Komponen dan Konsep Sistem Informasi Geografis
Komponen dan Konsep Sistem Informasi Geografis
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Aplikasi Sistem Informasi Geografis
2.1.1 Konsep Dasar Sistem Informasi Geografis (SIG)
Sistem Informasi Geografis sebenarnya berawal dari sistem perpetaan.
Berdasarkan sejarah awal penggunaannya, diawali pada saat perang revolusi
Amerika (American Revolutionary War) telah dilakukan penggambaran berbagai
tema peta dalam suatu kerangka peta dasar dengan ukuran skala yang sama. Atlas
yang menggambarkan penduduk, geologi dan topografi dalam laporan kedua yang
dibuat Irish Railway Commisioner pada tahun 1838, dianggap merupakan Sistem
Informasi Geografis pertama. Atlas yang terdiri atas peta penduduk, topografi dan
geologi secara terpisah dibuat dalam skala yang sama, sehingga jika
ditumpangsusunkan akan dapat ditentukan jalur terbaik bagi pembangunan jalan
kereta api.
Namun, sistem perpetaan tersebut masih bersifat statis karena tidak bisa
dilakukan pembaruan data dan perubahan format atau editing. Perkembagan
teknologi komputer memungkinkan data tersebut dapat diubah ke dalam bentuk
digital, sehingga data dapat diedit dan dimutakhirkan serta ditumpangsusunkan
sesuai dengan kebutuhan. Data dalam bentuk digital tentu lebih dinamis. Karena itu,
perkembangan SIG tidak lepas dari kemampuan untuk mengubah sistem perpetaan
dari format statis ke format dinamis.
Sistem Informasi Geografis dalam bahasa Inggris lebih dikenal Geographic
Information System (GIS), merupakan suatu sistem informasi yang mampu
UNIVERSITAS SUMATRA UTARA
8
mengelola atau mengolah informasi yang terkait atau memiliki rujukan ruang atau
tempat. Apabila kita mengartikan satu per satu atau gabungan katanya, maka Sistem
Informasi Geografis dapat dijabarkan sebagai berikut:
1. Sistem adalah kumpulan dari sejumlah komponen yang saling terkait dan
memiliki fungsi satu sama lain
2. Informasi adalah data yang dapat memberikan keterangan tentang sesuatu.
3. Geografis adalah segala sesuatu tentang gejala atau fenomena di permukaan
bumi yang bersifat keruangan.
4. Sistem Informasi adalah suatu rangkaian kegiatan yang dimulai dari
pengumpulan data, manipulasi, pengelolaan dan analisis serta
menjabarkannya sehingga menjadi keterangan.
5. Informasi Geografis adalah keterangan mengenai ruang atau tempat-tempat
serta gejala-gejala dan fenomena yang terjadi dalam ruang tersebut di
permukaan bumi.
Menurut ESRI (Environment System Research Institute/1990), secara
sederhana SIG diartikan sebagai suatu sistem komputer yang mampu menyimpan
dan menggunakan data yang menggambarkan lokasi di permukaan bumi. Definisi
tersebut dengan tegas menyebutkan sistem komputer sebagai bagian yang tak
terpisahkan dari SIG, sehingga jika berbicara SIG kita tidak lepas dari komputer,
baik hardware maupun softwarenya. Dalam definisi tersebut. SIG tidak hanya
sebagai sistem tetapi juga sebagai teknologi.
Menurut Demers (1997) SIG adalah sistem komputer yang digunakan untuk
mengumpulkan, mengintegrasikan, dan menganalisis informasi-informasi yang
berhubungan dengan permukaan bumi.
UNIVERSITAS SUMATRA UTARA
9
Menurut Chrisman (1997) SIG adalah sistem yang terdiri atas perangkat
keras, perangkat lunak, data, manusia, organisasi, dan lembaga yang digunakan
untuk mengumpulkan, menyimpan, menganalisis, dan menyebarkan informasi-
informasi mengenai daerah-daerah di permukaan bumi.
Menurut Guo Bo (2000) SIG adalah teknologi informasi yang dapat
menganalisis, menyimpan, dan menampilkan, baik data spasial maupun nonspasial.
Menurut Purwadi (1994) SIG merupakan suatu sistem yang mengorganisir
perangkat keras (hardware), perangkat lunak (software), dan data, serta dapat
mendayagunakan sistem penyimpanan, pengolahan, maupun analisis data secara
simultan, sehingga dapat diperoleh informasi yang berkaitan dengan aspek
keruangan.
Sistem Informasi Geografis (SIG) dapat diartikan sebagai sistem informasi
yang digunakan untuk memasukkan, menyimpan, memangggil kembali, mengolah,
menganalisis dan menghasilkan data bereferensi geografis atau data geospasial,
untuk mendukung pengambilan keputusan dalam perencanaan dan pengelolaan
penggunaan lahan, sumber daya alam, lingkungan transportasi, fasilitas kota, dan
pelayanan umum lainnya. Kemampuan inilah yang membedakan SIG dengan sistem
informasi lainnya. Bagi para penggunanya, SIG tidak hanya mampu menampilkan
informasi tentang suatu lokasi, tepai lebih dari itu dapat digunakan untuk
menjelaskan kejadian, merencanakan strategi, dan memprediksi apa yang akan
terjadi. Sistem Informasi Geografis sangat dibutuhkan karena untuk data spatial
penanganannya sangat sulit terutama karena peta dan data statistik cepat kadaluarsa
sehingga tidak ada pelayanan penyediaan data dan informasi yang diberikan menjadi
tidak akurat.
UNIVERSITAS SUMATRA UTARA
10
Gambar 2.1 Ilustrasi Sistem Informasi Geografis
2.1.2 Komponen Sistem Informasi Geografis (SIG)
Gambar 2.2 Konsep Sistem Informasi Geografis
Sebagai suatu sistem, Sistem Informasi Geografis (SIG) tentunya dibentuk
oleh sejumlah komponen yang saling terkait di dalamnya. Komponen SIG terdiri atas
pelaksana, perangkat keras, perangkat lunak, prosedur, dan data. Secara global
kelima komponen tersebut dapat disederhanakan menjadi tiga komponen utama yang
lebih kompak yaitu: data, sistem komputer (perangkat keras dan perangkat lunak),
dan manusia (pelaksana).
UNIVERSITAS SUMATRA UTARA
11
[Link] Data Sistem Informasi Geografis (SIG)
Data dan informasi geografis (data spasial) adalah data dan informasi
mengenai objek-objek geografis yang dapat diidentifikasi dan mempunyai acuan
lokasi berdasarkan titik koordinat-koordinatnya. Data dan informasi tersebut dapat
dimasukkan secara langsung dengan cara mengimpor atau mengambil dari perangkat
lunak SIG, melalui digitasi peta, dan memasukkan data atribut berupa tabel-tabel.
Data dan informasi spasial terdiri atas:
a. Data Grafis, yaitu data dalam bentuk gambar atau peta dalam komputer. Data
tersebut, apabila dilihat dari strukturnya dapat berupa data vektor maupun
data raster. Data ini merupakan representasi fenomena permukaan bumi yang
memiliki referensi (koodinat) lazim berupa peta, foto udara, citra satelit dan
sebagainya atau hasil dari interpretasi data-data tersebut.
b. Data Atribut, disebut juga data tabular adalah data yang dinyatakan dalam
teks atau angka. Misalnya, nama jalan, nama sungai, nama gunung, nomor
rumah, panjang dan lebar sungai, dan lain-lain.
Gambar 2.3 Ilustrasi SIG dari sumber data hingga menghasilkan informasi
UNIVERSITAS SUMATRA UTARA
12
[Link] Perangkat Keras (Hardware)
Dalam pelaksanaannya Sistem Informasi Geografis (SIG) membutuhkan
perangkat keras (hardware). Hardware yang dimaksud tidak lain adalah Personal
Computer (PC) ataupun Laptop/ Notebook dan sejenisnya. Adapun kegunaannya
adalah untuk menyimpan dan memproses data Untuk pengerjaan yang sederhana,
mungkin kita hanya membutuhkan sedikit tenaga dari Central Prossesing Unit (CPU)
dan memory (RAM).
Spesifikasi hardware menjadi penting ketika SIG yang akan kita buat
berskala besar. Hal tersebut disebabkan data yang digunakan dalam SIG baik data
vektor maupun data raster penyimpanannya membutuhkan ruang yang besar dan
dalam proses analisanya membutuhkan memori yang besar dan prosesor yang cepat.
Untuk mengubah peta ke dalam bentuk digital diperlukan hardware yang disebut
digitizer.
Untuk menampilkan dat-data dari Sistem Informasi Geografis (SIG)
diperlukan output device. Adapun perangkat yang dimaksud antara lain adalah layar
monitor, printer serta plotter.
[Link] Perangkat Lunak (Software)
Data-data yang telah dikumpulkan kemudian diproses lebih lanjut dengan
menggunakan perangkat lunak tertentu sesuai kebutuhan. Perangkat lunak yang
dimaksud merupakan sistem modul yang berfungsi untuk memasukkan, menyimpan
dan mengeluarkan data yang diperlukan. Intinya perangkat lunak ini dijadikan
sebagai alat yang mampu menyediakan fungsi-fungsi untuk penyimpanan,
pengaturan, link, query dan analisa data geografi.
