Program Ekstrakurikuler BTQ M.Ts. N. 1 Semarang
Program Ekstrakurikuler BTQ M.Ts. N. 1 Semarang
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
1. Baca Tulis Quran
Ekstra Baca Tulis Quran pada ajaran tahun 2012/2013 merupakan
kegiatan ekstra kurikuler BTQ pertama yang diselenggarakan oleh [Link]. N. 1
Semarang. Munculnya kegiatan ini dilatar belakangi dari pihak sekolah melihat
bahwasannya di [Link]. N. 1 Semarang masih banyak anak-anak yang baca Al
Qurannya belum baik, belum lancar, dan belum fasih. Sehingga sampai
kelastiga pun masih banyak ditemukan anak-anak yang belum bisa membaca
Al Quran secara baik dan benar. Sehingga hal ini menjadi perhatian khusus
bagi [Link]. N. 1 Semarang, sebab itu dari pihak [Link]. N. 1 Semarang
mengadakan kegiatan ekstra kurikuler BTQ dengan tujuan agar peserta didik
dapat membaca dan menulis ayat dan surat Al Quran dengan baik dan benar.
Padahal dalam KBM muatan lokal sudah ada mata pelajaran Baca Tulis Al
Quran, namun karena belum bisa menyelesaikan harapan [Link]. N. 1
Semarang akhirnya ekstra kurikuler BTQ ini diadakan.
1
Berangkat dari
pernyataan diatas akhirnya kegiatan ekstra kurikuler BTQ di [Link]. N. 1
Semarang dibukadan untuk menjadikan kegiatan pembelajaran ekstra BTQ
menjadi kondusif dan berjalan secara efektif dan efisien dilaksanakanlah proses
manajemen pembelajaran meliputi perencanaan, palaksanaan dan evaluasi.
Adapaun prosesnya sebagai berikut:
a. Perencanaan Pembelajaran BTQ
Perencanaan dalam kegiatan belajar merupakan salah satu unsur
yang terpenting dalam penyelenggaraan pembelajaran dalam dunia
pendidikan baik dalam pendidikan formal maupun pendidikan non formal.
Karena perencanaan pembelajaran merupakan rencana yang logis yang
disesuaikan oleh Pembina dengan keadaan sekitar, baik keadaan peserta
1
Wawancara dengan bapak Abdul Wahab, (Pembina kegiatan ekstrakurikuler BTQ), pada
tanggal 5 November 2012, Pukul 11.30 di ruang guru [Link]. N 1 Semarang.
57
didiknya maupaun fasilitas yang ada. Perencanaan ini dilakukan agar tujuan
beberapa dari kompetensi kegiatan yang harus dikuasai oleh peserta didik
menjadi jelas apa yang akan menjadi targetnya. Dari tujuan yang jelas akan
mempermudah bagi Pembina dalam menentukan langkah-langkah apa yang
akan dikerjakan mulai dari pendekatan ataupun pemilihan metode dalam
membina kegiatan, sumber kegiatan, media kegiatan, dan juga
pengalokasian waktu kegiatan pembelajaran.
Dari hasil penelitian ekstra kurikuler BTQ di [Link]. N 1 Semarang
tujuan utama (goals) adalah agar peserta didik dapat membaca dan menulis
ayat-ayat Al Quran dengan baik dan benar. Sedangkan dari tujuan objektif
dengan adanya pembelajaran ekstra kurikuler BTQ diantaranya peserta didik
dapat membaca Al Quran dengan tartil secara baik, mengetahui kaidah ilmu
tajwid, dan pada akhirnya tahun lulusan pendidikan [Link]. N 1 Semarang
peserta didik dapat menghafal surat-surat Al Quran juz 30.
2
Dari kedua
tujuan inilah yang menjadikan landasan agar pembelajaran ekstra BTQ dapat
dilaksanakan dan berproses dengan baik sesuai dengan tujuan yang telah
ditetapkan.
Adapun proses dan bentukpenyusunan acuan kegiatan pembelajaran
BTQ masih disusun secara sederhana dan belum terdokumentasi secara rapi
dalam sebuah buku pedoman atau acuan. Dalam menentukan materi
kegiatan pembelajaran BTQ diambil langsung dari Al Quran terjemah
secara langsung. Sedangkan dalam penetapan program kegiatan BTQ dibagi
menjadi [Link] pertama program guru dikelas, yaitu mengatur
berjalannya proses pembelajaran dari awal mulai pembelajaran sampai
dengan akhir program pembelajaran. Pembina menetapkan strategi, metode,
sumber belajar dan peralatan yang dipergunakan dalam memper lancar
proses kegiatan pembelajaran. Yang kedua, adalah penetapan program
kegiatan peserta didik ekstra BTQ meliputi program kegiatan dengan tertib
mulai pkl. 13.30 sd. pkl. 15.00 peserta didik diharapkan dapat menjalankan
2
Wawancara dengan bapak Abdul Wahab, ( Pembina kegiatan ekstrakurikuler BTQ ),
pada tanggal 5 November 2012, Pukul 11.30 di ruang guru [Link]. N 1 Semarang
58
interaksi-interaksi Pembina dalam proses pembelajaran. Metode yang
dipakai dalam pembelajaran ekstrakurikuler BTQ di [Link]. N 1 Semarang
adalah metode membaca bersama-sama secara serempak maupun sacara
kelompok dan metode munilis dengan imla
3
. Metode ini dipilih karena
mempunyai keunggulan tersendiri yaitu bisa memberikan semangat
bersama-sama dalam semangat membaca bersama. Selain metode membaca
juga diajarkan metode menulis dengan baik yaitu dengan cara meminta
peserta didik untuk mengamati sebuah surat dari surat-surat pendek dengan
diberikan batas waktu, kemudian setelah mengamati Pembina meminta
menuliskan kembali surat-surat yang telah diamati tanpa melihat bentuk-
bentuk tulisan Al Quran yang telah diamati. Selain kedua metode tersebut
Pembina juga mengajarkan tajwid mulai dari huruf nun sukun sampai
dengan bacaan mad. Dari beberapa metode yang telah dipaparkan, harapan
dari sekolah terhadap pelaksanaan pembelajaran ekstra kurikuler BTQ dapat
menjadikan peserta didik bisa menulis dan membaca Al Quran dengan baik
dan benar.
b. Pelaksanaan Pembelajaran BTQ
Kegiatan pembelajaran ekstra BTQ masuk pada hari senin pukul
13.30 WIB dan berakhir pada pukul 15.00 WIB. Kegiatan ini dilaksanakan
satu minggu sekali dan diikuti oleh siswa kelas VII dan kelas VIII [Link]. N.
1 Semarang.
Materi ajar yang diberikan kepada peserta didik dalam pelaksanaan
pembelajaran BTQada dua target yang ingin diraih.
1) Pertama peserta didik mampu membacatartil secara baik dan benar.
2) Kedua peserta didik juga diajari untuk memiliki kemampuan menulis
ayat-ayat Al Quran dengan baik dan benar.
4
3
Wawancara dengan bapak Abdul Wahab, (Pembina kegiatan ekstrakurikuler BTQ), pada
tanggal 5 November 2012, Pukul 11.30 di ruang guru [Link]. N 1 Semarang.
4
Wawancara dengan bapak Abdul Wahab, (Pembina kegiatan ekstrakurikuler BTQ), pada
tanggal 5 November 2012, Pukul 11.30 di ruang guru [Link]. N 1 Semarang.
59
Langkah-langkah pembelajaran ekstra kurikuler BTQyang ditetpkan
oleh Pembina, ada tujuh Langkah sebagi berikut:
1) Pembukaan.
Guru memberi salam dan memulai pelajaran dengan bacaan basmalah
2) Apersepsi.
Guru melaksanakan presensi kehadiran peserta didik, pengecekan
pemahaman siswa terhadap materi yang lalu dan mengkaitkan dengan
materi kegiatan yang akan dipelajari, menyampaikan tujuan atau
kompetensi yang harus dicapai pada sesi yang akan dipelajari,
menjelaskan kegiatan-kegiatan pembelajaran yang harus dilakukan oleh
peserta didik pada saat pembelajaran berlangsung.
3) Penanaman konsep
Pembina memberikan penjelasan kepada pesrta didik tentang makhroj,
tajwid bacaan Al Quran. Pembina memperjelas materi yang diberikan
kepada peserta didik yang didalam ayat-ayat tersebut pelu penekanan-
penekanan secara khusus dalam bacaan-bacaannya serta hukumnya.
4) Latihan.
Pembina memberikan latihan kepada peserta didik dengan cara langsung
menirukan dari bacaan ayat-ayat secara penggalan maupun secara utuh
dengan bimbingan Pembina. Pembina meminta peserta didik untuk
membaca ayat-ayat tersebut baik secara bersama-sama, secara kelompok,
ataupun secara satu persatu dari peserta didik. Sehingga Pembina
langsung tahu kekurangan dan kesulitan yang di hadapi oleh pesrta didik
dalam membaca ayat-ayat Al Quran.
5) Keterampilan
Pembina memberi kesempatan kepada peserta didik untuk bertanya
terkait materi yang belum dipahami
6) Evaluasi
Pembina menyimpulkan materi dari apa yang telah disampaikan dan
langsung memberikan kritikan dan saran kepada masing-masing pesrta
60
didik atas kekurangan dalam menguasai materi pembelajaran tilawatil
Quran.
7) Penutup
Pembina mengakhiri kegiatan pembelajaran dengan diiringi pesan-pesan
kepada peserta didik untuk selalu mempelajari bacaan Al Quran dan
selalu aktif dalam mengikuti pembelajaran di ekstrakurikuler BTQ.
Kemudian Pembina mengkoreksi kembali Presensi peserta didik guna
mengetahui keaktifan peserta didik. Dalam sesi penutup Pembina
mengakhiri pertemuan dengan bacaan hamdalah dan menutupnya
dengan salam.
5
Strategi yang diterapkan oleh Pembina ekstra kurikuler BTQdalam
mengajarkan pembelajaran BTQ ada 3 tahapan sebagai berikut:
1) Mudah, yaitu bagaimana guru mengajarkan BTQ prespektifnya itu
mudah,semua pesrta didik dapat untuk mengikuti proses pembelajaran
yang sudah di rencanakan oleh Pembina.
