Relevansi Khilafah dalam Fiqih Politik
Relevansi Khilafah dalam Fiqih Politik
Kedua Ketiga Keempat 3 Daftar Isi Pengantar 5 Menegakkan Syariat Islam 7 Tuduhan Terhadap Politik Islam 15 Dakwah Parlemen 25 Demokrasi 45 Oposisi 51 Koalisi 59 Demonstrasi 77 Shalat dan Demo 81 Bom Syahid dan Bunuh Diri 87 Wanita dan Politik 109 Akhlak 121 Kudeta 133 Jamaah Muslimin dan Khilafah 139 4 Pengantar 5 Pertemuan Pertama Menegakkan Syariat Islam Sejak jatuh khilafah Turki Utsmani pada tahun 1924 oleh perskongkolan jahat Yahu di Internasional, umat Islam tidak lagi memiliki pemimpin yang melindungi mereka dari serangan musuh-musuhnya. Yang lebih memprihatinkan, banyak di antara umat Islam menjadi korban bulan-bulanan ide pemikiran sekuler. Salah satu yang paling berbahaya adalah keyakinan bahwa Islam dengan aplikasi syariahnya tidak relevan lagi. Mereka meragukan bila syariat Islam diterapkan, bagaimana dengan agama la in ? Bagaimana dengan kebebasan beragama ? Bagaimana dengan demokrasi ? Apakah p emeluk Kristen tidak marah ? Banyak orang lupa bahwa syariat Islam adalah penyempurnaan dari syariat Yahudi d an Nasrani. Jadi mereka tahu bahwa hukum pembunuh itu harus diqishash, perompak itu disalib, pencuri dipotong tangan, pezina dirajam, bahwa khamar, anjing dan r iba itu haram. Semua itu tidak asing karena telah ada dalam kitab suci mereka (Taurat dan Injil ). Tetapi ketika terjadi kemerosotan pengamalan agama dan pemalsuan Taurat dan I njil besar-besaran oleh para pendeta dan rahib mereka, maka hukum 7 itu diputar-balik. Mereka telah menjual ayat-ayat Allah dengan harga yang sediki t. Esensinya, penegakan syariat Islam itu juga penegakan syariat mereka. Lalu apa m asalahnya ? Masalahnya mereka adalah kaum yang ingkar dan membangkang pada Allah . Kenyataan yang terjadi dalam catatan sejarah menunjukkan betapa besarnya peranan
syariat Islam bagi kesejahteraan umat manusia, bukan saja muslimin tetapi selur uh pemeluk agama. Paling tidak ada lima sisi kehidupan yang mengalami kerusakan yaitu : Kebebasan beragama, kebebasan berpikir, keselamatan nyawa manusia, keama nan harta benda, dan keselamatan keturunan manusia. 1. Kebebasan Beragama Dalam sejarah kaum Islam, tidak pernah terjadi pemaksaan untuk mengubah agama da n keyakinan. Lebih-lebih membunuh seseorang atau menghancurkan rumah ibadah. Lihatlah Mesir dan Syam, sampai sekarang orang Kristen tetap hidup aman damai da n tenang. Juga India, padahal kaum Muslimin ketika itu berkemampuan untuk mengha bisi semua keyakinan bukan Islam. Tetapi, tidak pernah terjadi pemaksaan menguba h agama seseorang. Karena itu penduduk India non-muslim jumlahnya masih tetap me lebihi kaum Muslimin. Bandingkan dengan Andalusia. Tadinya di sana ada berjuta-juta kaum Muslimin. Lal u mereka dijajah oleh penguasa Katolik. Apa yang terjadi? Tidak ada seorang Musl im pun tersisa. Mereka hanya diberi tiga pilihan, masuk Kristen, diusir pergi da ri negeri itu atau dibunuh. Pemaksaaan agama bukan hanya terhadap umat Islam tetapi juga antara sesama alira n dalam sebuah agama. 8 Di Inggris, jika di antara rakyat ada yang berbeda aliran mazhabnya walaupun ses ama pemeluk kristen, akan ditangkap dan diadili. Bila dalam pengadilan dia berta ubat dan pindah aliran, akan diberikan ampunan berupa membunuhnya dengan pedang. Bila tidak bertaubat, maka dia dibakar hidup-hidup. Patrik Yoshua (656 H) berkata, `Orang Arab (Islam) yang menancapkan kekuasaannya di dunia telah memperlakukan kami dengan adil.` Makarios, seorang Patnik Anthok ia juga mengatakan, `Semoga Tuhan melestarikan pemerintahan Turki. Mereka hanya mengambil pembayaran pajak. Tetapi tidak mengusik-usik persoalan agama. Malah me reka memelihara orang-orang Nashrani, Yahudi dan Samirah dengan adil`. Dewasa ini, yang disebut sebagai era kebebasan beragama, kita mendapatkan sebali knya. Kebebasan agama terampas secara keji. Sehingga para pemeluk agama sendiri merasa tidak aman dalam memelihara agama mereka. Apalagi memelihara agama orang lain. Negara-negara sosialis memaksakan ajaran Markisme yang atheistik dan melarang pe nyebaran agama. Sebaliknya di negara-negara kapitalis, pemerkosaan dan pemberang usan kebebasan beragama ini dilakukan kadang dengan terang-terangan dan kadang d engan sembunyi-sembunyi. Operasi pembantaian kaum MusIimin Eryteria dan pembunuh an Malcolm X sebagai bukti kejahatan mereka yang menghantui ke dalam ingatan kit a. Tegasnya, orang tidak akan dapat memelihara agamanya kecuali Islam hadir di teng ah-tengahnya. Tanpa Islam tidak akan ada kebebasan beragama. 2. Kebebasan berfikir dan penghargaan pada akal manusia 9 Hanya dengan tegaknya Islam, manusia dapat memelihara akalnya. Dan kebaikan akal hanya dapat dijamin dengan dipraktekkannya hukum Islam. Bila Islam tidak ditera pkan, maka kita lihat fenomena : a. Inkonsistensi Ilmu dan Kenyataan. Di zaman kemajuan ini malah terjadi hal yang tidak logis. Ilmu berada di satu ku tub dan kenyataan berada di kutub lain. Misalnya, ilmu mengatakan, khamar itu be rbahaya dan merusak, tetapi kenyataannya semua negara membolehkannya. Ilmu menya takan bahwa rokok merusak, tetapi kenyataan menunjukkan seluruh dunia menggalakk annya. Ilmu membuktikan bahwa perzinahan dapat merusak sex dan keturunan, tetapi dunia malah menghalalkanmnya. Dan ilmu membuktikan bahwa wanita berbeda dengan pria, tetapi para feminis malah menjadikannya sama dengan kaum lelaki. b. Issue dan Gosip Di zaman rasionalisme ini kebohongan tersebar tanpa batas baik di majalah, surat kabar, radio dan televisi. Desas-desus dan gosip merajalela tanpa kontrol. Mere ka tahu bahwa itu gossip tetapi mereka suka. Hingga mata acara yang paling favor it di TV kita adalah gossip bintang dan selebritis. Dan tabloid yang paling ting gi tirasnya juga yang berthema serupa. c. Manipulasi
Kini sudah menjadi hal lumrah manipulasi bukti untuk membenarkan tindakan krimin al. Politik menjadi piranti dusta dan penipuan. Mark-up biaya suatu proyek sudah membudaya karena semua pihak ikut kecipratan. Untuk 10 mendukung semua kebejatan tersebut digunakanlah berbagai disiplin ilmu yang dima nipulir. d. Antara Barat dan Timur Ada dua keadaan yang memperburuk akal manusia : di masyarakat komunis berfikir d ianggap satu kejahatan. Sedangkan di Barat, anda bebas berbicara meski tidak mas uk akal. e. Rumah Sakit Jiwa Fenomena perusakan akal manusia ini banyak terlihat. Dan beberapa statistik mene lanjangi hakikat kebobrokan ini. Tingkat kecerdasan di dunia semakin menurun. Se dangkan angka penyakit jiwa (gila) di dunia meningkat. Dale Carnegi mengatakan, `Kenyataan-kenyataan objektif melukiskan separuh jumlah keluarga yang berada di rumah-rumah sakit kita, disibukkan oleh orang-orang yang berpenyakit saraf dan g ila`. 3. Keselamatan Jiwa Manusia Dalam Islam, hak hidup adalah hak suci manusia. Tetapi situasi dunia akan menunj ukkan kebalikannya. Dunia sekarang, yang dinilai sebagai dunia peradaban, telah menyaksikan kekejian yang seratus persen biadab. Di Rusia saja, untuk mewujudkan komunisme, telah terbunuh 19 juta orang. Setelah komunisme berkuasa, telah terhukum secara keji sekitar 2 juta orang dan sekitar 4 atau 5 juta orang diusir dari Rusia. Apa artinya angka-angka tersebut? 11 Apa arti semua pembantaian orang-orang kulit hitam di Amerika dan Afrika Selatan ? Ingat pembantaian suku bangsa Indian oleh koboi Amerika Ingat pembantaian suku Aborigin di Australia Ingat pembantaian rakyat vietnam oleh tentara Amerika. Ingat peledakan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki. Ingat pembantaian muslim Bosnia dan Kosovo oleh Serbia. Ingat pembantaian terhadap Muslim India. Apa artinya bom atom dan hidrogin? Apa artinya perang dunia? Semua itu menunjukkan bahwa jiwa manusia sudah tidak ada harganya di dunia sekar ang ini. Tetapi, jika Islam hadir secara nyata di tengah-tengah percaturan dunia, maka ti dak akan terjadi pembunuhan manusia tanpa haq. Karena. membunuh tanpa hak dianca m dengan Qisas atau -bila mendapat maaf- membayar diyat yaitu 100 ekor unta. Jan gankan nyawa manusia, binatang pun sangat diperhatikan dalam Islam. 4. Keamanan Harta Benda Manusia Suatu fenomena historis tentang pemeliharaan harta benda ini terjadi ketika Abu `Ubaidah bin Jarrah merasa tidak mampu melindungi penduduk Nashrani, ia mengemba likan jizyah (upeti) kepada mereka. Atau lihatlah ketika khalifah Umar bin Abdul Aziz berhasil mengentaskan kemiskinan secara nyata -bukan slogan murahan- hingg a tidak ada lagi rakyat di negeri itu yang miskin dan berhak menerima zakat. Ini jelas satu era keadilan yang sukar ditemukan dalam sejarah manusia. 12 Mereka adalah masyarakat baru yang tidak didapati di dunia yaitu masyarakat yang menjamin seluruh tonggak hidup dan eksistensi manusia. Di dalam masyarakat komunis tidak dibenarkan hak pemilikan. Dan di dalam masyara kat kapitalis secara lahiriah memang menjaga harta manusia, tapi hakikatnya ia m encuri harta tersebut dengan jalan riba, penimbunan, eksploitasi, menghancurkan hak-hak kaum fuqara` dan orang-orang miskin dan melakukan jalan culas yang keji. Harta manusia tidak akan dapat terpelihara oleh manusia kecuali dengan Islam. 5. Keturunan Memelihara keturunan juga merupakan salah satu dari lima keperluan asasi manusia . Dan pemeliharaan ini dapat melestarikan keturunan manusia. Manusia tidak akan mampu memelihara keturunannya kecuali dengan tegaknya Islam.
Dan apabila kaum Muslimin memerintah dunia, maka keturunan manusia akan lestari dan terpelihara. Penelitian sederhana berkenaan keturunan ini menjelaskan ke man a keturunan manusia ini meluncur? Pemerintahan militer Prancis terus menerus kekurangan pemuda-pemuda yang laik me njadi sukarelawan dari segi kesehatan badan. 75 ribu orang tentara yang terpaksa harus diberhentikan dan dimasukkan ke rumah sakit karena mengidap penyakit koto r (spilis). Dalam satu tangsi tentara ada 242 orang terjangkit penyakit kotor in i. Penyakit ini akan mempengaruhi keturunannya secara mengerikan. Fenomena seperti ini terjadi pula di kalangan pemuda-pemuda Amerika. Presiden Am erika pernah mengumumkan, lebih satu juta dari sekitar enam juta 13 pemuda Amerika yang harus mengikuti wajib militer tidak laik menjadi tentara. Ha l itu menunjukkan merosotnya sumber daya manusia Amerika secara umum akibat kehi dupan seks bebas yang digelutinya dan penyakit kelamin. Ada sekitar 30 sampai 40 ribu anak mati karena korban penyakit kotor orang tuany a dalam setiap tahunnya. Hakim Lancy (?) mengatakan, `Di Amerika sekurang-kurangnya satu juta kehamilan d alam satu tahun dan beribu-ribu anak lahir langsung dibunuh`. Yang menarik bahwa di Jerman gadis-gadis akan merasa malu jika ketika menikah ma sih perawan. Dan alat-alat pencegah kehamilan tersedia di setiap pinggir jalan. Sesungguhnya keturunan manusia tidak akan dapat terpelihara sempurna kecuali den gan diberlakukannya ajaran Islam. Tanpa Islam, manusia akan kehilangan kemanusiaannya. Tanpa Islam, manusia hidup seperti binatang. 14 Pertemuan Kedua Tuduhan Terhadap Politik Islam Diantara yang tuduhan yang sangat menusuk dunia politik Islam adalah tuduhan dar i kalangan orientalis tentang masa awal perkembangan Islam yang dinilai tercoren g dan berdarah-darah. Lalu muncul stigma yang sangat jauh dari realita yang terbentuk sedemikian rupa dan terus ditumbuh suburkan oleh para sejarawan dan para pengamat. Intiya bisa d itebak dengan mudah, yaitu ingin menyatakan bahwa Islam tidak mampu memimpin dun ia, tidak tepat bila harus masuk ke panggung politik, tidak sejalan dan sejiwa d engan semangat keimanan. Rupanya para sejarawan dan ilmuwan barat itu ingin memi sahkan politik dan agama sebagaimana yang pernah terjadi pada peradaban mereka. Kali ini mereka ingin hal itu ingin mereka paksakan pada dunia Islam dengan memb uat beragam analisa, kajian, studi dan literatur yang intinya memojokkan masa ke jayaan Islam, yaitu sejak dari masa shahabat dan salafus shalih. 15 Kesan berpecah dan saling membunuh hingga darah tercecer dimana-mana demi singga sana dan kekuasaan selalu lekat dalam benak putera-putera Islam. Harapannya adal ah agar generasi Islam tidak lagi pernah berpikir untuk masuk ke dunia politik d an memimpin negara dan peradaban. Memang tidak bisa dipungkiri adanya fakta adanya sedikit keretakan pada generasi umat Islam di masa itu. Namun yang tidak benar adalah analisa bahwa perpecahan dan perbedaan pendapat adalah bersumber dari nafsu serakah dan haus darah yang d imiliki oleh generasi Islam pertama. Yaitu generasi yang oleh Rasulullah adalah generasi terbaik sesudah generasi beliau. Padahal Al-Quran telah menyebut mereka para shahabat sebagai orang-orang yang di redhai. Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama dari golongan muhajirin dan an shar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada merek a dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamny a. Itulah kemenangan yang besar.(QS. At-Taubah : 100). Justru analisa yang menyebutkan bahwa rusak dan pecahnya umat Islam ini berasal dari generasi shahabat perlu dipertanyakan motivasinya. Karena kalau anda bayang kan, seandainya generasi yang paling baik sudah dianggap menyeleweng, bagaimana dengan generasi lainnya ?
Padahal generasi itu adalah generasi yang langsung dibina oleh tangan Rasulullah SAW, dengan keringat, airmata dan darah beliau. Bahkan Rasulullah SAW telah rid ha atas mereka dan mereka ikut bersama dakwah Rasulullah bukan sebulan atau dua bulan, tapi banyak dari 16 mereka yang sejak masa awal turunnya wahyu dibina langusng oleh manusia paling m ulia di dunia ini. Analisa itu ibarat khanjar (belati) bermata dua. Disatu sisi seolah menawarkan s tudi kritik sejarah yang seolah ilmiyah dan histioris, namun di belakangnya ada mata khnjar yang tajam itu siap menghujam aqidah dan fikrah umat Islam. Sayangnya, `studi historis` seperti inilah yang justru dilakukan oleh sebagian k alangan yang akrab dengan dunia kampus, sebagiannya bahkan menyandang gelar akad emis yang lumayan, sebagian bahkan menyebut diri sebagai `mujaddid`. Sayangnya d ibalik analisa itu ada sebuah cacian yang mereka bungkus dengan ungkapan `kritik historis` itu, biasanya justru bernuansa `kritik ilimyah`. Misalnya kasus tahkim (arbitrase), kasus ini paling sering diangkat untuk menjat uhkan dan mencaci maki sebagian shahabat serta untuk mendiskreditkan mereka. Say angnya, hampir semua kritik sejarah ini mengacu hanya sampai analisa para mustas yrikin (orientalis) yang penuh dengan bumbu zhanussau`. Sedangkan sumber sejarah Islam yang paling asli dan merupakan sebuah report yang paling valid dan dipercaya, hampir-hampir tidak pernah disentuh. Jadi analisa i tu tidak lebih hanya nukilan dari nukilannya nukilan nukilan. Merka yang mengang kat diri sebagai kritikus sejarah itu sama sekali belum pernah membaca literatur asli dari peristiwa di masa shahabat itu. Bahkan menyentuhnya pun belum pernah. Jadi bagaimana mau jadi kritikus kalau yang keluar hanya hanya kata orang. Faktor Kerancuan Sejarah Dalam penulisan Sejarah Ada dua pihak yang sangat berperan untuk mewarnai dan menggambar lembaran buku s ejarah. Pertama adalah 17 sejarawannya itu sendiri atau disebut dengan muarrikh. Kedua adalah nara sumber yang memberi masukan kepada penulis sejarah atau yang sering disebut ihkbari. Ke duanya ini menjadi unsur penting dalam penulisan sejarah, apabila salah satu ata u malah keduanya error atau mengalami distorsi, maka tampilan sejarah yang akan muncul bisa menjadi sedemikian buruknya. 1. Sejarawan Dari sisi muarrikh, kita mengenal ada beberapa tipe. Ada yang jujur dan proporsi onal dan ada yang sejak awal memang telah berpihak. a. Sejarawan Yang Niatnya Tidak Benar Misalnya Al-Ya`qubi, Al-Mas`udi dan lainnya. Mereka ini memang berusaha memberi warna tertentu untuk menjatuhkan citra seorang shahabat dan meninggikan yang lai nnya. Berita yang diterimanya dari informan (ikhbari) diterimanya bulat dan lang sung ditelan masuk perut. b. Sejarawan Yang Jujur dan Selektif Tetapi ada juga yang jujur dan menyeleksi kabar yang diterimanya, terutama bila dianggap bertentangan dengan Quran dan Sunah. Diantaranya adalah Abu Bakar Ibnul Arabi yang menulis kitab fenomenal Al-`Awashim minal Qawashim dan juga Ibnu Kat sir yang menulis Al-Bidayah Wan- Nihayah. c. Sejarawan Tipe Kolektor 18 Selain itu ada juga yang memang menuliskan begitu saja apa yang mereka dapat ten tang sejarah, sebagai bahan mentah untuk dikaji ulang. Bukan untuk konsumsi masy arkat luas tapi untuk para ahli yang meneliti ulang dengan berpedoman pada metod ologi ilmiyah yang akurat. Diantara mereka yang termasuk dalam kategori ini anta ra lain adalah At-Thabari dengan kitabnya yang sangat populer yaitu Tarikhur Rus ul wal Muluk 2. Pemberi Informasi Dari sisi para pemberi informasi (ikhbari) juga ada tipe-tipe yang membedakan sa tu sama lain diantara mereka. Ada yang tsiqah dan ada juga yang tidak tsiqah. Ya ng tidak tsiqah ini terkadang berani berbohong dan memalsu sejarah seenak kepnti ngan dirinya sendiri. Kira-kira kasusnya hampir mirip dengan pemalsuan hadits de mi kepentingan kelompok.
Hanya saja, bila di dalam dunia hadits telah lahir gerakan kritik hadits yang da hsyat sehingga bisa dengan mudah memilah hadits yang benar dan yang palsu, meman g dalam dunia tarikh (sejarah) Islam, hal itu belum lagi terbangun dengan mantap . Latar belakangnya ada banyak, diantaranya adalah memang pada masa awal dahulu ke butuhan atas periwayatan sejarah belum terlalu dominan. Umat Islam mesih dihadap kan kepada hal yang lebih utama yaitu menyelesaikan masalah pemalsuan hadits. Selain itu memang pada masa lalu para orientalis belum segencar sekarang dalam m enyerang ajaram Islam, sehingga pemikiran yang menyimpang dari sejarah Islam mas ih dibilang tidak ada. Dan tambahan lagi, bahwa umat Islam di masa lalu masih ku at pemahamannya atas sejarah mereka 19 sendiri, sehingga hampir-hampir tidak ada persoalan dengan masalah penyelewengan sejarah. Sedangkan pada hari ini, orientalis telah mengarahkan moncong senjatanya ke dala m sejarah Islam dan mengacak-acak isinya sehingga menjadi sebuah cerita kriminal dan peperangan. Dan sayangnya, umat Islam selama ini masih belum selesai membua t sistem penyaringan dan seleksi sejarah Islam sebagaimana dalam dunia hadits. S ehingga bila kurang dalam dan ahli dalam masalah sejrah, bisa saja seseroang ter jebak untuk ikut-ikutan dakwah orientalis dalam mencoreng sejarah Islam bahkan i kut mendikreditkan para shahabat yang mulia. Nampaknya justru hal itulah yang terjadi sekarang. Di banyak pusat pengajran dan pendidkan Islam terutama perguruan tinggi Islam, justru paling sering terjadi p enghujatan atas diri para shahabat dan tuduhan zhalim ke dalam sejarah Islam. Ru panya cakar dan kuku para orientalis kali ini benar-benar menghujam sehingga ban yak yang termakan dengan tipu daya mereka dan ditipu mentah-mentah. Sungguh hal yang sangat tragis, karena dengan mencaci maki para shahabat itu mereka malah me ras sudah menjadi ilmuwan, pakar dan kritikus. Padahal para orientalis betepuk t angan menabuh genderang, para ilmuwan muslim yang harus menari di bawah irama ge ndang mereka. Sungguh tragis memang. Bekal dan Pegangan Sekedar untuk bekal dan pegangan agar kita tidak terjebak dalam penipuan bergaya murahan ini, maka ada beberapa hal yang perlu diketahui untuk mematahkan serang an orientalis ini. a. Adanya tokoh provokator dalam sejarah 20 Diantaranya adalah tokoh Abdullah bin Saba`, seorang Yahudi dari Yaman yang berp ura-pura masuk Islam. Peran orang ini sangat besar dalam memberi provokasi umat Islam yang tinggal di wilayah-wilayah yang jauh dari Madinah, dimana mereka masi h baru saja masuk Islam dan belum lagi paham benar dengan ajaran Islam. Tokoh ya ng satu ini telah melakukan perjalanan panjang dari satu tempat ke temapt lainny a hany untuk memrpovokasi umat Islam. Sayangnya oleh para gembong orientalis, to koh ini diusahakan agar dihapus dari catatan sejarah, agar seolah yang bikin ona r itu memang para shahabat sendiri. Padahal bukti keberadaannya tidak bisa dipungkiri dalam sejarah. Tangan kotor Ib n Saba` ini jelas kelihatan nyata tatkala dia berhasil memprovokasi penduduk Mes ir untuk membunuh Khalifah Utsman bin Affan ra. Namun ketika rombongan pembunuh Utsman dari Mesir bertemu langsung dengan Khlaifah Utsman dan mendapatkan penjel asan, mereka pun sadar bahwa mereka telah ditipu mentah-mentah oleh Ibnu Saba`. Tapi Ibnu Saba` tidak kehabisan akal, dia membuat surat palsu seolah-olah Utsman memerintahkan kepada gubernur Mesir untuk membunuh rombongan ini. Akhirnya untu k kedua kalinya mereka tertipu dan mengepung rumah Khalifah Utsman. b. Jaringan Kerja Yang Rapi Dalam kerjanya, Ibnu Saba` yang mantan Yahudi ini ternyata tidak sendirian, dia berhasilmengkader SDM yang tangguh dari kalangan mawali (bekas budak) untuk menj alankan manhaj dan harakahnya. Para mawali ini pun dulunya masuk Islam hanya sek edar menyelamatkan diri sebagai tawanan perang. Kerja mereka menghembuskan provo kasi dan berita miring seputar diri khalifah Utsman dan mencari-cari kelemahanny a. 21
Misalnya issue nepotisme, korupsi dan bermegah-megahan yang ditujukan kepada kep ribadian beliau dan keluarganya. Termasuk issue pergantian gubernur yang tadinya dipegang oleh shahabat senior menjadi para orang muda. Namun semua tuduhan koso ng itu berhasil ditepis oleh Ustamn dan oleh para shahabat lainnya yang tahu bet ul apa yang terjadi. Sehingga para penuduh pun tahu persis dan sadar bahwa berita yang mereka terima itu tidak lain hanyalah provokasi rendahan. Sehingga hanya mereka yang benar-ben ar bodoh dan tinggal di wilayah pinggiran jauh dari informasi saj yang mudah ter makan dengan isapan jempol seperti itu. c. Objek Provokasi Ibnu Saba` beserta prajurit mawali nya benar-benar pandai mencari mangsa untuk o bjek provokasinya. Mereka tidak mungkin berhasil kalau menyebarkan provokasi di pusat-pusat peradaban dan pemerintahan. Karena umat Islam ini umumnya melek beri ta dan paham betul tentang keshalehan Khalifah yang mereka cintai itu. Sebalikny a, objek provokasi ditujukan kepada orang-orang marginal, miskin, lemah, papa, d an hidup susah. Dahulu mereka adalah orang Badui dengan temperamen kasar, nekad, tidak kenal basa-basi dan berpikir pragmatis (pikiran pendek). Sehingga tindaka n mereka anarkis dan sama sekali tidak berdasarkan logika dan kajian yang matang . Dengan mudah mereka main hunus pedang untuk urusan yang tidak jelas ujung pang kalnya. Saran Sekedar saran, kami anjurkan anda memperbanyak membaca buku yang menelanjangi or ientalisme, khususnya yang berbicara masalah pembelaan terhadap umat Islam. 22 Salah satu buku yang anda bisa baca adalah karya Prof. Dr. Muhammad Amhazun yang judulnya Tahqiq Mawaqifus shahabah Fil Fitnah. Alhamdulillah buku ini sudah dit erjemahkan oleh Dr. Daud Rasyid MA dengan judul Fitnah Kubro, Tragedi pada masa shahabat, (Klarifikasi sikap serta analisa historis dalam perspektif ahli hadits dan Imam al-Tabari). Buku setebal 500-an halaman itu insya Allah dpat mematahka n email yang anda terima secara tuntas. 23 Pertemuan Ketiga Dakwah Parlemen Dakwah melalui parlemen memang terkadang kurang menguntungkan bila dilihat dari satu sisi, namun bila dilihat secara menyeluruh, ada potensi-potensi yang masih bisa digarap. Tentunya perlu juga hitung-hitungan antara modal dan keuntungan ya ng akan didapat. Semua itu tergantung iklim politik yang berkembang di suatu negara. Juga dengan kesiapan SDM dakwah itu sendiri. Semua itu perlu dikaji dengan cermat dan objekt if dengan melibatkan semua elemen umat Islam yang mengerti strategi dakwah secar a luas dan komprehensip. Hasilnya adalah sebuah majelis syuro yang melahirkan ij tihad jama`i dari umat Islam. Bahkan bila perlu, bisa saja dilakukan jajak pendapat atas untung ruginya dakwah di parlemen. Pastilah hasil jajak pendapat itu melahirkan pro dan kontra. Hasil jajak pendapat ini penting untuk dipelajari secara cermat oleh 25 para penentu kebijakan dakwah, agar segala resikonya sudah bisa diperhitungkan s ejak awal sebelum melangkah. Selain itu pengalaman dari saudara kita di berbagai belahan dunia juga bisa dijadikan salah satu rujukan penting, mengingat mush-mu suh Islam itu biasa bergerak secara internasional juga. Karena itu keputusan untuk masuk ke dalam dakwah parlemen tidak diambil dengan c ara tergesa-gesa, namun hasil dari ijtihad jama`i yang cukup panjang dan teliti. Bila ternyata hasil syuro itu cenderung kepada pentingnya kita masuk ke dalam pa rlemen dan menurut perhitungan manfaat lebih besar dibandingkan kerugiannya, mak a bismillah. Namun bila hasil ijtihad jama`i itu cenderung kepada tidak masuk pa rlemen, maka kita perlu mundur teratur dan legowo. Jadi semua masukan itu perlu dikaji secara mendalam dan kontiniu dan mungkin saj a terjadi perubahan keputusan pada masa berikutnya. Disinilah pentingnya suatu i jtihad terutama yang bersifat jama`i.
