Bab II.
Statistik Maxwell-Boltzmann
155
KECEPATAN RATA RATA DAN KECEPATAN
DENGAN PELUANG TERBESAR
Jika kumpulan gas secara keseluruhan tidak
mengalami gerak transalasi, kecepatan rata-rata
molekulnya sama dengan nol. Tetapi kecepatan rata-rata
kumpulan gas dapat dihitung dengan menggunakan
fungsi distribusi yang telah dibicarakan sebelumnya.
Jika
v
f ( v )dv menyatakan peluang bahwa
kecepatan molekul gas berada dalam interval v dan v dv +
maka
( )
3/ 2
2 2
v
v
n ( v )dv m
f ( v )dv 4 exp mv / 2kT v dv
N 2 kT
t
t
= =
`
)
Dengan menggunakan defenisi kecepatan rata-rata
molekul gas
v
0
v vf ( v )dv
=
}
( )
3/ 2
2 3
0
m
v 4 exp mv / 2kT v dv
2 kT
t
t
=
`
)
}
Gunakan fungsi gamma :
( )
( )
2 3
2 2
0
1 1
exp av v dv 2
2a 2a
I
= =
}
sehingga
8kT
v
m t
=
Bab II. Statistik Maxwell-Boltzmann
156
Nilai rata-rata kuadrat kecepatan
2
v dapat ditentukan
dengan cara yang sama, yakni
2 2
v
0
v v f ( v )dv
=
}
( )
3/ 2
2 4
0
m
4 exp mv / 2kT v dv
2 kT
t
t
=
`
)
}
Gunakan fungsi gamma :
( )
2 4
2 5 / 2
0
1 5 1 3
exp av v dv
2a 2 2a 4
I t
| |
= =
|
\ .
}
sehingga
2
3kT
v
m
=
sangat sesuai dengan nilai yang diperoleh dari teori
kinetik sederhana dengan mengambil energi rata-rata
2
1
2
mv yakni
3
2
kT .
Kecepatan (laju) dengan peluang terbesar (paling
mungkin),
m
v adalah kecepatan dimana fungsi peluang
v
f ( v ) harganya maksimum. Maka
{ } ( )
3/ 2
3 2
v
df ( v ) m
4 2v mv / kT exp mv / 2kT 0
dv 2 kT
t
t
= =
`
)
Sehingga
m
2kT
v
m
| |
=
|
\ .
Bab II. Statistik Maxwell-Boltzmann
157
PELEBARAN GARIS SPEKTRUM OLEH EFEK
DOPPLER
Pada pembahasan berikut ini kita akan menggunakan
distribusi statistik Maxwell Boltzmann dalam kaitannya
pergeseran garis spektrum yang dipancarkan oleh radiasi
molekul gas.
Dalam teori gelombang disebutkan bahwa apabila
sebuah sumber gelombang memancarkan radiasi dengan
panjang gelombang atau frekwensi tertentu, maka pengamat
yang bergerak menjauhi atau mendekati sumber tersebut akan
mengukur atau merasakan radiasi gelombang tersebut panjang
gelombangnya lebih besar atau lebih kecil dari panjang
gelombang sumbernya. Pelebaran garis spektrum ini
merupakan suatu bukti keabsahan distribusi kecepatan
Maxwell yang secara eksperimen dapat dibuktikan.
Misalkan molekul gas melakukan radiasi dengan
panjang gelombang
o
dalam arah x. Untuk mempermdah
pembahasan kita mengambil komponen kecepatan dalam arah
x saja. Molekul dengan kecepatan
x
v bergerak menuju
pengamat dan akan menerima radiasi dengan panjang
gelombang . Panjang gelombang yang diukur oleh pengamat
adalah
x
o
v
1
c
| |
=
|
\ .
c adalah kelajuan cahaya. Kelajuan
x
v dapat ditulis sebagai
( )
o
x
o
c
v
= dan
x
o
c
dv d
=
Maka fraksi radiasi yang diterima oleh pengamat adalah
Bab II. Statistik Maxwell-Boltzmann
158
2
3/ 2
2
o
o o
m mc c
f ( )d exp d
2 kT 2kT
t
| |
=
` ` |
)
\ .
)
Intensitas radiasinya
I( )d Cf ( )d
=
( )
2
2
o
o
o
mc
I exp d
2kT
| |
=
` |
\ .
)
C adalah tetapan dan
( )
o
I adalah intensitas radiasi pada
panjang gelombang
o
. Distribusi intensitas sebagai fungsi
panjang gelombang disajikan dalam gambar berikut dimana
bentuknya mengikuti fungsi fungsi Gauss dengan pusat
o
.
Jika intensitas spektrum diukur untuk selang panjang
gelombang tertentu oleh efek Doppler, maka menurut
persamaan di atas dapat dimungkinkan untuk mengukur
temperatur gas yang memancarkan radiasi.
