BAB II
LAPORAN KASUS
Bab ini menjelaskan tentang anatomi fisiologi sistem muskuloskeletal, konsep
dasar fraktur, konsep dasar asuhan keperawatan pemenuhan kebutuhan mobilitas,
dan asuhan keperawatan kasus.
A. Anatomi Fisiologi Sistem Muskuloskeletal
Gambar 2.1 Anatomi Fisiologi Sistem Muskuloskeletal
Sumber: (Risnanto dan Insani, 2016)
Menurut Risnanto & Insani (2016, hal 2), sistem muskuloskeletal
adalah sistem yang berperan dalam menunjang, melindungi, dan
menggerakkan tubuh. Rangka merupakan bingkai bagi struktur tubuh dan
melindungi organ internal yang rentang dari kerusakan. Otot dengan
10
11
bantuan sendi, ligamen, dan tendon, memungkinkan tulang rangka
bergerak .
Sistem ini terdiri atas 206 tulang, yang merupakan penyokong
gerakan tubuh dan melindungi organ internal, sendi yang memungkinkan
gerakan tubuh dua atau tiga dimensi. Otot yang memungkinkan gerakan
tubuh dan interna, tendon dan ligament yng menghubungkan tulang
dengan otot.
Sistem muskuloskeletal adalah kerangka manusia dengan seluruh
otot yang menggerakkannya dengan tugas melindungi organ vital dan
bertanggung jawab atas pergerakkan berbagai otot yang dapat
menggerakkan anggota badan dalam lingkungan gerakan sendi tertentu.
Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa komponen
muskuloskeletal terdiri dari tulang, otot, ligament, tendon, fascia, bursae
dan persendian.
1. Tulang
Tulang berasal dari embryonic hyaline cartilage yang dengan
melalui proses ‘osteogenesis’ menjadi tulang. Proses inidilakukan
oleh sel-sel yang disebut ‘osteoblast’ proses mengerasnya tulang
akibat penimpunan garam kalsium,system rangka ini dipelihara oleh
system avarcian yaitu system yang berupa rongga yang ditengahnya
terdapat pembuluh darah. Tulang mempunyai dua bagian besar, berikut
ini adalah merupakan pembagian tulang yaitu:
12
a. Tulang axial, yaitu (tulang pada kepala dan badan) seperti tulang
kepala, (tengkorak), tulang belakang (vertebrae), tulang rusuk dan
sternum.
b. Tulang appendicular (tulang tangan dan kaki) seperti extremitas ats
(scapula. klavikula, humerus, ulna, radius, telapak tangan),
extremitas bawah (pelvis, femur, patela, tibia, fibula, telapak kaki).
Ada 206 tulang dalam tubuh manusia, tulang dapat diklasifikasai
dalam lima kelompok berdasarkan bentuknya yaitu :
a. Tulang panjang
Tulang panjang terdiri dari batang tebal panjang yang
disebut diafisis dan dua ujung yang disebut epifisis. Di sebalah
proksimal dari epifisis dan metafisis terdapat daerah tulang rawan
yang tumbuh yang disebut lempeng epifisis atau lempeng
pertumbuhan. Tulang panjang tumbuh karena akumulasi tulang
rawan di lempeng epifisis. Tulang rawan digantikan oleh sel-sel
tulang yang dihasilkan oleh osteoblas, dan tulang memanjang.
b. Tulang pendek
Bentuknya tidar teratur dan inti dari cancellous (spongy)
dengan suatu lapisan luar dari tulang yang padat. Contoh tulang
pendek yaitu carplas.
c. Tulang pendek datar
Terdiri atas dua lapisan tulang padat dengan lapisan luar
adalah tulang concollous. Contoh tulang pendek datar yaitu
tengkorak.
13
d. Tulang yang tidak beraturan
Tulang yang tidak beraturan sama seperti dengan tulang
pendek, contoh tulang yang tidak beraturan yaitu vertebra.
e. Tulang Sesamoid
Merupakan tulang kecil, yang terletak disekitar tulang
yang berdekatan dengan persendian dan didukung oleh tendon dan
jaringan fasial, misalnya patella (kap lutut).
Gambar 2.2 Tulang Sesamoid
Sumber: (Risnanto dan Insani, 2016)
Menurut Rendy dan Margareth (2015, hal 63), fungsi tulang:
a. Memberi kekuatan pada kerangka tubuh
b. Tempat melekatnya otot
c. Melindungi organ penting
d. Tempat pembuatan sel darah
14
e. Tempat penyimpanan dara merah
2. Otot
Otot merupakan jaringan peka rangsang (eksitabel) yang dapat
di rangsang secara kimia, listrik, dan mekanik untuk menimbulkan
suatu aksi potensial. Otot merupakan alat gerak aktif yang mampu
menggerakkan tulang, kulit dan rambut setelah mendapat ransangan.
Kemampuan otot memiliki tiga kemampuan khusus yaitu :
a. Kontraktibilitas yaitu kemampuan untuk berkontraksi memendek.
b. Ekstrensibilitas yaitu kemampuan untuk melakukan gerakan
kebalikan dari gerakan yang ditimbulkan saat kontraksi.
c. Elastisitas yaitu kemampuan otot untuk kembali pada ukuran
semula otot disebut dalam keadaan relaksasi.
Menurut Purwanto (2015, hal 9), fungsi dari otot:
a. Motion: menghasilkan gerakkan
b. Mempertahankan postur: mempertahankan tubuh dalam posisi
tetap
c. Menghasilkan kalor: mempertahankan suhu tubuh yang normal
d. Agar otot dapat berkontraksi
Menurut Risnanto & Insani, (2014, hal 14) jenis jenis otot yaitu otot
lurik, otot polos, otot jantung:
a. Kartilago
Kartilago merupakan suatu material yang terdiri dari serat-
serat yang kuat tapi fleksibel dan avaskuler. Zat mencapai kartilago
melalui disfusi dari kapiler yang berada di perikondrium (jaringan
15
fibrous yang menutupi kartilago). Menurut Rosdhal dan Kowalski
(2014, hal 216), kartilago menyediakan permukaan yang licin
untuk rotasi (seperti pada pergelangan tangan atau pergelangan
kaki) dan meredam getaran serta guncangan pada tubuh (antar ruas
vertebra).
b. Sendi Ligamen
Sendi ligamen adalah pembalut/selubung yang sangat kuat,
yang merupakan jaringan elastis penghubung yang terdiri atas
kolagen. Ligamen membungkus tulang dengan tulang yang diikat
oleh sendi. Fungsi dari ligamen membatasi pergerakan sendi.
B. Konsep Dasar Fraktur
1. Pengertian Fraktur
Menurut Padila (2015; 297), fraktur adalah terputusnya kontinuitas
jaringan tulang yang umumnya disebabkan oleh [Link] buku
Nursing Care Plans and Ducumentation menyebutkan bahwa fraktur
adalah rusaknya kontinuitas tulang yang disebabkan tekanan eksternal
yang datang lebih besar dari yang dapat diserap oleh tulang.
Menurut Rendy dan Margareth (2015; 45), fraktur adalah patah
tulang, biasanya disebabkan oleh trauma atau tenaga [Link] dan
sudut dari tenaga tersebut, keadaan ulang itu sendiri, dan jaringan lunak
disekitar tulang akan menentukan apakah fraktur yang terjadi itu lengkap
atau tidak lengkap. Fraktur lengkap terjadi apabila seluruh tulang patah,
sedangkan pada fraktur tidak lengkap tidak melibatkan seluruh ketebalan
tulang.
16
Menurut penulis fraktur adalah suatu gangguan integritas tulang
yang ditandai dengan rusaknya atau terputusnya kontinuitas jaringan
tulang dikarenakan tekanan.
2. Klasifikasi Fraktur
Menurut Pierce & Borley (2013; 11), penampakan fraktur dapat
sangat bervariasi tetapi untuk alasan yang praktis, dibagi menjadi beberapa
kelompok, yaitu:
a. Berdasarkan sifat fraktur (luka yang ditimbulkan)
1) Fraktur tertutup (closed), bila tidak terdapat hubungan antara
pragmen tulang dengan dunia luar, disebut juga fraktur
bersih(karena kulit masi utuh) tanpa komflikasi.