Ikut Pemilu Haram Sebab Haram Menegur Pemimpin Terang-Terangan ? Diantara alasan mereka yang anti dengan pemilu dan demokrasi adalah tentang hara mnya haramnya mengkritik pemimpin secara terang-terangan. Menurut mereka, mengkr itik pemimpin harus dilakukan dengan sembunyi2 (digambarkannya dengan mengganden g tangan pemimpin itu dan menasehatinya), dan bila pemimpin itu tidak mendengark an, umat wajib bersabar. Pendapat ini tidak sepenuhnya benar, sebab bukankah ketika Umar bin Al-Khattab s edanbg berkhutbah di muka umum, tiba-tbia ada seorang wanita yang berdiri dan me mprotes atas apa yang dikatakannya ? Apa yang dilakukan seorang Umar yang gagah perkasa yang syetan 26 pun lari terbirit-birit kalau Umar lewat ? Apakah dia mengatakan bahwa wanita it u tidak beradad dan tidak menjalankan sopan santun ? Tidak, sekali lagi tidak. Umar malah mengatkan tanpa sungkan dan malu di hadapan khalayak umum bahwa dirinya salah dan wanita itu benar. Di lain peristiwa, ketika tahu bahwa Umar bin Khatab memakai pakaian yang menutu pio tubuhnya, padahal jatah setiap orang sama dalam menerima bahan pakaian, umat Islam pun bertanya kepada Umar tentang ketidak-adilan ini yang mereka rasakan. Maka berdirilah Abudllah bin Umar menjelaskan bahwa dia telah menyerahkan pakaia n jatahnya untuk ayahnya, sebab tubuh ayahnya itu jauh lebih besar dan jatah pak aian yang diterimanya tidak bisa menutupi auratnya. Bahkan di masa lalu, ketika Musa diperintahkan untuk datang kepada Fir`aun, tida k ada aturan yang mewajibkannya untuk merahasiakan peringatannya itu. Musa tidak pernah datang kepada Firaun dengan diam-diam. Tetapi beliau datang dengan kepad a tegak dan mengatakan,`Wahai Firaun, kamu telah melampaui batas`. Dan Musa berkata: `Hai Fir`aun, sesungguhnya aku ini adalah seorang utusan dari Tuhan semesta alam, wajib atasku tidak mengatakan sesuatu terhadap Allah, kecual i yang hak. Sesungguhnya aku datang kepadamu dengan membawa bukti yang nyata dar i Tuhanmu, maka lepaskanlah Bani Israil bersama aku`. ([Link]-Araf : 104) Pergilah kepada Fir`aun; sesungguhnya ia telah melampaui batas".(QS. Thaha : 24) Dialog Musa dengan Firaun itu adalah dialog terbuka dan disaksikan oleh pembesar -pembesar negara. Bahkan dalam dialog-dialog itu, sesekali Firaun berusaha 27 mempengaruhi majelis dengan melontarkan pertanyaan kepada mereka. Berkata Fir`aun kepada orang-orang sekelilingnya: `Apakah kamu tidak mendengarka n?` Jadi baik pemimpin muslim apalagi yang bukan muslim, berhak untuk ditegur di depan umum. Sebab dengan demikian, maka pemimpin itu tahu bahwa dirinya salah. Meski demikian, tidak salah juga bila dalam rangka menegur itu dilakukan dengan cara yang baik. Namun sebagai orang yang dipilih oleh rakyat, maka rakyat pun pe rlu tahu apa yang telah dilakukan oleh pemimpinnya. Dan sang pemimpin harus sela lu siap mendengarkan keluhan rakyatnya. Tidak boleh berdalih dan sembunyi dari t anggung-jawab. Lagi pula pemilu itu bukan sekedar urusan tegur menegur penguasa, lebih dari itu adalah sebuah majelis dimana rakyat punya hak untuk memilih pemimpin yang baik yang siap menjalankan hukum Allah SWT di muka bumi ini. Kalau tidak ikut pemilu dan membiarkan panggung kekuasaan diisi oleh orang zalim, zindik dan munafik, ma ka pastilah yang tidak ikut memilih pemimpin yang baik itu ikut menanggung dosa sosial. Sebab mereka lari dari medan jihad yang ada di depan mata, hanya karena kekurang luasan wawasan mereka. Anggapan Bahwa Kegagalan FIS dan Refah Sebagai Bukti Salahnya Dakwah Lewat Parle men Sebagian saudara kita bersikukuh tidak ikut pemilu karena dianggap bukan cara Is lam, Mereka berdalih bahwa tujuan yang baik harus dilakukan dengan cara yang bai k pula bukan dengan cara yang tdk sesuai syariat. Bahkan mereka juga mencontohka n kegagalan perjuangan umat Islam lewat partai di berbagai negara seperti partai FIS di Aljazair & REFAH di 28 Turki. Menurut mereka umat Islam disana kini hancur bukan semata mata kudeta, te tapi karena mereka telah masuk sistem kafir. Pendapat seperti itu jelas menyalahi pendapat umumnya para ulama muslimin dan ju
ga para tokoh pergerakan dunia Islam. Sebab kegagalan FIS dan REFAH bukan karena umat Islam main api dengan politik, melainkan memang demikianlah sebenarnya waj ah musuh Islam dalam menghadapi gerakan Islam ketika sudah sampai pada taraf Apl ikasi syariat Islam. Sedangkan kalau umat Islamnya masih anteng dan tenang-tenang saja di forum semin ar, diskusi atau lembaga-lembaga dakwah, maka semua itu belum lagi terlalu mengk hawatirkan bagi musuh Islam. Selama belum ada gerakan pembentukan negara Islam, maka belum ada manuver yang berarti. Namun ketika sudah berbentuk partai, maka tentu saja sudah tidak main-main lagi. Sebab bila partai Islam itu menang, artinya apa ? Artinya negara itu menjadi ne gara Islam secara syah, demokratis dan diakui secara jujur oleh masyarakat dunia , bukan dengan cara kudeta. Dan dalam konsep negara Islam, pembentukan negara it u memng tidak harus dengan kudeta, melainkan dengan mengukuti alur yang memang d iakui oleh masyarakat disitu. Sebaliknya, kudeta itu identik dengan kerusuhan da n cheos. Dan Islam berusaha menghindari hal itu. Musuh Islam Kebakaran Jenggot Namun kita bisa lihat bagaimana musuh-musuh Islam merasa kebakaran jenggot ketik a melihat geliat umat Islam berhasil memenangkan pemilu di banyak negeri. Itu me nunjukkan bahwa tidak ada lagi alasan untuk menerapkan sistem sekuler di negara itu. Terbukti secara 29 syah, meyakinkan, formal, ilmiyah dan masuk akal bahwa rakyat hanya menghendaki terbentuknya negara Islam yang menerapkan hukum Allah SWT. Anda dan teman Anda i tu seharusnya bangga bila melihat apa yang telah bisa dipersembahkan oleh saudar a kita di Al-Jazair dan Turki itu, bukannya malah ikut kebakaran jenggot seperti musuh-musuh Islam. Kemenangan FIS dan REFAH itu adalah bukti bahwa ternyata umat Islam itu masih ad a dan ternyata terbentuknya negara Islam itu sudah tidak bisa dibendung lagi. Sampai disini kita tahu bahwa kemenangan itu sudah ada dalam genggaman tangan. H anya saja, musuh Islam tidak rela kalau melihat Islam bisa membentuk negara send iri dan berdaulat. Maka mulailah mereka main kasar dan menginjak-injak hukum yan g mereka buat sendiri. Pembatalan FIS dan pembubaran REFAH itu contoh nyata baga imana musuh Islam menghalalkan segala cara untuk menghancurkan Islam. Membunuh, membantai, menculik, menyiksa, memenjarakan dan segala macam seni azab telah mer eka gelar di mata dunia. Upaya Memojokkan Partai Islam Begitu banyak upaya yang telah dilakukan oleh mereka yang tidak suka dengan keme nangan partai-partai ISlam di berbagai negara. Diantaranya adalah menghasud saud ara muslimin di berbagai negara untuk menyalahkan gerakan Islam dan memojokkan p artai Islam yang tadinya sudah menang. Dan sayangnya tidak sedikit dari umat Islam yang menjadi salah satu korban hasut an itu, sadar atau tidak sadar. Fenomenanya adalah bukan ikut prihatin dengan ke kejaman musuh, malah menyalahkan partai Islam dan 30 mengatakan bahwa partai itu tidak sesuai dengan sunnah Rasulullah SAW. Seruan Para Ulama Untuk Mendukung Dakwah Lewat Parlemen Apa komentar para ulama tentang masuknya muslimin ke dalam parlemen ? Dan apakah mereka membid`ahkannya ? Ternyata anggapan yang menyalahkan dakwah lewat parlemen itu keliru, sebab ada s ekian banyak ulama Islam yang justru berkeyakinan bahwa dakwah lewat parlemen it u boleh dilakukan. Bahkansebagiannya memandang bahwa bila hal itu merupakan sala h stu jalan sukses menuju kepada penegakan syariat Islam, maka hukumnya menjadi wajib. Diantara para ulama yang memberikan pendapatnya tentang kebolehan atau keharusan dakwah lewat parlemen antara lain : 1. Imam Al-`Izz Ibnu Abdis Salam 2. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah 3. Ibnu Qayyim Al-Jauziyah 4. Muhammad Rasyid Ridha 5. Syaikh Abdurrahman Bin Nashir As-Sa`di : Ulama Qasim
6. S yaikh Ahmad Muhammad Syakir : Muhaddis Lembah Nil 7. Syaikh Muhammad Al-Amin Asy-Syinqithi 8. Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz 9. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-`Utsaimin 10. Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-AlBani 11. Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan 12. Syaikh Abdullah bin Qu`ud 13. Syaikh Dr. Umar Sulaiman Al-`Asyqar 14. Syaikh Abdurrahman bin Abdul Khaliq 31 Kalau diperhatikan, yang mengatakan demikian justru para ulama yang sering diang gap kurang peka pada masalah politik praktis. Ternyata gambaran itu tidak sepert i yang kita kira sebelumnya. Siapakah yang tidak kenal Bin Baz, Utsaimin, Albani , Asy-Syinqithi, Shalih Fauzan dan lainnya ? Pendapat Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz Fatwa Pertama Sebuah pertanyaan diajukan kepada Syaikh Abdul Aziz bin Baz tentang dasar syaria h mengajukan calon legislatif untuk Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan hukum Isla m atas kartu peserta pemilu dengan niat memilih untuk memilih para da`i dan akti fis sebagai anggota legislatif. Maka beliau menjawab : Rasulullah SAW bersabda bahwa setiap amal itu tergantung pada niatnya. Setiap or ang mendapatkan apa yang diniatkannya. Oleh karena itu tidak ada masalah untuk m asuk ke parlemen bila tujuannya memang membela kebenaran serta tidak menerima ke batilan. Karena hal itu memang membela kebenaran dan dakwah kepada Allah SWT. Begitu juga tidak ada masalah dengan kartu pemilu yang membantu terpilihnya para da`i yang shalih dan mendukung kebenaran dan para pembelanya, wallahul muwafiq. Fatwa Kedua Di lain waktu, sebuah pertanyaan diajukan kepada Syeikh Bin Baz : Apakah para ul ama dan duat wajib melakukan amar makruf nahi munkar dalam bidang politik ? Dan bagaimana aturannya ? 32 Beliau menjawab bahwa dakwah kepada Allah SWT itu mutlak wajibnya di setiap temp at. Amar makruf nahi munkar pun begitu juga. Namun harus dilakukan dengan himah, uslub yang baik, perkataan yang lembut, bukan dengan cara kasar dan arogan. Men gajak kepada Allah SWT di DPR, di masjid atau di masyarakat. Lebih jauh beliau menegaskan bahwa bila dia memiliki bashirah dan dengan cara ya ng baik tanpa berlaku kasar, arogan, mencela atau ta`yir melainkan dengan kata-k ata yang baik. Dengan mengatakan wahai hamba Allah, ini tidak boleh semoga Allah SWT memberimu petunjuk. Wahai saudaraku, ini tidak boleh, karena Allah berfirman tentang masal ah ini begini dan Rasulullah SAW bersabda dalam masalah itu begitu. Sebagaimana firman Allah SWT : Serulah kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahla h mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahu i tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui or ang-orang yang mendapat petunjuk.(QS. An-Nahl : 125). Ini adalah jalan Allah dan ini adalah taujih Rabb kita. Firman Allah SWT : Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan di ri dari sekelilingmu. (QS. Ali Imran : 159) Dan tidak merubah dengan tangannya kecuali bila memang mampu. Seperti merubha is tri dan anak-anaknya, atau seperti pejabat yang berpengaruh pada sebuah lembaga. Tetapi bila tidak punya pengaruh, maka dia mengangkat masalah itu kepada yang p unya kekuasaan dan 33 memintanya untuk menolak kemungkaran dengan cara yang baik. Fatwa Ketiga Majalah Al-Ishlah pernah juga bertanya kepada Syeikh yang pernah menjadi Mufti K erajaan Saudi Arabia. Mereka bertanya tentang hukum masuknya para ulama dan duat ke DPR, parlemen serta ikut dalam pemilu pada sebuah negara yang tidak menjalan
kan syariat Islam. Bagaimana aturannya ? Syaikh Bin Baz menjawab bahwa masuknya mereka berbahaya, yaitu masuk ke parlemen , DPR atau sejenisnya. Masuk ke dalam lembaga seperti itu berbahaya namun bila s eseorang punya ilmu dan bashirah serta menginginkan kebenaran atau mengarahkan m anusia kepada kebaikan, mengurangi kebatilan, tanpa rasa tamak pada dunia dan ha rta, maka dia telah masuk untuk membela agam Allah SWT, berjihad di jalan kebena ran dan meninggalkan kebatilan. Dengan niat yang baik seperti ini, saya memandan g bahwa tidak ada masalah untuk masuk parlemen. Bahkan tidak selayaknya lembaga itu kosong dari kebaikan dan pendukungnya. Bila dia masuk dengan niat seperti ini dengan berbekal bashirah hingga memberika n posisi pada kebenaran, membelanya dan menyeru untuk meninggalkan kebatilan, se moga Allah SWT memberikan manfaat dengan keberadaannya hingga tegaknya syariat d engan niat itu. Dan Allah SWT memberinya pahala atas kerjanya itu. Namun bila motivasinya untuk mendapatkan dunia atau haus kekuasaan, maka hal itu tidak diperbolehkan. Seharusnya masuknya untuk mencari ridha Allah, akhirat, me mbela kebenaran dan menegakkannya dengan argumen-argumennya, niscaya majelis ini memberinya ganjaran yang besar. 34 Fatwa Keempat Pimpinan Jamaah Ansharus sunnah Al-Muhammadiyah di Sudan, Syaikh Muhammad Hasyim Al-Hadyah bertanya kepada Syaikh bin Baz pada tanggal 4 Rabi`ul Akhir 1415 H. T eks pertanyaan beliau adalah : Dari Muhammad Hasyim Al-Hadyah, Pemimpin Umum Jamaah Ansharus-Sunnah Al-Muhammad iyah di Sudan kepada Samahah Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, mufti umum Kerajaa n Saudi Arabia dan Ketua Hai`ah Kibar Ulama wa Idarat Al-buhuts Al-Ilmiyah wal I fta`. Assalamu `alaikum Wr. Wb. Saya mohon fatwa atas masalah berikut : Bolehkah seseo rang menjabat jabatan politik atau adminstratif pada pemerintahan Islam atau kaf ir bila dia seorang yang shalih dan niatnya mengurangi kejahatan dan menambah ke baikan ? Apakah dia diharuskan untuk menghilangkan semua bentuk kemungkaran mesk i tidak memungkinkan baginya ? Namun dia tetap mantap dalam aiqdahnya, kuat dala m hujjahnya, menjaga agar jabatan itu menjadi sarana dakwah. Demikian, terima ka sih wassalam. Jawaban : Wa `alaikumussalam wr wb. Bila kondisinya seperti yang Anda katakan, maka tidak ada masalah dalam hal itu. Allah SWT berfirman,`Tolong menolonglah kamu dalam ke baikan`. Namun janganlah dia membantu kebatilan atau ikut di dalamnya, karena Al lah SWT berfirman,`Dan janganlah saling tolong dalam dosa dan permusuhan`. Waffa qallahul jami` lima yurdhihi, wassalam wr. Wb. Bin Baz Wawancara Dengan Syaikh Muhammad bin Shalih Al-`Utsaimin 35 Pada bulan Oktober 1993 edisi 42, Majalah Al-Furqan Kuwait mewawancarai Syaikh M uhammad bin shalih Al-`Utsaimin, seorang ulama besar di Saudi Arabia yang menjad i banyak rujukan umat Islam di berbagai negara. Berikut ini adalah petikan wawan caranya seputar masalah hukum masuk ke dalam parlemen. Majalah Al-Furqan :. Fadhilatus Syaikh Hafizakumullah, tentang hukm masuk ke dal am majelis niyabah (DPR) padahal negara tersebut tidak menerapkan syariat Islam secara menyeluruh, apa komentar Anda dalam masalah ini ? Syaikh Al-`Utsaimin : Kami punya jawaban sebelumnya yaitu harus masuk dan bermus yarakah di dalam pemerintahan. Dan seseorang harus meniatkan masuknya itu untuk melakukan ishlah (perbaikan), bukan untuk menyetujui atas semua yang ditetapkan. Dalam hal ini bila dia mendapatkan hal yang bertentangan dengan syariah, harus ditolak. Meskipun penolakannya itu mungkin belum diikuti dan didukung oleh orang banyak pada pertama kali, kedua kali, bulan pertama, kedua, ketiga, tahun perta ma atau tahun kedua, namun ke depan pasti akan memiliki pengaruh yang baik. Seda ngkan membiarkan kesempatan itu dan meninggalkan kursi itu untuk orang-orang yan g jauh dari tahkim syariah merupakan tafrit yang dahsyat. Tidak selayaknya bersi kap seperti itu. Majalah Al-Furqan :. Sekarang ini di Majelis Umah di Kuwait ada Lembaga Amar Ma`
ruf Nahi Munkar. Ada yang mendukungnya tapi ada juga yang menolaknya dan hingga kini masih menjadi perdebatan. Apa komentar Anda dalam hal ini, juga peran lemba ga ini. Apa taujih Anda bagi mereka yang menolak lembaga ini dan yang mendukungn ya ? Syaikh Al-Utsaimin : Pendapat kami adalah bermohon kepada Allah SWT agar membant u para ikhwan kita di Kuwait kepada apa yang membuat baik dien dan dunia 36 mereka. Tidak diragukan lagi bahwa adanya Lembaga Amar Makmur Nahi Munkar menjad ikan simbol atas syariah dan memiliki hikmah dalam muamalah hamba Allah SWT. Jel as bahwa lembaga ini merupakan kebaikan bagi negeri dan rakyat. Semoga Allah SWT menyukseskannya buat ikhwan di Kuwait. Pada bulan Zul-Hijjah 1411 H bertepatan dengan bulan Mei 1996 Majalah Al-Furqan melakukan wawancara kembali dengan Syaikh Utsaimin : Majalah Al-Furqan. Apa hukum masuk ke dalam parlemen ? Syaikh Al-`Utsaimin: Saya memandang bahwa masuk ke dalam majelis perwakilan (DPR ) itu boleh. Bila seseorang bertujuan untuk mashlahat baik mencegah kejahatan at au memasukkan kebaikan. Sebab semakin banyak orang-orang shalih di dalam lembaga ini, maka akan menjadi lebih dekat kepada keselamatan dan semakin jauh dari bal a`. Sedangkan masalah sumpah untuk menghormati undang-undang, maka hendaknya dia ber sumpah unutk menghormati undang-undang selama tidak bertentangan dengan syariat. Dan semua amal itu tergantung pada niatnya dimana setiap orang akan mendapat se suai yang diniatkannya. Namun tindakan meninggalkan majelis ini buat orang-orang bodoh, fasik dan sekule r adalah perbuatan ghalat (rancu) yang tidak menyelesaikan masalah. Demi Allah, seandainya ada kebaikan untuk meninggalkan majelis ini, pastilah kami akan katak an wajib menjauhinya dan tidak memasukinya. Namun keadaannya adalah sebaliknya. Mungkin saja Allah SWT menjadikan kebaikan yang besar di hadapan seorang anggota parlemen. Dan dia barangkali memang benar-benar mengausai masalah, memahami kon disi masyarakat, hasil-hasil kerjanya, bahkan mungkin dia punya kemampuan yang b aik dalam berargumentasi, 37 berdiplomasi dan persuasi, hingga membuat anggota parlemen lainnya tidak berkuti k. Dan menghasilkan kebaikan yang banyak. (lihat majalah Al-Furqan - Kuwait hal. 18-19) Jadi kita memang perlu memperjuangakan Islam di segala lini termasuk di dalam pa rlemen. Asal tujuannya murni untuk menegakkan Islam. Dan kami masih punya 13 ula ma lainnya yang juga meminta kita untuk berjuang menegakkan Islam lewat parlemen . Insya Allah SWT pada kesempatan lain kami akan menyampaikan pula. Sebab bila s emua dicantumkan disini, maka pastilah akan memenuhi ruang ini. Mungkin kami aka n menerbitkannya saja sebagai sebuah buku tersendiri bila Allah SWT menghendaki. Pendapat Imam Al-`Izz Ibnu Abdis Salam Dalam kitab Qawa`idul Ahkam karya Al-`Izz bin Abdus Salam tercantum : Bila orang kafir berkuasa pada sebuah wilayah yang luas, lalu mereka menyerahkan masalah h ukum kepada orang yang mendahulukan kemaslahatan umat Islam secara umum, maka ya ng benar adalah merealisasikan hal tersebut. Hal ini mendapatkan kemaslahatan um um dan menolak mafsadah. Karena menunda masalahat umum dan menanggung mafsadat b ukanlah hal yang layak dalam paradigma syariah yang bersifat kasih. Hanya lantar an tidak terdapatnya orang yang sempurna untuk memangku jabatan tersebut hingga ada orang yang memang memenuhi syarat. Dari penjelasan di atas dapat dipahami menurut pandangan imam rahimahullah, bahw a memangku jabatan di bawah pemerintahan kafir itu adalah hal yang diperlukan. U ntuk merealisasikan kemaslahatan yang sesuai dengan syariat Islam dan menolakmaf sadah jika diserahkan kepada orang kafir. Jika dengan hal itu maslahat bisa dija lankan, 38 maka tidak ada larangan secara sya`ri untuk memangku jabatan meski di bawah peme rintahan kafir. Kasus ini mirip dengan yang terjadi di masa sekarang ini dimana seseorang menjab at sebagai anggota parlemen pada sebuah pemeritahan non Islam. Jika melihat pend
pat beliau di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa menjadi anggota parlemen diperbolehkan. Pendapat Ibnu Qayyim Al-Jauziyah Dalam kitab Thuruq Al-Hikmah, Ibnul Qayyim Al-Jauziyah (691- 751 H) dalam kitabn ya atturuq al hukmiyah menulis : Masalah ini cukup pelik dan rawan , juga sempit dan sulit. terkadang sekelompok orang melewati batas, meng hilangkan hak-hak,dfan mendorong berlaku kejahatan ke pada kerusakan serta menjadikasn syariat itu sempi sehingga tidak mampu memberik an jawaban kepada pemeluknya. dan menghalangi diri mereka dari jalan yang benar, yaitu jalan untuk mengetahui kebenaran dan [Link] mereka menola k hal tersebut, pada hal mereka dan yang lainnya tahu secara pasti bahwa hal itu adalah hal yang wajib diterapkan namun mereka menyangkal bahwa hal itu bertenta ngan dengan qowaid syariah . Mereka mengatakan bahwa hal itu tidak sesuai yang dibawa rosulullah, yang menjad ikan mereka berpikir seperti itu kurang nya mereka dalam memahami syariah dan pe ngenalan kondisi lapangan atau keduanya, sehingga begitu mereka melihat hal ters ebut dan melihat orang-orang melakukan halyang tidak sesuai yang dipahaminya, me reka melakukan kejahatan yang panjang, kerusakan yang [Link] permasalahannya jadi terbalik. Di sisi lain ada kelompok yang berlawanan pendapatnyadan menafikan hukum allah d an rosulnya. 39 kedua kelompok diatas sama-sama kurang memahami risalah yang dibawa rosulnya dan diturunkan dalam kitabnya, pada hal allah swt telah mengutus rasulnya dan menur unkan kitabnya agar manusia menjalankan keadilan yang dengan keadilan itu bumi d an langit di tegakkan. bila ciri-ciri keadilan itu mulai nampak dan wajahnya tam pil dengan beragam cara mak itulah syariat allah dan agamanya. allah swt maha ta hu dan maha hakim untuk memilih jalan menuju keadilan dan memberinya ciri dan ta nda . mak apapun jalan yang bisa membawa tegaknya keadilan maka itu adalah bagia n dari agama, dan tidak bertentangan dengan agama. Maka tidak boleh dikatakan bahwa polotik yang adil itu berbeda dengan syariat, t etapi sebaliknya justru sesuai dengan syariat , bahkan bagian dari syariat itru sendiri. kami menamakannya sebagai politik sekedar mengikuti istilah yang Anda b uat tetapi pada hakikatnya merupakan keadilan allah dan rosulnya Imam yang muhaqqiq ini mengatakan apapun cara untuk melahirkan keadilan maka itu adakah bagian dari agama dan tidak bertentangan [Link] bab ini mene gaskan bahwa apapun yang bisa melahirkan keadilan boleh dilakukan dan dia bagian dari politik yang sesuai dengan syariah. dan tidak ada keraguan bahwa siapa yan g menjabat sebuah kekuasaan maka ia harus menegakkan keadilan yang sesuai dengan syariat. dan berlaku ihsan bekerja untuk kepentingan syariat meskipun di bawah pemerintahan kafir. Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan Syekh Shaleh Alfauzan ditanya tentang hukum memasuki parlemen. Syekh Fauzan bali k bertanya: `Apa itu parlemen?` Salah seorang peserta menjawab `Dewan legislatif atau yang lainnya` Syekh: `Masuk untuk 40 berdakwah didalamnya?` Salah seorang peserta menjawab: `Ikut berperan serta dida lamnya` Syekh : `Maksudnya menjadi anggota di dalamnya?` Peserta :`Iya`. Syekh: `Apakah dengan keanggotaan didalamnya akan menghasilkan kemaslahatan bagi kaum muslimin? Jika memang ada kemaslahatan yang dihasilkan bagi kaum muslimin dan memiliki tujuan untuk memperbaiki parlemen ini agar berubah kepada Islam, ma ka ini adalah suatu yang baik, atau paling tidak bertujuan untuk mengurangi keja hatan terhadap kaum muslimin dan menghasilkan sebagian kemaslahatan, jika tidak memungkinkan kemaslahatan seluruhnya meskipun hanya sedikit`. Salah seorang peserta: `terkadang didalamnya terjadi tanazul (pelepasan) dari se jumlah perkara dari manusia`. Syekh :`Tanazul yang dimaksud adalah kufur kepada Allah atau apa?`. Salah seorang peserta :`Mengakui `. Syekh :`Tidak boleh. adanya pengakuan tersebut. Jika dengan pengakuan tersebut i a meninggalkan agamanya dengan alasan berdakwah kepada Allah, ini tidak dibenark
