0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
267 tayangan20 halaman

Analisis Metode REBA dan RULA Ergonomi

Modul ini membahas dua metode penilaian postur kerja yaitu REBA (Rapid Entire Body Assessment) dan RULA (Rapid Upper Limb Assessment). REBA digunakan untuk menilai postur seluruh tubuh sementara RULA fokus pada bagian tubuh atas. Kedua metode ini memberikan skor risiko ergonomi berdasarkan observasi postur kerja tanpa peralatan khusus untuk mendeteksi potensi gangguan otot dan tulang akibat pekerjaan.

Diunggah oleh

flavia_izzatunnisa
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
267 tayangan20 halaman

Analisis Metode REBA dan RULA Ergonomi

Modul ini membahas dua metode penilaian postur kerja yaitu REBA (Rapid Entire Body Assessment) dan RULA (Rapid Upper Limb Assessment). REBA digunakan untuk menilai postur seluruh tubuh sementara RULA fokus pada bagian tubuh atas. Kedua metode ini memberikan skor risiko ergonomi berdasarkan observasi postur kerja tanpa peralatan khusus untuk mendeteksi potensi gangguan otot dan tulang akibat pekerjaan.

Diunggah oleh

flavia_izzatunnisa
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Modul REBA & RULA, Praktikum APK dan Ergonomi, Program Studi Teknik Industri 2014

