0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
38 tayangan25 halaman

Seksualitas Ikan: Hermaprodit dan Variasi

Dokumen tersebut membahas tentang seksualitas ikan yang meliputi definisi seksualitas, jenis-jenis seksualitas ikan seperti hermafrodit, uniseksual, dan biseksual, serta ciri-ciri kelamin primer dan sekunder pada beberapa spesies ikan seperti nila, cupang, molly, dan neon tetra.

Diunggah oleh

Herlina Nur Azizah
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
38 tayangan25 halaman

Seksualitas Ikan: Hermaprodit dan Variasi

Dokumen tersebut membahas tentang seksualitas ikan yang meliputi definisi seksualitas, jenis-jenis seksualitas ikan seperti hermafrodit, uniseksual, dan biseksual, serta ciri-ciri kelamin primer dan sekunder pada beberapa spesies ikan seperti nila, cupang, molly, dan neon tetra.

Diunggah oleh

Herlina Nur Azizah
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

MATERI 1 : SEKSUALITAS

[Link]

1. Latar Belakang Menurut Wahyuningsih dan Ternala` (2006), Pada prinsipnya, seksualitas hewan terdiri dari dua jenis kelamin yaitu jantan dan betina. Begitu pula seksualitas pada ikan, yang dikatakan ikan jantan adalah ikan yang mempunyai organ penghasil sperma, sedangkan ikan betina adalah ikan yang mempunyai organ penghasil telur. Suatu populasi terdiri dari ikan ikan yang berbeda seksualitasnya, maka populasi tersebut disebut populasi heteroseksual, bila populai tersebut terdiri dari ikan-ikan betina saja maka disebut monoseksual. Namun, penentuan seksualitas ikan di suatu perairan harus berhatihati karena secara keseluruhan terdapat bermacam-macam seksualitas ikan mulai dari hermaprodit sinkroni, protandri, protogini, hingga gonokorisme yang berdiferensiasi maupun yang tidak. Menurut Suharti (1999), Perubahan seks adalah merupakan alternatif dari pola reproduksi yang umum terjadi pada ikan laut maupun ikan air tawar. Hal ini memungkinkan individu memaksimalkan masa keberhasilan reproduksinya dengan berfungsi sebagai jenis kelamin tertentu ketika kecil dan menjadi jenis kelamin yang berbeda waktu besar (dewasa) (Ghiselin, 1969). Menurut Shapiro (1988) perubahan seks dapat terjadi kapan saja pada individu yang sudah dewasa dengan ukuran tertentu, jika ada kondisi rangsangan yang sesuai. Lebih jauh ia menjelaskan individu dapat merubah seksnya setiap saat dalam kehidupan dewasanya sampai ratio seks dalam populasi tercapai. Menurut Kordi dan Andi (2010), Jika dibandingkan dengan vertebrata yang hidup di darat, tipe seksualitas ikan sangat beraneka ragam, terdiri atas hermaprodit, uniseksual dan biseksual (Price, 1984). Hermaprodit ( hermaphrodite) adalah sifat seksual ikan yang membawa jaringan jantan dan betina dalam tubuhnya atau menghasilkan spermatozoa dan ovum secara bersamaan. Spesies yang demikian disebut juga hermaprodit normal. Ikan dikatakan hermaprodit apabila gonad ikan mempunyai jaringan jantan dan betina.

Jika seluruhya atau hampir seluruh individu tersebut mempunyai jaringan ovarium dan testis, maka spesies tersebut adalah hermaprodit.

2. Maksud dan Tujuan Maksud dari praktikum biologi perikanan materi seksualitas ini adalah Tujuan dari praktikum biologi perikanan materi seksualitas ini adalah

3. Waktu dan Tempat Praktikum Biologi Perikanan dengan materi seksualitas dilaksanakan pada hari Sabtu tanggal 29 Maret 2014 pada Shift pertama dilaksanakan Pukul 07.00 WIB 11.00 WIB sedangkan Shift kedua dilaksanakan Pukul 13.00 WIB 17.00 WIB, di Laboratorium Biologi dan Reproduksi Ikan, Gedung D lantai 1 Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Brawijaya.

2. Tinjauan Pustaka

2.1 Klasifikasi dan Morfologi A. Klasifikasi dan mofologi Ikan Nila (oreochromis niloticus) Klasifikasi ikan nila (oreochromis sp) menurut Sugiarto (1988) dalam Rustidja (1996) adalah sebagai berikut: Phyllum Kelas Sub kelas Ordo Sub ordo Famili Genus Spesies : Vertebrata : Pisces : Teleostei : Percomorphi : Percoidea : Cichlidae : Oreochromis : Oreochromis sp

Bentuk ikan nila ialah pipih kesamping dan memanjang. Mempunyai garis vertikal 9-11 buah, garis-garis pada sirip ekor berwarna merah sejumlah 6-12 buah. Pada sirip punggung terdapat juga garis miring. Mata kelihatan menonjol dan relatif besar dengan bagian tepi mata berwarna putih. Badan relatif lebih tebal dan kekar dibandingkan ikan mujair. Garis lateralis (gurat sisi di tengah tubuh) terputus dan dilanjutkan dengan garis yang terletak lebih bawah (Susanto, 1991 dalam Rustidja, 1996). Jumlah sisik pada garis rusuk 34 buah. Tipe sisik stenoid. Bentuk sirip ekor berpinggiran tegak. Rumus jari-jari sirip adalah [Link].13 ; P.15 ; V.1.5 ; [Link].10 dan C.18 (Sugiarto, 1998 dalam Rustidja, 1996).

B. Klasifikasi dan morfologi ikan cupan (Betta sp.) Menurut Perkasa dan Farry (2002), klasifikasi ikan cupang (Betta sp.) adalah sebagai berikut : Filum Sub filum Kelas Sub kelas Super ordo Ordo : Chordata : Craeniata : Osteichthyes : Actinopterygii : Teleostei : Percomorphoidei

Famili Genus Spesies

: Anabantidae : Betta : Betta sp.

Menurut Perkasa dan Farry (2002), perbedaan paling mencolok antara cupang hias dan cupang adu terletak pada bentuk siripnya. Cupang hias memiliki sirip yang panjang dan lebar. Bahkan ada yang sirip ekornya terpecah menjadi dua bagian. Tulang siripnya pun ada yang keluar dengan ujung terbelah menjadi dua bagian yang disebut serit. Sirip punggungnya lebar. Sementara cupang adu memiliki sirip yang pendek. Sirip punggungnya kecil. Kepalanya besar dan ring bibirnya tebal.

