0% fanden dieses Dokument nützlich (0 Abstimmungen)
56 Ansichten85 Seiten

Modul 3

Das Dokument behandelt Themen im Zusammenhang mit Wellenkontrolle und Druckmanagement bei Bohrarbeiten. Es werden Konzepte wie Hydrostatischer Druck, Formationsdruck und Oberflächendruck erklärt. Des Weiteren werden Ursachen für und Detektion von Druckanstiegen sowie Abläufe für das Abdichten von Bohrungen beschrieben.

Hochgeladen von

charles bronson
Copyright
© All Rights Reserved
Wir nehmen die Rechte an Inhalten ernst. Wenn Sie vermuten, dass dies Ihr Inhalt ist, beanspruchen Sie ihn hier.
Verfügbare Formate
Als PDF, TXT herunterladen oder online auf Scribd lesen
0% fanden dieses Dokument nützlich (0 Abstimmungen)
56 Ansichten85 Seiten

Modul 3

Das Dokument behandelt Themen im Zusammenhang mit Wellenkontrolle und Druckmanagement bei Bohrarbeiten. Es werden Konzepte wie Hydrostatischer Druck, Formationsdruck und Oberflächendruck erklärt. Des Weiteren werden Ursachen für und Detektion von Druckanstiegen sowie Abläufe für das Abdichten von Bohrungen beschrieben.

Hochgeladen von

charles bronson
Copyright
© All Rights Reserved
Wir nehmen die Rechte an Inhalten ernst. Wenn Sie vermuten, dass dies Ihr Inhalt ist, beanspruchen Sie ihn hier.
Verfügbare Formate
Als PDF, TXT herunterladen oder online auf Scribd lesen

Well Control Awareness Training

Daftar Isi

 Tujuan operasi Well Control


 Pressure Basic Concept
 Penyebab & Deteksi Kick
 Prosedur Shut In Sumur
 Well Control Equipment
 Drill
Tujuan Operasi Well Control

Melindungi Melindungi asset


Melindungi
keselamatan produksi & image
lingkungan
manusia perusahaan
• Bebas celaka & • Bebas • Produktifitas
cedera pada tumpahan kerja & investasi
pekerja minyak • Image positif
• Bebas celaka • Kelestarian pada nama
pada orang di lingkungan Perusahaan
sekitar operasi hidup
Pressure Basic Concept
Volume Calculations

Internal Capacity (bbls/ft) using pipe diameter (inches)

ID2
1029.4

Annular Capacity Factor (bbls/ft) using pipe diameters


(inches)

OD2 - ID2
1029.4
Hydrostatic Pressure (HP)
HP = Pressure karena berat fluida

HP (psi) = 0.052 x MW (ppg) x TVD (ft)

Hydrostatic Pressure tidak tergantung


ukuran lubang atau MD

Hydrostatic Pressure adalah


Barrier Utama di dalam Well
Control
Hydrostatic Pressure (HP)
(Equation Triangle)

Pressurepsi

MWppg X 0.052 X TVDft


Formation Pressure (FP)

Formation Pressure adalah pressure dari


formasi (gas, steam atau fluid) yang
berada di dalam formasi/ reservoir.
Kick

Kick adalah aliran fluida yang tidak


dikehendaki dari formasi menuju ke
lubang sumur.

Kick terjadi jika:


HP < FP
Surface Pressure
Jika FP melebihi HP, sumur
perlu di shut-in dan kita
bisa dapatkan Surface
Pressure (SP) dari
pembacaan gauge.
Tubing Pressure
Casing Pressure
Nilai SP akan bertambah
sampai nilai Bottom Hole
Pressure (BHP) sama
dengan FP sehingga aliran
kick berhenti
Bottomhole Pressure (BHP)
(Jumlah dari HP& SP di dalam sumur)

Jika BHP kurang dari FP, sumur


dalam kondisi underbalance
(well flows)

Setelah sumur ditutup BHP = FP.


Sumur dalam kondisi balance
dan influx berhenti.

Waktu untuk mendapatkan


BHP=FP akan tergantung pada
nilai premeabilitas batuan.
Surface Pressure
Keterlambatan shut in sumur
akan membuat influx
bervolume besar.
Hydrostatic pressure dalam
sumur berkurang.
SP akan besar sehingga bisa jadi
melebihi kapasitas desain
sumur (pressure rating).