PRINSIP EKIPARTISI ENERGI
Penerapan berikut dari statistik Maxwell Boltzmann
adalah prinsip ekipartisi energi. Terminologi ekipartisi secara
harfiah dapat diartikan dengan membagi sama besar. Hasil yang
diperoleh dengan menggunakan prinsip cocok dengan yang
diperoleh dengan menggunakan teori kinetik gas.
Jika energi dalam sebuah assembly dibangun oleh suku
suku dalam bentuk kuadrat koordinat posisi atau momentum
dari sistem yang membangunnya, maka tiap suku tersebut
akan memberikan kontribusi terhadap energi rata-rata sebesar
1
2
kT dimana T adalah temperatur mutlak.
Untuk membuktikan prinsip tersebut, tinjaulah sebuah
molekul dengan massa m yang bergerak dalam arah x dengan
Bab II. Statistik Maxwell-Boltzmann
159
momentum
x
p . Energinya adalah
2
x x
p / 2m c = . Berdasarkan
defenisi perata-rataan yang telah dibahas sebelumnya
2 / kT
x
/ kT
p / 2me d
e d
c
I
c
I
I
c
I
=
}
}
Dimana energi c adalah energi total. Jika energi ditulis dalam
dua suku yakni
2
x
p / 2mdan
( )
2
x
p / 2m c , dimana suku kedua
tidak bergantung lagi pada pada
x
p memnungkinkan kita
untuk menulis persamaan di atas menjadi
{ }
{ }
x
x
2 2
2
x x
y x x
x
2
2
x
y x x x
p p
exp ( ) / kT dxdydzdp dp exp( p / 2mkT )dp
2m 2m
p
exp ( ) / kT dxdydzdp dp exp( p / 2mkT )dp
2m
c
c
c
=
} }
} }
dimana integral lipat lima ini dilakukan ke seluruh nilai x,y,z,
x
p dan
y
p . Nyatakan
2 2
x
p / 2mkT u = , diperoleh
}
}
=
du e
du u e kT
u
u
x
2
2
2
c
Melalui integral parsil diperoleh :
kT
x
2
1
= c
Bab II. Statistik Maxwell-Boltzmann
160
Jika perumusan energi melibatkan dua bentuk kuadrat posisi
dan atau momentum maka nilainya dikali 2 yakni kT. Untuk
membuktikannya, kita ambil contoh berikut.
Tinjaulah sebuah osilator harmonik sederhana dengan
perumusan energi mengandung dua suku kuadrat, yakni
2
2
2
1
2
x
m
p
x
x
c + =
adalah gaya pemulih persatuan panjang (tetapan pegas
dalam hukum Hooke). Energinya ( masih dalam kasus 1
dimensi)
( )
( )
2
2
x
x
p 1
x exp / kT d
2m 2
exp / kT d
I
I
c I
c
c I
+
`
)
=
}
}
Seperti pada teknik penyelesaiannya sebelumnya, jika faktor
( ) ( ) { }
2 2
1
x y z 2
exp p / 2m x / kT dydzdp dp c pada pembilang
dan penyebut saling meniadakan, maka
}
2
2 2 2
x
x x
x
2
2
x
x
p 1 1
p x exp x / kT dxdp
2 2m 2
p 1
exp x kT dxdp
2m 2
c
| |
+ +
`
|
\ .
)
=
| |
+
`
|
\ .
)
} }
} }
Untuk menyelesaikan integral di atas, kita perlu mengubah
variabel dari koordinat Cartesian ke koordinat kutub, yakni
, sin
2
2 2
2
u r
m
p
x
= u
2 2 2
cos
2
1
r x =
Jadi
Bab II. Statistik Maxwell-Boltzmann
161
2
2
2x
r / kT 3
0 0
x
2x
r / kT
0 0
d e r dr
kT
d e rdr
u
c
u
= =
} }
} }
Jika kasusnya diperluas ke tiga dimensi (dalam kasus
gerak translasi), maka
kT
kT kT kT kT
m
p
m
p
m
p
x
y
x
2
3
2
3
2
1
2
1
2
1
2 2 2
2
2
2
=
= + + =
+ + = c
Sedangkan untuk kasus osilator sederhana 3 dimensi, energi
rata-ratanya adalah
kT
kT
z
m
p
y
m
p
x
m
p
x
y
x
3
2
1
. 6
2
1
2 2
1
2 2
1
2
2
3
2
2
2
2
2
1
2
=
=
+ + + + + = c
Dari contoh-contoh di atas, perlu didefenisikan apa
yang dinamakan derajat kebebasan gerak sistem dan nilai rata-
rata energi
1
2
kT dapat diartikan sebagai satu derajat
kebebasan. Misalnya, satu gram atom dari zat padat yang
mengandung
A
N atom, dimana
A
N adalah bilangan
Avogadro. Jika tiap atom dipandang berperilaku sebagai
osilator harmonik tiga dimensi, maka akan terdapat
6
A
N derajat kebebasan (3 derajat kebebasan untuk translasi dan
Bab II. Statistik Maxwell-Boltzmann
162
3 derajat kebebasan untuk vibrasi). Energi tiap gram atom zat
padat pada temperatur mutlak T adalah
1
A A 2
E 6N kT 3N kT 3RT = = =
Panas jenisnya dapat diperoleh melalui hubungan
Cv = R
T
E
v
3 =
)
`
c
c
~ 5.94 cal/
0
K/gram atom
Hasil di atas sesuai yang diperoleh Dulong dan Petit untuk
panas jenis logam.