Pada fraktur tertutup ada klasifikasi tersendiri yang berdasarkan
keadaan jaringan lunak sekitar trauma, yaitu:
a) Tingkat 0: fraktur biasa dengan sedikit atau tanpa cedera
jaringan lunak sekitarnya.
b) Tingkat 1: fraktur dengan abrasi dagkal atau memar kulit dan
jaringan subkutan.
c) Tingkat 2: fraktur yang lebih berat dengan kontusio jaringan
lunak bagian dalam dan pembengkakan.
d) Tingkat 3: cedera berat dengan kerusakan jaringan lunak yang
nyata dan ancaman sindrom komprartement.
2) Fraktur terbuka (open/compound), bila terdapat hubungan antara
hubungan fragmen tulang.
17
b. Berdasarkan posisi fraktur
Sebatang tulang terbagi menjadi tiga bagian:
1) 1/3 proksimal
2) 1/3 medial
3) 1/3 distal
c. Fraktur kelelahan: fraktur akibat tekanan yang berulang-ulang
d. Fraktur patologis: fraktur yang diakibatkan karena proses patologis
tulang.
3. Etiologi
Menurut Purwanto (2016; 9), penyebab fraktur adalah:
a. Trauma
b. Gerakan pintir mendadak
c. Kontraksi otot ekstem
d. Keadaan patologis, osteoporosis, neoplasma
Sedangkan menurut Pierce & Borley (2013; 10), penyebab fraktur adalah
sebagai berikut:
a. Kekerasan lansung
Kekerasan langsung menyebabkan patah tulang pada titik
terjadinya kekerasan. Fraktur demikian sering bersifat fraktur terbuka
dengan garis patah melintang atau miring.
b. Kekerasan tidak langsung
Kekerasan tidak langsung menyebabkan patah tulang ditempat
yang jauh dari tempat terjadinya kekerasan. Yang patah biasanya
adalah bagian yang paling lemah dalam jalur hantaran vektor
kekerasan
18
c. Kekerasan akibat tarikan otot
Patah tulang akibat tarikan otot sangat jarang terjadi. Kekuatan
dapat berupa pemutiran, penekukan, penekukan dan penekanan,
kombinasi ketiganya, dan penarikan.
4. Patofisiologi
Menurut Padila (2015; 302), tulang bersifat rapuh namun cukup
mempunyai kekuatan dan gaya pegas untuk menahan. Tapi apabila
tekanan eksternal yang datang lebih besar dari yang dapat diserap tulang,
maka terjadilah trauma pada tulang yang mengakibatkan rusaknya atau
terputusnya kontinuitas tulang. Setelah terjadi fraktur, periosterum dan
pembuluh darah serta saraf dalam konteks, marrow, dan jaringan lunak
yang membungkus tulang rusak. Perdarahan terjadi karena kerusakan
tersebut dan terbentuklah hematoma di rongga mendula tulang. Jaringan
tulang segera berdekatan kebagian tulang yang patah. Jaringan yang
mengalami nekrosis ini menstimulasi terjadinya respon inflamasi yang
ditandai dengan vasodilatasi, eksudasi plasma dan leukosit, dan infiltrasi
sel darah putih. Kejadian inilah yang merupakan dasar dari proses
penyempuhan tulang nantinya.
Faktor-faktor yang mempengaruhi fraktur yaitu:
a. Faktor ekstrinsik
Adanya tekanan dari luar yang bereaksi pada tulang tergantung
terhadap besar, waktu, dan arah tekanan yang menyebabkan fraktur.
19
b. Faktor intrinsik
Beberapa sifat yang terpenting dari tulang yang menentukan
daya tahan untuk timbulnya fraktur seperti kapasitas absorbs dari
tekanan, elastisitas, kelelahan dan kepadatan atau kekerasan tulang.
5. Manifestasi klinis
Menurut Purwanto (2016; 11), gejala/tanda dari fraktur adalah
sebagai berikut:
a. Nyeri terus menerus dan bertambah beratnya sampai fragmen tulang
dimobilisasi, homatoma, dan endema.
b. Deformitas karena adanya pergeseran fragmen tulang yang patah.
c. Terjadi pemendekan tulang belakang yang sebenarnya karena
kontraksi otot yang melekat di atas dan dibawah tempat fraktur.
d. Krepitasi akibat gesekan antara fragmen satu dengan lainnya
e. Pembekakan dan perubahan warna local pada kulit.
Sedangkan menurut Pierce & Borley (2013), gejala/tanda dari fraktur
adalah:
a. Deformitas
b. Bengkak/edema
c. Echimosis (memar)
d. Spasme otot
e. Nyeri
f. Kurang/hilang sensasi
g. Krepitasi
h. Pergerakan abnormal
20
i. Rontgen abnormal
6. Pemeriksaan Diagnostik
Menurut Purwanto (2016; 11), tes diagnostik adalah sebagai berikut:
a. Pemeriksaan foto radiologi dari fraktur: menentukan lokasi, luasnya.
b. Pemeriksaan jmlah darah lengkap.
c. Arteriografi: dilakukan bila kerusakan vaskuler dicurigai.
d. Kreatinin, trauma otot meningkatkan beban kreatinin untuk klirens
ginjal.
7. Pentalaksanaan Medis
a. Penatalaksanaan Medis
Menurut Pierce & Borley (2013; 16), penatalaksanaan dari indikasi
frakkur adalah sebagai berikut:
1) Fraktur terbuka
Merupakan kasus emergensi karena dapat terjadi
kontaminasi oleh bakteri dan disertai perdarahan yang hebat
dalam waktu 6-8 jam. Kuman belum terlalu jauh meresap
dilakukan:
a) Pembersihan luka
b) Exici
c) Heacting situasi
d) Antibiotik
21
2) Seluruh fraktur
a) Rekognisis/pengenalan
Riwayat kejadian harus jelas untuk menentukan
diagnosa dan tindakan selanjutnya.
b) Reduksi/manipulasi/reposisi
Upaya untuk manipulasi fragmen tulang sehingga
kembali seperti semula secara optimum. Dapat juga diartikan
reduksi fraktur (setting tulang) adalah mengembalikkan
fragmen tulang pada kesejajarannya dan rotasfanatomis.
c) Reduksi tertutup
Pada fraktur tertentu memerlukan reduksi terbuka.
Dengan pendekatan bedah, fragmen tulang direduksi. Alat
fiksasi interna dalam bentuk pin, kawat sekrup, plat paku,
atau batangan logam digunakan untuk mempertahankan
fragmen tulang dalam posisinya sampai penyembuhan tulang
yang solid terjadi. Alat ini dapat diletakkan disisi tulang atau
lansung ke rongga sumsung tulang, alat tersebut menjaga
aproksimasi dan fiksasi yang kuat bagi fragmen tulang.
b. Penatalaksanaan Keperawatan
Menurut Andra dan Yessie (2013), penatalaksanaan
keperawatan dari fraktur yaitu:
1) Rehabilitasi
Merupakan proses mengembalikan ke fungsi dan struktur
semula dengan cara melakukan ROM aktif dan pasif seoptimal
22
mungkin sesuai dengan kemampuan klien. Latihan isometrik dan
setting otot. Diusahakan untuk meminimalkan atrofi disuse dan
meningkatkan peredaran darah.
2) Meningkatkan gizi makan-makanan tinggi serat serta menganjurkan
intake protein 150-300 gr/hari.
3) Mempertahankan imbolisasi yang telah direduksi dengan tujuan
untuk mempertahankan fragmen yang telah dihubungkan tetap pada
tempatnya sampai sembuh.
4) Atur posisi tujuannya untuk menimbulkan rasa nyaman, dan
mencegah komplikasi.