Penting untuk meminimalkan jumlah influx di sumur/


pit gain agar surface pressure tetap kecil
Pengendalian Tekanan di Sumur
Prinsip Operasi Well Control

Primary WC: Aktifkan


Hydrostatic Secondary
• HP workover WC
fluid > (Mechanical)
formation • string  FOSV,
pressure check valve
• annular BOP

Mengembalikan
barrier ke primary WC
 Killing Operation
Penyebab & Deteksi
KICKS
Penyebab KICKS
• Abnormal pressure
• Berat fluida yang kurang
• Efek loss circulation
• Swabbing dan surging saat tripping
• Kegagalan mekanis
• Proses pengerasan semen
• Human error / Lack of crew training

Kick dapat terjadi kapan saja dan dari type formation apa saja
Human Error
 KurangnyaTraining
 Proper certification dari kompetensi kru.
 Well Control Drills
 Komunikasi yang Buruk
 Perencanaan Kerja yang tidak bagus.
 Pre job meetings harus mereview rencana
kontigensi jika hal di luar prosedur terjadi
 Tugas tanggung jawab kru perlu di berikan
secara jelas di awal.
Stop
Setiap kru diberikan mandat untuk melakukan Stop
ketika dijumpai kondisi beresiko.
Positive Kick Indicator
Ketika Drilling / Circulating
 Flow ketika pompa mati
 Bertambahnya Flow
 Pit gain

Ketika Tripping
 Deviasi Trip log
 Short fill-ups tripping out
 Excess pit gain tripping in
 Positive flow ketika kondisi pipa static

DRILLER MUST SHUT-IN well !


Deteksi Positif Indikator

 Flow Show equipment (Alarm Settings?)


 Pit level indicator or Pit Volume Totalizer (PVT)
 Pengamatan Flow line
 Trip Tank / Trip Logs
Possible Kick Indicators
Real Time (Saat terjadi Kick)
 Drilling Breaks (ROP naik atau turun)
 Ganti drilling parameters (Torque dan Drag)
 Turunkan pump pressure saat drilling

After Bottoms-up
 Peningkatan koneksi/ trip / background gas
 Perubahan jumlah cutting/ ukuran / bentuk
 Perubahan sifat lumpur (Pemeriksaan / pengujian lumpur)
 Perubahan suhu di flowline

DRILLER harus bereaksi dengan tepat


Company man harus mengklarifikasi respons yang diinginkan
Deteksi Kick Indicators
Siapa yang bertanggung jawab untuk
mendeteksi adanya kick?

Ingat, penting untuk mendeteksi kick secara dini


untuk meminimalkan ukuran influx sehingga
meminimalkan surface pressure
KICKS
SHUT-IN
Shut in - Procedures
Prosedur harus dibuat dan dipraktekkan untuk setiap
kegiatan di rig:
 Drilling  Completion
 Tripping  Wireline
 Running casing  Testing
 Cementing  Workover

MINIMIZE INFLUX
Minimize Surface Pressures
Tripping Shut in Procedure (3S’s)
1. Driller membunyikan alarm (alert crew)
2. Stab full opening safety valve & CLOSE
3. Spaceout (posisi string di BOPE)
4. Shut-in (BOP teratas)
[Link] positive shut-in di drill string dan annulus
[Link] toolpusher / operator’s rep
7. Baca & catat informasi kick :
SICP / Pit Gain / Waktu
8. Persiapan untuk striping string ke bawah sumur
Drilling Shut in Procedure (3S’s)

1. Driller membungikan alarm (alert crew)


2. Space out (posisi string di BOP)
3. Shut down (stop pumps)
 Flow check jika benar-benar diperlukan
4. Shut-in (BOP teratas)
5. Pastikan sumur sudah shut-in
6. Beritahu toolpusher / operator’s rep.
7. Baca dan catat informasi kick :
SIDPP / SICP / Pit Gain / Waktu
Workover / Completion
Pertimbangan Shut – In ketika running/ pulling completion
string atau completion tools lainnya
• Bagaiman cara anda shut in sumur jika kick terjadi saat
posisi gravel pack screens, slotted liners, ESP cable dsb
berada di BOP?
– FOSV dilengkapi XO pada satu join DP/ string

– Kemungkinan shearing and dropping

• Apakah barrier kita cukup untuk menutup well?


• Apakah ukuran ram tersedia untuk semua ukuran tubulars di
sumur?
Wireline
Shut In Considerations
• Desain lubricator yang handal untuk wireline operations
• Panjang lubricator harus cukup untuk menampung wireline tool
string
• Mempunyai alat untuk memotong wireline pada saat
emergency. (Umumnya Shear rams tidak bisa memotong
wireline)
Shut in - Types

 Hard Shut-In: Operasi dengan choke dan HCR tertutup


 Tutup preventer (annular)

 Soft Shut-In: Operasi dengan choke terbuka dan HCR tertutup


 Buka HCR
 Tutup preventer
 Tutup choke

Hard Shut-in adalah metoda tercepat (minimize kick size)


Tanggung Jawab Shut-in

Driller dan kru harus mempunyai tanggung jawab mandiri untuk shut-in
secepat mungkin, menggunakan prosedur yang selamat.
 Shut-in sumur
 Cek apakah sumur benar-benar shut in
 Beritahu Coreps dan Toolpusher

Driller dan kru harus mendapatkan training yang cukup


Well Control Drill
Pit Drill HARUS dilakukan selama operasi drill atau
sirkulasi, setidaknya 2 kali per minggu per kru.
Trip Drill HARUS dilakukan pada operasi trips in atau
trips out, setidaknya 2 kali per minggu per kru.