C. Klasifikasi dan morfologi ikan molly Menurut pendapat Bayu (2010) dalam Rosalina (2012) , klasifikasi ikan Black Molly secara lengkap adalah sebagai berikut: Phylum : Chordata Class : Osrheichtyes Ordo : Cyprinodonterdai Family : Phoechidae Genus : Poecilia Spesies : Poecilia sphenaps Menurut Ptacek dan Breden (1998) dalam Keong,et al.(2014), spesies ikan ini dapat dibagi menjadi dua kompleks utama berdasarkan morfologi dan perilaku, yaitu Poecilia sphenops dan Poecilia latipinna. Ikan ini memiliki dorsal pendek sirip yang terakhir memiliki panjang mirip sirip punggung. Panjang sirip dorsal merupakan fitur penting pada ikan molly terutama pada jantan dari P. latipinna. Jantan P. latipinna yang terkenal untuk khas sirip punggung yang besar.

D. Klasifikasi dan morfologi ikan neontetra Menurut Velina, et al.(2008), klasifikasi ikan neon tetra adalah sebagai berikut : Phylum : Chordata Group : Pisces Class : Osteichthyes Subclass : Actinopterygii

Ordo : Characiformes Family : Characidae Genus : Paracheirodon Spesies : Paracheirodon innesi Ikan neon tetra merupakan jenis ikan hias air tawar, yang memilikitubuh berbentuk gelendong dan bagian anterior yang tumpul. Sebuah garisbiru kerlap berjalan sepanjang setiap sisi tubuh mulai dari bagian anterior tubuh sampai sirip adiposa. Ikan neon tetra juga dihiasi dengan garis merah yang berjalan dari tengah tubuh bagian bawah sirip caudal. Sisi atas garis biru adalah hiaju zaitun gelap teduh. Bagian perut berwarna perak dan sirip anus hampir transparan. Pada malam hari warna tubuhnya akan menghilang selama ikan beristirahat dan akan muncul kembali ketika ikan aktif pada pagi harinya (Velina et al., 2008)

2.2 Pengertian Seksualitas Pada prinsipnya, seksualitas hewan terdiri dari dua jenis kelamin yaitu jantan dan betina. Begitu pula seksualitas pada ikan, yang dikatakan ikan jantan adalah ikan yang mempunyai organ penghasil sperma, sedangkan ikan betina adalah ikan yang mempunyai organ penghasil telur. Suatu populasi terdiri dari ikan ikan yang berbeda seksualitasnya, maka populasi tersebut disebut populasi heteroseksual, bila populasi tersebut terdiri dari ikan-ikan betina saja maka disebut monoseksual (Wahyuningsih dan Barus, 2006). Menurut (Price, 1984) dalam Kordi dan Tamsil (2010), jika dibandingkan dengan vertebrata yang hidup di darat, tipe seksualitas ikan sangat beranekaragam, terdiri atas hermaprodit, uniseksual dan biseksual. Hermaprodit (hermaphrodite) adalah sifat seksual ikan yang membawa jaringan jantan dan betina dalam tubuhnya atau menghasilkan spermatozoa dan ovum secara bersamaan. Spesies yang demikian disebut juga hermaprodit normal. Ikan dikatakan hermaprodit apabila gonad ikan mempunyai jaringan jantan dan betina. Jika seluruhnya atau hamper seluruh individu tersebut mempunyai jaringan ovarium dan testis, maka spesies tersebut adalah hermaprodit.

2.3. Sifat Seksualitas Jika dibandingkan degan vertebrata yang hidup di darat, tipe seksualitas ikan sangat beraneka ragam, terdiri atas hermaprodit, uniseksual dan biseksual (Proce, 1984). Hermaprodit adalah sifat seksual ikan yang membawa jaringan jantan dan betina dalam tubuhnya atau

menghasilkanspermatozoa dan ovum secara bersamaan. Spesies yang demikian disebut juga hermaprodit normal. Ikan dikatakan hermaprodit apabila gonad ikan mempunyai jaringan jantan dan betina. Jika seluruhnyaatau hampir seluruh individu tersebut mempunyai jaringan ovarium dan testis, maka spesies tersebut adalah hermaprodit. Berdasarkan sifat perubahnya, hermaprodit dibagi menjadi 4, yaitu hermaprodit sinkroni (synchronous hermaphrodite), hermaprodit protogini (protogynous hermaphrodite), hermaphrodit protandri (protandrous hermaphrodite), dan gonokorisme (gonochorisme). Hermaprodit sinkroni adalah sifat pematangan sel kelamin jantan dan betina pada waktu yang sama. Hermaprodit protogini adalah sifat perubahan kelamin dari betina menjadi jantan, sedangkan hermaprodit protandri adalah perubahan kelamin dari jantan menjadi betina (Ghufron dan Kordi, 2010) Jenis kelamin ikan (jantan dan betina) ditentukan dengan cara memperhatikan ciri seksual primer dan sekunder yang terdapat pada ikan, hal ini berpedoman pada petunjuk Pulungan et al. (1999) dalam Putra (2010). Ciri seksual primer diamati dengan cara melakukan pembedahan terhadap ikan sampel kemudian dilihat apakah memiliki testes dan ovari, sedangkan ciri seksual sekunder dengan memperhatikan ciri dimorfisme ( bentuk tubuh dan organ pelengkapnya)(putra, 2010). 2.4. Macam Seksualitas Sebagai kelompok mahluk hidup, ikan memiliki tipe seksualitas yang sangat beragam, mulai dari hermaprodit, uniseksual, biseksual atau gonokorisme. Keragaman ini contoh uniseksual pada vertebrata lainnya terdapat pada salamander ambystomi dan pada beberapa spesies kadal lainnya. Tetapi tipe hermaprodit belum diketahui pada vertebrata lain. Bermacam tipe dari seksualitas ikan tersebut akan dijelaskan secara singkat dengan penekanan pada mekanisme genetic dan mekanisme sitogenetik yang akan mempengaruhi cirri seksualitas (Gold, 1979). Pada prinsipnya, seksualitas hewan terdiri dari dua jenis kelamin yaitu jantan dan betina. Begitu pula seksualitas pada ikan, yang dikatakan ikan jantan adalah ikan yang mempunyai organ penghasil sperma, sedangkan ikan betina adalah ikan yang mempunyai organ penghasil telur. Suatu populasi terdiri dari ikan ikan yang berbeda seksualitasnya, maka populasi tersebut disebut populasi heteroseksual, bila populasi tersebut terdiri dari ikan-ikan betina saja maka disebut monoseksual. Namun, penentuan seksualitas ikan di suatu perairan harus berhati-hati karena secara keseluruhan terdapat bermacam-macam seksualitas ikan mulai dari hermaprodit sinkroni, protandri, protogini, hingga gonokorisme yang berdiferensiasi maupun yang tidak (Wahyuningsih dan Barus, 2006).

