TINJAUAN PUSTAKA
1.1 Anatomi Apendiks
Apendiks merupakan organ berbentuk tabung, panjang 10 cm ( antara 3-15 cm), dan
berpangkal di sekum. Lumennya sempit di bagian proksimal dan melebar di bagian distal.
Sedangkan pada bayi, apendiks berbentuk kerucut, lebar pada pangkalnya dan menyempit ke
arah ujungnya(hal ini mungkin menjadi sebab rendahnya insidens apendisitis pada usia ini)1,2,3.
Pada 65% kasus, apendiks terletak intraperitoneal. Selebihnya apendiks terletak
retroperitoneal, yaitu di belakang sekum, di belakang kolon asendens atau di tepi lateral kolon
asendens. Gejala klinis apendisitis ditentukan oleh letak apendiks2.
Persarafan parasimpatis berasal dari cabang nervus vagus yang mengikuti a. mesenterika
superior dan a. apendikularis, sedangkan persarafan simpatis berasal dari n. torakalis X(oleh
karena itu nyeri viseral pada apendisitis bermula di sekitar umbilikus)1.
Pendarahan apendiks berasal dari a. apendikularis(arteri tanpa kolateral). Jika arteri ini
tersumbat misalnya karena trombosis pada infeksi, apendiks akan mengalami gangren1.
Gambar 1. Anatomi Apendiks
Drainase limfatik dari apendiks mengalir ke kelenjar getah bening yang terletak
bersebelahan dengan arteri ileo-colic. Inervasi apendiks yaitu elemen simpatis yang berasal
dari plexus mensenterika superior (T10-L1) dan aferen elemen parasimpatis berasal dari saraf
vagus yang mengikuti arteri mesenterika superior dan arteri apendikularis.2,3
Gambar 2. Perdarahan Apendiks 2
Kanal dari apendiks berhubungan dengan caecum melalui orifisium yang terletak di
bagian belakang bawah dari pembukaan ileo-caecal. Secara histologi, lapisan apendiks terdiri
dari serosa, muskulus, submukosa dan mukosa.1,3 Mukosa apendiks menghasilkan sekret
yang tidak jauh berbeda dengan lapisan mukosa lainnya, yaitu cairan, musin dan enzim
proteolitik.3 Setiap hari, apendiks menghasilkan sekret berjumlah 1-2 ml. Sekret tersebut
akan masuk ke lumen apendiks dan selanjutnya masuk ke caecum.
Apendiks menghasilkan lendir 1-2 ml per hari. Lendir itu normalnya dicurahkan ke
dalam lumen dan selanjutnya mengalir ke sekum hambatan aliran lendir di muara apendiks
tampaknya berperan pada patogenesis apendisitis.
Apendiks juga menghasilkan imunoglobulin yaitu IgA, oleh GALT (Gut Associated
Lymphoid Tissue) yang terdapat di sepanjang saluran cerna. Walaupun apendiks
menghasilkan IgA, namun pengangkatan apendiks tidak akan mempengaruhi sistem imun
tubuh.
1.2 Apendiksitis Akut
Insidens apendisitis akut di negara maju lebih tinggi daripada di negara
berkembang, namun dalam akhir-akhir ini kejadiannya menurun secara bermakna. Hal ini
diduga disebabkan oleh meningkatnya konsumsi makanan berserat dalam menu sehari-hari.
Apendisitis dapat ditemukan pada semua umur, hanya pada anak kurang dari 1 tahun jarang
dilaporkan. Insidens tertinggi terjadi pada kelompok umur 20-30 tahun, setelah itu menurun.
Insidens pada laki-laki dan perempuan umumnya sebanding, kecuali pada umur 20-30 tahun
insidens laki-laki lebih tinggi4,5.
Apendiksitis merupakan inflamasi lapisan dalam dari apendiks yang menyebar ke
bagian lain. Apendiksitis akut merupakan penyebab paling sering pada abdomen akut dengan
gejala nyeri abdomen yang akut. Risiko terjadinya apendiksitis akut pada seseorang adalah
sebesar 7%.
Gambar 3. Perbandingan antara apendiks normal dan inflamasi
1.2.1 Etiologi
Apendisitis akut merupakan infeksi bakteri. Berbagai hal berperan sebagai
faktor pencetusnya antara lain sumbatan lumen apendiks(hiperplasi jaringan limfe,
fekalit, tumor apendiks dan cacing askariasis). Penyebab lain yaitu erosi mukosa
apendiks karena parasit seperti Entamoeba hystolitica3.