2) Menyenangkan, Pembina bersikap dan mengajar secara profesional,
Pembina mengajar dengan penuh kasih sayang, Pembina tidak membuat
siswa takut serta tidak ada tekanan baik secara fisik maupun psikologis.
3) Menyentuh, Pembina tidak boleh meninggalkan adab-adab atau cara
mengajarkan BTQ.
MTs. N. 1 Semarang menggunakan metode klasikal yaitu,pembina
membaca dan murid menyimak kemudian peserta didik menirukan seperti
bacaan [Link] sendiripenekanan pada keaktifan peserta
didik, artinya semua peserta didik tidak ada yang tidak beraktifitas, jadi
semua peserta didik beraktifitas. Artinya yang satu baca yang lain
menyimak atau samua membaca. Dalam metode ini mempunyai kelebihan
tersendiri yaitu dapat membuat peserta didik menjadi aktif dan bersemangat.
5
Observasi tentang pelaksanaan kegiatan ekstra kurikuler BTQ, pada tanggal 19
November 2012Pukul 13.30 di ruang kelas X d, di [Link]. N. 1 Semarang.
61
Sedangkan sarana prasarana yang mendukung dalam pelaksanaan
pembelajaran BTQ, yaitu:
a. Membutuhkan ruangan yang cukup.
b. Peralatan meja dan kursi
c. Al Quran terjemahan.
6
c. Evaluasi Pembelajaran BTQ
Proses evaluasi kegiatan pembelajaran BTQ dilaksanakan diakhir semester
yang dimana Pembina mengadakan tes baca dan menulis. Tes baca, yaitu
peserta didik di minta untuk membaca ayat-ayat tertentu dan Pembina
menilainya. Adapun Tes tulis adalah pserta didik mempraktikkan untuk
menulis ayat Al Quran dengan baik dan benar sesuai dengan penggalan-
penggalan hurufnya dan Pembina menilainya sesuai dengan standar yang
ditetapkan. Sedangkan penilaian keaktifan dan kerajinan peserta didik dalam
mengikuti kegiatan ekstra dilaksanakan melalui penilaian presensi kegiatan.
Dalam penilaian non tes Pembina mengevaluasi peserta didik dengan
melihat aspek tingkah laku dan aspek perkembangan membaca ayat-ayat al
Quran dengan baik dan benar melalui hasil perkembangan pembelajaran
setiap pertemuan.
7
Dari hasil evaluasi tes maupun non tes Pembina
memasukan kedalam laporan penilaian akhir pembelajaran dalam satu
semester kedalam raport dengan bentuk simbol abjad melainkan tidak
merupakan sebuah angka. Dalam pemberian penilaian raport tidak hanya
atas pertimbangan penilaian tes dan non tes saja, tetapi presensi kehadiran
kegiatan pembelajaran juga menjadikan sebuah pertimbangan laporan
penilaian dengan standar minimal 70% kehadiran peserta didik.
8
Dari sistem
inilah proses evaluasi kegiatan pembelajarn ekstra kurikuler BTQ di
laksanakan.
6
Observasi tentang pelaksanaan kegiatan ekstra kurikuler BTQ, pada tanggal 19
November 2012Pukul 13.30 di ruang kelas X d, di [Link]. N. 1 Semarang.
7
Observasi tentang pelaksanaan kegiatan ekstra kurikuler BTQ, pada tanggal 19
November 2012Pukul 13.30 di ruang kelas X d, di [Link]. N. 1 Semarang.
8
Dokumentasi Raport dan Presensi peserta didik dalam kegiatan ekstrakurikuler BTQ
[Link]. N. 1 Semarang, pada tanggal 5 November 2012.
62
2. Tilawahdan tahsin Al Quran
Ekstra Tilawahdan tahsin Al Quran di [Link]. N 1 Semarang ini sudah
berlangsung sekitar 10 tahunan lamanya di [Link]. N. 1 Semarang, selama tiga
tahun terakhir ekstra kurikuler Tilawah dan tahsin Al Quran dipegang oleh
bapak Ulinnuha telah membuahkan hasil diantaranya mendapatkan juara 1
Putra tingkat SMP se Kota Semarang yang diadakan oleh SMA
Muhammadiyyah Mrican, kemudian mendapatkan juara 2 Putri tilawatil quran
dalam acara MTQ Kota semarang oleh Depag yang diadakan di MTS N 1
Semarang. Kemudianjuara 1 tilawatil Quran dalam lomba MTQ yang
diadakan di SMK 6 atau SMK Pembangunan.
9
a. Perencanaan Pembelajaran Tilawah dan tahsin Al Quran
Perencanaan ekstra tilawahdan tahsin Al Quran pertama kali yang
dilakukan Pembina ingin mengajarkan kepada anak tentang surat yang
disesuaikan dengan momentum acara-acara yang akan datang. Contohnya
dalam 2 bulan yang akan datang ada acara tentang maulid nabi Agung
Muhammad SAW dengan mengajarkan kepada siswa dengan lantunan-
lantunan surat Ali imron ayat 143 dan selanjutnya. Setelah tahu suratnya apa
yang akan diajarkan oleh Pembina kemudian dalam 1 hari minimal dapat
menguasai 1 sd. 2 bentuk lagu tilawah. Dari lagu-lau tersebut minimal dalam
1 kali pertemuan paserta didik bisa menguasai 1 sd. 2 contoh husaini 1
diteruskan husaini 2. Setelah peserta didik bisa pembimbing langsung
mengadakan tes satu-satu membaca sendiri. Misalkan tentang ayat-ayat
mulid nabi ada 10 lagu maka peserta didik dapat menguasai antra 8 sd. 10
kali pertemuan. Dalam satu surat beberapa ayat juga dibentuk dar beberapa
lagu, untuk metode ceramah stelah itu diberikan metode praktis diberikan
contoh dan langsung praktek. Dan dalam satu ayat bisa dipotong menjadi
bentuk beberapa lagu dan dalam mempraktikkan dalam satu kelas
pembelajaran dibagi menjadi beberapa kelompok. Yang pertama setelah
9
Wawancaradengan Bapak Ulinnuha (Pembina kegiatan Ekstrakurikuler tilawah dan
tahsin Al Quran), pada tanggal 13 November 2012, pukul 11.00 wib, di ruang guru [Link]. N. 1
Semarang
63
Pembina memberikan conoh penggalan lagu-lagu dalam surat dari peserta
didik satu kelas menirukan semua, tahap yang kedua satu kelompok
melantunkan bersama sama, yang ketiga dari dua peserta didik atau bakhan
jika mampu melantunkan sendiri dengan disimak oleh pesrta didik yang lain
dan Pembina guna untuk mengetahui hasil atau mengetahui tingkat
kemampuan penguasaan apa yang telah di ajarkan oleh Pembina. Jadwal
pelaksanaan latihan kegiatan pada hari selasa Pukul 13.00 sampai dengan
Pukul 15.00 WIB. Buku panduan belum ada tetapi dilaksanakan dalam
acuan pengalaman dari Pembina yang telah dipelajari dengan gurunya tempo
dulu dan dikolaborasikan dengan mempelajari kaset-kaset tilawatil Quran
yang terbaru. Secara terdokumentasi seperti selayaknya administrasi dalam
proses manajemen pembelajaran dari Pembina belum mendokumentasikan
secra arsip atau yang lain dalam kegiatan pembelajaran ekstra kurikuler
Bimbingan tilawahdan tahsin Al Quran. Namun secara proses kegiatan dan
hasil dari kegiatan yang telah dibinanya membuahkan hasil yang telah
dibuktikan dalam kejuaraan MTQ tingkat Kota Semarang. Dalam proses
pembelajaran lagu-lagu dalam kegiatan MTQ, Pembina mengajarkan kepada
peserta didik yang dicontohkan dalam sebuah surat atau ayat, dan Pembina
mengharapkan kepada peserta didik untuk berlatih sendiri melantunkan ayat-
ayat yang lain dengan mengguanakan lagu-lagu yang sama.
10
b. Aktivitas Pembelajaran tilawahdan tahsin Al Quran
Pelaksanaan pembelajaran merupakan implementasi dari
perencanaan pembelajaran. Pelaksanaan pembelajaran meliputi kegiatan
pendahuluan, kegiatan inti dan kegiatan penutup. pengamatan penulis pada
saat observasi, bahwa kegiatan proses pembelajaran di MTs. N. 1 Semarang
berlangsung pada siang hari mulai pukul 13.30 s/d 15.00 selama satu hari
dalam seminggu. Kegiatan pembelajaran ini siap dimulai seiring dengan
guru Pembina masuk kelas. Sebelum pembelajaran di kelas dimulai, terlebih
10
Wawancaradengan Bapak Ulinnuha (Pembina kegiatan Ekstrakurikuler tilawah dan
tahsin Al Quran), pada tanggal 13 November 2012, pukul 11.00 wib, di ruang guru [Link]. N. 1
Semarang.
64
dahulu Pembina membuaka dengan salam dan di jawab oleh para pesrta
didik. Kemudian seluruh peserta didik membaca basmalah bersama-sama
dan dilanjutkan dengan bacaan Q.S. Al Fatihah bersama-sama. Bacaan doa
Al fatihah ini rutin dilakukan oleh seluruh peserta didik, pembiasaan ini
dipimpin oleh Pembina ekstra kurikuler tilawahdan tahsin Al Quran.
11
Sebelum dilaksanakannya inti pembelajaran, setiap harinya Pembina
memberikan motivasi kepada peserta didik hal ini dilakukan supaya peserta
didik termotivasi dalam melakukan pembelajaran. Sedangkan dalam proses
pembelajaran, pembina menggunakan metode klasik yang dimana guru
memberikan conoh dan murid menirukannya secara bersama sama maupun
secara satu [Link] panduan pembelajaran tilawahdan tahsin Al
Quranmengguanakan Al-Quran terjemah. Al-Quran ini digunakan sebagai
panduan pembelajaran yang disediakan sendiri oleh peserta didik sebagai
bahan panduan pembelajaran tilawahdan tahsin Al Quran. Sebagai bahan
perluasan, Pembina memperluas dari bahan-bahan tertentu yaitu baik kaset
tip dan VCD untuk mendukung pengembangan materi yang akan
disampikan.
