0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
2 tayangan18 halaman

Chapter II

apalah

Diunggah oleh

Anom Pletot Badoger
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
2 tayangan18 halaman

Chapter II

apalah

Diunggah oleh

Anom Pletot Badoger
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Matahari atau juga disebut Surya adalah bintang terdekat dengan Bumi
dengan jarak sekitar 149.680.000 kilometer (93.026.724 mil). Matahari adalah
suatu bola gas yang pijar dan ternyata tidak berbentuk bulat betul. Matahari
mempunyai katulistiwa dan kutub karena gerak rotasinya. Garis tengah
ekuatorialnya 864.000 mil, sedangkan garis tengah antar kutubnya 43 mil lebih
pendek. Matahari merupakan anggota Tata Surya yang paling besar, karena 98%
massa Tata Surya terkumpul pada matahari.
Di samping sebagai pusat peredaran, matahari juga merupakan pusat
sumber tenaga di lingkungan tata surya. Matahari terdiri dari inti dan tiga lapisan
kulit, masing-masing fotosfer, kromosfer dan korona. Untuk terus bersinar,
matahari, yang terdiri dari gas panas menukar zat hidrogen dengan zat helium
melalui reaksi fusi nuklir pada kadar 600 juta ton, dengan itu kehilangan empat
juta ton massa setiap saat.
Matahari dipercayai terbentuk pada 4,6 miliar tahun lalu. Kepadatan massa
matahari adalah 1,41 berbanding massa air. Jumlah tenaga matahari yang sampai
ke permukaan Bumi yang dikenali sebagai konstan surya menyamai 1.370 watt
per meter persegi setiap saat.
` Untuk memanfaatkan potensi energi surya tersebut, ada 2 (dua) macam
teknologi yang sudah diterapkan, yaitu teknologi energi surya termal dan energi
surya fotovoltaik. Energi surya termal pada umumnya digunakan untuk memasak
(kompor surya), mengeringkan hasil pertanian (perkebunan, perikanan, kehutanan,
tanaman pangan) dan memanaskan air. Energi surya fotovoltaik digunakan untuk
memenuhi kebutuhan listrik, pompa air, televisi, telekomunikasi, dan lemari
pendingin di Puskesmas dengan kapasitas total 6 MW.



Universitas Sumatera Utara

2.1 Energi Matahari
Energi surya atau matahari telah dimanfaatkan di banyak belahan dunia dan
jika dieksplotasi dengan tepat, energi ini berpotensi mampu menyediakan
kebutuhan konsumsi energi dunia saat ini dalam waktu yang lebih lama. Matahari
dapat digunakan secara langsung untuk memproduksi listrik atau untuk
memanaskan bahkan untuk mendinginkan. Potensi masa depan energi surya hanya
dibatasi oleh keinginan kita untuk menangkap kesempatan.
2.1.1. Klasifikasi Energi Matahari.
Solar Energi Panel dari NASA National Aeronautic and Space
Administration) tahun 1997 mengklasifikasikan penggunaan energi matahari ke
dalam dua sistem koleksi yaitu sistem koleksi alamiah dan sistem koleksi
teknologi. Dari pengklasifikasian diatas untuk koleksi alamiah yaitu air, angin,
bahan bakar organik dan perbedaan temperatur lautan sedangkan untuk koleksi
teknologi terdapat dua aplikasi utama dari energi matahari yaitu produksi listrik
(fotovoltaik) dan produksi panas thermal.
Fotovoltaik digunakan untuk mengkonversikan intensitas radiasi matahari
menjadi energi listrik. Energi panas dihasilkan juga dari radiasi matahari dan
dapat dikumpulkan atau dipusatkan dengan pengumpul (kolektor). Energi panas
ini biasanya digunakan untuk kolektor matahari, pompa-pompa pemanas dan
lain-lain.