Prosedur
 Coy man/ toolpusher memulai drill dengan memberi tanda kick palsu.

 Amati kemampuan driller mendeteksi kick tersebut dan catat waktunya.

 Amati kemampuan kru melakukan prosedur shut-in sumur dan catat


waktunya (Umumkan drill sesaat sebelum Driller melakukan shut in)

 Drill kru untuk menempati posisi masing-masing setelah shut-in


WELL CONTROL
EQUIPMENT
Choke Manifold and Kill Path Line-Up
C O

C O O
O
O Normally Open
C Normally Closed

C C
C
Master
C

C C

Identifikasi dan line-up the kill path for drilling operations


Volume yang dibutuhkan untuk mengisi Mud Gas Separator harus diketahui dan
dapat dikonfirmasi selama choke drill
Merekomendasikan untuk menggunakan Mud Gas Separator yang diisi dengan
menggunakan lumpur
Annular Preventers
 Dapat menutup hampir semua koondisi (open hole,
wireline, any pipe OD, BHA)
 Tidak bisa menutup sumur pada dual string atau
string dengan ESP power cables.
 Tidak dapat dikunci pada saat posisi close.
 Dapat digunakan untuk stripping.
 Pressure operasi normal 500 - 1500 psi.
 Tidak disarankan dipakai menerus di atas 180° F
Ram Preventers

 Terdiri dari elemen yang spesific untuk:


blind / fixed size pipe / dual / variable bore (VBR) / shear
 Pressure operasi normal 1500 psi
 Pressure operasi maksimum 3000 psi  shear
 Dapat dikunci pada posisi tutup baik secara manual atau
otomatis.
DP/ String Float (Check valve)
Plunger Type Flapper Type Keuntungan
Menahan fluida masuk ke dalam
string (influx atau efek U tube)
Mencegah bit plug dari efek u tube.

Pertimbangan
Memerlukan bump float untuk
membaca SIDPP
Tidak bisa digunakan untuk wireline
Float valve HARUS dipasang
pada operasi drilling Meningkatkan surge / trip-in time
Menambah potensi kolaps pada string
Pastikan arah pemasangan
float benar (tidak terbalik)
Full Open Safety Valve (FOSV, TIW, DSSV)
Adalah manual block valve yang
dibuka tutup dengan wrench.
Perlu dilengkapi handling tools yang
sesuai seperti small crossover dengan
handle atau rings untuk memudahkan
proses stabbing di string.
Posisinyaopen di atas rig floor di
lengakapi dengan wrench yang sesuai.
Jangan RIH dengan kondisi close.
Pastikan FOSV tersedia untuk semua
ukuran string yang digunakan.
Inside Blow Out Preventer (IBOP)
Check valve untuk menahan tekanan fluida
masuk ke dalam string
- IBOP selalu dalam posisi open di rig floor
- IBOP distab di atas FOSV
- Lepaskan dart / float dan lepas setting tool
body.
-
IBOP OD / xo’s harus sesuai dengan ukuran BOPE,
WH, casing.
Wireline tidak dapat melewati profil dalam
iBOP
Annular packed off
Steam/kick yang keluar dari string
akan lebih kuat pada saat annular
ditutup. Kemungkinan kontak dengan
Annular BOP presonal yang ada di floor lebih besar
closed on Well Kick

Pemompaan air dari


annulus tidak optimal
karena penyumbatan di
annular

Penyumbatan
Annulus

Zona Steam
tidak
mendapatkan
air pendingin
42
Mechanical Barrier di String
Steam/kick lewat string ditahan
oleh float vave.
Annular BOP
closed on Well Kick + sumur di shut in lebih cepat
dengan menutup annular

Pada saat kick,


influx tidak masuk string dan
bisa menuju annulus

Penyumbatan
Annulus

Aliran cool down


tetap bisa mencapai formasi
43
Tanggung jawab Kru
Memastikan peralatan well control dan sparepart
tersedia dan sesuai pada setiap jenis operasi.

Memastikan peralatan well control bisa


dioperasikan:
 Pressuretest pada konfigurasi BOP
 FOSV & iBOP tersedia di floor dengan ukuran XO yang
sesuai.

Bisamendeteksi adanya kick sedini mungkin


(Semua kru bertanggung jawab untuk bisa
mendeteksi kick baik shakerman, derrickman,
roughneck, driller, toolpusher, mud engineer, mud
loggers, company man dsb)
Tanggung Jawab Kru
 Memastikan prosedur shut in yang aman tersedia pada
setiap jenis operasi.
 Prosedur ini telah dipahami oleh setiap orang yang terlibat.

 Menjaga komunikasi yang lancar diantara kru di setiap saat.