PANAS JENIS GAS
Oleh karena menurut prinsip ekipartisi energi, setiap
molekul pada temperatur T dengan derajat kebebasan f
energinya adalah f
1
2
kT maka energi tiap gram adalah
1
A 2
E N f kT =
Panas jenisnya adalah
Cv =
1 1
A 2 2
v
E
N kf Rf
T
c
= =
`
c
)
Jika molekul gasnya adalah monoatomik, maka hanya ketiga
komponen energi kinetik translasi yang memberikan kontribusi
pada gas. Jadi derajat kebebasan f = 3. Jadi
3
v 2
C ( monoatomik ) R =
Bab II. Statistik Maxwell-Boltzmann
163
Jika molekul gas adalah diatomik, maka terdapat 5 derajat
kebebasan, karena disamping tiga derajat kebebasan translasi
terdapat juga dua derajat kebebasan rotasi (lihat gambar). Jika
sumbu penghubung kedua atom molekul diambil pada sumbu
z, maka energi kinetik rotasinya adalah
2 2
1 1
rot x x y y 2 2
E I I e e = +
dimana
x
I dan
y
I adalah momen inersia masing-masing di
sekitar sumbu-x dan sumbu-y serta
x
e dan
y
e adalah kecepatan
sudut pada masing-masing arah x dan y. Jadi derajat kebebasan
f = 5, sehingga
5
v 2
C ( diatomik ) R =
Untuk gas triatomik dan molekul lainnya yang lebih kompleks,
umumnya dipandang memiliki enam derajat kebebasan. Jadi
v
C ( triatomik ) 3R =
Namun demikian besarnya derajat kebebasan juga ditentukan
oleh kompleksnya gerakan molekul.
Jika kita gunakan hubungan panas jenis untuk gas ideal,
p v
C C R =
maka rasio
p v
C / C = dapat ditentukan. Untuk
1
v 2
C Rf =
maka
( )
1
p 2
C R 1 f = + dan
2
1
f
= + , nilai gas adalah :
5
( monoatomik )
3
=
7
( diatomik )
5
=
Bab II. Statistik Maxwell-Boltzmann
164
4
( triatomik )
3
=
Untuk molekul kompleks dengan f > 6, lebih kecil dari 4/3
dan dalam beberapa kasus dekat dengan 11.
PERSAMAAN DIFUSI EINSTEIN
Penerapan lain dari distribusi Maxwell Boltzmann
adalah bagaimana hubungan antara mobilitas dan koefisien
difusi D ion dalam gas.
Misalkan sejumlah gas berada dalam sebuah wadah
dengan dinding yang tak menghantar. Jika medan listrik E
diberikan melewati gas dengan lempengan muatan di luar
wadah (lihat gambar). Misalkan n( x ) adalah ion persatuan
volume yang berada pada jarak sejauh x dari ujung wadah. Jika
muatan tiap ion adalah q maka energi potensial di x
dibandingkan pada x = 0 adalah
( x ) qEx c =
Ingat bahwa konsentrasi ion tidaklah cukup untuk membuat
nilai medan listrik seragam. Akibat gradien energi, maka
terdapat konsentrasi ion dalam gas. Dengan menggunakan
faktor Boltzmann, yang menyatakan peluang relatif bahwa ion
memiliki energi dengan nilai tertentu adalah
( ) ( ) ( )
n( x )
exp x / kT exp qEx / kT
n( 0 )
c = =
Dalam hal ini n( 0 ) adalah konsentrai ion pada x = 0 dan T
adalah temperatur mutlak gas.
Jika ion memiliki mobilitas , maka laju hanyut ion
adalah E searah dengan medan E. Maka arus hanyut ion
dalam arah x adalah :
Bab II. Statistik Maxwell-Boltzmann
165
( )
j( hanyut ) n x E =
per satuan luas per satuan waktu.
Jika D menyatakan koefisien difusi ion, terdapat arus
difusi ion melewati luasan satuan di x yang didefenisikan
dengan
dn( x )
j( difusi ) D
dx
=
per satuan waktu searah dengan gradien konsentrasi. Oleh
karena dalam kasus ini tidak terdapat aliran arus total, berarti
tidak terdapat perpindahan ion. Jadi
j( hanyut ) j( difusi ) 0 + =
( )
dn( x )
n x E D
dx
=
Substitusi n( x ) dari persamaan 3.42
dn( x ) qE
n( x )
dx kT
=
Jadi
Dq
kT
= atau
q
D kT
=
yang dikenal sebagai Persamaan Difusi Einstein.