8. Immobilisasi atau Immobilitas
Menurut Asmadi (2012), immobilisasi adalah ketidakmampuan
untuk bergerak bebas yang disebabkan oleh kondisi dimana gerakan
terganggu atau dibatasi secara terapeutik. Immobilisasi yang berlangsung
lama menyebabkan dampak yang negative terhadap sistem tubuh.
Immobilitas merupakan keadaan dimana seseorang tidak dapat
bergerak secara bebas karena kondisi yang mengganggu pergerakan
(aktivitas), misalnya mengalami trauma tulang belakang, cedera otak berat
disertai fraktur pada ekstremitas, dan sebagainya (Hesti, 2010).
Menurut Hesti (2010), faktor-faktor yang mempengaruhi
kurangnya pergerakkan atau immobilisasi yaitu:
a. Gangguan musculoskeletal
1) Osteoporosis
2) Atropi
23
3) Kontraktur
4) Kekakuan dan sakit pada sendi
b. Gangguan kardiovaskuler
1) Postural hipotensi
2) Vasodilatasi vena
3) Peningkatan penggunaan valsava maneuver
c. Gangguan sistem respirasi
1) Penurunan gerak pernapsan
2) Bertambahnya skresi paru
3) Atelektasis
4) Hipostatis pneumonia
9. Komplikasi
Menurut Musliha (2010; 134), komplikasi akibat fraktur yang mungkin
terjadi yaitu:
a. Shock
b. Infeksi
c. Nekrosis divaskuler
d. Cidera vaskuler dan saraf
e. Malunion
f. Borok akibat tekanan.
C. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan Pemenuhan Kebutuhan Mobilitas
1. Definisi Mobilitas
Mobilisasi adalah kemampuan seseoramg untuk bergerak secara
bebas, mudah dan teratur yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan
24
hidup sehat. Setiap orang pasti membutuhkan untuk bergerak. Mobilisasi
ini dibutuhkan untuk meningkatkan kesehatan, memperlambat proses
penyakit degenaratif dan untuk aktualisasi diri (harga diri dan citra tubuh)
(Ernawati, 2012).
Aktivitas/mobilisasi adalah suatu energy atau kemampuan
bergerak pada seseorang secara bebas, mudah, dan teratur untuk mencapai
mandiri maupun dengan bantuan orang lain dan hanya dengan bantuan alat
(Hesti, 2010). Sedangkan hambatan mobilitas fisik adalah keadaan ketika
seorang individu mengalami atau beresiko mengalami keterbatasan gerak
fisik, tetapi bukan imobilisasi (Lynda, 2006).
2. Jenis Mobilitas
Menurut Ernawati (2012), ada beberapa macam jenis mobilitas antara lain:
a. Mobilitas penuh: merupakan kemampuan seseorang untuk bergerak
secara penuh dan bebas sehingga dapat melakukan interaksi sosial dan
menjalankan peran sehari-hari.
b. Mobilitas sebagian: merupakan kemampuan sesorang untuk bergerak
dengan batasan jelas dan tidak mampu bergerak secara bebas karena
dipengaruhi dengan batasan jelas dan tidak mampu bergerak secara
bebas karena dipengaruhi oleh gangguan saraf motorik dan sensorik
pada area tubuhnya. Mobilitas sebagian ini dibagi menjadi dua jenis,
yaitu:
1) Mobilitas sebagian temporer: merupakan kemampuan individu
untuk bergerak dengan batasan yang sifatnya sementara.
Contohnya adalah dilokasi sendi dan tulang.
25
2) Mobilitas sebagian permanen: merupakan kemapuan individu
untuk bergerak dengan batsan yang sifatnya menetap. Contohnya
terjadinya hemiplagia karena stroke, paraplegia karena cedera
tulang belakang, poliomyelitis karena terganggunya sistem saraf
motorik dan sensorik.
3. Faktor yang Mempengaruhi Mobilitas
Menurut Hesti (2010), mobilitas seseorang dapat dipengaruhi oleh
beberapa faktor, diantaranya:
a. Usia dan status perkembangan: terdapat perbedaan kemapuan
mobilitas pada tingkat usia yang berbeda. Hal ini dikarenakan usia
mempengaruhi tingkat perkembangan neuromaskular dan tubuh secara
proporsional, postur, pergerakkan dan reflex akan berfungsi secara
optimal.
b. Proses penyakit/cedera: proses penyakit dapat mempengaruhi
kemampuan mobilitas karena dapat mempengaruhi fungsi sistem
tubuh. Contohnya orang yang menderita fraktur femur akan
mengalami keterbatasan pergerakan dalam ekstremitas bagian bawah.
c. Gaya hidup: perubahan gaya hidup dapat mempengaruhi kemampuan
mobilitas seseorang karena gaya hidup berdampak pada perilaku atau
kebiasaan sehari-hari.
d. Emosi: rasa aman dan gembira dapat mempengaruhi aktivitas tubuh
seseorang. Keresahan dan kesusahan dapat menghilangkan semangat,
yang kemudian sering dimanifestasikan dengan kurangnya aktivitas.
e. Tingkat energi: energi adalah sumber untuk melakukan mobilitas.
26
4. Asuhan Keperawatan pada Masalah Kebutuhan Mobilitas
Menurut Aziz (2013), asuhan keperawatan pada masalah kebutuhan
mobilitas adalah:
a. Pengkajian
1) Riwayat keperawatan sekarang
Pengkajian riwayat pasien saat ini meliputi alasan pasien yang
menyebabkan terjadinya keluhan/gangguan dalam mobilitas,
seperti adanya nyeri, kelemahan otot, kelelahan, tingkat mobilitas,
daerah terganggunya mobilitas, dan lamanya terjadi gangguan
mobilitas.
2) Riwayat keperawatan penyakit yang pernah diderita
Pengkajian penyakit yang berhubungan dengan pemenuhan
kebutuhan mobilitas, misalnya adanya riwayat penyakit sistem
neurologis (kecelakaan cerebrovaskular, trauma kepala,
peningkatan tekanan intracranial, miastenia gravis, guillain bare,
cedera medulla spinalis, dan lain-lain), riwayat penyakit sistem
kardiovaskular (infrak miokard, gagal jantung kongestif), riwayat
penyakit sistem musculoskeletal (osteoporosis, fraktur, arthritis),
riwayat penyakit sistem pernapasan (penyakit paru obetruksi
menahun, pneumonia, dan lain-lain), riwayat pemakaian obat,
seperti sedative, hipnotik, depresan sistem saraf pusat, laksania,
dan lain-lain).
27
3) Kemapuan fungsi motorik
Pengkajian fungsi motorik antara lain pada tangan kanan dan kiri,
kaki kanan dan kiri untuk menilai ada atau tidaknya kelemahan,
kekuatan, atau spastis.
4) Kemapuan mobilitas
Pengkajian kemampuan mobilitas dilakukan dengan tujuan unuk
menilai kemampuan gerak ke posisi miring, duduk, berdiri, bangun
dan berpindah tanpa bantuan. Kategori tingkat kemapuan aktivitas
adalah sebagai berikut:
Tabel 2.1 Kategori Tingkat Kemampuan Aktivitas
Tingkat Aktivitas/Mobilitas Kategori
tingkat :0 Mampu merawat diri sendiri secara penuh.
tingkat :1 Memerlukan penggunaan alat.
tingkat: 2 Memerlukan bantuan atau pengawasan orang
lain.
tingkat: 3 Memerlukan bantuan, pengawsan orang lain,
dan peralatan.
tingkat: 4 Sangat tergantung dan tidak dapat melakukan
atau beradaptasi dalam perawatan.
Sumber: Aziz (2013)
5) Kemampuan rentang gerak
Pengkajian rentang gerak (range of motion-ROM) dilakukan pada
daerah seperti bahu, siku, lengan, panggul dan kaki.