2.1.2. Radiasi Surya.
Intensitas radiasi matahari akan berkurang oleh penyerapan dan
pemantulan oleh atmosfer saat sebelum mencapai permukaan bumi. Ozon di
atmosfer menyerap radiasi dengan panjang gelombang pendek ( ultraviolet )
sedangkan karbondioksida dan uap air menyerap sebagian radiasi dengan
panjang gelombang yang lebih panjang ( infra merah ). Selain pengurangan
radiasi bumi langsung ( sorotan ) oleh penyerapan tersebut, masih ada radiasi
yang dipancarkan oleh molekul-molekul gas, debu dan uap air dalam atmosfer.

Universitas Sumatera Utara

Ada tiga macam cara radiasi matahari/surya sampai ke permukaan bumi
yaitu :
a. Radiasi langsung ( Beam / Direct Radiation ).
Adalah radiasi yang mencapai bumi tanpa perubahan arah atau radiasi yang
diterima oleh bumi dalam arah sejajar sinar datang.

b. Radiasi hambur ( Diffuse Radiation ).
Adalah radiasi yang mengalami perubahan akibat pemantulan dan
penghamburan.

c. Radiasi total ( Global Radiation ).
Adalah penjumlahan radiasi langsung dan radiasi hambur. Misalnya data
untuk suatu permukaan miring yang menghadap tanah tertutup salju serta
menerima komponen radiasi karena pemantulan harus dirinci dulu kondisi
saljunya yaitu sifat pantulannya ( Reflektansi ). Karena itu radiasi total pada suatu
permukaan bidang miring biasanya dihitung.
Besarnya energi yang dapat diperoleh dari radiasi surya adalah perkalian
intensitas radiasi yang diterima dengan luasan dengan persamaan :

E =I
r
x A

dimana :
I
r
= Intensitas radiasi matahari ( W/m
2
)
A = Luas permukaan (m
2
)


2.1.3. Sel Surya.
Sel surya terbuat dari potongan silikon yang sangat kecil dengan dilapisi
bahan kimia khusus untuk membentuk dasar dari sel surya. Sel surya pada
umumnya memiliki ketebalan minimum 0,3 mm yang terbuat dari irisan bahan
semikonduktor dengan kutub positif dan negatif. Tiap sel surya biasanya
Universitas Sumatera Utara
menghasilkan tegangan 0,5 volt. Sel surya merupakan elemen aktif (
Semikonduktor ) yang memanfaatkan efek fotovoltaik untuk merubah energi
surya menjadi energi listrik.
Pada sel surya terdapat sambungan ( junction ) antara dua lapisan tipis
yang terbuat dari bahan semikonduktor yang masing-masing diketahui sebagai
semikonduktor jenis P ( positif ) dan semikonduktor jenis N ( negatif ).
Semikonduktor jenis-N dibuat dari kristal silikon dan terdapat juga sejumlah
material lain ( umumnya posfor ) dalam batasan bahwa material tersebut dapat
memberikan suatu kelebihan elektron bebas.
Elektron adalah partikel sub atom yang bermuatan negatif, sehingga
silikon paduan dalam hal ini disebut sebagai semikonduktor jenis-N ( Negatif ).
Semikonduktor jenis-P juga terbuat dari kristal silikon yang didalamnya terdapat
sejumlah kecil materi lain ( umumnya boron ) yang mana menyebabkan material
tersebut kekurangan satu elektron bebas. Kekurangan atau hilangnya elektron ini
disebut lubang ( hole ). Karena tidak ada atau kurangnya elektron yang bermuatan
listrik negatif maka silikon paduan dalam hal ini sebagai semikonduktor jenis-P (
Positif ).
2.1.4 Aplikasi Energi Matahari
Energi matahari merupakan energi yang utama bagi kehidupan di bumi ini.
Berbagai jenis energi, baik yang terbarukan maupun tak-terbarukan merupakan
bentuk turunan dari energi ini baik secara langsung maupun tidak langsung.
Energi yang merupakan turunan dari energi matahari misalnya:
Energi angin yang timbul akibat adanya perbedan suhu dan tekanan satu
tempat dengan tempat lain sebagai efek energi panas matahari.
Energi air karena adanya siklus hidrologi akibat dari energi panas matahari
yang mengenai bumi.
Energi biomassa karena adanya fotosintesis dari tumbuhan yang notabene
menggunakan energi matahari.
Energi gelombang laut yang muncul akibat energi angin.