Apendiksitis disebabkan karena adanya obstruksi yang pada lumen
apendiks.3,5,6 Penyebab obstruksi paling sering adalah hiperplasia limfoid yang
disebabkan inflammatory bowel disease (IBD) atau infeksi, feses yang statis dan
fecaliths, parasit, benda asing atau neoplasma.4,6 Apendiksitis akut akibat infeksi
banyak terjadi pada anak-anak dan remaja. Sedangkan apendiksitis akibat fecaliths
banyak terjadi pada usia lanjut. 4
Fecaliths terbentuk dari garam kalsium dan debris feses membentuk lapisan
dan mengendap di apendiks. Limfoid hiperplasia berhubungan dengan berbagai
penyebab inflamasi dan infeksi termasuk Chrons disease, gastroenteritis, amebiasis,
infeksi respirasi dan cacar. 4
Salah satu faktor risiko apendiksitis adalah lingkungan, yaitu terutama diet dan
higienitas. Berdasarkan penelitian bahwa diet rendah serat berkontribusi pada
perubahan motilitas, flora atau kondisi lumen yang menjadi predisposisi terhadap
perkembangan fecaliths.3
1.2.2 Patofisiologi
Pada awalnya, deskripsi mekanisme terjadinya apendiksitis akut disebabkan
karena obstruksi pada orifisium apendiks yang dapat disebabkan oleh berbagai hal,
contohnya adalah fecalith. Namun, seiring perkembangan ilmu pengetahuan,
diketahui bahwa tanpa adanya fecalith pun, banyak terjadi obstruksi yang dapat
disebabkan karena hiperplasia dari jaringan limfoid yang berada di mukosa dan
submukosa dari apendiks. Selain itu, hanya sekitar 2%, obstruksi dapat disebabkan
oleh neoplasma atau yang lebih jarang lagi disebabkan karena benda asing.3,5
Urutan terjadinya apendiksitis akut dimulai dari obstruksi pada orifisium
apendiks sehingga merangsang terjadinya sekresi mukus dan cairan. Adanya sekresi
ini menyebabkan peningkatan tekanan lumen apendiks. Jika tekanan lumen ini
meningkat dan melebihi tekanan venul di submukosa apendiks dan limfatik, maka
aliran darah dan limfe akan terobstruksi. Hal ini akan menyebabkan peningkatan
tekanan diantara dinding apendiks. Kemudian jika peningkatan tekanan venul
melebihi tekanan onkotik kapiler, maka akan terjadi iskemi mukosa, inflamasi dan
ulserasi.3,5
Selain itu, pertumbuhan bakteri di lumen dan invasi bakteri ke mukosa dan
submukosa menyebabkan inflamasi transmural, edema, vaskular stasis, nekrosis
muskulus bahkan hingga perforasi.2,4 Flora normal pada apendiks yang inflamasi
juga berbeda dengan apendiks yang normal. 60% dari apendiksitis terdiri dari bakteri
anaerob, dimana pada apendiks yang normal, hanya terdapat 25% bakteri anaerob.
Berdasarkan hasil kultur apendiks yang inflamasi, banyak ditemukan bakteri E. coli
dan spesies Bacteroides.3 Kejadian ini dapat berlangsung dalam waktu 24-36 jam. 5
Adanya perubahan lokal di apendiks merangsang terjadinya respon inflamasi
regional yang dimediasi oleh mesothelium dan pembuluh darah di peritoneum
parietal dan serosa pada viscera yang berdekatan dengan apendiks. Upaya pertahanan
tubuh dalam membatasi proses peradangan pada apendiks yaitu dengan melapisi
apendiks dengan omentum, usus halus atau adneksa. Hal ini akan membentuk massa
periapendikuler. Mekanisme ini terjadi untuk membentuk pertahanan agar pus pada
apendiks yang perforasi tidak keluar, oleh karena itu, jika formasi ini gagal, maka
pus dari lumen apendiks akan keluar melalui perforasi ke kavum peritoneal dan dapat
menyebabkan peritonitis, pengisian cairan di thirdspacing secara masif, shok bahkan
kematian.3
Jika tidak terbentuk abses, maka apendiksitis akan sembuh dan massa
periapendikuler menjadi tenang. Apendiksitis yang pernah meradang akan
membentuk jaringan parut yang melengket dengan jaringan sekitarnya. Perlengketan
ini dapat menimbulkan keluhan berulang di perut kanan bawah dimana suatu hari
dapat meradang kembali dan dinyatakan apendiksitis kronis eksaserbasi akut. 9
1.2.3 Diagnosis dan Diagnosis Banding
Apendisitis akut sering tampil dengan gejala khas yang didasari oleh radang
mendadak umbai cacing yang memberikan tanda setempat, dengan atau tanpa
rangsangan peritoneal lokal. Gejala klasik apendisitis ialah nyeri samar-samar dan
tumpul yang merupakan nyeri viseral di daerah epigastrium di sekitar umbilikus.
