KONJUNGTIVITIS FLIKTENULARIS
1. Definisi
Konjungtivitis fliktenularis merupakan radang pada konjungtiva dengan
pembentukan satu atau lebih tonjolan kecil (flikten) yang diakibatkan oleh reaksi
alergi (hipersensitivitas tipe IV). Tonjolan sebesar jarum pentul yang terutama
terletak di daerah limbus, berwarna kemerah-merahan disebut flikten. Flikten
konjungtiva mulai berupa lesi kecil, umumnya diameter 1-3 mm, keras, merah,
menonjol dan dikelilingi zona hyperemia. Di limbus sering berbentuk segitiga
dengan apeks mengarah ke kornea. Disini terbentuk pusat putih kelabu yang
segera menjadi ulkus dan mereda dalam 10-12 hari. Flikten umumnya terjadi di
limbus namun ada juga yang terjadi di kornea, bulbus dan tarsus. Secara
histologis, flikten adalah kumpulan sel leukosit neutrofil dikelilingi sel limfosit,
makrofag dan kadang-kadang sel datia berinti banyak. (Ilyas, S.,
Konjungtivitis Flikten dalam Ilmu Penyakit Mata, Edisi III, Cetakan I,
Fakultas Kedokteran UI, Balai Penerbit FK UI, Jakarta, 2004)
2. Etiologi
Kelainan ini merupakan manifestasi alergik (hipersensitivitas tipe IV) endogen
tuberculosis, stafilokokus, coccidioidomycosis, candida, helmintes, virus herpes
simpleks, toksin dari moluscum contagiosum yang terdapat pada margo
palpebra dan infeksi fokal pada gigi, hidung, telinga, tenggorokan, dan traktus
urogenital. Penyakit ini terutama mengenai anak-anak berumur 4-14 tahun
dengan malnutrition dan TBC. (Wijana, N., Konjungtiva, dalam Ilmu
Penyakit Mata, 1993, hal: 41-69
&
Ilyas, S., Konjungtivitis Flikten dalam Ilmu Penyakit Mata, Edisi III,
Cetakan I, Fakultas Kedokteran UI, Balai Penerbit FK UI, Jakarta, 2004)
3. Klasifikasi
Secara klinis dibedakan menjadi 2, yaitu:2
a. Konjungtivitis flikten : tanda radang tidak jelas, hanya terbatas pada tempat
flikten, secret hamper tidak ada.
b. Konjungtivitis kum flikten : tanda radang jelas, secret mucous, mukopurulen,
biasanya timbul karena infeksi sekunder pada konjungtivitis flikten.
(Wijana, N., Konjungtiva, dalam Ilmu Penyakit Mata, 1993, hal: 41-69)
4. Diagnosis
Diagnosis konjungtivitis fliktenularis ditegakkan dengan ditemukan gejala klinis
pada pasien. Penyakit ini biasanya unilateral tapi kadang-kadang mengenai
kedua mata. Gejala-gejalanya biasanya ringan berupa mata berair (lakrimasi),
mata merah setempat, perih, iritasi dengan rasa sakit, fotofobi, silau bila kornea
terkena. Bila infeksi bakteri sekunder terjadi, akan terdapat nanah mukopurulen
dengan kelopak mata yang saling melekat (blefarospasme). Konjungtivitis
fliktenularis biasanya tidak meninggalkan parut. (Ilyas, S., Konjungtivitis
Flikten dalam Ilmu Penyakit Mata, Edisi III, Cetakan I, Fakultas
Kedokteran UI, Balai Penerbit FK UI, Jakarta, 2004)
5. Diagnosis Banding
Konjungtivitis fliktenularis harus dibedakan dengan kondisi serupa yang
superficial seperti pinguecula inflamasi, ulkus marginal dan kunjungtivitis
vernalis. (Ilyas, S., Konjungtivitis Flikten dalam Ilmu Penyakit Mata, Edisi
III, Cetakan I, Fakultas Kedokteran UI, Balai Penerbit FK UI, Jakarta,
2004)
6. Penatalaksanaan
Usahakan untuk mencari penyebab primernya dan apabila diketahui maka
penyebab ini diobati dulu, misalnya pencarian infeksi fokal di telinga, hidung,