MODUL
REBA & RULA
A. Tujuan Praktikum
Adapun tujuan dari praktikum REBA dan RULA adalah sebagai
berikut :
1. Mampu menganalisa postur kerja dengan menggunakan metode REBA
dan RULA.
2. Menggunakan konsep REBA dan RULAdalam mendeteksi postur kerja
ataufaktor risiko dalam suatu pekerjaan.
3. Mampu menaksir skor dan menganalisis postur kerja dengan metode
REBAdan RULA.
4. Mampu menganalisistingkat keamananyang mungkin terjadi yang
diakibatkan postur kerja [Link].
B. Rapid Entire Body Assessment (REBA)
Rapid Entire Body Assessment (REBA)adalah sebuah metode yang
dikembangkan dalam bidang ergonomi dan dapat digunakan secara cepat
untuk menilai posisi kerja atau postur leher, punggung, lengan,
pergelangan tangan dan kaki seorang operator. Selain itu metode ini juga
dipengaruhi oleh faktor coupling, beban eksternal yang ditopang oleh
tubuh serta aktivitas pekerja. Penilaian dengan menggunakan REBA tidak
membutuhkan waktu lama untuk melengkapi dan melakukan scoring
general pada daftar aktivitas yang mengindikasikan perlu adanya
pengurangan risiko yang diakibatkan postur kerja operator (McAtamney,
2000).
Penilaian menggunakan metode REBA yang telah dilakukan oleh Dr.
Sue Hignett dan Dr. Lynn McAtamney melalui tahapan-tahapan sebagai
berikut :
Modul REBA & RULA, Praktikum APK dan Ergonomi, Program Studi Teknik Industri 2014
Tahap 1: Pengambilan data postur pekerja dengan
menggunakan bantuan video atau foto.
Untuk mendapatkan gambaran sikap (postur) pekerja dari leher,
punggung, lengan, pergelangan tangan hingga kaki secara terperinci
dilakukan dengan merekam atau memotret postur tubuh pekerja. Hal ini
dilakukan supaya peneliti mendapatkan data postur tubuh secara detail
(valid), sehingga dari hasil rekaman dan hasil foto bisa didapatkan data
akurat untuk tahap perhitungan serta analisis selanjutnya.
Tahap 2: Penentuan sudut-sudut dari bagian tubuh pekerja.
Setelah didapatkan hasil rekaman dan foto postur tubuh dari pekerja
dilakukan perhitungan besar sudut dari masing-masing segmen tubuh
yang meliputi punggung (batang tubuh), leher, lengan atas, lengan bawah,
pergelangan tangan dan kaki. Pada metode REBA segmen-segmen tubuh
tersebut dibagi menjadi dua kelompok, yaitu grup A dan B. Grup A
meliputi punggung (batang tubuh), leher dan kaki. Sementara grup B
meliputi lengan atas, lengan bawah dan pergelangan tangan. Dari data
sudut segmen tubuh pada masing-masing grup dapat diketahui skornya,
kemudian dengan skor tersebut digunakan untuk melihat tabel A untuk
grup A dan tabel B untuk grup B agar diperoleh skor untuk masing-masing
tabel.
Tabel 2.3 Skor Pergerakan Punggung (Batang Tubuh)
Gambar 2.7. Range pergerakan punggung (a) postur alamiah, (b) postur 0 -
2 flexion, (c) postur 20 - 60 flexion, (d) postur 60 flextion atau lebih
Modul REBA & RULA, Praktikum APK dan Ergonomi, Program Studi Teknik Industri 2014
Tabel 2.4 Skor Pergerakan Leher
Gambar 2.8 Range pergerakan leher (a) postur 20 atau lebih flexion, (b)
extension.
Tabel 2.5. Skor Posisi Kaki
Gambar 2.9. Range pergerakan kaki (a) kaki tertopang, bobot tersebar merata,
(b) kaki tidak tertopang, bobot tidak tersebar merata.
Modul REBA & RULA, Praktikum APK dan Ergonomi, Program Studi Teknik Industri 2014
Tabel 2.6. Skor Pergerakan Lengan Atas
Gambar 2.10 Range pergerakan lengan atas (a) postur 20 flexion dan extension,
(b) postur 20 atau lebih extension dan postur 20 - 45 flexion, (c) postur 45-90
flexion, (d) postur 90 atau lebih flexion.
Tabel 2.7 Skor Pergerakan Lengan Bawah
Gambar 2.11 Range pergerakan lengan bawah (a) postur 60 100 flexion.
(b) postur 60 atau kurang flexion dan 100 atau lebih flexion
Modul REBA & RULA, Praktikum APK dan Ergonomi, Program Studi Teknik Industri 2014
Tabel 2.8 Skor Pergerakan Pergelangan Tangan
Gambar 2.12 Range pergerakan pergelangan tangan (a) postur alamiah,
postur 0-15 flexion maupun extension, (c) postur 15 atau lebih flexion, (d) postur
15 atau lebih extension.
Tabel 2.9 Tabel A
Modul REBA & RULA, Praktikum APK dan Ergonomi, Program Studi Teknik Industri 2014
Tabel 2.10 Tabel B
Hasil skor yang diperoleh dari tabel A dan tabel B digunakan untuk
melihat tabel C sehingga didapatkan skor dari tabel C.
Tabel 2.11 Tabel C
Tahap 3: Penentuan berat benda yang diangkat, coupling dan
aktivitas pekerja.
Selain skoring pada masing-masing segmen tubuh, faktor lain yang