Universitas Sumatera Utara
Energi fosil yang merupakan bentuk lain dari energi biomassa yang telah
mengalami proses selama berjuta-juta tahun.
Selain itu energi panas matahari juga berperan penting dalam menjaga
kehidupan di bumi ini. Tanpa adanya energi panas dari matahari maka seluruh
kehidupan di muka bumi ini pasti akan musnah karena permukaan bumi akan
sangat dingin dan tidak ada makluk yang sanggup hidup di bumi.
Ada beberapa cara pemanfaatan energi panas matahari yaitu:
a. Pemanasan Air
Penyediaan air panas sangat diperlukan oleh masyarakat, baik untuk mandi
maupun untuk alat antiseptik pada rumah sakit dan klinik kesehatan. Penyediaan
air panas ini memerlukan biaya yang besar karena harus tersedia sewaktu-waktu
dan biasanya untuk memanaskan digunakan energi fosil ataupun energi listrik.
Namun dengan menggunakan pemanas air tenaga surya maka hal ini bukan
merupakan masalah karena pemanasan air dilakukan dengan menyerap panas
matahari dengan menggunakan kolektor sehingga tidak memerlukan biaya bahan
bakar.
Sistem pemanasan air dengan memanfaatkan radiasi surya biasanya dibuat
dengan menggunakan solar kolektor yaitu jenis solar kolektor plat datar.







Universitas Sumatera Utara

Berikut adalah gambar diagram sistem pemanasan air dengan
menggunakan sinar matahari.


Gambar 2.1 Diagram sistem pemanasan air dengan sinar matahari.
Sumber : lit.11

Prinsip kerjanya adalah panas dari matahari diterima oleh kolektor yang
terdapat di dalam terdapat pipa-pipa berisi air. Panas yang diterima kolektor akan
diserap oleh air yang berada di dalam pipa sehingga suhu air meningkat. Air
dingin dialirkan dari bawah sedangkan air panasnya dialirkan lewat atas karena
massa jenis air panas lebih kecil daripada massa jenis air dingin (prinsip
thermosipon). Air ini lalu masuk ke dalam penyimpan panas. Pada penyimpan
panas, panas dari air ini dipindahkan ke pipa berisi air yang lain yang merupakan
persediaan air untuk mandi/antiseptik. Sedangkan air yang berasal dari kolektor
akan diputar kembali ke kolektor dengan menggunakan pompa atau hanya
menggunakan prinsip thermosipon. Persediaan air panas akan disimpan di dalam
tangki penyimpanan yang terbuat dari bahan isolator thermal. Pada sistem ini
terdapat pengontrol suhu jika suhu air panas yang dihasilkan kurang dari yang
Universitas Sumatera Utara
diinginkan maka air akan dimasukkan kembali ke tangki penyimpan panas untuk
dipanaskan kembali.
Kolektor yang digunakan pada pemanas air tenaga panas matahari ini
adalah kolektor surya plat datar yang bagian atasnya terbuat dari kaca yang
berwarna hitam redup sedangkan bagian bawahnya terbuat dari bahan isolator
yang baik sehingga panas yang terserap kolektor tidak terlepas ke lingkungan. Air
panas di dalam kolektor bisa mencapai 82 C sedangkan air panas yang dihasilkan
tergantung keinginan karena sistem dilengkapi pengontrol suhu.

b. Pembangkitan Listrik
` Prinsipnya hampir sama dengan pemanasan air hanya pada pembangkitan
listrik, sinar matahari diperkuat oleh kolektor pada suatu titik fokus untuk
menghasilkan panas yang sangat tinggi bahkan bisa mencapai suhu 380
0
C. Pipa
yang berisi air dilewatkan tepat pada titik fokus sehingga panas tersebut diserap
oleh air di dalam pipa. Panas yang sangat besar ini dibutuhkan untuk mengubah
fase cair air di dalam pipa menjadi uap yang bertekanan tinggi. Uap bertekanan
tinggi yang di hasilkan ini kemudian digunakan untuk menggerakkan turbin uap
yang kemudian akan memutar generator untuk menghasilkan listrik.





















