UD SREGEP UD Sregep merupakan pelaku bisnis yang khusus menangani sampah-sampah kertas.
Bahkan di Yogyakarta, nama UD Sregep sudah sangat dikenal sebagai pemburu kertas bekas. Selain kalangan rumah tangga, hampir semua perkantoran instansi pemerintah maupun swasta selalu menjadi langganan UD Sregep dalam membuang sampah-sampah kertasnya. Meskipun sekedar mengelola dan mengumpulkan sampah kertas, Anda mungkin tak akan menyangka bila omsetnya telah mencapai 20 ton per hari. Bila sampah kertas dihargai sekitar Rp 1.000 hingga Rp 1.200 per kg, maka omsetnya mencapai Rp 20 juta per hari. Maka tak heran bila bisnis yang telah dijalankan sejak tahun 1993 ini telah memberikan banyak hal, di antaranya rumah besar yang dijadikannya sebagai gudang, armada truk, serta 70 karyawan yang kini bernaung di dalamnya. Bisnis Joko mulai berbinar ketika ia memiliki ide untuk membeli kertas bekas yang ada di kantor kantor pemerintah dan swasta. Ia memang melihat potensi pasar yang cukup besar dari lembaga pemerintah dan swasta tersebut. Kertas memang menjadi kebutuhan pokok untuk kegiatan administrasi maupun dokumentasi. Tapi untuk mendapatkan kertas tersebut dibutuhkan teknik dan kesabaran [Link] dokumen kantor di klasifikasikan sebagai produk yang harus dijaga kerahasiaannya. Karena itulah banyak dokumen diklasifikasikan sebagai produk yang harus dijaga kerahasiannya. Karena itulah banyak dokumen yang tidak lagi dipakai biasanya dimusnahkan dengan cara dirajang atau dibakar. Bahkan setelah dirajang kemudian di buang ke tempat sampah karena dianggap sebagi barang yang tidak bernilai ekonomi.
Srongpas SrongPas berkhasiat meningkatkan tenaga dan kekuatan pria, mengobati sakit pinggang, pegal linu, letih dan lemah SrongPas Ginseng Kapsul Komposisi: Tiap kapsul mengandung: Eurycomae Extract Panax Ginseng Extract Elephantopi Extract Retrofracti Extract 250 125 50 250
Zingiberis Zerumbeti Extract
50
Kegunaan: Meningkatkan tenaga dan kekuatan pria, mengobati sakit pinggang, pegal linu, letih dan lemah, menambah nafsu makan dan menjaga fungsi ginjal. Dosis: Minum 2x sehari 1-2 kapsul, pagi & malam hari secara teratur.
SRONGPAS ENDURA Adalah kapsul khusus untuk pria dewasa berfungsi untuk melncarkan peredaran darah, menambah stamina pria supaya lebih GRENggggg Minum 2 kapsul sebelum tidur.......maka bangun tidur akan merasakan pulihnya tenaga anda untuk hasil lebih maksimal: Minum 2 kapsul (setelah minum kopi)............. maka hubungan suami istri jadi lebih MANTAAAAAAAP
Lima Pusat Bisnis dan Belanja Segera Hadir di Yogya [Link], YOGYA - Setidaknya lima pusat belanja baru, tempat kongkow, dan titik bisnis yang akan memanjakan gaya hidup modern segera hadir di Yogya. Pusat keramaian, bahkan ada yang berkonsep superblok, dipastikan akan menjadikan wilayah ini makin sesak dan komplek. Ke-5 titik ekonomi baru yang segera hadir sejauh penelusuran Tribun sepanjang pekan lalu terdiri atas Sahid Jogja Lifestyledi Jalan Babarsari, Malioboro City dan Lippo Mall Saphir di Jalan Laksda Adisucipto. Jogja City Mall di Jalan Magelang Km 6, satu komplek dengan The Rich Sahid Hotel Jogja. Kemudian yang terakhir Hartono Lifestyle Mall di Ring Road Utara, persisnya di seberang Markas Polda DIY. Kehadiran pusat perbelanjaan modern plus hotel serta apartemen ini dipastikan membuat persaingan bisnis di Yogya makin sengit. Kepala Kantor Pelayanan Perizinan (KPP) Kabupaten Sleman, Wayan Gundana, mengakui perkembangan pembangunan mall dan pusat perbelanjaan terbilang pesat. Sejak 2012 Ditemui di kantornya pekan lalu, Wayan mengatakan, permohonan perizinan pembangunan mall dan pusat perbelanjaan di wilayahnya mengalir sejak awal