Tabel 2.2 Nilai Rentang Gerak (ROM)
Gerak Sendi Derajat Rentang
Normal
Sendi peluru:
Fleksi: gerakan kaki ke depan dan keatas, lutut mengulur 90o-120o
atau melentur. 90o-120o
Extensi: gerakkan kaki ke sebelah kaki lainnya. 30-50o
Hiperextensi: gerakkan seiap kaki ke belakang tubuh. 45-50o
Abduksi: gerakkan masing-masing kaki ke samping luar. 20-30o
Adduksi: gerakkan masing-masing kaki ke belakang dan 360o
ke depan melebihi kaki yang lain. 90o
Sikumduksi: gerakkan masing-masing kaki memutar ke 90o
belakang atas, samping, dan ke bawah secara melingkar. 120-130o
28
Rotasi dalam: angkat telapak kaki dan putar ke arah 120-130o
dalam ibu jari sebagi tumpuan. 10o
Rotasi luar: angkat telapak kaki dan putar ke luar dan ibu 45-50o
jari sebagai tumpuan. 20o
30o
Sendi lutut: 5o
Fleksi: bengkokkan kaki ke belakang, dekatkan ke paha. 35-60o
Ekxtensi: luruskan masing-masing kaki kembali ke posisi 35-60o
semula di samping kaki yang lain. 0-15o
Hiperekstensi: bebrapa orang dapat hiperekstensi lutut. 0-15o
70-90o
Sendi mata kaki: 70-90o
Extensi: tekuk telapak kaki ke bawah 20-30o
Fleksi: tekuk telapak kaki ke atas. 30o
30-45o
Sendi jari kaki:
Eversi: putar masing-masing telapak kaki ke samping.
Inversi: putar masing-masing telapak kaki ke tangan.
Fleksi: gerakkan masing-masing ibu jari ke bawah.
Ekstensi: luruskan ibu jari kaki.
Abduksi: regangkan masing-masing jari kaki.
Adduksi: rapatkan masing-masing jari kaki bersamaan.
Sendi-sendi tubuh:
Fleksi: bungkukkan tubuh kea rah jari kaki.
Extensi: luruskan tubuh dari posisi fleksi.
Hiperekstensi: bungkukkan tubuh ke arah belakang.
Fleksi lateral: lekukkan tubuh ke kanan dan ke kiri.
Rotasi: lekukkan tubuh dari bagian atas, dari samping ke
samping.
Sumber: Aziz (2013)
6) Perubahan intoleransi aktivitas
Pengkajian intoleransi aktivitas yang berhubungan dengan
perubahan pada sistem pernapasan, antara lain: suara napas,
analisis gas darah, gerakan dinding thorak, adanya mukus, batuk
yang produktif diikuti panas, dan nyeri saat respirasi.
7) Kekuatan otot dan gangguan koordinasi
Dalam pengkajian kekuatan otot dapat ditentukan kekuatan secara
bilateral atau tidak. Derajat kekuatan otot dapat ditentukan dengan:
Tabel 2.3 Derajat Kekuatan Otot
Skala Persentase Karakteristik
Kekuatan Normal
0 0 Paralisis sempurna
1 10 Tidak ada gerakan, kontraksi otot dapat di
29
palpasi atau dilihat.
2 25 Gerakan otot penuh melawan gravitasi
dengan topangan
3 50 Gerakan yang normal melawan gravitasi
4 75 Gerkan penuh yang norml melawan
gravitasi dan melawan tahanan minimal
5 100 Kekuatan normal, gerakan penuh yang
normal melawan gravitasi dan tahanan
penuh.
Sumber: Aziz (2013)
8) Perubahan psikologis
Pengajian perubahan psikologis yang disebakan oleh adanya
gangguan mobilitas, antara lain perubahan perilaku, peningkatan
emosi, perubahan dalam mekanisme koping, dan lain-lain.
b. Diagnosa Keperawatan
Menurut Arif (2011), diagnosa keperawatan dari kasus fraktur yaitu:
1) Nyeri berhubungan dengan kompresi saraf, kerusaka
neuromuskuloskeletal, pergerakan fragmen tulang.
2) Hambatan mobilitas fisik yang berhubungan dengan respon yeri,
kerusakan neuromuskuloskeletal, pergerakan fragmen tulang.
3) Defisit perawatan yang berhubungan dengan kelemahan fisik
ekstremitas bawah.
c. Perencanaan Keperawatan
Menurut Arif (2011), perencanaan dari kasus fraktur, yaitu:
Tabel 2.4 Perencanaan Keperawatan
No. Diagnosa NOC NIC Rasional
Keperawatan
1. Nyeri Tujuan: 1. Kaji nyeri dengan 1. Nyeri merupakan
berhubungan Dalam waktu 1x24 skala 0-4 respon subjektif
dengan jam, nyeri 2. Atur posisi yang dapat dikaji
kompresi berkurang atau imobilisasi pada dengan
saraf, kerusaka teradaptasi. paha menggunakan
neuromuskulo 3. Lakukan skala nyeri. Klien
skeletal, Kriteria Hasil: pemasangan traksi melaporkan nyeri
30
pergerakan Secara subjektif, kulit secara biasanya diatas
fragmen klien melaporkan sistematis tingkat cedera.
tulang. nyeri berkurang 4. Manajemen 2. Imobilisasi yang
atau dapat lingkungan : adekuat dapat
diadaptasi, dapat lingkungan tenang, mengurangi
mengidentifikasi batasi pengunjung, pergerakan
aktivitas yang dan istirahatkan fragmen tulang
meningkatkan atau klien yang menjadi
menurunkan nyeri, 5. Ajarkan tehnik unsur utama
klien tidak gelisah, relaksasi penyebab nyeri
skala nyeri 0-1 atau pernafasan dalam pada paha
teradaptasi. ketika nyeri 3. Traksi kulit
muncul dengan pengaturan
6. Ajarkan tehnik posisi kontraksi
distraksi pada saat dapat menurunkan
nyeri kompresi saraf
sehingga dapat
menurunkan
respon nyeri
4. Lingkungan tenang
akan menurunkan
stimulus nyeri
eksternal.
5. Menigkatkan
asupan O2
sehingga akan
menurunkan nyeri
sekunder akibat
iskemia
6. Distraksi
(pengalihan
perhatian) dapat
menurunkan
stimulus internal
dengan mekanisme
peningkatan
produksi endorfil
dan enkefalin yang
dapat memblok
reseptor nyeri agar
tidak dikirimkan
ke korteks serebri
sehingga
menurunkan
persepsi nyeri.
2. Hambatan Tujuan: 1. Kaji mobilitas 1. Mengetahui
mobilitas fisik Dalam waktu 3x24 yang ada dan tingkat
yang jam, klien mampu observasi kemampuan klien
berhubungan melaksanakan peningkatan dalam melakukan
dengan respon aktivitas fisik sesuai kerusakan. Kaji aktivitas
nyeri, dengan secara teratur 2. Imobilisasi yang
kerusakan kemampuannya. fungsi motorik adekuat dapat
neuromuskulo 2. Atur posisi menguragi
skeletal, Kriteria Hasil: imobilisasi pada pergerakan
pergerakan Klien dapat ikut paha fragmen tulang
fragmen serta dalam 3. Ajarkan klien yang menjadi
tulang. program latihan, untuk melakukan unsure utama
tidak terjadi latihan gerak aktif penyebab nyeri
31
kontraktur sendi, pada ekstremitas pada paha
bertambahnya yang tidak sakit 3. Gerakan aktif
kekuatan otot, klien 4. Bantu klien memberikan
No Diagnosa NOC NIC Rasional
Keperawatan
menunjukkan melakukan latihan massa, tonus, dan
tindakan untuk ROM, perawatan kekuatan tot serta
meningkatkan diri sesuai merperbaiki fungsi
mobilitas. toleransi jantung dan
5. Kolaborasi dengan pernapasan
ahli fisioterapi 4. Untuk memelihara
untuk latihan fisik fleksibelitas sendi
klien sesuai kemampuan
5. Peningkatan
kemampuan dalam
mobilisasi
ekstremitas dapat
dicapai dengan
latihan fisik dari
tim ahli fisioterapi
3. Defisit Tujuan: 1. Kaji kemapuan 1. Membantu klien
perawatan Dalam waktu 2x24 dan tingkat dalam
yang jam, klien dapat penurunan dalam mengantispasi dan
berhubungan menunjukkan skala 0-4 unuk merencanakan
dengan perubahan gaya melakukan ADL pertemua
kelemahan hidup untuk 2. Hindari apa yang kebutuhan
fisik kebutuhan merawat tidak dapat individual
ekstremitas diri. dilakukan klien 2. Klien dalam
bawah dan bantu jika keadaan cemas dan
Kriteria Hasil: perlu bergantung
Klien mampu 3. Dekatkan alat dan 3. Memudahkan klien
melakukan aktivitas sarana yang dan meningkatkan
perawatan diri dibutuhkan klien kemandirian klien
sesuai dengan 4. Sadarkan tingkah 4. Klien memerlukan
tingkat laku/sugesti empati,tetapi
kemampuan, tindakan pada perawat perlu
mengidentifikasi perlindungan mengetahui
personel yang dapat kelemahan. perawatan yag
membantu. 5. Identifikasi konsisten dalam
kebiasaan menangani klien
defekasi. Anjurkan sekaligus
minum dan meningkatkan
tingkatkan harga diri,
aktivitas memandikan klien
dan menganjurkan
klen untuk terus
mencoba
5. Meningkatkan
latihan dan
menolong
mencegah
konstipasi.