12
Selama mengadakan observasi penulis melihat keadaan ruang kelas
yang tertata [Link] program semester pembelajaran tilawatil dan tahsin
Al Quranyang dilaksanakan di [Link]. N. 1Semarang, pelaksanaannya
menekankan pada suatu proses yakni interaksi antara Pembina dan Peserta
didik dalam suasana yang aktif. Pembina selalu aktif dalam memberi
motivasi kepada pesrta didik, memantau kegiatan pesrta didik, memberi
umpan [Link] juga dapat berjalan dengan efektif karena tujuan
pembelajaran dapat tercapai dan juga peserta didik menguasai keterampilan
yang diperlukan serta pembelajaran juga menyenangkan karena
11
Observasi tentang Proses kegiatan Pembelajaran ekstra kurikuler Tilawah dan tahsin Al
Quran,pada tanggal20November 2012, jam 13.30 15.00 wib di kelas X d, [Link]. N. 1 Semarang.
12
Wawancaradengan Bapak Ulinnuha (Pembina Ekstrakurikuler tilawah dan tahsin Al
Quran) pada tanggal 13 November 2012, pukul 11.00 wib di ruang guru [Link]. N. 1 Semarang.
65
Pembinatidak membuat siswa takut serta tidak ada tekanan baik secara fisik
maupun psikologis.
13
Materi ajar yang diberikan kepada peserta didik dalam pelaksanaan
pembelajaran tilawahdan tahsin Al Quranada dua target yang ingin diraih.
1) Pertama peserta didik mampu membaca secara tilawahdan tahsin Al
Quransecara baik dan benar.
2) Kedua peserta didik juga diajari untuk memiliki kemampuan menghafal
surat-surat yang sering digunakan dalam ivent tertentu, seperti acara
pengajian Maulid Nabi, Isro Miroj dll.
14
Langkah-langkah pembelajaran ekstra kurikuler tilawahdan tahsin Al
Quranyang ditetpkan oleh Pembina, ada tujuh Langkah sebagi berikut:
1) Pembukaan.
Guru memberi salam dan memulai pelajaran dengan bacaan basmalah
2) Apersepsi.
Guru melaksanakan presensi kehadiran peserta didik, pengecekan
pemahaman siswa terhadap materi yang lalu dan mengkaitkan dengan
materi kegiatan yang akan dipelajari, menyampaikan tujuan atau
kompetensi yang harus dicapai pada sesi yang akan dipelajari,
menjelaskan kegiatan-kegiatan pembelajaran yang harus dilakukan oleh
peserta didik pada saat pembelajaran berlangsung.
3) Penanaman konsep
Pembina memberikan penjelasan kepada pesrta didik tentang lagu-lagu
tilawahdan tahsin Al Qurandengan ditirukan oleh pesrta didik secara
bersama-sama maupun secara sendiri-sendiri. Pembina memperjelas
materi yang diberikan kepada peserta didik yang didalam ayat tersebut
pelu penekanan-penekanan secara khusus dalam melantunkan lagunya.
13
Observasi tentang Proses kegiatan Pembelajaran ekstra kurikuler Tilawah dan tahsin Al
Quran,pada tanggal20November 2012, jam 13.30 15.00 wib di kelas X d, [Link]. N. 1 Semarang.
14
Wawancaradengan Bapak Ulinnuha (Pembina Ekstrakurikuler tilawah dan tahsin Al
Quran), pada tanggal 13 November 2012, pukul 11.00 wib. Diruang guru [Link]. N. 1 Semarang.
66
4) Latihan.
Pembina memberikan latihan kepada peserta didik dengan cara langsung
menirukan dari lantunan ayat-ayat secara penggalan maupun secara utuh
dengan koridor lagu-lagu yang telah ditetapkan oleh Pembina. Pembina
meminta peserta didik untuk melantunkan ayat-ayat tersebut baik secara
bersama-sama, secara kelompok, ataupun secara satu persatu dari peserta
didik. Sehingga Pembina langsung tahu kekurangan dan kesulitan yang
di hadapi oleh pesrta didik dalam melantunkan ayat-ayat Al Quran.
5) Keterampilan
Pembina memberi kesempatan kepada peserta didik untuk bertanya
terkait materi yang belum dipahami
6) Evaluasi
Pembina menyimpulkan materi dari apa yang telah disampaikan dan
langsung memberikan kritikan dan saran kepada masing-masing peserta
didik atas kekurangan dalam menguasai materi pembelajaran tilawahdan
tahsin Al Quran.
7) Penutup
15
Pembina menutup pembelajaran dengan doa bersama dan ditutup
dengan bacaan salam.
Strategi yang diterapkan oleh Pembina dalam mengajarkan pembelajaran
ekstra kurikulertilawahdan tahsin Al Quranada 3 tahapan sebagai berikut:
1) Mudah, yaitu bagaimana guru mengajarkan tilawahdan tahsin Al
Quranprespektifnya itu mudah,semua peserta didik dapat untuk
mengikuti lagu-lagu yang sudah di rencanakan oleh Pembina.
2) Menyenangkan, Pembina bersikap dan mengajar secara profesional,
Pembina mengajar dengan penuh kasih sayang, Pembina tidak membuat
siswa takut serta tidak ada tekanan baik secara fisik maupun psikologis.
15
Observasi tentang proses kegiatan pembelajaran ekstra kurikuler Tilawah dan tahsin Al
Quran, pada tanggal 20November 2012, jam 13.30 15.00 wib. Dikelas X c. [Link]. N. 1
Semarang.
67
3) Menyentuh, Pembina tidak boleh meninggalkan adab-adab atau cara
mengajarkan tilawahdan tahsin Al Quran.
MTs. N. 1 Semarang menggunakan metode klasikal yaitu,pembina
membaca dan murid menyimak kemudian peserta didik menirukan seperti
bacaan [Link] sendiripenekanan pada keaktifan peserta
didik, artinya semua peserta didik tidak ada yang tidak beraktifitas, jadi
semua peserta didik beraktifitas. Artinya yang satu baca yang lain
menyimak atau samua membaca.
Sedangkan sarana prasarana yang mendukung dalam pelaksanaan
pembelajaran tilawah dan tahsin Al Quran, yaitu:
1) Membetuhkan ruangan yang cukup.
2) Peralatan meja dan kursi
3) Al Quran terjemahan.
16
c. Evaluasi Pembelajaran tilawahdan tahsin Al Quran.
Proses evaluasi pembelajaran dilakukan untuk menemukan kualitas
pembelajaran secara keseluruhan, mencakup tahap proses perencanaan
pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran, dan penilaian [Link]
Ulin selaku Pembina tilawah da tahsin Al Quran menyatakan bahwa, ada
dua teknik evaluasi yang dilaksanakan oleh kegiatan ekstra kurikuler tilawah
da tahsin Al Quran yang merupakan upaya untuk meningkatkan kualitas
pembelajaran tilawah da tahsin Al Quran. Evaluasi tersebut akan dapat
menjadi tolak ukur kualitas peserta didik melalui evaluasi internal yaitu
evaluasi Pembina kepada peserta didik. Evaluasi ini mengguankan alat
penilaian yang mencakup dua bentuk yaitu tes dan non tes.
17
Adapun
menurut bentuk tes dilaksanakan pada akhir semester dan penilaian dalam
bentuk non tes dilaksanakan setiap kegiatan pembelajaran berlangsung yang
dimana Pembina mengetahui dengan cara observasi dan wawancara disela-
16
Wawancaradengan Bapak Ulinnuha (Pembina Ekstrakurikuler tilawah dan tahsin Al
Quran), pada tanggal 13 November 2012, pukul 11.00 wib. Diruang guru [Link]. N. 1 Semarang.
17
Wawancaradengan Bapak Ulinnuha (Pembina Ekstrakurikuler tilawah dan tahsin Al
Quran), pada tanggal 13 November 2012, pukul 11.00 wib. Diruang guru [Link]. N. 1 Semarang.
68
sela pembelajaran berlangsung. Dari hasil evaluasi tes maupun non tes
Pembina memasukan kedalam laporan penilaian akhir pembelajaran dalam
satu semester kedalam raport dengan bentuk simbol abjad tidak merupakan
sebuah angka. Dalam pemberian penilaian raport tidak hanya atas
pertimbangan penilaian tes dan non tes saja, tetapi presensi kehadiran
pelatihan juga menjadikan sebuah pertimbangan laporan penilaian dengan
standar minimal 70% kehadiran peserta didik.
18
Demikianlah prosistem
evaluasi pembelajaran pada kegiatan ekstra kurikuler tilawah dan tahsin Al
Quran.
3. Kaligrafi
Kegiatan pembelajaran ekstra kurikuler kaligrafi di [Link].N. 1
Semarang merupakan kegiatan pengembangan life scill yang dimana
keberadannya tidak diwajibkan kepada peserta didik dalam memilih atau
mengikuti kegiatan pembelajaran ekstra kurikuler kaligrafi. Kegiatan ini
merupakan sebuah seni yang dimana membutuhkan kesabaran dan kedisiplinan
peserta didik dalam mengikuti pembelajaran. Hanya peserta didik yang
mempunyai seni dan bisa menghayati seni yang mampu sabar dalam mengikuti
pembelajaran secara disiplin.
a. Perencanaan Pembelajaran Kaligrafi
Dalam perencanaan kegiatan pembelajaran ekstra kurikuler kaligrafi
tidak seperti selayaknya program-program pelajaran kurikulum yang dimana
perencanaan kegitan harus ada silabus dan RPP. Namun tanpa adanya
silabus dan RPP bukan berarti kegiatan ekstrakurikuler ini tanpa adanya
perencanaan sebelum melaksanakan kegiatan pembelajaran. Dalam kegiatan
ini seorang Pembina yang telah diberikan kepercayaan dalam mengelola dan
bertanggung jawab atas berjalannya proses kegiatan pembelajaran
ekstrakurikuler mempunyai tarjet-tarjet yang harus ditempuh dan dikuasai
oleh peserta didik didalam proses pelaksanaan pembelajaran ekstra.
Diantaranya Pembina mempunyai tarjet bahwa dalam satu semester peserta
18
Dokumentasi Raport dan Presensi peserta didik dalam kegiatan ekstrakurikuler Tilawah
dan tahsin Al Quran [Link]. N. 1 Semarang, pada tanggal 13 November 2012.