2012. Beberapa sudah mendapat izin di 2013, namun ada pula yang sampai saat ini masih diproses. Hartono Life Style Mall di Ring Road Utara dan Jogja City Malldi Jalan Magelang sedang dalam proses pembangunan. Begitu pula Malioboro City di Jalan Adisucipto. Proyek lain yang dalam proses persiapan adalah Sumber Baru Square di Jombor, tepatnya di seberang Universitas Teknologi Yogyakarta (UTY). Dari sekian banyak pembangunan mall dan pusat perbelanjaan baru serta hotel di Sleman, KPP Sleman hanya berwenang menangani pengajuan izin HO. Selebihnya, Izin Pemanfaatan Tanah (IPT), Izin Mendirikan Bangunan (IMB), dan operasionalnya ditangani instansi lainnya. "Tidak semua berupa mall, banyak juga hotel. Kami juga pernah mendengar di sisi timur fly over Jombor akan dibangun hotel. Tapi sampai hari ini belum ada berkas permohonan masuk," kata Wayan. Dari sekian proyek yang tengah berjalan, sebagian kecil investor lokal. Sisanya datang dari luar daerah, termasuk Lippo Grup, raksasa bisnis internasional yang didirikan Mochtar Riyadi. Sedangkan Hartono Lifestyle Mall Jogja dikelola investor lokal namun tengah melebarkan sayap bisnis di wilayah regional. Hartono telah memiliki mal serupa dengan konsep gaya hidup urban di kawasan Solo Baru, Sukoharjo. Konsep desain arsitektur Hartono Lifestyle Mall Jogja cukup futuristik. Eksterior maupun interiornya sangat menarik, menyenangkan untuk kaum urban dan cocok untuk lokasi kongkow maupun pertemuan-pertemuan bisnis kelas menengah perkotaan. Superblok Namun menurut data KPP Sleman, permohonan izin HOHartono Lifestyle Mall diproses sejak 2011, sempat diperbarui setahun kemudian. Pengerjaan fisik bangunan saat ini terlihat semarak menyelesaikan lapis terbawah komplek cukup luas ini. Sedangkan Jogja City Mall di sebelah The Sahid Rich Jogja Hotel berdasarkan data permohonan yang diajukan di KPP Sleman, lahan yang dimanfaatkan diperkirakan seluas 18.700 meter persegi. Mall tersebut dibangun sejak tahun lalu. Di Babarsari, Sahid Jogja Lifestyle City terus dikebut. Konsepnya seperti superblok, hunian modern dilengkapi mall dan pusat hiburan, convention hall, hotel dan apartemen.
Kepala Seksi Pengolahan Perizinan KPP Sleman, Handoko, menambahkan, kapan mall dan pusat perbelanjaan serta hotel baru itu akan beroperasi, belum diketahui detailnya. Sejauh ini Dinas Pekerjaan Umum Sleman yang menanganinya juga belum memberikan penjelasan. Demikian juga mengenai nilai investasinya, pejabat di Kantor Penanaman, Penguatan, dan Penyertaan Modal (KP3M) Kabupaten Sleman juga belum memegang data detailnya. Handoko hanya memastikan semua pembangunan di lokasi tersebut telah melalui proses pembuatan izin HO. Untuk IMB, IPT dan operasionalnya belum diketahui karena bukan kewenangannya. Dari sekian titik pembangunan pusat belanja baru di Yogyakarta, investor, pemilik atau pengembangnya belum ada yang bersedia menjelaskan secara rinci proyek bisnisnya.(ose) Investasi Terus Meningkat, Tren Positif Bagi Sleman [Link], YOGYA - Pembangunan sejumlah mall dan pusat perbelanjaan serta perhotelan yang marak di wilayah perkotaan Yogyakarta sisi timur dan utara baru-baru ini bisa jadi tanda positif tren investasi. Meski demikian, sejauh ini belum dapat diperkirakan seberapa besar investasi keseluruhan dari munculnya pembangunan mall dan pusat perbelanjaan tersebut. Kasi Pemasaran dan Penanaman Modal KP3M Kabupaten Sleman, Arjunandir mengatakan, data investasi yang sudah dikantonginya baru sampai pada Agustus 2013. Meski beberapa mall dan pusat belanja terbaru dimulai sejak setahun sebelumnya hingga 2013, namun data investasi mereka belum semuanya masuk KP3M Sleman. "Yang jelas secara keseluruhan tren investasinya mengalami peningkatan dari waktu ke waktu. Pengembang dan pengusaha yang sebelumnya memiliki lokasi di Yogyakarta mulai melakukan ekspansi ke wilayah Sleman," tutur Arjunandir. Disebutkan, tren investasi di wilayah Sleman selama ini memang cenderung meningkat. Seiring dengan penambahan penanaman modal secara keseluruhan baik asing maupun dalam negeri, berarti pemanfaatan tanah juga meningkat.