UNIVERSITAS SUMATRA UTARA
13
Gambar 2.4 Skematik perangkat lunak (software) sebagai pendukung SIG
Perangkat lunak dalam Sistem Informasi Geografis terdiri atas:
1. Sistem operasi, terdiri atas program-program yang berfungsi mengatur semua
sumber daya dan tata kerja komputer. Sistem operasi juga menyediakan
fasilitas-fasilitas dasar yang dapat digunakan program aplikasi untuk
menggunakan perangkat keras yang terpasang dalam komputer. pengendalian
komunikasi, pengolahan perintah-perintah, manajemen data. dan file, dan
lain-lain. Contoh sistem operasi ialah Microsoft Windows, LINUX, UNIX,
Macintosh.
2. Software aplikasi yang digunakan dalam SIG seperti ARC/Info, ArcView,
MapInfo, Idrisi, Erdas, Autocard for GIS, ErMapper, Ilwis, dan lain-lain.
3. Sistem utilitas dan program pendukung seperti bahasa pemrograman.
[Link] Sumberdaya Manusia (User)
Manusia dalam hal ini merupakan brainware, yaitu kemampuan dalam
pengelolaan dan pemanfaatan SIG secara efektif. Bagaimanapun manusia merupakan
subjek (pelaku) yang mengendalikan seluruh sistem, sehingga sangat dituntut
kemampuan dan penguasaannya terhadap ilmu dan teknologi mutakhir. Selain itu,
UNIVERSITAS SUMATRA UTARA
14
diperlukan pula kemampuan untuk memadukan pengelolaan dengan pemanfaatan
SIG, agar SIG dapat digunakan secara efektif dan efisien. Adanya koordinasi dalam
pengelolaan SIG sangat diperlukan agar informasi yang diperoleh tidak simpang siur,
tetapi tepat dan akurat.
Peranan manusia dalam SIG juga ada yang mengkategorikan sebagai
pengguna (user). Fungsi pengguna ialah untuk memilih informasi yang diperlukan,
membuat standar, membuat jadwal pemutakhiran (updating) yang efisien,
menganalisis hasil yang dikeluarkan untuk kegunaan yang diinginkan dan
merencanakan aplikasi.
2.1.3 Sub Sistem Sistem Informasi Geografis (SIG)
[Link] Input Data
Gambar 2.5 Sub Sistem SIG
Proses input data digunakan untuk menginputkan data spasial dan data non-
spasial. Data spasial biasanya berupa peta analog. Untuk SIG harus menggunakan
peta digital sehingga peta analog tersebut harus dikonversi ke dalam bentuk peta
UNIVERSITAS SUMATRA UTARA
15
digital dengan menggunakan alat digitizer. Selain proses digitasi dapat juga
dilakukan proses overlay dengan melakukan proses scanning pada peta analog.
[Link] Pengelolaan Data (data management)
Subsistem ini mengorganisasikan baik data spasial maupun data atribut ke
dalam sebuah basis data sedemikian rupa sehingga mudah dipanggil, di-update, dan
diedit. Jadi subsistem ini dapat menimbun dan menarik kembali dari arsip data dasar,
juga dapat melakukan perbaikan data dengan cara menambah, mengurangi atau
memperbaharui.
[Link] Manipulasi dan Analisis Data
Subsistem ini menentukan informasi-informasi yang dapat dihasilkan oleh
SIG dan melakukan manipulasi serta pemodelan data untuk menghasilkan informasi
yang diharapkan. Tipe data yang diperlukan oleh suatu bagian SIG mungkin perlu
dimanipulasi agar sesuai dengan sistem yang dipergunakan. Oleh karena itu SIG
mampu melakukan fungsi edit baik untuk data spasial maupun non-spasial.
[Link] Output Data
Informasi dari hasil analisis data kemudian ditampilkan dalam bentuk hard
copy ataupun soft copy. Untuk beberapa tipe operasi geografis, hasil akhir terbaik
diwujudkan dalam peta atau grafik. Peta sangatlah efektif untuk menyimpan dan
memberikan informasi geografis.
2.1.4 Data Spasial
Data yang mengendalikan Sistem Informasi Geografis (SIG) adalah data
spasial. Setiap fungsionalitas yang membuat Sistem Informasi Geografis (SIG)
dibedakan dari lingkungan analisis lainnya adalah karena berakar pada keaslian data
spasial. Data spasial menjelaskan fenomena geografi terkait dengan lokasi relatif
UNIVERSITAS SUMATRA UTARA
16
terhadap permukaan bumi (georeferensi), berformat digital dari penampakan peta,
berbentuk koordinat titik-titik, dan simbol-simbol mendefinisikan elemen-elemen
penggambaran (kartografi), dan dihubungkan dengan data atribut yang disimpan
dalam tabel-tabel sebagai penjelasan dari data spasial tersebut (georelational data
structure).
Data Spasial merupakan suatu data yang mengacu pada posisi, obyek, dan
hubungan diantaranya dalam ruang bumi. Data spasial merupakan salah satu item
dari informasi, dimana didalamnya terdapat informasi mengenai bumi termasuk
permukaan bumi, dibawah permukaan bumi, perairan, kelautan dan bawah atmosfir.
Data spasial dan informasi turunannya digunakan untuk menentukan posisi dari
identifikasi suatu elemen di permukaan bumi.
Perkembangan teknologi yang terjadi begitu cepat dalam pengambilan data
spasial telah membuat perekaman terhadap data berubah menjadi bentuk digital,
selain itu relatif cepat dalam melakukan prosesnya. Salah satunya perkembangan
teknologi yang berpengaruh terhadap perekeman data pada saat ini adalah teknologi
penginderaan jauh (remote sensing) dan Global Positioning System (GPS).
Dalam perkembangannya terdapat dua permasalahan utama dalam
pembangunan data spasial. Bermula dari ledakan informasi dimana informasi
tersebut diperlukan dalam perkembangan waktu yang terjadi. Hal ini sangatlah
bergantung pada perkembangan yang cepat dalam proses pengambilan dan
perekaman data spasial. Selanjutnya keterbatasan serta sulitnya melakukan akses dan
mendapatkan informasi spasial dari berbagai macam sumber data yang tersedia.
Konsekuensi yang terjadi terdapat kebutuhan yang sangat mendesak untuk
memecahkan permasalahan tersebut, yaitu dengan melakukan konsep berbagi pakai
UNIVERSITAS SUMATRA UTARA
17
data, integrasi dari aplikasi yang berbeda dan mengurangi duplikasi data dan
minimalisasi biaya pengeluaran yang terjadi.
Dalam pelaksanaannya terdapat dua pendorong utama dalam pembangunan
data spasial. Pertama adalah pertumbuhan kebutuhan suatu pemerintahan dan dunia
bisnis dalam memperbaiki keputusan yang berhubungan dengan keruangan dan
meningkatkan efisiensi dengan bantuan data spasial. Faktor pendorong kedua adalah
mengoptimalkan anggaran yang ada dengan meningkatkan informasi dan sistem
komunikasi secara nyata dengan membangun teknologi informasi spasial. Didorong
oleh faktor-faktor tersebut, maka banyak negara, pemerintahan dan organisasi
memandang pentingnya data spasial, terutama dalam pengembangan informasi
spasial atau yang lebih dikenal dengan Sistem Informasi Geografis (SIG). Tujuannya
adalah membantu pengambilan keputusan berdasarkan kepentingan dan tujuannya
masing-masing, terutama yang berkaitan dengan aspek keruangan. Oleh karena itu
data spasial yang telah dibangun, sedang dibangun dan yang akan dibangun perlu
diketahui keberadaanya.
[Link] Sumber Data Spasial
Data spasial sebagai salah satu fitur terpenting dari Sistem informasi
Geografis (SIG) dapat dihasilkan dari berbagai sumber. Sumber-sumber data spasial
tersebut antara lain
1. Peta Analog
Peta analog merupakan peta dalam bentuk cetak. Pada umumnya peta analog
dibuat dengan teknik kartografi, kemungkinan besar memiliki referensi spasial
seperti koordinat, skala, arah mata angin dan sebagainya. Jenis data ini merupakan
versi awal dari data spasial. yang mebedakannya adalah hanya dalam bentuk
UNIVERSITAS SUMATRA UTARA
18
penyimpanannya saja. Peta analog ini adalah bentuk tradisional dari data spasial,
dimana data ditampilkan dalam bentuk kertas atau film. Dalam tahapan SIG sebagai
keperluan sumber data, peta analog dikonversi menjadi peta digital dengan cara
format raster diubah menjadi format vektor melalui proses dijitasi sehingga dapat
menunjukan koordinat sebenarnya di permukaan bumi.
2. Data Hasil Pengukuran di Lapangan
Data ini dihasilkan dari hasil survei atau pengamatan dilapangan. Data
pengukuran lapangan yang dihasilkan berdasarkan teknik perhitungan tersendiri,
pada umumnya data ini merupakan sumber data atribut contohnya: batas
administrasi, batas kepemilikan lahan, batas persil, batas hak pengusahaan hutan dan
lain-lain.
3. Data Sistem Penginderaan Jauh
Data jenis ini merupakan sumber data yang terpenting bagi SIG karena
ketersediaanya secara berkala dan mencakup area tertentu. Dengan adanya
bermacam-macam satelit di ruang angkasa dengan spesifikasinya masing-masing,
kita bisa memperoleh berbagai jenis citra satelit untuk beragam tujuan pemakaian.
Data ini biasanya direpresentasikan dalam format raster. Data ini biasanya diperoleh
dari foto udara, citra satelit, dan sebagainya.