69
didik sangat besar harapannya bisa menguasai satu bentuk huruf dari
kaligrafi dengan baik dan benar. Pembina menggunakan buku acuan
pembelajaran yang dihimpun dari beberapa bentuk tulisan huruf kaligrafi
yang telah diambil dari beberapa refrensi buku-buku contoh huruf kaligrafi
adapaun didalamnya terhimpun contoh bentuk-bentuk tulisan Khat Khaoufi,
Khat Naskhi, Khat Riqah, Khat Raihani, Khat Diwani Jali,Khat Tsuluts,
Khat Farisi, Khat [Link] umum dari kegiatan pembelajaran kaligrafi
di [Link]. N. 1 Semarang adalah memberikan pendidikan liffescill kepada
peserta didik yaitu memberikan bekal ilmu tambahan secara praksis yang
disesuaikan dengan bakat dan minat dari pesrta didik. Adapun tujuan khusus
dalam kegiatan pembelajaran ini adalah bisa memberikan bekal dasar
kepada pesrta didik dalam hal kaidah-kaidah penulisan kaligrafi. Di dalam
mengajarkan kaligrafi Pembina menggunakan metode yang cukup sederhana
yaitu Pembina mengenalkan salah satu contoh huruf atau bentuk mulai urut
dari alif sampai dengan yaa. Dalam penyampainya Pembina memberikan
contoh dipapan tulis kemudian Pembina meneliti atau melihat para pesrta
didiknya satu persatu bagiman cara menggunakan alat tulis dari arah mana
dan bagian manakah para peserta didik memulai menulis huruf-huruf
kaligrafi. Alokasi waktu pelaksanaan dalam kegiatan pembelajaran ekstra
kaligrafi adalah satu kali pertemuan dalam satu minggu pada hari sabtu
pukul [Link]. Peserta terdiri dari kelas VII dan kelas VIII
implementasi dari kegiatan ini disesuaikan dengan rumusan visi, misi dan
tujuan dari [Link]. N. 1 Semarang.
19
b. Aktifitas Pembelajaran Kaligrafi
Proses pelaksanaan pembelajaran merupakan implementasi dari
perencanaan pembelajaran. Pelaksanaan pembelajaran meliputi kegiatan
pendahuluan, kegiatan inti dan kegiatan penutup. pengamatan penulis pada
saat observasi, bahwa kegiatan proses pembelajaran di MTs. N. 1 Semarang
berlangsung pada siang hari mulai pukul 11.30 s/d 13.00 selama satu hari
19
Wawancara kepada Bapak Sofwan (pembina kegiatan ekstrakurikuler kaligrafi), pada
tanggal 12 November 2012, pukul 10.00 wib, di ruang guru [Link]. N. 1 Semarang.
70
dalam seminggu. Kegiatan pembelajaran ini siap dimulai seiring dengan
guru Pembina masuk kelas. Sebelum pembelajaran di kelas dimulai, terlebih
dahulu Pembina membuaka dengan salam dan di jawab oleh para peserta
didik. Kemudian sebelum dilaksanakannya inti pembelajaran, setiap harinya
Pembina memberikan motivasi kepada peserta didik hal ini dilakukan
supaya peserta didik termotivasi dalam melakukan pembelajaran.
Sedangkan dalam proses pembelajaran, pembina menggunakan metode
klasik yang dimana Pembina memberikan contoh cara menulis salah satu
jenis khot huruf arab di Whait Borddan pesertadidik menirukan dengan cara
bersama sama menulis huruf yang dicontohkan Pembina ke dalam lembaran
yang telah disiapkan masing-masing oleh peserta didik..Pada panduan
pembelajaran keligrafi Pembina mengguanakan kumpulan-kumpulan bentuk
jenis huruf kaligrafi yang dijilid dan diambil dari beberapa refrensi kaligrafi.
Jilidan dari beberapa refrensi ini digunakan sebagai panduan pembelajaran
kaligrafi.
20
Selama mengadakan observasi penulis melihat pelaksanaannya
menekankan pada suatu proses yakni interaksi antara Pembina dan Peserta
didik dalam suasana yang aktif. Pembina selalu aktif dalam memberi
motivasi kepada pesrta didik, memantau kegiatan pesrta didik, memberi
umpan balik. Pembina selalu membimbing pesrta didik dalam cara menulis
mulai dari memegang alat tulis, dari mana arah menulis yang baik dan
benar, bagai mana mengatur nafas dalam membuat garis maupun
lengkungan, Pembina selalu sabar dalam melatihnya. Pembelajaran juga
dapat berjalan dengan efektif karena tujuan pembelajaran dapat tercapai dan
juga pesrta didik menguasai keterampilan yang diperlukan serta
pembelajaran juga menyenangkan karena Pembina tidak membuat siswa
takut serta tidak ada tekanan baik secara fisik maupun psikologis.
21
20
Wawancara kepada Bapak Sofwan (pembina kegiatan ekstrakurikuler kaligrafi), pada
tanggal 12 November 2012, pukul 10.00 wib, di ruang guru [Link]. N. 1 Semarang.
21
Observasi tentang proses kegitan pembelajaran ekstra kurikuler kaligrafi, pada tanggal
17 November 2012, pukul 11.30-13.00 wib. Di kelasVIII D. [Link]. N. 1 Semarang.
71
Materi ajar yang diberikan kepada peserta didik dalam pelaksanaan
pembelajaran kaligrafi dua target yang ingin diraih.
1) Pertama peserta didik mampu menulis dan membedakan jenis khot
secara baik dan benar.
2) Kedua peserta didik juga diajari untuk memiliki kemampuan
mengembangkan bentuk-brntuk tulisan khot yang telah diajarkan
kedalam bentuk-bentuk yang menarik dan indah.
22
Langkah-langkah pembelajaran ekstra kaligrafi yang ditetapkan oleh
Pembina, ada tujuh Langkah sebagi berikut:
1) Pembukaan.
Pembina memberi salam dan memulai pelajaran dengan bacaan basmalah
2) Apersepsi.
Pembina melaksanakan presensi kehadiran peserta didik, menyampaikan
tujuan atau kompetensi yang harus dicapai pada sesi yang akan dipelajari,
menjelaskan kegiatan-kegiatan pembelajaran yang harus dilakukan oleh
peserta didik pada saat pembelajaran berlangsung.
3) Penanaman konsep
Pembina memberikan penjelasan kepada pesrta didik tentang jenis khot
yang akan dipelajari peserta didik dan memberikan contoh di white
bordkemudian pesrta didik secara bersama-sama mencontoh apa yang
dituliskan Pembina di dalam buku tugas masing-masing.
4) Latihan
Pembina memberikan latihan kepada peserta didik dengan cara langsung
mempraktikkan dari contoh yang dituliskan oleh Pembina di white bord.
Pembina selalu memantau kegiatan praktik pesrta didik mulai dari
bagaimana memegang alat tulis, dari mana arah menulis, bagai mana
mengatur nafas dalam membuat lekukan-lekukan huruf, dsb. Dari praktik
yang dilakukan oleh peserta didik dalam proses pembelajaran, Pembina
22
Wawancara kepada Bapak Sofwan (pembina kegiatan ekstrakurikuler kaligrafi), pada
tanggal 12 November 2012, pukul 10.00 wib, Diruang guru [Link]. N. 1 Semarang.
72
langsung tahu kekurangan dan kesulitan yang di hadapi oleh pesrta didik
dalam menulis khot pada saat pembelajaran tersebut.
5) Keterampilan
Pembina memberi kesempatan kepada peserta didik untuk bebas bertanya
terkait materi yang belum dipahami oleh peserta didik.
6) Evaluasi
Pembina menyimpulkan materi dari apa yang telah disampaikan dan
langsung memberikan kritikan dan saran kepada masing-masing peserta
didik atas kekurangan dalam menguasai menulis khot dari bentuk huruf
kehuruf yang lain di dalam penulisan kaligrafi.
7) Penutup
23
Pembina menutup pembelajaran dengan doa bersama dan ditutup
dengan bacaan salam.
Strategi yang diterapkan oleh Pembina ekstra kurikuler kaligrafidalam
mengajarkan pembelajaran tilawatil Quran ada 3 tahapan sebagai berikut:
1) Mudah, yaitu bagaimana Pembina mengajarkan kaligrafi prespektifnya
itu mudah,semua peserta didik dapat untuk mengikuti pemraktikkan
penulisan khot yang sudah di rencanakan oleh Pembina.
2) Menyenangkan, Pembina bersikap dan mengajar secara profesional,
Pembina mengajar dengan penuh kasih sayang, Pembina tidak membuat
siswa takut serta tidak ada tekanan baik secara fisik maupun psikologis.
3) Kesabaran, Pembina selalu bersabar dalam menghadapi peserta didik
dan selalu memberikan perhatian khusus bagi peserta didik yang
mempunyai kesulitan untuk mempraktikkannya.
Dalam praktik proses pembelajaran kaligrafi MTs. N. 1 Semarang
menggunakan metode klasikal yaitu,pembina menerangkan dan memberikan
contoh kemudian peserta didik menirukan dengan mempraktikkan apa yang
telah dicontohkan oleh [Link] sendiripenekanan pada
keaktifan peserta didik, artinya semua peserta didiktidak ada yang tidak
23
Observasi tentang proses kegitan pembelajaran ekstra kurikuler kaligrafi, pada tanggal
17 November 2012, pukul 11.30-13.00 wib. di kelasVIII D. [Link]. N. 1 Semarang.
73
beraktifitas, jadi semua peserta didik beraktifitas. Artinya setelah Pembina
menerangkan materi dan membrikan contohnya, kemudian masing-masing
peserta didik langsung mempraktikkan seperti yang dicontohkan oleh
pembina.
Sedangkan sarana prasarana MTs. N. 1 Semarang yang mendukung
dalam pelaksanaan pembelajaran kaligrafi baik yang disediakan oleh
sekolahan ataupun secara pribadi oleh pesrta didik, adalah:
1) Membetuhkan ruangan yang cukup.