Keluhan ini sering disertai mual dan kadang muntah. Umumnya nafsu makan
menurun. Dalam beberapa jam nyeri akan berpindah ke kanan bawah ke titik Mc
Burney. Di sini nyeri dirasakan lebih tajam dan lebih jelas letaknya sehingga
merupakan nyeri somatik setempat. Kadang tidak ada nyeri epigastrium, tetapi
terdapat konstipasi sehingga penderita merasa memerlukan obat pencahar. Tindakan
ini dianggap berbahaya karena bisa mempermudah terjadinya perforasi. Bila terdapat
rangsangan peritoneum, biasanya pasien mengeluh sakit perut bila berjalan atau
batuk4.
Bila letak apendiks retrosekal retroperitonel, karena letaknya terlindung
oleh sekum, tanda nyeri perut kanan bawah tidak begitu jelas dan tidak ada tanda
rangsangan peritoneal. Rasa nyeri lebih ke arah perut sisi kanan atau nyeri timbul
pada saat berjalan karena kontraksi dari m. psoas mayor yang menegang dari dorsal4.
Apendiks yang terletak di rongga pelvis bila meradang dapat
menimbulkan gejala dan tanda rangsangan sigmoid atau rektum sehingga peristalsis
meningkat, pengosongan rektum akan menjadi lebih cepat dan berulang-ulang. Jika
apendiks tadi menempel ke kandung kemih, dapat terjadi peningkatan frekuensi
kencing karena rangsangan dindingnya4.
Gejala apendisitis akut pada anak tidak spesifik. Gejala awalnya sering
hanya rewel dan tidak mau makan. Anak sering tidak bisa melukiskan rasa nyerinya.
Dalam beberapa jam kemudian akan timbul muntah-muntah dan anak menjadi lemah
dan letargik. Karena gejala yang tidak khas tersebut sering apendisitis diketahui
setelah perforasi. Pada bayi, 80-90 % apendisitis baru diketahui setelah terjadi
perforasi4.
Kadang-kadang apendisitis sulit didiagnosis sehingga tidak ditangani pada
waktunya dan terjadi komplikasi, misalnya pada orang berusia lanjut yang gejalanya
sering samar-samar saja sehingga lebih dari separo penderita didiagnosis setelah
perforasi. Pada kehamilan, keluhan utama apendisitis adalah nyeri perut, mual dan
muntah. Yang perlu diperhatikan ialah pada kehamilan trimester pertama juga sering
terjadi mual dan muntah. Pada kehamilan lanjut, sekum dan apendiks terdorong ke
kraniolateral sehingga keluhan tidak dirasakan di perut kanan bawah tetapi lebih ke
regio lumbal kanan
Gejala pada onset apendiksitis akut adalah adanya nyeri abdomen yang difus
atau di daerah umbilikus.3,6 Nyeri abdomen dirasakan pada bagian umbilikus atau
difus karena embriologi apendiks berasal dari midgut dimana inervasi aferen
otonomnya berasal dari medula spinalis, yaitu setinggi Thorakal X. Nyeri abdomen
dirasakan tidak menjalar ataupun tidak bertambah berat jika ada perubahan posisi,
setelah atau sebelum makan, miksi atau defekasi. Nyeri ini timbul akibat respon dari
muskular apendiks terhadap obstruksi.3 Selain itu gejala lainnya yaitu muntah yang
dapat terjadi pada anak-anak atau remaja namun bisa terjadi pada dewasa atau orang
tua. Secara umum, pasien dengan apendiksitis memiliki gejala nausea dan penurunan
nafsu makan.3,6
Jika obstruksi tersebut berlanjut, maka terjadi distensi lumen, edema
intramural dan iskemia, nyeri akan bertambah semakin konstan dan daerahnya
menjadi kuadran kanan bawah. Jika seseorang dengan nyeri abdomen, tiba-tiba nyeri
hilang, harus dipikirkan bahwa ada kemungkinan apendiks sudah perforasi dan
penurunan rasa nyeri disebabkan karena penurunan tekanan dinding apendiks.6
Demam dengan suhu diatas 38,2oC jarang terjadi pada apendiksitis awal dan dapat
terjadi pada saat nyeri tekan lokal muncul. Perforasi harus dipertimbangkan ketika
pasien datang dengan gejala lebih dari 24 jam, demam lebih dari 38oC atau leukosit
lebih dari 15.000/mm3.3,6
Pada pemeriksaan fisik palpasi bagian abdomen dapat ditemukan adanya
nyeri tekan pada daerah peritoneum parietal yang terletak disekitar jaringan inflamasi.