2.5. Perbedaan Jenis Kelamin berdasarkan ciri Seksualitas Primer dan Sekunder 2.5.1. Perbedaan Jenis Kelamin berdasarkan ciri Seksualitas Primer

Menurut Yusnaini, et al (2009)., pembenihan, salah satu parameter yang perlu diketahui adalah ciri-ciri penentuan jenis kelamin dan tingkat kedewasaan. Sifat seksual primer ditandai oleh organ yang berhubungan langsung dengan proses reproduksi, yaitu ovarium pada betina dan testis pada jantan. Penentuan jenis kelamin berdasarkan organ primer bisanya diperlukan pembedahan, namun belum tentu positif terutama pada organisme yang belum berkembang organ reproduksinya serta bermasalah apabila organisme akan dipijahkan. Ikan lomek (H. nehereus) tergolong heteroseksual yaitu spermatozoa dan ovum dihasilkan oleh individu yang berbeda sehingga ovari dan testis berkembang secara terpisah sejak fase benih dan tidak akan berubah sepanjang hidupnya. Ciri seksual primer pada ikan lomek jantan yaitu gonad berwarna putih transparan, bentuknya lebih langsing, lebih panjang dan strukturnya lunak, sedangkan pada ikan lomek betina gonad berwarna kekuning-kuningan, bentuk gonad lebih sedikit pendek, lebih besar dan strukturnya pejal (Putri et al., 2012). 2.5.2. Perbedaan Jenis Kelamin berdasarkan ciri Seksualitas Sekunder Menurut Haryono (2006), ciri kelamin sekunder (dimorfisme jenis kelamin) berguna untuk membedakan jenis kelamin jantan dan betina secara morfologis tanpa harus melakukan pembedahan terhadap organ reproduksinya. ikan mempunyai penampakan yang berbeda antara jantan dan betinanya, yang meliputi ciri primer antara ovarium dan testes maupun ciri [Link] kelamin sekunder merupakan pengamatan gabungan antara hasil pembedahan terhadap organ reproduksi sebagai pembuktian terhadap ciri secara morfologi. Semua ikan C. dorab dibedakan jenis kelaminnya. Penentuan jenis kelamin spesies ikan dibedakan dengan memeriksa gonadnya apabila spsesies tersebut tidak menunjukkan dimorfisme seksual yang jelas. Beberapa jenis ikan lainnya dapat dibedakan hanya dengan melihat ciri seksual sekunder seperti perbedaan warna, bentuk, atau ukuran (Takahashi, 2006dalam Fitriadi,2013).

MATERI 2 : TINGKAT KEMATANGAN GONAD

1. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Menurut Wahyuningsih dan Barus (2006), perkembangan gonad pada ikan menjadi perhatian pada pengamatan reproduksi ikan. Perkembangan gonad yang semakin matang merupakan bagian dari reproduksi ikan sebelum terjadinya pemijahan. Sebelum terjadinya pemijahan, sebagian besar hasil metabolisme dalam tubuh dipergunakan untuk perkembangan gonad. Pada saat ini gonad semakin bertambah berat diikuti dengan semakin bertambah besar ukurannya termasuk diameter telurnya. Berat gonad akan mencapai maksimum pada saat ikan akan berpijah, kemudian berat gonad akan menurun dengan cepat selama pemijahan berlangsung sampai selesai. Umumnya pertambahan berat gonad pada ikan betina 10-25% dari berat tubuhnya dan pada ikan jantan 5-10% dari berat tubuhnya. Tiap-tiap spesies ikan pada waktu pertama kali matang gonad tidak sama ukurannya. Demikian pula yang sama spesiesnya ini berbeda pada lintang yang berbeda lebih besar dari lima derajat, maka akan terdapat perbedaan dalam ukuran dan umur ketika mencapai kematangan gonad (Effendie, 1979 dalam Karmila, et al., 2012). Perkembangan gonad ikan secara garis besar dibagi atas dua tahap perkembangan utama, yaitu tahap perkembangan pertumbuhan gonad hinggan ikan mencapai tingkat dewasa kelamin (sexually mature) dan tahap pematangan produk seksual (gamet). Tahap pertama berlangsung sejak telur menetas atau lahir hingga mencapai dewasa kelamin dan tahap kedua berlangsung setelah ikan dewasa. Proses kedua akan terus berlangsung dan berkesinambungan selama fungsi reproduksi berjalan normal (Siregar, 1989 dalam Kordi dan Amsil, 2010).

1.2. Maksud dan Tujuan 1.3. Waktu dan Tempat

2. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Klasifikasi dan Morfologi Ikan Nila Menurut Suyanto(2002) dalam Elyana (2011), klasifikasi dari ikan nila (Oreocromis niloticus) adalah sebagai berikut: Phylum Sub Phylum Classis Sub class Ordo Sub ordo Familia Genus Spesies : Chordata : Vertebrata : Osteichtyes : Acanthopterigii : Percomorphi : Percaide : Cichlidae : Oreochromis : Oreochromis niloticus Linn.

Menurut Swann dan White (1991) dalamMangunwardoyo [Link],(2010) ikan nila secara morfologi memiliki perbedaan dengan ikan lele. Ikan nila memiliki sisik tubuh rapat dan memiliki kemampuan adaptasi lingkungan yang cukup tinggi, sedangkan ikan lele tidak memiliki sisik sehingga lebih rentan terhadap infeksi bakteri.

2.2. Tahap dan gambar perkembangan gonad Tahap awal reproduksi adalah proses pematangan gonad sebagian besar merupakan aktifitas metabolisme. Pada tahap perkembangan awal oogonia terlihat masih sangat kecil, kemudian secara bertahap oogonia terus memperbanyak diri dengan cara mitosis. Tranformasi oogonia akan menjadi oosit primer pada tahap pertumbuhan kedua ditandai dengan kemunculan kromosom. Pada perkembangan selanjutnya oosit membentuk lapisan corion, granulose dan membran teka. Kemudian telur akan terus berkembang bertambah besar pada proses vitellogenin yang diawali dengan pembentukan vakuolavakuola kemudian diikuti dengan munculnya globul-globul kuning telur karena adanya rangsangan vitellogenin dari hati. Perkembangan gonad ikan diawali dari adanya rangsangan lingkungan, kemudian hipotalamus melepaskan GnRH yang merangsang sekresi gonadotropin oleh kelenjar pituitary kemudian terbawa oleh aliran darah menuju ke gonad.