an. Tetapi jika mereka tidak mensyaratkan adanya pengakuan terhadap hal-hal ini dan ia tetap berada dalam keislaman akidah dan agamanya, dan ketika memasukinya ada kemaslahatan bagi kaum muslimin dan apa bila mereka tidak menerimanya ia men inggalkannya, apa mungkin ia bekerja untuk memaksa mereka? Tidak mungkin kan unt uk melakukan hal tersebut. Yusuf as ketika memasuki kementrian kerajaan, apa has il yang ia peroleh ? atau kalian tidak tahu hasil apa yang di peroleh Nabi Yusuf as?. Atau kalian tidak tahu tentang hal ini, apa yang diperoleh Nabi Yusuf ketika ia masuk, ketika raja berkata kepadanya : `Sesungguhnya kamu hari ini menjadi seora ng yang berkedudukan tinggi lagi dipercaya disisi kami` Nabi 41 Yusuf saat itu menjawab: `Jadikan aku bendaharawan negara karena aku amanah dan pandai`. Maka beliau masuk dan hukum berada ditangannya. Dan sekarang dia menjad i raja mesir, sekaligus nabi. Jadi bila masuknya itu melahirkan sesuatu yang bai k, silahkan masuk saja. tapi kalau hanya sekedar menyerahkan diri dan ridho terh adap hukum yang ada maka tidak boleh. Demikian juga bila tidak mendatangkan masl ahat bagi umat Islam, maka masuknya tidak dibenarkan. Para ulama berkata: `Menda tangkan manfaat dan menyempurnakannya, meski tidak seluruh manfaat, tidak boleh diiringi dengan mafsadat yang lebih besar`. Para ulama mengatakan bahwa Islam itu datang dengan visi menarik maslahat dan me nyempurnakannya serta menolak mafsadah dan menguranginya. maksudnya bila tidak b isa menghilangkan semua mafsadat maka dikurangi, mendapatkan yang terkecil dari dua dhoror, itu yang diperintahkan. Jadi tergantung dari niat dan maksud seseora ng dan hasil yang diperolehnya. bila masuknya lantaran haus kekuasaan dan uang l alu diam atas segala penyelewengan yang ada, maka tidak boleh. tapi kalau masukn ya demi kemaslahatan kaum muslimin dan dakwah kepada jalan Allah, maka itulah ya ng dituntut. Tapi kalau dia harus mengakui hukum kafir maka tidak boleh, meski t ujuannya mulia. seseorang tidak boleh menjadi kafir dan berkata `Tujuan saya mul ia, saya berdakwah kepada Allah ,` tidak tidak boleh itu.` Salah seorang peserta: `Apa yang menjadi jalan keluarnya?` `Jalan keluarnya adalah jika memang didalamnya ada maslahat bagi kaum muslimin d an tidak menghasilkan madharat bagi dirinya, mak hal tersebut tidak bertentangan . Adapun jika tidak ada kemaslahatan didalamnya bagi kaum muslimin atau hal ters ebut mengakibatkan adanya 42 kemadorotan yaitu pengakuan ayitu engakuan akan kekufuran, maka hal tersebut tid ak diperbolehkan` (Rekaman suara) Syaikh Abdullah bin Qu`ud Sebagian orang-orang meremehkan partai-partai politik Islam yang terdapat di sej umlah negara-negara Islam seperti Aljazair, Yaman, Sudan dan yang lainnya. Merek a yang ikut didalamnya dituduh dengan tuduhan sekuler dan lain-lainnya. Apa pend apat Anda tentang hal tersebut? Sikap atau peran apa yang harusnya dilakukan ole h kaum muslimin untuk menyikapi kondisi tersebut ?. Jawaban : Akar persoalan dari semua itu adalah adanya dominasi sebagian para dai terhadap yang lainnya. Dan saya berpendapat bahwa seorang muslim yang diselamat kan Allah dari malapetaka untuk memuji Allah dan bersyukur kepada-Nya serta berd oa untuk saudara-saudaranya di Sudan, Aljazair, Tunisia dan negara-negara lainny a, ataupun bagi kaum muslimin yang berada di negeri-negeri yang jelas-jelas kafi r. Dan jika hal tersebut tidak memberikan manfaat kepada mereka, aku berpendapat mi nimal jangan memadhorotkan mereka. Karena sampai sekarang tidak ada bentuk solid aritas yang nyata kepada para dai tersebut padahal mereka telah mengalami berbag ai ujian dan siksaan. Dan kita wajib mendoakan kaum msulimin dan manaruh simpati kepada mereka di seti ap tempat. Karena seorang mokmin adalah saudara bagi muklmin yang lainnya, jika mendengar kabar yang baik mengenai saudaranya di Sudan, Aljazair, Tunisia atau d inegeri mana saja maka hendaknya ia merespon positif dan seakan-akan ia berkata: `Wahai kiranya saya ada bersama-sama mereka, tentu saya mendapat kemenangan yan g besar` (QS. An-Nisaa : 73). 43
Dan apa bila mendengar malapetaka yang menimpa mereka, maka hendaklah ia mendoak an untuk saudarnya-saudaranya yang sedang diuji di negeri mana saja, supaya Alla h melepaskan mereka dari orang-orang yang sesat dan menjadikan kekuasaan bagi ka um muslimin dan hendaklah ia memuji Allah karena telah menjaga dirinya. Jangan sampai ada seseorang yanga bersandar dengan punggungnya di negeri yang am an lalu mencela orang-orang atau para dai yang berjuang demi Islam dibawah kedho liman dan kesewenag-wenangan dan intimidasi. Tidak diragukan lagi bahwa hal ini merupakan tindakan yang tidak fair. boleh jadi engkau akan mendapat ujian jika A nda tidak merespon dengan perasaan Anda apa yang dirasakan oleh kaum muslimin ya ng sedang mengalami ujian dari Allah.. 44 Pertemuan Keempat Demokrasi Saat ini umat Islam dihadapkan pada kenyataannya bahwa khilafah Islamiyah yang t adinya besar itu telah dipecah-pecah oleh penjajah menjadi negeri kecil-kecil de ngan sistem pemerintahan yang sekuler. Namun mayoritas rakyatnya Islam dan banya k yang masih berpegang teguh pada Islam. Sedangkan para penguasa dan pemegang ke putusan ada di tangan kelompok sekuler dan kafir, sehingga syariat Islam tidak b isa berjalan. Karena mereka menerapkan sistem hukum yang bukan Islam dengan form at sekuler dengan mengatasnamakan demokrasi. Meski prinsip demokrasi itu lahir di barat dan begitu juga dengan trias politika nya, namun tidak selalu semua unsur dalam demokrasi itu bertentangan dengan ajar an Islam. Bila kita jujur memilahnya, sebenarnya ada beberapa hal yang masih ses uai dengan Islam. Beberapa diantaranya 45 yang dapat kami sebutkan antara lain adalah : Prinsip syura (musyawarah) yang te tap ada dalam demokrasi meski bila deadlock diadakan voting. Voting atau pengamb ilan suara itu sendiri bukannya sama sekali tidak ada dalam syariat Islam. Begitu juga dengan sistem pemilihan wakil rakyat yang secara umum memang mirip d engan prinsip ahlus syuro. Memberi suara dalam pemilu sama dengan memberi kesaks ian atas kelayakan calon. Termasuk adanya pembatasan masa jabatan penguasa. Sist em pertanggung-jawaban para penguasa itu di hadapan wakil-wakil rakyat. Adanya banyak partai sama kedudukannya dengan banyak mazhab dalam fiqih. Namun memang ada juga yang jelas-jelas bertentangan dengan syariat Islam, yaitu bila pendapat mayoritas bertentangan dengan hukum Allah. Juga praktek-praktek pe nipuan, pemalsuan dan penyelewengan para penguasa serta kerjasama mereka dalam k emungkaran bersama-sama dengan wakil rakyat. Dan yang paling penting, tidak adan ya ikrar bahwa hukum tertinggi yang digunakan adalah hukum Allah SWT. Namun sebagaimana yang terjadi selama ini di dalam dunia perpolitikan, masing pe nguasa akan mengatasnamakan demokrasi atas pemerintahannya meski pelaksanaannya berbeda-beda atau malah bertentangan dengan doktrin dasar demokrasi itu sendiri. Sebagai contoh, dahulu Soekarno menjalankan pemerintahannya dengan gayanya yang menurut lawan politiknya adalah tiran, namun dengan tenangnya dia mengatakan bah wa pemerintahannya itu demokratis dan menamakannya dengan demokrasi terpimpin. S etelah itu ada Soeharto yang oleh lawan politiknya dikatakan sebagai rezim yang otoriter, namun dia tetap saja mengatakan 46 bahwa pemerintahannya itu demokratis dan menamakannya demokrasi pancasila. Di be lahan dunia lain kita mudah menemukan para tiran rejim lainnya yang nyata-nyata berlaku zali dan memubunuh banyak manusia tapi berteriak-teriak sebagai pahlawan demokrasi. Lalu sebenarnya istilah demokrasi itu apa ? Demoktasi : Istilah Yang Sedang Ngetrend Istilah demokrasi pada hari ini tidak lain hanyalah sebuah komoditas yang sedang ngetrend digunakan oleh para penguasa dunia untuk mendapatkan kesan bahwa pemer intahannya itu baik dan legitimate. Padahal kalau mau jujur, pada kenyataannya h ampir-hampir tidak ada negara yang benar-benar demokratis sesuai dengan doktrin dasar dari demokrasi itu sendiri. Lalu apa salahnya ditengah ephoria demokrasi dari masyarakat dunia itu, umat Isl am pun mengatakan bahwa pemerintahan mereka pun demokratis, tentu demokrasi yang dimaksud sesuai dengan maunya umat Islam itu sendiri. Kasusnya sama saja dengan
istilah reformasi di Indoensia. Hampir semua orang termasuk mereka yang dulunya bergelimang darah rakyat yang dibunuhnya, sama-sama berteriak reformasi. Bahkan dari sekian lusin partai di Indonesia ini, tidak ada satu pun yang tidak berter iak reformasi. Jadi reformasi itu tidak lain hanyalah istilah yang laku dipasaran meski -bisa j adi- tak ada satu pun yang menjalankan prinsipnya. Maka tidak ada salahnya pula bila pada kasus-kasus tertentu, para ulama dan tokoh-tokoh Islam melakukan anali sa tentang pemanfaatan dan pengunaan istilah demokrasi yang ada di negara masing 47 masing. Lalu mereka pun melakukan evaluasi dan pembahasan mendalam tentang kemun gkinan memanfaatkan sistem yang ada ini sebagai peluang menyisipkan dan menjalan kan syariat Islam. Hal itu mengingat bahwa untuk langsung mengharapkan terwujudnya khilafah Islamiy ah dengan menggunakan istilah-istilah baku dari syariat Islam mungkin masih bany ak yang merasa risih. Begitu juga untuk mengatakan bahwa ini adalah negara Islam yang tujuannya untuk membentuk khilafah, bukanlah sesuatu yang dengan mudah ter laksana. Jadi tidak mengapa kita sementara waktu meminjam istilah-istilah yang t elanjur lebih akrab di telinga masyarakat awam, asal di dalam pelaksanaannya tet ap mengacu kepada aturan dan koridor syariat Islam. Ulama Menggunakan Istilah Demokrasi Bahkan sebagian dari ulama pun tidak ragu-ragu menggunakan istilah demokrasi, se perti Ustaz Abbas Al-`Aqqad yang menulis buku `Ad-Dimokratiyah fil Islam`. Begit u juga dengan ustaz Khalid Muhammad Khalid yang malah terang-terangan mengatakan bahwa demokrasi itu tidak lain adalah Islam itu sendiri. Semua ini tidak lain merupakan bagian dari langkah-langkah kongkrit menuju terbe ntuknya khilafah Islamiyah. Karena untuk tiba-tiba melahirkan khilafah, tentu bu kan perkara mudah. Paling tidak, dibutuhkan sekian banyak proses mulai dari peny iapan konsep, penyadaran umat, pola pergerakan dan yang paling penting adalah mu nculnya orang-orang yang punya wawasan dan ekspert di bidang ketata-negaraan, si stem pemerintahan dan mengerti dunia perpolitikan. 48 Dengan menguasai sebuah parlemen di suatu negara yang mayoritas muslim, paling t idak masih ada peluang untuk `mengislamisasi` wilayah kepemimpinan dan mengambil alihnya dari kelompok anti Islam. Dan kalau untuk itu diperlukan sebuah kendara an dalam bentuk partai politk, juga tidak masalah, asal partai itu memang tujuan nya untuk memperjuangkan hukum Islam dan berbasis masyarakat Islam. Partai harus ini menawarkan konsep hukum dan undang-undang Islam yang selama ini sangat dida mbakan oleh mayoritas pemeluk Islam. Dan di atas kertas, hampir dapat dipastikan bisa dimenangkan oleh umat Islam kar ena mereka mayoritas. Dan bila kursi itu bisa diraih, paling tidak, secara perat uran dan asas dasar sistem demokrasi, yang mayoritas adalah yang berhak menentuk an hukum dan pemerintahan. Umat Islam sebenarnya mayoritas dan seharusnya adalah kelompok yang paling berha k untuk berkuasa untuk menentukan hukum yang berlaku dan memilih eksekutif (peme rintahan). Namun sayangnya, kenyataan seperti itu tidak pernah disadari oleh uma t Islam sendiri. Tanpa adanya unsur umat Islam dalam parlemen, yang terjadi justru di negeri mayo ritas Islam, umat Islammnya tidak bisa hidup dengan baik. Karena selalu dipimpin oleh penguasa zalim anti Islam. Mereka selalu menjadi penguasa dan umat Islam s elalu jadi mangsa. Kesalahannya antara lain karena persepsi sebagian muslimin ba hwa partai politik dan pemilu itu bid`ah. Sehingga yang terjadi, umat Islam justru ikut memilih dan memberikan suara kepad a partai-partai sekuler dan anti Islam. Karena itu sebelum mengatakan mendirikan partai Islam dan masuk parlemen untuk memperjuangkan hukum Islam itu bid`ah, se harusnya dikeluarkan dulu fatwa yang membid`ahkan orang Islam bila memberikan su ara kepada 49 partai non Islam. Atau sekalian fatwa yang membid`ahkan orang Islam bila hidup d i negeri non-Islam.
Partai Islam dan Parlemen adalah peluang Dakwah Karena itu peluang untuk merebut kursi di parlemen adalah peluang yang penting s ebagai salah satu jalan untuk menjadikan hukum Islam diakui dan terlaksana secar a resmi dan sah. Dengan itu, umat Islam punya peluang untuk menegakkan syariat I slam di negeri sendiri dan membentuk pemerintahan Islam yang iltizam dengan Al-Q uran dan Sunnah. Tentu saja jalan ke parlemen bukan satu-satunya jalan untuk men egakkan Islam, karena politik yang berkembang saat ini memang penuh tipu daya. Lihatlah yang terjadi di AlJazair, ketika partai Islam FIS memenangkan pemilu, t iba-tiba tentara mengambil alih kekuasaan. Tentu hal ini menyakitkan, tetapi buk an berarti tidak perlu adanya partai politik Islam dan pentingnya menguasai parl emen. Yang perlu adalah melakukan kajian mendalam tentang taktik dan siasat di masa mo dern ini bagaimana agar kekuasaan itu bisa diisi dengan orang-orang yang shalih dan multazim dengan Islam. Agar hukum yang berlaku adalah hukum Islam. Selain it u dakwah lewat parlemen harus diimbangi dengan dakwah lewat jalur lainnya, seper ti pembinaan masyarakat, pengkaderan para teknokrat dan ahli di bidang masing-ma sing, membangun SDM serta menyiapkan kekuatan ekonomi. Semua itu adalah jalan dan peluang untuk tegaknya Islam, bukan sekedar berbid`ah ria. 50 Pertemuan Kelima Oposisi Oposisi dalam bahasa Inggris; opposition. Dalam bahasa Latin: oppositus, opponer e, (memperhadapkan, membantah, menyanggah, menentang) menurut pakar hukum dan po litik diartikan sebagai kubu partai yang mempunyai pendirian bertentangan dengan garis kebijakan kelompok yang menjalankan pemerintahan. Oposisi bukan musuh, me lainkan sparing patner dalam percaturan politik. Dalam demokrasi, oposisi dianggap sesuatu yang sangat diperlukan, sehingga oposi si dalam parlemen melembaga secara resmi. Sebab oposisi menjalankan suatu fungsi yang sangat vital dan penting yaitu check and balances, mengontrol pemerintah y ang didukung mayoritas, menguji kebijakan pemerintah dengan menunjukkan titik-ti tik kelemahannya, mengajukan alternatif. (Lihat, B.N. Marbun, SH., dalam Kamus Politik, Pustaka Sinar Harapan, Jakarta,19 96, hal. 455-456, John M. 51 Echols dan Hasan Shadili dalam Kamus Inggris-Indonesia, Gramedia, Jakarta, 1992, hal. 407, Lorens Bagus dalam Kamus Filsafat, Gramedia, Jakarta 1996, hal. 754) Dalam wacana politik Islam, oposisi (mu`aradhah) ditinjau dari dua aspek; doktri n kultural dan institusi struktural. Aspek doktrin kultural, menekankan bahwa op osisi bukan sekedar hak asasi, melainkan juga suatu kewajiban syari`ah dan tangg ung jawab moral. Seluruh nash (teks) al-Qur`an dan Sunnah Nabi serta arahan para Khulafa` Rashidu n membawa kepada konsekuensi logis mendorong umat Islam kepada sikap oposisi yan g loyal (loyal opposition), konstruktif dan reformatif. Karena, fokus dasar perintah syari`ah adalah Amar Ma`ruf dan Nahi Mungkar (memer intahkan kebaikan dan mencegah kemungkaran) yang diistilahkan oleh Imam Ghozali dalam Ihya `Ulumuddin (vol. II/265) sebagai `top sentral ajaran Islam` (al-Quth al-A`dzam Liddin) yang ditengarai oleh Saefuddin AF. Isma`il telah dihapuskan da ri konteks budaya politik praktis kontemporer dan hanya terbatas pada seruan dan himbauan moral sosial. (Tajdid Siyasi, hal. 364) Berbagai krisis peradaban umat Israel bahkan menjadi bangsa terkena kutukan Alla h, adalah karena mereka meninggalkan tugas penting kontrol moral ini. Allah Berfirman: `Mereka satu sama lain tidak saling melarang tindakan munkar ya ng mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu `. ([Link]-Maidah:79) Ini kebalikan watak Islam yang menjadikan amar ma`ruf dan nahi mungkar sebagai b udaya dan mental umatnya sebagai modal pembentukan masyarakat madani berjaya yan g Khairu Ummah (QS. Ali Imran:104, 110) 52 Karenanya, Nabi saw dalam berbagai haditsnya senantiasa memperingatkan umatnya u
ntuk tidak mendiamkan apalagi melegitimasi kemungkaran, bahkan beliau mendorong umat Islam untuk siap berdiri di garda terdepan dalam perjuangan menentang segal a bentuk kedzaliman. Malik bin Nabi, filosuf Al-Jazair mengomentari hadits `Barang siapa diantara kal ian yang melihat kemungkaran, hendaklah merubahnya dengan tangannya, bila tidak mampu dengan lisannya, bila tidak mampu dengan hatinya, dan itu selemah-lemah im an.` (HR. Muslim, Ashab Sunan, Ahmad) mengatakan bahwa misi setiap muslim bukan sekedar mennjadi penonton dan pengamat terhadap realitas sejarah, akan tetapi be rperan merubah alur peristiwa dengan mengembalikannya kepada jalur kebaikan seop timal mungkin.(Tajdid Siyasi:72) Pengalaman historis menurut sejarawan Inggris, Lord Action membuktikan bahwa man usia yang mempunyai kekuasaan cenderung menyalahgunakan kekuasaannya, dan manusi a yang mempunyai kekuasaan tak terbatas pasti akan bersikap otoriter dan menyala hgunakannya. Oleh karenanya perlu dibatasi yakni dengan kontrol hukum dan pembat asan kekuasaan yang disemangati amar ma`ruf nahi mungkar sesuai dengnan prinsip dasar sharing of power dan checkand balances. Nabi SAW bersabda: `Kalian benar-benar serius melakukan amar makruf nahi mungkar atau Allah benar-b enar akan kuasakan orang-orang jahat atas kalian, lalu orang-orang terbaik kalia n berdo`a (istighotsah) dan tidak akan dikabulkan.` ([Link], Tabrani, Bazza r) `Penghulu para syuhada adalah Hamzah bin Abdul Muthalib dan orang yang menghadap i penguasa lalim dengan memerintahkan kebaikan dan mencegahnya dari 53 kemungkaran, lalu penguasa itu membunuhnya.` (HR. Hakim) Bahkan Nabi menganggap keberanian sikap mengemukakan kebenaran kepada penguasa l alim merupakan jihad paling utama. `Menyatakan kebenaran kepada penguasa yang la lim merupakan jihad yang paling utama.` (HR. Ibnu Majah). Dalam implemnetasinya, para sahabat bersama Rasulullah Saw dan generasi salaf sa ngat komit dengan doktrin oposisi yang dijiwai semangat amar ma`ruf nahi munkar ini, dan hal itu bukan menjadi hal yang tabu serta asing bagi budaya sosial poli tik mereka. Abu Bakar Ash-Shiddiq sebagai pemerintah pertama sepeninggal Nabi Sa w, adalah pelopor gerakan oposisi rakyat terhadap pemerintah dalam mengawasi rod a pemerintahan, mengevalusuasi dan meluruskannya. Dalam pidato pengangkatannya setelah dibai`at rakyat sebagai khalifah beliau ber kata: `Sesungguhnya aku telah diangkat sebagai pemerintah kalian dan saya mengak ui bukan orang terbaik kalian. Maka jika saya berbuat baik dan bijak, hendaklah kalian dukung. Jika saya berbuat jelek, hendaklah kalian luruskan.` (Ibnu Katsir , Al-Bidayah wan Nihayah, [Link]/264) Demikian halnya Amirul Mukminin, Umar bin Khathab menyerukan: `Wahai rakyatku, s iapapun yang melihat penyimpangan pada diriku, maka hendaklah ia meluruskannya.` (Abdul Aziz Badri, Al-Islam bainal `Ulama` wal Hukkam, hal. 59) Semua itu bukan retorika dan basa-basi politik, tetapi benar-benar terimplementa si secara konsekuen. Pada saat umat Islam membebaskan daerah Irak, Syam dan Mesi r pada masa kekhalifahan Umar bin Khathab, timbullah gerakan oposisi di kalangan militer yang ikut membebaskan daerah tersebut terhadap kebijakan Umar tentang o tonomi 54 dan eksistensi daerah pembebasan yang tidak akan dibagikan kepada pasukan pembeb asan mengingat proyeksi ke depan. Dengan sabar dan bertawakal kepada Allah akhir nya masalah tersebut dapat diselesaikan dengan damai dan mufakat. Begitu Abu Bak ar dibai`at sebagai Khalifah, sebagian sahabat menolak untuk memberikan bai`at d an ikut dalam pemerintahannya serta memilih menjadi oposisi diantaranya adalah S a`ad bin`Ubadah. Dan hal itu dilindungi oleh Abu Bakar. (Lihat, Dr. Muhammad `Ammarah dalam Al-Islam wal Muaradhah As-Siyasiyah, pada ma jalah Al-`Arabi, edisi Nopember 1992) Bahkan dalam prakteknya, barisan oposisi justru kerap dipelopori oleh tokoh ulam a besar yang sadar politik dan menjaga independensi institusi keulamaan untuk te tapo dipercaya umat sebagai panutan yang membendung arus sekulerisasi dalam peme rintahan. Diantaranya adalah Sa`id bin Musayyib di Madinah, sebagaimana diriwaya
tkan ahli sejarah Islam klasik Adz-Dzahabi, dimana beliau menolak kesertaan dala m pemerintahan dan memberikan bai`ah kepada Abdul Malik bin Marwan pada masa pem erintahan Umawiyah. Meskipun sempat disiksa dengan 60 kali cambukan, dan pada ke sempatan lain ditawari insentif serta suap 30.000 dinar, namun beliau tetap kons isten menolak untuk menjadi kroni pemerintah. Suatu kali Umar bin Hubairah seorang gubernur pada masa pemerintahan Yazid bin A bdul Malik, memanggil para ulama seperti Hasan Al-Basri, Ibnu Sirin dan Sya`bi. Dia meminta fatwa berkitan dengan instruksi Yazid yang serba dilematis diungkapk annya: `Jika saya melaksanakannya, saya takut akan merusak imanku. Namun jika saya meno lak saya mengkhawatirkan keamanan diriku.` Maka para ulama itu menasehatinya den gan lembut dan berpesan agar tetap komitmen dalam 55 ketakwaan kepada Allah dan menentang penguasa yang menyimpang dari kebenaran. Imam Ghazali dalam Ihya`-nya ([Link]/295) banyak mengungkap mentalitas elit umat dan ulama yang tetap konsisten bersikap oposisi dan menjaga jarak agar dapat me ngontrol eksekutif diantaranya adalah sikap tegas Thawus Al-Yamani terhadap peng uasa Hisyam bin Abdul Malik, Sufyan Tsauri terhadap Abu Ja`far Al-Manshur, Fudha il bin `Iyyadh terhadap Harun Ar-Rasyid yang terang-terangan mengatakan kepadany a: `Jauhilah korupsi terhadap hak rakyat, karena Rasulullah saw bersabda: `Baran g siapa yang menipu rakyat tidak akan mencium bau surga`.`. Demikian pula sikap oposisi loyal Abu Yusuf terhadap Harun Ar-Rasyid yang memberikan alternatif kebi jakan fiskal yang islami kepadanya, seraya menasehatinya untuk takut kepada Alla h dalam amanat dan hak rakyat.`, disamping itu nama-nama Abdullah bin Zubair, Im am Nawawi, Al-`Izz bin Abdus Salam, dan Ibnu Taimiyah terkenal sebagai tokoh bar isan oposisi dari kalangan ulama dari berbagai generasi. Persolannya adalah dalam realitas politik kita, implementasi wacana oposisi perl u adanya reposisi dan reaktualisasi yang terkait dengan kelembagaan. Sebab, terj adi semacam ambiguitas makna legislatif yang harusnya semua anggota dewan legisl atif bersikap oposisi terhadap eksekutif karena itu sudah menjadi fungsinya, tid ak perlu dikotomi, yang duduk di parlemen dari unsur dan partai manapun entah ya ng berkuasa ataupun tidak berkuasa. Idealnya adalah partai yang berkuasa cukup m enjadi MPR di samping duduk di eksekutif pemerintahan, bila tidak mau menjadi op osisi di legislatif. Sehinggga, DPR adalah sebagai perwujudan institusional struktural bagi barisan o posisi eksekutif yang 56 berfungsi mengontrol, mengawasi dan meluruskan kebijakan pemerintah. (Lihat, Prof. Miriam Budiarjo dalam Dasar-Dasar Ilmu Politik dan Inu Kencana dal am Pengantar Ilmu Pemerintahan) Adapun etika oposisi yang harus dipegang oleh semua pihak adalah etika amar ma`r uf dan nahi mungkar, di samping etika perbedaan mendapat (Fiqhul Ikhtilaf). Kare na, tujuan oposisi adalah meluruskan, memberikan in-put posistif dan memperbaiki , bukan menjatuhkan. Diantara landasan moral oposisi adalah sebagaimana yang dir angkum Yusuf Al-Qardhawi dalam Fiqh Ikhtilaf-nya (hal. 181) dan oleh Imam Ghozal i dalam Ihya`-nya ([Link]/270) adalah: 1. Ikhlas karena Allah serta demi kemaslahatan umat dan bangsa bukan karena nafs u. 2. Meninggalkan fanatisme terhadap individu, partai maupun golongan. 3. Berprasangka baik dan positif thinking terhadap orang lain. 4. Tidak menyakiti dan mencela 5. Menjauhi debat kusir dan ngotot tanpa argumentasi logis. 6. Dialog dengan cara sebaik-baiknya. 7. Bersikap adil dalam menilai dan bersikap 8. Memperhatikan skala prioritas (strata bobot penting masalah) masalah dan mema kai fiqh muwazanah (Pertimbangan masak sisi maslahat dan madharat). 9. Mengedepankan persatuan dan menjauhi perpecahan 10. Arif, dewasa dan bijaksana serta mampu mengontrol emosi ([Link]-Nahl:125). 57