Citra Satelit menggunakan satelit sebagai wahananya. Satelit tersebut
menggunakan sensor untuk dapat merekam kondisi atau gambaran dari permukaan
bumi. Umumnya diaplikasikan dalam kegiatan yang berhubungan dengan
pemantauan sumber daya alam di permukaan bumi (bahkan ada beberapa satelit yang
sanggup merekam hingga dibawah permukaan bumi), studi perubahan lahan dan
lingkungan, dan aplikasi lain yang melibatkan aktifitas manusia di permukaan bumi.
UNIVERSITAS SUMATRA UTARA
19
Kelebihan dari teknologi ini terutama dalam dekade ini adalah dalam kemampuan
merakam cakupan wilayah yang luas dan tingkat resolusi dalam merekam obyek
yang sangat tinggi. Data yang dihasilkan dari citra satelit kemudian diturunkan
menjadi data tematik dan disimpan dalam bentuk basis data untuk digunakan dalam
berbagai macam aplikasi.
Foto udara (Aerial Photographs) merupakan salah satu sumber data yang
banyak digunakan untuk menghasilkan data spasial selain dari citra satelit.
Perbedaannya dengan citra satelit adalah hanya pada wahana dan cakupan
wilayahnya. Biasanya foto udara menggunakan pesawat udara. Secara teknis proses
pengambilan atau perekaman datanya hampir sama dengan citra satelit. Sebelum
berkembangan teknologi kamera digital, kamera yang digunakan adalah
menggunakan kamera konvensional menggunakan negatif film, saat ini sudah
menggunakan kamera digital, dimana data hasil perekaman dapat langsung disimpan
dalam basis data. Sedangkan untuk data lama (format foto film) agar dapat disimpan
dalam basis data harus dilakukan conversi dahulu dengan mengunakan scanner,
sehingga dihasilkan foto udara dalam format digital.
4. Data Global Positioning System (GPS)
Teknologi GPS memberikan terobosan penting dalam menyediakan data bagi
Sistem Informasi Geografis (SIG). Keakuratan pengukuran GPS semakin tinggi
dengan berkembangnya teknologi. Data ini biasanya direpresentasikan dalam format
vektor.
5. Data Tabular
Data ini berfungsi sebagai atribut bagi data spasial. Data ini umumnya
berbentuk tabel. Salah satu contoh data ini yang umumnya digunakan adalah data
UNIVERSITAS SUMATRA UTARA
20
sensus penduduk, data sosial, data ekonomi, dll. Data tabular ini kemudian di
relasikan dengan data spasial untuk menghasilkan tema data tertentu.
[Link] Model data Spasial
Model dunia nyata memudahkan manusia di dalam studi area aplikasi yang
dipilih dengan cara mereduksi sejumlah kompleksitas yang sebenarnya hadir. Di luar
area aplikasi yang dipilih diasumsikan tidak penting. Walaupun demikian, jika model
dunia nyata yang bersangkuan akan digunakan, model ini harus diimplementasikan
di dalam basis data serta dengan model data, implementasi ini menjadi mungkinkan
untuk dilaksanakan.
Komputer dapat memanipulasi objek-objek geometri seperti titik, garis, dan
polygongeometri yang digunakan di dalam model data. Pembawa informasi di
dalam model-model data adalah objek. Objek ini berhubungan dengan entities di
dalam model-model dunia nyata karena itu dianggap sebagai deskripsi fenomena
dunia nyata.
Terdapat dua model dalam data spasial, yaitu model data raster dan model
data vektor. Keduanya memiliki karakteristik yang berbeda, selain itu dalam
pemanfaatannya tergantung dari masukan data dan hasil akhir yang akan dihasilkan.
Model data tersebut merupakan representasi dari objek-objek geografi yang terekam
sehingga dapat dikenali dan diproses oleh komputer
[Link].2.1 Data Raster
Dalam model data raster setiap lokasi direpresentasikan sebagai suatu posisi
sel. Sel ini diorganisasikan dalam bentuk kolom dan baris sel-sel dan biasa disebut
sebagai grid. Dengan kata lain, model data raster menampilkan, menempatkan, dan
menyimpan data spasial dengan menggunakan struktur matriks atau piksel-piksel
UNIVERSITAS SUMATRA UTARA
21
yang membentuk grid. Setiap piksel atau sel ini memiliki atribut tersendiri, termasuk
koordinatnya yang unik.
Setiap baris matrik berisikan sejumlah sel yang memiliki nilai tertentu yang
merepresentasikan suatu fenomena geografik. Nilai yang dikandung oleh suatu sel
adalah angka yang menunjukan data nominal. Akurasi model data ini sangat
bergantung pada resolusi atau ukuran pikselnya di permukaan bumi.
Pada model data raster, matriks diurutkan menurut koordinat kolom (x) dan
barisnya (y). Pada sistem koordinat piksel monitor komputer, titik asal sistem
koordinat raster terletak di sudut kiri atas. Nilai absis (x) akan meningkat ke arah
kanan, dan nilai ordinat (y) akan membesar ke arah bawah. Walaupun demikian.
sistem koordinat ini sering pula ditransformasikan sehingga titik asal sistem
koordinat tererletak di sudut kiri bawah, makin ke kanan nilai absisnya (x) akan
meningkat. dan nilai ordinatnya (y) makin meningkat jika bergerak ke arah atas.
Keseluruhan data spasial raster disimpan di dalam layer yang secara
fungsionalitas direlasikan dengan unsur-unsur petanya. Contoh sumber-sumber data
spasial raster adalah citra satelit, misalnya NOAA. Spot, Landsad Ikonos, dll.
Kemudian citra radar, dan model ketinggian dijital seperti DTM atau DEM dalam
model data raster.
Model raster memberikan informasi spasial apa yang terjadi dimana saja
dalam bentuk gambaran yang digeneralisasi. Dengan model ini, dunia nyata disajikan
sebagai elemen matriks atau sel grid yang homogen. Dengan model data raster, data
geografi ditandai oleb nilai-nilai elemen matriks persegi panjang dari suatu objek.
Dengan demikian, secara konseptual, model data raster merupakan model data
spasial yang paling sederhana.
UNIVERSITAS SUMATRA UTARA
22
Gambar 2.6 Struktur Model Data Raster
Data raster dapat dikonversi ke sistem koordinat geo-referensi dengan cara
meregistrasi sistem grid raster ke sistem koordinat geo-referensi yang diinginkan.
Dengan demikian setiap sel pada grid memiliki posisi geo-referensi. Dengan adanya
sistem georeferensi, sejumlah set data raster dapat ditata sedemikian sehingga
memungkinkan dilakukan analisis spasial.
Resolusi suatu data raster akan merujuk pada ukunan permukaan bumi yang
direpresentasikan oleh setiap piksel. Makin kecil ukuran atau luas permukaan bumi
yang dapat direpresentasikan oleh setiap pikselnya, makin tinggi resolusi spasialnya.
Pada umumnya, lokasi di dalam model data raster, diidentifikasi dengan
menggunakan pasangan koordinat kolom dan baris (x,y).
Pemanfaatan model data raster banyak digunakan dalam berbagai aplikasi,
akan tetapi Environmental Systems Research Institute (ESRI), Inc (2006) membagi
menjadi empat kategori utama, yaitu :
UNIVERSITAS SUMATRA UTARA
23
Raster Sebagai Peta Dasar
Data raster Biasanya digunakan sebagai tampilan latar belakang (background)
untuk suatu layer dari obyek yang lain (vektor). Tiga sumber utama dari peta
dasar raster adalah foto udara, citra satelit, dan peta hasil scan.
Gambar 2.7 Foto Udara sebagai salah satu sumber peta dasar raster
Raster Sebagai Peta Model Permukaan
Data raster sangat cocok untuk merepresentasikan data permukaan bumi.
Data dapat menyediakan metode yang efektif dalam menyimpan informasi
nilai ketinggian yang diukur dari permukaan bumi. Selain dapat
merepresentasikan permukaan bumi, data raster dapat pula merepresentasikan
curah hujan, temperatur, konsentrasi, dan kepadatan populasi.
Gambar 2.8 Peta Raster yang menunjukan awan yang menyelubungi wilayah
UNIVERSITAS SUMATRA UTARA
24
Raster Sebagai Peta Tematik
Data raster yang merpresentasikan peta tematik dapat diturunkan dari hasil
analisis data lain. Aplikasi analisis yang sering digunakan adalah dalam
melakukan klasifikasi citra satelit untuk menghasilkan kategori tutupan lahan
(land cover). Pada dasarnya aktifitas yang dilakukan adalah mengelompokan
nilai dari data multispektral kedalam kelas tertentu (seperti tipe vegetasi) dan
memberikan nilai terhadap kategori tersebut. Peta tematik juga dapat
dihasilkan dari operasi geoprocessing yang dikombinasikan dari berbagai
macam sumber, seperti vektor, raster, dan data permukaan.
Raster Sebagai Atribut dari Obyek
Data raster dapat pula digunakan sebagai atribut dari suatu obyek, baik dalam
foto digital, dokumen hasil scan atau gambar hasil scan yang mempunyai
hubungan dengan obyek geografi atau lokasi.
Dalam implementasinya, pemakaian data raster memiliki beberapa kunggulan
tersendiri. Beberapa keunggulan pemakaian data raster antara lain:
1. Mudah dimanipulasi dengan menggunakan fungsi-fungsi matematis
sederhana (karena strukturnya sederhana seperti matrik bilangan biasa)
2. Memiliki struktur data yang sederhana.
3. Teknologi yang digunakan cukup murah dan tidak begitu kompleks
4. Compatible dengan citra-citra satelit pengindraan jauh dan semua image hasil
scanning data spasial.