2) Peralatan meja dan kursi
3) White borddan Sepidol
4) Buku Gambar, pensil gepeng, pensil 2B, stip, sepidol warna-warni,
crayon
24
c. Evaluasi Pembelajaran Kaligrafi
Proses evaluasi pembelajaran dilakukan untuk menemukan kualitas
pembelajaran secara keseluruhan, mencakup tahap proses perencanaan
pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran, dan penilaian pembelajaran.
Bapak Sofwan selaku Pembina Kaligrafi menyatakan bahwa, ada dua
teknik evaluasi yang dilaksanakan oleh kegiatan ekstra kurikuler kaligrafi
yang merupakan upaya untuk meningkatkan kualitas pembelajaran
kaligrafi.
25
Evaluasi tersebut akan dapat menjadi tolak ukur kualitas peserta
didik melalui evaluasi internal yaitu evaluasi Pembina kepada peserta didik.
Evaluasi ini mengguanakan alat penilaian yang mencakup dua bentuk yaitu
tes dan non tes, adapun bentuk tes dilaksanakan pada akhir semester untuk
mengetahui kemampuan siswa secara keseluruhan pada akhir program
pembelajaran yaitu pada asaat akhir semester. Sedangkan penilaian dalam
bentuk non tes dilaksanakan setiap kegiatan pembelajaran berlangsung
yang dimana Pembina mengetahui dengan cara observasi dan wawancara
24
Wawancara kepada Bapak Sofwan (pembina kegiatan ekstrakurikuler kaligrafi), pada
tanggal 12 November 2012, pukul 10.00 wib, Di ruang guru [Link]. N. 1 Semarang.
25
Wawancara kepada Bapak Sofwan (pembina kegiatan ekstrakurikuler kaligrafi), pada
tanggal 12 November 2012, pukul 10.00 wib, Di ruang guru [Link]. N. 1 Semarang.
74
disela-sela pembelajaran berlangsung. Dengan cara observasi Pembina bisa
mengetahui kemampuan peserta didik secara langsung pada saat
pembelajaran berlangsung. Disaat itulah Pembina langsung memberikan
solusi dengan cara membimbing peserta didik terhadap kekurangan peserta
didik dalam mengaplikasikan materi kaligrafi yang telah disampaikan oleh
Pembina.
26
Dari hasil evaluasi tes maupun non tes Pembina memasukan
kedalam laporan penilaian akhir pembelajaran dalam satu semester kedalam
raport dengan bentuk simbol abjad tidak merupakan sebuah angka. Dalam
pemberian penilaian raport tidak hanya atas pertimbangan penilaian tes dan
non tes saja, tetapi presensi kehadiran pelatihan juga menjadikan sebuah
pertimbangan laporan penilaian dengan standar minimal 70% kehadiran
peserta didik.
27
Demikianlah proses evaluasi pembelajaran kegiatan ekstra
kurikuler kaligrafi di [Link]. N. 1 Semarang yang telah dilaksanakannya.
B. Pembahasan
1. Pembelajaran Baca Tulis Quran
Setelah mengadakan penelitian dan data yang telah penulis bahas dari Bab
satu sampai Bab tiga. Maka peneliti akan berusaha menganalisis dari aspek.
Pertama mengenai pembelajaran baca tulis Quran di MTs N 1 Semarang yang
terdiri dari perencanaan manajemen pembelajaran baca tulis Quran,
pelaksanaan manajemen pembelajaran baca tulis Quran, dan evaluasi
manajemen pembelajaran baca tulis Quran. Ketigaaspek tersebut merupakan
analisis data yang telah disampaikan sebelumnya yaitu yang terdapat dalam
Bab satu, bab dua, dan bab tiga. Sehingga jelas arah tujuan dari penilitian ini.
a) Perencanaan Pembelajaran BTQ
Setiap kegiatan yang dilakukan oleh manusia baik dalam lingkup
individu maupun kelompok tidak akan terlepas dari proses perencanaan.
Sebab didalam sebuah perencanaan terkandung sebuah ide-ide untuk
26
Observasi tentang proses kegitan pembelajaran ekstra kurikuler kaligrafi, pada tanggal
17 November 2012, pukul 11.30-13.00 wib. Di kelasVIII D. [Link]. N. 1 Semarang.
27
Dokumentasi Raport dan Presensi peserta didik dalam kegiatan ekstrakurikuler Tilawah
dan tahsin Al Quran [Link]. N. 1 Semarang, pada tanggal 13 November 2012.
75
mencapai tujuan yang diharapkan melalui kerangka kerja yang menjadi
sebuah acuan dalam pelaksanaan kegiatan. Adapun kurang matangnya
sebuah perencanaan yang ditetapkan menjadikan kendala ataupun kurang
maksimalnya proses dalam menuju tujuan yang diharapkan. Karena
maksimalnya proses kinerja tergantung dari kematangan dalam
menetapkan sebuah prencanaan.
Dalam kegiatan Ekstra kurikuler Baca Tulis Quran yang
dilaksanakan di [Link]. N. 1 Semarang tampak sebuah perencanaan yang
masih sederhana namun cukup matang. Menurut penulis, kesederhanaan
dan cukup matang dalam perencanaan pembelajaran Baca Tulis Quran
dapat dijelaskan dari hasil diskriptif perencanaan pembelajaran ekstra
kurikuler BTQ di [Link]. N. 1 Semarang. Maksud dari perencanaan
pembelajaran sederhana adalah sebuah proses pembelajaran yang
terstruktur masih sederhana dari sarana prasarana, tenaga, hingga materi
yang disusun untuk mencapai tujuan pembelajaran. Hal ini terlihat dari
langkah-langkah yang terstruktur dalam perencanaan pembelajaran Baca
Tulis Quran. Dalam hal penentuan metode dari kegiatan ekstra kurikuler
BTQ masih diterapkan metode yang sehederna yaitu metode yang klasikal,
belum mengembangkan melalui metode metode yang lebih efektif dan
efisien sesuai dengan program pembelajaran ekstra. Karena pembelajaran
yang evektif membutuhkan metode pembelajaran yang sesuai.
Pembelajaran yang efektif adalah suatu pembelajaran yang menjadikan
peserta didik dapat belajar dengan mudah, menyenangkan, dan dapat
tercapai tujuan pembelajaran sesuai dengan harapan. Pada intinya proses
pembelajaran pada setiap satuan pendidikan diselenggarakan secara
interaktif, inspiratif, menyenagkan, menantang, memotivasi pesrta didik
dalam berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang lingkup berkreativitas,
dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta
psikologis peserta didik. Dengan demikian proses belajar peserta didik
lebih menarik, menantang, menyenangkan, dan hasilnya bertahan lama dan
76
bermanfaat bagi proses belajar lebih lanjut.
28
Peranan metode sangat besar
sekali dalam menunjang keberhasilan dalam pembelajaran, karena peserta
didik dapat merasa nyaman dalam proses pembelajaran dan bisa berkreasi
dan menjadikan ide-ide kreatif menjadi muncul karena didukung dengan
metode. Apa lagi hal ini terjadi pada proses kegiatan ekstra yang dimana
dalam hukum keaktifan baik dalam segi presensi dan prestasi dalam
pembelajaran tidak seperti dalam pembelajaran kurikuler. Jadi peranan
metode harus dapat berkembang, sehingga dapat menarik peserta didik
dalam mengikuti pembelajaran BTQ.
Menyusun acuan kegiatan pembelajaran dalam kegiatan ekstra
kurikuler tidak seperti menyusun acuan dalam pembelajaran kurikulum
atau KBM secara formal yang harus ada seperti silabus, RPP, dll. Namun
pada dasarnya dalam penyusunan bahan acuan ini sangat penting sekali,
karena keberhasilan dalam proses pembelajaran ekstra kurikuler tidak
dapat berjalan baik jika tidak ada pedoman acuan kegiatan. Pengamatan
penulis pada saat observasi dan wawancara bahwa penyusunan acuan
pembelajaran juga masih disusun secara sederhana dan belum tersusun
secara terdokumentasi secara rapi sesuai dengan jadwal program semester
ataupun program tahunan. Dalam proses penyusunan acuan ini Pembina
hanya menggambarkan ada standar-standar yang harus dicapai dalam
proses pembelajaran namun belum terdokumentasi secara rapi selayaknya
dalam proses manajemen yang baik.
Dalam penyusunan materi ajar oleh kegiatan Ekstra Baca Tulis
Quran cukup baik karena menurut pengamatan penulis melalui
wawancara dan observasi bahwa penyususnan ini disesuaikan dengan
kemapuan awal siswa yang dimana sebelum memasuki program kegiatan
ekstra Baca Tulis Quran diadakan tes awal masuk guna mengetahui
kemampuan awal pesrta didik, sehingga Pembina dapat merumuskan
materi ajar sesuai dengan kemampuan pesrta didik yang digolongklan
28
Bambang Warsito, Teknologi Pembelajaran Landasan dan Aplikasinya, (Jakarta: PT
Renika Cipta, 2008), hlm. 288.
77
menjadi dua yaitu kelompok peserta didik yang belum dapat membaca
menulis dan kelompok yang tergolong dapat membaca dan menulis,
sehingga dalam pemberian materi ini sesuai dengan kemampuan peserta
didik.
b) Pelaksanaan Pembelajaran BTQ
Pelaksanaan pembelajaran ekstra kurikuler BTQ merupakan
implementasi dari perencanaan pembelajaran BTQ yang sudah di
rencanakan secara matang oleh Pembina. Dalam proses pelaksanaan
pembelajaran ekstra kurikuler BTQ di [Link]. N 1 Semarang menurut
penulis melalui observasi di kelas pada saat kegiatan pembelajaran
berlangsung melihat bahwa proses pelaksanaan pembelajaran cukup baik.