Titik McBurney merupakan tempat dimana apendiks berada dan oleh karena itu,
tempat tersebut memiliki nyeri tekan paling hebat.3 Selain itu dapat ditemukan
adanya nyeri lepas tekan karena rangsangan peritoneum pada titik McBurney. Pada
palpasi juga dapat ditemukan adanya defens muskular karena rangsangan pada m.
Rektus abdominis.3
Sekitar 2-3% pasien dengan apendiksitis dapat ditemukan adanya massa
abdomen. Massa ini disebabkan karena adanya omentum yang inflamasi dan
lingkaran penyokong intestinal yang menunjukan perkembangan phlegmon atau
abses akibat perforasi apendiks.6
Untuk pemeriksaan apendiksitis akut, dapat dilakukan tiga jenis manuver,
yaitu Rovsings sign, Psoas Sign, dan Obturator Sign. Rovsings sign dinyatakan
positif jika tekanan yang diberikan pada kuadran kiri bawah abdomen menimbulkan
nyeri pada sisi kanan abdomen, hal ini merefleksikan iritasi peritoneum pada sisi
yang berlawanan. 3
Gambar 4. Rovsings sign
Psoas sign dilakukan dengan memposisikan pasien pada sisi kiri dan
hiperekstensi paha. Nyeri yang ditimbulkan karena manuver ini merefleksikan iritasi
dari M. Psoas kanan dan mengindikasi adanya iritasi retrocaecum dan
retroperitoneum akibat apendiksitis atau abses. 3
Gambar 5. Psoas Sign
Obturator sign dilakukan dengan memposisikan pasien supine kemudian
panggul dan lutut pasien difleksikan 90 derajat. Kemudian dilakukan internal rotasi
pada panggul dengan menggerakan pergelangan kaki ke arah luar secara pasif. Nyeri
yang timbul akibat pergerakan tersebut mengindikasi adanya inflamasi pada m.
obturator pada true pelvis.3
Gambar 6. Obturator Sign
Namun harus diperhatikan jika ujung dari apendiks yang inflamasi tidak
terletak di dekat peritoneum parietal, nyeri tekan maximum tidak harus di bagian
kanan bawah abdomen. Jika terletak di retroperitoneum, retroileum atau terletak di
true pelvis, maka belum tentu akan ada nyeri tekan pada area lokal.3
Untuk menegakkan diagnosis apendiksitis akut, dapat menggunakan
Alvarado Score. Alvarado Score dapat mengurangi kesalahan diagnosis dan
menurunkan komplikasi dari apendiksitis akut akibat misdiagnosis dan keterlambatan
operasi. Skor 7 memiliki kemungkinan tinggi apendiksitis akut, skor 4-6 artinya
ragu-ragu namun kandidat potensial menderita apendiksitis akut dan skor 3
memiliki kemungkinan rendah untuk menderita apendiksitis akut. 7
Karakteristik
S
kor
Migrasi nyeri
Gejal
dari abdomen sentral
ke fossa iliaka kanan
Anoreksia
Nausea
1
1
dan
muntah
Tand
a
pada
Nyeri
tekan
fossa
iliaka
kanan
1
Nyeri
tekan
lepas
pada
fossa
iliakan kanan
Peningkatan
suhu tubuh
Peme
riksaan Lab
Leukositosis
Shift
to
left
neutrofil
1
Total
0
Tabel 1. Alvarado Score 7
Diagnosis Banding
Gastroenteristis
Pada gastroenteritis, mual, muntah dan diare mendahului rasa sakit. Sakit perut lebih
ringan dan tidak berbatas tegas. Hiperperistalsis sering ditemukan. Panas dan
leukositosis kurang menonjol dibandingkan apendisitis akut.