Kasi Pengembangan dan Penanaman Modal KP3M Sleman, Sriyono, menambahkan, berdasarkan data dimilikinya memang terlihat kecenderungan meningkat. Secara keseluruhan nilai investasi di Sleman sampai Agustus 2013 mencapai angka 211.917.706,59 dolar AS untuk investasi PMA (penanaman modal asing), dan untuk Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) mencapai Rp 1,4 triliun. Lebih tinggi Menurutnya, pada 2012 investasi PMA mencapai 233.560.125,46 dolar AS. Nilai tersebut memang lebih tinggi dibanding 2013. Namun, hal itu karena ada dua perusahaan yang kini tidak termasuk sebagai penanam modal asing dan masuk sebagai penanam modal dalam negeri. Sementara, nilai investasi PMDN 2012 mencapai Rp 3,4 miliar. Jika dibandingkan dengan nilai investasi PMDN sampai Agustus 2013 berarti terjadi peningkatan. "Secara keseluruhan tren investasinya meningkat. Tapi itu mencakup semua unit usaha, baik pusat perbelanjaan maupun yang lainnya, juga yang non PMA dan PMDN," ujar Sriyono. Pihaknya mengaku belum dapat memetakan seberapa besar pengaruh pendirian mall dan pusat perbelanjaan baru-baru ini terhadap investasi. Pasalnya, data yang masuk di KP3M sejauh ini baru sampai Agustus 2103. Itu belum mencakup nilai pendirian sejumlah mall dan pusat belanja baru, antara lain Hartono Lifestyle Mall Jogja, Jogja City Mall, Malioboro City, Sahid Jogja Lifestyle City di Babarsari, dan Mataram City. Beberapa mall, pusat belanja, dan perhotelan yang baru menurutnya masih dalam proses pengurusan perizinan. Proses perizinan itu menurutnya akan memakan waktu lama karena prosedur pengajuannya dilakukan di dinas dan instansi terpisah antara lain di Kantor pelayanan perizinan, dinas PU, pengendalian pertanahan dan instansi terkait lainnya. "Jika itu perusahaan termasuk penanam modal asing pastinya akan mengajukan izin prinsip ke kami. Ada beberapa tempat usaha yang sudah masuk tapi yang lama. Untuk lokasi baru kami belum menerimanya," lanjutnya.(ose)
Yogyakarta Kaji Pembatasan Jumlah Hotel
YOGYAKARTA - Pemerintah Kota Yogyakarta membentuk kelompok kerja yang terdiri atas berbagai instansi untuk melakukan kajian tentang aturan pembatasan hotel di wilayah tersebut. Kelompok kerja (pokja) sudah terbentuk, terdiri atas Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda), Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), Bagian Hukum, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, serta dari Dinas Perizinan, kata Kepala Bidang Pelayanan Dinas Perizinan Setiyono di Yogyakarta, pekan lalu. Menurut dia, kelompok kerja tersebut akan melakukan kajian mengenai aturan pembatasan jumlah hotel sebagai bagian dari upaya pengendalian pembangunan. Sambil menunggu hasil kajian dari pokja, lanjut dia, Dinas Perizinan sudah tidak menerbitkan izin baru untuk pembangunan hotel di Kota Yogyakarta. Sebelum pokja terbentuk, sudah ada beberapa investor yang mengajukan izin untuk pembangunan hotel baru dan mengurus berbagai izin lain seperti kajian lingkungan ke Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kota Yogyakarta, kata dia. Namun demikian, dia tidak dapat memastikan kapan pokja kajian pembatasan hotel tersebut akan merumuskan hasil kajiannya. Kami terus melakukan koordinasi dengan berbagai instansi itu, lanjut dia. Berdasarkan data dari Dinas Perizinan Kota Yogyakarta, terdapat 64 hotel baru yang mengajukan izin pembangunan dalam dua tahun terakhir. Sebagian besar berlokasi di tempat wisata utama Kota Yogyakarta yaitu di seputaran Malioboro. Sebagian besar sudah dalam proses pembangunan. Selain hotel, juga akan ada pembangunan sejumlah kondotel di Gondokusuman dan di Yogyakarta bagian selatan. Pembangunan rencananya dilakukan pada akhir 2013. Sementara itu, Ketua Komisi A DPRD Kota Yogyakarta Chang Wendryanto berharap agar Dinas Perizinan tidak mengeluarkan izin baru untuk hotel. Untuk izin yang sudah masuk silakan diproses, namun untuk pengajuan izin baru sebaiknya ditunda lebih dulu, kata dia. Hal senada juga dinyatakan anggota Komisi A DPRD Kota Yogyakarta Anton Prabu Semendawai yang menyatakan, kajian untuk pembatasan jumlah hotel tersebut harus dilakukan menyeluruh, termasuk ditinjau dari tingkat hunian hotel di Kota Yogyakarta. Regulasi ini diharapkan segera terwujud dan kemudian disosialisasikan secara luas, ujar dia.