Peserta didik mengikuti proses pembelajaran dengan baik, dan bisa
mengikuti apa yang di intruksikan oleh Pembina mulai awal pertemuan
sampai dengan akhir pertemuan pembelajaran. Pembina dapat menjadi
seorang pemimpin dalam pembelajaran yang artinya Pembina dapat
mengatur dan mengondisikan peserta didik mulai dari pembukaan
pembelajaran dan penutupan pembelajaran. Dalam proses pelaksanaan
humbungan antara guru dan murid juga sudah sesuai, bahwasannya
Pembina dapat membimbing peserta didik dengan cara kasih sayang dan
selalu mendampingi peserta didik untuk dapat membaca dan menulis ayat
Quran dengan baik dan benar. Namun terkadang ada yang menjadikan
kendala dalam proses pelaksanaannya bahwasananya dari kurangnya
kreatifitas Pembina dalam memberikan metode pembelajaran menjadikan
sebagaian peserta didik timbul merasa bosan jika selalu menggunakan
metode yang monoton. Setidaknya Pembina lebih memperhatikan
penggunaan metode dan strategi dengan mengkolaborasikan dari beberapa
metode yang lain yang bisa membuat peserta didik belajar dengan efektif.
Untuk menghilangkan rasa kebosanan peserta didik dalam mengikuti
proses pembelajaran tidak hanya perubahan bentuk metode yang lebih
berfareasi tetapi sesekali dalam proses pembelajaran diberikan fasilitas
yang berbeda dari yang biasanya. Di dalam penataan ruang kelas masih
78
menggunakan penataan ruang tradisional yang dimana peserta didik masih
duduk sejajar secara berderet kedepan, kebelakang dan kesamping. Hal ini
dikarenakan kondisi masih menggunakan bangku dan meja biasa. Namun
hal ini tidak mustahil jika ruang tempat pembelajaran di seting untuk lebih
menarik sesuai dengan kondisi kelas, agar proses pembelajaran tidak
terkesan jenuh dan membosankan.
c) Evaluasi Pembelajaran BTQ
Evaluasi menurut Ralph Tyler dalam bukunya Suharsimi arikunto
adalah proses pengumpulan data untuk menentukan sejauh mana tujuan
pendidikan sudah tercapai.
29
Jadi evaluasi di dalam proses pembelajaran
disebut evaluasi pembelajaran yang artinya proses pengumpulan data
dengan menggunakan alat evaluasi yang berupa penilaian. Adapun
penilaian dalam pembelajaran ekstra kurikuler Baca Quran dapat melalui
tes dan non tes. Penilaian tes dapat dilaksanakan melalui tes objektif tetapi
juga tes essay, sedangkan penilaian secara non tes dapat dilakukan
dengancara observasi dan wawancara.
Menurut pengamatan peniliti dalam wawancara, evaluasi yang
dilaksanakan dalam kegiatan ekstra kurikuler BTQ dengan cara tes dan
non tes. Evaluasi secara tes dilaksanakan pada akahir semester. Tes ini
dilaksanakan secara serempak kepada semua peserta didik yang masih
aktif dalam kegiatan ekstra kurikuler BTQ. Adapun pelaksanaan secara
non tes melalui observasi dan wawancara dilaksanakan ketika proses
pembelajaran berlangsung yang dimana Pembina melihat dan menanyakan
secara langsung tentang kefahaman materi baik secara praktik maupun
secara pengetahuan materi.
Dalam menunjang kualitas pendidikan perlu adanya pelaksanaan
evaluasi, adapun jenis evaluasi selain ada evaluasi secara internal perlu
juga adanya evaluasi eksternal, adapun maksud dari evaluasi internal
sendiri adalah untuk mengetahui tolak ukur kualitas Pembina dan peserta
29
Suharsimi Arikunto, Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan Edisi Revisi, (Jakarta: PT. Bumi
Aksara, 2006), hlm. 1.
79
didik. Evaluasiinternal mengarah kepada Pembina dan peserta didik,
arahan dari evaluasi internal mencakup dua aspek yaitu aspek Pembina
dan peserta didik, apabila kualitas siswa memiliki peningkatan maka
secara tidak langsung dapat diketahui bahwa kualitas Pembina juga
mengalami peningkatan. Evaluasieksternal diadakan untuk mengetahui
ukuran keberhasilan sistem pembelajaran secara menyeluruh. Evaluasi
eksternal ini sangat diperlukan, karena tanpa adanya penilaian dari pihak
luar, maka sekolah tidak akan pernah tahu kemampuan mereka. Jadi
dengan adanya evaluasi eksternal dapat menjadikan sekolah sadar diri
akan kinerja yang telah dilaksanakan berdasarkan penilaian dari pihak luar
sehingga mereka akan lebih bisa untuk berintropeksi diri dan segera
melakukan perbaikan. Jadi evaluasi ini juga dapat bermanfaat untuk
mengetahui perkembangan pembelajaran di luar [Link]. N 1 Semarang,
karena dalam pelaksanaan evaluasi eksternal melibatkan sekolah lain
sebagai pembanding. Dalam hal inilah yang nantinya dapat dijadikan
sebuah refrensi perkembangan pembelajaran di [Link]. N. 1 Semarang.
Tujuanutama dari pembelajaran adalah terciptanya manusia yang berilmu
pengetahuan dan berke-Tuhanan Yang Maha Esa. Ukuran mikro dari
tujuan kegiatan pembelajaran tidak lain dari hasil pembelajaran itu sendiri
dalam ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik. Dalam proses
pembelajaran untuk mewujudkan dari ketiga aspek ini maka diperlukan
lima elemen yang tidak dapat dipisahkan. Adapun kelima elemen tersebut
adalah Pembina/ guru, materi kegiatan, metode, media, dan pesrta didik itu
sendiri. Dari kelima elemen tersebut merupakan satu kesatuan dan tidak
dapat dipisahkan didalam proses belajar mengajar. Apabila salah satu dari
ke-lima elemen tersebut tidak ada maka dapat terjadi ketidak sempurnaan
dalam hasil proses belajar. Terkait implikasi dari manajemen pembelajaran
ekstra baca tulis Quran di [Link]. N. 1 Semarang. Hal ini dapat terlihat dari
hasil belajar peserta didik yang lebih memiliki kemampuan membaca dan
menulis ayat-ayat Quran dari pada sebelum peserta didik mengikuti ekstra
kurikuler baca tulis Quran.
80
2. Pembelajaran Tilawah dan tahsin Al Quran
a) Perencanaan Pembelajaran Tilawah dan tahsin Al Quran
Dalam kegiatan Ekstra kurikuler Tilawah dan tahsin Al Quran yang
dilaksanakan di [Link]. N. 1 Semarang tampak sebuah perencanaan yang
masih sederhana namun cukup matang. Menurut penulis, kesederhanaan
dan cukup matang dalam perencanaan pembelajaran Tilawah Al Quran
dapat dijelaskan dari hasil diskriptif perencanaan pembelajaran ekstra
kurikuler BTQ di [Link]. N. 1 Semarang. Maksud dari perencanaa
pembelajaran sederhana adalah sebuah proses pembelajaran yang
terstruktur masih sederhana dari sarana prasarana, tenaga, hingga materi
yang disusun untuk mencapai tujuan pembelajaran. Hal ini terlihat dari
langkah-langkah yang terstruktur dalam perencanaan pembelajaran
Tilawah Al Quran. Dalam hal penentuan metode dari kegiatan ekstra
kurikuler Tilawah dan tahsin Al Quran masih diterapkan metode yang
sehederna yaitu metode yang klasikal, belum mengembangkan melalui
metode metode yang lebih efektif dan efisien sesuai dengan program
pembelajaran ekstra. Karena pembelajaran yang evektif membutuhkan
metode pemebelajaran yang sesuai. Pembelajaran yang efektif adalah
suatu pembelajaran yang menjadikan peserta didik dapat belajar dengan
mudah, menyenangkan, dan dapat tercapai tujuan pembelajaran sesuai
dengan harapan. Pada intinya proses pembelajaran pada setiap satuan
pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan,
menantang, memotivasi peserta didik dalam berpartisipasi aktif, serta
memberikan ruang lingkup berkreativitas, dan kemandirian sesuai dengan
bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik.
Dengan demikian proses belajar peserta didik lebih menarik, menantang,
menyenangkan, dan hasilnya bertahan lama dan bermanfaat bagi proses
belajar lebih lanjut.
30
Peranan metode sangat besar sekali dalam
menunjang keberhasilan dalam pembelajaran, karena peserta didik
30
Bambang Warsito, Teknologi Pembelajaran Landasan dan Aplikasinya, hlm. 288
81
dapatmerasa nyaman dalam proses pembelajaran dan bisa berkreasi dan
menjadikan ide-ide kreatif menjadi munculkarena didukung dengan
metode. Apa lagi hal ini terjadi pada proses kegiatan ekstra yang dimana
dalam hukum keaktifan baik dalam segi presensi dan prestasi dalam
pembelajaran tidak seperti dalam pembelajaran kurikuler. Jadi peranan
metode harus dapat berkembang, sehingga dapat menarik peserta didik
dalam mengikuti pembelajaran ekstra kurikuler tilawah dan tahsin Al
Quran.
Menyusun acuan kegiatan pembelajaran dalam kegiatan ekstra
kurikuler tidak seperti menyusun acuan dalam pembelajaran kurikulum
atau KBM secara formal yang harus ada seperti silabus, RPP, dll. Namun
pada dasarnya dalam penyusunan bahan acuan ini sangat penting sekali,
karena keberhasilan dalam proses pembelajaran ekstra kurikuler tidak
dapat berjalan baik jika tidak ada pedoman acuan kegiatan. Pengamatan
penulis pada saat observasi dan wawancara bahwa penyusunan acuan
pembelajaran juga masih disusun secara sederhana dan belum tersusun
secara terdokumentasi secara rapi sesuai dengan jadwal program semester
ataupun program tahunan. Dalam proses penyusunan acuan ini Pembina
hanya menggambarkan ada standar-standar yang harus dicapai dalam
proses pembelajaran namun belum terdokumentasi secara rapi selayaknya
dalam proses manajemen yang baik.
Dari penyusunan materi ajar kegiatan ekstrakurikuler tilawah dan
tahsin Al quran cukup baik karena menurut pengamatan penulis melalui
wawancara dan observasi bahwa penyusunan ini disesuaikan dengan
kemapuan awal siswa yang dimana sebelum memasuki program kegiatan
ekstra tilawah dan tahsin Al Quran diadakan tes awal masuk guna
mengetahui kemampuan awal peserta didik, sehingga Pembina dapat
merumuskan materi ajar sesuai dengan kemampuan peserta didik.
Sehinggadalam pemberian materi ini sesuai dengan kemampuan peserta
didik. Namunhal ini belum terdokumentasi dengan baik selayaknya proses
manajemen pembelajaran yang efektif dan sistematis.