Gonadrotopin yang dihasilkan hipofisa meliputi FSH ( Folicle Stimulating Hormone ), LH (Luteinizing Hormone) dan LTH (Luteotropik Hormone) yang berperan merangsang aktifitas gonad untuk berkembang dan merupakan pengontrol utama sejak awal siklus reproduksi hingga terjadinya ovulasi dan spermiasi pada ikan. Gonadotropin yang mengatur reproduksi dalam pematangan tahap akhir oosit, ovulasi dan spermitogenesis adalah FSH dan LH (Murtedjo,2008). Menurut Kusdarini,2011 menyatakan bahwa Tingkat kematangan gonad adalah tahapan perkembangan gonad sebelum dan sesudah ikan memijah. Pengamatan tingkat kematangan gonad dilakukan dengan cara histologis dan [Link] ikan betina Otolithus ruber dan Johnius dussumieri menurut Devados (1969) : I Tidak Masak. Ovarium berwarna pucat keruh, memanjang sampai sepertiga panjang rongga perut, telur tidak dapat terlihat oleh mata, keadaan telur kecil,tidak berkuning telur, transparan dengan inti yang jelas. II Tidak masak. Ovarium berwarna merah anggur, mengisi 1/3 rongga perut: Gonad tidak simetri, telur tidak dapat dilihat oleh mata. Keadaan [Link] kuning telur baru disekitar inti. III Hampir masak. Ovarium berwarna merah jambu sampai kuning, berbutirbutir,memanjang sampai 2/3 dalam rongga tubuh. Keadaan telur. Kecil, warnatidak terang, inti sebagian atau seluruhnya terbenam dalam kuning telur. IV Hampir masak. Ovarium berwarna putih susu sampai kuning, pembuluh darah terlihat di bagian atasnya, memanjang sampai 2/3 bagian dari rongga perut, telur mudah terlihat. Keadaan telur. Telur dalam ukuran sedang dengan warna tidak terang, belum bebas dari selsel folikel. V Masak. Ovarium berwarna kuning kemmerah-merahan, pembuluh darah jelas,panjangnya sampai 4/3 rongga perut. Telur jelas terlihat. Keadaan [Link] masak berukuran besar dan berwarna tidak terang, bebas dari folikel. VI Masak betul. Ovarium kemerah-merahan seperti kue puding. Mengisi seluruh rongga perut, telur terlihat dari dinding ovari. Keadaan telur. Telur masak berukuran besar transparan, kuning telur berisi gelembung minyak. VII Salin. Ovarium mengkerut sebagai hasil pemijahan.

GAMBAR PERKEMBANGAN GONAD BELUM


2.3. Tingkat kematangan gonad 2.3.1. Menurut kesteven Menurut Wahyuningsih dan Barus (2006), dasar yang dipakai untuk menentukan tingkat kematangan gonad dengan cara morfologi adalah bentuk, ukuran panjang dan berat, warna dan perkembangan isi gonad yang dapat dilihat. Kesteven membagi tingkat kematangan gonad dalam beberapa tahap yaitu: a. Dara. Organ seksual sangat kecil berdekatan di bawah tulang punggung, testes dan ovarium transparan, dari tidak berwarna sampai abu-abu. Telur tidak terlihat dengan mata biasa. b. Dara Berkembang. Testis dan ovarium jernih, abu-abu merah. Panjangnya setengah atau lebih sedikit dari panjang rongga bawah. Telur satu persatu dapat terlihat dengan kaca pembesar. c. Perkembangan I. Testis dan ovarium bentuknya bulat telur, berwarna kemerahmerahan dengan pembuluh kapiler. Gonad mengisi kira-kira setengah ruang ke bagian bawah. Telur dapat terlihat seperti serbuk putih. d. Perkembangan II. Testis berwarna putih kemerah-merahan, tidak ada sperma kalau bagian perut ditekan. Ovarium berwarna oranye kemerah-merahan. Telur dapat dibedakan dengan jelas, bentuknya bulat telur. Ovarium mengisis kira-kira dua pertiga ruang bawah. e. Bunting. Organ seksual mengisi ruang bawah. Testis berwarna putih, keluar tetesan sperma kalau ditekan perutnya. Telur bentuknya bulat, beberapa dari telur ini jernih dan masak. f. Mijah. Telur dan sperma keluar dengan sedikit tekanan di perut. Kebanyakan telur berwarna jerinih dengan beberapa yang berbentuk bulat telur tinggal dalam ovarium. g. Mijah/Salin. Gonad belum kosong sama sekali, tidak ada telur yang bulat telur. h. Salin. Testis dan ovarium kosong dan berwarna merah. Beberapa telur sedang ada dalam

keadaan dihisap kembali. i. Pulih Salin. Testis dan ovarium berwarna jernih, abu-abu merah. Menurut Kesteven dalam Marati (2007), tingkat kematangan gonad ikan jantan adalah sebagai berikut: Tingkat I : Remaja, testis sangat kecil, transparan sampai kelabu Tingkat 2 : Remaja berkembang, testis jernih berwarna abu-abu sampai kemerahan. Tingkat 3 : Perkembangan I, testis berbentuk bulat telur berwarna kemerahan karena lebih banyak pembuluh darah kapiler. Testes mengisi hampir setengah bagian rongga badan ventral. Tingkat 4 : Perkembangan II, testis berwarna kemerahan sampai putih, tidak keluar sperma jika perut di tekan. Testis mengisi kurang lebih dua per tiga rongga badan bagian bawah. Tingkat 5 : Dewasa, testis berwarna putih dan keluar cairan sperma jika ditekan bagian perutnya. Tingkat 6 : Mijah, sperma keluar jika bagian perut di tekan Tingkat 7 : Mijah/salin, testes belum kosong sama sekali. Tingkat 8 : Pulih salin, testes jernih, bewarna abu-abu sampai kemerahan.

2.3.2. Menurut takata Menurut Marcellia et al., (2013), tingkat kematangan gonad menurut tester dan takata, TKG II pada gonad nila jantan mempunyai ciri-ciri morfologi permulaan gonad yang akan matang. Gonad mengisi seperempat rongga tubuh, warna gonad pada ikan jantan kelabu atau putih dan berbentuk pipih. Pada gambar gonad nila betina TKG II, dengan ciri-ciri morfologi permulaan gonad yang akan matang. Gonad mengisi seperempat rongga tubuh, berwarna kemerahan atau kuning dan berbentuk bulat, telur tidak tampak. Gonad nila betina mencapai TKG III dengan ciri-ciri morfologi ovarium besar, berwarna gelap, dan ada oosit yang mulai mengandung kuning telur. gonad nila jantan mencapai TKG III, dengan ciri-ciri morfologi gonad sudah hampir matang, gonad mengisi setengah rongga tubuh, dan testis berwarna putih. Ciri-ciri morfologi gonad nila betina TKG IV yang terlihat adalah gonad mengisi tiga perempat rongga tubuh. Gonad betina berwarna kuning, hampir bening atau bening, telur mulai terlihat.