Sumber: (Arif, 2011)
32
d. Implementasi
Menurut Hutahaean (2010; 120), dokumentasi implementasi
keperawatan merupakan catatan tentang tindakan yang diberikan
kepada klien. Pencatatan ini mencakup tindakan keperawatan yang
diberikan baik secara mandiri maupun kolaboratif, serta pemenuhan
kriteria hasil terhadap tindakan yang diberikan kepada klien yang
mengalami fraktur.
e. Evaluasi
Menurut Hutahaean (2010; 123), evaluasi adalah tahap akhir
dari proses keperawatan dan merupakan tindakan intelektual untuk
melengkapi proses keperawatan, yang menadakan sebrapa jauh
diagnosa keperawatan, rencana, tindakan dan pelaksanaannya sudah
berhasil dicapai. Yang dimana diharapkan klien dapat membaik
dengan cepat dan tidak mengalami infeksi pada luka frakturnya
tersebut.
D. Asuhan Keperawatan dengan Masalah Gangguan Mobilitas Fisik pada
Bapak MK
1. Pengkajian (17 April 2019)
a. Identitas Klien
Bapak MK, usia 20 tahun, agama Islam, bertempat tinggal di desa
Giok Syamtalira Aron, tidak berkerja, suku/bangsa Aceh, status belum
menikah, masuk ke RS pada hari Selasa, tanggal 14 Mei 2019 dengan
33
nomor register 10.96.87, diagnosa medis open fraktur femur medial
dekstra.
b. Riwayat Sakit dan Kesehatan
1) Keluhan Utama
Klien mengeluh susah menggerakkan paha sebelah kanan,
klien merasa nyeri pada paha sebelah kanan yang mengalami
fraktur saat ia gerakkan, terdapat luka sobek di bagian femur
dekstra, klien juga mengalami faktur dibagian pinggang, terdapat
luka terbuka dibagian pinggang klien, klien mengalami cedera
dibagian leher, perut, sehingga klien susah bergerak, dan tidak
mampu melakukan aktivitas sehari-hari seperti bangun dan duduk.
Klien juga merasakan sakit di daerah punggung, serta klien
mengalami fraktur pada tulang tibia.
2) Riwayat kesehatan saat ini
Keluarga klien mengatakan bahwa klien mengalami patah
tulang pada paha sebelah kanan, leher, pinggang serta mengalami
nyeri hebat. Klien mengalami kecelakan sepeda motor pada hari
Sabtu tanggal 11 Mei 2019, ± 7 hari yang lalu sewaktu klien
pulang menuju rumahnya pada jam 19.00 WIB. Klien mengatakan
mengendarai sepeda motor sendiri untuk menuju ke rumah
kemudian terserempet sepeda motor lain dan terjatuh dengan
posisi tengkurap ke kanan. Kemudian tungkainya yang sebelah
kanan terkena aspal jalan karena klien menggunakan tungkai
kanannya sebagai tumpuan. Oleh sebab itu klien mengalami patah
34
tulang. Saat jatuh klien tidak pingsan. Beberapa saat setelah
kecelakaan, klien dibawa ke RS Aron dan diberikan pertolongan
pertama dengan pembidaian dan di beri perban. Klien dirawat di
RS Aron ± 3 hari. Kemudian atas permintaan keluarga, klien
dirujuk ke RS Cut Mutia, pada hari Selasa tanggal 14 Mei 2019
jam 17.00 WIB. Di IGD klien mendapatkan terapi pemasangan
infus RL 20 tetes/menit pada tangan kiri, kemudian pukul 19.00
WIB klien dipindahkan keruangan Jeumpa. Keesokan harinya
klien dilakukan pemeriksaan rontgen, laboratorium, serta EKG
untuk dilakukan pembedahan pada paha sebelah kanan.
Saat dikaji pada tanggal 17 Mei 2019, klien mengeluh
nyeri pada bagian paha sebelah kanan dan terdapat luka post
operasi, klien juga mengeluh susah menggerakan kaki sebelah
kanan terutama pahanya, segala kebutuhan klien dipenuhi oleh
keluarganya dan perawat ruangan.
3) Riwayat kesehatan sebelumnya
Sebelumnya pasien tidak memiliki riwayat penyakit
apapun, kecuali jika klien mendadak sakit, biasanya klien dibawa
ke puskesmas dekat rumah klien. Klien tidak memiliki riwayat
sakit yang parah sebelumnya dan keluarga klien mengatakan
bahwa sebelumnya klien tidak pernah mengalami kecelakaan
sepeda motor seperti saat ini dan belum pernah dioperasi.
4) Riwayat Penyakit Keluarga sebelumnya.
35
Keluarga klien mengatakan bahwa tidak ada anggota
keluarga yang pernah mengalami kecelakaan. Klien juga
mengatakan bahwa tidak ada anggota keluarganya yang
mengalami sakit yang parah bahkan menular.
5) Genogram Keluarga
Skema 2.1 Genogram Keluarga Tn. MK
Keterangan:
: laki-laki meninggal : tinggal serumah
: perempuan meninggal : laki-laki hidup
: perempuan hidup : klien
6) Riwayat Alergi
Pasien mengatakan bahwa dirinya tidak mempunyai riwayat alergi
apapun.
c. Observasi dan pemeriksaan Fisik
1) Keadaan Umum
Keadaan umum pasien sedang.
2) Kesadaran
Tingkat kesadaran klien kompos mentis.
36
3) Tanda-tanda Vital
Hasil pengkajian tanggal 17 Mei 2019 didapatkan data TD: 100/80
mmHg, pols: 80 x/menit, suhu tubuh: 36,5 oC, RR: 22 x/menit.
4) Pernapasan (breathi)
a) Pola napas
Pola napas pasien normal, jenis pernapasan pasien normal,
suara napas pasien vesikuler, klien tidak mengalami sesak
napas, dan taktil fremitus : kiri/kanan klien meningkat.
b) Kardiovaskuler (Blood)
Klien memiliki irama jantung regular, klien tidak mengalami
nyeri dada, bunyi jantung klien normal, CRT klien < 3 detik,
akral klien teraba hangat.
c) Persyarafan (brain)/ penginderaan
(1) GCS: (eye: 4, verbal: 5, motorik: 6; total: 15)
(2) Reflek Fisiologis: (+) patella
(3) Reflek Patologis: (-)
(4) Istirahat/tidur: 7 jam/hari
(5) Gangguan tidur: (-)
(6) Penglihatan (mata): pupil (isokor), sclera (normal),
konjungtiva (hiperemis), bentuk hidung (normal), dan klien
mengatakan bahwa dirinya tidak mengalami gangguan
penglihatan, gangguan dengar, serta gangguan penciuman.
