0% fanden dieses Dokument nützlich (0 Abstimmungen)
11 Ansichten24 Seiten

B 034

analisis ini mengenai fasies

Hochgeladen von

Alamsyah
Copyright
© All Rights Reserved
Wir nehmen die Rechte an Inhalten ernst. Wenn Sie vermuten, dass dies Ihr Inhalt ist, beanspruchen Sie ihn hier.
Verfügbare Formate
Als PDF herunterladen oder online auf Scribd lesen
0% fanden dieses Dokument nützlich (0 Abstimmungen)
11 Ansichten24 Seiten

B 034

analisis ini mengenai fasies

Hochgeladen von

Alamsyah
Copyright
© All Rights Reserved
Wir nehmen die Rechte an Inhalten ernst. Wenn Sie vermuten, dass dies Ihr Inhalt ist, beanspruchen Sie ihn hier.
Verfügbare Formate
Als PDF herunterladen oder online auf Scribd lesen
PROSIDING SEMINAR NASIONAL KEBUMIAN KE-12 BOSAUNE TEKNIK GEOLOGI, FAKULTAS TEKNIK, UNIVERSITAS GADIAH MADA 5.8 September 2019; Hotel Alona Yogyakarta STUDI PALEOGEOGRAFI PADA FORMASI TALANG AKAR, BLOK X, CEKUNGAN JAWA BARAT UTARA. Jarot Setyowiyoto ", Marcelinus Febbi Arismara ?, Alvian Bonar Saputra* 'Departemen Tekoik Geologi, Liniversitas Gadjah Mada “Corresponding Author: jtyeviyolo@gmail cow ABSTRAK Daerah penelitian termasuk ke dalam Blok X, Cekungan Jawa Barat Utara ‘Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan litofasies dan stratigrafi sikuen pada Formasi Talang Akar dan untuk menentukan Kondisi paleogeografi dari daerah penelitian menggunakan metode ABC, Metode ABC merupakan metode penentuan paleogeografi menggunakan data seismik berdasarkan atas 3 Komponen, yaitu A (batas atas seismik), B (batas bawah seismik), dan C (pola internal refleksi). Data yang digunakan dalam perelitian adalah data wireline log, mud log, conventional core, sidewall core, dan seismik 2D, Data wireline log, rmudlog, conventional core, dan sidewall core digunakan dalam analisis litofasies dan stratigrafi sikuen daerah perelitian, sedangkan data seismik 2D digunakan dalam aralisis Kondisi paleogeografi daerah_ perelitian. Berdasarkan analisis data, didapatkan sebanyak 16 litofasies dan 4 fasies pengendapan yang berkembang pada daerah perelitian dan dihasilkan peta paleogeografi daerah penelitian pada tiap sequence boundary yang merepresentasikan sikuen pengendapan dibawahnya, Formasi Talang Akar pada daerah penelitian terdiri atas fasies tidal platform, Jagoon - rid mounds, sand shoal - foreslope, dan toe of slope — open shelf. Fasies — fasies tersebut menunjukkan bahwa Formasi Talang Akar terendapkan pada lingkungan laut dangkal (shoal - rimmed platform), Kata kunci: kondisi paleogeografi, Metode ABC, Stratigrafi Sikuen, Cekungan Jawa Barat Utara, Formasi Talang Akar I. PENDAHULUAN Indonesia merupakan negara dengan salah satu pendapatannya berasal dari sektor migas. Permintaan pasar yang besar memicu kegiatan eksplorasi dan eksploitasi dilakukan secara terus menerus sehingga diperlukan kajian yang dapat membantu optimalisasi ke giatan tersebut. Salah satu kajian yang dewasa ini dilakukan adalah kajian mengenai paleogeografi dan stratigrafi sikuen yang dinilai dapat memberikan gambaran mengenai persebaran fasies baik secara lateral maupun vertikal yang berimplikasi pada arah eksplorasi. 7240 eran timu Kebumian Dalim Pergembangan Geowisata, Geolonsenasi &.Geohertage Serta Memperingat 35 Tahun Kampus Lapangan Geobogi UGH "Pot Soeroso Notohadiprawire” saya, rbten PROSIDING SEMINAR NASIONAL KEBUMIAN KE-12 BOSAUNE TEKNIK GEOLOGI, FAKULTAS TEKNIK, UNIVERSITAS GADIAH MADA. 5.8 September 2019; Hotel Alana Yogyokarta Daerah penelitian termasuk ke dalam Cekungan Jawa Barat Utara yang merupakan salah satu cekungan tersier di Indonesia yang memiliki panjang 250 km dan lebar 70 km dan difokuskan pada Blok X yang secara geografis terletak pada bagian utara dari kota Cirebon (Gambar 1), Pada cekungan ini, lapisan utama yang berproduktif hhampir terdapat pada seluruh formasi mulai dari batuan vulkaniklastik pada Formasi Jatibarang hingga batugamping pada Formasi Parigi. Tujuan dari penelitian, antara lain menentukan litofasies dan lingkungan pengendapan dari daerah peneltiian dan mendapatkan paleogeografi daerah penelitian saat pengendapan menggunakan metode ABC. Metode ABC merupakan metode penentu paleogeografi menggunakan