Kadangkadang dengan tekanan halus pada perutnya maka akan ada yang menonjol pada lubang pelepasannya. Gonad nila jantan yang memasuki TKG IV memiliki ciri-ciri morfologi gonad mengisi tiga perempat rongga tubuh,testis berwarna putih kemerahmerahan, mengandung cairan putih jika ditekan perutnya keluar tetesan sperma.

Tingkat kematangan gonad ikan yang dikemukakan oleh Tester dan Takata (1953) dalam Kordi dan Andi (2010), adalah sebagai berikut : 1. Tidak masak. Gonad sangat kecil seperti benang dan transparan. Penampang gonad pada ikan jantan pipih dengan warna kelabu. 2. Permulaan masak. Gonad mengisi seperempat rongga tubuh. Karena gonad pada ikan jantan kelabu atau putih dan berbentuk pipih. 3. Hampir masak. Gonad mengisi setengah rongga tubuh. Dan gonad jantan berwarna putih dan berisi cairan berwarna putih. 4. Masak. Gonad mengisi rongga tubuh. Dan gonad jantan berwarna putih dan berisi cairan berwarna putih. 5. Salin. Hampir sama dengan tahap kedua dan sukar dibedakan. Gonad jantan berwarna putih, kadang-kadang dengan bintik coklat. 2.4. Faktor yang mempengaruhi Tingkat kematangn Gonad Faktor-faktor yang mempengaruhi kematangan gonad dan proses reproduksi induk ikan patin siam antara lain faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal yang mempengaruhi pengelolaan yaitu jenis, hereditas ikan dan fisiologi ikan. Sedangkan faktor eksternal yang mempengaruhi pengelolaan yaitu pakan, lama penyinaran, dan suhu (Waspada, 2012). Ikan-ikan yang hidup pada perairan alami biasanya memijah pada awal musim penghujan atau pada saat permukaan air tinggi. Saat itu terjadi perubahan kondisi perairan yang dapat merangsang ikan dalam perkembangan gonad yang siap memijah. Kegiatan pemijahan ikan merupakan suatu reaksi yang bersifat kompleks. Faktor yang berpengaruh antara lain adalah cahaya, suhu, aliran air, oksigen terlarut, dan pH. Selain itu ketersediaan rumput, ijuk juga mempengaruhi karena berfungsi untuk meletakkan telur (Sumantadinata, 1981 dalam Hardjono dan Atmini, 1989 dalam Diana, 2007).

2.5. Gonado Somatik Indexks (GSI) Pengetahuan indeks gonad somatik (IGS) merupakan salah satu aspek yang memiliki peran penting dalam biologi perikanan, dimana nilai IGS digunakan untuk memprediksi kapan ikan tersebut akan siap dilakukannya pemijahan. Nilai IGS tersebut akan mencapai batas kisaran maksimum pada saat akan terjadinya pemijahan. Pemijahan sebagai salah satu bagian dari reproduksi merupakan mata rantai daur hidup yang menentukan kelangsungan hidup spesies (Junaidi, etal.,2009). Menurut Effedie (2002),Gonado Somatic Indeks (GSI) = Wg/W x 100% akan semakin meningkat nilainya dan akan mencapai batas maksimum pada saat akan terjadi [Link] ikan betina nilai GSI lebih besar dibandingkan dengan ikan [Link] (1971) dalam Effendie (2002) mendapatkan nilai GSI ikan thread fin berkisar antara 1 sampai 20%.Ikan dengan GSI 19% ada yang sanggup mengeluarkan [Link] kalanya nilai GSI ini dihubungkan dengan tingkat kematangan gonad (TKG) yang pengamatanya berdasarkan ciri-ciri morfologi kematangan [Link] memperbandingkan demikian akan tampak hubungan antara perkembangan didalam dan diluar gonad,atau nilai nilai morfologi yang kuantitatifkan. 2.6. Gonado Indeks (GI) Perkembangan gonad semakin matang maka telur di dalamnya juga semakin besar ukurannya karena ada pengendapan kuning telur, hidrasi, dan terbentuknya butiran lemak. Di samping itu dapat digunakan perbandingan dengan menggunakan panjang tubuh sabagai indikatornya. Indikator kematangan gonad ini diperoleh dari perbandingan antara berat segar gonad dan panjang ikan atau sering disebut sebagai Indeks gonad (Gonado Index) (Effendie, 1979 dalam Diana, 2007). Menurut Effendie (1997) dalam Tuegeh,et al. (2012), mengemukakan bahwa nilai rata-rata indeks kematangan gonad dan indeks gonad tidak cukup sebagai satu kriteria untuk menunjukkan puncak pemijahan karena selama dalam puncak pemijahan tadi ada ikan yang sudah memijah dengan IKG akan meningkat atau bertambah besar dan nilai tersebut akan mencapai maksimum pada saat akan terjadi pemijahan dan akan menurun secara drastis pada saat pemijahan berlangsung sampai [Link] nilai indeks gonad betina berkisar antara 2,9615 sampai 40,6839 dan memiliki nilai rata-rata 5,1920 sampai 28,4828.

MATERI 3 : FOOD AND FEEDING HABIT

1. PENDAHULUAN

1.1. Latar belakang Pangan dan makanan mempunyai fungsi yang sangat amat penting untuk mahluk hidup karena merupakan kebutuhan utama dan menentukan kelangsungan hidup mahluk hidup .Hak atas pangan adalah hak asasi yang paling penting setelah [Link] karena itu setiap mahluk hidup berhak atas pangan yang memadai baik kualitas dan kuantitasnya (Samanjuntak dan Zahid, 2009). Setiap mahluk hidup, termasuk ikan, membutuhkan energy mempertahankan kelangsungan hidup dan kelestarian keturunanya. Sumber utama energi bagi ikan berasal dari makanan sebab ikan tidak mampu memanfaatkan energi matahari secara langsung seperti yang dilakukan oleh tanaman. Energi dalam pakan dapat dimanfaatkan setelah pakan tersebut dirombak menjadi komponen yang lebih sederhana (Afrisnto dan Evi liviawaty, 2005). Berdasarkan macam pakan dimakanya, ikan dapat dibedakan menjadi 3 golongan, yaitu (1) pemakan tumbuh-tumbuhan (herbivore), (2) pemakan daging (carnivore) dan (3) pemakan campuran (omnivora). Jenis ikan pemakan campuran adalah ikan pemakna plankton dan ikan pemakn hancuran bahan organic (detritus) (Djarijah, 1996)