37
d) Perkemihan (Bladder)
(a) Kebersihan: Bersih
(b) Jumlah urin: 1500 cc/hr; warna urin: kuning jernih; bau:
pesing
(c) Alat bantu: terdapat selang kateter, karena klien susah
untuk berjalan
(d) Kandung kencing: normal
(e) Gangguan: (-)
e) Pencernaan (Bowel)
(1) Nafsu makan (menurun), frekwensi (2 x/hari), porsi makan
(1/2 porsi/hari)
(2) Mimum (2500 cc/hr).
(3) Mulut dan tenggorokkan: klien tidak mengalami penyakit
mulut dan tenggorokkan.
(4) Abdomen: perut (kembung), peristaltic (7 x/menit).
(5) Pembesaran hepar (-), pembesaran lien (-)
(6) Buang air besar: 1 x/hr, teratur (-), konsistensi (setengah
padat), bau (menyengat), warna (kuning kecoklatan).
f) Musculoskeletal (Bone)
(1) Kemampuan pergerakan sendi (terbatas)
(2) Kekuatan otot: 5555 5555
1111 5555
(3) Warna kulit (pucat), turgor (sedang), edema (-)
Tabel 2.5 Nilai Rentang Gerak (ROM)
Gerak Sendi Kaki Dextra Derajat Rentang Keterangan
Normal
Sendi peluru:
38
Fleksi: gerakan kaki ke depan dan keatas, lutut 40o Terbatas
mengulur atau melentur. 40o
Extensi: gerakkan kaki ke sebelah kaki lainnya. 10o Terbatas
Hiperextensi: gerakkan seiap kaki ke belakang 30o Terbatas
tubuh. 10o
Abduksi: gerakkan masing-masing kaki ke 40o Terbatas
samping luar. 30o
Adduksi: gerakkan masing-masing kaki ke 30o Terbatas
belakang dan ke depan melebihi kaki yang lain. 30o
Sikumduksi: gerakkan masing-masing kaki 30o Terbatas
memutar ke belakang atas, samping, dan ke 5o
bawah secara melingkar. 20o
Rotasi dalam: angkat telapak kaki dan putar ke 10o Terbatas
arah dalam ibu jari sebagi tumpuan. 10o
Rotasi luar: angkat telapak kaki dan putar ke 1o Terbatas
luar dan ibu jari sebagai tumpuan. 30o
30o
Sendi lutut: 10o
Fleksi: bengkokkan kaki ke belakang, dekatkan 10o Terbatas
ke paha. 40o
Ekxtensi: luruskan masing-masing kaki 50o Terbatas
kembali ke posisi semula di samping kaki yang 20o
lain. 25o
Hiperekstensi: bebrapa orang dapat 35o Terbatas
hiperekstensi lutut.
Sendi mata kaki: Terbatas
Extensi: tekuk telapak kaki ke bawah
Fleksi: tekuk telapak kaki ke atas. Terbatas
Sendi jari kaki:
Eversi: putar masing-masing telapak kaki ke Terbatas
samping.
Inversi: putar masing-masing telapak kaki ke Terbatas
tangan.
Fleksi: gerakkan masing-masing ibu jari ke Terbatas
bawah.
Ekstensi: luruskan ibu jari kaki. Terbatas
Abduksi: regangkan masing-masing jari kaki. Terbatas
Adduksi: rapatkan masing-masing jari kaki Terbatas
bersamaan.
Sendi-sendi tubuh:
Fleksi: bungkukkan tubuh ke arah jari kaki. Terbatas
Extensi: luruskan tubuh dari posisi fleksi. Terbatas
Hiperekstensi: bungkukkan tubuh ke arah Terbatas
belakang.
Fleksi lateral: lekukkan tubuh ke kanan dan ke Terbatas
kiri.
Rotasi: lekukkan tubuh dari bagian atas, dari Terbatas
samping ke samping.
g) Endokrin
(1) Tyroid membesar (-)
39
(2) Hiperglikemia (-)
(3) Hipoglikemia (-)
(4) Luka ganggren (-)
h) Personal hygiene
(1) Mandi (1 x/hari, dibantu oleh keluarga)
(2) Keramas (-)
(3) Ganti pakaian (1 x/hari)
(4) Sikat gigi (1 x/hari)
(5) Memotong kuku (1 x/minggu)
i) Psiko-sosio-spiritual
(1) Orang yang paling terdekat (klien mengatakan bahwa klien
paling dekat dengan kedua orang tuanya)
(2) Hubungan dengan teman dan lingkungan sekitar (klien
mengatakan bahwa klien berhubungan baik dengan teman
dan lingkungan di sekitarnya)
(3) Kegiatan ibadah (selama dirawat rumah sakit klien tidak
pernah beribadah)
(4) Konsep diri (klien mengatakan ingin cepat sembuh dari
penyakitnya dan ingin segera pulang).
d. Discharge planning
1) Pengetahuan klien/keluarga tentang penyakit (baik)
2) Keinginan klien/keluarga mengikuti anjuran pengobatan (baik)
3) Kesiapan klien/keluarga terhadap perawatan klien di rumah
(baik)
40
4) Keinginan dan motivasi klien/keluarga mengikuti diet yang
dianjurkan (baik)
5) Keinginan dan motivasi klien/keluarga tentang anjuran
pembatasan (baik).
e. Data penunjang (lab, radiologi, USG, UKG, dan lain-lain)
Tabel 2.6 Pemeriksaan Darah Rutin
Hasil Nilai Rujukan
Pemeriksaan
Hemoglobin 10,4 g/dl 13,0-18,0 g/dl
Eritrosit 4,54 juta/mm3 4,5-6,5 juta/mm3
Leukosit 42,57 4,0-11,00 ribu mm3
Hematokrit 27,9 % 42-52 %
MCV 61,4 FL 73-39 FL
Glukosa Stik 241 mg/dL 70-125 mg/dL
1) BB sebelum sakit: 60 kg
2) Tinggi badan: 165 cm.
3) Panjang luka tulang femur: 15 cm, banyaknya jahitan luar dan
dalam: 30 jahitan, keadaan luka: warna merah, tidak adanya
eksudat, tidak ada jaringan nekrotik di sekitaran bekas operasi
dibagian paha sebelah kanan, kondisi luka basah.
4) Rontegen: terdapat patah tulang di bagian femur dextra.
41
Gambar 2.3 Panggul
Gambar 2.3 Femur
42
Gambar 2.4 Tibia
f. Penatalaksanaan Medis/Terapi
Intravenous Fluid Drip (IVFD) ringer lactate (RL) (20
tetes/menit), ceftriaxone (1gr/12jam, antibiotik), ranitidine
(1amp/12jam, lambung), ketorolac (1 amp/8jam, anti nyeri), salep
gentamixine (obat luka), dan NaCl 0,9 %.
g. Analisa Data
Tabel 2.7 Analisa Data
No Data Penyebab Masalah
1 Subjektif : pasien susah bergerak, Kerusakan Hambatan mobilitas fisik
dan berjalan, karena patah tulang neuromuskuloskeletal
dibagian paha sebelah kanan.