data seismik yang pertama kali dipopulerkan oleh Ramsayer (1979) berdasarkan atas 3 Komponen, yaitu A (batas atas seismik), B (batas bawah seismik), dan C (pola internal refleksi) Usaha dalam penentuan paleogeografi ini tentunya diawali dengan aralisis stratigrafi sikuen yang dapat memberikan gambaran mengenai persebaran fasies berdasarkan kerangka waktu yang sama, Pemahaman stratigrafi sikuen yang dapat menggunakan kronostratigrafi, biostratigrafi, maupun tektonostratigrafi tanpa mengkesampingkan litologi yang ada diharapkan mampu menjelaskan kejadian, pelamparan, dan geometri dari fasies pengendapan, Il. GEOLOGI REGIONAL Secara geografis, Cekungan Jawa Barat Utara berada di Laut Jawa yang ‘memanjang dari bagian utara Jawa Barat hingga bagian utara Jawa Tengah. Pada bagian selatan dibatasi oleh Paparan Sunda, di bagian Barat Laut dibatasi oleh Zona Pengangkatan Karimun Jawa, dan di bagian Timur dibatasi oleh Paparan Pulau Seribu. 1, Tatanan Tektonik dan Struktur Geologi Regional Cekungan Jawa Barat bagian Utara secara regional termasuk ke dalam sistem busur belakang belakang (back - arc basin), Aktivitas tektonik menghasilkan sesar turun dengan tren N-S hingga bagian utara dari cekungan yang mempengaruhi sedimentasi pada Cekungan Jawa Barat Utara dan sesar naik pada bagian selatan dengan tren E-W. Selain itu, Cekungan Jawa Barat yang dipengaruhi oleh sistem blok faulting berarah N-S membagi Cekungan ini menjadi beberapa sub cekungan. Menurut Gresko, dkk, (1995) perkembangan sedimentasi dan tektonik pada Cekungan Jawa Barat Utara memiliki keterkaitan dengan 5 aktivitas tektonik besar pada Indonesia bagian barat yang berlangsung pada akhir Cretaceous hingga Akhir Miosen, yaitu: 241 eran timu Kebumian Dalim Pergembangan Geowisata, Geolonsenasi &.Geohertage Serta Memperingat 35 Tahun Kampus Lapangan Geobogi UGH "Pot Soeroso Notohadiprawire” saya, rbten PROSIDING SEMINAR NASIONAL KEBUMIAN KE-12 BOSAUNE TEKNIK GEOLOGI, FAKULTAS TEKNIK, UNIVERSITAS GADIAH MADA. 5.8 September 2019; Hotel Alana Yogyokarta - Akhir Cretaceous — Awl Eosen (100-56 Ma) ‘Metamorfisme regional yang dihasilkan oleh subduksi dan perkembangan Busur Meratus. Deformasi, pengangkatan, erosi, dan pendinginan yang berlangsung pada Paleocene - Eosen (50 - 40 Ma) Lempeng India mengalami Kolisi dengan Lempeng Eurasia yang berdampak pada pemekaran Kraton Sunda bagian selatan (phase I syn-rift) - Oligosen (34-30 Ma) Pemekaran (rifting) pada Laut Cina Selatan dan akresi pada bagian utara Kalimantan. Lempeng Australia mengalami kolisi dengan beberapa busur Kompleks (phase It syn-rift) -Pertengahan Miosen (17 - 10 Ma) Berakhirnya pemekaran Laut Cina Selatan yang dilanjutkan dengan Kolisi antara bagian benua Gondwana (utara Australia / Irian Jaya) dengan batas timur Kraton Sunda - Akhir Miosen (7-5 Ma) Batas barat laut Australia mengalami kolisi dengan Palung Sunda Peristiwa tektonik yang mempengaruhi perkembangan sedimentasi Cekungan Jawa Barat Utara dapat terbagi menjadi tiga fase tektonik, yaitu: fase rifting, fase sagging, dan fase inversion, Fase rifting sendiri oleh Gresko, dkk, (1995) dapat dibagi lagi menjadi dua fase, yaitu: phase I sprit dan phase I spr-rift yang kemudian diakhiri dengan fase post rift sa yang mengavrali fase sagging dan dilanjutkan dengan fase inversion 2. Stratigrafi Regional Menurut Gresko, dkk, (1995) stratigrafi Cekungan Jawa Barat Utara tersusun atas 7 Formasi yang urutannya dari tua ke muda, yaitu: Batuan dasar (basement), Formasi Jatibarang, Formasi Talang Akar, Formasi Baturaja, Formasi Cibulakan Atas, Formasi Parigi, dan Formasi Cisubuh (Gambar 2), Penelitian pada Cekungan Jawa Barat Utara int difokuskan pada Formasi Talang Akar yang berdasarkan karakteristik litologinya dapat terbagi menjadi 2, yaitu: Talang Akar bagian bawah dan Talang Akar bagian atas. Talang Akar bagian bawah tersusun atas sedimen mon - marine coarse grained, massive, pebbly conglomerate, medium ~ coarse grained litharenite sandstone dengan porositas medium — poor dan kandungan fosil yang jarang hingga fine Iacustrine mndstone dengan kehadiran mineral aksesoris berupa pyrite, glauconite, fosil fragmen, dan kehadiran batubara yang ‘minor. Sedangkan