100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
1K tayangan5 halaman

Model Pembelajaran Terpadu Sederhana

Model-model pembelajaran terpadu berkembang dari kurikulum tradisional yang mengajarkan mata pelajaran secara terpisah menjadi model yang lebih terpadu. Sepuluh model pembelajaran terpadu dijelaskan, mulai dari model yang masih terpisah hingga model yang sepenuhnya terintegrasi dan berfokus pada siswa.

Diunggah oleh

Dina Zuraini
Hak Cipta
© Attribution Non-Commercial (BY-NC)
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
1K tayangan5 halaman

Model Pembelajaran Terpadu Sederhana

Model-model pembelajaran terpadu berkembang dari kurikulum tradisional yang mengajarkan mata pelajaran secara terpisah menjadi model yang lebih terpadu. Sepuluh model pembelajaran terpadu dijelaskan, mulai dari model yang masih terpisah hingga model yang sepenuhnya terintegrasi dan berfokus pada siswa.

Diunggah oleh

Dina Zuraini
Hak Cipta
© Attribution Non-Commercial (BY-NC)
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

MODEL-MODEL PEMBELAJARAN TERPADU Secara konseptual, perjalanan perkembangan model-model pembelajaran terpadu merupakan beberapa bagian dari sepuluh

titik dari garis kontinum sebuah tahapan kurikulum. Berawal dari bentuk kurikulum tradisional, di mana seluruh mata pelajaran merupakan bidang yang dipelajari secara terpisah-pisah, kemudian dengan perkembangan studi komparasi yang terus dilakukan, akhirnya ditemukan model-model kurikulum yang berorientasi pada pembelajaran yang sangat terpadu. Berikut ini akan dijelaskan perjalanan ke sepuluh titik tahapan perkembangan kurikulum yang mengarah hingga menjadi model pembelajaran terpadu yang sangat rumit yang disusun oleh Jacobs (1993). 1. Model kurikulum yang berorientasi pada satuan mata pelajaran yang terpisah-pisah Pada kelompok ini model pembelajaran masih berorientasi pada suatu mata pelajaran tertentu saja. Model ini sangat umum dilakukan para guru di mana suatu mata pelajaran disajikan secara terpisah-pisah, dan tidak mengaitkannya dengan mata pelajaran lain. Model ini sering kita jumpai di kelas-kelas di SMP dan SLTA, di mana begitu bel tanda pergantian pelajaran berbunyi, guru Matematika ke luar kelas lalu guru Bahasa Indonesia masuk dan berkata: sekarang keluarkan buku paket Bahasa Indonesia kalian, kita akan mempelajari materi halaman 20. Di dalam bentuk kurikulum yang berorientasi kepada mata pelajaran yang terpisah-pisah tersebut, sudah ada tiga bentuk pembelajaran terpadu, walaupun masih sederhana. Perjalanan kurikulum terpadu berangkat dari pembelajaran Model penggalan atau fragmen atau Fragmented Model, seperti yang telah dicontohkan di atas. Lalu yang kedua adalah model terkait atau ada yang menyebut model keterhubungan yang dalam Bahasa Inggrisnya disebut Connected Model, Model pembelajaran terpadu ini sangat sederhana dan dengan mudah dilakukan di tingkat SD. Misalnya, pada mata pelajaran PPKn, guru dapat menghubungkan topik keimanan dengan kesederhanaan pada saat membahas satu topik inti tentang Bhineka Tunggal Ika. Model berikutnya adalah model sarang atau Nested Model di mana guru tetap memberikan mata pelajaran secara terpisah, tetapi pada setiap mata pelajaran yang terpisah tersebut sudah ada target-target multi keterampilan