82
b) Pelaksanaan Pembelajaran Tilawah dan tahsin Al Quran
Pelaksanaan proses pembelajaran merupakan inti dari kegiatan
pembelajaran dan inti dari pelaksanaan dari proses perencanaan
pembelajaran baik dalam sekup mikro maupun makro, baik dalam
pendidikan formal maupun non formal. Menurut peniliti dalam proses
pelaksanaan kegiatan pembelajaran ekstra tilawah dan tahsin Al Quran
cukup baik yang dimana kegiatan ini dilksanakan seperti sewajarnya
kegiatan belajar-mengajar di KBM kurikulum, dalam mengelola kelas
Pembina dapat mengatur dan mengondisikan peserta didik dengan baik
mulai dari awal kegiatan sampi dengan kegiatan akhir pembelajaran.
Peserta didik baik laki-laki dan prempuan dapat dikondisikan oleh
Pembina secara baik dan tertib. Namun dalam proses pelaksanaan perlu
adanya peningkatan dari Pembina dalam meberikan metode-metode yang
lebih menyenangkan tidak selalu menggunakan metode klasikal saja yang
dimana setiap pelatihan Pembina memberikan contoh dan peserta didik
menirukan. Jika hal ini dilaksanakan secara terus menerus setiap hari maka
peserta didik akan menjadi bosen jika metode yang dipakai selalu sama.
Metode tidak hanya berpengaruh pada hasil proses pembelajaran peserta
didik, namun metode juga menjadi rangsangan kesemangatan peserta didik
untuk selalu aktif mengikuti kegiatan pembelajaran. Apa lagi hal ini hanya
sekedar pelaksanaan pembelajaran kegiatan ekstra kurikuler yang dimana
kewajiban dalam pembelajarannya tidak ada penekanaan seperti
pembelajaran kurikulum. Berangkat dari sinilah Pembina dapat
menganalisa kenapa setiap proses pelaksaaan pembelajaran peserta didik
yang mengikuti selalu naik turun dalam grafik presensi, mungikin menurut
penulis salah satu faktor adalah kesemangatan dan ketertarikam minat
peserta didik. Oleh karena itu salah satu dari ke-lima elemen yaitu
Pembina, materi, metode, media, dan peserta didik harus diperhatikan
dengan seksama guna untuk mengetahui titik permasalahan, setelah titik
permasalahan tersebut diketahui maka perlu adanya peningkatan. Utnuk
kegiatan yang lain pembiana dalam mengatur dan mengondisikan pesrta
83
didik sudah baik. Menurut penulis dalam penataan ruang kelas perlu di
seting yang maksimal walaupun dalam keadaannya ruang kelas masih
memakai bangku dan meja kayu tetapi hal ini tidak menghalangi dalam
pembentukan seting kelas secara sederhana, setidaknya dapat untuk
mengurangi kejenuhan peserta didik dan dapat memberikan suasana baru
bagi pesrta didik dalam mengikuti pembelajaran. Pada dasarnya kegiatan
ekstra adalah kegiatan pengembangan tidak kegiatan inti seperti halnya
kegiatan pembelajaran kurikuler. Namun jika tidak ditangani secara serius
maka kurang memberikan hasil yang memuaskan dari hasil proses
pembelajaran.
c) Evaluasi Pembelajaran Tilawah dan tahsin AL Quran
Evaluasi proses pembelajaran dilakukan untuk menentukan
kualitas pembelajaran secara keseluruhan, mencakup tahap perencanaan
proses pembelajaran, pelaksanaan proses pembelajaran, dan penilaian hasil
pembelajaran.
31
Di dalam proses evaluasi Pembina melaksanakan
penilaian terhadap hasil pembelajaran utnuk mengukur tingkat pencapaian
kompetensi pesrta didik, serta dipergunakan oleh Pembina dalam
menyusun pelaporan hasil belajar peserta didik selama peserta didik
mengikuti pelatihan kegitan dalam satu semester. Pelaporan ini berisi
tentang kemajuan kemampuan peserta didik dalam mengikuti program
kegiatan atau pelatihan. Penilaian dilaksanakan dengan non tes. Adapun
dalam model non tes Pembina melaksakan dengan proses teknik praktik
dan wawancara atau dapat juga disebut tes lesan.
Menurut penulis dalam kegiatan obsevasi penelitian ekstra
kurikuler Tilawah Al Quran di [Link]. N. 1 Semarang evaluasi yang
dilaksanakan cukup baik, dalam proses evaluasi yang dilaksanakan oleh
Pembina terhadap peserta didik dengan dua proses evaluasi yaitu secara
langsung dan evaluasi secara akhir pereode pembelajaran atau akhir
semester. Evaluasi pada akhir semester dilaksanakan 1 kali dalam setiap
31
Ara hidayat, Imam [Link] Pendidikan, hlm. 229
84
semester dan dilaksanakan ketika akhir. Sedangkan evaluasi secara
langsung dilaksanakan ketika dalam proses pembelajaran. Yang dimana
ketika Pembina secara sabar dalam menuntun pembacaan ayat satu keayat
lain, dengan penggalan satu kepenggalan yang lain, dari sambungna lagu
satu ke lagu yang lain, sampai dengan pengembangan lantunan lagu-lagu
tilawah. Pembina selalu memantau dan memperhatikan secara seksama
baik secara kelompok dan secara individu dalam proses kegiatan
pembelajaran ekstra kurikuler tilawah dan tahsin Al Quran. Namun
menurut peneliti meskipun dalam proses evaluasi internal yang sudah
dikatakan cukup baik perlu adanya evaluasi secara eksternal yang dimana
evaluasi eksternal ini untuk mengetahu ukuran keberhasilan sistem
kegiatan pembelajaran secara menyeluruh. Apabila kualitas peserta didik
memiliki peningkatan, maka secara tidak langsung dapat diketahui bahwa
kualitas Pembina juga mengalami peningkatan. Sebaliknya, jika kualitas
siswa tidak menunjukkan peningkatan secara seknifikan, maka evaluasi ini
dapat menjadi sarana untuk melakukan perbaikan internal sebelum
dilakukan evaluasi eksternal.
3. Pembelajaran Kaligrafi
a) Perencanaan Pembelajaran Kaligrafi
Perencanaan pembelajaran merupakan pedoman mengajar bagi
Pembina dan pedoman belajar bagi peserta didik, jadi melalui perencanaan
pembelajaran dapat diidentifikasikan kegiatan yang akan dilaksanakan
maupun gambaran-gambaran hasil yang akan dicapai sehingga dapat
terwujud hasil yang diharapkan secra efektif dan efisien.
Dalam kegiatan Ekstra kurikuler kaligrafi yang dilaksanakan di
[Link]. N. 1 Semarang tampak sebuah perencanaan yang masih sederhana.
Menurut penulis, kesederhanaan dan cukup matang dalam perencanaan
pembelajaran kaligrafi dapat dijelaskan dari hasil diskriptif perencanaan
pembelajaran ekstra kurikuler kaligrafi di [Link]. N. 1 Semarang. Maksud
dari perencanaa pembelajaran sederhana adalah sebuah proses
pembelajaran yang terstruktur masih sederhana dari sarana prasarana,
85
tenaga, hingga materi yang disusun untuk mencapai tujuan pembelajaran.
Hal ini terlihat dari langkah-langkah yang terstruktur dalam perencanaan
pembelajaran kaligrafi. Dalam hal penentuan metode dari kegiatan ekstra
kurikuler kaligrafi masih diterapkan metode yang sehederna yaitu metode
yang klasikal, belum mengembangkan melalui metode metode yang lebih
efektif dan efisien sesuai dengan program pembelajaran ekstra yang
efektif. Karena pembelajaran yang evektif membutuhkan metode
pemebelajaran yang sesuai. Pembelajaran yang efektif adalah suatu
pembelajaran yang menjadikan peserta didik dapat belajar dengan mudah,
menyenangkan, dan dapat tercapai tujuan pembelajaran sesuai dengan
harapan. Pada intinya proses pembelajaran pada setiap satuan pendidikan
diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenagkan, menantang,
memotivasi pesrta didik dalam berpartisipasi aktif, serta memberikan
ruang lingkup berkreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat,
dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik. Dengan demikian
proses belajar pesrta didik lebih menarik, menantang, menyenangkan, dan
hasilnya bertahan lama dan bermanfaat bagi proses belajar lebih
lanjut.
32
Peranan metode sangat besar sekali dalam menunjang keberhasilan
dalam pembelajaran, karena peserta didik dapat merasa nyaman dalam
proses pembelajaran dan bisa berkreasi dan menjadikan ide-ide kreatif
menjadi muncul karena didukung dengan metode. Apa lagi hal ini terjadi
pada proses kegiatan ekstra yang dimana dalam hukum keaktifan baik
dalam segi presensi dan prestasi dalam pembelajaran tidak seperti dalam
pembelajaran kurikuler. Jadi peranan metode harus dapat berkembang,
sehingga dapat menarik peserta didik dalam mengikuti pembelajaran
kaligrafi.
Menyusun acuan kegiatan pembelajaran dalam kegiatan ekstra
kurikuler kaligrafi cukup menggunakan panduan-panduan yang
disesuaikan dengan analisis lingkungan pembelajaran dan disesuaikan
32
Bambang Warsito, Teknologi Pembelajaran Landasan dan Aplikasinya, (Jakarta: PT
Renika Cipta, 2008), hlm. 288.
86
dengan tingkat kemampuan peserta didik. Penyusunan ini tidak seperti
serumit menyusun acuan dalam pembelajaran kurikulum atau KBM secara
formal yang harus ada seperti silabus, RPP, dll. Namun pada dasarnya
dalam penyusunan bahan acuan ini sangat penting sekali, karena
keberhasilan dalam proses pembelajaran yang ekstra tidakdapat berjalan
baik jika tidak ada pedoman acuan kegiatan. Pengamatan penulis pada saat
observasi dan wawancara bahwa penyusunan acuan pembelajaran juga
masih disusun secara sederhana dan belum tersusun secara terdokumentasi
secara rapi sesuai dengan jadwal program semester ataupun program
tahunan. Dalam proses penyusunan acuan ini Pembina hanya
menggambarkan ada standar-standar yang harus dicapai dalam proses
pembelajaran namun belum terdokumentasi secara rapi selayaknya dalam
proses manajemen yang baik.