tenggorokan atau gigi. Pemeriksaan penunjang berupa pemeriksaan darah, urin,
feses maupun foto thorax juga diperlukan.2,5
Karena dasar dari timbulnya konjungtivitis fliktenularis adalah hipersensitivitas
lambat, maka pada mata diberikan obat tetes mata atau salep mata
kortikosteroid lokal misalnya dexametason, prednisolon. Kombinasi
kortikosteroid dengan antibiotik, misalnya kloramfenikol lebih dianjurkan
mengingat banyak kemungkinan terdapat infeksi bakteri sekunder. Dapat juga
diberikan roboransia yang mengandung vitamin A, B kompleks, dan vitamin C
untuk memperbaiki keadaan umum.3,4
Bila dengan salep atau tetes mata tidak membaik, maka harus diberikan
kortikosteroid injeksi (kortison asetat 0,5%) yang disuntikkan subkonjungtiva di
forniks superior pada jam 12. Suntikan diberikan 0,3-0,5 cc setiap kali sebanyak
2 kali seminggu.2
Pada pemberian kortikosteroid lokal dalam jangka waktu lama perlu diwaspadai
kontraindikasi dan adanya penyulit-penyulit, antara lain superinfeksi jamur atau
virus, munculnya glaucoma maupun katarak.2
Dengan pengobatan yang baik umumnya konjungtivitis fliktenularis akan
sembuh spontan dalam 1-2 minggu dan tidak meninggalkan bekas kecuali flikten
pada limbus dan kornea atau terjadi infeksi sekunder sehingga timbul abses.2,5
([Link], N., Konjungtiva, dalam Ilmu Penyakit Mata, 1993, hal: 41-69
3. Vaughan, D.G, Asbury, T., Eva, P.R., General Ophthalmology, Original
English Language edition, EGC, 1995
4. Al-Ghozie, M., Handbook of Ophthalmology : A Guide to Medical
Examination, FK UMY, Yogyakarta, 2002
5. Ilyas, S., Konjungtivitis Flikten dalam Ilmu Penyakit Mata, Edisi III,
Cetakan I, Fakultas Kedokteran UI, Balai Penerbit FK UI, Jakarta, 2004)
Mata berair
Mata berair bisa disebabkan karena 2 faktor, yang pertama adalah hipersekresi
glandula lakrimalis. Sedangkan yang kedua adalah karena tersumbatnya sakus
lakrimalis. Pada hubungannya dengan sekresi glandula lakrimalis, terdapat 3
refleks sekresi air mata, yaitu refleks dasar, stimulasi lakrimasi, dan lakrimasi
psikis.
1. Refleks Dasar
Refleks dasar merupakan hal fisiologis yang terjadi pada mata orang
normal. Ketika mengedipkan palpebra, air mata akan diproduksi dan
terbentk lapisan air mata (tear film) dan kemudian diratakan. Proses ini
dimediasi oleh Nukleus Lakrimalis Nervus Fasialis yang bersifat
sekretomotoris parasimpatis. Rangsangan bisa timbul akibat pecahnya
tear film atau terbentuknya dry spot.
2. Stimulasi Lakrimasi
Sekresi glandula lakrimalis terjadi akibat adanya stimulasi berupa benda
asing, iritan, maupun faktor-faktor lainnya. Persarafan utama berasal dari
Nukleus Lakrimalis Pons melalui Nervus Intermedius yang melalui jalur
kompleks hingga Cabang Maksilaris Nervus Trigeminus, bersifat aferen.
3. Lakrimasi Psikis
Terjadi karena adanya sistem limbik pada organ hipothalamus. Cabang
parasimpatis yang mengatur lakrimasi melalui neurotransmitter asetil
kolin dan reseptor nikotinik dan muskarinik. Parasimpatis sendiri
merupakan sistem untuk relaksasi. Suatu hal yang menyebabkan
lakrimasi psikis bersifat simpatis sehingga akan menghasilkan stress.
Sedangkan proses sekresi glandula lakrimalis bersifat parasimpatis untuk
menghasilkan relaksasi.