0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
42 tayangan15 halaman

Panduan Lengkap Generator Set (GENSET)

Generator set (genset) digunakan sebagai sumber listrik cadangan ketika terjadi pemadaman listrik dari PLN, khususnya untuk beban prioritas seperti rumah sakit dan industri. Genset terdiri dari mesin diesel sebagai penggerak utama, generator, AMF dan ATS untuk mengatur transfer listrik, baterai untuk menyalaan mesin diesel, serta panel kendali.

Diunggah oleh

msbbrebes
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
42 tayangan15 halaman

Panduan Lengkap Generator Set (GENSET)

Generator set (genset) digunakan sebagai sumber listrik cadangan ketika terjadi pemadaman listrik dari PLN, khususnya untuk beban prioritas seperti rumah sakit dan industri. Genset terdiri dari mesin diesel sebagai penggerak utama, generator, AMF dan ATS untuk mengatur transfer listrik, baterai untuk menyalaan mesin diesel, serta panel kendali.

Diunggah oleh

msbbrebes
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Generator Set (GENSET)

Ketika terjadi pemadaman catu daya utama (PLN) maka dibutuhkan suplai cadangan listrik dan
pada kondisi tersebut Generator-Set diharapkan dapat mensuplai tenaga listrik terutama untuk
beban-beban prioritas. Genset dapat digunakan sebagai sistem cadangan listrik atau "off-grid"
(sumber daya yang tergantung atas kebutuhan pemakai). Genset sering digunakan oleh rumah
sakit dan industri yang membutuhkan sumber daya yang mantap dan andal (tingkat keandalan
pasokan yang tinggi), dan juga untuk area pedesaan yang tidak ada akses untuk secara komersial
dipasok listrik melalui jaringan distribusi PLN yang ada.
Suatu mesin diesel generator set terdiri dari:
1. Prime mover atau pengerak mula, dalam hal ini mesin diesel (dalam bahasa inggris
disebut diesel engine)
2. Generator
3. AMF (Automatic Main Failure) dan ATS (Automatic Transfer Switch)
4. Baterai dan Battery Charger
5. Panel ACOS (Automatic Change Over Switch)
6. Pengaman untuk Peralatan
7. Perlengkapan Instalasi Tenaga
Mesin Diesel
Mesin diesel termasuk mesin dengan pembakaran dalam atau disebut dengan motor bakar,
ditinjau dari cara memperoleh energi termalnya (energi panas). Untuk membangkitkan listrik,
sebuah mesin diesel dihubungkan dengan generator dalam satu poros (poros dari mesin diesel
dikopel dengan poros generator).
Keuntungan pemakaian mesin diesel sebagai penggerak mula:

Desain dan instalasi sederhana


Auxilary equipment (peralatan bantu) sederhana
Waktu pembebanan relatif singkat

Kerugian pemakaian mesin diesel sebagai Penggerak mula:

Berat mesin sangat berat karena harus dapat menahan getaran serta kompresi yang tinggi.
Starting awal berat, karena kompresinya tinggi yaitu sekitar 200 bar.
Semakin besar daya maka mesin diesel tersebut dimensinya makin besar pula, hal
tersebut menyebabkan kesulitan jika daya mesinnya sangat besar.
Konsumsi bahan bakar menggunakan bahan bakar minyak yang relatif lebih mahal
dibandingkan dengan pembangkit listrik yang menggunakan bahan bakar jenis lainnya,
seperti gas dan batubara.

