0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
17 tayangan6 halaman

Jadwal Jaga Forensik 16 Sept - 20 Okt 2002

Visum et Repertum menjelaskan hasil pemeriksaan medis terhadap Catharina Ratnawati yang mengalami luka memar akibat kekerasan dalam rumah tangga. Pemeriksaan menemukan luka ringan pada wajah dan telinga yang tidak mengganggu aktivitas sehari-hari. Kasus ini merupakan contoh kekerasan dalam rumah tangga yang dapat dicantumkan dalam Undang-Undang Pidana.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
17 tayangan6 halaman

Jadwal Jaga Forensik 16 Sept - 20 Okt 2002

Visum et Repertum menjelaskan hasil pemeriksaan medis terhadap Catharina Ratnawati yang mengalami luka memar akibat kekerasan dalam rumah tangga. Pemeriksaan menemukan luka ringan pada wajah dan telinga yang tidak mengganggu aktivitas sehari-hari. Kasus ini merupakan contoh kekerasan dalam rumah tangga yang dapat dicantumkan dalam Undang-Undang Pidana.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd

JADWALJAGA

ForensikFKS16September20October2002
Senin
Minggu
16 Sept
23 Sept
V
30 Sept
IV
7 Oct
II
14 Oct
I

Selasa
17 Sept
I
24 Sept
VI
1 Oct
V
8 Oct
III
15 Oct
II

I
II
III
IV
V
VI

:
:
:
:
:
:

A
B

: I - III
: IV - VI

Rabu

18 Sept
II
25 Sept
I
2 Oct
VI
9 Oct
IV
16 Oct
III

Devita, Norika, Kianti, Lubna


Debby, Devi, Regina
Andreas, Hartono, Christina
Maya, Rudi, Widia
Hasanah, Nunu, Afrianti
Christiana, Retno, Rully

19 Sept
III
26 Sept
II
3 Oct
I
10 Oct
V
17 Oct
IV

Kamis

Jumat

Sabtu

20 Sept
IV
27 Sept
III
4 Oct

21 Sept
FKUI
28 Sept
A
5 Oct

22 Sept
FKUI
29 Sept
B
6 Oct

11 Oct
VI
18 Oct
V

12 Oct

13 Oct

19 Oct

20 Oct

Presentasi Kasus

Kekerasan Dalam Rumah Tangga

Oleh

Kianti Raisa Darusman


030 97 082

Bagian Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal


Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
Periode 16 September 18 Oktober 2002

Jakarta
PUSAT KRISIS TERPADU
RUMAH SAKIT UMUM PUSAT NASIONAL DR. CIPTO MANGUNKUSUMO
Jl. Diponegoro 71, Jakarta
Nomor

: DV/02.016581

Jakarta, 9 Juni 2002

Perihal

: Hasil pemeriksaan terhadap Catharina Ratnawati

Lampiran

:-

PRO JUSTITIA
VISUM ET REPERTUM
Pada hari ini, tanggal sembilan Juni tahun dua ribu dua, pukul tiga belas lewat tiga puluh
menit Waktu Indonesia Barat, saya yang bertandatangan di bawah ini sebagai dokter pada
Pusat Krisis Terpadu Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo
Jakarta, menerangkan bahwa atas permintaan tertulis dari Kepolisian Sektor Metro
Menteng dengan suratnya tertanggal 9 Juni 2002, No. Pol : 103/VER/VI/2002/[Link],
telah memeriksa perempuan dengan nomor registrasi 267-21-46, yang menurut surat
tersebut adalah : ---------------------------------------------------------Nama

: Catharina Ratnawati---------------------------------------------------------------

Bangsa

: Indonesia----------------------------------------------------------------------------

Umur

: 43 tahun-----------------------------------------------------------------------------

Agama

: Katholik-----------------------------------------------------------------------------

Pekerjaan

: Ibu rumah tangga------------------------------------------------------------------

Alamat

: Jl. H. Agus Salim No. 43A RT 003/001 Kel. Kebon Sirih------------------Menteng, Jakarta Pusat------------------------------------------------------------

------------------------------------HASIL PEMERIKSAAN---------------------------------------1. Korban mengaku ditampar di daerah wajah---------------------------------------------------2. Korban dating dalam keadaan sadar dengan keadaan umum baik, perilaku tenang------3. Pada pemeriksaan fisik : -------------------------------------------------------------------------a. Pada pelipis kiri, empat sentimeter dari cuping telinga kiri atas, satu
sentimeter dari sudut mata kiri terdapat luka memar berwarna kebiruan,
ukuran satu setengah sentimeter kali satu sentimeter, nyeri tekan tidak ada----