Demam Dengue
Demam Dengue dapat dimulai dengan ssakit perut mirip peritonitis. Di sini
didapatkan hasil tes positif untuk Rumple leede, trombositopenia dan hematokrit
yang meningkat.
Limfadenitis mesenterika
Limfadenitis mesenterika yang biasa didahului oleh enteritis atau gastroenteritis
ditandai dengan nyeri perut, terutama kanan disertai dengan rasa mual, nyeri tekan
perut samar, terutama kanan.
Kelainan ovulasi
Folikel ovarium yang pecah ( ovulasi ) mungkin memberikan nyeri perut kanan
bawah pada pertengahan siklus. Pada anamnesis, nyeri yang sama pernah timbul
lebih dahulu. Tidak ada tanda radang, dan nyeri bisa hilang dalam 24 jam, tetapi
mungkin dapat menggangu selama dua hari.
Nyeri panggul
Salpingitis akut kanan sering dikacaukan dengan apendisitis akut. Suhu biasanya
lebih tinggi daripada apendisitis dan nyeri perut bagian bawah lebih difus. Infeksi
panggul pada wanita biasanya disertai keputihan dan infeksi urin. Pada Vaginal
Toucher akan timbul nyeri hebat di panggul jika uterus diayunkan. Pada gadis dapat
dilakukan Rectal Toucher jika perlu untuk diagnosis banding.
Kehamilan di luar kandungan.
Hampir selalu ada riwayat terlambat haid dengan keluhan yang tidak menentu. Jika
ada ruptur tuba atau abortus kehamilan di luar rahim dengan perdarahan, akan timbul
nyeri yang mendadak difus di daerah pelvis dan mungkin terjadi syok hipovolemik.
Pada VT didapatkan nyeri dan penonjolan kavum Douglasi dan pada kuldosentesis
didapatkn darah.
Kista ovarium terpuntir
Timbul nyeri mendadak dengan intensitas tinggi dan teraba massa dalam rongga
pelvis pada pemeriksaan perut, VT, atau RT. Tidak terdapat demam. Pemeriksaan
USG dapat menentukan diagnosis.
Endometriosis eksterna
Endometrium di luar rahim akan memberikan keluhan nyeri di tempat endometriosis
berada, dan darah menstruasi terkumpul di tempat itu karena tidak ada jalan keluar.
Urolitiasis pielum/ Ureter kanan.
Batu ureter atau batu ginjal kanan. Adanya riwayat kolik dari pinggang ke perut
menjalar ke inguinal kanan merupakan gambaran yang khas. Eritrosituria sering
ditemukan. Foto polos abdomen atau urografi intravena dapat memastikan penyakit
[Link] sering disertai dengan demam tinggi, menggigil, nyeri
kostovertebral di sebelah kanan, dan piuria.
Penyakit saluran cerna lainnya.