yang ditetapkan dalam tujuan pembelajaran untuk dicapai siswa Ketiga model pembelajaran tersebut di atas merupakan suatu titik kontinum dari bentuk kurikulum yang berorientasi pada mata pelajaran secara terpisah. 2. Model kurikulum yang berorientasi pada lintasan beberapa mata pelajaran Di dalam model kurikulum ini, terdapat tiga model pembelajaran terpadu yang berorientasi pada lintasan beberapa mata pelajaran sekaligus. Model yang pertama adalahmodel urutan atau Sequenced Model, di mana beberapa topik dari suatu mata pelajaran diorganisasikan kembali dan diurutkan agar dapat bertepatan atau serupa dengan pada saat guru mata pelajaran lain membahas topik yang mirip atau serupa. Model yang kedua dari bentuk kurikulum ini adalah model pembelajaran terpadu berbagi atau Shared Model. Model ini terfokus pada dua mata pelajaran yang secara bersama-sama diajarkan dengan menggunakan konsep-konsep atau keterampilan-keterampilan yang tumpang tindih Misalnya, guru IPS dan PPKn menggunakan beberapa ayat dalam UndangUndang dasar 1945, serta catatan sejarah untuk membahas suatu konsep yang tumpang tindih. Dalam hal ini, pembelajaran bisa dilakukan dalam bentuk tim. Model yang ketiga adalah pembelajaran terpadu model terjala atau jaring laba-laba yang dalam Bahasa Inggris disebut Webbed Model, di mana sering dijumpai pada pembelajaran di Taman Kanak-kanak dengan nama pendekatan tematik. Model ini sudah sangat dikenal di kalangan pendidik pada umumnya. Model ini berangkat dari sebuah tema yang dibangun atau diciptakan bisa bersama-sama antara guru dengan siswa. Tema diangkat dan dikembangkan berdasarkan beberapa topik pada beberapa mata pelajaran. Misalnya, guru dan siswa berdasarkan minat siswa sepakat memilih tema Keluargaku untuk memulai mengikat atau memadukan beberapa topik dari beberapa mata pelajaran sekaligus seperti IPS, Bahasa Indonesia, dan Matematika. Dari tema Keluargaku, guru bisa membahas tentang pembuatan kartu keluarga dalam rangka sensus penduduk, meminta siswa membuat silsilah keluarga mulai dari generasi nenek dan kakek, membuat puisi tentang keluarga, dan menghitung perbedaan usia antara ayah, ibu, kakek, nenek, dan anggota keluarga lainnya. Pendekatan ini dapat menjadi kegiatan yang menyenangkan dengan berbagai aktivitas terpadu serta dilengkapi dengan sarana dan media sederhana yang bisa dibuat bersama-sama dengan para siswa.

Model yang keempat adalah model untaian atau Threaded Model. Pada model ini, pendekatan metakurikuler digunakan untuk mencapai beberapa keterampilan dan tingkatan logika para siswa dengan berbagai mata pelajaran. Misal, guru mempunyai target untuk membuat ramalan atau prediksi dalam suatu percobaan di laboratotirum IPA, Matematika, dan Bahasa, di mana pada saat yang bersamaan guru IPS pun mempunyai target dalam meramalkan kejadian saat ini. Dengan demikian, keseluruhan kegiatan membuat ramalan tersebut membentuk suatu untaian keterampilan yang bersumber dari lintasan berbagai mata pelajaran. Nampaknya jika dicermati dengan baik, model ini sudah termasuk model yang sulit untuk diterapkan di SD karena membutuhkan kematangan berpikir dari para siswanya. Pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan guru dalam mengorganisasikan model ini sudah membutuhkan kemampuan berfikir tingkat tinggi dari para siswa, seperti pertanyaan sejauh mana atau sebaik mana yang telah kalian lakukan dalam kerja kelompok hari ini?. Nah, pertanyaan seperti itu tentunya membutuhkan jawaban dari para siswa yang sudah memiliki tingkat pemikiran yang cukup matang dan belum dimiliki oleh anak usia SD. Model yang kelima dari kelompok kurikulum lintasan mata pelajaran ini adalah model terpadu atau Integrated Model. Sekali lagi bagi Anda yang telah mempelajari mata kuliah pembelajaran terpadu sebelumnya, tentu tidak asing dengan nama ini. Di sini, para guru masing-masing mata pelajaran bekerja sama melihat dan memberikan topik-topik yang berkaitan dan tumpang tindih untuk membangun konsep dan keterampilan. Untuk penerapan model terpadu ini di tingkat SD, bisa dicontohkan dengan strategiwhole language atau pembelajaran bahasa yang terpadu, di mana keterampilan membaca, menulis, mendengarkan, dan berbicara diangkat bersama-sama secara menyeluruh dengan berdasarkan program literatur atau suatu bacaan atau wacana. Model terpadu inipun cukup sulit untuk dapat diterapkan di SD di mana perkembangan para siswa SD belum mempunyai kematangan berfikir untuk bisa menerima model terpadu ini secara utuh. 3. Model kurikulum yang berorientasi pada para siswa Klasifikasi perjalanan kurikulum model terpadu yang ketiga ini tidak lagi terfokus pada mata pelajaran tetapi sudah pada para siswa sebagai individuindividu yang mempunyai kemampuan dan pengalaman yang berbeda-beda, serta sebagai individu yang membentuk jaringan kerja sama. Model kurikulum ini merupakan model yang sangat rumit dan bisa jadi hanya bisa