Talang Akar bagian atas tersusun atas medium — fine grained sandstone 242 eran timu Kebumian Dalim Pergembangan Geowisata, Geolonsenasi &.Geohertage Serta Memperingat 35 Tahun Kampus Lapangan Geobogi UGH "Pot Soeroso Notohadiprawire” saya, rbten PROSIDING SEMINAR NASIONAL KEBUMIAN KE-12 BOSAUNE TEKNIK GEOLOGI, FAKULTAS TEKNIK, UNIVERSITAS GADIAH MADA. 5.8 September 2019; Hotel Alana Yogyokarta (carbonaceous - calcareous, rare planktonic, small benthic foram, larger benthic), mudstone, ‘marine shale (poorly consolidated, carbonaceous, glauconitic), limestone (dolomaitic) pada bagian atas yang terbentuk pada lingkungan transgresif, hingga batubara (Gresko, dkk., 1995). Talang Akar bagian atas terendapkan pada lingkungan laut dangkal (transitional — inner neritic environment) dengan umur N4- N7 (Arpandi dan Patmosukismo, 1975), III. | METODE PENELITIAN Metode perelitian dalam perelitian ini terbagi menjadi 4 tahapan, yaitu: 1. Tahapan Persiapan dan Studi Pustaka Pada tahapan ini dilakukan pengumpulan dan pengkajian studi pustaka yang terkait dengan tema penelitian. Sumber pustaka yang dikaji bersumber dari penelitian — penelitian terdahulu, berupa buku, jurnal ilmiah, dan artikel ilmiah, 2. Tahapan Pengumpulan Data Pada tahapan ini dilakukan pengumpulan data. Data yang digunakan berupa data sekunder yang terdiri atas: data wireline log yang berasal dari 6 sumur dengan persebaran yang merata pada daerah penelitian (Gambar 1), data seismik 2D berjumlah 22 line seismik, data batuan inti (conventional core & sidewall core), dan data nud log dengan Kesediaan data mengacu pada Tabel 1 3. Tahapan Pengolahan dan Analisis Data Pada tahapan ini dilakukan pengolahan data dengan menggunakan software Petrel 2015 dan Adobe Photoshop CC 2017. Mula - mula dilakukan penentuan batas tiap formasi (top and bottom formation) yang didasarkan pada data pada well report ataupun completion log. Penentuan litologi dilakukan secara Kualitatif dan dilakukan validasi terhadap interpretasi litologi menggunakan data sidewall core, conventional core, dan data mud log. Setelah itu, analisis litofasies dan lingkungan pengendapan dan dilanjutkan dengan analisis elektrofasies untuk penentuan batas stratigrafi sikuen dan picking horizon pada bidang seismik menggunakan batas stratigrafi sikuen dari analisis sebelumnya, 4, Tahapan Interpretasi dan Sintesis Data Pada tahapn ini dilakukan interpretasi lingkungan pengendapan yang didasarkan pada model lingkungan pengendapan laut dangkal shoal - rinened platform (Einsele, 1992), Korelasi kronostratigrafi sehingga didapatkan persebaran fasies secara lateral dan vertikal, dan analisis paleogeografi daerah perelitian menggunakan metode ABC. Metode ABC (Ramsayer, 1979) merupakan metode penentuan paleogeografi menggunakan data seismik yang didasarkan pada 3 Komponen, yaitu A (batas atas 243 eran timu Kebumian Dalim Pergembangan Geowisata, Geolonsenasi &.Geohertage Serta Memperingat 35 Tahun Kampus Lapangan Geobogi UGH "Pot Soeroso Notohadiprawire” saya, rbten PROSIDING SEMINAR NASIONAL KEBUMIAN KE-12 BOSAUNE TEKNIK GEOLOGI, FAKULTAS TEKNIK, UNIVERSITAS GADIAH MADA. 5.8 September 2019; Hotel Alana Yogyokarta seismik), B (batas bawah seismik), dan C (pola refleksi internal) yang didapatkan dari analisis karakteristik seismik pada bidang seismik. Output yang dihasilkan dari metode ABC ada 3, yaitu: Peta Kode ABC yang merupakan integrasi dari peta daerah penelitian dengan seluruh kode ABC yang teridentifikasi pada daerah perelitian, Peta Sintesis ABC yang merupakan peta hasil pengelompokan kode ABC yang sama sehingga membentuk batas antar kode ABC yang berbeda, dan Peta Paleogeogafi yang pembuatannya didasarkan pada batas antar kode ABC pada peta Sintesis ABC dan dijadikan sebagai batas antar lingkungan pengendapan dengan kontrol dari data sumur. IV. _ANALISIS STRATIGRAFI SIKUEN DAERAH PENELITIAN 1, Lingkungan Pengendapan Daerah Penelitian Langkah awal dalam aralisis lingkungan pengendapan daerah penelitian adalah dilakukan penentuan litologi yang dilakukan secara kualitatif berdasarkan defleksi pada pola log batuan. Kemudian, dilakukan validasi terhadap interpretasi litologi aval menggunakan