normal berasal dari host mereka pasokan
nutrisi, lingkungan yang stabil, perlindungan dan transportasi. Host memperoleh dari flora
normal tertentu manfaat nutrisi dan pencernaan, stimulasi dari kegiatan pembangunan dan sistem
imun, dan perlindungan melawan kolonisasi dan infeksi oleh mikroba patogen.
Sementara sebagian besar kegiatan manfaat flora normal tuan rumah mereka, sebagian
dari flora normal adalah parasit (hidup di atas biaya tuan rumah mereka), dan beberapa
bersifat patogen (mampu menghasilkan penyakit). Penyakit yang dihasilkan oleh flora
normal di tuan rumah mereka dapat disebut penyakit endogen. Kebanyakan endogen
bakteri penyakit infeksi oportunistik, yang berarti bahwa organisme harus diberi
kesempatan khusus kelemahan atau membiarkan-down dalam pertahanan host untuk
menginfeksi . Contoh dari infeksi oportunistik bronkitis kronis pada perokok dimana
bakteri flora normal dapat menyerang paru-paru melemah.
Kadang-kadang hubungan antara anggota flora normal yang inangnya tidak dapat
diuraikan. Seperti hubungan dimana tidak ada manfaat jelas atau membahayakan
organisme baik selama hubungan mereka disebut sebagai hubungan teman semakan.
Banyak flora normal yang tidak dominan dalam habitat mereka, walaupun selalu hadir
dalam jumlah yang rendah, dianggap sebagai teman semakan bakteri. Namun, jika
dugaan hubungan teman semakan mempelajari secara mendetail, parasit atau
karakteristik mutualistic sering muncul
Jaringan kekhususan Sebagian besar anggota flora bakteri normal lebih memilih untuk
menjajah jaringan tertentu dan bukan yang lain. Ini kekhususan jaringan biasanya
disebabkan oleh sifat-sifat baik dari tuan rumah dan bakteri. Biasanya, bakteri spesifik
menjajah jaringan tertentu oleh satu atau lain mekanisme ini.
2. Tissue tropism
Tissue tropism adalah bakteri preferensi atau kesukaan untuk jaringan tertentu untuk
pertumbuhan. Salah satu penjelasan untuk jaringan tropism adalah bahwa tuan rumah
menyediakan nutrisi penting dan faktor pertumbuhan bakteri, selain cocok oksigen, pH, dan suhu
untuk pertumbuhan. Lactobacillus acidophilus, informal dikenal sebagai Doderleins bacillus
colonizes vagina karena dihasilkan glikogen yang menyediakan bakteri dengan sumber gula
yang mereka memfermentasi untuk asam laktat.
3. Spesifik kepatuhan
Kebanyakan bakteri dapat menjajah suatu jaringan atau situs tertentu karena mereka dapat
mematuhi bahwa situs dalam jaringan atau cara tertentu yang melibatkan interaksi kimia yang
saling melengkapi antara dua permukaan. Khusus biokimia kepatuhan melibatkan interaksi
antara komponen permukaan bakteri (ligan atau adhesins) dan molekul reseptor sel inang.
Komponen bakteri yang menyediakan molekul adhesins adalah bagian dari kapsul mereka,
fimbriae, atau dinding sel. Reseptor pada sel manusia atau jaringan molekul glikoprotein
biasanya terletak pada host permukaan sel atau jaringan.
Khusus kepatuhan melibatkan interaksi kimia yang saling melengkapi antara sel inang atau
jaringan permukaan dan permukaan bakteri. Dalam bahasa medis mikrobiologi, bakteri
adhesin melekat kovalen ke host reseptor sehingga bakteri dermaga itu sendiri pada host
permukaan. Adhesins dari sel-sel bakteri adalah komponen kimia kapsul, dinding sel, pilus atau
fimbriae. Host reseptor glikoprotein biasanya terletak pada membran sel atau jaringan
permukaan. Beberapa contoh situs adhesins dan lampiran khusus digunakan untuk ketaatan pada
jaringan manusia dijelaskan dalam tabel di bawah ini.
a) Biofilm pembentukan.