1.2. Maksud dan tujuan 1.3. Waktu dan tempat

2. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Pengertian Food an Feeding Habits Menurut Effendie (2002)dalam Irawati (2011), makanan merupakan faktor pengendali yang penting dalam menghasilkan sejumlah ikan di suatu perairan, karena merupakan faktor yang menentukan bagi populasi, pertumbuhan dan kondisi ikan di suatu perairan. Di alam terdapat berbagai jenis makanan yang tersedia bagi ikan dan ikan telah menyesuaikan diri dengan tipe makanan khusus dan telah dikelompokkan secara luas sesuai dengan cara makannya, walaupun dengan macam-macam ukuran dan umur ikan itu sendiri (Nikolsky, 1963) Kebiasaan makanan ikan (food habits) adalah kuantitas dan kualitas makanan yang dimakan oleh ikan, sedangkan kebiasaan cara memakan (feeding habits) adalah waktu, tempat dan caranya makanan itu didapatkan oleh ikan. Kebiasaan makanan dan cara memakan ikan secara alami bergantung pada lingkungan tempat ikan itu hidup. Tujuan mempelajari kebiasaan makanan (food habits) ikan dimaksudkan untuk mengetahui pakan yang dimakan oleh setiap jenis ikan (Ankiq, 2007)

2.2. Food and Feeding habit ikan sampel Menurut Kordi (2010), makanan ikan nila dan mujair berupa plankton, perifiton, serta tumbuh-tumbuhan lunak, seperti hydrilla, ganggang sutera, dan klekap. Oleh karena itu, nila dan mujair digolongkan ke dalam omnivor (pemakan segala/ hewan dan tumbuhan). Untuk pemeliharaannya, nila diberikan pakan buatan (pelet) yang mengandung protein antara 2025%. Ikan nila lebih suka bergerombol di tengah atau di dasar kolam jika dalam kondisi kenyang. Dari beberapa penelitian menunujukkan bahwa kebiasaan makan ikan nila berhubungan dengan suhu perairan dan intensitas sinar matahari. Pada siang hari di mana intensitas matahari cukup tinggi dan suhu air meningkat, ikan nila lebih agresif terhadap makanan . Sebaliknya dalam keadaan mendung atau hujan, apalagi di waktu malam hari ketika suhu air rendah, ikan nila menjadi kurang agresif terhadap makanan (Djarijah, 2002 dalam Apriliza, 2012).

2.3. Penggolongan Ikan berdasarkan Food and Feeding Menurut Djarijah (1995), berdasarkan macam pakan yang dimakannya, ikan dapat dibedakan menjadi 3 golongan, yaitu (1) pemakan tumbuh-tumbuhan (herbivore), (2) pemakan daging (carnivore) dan (3) pemakan campuran (omnivore). Jenis ikan pemakan campuran adalah ikan pemakan plankton dan ikan pemakan hancuran bahan organic (detritus). Jenis ikan pemakan tumbuh-tumbuhan (herbivore) adalah jenis ikan yang makanan utamanya (makanan pokoknya) terdiri dari bahan-bahan pangan yang banyak mengandung sumber nutrisi nabati (tumbuh-tumbuhan). Jenis ikan pemakan daging (carnivore) adalah jenis ikan yang makanan pokoknya terdiri dari bahan pangan yang banyak mengandung sumber nutrisi hewani. Jenis ikan pemakan campuran (omnivora) tidak banyak memilih pakan yang akan di makannya. Ikan ini lebih mudah dalam menyesuaikan dengan makanan yang ada (diberikan). Ikan pemakan plankton cenderung memakan bahan pangan yang halus dan berbentuk butiran lembut. Menurut Kottelat, et al. (1993) dalam Hermawan (2012), ikan berdasarkan jenis makanannya digolongkan menjadi tujuh golongan, ketujuh kelompok itu adalah : 1) Herbivora A (endogenus), yaitu golongan ikan yang memakan bahan tumbuhan yang hidup di air atau di dalam lumpur, misalnya alga, hifa jamur. 2) Herbivora B (eksogenus), golongan ikan ini adalah yang memakan bahan makanan dari tumbuhan yang jatuhke air, misalnya buah-buahan, daun. 3) Predator 1 (endogenus), yaitu golongan ikan yang memakan binatang-binatang kecil air, misalnya nematode, rotifer, endapan plankton dan invertebrata lain didalam pasir atau lumpur. 4) Predator 2 (endogenus), yaitu golongan ikan yang memakan larva serangga atau binatang air kecil lainnya. 5) Predator 3, yaitu golongan ikan yang memakan hewan air yang lebih besar misalnya udang, siputkecil, kepitingkecil yang umumnya ada didasar perairan. 6) Predator 4, yaitu golongan ikan yang memakan ikan-ikan lainnya. 7) Omnivora, yaitu golongan ikan yang memakan bahan makanan yang berasal dari hewan dan tumbuhan. Ikan golongan ini mempunyai sisitem pencernaan antara bentuk herbivore dan karnivora.

2.4. Penggolongan Ikan berdasarkan tipe usus (disertai gambar) Menurut Effendie(2002)dalamRamli dan RifaI(2010), ada tiga macam sifat makan ikan,jika dilihat dari perbandingan rntang panjang usus dengan panjang total ikan, yaitu: 1 ). Jika panjang usus lebih panjang dibanding panjang total ikan, sifat makan ikan adalah herbivora 2 ). Jika panjang usus relatif sama dengan panjang total ikan, sifat makan ikan adalah omnivora 3 ). Jika panjang usus lebih pendek dibanding panjang total ikan, sifat makan ikan adalah karnivora ikan dapat diklasifikasikan berdasarkan kebiasaan makan mereka sebagai detritivores , herbivora , karnivora dan omnivora . dalam kategori ini ikan dapat dicirikan lebih lanjut sebagai ( 1 ) euryphagous , memiliki diet campuran ( 2 ) stenophagous , makan berbagai jenis makanan terbatas dan ( 3 ) monophagous , mengkonsumsi hanya satu jenis makanan . Spesies karnivora cenderung memiliki panjang usus yang lebih pendek . Demikian pada ikan herbivoraeuryphagous,sacramento blackfish (Orthodonmicrolepidotus) memiliki usus jauh lebih panjang dari pada ikan karnivora sacramentosquafish ( Ptychocheilusgrandis) , danpada ikan lainnya sacramento hitch ( Laviniaexilicauda ) memiliki panjang usus menengah sesuai dengan makanannyayaitu zooplankters.( Moyle dan cech,1996).