Peran ANDA di setiap posisi sangat


menentukan suksesnya operasi well
control
Penutup

 Selalu tanamkan pada diri anda:

“Apakah saya mempunyai cukup


peralatan dan kru yang mampu
mengendalikan sumur dengan aman
setiap saat termasuk saat ini”.
Peralatan  Accumulator & BOP Pressure Test
Crew  BOP drill (trip & pit drill)
Situasi Well Control (baca: berbahaya) dalam
pekerjaan Work over

1. Sebelum nipple down X-tree. Tahap ini adalah awal proses killing sebuah sumur.
 Proses Cooling down untuk mendapatkan tekanan stabil
 Proses killing dengan menggunakan kill fluid/ lumpur berat
 Pastikan sumur dapat berada dalam keadaan aman selama waktu yang diperlukan
untuk pekerjaan n/d x-tree
 Observasi
 Menggunakan back pressure valve untuk well Injector
 Puncher sebelum untuk Venturi Choke Injector
2. Selama pekerjaan mencabut/ running tubing
 Pastikan sirkulasi sumur dengan air selalu dilakukan
 Jika fluid level tidak dapat dideteksi (lost circulation), pastikan pemompaan air untuk
mengisi sumur dilakukan secara terus menerus +/- 3bpm
3. Running dan Mencabut Venturi Choke packer
 Cooling down dan observasi. Pastikan pemompaan air dapat dilakukan melalui
tubing ataupun annulus setiap waktu (Tubing puncher, memancing bull plug)
 Sebelum menurunkan/ mencabut VC, pastikan sumur sudah tidak bertekanan
 Selama menurunkan/ mencabut VC, pastikan air secara terus menerus
dipompakan melalui tubing dan atau annulus
 Pekerjaan harus dihentikan apabila persediaan air tidak mencukupi. Persediaan
air harus direncanakan dan dipersiapkan sebelum pekerjaan dimulai
Situasi Well Control dalam
pekerjaan Work over
3. Saat running dan mencabut screen liner
■ Annular BOP tidak dapat meng-isolasi tekanan sumur melalui screen liner
■ Pastikan sumur dalam keadaan aman sebelum mencabut/ running liner.
■ Pastikan pemompaan air secara terus menerus dilakukan
■ Apabila terjadi kick:  ERP kick
■ Bila Kick tidak terkendali Tutup sumur dengan Blind-Shear ram
4. Saat memancing retrievable/permanent packer
■ Pastikan pemompaan air secara terus menerus dilakukan
■ Selalu memasang circulating sub. Dengan alat ini proses pemompaan air lewat
annulus akan selalu dapat dilakukan, dan juga akan sangat mengurangi
kemungkinan terdorongnya tubing dan packer karena tekanan sumur
■ Selalu menggunakan inside BOP, alat ini untuk melindungi kita dari semburan sumur
melalui string
ERP (Emergency Response Plan)
jika ada steam
PENANGGULANGAN SEMBURAN LIAR
1. Bunyikan alarm
2. Semua personel meninggalkan rig floor dan monkey board
dengan selamat untuk menghindari kontak dengan air
panas/ uap atau gas H2S. Dilarang berusaha memasang
Poor Boy !!!!
3. Tutup Annular BOPE dari accumulator
4. Tingkatkan kecepatan pemompaan air menjadi 5 BPM,
diset langsung dari Pompa
5. Observasi semburan
6. Segera Lapor kepada Team Leader untuk penanganan
berikutnya
Annular packed off - Steam/kick yang keluar dari
string akan lebih kuat pada saat
annular ditutup. Kemungkinan
kontak dengan presonal yang ada
Annular BOP di floor lebih besar
closed on Well Kick

Pemompaan air dari


annulus tidak optimal
karena penyumbatan di
annular

Penyumb
atan
Annular

Zona Steam
tidak
mendapatkan
air pendingin
51
Mechanical Barrier in
String
Steam/kick thru string is blockage
by the inside BOP.

Annular BOP
+ Well can be close immediately
closed on Well Kick by a single action; closing annular

In the event of annular


packed, cooling water can be
pumped thru circulating sub

Annular
packed
off

Enable Cool down


down on
steam zone
52
Penggunaan Inside BOP dan
Circulating Sub

53
Proses Cooling Down di Sumur
Produksi
(Untuk well yang di-hand over dari WCT/Flow back tank dan/atau well dengan shut in pressure rendah)

STEP - 1

Bleed off trapped pressure.


Take initial SICP/SITP

Pump 100 bbls of water

Check Shut in Pressure

Decrease/ constant
Increase

Pumping Bleed Off Well


Cooling Water
Proses Cooling Down di Sumur Produksi
(Untuk well yang di-hand over dari WCT/Flow back tank dan/atau well dengan
shut in pressure rendah)

Pumping Cooling Water Bleed Off

Bleed off well


Pump 100 bbls of STEP - 2 +/- 100 bbls
water

Check shut in Check shut in


pressure (10 min) pressure (10 min)

If Increase, go
If Increase, go
Decrease to Pumping step
to bleed off step Trend of Decrease
Trend of
SICP/SITP SICP/SITP

Stabilize Stabilize

No Yes Yes
3 x stabilize? 3 x stabilize? No

Yes Stabilized No
EMW<11 ppg

Spot kill fluid Pending

Setelah total volume pemompaan mencapai 1500 bbls, bila tidak ditemukan indikasi
penurunan pressure, atau pressure stabil dengan EMW diatas 11 ppg, diskusikan langkah
selanjutnya dengan Coyman
55
Perhitungan Kill Fluid

Berat KF (ppg) =

*Safety factor Berat KF untuk DSF adalah 0.5 ppg

TVD : Adalah kedalaman (feet) vertikal bahagian sumur paling dangkal yang
terbuka ke formasi.