Merebaknya jumlah hotel baru di kawasan kota Yogyakarta memaksa pemerintah menghentikan izin pembangunan hotel mulai 2013 ini. Dalam tiga tahun terakhir saja, tercatat pemerintah kota Yogyakarta menerima permohonan pembangunan setidaknya 64 gedung hotel baru. Menanggapi banyaknya keluhan dari warga kota ke instansi terkait, maka Komisi A DPRD diwakili Chang Wendyarto mendesak pemkot untuk menerbitkan Peraturan Wali Kota (perwal) yang menahan penambahan hotel baru di Yogyakarta. Berdasarkan laporan Tribun Jogja, sebanyak 48 hotel telah merampungkan proses Izin Mendirikan Bangun Bangunan sementara 16 hotel lainnya masih dalam proses pengajuan izin. Dari total yang telah mendapat izin itu ada setidaknya 18 hotel yang berbintang dua hingga bintang lima, selebihnya hotel-hotel kelas melati. Gubernur DI Yogyakarta Sri Sultan Hamengkubuwono X sendiri sebenarnya telah mengeluarkan instruksi yang sama untuk menahan izin pembangunan gedung hotel baru. Citra kota, status keistimewaan, potensi persaingan bisnis yang liar dan tak terkendali, serta aspirasi masyarakat jadi pertimbangan mengapa Sultan merasa perlu menegur pemerintah kota terkait maraknya pendirian hotel. Sultan memberi syarat bahwa pembangunan hotel di kabupaten/kota harus mencapai tingkat kebutuhan minimal 80%. Jikalau kurang, maka izin bisa ditahan. Hingga saat ini telah terlapor beberapa aksi aliansi warga yang menolak pembangunan hotel di kota Yogya. Di dusun Karangkanjen misalnya, rencana pembangunan hotel Bale Ningrat yang membawa bendera Metropolitan Golden Management (Horison Hotel Group) diprotes persatuan warga RT 48/RW 13 dan RW 14. Warga menolak rencana pembangunan hotel yang direncanakan berlantai lima dengan luas 5.000 meter persegi itu karena potensi polusi udara, pencemaran drainase air dan kepadatan lalu lintas. Wilayah Karangkanjen sendiri termasuk dusun terpadat karena berada dekat dengan daerah wisata kota. Menanggapi hal itu, Ketua Perhimpunan Hotel Restoran Indonesia DIY Istidjab Danunegoro sebagaimana dilaporkan Lensa Indonesia mengatakan, selama warga tidak setuju dan tidak memenuhi persyaratan tanda tangan untuk penerbitan IMB, maka pembangunan tidak bisa dilanjutkan.