(Moyle dan Cech, 1996)

2.5. Food and feeding berdasarkan bentuk morfologi ikan Mengenai feeding habits yaitu kebiasaan cara memakan pada ikan sering kali dihubungkan dengan bnetuk tubuh yang khusus dang fungsional morfologi dari tengkoraknya, rahang, dan alat pencernakan makanannya. Jadi ikan yang herbivore secara sederhana dapat dinyatakan bahwa ikan itu tidak mempunyai kemampuan untuk memakan dan mencernak material lain selain tumbuhan, oleh Karena itu pemakan tumbuhan cenderung memakan material tumbuhan yang lambat dicernakan. Ikan herbivore ini harus dapat mengekstraksi nutrient melalui ususnya yang panjang. Jadi usus ini berfungsi sebagai penahan makanan dalam jumlah besar dalam waktu yang lama untuk mendapatkan kesempatan penggunaan penuh material makanan yang sudah dicernak. Secara kontras ikan karnivor mempunyai usus pendek memperlihatkan perbandingan panjang usus beberapa spesies ikan yang berbeda cara makannya. Disini jelas bahwa panjang usus sebagai gambaran dari spesialisasi penyesuaian di dalam ekologi kebiasaan makanan. Bahkan diantara ikan karnivor, panjang ususnya ikan lebih besar pada ikan yang memangsa binatang yang berukuran kecil (Effendie, 2002). Lammens dan Hoogenboezem (1981) dalam Asyari dan Khoirul Fatah (2011)

mengatakan semua saluran pencernaan ikan telah disesuaikan dengan makanan yang dikonsumsi oleh ikan tersebut, agar proses mencerna makanan dapat berlangsung optimum. Ikan yang bersifat herbivora memiliki saluran pencernaan yang lebih panjang dibandingkan ikan omnivora dan karnvora karena jenis makanan yang dimakan seperti tumbuh-tumbuhan dan lainnya lebih susah hancur sehingga membutuhkan waktu yang lebih lama untuk mencernanya. Menurut Mudjiman (1991) dalam Asyari dan Khoirul Fatah (2011) pada ikan vegetaris (herbivora) saluran pencernaan dapat tiga kali panjang tubuhnya. Dari pengamatan panjang usus ikan motan, panjang saluran pencernaannya bahkan mencapai 5,9 kali panjang tubuh ikan tersebut.

2.6. Rantai makanan (disertai gambar) Menurut Pratikno dan Sunarsih (2010), Dalam ekologi, dijenal istilah rantai makanan. Rantai makanan merupakan lintasan konsumsi makanan yang terdiri dari beberapa spesies

organisme. Bagian paling sederhana dari suatu rantai makanan berupa interaksi dua spesies yaitu interaksi antara mangsa (prey) dengan pemangsa (predator). Menurut Aryulina, et al., (2004), Rantai makanan dapat dimulai bukan dari produsen, tetapi dapat juga dimulai dari detritus. Detritus adalah partikel-partikel organic hasil penguraian berbagai organisme mati dan sisa organisme, Sisa organisme seperti kotoran hewan, dedaunan, dan ranting yang gugur diuraikan oleh organisme pengurai(decomposer). Detritus merupakan makanan bagi organisme seperti cacing, keluwing, rayap dan kecoa.

2.7. Jaring makanan Di alam terjadi proses makan memakan. Tumbuhan hijau dimakan ulat. Ulat dimakan burung prenjak dan burung prenjak dimakan ular. Proses makan memakan disebut rantai makanan, karena terdiri atas banyak rantai. Rantai makanan itu bercabang-cabang merupakan jaring-jaring, sehingga disebut jaring-jaring makanan (Riberu, 2002). Di dunia ini tidak hanya ada satu rantai makanan. Plankton tidak hanya dimakan udang, tetapi oleh berbagai hewan yang hidup di air. Demikian pula ular akan memakan tikus, katak, ikan, burung, dan sebagainya. Akibatnya terbentuklah berbagai rantai makanan yang sangat komplek hingga merupakan jaring jaring. Sekumpulan rantai rantai makanan yang saling berhubungan itulah yang disebut jaring jaring makanan (Murtedjo, 1987).

(Murtedjo, 1987)

MATERI 4: Hubungan Panjang dan Berat

1. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Pengamatan ukuran panjang dan berat ikan Gulamah berguna untuk mengetahui komposisi ukuran dan hubungan panjang beratnya. Berdasarkan hasil analisis hubungan panjang berat ikan Gulamah jantan, diperoleh persamaan W = Berdasarkan uji b, nilai ini menunjukkan bahwa pertumbuhan ikan Gulamah jantan bersifat allometrik negatif yaitu pertambahan panjang lebih cepat daripada pertambahan berat. (Saputra et al, 2008) Nilai koefisien b = 1,48 pada musim kemarau dan 2,63 pada musim hujan. Nilai b di bawah 3 menunjukkan ikan saluang di dataran banjir memiliki model pertumbuhan allometrik negatif. Artinya pertumbuhan panjang lebih cepat dibandingkan pertumbuhan berat. (Sulistiyarto, 2012) Menurut Effendie (1997) dalam Suwarni (2009), bahwa pengaruh ukuran panjang dan bobot tubuh ikan sangat besar terhadap nilai b yang diperoleh sehingga secara tidak langsung faktor faktor yang berpengaruh terhadap ukuran tubuh ikan akan mempengaruhi pola variasi dari nilai b. Ketersediaan makanan, tingkat kematangan gonad, dan variasi ukuran tubuh ikan ikan sampel dapat menjadi penyebab perbedaan nilai b tersebut.

1.2. Maksud dan Tujuan 1.3. Waktu dan Tempat

2. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Klasifikasi dan Morfologi Ikan a. Ikan Nila Munurut Suyanto (2002) dalam elyana (2011), Klasifikasi dari Oreochromis niloticus adalah sebagai berikut : Phylum : Chordata Sub Phylum : Vertebrata Classis : Osteichtyes Sub class : Acanthopterigii Ordo : Percomorphi Sub Ordo : Percaide Familia : Cichlidae Genus : Oreochromis Spesies : Oreochromis niloticus Linn. Berdasarkan morfologinya, kelompok ikan Oreochromis memang berbeda dengan kelompok Tilapia. Secara umum, bentuk tubuh nila memanjang dan ramping dengan sisik berukuran besar berbentuk ctenoid. Bentuk matanya besar dan menonjol serta bagian tepi berwarna putih. Gurat sisi (linea lateralis) terputus di bagian tengah tubuh kemudian berlanjut lagi, tetapi letaknya lebih ke bawah dibandingkan letak garis yang memanjang di atas sirip dada. Jumlah sisik padan gurat sisi 34 buah. Sirip punggung, sirip perut, dan sirip duburnya memiliki jari jari lemah tetapi keras dan tajam seperti duri. Sirip punggung dan sirip dada berwarna hitam, sedangkan pinggir punggung berwarna abu abu atau hitam (Suyanto, 2002 dalam Elyana, 2011).

b. Udang Galah Menurut Khairuman dan Amri (2008), Klasifikasi udang galah adalah sebagai berikut: Phylum: arthropoda Kelas: crustacea Ordo: Caridae Family: Decapoda Genus: Macrobrachium

Species: Macrobrachium rosenbergii Nama asing: fresh water giant river prawn Nama local: udang galah (riau dan sebagaian sumatera), udang satang (jawa dan sunda), udang watang (sumatera).