5. Overlay dan kombinasi data spasial raster dengan data penginderaan jauh
mudah dilakukan.
UNIVERSITAS SUMATRA UTARA
25
6. Memiliki kemampuan-kemampuan pemodelan dan analisis spasial tingkat
lanjut.
7. Metode untuk mendapatkan citra raster lebih mudah (baik melalui scanning
dengan scanner segala ukuran yang sudah beredar luas, maupun dengan
menggunakan citra satelit atau konversi dan format).
8. Prosedur untuk memperoleh data dalam bentuk raster lebih mudah,
sederhana, dan murah.
9. Harga system perangkat lunak aplikasinya cenderung lebih murah.
Disamping keunggulan tersebut, pemakaian data raster memiliki berbagai
kekurangan diantaranya;
1. Secara umum, mernerlukan ruang atau tempat penyimpanan (disk) yang besar
di komputer.
2. Tampilan atau representasi, dan akurasi posisinya sangat bergantung pada
ukuran pikselnya.
3. Transformasi koordinat dan proyeksi lebih sulit dilakukan.
[Link].2 Data Vektor
Data vektor merupakan bentuk bumi yang direpresentasikan ke dalam
kumpulan garis, area (daerah yang dibatasi oleh garis yang berawal dan berakhir
pada titik yang sama), titik dan nodes (merupakan titik perpotongan antara dua buah
garis).
Ketepatan dalam merepresentasikan fitur titik, batasan dan garis lurus
merupakan keuntungan tersendiri dalam pemakaian data vektor. Hal ini sangat
berguna untuk analisa yang membutuhkan ketepatan posisi, misalnya pada basisdata
batas-batas kadaster. Contoh penggunaan lainnya adalah untuk mendefinisikan
UNIVERSITAS SUMATRA UTARA
26
hubungan spasial dari beberapa fitur. Kelemahan data vektor yang utama adalah
ketidakmampuannya dalam mengakomodasi perubahan gradual.
Gambar 2.9 Contoh Data Vektor
Titik bisa digunakan sebagai lokasi sebuah kota atau posisi tower radio. Garis
bisa digunakan untuk menunjukkan route suatu perjalanan atau menggambarkan
boundary. Poligon bisa digunakan untuk menggambarkan sebuah danau atau sebuah
Negara pada peta dunia. Setiap bagian dari data vector dapat saja mempunyai
informasi-informasi yang bersosiasi satu dengan lainnya seperti penggunaan sebuah
label untuk menggambarkan informasi pada suatu lokasi.
Fitur titik meliputi semua objek grafis atau geografis yang dikaitkan dengan
koordinat. Di samping koordinat-koordinat, data atau informasi yang diasosiasikan
dengan titik tersebut juga harus disimpan untuk menunjukkan jenis titik yang
bersangkutan.
Fitur garis dapat didefinisikan sebagai semua unsur-unsur linier yang
dibangun dengan menggunakan segmen-segmen garis lurus yang dibentuk oleh dua
titik koordinat atau lebih.
UNIVERSITAS SUMATRA UTARA
27
Gambar 2.10 Garis sebagai penghubung beberapa titik
Fitur Poligon digunakan untuk merepresentasikan objek-objek dua dimensi,
seperti danau, bataspropinsi, batas kota, batas persil tanah, dan lain-lain. Suatu
poligon paling sedikit dibatasi oleh tigagaris yang saling terhubung diantara ketiga
titik. Di dalam basis data, semua bentuk area dua dimensi direpresentasikan oleh
bentuk poligon.
Gambar 2.11 Peta Vektor yang menggambarkan jalan, dan batasan Negara
UNIVERSITAS SUMATRA UTARA
28
[Link].3 Perbandingan Data Raster dan Data Vektor
Beberapa Perbandingan antara keduanya dapat dijelaskan pada tabel berikut:
Tabel 2.1 Perbandingan data raster dan data vektor
Parameter Vektor Raster
Akurasi Akurat dan lebih presisi
Sangat bergantung dengan
ukuran grid/sel
Kompleksitas
Tinggi. Memerlukan
algortima dan proses yang
sangat kompleks
Mudah dalam mengorganisasi
dan proses
Atribut
Relasi langsung dengan
DBMS (database)
Grid/sel merepresentasikan
atribut. Relasi dengan DBMS
tidak secara langsung
Output
Kualitas tinggi sangat
bergantung dengan
plotter/printer dan kartografi
Bergantung terhadap output
printer/plotter
Analisis
Spasial dan atribut
terintegrasi. Kompleksitasnya
sangat tinggi
Bergantung dengan algortima
dan mudah untuk dianalisis
Resolusi Bermacam-macam Tetap
Sumber : Economic and Social Comminssion for Asia and the Pasific (1996) dan
A. Longley, et al. (2001)
2.1.5 Pengenalan Arcview 3.3
Arc View adalah salah satu software Sistem Informasi Geografis (SIG).
Softwere SIG mempunyai kemampuan untuk menampilkan, memanipulasi dan
merubah data SIG. Arc View merupakan salah satu perangkat lunak SIG dan
pemetaan Generasi ke-2 setelah Arcinfo yang dikembangkan oleh Environmental
Systems Research Institute (ESRI). Dengan ArcView kita dapat melakukan
visualisasi data spasial dan data tabular, menganalisis data secara geografis,
melakukan perhitungan statistik dan sebagainya.
Data SIG mempunyai dua komponen, yaitu komponen spatial atau geografis
dan komponen atribut atau table. Data spatial menampilkan lokasi geografis dari
suatu features. Pada umumnya feature tersebut ditampilkan dalam bentuk titik
(point), garis (line), polygon (polygone).
UNIVERSITAS SUMATRA UTARA
29
Gambar 2.12 contoh bentuk point dan poligon pada arcview
[Link] Struktur dan Istilah dalam Arcview
ArcView memiliki beberapa istilah sendiri yang harus dipelajari dan
dipahami agar dapat mempermudah pekerjaan kita dalam mengolah data SIG dengan
menggunakan ArcView.
a. Arcview Project
File ArcView Project (*.apr) mengandung sebuah set perintah yang menjelaskan
bagaimana tampilan data ArcView dan bagaimana data tersebut harus
ditampilkan. File project tidak mengandung data-data, file project hanya
menyimpan instruksi yang menunjukkan dimana data tersebut berada. Sebuah
ArcView Project terdiri dari beberapa komponen yang membangunnya, antara lain
Views, Tables, Charts, Layouts, dan Scripts.
Point
Polygon
UNIVERSITAS SUMATRA UTARA
30
Gambar 2.13 Tampilan Awal Arcview
b. View
View adalah komponen ArcView tempat kita menampilkan peta (data SIG). View
adalah sebuah workspace dimana kita dapat melakukan analisis data,
memanipulasi data dan menampilkan data. Layer-layer yang terdapat pada peta
kita disebut dengan istilah Themes. Dalam View, Themes ditampilkan di sisi kiri
workspace, list tersebut disebut dengan Table Of Content (TOC).
Gambar 2.14 Tampilan komponen view pada arcview
UNIVERSITAS SUMATRA UTARA
31
c. Tables
Table merupakan representasi data ArcView yang menampilkan data tabular.
Table menyajikan informasi deskriptif yang menjelaskan feature-feature tentang
layer tertentu pada suatu View (misalnya : lebar jalan, luas suatu kota, atau
jumlah penduduk suatu kecamatan). Setiap baris atau record dari suatu Table
didefinisikan sebagai satu anggota dari kelompok besar. Sedangkan setiap kolom
atau field mendefinisikan atribut atau karakteristik tunggal dari kelompok itu.
Gambar 2.15 Tampilan komponen table pada arcview
d. Charts dan Script
Chart menampilkan data tabulaer secara visual dalam bentuk grafik. Chart juga
bisa merupakan hasil suatu querry terhadap tabel data. ArcView menyediakan
enam jenis grafik, yaitu : area, bar, column, line, pie dan x y scatter.
Script merupakan bahasa (semi) pemrograman sederhana (makro) yang digunakan
untuk otomatisasi kerja ArcView. ArcView menyediaakn fasilitas ini dengan
sebutan Avenue sehingga pengguna dapat memodifikasi tampilan ArcView,
membuat program, menyederhanakan tugas-tugas kompleks, dan berkomunikasi
dengan software lainnya seperti ArcInfo dan lainnya.
UNIVERSITAS SUMATRA UTARA
32
e. Layouts
Menyediakan teknik-teknik untuk menggabungkan dan menyusun dokumen-
dokumen dalam Project (View,Table,Chart) dan komponen-komponen peta
lainnya seperti arah utara dan skala guna menciptakan peta akhir untuk dicetak
atau diplot.
Gambar 2.16 Tampilan komponen layout pada arcview
f. GeoProcessing Wizard
Geoprosessing merupakan suatu perintah dalam arcview. GeoProcessing adalah
operasi tumpang tindih dalam SIG umumnya dilakukan dengan salah satu dari
empat cara yang dikenal, yaitu:
UNIVERSITAS SUMATRA UTARA
33
pemanfaatan fungsi logika seperti gabungan (union), irisan (intersection),
pilihan (and dan or), perbedaan (difference) dan pernyataan bersyarat (if, then
dan else).
pemanfaatan fungsi relasional seperti ukuran lebih-besar, lebih-kecil, sama
besar dan kombinasinya.
pemanfaatan fungsi aritmatika seperti penambahan, pengurangan, pengalian
dan pembagian.
menyilangkan dua peta langsung berbagai manipulasi teknik tumpang-tindih
ini umumnya bervariasi yang ditentukan pengetahuan operator dan tingkat
kemampuan perangkat lunak. Selain itu salah satu faktor utama adalah
struktur data yang sedang dipakai.