Objektif :
a. Pasien tampak pucat
b. Skala kekuatan otot femur
dextra: 5555 5555
1111 5555
c. Terdapat luka post op fraktur
femur dextra
d. Panjang luka: 15 cm
e. Rontegen: terdapat patah
tulang paha sebelah kanan.
f. Pasien terlihat susah
bergerak dan berjalan
g. Kebutuhan sehari-hari di
43
bantu oleh keluarga.
h. ROM: terbatas
i. Banyaknya jahitan luar dan
dalam: 30 jahitan, keadaan
luka: warna merah, tidak
adanya eksudat, tidak ada
jaringan nekrotik di sekitaran
bekas operasi dibagian paha
sebelah kanan, kondisi luka
basah.
h. Diagnosa Keperwatan
Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan
neuromuskuloskeletal
i. Perencanaan dan Rasional Keperawatan
Tabel 2.8 Perencanaan dan Rasional Keperawatan
No Diagnosa Tujuan dan Kriteria Intervensi Rasional
Keperawatan Hasil
1 Hambatan mobilitas Tujuan: 1. Kaji mobilitas yang ada dan observasi 1. Mengetahui tingkat kemampuan klien
fisik berhubungan Dalam waktu 3x24 jam, peningkatan kerusakan. Kaji secara dalam melakukan aktivitas
dengan kerusakan klien mampu teratur fungsi motorik 2. Imobilisasi yang adekuat dapat
neuromuskuloskeletal melaksanakan aktivitas 2. Atur posisi imobilisasi pada paha menguragi pergerakan fragmen tulang
fisik sesuai dengan 3. Ajarkan klien untuk melakukan latihan yang menjadi unsure utama penyebab
kemampuannya. gerak aktif pada ekstremitas yang tidak nyeri pada paha
sakit 3. Gerakan aktif memberikan massa,
Kriteria Hasil: 4. Bantu klien melakukan latihan ROM, tonus, dan kekuatan tot serta
Klien dapat ikut serta perawatan diri sesuai toleransi merperbaiki fungsi jantung dan
dalam program latihan, 5. Kolaborasi dengan ahli fisioterapi untuk pernapasan
tidak terjadi kontraktur latihan fisik klien 4. Untuk memelihara fleksibelitas sendi
sendi, bertambahnya sesuai kemampuan
kekuatan otot, klien 5. Peningkatan kemampuan dalam
menunjukkan tindakan mobilisasi ekstremitas dapat dicapai
untuk meningkatkan dengan latihan fisik dari tim ahli
mobilitas. fisioterapi
j. Implementasi dan Catatan Perkembangan
Tabel 2.9 Implementasi dan Catatan Perkembangan
Dx/ Implementasi Catatan Perkembangan
Tanggal dan jam
Hambatan mobilitas fisik 1. Mengakaji mobilitas yang ada dan observasi Tanggal 17 Mei 2019, pukul 14.00 wib
berhubungan dengan peningkatan kerusakan. Kaji secara teratur fungsi
kerusakan motorik, hasilnya: S : klien mengatakan masih belum bisa menggerakkan
neuromuskuloskeletal. Klien belum bisa bergerak, warna luka kemerahan, tidak kakinya, dan berjalan, pasien mengatakan dengan
Tanggal 17/04/2019 ada eksudat, tidak ada jaringan nekrotik, kondisi luka diganjal bantal kakinya tidak terlalu begitu sakit kali.
Pukul 09.00 wib basah.
43
44
10.25 wib 2. Mengatur posisi imobilisasi pada paha seperti O: Pasien tampak pucat
menganjal paha dengan bantal atau melakukan traksi. Pasien masih terlihat susah menggerakan kaki sebelah
11.00 wib 3. mengajarkan klien untuk melakukan latihan gerak aktif kanannya.
pada ekstremitas yang tidak sakit seperti gerakan ROM. Pasien mau diajarkan teknik ROM pasif pada kaki
11.30 wib 4. Membantu klien melakukan latihan ROM pada sendi sebelah kanannya.
peluru, dan lutut, perawatan diri sesuai toleransi seperti ROM masih terbatas.
12.00 wib menyisir rambut, memakai baju. TD: 100/80 mmHg, pols: 80 x/menit, suhu tubuh:
12. 35 wib 5. Membantu ahli fisioterapi untuk latihan fisik klien 36,5 oC, RR: 22 x/menit.
6. Memberikan alat bantu jika klien memerlukannya Pasien masih belum bisa menggunakan alat bantu
12.40 wib seperti kursi roda Karena kakinya masih tersa sakit
7. Monitoring vital sign pasien menggunakan skala kekuatan otot femur dextra: 5555 5555
sphygmomanometer, palpasi nadi klien, mengukur suhu 1111 5555
13.00 wib tubuh klien, dan mengukur pernapasan. Warna lukapost op klien kemerahan, kondisi luka
8. Memberikan obat kepada pasien sesuai indikasi seperti basah, tidak ada eksudat, tidak ada jaringan nekrotik.
pemberian salep gentamixine untuk luka operasi klien, Intravenous Fluid Drip (IVFD) ringer
ceftriaxone (1 gr/12jam) antibiotik. lactate (RL) (20 tetes/menit), ceftriaxone
13.36 wib 9. Merawat luka dengan baik dan benar: membersihkan (1gr/12jam, antibiotik), ranitidine
luka dengan menggunakan NaCl 0,9 %, mengangkat (1amp/12jam, lambung), ketorolac (1
sisa balutan perban yang menempel pada luka klien amp/8jam, anti nyeri), salep gentamixine
dengan menggunakan pinset anatomi, mengompres luka (obat luka).
menggunakan salep gentamixine, dan memberikan
balutan perban pada luka yang sudah dibersihkan. A: Masalah hambatan mobilitas fisik berhubungan
dengan kerusakan neuromuskuloskeletal belum teratasi
P : intervensi tetap dilanjutkan
1. Kaji mobilitas yang ada dan observasi peningkatan
kerusakan. Kaji secara teratur fungsi motorik.
2. Atur posisi imobilisasi pada paha
3. Ajarkan klien untuk melakukan latihan gerak aktif
pada ekstremitas yang tidak sakit
4. Bantu klien melakukan latihan ROM, perawatan diri
sesuai toleransi
5. Bantu ahli fisioterapi untuk latihan fisik klien
6. Berikan alat bantu jika klien memerlukannya
7. Monitor vital sign pasien
8. Kolaborasikan dalam pemberian obat.
45
Hambatan mobilitas fisik 1. Mengakaji mobilitas yang ada dan observasi Tanggal 18/04/2019, pukul 14.00 wib
berhubungan dengan peningkatan kerusakan. Kaji secara teratur fungsi
kerusakan motorik, hasilnya: S: pasien mengatakan masih sulit untuk menggerakan
neuromuskuloskeletal Klien belum bisa bergerak, masih terasa sakit jika kaki sebelah kananannya, terkadang kalau digerakan
Tanggal 18/04/2019 digerakkan, dan terasa kaku. terasa sakit, pasien juga mengatakan kaki sebelah
Pukul 09.00 wib kanannya terasa nyaman jika diganjal dengan bantal.
09.30 wib 2. Mengatur posisi imobilisasi pada paha seperti O: Pasien tampak pucat
menganjal paha dengan bantal atau melakukan traksi. Pasien masih terlihat susah menggerakan kaki
09.50 wib 3. mengajarkan klien untuk melakukan latihan gerak aktif sebelah kanannya.
pada ekstremitas yang tidak sakit seperti gerakan ROM. Pasien mau diajarkan teknik ROM pasif pada kaki
10.00 wib 4. Membantu klien melakukan latihan ROM pada sendi sebelah kanannya.
peluru, dan lutut, perawatan diri sesuai toleransi seperti ROM masih terbatas.
menyisir rambut, memakai baju. TD: 110/80 mmHg, pols: 75 x/menit, suhu tubuh:
10.30 wib 5. Membantu ahli fisioterapi untuk latihan fisik klien 36,7 oC, RR: 20 x/menit.
11.00 wib 6. Memberikan alat bantu jika klien memerlukannya Pasien belum bisa menggunakan alat bantu karena
seperti kursi roda dan struk. kaki sebelah kanannya masih sulit untuk digerakkan
11.20 wib 7. Monitoring vital sign pasien menggunakan skala kekuatan otot femur dextra: 5555 5555
sphygmomanometer, palpasi nadi klien, mengukur suhu 1111 5555
tubuh klien, dan mengukur pernapasan. Klien belum bisa bergerak, masih terasa sakit jika
12.45 wib 8. Memberikan obat kepada pasien sesuai indikasi seperti digerakkan, dan terasa kaku.
pemberian salep gentamixine untuk luka operasi klien, Intravenous Fluid Drip (IVFD) ringer
ceftriaxone (1 gr/12jam) antibiotik. lactate (RL) (20 tetes/menit), ceftriaxone
(1gr/12jam, antibiotik), ranitidine
(1amp/12jam, lambung), ketorolac (1
amp/8jam, anti nyeri), salep gentamixine
(obat luka).