Cara Kerja Mesin Diesel


Prime mover atau penggerak mula merupakan peralatan yang berfungsi menghasilkan energi
mekanis yang diperlukan untuk memutar rotor generator. Pada mesin diesel/diesel engine terjadi
penyalaan sendiri, karena proses kerjanya berdasarkan udara murni yang dimampatkan di dalam

silinder pada tekanan yang tinggi ( 30 atm), sehingga temperatur di dalam silinder naik. Dan
pada saat itu bahan bakar disemprotkan dalam silinder yang bersuhu dan bertekanan tinggi
melebihi titik nyala bahan bakar sehingga bahan bakar yang diinjeksikan akan terbakar secara
otomatis. Penambahan panas atau energi senantiasa dilakukan pada tekanan yang konstan.
Tekanan gas hasil pembakaran bahan bakar dan udara akan mendorong torak yang dihubungkan
dengan poros engkol menggunakan batang torak, sehingga torak dapat bergerak bolak-balik
(reciprocating). Gerak bolak-balik torak akan diubah menjadi gerak rotasi oleh poros engkol
(crank shaft). Dan sebaliknya gerak rotasi poros engkol juga diubah menjadi gerak bolak-balik
torak pada langkah kompresi.
Berdasarkan cara menganalisa sistim kerjanya, motor diesel dibedakan menjadi dua, yaitu motor
diesel yang menggunakan sistim airless injection (solid injection) yang dianalisa dengan siklus
dual dan motor diesel yang menggunakan sistim air injection yang dianalisa dengan siklus diesel
(sedangkan motor bensin dianalisa dengan siklus otto).
Perbedaan antara motor diesel dan motor bensin yang nyata adalah terletak pada proses
pembakaran bahan bakar, pada motor bensin pembakaran bahan bakar terjadi karena adanya
loncatan api listrik yang dihasilkan oleh dua elektroda busi (spark plug), sedangkan pada motor
diesel pembakaran terjadi karena kenaikan temperatur campuran udara dan bahan bakar akibat
kompresi torak hingga mencapai temperatur nyala. Karena prinsip penyalaan bahan bakarnya
akibat tekanan maka motor diesel juga disebut compression ignition engine sedangkan motor
bensin disebut spark ignition engine.

Pada mesin diesel, piston melakukan 2 langkah pendek menuju kepala silinder pada setiap
langkah daya.
1. Langkah ke atas yang pertama merupakan langkah pemasukan dan penghisapan, di sini
udara dan bahan bakar masuk sedangkan poros engkol berputar ke bawah.
2. Langkah kedua merupakan langkah kompresi, poros engkol terus berputar menyebabkan
torak naik dan menekan bahan bakar sehingga terjadi pembakaran. Kedua proses ini (1
dan 2) termasuk proses pembakaran.
3. Langkah ketiga merupakan langkah ekspansi dan kerja, di sini kedua katup yaitu katup
isap dan buang tertutup sedangkan poros engkol terus berputar dan menarik kembali
torak ke bawah.
4. Langkah keempat merupakan langkah pembuangan, disini katup buang terbuka dan
menyebabkan gas akibat sisa pembakaran terbuang keluar. Gas dapat keluar karena pada
proses keempat ini torak kembali bergerak naik keatas dan menyebabkan gas dapat
keluar. Kedua proses terakhir ini (3 dan 4) termasuk proses pembuangan.

5. Setelah keempat proses tersebut, maka proses berikutnya akan mengulang kembali proses
yang pertama, dimana udara dan bahan bakar masuk kembali.