Casing shoe pada OHGP

Top perforasi pada CHGP

Top perforasi pada sumur Injector

Kedalaman casing bocor


Persiapan

1. Pressure gauge
 Tubing pressure: 0 – 600 psi
 Annulus Pressure : 0 – 600 psi
 Pump control panel (floor): 0 – 2500 psi
2. Pumping manifold  Memiliki akses untuk melakukan:
 Pemompaan dari annulus – bleed off dari tubing
 Pemompaan dari tubing – bleed off dari annulus
3. Kondisi hose dan connection dalam keadaan baik
4. Kondisi pompa dalam keadaan baik
 Pemompaan s/d 4 bpm, 500 psi
5. Killing water tersedia dengan cukup
Rig up Operasi Killing

Pumping line Return line to


Tank
Primary Well Control: Hydrostatic
 Kondisi abnormal
 HP wellbore rendah (lubang ada steam?)
 Densitas steam lebih rendah dari formation water
 Dipengaruhi Temperature & Pressure (steam table)

 Diganti dengan Formation water?


 Kolom formation water di wellbore:
 Continues vs intermitten: rate 3 BPM cukup?
 Steam trap di bawah packer/ seal

 Perlukah killing fluid  merubah densitas?


 Cooling dulu dengan cukup rate & volume buat kolom air
Primary Well Control: Hydrostatic

 Potensi Kegagalan Primary Well Control


 Fase Steam breakthrough (>350 F ??)
 Sulit membuat stabil kolom air di sumur
 Pemompaan terus menerus
 Memperberat densitas/ killing
 Mitigasi:
 Monitor temperature
 Mematikan connected injector di sekitar
 Pastikan volume & laju cooling fluid cukup  continuous flow
Primary Well Control: Hydrostatic

 Potensi Kegagalan Primary Well Control


 Swabbing
 Efek vakum  menarik steam masuk ke lubang
 Clearance
 Tripping Speed

 Mitigasi:
 Menghindari clearance string-sumur yang kecil
 BHA saat fishing
 Sand wash job
 Monitor tripping speed. Berapa speed sekarang?
Primary Well Control: Hydrostatic

 Potensi Kegagalan Primary Well Control


 Annular Packed Off
 Menghalangi cooling fluid masuk di bawah annular
 Clearance
 Sand off/ debris

 Mengurangi kolom hidrostatik,  BHP<FP


 Mitigasi:
 Cooling off lewat string?
 Circulating sub  akses cooling water melewati string
 BHA saat fishing
 Sand wash job
Primary Well Control: Hydrostatic

 Potensi Kegagalan Primary Well Control lainnya


 Zona dengan loss rate tinggi
 Abnormal pressure zone saat perforasi
 Komunikasi zone dibelakang casing
 Ketersediaan cooling water
 Reliability pompa (rate, pressure etc)
 Human Error

Perlu back-up Secondary WC:


Mechanical Barriers
Primary Well Control: Hydrostatic
 Potensi Kegagalan Primary Well Control
 Annular Packed Off
 Mitigasi:
 Cooling down lewat string?
 Circulating sub  akses cooling water
melewati string

Annular
packed
off

64
Primary Well Control: Hydrostatic
Kegagalan Primary Well Control pada umumnya terjadi bila
zona loss dan zona steam flow terdapat dalam satu wellbore.

Keadaan ini menyebabkan cooling down tidak effektif


karena sebagian besar cooling water yang di pompakan
tidak ber-kontak dengan steam, tapi justru hilang ke zona
loss.