Sebagian besar hotel baru di Yogyakarta terletak di sekitar kawasan wisata. Data dinas perizinan kota mencatat di wilayah Malioboro saja saat ini terdapat 8 hotel yang sedang proses bangun dan baru saja selesai pengerjaannya. Di luar pusat wisata, di beberapa kawasan satelit bangunan-bangunan hotel didominasi untuk kelas hotel budget dan gedung-gedung kondominium berkonsep kamar hotel. Warga dan pengguna jalan banyak mengeluhkan lalu lintas yang semakin padat, yang sebetulnya masuk akal karena jarak tepi depan bangunan hotel mengambil jatah paling mentok sesuai tertuang dalam RTRW yang adalah 4 hingga 8 meter. Mataram City yang sedang dibangun, dengan konsep hunian terintegrasinya mungkin akan jadi pelopor bangunan tertinggi di Yogya. Ini memulai tren perhotelan dan hunian baru di Yogyakarta yang memang dalam 2 tahun terakhir sedang digemari investor. Syahdan bangunan itu akan jadi gedung tertinggi di Yogyakarta, dengan tinggi komersial sebanyak 18 lantai atau fisik gedung menjulang setinggi hampir 100 meter. Pembangunan ditargetkan rampung pada medio 2014 dan saat ini, dengan harga Rp 610 juta per unit hunian, telah laku sebanyak 100 dari 269 unit yang ditawarkan. Akankah terjual habis? Investor begitu yakin, kok. Perizinan khusus Merebaknya bangunan hotel dan mal baru di Yogyakarta membuat publik bertanya. Kemudian saya coba mengklarifikasi kepada beberapa pihak yang sekiranya bisa menjawab kegalauan saya dan kerisauan masyarakat yang peduli hal ini. Muncul pertanyaanpertanyaan liar semacam apakah ada jalur khusus untuk mendapatkan izin gedung-gedung yang tingginya minta ampun itu? Pertama kali ke Yogyakarta pada 2007, saya mendapat informasi tidak resmi bahwa sebenarnya di kota Yogyakarta, tinggi bangunan yang diperbolehkan adalah maksimal 8 (delapan) lantai. Ini tidak termasuk monumen, bangunan cagar budaya dan menara telekomunikasi. Keterkejutan saya pertama kali timbul saat pada 2012 lalu UGM dan mitranya merampungkan proyek Menara Pertamina di kampus Fakultas Ekonomika dan Bisnis. Rampungnya gedung pencakar awan berlantai 8 ini membuat FEB jadi pertama dan satu-satunya fakultas dengan gedung berbentuk komersial khas bank dan perusahaan multinasional. Direktur Utama Karen Agustiawan pernah berujar kepada Liputan 6 bahwa itu adalah bentuk kebanggaan Pertamina dalam menjalin hubungan dengan kampus UGM untuk keperluan studi ketahanan
dan riset ekonomika dan bisnis. Total uang yang dirogoh? Dua belas milyar. Peresmiannya melibatkan pemangku jabatan provinsi, otoritas kampus dan pihak investor. Kemudian seperti jamur di musim hujan, sejak itu mulai muncul satu per satu gedung tinggi di kota Yogyakarta. Pacific Building di Jl. Laksda Adisutjipto, Mataram City, Student Apartment di Babarsari (saat ini dalam tahap ground breaking) menyusul begitu mendayudayu. Peraturan zonasi yang tertuang dalam aturan turunan berdasar Rancangan Tata Ruang dan Wilayah (RTRW) kota Yogyakarta memang mengklasifikasikan gedung-gedung ke dalam golongangolongan berdasar ketinggian. Peraturan Daerah Kota Yogyakarta No. 24 tahun 2009 tentang Bangunan Gedung pasal 5 poin (f) mengatur bahwa di kota Yogya, perizinan dan zonasi gedung dibagi ke dalam tiga golongan: 1. Bangunan gedung bertingkat tinggi dengan jumlah lantai 9 (sembilan) sampai dengan 10 (sepuluh) lantai .. 2. Bangunan gedung bertingkat sedang dengan jumlah lantai 5 (lima) sampai dengan 8 (delapan) lantai, 3. Bangunan gedung bertingkat rendah dengan jumlah lantai 1 (satu) sampai dengan 4 (empat) lantai. Nah, Mataram City, sebagai calon gedung tertinggi di Yogyakarta, konon telah mengantongi izin untuk mendirikan gedung 18 lantai. Masuk ke mana klasifikasinya? Pertanyaan ini bisa dijawab dengan lanjutan poin nomor 1 (bertingkat tinggi) di atas, yakni: dan apabila lebih dari 10 (sepuluh) lantai atau ketinggian melebihi ketentuan dalam Dokumen Perencanaan Kota, harus mendapatkan rekomendasi dari Komandan Pangkalan Udara Adisutjipto. Artinya, pendirian Mataram City dengan kompleks integrasinya setinggi 18 lantai itu bisa diasumsikan telah mendapat lampu hijau dari otoritas penerbangan Yogyakarta. Ini di samping hal-hal lain yang mungkin melibatkan lebih dari satu instansi terkait. Dengan kata lain, mulai munculnya gedung tinggi melebihi pemahaman awam maksimal 8 lantai selama ini adalah bentuk penyesuaian atas celah izin yang selama ini belum dimanfaatkan. Tak berhenti di situ, saya cari-cari informasi lagi .