Berdasarkan kecepatan proses diatas maka mesin diesel dapat digolongkan menjadi 3
bagian, yaitu:
1. Diesel kecepatan rendah (< 400 rpm)
2. Diesel kecepatan menengah (400 - 1000 rpm)
3. Diesel kecepatan tinggi ( >1000 rpm)
Sistem starting atau proses untuk menghidupkan/menjalankan mesin diesel dibagi menjadi 3
macam sistem starting yaitu:
1. Sistem Start Manual
Sistem start ini dipakai untuk mesin diesel dengan daya mesin yang relatif kecil yaitu
< 30 PK. Cara untuk menghidupkan mesin diesel pada sistem ini adalah dengan
menggunakan penggerak engkol start pada poros engkol atau poros hubung yang
akan digerakkan oleh tenaga manusia. Jadi sistem start ini sangat bergantung pada
faktor manusia sebagai operatornya.
2. Sistem Start Elektrik
Sistem ini dipakai oleh mesin diesel yang memiliki daya sedang yaitu < 500 PK.
Sistem ini menggunakan motor DC dengan suplai listrik dari baterai/accu 12 atau 24
volt untuk menstart diesel. Saat start, motor DC mendapat suplai listrik dari baterai
atau accu dan menghasilkan torsi yang dipakai untuk menggerakkan diesel sampai
mencapai putaran tertentu. Baterai atau accu yang dipakai harus dapat dipakai untuk
menstart sebanyak 6 kali tanpa diisi kembali, karena arus start yang dibutuhkan motor
DC cukup besar maka dipakai dinamo yang berfungsi sebagai generator DC.
Pengisian ulang baterai atau accu digunakan alat bantu berupa battery charger dan
pengaman tegangan. Pada saat diesel tidak bekerja maka battery charger mendapat
suplai listrik dari PLN, sedangkan pada saat diesel bekerja maka suplai dari battery
charger didapat dari generator. Fungsi dari pengaman tegangan adalah untuk
memonitor tegangan baterai atau accu. Sehingga apabila tegangan dari baterai atau
accu sudah mencapai 12/24 volt, yang merupakan tegangan standarnya, maka
hubungan antara battery charger dengan baterai atau accu akan diputus oleh
pengaman tegangan.
3. Sistem Start Kompresi
Sistem start ini dipakai oleh diesel yang memiliki daya besar yaitu > 500 PK. Sistem
ini memakai motor dengan udara bertekanan tinggi untuk start dari mesin diesel. Cara
kerjanya yaitu dengan menyimpan udara ke dalam suatu botol udara. Kemudian udara
tersebut dikompresi sehingga menjadi udara panas dan bahan bakar solar dimasukkan
ke dalam Fuel Injection Pump serta disemprotkan lewat nozzle dengan tekanan tinggi.
Akibatnya akan terjadi pengkabutan dan pembakaran di ruang bakar. Pada saat
tekanan di dalam tabung turun sampai batas minimum yang ditentukan, maka
kompressor akan secara otomatis menaikkan tekanan udara di dalam tabung hingga
tekanan dalam tabung mencukupi dan siap dipakai untuk melakukan starting mesin
diesel.

AMF (Automatic Main Failure) dan ATS (Automatic Transfer Switch)

AMF merupakan alat yang berfungsi menurunkan downtime dan meningkatkan


keandalan sistem catu daya listrik. AMF dapat mengendalikan transfer Circuit
Breaker (CB) atau alat sejenis, dari catu daya utama (PLN) ke catu daya cadangan
(genset) dan sebaliknya. Dan ATS merupakan pelengkap dari AMF dan bekerja secara
bersama-sama.
Cara Kerja AMF dan ATS
Automatic Main Failure (AMF) dapat mengendalikan transfer suatu alat dari suplai
utama ke suplai cadangan atau dari suplai cadangan ke suplai [Link] akan
beroperasi saat catu daya utama (PLN) padam dengan mengatur catu daya cadangan
(genset). AMF dapat mengatur genset beroperasi jika suplai utama dari PLN mati dan
memutuskan genset jika suplai utama dari PLN hidup lagi.
Baterai (baterry dan accu)
Battery merupakan suatu proses pengubahan energi kimia menjadi energi listrik yang
berupa sel listrik. Pada dasarnya sel listrik terdiri dari dua buah logam/ konduktor
yang berbeda dicelupkan ke dalam larutan maka akan bereaksi secara kimia dan
menghasilkan gaya gerak listrik antara kedua konduktor tersebut. Proses pengisian
battery dilakukan dengan cara mengalirkan arus melalui sel-sel dengan arah yang
berlawanan dengan aliran arus dalam proses pengosongan sehingga sel akan
dikembalikan dalam keadaan semula. Battery yang digunakan pada sistem otomatis
GenSet berfungsi sebagai sumber arus DC pada starting diesel.
Battery Charger