Pertemuan Keenam Koalisi a. Latar Belakang Masalah Tidak sedikit pertanyaan yang dilontarkan sebagian orang tentang masalah komprom i politik yang dilakukan pergerakan Islam. Salah satunya syubhat tentang adanya kecederungan bahwa pergerakan Islam sudah menyimpang dari jati diri aslinya. Yan g dahulu punya jarak, terpisah dan mandiri dengan penguasa sekuler, kini berubah menjadi semakin berkompromi dengan pusat kekuasaan yang nota bene sekuler. Pada hal secara prinsip tidak apa yang diterapkan penguasa negeri-negeri Islam tidak berkesusaian dalam sistem Islam bahkan di banyak negeri telah terjadi permusuhan terbuka. 59 Namun kira-kira selama 25 tahun terakhir, ada gejala yang menunjukkan anomali. B anyak pergerakan Islam di dunia ini kini cenderung aktif masuk ke parlemen dan m elakukan koalisi yang dengan beragam kekuatan yang ada. Padahal secara umum sebe narnya cenderung berseberangan aqidah dan fikrah. Pertanyaan itu antara lain berbunyi : Bukankah berkompromi dengan pemerintahan n on Islam berarti melanggar prinsip aqidah terutama masalah al-wala' wal bara' ? Bukankah selama ini para pendahulu pergerakan Islam lebih dikenal sebagai orangorang yang dimusuhi penguasa dan mengumandangkan jihad melawan kekuatan sekuler ? Lalu mengapa sekarang ini ada kecenderungan untuk 'bermain mata' dengan para pen guasa itu ? Bahkan di berbagai negeri malah ikut masuk ke dalam parlemen, membua t partai formal dan terlibat dalam bagi-bagi kekuasan dengan kekuatan lain atau dengan pemerintahan yang notabene dulu mereka musuhi ? Untuk itu pada kajian fiqh kali ini, kami ingin mengetengahkan sebuah tema yang kira-kira bisa memberikan gambaran dan wawasan tentang fenomena ini. Selain itu tentu saja kami akan utarakan bagaimana sesungguhnya hukum berkoalisi itu sendiri dipandang dari sisi syariah dan juga refleksi pengalaman Rasulullah SAW dalam memanage pergerakan Islam. b. Tentang Perubahan Pendekatan Perubahan pendekatan dalam pergerakan memang diakui ada. Dan hal itu sebenarnya wajar-wajar saja sebagai sunnatullah. Dan sunnatullah itu pula yang telah membaw a umat kepada kondisi demikian. Bila kita menatap horizon pergerakan Islam di ab ad 20 hingga memasuki abad 21 ini, 60 sebenarnya umat Islam sedang berada pada fase ketiga dari beberapa fase sebelumn ya. Seperti dijelaskan oleh Syeikh Muhammad Munir Ghadhban, dimana beliau mencermati tiga fase pergerakan yang telah dilalui oleh umat Islam di dua abad terakhir in i. i Fase pertama pergerakan Islam bercirikan pemahaman Islam secara komprehensif dal am kedudukannya sebagai aqidah, syariah dan pedoman hidup. Yang menjadi issue ut amanya adalah menampilkan Islam sebagai sebuah konsep hidup yang kaffah, syamila h, mutakamilah. Hasan Al-Banna termasuk salah satu tokoh yang eksis pada fase in i. Fase kedua ditandai dengan semakin kerasnya penindasan terhadap aktifis Islam di berbagai negara. Negeri-negeri Islam dikuasai pemimpin sekuler represif yang ra jin melakukan penindasan kepada para aktifis Islam. Sehingga fase kedua ini diwa rnai dengan gejolak kemarahan, protes dan semangat anti thghut dari para aktifis nya. Pergerakan Islam di masa ini mengalami sikap yang cenderung represif dan hu bungan yang panas dengan para penguasa. Sayyid Qutub menjadi icon pada fase ini. Terutama dengan kitab-kitab beliau seperti Zhilal, Ma'alim Fit Thariq, Hazad- D in, Al-Mustaqbal li Hazad-din yang mengantarkan beliau kepada syahidnya. Fase ketiga ternyata cenderung berbeda dengan dua fase sebelumnya. Pada fase ini pergerakan Islam di berbagai negeri telah berhasil menghimpun pengikut yang kua t baik dari segi kualitas maupun kuantitas. Sehingga semakin membuat kekuatan ka fir berpikir ulang untuk melancarkan penetrasi secara pisik. Mereka mulai bersik ap lebih terbuka, berkompromi dan memberikan peluang kepada pergerakan Islam unt uk berperan lebih jauh dalam kekuasaan. Salah satu keuntungannya adalah bahwa pe
rgerakan Islam bisa mendapatkan tujuannya dengan baik tanpa memakan 61 korban dan berdasarkan kepada prinsip-prinsip politik yang benar. Dengan kata la in dengan menggunakan kekuatan untuk tujuan mulai yang tidak mengandung anarkism e. Kondisi seperti pada fase ketiga ini sebenarnya pernah terjadi di masa Rasululla h SAW, sehingga membuat para ulama yang konsern pada pergerakan mencoba menyajik an dasar-dasar pendekatan syariah atas batasan-batasan berkompromi dengan kekuat an-kekuatan lain. Paling tidak kita mengetahui bahwa koalisi kekuatan pernah ter jadi di masa dakwah generasi pertama. c. Pengertian Koalisi Di dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia yang dimaksud dengan koalisi adalah bla. Da n yang dimaksud dengan kompromi adalah .. Sedangkan dalam bahasa Inggris, koalisi berasal dari kata cooalition yang maknan ya adalah penggabungan, persatuan, persekutuan dan perserikatan. (Jhon Echols : Kamus Inggris Indonesia). Dalam bahasa Arab dikenal dengan istilah Al-Hilf atau At-Tahaluf. Al-Hilfu makna etimologisnya adalah perjanjian. Ibnul Atsir dalam An-Nihayah fi Gharibil Hadits menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan tahaluf adalah mengikat atau janji untuk dalam saling tolong, saling bant u dan dan [Link] d. Dalil-dalil Tentang Koalisi Al-Quran Al-Kariem Al-Quran Al-Kariem memungkinkan terjadinya koalisi antara kekuatan Islam dengan kekuatan di luar Islam, 62 asalkan tidak bertabarakan dengan aiqdah dan syariah serta memang dimungkinkan t erjadi kerja sama dan saling tolong. Diantaranya adalah firman Allah SWT berikut ini : Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolon g dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungg uhnya Allah amat berat siksa-Nya.(QS. Al-Maidah : 2) Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka menjadi pe nolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh yang ma'ruf, mencegah dari yan g munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka ta'at pada Allah dan Ra sul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perka sa lagi Maha Bijaksana. (QS. At-Taubah : 71) Bahkan mencari titik temu dengan non muslim atau dengan ahli kitab pun sesungguh nya telah diisyaratkan oleh Al-Quran Al-Kariem dan dimungkinkan bisa syarat dan kondisinya terpenuhi. Allah SWT berfirman : Katakanlah: "Hai Ahli Kitab, marilah kepada suatu kalimat yang tidak ada perseli sihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah". Jika mereka berpaling maka katakanlah kep ada mereka: "Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri ".(QS . Ali Imran : 64) As-Sunnah An-Nabawiyah Dari Anas bin Malik ra berkata,"Rasulullah SAW telah melakukan perjanjian (mempe rsekutukan) antara Quraisy dan kaum Anshar di rumahku."(HR. Muslim Bab Muaakhah 16/82). 63 Dari Anas bin Malik ra berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda,"Tolonglah saudaram u baik dalam keadaan menzhalimi maupun dizhalimi". Seseorang bertanya,"Ya Rasulu llah, saya menolongnya bila dizhalimi, bagaimana bila menolongnya ketika dia sed ang menzhalimi orang lain ?". Beliau menjawab,"Kamu menghalangi atau melarangnya dari berbuat zhalim, itulah cara menolongnya". (HR. Bukhari ). Dari Amr bin Syu'aib dari ayahnya dari kakeknya berkata bahwa Rasulullah SAW ber sabda,"Darah seorang muslim sederajat satu sama lain. Yang lemah diantara mereka dapat memberi jaminan (kepada yang lain). Yang jauh diantara mereka dapat melin
dungi yang lainnya dan mereka adalah tangan atas kaum muslimin yang lain (HR. Ab u Daud Kitabul-jihad bab fi sariyah al ahlil askar). e. Strategi Koalisi Yang Dikembangkan Rasulullah SAW Dengan Abu Thalib Menghadapi Makar Pemuka Quraisy Dalam sirah nabawiyah, kita mendapatkan kondisi medan dakwah yang berubah-ubah s eiring dengan perjalanan waktu dan usia kekuatan dakwah. Namun di setiap saat, b ila memang memungkinkan dan dalam koridor yang benar, al-hilf seringkali dimanfa atkan oleh beliau SAW. Misalnya ketika masih di Mekkah, Rasulullah SAW dan para shahabatnya mendapatkan tekanan baik berupa penyiksaan, pemboikotan bahkan percobaan pembunuhan. Namun beliau bisa memanfaatkan posisi pamannya Abu Thalib untuk membela dan melindungi nya. Ini sebenarnya salah satu bentuk al-hilf yang berhasil dimanfaatkan oleh se buah gerakan dakwah untuk melakukan proteksi terhadap tekanan musuhnya. Sebagai sesama keturunan Bani Hasyim, Rasulullah dilindungi oleh pamannya cukup sangat disegani di 64 Mekkah. Meski hingga akhir hayatnya tidak sempat masuk Islam, namun perlindungan nya kepada Rasulullah SAW tidak perlu diragukan lagi. Salah satu diantara kalima t jaminan keamanan yang disampaikan kepada Rasulullah SAW adalah,"Demi Allah, ak u akan selalu bersamamu dan menjagamu. Akan tetapi aku tidak mampu untuk meningg alkan agama Abdul Mutthalib". Ini terjadi saat dakwah Islam masih berada pada fa se pertama dari pertumbuhannya. Pada kali kedua ketika para pemuka Qurasisy sudah tidak punya lagi sisa kesabara n, mereka mendatangi lagi Abu Thalib dan memkasanya untuk menghentikan aktiftas dakwah Muhammad SAW. Namun sekali lagi, paman yang amat menyayangi keponakannya ini dengan tegar menyampaikan jawaban yang keponakan,"Demi Allah, seandainya mer eka meletakkan matahari di kananku dan bulan di kiriku agar aku meninggalkan dak wah ini, pastilah tidak akan kulakukan. Hingga Allah SWT menangkan dakwah ini at au aku mati bersamanya". Lalu Abu Thalib berkata kepada Rasulullah SAW,"Keponaka nku, pergilah. Katakan apa yang kamu sukai , demi Allah aku tidak akan menyerahk anmu kepada siapapun". b. Lepas Dari Pemboikotan 3 tahun Manfaat al-hilf sekali lagi terbukti efektif untuk melepaskan diri dari makar mu qatha'ah (pemboikotan) yang dilancarkan oleh musryrikin Mekkah kepada Bani Hasyi m yang notabene di dalamnya ada Rasulullah SAW. Makar ini sempat membuat Rasulul lah SAW, para shahabatnya dan tentunya Bani Hasiym sendiri menderita selama tiga tahun di Syi'ib Ali. Mereka diboikot dari hak-hak untuk bisa berjual beli, meni kah dan lain-lainnya sampai Bani Hasyim menyerahkan Muhammad SAW. 65 Namun Bani Hasyim merasa wajib melindungi Rasulullah SAW meski pun resikonya mer eka harus menderita berkepanjangan. Mereka bersikeras tidak akan mengorban seora ng Muhammad dari kalangan mereka sendiri meskipun seluruh Bani Hasyim harus mene rima resikonya. Akhirnya penderitaan ini membuat para pemuka dari qabilah yang m emiliki ikatan persaudaraan dengan Bani Hasyim ikut memberikan rasa solidaritas mereka. Para pemuka dari qabilah lain merasa kasihan dan marah atas perilaku tid ak manusiawi itu dan berupaya untuk merobek-robek surat perjanjian yang digantun gkan di ka'bah. Meskipun ternyata Allah SWT telah mengutus prajuritnya yang beru pa rayat untuk memakan surat pemoikotan itu. Namun ini merupakan salah satu fakt or penting ketika al-hilf memberikan manfaat yang positif melepaskan gerakan dak wah dari problem seriusnya. Kalau dahulu pada masa awal dakwah, namun setelah hijrah ke Madinah kondisi sedi kit berubah. Umat Islam saat itu telah memiliki kekuatan yang mulai diperhitungk an oleh lawan maupun kawan. Bargaining position sudah mulai eksis, tinggal bagai mana beliau memainkan posisi strategis ini dengan terobosan-terobasan cerdasnya. Koalisi Ketika Hijrah Ke Habasyah Saat umat Islam dalam keadaan terdesak dan tidak mampu menahan tekanan keras dar i musyrikin Mekkah, Rasulullah SAW memerintahkan beberapa shahabat dipimpin oleh Jafar bin Abi Thalib untuk mencari suaka perlindungan ke raja Habasyah, An-Najas yi. Padahal Rasulullah SAW tahu bahwa An-Najasyi adalah seorang pemeluk agama na sraniyah yang kala itu sudah marak dikenal menuhankan dan menyembah Nabi Isa as.
66 Namun pada bulan Rajab tahun kelima dari nubuwah, beliau tetap mengutus para sha habat ke kerajaan itu dan meminta perlindungan dari orang-orang kafir penyembah nabi Isa as. Sebab saat itu, An-Najasyi adalah alternatif yang bisa diperhitungk an untuk membela dan menahan kejaran kafir Quraisy. Meski sempat terhambat lanta ran Amr bin Ash pimpinan utusan Quraisy meminta agar Allah SWT-Najasyi menangkap pelarian dari Mekkah itu hingga terjadi dialog yang amat fenomenal tentang konse p Isa menurut Islam dan Nasrani, akhirnya Jafar bin Abi Thalib dan teman-temannya bisa meyakinkan An-Najasyi bahwa Islam tidak memusuhi Nasrani, bahkan memuliaka n nabi Isa as meski tidak sampai menuhankannya. Bahkan dalam dialog itu, para sh ahabat tetap tidak ruku kepada raja karena bagi mereka merupakan larangan dalam a gama. An-Najasyi puas dengan diplomasi itu dan menolak permintaan Amr bin Ash yang saa t itu masih belum masuk Islam. Bahkan dengan berlinang air mata hingga membasahi jenggotnya, An-Najasyi menjamin keamanan muslimin untuk tinggal di [Link] i Koalisi Dalam Perjalanan Hijrah Ketika Rasulullah SAW berhijrah ke Madinah, selain mengatur strategi dengan sesa ma pendukung dakwah, beliau SAW pun banyak memanfaatkan kesepakatan dengan non m uslim demi kepentingan dakwah. Paling tidak kita bisa mencatat Suraqah bin Malik dan Abdullah bin Uraiqith, dua orang kafir yang berjasa dalam proses hijrah Nabi SAW. Suraqah bin Malik telah berhasil menemukan Rasulullah SAW dan Abu Bakar, namun k udanya terjungkal beberapa kali dan membuatnya ketakutan. Saat itu Rasulullah SA W meminta Suraqah untuk merahasikan 67 bahwa dirinya bertemu dengan Nabi kepada kaum musyrikin Mekkah. Dan permintaan i tu disanggupi Suraqah yang sudah kalah mental. Akhirnya Suraqah pulang dan tetap merahasiakan keberadan Rasulullah SAW. Abdullah bin Uraiqith berjasa dalam perjalanan hijrah menuju Madinah, sebab Rasul ullah SAW dan Abu Bakar tidak menggunakan jalan umum yang biasa dipakai kafilah dagang, namun beliau melewati pesisir barat. Untuk itu dibutuhkan seorang penunj uk jalan yang mahir membaca arah perjalanan di gurun lepas tanpa rambu-rambu. Da n orang itu adalah seorang non muslim yang dikenal dengan nama Abdullah bin Uraiq ith. Meski seorang non muslim, namun Rasulullah SAW mempercayakan keselamatan pe rjalanannya kepadanya, sebab Abdullah bin Uraiqith adalah seorang amat profesiona l di bidangnya. Koalisi Dalam Piagam Madinah Diantara bentuk-bentuk koalisi yang paling fenomenal dalam sejarah Rasulullah SA W adalah Piagam Madinah. Piagam ini intinya adalah sebuah kesepakatan bersama un tuk hidup damai dan saling berdampingan, saling bantu dan saling bela sesama war ga Madinah dengan pihak non muslim. Dengan adanya Piagam Madinah ini, maka makar dari pihak yahudi berhasil ditekan sejak awal. Sama sekali yahudi tidak bisa berkutik atau melakukan permusuhan den gan terang-terangan seperti yang dahulu pernah dilakukan musyrikin Mekkah. Kecua li jalan satu-satunya hanya dengan mengkhianati isi perjanjian itu dengan resiko diperangi secara pisik dan diusir ke luar dari Madinah. Sebab tahun kedua setel ah hijrah Rasulullah SAW ke Madinah, umat Islam sudah memiliki angkatan perang y ang tangguh yang berhasil membungkam kesombangan musyrikin Mekkah di lembah Bada r. Sehingga yahudi di Medinah harus berpikir 68 seribu kali untuk bermain-main dengan isi perjanjian / Piagam Madinah itu. Dan ketika pengkhianatan itu benar-benar terjadi di kemudian hari, hasilnya adal ah terusirnya yahudi dari Madinah. Perjanjian Hudaibiyah Koalisi yang juga tidak kalah fenomenal adalah perjanjian Hudaibiyah yang terjad i pada tahun ke-8 hijriyah yang isinya adalah perjanjian damai selama 10 tahun. Dengan perdamaian itu, maka dakwah Islam bisa lebih tersebar ke berbagai negeri tanpa harus mengalami ancaman dan gangugan dari musyrikin Mekkah. Bahkan justru banyak dari warga Mekkah yang diam-diam telah masuk agama Islam. B
ahkan dalam masa perjanjian ini, Khalid bin Walid dan Amr bin Ash yang selama in i dikenal sebagai tokoh yang paling berbahaya malah masuk Islam. f. Hukum Berkoalisi Pada hakikatnya, ummat Islam tidak pernah memusuhi mereka yang masih belum berim an. Sehingga pendekatan seorang muslim kepada non muslim tidak selalu pendekatan permusuhan dan peperangan. Koalisi dengan pihak lain dalam batas tertentu mungk in saja dilakukan, untuk mendapatkan manfaat yang baik. Sebab pintu ke arah itu memang ada dan tersedia dalam pandangan syariah, demikian juga dari teladan yang dilakukan para nabi terdahulu. Hal-hal yang memungkinkan dibenarkannya koalisi itu antara lain adalah : 1. Islam agama yang damai dan bisa berdampingan dengan non Islam. Memang benar a da sebagai pendapat ulama yang mengatakan bahwa hubungan Islam dengan 69 bukan Islam itu pada dasarnya adalah peperangan (as-ashlu ar-harb). Namun pendap at ini disandingkan dengan pendapat lainnya yang memandang bahwa pendekatan yang paling dasar adalah perdamaian. Sehingga syiarnya adalah alashlu as-silmu. Seba b selama seorang muslim tidak diperangi dan tidak dicelakakan oleh orang lain, m aka tidak ada alasan untuk memulai peperangan. Apalagi secara bahasa, makna Isla m itu salah satunya adalah perdamaian dan keselamatan. Rasulullah SAW telah bersabda : Seorang muslim itu adalah orang yang memiliki kriteria dimana orang lain merasa aman dari lidah dan tangannya. (HR. Bukhari) Sehingga dengan pihak non muslim pada dasarnya dibenrkan untuk berdamai, bekerja sama, saling tolong bahkan saling bela selama tidak ada prinsip-prinsip yang ter langgar, baik dari sisi aqidah, fikrah maupun syariah. 2. Syariah Islam memberikan kedudukan kepada non muslim dan hak-haknya secara ba ik. Misalnya hak untuk hidup, hak untuk mendapatkan perlindungan dari negara den gan konsekuensi membayar jizyah, hak untuk bisa beribadah sesuai dengan keyakina n serta menjalankan ibadah di dalam rumah-rumah ibadah khusus mereka. Bahkan dih aramkan bagi umat Islam untuk mengganggu, merusak apalagi merobohkan rumah-rumah ibadah itu. 3. Bahkan orang-orang non muslim pun mendapatkan hak dari harta zakat mal dari b aitul mal muslimin. Patrik Yoshua (656 H) berkata, "Orang Arab (Islam) yang mena ncapkan kekuasaannya di dunia telah memperlakukan kami dengan adil." Makarios, s eorang Patnik Anthokia juga mengatakan, "Semoga Tuhan melestarikan pemerintahan Turki. Mereka hanya mengambil pembayaran pajak. Tetapi tidak mengusik-usik perso alan agama. Malah mereka memelihara orang70 orang Nashrani, Yahudi dan Samirah dengan adil". Bahkan ketika Abu 'Ubaidah ibnu l-Jarrah merasa tidak mampu melindungi penduduk Nashrani, ia mengembalikan jizya h (upeti) kepada mereka 4. Bahkan dahulu seorang nabi Yusuf as pun menjadi seorang menteri yang menangan i masalah logistik di negeri yang diperintah bukan dengan hukum Islam. Di dalam Al-Quran Al-Kariem, Allah SWT telah menceritakan bahwa seorang Nabi yang tugasny a menyampaikan risalah dan menegakkan hukum Allah SWT, telah menjadi seorang pen gemban amanat di sebuah negara yang nota bene bukan negara Islam. Dan raja berkata: "Bawalah Yusuf kepadaku, agar aku memilih dia sebagai orang ya ng rapat kepadaku". Maka tatkala raja telah bercakap-cakap dengan dia, dia berka ta: "Sesungguhnya kamu hari ini menjadi seorang yang berkedudukan tinggi lagi di percayai pada sisi kami". Berkata Yusuf: "Jadikanlah aku bendaharawan negara ; s esungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan". Dan demi kianlah Kami memberi kedudukan kepada Yusuf di negeri Mesir; pergi menuju kemana saja ia kehendaki di bumi Mesir itu. Kami melimpahkan rahmat Kami kepada siapa yang Kami kehendaki dan Kami tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbua t baik. (QS. Yusuf : 54-56) 5. Rasulullah SAW dalam hidupnya tidak lepas dari berkoalisi dengan non muslim. Sejak sebelum diangkat menjadi nabi, beliau sudah aktif dalam Hilful Fudhul, yai tu koalisi antar berbagai kabilah untuk mempertahankan diri bersama dari musuh m ereka. 6. Meski kesertaan Rasulullah SAW dalam perjanjian ini sebelum diangkat menjadi
nabi, namun belia berkata,Aku pernah mengikuti perjanjian yang dikukuhkan di ruma h Abdullah bin Judan, suatu perjanjian yang lebih aku sukai dari keledai yang 71 terbagus. Andaikata aku diundang untuk perjanjian itu semasa Islam, tentu aku ak an memenuhinya. 7. Praktek kehidupan negara Islam Madinah menunjukan bahwa umat Islam hidup berd ampingan dengan orang-orang kafir, termasuk dalam mengurus masalah negara. Rasul ullah SAW telah menyepakati Piagam Madinah yang mengikat semua penduduk Madinah meski berbeda agama untuk hidup bersama dan melakukan saling bela dan saling tol ong. 8. Demikian juga selama masih di Mekkah, beliau SAW tidak pernah lepas dari berk oalisi dengan pihak-pihak lain yang saat itu masih belum memeluk Islam. Selama k olaisi itu tidak merugikan dan tidak melanggar batas koridor yang ditetapkan. 9. Para ulama hari ini pun bisa memahami pentingnya berkoalisi serta masuk ke da lam sistem yang nyata-nyata bukan Islam, asalkan tujuannya memang untuk kepentin gan Islam. Pada bulan Zul-Hijjah 1411 H bertepatan dengan bulan Mei 1996 Majalah Al-Furqan melakukan wawancara dengan Syaikh Utsaimin. Majalah Al-Furqan bertanya kepada ul ama beasr itu tentang hukum masuk ke dalam parlemen ? Syaikh Al-'Utsaimin menjaw ab,Saya memandang bahwa masuk ke dalam majelis perwakilan (DPR) itu boleh. Bila s eseorang bertujuan untuk mashlahat baik mencegah kejahatan atau memasukkan kebai kan. Sebab semakin banyak orang-orang shalih di dalam lembaga ini, maka akan men jadi lebih dekat kepada keselamatan dan semakin jauh dari bala. Sedangkan masala h sumpah untuk menghormati undang-undang, maka hendaknya dia bersumpah unutk men ghormati undang-undang selama tidak bertentangan dengan syariat. Dan semua amal itu tergantung pada niatnya dimana setiap orang akan mendapat sesuai yang diniat kannya. 72 g. Koalisi Yang Diharamkan Namun meski ada banyak contoh kasus dimana Rasulullah SAW dan para shahabat mamp u memanfaatkan agenda koalisi dengan non muslim atau lawan-lawan lainnya, bukan berarti umat Islam bebas untuk melakukan koalisi begitu saja. Paling tidak, ada beberapa prinsip utama yang perlu diperhatikan agar koalisi itu bisa dibenarkan secara aqidah dan syariah Islam. Secara umum, ketentuan atau syarat agar sebuah koalisi itu bisa diterima adalah : 1. Tidak melanggar aqidah dan syariah Islam. Sebab aqidah dan syariah Islam adalah prinsip dasar yang tidak boleh dikorbankan begitu saja atas nama sebuah kepentingan. Justru sebeuh pergerakan Islam itu be rtujuan untuk menegakkan aqidah dan syariah, jadi bagaimana mungkin bila dalam p erjalannya harus mengorbankan aqidah dan syariah. Ketika Jafar berdiplomasi dengan An-Najasyi, beliau tetap tidak mau ruku kepada sa ng raja. Sebab Islam melarang manusia ruku dan sujud kepada selain Allah SWT. Ja di urusan ini sudha masuk wilayah aqidah, tidak boleh dikorbankan hanya karena a lasan diplomasi atau koalisi. 2. Koalisi yang memungkinkan musuh-musuh Islam menekan dan merugikan umat Islam. Ketika Rasulullah SAW menandatangani perjanjian Hidaibiyah, sebagain shahabat me lihat bahwa klausul demi klausul agak cenderung menguntungkan pihak musyrikin Me kkah. Namun sesungguhnya Rasulullah SAW melihat ada peluang yang tidak terbaca o leh lawan bahkan oleh kawan sekalipun. Maka beliau menyetujui perjanjian yang se kilas keilhatan berat sebelah. Barulah setelah itu, semua shahabat mengerti bahwa di balik semua klausul itu, u mat Islam justru sangat diuntungkan. Misalnya tentang perdamaian selama 10 73 tahun. Ini menjadi sangat positif ketika terbentang kesempatan luas untuk berdak wah ke seluruh penjuru dunia tanpa harus merasa terancam serangan musyrikin Mekk ah. Atau ketika perjanjian itu melarang orang Madinah yang lari ke Mekkah untuk dike mbalikan, maka di balik itu ada keuntungannya. Yaitu Rasulullah SAW bisa menyusu pkan orang untuk masuk ke Mekkah dan memantau terus segala gerak gerik dan strat