Penyakit lain yang perlu dipikirkan adalah peradangan di perut seperti Divertikulitis
meckel, perforasi tukak duodenum atau lambung, kolesistitis akut, pankreatitis,
divertikulitis kolon, obstruksi usus awal, perforasi kolon, denan tifoid abdominalis,
karsinoid dan mukokel apendiks.4
1.2.4 Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan
laboratorium
dapat
membantu
dalam
mendiagnosis
apendiksitis akut. Salah satu pemeriksaan laboratorium yang rutin dilakukan adalah
pemeriksaan hitung leukosit, dimana leukosit akan meningkat pada kasus
apendiksitis. Namun dalam beberapa kasus apendiksitis akut, tidak terjadi
peningkatan leukosit. 3
Pemeriksaan pencitraan dapat membantu untuk menegakkan diagnosis dari
apendiksitis akut. Salah satu pencitraan adalah USG abdomen, dimana yang dapat
ditemukan pada pasien apendiksitis akut adalah penebalan dari dinding apendiks
dan perubahan lapisan dari apendiks yang normal, hilangnya kompresibilitas dari
dinding apendiks, peningkatan echogenicity dari lemak yang berada di sekitar
apendiks dan lokulasi cairan pericaecal. Pemeriksaan USG memiliki sensitivitas
80% dan spesifisitas 90%. Pencitraan dengan menggunakan CT scan merupakan
gold standard untuk apendiksitis akut. Pemeriksaan dengan CT Scan dapat
mendeteksi dan menunjukkan tempat massa inflamasi dan abses. CT scan abdomen
memiliki sensitivitas 95% dan spesifitas 90%.3
1.2.5 Komplikasi Apendiksitis
Apendiksitis dapat menyebabkan komplikasi yaitu peritonitis, abses di
abdomen atau retroperitonum, obstruksi intestinal, sepsis dan terbentuk fistula pada
dinding abdomen, abses hepar dan pyeloflebitis.3
1.2.6 Tatalaksana
Jika pada pasien belum dapat ditegakkan diagnosis apendiksitis, namun
pasien nampak sangat sakit, maka dapat diberikan cairan intravena untuk
menggantikan kehilangan cairan, untuk mengantipasi kehilangan cairan beberapa
saat di depan, dan menggantikan intake oral pasien. Selain itu dapat diberikan anti
nyeri sambil mencari diagnosis pasti dari pasien.8
Pada pasien yang sudah dapat ditegakkan terapinya, dapat langsung
diberikan medikasi anti nyeri dan terapi antibiotik sambil dirujuk ke dokter
spesialis bedah untuk menentukan tatalaksana lanjut apakah akan dioperasi atau
tidak. 8
Gambar 7. Algoritma Tatalaksana Apendiksitis Akut
Penanganan apendiksitis akut didasarkan pada probilitas apendiksitis tanpa
komplikasi. Pada probilitas tinggi apendiksitis tanpa komplikasi dapat sesegera
mungkin dilakukan operasi. Untuk pasien dengan suspek abses appendiks dapat
dilakukan USG pada anak dan CT scan abdomen pada orang dewasa. Kemudian
pasien dengan probabilitas rendah tergantung tingkat keparahan diagnosa.9 Pada
penderita yang diagnosisnya tidak jelas sebaiknya diobservasi terlebih dahulu.
Pemeriksaan laboratorium, USG, dapat dilakukan.10
Tatalaksana definitif pada kasus apendiksitis akut adalah dengan operasi
pengangkatan appendix (Apendektomi). Pemberian antibiotik preoperatif dapat
mengatasi infeksi yang mungkin terjadi postoperative. Pada pasien dengan
apendiksitis non komplikasi dapat diberikan antibiotik dosis tunggal untuk
menurunkan resiko infeksi dari luka pascaoperasi dan juga abses intraabdominal.
Pemberian antibiotik postoperatif tidak mengurangi insiden komplikasi infeksi pada
pasien.9
Ketika diagnosis sudah ditegakkan dan tatalaksana yang diambil adalah
operasi, maka pasien harus dipersiapkan untuk operasi. Pasien dapat diberikan
medikasi anti nyeri, pemantauan cairan, balance elektrolit dan pemberian terapi
antibiotik preoperasi. Pemberian antibiotik ini bukan untuk menyembuhkan
apendiksitis, namun lebih untuk menurunkan insiden infeksi pada luka dan
peritoneum yang dapat terjdi setelah operasi dan untuk melindungi kemungkinan
terjadinya bakteremia. Pada kasus apendiksitis dengan komplikasi yaitu
terbentuknya abses atau bakteremia, penggunaan antibiotik adalah untuk mengobati
komplikasinya. Berdasarkan penelitian, pemberian antibiotik profilaksis pada kasus
apendiksitis tanpa komplikasi dapat diberikan golongan sefalosporin generasi kedua
atau kombinasi regimen antibiotik broad spectrum pada bakteri aerob gram negatif
dan anaerob. Pemberian antibiotik paling efektif adalah sebelum operasi atau saat
operasi.9
Adapun antibiotik yang dapat diberikan:
Initial
Apendiksitis
Alternative
Cefoxitin
Ampicillin-sulbactam
non
Dewasa : 2 gram IV
Dewasa: 1,5-3 gram IV single
komplikasi
single dose
dose
Anak
: 40 mg/kg
Anak
single dose
: 75 mg/kg IV single
dose
Amoxicillin-clavulanate
Dewasa: 1,2-2,4 gram IV
single dose
Anak
: 45 mg/kg IV single
dose
Allergy beta-lactam
Dewasa: Gentamicin 80-120
mg
IV
single
Clindamycin
Single dose
600
dose
mg
IV
Anak: Gentamicin 2,5 mg/kg
IV single dose + Clindamycin
7,5-10 mg/kg IV Single dose
Apendiksitis
komplikasi
Dewasa: Ertapenem 1
Dewasa: Ciprofloxacin 400
gram IV setiap 24 jam/
mg IV setiap 12 jam +
Tazobactampiperacilli
Metronidazole 500 mg IV
n 3,375 gram IV setiap
setiap 6 jam
6 jam atau 4,5 gram IV
Anak:
setiap jam
15-25 mg/kg IV setiap 6 jam
Anak:
clavulanic
Imipenem-Cilastatin
Ticarcillinacid
75
mg/kg IV setiap 6 jam
Tabel 2. Daftar Pilihan Antibiotik untuk Apendiksitis akut 10
Operasi apendektomi dapat dilakukan dengan open appendectomy. Pada
open appendectomy, insisi McBurney paling sering dilakukan.