Beberapa bakteri asli mampu membangun biofilm pada permukaan jaringan, atau mereka
mampu menjajah sebuah biofilm dibangun oleh spesies bakteri lain. Banyak biofilm adalah
campuran mikroba, walaupun salah satu anggota bertanggung jawab untuk menjaga dan biofilm
dapat mendominasi. Biofilm biasanya terjadi ketika salah satu spesies bakteri atase khusus atau
non spesifik ke permukaan, dan kemudian mengeluarkan lendir karbohidrat (exopolymer) yang
imbeds menarik bakteri dan mikroba lain ke biofilm untuk perlindungan atau keuntungan nutrisi.
Biofilm klasik yang melibatkan komponen flora normal rongga mulut adalah pembentukan plak
gigi pada gigi. Plak adalah biofilm dibangun secara alami, di mana konsorsium bakteri dapat
mencapai ketebalan 300-500 sel pada permukaan gigi. Ini subjek akumulasi gigi dan jaringan
gingiva konsentrasi tinggi metabolit bakteri, yang mengakibatkan penyakit gigi .
Permukaan kulit itu sendiri terdiri dari beberapa lingkungan yang berbeda. Bidang seperti aksila
(ketiak), perineum (pangkal paha) dan ujung jaring biasanya menyediakan daerah lembab untuk
pertumbuhan bakteri. Ini hutan tropis sering lingkungan pelabuhan terbesar di antara
keanekaragaman
flora
kulit.
Khas
organisme
meliputi
Staphylococcus
aureus,
Corynebacterium dan beberapa bakteri Gram-negatif. Sebagian besar permukaan kulit
manusia, bagaimanapun, adalah jauh lebih kering dan ini sebagian besar dihuni oleh
Staphylococcus epidermidis dan Propionobacterium.
Streptococcus mendominasi dalam rongga mulut dan nasofaringeal daerah tetapi juga
dapat menemukan Anaerob lain dan spesiesNeisseria. Banyak potensi patogen juga dapat
ditemukan di nasofaring individu yang sehat, menyediakan reservoir untuk infeksi lain.
Patogen ini termasuk Streptococcus pneumoniae, Neisseria meningitidis dan Haemophilus
influenzae.
Saluran pencernaan adalah lingkungan yang agak memusuhi bagi mikroorganisme namun
sebagian besar flora normal kita mendiami wilayah ini dari tubuh. Bahkan, usus mungkin
mengandung 109 untuk 1011 bakteri per gram bahan. Sebagian besar (95 99,9%) diantaranya
Anaerob, diwakili oleh Bacteroides, Bifidobacterium, streptokokus anaerob dan
Clostridium. Organisme ini menghambat pertumbuhan patogen lain, tetapi beberapa
dapat oportunistik (misalnya C. difficile dapat menghasilkan pseudomembranosa kolitis).
Urogenital. Saluran urogenital biasanya steril dengan pengecualian vagina dan distal 1 cm dari
uretra. Berbagai anggota dari genusLactobaci ll us menonjol dalam vagina. Organisme ini
umumnya lebih rendah pH sekitar 4-5, yang optimal untuk lactobacilli tetapi penghambatan
untuk pertumbuhan bakteri lainnya. Hilangnya efek perlindungan ini oleh terapi antibiotik dapat
menyebabkan infeksi olehCandida ( ragi infeksi). Uretra sebagian besar kulit dapat
mengandung mikroorganisme termasuk Staphylococci, Streptokokus dan Diphtheroid.
G
rA
an
ma
e
r
o
b
i
c
B
a
rC
d
o
P
ar
ry
k
en
ro
b
a
c
t
e
r
i
a
M
i
c
r
o
c
o
c
c
u
s
:
MIKOLOGI
Sejauh ini sekitar 80,000 spesies fungi telah diketahui, <400 penting secara medis dan
<50 spesies yang menyebabkan >90% penyakit fungal pada manusia dan hewan.
