DRY SOCKET
Definisi
Dry socket adalah suatu komplikasi setelah ekstrasi gigi dimana bekuan
darah pada soket gigi hilang/larut.
Setelah pencabutan gigi terbentuk bekuan darah di tempat pencabutan,
dimana bekuan ini terbentuk oleh jaringan granulasi, dan akhirnya terjadi
pembentukan tulang secara perlahan-lahan. Bila bekuan darah ini rusak maka
pemulihan akan terhambat dan menyebabkan sindroma klinis yg disebut alveolar
osteitis (dry socket).
Gambar 13.1. Dry socket
Etiologi dan Patofisiologi
Kerusakan bekuan darah ini dapat disebabkan:
-
Trauma pada saat ekstraksi (ekstraksi dengan komplikasi)
Adanya trauma dan infeksi menyebabkan timbulnya reaksi inflamasi pada
sumsum tulang dan akan terjadi pelepasan tissue activator. Pelepasan ini
akan menyebabkan terjadinya perubahan plasminogen di dalam bekuan
darah menjadi plasmin. Agen fibrinolitik ini akan menghancurkan bekuan
darah dan pada saat yang bersamaan terjadi pelepasan kinin dari kinogen,
yang juga di dalam bekuan, sehingga menimbulkan rasa sakit.
Gambar 13.2. Trauma pada saat ekstraksi
-
Tindakan ekstrasi yang kurang berhati-hati
Penggunaan kontrasepsi oral
Penggunaan kortikosteroid
Suplai darah (suplai darah di rahang bawah lebih sedikit daripada rahang
atas).
Kurangnya irigasi saat dokter gigi melakukan tindakan juga dapat
menyebabkan dry socket
Gerakan menghisap dan menyedot seperti kumur-kumur dan merokok
segera setelah pencabutan dapat mengganggu dan merusak bekuan darah
Kontaminasi bakteri, oleh karena itu, orang dengan kebersihan mulut yang
buruk lebih beresiko mengalami dry socket paska pencabutan gigi.
Demikian juga pasien yang menderita gingivitis (radang gusi),
periodontitis (peradangan pada jaringan penyangga gusi), dan perikoronitis
(peradangan gusi di sekitar mahkota gigi molar tiga yang impaksi)
Daerah paska pencabutan yang mengalami dry socket awalnya terisi oleh
bekuan darah yang berwarna keabu-abuan yang kotor, kemudian bekuan ini hilang
dan meninggalkan soket tulang yang kosong (dry socket). Tulang terekspos dan
sangat sensitif. Alveolar osteitis ini terjadi karena adanya perubahan plasminogen
menjadi plasmin yang menyebabkan fibrinolisis pada bekuan darah di soket bekas
pencabutan.
Gambaran klinis
Penderita biasanya mengeluhkan sakit yang parah, dan dapat timbul bau
tak sedap. Hal ini dapat terjadi kurang dari 24 jam setelah gigi dicabut, namun
dapat juga terjadi 3-4 hari paska pencabutan. Kadang-kadang dapat terjadi
pembengkakan dan limfadenopati. Frekuensi alveolar osteitis lebih tinggi pada
rahang bawah dan di gigi daerah belakang (posterior). Dry socket dapat saja
terjadi pada setiap pencabutan gigi, namun lebih sering terjadi pada saat
pencabutan gigi molar tiga impaksi. Kemungkinan terjadinya dry socket paling
besar pada kelompok umur 40 tahun.
Gambar 13.3. Dry socket pada pencabutan gigi
Diagnosis
-
anamnesis
inspeksi di soket gigi yang telah diekstraksi untuk melihat ada atau
tidaknya bekuan darah dan untuk melihat apakah tulang alveolar terbuka
atau tidak.
Tata Laksana
Bila pasien mengeluhkan rasa sakit paska pencabutan gigi, perlu dilakukan
pemeriksaan radiograf untuk mengetahui apakah ada ujung akar yang tertinggal
atau ada benda asing. Dry socket adalah suatu reaksi peradangan, namun dapat
terinfeksi oleh bakteri. Oleh karena itu, tidak setiap kejadian dry socket
membutuhkan perawatan dengan antibiotik. Hal penting dalam perawatan dry
socket adalah irigasi. Irigasi dilakukan dengan larutan saline, atau hidrogen
peroksida 3 % bila sudah terjadi infeksi. Setelah itu soket akan ditutup dengan
"antiseptic dressing" yang akan diganti secara berkala. Dressing yang biasanya
dipakai adalah pasta eugenol yang diletakkan di bagian korona dari soket gigi
untuk menutup tulang.
Pencegahan
-
pencabutan gigi pada waktu yang tepat
infiltrasi anestesi yang cukup
teknik pencabutan gigi yang tepat, sterilisasi alat yang baik
terapi obat - obatan seperti : obat kumur antiseptik, asam polilaktik,
larutan saline isotonik, dan antibiotika.
beberapa penelitian menganjurkan pemakaian obat kumur chlorhexidine
0.12 % segera setelah pencabutan dan 7 hari paska pencabutan dapat
mencegah terjadinya dry socket.
Wanita yang menggunakan kontrasepsi oral lebih beresiko mengalami dry
socket saat pencabutan. Oleh karena itu sebaiknya tindakan pencabutan
dijadwalkan pada hari di mana kadar estrogen rendah (yaitu saat tidak ada
suplementasi estrogen, sekitar hari ke-22 hingga 28 dari siklus
menstruasi).
irigasi yang baik selama tindakan pencabutan juga dapat mencegah
terjadinya dry socket.
Karena merokok merupaan salah satu faktor resiko yang sangat besar, ada
baiknya rokok dan produk-produk tembakau lainnya tidak dikosumsi, terutama
sehari sebelum operasi. Jika menggunakan pil kontrasepsi, dapat pula
berkonsultasi dengan dokter kebidanan terlebih dahulu dan menanyakan kapan
kadar estrogen yang terendah karena kadar hormon tersebut dapat mempengaruhi
kemampuan darah dalam membentuk bekuan darah. Selain itu pasien juga perlu
ditanyakan apakah mengonsumsi obat-obatan dari dokter lain, baik yang rutin
maupun tidak, untuk mengetahui ada atau tidaknya obat yang dapat
mempengaruhi proses pembekuan darah.
Beberapa menyarankan untuk menghindari tekanan negatif pada mulut seperti
menghisap/menyedot minuman melalui sedotan karena tekanan yang negatif
tersebut dapat menyebabkan copotnya bekuan darah pada soket gigi.