Ciri morfologinya tubuh udang galah terdiri atas tiga bagian, yaitu cephalocherax, abdomen (tubuh), dan uropoda (ekor). Cephalocherax merupakan gabungan dari kepala dan dada udang galah. Bagian ini dibungkus oleh kulit keras yang disebut karapas (cangkang). Dibagian depan kepala udang galah terdapat tonjolan karapas yang bergerigi (rostrum). Rostrum ini digunkan untuk mengidentifikasi jenis udang galah. Caranya dengan membedakan jumlah gerigi yang terdapat di rostrum tersebut (Khairuman dan Amri, 2008).

c. Belut Menurut Taufik dan Saparinto (2008), pada umumnya belut di indonesia ada tiga jenis. Namun, yang paling dikenal adalah belut sawah (Monopterus albus). Belut sawah ini paling populer dan paling mudah didapat terutama di areal persawahan. Belut sawah memiliki klasifikasi sebagai berikut : Kingdom : Animalia Metazoa Chordata Pisces Teleostei Synbrachoidae Synbranchidae Monopterus : Monopterus albus

Subkingdom : Filum Kelas Subkelas Ordo Family Genus Spesies : : : : : :

Menurut Taufik dan Saparinto (2008), belut sawah (Monopterus albus) memiliki panjang badan 20 kali tinggi tubuhnya., letak permulaan sirip punggung sedikit dibelakang perut. Alat pernapasan belut ini dilengkapi dengan tiga lengkung insang. Belut sawah memiliki ukuran panjang maksimal rata-rata 80gram dan berat maksimal hingga 400gram.

2.2. Pengertian Pertumbuhan Pengertian pertumbuhan secara umum adalah perubahan dimensi (panjang, bobot, volume, jumlah, dan ukuran) persatuan waktu baik individu maupun komunitas Perubahan itu terjadi pada keseluruhan tubuh atau organ-organ tertentu dan jaringan, atau dapatjadi

perubahan tersebut berkaitan dengan komponen tubuh seperti organ dan jaringan (Effendie , 2002 dalam Wibowo et al., 2010). Menurut Surdijani (2008), pertumbuhan adalah proses kenaikan volume karena adanya substansi dan pertambahan sel. Pertumbuhsn bersifat kuantitatif dan tidak dapat kembali ke keadaan semula (irreversible).

2.3. Faktor yang mempengaruhi Pertumbuhan Menurut Wahyuningsih dan Barus (2006) dalam Mufidah, et al.(2009), pada pemeliharaan larva, nutrisi dari makanan pertama digunakan untuk mempertahankan hidupnya dahulu, selanjutnya digunakan untuk pertumbuhan. Faktor yang mempengaruhi pertumbuhan adalah faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal yaitu faktor yang sukar untuk dikontrol meliputi : keturunan, seks, umur, parasit dan penyakit. Faktor kedua yaitu faktor eksternal yang paling utama mempengaruhi pertumbuhan ikan meliputi : suhu air, DO, NH3 dan ketersediaan makanan. Pertumbuhan ikan dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. Faktor internal yaitu: bobot tubuh, sex, umur, kesuburan, kesehatan, pergerakan, aklimasi, aktivitas biomassa, dan konsumsi oksigen. Sedangkan faktor eksternal terdiri dari faktor abiotik dan faktor biotik. Faktor abiotik terdiri dari tekanan, suhu, salinitas, kandungan oksigen air, buangan metabolit (CO2, NH3), pH, cahaya, musim ( Haetami, et al., 2005). 2.4. Pertumbuhan Allometrik dan Isometrik
Menurut Sparre dan Venema (1999) dalam Syahrir(2013), sifat pertumbuhan allometrik positif memberi arti bahwa, indikasi pertumbuhan panjang lebih lambat dibandingkan pertumbuhan bobot ikan. sedangkan untuk pertumbuhan isometrik ditemui pada ikan puyau mata merah, sehingga dapat dinyatakan kalo pertumbuhan panjang sebanding dengan pertumbuhan bobotnya. Perbedaan ini diduga dipengaruhi oleh perbedaan kelompok ukuran yang disebabkan oleh perbedaan kondisi lingkungan . Menurut Goldman,et al., (1990), perubahan Allometric terjadi ketika bentuk suatu organisme menyesuaikan diri dengan tingkat yang berbeda di mana luas permukaan, volume dan parameter lainnya fisik berubah dengan ukuran yang berbeda. Ini kadang-kadang disebut sebagai scaling diferensial. Perubahan isometrik yang terjadi pada masing-masing dimensi dari suatu organisme

adalah ketika skala atas atau bawah tanpa perubahan yang tidak seimbang seperti dalam parameter luas permukaan dan volume. Bentuk tetap konstan dan tidak berubah dengan perubahan ukuran. Perubahan isometric kadang-kadang disebut sebagai kesamaan geometris.

2.5 Hubungan Panjang dan Berat Menurut Effendie (2002), berat dapat dianggap sebagai suatu fungsi dari panjang. Hubungan panjang dan berat hampir mengikuti hukum kubik yaitu bahwa berat ikan sebagi pangkat tiga dari pannjangnya. Tetapi hubungan yang terdapat pada ikan sebenarnya tidak demikian karena bentuk dan panjang ikan berbeda-beda. Nilai praktis yang dapat diambil dari perhitungan panjang dan berat ikan ialah dapat menduga berat dari panjang ikan atau sebaliknya, keterangan tentang ikan mengenai pertumbuhan, kemontokan, perubahan dari lingkungan. Menurut Merta (1993) dalam Mulfizar, et al., (2012) Dalam biologi perikanan, hubungan panjangberat ikan merupakan salah satu informasi pelengkap yang perlu diketahui dalam kaitan pengelolaan sumber daya perikanan, misalnya dalam penentuan selektifitas alat tangkap agar ikanikan yang tertangkap hanya yang berukuran layak tangkap. Lebih lanjut Richter (2007) dan Blackweel (2000) dalam Mulfizar, et al., (2012) menyebutkan bahwa pengukuran panjangberat ikan bertujuan untuk mengetahui variasi berat dan panjang tertentu dari ikan secara individual atau kelompokkelompok individu sebagai suatu petunjuk tentang kegemukan, kesehatan, produktifitas dan kondisi fisiologis termasuk perkembangan gonad. Analisa hubungan panjangberat juga dapat mengestimasi faktor kondisi atau sering disebut dengan index of plumpness, yang merupakan salah satu hal penting dari pertumbuhan untuk membandingkan kondisi atau keadaan kesehatan relatif populasi ikan atau individu tertentu (Everhart & Youngs, 1981 dalam Mulfizar, et al., 2012).

Anda mungkin juga menyukai