data mud log, sidewall core, dan conventional core sehingga didapatkan interpretasi litologi yang sesuai kondisi sebenamya. Langkah selanjutnya adalah penentuan litofasies dan elektrofasies. Penentuan litofasies diawali dengan pembuatan tabel integrasi data rmid log, sidewall core, dan conventional core untuk mempermudah dalam penentuan litofasies, Berdasarkan hasil analisis data, didapatkan sebanyak 16 litofasies yang berkembang pada daerah penelitian (Tabel 2). Penentuan elektrofasies dilakukan dengan memperhatikan pola log geormna ray pada masing ~ masing sumur yang mengindikasikan lingkungan pengendapan tertentu. Langkah akhir dilakukan analisis fasies pengendapan yang mencirikan suatu lingkungan pengendapan tertentu. Penentuan fasies pengendapan didasarkan pada model lingkungan pengendapan laut dangkal shoal - rinoned platform (Einsele, 1992). Berdasarkan hasil analisis, didapatkan sebanyak 4 fasies pengendapan pada daerah penelitian (Tabel 3) 2. Stratigrafi Sikuen Daerah Penelitian Analisis stratigrafi sikuen dilakukan untuk mengetahui perubahan dinamika sedimentasi yang berpengaruh pada perubahan lingkungan pengendapan pada daerah penelitian. Berdasarkan analisis yang dilakukan, daerah penelitian yang difokuskan pada Formasi Talang Akar terbentuk selama dua kali sikuen pengendapan (Gambar 3 -5), 3. Korelasi Penampang Stratigrafi Korelasi yang dilakukan adalah Korelasi kronostratigrafi yang diharapkan mampu memberikan gambaran mengenai perubahan fasies baik secara lateral maupun vertikal 244 eran timu Kebumian Dalim Pergembangan Geowisata, Geolonsenasi &.Geohertage Serta Memperingat 35 Tahun Kampus Lapangan Geobogi UGH "Pot Soeroso Notohadiprawire” saya, rbten PROSIDING SEMINAR NASIONAL KEBUMIAN KE-12 BOSAUNE TEKNIK GEOLOGI, FAKULTAS TEKNIK, UNIVERSITAS GADIAH MADA. 5.8 September 2019; Hotel Alana Yogyokarta berdasarkan Kerangka waktu yang sama. Korelasi dilakukan dengan datum pada ‘macirun flooding surface 2. Korelasi kronostratigrafi yang dilakukan mencakup 4 lintasan, yaitu: - Lintasan A - A’, mencakup sumur X-1, X-2, dan X-6 yang berarah barat laut - tenggara (Gambar 6). - Lintasan B - B’, mencakup sumur X-3, X-4, dan %-5 yang berarah barat laut - tenggara (Gambar 7). - Lintasan C - C’, mencakup sumur X-3 dan X-2 yang berarah timur laut - barat daya (Gambar 8) - Lintasan D-D’, mencakup sumur X-4, 5, dan X-6 yang berarah timur laut — barat daya (Gambar 9) V. _ ANALISIS SEISMIK DAN PALEOGEOGRAFI DAERAH PENELITIAN Data seismik yang digunakan dalam analisis data sebanyak 22 line seismik dengan. tahapan: well seismic tie, picking horizon SB-1 hingga SB-3 yang berperan sebagai marker pada bidang seismik, penentuan karakteristik seismik tiap sikuen pengendapan, dan pembuatan peta paleogeografi dengan menggunakan metode ABC. Tujuan dilakukannya analisis seismik ini adalah untuk mengetahui perubahan pola refleksi seismik tiap sikuen pengendapan secara lateral dan pengaruhnya terhadap perubahan lingkungan pengendapan, 1. Analisis Data Seismik Pada tahapan ini dilakukan penentuan karakteristik seismik tiap sikuen pengendapan untuk mengetahuti perubahannya secara lateral dan pengaruhnya terhadap perubahan lingkungan pengendapan. Tahapn ini diawali oleh proses well seismic tie Formasi Talang Akar didominasi oleh pola refleksi internal berupa parallel — sigmoid. Berdasarkan analisis seismik yang dilakukan, didapatkan Karakteristik seismik tiap sikuen sebagai berikut: a. Sikuen pengendapan 1 Konfigurasi refleksi internal seismik yang mendominasi berupa parallel. Bagian utara dan selatan didominasi oleh pola refleksi internal parallel, sedangkan pada daerah tengah didominasi oleh pola refleksi internal sigmoid yang mengindikasikan daerah shelf ‘margin, hal tersebut didukung oleh perubahan litofasies penciri fasies pengendapan pada bagian utara daerah penelitian yang didominasi oleh litologi nnd - dominated yang berangsur berubah ke arah selatan menjadi prograding sand dan menjadi mud - dominated Kembali, Sikuen 1 memiliki batas atas berupa concordant toplqp (khususnya pada daerah 25) eran timu Kebumian Dalim Pergembangan Geowisata, Geolonsenasi &.Geohertage Serta Memperingat 35 Tahun Kampus Lapangan