diaplikasikan untuk para siswa di tingkat perguruan tinggi. Bentuk pembelajaran terpadu pada model kurikulum ini ada dua, seperti berikut. Model terlebur atau Immersed Model. Arti harafiah dari kata Immersed (Bahasa Inggris) adalah pencelupan atau membenamkan. Dengan bentuk pembelajaran terpadu ini, seluruh mata pelajaran merupakan bagian dari sudut pandang keahlian para siswa secara individual. Para siswa menyaring sendiri seluruh konsep yang dipelajarinya melalui sudut pandang keahlian mereka masing-masing dan meleburkan atau membenamkan diri mereka dalam pengalaman melalui kegiatan yang dijalaninya. Dengan demikian, keterpaduan yang ada dalam bentuk ini adalah keterpaduan yang ada dalam diri para siswa sendiri. Misalnya, pada mahasiswa jenjang S2 atau magister yang mengambil bidang hubungan internasional, dia juga menekuni dan berusaha menguasai ilmu pemerintahan yang mana konsep-konsep yang ditekuni dan harus dikuasainya itu sangat diyakininya akan menunjang bidang hubungan internasional yang sedang diambilnya. Model pembelajaran terpadu yang kesepuluh yang merupakan model kedua dari klasifikasi model kurikulum yang berorientasi pada para siswa adalah model jaringan kerja atau Networked Model, yang mana para siswa akan menyaring seluruh topik yang akan dipelajarinya melalui kacamata pengalaman mereka masing-masing, dan membangun hubungan internal atau ke dalam yang akan membantu mereka menciptakan jaringan kerja sama di antara para ahli yang sesuai dengan bidangnya. Dalam prakteknya, implementasi dari ke sepuluh model pembelajaran terpadu sangat bervariasi. Mungkin, Anda tidak bisa menemukan implementasi kesepuluh model tersebut secara tepat seperti dalam penjabaran konsepnya. Memang, aplikasi dari berbagai model pembelajaran terpadu bisa sangat luwes. Hal itu bukan merupakan suatu masalah atau kesalahan. Nampaknya, dari kesepuluh model pembelajaran terpadu tersebut, model terkait (connected Model) dan terjalalah (webbed Model) yang paling banyak ditemui dalam pembelajaran di tingkat Sekolah Dasar. Sebagai perbandingan, di sini akan diuraikan pula lima model pembelajaran terpadu yang ditawarkan oleh Ross & Karen Olsen (1993). Mungkin saja kelima model tersebut ada di antara sepuluh model pembelajaran terpadu di atas. Kelima model pembelajaran terpadu ini lebih cocok digunakan di tingkat SLTP dan SLTA.

Yang pertama adalah model keterpaduan dalam satu mata pelajaran, di mana yang disajikan adalah materi dari satu mata pelajaran yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari. Melalui model ini para siswa dituntut untuk menggunakan berbagai keterampilan yang relevan dan sesuai dengan konteks yang bermakna dari contoh kehidupan sehari-hari yang dipilih. Yang kedua, adalah model terkoordinasi. Model pembelajaran terpadu jenis ini menekankan pada peranan dua orang guru atau lebih yang mengajar satu mata pelajaran yang berbeda pada siswa yang sama dalam waktu yang terpisah Namun masing-masing guru tersebut membentuk kerja sama dan koordinasi untuk memastikan keterampilan-keterampilan dan konsep yang dirancang tersampaikan dengan baik. Yang ketiga adalah model pembelajaran keterpaduan materi inti. Dalam prakteknya, seorang guru harus tetap mengajar di sekolompok siswa yang sama selama kurun waktu tertentu (bisa 2 atau 3 semester). Contohnya, guru tersebut mengajarkan keterampilan dalam matematika dalam konteks mata pelajaran fisika sebagai mata pelajaran intinya. Model yang keempat adalah pembelajaran keterpaduan ganda materi inti. Pada pelaksanaannya, dua guru sekaligus mengajar sekelompok siswa yang sama untuk dua mata pelajaran inti secara terpadu. Misalnya, seorang guru mengajarkan keterampilan bahasa dalam konteks mata pelajaran sejarah, sementara guru yang satunya mengajarkan PPKn dalam konteks mata pelajaran kesenian. Model yang kelima adalah model pembelajaran terpadu bentuk mata pelajaran inti yang mandiri. Di sini, seorang guru dengan mengajar beberapa mata pelajaran tetap yang dipercaya untuk diberikan kepada sekelompok siswa sepanjang hari. Guru tersebut mengajarkan semua keterampilan dan materi yang dikemas dalam satu atau dua topik yang bermakna bagi siswa.
[Link]

Anda mungkin juga menyukai