Alat ini berfungsi untuk proses pengisian battery dengan mengubah tegangan PLN
220V atau dari generator itu sendiri menjadi 12/24 V menggunakan rangkaian
penyearah. Battery Charger ini biasanya dilengkapi dengan pengaman hubung singkat
(Short Circuit) berupa sekering/ fuse.
Panel ACOS

ACOS (Automatic Change Over Switch) merupakan panel pengendalian generator


dan terdapat beberapa tombol yang masing-masing mempunyai fungsi yang berbeda.
Tombol pengontrol operasi Gen Set automatic, antara lain yaitu :
Off, Automatic, Trial Service, Manual Service, Manual Starting, Manual Stoping,
Signal Test, Horn Off, Release, Start, Start Fault, Engine Running, Supervision On,
Low Oil Pressure, Temperature To High, Generator Over Load.
Sistem Pengaman Genset
Sistem pengaman harus dapat bekerja cepat dan tepat dalam mengisolir gangguan
agar tidak terjadi kerusakan yang fatal. Proteksi pada mesin generator ada dua macam
yaitu :
1) Pengaman alarm
Bertujuan memberitahukan kepada operator bahwa ada sesuatu yang tidak normal
dalam operasi mesin generator dan agar operator segera bertindak.
2) Pengaman trip
Berfungsi untuk menghindarkan mesin generator dari kemungkinan kerusakan
karena ada sistem yang berfungsi tidak normal maka mesin akan stop secara
otomatis.
Jenis pengaman trip antara lain :

1) Putaran lebih (over speed)


2) Temperatur air pendingin tinggi
3) Tekanan minyak pelumas rendah
4) Emergency stop
5) Reverse power
Pentanahan (grounding)
a) Pentanahan sistem, pentanahan untuk suatu titik pada penghantar arus dari sistem. Pada
umumnya titik tersebut adalah titik netral dari suatu mesin, transformator, atau untuk
rangkaian listrik tertentu.
b) Pentanahan peralatan sistem, pentanahan untuk suatu bagian yang tidak membawa arus
dari sistem, misalnya : Semua logam seperti saluran tempat kabel, kerangka mesin,
batang pemegang sakelar, penutup kotak sakelar.
Relay pengaman pada genset:
a)

Relay arus lebih Thermal Over Load Relay (TOLR) digunakan untuk melindungi motor
dan perlengkapan kendali motor dari kerusakan akibat beban lebih atau terjadinya
hubungan singkat antar hantaran yang menuju jaring atau antar fasa.
b) Relay tegangan lebih bekerja bila tegangan yang dihasilkan generator melebihi batas
nominalnya.
c)

Relay diferensial bekerja atas dasar perbandingan tegangan atau perbandingan arus,
yaitu besarnya arus sebelum lilitan stator dengan arus yang mengalir pada hantaran yang
menuju jaring-jaring.

d) Relay daya balik berfungsi untuk mendeteksi aliran daya aktif yang masuk ke arah
generator.
Sekering
berungsi untuk mengamankan peralatan atau instalasi listrik dari gangguan hubung singkat
Jika suatu sekering dilewati arus di atas arus kerjanya, maka pada waktu tertentu sekering
tersebut akan lebur (putus). Besarnya arus yang dapat meleburkan suatu sekering dalam
waktu 4 jam dibagi arus kerja disebut faktor peleburan berkisar 1 hingga 1,5.