b. Pelipis kanan.
Lanjutan Visum Nomor : DV/02.016581

b. Pelipis kanan dan cuping telinga kanan atas, setengah sentimeter dari sudut
mata kanan terdapat luka memar warna kemerahan, ukuran enam sentimeter
kali tiga sentimeter, nyeri tekan tidak ada-------------------------------------------4. Korban dirujuk ke poliklinik mata dengan hasil terdapat perdarahan sub konjungtiva--------------------------------------------------KESIMPULAN---------------------------------------Korban adalah seorang perempuan yang menurut surat keterangan penyidik berusia
empat puluh tiga tahun. Pada pemeriksaan fisik terdapat luka memar pada pelipis kanan,
cuping telinga kanan dan pelipis kiri serta perdarahan pada sub konjungtiva akibat
kekerasan tumpul. ------------------------------------------------------------------------------------Luka luka tersebut tidak mengakibatkan penyakit/halangan dalam melakukan
pekerjaan, jabatan atau pencaharian.---------------------------------------------------------------Demikian telah saya uraikan dengan sejujur jujurnya dan menggunakan pengetahuan
saya yang sebaik baiknya, mengingat sumpah sesuai KUHAP.------------------------------Dokter tersebut di atas,

Dr. Kianti Raisa Darusman


NIM 030 97 082

Visum et Repertum menjembatani ilmu kedokteran dengan ilmu hukum, maka


Visum et Repertum harus jelas dan dapat dimengerti oleh praktisi hukum. Untuk
memudahkan para praktisi hukum dalam memanfaatkan Visum et Repertum, perlu
dibuatkan suatu kesimpulan dari hasil pemeriksaan yang merupakan pendapat dokter
berdasarkan keilmuannya. Kesimpulan pada kasus perlukaan harus memuat jenis luka,
jenis kekerasan, penyebab dan derajat perlukaan atau sebab kematiannya.
Pembagian derajat perlukaan secara tersirat diatur dalam KUHP pasal 90, 351 dan
352. Hal ini disebabkan karena tidak ada peraturan tentang perlukaan ringan dan
sedang, melainkan hanya mengatur ketentuan tentang penganiayaan dan penganiayaan
ringan yang diasosiasikan sebagai luka sedang dan luka ringan. Hal ini dapat dilihat
dalam pasal 352 (1) KUHP yang memuat ketentuan penganiayaan ringan yaitu
penganiayaan yang tidak menimbulkan penyakit atau halangan untuk menjalankan
pekerjaan jabatan atau pencaharian. Pidana yang dikenakan dapat berupa pidana penjara
paling lama 3 bulan atau denda Rp. 4.500,00. Menurut pasal 351 (1) KUHP
penganiayaan diancam dengan penjara paling lama 2 tahun 8 bulan atau denda sebanyak
Rp. 4.500,00. Sedangkan ketentuan luka berat ada dicantumkan dalam pasal 90 KUHP
yaitu : jatuh sakit, atau yang menimbulkan bahaya maut, tidak mampu terus menerus
untuk menjalankan tugas jabatan atau pekerjaan pencaharian, kehilangan salah satu panca
indera, mendapat cacat berat, menderita sakit lumpuh, terganggunya daya piker selama
empat minggu lebih, gugur atau matinya kandungan seorang perempuan.
Pada penentuan derajat luka pada kasus ini, terdapat adanya perdarahan
subkonjungtiva yang tidak menimbulkan gangguan dalam melakukan pekerjaan jabatan
atau pencaharian dan tidak menimbulkan gangguan panca indera. Sehingga dapat
dimasukkan ke dalam derajat luka ringan.
Kekerasan Dalam Rumah Tangga
Pada tahun 1993, WHO dalam pasa 1 Deklarasi Penghapusan Kekerasan
Terhadap Perempuan mengeluarkan definisi tentang Kekerasan pada perempuan, sebagai
berikut : setiap tindakan kekerasan yang berdasarkan perbedaan jenis kelamin yang
menyebabkan atau mungkin menyebabkan, kerugian atau penderitaan pada wanita secara

fisik, seksual atau psikologis, termasuk ancaman untuk melakukan suatu tindakan,
paksaan atau perampasan kebebasan yang sewenang wenang, yang terjadi pada
masyarakat umum atau kehidupan pribadi. Dalam pasal 2 menjelaskan pengertian
definisi tentang kekerasan dala rumah tangga yaitu tindak kekerasan fisik, seksual dan
psikologis terjadi dalam keluarga, perkosaan dalam perkawinan, kekerasan di luar
hubungan suami-istri, kekerasan yang berhubungan dengan eksploitasi.
Menurut pasal 356 (1) KUHP terhadap penganiayaan, penganiayaan berat, baik
berencana ataupun tindak; pidana dapat ditambah dengan sepertiga bagi yang melakukan
kejahatan itu terhadap ibunya, bapaknya, istrinya atau anaknya. Yang dimaksud
menganiaya menurut HR 25 Juni 1894 adalah dengan sengaja menimbulkan sakit atau
luka.
Tindakan korban pada kasus ini cukup cepat dan tepat dimana ia segera melapor
ke polisi dan mencari pertolongan medis. Korban dan suami sebaiknya berkonsultasi
dengan konsulen rumah tangga sehingga dapat menata kembali perkawinannya serta
masing masing pihak dapat berintrospeksi diri, mengingat korban masih berniat
kembali kepada suami.

Anda mungkin juga menyukai