egi musyrikin Mekkah. Selain itu mereka pun bisa berdakwah dan menyebarkan Islam di Mekkah, sebuah hal yang semenjak hijrah hampir mustahil terjadi. Dan ketika perjanjian itu mengharuskan pelarian dari Mekkah yang masuk Madinah u ntuk dikembalikan ke Mekkah, justru posisi Madinah menjadi aman dari infiltrasi dan penyusupan pihak Mekkah. Di sisi lain, mereka yang masuk Islam dan lari dari Mekkah dan dilarang masuk Madinah bisa membangun koloni baru di luar kedua kota itu. Dan ini tentu menjadi kekuatan baru yang tidak diduga-duga sebelumnya. 3. Koalisi yang bisa menimbulkan pemikiran yang menyimpang dari syariat Islam Namun bila koalisi yang dibangun hanya akan berdampak negatif dan menimbulkan pe nyimpangan dari pemikiran yang lurus serta fikrah yang Islami, maka koalisi sepe rti itu menjadi tidak ada gunanya. Bahkan malah hanya akan menimbulkan korban-ko rban baru di pihak Islam. Maka berkoalisi dengan pihak yang secara serius melakukan penyesatan fikrah Isla m tidaklah bisa diterima. Sebab alih-alih akan mendapatkan manfaat, justru penyi mpangan fikrah itu bisa merusak nama dan citra sebuah pergerakan Islam. 4. Koalisi yang melahirkan perbedaan pendapat dan pertentangan di dalam tubuh um at Islam serta 74 munculnya fitnah-fitnah yang menggoncangkan dunia Islam. Bisa jadi dalam sebuah koalisi yang secara zahir kelihatan menguntungkan pihak I slam, justru dalam pelaksanaannya yang terjadi sebaliknya. Bahkan menimbulkan pe rpecahan dan perbedaan pendapat di kalangan sesama umat Islam. Politik belah bambu yang selam ini rajin digencarkan pihak penguasa di dunia Isl am telah bercerita kepada kita bagaimana kekuatan Islam berhasil dipecah-pecah. Sebagian elemen umat diangkat dan dirangkul oleh penguasa dan sebagian elemen la innya diinjak, persis teknik membelah bambu. Koalisi sebagian elemen Islam dengan pihak lain yang seperti ini hanya akan mela hirkan fitnah dan sumber perpecahan serta kecemburuan di antara barisan umat Isl am. Sehingga faktor ini perlu diperhatikan secara cermat agar tidak menjadi bume rang yang mencelakakan tubuh umat Islam sendiri secara keseluruhan. 5. Koalisi Yang Memposisikan Pergerakan Islam Sebagai Alat dan Asset Belaka Koalisi yang dibangun antara pergerakan Islam dengan pihak lain tentu harus dipe rhitungkan segi manfaatnya. Apakah yang akan diperoleh dan apa yang harus diberi kan. Sesuaikah harga yang ditawarkan dengan yang manfaat yang akan diterima. Dan sejauh mana jaminan bahwa kesepakatan itu akan dijalankan. Bila pengamatan sejarah pergerakan dan dinamika sosial politik menyebutkan bahw berkoalisi dengan pihak tertentu hanya akan menjadikan pergerakan Islam sebagai asset dan alat politk belaka, maka tentu saja hal ini bukan koalisi yang bisa di terima. Apalagi bila hanya memanfaatkan suara umat untuk mendukung pihak lain it u dengan konsekuensi yang 75 tidak sepadan, maka hanya akan menimbulkan frustasi dan rasa tidak percaya di da lam tubuh sendiri. Dalam kenyataannya, kasus inilah yang paling sering terjadi di dunia Islam pada umumnya. Bagaimana potensi kuantitas umat Islam dijadikan semata-mata asset yang dimanfaatkan pihak lain yang sama sekali tidak punya kepentingan terdapat tegak nya Islam. Atau menjadi dagangan politik belaka yang digambarkan seperti orang y ang mendorong mobil mogok, bila sudah hidup mesinnya, maka yang mendorong diting gal di belakang. 76 Pertemuan Ketujuh Demonstrasi Demonstrasi sebagaimana yang disebutkan dalam kamus besar Bahasa Indonesia menga ndung dua makna. Pertama, pernyataan protes yang dikemukakan secara masal atau u njuk rasa. Kedua, peragaan yang dilakukan oleh sebuah lembaga atau kelompok, mis alnya demo masak, mendemonstrasikan pencak silat dan lain-lain. Tapi barangkali pertanyaan yang dimaksud adalah demo dalam pengertian pertama, yang biasa disebu t juga unjuk rasa. Dalam wacana Islam demonstrasi disebut muzhoharoh, yaitu sebuah media dan sarana penyampaian gagasan atau ide-ide yang dianggap benar dan berupaya mensyi`arkann
ya dalam bentuk pengerahan masa. Demonstrasi merupakan sebuah sarana atau alat s angat terkait dengan tujuan digunakannya sarana atau alat tersebut dan cara peng gunaannya. Sebagaimana misalnya pisau, dapat 77 digunakan untuk berjihad, tetapi dapat juga digunakan untuk mencuri. Sehingga niat atau motivasi sangat menentukan hukum demonstrasi. Rasulullah saw. Bersabda: Sesungguhnya amal-amal itu terkait dengan niat. Dan sesungguhnya setiap orang ak an memperoleh sesuai dengan niatnya. Maka barangsiapa hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu mendapatkan keridhoan Allah dan Rasul-Nya. Barang siapa yang hijrahnya karena dunia, maka akan mendapatkannya, atau karena wanita maka ia akan menikahinnya. Maka hijrah itu sesuai dengan niatnya` (Muttafaqun `a laihi). Demonstrasi dapat bernilai positif, dapat juga bernilai negatif. Demonstarsi dap at dijadikan komoditas politik yang berorientasi pada perolehan materi dan kekua saan, dapat juga berupa sarana amar ma`ruf nahi mungkar dan jihad. Dalam kaitann ya sebagai sarana mar ma`ruf nahi mungkar dan jihad, demonstrasi dapat digunakan untuk melakukan perubahan menuju suatu nilai dan sistem yang lebih baik. Allah SWT. Berfirman: `Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (Al Qur`an) dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama, walaupun orang-orang m usyrik tidak menyukai`(QS At-Taubah 33 dan As-Shaaf 9) `Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang hak agar dimenangkan-Nya terhadap semua agama. Dan cukuplah Allah sebagai saksi` (QS AlFath 28). Dan jika kita merujuk pada Al-Qur`an, As-Sunnah, Siroh Rasul saw. Dan Kaidah Fiqhiyah, maka kita dapatkan kaidah-kaidah secara umum tentang muzhoharoh . I. Al Qur`an 78 `Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu m enggentarkan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jal an Allah niscaya akan dibalas dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan)` ( QS Al-Anfaal 60). `Tidaklah sepatutnya bagi penduduk Madinah dan orang-orang Arab Badwi yang berdi am di sekitar mereka, tidak turut menyertai Rasulullah (pergi berperang) dan tid ak patut (pula) bagi mereka lebih mencintai diri mereka daripada mencintai diri Rasul. Yang demikian itu ialah karena mereka tidak ditimpa kehausan, kepayahan d an kelaparan pada jalan Allah. Dan tidak (pula) menginjak suatu tempat yang memb angkitkan amarah orang-orang kafir, dan tidak menimpakan sesuatu bencana kepada musuh, melainkan dituliskanlah bagi mereka dengan yang demikian itu suatu amal s aleh. Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat ba ik, dan mereka tiada menafkahkan suatu nafkah yang kecil dan tidak (pula) yang b esar dan tidak melintasi suatu lembah, melainkan dituliskan bagi mereka (amal sa leh pula), karena Allah akan memberi balasan kepada mereka (dengan balasan) yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan` (QS AT-Taubah 120-121) II. Hadits Rasul saw.: `Seutama-utamanya jihad adalah perkataan yang benar terhadap penguasa yang zhali m` (HR Ibnu Majah, Ahmad, At-Tabrani, Al-Baihaqi, An-Nasa`i dan Al-Baihaqi). `Barangsiapa melihat kemungkaran, maka rubahlah dengan tangannya. Jika tidak mam pu, dengan lisannya, dan 79 jika tidak mampu, dengan hatitnya. Yang demikian itu adalah selemah-lemahnya ima n`(HR Muslim). III. Sirah Rasul saw.: -Nabi saw. Dengan para sahabatnya melakukan demonstrasi meneriakkan dan menyeruk an tauhid dan kerasulan Muhammad saw. Di jalan-jalan sambil menelusuri jalan Mek kah dengan tetap melakukan tabligh dakwah. -Rasulullan saw. Dan para sahabatnya sambil melakukan Thawaf Qudum setelah peristiwa Hudaibiyah melakukan demo memper
lihatkan kebenaran Islam dan kekuatan para pendukungnya (unjuk rasa dan unjuk ke kuatan) dengan memperlihatkan pundak kanan ( idhthiba`) sambil berlari-lari keci l. Bahkan beliau secara tegas mengatakaan saat itu:` Kita tunjukkan kepada merek a (orang-orang zhalim) bahwa kita (pendukung kebenaran) adalah kuat (tidak dapat diremehkan dan dimain-mainkan)`. IV. Kaidah Fiqhiyah Sesuatu hal yang tidak akan tercapai dan terlaksana kewajiban kecuali dengannya, maka hal tersebut menjadi wajib. Sehingga dalam hal ini suatu tujuan yang akan ditempuh dengan mengharuskan mengg unakan sarana, maka pemakaian sarana tersebut menjadi wajib. Dan demonstrasi ada lah sarana yang sangat efektif dalam melaksanakan kewajiban amar ma`ruf nahi mun gkar, dakwah dan jihad. Dengan demikian kami cenderung mengatakan bahwa demonstr asi sebagai sebuah sarana harus dilakukan untuk mencapai tujuan-tujuan dakwah, a mar ma`ruf nahi mungkar dan jihad demi meneggakkan nilai-nilai kebenaran dan kea dilan. Memberantas kezhaliman dan kebatilan. Dan umat Islam harus mendukung seti ap upaya kebaikan dengan cara-cara yang sesuai dengan nilai Islam demi kejayaan Islam dan kemashlahatan umat. 80 Pertemuan Kedelapan Shalat dan Demo Dalam melakukan jama` ada ketentuan jarak yang harus dipenuhi untuk dibolehkan u ntuk menjama` dan mengqashar shalat. Jarak itu adalah empat burud atau kurang le bih sekitar 85 s/d 90 km. Namun tidak semua sepakat berapa jauhnya, berikut ini kami kutipkan perbedaan pendapat dalam jarak yang membolehkan jama` dan qashar: A. Mazhab Maliki, Mazhab Syafi`i, Mazhab Hambali mazhab lainnya mengatakan minim al berjarak 4 burud (4 farsakh). Dengan catatan bahwa 1 Farsakh = 4 mil. Dalam t ahkik kitab Bidayatul Mujtahid dituliskan bahwa 4 burud itu sama dengan 88, 704 km. Pendapat ini merupakan pendapat jumhur ulama. B. Abu Hanifah dan Kufiyun mengatakan minimal perjalanan 3 hari. 81 C. Sedangkan Az-Zhahiri mengatakan tidak ada batas minimal, sehingga kapanpun su atu pekerjaan disebut sebagai safar (perjalanan) maka boleh melakukan jama` dan qashar. Jama` dan qashar dalam shalat merupakan bagian dari syariat Islam. Untuk itu ada persyaratan yang harus dipenuhi agar bentuk jama` dan qashar ini bisa dilaksana kan. Diantara penyebab dibolehkannya jama` dan qashar adalah safar adalah: 1. Bepergian atau safar Syarat yang harus ada dalam perjalanan itu menurut ulama fiqih antara lain: Niat Safar Memenuhi jarak minimal dibolehkannya safar yaitu 4 burd (88, 656 km ). Sebagian ulama berbeda dalam menentukan jarak minimal. Keluar dari kota tempat tinggalnya Shafar yang dilakukan bukan safar maksiat 2. Sakit Imam Ahmad bin Hanbal membolehka jama` karena disebabkan sakit. Begitu juga Imam Malik dan sebagian pengikut Asy-Syafi`iyyah. Sedangkan dalam kitab Al-Mughni ka rya Ibnu Qudamah dari mazhab Al-Hanabilah menuliskan bahwa sakit adalah hal yang membolehkan jama` shalat. Syeikh Sayyid Sabiq menukil masalah ini dalam Fiqhuss unnah-nya. Sedangkan Al-Imam An-Nawawi dari mazhab Asy-Syafi`iyyah dalam Syarah An-Nawawi j ilid 5 219 menyebutkan,`Sebagian imam berpendapat membolehkan menjama` shalat sa at mukim (tidak safar) karena keperluan tapi bukan menjadi kebiasaan. Pendapat i ni antara lain 82 dikemukakan oleh Ibnu Sirin dan Asyhab dari kalangan Al-Malikiyah. Begitu juga Al-Khattabi menceritakan dari Al-Quffal dan Asysyasyi al-kabir dari kalangan Asy-Syafi`iyyah. Begitu juga dengan ibnul munzir yang menguatkan pendap at dibolehkannya jama` ini dengan perkataan Ibnu Abbas ra, `beliau tidak ingin m emberatkan ummatnya`. Allah SWT berfirman: "Allah tidak menjadikan dalam agama ini kesulitan". QS. Al-Hajj: 78
"Dan bagi orang sakit tidak ada kesulitan" QS. Annur: 61 3. Haji Dari Abi Ayyub al-Anshari ra. Bahwa Rasulullah SAW menjama` Maghrib dan Isya` di Muzdalifah pada haji wada`. (HR. Bukhari 1674). 4. Hujan Dari Ibnu Abbas RA. Bahwa Rasulullah SAW shalat di Madinah tujuh atau delapan ; Zuhur, Ashar, Maghrib dan Isya``. Ayyub berkata,`Barangkali pada malam turun huj an?`. Jabir berkata,`Mungkin`. (HR. Bukhari 543 dan Muslim 705). Dari Nafi` maula Ibnu Umar berkata,`Abdullah bin Umar bila para umaro menjama` a ntara maghrib dan isya` karena hujan, beliau ikut menjama` bersama mereka`. (HR. Ibnu Abi Syaibah dengan sanad Shahih). Hal seperti juga dilakukan oleh para salafus shalih seperti Umar bin Abdul Aziz, Said bin Al-Musayyab, Urwah bin az-Zubair, Abu Bakar bin Abdurrahman dan para m asyaikh lainnya di masa itu. Demikian dituliskan oleh Imam Malik dalam Al-Muwatt ha` jilid 3 halaman 40. Selain 83 itu ada juga hadits yang menerangkan bahwa hujan adalah salah satu sebab diboleh kannya jama` qashar. Dari Ibnu Abbas ra. Bahwa Rasulullah SAW menjama` zhuhur, Ashar, Maghrib dan Isy a` di Madinah meski tidak dalam keadaan takut maupun hujan.` HR. Muslim 705). 5. Keperluan Mendesak Bila seseorang terjebak dengan kondisi dimana dia tidak punya alternatif lain se lain menjama`, maka sebagian ulama membolehkannya. Namun hal itu tidak boleh dil akukan sebagai kebiasaan atau rutinitas. Dalil yang digunakan adalah dalil umum seperti yang sudah disebutkan diatas. Allah SWT berfirman: `Allah tidak menjadikan dalam agama ini kesulitan`. QS. Al-Hajj: 78 Dari Ibnu Abbas ra, `Beliau tidak ingin memberatkan ummatnya`. Dari Ibnu Abbas r a. Bahwa Rasulullah SAW menjama` zhuhur, Ashar, Maghrib dan Isya` di Madinah mes ki tidak dalam keadaan takut maupun hujan.` HR. Muslim 705). Bagaimana dengan demonstrasi? Apakah demontrasi bisa dimasukkan dalam salah satu sebab dibolehkannya jama` sha lat? Bila melihat umumnya demonstrasi yang sering dilakukan, maka sebenarnya sud ah ada skenario acara lengkap dengan tempat, jam, tokoh, jumlah massa dan seteru snya. Sehingga unsur keterpaksaan atau untuk keterjebakan waktu untuk menjama` shalat tidak lagi memiliki faktor yang konsideran. Para koordinator acara demo itu haru s menyusun jadwal shalat dan dimasukkan dalam agenda acara. Bila memang demonya melewati waktu shalat. Apalagi bila demo itu untuk kepentingan dakwah dan Islam, tentu saja kordinator harus memperhatian waktu shalat. Karena bagaimana mungkin mengerahkan masa 84 untuk membela Islam, sementara syiar dan syariat Islam tidak diperhatikan. Meman g ada shalat khauf dalam perang dan ada kebolehan untuk menjama` karena hal tert entu. Tapi demo sangat berbeda kondisinya dengan perang. Dalam demo tidak ada musuh yang mengintai. Pihak keamanan tidak bisa diqiyaskan sebagai musuh. Mereka bukan ancaman yang akan menyerang bila ditinggal untuk sha lat. Bahkan kalau perlu, para demontsran seharusnya mengajak aparat keamanan unt uk shalat bersama berjamaah di sekitar lokasi. Jadi demo itu betul-betul bersih dan tidak anarkis. Malah para wartawan poto akan lebih tertarik mengekpose gamba r massa shalat berjamaah di jalan saat demo, karena lebih punya daya tarik ketim bang gambar orang teriak-teriak. Sehingga kami cenderung untuk mengatakan bahwa demo tidak bisa dijadikan sebab dibolehkannya jama dalam shalat. 85 Pertemuan Kesembilan Bom Syahid dan Bunuh Diri Islam agama perdamaian. Islam selalu mengajak orang kepada perdamaian dan keruku nan. Islam tidak pernah mengizinkan seseorang untuk memerangi siapa pun yang tid ak bersalah. Bahkan dalam konsep Islam, eksistensi sebuah agama diakui meski buk an untuk dibenarkan. Sehingga ide-ide untuk mengatakan bahwa semua agama adalah
benar agar tidak terjadi bentrok sesama pemeluk agama, bukanlah ide yang bisa di terima dalam pandangan Islam. Karena konsep dasar Islam adalah mengakui eksisten si agama apapun serta menghormati para pemeluknya. Dan juga memberikan kebebasan untuk menjalankan ibadah sesuai dengan keyakinannya. Tetapi tanpa harus mengobr al aqidah dengan mengatakan bahwa semua agama itu sama atau semua agama itu bena r. 87 Sejarah telah membuktikan kepada kita bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang mampu menghimpun semua pemeluk agama dalam sebuah masyarakat yang rukun, tolera n dan hidup berdampingan dengan damai. Semua itu selama para pemeluk agama itu t idak melancarkan serangan dan permusuhan dengan umat Islam. Dakwah dan damai sebelum jihad pisik Namun dalam kondisi dimana umat Islam diperangi, maka Islam pun mengenal peperan gan melawan kebatilan dengan melakukan kontak senjata. Dengan catatan bahwa pepe rangan dalam Islam adalah satu-satunya jenis peperangan yang paling beradab yang ada di muka bumi. Kalau pun harus terjadi kontak senjata melawan orang kafir, m aka harus jelas dulu perjanjian dan syarat-syarat yang diajukan. Selain itu jauh sebelum perang diizinkan, harus ada dakwah kepada mereka terlebi h dahulu, baik dengan lisan mapun tulisan. Sehingga tidak terjadi perang sebelum mereka tahu persis apa itu Islam dan tahu bahwa agam mereka itu salah. Kalau pu n mereka mengangkat senjata, mereka lakukan bukan karena tidak tahu apa itu Isla m, tapi karena gengsi dan takabbur saja, sementara dalam hati mereka tidak bisa menolak kebenaran Islam. Latar Belakang Perang Antar Agama Dalam periode dakwah opensif di paruh kedua masa dakwah di Madinah, Rasulullah S AW selalu mengirim utusan untuk berdialog memperkenalkan kepada para raja dan ma syarakat dunia tentang Islam. Kepada mereka dijelaskan bahwa Islam adalah agama yang merupakan estafet dakwah para nabi dan agama sebelumnya. Dakwah Islam menga kui eksistensi agama-agama terdahulu dan menghormati para rasul yang datang sebe lumnya serta membenarkan apa yang mereka bawa. 88 Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Qur`an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan j anganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang tel ah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat diantara kamu , Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat , tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka b erlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya , lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu,"(QS. Al -Maidah : 48) Islam hanya mengajak dan menyampaikan amanah Bahkan sebenarnya dakwah Rasulullah SAW itu sendiri sudah diinformasikan kepada para pemeluk agama sebelumnya dalam kitab-kitab suci mereka. Nabi Isa as sendiri secara tegas sudah berpesan bahwa akan ada nabisetelahnya dengan ciri-ciri yang disebutkannya dsecara jelas. Sehin gga bila suatu hari Nabi tersebut datang, beliau sudah pernah memberi informasi tentangnya agar tidak ada alasan bagi mereka untuk tidak menerimanya. Dan ketika `Isa ibnu Maryam berkata: `Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kit ab sebelumku, yaitu Taurat, dan memberi khabar gembira dengan seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad .` Maka tatkala rasul itu datang kepa da mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: `Ini adalah sih ir yang nyata.``(QS. Ash-shaff : 6) Bahkan Allah sendiri menegaskan bahwa para pemuka agama sebelum Rasulullah SAW i tu pun sudah akrab dengan berita kedatangan nabi terakhir yaitu Muhammad. 89 Ciri-ciri beliau banyak sekali disebutkan di dalam Taurat dan Injil. Sehingga Al-Quran menggambarkan bahwa mereka mengenal Muhammad seperti mereka me ngenal anak mereka sendiri. Orang-orang yang telah Kami beri Al Kitab mengenal Muhammad seperti mereka menge
nal anak-anaknya sendiri . Dan sesungguhnya sebahagian diantara mereka menyembun yikan kebenaran, padahal mereka mengetahui.`(QS. Al-Baqarah : 146) Orang-orang yang telah Kami berikan kitab kepadanya, mereka mengenalnya (Muhamma d) seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Orang-orang yang merugikan diri nya, mereka itu tidak beriman .`(QS. Al-An`am : 20) Karena itu ketika Muhammad Rasulullah SAW pada tahun 610 M benar-benar datang da n telah diangkat menjadi nabi terakhir dengan misi menyampaikan dakwah dari Alla h sebagai nabi penerus misi para nabi sebelumnya, tidak ada alasan lagi bagi par a pemeluk agama lain itu untuk mengatakan `tidak`. Semua info tentang Nabi terak hir dan agama terakhir itu tidak bisa dipungkiri lagi. Perang itu dimulai oleh n on muslim Tapi alih-alih beriman dan menerima agama yang dibawanya, justru mereka melakuka n konspirasi untuk membunuhnya. Sebenarnya ini bukan pertama kali para pemeluk a gama lama itu berusaha membunuh seorang nabi, bahkan nabi-nabi mereka pun dahulu ingin mereka bunuh. ` Dan apabila dikatakan kepada mereka: `Berimanlah kepada A l Qur`an yang diturunkan Allah,` mereka berkata: `Kami hanya beriman kepada apa yang diturunkan kepada kami`. Dan mereka kafir ke pada Al Qur`an yang diturunkan sesudahnya, sedang Al Qur`an itu adalah yang hak; yang membenarkan apa yang ada pada mereka. 90 Katakanlah: `Mengapa kamu dahulu membunuh nabi-nabi Allah jika benar kamu orangorang yang beriman?``(QS. Al-Baqarah : 91) Dengan latar belakang sejarah seperti ini, maka bila mereka memerangi Islam buka nlah sesuatu yang aneh lagi. Sejak dari mereka masih tinggal di Madinah dan mela kukan pengkhiatan-pengkhianatan dan siatan akal busuk sehingga mereka diusir dar i kota suci itu, lalu ancaman serbuan dari pihak Romawi kepada wilayah-wilayah I slam, maka wajarlah bila Islam mengangkat senjata mempertahankan diri dan menjag a kehormatan. Justru mengangkat senjata dalam kondisi diancam dan diperangi meru pakan perintah fardhu dalam Islam. Allah SWT berfirman : `Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, janganlah kamu m elampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melamp aui batas.`(QS. Al-Baqarah : 190) Syarat Perang Namun sekali lagi perang dalam Islam harus jelas syarat dan kondisinya. Tidak as al bertemu dengan orang kafir lantas main bunuh dan main bom. Hanay mereka yang kafir dan memerangi agama Islam saja yang boleh diperangi. Allah berfirman : ` Jika mereka merusak sumpah nya sesudah mereka berjanji, dan mereka mencerca ag amamu, maka perangilah pemimpin-pemimpin orang-orang kafir itu, karena sesungguh nya mereka itu adalah orang-orang janjinya, agar supaya mereka berhenti.`([Link] : 12 ) Sedangkan orang kafir yang tidak memerangi Islam, tidak boleh dibunuh atau diper angi. Bahkan bila mereka berada dalam jaminan negara Islam, mereka harus dilindu ngi dan dijamin nyawa, harta benda dan keamanannya oleh pemerintah Islam. Orangk afir yang 91 hidup di negeri kita harus mendapatkan perlindungan dari umat Islam. ` ... Maka jika mereka berpaling, tawan dan bunuhlah mereka di mana saja kamu me nemuinya, dan janganlah kamu ambil seorangpun di antara mereka menjadi pelindung , dan jangan menjadi penolong, kecuali orang-orang yang meminta perlindungan kep ada sesuatu kaum, yang antara kamu dan kaum itu telah ada perjanjian atau orangorang yang datang kepada kamu sedang hati mereka merasa keberatan untuk memerang i kamu dan memerangi kaumnya ...`(QS. An-Nisa : 89-90) Perang hanya dibolehkan di wilayah konflik Sedangkan mereka yang jelas-jelas memusuhi dan berada di wilayah konflik (medan perang) dan memang sedang berlangsung peperangan antara umat Islam dengan mereka , maka hanya di wilayah itu sajalah boleh terjadi pertumpahan darah. Darah dan h arta mereka menjadi halal bagi kaum muslimin di sana. Bagi umat Islam yang neger inya menjadi wilayah konflik dan medan perang terbuka, wajib bagi mereka merebut kembali tanah mereka dari tangan penjajah.