perlu disertakan adalah berat beban yang diangkat, couplingdan aktivitas
pekerjanya. Masing-masing faktor tersebut juga mempunya kategori skor.
Modul REBA & RULA, Praktikum APK dan Ergonomi, Program Studi Teknik Industri 2014
Tabel 2.12 Skor Berat Beban Yang Diangkat
Tabel 2.13 Tabel Coupling
Tabel 2.14 Activity score
Tahap 4: Perhitungan nilai REBA untuk postur yang
bersangkutan.
Setelah didapatkan skor dari tabel A kemudian dijumlahkan dengan
skor untuk berat beban yang diangkat sehingga didapatkan nilai bagian A.
Sementara skor dari tabel B dijumlahkan dengan skor dari tabel coupling
sehingga didapatkan nilai bagian B. Dari nilai bagian A dan bagian B dapat
digunakan untuk mencari nilai bagian C dari tabel C yang ada.
Nilai REBA didapatkan dari hasil penjumlahan nilai bagian C dengan
nilai aktivitas pekerja. Dari nilai REBA tersebut dapat diketahui level risiko
pada muscoluskeletal dan tindakan yang perlu dilakukan untuk
mengurangi risiko serta perbaikan kerja. Untuk lebih jelasnya, alur cara
Modul REBA & RULA, Praktikum APK dan Ergonomi, Program Studi Teknik Industri 2014
kerja dengan menggunakan metode REBA serta level risiko yang terjadi
dapat dilihat pada gambar 2.13dan tabel 2.15.
Gambar 2.13. Langkah langkah perhitungan metode REBA
Tabel 2.15 Tabel Level Risiko dan Tindakan
Dari tabel risiko di atas dapat diketahui dengan nilai REBA yang
didapatkan dari hasil perhitungan sebelumnya dapat diketahui level risiko
yang terjadi dan perlu atau tidaknya tindakan dilakukan untuk perbaikan.
Perbaikan kerja yang mungkin dilakukan antara lain berupa perancangan
ulang peralatan kerja berdasarkan prinsip-prinsip ergonomi.
Modul REBA & RULA, Praktikum APK dan Ergonomi, Program Studi Teknik Industri 2014
C. Definisi Rapid Upper Limb Assessment (RULA)
RULA atau Rapid Upper Limb Assessment dikembangkan oleh Dr.
Lynn McAtamney dan Dr. Nigel Corlett yang merupakan ergonom dari
universitas di Nottingham (University of Nottinghams Institute
ofOccupational Ergonomics). Pertama kali dijelaskan dalam bentuk jurnal
aplikasi ergonomi pada tahun 1993 (Lueder, 1996).
Rapid Upper Limb Assesment adalah metode yang dikembangkan
dalam bidang ergonomi yang menginvestigasi dan menilai posisi kerja
yang dilakukan oleh tubuh bagian atas. Peralatan ini tidak memerlukan
piranti khusus dalam memberikan suatu pengukuran postur leher,
punggung dan tubuh bagian atas, sejalan dengan fungsi otot dan beban
eksternal yang ditopang oleh tubuh. Penilaian dengan menggunakan
RULA membutuhkan waktu sedikit untuk melengkapi dan melakukan
scoring general pada daftar aktivitas yang mengindikasikan perlu adanya
pengurangan risiko yang diakibatkan penggangkatan fisik yang
dilakukan operator. RULA diperuntukkan dipakai pada bidang ergonomi
dengan bidang cakupan yang luas (McAtamney, 1993).
Teknologi ergonomi tersebut mengevaluasi postur (sikap),
kekuatan dan aktivitas otot yang menimbulkan cidera akibat aktivitas
berulang (repetitive strain injuries). Ergonomi diterapkan untuk
mengevaluasi hasil pendekatan yang berupa skor risiko antara satu
sampai tujuh, yang mana skor tertinggi menandakan level yang
mengakibatkan risiko yang besar (berbahaya) untuk dilakukan dalam
bekerja. Hal ini bukan berarti bahwa skor terendah akan menjamin
pekerjaan yang diteliti bebas dari ergonomic hazards. Oleh sebab itu,
RULA dikembangkan untuk mendeteksi postur kerja yang berisiko dan
melakukan perbaikan sesegera mungkin (Lueder, 1996).
D. Perkembangan RULA
RULA dikembangkan untuk memenuhi tujuan sebagai berikut :
1. Memberikan suatu metode pemeriksaan populasi pekerja secara
cepat, terutama pemeriksaan paparan (exposure) terhadap risiko
gangguan bagian tubuh atas yang disebabkan karena bekerja.
Modul REBA & RULA, Praktikum APK dan Ergonomi, Program Studi Teknik Industri 2014
2. Menentukan penilaian gerakan-gerakan otot yang dikaitkan dengan
Postur kerja, mengeluarkan tenaga, dan melakukan kerja statis dan
repetitiveyang mengakibatkan kelelahan otot.
3. Memberikan hasil yang dapat digunakan pada pemeriksaan
ataupengukuran ergonomi yang mencakup faktor-faktor fisik,
epidemiologis, mental, lingkungan, dan faktor organisional dan
khususnya mencegah terjadi gangguan pada tubuh bagian atas akibat
kerja.
RULA dikembangkan tanpa membutuhkan piranti [Link]