Sedapat mungkin salah satu zona tersebut di-shut off

Diversion technique pada saat pemompaan cooling water


masih merupakan sebuah chalange ……

65
Secondary Well Control:
Mechanical
 Bagian yang harus memiliki mechanical barrier
 Annular:
 BOP stack saat operasi wellwork
 Casing valve, tubing head saat operasi sumur
 String
 Solid float (iBOP, FOSV, check valve)  workover string
 Wireline plug/ check valve  production string
 Back Pressure Valve  install BOP Masih OK
dengan
 Fullbore Master Valve  install rod BOP Monitor
 Rod BOP  sucker-rod Hidrostatik?
Secondary Well Control:
Mechanical
 Annular Mechanical Barrier:
 Menutup anulus dengan beberapa diameter string
 Dapat menutup dengan cepat
 Mampu memegang string saat kondisi pipe-light
 Ketinggian BOP stack
 Ketahanan terhadap temperature
 Kemampuan stripping back
v.s.
 Harga preventer
Secondary Well Control:
Mechanical
 Annular Mechanical Barrier:
 Personal Assessment
Secondary Well Control:
Mechanical
Annular Mechanical Barrier
 Industry practice merekomendasikan penggunaan SBR
 SBR, dua fungsi yang bisa diaplikasikan
 bypass pressure  memotong (3,000 psi)
 Perlu booster?
 regular pressure  hold string saat pipe light (1,500 psi?)
 Resiko: string tetap akan rusak.
 Rate cooling water  impact pada preventer rating (temperature)
 Diperlukan kecepatan reaksi untuk memulai increase cooling water
 VBR lebih tahan panas karena metal to metal contact
 No industry practice available untuk high temp VBR atau annular.
Secondary Well Control:
Mechanical
 String Mechanical Barriers:
 Industry practice merekomendasikan adanya string mechanical
barriers.
 2 mechanical barriers bisa bekerja bersamaan. General aplication:
 Float/ check valve
 Stab FOSV& iBOP selama well control event
Secondary Well Control:
Mechanical
 String Mechanical Barriers:
 Dampak tidak adanya string mechanical barriers:
 Tumpuan barriers hanya pada cooling rate, acceptable?
 Resiko spill hot water+oil, tujuan operasi WC tidak tercapai.
 Menurunkan surface pressure:
 Kecepatan steam flow out bertambah (diameter kecil)
 Fase steam lebih tidak terkontrol (lihat pada steam table)
Secondary Well Control:
Mechanical
 String Mechanical Barriers:
 Kondisi Pipe-light:
 Operasi well control harus didesain untuk mampu
memberikan fasilitas dengan mechanical barrier yang
cukup agar tidak terjadi flow.
 Annular – VBR – SBR  harus bisa memegang string
 Adjust closing pressure untuk hold pipe
 Annular : tidak reliable
 VBR: more reliable
 SBR: reliable tapi merusak string  adjust closing pressure
Secondary Well Control:
Mechanical
 String Mechanical Barriers:
Issue seputar
Well Control
Konfigurasi BOP disesuaikan dengan kondisi, Class 2 atau Class 3?

Penentuan kelas BOP harus didasarkan pada mitigasi dan assessment plan terhadap resiko
operasi yang dihadapi. Disamping kelas BOP harus juga diperhatikan pemilihan jenis
preventer, pressure rating dan temperature rating, ketahanan rubber element, termasuk
infrastruktur yang mendukung untuk membuat mechanical barrier yang cukup serta faktor
lainnya.

BOP harus didesain mampu untuk menahan flow secara mekanis baik dari sisi annulus/ inside
casing dan inside tubing. Tidak terpasangnya float valve di dalam string dan
diperbolehkannya flow terjadi via tubing pada operasi sekarang menjadi tidak sesuai dengan
filosofi ini.

Penentuan konfigurasi BOP di dilakukan assessment dan sesuai dengan kondisi setempat.

Kelas BOP pada konfigurasi BOP menunjukkan jumlah preventer yang terpasang pada well
control system. Kelas 3 berarti sistem mempunyai 3 preventer dalam satu stack yang tentu
akan memiliki ketahanan yang lebih bagus dibandingkan BOP kelas 2.
Apakah choke manifold diperlukan dan apa bisa digunakan circulating
manifold?
Choke manifold adalah alat untuk mengontrol aliran balik (pressure & rate) yang biasa digunakan
pada well control untuk menjaga BHP relatif konstan selama operasi well control (Driller’s, wait&weight,
lube&bleed etc). Metode yang tidak mempunyai aliran balik adalah bullhead yang banyak dijumpai
pada operasi workover pada daerah subnormal.
Drilling harus menggunakan Driller methods sehingga setiap sistem well control harus mempunyai
fasilitas termasuk di dalamnya choke manifold. Demikian pula standard API RP 53 membahas
diperlukannya manifold ini. Bagaimanapun fasilitas ini tetap diperlukan untuk memberi alternatif jika
metode bullhead gagal dilakukan.
Circulating manifold terpasang pada discharge killing pompa/ tangki, dipakai untuk mengontrol
besarnya aliran masuk ke dalam sumur (Cooling rate). Manifold ini banyak digunakan pada mechanical
pump, dimana sulit untuk mendapatkan rate kecil meskipun digunakan setting pompa paling rendah.
Dengan mengatur split mengembalikan sebagian rate kembali ke tangki, desain rate yang masuk ke
sumur bisa dikontrol.
Apakah Koomey / accumulator system harus terpasang disetiap well
control? Apakah bisa digunakan hydraulic rig engine?