Mayoritas fungi bermanfaat bagi manusia. Mereka berada di alam sebagai dekomposer
dan recycling zat organik.
Infeksi fungi disebut mikosis (mycoses)
Mayoritas fungi patogen bersifateksogen yang habitat alaminya di air, tanah atau sampah
organik. Mikosis yangpaling sering yaitu candidiasis dan dermatophytosis merupakan
normal microbial flora atau setidaknya mampu bertahan hidup (survive) dengan cara
beradaptasi pada inang manusia. Mikosis dikelompokkan menjadi superficial, cutaneous,
subcutaneous, sistemic, dan opportunistic. Pengelompokkan ini mencerminkan
tempat masuknya infeksi (portal of entry) dan letak awal infeksi.
Semua fungi adalah eukariot, memiliki sedikitnya satu nukleus, memilikimembran inti,
endoplasmic reticulum, mitochondria, dan secretory [Link] fungi hidup
secara aerob obligat atau aerob fakultatif dan kemotropikdengan cara mengeluarkan
enzim degradasi untuk mencerna berbagai substrat\organik mengubahnya menjadi nutrien
yang larut dan secara pasif atau transport aktif akan masuk ke dalam sel fungi.
Morfologi, Klasifikasi dan Identifikasi
Klasifikasi
Fungi terbagi dalam 4 filum yaitu: Chytridiomycota, Zygomycota, Ascomycota dan
Basidiomycota. Filum terbesar adalah Ascomycota (Ascomycetes) yang meliputi lebih
dari 60% populasi fungi dan sekitar 85% penyebab infeksi pada manusia. Selain Filum
Ascomycota, fungi patogen bagi manusia berasal dari filum zygomycetes atau
basidiomycetes.
Spesies fungi dikelompokkan dalam filum, kelas, ordo, famili dan genus berdasarkan tipe
reproduksi seksual, fenotip morfologi dan fisiologi, dan hubungan filogenetik.
Reproduksi seksual terjadikarena perkawinan galur yang cocok yang distimuli oleh
feromon untuk membentuk plasmogamy, nuclear fusion, dan meiosis, dan berakhir
dengan pertukaran materi genetik (exchange of genetic information). Isolat aseksual dan
sporanya direproduksi dengan cara klonal. Banyak spesies diberi nama sesuai bentuk
seksual (teleomorphic) dan aseksual (anamorphic).
Reproduksi seksual Zygomycota (Zygomycetes) membentuk zygospore, sedangkan
reproduksi aseksual membentuk sporangia. Hifa vegetatif terpisah oleh septa misalnya:
Rhizopus, Absidia, Mucor, Pilobolus. Reproduksi seksual Ascomycota (Ascomycetes)
terjadi dalam kantung atau ascus dimana karyogamy dan meiosis membentuk ascospora.
Reproduksi aseksual terjadi melalui conidia
misalnya: Ajellomyces (anamorphic genera, Blastomyces dan Histoplasma),
Arthroderma (anamorphic genera, Microsporum dan Trichophyton), Coccidioides dan
ragi
(Saccharomyces dan Candida).
Reproduksi seksual Basidiomycota (Basidomycetes) mengahasilkan 4 progeni
basidiospore. Hifa memiliki septa yang kompleks misalnya: Mushrooms, Filobasidiella
neoformans (anamorph, Cryptococcus neoformans). Mayoritas fungi tumbuh di alam dan
mudah tumbuh dalam media yang
mengandung nitrogen dan karbohidrat sederhana. Medium mikologi tradisional
yaitu Agar Sabouraud yang berisi glukosa dan pepton (pH 7.0), bagus digunakan karena tidak
menyokong untuk pertumbuhan bakteri. Selain agar ini, juga dapat digunakan inhibitory mold
agar yang dapat me-recovery fungi dari specimen klinis. Untuk membiakan fungi dari spesimen
nonsteril ditambahkan antibiotika seperti gentamicin, chloramphenicol dan cycloheximide untuk
menghambat
pertumbuhan bakteri dan jamur saprofit.