Geobogi UGH "Pot Soeroso Notohadiprawire” saya, rbten PROSIDING SEMINAR NASIONAL KEBUMIAN KE-12 BOSAUNE TEKNIK GEOLOGI, FAKULTAS TEKNIK, UNIVERSITAS GADIAH MADA. 5.8 September 2019; Hotel Alana Yogyokarta shelf margin), sedangkan batas bavrah berupa concordant, onlqp, dan downlap (khususnya pada daerah shelf margin) (Gambar 10). b. Sikuen pengendapan 2 Konfigurasi refleksi internal seismik yang mendominasi sama seperti sikuen pengendapan 1, yaitu berupa parallel. Bagian utara dan selatan didominasi oleh pola refleksi internal parallel, sedangkan pada daerah tengah didominasi oleh pola refleksi internal sigmoid yang mengindikasikan daerah shelf margin, hal tersebut didukung dengan perubahan litofasies penciri fasies pengendapan. Sikuen 2 memiliki batas atas berupa concordant - topiqp (khususnya pada daerah shelf margin), sedangkan batas bawah berupa concordat, onlap, dan downlap (khususnya pada daerah shelfmergin) (Gambar 11), 2. Paleogeografi Daerah Penelitian Studi paleogeografi pada daerah peneltian dilakukan menggunakan metode ABC (Ramsayer, 1979). Output yang dihasilkan berupa, Peta Kode ABC, Peta Sintesis ABC, dan Peta Paleogeografi yang dilakukan dengan time cut pada tiap sequence boundary yang teridentifikasi. Berdasarkan hasil analisis, berikut merupakan penjelasan paleogeografi pada tiap sequence boundary: a. Sequence Boundary 2 Penentuan paleogeografi pada sequence bounday 2 ditentukan berdasarkan Karakteristik seismik dari pola sikuen di bawahnya (sikuen pengendapan 1), Berdasarkan peta paleogeografi yang dihasilkan, terdapat 3 jenis fasies pengendapan yang teridentifikasi, yaitu: lagoon — mad mounds, sand shoal - forelope, dan toe of slope - open shelf. Berdasarkan fasies pengendapan yang teridentifikasi dan bentukan morfologi yang teramati pada bidang seismik 2D, lingkungan pengendapan yang terbentuk pada saat SB- 2 termasuk ke dalam lingkungan pengendapan sloal - rinoned platform (Einsele, 1992) (Gambar 12). b. Sequence Boundary 3 Penentuan paleogeografi pada sequence bounday 3 ditentukan berdasarkan Karakteristik seismik dari pola sikuen di bawahnya (sikuen pengendapan 2). Paleogeografi yang terbentuk pada SB-3 tidak jah berbeda dengan SB-2, terdapat 3 jenis fasies pengendapan yang teridentifikasi, yaitu: lagoon - md mounds, sad shoal - foreslope, dan toe of slope - open shelf Berdasarkan fasies pengendapan yang teridentifikasi dan bentukan morfologi yang teramati pada bidang seismik 2D, lingkungan pengendapan yang terbentuk pada saat SB-3 termasuk ke dalam lingkungan pengendapan shoal - rinmned platform (Einsele, 1992) (Gambar 13) 246 eran timu Kebumian Dalim Pergembangan Geowisata, Geolonsenasi &.Geohertage Serta Memperingat 35 Tahun Kampus Lapangan Geobogi UGH "Pot Soeroso Notohadiprawire” saya, rbten PROSIDING SEMINAR NASIONAL KEBUMIAN KE-12 BOSAUNE TEKNIK GEOLOGI, FAKULTAS TEKNIK, UNIVERSITAS GADIAH MADA. 5.8 September 2019; Hotel Alana Yogyokarta Berdasarkan hasil analisis paleogeografi, di seluruh peta paleogeografi ‘menunjukkan orientasi pengendapan yang sama yaitu dari arah utara (N) ke selatan (S). Hal ini juga didasarkan pada perubahan fasies secara lateral yang ditunjukkan oleh data sumur yang semakin ke arah selatan semakin menunjukkan fasies laut, Selain itu pula, ditunjukkan dengan morfologi yang dapat teramati pada bidang seismik dan disimbolkan pada Peta Kode ABC dengan simbol arah panah yang menunjukkan batas atas berupa toplqp pada bagian utara dari shelf margin dan batas bawah berupa downly pada bagian selatan dari shelf margin. Interpretasi arah pengendapan sedimen penyusun Formasi Talang Akar dan Formasi Baturaja daerah peneltian juga didukung oleh kajian pada peneliti terdahulu (Clement & Hall, 2007) yang meneliti tentang analisis stratigrafi regional dan evolusi tektonik hingga rekonstruksi paleogeografi di Cekungan Jawa Barat Utara pada Zaman Kapur - Akhir Miosen, yang menghasilkan paleogeografi pada kala Oligosen — AKhir Oligosen, yang merupakan waktu terendapkannya Formasi Talang Akar bagian atas dengan lingkungan pengendapan berupa lingkungan darat — transisi pada bagian utara dan semakin ke arah selatan berubah menjadi lingkungan pengendapan laut lepas, Sedimen