API RP53 & API SPEC 6D menghendaki agar accumulator system mempunyai syarat-syarat
tertentu seperti kecukupan closing volume, closing time, redundant pressure system, precharge
pressure yang bisa dipenuhi oleh koomey/ accumulator system. Meskipun API ini untuk aplikasi
drilling, filosofi utamanya adalah memberikan system yang capable dan responsif saat
dibutuhkan.
Praktek penggunaan hydraulig rig engine (bahkan dengan manual closing) masih ditemui pada
operasi workover di beberapa negara seperti Venezuela, Midland, Minas dan daerah lainnya.
Pertimbangan resiko daerah operasi, prediksi perilaku reservoir harus di analisa untuk memperoleh
mitigasi yang jelas untuk hal ini.
Apa keuntungan dan kerugian dipasang float valve
dibanding open ended?
Float Valve Open Ended
Sebagai mechanical barrier menahan flow Tanpa Well Control mechanical barierrs, tidak
melewati string punya proteksi di string karena tidak cukup
waktu memasang FOSV

Sebagai deteksi dini kick (pipe-light) Tidak mempunyai alat deteksi dini terjadinya
terutama pada reservoir berkondisi sub kick, waktu untuk bereaksi menjadi sedikit
normal. Karena well tidak mempunyai return, atau tidak ada
deteksi kick lewat flow tidak bisa didapatkan
dengan cepat
Membatasi operasi wireline/ CT di dalam Bisa dilakukan operasi wireline/ CT di dalam
string string
Tidak bisa/ membatasi dilakukan reverse Bisa dilakukan reverse circulation
circulation
Meningkatkan potensi surging saat RIH & Dampak surging lebih sedikit
juga swabbing untuk aplikasi blind plug. Pada
loss zone hal ini tidak begitu berpengaruh.
Hambatan aliran saat sirkulasi lewat string Sedikit hambatan saat sirkulasi melewati
string
Kapan dan mengapa harus dipasang circulating sub?

Circulating sub adalah alat agar terdapat hubungan/ komunikasi antara tubing dengan
annulus. Sub ini bisa diganti dengan perforated tubing dengan ukuran lubang dan space
yang cukup untuk memungkinkan aliran tanpa hambatan dari annulus ke string. Letaknya di
bawah Float Valve untuk memastikan tidak ada back flow di dalam string.
Circulating valvedipasang saat desain program mengidentifikasi terdapat potensi
penyumbatan aliran di annular seperti saat running BHA dengan casing clearance kecil,
sand washing job, packer retrieve dsb.
Fungsi utama:
 Mempertahankan kecukupan kolom cooling water pada daerah dibawah string saat
kejadian annular packoff .  BHP>FP.
 Membuka jalan flow lewat annulus saat kejadian kick. Operasi killing lebih efektif karena
kill line berada di daerah annular, jarang pompa ready untuk kill lewat string.
 Menghidari trap pressure di bawah string pada aat annular packoff dan kick terjadi
bersamaan.
Lebih baik bullhead atau driller methods?

Dari wawancara dengan representatif workover di beberapa daerah, sekitar 90% operasi
killing di workover dilakukan dengan bullhead. Pada update sertifikasi IADC 2009, porsi
metode bullhead disetujui untuk diperbesar tanpa mengecilkan porsi operasi killing dengan
metode driller atau metode lainnya.
Semua metode well control mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing
sehingga tidak bisa dikatakan mana yang lebih baik. Beberapa oil company menyatakan
Driller Methods sebagai pilihan utama untuk operasi Drilling tetapi tidak menutup
kemungkinan penggunaan metode yang lain.
Metode bullhead banyak menjadi pilihan terutama pada kondisi reservoir subnormal di
daerah operasi yang depleted. Tetapi ada kalanya operasi bullhead tidak berhasil
mengembalikan influx, seperti pada saat terjadi perforation plug, broken u-tube, sand-off
dan sebagainya.
Untuk itu infrastruktur untuk circulating methods (driller, reverse, w&w, volumetric,) tetap
harus disediakan untuk memberi alternatif jika operasi bullhead mengalami kendala.
Hal hal yang perlu diperhatikan
Menginspeksi dan mengawasi operasi perawatan sumur dan PSL

Menginspeksi dan mengawasi oeprasi perawatan sumur dan Pencegah semburan liar (PSL) :
• Menyiapkan peralatan
 Peralatan unit dan PSL diidentifikasi terlebih dahulu
 Schema alat unit & PSL disiapkan
 Form laporan dipersiapkan dan schema peralatan
 Perlengkapan inspeksi seperti Unit perawatan, schema peralatan, tool kit, prosedur operasi

• Lakukan inspeksi unit perawatan dan peralatan PSL


 Indikator pelumas diamati, saluran hidrolis dilihat/diperhatikan
 Operasional unit di perhatikan
 Unit PSL diperiksa sesuai dengan SOP pemeriksaan
 Panel dan indicator dicoba dan diamati
 Hal yang menyimpang dicatat
 Perlengkapan pemeriksaaan PSL, unit PSL, schema peralatan, saluran hidrolis, tool kit, prosedur
operasi

