BARANG KIRIMAN ATAU PAKET YANG DIKIRIM MELALUI POS DENGAN
EMS (EXPRESS MAIL SERVICE)
Barang Kiriman Pos yang diselesaikan pemenuhan kewajiban kepabeanannya di KPPBC Tipe
Madya Pabean Soekarno Hatta adalah Kiriman EMS (diawali Kode E) dengan tujuan Jabodetabek.
EMS (Express Mail Service) adalah jenis jasa kiriman pos internasional secara fisik yang tercepat,
mulai dari pengumpulan, pengantungan dan pengantarannya harus dilakukan dalam waktu yang
singkat, karena sifatnya yang segera, maka pengirimannya dilakukan melalui udara. Untuk
penyelesaian kepabeanannya dilakukan di Kantor Pabean yang membawahi bandar udara setempat.
Khusus untuk Kantor Pos Tukar Udara Bandara Soekarno Hatta, pemeriksaan pabean hanya
dilakukan terhadap paket kiriman EMS, sedangkan kiriman paket biasa diteruskan ke Kantor Pos
Besar Pasar Baru.
Penerima Barang Kiriman Pos adalah orang atau badan (perusahaan/yayasan/instansi pemerintah
dll) yang berdomisili di dalam daerah pabean yang namanya tertulis sebagai Consignee dalam
Dokumen Pengiriman Pos; Penerima Barang Kiriman Pos tidak diwajibkan memiliki API (Angka
Pengenal Importir) atau NIK (Nomor Identitas Kepabeanan) sebagaimana dipersyaratkan dalam
ketentuan umum di bidang impor
Fasilitas dan Ketentuan Perpajakan
o Barang Kiriman Pos yang nilainya kurang dari FOB USD 50,- (lima puluh dolar US) per orang per
kiriman, dibebaskan dari kewajiban pembayaran Bea Masuk (BM) dan Pungutan Dalam Rangka
Impor (PDRI), sedangkan atas kelebihannya dipungut BM dan PDRI;
o Barang kiriman sampel/hadiah/gift diperlakukan ketentuan kepabeanan, yakni ditetapkan nilai
pabeannya oleh Petugas Bea dan Cukai berdasarkan data harga pembanding, jika data harga
pembanding sama dengan atau lebih rendah dari FOB USD 50,- maka terhadap barang kiriman
sampel/hadiah/gift tersebut tidak akan dikenakan BM dan PDRI, namun jika data harga pembanding
lebih tinggi dari FOB USD 50,- maka terhadap barang kiriman sampel/hadiah/gift tersebut akan
dikenakan BM dan PDRI;
o Barang impor yang dikategorikan sebagai barang mewah (seperti tas branded, berlian dll)
berdasarkan peraturan di bidang perpajakan, dikenakan Pajak Penjualan Barang Mewah
(PPnBM) yang kriteria dan besaran tarifnya telah ditentukan;
o Tarif BM mengacu kepada Buku Tarif Kepabeanan Indonesia 2012 (di [Link]
HS Code Information)
o Tarif PPN Impor sebesar 10%
o Tarif PPh Pasal 22 Impor :
o Memiliki API -> 2,5%
o Tidak Memiliki API -> 7,5%
o Tidak Memiliki NPWP -> 15%
o Barang Kena Cukai (BKC) hanya diijinkan per alamat penerima barang, paling banyak :
o 40 batang sigaret; atau
o 10 batang cerutu; atau
o 40 gram hasil tembakau lainnya; dan
o 350 ml minuman mengandung etil alkohol;
o Terhadap kelebihannya akan dimusnahkan secara langsung.
Penanganan Barang Kiriman Pos
1. Penyelesaian barang impor yang dikirim melalui pos dilakukan oleh PT. Pos Indonesia
(Persero) dan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai;
2. Pejabat Bea dan Cukai berwenang melakukan pemeriksaan pabean yang meliputi penelitian
dokumen dan pemeriksaan fisik barang;
3. Kegiatan penelitian dokumen dan pemeriksaan fisik oleh Pejabat Bea dan Cukai dilakukan
setelah Pihak PT. Pos Indonesia (Persero) menyerahkan Dokumen PP22A (Daftar Serah
Terima Kiriman Pos) dan fisik barang kiriman pos diserahterimakan kepada Pejabat Bea
dan Cukai;
4. Pemeriksaan fisik dapat dilakukan dengan menggunakan mesin X-Ray dalam hal ada
kecurigaan tertentu;
5. Pemeriksaan fisik dilakukan bersama dengan Petugas PT. Pos Indonesia (Persero) guna :
o menetapkan klasifikasi dan nilai pabean atas barang kiriman pos;
o memastikan apakah terhadap barang kiriman pos terkena ketentuan perijinan dari instansi
teknis terkait, seperti :
Produk makanan, minuman, obat-obatan harus memperoleh persetujuan dari BPOM; dalam
hal kiriman adalah untuk tujuan penelitian termasuk uji klinik,
pengembangan produk, sampel registrasi, bantuan/hibah/donasi, tujuan pameran dan
penggunaan sendiri/pribadi, dapat melalui mekanisme
jalur khusus yakni dengan mengajukan Ijin SAS (Special Access Scheme) ke BPOM;
Produk Kosmetika harus memperoleh persetujuan dari BPOM berupa SKI (Surat Keterangan
Impor);
Impor Kiriman Telepon Seluler, Komputer Genggam (Handheld) dan Komputer Tablet hanya
diperbolehkan maksimal 2 (dua) buah sebagaimana diatur di Peraturan Menteri
Perdagangan;
Impor Kiriman Pakaian jadi hanya diperbolehkan maksimal 10 (sepuluh) buah sebagaimana
diatur di Peraturan Menteri Perdagangan;
Impor Kiriman Produk Elektronik hanya diperbolehkan maksimal 2 (dua) buah sebagaimana
diatur di Peraturan Menteri Perdagangan;
Produk hewan, tumbuhan dan ikan harus memperoleh ijin pemasukan dari Badan Karantina;
Produk senjata api, air softgun dan peralatan sejenis harus mendapatkan ijin dari Kepolisian.