memudahkan peneliti untuk dapat dilatih dalam melakukan
pemeriksaan dan pengukuran tanpa biaya peralatan
[Link] RULA dapat dilakukan di tempat yang
terbatas tanpa mengganggu [Link] RULA terjadi
dalam tiga tahap. Tahap pertama adalah pengembangan untuk
perekaman atau pencatatat postur kerja, tahap kedua adalah
pengembangan system penskoran (scoring) dan ketiga adalah
pengembangan skala level tindakan yang memberikan suatu panduan
terhadap level risiko dan kebutuhan akan tindakan untuk melakukan
pengukuran yang lebih terperinci. Penilaian menggunakan RULA
merupakan metode yangtelah dilakukan oleh McAtamey dan Corlett
(1993). Tahap-tahap menggunakan metode RULA adalah sebagai
berikut:
Tahap 1: Pengembangan metode untuk pencatatan postur
bekerja. Untuk menghasilkan suatu metode yang cepat digunakan,
tubuh dibagi menjadi dua bagian yang membentuk dua kelompok,
yaitu grup A dan B. Grup A meliputi lengan atas dan lengan bawah
serta pergelangan tangan. Sementara grup B meliputi leher, badan,
dan kaki. Hal ini memastikan bahwa seluruh postur tubuh dicatat
sehingga postur kaki, badan dan leher yang terbatas yang mungkin
mempengaruhi postur tubuh bagian atas dapat masuk dalam
pemeriksaan.
Modul REBA & RULA, Praktikum APK dan Ergonomi, Program Studi Teknik Industri 2014
Kisaran gerakan untuk setiap bagian tubuh dibagi menjadi
bagian-bagian menurut kriteria yang berasal dari interpretasi literatur
yang relevan. Bagian-bagian ini diberi angka sehingga angka 1 berada
pada kisaran gerakan atau postur bekerja dimana risiko faktor
merupakan terkecil atau minimal. Sementara angka-angka yang lebih
tinggi diberikan pada bagian-bagian kisaran gerakan dengan postur
yang lebih ekstrim yang menunjukkan adanya faktor risiko yang
meningkat yang menghasilkan beban pada struktur bagian tubuh.
Sistem penyekoran (scoring) pada setiap postur bagian tubuh ini
menghasilkan urutan angka yang logis dan mudah untuk diingat. Agar
memudahkan identifikasi kisaran postur dari gambar setiap bagian
tubuh disajikan dalam bidang sagital.
Pemeriksaan atau pengukuran dimulai dengan mengamati
operator selama beberapa siklus kerja untuk menentukan tugas dan
postur pengukuran. Pemilihan mungkin dilakukan pada postur
dengan siklus kerja terlama dimana beban terbesar terjadi. Karena
RULA dapat dilakukan dengan cepat, maka pengukuran dapat
dilakukan pada setiap postur pada siklus kerja.
Tabel 2.16. Skor pergerakan lengan atas
Modul REBA & RULA, Praktikum APK dan Ergonomi, Program Studi Teknik Industri 2014
Gambar 2.14. Range pergerakan lengan atas (a) postur alamiah, (b) postur
extensiondan flexion, (c) postur lengan atas flexion.
Rentang untuk lengan bawah dikembangkan dari penelitian
Grandjean danTichauer. Skor tersebut adalah:
Tabel 2.17. Skor Pergerakan Lengan Bawah
Gambar 2.15. Range pergerakan lengan bawah (a) postur flexsion 60-100, (b) postur
alamiah dan (c) postur flexion 100 +
Panduan untuk pergelangan tangan dikembangkan dari penelitian
Health and Safety Executive, digunakan untuk menghasilkan skor postur
sebagai berikut:
Modul REBA & RULA, Praktikum APK dan Ergonomi, Program Studi Teknik Industri 2014
Tabel 2.18. Skor Pergerakan Pergelangan Tangan
Gambar 2.16. Range pergerakan pergelangan tangan (a) postur alamiah, (b) postur
flexion15 +, (c) postur 0-15 flexion maupun extension, (d) postur extension
Putaran pergelangan tangan (pronation dan supination) yang
dikeluarkan oleh Health and Safety Executivepada postur netral berdasar
pada Tichauer. Skor tersebut adalah:
+1 jika pergelangan tangan berada pada rentang menengah putaran
+2 jika pergelangan tangan pada atau hampir berada pada akhir rentang
putaran.
Gambar 2.17. standart rula putaran pergelangan tangan (a) postur alamiah dan
(b) postur putaran pergelangan tangan.
Kelompok B, rentang postur untuk leher didasarkan pada studi
yang dilakukan oleh Chaffin dan Kilbom et al. Skor dan kisaran tersebut
adalah:
Modul REBA & RULA, Praktikum APK dan Ergonomi, Program Studi Teknik Industri 2014
Tabel 2.19 Skor Rentang Postur Untuk Leher
Gambar 2.18 Range pergerakan pergelangan leher (a) postur alamiah, (b) postur 10-
20 flexion, (c) postur 20 atau lebih flexion, (d) postur extension.
Apabila leher diputar atau dibengkokkan
Keterangan:
+1 jika leher diputar atau posisi miring, dibengkokkan ke kanan atau
kiri.