pembentuk Formasi Talang Akar merupakan produk dari fase transgresi pertama dalam siklus sedimentasi Neogen (Gresko, dkk,, 1995), Hal tersebut dibuktikan pada daerah perelitian dengan perubahan litologi dari sedimen silisiklastik yang ditunjukkan pada sikuen pengendapan 1 menjadi mixed sillisiclastic - carbonate pada sikuen pengendapan 2. Melalui hal tersebut dapat terlihat bahwa terjadi kenaikan muka air laut yang signifikan sehingga memungkinkannya karbonat untuk berkembang. Selain itu, Kondisi air laut yang cenderung transgresif (slow transgression), menghasilkan produk sedimen mengkasar ke atas/ progradasi, sehingga lingkungan pengendapan daerah penelitian termasuk ke dalam progradation shelf, dibuktikan dengan penampang seismik 2D (Gambar 11) yang memperlihatkan perkembangan shelfmargin ke arah laut. VI. _KESIMPULAN DAN SARAN 1. Kesimpulan Berdasarkan hasil dari perelitian dapat ditarik beberapa kesimpulan untuk menjawab tujuan dari penelitian, yaitu: - _ Litofasies yang berkembang pada daerah penelitian ada 17, yaitu: fasies argillaceous packstone, fasies dolomitic packstone — grainstone, fasies siliceous packstone - grainstone, fasies chalky - fossiliferous mudstone — packstone, fasies argillaceous mudstone - wackestone, fasies dolomttic mudstone - wackestone, fasies argillaceous sadstone, fasies argillaceous ~ carbonaceous sandstone, fasies calcareous sandstone, fasies carbonaceous sardstone, fasies 247 eran timu Kebumian Dalim Pergembangan Geowisata, Geolonsenasi &.Geohertage Serta Memperingat 35 Tahun Kampus Lapangan Geobogi UGH "Pot Soeroso Notohadiprawire” saya, rbten PROSIDING SEMINAR NASIONAL KEBUMIAN KE-12 BOSAUNE TEKNIK GEOLOGI, FAKULTAS TEKNIK, UNIVERSITAS GADIAH MADA. 5.8 September 2019; Hotel Alana Yogyokarta carbonaceous shale, fasies calcareous shale, fasies argillaceous shale, fasies limestone, fasies shale, fasies coal dengan 4 fasies pengendapan, yaitu: fasies Jagoon — mud mounds, fasies tidal platform, fasies sand shal - foreslope, dan fasies toe of slope — open shelf yang mencirikan lingkungan pengendapan laut dangkal shoal rivmned platform (Einsele, 1992) - Kondisi paleogeografi berupa lingkungan laut dangkal shoal rinoned platform (Einsele, 1992) yang termasuk ke dalam prograding shelf dan tersusun atas sedimen produk fase transgresi (slow transgression), Hal tersebut dibuktikan dengan data regional (Gresko, dk, 1995), perubahan litologi dari sedimen sillisiclastic menjadi sedimen maxed silisiclastic - carbonate, dan morfologi yang terlihat pada seismik 2D yang menunjukkan perkembangan fasies pengendapan ke arah laut dengan arah sedimentasi pada saat pengendapan berarah utara -selatan (N - S). 2. Saran Berikut beberapa saran dari peneliti terkait penelitian lanjutan yang mungkin dapat dilaksanakan dengan tema yang serupa - Dapat disertakan deskripsi struktur sedimen dan petrografi batuan karbonat sehingga ‘mampu mengidentifikasi penentuan SB lebih rinci khususnya pada batuan karbonat dan dapat melakukan identifikasi lingkungan pengendapan daerah perelitian secara lebih baik; - Dapat disertakan studi evolusi struktur dari daerah penelitian sehingga dapat menceritakan sejarah perkembangan basin sehingga membentuk bentukan morfologt saat ini - Petlunya dilakukan update atau pembaharuan terhadap informasi mengenai paleogeografi regional berdasarkan penelitian - penelitian beru yang menggunakan data dan metode masa kini DAFTAR PUSTAKA Arpandi dan Patmosukismo, S, 1975, The Cibulakan Formation as One of the Most Prospective Stratigraphic Units in The Northwest Java Basinal Area, Indonesia Petroleum Association, 4th Annual Convention, Juni 1975, p. 181 - 210. Bishop, M. G,, 2000, Petroleum system of The Northwest Java Province, Java and Offshore Southeast Sumatra, Indonesia, U.S. Department of the Interior U.S. Geological Survey, Colorado, Open File Report 99-50R, Boggs, S,, 2006, Principles of Sedimentology aud Stratigraphy, New Jersey: Pearson Prentice Hall, 662 p. Catuneaus, O., 2006, Principles of Sequence Stratigraphy, Italy: Elsevier, 375 p. 248 eran timu Kebumian Dalim Pergembangan Geowisata, Geolonsenasi &.Geohertage Serta Memperingat 35 Tahun Kampus Lapangan