Saya berusaha mencari pendapat pakar tata kota untuk menyusuri teka-teki perizinan hotel dan bangunan tinggi komersil lain di Yogyakarta ini. Kemudian dengan bantuan seorang teman, saya mendapatkan kontak tiga pakar tata kota dari UGM. Seorang di antaranya memberi saya jawaban yang masuk akal. Ir. Gunung Radjiman, [Link]. adalah dosen Teknik Arsitektur dan Perencanaan di Fakultas Teknik UGM. Posisinya sebagai Ketua Ikatan Ahli Perencanaan DIY memicu saya untuk menggali banyak hal terkait apa yang bisa disampaikan kepada masyarakat terkait persoalan semakin padatnya kota Yogya dengan bangunan komersial. Saya menghubungi Pak Gun lewat email berhubung dirinya mengaku sangat sibuk dengan banyak ujian akhir mahasiswa. Setelah mengirim pertanyaan-pertanyaan saya terkait tata kota Yogyakarta dengan perizinannya di mata orang awam, baru hari ini (13/6/2013) balasan surat elektronik itu muncul di komputer saya. Saya bertanya tiga hal yang sekiranya mewakili suara orang awam yang hanya melihat kota dan gedung-gedung dari jalanan: 1. Mengapa saat ini di Kota Yogyakarta hotel-hotel mewah dibangun tapi seakan-akan menanggalkan identitas etnis di bangunannya? 2. Mengapa pembangunan gedung-gedung baru (khusus untuk bisnis) di mata awam seperti mudah, perizinannya bagaimana? 3. Apakah mungkin kota Yogyakarta masih bisa seperti dulu, yang teratur, tidak memiliki gedung tinggi di atas 8 lantai, dsb.? Untuk pertanyaan nomor tiga sekiranya sudah saya temukan jawabannya melalui Perda di atas. Nah, meski demikian Pak Gun rupanya mengetahui apa persisnya yang saya ingin ketahui. Ia menjawab ketiga pertanyaan saya dengan penjelasan yang cukup singkat dan menurut saya bisa menjawab sebagian yang ingin saya tahu. Kebutuhan Riil kamar Untuk pertanyaan no. 1 Pak Gun menjelaskan bahwa pembangunan banyak gedung hotel mewah di Yogyakarta adalah upaya para investor untuk menanggapi proyeksi atas permintaan pasar dan potensi kunjungan wisatawan. Hanya saja, lanjut Pak Gun, proyeksi itu sekadar bentuk antisipasi pasar dan mengabaikan kebutuhan
riil kamar. Akibatnya, secara ekonomis bangun-dibangunnya banyak kamar hotel didasarkan pada kurva penawaran semata. Ini yang memicu perlombaan desain hotel minimalis dengan menawarkan room rate murah yang kisarannya Rp 200.000 hingga Rp 500.000), kontras dengan desain khas identitas tradisi Yogyakarta yang penuh detil dan ornamen. Ini sejalan dengan kalkulasi Sultan yang menyarankan pemerintah kabupaten/kota untuk mengikuti ukuran kebutuhan hotel, yakni minimal 80%. Jika sebuah kabupaten di DIY merasa kebutuhan atas hotelnya baru mencapai 40 atau 50 persen saja dan meneken kontrak izin, maka itu akan merugikan semuanya. Manajemen hotel akan kelabakan dengan penawaran yang tak diimbangi tingkat okupansi (tentu saja karena masyarakat sepi minat sementara jumlah hotel lebih banyak). Jalan keluar paling taktis bagi investor dan pengelola hunian adalah mempermainkan tarif kamar. Untuk pertanyaan no. 2 Pak Gun tidak banyak membahas masalah perizinan selain bahwa memang ada target Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang dikejar pemerintah kota. Namun di sisi lain, ia memberikan pencerahan yang mengejutkan. Menurutnya, fasilitas komersial yang banyak dibangun dari dana investor saat ini kurang disinergikan dengan sistem perencanaan kabupaten sekitar kota. Hal ini memicu apa yang ia sebut sebagai dekonsentrasi planologis persebaran fasilitas komersial. Pemerataan pembangunan menurut fungsi zonasinya cenderung terabaikan oleh egosentrisme yang jadi bagian dari ekonomi kota. Akibatnya bisa dilihat sekarang: keterkaitan budaya kota pusat dan kabupaten di sekitar Yogyakarta mulai renggang. Contoh tepat adalah saat di kota Yogyakarta marak berdiri hotel dan pusat berbelanjaan modern, sementara di Bantul dan dibatasi bahkan ditiadakan.