A: masalah hambatan mobilitas fisik berhubungan
dengan kerusakan neuromuskuloskeletal belum teratasi
P: intervensi tetap dilanjutkan
1. Kaji mobilitas yang ada dan observasi peningkatan
kerusakan. Kaji secara teratur fungsi motorik.
2. Atur posisi imobilisasi pada paha
46
3. Ajarkan klien untuk melakukan latihan gerak aktif
pada ekstremitas yang tidak sakit
4. Bantu klien melakukan latihan ROM, perawatan diri
sesuai toleransi
5. Bantu ahli fisioterapi untuk latihan fisik klien
6. Berikan alat bantu jika klien memerlukannya
7. Monitor vital sign pasien
8. Kolaborasikan dalam pemberian obat.
9. Rawat luka dengan baik dan benar
Hambatan mobilitas fisik 1. Merawat luka dengan baik dan benar: membersihkan Tanggal 19/04/2019, pukul 14.00 wib
berhubungan dengan luka dengan menggunakan NaCl 0,9 %, mengangkat
kerusakan sisa balutan perban yang menempel pada luka klien S: pasien mengatakan sudah mampu menggerakkan kaki
neuromuskuloskeletal dengan menggunakan pinset anatomi, mengompres luka kanannya ke atas dan kebawah, pasien mengatakan
Tanggal 19/04/2019 menggunakan salep gentamixine, dan memberikan merasa nyaman dengan adanya ganjalan bantal pada kaki
Pukul 09.00 wib balutan perban pada luka yang sudah dibersihkan. kanannya.
09.40 wib 2. Mengakaji mobilitas yang ada dan observasi O: Pasien terlihat sudah mampu menggerakkan kakinya
peningkatan kerusakan. Kaji secara teratur fungsi walaupun sedikit.
motorik, hasilnya: Pasien mau diajarkan teknik ROM pasif pada kaki
Kaki kanan klien sudah degerakkan sedikit ke atas dan kanannya
ke bawah, walau masih terasa agak kaku sedikit, luka Klien masih belum bisa menggunakan alat bantu
bekas operasi sudah mulai mengering, warna luka sudah Pasien masih dibantu oleh keluarga dan perawat
tidak terlalu merah lagi, tidak ada eksudat. dalam memenuhi kebutuhannya sehari-hari.
10.00 wib 3. Mengatur posisi imobilisasi pada paha seperti TD: 110/90 mmHg, pols: 80 x/menit, suhu tubuh:
menganjal paha dengan bantal atau melakukan traksi. 36,7 oC, RR: 21 x/menit.
10.15 wib 4. mengajarkan klien untuk melakukan latihan gerak aktif skala kekuatan otot femur dextra: 5555 5555
pada ekstremitas yang tidak sakit seperti gerakan ROM. 2222 5555
10.30 wib 5. Membantu klien melakukan latihan ROM, perawatan luka bekas operasi sudah mulai mengering, warna
diri sesuai toleransi seperti menyisir rambut, memakai luka sudah tidak terlalu merah lagi, tidak ada
baju. eksudat.
11.00 wib 6. Membantu ahli fisioterapi untuk latihan fisik klien Intravenous Fluid Drip (IVFD) ringer
11.30 wib 7. Memberikan alat bantu jika klien memerlukannya lactate (RL) (20 tetes/menit), ceftriaxone
seperti kursi roda dan struk. (1gr/12jam, antibiotik), ranitidine
12.00 wib 8. Monitoring vital sign pasien menggunakan (1amp/12jam, lambung), ketorolac (1
sphygmomanometer, palpasi nadi klien, mengukur suhu amp/8jam, anti nyeri), salep gentamixine
tubuh klien, dan mengukur pernapasan. (obat luka).
47
12.40 wib 9. Memberikan obat kepada pasien sesuai indikasi seperti
pemberian salep gentamixine untuk luka operasi klien, A: masalah hambatan mobilitas teratasi sebagian
ceftriaxone (1 gr/12jam) antibiotik.
P: intervensi dilanjutkan
1. Kaji mobilitas yang ada dan observasi peningkatan
kerusakan. Kaji secara teratur fungsi motorik.
2. Atur posisi imobilisasi pada paha
3. Ajarkan klien untuk melakukan latihan gerak aktif
pada ekstremitas yang tidak sakit
4. Bantu klien melakukan latihan ROM, perawatan diri
sesuai toleransi
5. Bantu ahli fisioterapi untuk latihan fisik klien
6. Berikan alat bantu jika klien memerlukannya
7. Monitor vital sign pasien
8. Kolaborasikan dalam pemberian obat.
Hambatan mobilitas fisik 1. Mengakaji mobilitas yang ada dan observasi Tanggal 20/04/2019, pukul 14.00 wib
berhubungan dengan peningkatan kerusakan. Kaji secara teratur fungsi
kerusakan motorik, hasilnya: S: pasien mengatakan sudah mampu menggerakkan
neuromuskuloskeletal Kaki kanan klien sudah bisa digerakkan ke atas, ke kakinya sedikit-sedikit, dan sudah mampu menggunakan
20/04/2019 bawah, kiri, dan kanan dengan perlahan-lahan. Luka alat bantu struk perlahan-lahan.
Pukul 09.00 wib bekas operasi klien sudah mongering, dan jahitan
lukanya sudah ada yang dibuka sekitar 9 jahita. O: Pasien terlihat sudah mampu menggerakkan kakinya
09.20 wib 2. Mengatur posisi imobilisasi pada paha seperti sedikit
menganjal paha dengan bantal atau melakukan traksi. Pasien mau diajarkan teknik ROM pasif pada kaki
9.40 wib 3. mengajarkan klien untuk melakukan latihan gerak aktif kanannya
pada ekstremitas yang tidak sakit seperti gerakan ROM. Pasien sudah mampu menggunakan alat bantu
10.00 wib 4. Membantu klien melakukan latihan ROM pada sendi Pasien sudah mampu memenuhi kebutuhan sehari-
peluru, dan lutut, perawatan diri sesuai toleransi seperti harinya dengan mandiri, walaupun terkadang masih
menyisir rambut, memakai baju. dibantu oleh keluarganya.
10.40 wib 5. Membantu ahli fisioterapi untuk latihan fisik klien TD: 100/80 mmHg, pols: 74 x/menit, suhu tubuh: 37,5
o
11.00 wib 6. Memberikan alat bantu jika klien memerlukannya C, RR: 20 x/menit.
seperti kursi roda dan struk. Kaki kanan klien sudah bisa digerakkan ke atas, ke
11.30 wib 7. Monitoring vital sign pasien menggunakan bawah, kiri, dan kanan dengan perlahan-lahan. Luka
sphygmomanometer, palpasi nadi klien, mengukur suhu bekas operasi klien sudah mongering, dan jahitan
48
tubuh klien, dan mengukur pernapasan. lukanya sudah ada yang dibuka sekitar 9 jahita.
12.40 wib 8. Memberikan obat kepada pasien sesuai indikasi seperti
pemberian salep gentamixine untuk luka operasi klien, skala kekuatan otot femur dextra: 5555 5555
ceftriaxone (1 gr/12jam) antibiotik. 3333 5555
A: masalah hambatan mobilitas fisik teratasi sebagian
P: pasien pulang, intervensi dilanjutkan oleh keluarga
dengan memperhatikan asupan nutrisi klien dan obat
klien agar luka bekas operasi klien sembuh total, serta
memberitahu keluarga klien untuk melatih kaki klien
setiap hari agar klien bisa bergerak seperti biasanya, dan
menganjurkan kepada keluarga klien untuk selalu kontrol
kaki kanan klien ke dokter tulang.
8