Jihad dengan kontak senjata menjadi fardhu `ain bagi mereka. Sedangkan buat umat Islam yang tinggal di laur wilayah konflik, bila mereka memiliki kemapuan, bole hlah mereka datang ke wilayah konflik itu dan membantu saudara-saudara muslim me reka disana. Tapi tidak untuk melakukan pembunuhan di luar wilayah konflik, apal agi dengan pembunuhan membabi buta di tempat lainnya yang bukan merupakan wilaya h konflik. Karena tidak semua orang kafir dapat digolongkan sebagai musuh yang h alal darahnya. Palestina adalah wilayah konflik Buat kondisi kita saat ini, wila yah palestina yang direbut oleh Israil jelas merupakan tanah jihad. Dan pasukan israel beserta penduduk sipil mereka jelas merupakan musuh yang halal 92 darahnya. Kapan pun dan bagaimana pun caranya, halal bagi umat Islam Palestina u ntuk membunuh mereka. Sebagaimana mereka merasa halal untuk membunuh bangsa Palestina kapan pun dan de ngan cara apapun, termasuk dengan menginjak-injak resolusi PBB. Masuknya Israel dan mencaplok sebuah negeri yang berdaulat saja sudah merupakan aksi terorisme t erbesar dalam sejarah. Lepas dari pertimbangan bahwa mereka punya masa lalu di n egeri itu, tapi kedaulatan sebuah pemerintahan yang resmi dan syah tidak bisa di langgar begitu saja. Bangsa yahudi sejak ribuan tahun yang lalu telah meninggalkan tanah moyang merek a dan bertebaran di muka bumi menjadi duri dalam daging umat manusia. Tanah itu ditempati oleh penguasa Islam sejak abad pertama Islam tumbuh dan tidak pernah l epas kecuali beberapa tahun ketika pasukan salib membuat makar. Lalu tiba-tiba d i abad 20 yahudi itu datang bawa senjata dan membunuh siapa saja yang mereka dap ati di tanah itu lalu menancapkan negara Israil. Tidak ada satu pun negara di dunia ini yang tidak mengutuk ulah yahudi itu kecua li boneka mereka (UK dan USA). Bahkan PBB pun mengecam tindakan itu dan menyebut nya sebagai penjajahan. Bom Syahid Adapun bom syahid yang dilancarkan oleh bangsa Palestina, maka sama saja dengan bambu runcing yang dibawa pemuda Indonesia melawan agresi tentara Belanda. Sama dengan rencong yang diacungkan Tengku Umar kepada tentara Belanda di Aceh. Sama dengan keris yang diacungkan Diponegoro di tanah Jawa. Sama dengan pasukan Fatah illaah yang menyongsong tentara potugis di pelabuhan Sunda Kelapa. Karena ketika seorang muslim masuk ke gelanggang perang, tujuan satu-satunya yang ingin 93 dicapainya hanya mati syahid dengan cara apapun. Tindakan ini dibenarkan bila di lakukan di dalam wilayah konflik, bahkan didukung oleh semua ulama muslim. Sebaliknya, bila bom itu dipasang di sebuah negeri yang damai dengan alasan jiha h dan sebagainyam, ketahuilah bahwa Islam tidak pernah membenarkan hal itu. Dan tidak ada umat yang bodoh melakukan hal itu. Kalau pun bom itu terjadi, maka yan g paling mungkin melakukannnya adalah agen mossad yang banyak berkeliaran di neg eri Islam. Dengan dana dan dukungan pemerintah AS, mereka dengan mudah mencari operator dar i bangsa muslim untuk melakukan aksi bom itu. Dan dengan tekanan-tekana tertentu , mereka mampu menggiring opini para pejabat kemananan untuk mengarahkan tuduhan kepada umat Islam. Sebutlah nama JI yang kini selalu disebut-sebut. Padahal nama JI sendiri tidak p ernah ada sebelumnya, lalu direkayasa dan dibuat-buat dan dicarikan orang-orang yang sekiranya bisa dijadikan kambing hitam. Teknik seperti ini sebenarnya sudah kuno dan di era Soeharto pernah dilakukan melalui istilah komando jihad. Adalah Ali Murtopo yang saat itu mendirikan DI dan mengumpulkan para pemuda. Tuj uannya untuk memojokkan Islam dan agar Islam identik dengan kekerasan dan gambar an yang absurd. Selain itu agar Islam itu identik dengan pemberontak sehingga ad a legitimasi untuk menumpas semua umat Islam. Hari ini teknik kuno itu dilakukan lagi, sayangnya para penguasa dan penegak keamanan dengan mudahnya terkecoh den gan skenario yahudi itu. Sehingga yang dilakukan tidak lain hanya menangkapi operator di lapangan yang su dah diprogram untuk bernyanyi dan mengaku-ngaku sebgai JI. Padahal yang 94 ditangkap cuma montir bajai yang tidak tahu apa-apa. Ini sebuah pentas lawak yan
g tidak lucu. Fatwa Qaradhawi Tentang BOM SYAHID Banyak orang bertanya-tanya setelah pemboman terakhir yang terjadi di kota Al Qu ds, Tel Aviv dan Asqalan. Di mana orang-orang Yahudi terbunuh didalamnya karena operasi syahadah yang dilancarkan oleh pemuda-pemuda HAMAS Mereka bertanya tentan g hukum operasi ini yang mereka namakan sebagai `Bom Bunuh Diri`. Apakah ini ter masuk jihad fisabilillah, atau salah satu bentuk teroris? Apakah para pemuda yan g mengorbankan dirinya itu termasuk para syahid atau disebut orang yang bunuh di ri, karena mereka membunuh dirinya sendiri dengan ulah sendiri pula? Apakah perb uatan mereka itu termasuk dalam kategori menjerumuskan diri ke dalam kehancuran yang telah dilarang oleh Al Qur`an dalam sebuah ayatnya yang artinya: Dan janganlah kamu menjerumuskan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan.` (QS. Al Ba qarah: 195). Saya ingin katakan di sini bahwa operasi-operasi ini adalah termasuk cara yang p aling jitu dalam jihad fisabilillah. Dan ia termasuk bentuk teror yang diisyarat kan dalam Al Qur`an dalam sebuah firman Allah Ta`ala yang artinya: "Dan persiapkanlah kekuatan apa yang bisa kamu kuasai dan menunggang kuda yang a kan bisa membuat takut musuh-musuh Allah dan musuhmu.` (QS. Al Anfal: 60). Penamaan operasi ini dengan nama `bunuh diri` adalah sangat keliru dan menyesatk an. Ia adalah operasi tumbal heroik yang bernuansa agamis, ia sangat jauh bila d ikatakan sebagai usaha bunuh diri. Juga orang yang melakukannya sangat jauh bila dikatakan sebagai pelaku bunuh diri. Orang 95 yang bunuh diri itu membunuh dirinya untuk kepentingan pribadinya sendiri. Semen tara pejuang ini mempersembahkan dirinya sebagai korban demi agama dan umatnya. Orang yang bunuh diri itu adalah orang yang pesimis atas dirinya dan atas ketent uan Allah, sedangkan pejuang ini adalah manusia yang seluruh cita-citanya tertuj u kepada rahmat Allah SWT. Orang yang bunuh diri itu ingin menyelesaikan dari di rinya dan dari kesulitannya dengan menghabisi nyawanya sendiri, sedangkan seoran g mujahid ini membunuh musuh Allah dan musuhnya dengan senjata terbaru ini yang telah ditakdirkan menjadi milik orang-orang lemah dalam menghadapi tirani kuat y ang sombong. Mujahid itu menjadi bom yang siap meledak kapan dan di mana saja menelan korban musuh Allah dan musuh bangsanya, mereka (baca: musuh) tak mampu lagi menghadapi pahlawan syahid ini. Pejuang yang telah menjual dirinya kepada Allah, kepalanya ia taruh di telapak tangan-Nya demi mencari syahadah di jalan Allah. Para pemuda pembela tanah airnya, bumi Islam, pembela agama, kemuliaan dan umatnya, mereka itu bukanlah orang-orang yang bunuh diri. Mereka sangat jauh dari bunuh diri, me reka benar-benar orang syahid. Karena mereka persembahkan nyawanya dengan kerela an hati di jalan Allah; selama niatnya ikhlas hanya kepada Allah saja; dan selam a mereka terpaksa melakukan cara ini untuk menggetarkan musuh Allah Ta`ala, yang jelas-jelas menyatakan permusuhannya dan bangga dengan kekuatannya yang didukun g oleh kekuatan besar lainnya. Urusannya sama seperti apa yang dikatakan oleh penyair masa lampau yang mengatak an: Jika tidak ada tunggangan selain mata tombak Maka tidak ada jalan bagi yang terpaksa selain ditumpainya juga Mereka bukan orang-orang yang bunuh diri, bukan pula teroris, namun mereka melawan, 96 perlawanan yang sah, melawan orang yang menduduki buminya. Mereka yang telah men gusirnya dan keluarganya, merampas hak-haknya dan menyita masa depannya. Musuh i tu masih terus melakukan permusuhannya kepada mereka, sementara agama mereka mem erintahkan untuk membela dirinya, dan melarangnya untuk mundur dari buminya, yan g itu termasuk bumi Islam. Juga aktivitas para pahlawan itu bukan tergolong menjerumuskan diri ke dalam keh ancuran, seperti apa yang dipandang oleh sebagian orang awam. Bahkan perbuatan m ereka itu termasuk perbuatan yang terpuji dalam jihad, dan sah menurut syari`at Islam. Dimaksudkan untuk bisa mengalahkan musuh, membunuh anggota musuh, menanca pkan rasa takut kepada mereka dan mendorong kaum muslimin untuk berani menghadap i musuh-musuhnya. Masyarakat Zionis adalah masyarakat militer, kaum lelaki dan wanitanya adalah pr
ajurit dalam angkatan bersenjata, yang kapan saja bisa dipanggil segera. Jika se orang anak atau orang tua terbunuh dalam operasi ini, ia tidak bermaksud membunu hnya, namun masuk dalam kategori darurat perang. Dan segala yang darurat itu bis a membolehkan yang terlarang. Berikut ini akan saya sampaikan pendapat para ahli fiqh dalam masalah ini dan pendapat para mufasir mengenai firman Allah Ta`ala y ang artinya: "Dan janganlah kamu jerumuskan dirimu ke jurang kebinasaan.` (QS. Al Baqarah: 19 5). PENDAPAT IMAM AL JASSHASH, DARI MADZHAB HANAFI Imam Al Jasshash, dari madzhab Hanafi, dalam kitabnya Ahkam Al Qur`an menyatakan bahwa tafsiran ayat 97 195 dalam surat Al Baqarah itu ada beberapa pandangan: Pertama: apa yang dicerit akan oleh Muhammad bin Abi Bakr, ia berkata: diceritakan dari Abu Dawud, ia berk ata: diceritakan dari Ahmad bin `Amr bin Al Sarh, ia berkata: diceritakan dari I bn Wahb dari Haiwah bin Syuraih dan Ibn Luhai`ah bin Yazid bin Abi Hubaib dari A slam Abi Umar, bahwa ia berkata: Kami pernah menyerang kota Kostantinopel, dalam rombongan perang itu ada Abdurra hman bin Al Walid. Sedangkan orang-orang Romawi saling menyandarkan punggung-pun ggungnya ke tembok kota. Lalu ada seseorang yang di bawah menghampiri pihak musu h, `tunggu, tunggu.! Laa Ilaaha Illallah! Ia mau menjerumuskan dirinya sendiri ke dalam kehancuran!` kata beberapa orang. Kemudian Abu Ayyub berkomentar:`Ayat in i tak lain diturunkan kepada kami, kaum Anshar, ketika Allah SWT memberikan pert olongan kepada Nabi-Nya dan memenangkan agama Islam, lalu kami berkata:`Ayo kita tegakkan harta kekayaan kita dan memperbanyaknya. Lalu turunlah ayat yang artin ya: "Dan belanjakanlah pada jalan Allah, dan jangan menjerumuskan diri kamu ke dalam kebinasaan.` (QS. Al Baqarah: 195). Maka arti menjerumuskan diri ke dalam kebinasaan itu artinya adalah memperbanyak harta dan meninggalkan jihad.` Abu Imran berkata:`Abu Ayyub masih saja berjihad di jalan Allah hingga dimakamkan di Kostantinopel.` Abu Ayyub menceritakan bahw a menjerumuskan diri ke dalam kebinasaan itu adalah meninggalkan jihad fisabilil lah, dan ayat yang menunjukkan hal itu sudah diturunkan. Pendapat yang sama juga diriwayatkan dari Ibn Abbas, Hudzaifah, Hasan Al Bashri, Qatadah, Mujahid dan Al Dhahak. Diriwayatkan dari Al Barra` ibn Azib dan Ubaida h Al Salmani: bahwa menjerumuskan ke dalam kebinasaan itu 98 adalah pesimis dengan ampunan karena melakukan kemaksiatan. Kedua: Berlebih-lebi han dalam berinfaq sampai tidak bisa makan dan minum sampai akhirnya binasa. Ket iga: Menerobos perang langsung tanpa bermaksud menyerang musuh. Inilah yang diartikan oleh beberapa orang dalam riwayat di atas yang kemudian di tentang oleh Abu Ayyub sambil menyertakan sebab turunnya ayat tersebut. Ketiga p andangan itu bisa memenuhi arti yang dimaksud oleh ayat di atas karena ada kemun gkinan-kemungkinan atas lafadznya. Atau bisa dikorelasikan antara keduanya tanpa harus ada kontradiksi didalamnya. Adapun tafsiran yang mengatakan bahwa maksudnya adalah seseorang dibawa di arena musuh, maka Muhammad bin Al Hasan pernah menyebutkan dalam Al Siyar Al Kabir: `kalaupun ada seseorang dibawa kepada seribu orang, ia sendiri tidak ada masalah , jika ia ingin selamat atau menyerang. Namun jika tidak ingin selamat dan tidak pula menyerang, maka saya tidak setuju karena ia menjerumuskan dirinya ke dalam kebinasaan tanpa ada manfaat buat kaum muslimin. Sedangkan jika ia tidak mau se lamat atau tidak mau menyerang, tapi ingin membuat kaum muslimin lebih berani da n melakukan seperti apa yang ia lakukan sampai mereka terbunuh dan bisa membunuh musuh, maka hal itu tidak apa-apa, insya Allah. Karena kalaupun ia ingin menyer ang musuh dan tidak ingin selamat, maka saya melihatnya tidak apa-apa untuk dile mparkan kepada musuh. Begitu pula jika ia menyerang yang lainnya dalam kelompok tersebut, maka itupun tidak apa-apa. Dan saya mengharap perbuatannya itu dapat p ahala. Yang tidak boleh itu adalah sebagai berikut: jika dilihat dari beberapa sudut pa ndang, perbuatan itu tidak ada
99 manfaatnya, walaupun ia tidak ingin selamat dan tidak mau menyerang. Namun jika perbuatan itu membuat takut musuh, maka hal itu tidak apa-apa karena cara ini ad alah cara yang paling tepat dalam menyerang, dan juga sangat bermanfaat bagi kau m muslimin`. Imam Al Jasshash berkata: Apa yang dikatakan oleh Muhammad tentang pendapat-pend apat itu adalah benar, dan tidak ada pendapat yang lain lagi. Maka tafsiran dala m riwayat Abu Ayyub yang mengatakan bahwa ia menjerumuskan dirinya ke dalam kebi nasaan, itu ditafsirkan dengan membawanya kepada pihak musuh, karena bagi mereka hal itu tidak ada manfaatnya. Jika memang begitu maka tidak boleh ia memusnahkan dirinya tanpa ada manfaat bag i agama dan bagi kaum muslimin. Namun jika dalam pemusnahan diri itu ada manfaat bagi agama, maka ini adalah kedudukan yang sangat mulia. Karena Allah SWT telah memuji para shahabat Nabi SAW yang melakukan hal itu dalam banyak firman-Nya. Diantaranya adalah: Firman Allah Ta`ala yang artinya: "Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah, lalu m ereka membunuh atau terbunuh." (QS. At Taubah: 111). "Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati, ba hkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezki." (QS. Ali Imran: 1 69). "Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridh aan Allah." (QS. Al Baqarah: 207). Dan beberapa ayat lagi yang menceritakan tentang pujian Allah terhadap orang men gorbankan jiwanya untuk Allah SWT. Imam Al Jasshash melanjutkan:`Oleh karena 100 itu hukum amar ma`ruf nahi munkar harus berbentuk ketika ia menginginkan kemanfa atan bagi agama, lalu mengorbankan jiwanya sampai terbunuh, maka ia mendapatkan kedudukan syuhada yang paling tinggi. Karena Allah SWT berfirman yang artinya: `Dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuat an yang munkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).` (QS. Luqman: 17). Telah meriwayatkan Ikrimah dari Ibnu Abbas dari Nabi SAW bahwa beliau bersabda:` Semulia-mulia syahid adalah Hamzah bin Abdul Muthalib dan orang yang berbicara d engan kalimat yang benar di hadapan penguasa tiran lalu ia terbunuh.` Abu Sa`id Al Khudri meriwayatkan dari Nabi SAW bahwa beliau bersabda yang artiny a: `Jihad yang paling mulia adalah berkata yang benar dihadapan penguasa tiran.` [iii] Imam Al Jasshash di sini menyebutkan hadits Abu Hurairah yang artinya: `S ejelek-jelek orang adalah yang sangat kikir dan sangat penakut.` Imam Al Jasshash menambahkan lagi:`Cara menanggulangi sifat penakut adalah denga n memunculkan dalam dirinya sifat berani yang akan membawa manfaat bagi agama wa laupun ia tahu itu akan membawa malapetaka.` Wallahu A`lam Bish Shawab. PENDAPAT IMAM AL QURTHUBI, DARI MADZHAB MALIKI Imam al Qurthubi dalam tafsirnya mengatakan: Ulama telah berbeda pendapat tentan g masuknya seseorang dalam perang dan melawan musuh dengan sendirian. Maka Al Qa sim bin Mukhirah dan Al Qasim bin Muhammad, termasuk ulama kami, berpendapat: Ti dak apa-apa satu 101 orang berhadapan dengan pasukan besar jika memang ada kekuatan dan niat ikhlas h anya kepada Allah saja. Jika tidak mempunyai kekuatan maka itu namanya kebinasaa n.` Pendapat lain: jika ada yang ingin mati syahid dan niatnya ikhlas, maka boleh di bawa. Karena tujuannya adalah salah satu dari musuhnya, dan hal itu sudah jelas dalam firman Allah Ta`ala yang artinya:" Dan di antara manusia ada yang menjual dirinya demi mencari keridhaan Allah.` (Q S. Al Baqarah: 207). Ibn Khuwaiz Mindad berkomentar: Adapun satu orang dibawa melawan seratus orang a tau sejumlah kekuatan pasukan perang, atau kelompok pencuri dan penjegal, maka a da dua kondisi: Pertama, ia tahu dan kemungkinan besar terbunuh. Tapi ia selamat, maka itu yang
terbaik. Kedua, begitu juga kalau ia tahu dan kemungkinan besar akan terbunuh, tetapi ia akan menyerang atau terluka, atau bisa memberikan pengaruh yang cukup berarti ba gi kaum muslimin, maka itupun diperbolehkan juga. Sebab telah sampai kepadaku berita bahwa pasukan umat Islam tatkala bertemu deng an pasukan Persia, kuda-kuda kaum muslimin lari dari pasukan gajah. Lalu ada ses eorang dari mereka sengaja membikin gajah dari tanah, agar kudanya bisa jinak ti dak liar lagi saat melihat gajah. Esok harinya, kudanya sudah tidak liar lagi me lihat gajah, lalu dihadapkan kepada gajah yang kemarin menghadangnya. Ada orang yang berkata:`Ia akan membunuhmu!`, `Tidak apa-apa saya terbunuh asalkan kaum mu slimin menaklukkan Persia!`jawabnya kemudian. Begitu juga pada peristiwa perang Yamamah, tatkala Bani Hudzaifah bertahan diri di kebun-kebun milik mereka, ada seseorang yang berkata kepada pasukan:`Taruh ak u di dalam sebuah perisai dan lemparkan ke arah musuh!` Segerelah anggota pasuka n muslimin melemparkannya ke 102 dalam kebun, lalu bertarunglah ia sendirian sampai akhirnya bisa membuka pintu k ebun. Imam Qurthubi melanjutkan ucapannya: Dari sisi ini, ada pula riwayat yang menyeb utkan bahwa ada seseorang bertanya kepada Nabi SAW: `Ya Rasulullah, menurut bagi nda apakah yang aku dapatkan jika aku berjihad di jalan Allah dengan sabar dan m engharap ridha Allah?`, `Kamu akan mendapatkan surga.` jawab Nabi SAW. Lalu oran g itu terjun menerobos pasukan musuh hingga terbunuh. Dalam shahih Muslim, dari Anas bin Malik bahwa Rasulullah SAW menarik mundur tuj uh orang Muhajirin dan dua orang dari Anshar. Ketika orang-orang Quraisy mendesa knya, beliau berkata:`Siapa yang berani menghadang mereka, ia akan mendapatkan s urga?`. Lalu seorang dari Anshar maju ke depan melawan mereka hingga ia terbunuh . Satu persatu mereka lakukan hal yang sama, sampai ketujuh-tujuhnya mati syahid semuanya. Kemudian Nabi SAW berkata:`Shahabatku belum melakukan peperangan yang sebenarnya!`. Ucapan beliau itu ditujukan kepada para shahabat yang lari tidak menjaga beliau saat diserang oleh pasukan Quraisy. Wallallahu A`lam bish Shawab. Kemudian Imam Qurthubi menyebutkan ucapan Muhammad bin Al Hasan: Kalaupun satu o rang dibawa berhadapan dengan seribu orang kaum musyrik sendirian, itu tidak men gapa jika memang ia ingin selamat atau menyerang musuh. Namun jika sebaliknya, h al itu dibenci (makruh), karena ia mempersilahkan dirinya untuk binasa tanpa mem berikan manfaat buat kaum muslimin. Dan seterusnya. PENDAPAT IMAM AR RAZI, DARI MADZHAB SYAFII 103 Imam Ar Razi berkata dalam tafsirnya: yang dimaksud dengan firman Allah Ta`ala:` Janganlah kamu menjerumuskan diri ke dalam kebinasaan` adalah janganlah kamu mel akukan serangan kepada musuh dalam sebuah peperangan yang tidak menghasilkan man faat apa-apa. Dan kamu tidak memiliki tebusan selain membunuh dirimu sendiri, ka lau seperti itu maka tidak boleh. Yang diperbolehkan itu adalah jika sangat berhasrat sekali untuk menyerang, wala upun ia takut terbunuh. Sedangkan jika ia pesimis dengan penyerangan dan kemungk inan besar ia nanti terbunuh, maka ia tidak boleh melakukan hal itu. Pendapat in i disampaikan oleh Al Bara` bin Azib. Dinukil dari Abu Hurairah bahwa ia mengomentari ayat ini dengan ucapannya:`Ia ad alah orang yang independen di antara dua kubu`. Imam Ar Razi melanjutkan: di ant ara orang ada yang mengartikan salah, yaitu dengan mengatakan: pembunuhan semaca m ini tidak haram dengan menggunakan beberapa dalil, diantaranya: Pertama: diriwayatkan bahwa ada seorang dari kaum Muhajirin dibawa berhadapan de ngan musuh sendirian, kemudian orang-orang meneriakinya:`Ia menjerumuskan diriny a ke dalam kebinasaan!`. Lalu Abu Ayyub Al Anshari menjelaskan duduk perkaranya seperti yang disampaikan oleh Imam Al Jashash di atas. Kedua: Imam Syafii meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW pernah menyebutkan surga, k emudian ada seorang dari Anshar berkata:`Ya Rasulullah, bagaimana jika aku terbu nuh karena kesabaran dan mengharap ridha Allah semata?`, `Untukmu surga!`jawab R asul. Kemudian lari menyerbu ke pasukan musuh hingga syahid dihadapan Rasulullah SAW. Juga ada seorang Anshar melemparkan baju besinya saat mendengar Rasulullah
SAW menyebutkan surga tadi, lalu menyerang musuh sampai ia terbunuh. 104 Ketiga: Diriwayatkan bahwa ada seorang dari Anshar yang tidak ikut perang Bani M uawiyah. Kemudian ia melihat burung bergerombol dekat dengan temannya yang menin ggal. Lalu ada seseorang yang bersamanya segera berkata:`Saya akan maju melawan musuh agar membunuhku, dan aku akan ikut perang yang didalamnya teman-temanku te rbunuh!`. Orang itupun melakukannya, kemudian cerita itu diceritakan kepada Nabi SAW yang kemudian ditanggapinya dengan positif. Keempat: Diriwayatkan ada suatu kaum sedang mengepung benteng, lalu ada seseorang berperang hingga meninggal. D ikatakan bahwa orang yang meninggal itu menjerumuskan dirinya sendiri kepada keb inasaan. Berita itu terdengar oleh Umar bin Khatab ra. Kemudian beliau mengoment arinya:`Mereka itu bohong. Bukankah Allah SWT sudah berfirman dalam Al Qur`an (y ang Artinya):`Dan di antara manusia ada yang menjual dirinya untuk mencari kerid haan Allah.` Adapun orang yang mendukung tafsiran ini menjawab dalil-dalil di at as dengan mengatakan: kami hanya melarang hal itu jika tidak ada bentuk serangan (perlawanan) kepada musuh, tapi kalau serangan itu ada maka kami membolehkannya . PENDAPAT IBNU KATSIR DAN IMAM THABARI Ibnu Katsir meriwayatkan bahwa ada seseorang yang bertanya kepada Al Bara` bin A zib Al Anshari:`Jika aku dibawa dihadapkan kepada musuh lalu mereka membunuhku, apakah aku masuk dalam kategori menjerumuskan diri ke dalam kebinasan?`, `Tidak! `jawabnya, lalu melanjutkan:`Allah Ta`ala telah berfirman kepada Rasul-Nya (yang artinya): "Maka berperanglah di jalan Allah sebab tidak dibebani selain dirimu sendiri.` A yat `menjerumuskan diri ke dalam 105 kebinasaan` itu dalam bab nafakah, maksudnya tidak memberikan nafakah (infaq) da lam jihad. Imam Thabari meriwayatkan dengan sanadnya sendiri dalam tafsirnya, dari Abu Isha q Al Subay`i berkata: Aku bertanya kepada Al Bara` bin Azib (shahabat):`Wahai Ab u Immarah, ada seseorang yang berhadapan dengan seribu musuh sendirian. Biasanya kondisi semacam ini, orang yang sendirian ini selalu kalah dan terbunuh. Apakah tindakan ini termasuk dalam kategori firman Allah Ta`la:`Dan janganlah kamu men jerumuskan dirimu ke dalam kebinasaan`?, `Tidak, ia berperang sampai terbunuh. K arena Allah Ta`ala berfirman kepada Nabi-Nya: "Maka berperanglah di jalan Allah, karena tidak dibebankan kecuali dirimu sendir i.` (QS. An Nisa`: 84). PENDAPAT IBNU TAIMIYAH Pendapat yang hampir sama juga dikemukan oleh Ibn Taimiyah dalam kitab `Fatawa` nya tentang memerangi kaum Tatar. Berdasarkan dalil dari riwayat Imam Muslim dal am kitab `Shahih` nya dari Nabi SAW tentang kisah Ashhabul Ukhdud. Cerita itu me ngkisahkan seorang bocah memerintahkan (kepada sanga raja) untuk membunuh diriny a, demi kemenangan agama (yang diyakininya) ketika meminta kepada algojo-algojo raja agar membaca: Bismillah Rabbi Ghulam (Dengan nama Allah, Tuhan boah ini) saat melemparkan pana h ke arahnya. Ibn Taimiyah melanjutkan: Oleh karena itu para Imam yang empat mem perbolehkan seorang muslim menyerbu sendirian dalam kubu pasukan musuh, walaupun kemungkinan besar mereka akan membunuhnya. Jika memang di situ ada kemaslahatan bagi kaum muslimin. Kami telah beberkan panjang lebar masalah ini dalam beberap a tema yang lain. 106 PENDAPAT IMAM ASY SYAUKANI Imam Asy Syaukani dalam tafsirnya `Fath Al Qadir` menjelaskan: yang benar dalam masalah ini adalah dengan memegang pada keumuman lafadz, bukan sebaliknya memega ng teguh pada kasuistis (sebab turun ayat). Maka segala apa yang masuk dalam art ian kebinasaan di dalam agama atau dunia, itu masuk dalam kategori ini. Termasuk dalam kategori ayat adalah masalah berikut: bila seseorang menyerbu dalam peper angan lalu dibawa berhadapan dengan pasukan besar, padahal ia yakin tidak bakal selamat dan tidak bisa mempengaruhi semangat perjuangan kaum muslimin. PENDAPAT PENULIS TAFSIR AL MANAR