Gambar 2.17 Contoh analisis overlay
Perintah GeoProcessing akan muncul ketika extension GeoProcessing telah
diaktifkan. Pengaktifannya melalui menu file, extension, kemudian ceklist extension
GeoProcessing.
UNIVERSITAS SUMATRA UTARA
34
Gambar 2.18 Kotak dialog extension pada arcview
g. Active, Visible, dan Selected
Theme yang active diperlihatkan lebih menonjol pada Tabel Of Content. Theme
yang active adalah theme yang akan diedit atau dianalisa oleh ArcView. Untuk
membuat sebuah theme menjasi active, cukup pilih (klik) pada nama theme yang
terdapat di Table Of Content.
Sebuah Theme dapat menjadi visible (terlihat) dan invisible (tidak terlihat), untuk
membuat sebuah theme menjadi visible, cukup beri tanda ceklist pada kotak kecil
disebelah nama theme yang akan diperlihatkan.
Feature dalam sebuah theme dapat dipilih (selected). Feature yang terpilih akan
berwarna kuning. Jika ada feature yang terpilih, maka ArcView akan melakukan
pengeditan atau analisa hanya pada features yang terpilih.
UNIVERSITAS SUMATRA UTARA
35
Gambar 2.19 Arcview active theme dan visible
h. Shapefile
ArcView memiliki format data tersendiri yang disebut dengan shapefiles.
Shapefiles adalah format data yang menyimpan lokasi geometrik dan informasi
atribut dari suatu feature geografis. Pada umumnya kita hanya butuh satu file
kerja seperti file Microsoft Word dengan extension file *.doc, akan tetapi
visible, active, not selected
visible, active, not selected
Invisible, inactive, selected
UNIVERSITAS SUMATRA UTARA
36
shapefile memiliki perbedaan, yaitu bahwa satu shapefile memiliki beberapa file
yang saling berkaitan satu sama lainnya. Beberapa file ini memiliki extension
yang berbeda-beda yang disimpan dalam workspace yang sama. Berikut adalah
daftar beberapa file extension yang merupakan bagian dari ArcView shapefile :
.shp - File yang menyimpan feature geometri (diperlukan dalam sebuah
shapefile)
.shx - File yang menyimpan index dari feature geometri (diperlukan dalam
sebuah shapefile)
.dbf - File dBASE yang menyimpan informasi atribut dari suatu feature
(diperlukan dalam sebuah shapefile)
.sbn dan .sbx File yang menyimpan spatial index dari feature (optional)
.fbn dan .fbx File yang menyimpan spatial index dari feature shapefile
yang read-only (optional)
.ain dan .aih File yang menyimpan index atribut dari field yang aktif
dalam sebuah tabel (optional)
.prj - File yang menyimpan informasi koordinat dari sebuah shapefile, file
ini dapat muncul jika kita menggunakan ArcView Projection Utility
(optional)
UNIVERSITAS SUMATRA UTARA
37
2.2 Daerah Aliran Sungai (DAS)
2.2.1 Pengertian dan Konsep DAS
Daerah Aliran Sungai (DAS) adalah daerah yang di batasi punggung-
punggung gunung dimana air hujan yang jatuh pada daerah tersebut akan ditampung
oleh punggung gunung tersebut dan akan dialirkan melalui sungai-sungai kecil ke
sungai utama.
Salah satu fungsi utama dari DAS adalah sebagai pemasok air dengan
kuantitas dan kualitas yang baik terutama bagi orang di daerah hilir. Alih guna lahan
hutan menjadi lahan pertanian akan mempengaruhi kuantitas dan kualitas tata air
pada DAS yang akan lebih dirasakan oleh masyarakat di daerah hilir. Persepsi umum
yang berkembang pada saat ini, konversi hutan menjadi lahan pertanian
mengakibatkan penurunan fungsi hutan dalam mengatur tata air, mencegah banjir,
longsor dan erosi pada DAS tersebut. Hutan selalu dikaitkan dengan fungsi positif
terhadap tata air dalam ekosistem DAS.
Fungsi hutan dalam ekosistem DAS perlu dipandang dari tiga aspek berbeda,
yaitu pohon, tanah dan lansekap (landscape). Vegetasi hutan berfungsi
mengintersepsi air hujan, namun laju transpirasi yang tinggi mengakibatkan
perbandingan dengan jenis vegetasi non-irigasi lainnya. Tanah hutan memiliki
lapisan seresah yang tebal, kandungan bahan organik tanah, dan jumlah makro
porositas yang cukup tinggi sehingga laju infiltrasi air lebih tinggi dibandingkan
dengan lahan pertanian. Dari sisi lansekap, hutan tidak peka terhadap erosi karena
memiliki filter berupa seresah pada lapisan tanahnya. Hutan dengan karakteristik
tersebut di atas sering disebut mampu meredam tingginya debit sungai pada saat
musim hujan dan menjaga kestabilan aliran air pada musim kemarau.
UNIVERSITAS SUMATRA UTARA
38
Daerah resapan air berperan sebagai penyaring air tanah. Ketika air masuk ke
daerah resapan maka akan terjadi proses penyaringan air dari partikel-partikel yang
terlarut di dalamnya. Hal ini dimungkinkan karena perjalanan air dalam tanah sangat
lambat dan oleh karenanya memerlukan waktu yang relatif lama. Pada keadaan
normal, aliran air tanah langsung masuk ke sungai yang terdekat.
2.2.2 Ekosistem Daerah Aliran Sungai
Ekosistem adalah suatu sistem ekologi yang terdiri atas komponen-komponen
yang saling berinteraksi sehingga membentuk suatu kesatuan. Sistem tersebut
mempunyai sifat tertentu, tergantung pada jumlah dan jenis komponen yang
menyusunnya. Besar-kecilnya ukuran ekosistem tergantung pada pandangan dan
batas yang diberikan pada ekosistem tersebut. Daerah aliran sungai dapatlah
dianggap sebagai suatu ekosistem.
Ekositem terdiri atas komponen biotis dan abiots yang saling berinteraksi
membentuk satu kesatuan yang teratur. Dengan demikian, dalam suatu ekosistem
tidak ada satu komponen pun yang berdiri sendiri, melainkan mempunyai keterkaitan
dengan komponen lain, langsung atau tidak langsung, besar atau kecil. Aktivitas
suatu komponen sistem selalu memberi pengaruh pada komponen ekosistem yang
lain. Manusia adalah salah satu komponen ekosistem yang penting. Sebagai
komponen yang dinamis, manusia dalam menjalankan aktivitasnya seringkali
mengakibatkan dampak pada salah satu komponen lingkungan, dan dengan
demikian, mempengaruhi ekosistem secara keseluruhan. Selama hubungan timbal-
balik antar komponen ekosistem dalam keadaan seimbang, selama itu pula ekosistem
berada dalam kondisi stabil. Sebaliknya bila hubungan timbal-balik antar komponen-
komponen lingkungan mengalami gangguan, maka terjadilah gangguan ekologis.
UNIVERSITAS SUMATRA UTARA
39
Uraian di atas mengisyaratkan bahwa ekosistem harus dilihat secara holistik,
yaitu dengan cara mengidentifikasi komponen-komponen kunci penyusun ekosistem
serta menelaah interaksi antar komponen-komponen tersebut. Pendekatan holistik
dilakukan agar pemanfaatan dan konservasi sumberdaya alam dapat dilakukan secara
efisien dan efektif, syarat yang diperlukan bagi terwujudnya pemanfaatan
sumberdaya alam untuk pembangunan yang berkelanjutan.
Dalam mempelajari ekosistem DAS, daerah aliran sungai biasanya dibagi
menjadi daerah hulu, tengah dan hilir. Secara biogeofisik, daerah hulu DAS dicirikan
oleh hal-hal sebagai berikut: merupakan daerah konservasi, mempunyai kerapatan
drainase lebih tinggi, merupakan daerah dengan kemiringan lereng besar (lebih besar
dari 15%), bukan merupakan daerah banjir, pengaturan pemakaian air ditentukan
oleh pola drainase, dan jenis vegetasi umumnya merupakan tegakan hutan.
Sementara daerah hilir DAS dicirikan oleh hal-hal sebagai berikut: merupkan daerah
pemanfaatan, kerapatan drainase lebih kecil, merupakan daerah dengan kemiringan.
lereng kecil sampai dengan sangat kecil (kurang dari 8%), pada beberapa tempat
merupakan daerah banjir (genangan), pengaturan pemakaian air ditentukan oleh
bangunan irigasi, dan jenis vegetasi didominasi tanaman pertanian kecuali daerah
estuaria yang didominasi hutan bakau. Daerah aliran sungai bagian tengah
merupakan daerah transisi dari kedua karakteristik biogeofisik DAS yang berbeda
tersebut di atas.
Ekosistem DAS hulu merupakan bagian yang penting karena mempunyai
fungsi perlindungan terhadap seluruh bagian DAS. Perlindungan ini antara lain, dari
segi fungsi tata air. Oleh karena itu, DAS hulu seringkali menjadi fokus perencanaan
UNIVERSITAS SUMATRA UTARA
40
pengelolaan DAS mengingat bhwa dalam suatu DAS, daerah hulu dan hilir
mempunyai keterkaitan biofisik melalui daur hidrologi.