Penyakit fungi
merupakan penyulit pada beberapa kondisi seperti pada bayi prematur, manula, pengobatan
antibiotika jangka panjang, pemberian sitostatika, pemberian kortikosteroid, pasien transplantasi,
pasien AIDS, TBC dan infeksi, nosokomial. Indonesia yang beriklim tropis merupakan
lingkungan yang ideal, untuk tumbuhnya berbagai penyakit akibat infeksi fungi misalnya
dermatomikosis
yaitu infeksi jamur pada kulit.
Mikosis Oportunistik
Mikosis ini biasanya disebabkan golongan fungi yg termasuk flora normal, tetapi menjadi
patogen akibat menurunnya daya tahan tubuh. Termasuk dalam penyebab mikosis ini adalah
aspergillosis,
candidiasis,
cryptococcosis
dan
mucormycosis
(mucor,
rhizopus
dan
[Link]). Penyebab lainnya adalah Pseudallescheria boydii, nocardia, fusarium dan
trichosporon. Infeksi terjadi karena adanya faktor predisposisi seperti kanker, tuberculosis,
diabetes mellitus, avitaminosis, irradiasi, ulkus peptikum, bronchiectasis, kemoterapi,
pembedahan, kateterisasi, hiperalimentasi, flebotomi dan transfusi.
Contoh : Candida albicans
Klasifikasi ilmiah
Kerajaan
Fungi
Filum
Ascomycota
Upafilum
Saccharomycotina
Kelas
Saccharomycetes
Ordo
Saccharomycetales
Famili
Saccharomycetaceae
Genus
Candida
Spesies
C. albicans
Nama binomial
Candida albicans
adalah spesies cendawan patogen dari golongan deuteromycota. Spesies cendawan ini
merupakan penyebab infeksi oportunistik yang disebut kandidiasis pada kulit, mukosa,
dan organ dalam manusia
Beberapa karakteristik dari spesies ini adalah berbentuk seperti telur (ovoid) atau sferis
dengan diameter 3-5 m dan dapat memproduksi pseudohifaSpesies C. albicans memiliki
dua jenis morfologi, yaitu bentuk seperti khamir dan bentuk hifa. Selain itu, fenotipe
atau penampakan mikroorganisme ini juga dapat berubah dari berwarna putih dan rata
menjadi kerut tidak beraturan, berbentuk bintang, lingkaran, bentuk seperti topi, dan tidak
tembus cahaya
Cendawan ini memiliki kemampuan untuk menempel pada sel inang dan melakukan
kolonisasi.
Penyebab dari golongan ragi adalah C. albicans, C. tropicalis, C. krusei, C. parapsilopsis
merupakan flora normal mulut, saluran cerna dan vagina yang menyerang bagian tubuh manapun
pada semua usia. Adanya gangguan ekologi misalnya perubahan pH vagina, gangguan
metabolisme, kerusakan jaringan, perubahan gaya hidup sehingga Candida mudah berpenetrasi
kedalam jaringan. Infeksinya sangat beragam berupa infeksi akut, kronik, superfisial dan
metastasis. Lokasi infeksi: pada sela jari, oral, perianal, vulvovaginal, bronchial, pulmonal,
sistemik, kuku maupun kutan. Manifestasi lain:candidiasis adalah alergi kulit akibat
beredarnya antigen Candida dalam peredaran darah.
Pada anak dengan kelainan leukosit, gangguan thymus ataupun poliendokrin dapat terjadi
candidiasis mukokutan kronik. Pemeriksaan laboratorium dengan sediaan KOH dan pembiakan
pada Agar Sabouraud tampak koloni kecil, putih, krim, halus dan lunak dengan bau seperti buah
ranum. Identifikasi spesies dengan tes asimilasi dan fermentasi. Pengobatanmenggunakan
golongan ketoconazole, nystatin, amphothericin B dan gentian violet topikal.