Gambar 8. Open Appendectomy
Open appendectomy biasanya dilakukan incisi pada kuadran kanan bawah
secara transversal atau incise oblique. Pada kasus dengan phlegmon yang luas atau
diagnosis yang tidak pasti, incisi pada subumbilical midline dapat dilakukan.
Setelah memasuki peritoneum, inflamasi dari appendix diindentifikasi dari batasnya.
Perlakuan khusus harus diberikan saat memegang appendiks yang mengalami
inflamasi untuk meminimalisir ruptur. Lalu dilakukan ligasi pada dasar dan
appendiks dipisahkan dari dasar hubungannya dengan caecum. Lalu dilakukan
penjahitan dengan teknik purse-string suture atau Zsticth yang diletakkan pada
dinding caecum. Kemudian diinversi appendiceal stump. Setelah selesai, dilakukan
penutupan bekas insisi.
Perawatan paska operasi apendiksitis tanpa komplikasi, pasien dapat minum
secara bertahap kemudian dapat diberikan makanan padat ketika pasien sudah
mampu dan pasien boleh pulang dalam waktu 24 sampai 48 jam. Antibiotik post
operasi dan pemasangan nasogastric tube (NGT) tidak rutin dilakukan pada pasien
tersebut, kecuali ada komplikasi tertentu. Pada kasus dengan peritonitis atau abses,
pemberian antibiotik harus lebih panjang, yaitu sampai 5 7 hari setelah operasi. 9
DAFTAR PUSTAKA
1. Gray H. Grays Anatomy. Ed ke-15. London : Bounty Book, 2012.
2. Moore KL, Dalley AF. Clinically Oriented Anatomy. Ed ke 5. Philadelhia : Lippincott
Wiliams & Wilkins, 2006.
3. JA Norton (editor). Essential Practice of Surgery : Basic Science and Clinical Evidence. New
York: Springer, 2003; 269-276.
4. Craig
S.
Appendicitis.
Medscape
2014.
[terhubung
berkala].
[Link] html [11 Juli 2014]
5. Wrightson WR. Current Concept in General Surgery : A Resident Review. Georgetown :
Landes Bioscience, 2006; 107-110
6. Yamada T, Alpers DH, Kaloo AN, Kaplowitz N, Owyang C, Powell DW. Principle of
Clinical Gastroenterology. Ed ke-5. New Jersey : Willey-Blackwell, 2008.
7. Brahmachari S, Jajee AB. Alvarado Score : A Valuable Clinical Tool For Diagnosis of Acute
Appendicitis- a retrospective study. J Med Allied Sci 2013; 3 (2) : 63-66. [diunduh dari :
[Link]
20diagnosis%20of%20acute%20appendicitis%20a%20retrospective%[Link]]
8. Townsend MC, Beauchamp MR. Sabiston Textbook Of Surgery. Ed ke-19 Texas :
Elsevier; 2008. hlm.1333-1347.
9. De Jong, W, R. Sjamsuhidajat. Buku Ajar Ilmu Bedah. Jakarta. Ed ke-3. EGC: 2010. hlm.
755-762.
10. Bongala SD, Santos FR, Cercenia FE, et al. Evidenced Based Clinical Practice
Guidelines On The Diagnosis And Treatment Of Acute Appendicitis. Philipine College of
Surgeon 2002; 1-53