Sebagai suatu kesataun ekosistem, DAS perlu dikelola secara baik mulai
daerah hulu hingga hilir. Hal ini untuk mengantisipasi terjadinya hal-hal yang
tentunya tidak diinginkan seperti erosi, banjir dan lain-lain.
2.3 Erosi Tanah
2.3.1 Pengertian Erosi
Kata erosi mungkin sangat familiar karena sudah dipelajari sejak dulu.
Mendengar kata erosi tentunya tak lain yang ada di benak kita adalah pengikisan.
Sebenarnya kata eorsi berasal dari kata Latin erodere, artinya mengerkah atau
mengampelas.
Erosi merupakan tiga proses yang berurutan, yaitu pelepasan (detachment),
pengangkutan (transportation), dan pengendapan (deposition) bahan-bahan tanah
oleh penyebab erosi. Erosi dapat dikatakan sebagai peristiwa berpindahnya atau
terangkutnya tanah atau bagian tanah dari suatu tempat ke tempat lain oleh suatu
media alami (air atau angin).
Erosi tanah (soil erosion) adalah proses penghanyutan tanah dan merupakan
gejala alam yang wajar dan terus berlangsung selama ada aliran permukaan. Erosi
semacam itu melaju seimbang dengan laju pembentukan tanah sehingga tanah
mengalami peremajaan secara berkesinambungan.
Proses erosi terdiri atas tiga bagian berurutan yaitu pengelupasan
(detachment), pengangkutan (transportation), dan pengendapan (sedimentation).
Selain dapat disebabkan oleh air hujan, erosi juga dapat terjadi karena tenaga angin
dan salju.
UNIVERSITAS SUMATRA UTARA
41
Dua peristiwa utama erosi, yaitu pelepasan dan pengangkutan merupakan
penyebab erosi tanah yang penting. Dalam proses erosi, pelepasan butir tanah
mendahului peristiwa pengangkutan, tetapi pengangkutan tidak selalu diikuti oleh
pelepasan. Agen pelepasan tanah yang penting adalah tetesan butir hujan yang jatuh
di permukaan tanah. Tetesan air hujan akan memukul permukaan tanah,
mengakibatkan gumpalan tanah menjadi butir-butir yang lebih kecil dan terlepas.
Butir-butir tanah yang terlepas tersebut sebagian akan terlempar ke udara (splash)
dan jatuh lagi di atas permukaan tanah, dan sebagian kecil akan mengisi pori-pori
kapiler tanah, sehingga akan menghambat proses infiltrasi.
Aliran permukaan akan terjadi apabila air hujan yang masuk ke dalam tanah
telah melampaui kapasitas infiltrasinya. Aliran tersebut mula-mula laminer, tetapi
lama-kelamaan berubah menjadi turbulent karena pengaruh permukaan tanah yang
dilaluinya. Turbulensi aliran ini digunakan untuk melepas lagi butir-butir tanah
dengan cara mengangkat dari massanya dan menggulingkan butir-butir tanah
tersebut, serta terjadi pula penggemburan butirbutir tanah dari masanya oleh butir-
butir tanah yang terkandung dalam aliran permukaan. Aliran permukaan lama-
kelamaan akan berkurang sejalan dengan berkurangnya curah hujan. Oleh karena itu,
kemampuan pengangkutannya akan menyusut, dan pada suatu saat saja akan
berhenti. Dalam keadaan inilah terjadi pengendapan butir-butir partikel tanah yang
merupakan proses akhir terjadinya erosi.
Dua sebab utama terjadinya erosi adalah karena sebab alamiah dan aktivitas
manusia. Erosi alamiah dapat terjadi karena adanya pembentukan tanah dan proses
yang terjadi untuk mempertahankan keseimbangan tanah secara alami. Sedangkan
erosi karena aktivitas manusia disebabkan oleh terkelupasnya lalpisan tanah bagian
UNIVERSITAS SUMATRA UTARA
42
atas akibat cara bercocok tanam yang tidak mengindahkan kaidah-kaidah konservasi
tanah atau kegiatan pembangunan yang bersifat merusak keadaan fisik tanah.
Ada beberapa jenis erosi tanah yang disebabkan oleh air hujan yang umum
dijumpai di daerah tropis, yaitu:
1. Erosi percikan
(splash erosion) adalah proses terkelupasnya partikel-partikel tanah sebagain atas
oleh tanaga kinetic air hujan bebas atau sebagai air lolos. Tenaga kinetik tersebut
ditentukan oleh dua hal, massa dan kecepatan jatuhan air. Tenaga kinteik bertambah
besar dengan bertambahnya besar diameter air hujan dan jarak antara ujung daun
penetes (driptips) dan permukaan tanah (pada proses erosi di bawah tegakan
vegetasi).
2. Erosi Kulit
(sheet erosion) adala erosi yang terjadi ketika lapisan tipis permukaan tanah di
daerah berlereng terkikis oleh kombinasi air hujan dan air larian (runoff). Tipe erosi
ini disebabkan oleh kombinasi air hujan dan air larian yang mengalir ke tempat yang
lebih rendah. Berdasarkan sumber tenaga penyebab erosi kulit, tenaga kinetis air
hujan lebih penting karena kecepatan air jatuhan lebih besar, yaitu antara 0,3 sampai
0,6 m/dt (Schwab et al., 1981). Tenaga kinetik air hujan akan menyebabkan lepasnya
partikel-partikel tanah dan bersama-sama dengan pengedapan sedimen di atas
permukaan tanah, menyebabkan turunnya laju infiltrasi karena pori-pori tanah
tertutup oleh kikisan partikel tanah. Bentang lahan dengan komposisi lapisan
permukaan tanah atas yang rentan/lepas terletak di atas lapisan bawah permukaan
yang solid merupakan bentang lahan dengan potens iterjidinya erosi kulit besar.
UNIVERSITAS SUMATRA UTARA
43
Besar kecilnya tenaga penggerak terjadinya erosi kulit ditentukan oleh kecepatan dan
kedalaman air larian.
3. Erosi alur
(rill erosion) Erosi alur adalah pengelupasan yang diikuti dengan pengangkutan
partikel-partikel tanah oleh aliran air larian yang terkonsentrasi di dalam saluran-
saluran air. Hal ini terjadi ketika air larian masuk ke dalam cekungan permukaan
tanah, kecepatan air larian meningkat dan akhirnya terjadilah transpor sedimen.
Dalam hubungannya dengan faktor-faktor penyebab erosi ditegaskan bahwa tipe
erosi ini terbentuk oleh tanah yang kehilangan daya ikat partikel-partikel tanah
sejalan dengan meningkatnya kelembapan tanah di tempat tersebut. Kelembapan
tanah yang berlebihan akan mengakibatkan tanah longsor. Bersama dengan
longsornya tanah, kecepatan air larian ini mengangkut sedimen hasil erosi dan ini
menandai awal dari terjadinya erosi parit.
4. Erosi parit/selokan
(gully erosion) membentuk jajaran parit yang lebih dalan dan lebar dan
merupakan tingkat lanjutan dari erosi alur. Erosi parit dapat diklasifikasikan sebagai
parit bersambungan dan parit terputus-putus. Erosi parit terputus dapat dijumpai di
daerah yang bergunung. Erosi tipe ini biasanya diawali oleh adanya gerusan yang
melabar di bagian atas hamparan tanah miring yang berlangsung dalam waktu relatif
singkat akibat adanya air larian yang besar.
UNIVERSITAS SUMATRA UTARA
44
2.3.2 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Erosi
Adapun beberapa faktor yang mepengaruhi erosi adalah:
1. Iklim
Pada daerah tropis faktor iklim yang paling besar pengaruhnya terhadap laju
erosi adalah hujan. Jumlah dan intensitas hujan di Indonesia umumnya lebih tingi
dibandingkan dengan negara beriklim sedang. Besarnya curah hujan menentukan
kekuatan dispersi, daya pengangkutan dan kerusakan terhadap tanah (Arsyad, 1989).
Intensitas dan besarnya curah hujan menentukan kekuatan dispersi terhadap tanah.
Jumlah curah hujan rata-rata yang tinggi tidak menyebabkan erosi jika intensitasnya
rendah, demikian pula intensitas hujan yang tinggi tidak akan menyebabkan erosi
bila terjadi dalam waktu yang singkat karena tidak tersedianya air dalam jumlah
besar untuk menghanyutkan tanah. Sebaliknya jika jumlah dan intensitasnya tinggi
akan mengakibatkan erosi yang besar.
2. Tanah
Tanah merupakan faktor penting yang menentukan besarnya erosi yang
terjadi. Faktor-faktor tanah yang berpengaruh antara lain adalah ketahanan tanah
terhadap daya rusak dari luar baik oleh pukulan air hujan maupun limpasan
permukaan dan kemampuan tanah untuk menyerap air hujan melalui perkolasi dan
infiltrasi.
Kepekaan atau ketahanan tanah terhadap erosi berbeda-beda sesuai dengan
sifat fisik dan kimia tanah. Perbedaan ketahanan ini umumnya dinyatakan dalam
nilai erodibilitas tanah. Semakin tinggi nilai erodibilitas tanah, semakin mudah tanah
tersebut tererosi. Secara umum tanah dengan debu yang tinggi, liat yang rendah dan
kandungan bahan organik sedikit mempunyai kepekaan erosi yang tinggi. Nilai
UNIVERSITAS SUMATRA UTARA
45
erodibilitas suatu tanah ditentukan oleh ketahanan tanah terhadap daya rusak dari
luar dan kemampuan tanah menyerap air (infiltrasi dan perkolasi). Ketahanan tanah
menentukan mudah tidaknya massa tanah dihancurkan, sedangkan infiltrasi dan
perkolasi mempengaruhi volume limpasan permukaan yang mengikis dan
mengangkut hancuran masa tanah.