Dalam penyusunan materi ajar oleh kegiatan Ekstra kaligrafi cukup
baik karena menurut pengamatan penulis melalui wawancara dan
observasi bahwa penyususnan ini disesuaikan dengan kemapuan awal
siswa yang dimana sebelum memasuki program kegiatan ekstra kurikuler
kaligrafi diadakan tes awal masuk guna mengetahui kemampuan awal
peserta didik, sehingga Pembina dapat merumuskan materi ajar sesuai
dengan kemampuan peserta didik sehingga dalam pemberian materi ini
dapat sesuai
b) Pelaksanaan Pembelajaran Kaligrafi
Pelaksanaan pembelajaran ekstra kurikuler kaligrafi merupakan
implementasi dari perencanaan pembelajaran kaligrafi yang sudah di
rencanakan secara matang oleh Pembina. Dalam proses pelaksanaan
pembelajaran ekstra kurikuler kaligrafi di [Link]. N 1 Semarang menurut
penulis melalui observasi di kelas pada saat kegiatan pembelajaran
berlangsung melihat bahwa proses pelaksanaan pembelajaran cukup baik.
Peserta didik mengikuti proses pembelajaran dengan baik, dan bisa
mengikuti apa yang di intruksikan oleh Pembina mulai awal pertemuan
sampai dengan akhir pertemuan pembelajaran. Pembina dapat menjadi
87
seorang pemimpin dalam pembelajaran yang artinya Pembina dapat
mengatur dan mengondisikan peserta didik mulai dari pembukaan
pembelajaran dan penutupan pembelajaran. Dalam proses pelaksanaan
humbungan antara guru dan murid juga sudah sesuai, bahwasannya
Pembina dapat membimbing peserta didik dengan cara kasih sayang dan
selalu mendampingi peserta didik untuk dapat menulis khot dengan baik.
Namun terkadang ada yang menjadikan kendala dalam proses
pelaksanaannya bahwasananya dari peserta didik kurang sabar dengan
proses pembelajaran yang ada akhirnya menjadi malas dan jarang masuk
untuk mengikuti proses pembelajaran yang ada. Menurut penulis
setidaknya Pembina lebih memperhatikan penggunaan metode dan strategi
dengan mengkolaborasikan dari beberapa metode yang lain yang bisa
membuat peserta didik belajar dengan efektif. Untuk menghilangkan rasa
kebosanan peserta didik dalam mengikuti proses pembelajaran tidak hanya
perubahan bentuk metode yang lebih berfareasi tetapi sesekali dalam
proses pembelajaran diberikan fasilitas yang berbeda dari yang biasanya.
c) Evaluasi Pembelajaran Kaligrafi
Di dalam proses evaluasi Pembina melaksanakan penilaian
terhadap hasil pembelajaran utnuk mengukur tingkat pencapaian
kompetensi peserta didik, serta dipergunakan oleh Pembina dalam
menyusun pelaporan hasil belajar peserta didik selama peserta didik
mengikuti pelatihan kegitan dalam satu semester. Pelaporan ini berisi
tentang kemajuan kemampuan peserta didik dalam mengikuti program
kegiatan atau pelatihan. Penilaian dilaksanakan dengan tes praktik.
Adapun tes praktiknya dilaksanakan dalm dua tahap yang dimana tahap
pertama dilaksanakan pada setiap hasil pembelajaran dan tahap kedua
dilaksanakan pada saat akhir semester.
Menurut penulis dalam kegiatan obsevasi penelitian ekstra
kurikuler kaligrafi di [Link]. N. 1 Semarang evaluasi yang dilaksanakan
cukup baik, dalam proses evaluasi yang dilaksanakan oleh Pembina
terhadap peserta didik dengan dua proses evaluasi yaitu secara langsung
88
dan evaluasi secara akhir pereode pembelajaran atau akhir semester.
Evaluasi pada akhir semester dilaksanakan 1 kali dalam setiap semester
dan dilaksanakan ketika akhir. Sedangkan evaluasi secara langsung
dilaksanakan ketika dalam proses pembelajaran. Yang dimana ketika
Pembina secara sabar dalam menuntun bagai mana cara menulis, dari arah
mana menulisnya, bagaimana cara memegang alat tulis yang benar,
bagaimana mengatur nafasnya. Pembina selalu memantau dan
memperhatikan secara seksama dengan berkeliling. Menurut peneliti
meskipun dalam proses evaluasi internal yang sudah dikatakan cukup baik
perlu adanya evaluasi secara eksternal yang dimana evaluasi eksternal ini
untuk mengetahu ukuran keberhasilan sistem kegiatan pembelajaran secara
menyeluruh. Apabila kualitas peserta didik memiliki peningkatan, maka
secara tidak langsung dapat diketahui bahwa kualitas Pembina juga
mengalami peningkatan. Sebaliknya, jika kualitas siswa tidak
menunjukkan peningkatan secara seknifikan, maka evaluasi ini akan
menjadi sarana untuk melakukan perbaikan internal sebelum dilakukan
evaluasi eksternal.
The classical teaching method employed in M.Ts. N. 1 Semarang's Tilawah and Tahsin Al-Qur’an program is effective due to its structured approach, which encourages active participation and imitation of accurate pronunciation from the coach . This method involves listening and repetition, which are key in mastering Qur’anic recitation and promotes an engaging and interactive learning environment . However, its effectiveness can be limited by its traditional nature, potentially lacking the flexibility to adapt to the needs of diverse learners compared to more contemporary methods that incorporate technology and differentiated learning strategies . Adapting the method to include more innovative elements could enhance its efficacy further, meeting the evolving educational landscape requirements .
Interaction between the coach and students plays a crucial role in the Tilawah and Tahsin Al-Qur’an program at M.Ts. N. 1 Semarang. The coach actively engages with students, providing immediate feedback and encouraging questions, which facilitates a deeper understanding of the material being studied . This interaction is key to creating a participatory and dynamic learning environment, where students feel comfortable expressing themselves and engaging with the content . Additionally, the coach helps to tailor instruction to meet the individual needs of students, enhancing their learning experience and promoting higher levels of engagement and retention .
Student motivation is maintained through several strategic actions during the extracurricular Tilawah and Tahsin Al-Qur’an sessions at M.Ts. N. 1 Semarang. The coach begins each session by discussing the importance of the day's activities and how they contribute to personal goals, thereby setting a purpose for learning . Positive reinforcement is also used, with the coach offering personalized guidance and constructive feedback, which helps to boost confidence and engagement . Moreover, the inclusion of enjoyable and low-pressure teaching methods makes the learning process enjoyable and fosters a positive learning environment .
The extracurricular coach at M.Ts. N. 1 Semarang employs a multi-faceted approach to ensure student engagement and learning in Tilawah and Tahsin Al-Qur’an activities. The strategies include using a classical method where students imitate the coach's reading, fostering a participatory and active learning environment . Additionally, the coach ensures the learning process is easy, enjoyable, and touching, maintaining a professional demeanor, teaching with affection, and avoiding physical or psychological pressure . Furthermore, motivation is a key element, as the coach actively encourages students throughout the learning process . This comprehensive approach helps achieve the dual goals of correct and fluent recitation as well as memorization of notable surahs .
The main challenges in program planning for the extracurricular Tilawah and Tahsin Al-Qur’an activities at M.Ts. N. 1 Semarang stem from the simplistic nature of their planning process and documentation. The planning lacks detailed program documentation like silabus or RPP, which affects the coherence and completeness of the program execution . Additionally, although plans are sufficiently prepared to meet basic instructional needs, they suffer from inadequate development of teaching methods and do not fully utilize advanced educational techniques . These limitations can hinder the program's capacity to achieve its full potential and desired educational goals efficiently .
The class environment at M.Ts. N. 1 Semarang significantly affects the effectiveness of learning in Tilawah and Tahsin Al-Qur’an. A well-organized classroom setup, with a structured yet relaxed atmosphere, helps facilitate an interactive and engaging learning experience . The environment fosters a sense of safety and inclusivity, which encourages active participation without fear of judgment or pressure. This nurturing space is instrumental in supporting students to practice, learn, and receive feedback, contributing to their overall understanding and skill improvement in Qur’anic recitation and memorization .
The evaluation of student performance in Tilawah and Tahsin Al-Qur’an at M.Ts. N. 1 Semarang involves both formal and informal methods. Formal assessments include tests conducted at the end of each semester . Non-formal evaluations are performed continuously through observations and interviews during the learning sessions . The assessments are accounted for in student report cards, which reflect both test results and attendance records, with a minimum requirement of 70% attendance . The evaluations aim to measure students' mastery of the recitation and memorization skills taught during the extracurricular activities .
Early assessment of students' abilities plays a significant role in the Tilawah and Tahsin Al-Qur’an program at M.Ts. N. 1 Semarang, as it allows the coach to tailor the curriculum to meet the specific needs and abilities of the students . By conducting initial assessments, the coach can identify each student's starting proficiency level and adjust the teaching methods and materials accordingly, thus facilitating a more personalized learning experience . This tailored approach helps to address individual challenges and boosts overall progress by ensuring that instruction aligns closely with the learners' needs .
Maintaining a positive and pressure-free learning atmosphere in the Tilawah and Tahsin Al-Qur’an program at M.Ts. N. 1 Semarang is significant because it encourages student participation and enhances learning outcomes . A supportive environment helps students feel comfortable, reducing anxiety and fear of making mistakes, which is crucial for fostering open communication and practice . Such an environment motivates students to engage with the material and participate in learning activities, leading to greater retention and understanding of Qur’anic recitation skills . It allows for natural curiosity and exploration, which are fundamental for deep learning .
The Tilawah and Tahsin Al-Qur’an curriculum at M.Ts. N. 1 Semarang is supplemented with various instructional materials such as Al-Qur’an translations, cassette tapes, and VCDs of Qur’anic recitations. These resources aid in deepening students' comprehension of the recited texts and help in familiarizing students with different recitation styles . The use of such materials enhances learning by providing auditory examples for practice outside of class, promoting autonomous learning, and diversifying the teaching approach to cater to various learning preferences .