Di era modern ini, Syeikh Rasyid Ridha dalam tafsirnya `Al Manar` menyebutkan: t ermasuk dalam kategori larangan adalah ikut dalam peperangan namun tidak tahu (m engerti) strategi perang yang dipakai oleh musuh. Termasuk juga segala pertarung an yang tidak dibenarkan oleh syari`at, misalnya hanya ingin mengikuti nafsu bel aka, bukan untuk menolong dan mendukung suatu kebenaran. Pemahaman ini menunjukkan bahwa pertarungan yang diperhitungkan dan dibenarkan o leh syari`at adalah yang bisa menakut-nakuti musuh Allah dan musuh kita bersama. Juga menginginkan kemenangan al haq bukan sekedar mengikuti hawa nafsu belaka. Maka hal ini tidak termasuk dalam menjerumuskan diri ke dalam kebinasaan. *** Saya (Qardhawi) yakin kebenaran itu sudah sangat jelas sekali, cahaya pagi itu s udah nampak bagi yang punya indera. Semua pendapat di atas membantah mereka yang mengaku-aku pintar, yang telah menuduh para pemuda yang beriman kepada Tuhannya kemudian bertambah yakin keimanannya itu. Mereka telah menjual dirinya untuk Al lah, 107 mereka dibunuh demi mempertaruhkan agama-Nya. Mereka menuduhnya telah membunuh d iri dan menjerumuskan dirinya ke dalam kebinasaan. Mereka itu, insya Allah, adal ah para petinggi syahid di sisi Allah. Mereka adalah elemen hidup yang menggambarkan dinamika umat, keteguhannya untuk melawan, ia masih hidup bukan mati, masih kekal tidak punah. Seluruh apa yang ka mi minta di sini adalah: seluruh operasi itu dilakukan setelah menganalisa dan m enimbangkan sisi positif dan negatifnya. Semua itu dilakukan melalui perencanaan yang matang sekali di bawah pengawasan kaum muslimin yang mumpuni . Kalau merek a melihat ada kebaikan, segera maju dan bertawakkal kepada Allah. Karena Allah S WT berfirman yang artinya: "Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah, maka sesungguhnya Allah itu Maha Agung dan Maha Bijaksana.` (QS. Al Anfal: 49). 108 Pertemuan Kesepuluh Wanita dan Politik 1. Politik adalah sarana untuk melakukan Amar ma`ruf Nahi Munkar Politik adalah sarana untuk menegakkan Amar Ma`ruf Nahi Munkar, yang telah Allah jadikan sebagai salah satu dari dua unsur pokok yang menyebabkan umat ini menja di umat yang terbaik. Dimana umat Islam tidak akan mendapatkan khairiyah ( kebai kan ), keberuntungan dan Izzah ( kemuliaan ), kecuali jika setiap indifidu musli m yang ada pada umat ini -baik laki laki maupun perempuan- mau melaksanakan Amar Ma`ruf Nahi Munkar. `Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruhkepada yan g makruf dan 109 mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah ` (QS. 3:110 ) Amar Ma`ruf Nahi Munkar adalah kewajiban bersama, dimana wanita muslimah sama se perti pria muslim, dia ikut serta dalam tugas ini. Sebagaimana yang difirmankan oleh Allah swt : `Dan orang orang yang beriman, lelaki dan permpuan, sebahagian meraka ( adalah ) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh ( mengerjakan ) yan g ma`ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan me reka taat kepada Allah dan RasulNya.` (QS. 9:71) Tugas dan kewajiban ini berlaku dalam lingkup yang terkecil yaitu keluarga, maup un dalam lingkup yang lebih luas yaitu negara. Pelakunya bisa personal, indifidu dalam masyarakat, bisa juga komunitas dalam sebuah lembaga. karena kemungkaran itu bisa terjadi dalam lingkup keluarga, masyarakat, juga bangsa. Jika kemungkaran itu dilakukan oleh pemerintah atau negara yang mempunyai kekuat an moril maupun materil, maka tugas dan kewajiban tersebut bisa juga dilakukan s ecara kelembagaan yang memiliki kekuatan juga, seperti lembaga legislatif DPR ma upun MPR. Walaupun ada sebagian ulama yang tidak merespon positif keterlibatan w anita dalam lembaga tersebut, baik dalam tataran idiologi maupun praktis. 110 2. Beda Pendapat
Untuk itu, perlu kiranya memaparkan pendapat para ulama tentang keterlibatan wan ita dalam lembaga tersebut, dengan memaparkan dalil dan argumen dari kedua belah pihak, baik dari yang pro maupun yang kontra. a. Pendapat pertama : mengharamkan keikutsertaan wanita dalam lembaga legislatif . Dalil yang mereka kemukakan adalah sebagai berikut : - Dalil Al-Quran al-Kariem `Kaum laki laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah me lebihkan sebahagian mereka ( laki laki ) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki laki) itu menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang shaleh ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri.` (QS . 4 : 34) Dalam ayat ini Allah swt. memberikan sifat Qowamah ( kepemimpinan ) kepada laki laki, dan Qunut ( ketaatan ) terhadap wanita. Hal ini menunjukkan bahwa fungsi l aki laki adalah memimpin, dan kewajiban wanita adalah taat. (Al Qurthubi dalam A l Jami` Liahkamil Qur`an 14/179) Lembaga legislatif memiliki fungsi Qowamah, karena mengatur berbagai persoalan b angsa. maka keikutsertaan wanita dalam lembaga tersebut berarti telah mengambil alih 111 kepemimpinan yang seharusnya dimiliki oleh laki laki, dan ini bertentangan denga n ketentuan Allah yang tertera dalam ayat di atas. `Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah l aku seperti orang orang jahiliyah yang dahulu.` (QS. Al-Ahzab : 33) Dalam ayat ini Allah swt. memerintahkan kaum wanita untuk berdiam di dalam rumah , dan tidak keluar kecuali karena adanya kebutuhan yang mendesak, dengan tanpa m enampakkan perhiasannya. Ayat ini walaupun diturunkan pada istri istri Nabi, tap i seluruh wanita muslimah juga terlibat didalamnya. (Lihat: An Nidzam Al Islami Fil Islam, hal 121, Al Mar`ah fil Islam, hal 143, diambil dari kitab `Wilayatul Mar`ah Fil Islam, hal 380). - Dalil Sunnah Dari Abu Bakrah ia berkata : sungguh Allah telah menjagaku dengan sesuatu yang t elah aku dengar dari Rasulullah saw. ketika Kisra telah binasa dan raja Persia t elah menyerahkan mandat kepemimpinannya kepada anak permpuannya, beliau bersabda : `Suatu kaum tidak akan beruntung kalau mereka serahkan mandat kepemimpinannya ke pada seorang wanita.` (HR. Bukhari ) 112 Hadits ini tidak berfungsi sebagai ikhbar (pemberitahuan), karena tugas dan fung si Nabi adalah menjelaskan tentang hal hal yang boleh atau tidak boleh dilakukan oleh umatnya, tapi hadits ini berisi larangan untuk menyerahkan urusan (kepemim pinan umum) kepada seorang wanita. (Lihat : Al mar`ah fil Qur`an Wassunnah, hal 39, diambil dari kitab `Wilayatul Mar`ah fil Islam` hal 428), dan mengangkat wan ita menjadi anggota legislatif berarti telah menyerahkan kepemimpinan kepada seo rang wanita. - Sadduzzarai` (menutup jalan yang mengarah kepada kemungkaran) Keterlibatan wanita di parlemen banyak memberikan dampak negatif bagi diri dan k ehormatannya, juga bagi orang lain, terutama bagi anak dan keluarganya. Seperti ikhtilath saat kampanye, khalwah saat dilakukannya lobi, dan pertemuan, keluar r umah saat melakukan kunjungan dinas dan lain lain. Yang itu semua merupakan kema ksiatan yang harus dicegah, dan agar tidak terjadinya perbuatan maksiat seperti itu, maka wanita tidak diperbolehkan untuk ikut dalam parlemen. - Dalil Aqli Wanita memiliki hambatan alami, seperti haidl, hamil, melahirkan dan menyusui de ngan berbagai macam efeknya, yang itu semua membuat wanita tidak sanggup baik se cara fisik maupun mental untuk mengemban tugas dan tanggung jawab yang begitu be sar, seperti membuat undang undang dan mengontrol pemerintah. 113 b. Pendapat Kedua : membolehkan keikutsertaan wanita dalam lembaga legislatif. Dalil yang mereka kemukakan adalah sebagai berikut : - Dalil dalil umum
Yaitu dalil yang menjelaskan adanya kesamaan antara laki laki dan perempuan dala m proses penciptaan, potensi dan kemampuan, juga dalam hak dan kewajiban, baik t erhadap masyarakat maupun bangsa dan negara, termasuk hak untuk berpartisipasi d alam kancah politik. Diantara dalil dalil tersebut adalah : `Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki laki dan seor ang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa bangsa dan bersuku suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di si si Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Mah a Mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS. Al Hujurat :13) `Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang ba ik, dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang 114 lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.` (HR. An Nahl : 97) `Sesungguhnya wanita adalah saudara kandung pria.`(HR. Abu Daud) Dalil dalil diatas menunjukkan adanya kesamaan antara laki laki dan perempuan, o leh karena itu Islam memandang laki laki dan perempuan dengan pandangan yang sam a, tidak ada yang membedakan keduanya kecuali takwa. Dengan landasan ini, maka k hithab khithab syari diarahkan kepada kedua jenis secara bersamaan, baik dalam b entuk mufrad maupun jamak, kecuali jika ada pengkhususan. Sedangkan dalil dalil khusus yang terkait dalam masalah ini. - Dalil Khusus Yang Terkait Dalam Masalah ini - Nash Al Qur`an : `Dan orang orang yang beriman, lelaki dan permpuan, sebahagian meraka ( adalah ) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh ( mengerjakan ) yan g ma`ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan me reka taat kepada Allah dan RasulNya.` (QS. 9:71) Dalam ayat ini Allah dengan tegas menyamakan antara laki laki dan perempuan dala m tanggung jawab yang bersifat umum, yaitu amar ma`ruf nahi mungkar, yang 115 merupakan bagian dari sikap politik dalam Islam. Oleh karena itu, keikutsertaan wanita dalam parlemen diperbolehkan, karena parlemen adalah salah satu sarana un tuk amar ma`ruf nahi mungkar terhadap negara dan pemerintahan. `Hai Nabi, apabila datang kepadamu pemermpuan perempuan yang beriman untuk menga dakan janji setia, bahwa mereka tidak akan mempersekutukan sesuatupun dengan All ah; tidak akan mencuri, tidak akan berzina, tidak akan membunuh anak anaknya, ti dak akan berbuat dusta yang mereka ada adakan antara tangan dan kaki mereka, dan tidak akan mencurhakaimu dalam urusan yang baik, maka terimalah janji setia mer eka dan mohonkanlah ampunan kepada Allah untuk mereka. Sesunggunya Allah Maha Pe ngampun lagi Maha Penyayang.` (QS. 60:12) Ayat ini menjelaskan adanya independesi wanita dalam bai`at, tidak ikut kepada l aki laki. Ini adalah sebuah pengakuan adanya kemandirian wanita dalam kepribadia n dan potensi yang terkait dengan masalah masalah umum, karena bai`at itu dilaku kan dalam masalah umum, dan itu bagian dari politik. (Lihat : Fiqh negara, Yusuf Al Qardlawi, hal 212.) Keikutsertaan wanita dalam mengambil keputusan dalam masalah masalah tertentu, s eperti masalah keluarga, nikah, nyapih, dan lain lain. 116 - Sebagaimana dalam menyapih anak, Allah berfirman : `Apabila keduanya ingin men yapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tid ak ada dosa atas keduanya.` (QS. Al Baqarah 233) dalam pernikahan Rasulullah Sha llallahu `Alaihi Wa Sallam bersabda : `Bermusyawarahlah dengan kaum wanita dalam masalah (pernikahan) putra putri mere ka. (HR. Ahmad) - Keluarnya Aisyah Radliallahu `Anha dalam perang jamal Menuntut ditegakkannya k eadilan adalah dalil yang kuat dan jelas diperbolehkannya seorang wanita untuk i kut dalam kancah politik, untuk menegakkan keadilan dan memberantas kedzaliman. Termasuk keikutsertaannya dalam lembaga legislatif. Jawaban terhadap dalil penda pat pertama : Ayat yang mengatakan bahwa kaum laki laki adalah pemimpin bagi kau m wanita (QS. 4:34) adalah berkaitan dengan kehidupan suami istri, artinya suami
adalah kepala rumah tangga yang bertanggung jawab atas istrinya. Firman Allah `Karena mereka (laki laki) telah menafkahkan sebagian dari harta me reka`, menunjukkan bahwa maksud kepemimpinan di sini adalah kepemimpinan dalam k eluarga. Ayat yang memerintahkan wanita untuk berdiam di dalam rumah (QS. 33:33) adalah berkaitan dengan istri istri Nabi Shallallahu `Alaihi Wa Sallam seperti yang terlihat dengan jelas dari konteksnya, karena istri istri Nabi mempunyai ke hormatan dan disiplin yang berbeda dengan wanita wanita yang lain. Walaupun demi kian, ummul mukminin Aisyah tetap keluar rumah untuk ikut dalam peperangan `jama l` untuk memenuhi tuntutan 117 agamanya berdasarkan ijtihadnya saat itu, meskipun ada kemungkinan beliau salah dalam ijtihadnya itu. Disamping itu, realita sekarang banyak wanita yang keluar rumah, mereka pergi me lakukan berbagai aktifitas yang dibutuhkan, seperti ke sekolah atau universias, ke tempat kerja sebagai dokter, guru, pegawai, dan tidak ada seorangpun yang men olaknya. Hal ini dianggap oleh sebagian orang sebagai konsesus dibolehkannya kaum wanita bekerja di luar rumah dengan syarat syarat tertentu. Sisi lain ada sebuah tuntut an agar wanita muslimah yang komit untuk memasuki dunia politik, baik sebagai pe milih atau dipilih, untuk menghadapi wanita sekuler yang mengklaim bahwa merekal ah yang memegang kendali kaum wanita. Bahkan bisa jadi memenuhi tuntutan sosial dan politik itu lebih penting daripada memenuhi tuntutan pribadi. Adapun hadits Nabi yang diriwayatkan oleh imam Bukhori yang menyatakan tidak aka n adanya keberuntungan bagi suatu kaum yang menyerahkan urusannya kepada seorang wanita, yang dimaksudkan adalah menyerahkan kekuasaan umum sebagai kepada negar a. Hal ini terlihat dalam kata `Amruhum` yang berarti kepemimpinan secara umum. Adapun kepemimpinan dalam sebagian masalah, maka tidak ada halangan bagi kaum wa nita untuk mengembannya. Seperti otoritas dalam berfatwa, berijtihad, meriwayatk an hadits, termasuk keikutsertaannya dalam legislatif. Dalam masalah masalah di atas otoritas dan kepemimpinan wanita telah diakui secara konsensus, dan telah d ijalankan oleh kaum wanita dalam beberapa masa . ( 118 bahkan Abu Hanifah membolehkan wanita menjadi seorang hakim ) Mengenai penggunaan dalil sadduzzaroi` memang diperlukan dalam mencegah terjadin ya kemungkaran, tapi berlebih lebihan dalam menggunakannya juga tidak baik, sama halnya dengan berlebih lebihan dalam mengabaikannya. Adapun dalil aqli yang men gatakan bahwa wanita sering mengalami hambatan alami, seperti haidl, hamil dan m elahirkan itu benar, tapi tidak semua wanita pantas dan berhak untuk menjadi ang gota legislatif. Yang berhak untuk menjadi anggota legislatif adalah wanita yang keikutserataannya tidak berdampak negatif kepada keluarganya atau lingkungan ke rjanya, seperti wanita yang tidak memiliki anak, atau anak anaknya sudah pada de wasa, juga wanita yang tidak menimbulkan fitnah dengan dandanan dan kecantikanny a. Dan itupun bila mereka memiliki potensi dan kemampuan yang sangat dibutuhkan. Ja waban untuk dalil pendapat kedua : Mengenai dalil dalil yang menunjukkan adanya kesamaan wanita dan laki laki dalam proses penciptaan manusia bisa diterima, bah kan sebagaimana laki laki iapun akan mendapatkan pahala dari amal yang ia kerjak an. Tapi itu bukan berarti ia memiliki hak dan kewajiban yang sama seperti laki laki, kerana keduanya memiliki watak dan karakter yang berbeda. Ungkapan yang mengatakan bahwa firman Allah swt dalam surat At Taubah ayat 71 me nerangkan tentang kesamaan laki laki dan perempuan dalam beramar ma`ruf nahi mun gkar adalah benar, tapi masing masing memiliki cara dan lingkup yang berbeda, se suai dengan watak dan karakternya, sebagaimana yang diungkapkan oleh Al Imam 119 Al Qurthubi dalam tafsirnya :`Sesungguhnya Amar Ma`ruf Nahi Mungkar itu intinya adalah mengajak kepada Islam, kemudian berperang untuk Islam. Dan Amar Ma`ruf Na hi Mungkar tidak bisa dilakukan oleh setiap orang, ia hanya bisa dilakukan oleh penguasa jika berkaitan dengan penegakkan hudud dan ta`zir (Lihat : Al Jami` Li Ahkamil Qur`an : 4/47)`. 1. Politik adalah bagian yang tak terpisahkan dari Islam.
2. Amar ma`ruf nahi mungkar adalah kewajiban bersama; laki laki dan perempuan. 3. Politik adalah sarana untuk beramar ma`ruf nahi mungkar, berarti keikutsertaa n wanita dalam kancah politik adalah sebuah kebutuhan. 4. keikutsertaan wanita dalam dunia politik termasuk menjadi anggota legislatif diperbolehkan atas dasar maslahat yang riil dan kebutuhan yang mendesak, dengan memenuhi ketentuan ketentuan sebagai berikut : a. mendapatkan izin dari suami. b . tidak mengganggu tugas tugasnya dalam rumah tangga. c. adanya kemampuan moral maupun struktural untuk menghindari fitnah. d. harus memperhatikan aturan aturan islam, ketika ia bertemu, berkumpul dengan laki laki, seperti cara berbicara, b erpakaian, berdandan, berkumpul dengan laki laki tanpa mahrom atau berbaur tanpa batas. 5. keikutsertaan wanita dalam parlemen dibatasi dengan faktor kebutuhan, dan tidak dibatasi dengan jumlah tertentu, baik minimal maupun maksimalnya. Hal itu sesuai dengan kaidah fiqh : hajat (kebutuhan) itu diukur sesuai dengan bata s kebutuhannya (Al Asybah Wan Nadzair ).` 120 Pertemuan Kesebelas Akhlak Salah satu bentuk ephoria politik adalah akhlaq dan moral serta etika dalam berp artai yang tidak terkendali. Barangkali karena semangat dan terdorong untuk mena mpilkan kebesaran sebuah partai politik, akhirnya sering terjadi metode dan cara -cara yang tidak dibenarkan dalam pandangan syariah. Seorang muslim yang ingin berjuang lewat wadah partai, tentu dituntut untuk bisa menampilkan citra sebagai sosok muslim sejati. Dan tidak melakukan hal-hal yang bertentangan dengan akhlaq Islam itu sendiri. Sebab yang demikian bukannya mena ikkan citra partai, tetapi malah sebaliknya akan memperburuk citra dan image mas yarakat terhadap perilaku partai yang bersangkutan. 121 Maka sederas apapaun semangat dalam berpolitik, seorang muslim apalagi sebuah pa rtai Islam wajib menjaga adab, sopan santun dan tata cara yang Islami. Sebab ber sikap santun dan berdakwah dengan cara baik adalah sebuah perintah yang tidak bi sa ditawar-tawar. Misalnya, tidak mungkin bagi pendukung partai Islam yang ingin mempromosikan par tainya melakukan pelecehan kepada partai lain, menjelekkan atau mencaci maki dan mengejek. Sebab Allah telah berfirman di dalam Al-Quran yang intinya mewajibkan manusia untuk selalu menggunakan cara yang baik dalam berdakwah. `Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik da n bantahlah mereka dengan cara yang baik`.(QS. An Nahl:125) Hadits Nabi SAW: ` Siapa yang menunjukkan pada kebaikan maka baginya mendapat pahala seperti orang yang melakukan kebaikan tersebut` (HR Muslim). Setiap kebaikan adalah shadaqoh` (HR Bukhari) 1. Berpartai Itu Niatnya Ibadah 122 Berpartai merupakan bagian dari amal shaleh dan ibadah, oleh karenanya harus mem perhatikan keikhlasan motivasi sehingga apa yang dilakukan bukan hanya berdampak baik pada masalah-masalah keduniaan tetapi juga mendapat keridhaan Allah SWT da n pahala kebaikan di akhirat. Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ke ta`atan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus`.(QS. Al Bayyinah 5) Pada saat kampanye dan kapan saja harus menjauhi faktor-faktor yang merusak keik hlasan, misalnya kultus dan fanatisme pada pribadi dan atribut partai seperti ta nda gambar, warna dll. Juga harus menghindari arogansi atau kesombongan disebabk an karena banyaknya pengikut atau kelebihan lainnya. Allah SWT. berfirman : Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang keluar dari kampungnya denga n rasa angkuh dan dengan maksud riya kepada manusia serta menghalangi (orang) da ri jalan Allah. Dan (ilmu) Allah meliputi apa yang mereka kerjakan`.(QS. Al Anfa l 47) 2. Selalu Ingat akan Kewajiban Utama Berpolitik adalah salah satu metode dakwah yang bisa dimanfaatkan untuk kondisi dan waktu tertentu. Adakalanya dakwah lewat jalur politik itu tidak efektif bahk
an membahayakan. 123 Setiap muslim harus bisa membedakan mana yang merupakan media dan mana yang meru pakan kewajiban asasi. Jangan sampai ephoria berpolitik itu melupakan seorang mu slim pada kewajiban asasinya yaitu menjadi seorang muslim yang baik, berdakwah d an mengajak kepada agama Allah. Jangan sampai terjebak pada sebuah kondisi sesaat dan lupa segala-galanya termas uk lupa akan kewajiban-kewajiban utama, maka bagi seorang muslim berpoltik janga n sampai melupakan kewajiban dirinya seperti, lupa akan shalat apalagi meninggal kannya. Juga berdakwah mengajak kepada ajaran Islam dan menegakkan agama Allah s erta menghidupkan syiar Islam. Politik itu adalah metode bukan tujuan. Bila Allah memberikan kemenangan maka ke menangan itu dari Allah. Dan bila Allah memberikan ujian, maka tidak ada istilah berputus asa. Sebab tujuan berpolitik dalam Islam bukan semata-mata merebut kek uasaan, tetapi bagaimana manusia bisa mengenal tuhannya. 3. Bersikap Profesional Islam adalah agama yang mengedepankan sikap profesionalisme. Dan ketika Islam di perjuangkan lewat wadah partai politik, maka cara dan pendekatannya pun tetap ha rus profesional juga. Sikap profesional ini sering diidentikkan dengan istilah (Ihsan). Dimana Rasulul lah SAW bersabda tentang sikap profesionalisme dengan ungkapannya yang amat terk enal itu : 124 `Sesungguhnya Allah mewajibkan untuk berbuat sebaik-baiknya (ihsan) dalam segala sesuatu` (HR Muslim). 4. Memberi Keteladanan yang Baik Berpolitik itu bagian dari metode dakwah, maka sebagai sebuah bagian dari agenda dakwah, seorang msulim wajib menjaga citra dirinya dan tetap mampu memberikan t eladan yang baik bagi diri, keluarga, lingkungan dan masyarakatnya. Demikian juga ketika berkampanye, yang dituntut adalah dengan cara memberi ketel adanan yang baik. Ungkapan prilaku lebih mengenai daripada ungkapan lisan. Rasul ullah saw. bersabda: Mu`min yang paling sempurna imannya adalah yang paling sempurna akhlaknya` (HR A t Tirmidzi) Jangan sampai karena desakan persaingan poltik, seorang muslim terjebak dengan p embentukan citra yang negatif dan merugikan dirinya, partainya dan agamanya. Mak a berpolitik baginya malah hanya akan menurunkan posisi tawar di depan umat lain . Karena tidak mampu memberikan citra yang positif. 3. Berpolitik Adalah Mengajak Bukan Memaksa Berpolitik dalam Islam identik sama dengan berdakwah, yaitu mengajak dan tidak m emaksa. Sehingga dalam kampanye tidak boleh memaksa orang lain untuk 125 menerima, memberikan hak pilihnya dan mendukung partai tertentu dengan berbagai macam cara apapun. Masa pemilih mempunyai hak dan kebebasan memilih suatu partai sesuai dengan pilihan hati nuraninya. Dalam masalah agama saja manusia diberika n hak untuk beragama sesuai keyakinannya, apalagi dalam hal berpartai. Allah SWT. berfirman : Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat`.(QS. Al Baqaarah: 256) Sejak dahulu, para nabi dan rasul tidak pernah memaksa orang untuk masuk ke dala m ajaran yang dibawanya. Mereka hanya menyampaikan secara jelas dan terang. Dan Rasulullah SAW sekalipun juga tidak pernah memaksakan agama ini. Bahkan paman ya ng paling beliau kasihi pun tidak sampai masuk Islam. Ini semua karena Islam sangat memberikan kebebasan untuk memilih agama. Apalagi memilih partai politik dalam sebuah negara. 4. Hati-hati Terpelesetnya Lidah dan Penuhi Janji Yang Terucap Hal yang paling sulit dihindari dari orang yang berpolitik adalah kebiasaan berb ohong. Sehingga hampir sulit dibedakan mana pembohong dan mana politikus. 126 Dalam konsep Islam, berpolitik itu harus bersih dari sikap sikap yang tercela te