Sifat-sifat tanah yang penting pengaruhnya terhadap erosi adalah
kemampuannya untuk menginfiltrasikan air hujan yang jatuh serta ketahanannya
terhadap pengaruh pukulan butir-butir hujan dan aliran permukaan. Tanah dengan
agregat yang stabil akan lebih tahan terhadap pukulan air hujan dan bahaya erosi.
Kapasitas infiltrasi tanah sangat dinamis, dapat berubah atau diubah oleh waktu atau
pengolahan tanah.
Sifat-sifat tanah yang mempengaruhi erosi adalah tekstur, struktur, bahan
organik, dan sifat lapisan bawah tanah. Tanah dengan kandungan liat yang tinggi
sukar tererosi, karena liat memiliki kemampuan memantapkan agregat tanah.
Struktur tanah mempengaruhi besarnya erosi, tanah-tanah yang berstruktur
granuler lebih terbuka dan akan menyerap air lebih cepat daripada tanah yang
berstruktur masif. Demikian pula peranan bahan organik penting terhadap stabilitas
struktur tanah, karena bahan organik tanah berfungsi memperbaiki kemantapan
agregat tanah, memperbaiki struktur tanah dan menaikkan daya pegang air tanah.
Sifat lapisan bawah tanah yang menentukan kepekaan erosi adalah permeabilitas.
3. Topografi
Topografi diartikan sebagai tinggi rendahnya permukaan bumi yang
menyebabkan terjadi perbedaan lereng. Kemiringan dan panjang lereng adalah dua
unsur topografi yang paling berpengaruh terhadap aliran permukaan dan erosi. Erosi
akan meningkat dengan bertambahnya panjang lereng pada intensitas hujan tinggi,
UNIVERSITAS SUMATRA UTARA
46
tetapi erosi akan menurun dengan bertambahnya panjang lereng pada intensitas hujan
yang rendah. Unsur lain yang berpengaruh adalah konfigurasi, keseragaman, dan
arah lereng.
Bentuk lereng juga berpengaruh terhadap erosi. Bentuk lereng dibedakan atas
lereng lurus, lereng cembung, lereng cekung dan lereng kompleks. Lereng lurus
dicirikan oleh kemiringan yang seragam pada seluruh bagian lereng. Lereng
cembung semakin curam ke arah lereng bawah, sedangkan lereng cekung semakin
landai ke arah lereng bawah. Lereng yang cembung umumnya tererosi lebih besar
daripada lereng cekung.
Perbedaan aspek lereng menimbulkan perbedaan besarnya erosi yang terjadi
karena perbedaan penyinaran matahari dan kelembaban. Untuk daerah tropis, aspek
lereng tidak terlalu menyebabkan perbedaan erosi yang besar karena matahari berada
hampir tegak lurus dari permukaan.
4. Vegetasi
Pengaruh vegetasi terhadap aliran permukaan dan erosi dapat dibagi menjadi
4 bagian, yaitu: (a) intersepsi hujan oleh tajuk tanaman; (b) mempengaruhi kecepatan
aliran permukaan dan kekuatan perusak air; (c) pengaruh akar dan kegiatan-kegiatan
biologi yang berhubungan dengan pertumbuhan vegetatif dan pengaruhnya terhadap
porositas tanah; (d) transpirasi yang mengakibatkan keringnya tanah.
Hutan atau padang rumput yang tebal merupakan pelindung tanah yang
efektif terhadap bahaya erosi. Tanaman yang tinggi biasanya menyebabkan erosi
yang lebih besar dibandingkan tanaman yang rendah, karena air yang tertahan oleh
tanaman masih dapat merusak tanah pada saat jatuh di permukaan tanah. Selain
mengurangi pukulan butir-butir air hujan pada tanah, tanaman juga berpengaruh
UNIVERSITAS SUMATRA UTARA
47
dalam menurunkan kecepatan aliran permukaan dan mengurangi kandungan air tanah
melalui transpirasi.
5. Manusia
Manusia dapat mencegah dan mempercepat terjadinya erosi, tergantung
bagaimana manusia mengelolahnya. Manusialah yang menentukan apakah tanah
yang dihasilkannya akan merusak dan tidak produktif atau menjadi baik dan
produktif secara lestari. Banyak faktor yang menentukan apakah manusia akan
mempertahankan dan merawat serta mengusahakan tanahnya secara bijaksana
sehingga menjadi lebih baik dan dapat memberikan pendapatan yang cukup untuk
jangka waktu yang tidak terbatas.
Pembuatan teras, penanaman secara berjalur, penanaman atau pengolahan
tanah menurut kontur, perlindungan tanah dengan mulsa adalah kegiatan manusia
yang dapat menurunkan erosi. Di lain pihak, penanaman searah lereng, perladangan
dan penggunaan lahan tanpa memperhatikan kaidah konservasi akan meningkatkan
bahaya erosi. Pengolahan tanah menurut kontur secara umum mengurangi erosi
secara efektif terutama bila terjadi hujan lebat dengan intensitas sedang sampai
rendah. Pembuatan teras berfungsi mengurangi panjang lereng sehingga kecepatan
aliran permukaan bisa dikurangi dan memungkinkan penyerapan air oleh tanah lebih
besar, akibatnya erosi menjadi berkurang.
2.3.3 Dampak Erosi
Erosi akan menyebabkan menipisnya lapisan permukaan tanah bagian atas,
yang akan menyebabkan menurunnnya kemampuan lahan (degradasi lahan). Akibat
lain dari erosi adalah menurunnya kemampuan tanah untuk meresapkan air
(infiltrasi). Penurunan kemampuan lahan meresapkan air ke dalam lapisan tanah akan
UNIVERSITAS SUMATRA UTARA
48
meningkatkan limpasan air permukaan yang akan mengakibatkan banjir di sungai.
Selain itu butiran tanah yang terangkut oleh aliran permukaan pada akhirnya akan
mengendap di sungai (sedimentasi) yang selanjutnya akibat tingginya sedimentasi
akan mengakibatkan pendangkalan sungai sehingga akan memengaruhi kelancaran
jalur pelayaran.
2.4 Metode USLE Sebagai Model Pendugaan Erosi
Erosi sangat menentukan berhasil tidaknya suatu pengelolaan lahan. Oleh
karena itu, erosi merupakan faktor yang harus dipertimbangkan dalam perencanaan
penggunaan lahan dan pengelolaannya. Salah satu alat bantu yang dapat digunakan
dalam perencanaan penggunaan lahan adalah model prediksi erosi. Secara ideal,
metode prediksi erosi harus memenuhi persyaratan-persyaratan yang nampaknya
bertentangan, yaitu: dapat diandalkan, secara universal dapat dipergunakan, mudah
digunakan dengan data yang minimum, konprehensif dalam hal faktor-faktor yang
digunakan, dan mempunyai kemampuan untuk mengikuti perubahan-perubahan tata
guna lahan dan tindakan konservasi tanah. Karena rumitnya sistem erosi tanah
dengan berbagai faktor yang berinteraksi, maka pendekatan yang paling memberi
harapan dalam pengembangan metode dan prediksi adalah dengan merumuskan
model konseptual proses erosi itu.
Pemodelan erosi tanah adalah penggambaran secara matematik proses-proses
penghancuran, transport, dan deposisi partikel tanah di atas permukaan lahan. Paling
tidak terdapat tiga alasan dilakukannya pemodelan erosi, yaitu:
a. Model erosi dapat digunakan sebagai alat prediksi untuk menilai/menaksir
kehilangan tanah yang berguna untuk perencanaan konservasi tanah (soil
UNIVERSITAS SUMATRA UTARA
49
conservation planning), perencanaan proyek (project planning), inventarisasi
erosi tanah, dan untuk dasar pembuatan peraturan (regulation);
b. model-model matematik yang didasarkan pada proses fisik (physically-based
mathematical models) dapat memprediksi erosi dimana dan kapan erosi terjadi,
sehingga dapat membantu para perencana konservasi tanah dalam menentukan
targetnya untuk menurunkan erosi;
c. model dapat dijadikan sebagai alat untuk memahami proses-proses erosi dan
interaksinya, dan untuk penetapan prioritas penelitian.
USLE adalah model erosi yang dirancang untuk memprediksi rata-rata erosi
tanah suatu areal dengan sistem pertanaman dan pengelolaan lahan tertentu.
2.4.1 Menghitung Perkiraaan Erosi Menggunakan Model USLE
Universal soil Loss Equation (USLE) merupakan suatu model yang dirancang
untuk menduga ataupun memprediksi erosi. Adapun persamaannya adalah sebagai
berikut:
A = [Link].C.P ........................................................................................(2.1)
Dimana
A = jumlah tanah hilang (ton/ha/tahun),
R = erosivitas curah hujan tahunan rata-rata
K = indeks erodibilitas tanah
LS = indeks panjang dan kemiringan lereng
C = indeks pengelolaan tanaman
P = indeks upaya konservasi tanah/lahan
UNIVERSITAS SUMATRA UTARA
50
[Link] Erosivitas Hujan (R)
Kemampuan hujan untuk menimbulkan ataupun menyebabkan erosi pada
suatu wilayah dikatakan erosivitas hujan. Faktor penentunya antara lain intensitas
hujan, diameter butir-butir hujan, kecepatan jatuhnya butir hujan dan faktor
kecepatan angin.