6. Untuk memastikan apakah barang impor terkena ketentuan larangan dan pembatasan
(perijinan), dapat dilihat di [Link] menu Lartas Information;
7. Pejabat Bea dan Cukai menetapkan tarif (pembebanan bea masuk) dan nilai pabean serta
menghitung BM dan PDRI yang wajib dilunasi atas barang kiriman pos;
8. Pejabat Bea dan Cukai menetapkan tarif bea masuk tertinggi jika barang lebih dari 3 jenis;
9. Pengeluaran barang kiriman pos hanya dapat dilakukan dengan persetujuan Pejabat Bea
Cukai setelah terbit PPKP (Pemeriksaan dan Pembeaan Kiriman Pos) dan PP22B (Daftar
Penyerahan Kembali Kiriman Pos), selanjutnya posisi barang kiriman pos menjadi
tanggung jawab Pihak PT. Pos Indonesia (Persero).
Contoh Perhitungan Bea Masuk dan Pajak Dalam Rangka Impor atas Barang Kiriman Pos
Saudara B mendapat hadiah barang kiriman impor yang dikirim Saudaranya di Amerika melalui
EMS berupa mantel wanita dari wol. Karena merupakan barang hadiah/sampel/gift yang tidak ada
invoice dan bukti bayarnya, maka Petugas Bea dan Cukai menetapkan barang kiriman tersebut
sesuai data harga pembanding.
Berdasarkan data harga pembanding, barang kiriman sampel/hadiah tersebut ditetapkan oleh
Petugas Bea dan Cukai sebesar USD 250, dan diklasifikasikan ke Pos Tarif 6102.10.00.00 dengan
Tarif BM = 10%, PPN 10%, PPh = 15%. Saudara B tidak memiliki API dan NPWP.
Kurs pajak yang berlaku pada saat pembayaran USD 1 = Rp 9.000. Nilai freightnya sesuai tarif EMS
adalah sebesar USD 100,-
Processing Document by Customs ?
Perlu kami infokan bahwa setelah tiba di OE (Office of Exchange) atau Kantor Tukar Pos Udara,
status akan berubah menjadi airport handling dan Processing Document by Customs.
Kemungkinan yang mungkin timbul atas status Processing Document by Customs antara lain :
Status sudah berubah dari airport handling atau barang sudah tiba di bandara, padahal secara fisik
Pihak Pos bisa jadi belum menyerahkan kiriman pos ke Pejabat Bea dan Cukai dengan dokumen
PP22A, karena masih proses pemilahan dan distribusi ke gudang pemeriksaan;
Status sudah PP22A secara sistem, namun fisik barang belum diserahkan oleh Pihak PT. Pos
Indonesia kepada Petugas Bea dan Cukai untuk dilakukan pemeriksaan fisik;
Status sedang diperiksa fisik dan dokumennya oleh Petugas Bea dan Cukai;
Status Konfirmasi/Notifikasi ke Penerima Barang melalui PT. Pos Indonesia, atas barang yang kurang
lengkap informasi harganya atau membutuhkan perijinan dari instansi terkait (terkena aturan larangan
dan/atau pembatasan);
Status sudah selesai pemeriksaan fisik dan barang sudah dialihkan ke PT. Pos Indonesia dengan
penerbitan PP22B serta PPKP oleh Petugas Bea dan Cukai tetapi posisi barang belum berpindah
dari lokasi gudang pemeriksaan BC, atau belum dikirimkan ke Kantor Pos Terdekat dengan domisili
Penerima Barang.
Penyelesaian Barang Kiriman Pos
Barang Kiriman Pos yang telah diserahterimakan oleh Pejabat Bea dan Cukai kepada Pihak PT. Pos
Indonesia (Persero), akan dikirimkan ke Kantor Pos Terdekat dengan domisili Penerima Barang;
Dalam hal tidak ada BM dan PDRI yang harus dibayar oleh Penerima Barang, maka kiriman pos akan
langsung dikirimkan ke alamat tujuan;
Dalam hal ada BM dan PDRI yang harus dibayar oleh Penerima Barang, maka Pihak Kantor Pos
Terdekat akan menghubungi Penerima Barang untuk konfirmasi;
Dalam hal barang terkena aturan larangan dan pembatasan namun Penerima Barang tidak tidak
memenuni ketentuan perijinan dari instansi teknis terkait, Penerima Barang bisa meminta Pihak PT.
Pos Indonesia untuk mereekspor barang tersebut dengan membuat surat pernyataan tanpa dipungut
biaya;
Dalam hal Penerima Barang keberatan dengan penetapan nilai pabean yang telah ditetapkan oleh
Petugas Bea dan Cukai dalam dokumen PPKP dan belum dilakukan pembayaran BM dan PDRI,
Penerima Barang dapat mengajukan keberatan melalui Kantor Pos Terdekat dengan melampirkan
bukti pendukung terkait seperti Invoice, Bukti Pembayaran/Transfer Payment dll untuk dilakukan
penetapan ulang oleh Petugas Bea dan Cukai di KTPU Bandara Soekarno Hatta.
[Link]