AVR (Automatic Voltage Regulator)


Sistem pengoperasian Unit AVR (Automatic Voltage Regulator) berfungsi untuk menjaga agar
tegangan generator tetap konstan dengan kata lain generator akan tetap mengeluarkan tegangan
yang selalu stabil tidak terpengaruh pada perubahan beban yang selalu berubah-ubah,
dikarenakan beban sangat mempengaruhi tegangan output generator.
Prinsip kerja dari AVR adalah mengatur arus penguatan (excitacy) pada exciter. Apabila tegangan
output generator di bawah tegangan nominal tegangan generator, maka AVR akan memperbesar
arus penguatan (excitacy) pada exciter. Dan juga sebaliknya apabila tegangan output Generator
melebihi tegangan nominal generator maka AVR akan mengurangi arus penguatan (excitacy)
pada exciter. Dengan demikian apabila terjadi perubahan tegangan output Generator akan dapat
distabilkan oleh AVR secara otomatis dikarenakan dilengkapi dengan peralatan seperti alat yang
digunakan untuk pembatasan penguat minimum ataupun maximum yang bekerja secara
otomatis.

Gambar 1. Diagram sistem eksitasi.


AVR dioperasikan dengan mendapat satu daya dari permanen magnet generator (PMG) sebagai
contoh AVR dengan tegangan 110V, 20A, 400Hz. Serta mendapat sensor dari potencial
transformer (PT) dan current transformer (CT).

Gambar 2. Diagram AVR.

Bagian-bagian pada unit AVR


a. Sensing circuit
Tegangan tiga phasa generator diberikan pada sensing circuit melewati PT dan 90R
terlebih dahulu, dan tegangan tiga phasa keluaran dari 90R diturunkan kemudian
disearahkan dengan rangkaian dioda, dan diratakan oleh rangkaian kapasitor dan resistor
dan tegangan ini dapat diatur dengan VR (Variable Resistant). Keuntungan dari sensing
circuit adalah mempunyai respon yang cepat terhadap tegangan output generator.
Output tegangan respon berbanding lurus dengan output tegangan Generator berbanding
lurus seperti ditinjukkan pada Gambar 3.

Gambar 3. Grafik hubungan sensing tegangan terhadap output of Generator


b. Comparative amplifier
Rangkaian comparative amplifier digunakan sebagai pembanding antara sensing circuit
dengan set voltage. Besar sensing voltage dengan set voltage tidak mempunyai nilai yang
sama sehingga selisih/rentang besar tegangan tersebut. Selisih tegangan disebut dengan
error voltage. Ini akan dihilangkan dengan cara memasang VR (variable resistance) pada
set voltage dan sensing voltage.
c. Amplifier circuit
Aliran arus dari D11, D12, dan R34 adalah rangkaian penguat utama atau penguatan
tingkat terendah. Keluaran dari comparative amplifier dan keluaran dari over excitation
limiter (OEL) adalah tegangan negative dan dari tegangan negative kemudian pada
masukan OP201. Ketika over excitation limiter (OEL) atau minimum excitation limiter
(MEL) tidak operasi maka keluaran dari comparative amplifier dikuatkan oleh OP201
dan OP301 masukan dari OP301 dijumlahkan dengan keluaran dari dumping circuit.
OP401 adalah Amplifier untuk balance meter hubungan antara tegangan masuk dan
tegangan keluaran dari OP201 dan OP401 diperlihatkan pada bagan berikut.

Gambar 4. Rangkaian Amplifier


d. Automatic manual change over and mixer circuit
Rangkaian ini disusun secara Auto-manual pemindah hubungan dan sebuah rangkaian
untuk mengontrol tegangan penguatanmedan generator. Auto-manual change over and
mixer circuit pada operasi manual pengaturan tegangan penguatan medan generator
dilakukan oleh 70E, dan pada saat automatic manual change over and mixer circuit
beroperasi manual maka AVR (automatic voltage Rregulator) belum dapat beroperasi.
Dan apabila rangkaian ini pada kondisi auto maka AVR sudah dapat bekerja untuk
mengatur besar arus medan generator.
e. Limited circuit
Limited circuit adalah untuk penentuan pembatasan lebih dan kurang penguatan
(excitation) untuk pengaturan tegangan output pada sistem excitacy, VR125 untuk
pembatas lebih dari keluaran terminal C6 dan VR126 untuk pembatas minimal dari
keluaran terminal C6.