Berdasarkan data curah hujan bulanan maksimum, faktor erosivitas hujan (R)
dapat dihitung dengan mempergunakan persamaan Lenvain sebagai berikut:
Rm =
1,36
(Rain)m 21 , 2 ..................................................................................(2.2)
R = Rm
12
=1
..........................................................................................(2.3)
Keterangan: R = erosivitas curah hujan tahunan rata-rata, Rm = erosivitas curah
hujan bulanan, (Rain)m = curah hujan bulanan (cm).
[Link] Erodibilitas Tanah (K)
Erodibilitas Tanah adalah tingkat kepekaan suatu jenis tanah terhadap erosi.
Kepekaan tanah terhadap erosi (erodibilitas) tanah dapat didefinisikan sebagai mudah
tidaknya suatu tanah tererosi. Erodibilitas tanah dapat juga dikatakan mudah tidaknya
tanah untuk dihancurkan oleh kekuatan jatuhnya butir-butir hujan atau oleh kekuatan
aliran permukaan. Erodibilitas alami tanah merupakan sifat kompleks yang
tergantung pada laju infiltrasi tanah dan kapasitas tanah untuk bertahan terhadap
penghancuran agregat (detachment) serta pengangkutan oleh hujan dan aliran
permukaan.
Erodibilitas tanah dipengaruhi oleh banyak sifat-sifat tanah, yakni sifat fisik,
mekanik, hidrologi, kimia, reologi / litologi, mineralogi dan biologi, termasuk
karakteristik profil tanah seperti kedalaman tanah dan sifat-sifat dari lapisan tanah.
Erodibilitas bukan hanya ditentukan oleh sifat-sifat tanah, namun ditentukan pula
UNIVERSITAS SUMATRA UTARA
51
oleh faktor-faktor erosi lainnya yakni erosivitas, topografi, vegetasi, fauna dan
aktivitas manusia. Suatu tanah yang memiliki erodibilitas rendah mungkin akan
mengalami erosi yang berat jika tanah tersebut terdapat pada lereng yang curam dan
panjang, serta curah hujan dengan intensitas yang tinggi. Sebaliknya tanah yang
memiliki erodibilitas tinggi, kemungkinan akan memperlihatkan gejala erosi ringan
atau bahkan tidak sama sekali bila terdapat pada pada lereng yang landai, dengan
penutupan vegetasi baik, dan curah hujan dengan intensitas rendah. Selain fisik
tanah, faktor pengelolaan / perlakuan terhadap tanah sangat berpengaruh terhadap
tingkat erodibilitas suatu tanah. Hal ini berhubungan dengan adanya pengaruh dari
faktor pengolalaan tanah terhadap sifat-sifat tanah. Pengelolaan tanah dan tanaman
yang mengakumulasi sisa-sisa tanaman berpengaruh baik terhadap kualitas tanah,
yaitu terjadinya perbaikan stabilitas agregat tanah, ketahanan tanah (shear strength),
dan resistensi / daya tahan tanah terhadap daya hancur curah hujan (splash
detachment). Nilai erodibilitas tanah dapat ditentukan berdasarkan identifikasi jenis
tanah dalam satuan pemetaan tanah.
UNIVERSITAS SUMATRA UTARA
52
Tabel 2.2 Nilai K untuk berbagai jenis tanah
No Jenis Tanah Nilai K Rataan
1 Latosol (Haplorthox) 0,09
2 Latosol merah (Humox) 0,12
3 Latosol merah kuning (Typic haplorthox) 0,26
4 Latosol coklat (Typic tropodult) 0,23
5 Latosol (Epiaquic tropodult) 0,31
6 Regosol (Troporthents) 0,14
7 Regosol (Oxic dystropept) 0,12 0,16
8 Regosol (Typic entropept) 0,29
9 Regosol (Typic dystropept) 0,31
10 Gley humic (Typic tropoquept) 0,13
11 Gley humic (Tropaquept) 0,20
12 Gley humic (Aquic entropept) 0,26
13 Lithosol (Litic eutropept) 0,16
14 Lithosol (Orthen) 0,29
15 Grumosol (Chromudert) 0,21
16 Hydromorf abu-abu (Tropofluent) 0,20
17 Podsolik (Tropudults) 0,16
18 Podsolik Merah Kuning (Tropudults) 0,32
19 Mediteran (Tropohumults) 0,10
20 Mediteran (Tropaqualfs) 0,22
21 Mediteran (Tropudalfs) 0,23
Sumber: (Arsyad, 1989 dan Asdak, 1995)
[Link] Kemiringan Lereng (LS)
Kemiringan dan panjang lereng adalah dua unsur topografi yang paling
berpengaruh terhadap aliran permukaan dan erosi. Unsur lain yang mungkin
berpengaruh adalah konfigurasi, keseragaman dan rah lereng. Semakin miring suatu
lahan dan semakin panjang lereng maka erosi akan semakin besar.
UNIVERSITAS SUMATRA UTARA
53
Evaluasi garis kontur dari peta DEM-SRTM (Digital Elevation Model-Shuttle
Radar Topographic Mission) akan menghasilkan peta kemiringan lereng yang
dianalisis menggunakan perangkat lunak Global Mapper Versi 11.0 dan ArcView
3.3. Dalam pembuatan nilai indeks panjang dan kemiringan lereng (LS) ini hanya
ditentukan berdasarkan kemiringan lereng saja (slope). Adapun nilai LS untuk
berbagai macam bentuk kelerengan ditentukan pada tabel di bawah ini:
Tabel 2.3 Nilai LS untuk variasi kemiringan lereng
No Kemiringan rata-rata Nilai LS
1 0 % - 8% 0,4
2 > 8 % - 15 % 1,4
3 > 15 % - 25 % 3,1
4 > 25 % - 45 % 6,8
5 > 45 % 9,5
Sumber: Arsyad (1989) dan Asdak (1995)
[Link] Indeks Pengelolaan Tanaman (C) dan Faktor Konservasi Tanah (P)
Faktor C ditunjukan sebagai angka perbandingan yang berhubungan dengan
tanah hilang tahunan pada areal yang bervegetasi dengan areal yang sama jika areal
tersebut kosong dan ditanami secara teratur. Nilai faktor C berkisar antara 0,001 pada
hutan tak terganggu hingga 1,0 pada tanah kosong. penentuan Indeks pengolalaan
tanaman ini ditentukan dari peta tata guna lahan dan keterangan tata guna lahan pada
peta satuan tata guna lahan ataupun data yang langsung diperoleh dari lapangan.
Faktor konservasi tanah (P) merupakan tindakan pengawetan yang meliputi
usaha-usaha untuk mengurangi erosi tanah yaitu secara mekanis maupun biologis/
vegetasi.
UNIVERSITAS SUMATRA UTARA
54
Indeks penutupan vegetasi (C) dan Indeks pengolahan lahan atau tindakan
konservasi tanah (P) dapat digabung menjadi faktor CP. Tabel di bawah ini
menunjukkan Nilai CP untuk berbagai faktor penggunaan lahan.
Tabel 2.4 Nilai CP untuk berbagai faktor penggunaan lahan
No Jenis Tata Guna Lahan CP
1 Belukar Rawa 0.010
2 Rawa 0.010
3 Semak/Belukar 0.300
4 Pertanian Lahan Kering Campur 0.190
5 Pertanian Lahan Kering 0.280
6 Perkebunan 0,500
7 Pemukiman 0.950
8 Hutan Lahan Kering Sekunder 0,010
9 Hutan Mangrove Sekunder 0.010
10 Hutan Rawa Sekunder 0.010
11 Hutan Tanaman 0.050
12 Sawah 0,010
13 Tambak 0.001
14 Tanah Terbuka 0.950
Sumber: - BPDAS Wampu-Sei Ular
- Hasil Analisis Spasial Perangkat SIG
2.4.2 Penentuan Tingkat Bahaya Erosi
Tingkat bahaya erosi merupakan salah satu indikator yang digunakan sebagai
dasar penilaian keberlanjutan kegiatan pengelolaan lahan dengan mempertimbangkan
laju erosi yang terjadi pada suatu areal dan kemampuan daya pulih tanah untuk
mengimbangi/ memulihkan kerusakan akibat erosi yang terjadi. Semakin tebal solum
tanah maka diasumsikan tanah tersebut memiliki kemampuan yang lebih tinggi
dalam memulihkan kerusakan tanah akibat erosi tanah. Sebaliknya semakin dangkal
solum tanah daya pulihnya sangat terbatas, sehingga laju erosi yang sama
mempunyai tingkat bahaya erosi yang lebih besar pada tanah bersolum dangkal
dibandingkan dengan tanah bersolum dalam.
UNIVERSITAS SUMATRA UTARA
55
Tabel 2.5 Matriks Klasifikasi Tingkat Bahaya Erosi
Kedalam Solum Tanah
(cm)
Kelas Erosi
I II III IV V
Erosi (ton/ha/tahun)
<15 15-60 60-180 180-480 >480
Dalam SR R S B SB
> 90 0 I II III IV
Sedang R S B SB SB
60-90 I II III IV
Dangkal S B SB SB SB
30-60 II III IV IV IV
Sangat Dangkal B SB SB SB SB
< 30 III IV IV IV IV
Sumber: Peraturan Menteri Kehutanan RI, Nomor: P. 32/MENHUT-II/2009
Keterangan:
0 SR = Sangat Ringan
I SR = Ringan
II S = Sedang
III- B = Berat
IVSB = Sangat Berat
UNIVERSITAS SUMATRA UTARA