Universitas Sumatera Utara
Berikut gambar skema pembangkit listrik dengan sinar matahari









Gambar 2.2 Sistem pembangkit listrik dengan sinar matahari
Sumber: lit.5 hal 30





Universitas Sumatera Utara
c. Distilasi Air
Salah satu bentuk aplikasi dari sinar matahari adalah untuk proses destilasi
air. Adapun skema destilasi air dengan menggunakan sinar matahari terlihat pada
gambar berikut.


Gambar 2.3 sistem destilasi air dengan sinar matahari
Sumber : lit 10

Cara kerjanya adalah sebuah kolam yang dangkal, dengan kedalaman 25
mm hingga 50 mm, ditututup oleh kaca. Air yang dipanaskan oleh radiasi
matahari, sebagian menguap, sebagian uap itu mengembun pada bagian bawah
dari permukaan kaca yang lebih dingin. Kaca tersebut dimiringkan sedikit 10
derajat untuk memungkinkan embunan mengalir karena gaya berat menuju ke
saluran penampungan yang selanjutnya dialirkan ke tangki penyimpanan.

d. Kompor Matahari
Prinsip kerja dari kompor matahari adalah dengan memfokuskan panas
yang diterima dari matahari pada suatu titik menggunakan sebuah cermin cekung
besar sehingga didapatkan panas yang besar yang dapat digunakan untuk
menggantikan panas dari kompor minyak atau kayu bakar.




Universitas Sumatera Utara
Adapun skema gambar kompor matahari terlihat pada gambar berikut.


Gambar 2.4 kompor matahari
Sumber : lit.12

Untuk diameter cermin sebesar 1,3 meter kompor ini memberikan daya
thermal sebesar 800 watt pada panci. Dengan menggunakan kompor ini maka
kebutuhan akan energi fosil dan energi listrik untuk memasak dapat dikurangi.

2. 2. Kolektor Surya
Kolektor surya merupakan suatu alat yang berfungsi untuk mengumpulkan
energi matahari yang masuk dan diubah menjadi energi thermal dan meneruskan
energi tersebut ke fluida. Kolektor surya memiliki beberapa komponen yaitu :
transmisi, refleksi, dan absorbsi. Komponen transmisi dapat diperoleh dengan-
menggunakan kaca, refleksi dari elemen cermin dan absorber dari bahan
aluminium atau kuningan yang dilapisi dengan permukaan benda
[Link] utama kolektor surya adalah cover yang berfungsi sebagai
penutup kolektor yang transparan, absorber untuk menyerap energi dan
mengkonversikan energi matahari menjadi energi thermal, insulation untuk
Universitas Sumatera Utara
menahan panas dalam kolektor, saluran atau kanal untuk mengalirkan fluida
pembawa energi matahari. Jadi dapat disimpulkan secara prinsip bahwa metode
kerja dari kolektor surya adalah sama yaitu menyerap sinar matahari.
Ada beberapa jenis kolektor surya, dimana kolektor surya ini dibuat
berdasakan sifat dan kegunaannya, diantaranya :

a. Kolektor Surya Prismatik
Kolektor surya tipe prismatik adalah kolektor surya yang dapat menerima
energi radiasi dari segala posisi matahari. Kolektor jenis ini juga dapat
digolongkan dalam kolektor plat datar dengan permukaan kolektor berbentuk
prisma yang tersusun dari empat bidang yang berbentuk prisma, dua bidang
berbentuk segitiga sama kaki dan dua bidang berbentuk segi empat siku siku
sehingga dapat lebih optimal proses penyerapan. Tipe kolektor jenis Prismatik ini
dapat dilihat seperti gambar berikut.
