f. Phase syncronizing circuit


Unit tyristor digunakan untuk mengontrol tegangan output tyristor dengan menggunakan
sinyal kontrol yang diberikan pada gerbang tyristor dengan cara mengubah besarnya
sudut sinyal pada gerbang tyristor. Rangkaian phase sinkronisasi berfungsi untuk
mengubah sudut gerbang tyristor yang sesuai dengan tegangan output dari batas
sinkronisasi dan juga sinyal kontrol yang diberikan pada tyristor di bawah ini terdapat
gambar sinkronisasi.
g. Thyristor firing circuit
Rangkaian ini sebagai pelengkap tyristor untuk memberikan sinyal kontrol pada gerbang
tyristor.
h. Dumping circuit
Dumping circuit akan memberikan sensor besarnya penguatan tegangan dari AC exciter
dan untuk diberikan ke amplifier circuit dengan dijadikan feed back masukan terminal
OP301.
i. Unit tyristor
Merupakan susunan dari tyristor dan dioda. Dan juga menggunakan fuse (sekring) yang
digunakan sebagai pengaman lebur dan juga dilengkapi dengan indikator untuk
memantau kerja dari tyristor yang dipasang pada bagian depan tyristor untuk tiap phase
diberikan dua fuse yang disusun pararel dan ketika terjadi kesalahan atau putus salah
satunya masih dapat beroperasi.
j. MEL (minimum excitacy limiter)
MEL (minimum eksitasi limiter) yaitu untuk mencegah terjadinya output yang berlebihan
pada generator dan adanya penambahan penguatan (excitacy) untuk meningkatkan
tegangan terminal generator pada level konstan. Rangkaian ini digunakan untuk
mendeteksi operasional dari generator yaitu dengan mendeteksi keluaran tegangan dan
arus pada generator. Rangkaian inijuga digunakan untuk membandingkan keluaran
tegangan generator dengan eksitasi minimum yang telah diseting. Rangkaian ini akan
memberikan batas sinyal pada rangkaian AVR apabila melebihi eksitasi minimum,
kemudian output dari MEL (Minimum Eksitasi Limiter) dikuatkan oleh amplifier.

Gambar 5. Diagram Minimum Excitasi Limiter.


k. Automatic follower
Prinsip kerja dari alat ini adalah untuk melengkapi penguatan dengan pengaturan secara
manual oleh 70E. Untuk menyesuaikan pengoperasian generator dalam pembandingan
fluktuasi dari tegangan terminal oleh sinyal error. Hal tersebut digunakan untuk menjaga
kesetabilan tegangan pada generator. Pengoperasian ini digunakan untuk pengaturan
manual (70E) untuk ketepatan tingkatan excitacy yang telah disesuaikan. Kondisi
pengoperasian generator dan pembandingan fluktuasi dari tegangan terminal oleh sinyal

tegangan error. Hal tersebut dijadikan pegangan untuk menjaga kestabilan tegangan pada
generator dengan adanya perubahan beban.
Automatic Follower digunakan untuk mendeteksi keluaran regulator dari sinyal tegangan
error dan pengoperasian otomatis manual adjuster dengan membuat nilai nol. Rangkaian
ini untuk menaikkan sinyal dan menurunkan sinyal yang dikendalikan oleh 70E. Dengan
cara memutar 70E untuk mengendalikan sinyal pada rangkaian ini.