• Memeriksa kondisi pekerjaan


 Seluruh hasil inspeksi di evaluasi
 Laporan inspeksi dibuatkan termasuk jika ada kecelakaan
 Perintah kerja di susun untuk di distribusikan serta data operasional dan form laporan dilengkapi
Membuat program analisis tekanan fluida di dalam sumur, serta mengatasi problem
yang timbul

Siapkan peralatan :
• Peralatan kerja diidentifikasi terlebih dahulu
• Data tekanan dan fluida sumur disiapkan, tekanan sumur, sifat fisik fluida.
• Perlengkapan perhitungan tekanan fluida, data tekanan, sifat fisik fluida,Well
profile dan prosedur perhitungan
• Perlengkapan penyusunan program analisis seprti data peralatan
permukaan, data problema sumur, well profile, SOP, Prosedur prosedur
lainnya
• Perlengkapan untuk pemeriksaan kondisi pekerjaan seperti alat tulis,
computer .

Menghitung tekanan fluida :


• Data fluida dicatat untuk perhitungan kedalaman sumur dan tekanan
diperhitungkan
• Hasil perhitungan dicatat
Memeriksa kondisi pekerjaan : Seluruh hasil Analisa di
Menyusun program analisis serta mengatasi problem :
evaluasi, laporan Analisa dibuatkan, permintaan pekerjaan
• Kebutuhan peralatan permukaan dicatat
• Volume dan jenis fluida dianalisa disuse, program mengatasi problem disusun.
• Urutan program disusun Peraturan untuk melaksanakan ini meliputi:
• Problem sumur di evaluasi serta Menyusun peralatan 1. Peraturan/Kebijakan Management Perusahaan
• Menghitung tekanan fluida
• Menyusun program analisai 2. Undang Undang tentang K3
• memeriksa kondisi pekerjaan 3. Peraturan Safety Insurance Perusahaan
Memilih alternatif, jika menghadapi kesulitan pada setiap tahap operasi
Perlengkapan untuk memilih alternatif, jika menghadapi kesulitan pada setiap tahap operasi, mencakup:

• Perlengkapan persiapan peralatan (program kerja, profil sumur, daftar peralatan)


• Perlengkapan memprediksi problema operasi (komputer, program perhitungan, prosedur alternatif, SOP)
• Perlengkapan pemilihan alternatif pekerjaan (kalkulator, spesifikasi peralatan, hasil perhitungan, program
kerja, SOP)
• Perlengkapan pemeriksaan kondisi pekerjaan (spesifikasi peralatan, hasil perhitungan, program kerja, SOP)
• Peralatan yang diperlukan diidentifikasi dan dipersiapkan
• Urutan program kerja disiapkan

Memprediksi problema operasi :


• Kemungkinan problema diprediksi
• Beberapa metoda/ cara pekerjaan diperhitungkan serta urutan metoda dijelaskan

Tugas memilih alternatif, jika menghadapi kesulitan pada setiap tahap operasi, meliputi :
• Menyiapkan peralatan
• Memprediksi problema operasi
• Memilih alternatif pekerjaan
• Memeriksa kondisi pekerjaan

Peraturan untuk melaksanakan ini meliputi :


• Peraturan/Kebijakan Management Perusahaan
• Undang Undang tentang K3
• Peraturan Safety Insurance Perusahaan
Menyusun perintah dalam penggunaan peralatan pelaksanaan pekerjaan
Perlengkapan untuk menyusun perintah dalam penggunaan peralatan pelaksanaan pekerjaan, mencakup:
• Perlengkapan persiapan peralatan (program kerja, manual book, daftar alat yang dibutuhkan)
• Perlengkapan penyusunan perintah (komputer, telepon/radio, gambar kerja, SOP)
• Perlengkapan penjelasan penggunaan peralatan (infocus, white board, gambar kerja, SOP)
• Perlengkapan pemeriksaan kondisi pekerjaan (gambar kerja, SOP)
• Peralatan yang akan dimasukkan kedalam sumur diidentifikasi
• Susunan peralatan disiapkan
• Semua peralatan kerja di persiapkan

Tugas menyusun perintah dalam penggunaan peralatan pelaksanaan pekerjaan, meliputi:


• Menyiapkan peralatan
• Menyusun perintah
• Menjelaskan penggunaan peralatan
• Memeriksa kondisi pekerjaan
• Program peralatan disusun
• Hal khusus diberi tanda yang jelas
• Program kerja didistribusikan

Menjelaskan penggunaan peralatan :


• Crew terkait dikumpulkan ( meeting )
• Peralatan dijelaskan dan termasuk fungsi dan kegunaan
• Tanggung jawab kerja masing masing di berikan
Memeriksa kondisi kerja :
• Urutan pekerjaan diperiksa
• Perilaku pekerja diawasi
• Kondisi lingkungan diamati

Peraturan untuk melaksanakan unit ini meliputi :


• Peraturan/Kebijakan Management Perusahaan
• Undang Undang tentang K3
• Peraturan Safety Insurance Perusahaan

TERIMA KASIH

Das könnte Ihnen auch gefallen