rmasuk berbohong. Dan berpolitik dalam Isam tidak boleh menghalalkan segala cara. Tujuan luhur tid ak boleh dirusak oleh cara yang kotor. Berbohong adalah perbuatan terlarang dala m Islam, apalagi yang dibohongi itu orang banyak, sudah tentu bahayanya lebih be rat. Berbohong ialah menyampaikan sesuatu yang tidak sesuai dengan keadaan seben arnya. Rasulullah SAW bersabda: Jauhilah olehmu dusta, karena dusta mengantarkan pada kemaksiatan dan kemaksiata n mengantarkan ke neraka. Dan seseorang yang senantiasa berdusta dan mudah untuk berdusta sampai dicatat disisi Allah sebagai pendusta` (Muttafaqun `alaihi). Kondisi yang tidak terkendali, bisa mengakibatkan seorang larut dalam alam khaya l, mengumbar janji muluk yang tidak mampu untuk dilaksanakan. Hal ini harus dipe rhatikan oleh seorang da`i/ juru kampanye. Janji pasti akan dipertanggung-jawabk an di Akhirat. Allah SWT. berfirman Dan penuhilah janji; sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggungan jawabnya `.(QS. Al Israa`:34) Untuk menarik simpati masa, janji memang diperlukan, tetapi sejauh manakah Parta i mampu melaksanakan janji itu? Kalaupun harus berjanji, janjikan hal-hal yang r elatif mudah dan gampang dipenuhi atau berjanji untuk 127 memperjuangkan sesuatu bukan pada penentuan hasil terhadap sesuatu. 5. Terhindar dari caci maki dan ejekan kepada pihak lain Islam tidak membolehkan seseorang mengeluarkan kata-kata yang melukai harga diri dan martabat seseorang. Kecuali orang yang sudah terang-terangan melakukan perb uatan zhalim dan merusak. Allah SWT berfirman : Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengo lok-olok) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olok) wanita-wanita lain (kare na) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olok) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olokan) dan janganlah kamu panggil-memanggil dengan gelar-gelar yang bu ruk. Seburuk-buruknya panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan ba rangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim. Hai o rang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagi an dari prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan oran g lain dan 128 janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati ? Maka tentulah kamu meras a jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerim a taubat lagi Maha Penyayang`. (QS. Al Hujuraat 11 dan12) Rasulullah SAW. besabda: Mencaci maki seorang muslim adalah suatu kefasikan dan membunuhnya suatu kekafir an`(Muttafaqun `alaihi). 6. Tetap Menjaga Rasa Ukhuwah Islamiyah Umumnya partai Islam di sebuah negara itu tidak hanya satu, tetapi multi partai. Sehingga suara umat Islam sering kali terserang di berbagai partai Islam itu. B ahkan tidak sedikit yang berada di luar koridor partai Islam. Memang keadaan ini kurang menggembirakan, sebab nyatanya perolehan partai-partai Islam menjadi sangat kecil. Upaya menyadarkan para pemilih muslim untuk memilih partai Islam adalah hal yang wajar. Namun bukan berarti kita boleh untuk merusak hubungan ukhuwah Islamiyah dengan s esama muslim yang berada di beberapa partai yang berbeda. Berpolitik dalam panda ngan Islam bukanlah arena untuk memuaskan selera 129 dan hawa nafsu. Perkataan yang diucapkan dan sikap yang ditampilkan harus senant iasa mencerminkan rasa ukhuwah Islamiyah. Tidak boleh berprasangka buruk, tuduha n-tuduhan yang tidak beralasan harus dihindari karena hanya menimbulkan kerengga ngan dan perseteruan yang tidak disukai kecuali oleh syetan. Allah SWT berfirman : Sesungguhnya orang-orang mu`min adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara
kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat`.([Link] Hujuraat 10) Rasulullah SAW. bersabda Janganlah saling hasad, saling membuka aib, saling benci, saling berpaling, dan janganlah kalian menjual dagangan saudaramu, jadilah kalian hamba-hamba Allah ya ng bersaudara. Muslim dengan sesamanya adalah saudara, tidak saling menzhalimi, saling menghina, meremehkan. Takwa letaknya ada disini (Rasulullah SAW menunjuk pada dadanya 3x ). Seorang sudah cukup dianggap jahat jika menghina saudaranya. Setiap muslim dengan sesamanya adalah haram; darahnya, hartanya dan kehormatanny a"(HR Muslim). 130 7. Tidak Bersikap `Ujub Akhlak Islam mengharuskan agar suatu partai tidak menganggap dirinya yang paling baik, partainyalah yang paling Islami. Sedang orang lain dan partai lain tidak ada yang benar. Cara ini bukanlah cara yang Islami. Menampakkan keunggulan sendi ri boleh saja, tetapi tidak harus mengklaim sebagai yang terbaik, paling Islami. Sebagai muslim, kita harus senantiasa mengakui keterbatasan-keterbatasan diri se bagai manusia dan keterbatasan partai sebagai kumpulan komunitas manusia. Kemudi an menggantungkan rencana dan program pada Allah SWT. sebab tujuan berpolitik tidak lain adalah mencari ridha-Nya. Allah SWT. berfirma n Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui orang yang bertakwa`.(QS. An Najm 32) 8. Memberikan Kemaslahatan Bagi Bangsa Berpolitik hendaknya dapat memberi kemaslahatan bagi bangsa baik matrial maupun spiritual dan menghindari praktek yang tidak berguna apalagi menimbulkan dosa. Rasulullah SAW. bersabda, 131 Diantara kebaikan Islam seseorang, (dia) meninggalkan apa-apa yang tidak berguna ` (HR At-Tirmidzi). Berpolitik itu hendaknya bisa memberikan solusi real yang mengarah langsung pada problem solving yang sedang dihadapi bangsa Indonesia lebih baik dari hanya sek edar slogan kosong. Tetapi secara nyata bisa dirasakan perubahannya oleh masyara kat. Dengan itu sebuah partai Islam bisa menjaring suara yang lebih banyak lagi demi tegaknya syariat Islam. "Wahai manusia sebarkanlah salam, berilah makanan, sambunglah hubungan silaturah mi, dan shalat malamlah ketika manusia tidur niscaya engkau akan masuk surga den gan selamat`(HR Muslim). 132 Pertemuan Keduabelas Kudeta Sebagian umat Islam berpendapat bahwa melengserkan penguasa yang sedang memimpin pemerintahan diangap menyalahi karakteristik syariat Islam. Mereka mengatakan b ahwa menurunkan pemerintahan yang syah sama saja dengan tindakan bughat dalam ba b fiqih. Sehingga kesimpulan sementara kalangan menyebutkan bahwa kudeta tidak d ikenal di dalam hukum Islam. Kalau pun seorang penguasa melakukan kesalahan, maka yang boleh dilakukan adalah menasihatinya saja. Bahwa penguasa itu mau memperbaiki kesalahannya atau tidak, tidak ada hak bagi rakyat untuk menurunkan penguasa itu dari kursi kepemimpinan nnya. 133 Bahkan mereka menyebutkan bahwa tradisi menurunkan penguasa yang syah adalah pro duk non Islam, yang umumnya adalah dalam sistem demokrasi. Bagaimanakah kedudukan masalah ini secara lebih luas ? Untuk menjelaskan kedudukan melengserkan penguasa yang dianggap tidak mampu memi mpin atau telah menyeleweng dari garis yang telah ditetapkan, Islam sebenarnya p unya landasan syariah yang lumayan kuat. Sehingga anggapan bahwa tidak ada istil ah kudeta dalam Islam, atau tidak ada kamus melengserkan penguasa, adalah sesuat u yang kurang tepat. Idealnya memang seorang kepala negara atau pemimpin dalam Islam tidak boleh dibe rhentikan begitu saja di tengah masa jabatan kekuasaannya. Namun dalam kondisi t
ertentu, syariat Islam membenarkan pencabutan mandat dari seorang penguasa bila di tengah jalan ditemukan hal-hal yang bisa mempengaruhi atau menurunkan kinerja dan konditenya. Diantarnya adalah masalah yang terkait dengan managemen, keadilan serta moralita s seorang penguasa. Disisi lain kitab fiqih juga menyebutkan masalah kondisi pis ik seseorang. Maka bila salah satu dari kedua kriteria itu terdapat dalam seoran g penguasa, maka sudah bisa menjadi dasar bagi rakyat untuk menimal meminta peng uasa itu melakukan klarifikasi masalah. Dan bila terbukti, kemungkinan untuk mel engserkannya terbuka lebar. Dalil Untuk Melengserkan Penguasa Yang Salah 134 1. Abdullah bin Zubeir Sejarah Islam mencatat bahwa melengserkan penguasa pernah terjadi. Yang paling populer adalah apa yang dilakukan Abdullah bin Zubeir. Bel iau sebagai tokoh ulama di zamannya telah melakukan gerakan untuk melengserkan p enguasa yang saat itu memerintah dengan zhalim dan kejam, Al-Hajjaj bin Yusuf. M eski belum sampai ke tingkat keberhasilan, namun apa yang dilakukan tokoh sekali ber Abdullah bin Zubeir merupakan bukti otentik dan nyata bahwa upaya melengserk an penguasa lalim memang dikenal di dalam sejarah Islam. 2. Abdullah bin Zubeir Sejarah juga mencatat bahwa Hasan bin Ali ra. pernah mund ur dari jabatannya demi menjaga persatuan dan kesatuan seluruh elemen umat Islam saat itu. Beliau secara legowo mundur dari jabatannya. Bukan karena beliau tida k becus memimpin, melainkan karena beliau amat memahami situasi sulit yang berke mbang saat itu. Maka berangkat dari wawasannya yang luas, beliau menyimpulkan ba hwa pelengseran dirinya merupakan sebuah jalan keluar yang tepat. Kasus Hasan bin Ali ra ini memang tidak tepat benar dengan kasus melengserkan pe nguasa, namun cepat atau lambat, beliau merasa pasti akan dilengserkan juga oleh situasi dan keadaan yang tidak kondusif. Fitnah telah meraja lela dan kekacauan telah terjadi. Maka beliau memutuskan untuk menyerahkan tampuk pemerintahan kep ada orang lain agar suasana persaudaraan. 135 3. Al-`Izz Ibnu Abdis Salam Beliau adalah tokoh ulama besar di zamannya. Selama hidupnya beliau pernah melengserkan penguasa zalim dari dinasti mamalik yang dic urigai telah melakukan penyelewengan dan tindakan culas. Kasus ini sebenarnya me rupakan bagian dari klarifikasi yang beliau lakukan sebagai peran serta aktif te rhadap perilaku para penguasa. Setelah terbukti melalaui upaya penyelidikan bahw a penguasa yang bersangkutan bersih, maka penguasa tadi direhabilitasi. Sesudahn ya, dia terpilih kembali dan kembali menjadi pemimpin di negerinya. Namun kejadian ini telah memberikan pelajaran penting kepada kita bahwa melengse rkan penguasa yang zalim bukan hal yang asing dalam sejarah Islam. 4. Literatur Fiqih Islam Di dalam literatur fiqih Islam, banyak ulama yang menul iskan bab `azlu sulthan atau melengserkan penguasa. Literatur fiqih banyak mengu pas perihal pelengseran penguasa yang syah demi kemaslahatan banyak orang. Bahkan ada diantara mereka yang secara khusus menulis buku yang membicarakan ten tang pelengseran penguasa yang zalim. 5. Kekuasaan Adalah Amanat Kekuasaan adalah sebuah amanat yang dipercayakan kepa da seseorang. Tentunya amanat itu bisadiambil lagi manakala si penerima amanat d inilai tidak mampu menjalankannya dengan benar 136 sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan pemberi amanat itu. Sehingga tidak ada masalah untuk meminta penguasa yang tidak mampu menjalankan a manah untuk mundur, sebagai bentuk pertanggung-jawabannya atas ketidak-mampuanny a dalam memimpin. Rasulullah SAW telah bersabda Apabila suatu amanah telah disia-siakan, maka tunggulah saat kehancurannya. Para shahabat bertanya,"Apakah yang dimaksud dengan menyia-nyiakan amanah ? Beliau m enjawab,"Apabila suatu urusan telah diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya. Maka tunggulah kehancurannya". (HR. Bukhari). SEhingga sebagai penguasa yang tidak amanah, bila tetap memaksakan diri untuk te tap bertahan di kursi kekuasaannya, maka bangsa dan negara segera akan hancur le bur. Rakyat pun akan tertindas dan kehidupan manusia akan semakin suram. Dalam k
ondisi demikian, maka rakyat punya hak untuk menncabut amanah yang telah dititip kannya. 6. Punya Pemimpin Yang Adil Adalah Hak Rakyat Rakyat berhak untuk memiliki pemim pin yang adil, arif, bijaksana dan punya visi untuk mensejahterakan mereka. Bila ternyata hak itu tidak dipenuhi seorangyang sudah pernah dipilih, maka boleh sa ja rakyat memintanya mundur dari jabatan 137 itu, apalagi bila penguasa itu mulai melakukan kezalimat dan penidasan kepada ra kyat. Maka sudah seharusnya penguasa zalim itu diturunkan dengan atau tanpa paks aan. Kesimpulan Tidak ada masalah untuk melengserkan penguasa apabila secara umum telah menimbul kan mudharat dan kehancuran. Tindakan ini meski tidak populer, bisa saja diambil untuk menyelamatkan rakyat dari penindasan dan kezaliman yang terus menerus dar i penguasa. Naser, Soeharto dan banyak lagi pemimpin di negeri mayortis muslim memang berhak untuk dilengserkan, mengingat ulah dan sikapnya yang sangat merugikan rakyat ba ik dengan kekuatan militer maupun dengan tekanan ekonomi. Penguasa sendiri bila sudah tidak disukai rakyatnya, maka tidak ada jalan lain k ecuali mundur. Karena jabatan itu bukanlah sesuatu yang harus dipertahankan, bah kan jabatan itu dalam kacamata syariah adalah ujian berat dan tanggung-jawab kep ada Allah yang harus ditanggung di akhirat kelak. Ketimbang di akhirat direpotkan atas segala komplain rakyat senegara, lebih baik melepaskan jabatan itu dan meminta maaf atas kesalahan. 138 Pertemuan Ketigabelas Jamaah Muslimin dan Khilafah I. Pengertian Jamaatul Muslimin : Tentang pengertian jamaatul muslimin ini banyak sekali telah dibahas oleh para u lama. Meski redaksinya berbeda-beda namun tetap ada satu benang merah yang bisa ditarik dari kesemua pengertian itu. `Jamaatul Muslimin adalah jamaah ahlul halli wal `aqd, dimana mereka itu berhimp un di bawah naungan seorang khalifah dan ummat berittiba` kepadanya.` Pengertian ini adalah kesimpulan dari Asy-syatibi ketika mengumpulkan semua hadi ts Rasulullah SAW yang berkaitan dengan masalah jamaah. Pendapat ini pun dikuatk an oleh Al-Hafiz Ibnu Hajar penulis kitab Fathu Bari. 139 II. Kedudukan Jamaatul Muslimin Jamaatul muslimin menduduki tempat yang agung dan tinggi yaitu sebagai `Urwatul Wutsqo`. Allah SWT berfirman : `Dan berpeganglah kamu semua kepada tali Allah dan janganlah berpecah belah`. (Q S Ali Imran : 103) Rasulullah SAW bersabda, "Ikatan Islam itu kelak akan terlepas satu persatu. Setiap ikatan yang lepas aka n mempengaruhi ikatan berikutnya dan begitulah seterusnya. Yang paling dahulu te rlepas adalah masalah hukum dan paling akhir adalah masalah shalat.` (HR. Ahmad dan Hakim). Rasulullah SAW bersabda, "Tidak halal darah seorang muslim yang bersyahadat bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan aku adalah Rasulullah, kecuali dengan 3 hal : jiwa dibalas dengan jiwa , janda yang berzina dan orang yang keluar dari agamanya dan melepaskan diri dar i jamaah`. (HR. bukhari Muslim). 140 Umar bin al-Khataab pernah berkata,` Tidak ada Islam kecuali dengan jamaah, tida k ada jamaah kecuali dengan imarah, tidak ada imaroh kecuali dengan taat`. III. Eksistensi Jamaatul Muslimin Syeikh Husein bin Muhsin bin Ali Jabir menuliskan dalam kitabnya yang fenomenal `At-Thariq ila Jama`atil Muslimin`, bahwa pada hari ini jama`atul muslimin sebag aimana dalam pengertian etimoligis dan pengertian syar`i tidak ada atau belum ad a.
Yang ada adalah jamaah dari jamaah-jamaah muslimin seperti Ihkwanul Muslimin, An sharussunnah, Jamaah Tabligh, Hizbut Tahrir dan dan jamaah-jamaah lainnya. Indikasinya bisa dilihat dengan mudah bahwa kita pada hari ini tidak punya khila fah yang tanpa batas-batas geografis. Yang ada sekarang adalah negeri kecil-keci l hasil kerjaan para penjajah setelah berhasil menumbangkan khilafah Islamiyah t erakhir yaitu Khilafah Utsmani. Memang benar bahwa negeri kecil-kecil itu penduduknya mayoritas muslim, tapi sej ak awal berdiri, negeri kecil-kecil ini tidak pernah disiapkan untuk menjadi neg ara Islam, meski hanya sekedar menerapkan hukum Islam saja. Bahkan dalam perjalanannya, justru para penguasa negeri kecil-kecil ini adalah t iran yang kejam dan sadis yang kerjanya membantai ulama dan umat Islam. Jadi tid ak ada kamus hukum Islam, apalagi khilafah. Karena itu memang 141 benar bahwa saat ini di dunia Islam tidak ada atau tepatnya belum ada jamaatul m uslimin. Dengan demikian, menjadi kewajiban umum bagi umat Islam untuk mewujudkannya deng an langkah panjang dan matang. IV. Langkah menuju pembentukan Jamaatul Muslimin Untuk melahirkan kembali Jamaatul Muslimin, maka perlu langkah-langkah panjang d an kerja berkesinambungan. Setidaknya, kita bisa mengelompokkan kerja itu menjad i beberapa tahap : 1. Tahap pembentukan pribadi muslim 2. Tahap pembentukan keluarga muslim yang Islami. 3. Tahap pembentukan masyarakat Islam 4. Tahap pembentukan negara Islam 5. Tahap pendirian khilafah Islamiyah. Semua tahap itu adalah kelompok pekerjaan global yang di dalamnya tentu ada bera gam aktifitas dalam skala yang lebih kecil lagi. Dan tentu saja pentahapan ini t idak harus sama disetiap wilayah dan negeri, begitu juga dengan jatah berapa lam a masing priode ini. 142 Sebagai gambaran, ketika era jahriyatud dakwah di Mekkah sudah dimulai, di beber apa tempat di luar Mekkah, Rasulullah SAW masih menerapkan sirriyatud dakwah. Se baliknya, Madinah dengan proses Islamisasi tertentu, tidak perlu mengalami era s irriyatud dakwah. Sehingga semua proses pentahapan itu tidaklah mutlak atau baku . Apalagi berkaitan dengan berapa lama proses itu harus berlangsung. Kesemuanya kembali kepada syuro di kalangan ahlul halli wal aqdi itu sendiri. Me reka lah yang memutuskan bahwa sebuah dakwah di suatu teritorial tertentu perlu diselenggarakan dengan uslub sirriyah, jahriyah atau sya`biyah dan seterusnya. K ondisi ini pun bukan kondisi final, karena matahari tidak selamanya bersinar ter ik sepanjang hari. Bisa saja di tengah hari turun hujan rintik, bisa juga hujan besar atau topan badai sekalian. Jadi pentahapan itu sifatnya umum dan global, tapi dalam kasus tertentu tetap be rlaku hal-hal yang kondisional dan teritorial. Kalau Allah menghendaki, bisa saja kondisi politik yang kondusif dengan era part ai yang sekarang ini berjalan berubah menjadi represif dan dakwah -terpaksa- har us dilakukan dengan cara gerilya kembali. Semua itu tidak akan lepas dari taqdir dan kuasa Allah juga. Dan sebagai hamba-Nya, kita harus siap menghadapi semau k emungkinan itu. V. Etika Pergaulan sesama Jamatul Muslimin Realitas dakwah hari ini menunjukkan kepada kita bahwa jamaah-jamaah Islam itu c ukup banyak. Kesemuanya -bila dilihat dari kacamata positif- adalah 143 potensi umat Islam juga. Karena itu ketimbang saling menjatuhkan dan melemahkan, seharusnya semua pihak saling bantu dan saling isi satu sama lain. Sehingga pekerjaan berat dan tantangan umat ini bisa diangkat bersama-sama. Seti ap elemen umat ini tidak merasa paling berjasa dan paling berperan. Dan tentu sa ja tidak semua individu bisa ditampung dalam sebuah jamaah ini. Apalagi harus du duk pada kursi kepengurusan. Yang penting kita semua memberi apa yang terbaik ya ng bisa kita berikan untuk Islam.
VI. Berhukum Dengan Hukum Allah Dan Membentuk Khilafah Berhukum dengan hukum Allah itu hukumnya wajib. Dan menyelnggarakan negara denga n dengan sistem Al-Quran Al-Kariem dan As-Sunnah An-Nabawiyah juga wajib. Dan ha k untuk menentukan hukum dan undang-undang adalah kewenangan Allah SWT semata, b ukan kewenangan manusia. Tidak ada yang menentang doktrin ini dari kalangan akti fs dakwah. Semua sepakat akan hal itu. 1. Masyarakat Yang Tidak Ideal Tinggal masalahnya adalah kondisi realitas umat Islam yang berada di dalam penja ra dan penjajahan musuh. Kondisi ini nyaris memustahilkan umat Islam untuk memil iki negara sendiri dan tentunya pemerintahan sendiri dengan berdasarkan Al-Quran Al-Kariem dan As-Sunnah An-Nabawiyah. Ini adalah kondisi yang teramat tidak ideal akibat hilangnya khilafah Islam di m uka bumi. Dan upaya 144 mengembalikan khilafah adalah hal yang mutlak. Mengingat umat Islam hidup selalu dalam kekuasaan orang kafir. 2. Tiga Pilihan Untuk Umat Maka umat Islam dihadapkan kepada tiga pilihan. Perta ma segera membangun khilafah. Kedua menerima apa yang terjadi dengan pasrah diat ur-atur oleh penguasa jahiliyah. Ketiga, melakukan upaya membangun khilafah samb il berusaha terus menegakkan syariat Islam meski di bawah tekanan. a. Membangun Khilafah Secara Langsung Ada orang yang memilih sesuatu yang ideal seperti yang pertama. Cita-citanya mulia sekali yaitu ingin membangun khilafah. Sebenarnya tidak ada yang aneh dengan ide ini. Hanya saja kenyataan di lapangan telah membuat kita tahu bahwa membangun khilafa h itu tidak bisa diukur dengan usia seseorang. Sebab jangankan khilafah, sekedar sebuah kabupaten kecil yang bersyariat sekalipun tidak pernah terwujud. Dan uma t Islam harus menunggu ratusan tahun untuk terwujudnya hal itu. Sementara itu mereka tetap makan hati diinjak-injak oleh musuh dalam kehidupanny a. Dan juga harus rela diatur dengan hukum bukan Islam. b. Pasrah Saja Disisi lain, ada umat Islam yang diam pasrah tidak berbuat apa-ap a karena dalam benaknya mendirikan khilafah itu mustahil. Maka mereka pun merasa sudah cukup mejadi orang Islam secara ritual ubudiyah dan membiarkan hukum yang berlaku di negerinya diatur oleh hukum bukan Islam. 145 Sebenarnya kedua kecenderungan di atas sama-sama tidak memberikan hasil apa-apa. Yang satu berteriak-teriak ingin membangun khilafah, tapi sama sekali tidak bek erja dan tidak menghasilkan apa-apa. Dalam benaknya, membangun khilafah itu seperti jin Ifrit memindahkan kursi Ratu Saba` dari Yaman ke Syam, sim salabim, maka jadilah khilafah. Sama sekali tidak mau melakukan hal-hal yang lebih kecil dahulu dan lucunya lebih senang mengejek orang yang melakukan sesuatu sebisanya dan semampunya. Mereka punya konsep khila fah atau tidak sama sekali. Yang kedua memang sejak awal tidak punya niat sedikit pun untuk membangunnya, ba hkan banyak juga yang sudah sampai kepada penentangan. c. Berusaha Dan Bekerja Secara Realistis Tinggal posisi yang ketiga. Mereka puny a keinginan ideal untuk mendirikan khilafah, tetapi sembari menuju ke arah sana dengan membina, mengkader, penyusun kekuatan, membangun struktur jaringan umat d an seterusnya, mereka juga mulai mengadakan proyek dan prototipe khilafah meski dalam skala yang masih kecil. Setiap ada kesempatan untuk melakukan bargaining yang memberi peluang diterapkan nya hukum Islam, dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Memang tidak mungkin berhar ap hukum Islam bisa terlaksana 100 % dari hasil adu bargaining itu, tetapi palin g tidak sudah bisa mulai terkonsentrasinya upaya tegaknya hukum Islam. Mungkin awalnya bisa mendapat porsi yang kecil, 1 % atau 2 % di awalnya. Lalu pe rlahan tapi pasti seiring dengan kepercayaan umat mulai bisa melakukan penetrasi yang lebih besar lagi. Itu artinya, hukum Islam bisa dijalankan meski baru bebe rapa persen saja. Semua memang harus diusahakan secara perlahan tapi pasti dan t idak berhenti. 146 Sebab kemenangan dari Allah SWT harus dibuktikan dengan kerja keras dan memperba
nyak kader dan simpatisan. Bahwa ada kader dan simpatisan yang belum ideal dan m asih ada cacat dan cela di sana sini, memang itu bagian dari proses islamisasi m ereka. Sebab kader dan simpatisan tidak bisa tiba-tiba turun dari langit dan muncul beg itu saja. Mereka harus diprogram, disiapkan, diasuh, dibina, diarahkan, dimotiva si dan diberikan pelajaran dengan cara yang hikmah dan bijaksana. Semakin besar jumlah kader, maka semakin kuat pondasikhilafah. Mereka ini akan melakukan penet rasi kepada kekuatan non Islam di setiap tempat, di dunia kerja, di lembaga pend idikan, di eksekutif dan termasuk juga di legislatif. VII. Menjadi Legislatif Khusus untuk legislatif, lembaga ini memang lembaga yang diisi oleh kalangan yan g awalnya sama sekali tidak punya fikrah tentang penerapan hukum Islam. Padahal lembaga ini adalah lembaga yang formal dan diakui sebagai lembaga yang berwenang untuk menetapkan undang-undang pada suatu negara. Kalau lembaga ini diisi oleh orang yang beraqidah benar dan tahu wajibnya menera pkan syariat Islam, pastilah mereka menetapkan hukum berdasarkan hukum Islam. Sa yangnya mayoritas yang duduk di dalam lembaga ini adalah orang yang anti dengan Islam. Lalu apa yang harus dilakukan kalangan Islam dengan lembaga ini ? Hanya ada dua pilihan. Pertama, sama sekali tidak mengakui keberadaan lembaga in i. Kedua, masuk ke dalamnya dan berusaha menguasainya. a. Pilihan pertama Pilihan pertama bisa diambil, tetapi konsekuensinya adalah 147 juga tidak boleh mengakui semua jenis undang-undang dan aturan yang ada di neger i ini. Dan secara hukum, yang melakukan hal itu dianggap bukan warga negara. Seb ab tidak mengakui kewenangan lembaga yang ada di dalam suatu negara. Maka idealn ya, tidak tinggal di negeri tersebut. Minimal harus punya visa atau izin tinggal , sebab tidak mengakui lembaga ini berarti juga tidak mengakui dirinya sebagai w arga negara. Jadi cukup menjadi tamu. f. Pilihan kedua Pilihan kedua bisa diambil juga, lalu ketika masuk ke dalam lembaga itu niatnya adalah bagaimana agar produk dari lembaga itu bisa selaras mungkin dengan hukum Islam. Bila jumlah kekuatan Islamnya masih minoritas, paling tidak bisa dijadika n sebagai titik awal mulainya penetrasi. Namun harus tetap diusahakan agar jumlah mereka semakin banyak agar bisa mendomi nasi segala keputusan. Intinya agar hukum Islam bisa semakin banyak prosentaseny a. Langkah ini kelihatan lebih realistis ketimbang yang pertama. Legistalif Membuat Undang-undang Dan Melawan Tuhan ? Adapun lembaga ini dikataka n telah mengambil wewenang tuhan untuk membentuk undang-undang, memang benar. Se lam yang mereka terapkan adalah hukum yang bukan hukum tuhan. Namun dengan masuknya kekuatan Islam, lembaga ini akan menjadi khalifah Tuhan da lam tanda petik, artinya lembaga ini akan menerapkan hukum Islam bagi negara ini . 148 Dan kedudukannya diakui oleh kekuatan dunia international secara syah, formal da n bersahabat. Ketika kekuatan Islam masuk ke dalam parlemen, jelas sekali niatnya bukan untuk menjadi penentang tuhan dengan membuat undang-undang di luar hak tuhan. Niat mer eka justru sebaliknya yaitu untuk mejadi wakil tuhan dalam menerapkan hukumnya b agi bangsa ini. Bila parlemen dikuasai, maka potong tangan pencuri akan menjadi hal yang nyata, bukan hanya ada di halaman buku, tapi sebuah undang-undang yang berjalan. 149 1. Lihat At-Tahaluf As-Siyasi fil Islam : Muhammad Munir Ghadhban, Dar Al-Salam, cet. 1 1982/1408 2. Ibnul Atsir ; Anihayah fi Gharibil Hadits; 1/424 3. Sirah Nabawiyah : Syeikh Safiyurrahman Al-Mubarakfuri, hal. 131 151