Gambar 2.5. Skema sistim kolektor surya prismatik
Sumber : lit.9

Dari gambar tersebut dapat dilihat bahwa panas dari sinar matahari akan
diserap oleh plat kolektor yang telah di cat warna hitam. Suplai air dingan masuk
Universitas Sumatera Utara
melalui pipa sirkulasi air dan akan melewati plat kolektor tersebut. Hal ini
menyebabkan air yang keluar dari plat kolektor tersebut akan menjadi panas. Air
panas yang keluar dari plat kolektor akan ditampung pada tangki air, seperti
terlihat pada gambar 2.1.

b. Kolektor Surya plat Datar
Kolektor surya type plat datar adalah type kolektor surya yang dapat
menyerap energi matahari dari sudut kemiringan tertentu sehingga pada pross
penggunaanya dapat lebih mudah dan lebih sederhana. Dengan bentuk persegi
panjang seperti pada gambar berikut :




Gambar 2.6. kolektor surya plat datar
Sumber : lit 8

C. kolektor surya parabolic
Kolektor surya jenis parabolic biasanya digunakan untuk pembangkitan
listrik dan untuk pemanasan air. Ada dua jenis kolektor surya parabolic yaitu :

Kolektor surya parabolik memanjang
Kolektor surya parabolic cakram.



Universitas Sumatera Utara
Berikut adalah gambar kolektor surya parabolic memanjang:


Gambar 2.7 Kolektor surya parabolik memanjang
Sumber : lit.13

Berikut adalah gambar kolektor surya parabolic cakram:


Gambar 2.8 Kolektor surya parabolik cakram
Sumber : lit.13



Universitas Sumatera Utara
2. 3. Tinjauan perpindahan panas
Sebagai suatu gambaran mengenai tiga cara perpindahan panas dalam
sebuah alat pemanas cairan surya, panas mengalir secara konduktif sepanjang
pelat penyerap dan melalui dinding saluran. Kemudian panas dipindahkan ke
fluida dalam saluran dengan cara konveksi, apabila sirkulasi dilakukan dengan
sebuah pompa, maka disebut konveksi paksa. Pelat penyerap yang panas itu
melepaskan panas ke plat penutup kaca ( umumnya menutupi kolektor) dengan
cara konveksi alamiah dan dengan cara radiasi.
Bila dua benda atau lebih terjadi kontak termal maka akan terjadi aliran
kalor dari benda yang bertemperatur lebih tinggi ke benda yang bertemperatur
lebih rendah, hingga tercapainya kesetimbangan termal.
Proses perpindahan panas ini berlangsung dalam 3 mekanisme, yaitu :
konduksi, konveksi dan radiasi.

2. 3. 1. Konduksi.
Panas mengalir secara konduksi dari daerah yang bertemperatur tinggi ke
daerah yang bertemperatur rendah. Proses perpindahan kalor secara konduksi bila
dilihat secara atomik merupakan pertukaran energi kinetik antar molekul (atom),
dimana partikel yang energinya rendah dapat meningkat dengan menumbuk
partikel dengan energi yang lebih tinggi.
Sebelum dipanaskan atom dan elektron dari logam bergetar pada posisi
setimbang. Pada ujung logam mulai dipanaskan, pada bagian ini atom dan
elektron bergetar dengan amplitudi yang makin membesar. Selanjutnya
bertumbukan dengan atom dan electron disekitarnya dan memindahkan sebagian
energinya. Kejadian ini berlanjut hingga pada atom dan elektron di ujung logam
yang satunya. Konduksi terjadi melalui getaran dan gerakan elektron bebas.
Pada umumnya, bahan yang dapat menghantar arus listrik dengan
sempurna (logam) merupakan penghantar yang baik juga untuk kalor dan
sebaliknya. Selanjutnya bila diandaikan sebatang besi atau sembarang jenis logam
dan salah satu ujungnya diulurkan ke dalam nyala api. Dapat diperhatikan
bagaimana kalor dipindahkan dari ujung yang panas ke ujung yang dingin.
Apabila ujung batang logam tadi menerima energi kalor dari api, energi ini akan
Universitas Sumatera Utara