Gambar 6. Blok Diagram Automatic Follower

Sistem-Sistem Pendukung pada GenSet


Dalam pengoperasiannya, suatu instalasi GenSet memerlukan sistem pendukung agar dapat
bekerja dengan baik dan tanpa mengalami gangguan. Secara umum sistem-sistem pendukung
tersebut dibagi menjadi 3 bagian, yaitu:
1. Sistem Pelumasan
2. Sistem Bahan Bakar
3. Sistem Pendinginan
1. Sistem Pelumasan
Untuk mengurangi getaran antara bagian-bagian yang bergerak dan untuk membuang
panas, maka semua bearing dan dinding dalam dari tabung-tabung silinder diberi minyak
pelumas.
Cara Kerja Sistem Pelumasan
Minyak tersebut dihisap dari bak minyak 1 oleh pompa minyak 2 dan disalurkan dengan
tekanan ke saluran-saluran pembagi setelah terlebih dahulu melewati sistem pendingin
dan saringan minyak pelumas. Dari saluran-saluran pembagi ini, minyak pelumas
tersebut disalurkan sampai pada tempat kedudukan bearing-bearing dari poros engkol,
poros jungkat dan ayunan-ayunan. Saluran yang lain memberi minyak pelumas kepada
sprayer atau nozzle penyemperot yang menyemprotkannya ke dinding dalam dari piston
sebagai pendingin. Minyak pelumas yang memercik dari bearing utama dan bearing
ujung besar (bearing putar) melumasi dinding dalam dari tabung- tabung silinder.
Minyak pelumas yang mengalir dari tempat-tempat pelumasan kemudian kembali
kedalam bak minyak lagi melalui saluran kembali dan kemudian dihisap oleh pompa
minyak untuk disalurkan kembali dan begitu seterusnya.

Gambar 1. Sistem Pelumasan


1. Bak minyak
2. Pompa pelumas
3. Pompa minyak pendingin
4. Pipa hisap
5. Pendingin minyak pelumas
6. Bypass-untuk pendingin
7. Saringan minyak pelumas
8. Katup by-pass untuk saringan
9. Pipa pembagi
10. Bearing poros engkol (lager duduk)
11. Bearing ujung besar (lager putar)
12. Bearing poros-bubungan
13. Sprayer atau nozzle penyemprot untuk pendinginan piston
14. Piston
15. Pengetuk tangkai
16. Tangkai penolak
17. Ayunan
18. Pemadat udara (sistem Turbine gas)
19. Pipa ke pipa penyemprot
20. Saluran pengembalian
2. Sistem Bahan Bakar
Mesin dapat berputar karena sekali tiap dua putaran disemprotkan bahan bakar ke dalam
ruang silinder, sesaat sebelum, piston mencapai titik mati atasnya (T.M.A.). Untuk itu
oleh pompa penyemperot bahan bakar 1 ditekankan sejumlah bahan bakar yang
sebelumnya telah dibersihkan oleh saringan-bahan bakar 5, pada alat pemasok bahan
bakar atau injektor 7 yang terpasang dikepala silinder. Karena melewati injektor tersebut
maka bahan bakar masuk kedalam ruang silinder dalam keadaan terbagi dengan bagian-

bagian yang sangat kecil (biasa juga disebut dengan proses pengkabutan)
Didalam udara yang panas akibat pemadatan itu bahan bakar yang sudah dalam keadaan
bintik-bintik halus (kabut) tersebut segera terbakar. Pompa bahan bakar 2 mengantar
bahan bakar dari tangki harian 8 ke pompa penyemprot bahan bakar. Bahan bakar yang
kelebihan yang keluar dari injektor dan pompa penyemperot dikembalikan kepada tanki
harian melalui pipa pengembalian bahan bakar.

Gambar 2. Sistem bahan bakar


1. Pompa penyemperot bahan bakar
2. Pompa bahan bakar
3. Pompa tangan untuk bahan bakar
4. Saringan bahar/bakar penyarinnan pendahuluan
5. Saringan bahan bakar/penyaringan akhir
6. Penutup bahan bakar otomatis
7. Injektor
8. Tanki
9. Pipa pengembalian bahan bakar
10. Pipa bahan bakar tekanan tinggi
11. Pipa peluap.