Gambar 2.19 range pergerakan leher yang diputar atau dibengkokkan (a) postur
alamiah, (b) postur leher diputar, (c) postur leher dibengkokkan.
Modul REBA & RULA, Praktikum APK dan Ergonomi, Program Studi Teknik Industri 2014
Kisaran untuk punggung dikembangkan oleh Drury, Grandjean dan
Grandjeanet al:
Tabel 2.20 Skor Pergerakan Untuk Punggung.
Gambar 2.20 Range pergerakan punggung (a) postur 20-60 flexion, (b) postur
alamiah, (c) postur 0 - 20 flexion, (d) postur 60 flexion atau lebih
Punggung Diputar atau Dibengkokkan
Keterangan:
+1 jika tubuh diputar
+1 jika tubuh miring ke samping
Modul REBA & RULA, Praktikum APK dan Ergonomi, Program Studi Teknik Industri 2014
Gambar 2.21 Range pergerakan punggung yang diputar atau dibengkokkan
(a) postur alamiah, (b) postur punggung diputar, (c) postur punggung dibengkokkan.
Kisaran untuk postur kaki dengan skor postur kaki ditetapkan
sebagai berikut:
+ 1 jika kaki tertopang ketika duduk dengan bobot seimbang rata.
+1 jika berdiri dimana bobot tubuh tersebar merata pada kaki, dimana
terdapat ruang untuk berubah posisi.
+ 2 jika kaki tidak tertopang atau bobot tubuh tidak tersebar merata.
Gambar 2.22. Range pergerakan kaki (a) kaki tertopang, bobot tersebar merata, (b)
kaki tidak tertopang, bobot tidak tersebar merata.
Tahap 2: Perkembangan sistem untuk pengelompokan skor postur
bagian tubuh.
Rekaman video yang dihasilkan dari postur kelompok A yang
meliputi lengan atas, lengan bawah, pergelangan tangan dan putaran
pergelangan tangan diamati dan ditentukan skor untuk masing-masing
postur. Kemudian skor tersebut dimasukkan dalam tabel A untuk
memperoleh skor.
Modul REBA & RULA, Praktikum APK dan Ergonomi, Program Studi Teknik Industri 2014
Tabel 2.21 skor postur kelompok A
Rekaman video yang dihasilkan dari postur kelompok B yaitu
leher, punggung (badan) dan kaki diamati dan ditentukan skor untuk
masing-masing postur. Kemudian skor tersebut dimasukkan ke dalam
tabel B untuk memperoleh skor B.
Tabel 2.22 Skor Postur Kelompok A
Modul REBA & RULA, Praktikum APK dan Ergonomi, Program Studi Teknik Industri 2014
Sistem penskoran dilanjutkan dengan melibatkan otot dan tenaga
yang digunakan. Penggunaan yang melibatkan otot dikembangkan
berdasarkan penelitian Drury, yaitu sebagai berikut:
1. Skor untuk penggunaan otot:
+1 jika postur statis (dipertahankan dalam waktu 1 menit) atau
penggunaan postur tersebut berulang lebih dari 4 kali dalam 1
menit.
2. Penggunaan tenaga (beban) dikembangkan berdasarkan penelitian
Putz-Anderson, Stevenson dan Baida, yaitu sebagai berikut:
0 jika pembebanan sesekali atau tenaga kurang dari 20 Kg dan
ditahan.
1 jika beban sesekali 20 10 Kg.
2 jika beban 2 10 Kg bersifat statis atau berulang-ulang.
2 jika beban sesekali namun lebih dari 10 Kg.
3 jika beban (tenaga) lebih dari 10 Kg dialami secara statis atau
berulang.
4 jika pembebanan seberapapun besarnya dialami dengan sentakan
cepat.
Skor penggunaan otot dan skor tenaga pada kelompok tubuh
bagian A dan B diukur dan dicatat dalam kotak-kotak yang tersedia
kemudian ditambahkan dengan skor yang berasal dari tabel A dan B,
yaitu sebagai berikut:
Skor A +skor penggunaan otot +skor tenaga (beban) untuk kelompok
A =skor C.
Skor B +skor penggunaan otot +skor tenaga (beban) untuk kelompok
B =skor D.
Modul REBA & RULA, Praktikum APK dan Ergonomi, Program Studi Teknik Industri 2014
Gambar 2.23. perhitungan RULA
Tahap 3: Pengembangan Grand Skor dan Daftar Tindakan
Setiap kombinasi skor C dan D diberikan rating yang disebut
grand skor, yang nilainya 1 sampai 7. Nilai grand skor diperoleh dari
tabel berikut ini:
Tabel 2.23 Tabel grand score
Setelah diperoleh grand skor yang bernilai 1 hingga 7
menunjukkan level tindakan (action level) sebagai berikut:
Action level 1
Suatu skor 1 atau 2 menunjukkan bahwa postur ini bisa diterima jika
tidak dipertahankan atau tidak berulang dalam periode yang lama.
Action level 2
Skor 3 atau 4 yang menunjukkan bahwa diperlukan pemeriksaan
lanjutan dan juga diperlukan perubahan-perubahan.
Modul REBA & RULA, Praktikum APK dan Ergonomi, Program Studi Teknik Industri 2014
Action level 3
Skor 5 atau 6 menunjukkan bahwa pemeriksaan dan perubahan perlu
segera dilakukan.
Action level 4
Skor 7 menunjukkan bahwa kondisi ini berbahaya maka pemeriksaan
dan perubahan diperlukan dengan segera (saat itu juga).

Anda mungkin juga menyukai