=
dx
dT
KA - q
memindahkan sebahagian energi kepada molekul dan elektron yang membangun
bahan tersebut. Molekul dan elektron merupakan alat pengangkut kalor di dalam
bahan menurut proses perpindahan kalor konduksi. Dengan demikian dalam
proses pengangkutan kalor di dalam bahan, aliran electron akan memainkan
peranan penting .
Besarnya kalor yang berpindah pada perpindahan kalor secara konduksi
akan berbanding lurus dengan gradient temperatur pada benda tersebut.
Laju perpindahan panas konduksi dapat dinyatakan dengan Hukum
Fourrier sebagai berikut :

..( 2. 1 )

Dimana: q =Laju perpindahan panas ( W )
K =Konduktifitas Termal ( W / (m.K))
A =Luas penampang yang terletak pada aliran panas (m
2
)
dT/dx =Gradien temperatur dalam arah aliran panas ( k/m )
Tanda minus ( - ) digunakan untuk menunjukkan bahwa arah perpindahan kalor
bergerak dari daerah yang bertemperatur tinggi menuju daerah bertemperatur
rendah.
Dari persamaan 2.1 dapat dilihat bahwa besarnya laju perpindahan kalor
juga ditentukan oleh Konduktifitas termal (K) dari suatu bahan. Berikut adalah
Konduktivitas termal untuk beberapa bahan pada 0
0
C:

Tabel 2.1 Konduktivitas termal untuk beberapa bahan :
Bahan k (W/m.C
o
) Bahan k (W/m.C
o
)
Aluminium 202 Batu pasir 1,83
Tembaga 385 magnesit 4,15
nikel 93 Serbuk gergaji 0,059
Besi 73 Air raksa 8,21
Timbal 35 air 0,56
Perak 410 hidrogen 0,175
Baja karbon,1% C
43
udara 0,024
Sumber :lit.3 hal.7
Universitas Sumatera Utara
2. 3. 2. Konveksi
Yang dimaksud dengan aliran ialah pengangkutan ka1or oleh gerak dari
zat yang dipanaskan. Proses perpindahan ka1or secara aliran/konveksi merupakan
satu fenomena permukaan. Proses konveksi hanya terjadi di permukaan bahan.
Jadi dalam proses ini struktur bagian dalam bahan kurang penting. Keadaan
permukaan dan keadaan sekelilingnya serta kedudukan permukaan itu adalah yang
utama. Lazimnya, keadaan keseirnbangan termodinamik di dalam bahan akibat
proses konduksi, suhu permukaan bahan akan berbeda dari suhu sekelilingnya.
Dalam hal ini dikatakan suhu permukaan adalah T1 dan suhu udara sekeliling
adalah T2 dengan Tl>T2. Kini terdapat keadaan suhu tidak seimbang diantara
bahan dengan sekelilingnya.
Udara yang mengalir diatas suatu permukaan logam pada sebuah alat
pemanas udara surya, dipanasi secara konveksi yaitu konveksi paksa dan konveksi
alamiah, apabila aliran udara disebabkan oleh blower maka disebut sebagai
konveksi paksa dan apabila disebabkan oleh gradien massa jenis maka disebut
sebagai konveksi alamiah.
Perpindahan kalor dengan jalan aliran dalam industri kimia merupakan
cara pengangkutan kalor yang paling banyak dipakai. Oleh karena konveksi hanya
dapat terjadi melalui zat yang mengalir, maka bentuk pengangkutan ka1or ini
hanya terdapat pada zat cair dan gas. Pada pemanasan zat ini terjadi aliran, karena
masa yang akan dipanaskan tidak sekaligus di bawa kesuhu yang sama tinggi.
Oleh karena itu bagian yang paling banyak atau yang pertama dipanaskan
memperoleh masa jenis yang lebih kecil daripada bagian masa yang lebih dingin.
Sebagai akibatnya terjadi sirkulasi, sehingga kalor akhimya tersebar pada seluruh
zat.
Pada umumnya laju perpindahan panas dapat dinyatakan dengan hukum
persamaan pendinginan Newton sbb.

q = h A ( Tw T) watt ..( 2. 2 )

Dimana h =Koefisien konveksi ( W / m
2
.