3.

Sistem Pendinginan
Hanya sebagian dari energi yang terkandung dalam bahan bakar yang diberikan pada
mesin dapat diubah menjadi tenaga mekanik sedang sebagian lagi tersisa sebagai
panas. Panas yang tersisa tersebut akan diserap oleh bahan pendingin yang ada pada
dinding-dinding bagian tabung silinder yang membentuk ruang pembakaran,
demikian pula bagian-bagian dari kepala silinder didinginkan dengan air. Sedangkan
untuk piston didinginkan dengan minyak pelumas dan panas yang diresap oleh

minyak pendingin itu kemudian disalurkan melewati alat pendingin minyak, dimana
panas tersebut diresap oleh bahan pendingin.
Pada mesin diesel dengan pemadat udara tekanan tinggi, udara yang telah dipadatken
oleh turbocharger tersebut kemudian didinginkan oleh air didalam pendingin udara
(intercooler), Pendinginan sirkulasi dengan radiator bersirip dan kipas (pendinginan
dengan sirkuit)
Cara Kerja Sistem Pendingin
Pompa-pompa air 1 dan 2 memompa air kebagian-bagian mesin yarg memerlukan
pendinginan dan kealat pendingin udara (intercooler) 3. Dari situ air pendingin
kemudian melewati radiator dan kembali kepada pompa-pompa 1 dan 2. Di dalam
radiator terjadi pemindahan panas dari air pendingin ke udara yang melewati celahcelah radiator oleh dorongan kipas angin. Pada saat Genset baru dijalankan dan suhu
dari bahan pendingin masih terlalu rendah, maka oleh thermostat 5, air pendingin
tersebut dipaksa melalui jalan potong atau bypass 6 kembali kepompa. Dengan
demikian maka air akan lebih cepat mencapai suhu yang diperlukan untuk operasi.
Bila suhu tersebut telah tercapai maka air pendingin akan melalui jalan sirkulasi yang
sebenarnya secara otomatis.

Gambar 3. Sistem pendinginan (sistem sirkulasi dengan 2 Sirkuit)


1.
2.

Pompa air untuk pendingin mesin


Pompa air untuk pendinginan intercooler

3.

Inter cooler (Alat pendingin udara yang telah dipanaskan)

4.

Radiator

5.

Thermostat

6.

Bypass (jalan potong)

7.

Saluran pengembalian lewat radiator

8.

Kipas.

Susunan Konstruksi Pada Generator

Gambar 4. Sistem konstruksi Generator

1.
2.

Stator
Rotor

3.

Exciter Rotor

4.

Exciter Stator

5.

N.D.E. Bracket

6.

Cover N.D.E

7.

Bearing O Ring N.D.E

8.

Bearing N.D.E

9.

Bearing Circlip N.D.E

10. [Link]?Engine Adaptor


11. [Link]
12. Coupling Disc
13. Coupling Bolt
14. Foot

15. Frame Cover Bottom

28. Dioda Reverse Polarity

16. Frame Cover Top

29. Lifting Lug D.E

17. Air Inlert Cover

30. Lifting Lug N.D.E

18. Terminal Box Lid

31. Frame to Endbracket Adaptor


Ring

19. Endpanel D.E


20. Endpanel N.D.E
21. AVR
22. Side Panel
23. AVR Mounting Bracket
24. Main Rectifier Assembly
Forward
25. Main Rectifier Assembly
Reverse

32. Main Terminal Panel


33. Terminal Link
34. Edging Strip
35. Fan
36. Foot Mounting Spacer
37. Cap Screw
38. AVR Access Cover

26. Varistor

39. AVR
Anti
Vibration
Mounting Assembly

27. Dioda Forward Polarity

40. Auxiliary Terminal Assembly

Anda mungkin juga menyukai