K )
A =Luas permukaan kolektor surya ( m
2
)
Universitas Sumatera Utara
Tw =Temperatur dinding ( K )
T =Temperatur fluida ( K )
Q =Laju perpindahan panas ( Watt )

Pada perpindahan kalor secara konveksi, energi kalor ini akan dipindahkan
ke sekelilingnya dengan perantaraan aliran fluida. Oleh karena pengaliran fluida
melibatkan pengangkutan masa, maka selama pengaliran fluida bersentuhan
dengan permukaan bahan yang panas, suhu fluida akan naik. Gerakan fluida
melibatkan kecepatan yang seterusnya akan menghasilkan aliran momentum. Jadi
masa fluida yang mempunyai energi termal yang lebih tinggi akan mempunyai
momentum yang juga tinggi. Peningkatan momentum ini bukan disebabkan
masanya akan bertambah. Malahan masa fluida menjadi berkurang karena kini
fluida menerima energi kalor.
Fluida yang panas karena menerima kalor dari permukaan bahan akan naik
ke atas. Kekosongan tempat akibat massa fluida yang telah naik itu, diisi pula oleh
massa fluida yang bersuhu rendah. Setelah masa ini juga menerima energi kalor
dari permukan bahan, massa ini juga akan naik ke atas permukaan meninggalkan
tempat asalnya. Kekosongan ini diisi pula oleh masa fluida bersuhu rendah yang
lain. Proses ini akan berlangsung berulang-ulang. Dalam kedua proses konduksi
dan konveksi, faktor yang paling penting yang menjadi penyebab dan pendorong
proses tersebut adalah perbedaan suhu. Apabila perbedaan suhu .terjadi maka
keadaan tidak stabil akan terjadi. Keadaan tidak stabil ini perlu diselesaikan
melalui proses perpindahan kalor.
Dalam pengamatan proses perpindahan kalor konveksi, masalah yang
utama terletak pada cara mencari metode penentuan nilai h dengan tepat. Nilai
koefisien ini tergantung kepada banyak faktor. Jumlah kalor yang dipindahkan,
bergantung pada nilai h. J ika cepatan medan tetap, artinya tidak ada pengaruh luar
yang mendoromg fluida bergerak, maka proses perpindahan ka1or berlaku.
Sedangkan bila kecepatan medan dipengaruhi oleh unsur luar seperti kipas atau
peniup, maka proses konveksi yang akan terjadi merupakan proses perpindahan
kalor konveksi paksa. Yang membedakan kedua proses ini adalah dari nilai
koefisien h-nya.
Universitas Sumatera Utara

2. 3. 3. Radiasi
Radiasi surya adalah radiasi gelombang pendek yang diserap oleh plat
penyerap sebuah kolektor surya dan diubah menjadi panas. Oleh karena itu plat
penyerap harus memiliki harga yang setinggi tingginya dalam batas yang
masih praktis. Plat penyerap yang menjadi panas memancarkan radiasi termal
dalam daerah panjang gelombang yang panjang (infra merah) kerugian radiasi ini
dapat dikurangi sehingga sangat kecil dengan cara menggunakan permukaan
khusus yang memiliki harga absorpsivitas yang tinggi (, tinggi) dalam daerah
panjang gelombang pendek (radiasi surya) dan harga emisivitas yang rendah ( ,
rendah ) dalam daerah infra merah. Permukaan semacam itu disebut permukaan
selektif. Salah satu diantaranya adalah khrom hitam (Black chrome) yang
mempunyai harga = 0.90 dan = 0.12.
Penukaran panas netto secara radiasi termak antara dua badan ideal
(Hitam) adalah :

.( 2. 3 )

Dimana =Stefan Boltzman yang besarnya 5.67 x 10-8 W / m
2
.K
4
T =Temperatur mutlak Benda ( K )
A =Luas Bidang (m
2
)









( )watt T T q
4
2
4
1
. =
Universitas Sumatera Utara

Anda mungkin juga menyukai