Geobogi UGH "Pot Soeroso Notohadiprawire” saya, rbten PROSIDING SEMINAR NASIONAL KEBUMIAN KE-12 BOSAUNE TEKNIK GEOLOGI, FAKULTAS TEKNIK, UNIVERSITAS GADIAH MADA. 5.8 September 2019; Hotel Alana Yogyokarta Clements, B., dan Hall, R., 2007, Cretaceous to Late Miocene Stratigraphic and Tectonic Evolution of West Java, Indonesian Petroleum Association, 31st Annual Convention, Mei 2007, IPAO7-G-037, 18 p. Einsele, G,, 1992, Sedimentary Basin Evolution, Facies, and Sediment Budget, New York: Springer — Verlag Berlin Heidelberg, 628 p. Ghifarry, M. F,, Syafri, I, Mohamad, F,, dan Mualimin, 2017, Fasies dan Lingkungan Pengendapan Formasi Talang Akar, Cekungan Jawa Barat Utara, Padjajarat Geoscience Journal , V. 1, p. 183 - 191. Gresko, M,, Suria, C., dan Sinclair, S, 1995, Basin evolution of the Ardjuna rift system and its implications for hydrocarbon exploration, offshore Northwest Java, Indonesia, Indonesian Petroleum Association, 24th Annual Convention, Oktober 1995, IPA95- 1.1078, 13 p. Hancock, N.J,, 1992, Quick - Look Lithology from Logs, in Morton ~ Thompson, D. dean Woods, Amold M,, ed., ME 10: Development Geology Reference Manual, USA. Maulana, A., 2017, Fasies dan Stratigrafi Sikuen Formasi Birang dan Formasi Talih untuk Penentuan Paleogeografi Menggunakan Data Log Sumur dan Seismik 2D, Lapangan Kesuma, Daerah Cekungan Kalimantan Timur, (tidak dipublikasikan, skripsi Sl): Yogyakarta Universitas Gadjah Mada. Miall, A. D., 1997, The Geology of stratigraplye Sequences, New York: Springer-Verlag Berlin Heidelberg, 433 p, Mitchum, R. M., 1977, Seismic Stratigraphy aid Global Changes of Sea Level, Part 2: The Depositional Sequence as a Basic Unit for Stratgraphic Analysis, in Payton, Charles E., Seismic Stratigraphy - Aplications to Hydrocarbon Exploration, Tulsa: American Association of Petroleum Geologist, p. 53 — 62 Ramsayer, GR. 1979, Seismic Stratigrply, A Fundanental Exploration Tool, Offshore teclnology Conference 3568, Houston, Texas. Selley, R. C,, 1985. Ancient Sedimentary Environments aud their sub — surface diagnosis, London: Springer — Science and Business Media, 317 p. SEPM, 1927, Sequence Stratigraphy: http:|/wrnw [Link]/page aspx? &pageid=229&3 (Diakses pada Juli 2018), Snedden, J.W. dan Sarg, |.F., 2008, Seismic Stratigraply - A Primer on Methodology, Search and Discovery Article #40270. 249 eran timu Kebumian Dalim Pergembangan Geowisata, Geolonsenasi &.Geohertage Serta Memperingat 35 Tahun kampus Lapangan Geologi UGM "Prof Soeroso Notohadiprawiro’ Baya, Kisten PROSIDING SEMINAR NASIONAL KEBUMIAN KE-12 BOSAUNE TEKNIK GEOLOGI, FAKULTAS TEKNIK, UNIVERSITAS GADIAH MADA. 5.8 September 2019; Hotel Alana Yogyokarta Travis, R. B,, 1955, Classification of Rocks; Quarterly of the Colorato School of Mines, Vol. 50, No. 1: [Link] html (diakses pada Desember 2019) Udgata, D., 2007, Glauconite As An Indicator of Sequence Stratigraphic Package In Lower Paleocene Passive — Margin Shelf succession, Central Alabama (tidal diterbitkan, tesis) : Alabama, Auburn University, Alabama, Van Wagoner, J. C, Mitchum, R.M., Campion, K.M, dan Rahmanian, V.D,, 1990, Silisiclastic Sequences, Stratigraphy Sequences in Well Logs, Cores, aud Outerops, Tulsa: The American Association of Petroleum Geologist, 55 p. Veeken, P, C. H,, dan Moerkerhen, B,, 2013, Seisnnic Stratigraply and Depositional Facies ‘Models, Netherlands: EAGE, 467 p. Walker, R. G, dan James, N. P,, 1992, Facies Models Response to Sea Level Change, Ontario: Geological Association of Canada, 409 p. 0 eran timu Kebumian Dalim Pergembangan Geowisata, Geolonsenasi &.Geohertage Serta Memperingat 35 Tahun Kampus Lapangan Geobogi UGH "Pot Soeroso Notohadiprawire” saya, rbten PROSIDING SEMINAR NASIONAL KEBUMIAN KE-12 BO34UNE TERK CEOLOCL PRLS RIC UNTERSTAS CAD ADA Tabel 1. Tabel ketersediaan data Targa a Somer | S829 | wae | T erect | we | come | sam- wat | iat | "OP | Sama PRA TBERE] not | epee | toning | oe tr | vy | ma py po Vp pe pe pepe a me yy po pepe pe pe pepe pe mM py pe pvp pe pe pe pe pe me yy po pepe pe pe pepe pe me py pe pepe pe pe pe po pe Tabel 2. Tabel litofasies No. Litofasies 1 Fasies argillaceous packstone 2 FFasies dolomatic packstone ~ grainstone 3 FFasies siliceous packstone ~ grainstone 4. FFasies challay ~ fossiliferous mudstone — packstone 3 Fasies agillaceous mmudstone wackstone 6. |Fasies dolomtic mudstone - wackestone 7. Fasies agillceous smidstone 8 Fasies argillaceous ~ carbonaceous saidstone 9, |Fasies calcareous sandstone 10. |Fasies carbonaceous sandstone 11, |Fasies carbonaceous shale 12. |Fasies calcareous shale a eran timu Kebumian Dalim Pergembangan Geowisata, Geolonsenasi &.Geohertage Serta Memperingat 35 Tahun Kampus Lapangan Geobogi UGH "Pot Soeroso Notohadiprawire” saya, rbten PROSIDING SEMINAR NASIONAL KEBUMIAN KE-12 Bo34UNE TEKNIK GEOLOGI, FAKULTAS TEKNIK, UNIVERSITAS GADIAH MADA 5.6 September 2019; Hotel lane Yogvakorta 13, FFasies argillaceous shale 14, FFasies limestone 15. Fasies shale 16. Fasies coal Tabel 3. Tabel fasies pengendapan yang berkembang pada daerah perelitian No. Fasies Pengendapan 1. Lagoon — Mud Mounds 2. Sand Shoal — Foreslope 3 Tidal Platform 4. Toe of Slope — Open Shelf Be eran timu Kebumian Dalim Pergembangan Geowisata, Geolonsenasi &.Geohertage Serta Memperingat 35 Tahun Kampus Lapangan Geobogi UGH "Pot Soeroso Notohadiprawire” saya, rbten PROSIDING SEMINAR NASIONAL KEBUMIAN KE-12 BOSAUNE TEKNIK GEOLOGI, FAKULTAS TEKNIK, UNIVERSITAS GADIAH MADA. 5.8 September 2019; Hotel Alana Yogvokaria Gambar 1. Persebaran sumur dan seismik pada lokasi penelitian Be eran tlmu Kebumian Dalim Pergembangan Geovisata,Geolonserasi& Geoheritage Serta Memperingat 35 Tahun kampus Lapangan Geologi UGM "Prof Soeroso Notohadiprawiro’ Baya, Kisten PROSIDING SEMINAR NASIONAL KEBUMIAN KE-12 BOSAUNE TEKNIK GEOLOGI, FAKULTAS TEKNIK, UNIVERSITAS GADIAH MADA. 5.8 September 2019; Hotel Alana Yogvokaria k cy re rer = ‘Gambar 2. Stratigrafi regional Cekungan Jawa Barat Utara (Gresko, 1995) Ba eran tlmu Kebumian Dalim Pergembangan Geovisata,Geolonserasi& Geoheritage Serta Memperingat 35 Tahun kampus Lapangan Geologi UGM "Prof Soeroso Notohadiprawiro’ Baya, Kisten PROSIDING SEMINAR NASIONAL KEBUMIAN KE-12 BOSAUNE TEKNIK GEOLOGI, FAKULTAS TEKNIK, UNIVERSITAS GADIAH MADA. 5.8 September 2019; Hotel Alana Yogvokaria Gambar 3. Analisis stratigrafi sikuen sumur X-1 yang diintegrasikan dengan data wireline log hingga lingkungan pengendapan yang teridentifikasiGambar 4. Analisis stratigrafi sikuen sumur X-2 yang diintegrasikan dengan data wireline log hingga lingkungan pengendapan yang teridentifikasi I woo gt | ptr] tte rome ren ear | ane i L pe ' se a + Gambar 4. Analisis stratigrafi sikuen sumur X-2 yang diintegrasikan dengan data ‘wireline log hingga lingkungan pengendapan yang teridentifikasi BS eran tlmu Kebumian Dalim Pergembangan Geovisata,Geolonserasi& Geoheritage Serta Memperingat 35 Tahun kampus Lapangan Geologi UGM "Prof Soeroso Notohadiprawiro’ Baya, Kisten PROSIDING SEMINAR NASIONAL KEBUMIAN KE-12 BOSAUNE TEKNIK GEOLOGI, FAKULTAS TEKNIK, UNIVERSITAS GADIAH MADA. 5.8 September 2019; Hotel Alana Yogvokaria a a _—_ ——— ——<—<$$< $< ___ Gambar 5. Analisis stratigrafi sikuen sumur X-3 yang diintegrasikan dengan data ‘wireline log hingga lingkungan pengendapan yang teridentifikasi Be eran tlmu Kebumian Dalim Pergembangan Geovisata,Geolonserasi& Geoheritage Serta Memperingat 35 Tahun kampus Lapangan Geologi UGM "Prof Soeroso Notohadiprawiro’ Baya, Kisten PROSIDING SEMINAR NASIONAL KEBUMIAN KE-12 BOSAUNE TEKNIK GEOLOGI, FAKULTAS TEKNIK, UNIVERSITAS GADIAH MADA. 5.8 September 2019; Hotel Alana Yogvokaria KORELASI KRONOSTRATIGRAFI JALUR A - A’ rs “| 4 } [| Ty Fi 3 q J LA ae i it y 3 I / a eat te LEGENDA: [3 =: transgressive System Tract [_]_:Highstand System Tract ‘Gambar 6. Korelasi kronostratigrafi lintasan A-A’ BT eran tlmu Kebumian Dalim Pergembangan Geovisata,Geolonserasi& Geoheritage Serta Memperingat 35 Tahun kampus Lapangan Geologi UGM "Prof Soeroso Notohadiprawiro’ Baya, Kisten PROSIDING SEMINAR NASIONAL KEBUMIAN KE-12 BOSAUNE TEKNIK GEOLOGI, FAKULTAS TEKNIK, UNIVERSITAS GADIAH MADA. 5.8 September 2019; Hotel Alana Yogvokaria KORELASI KRONOSTRATIGRAFI JALUR B - B’ eat 4 ‘LEGENDA: (5 : Transgressive System Tract [] : Highstand System Tract (5 : Lowstand system Tract tVririii Gambar 7. Korelasi kronostratigrafi lintasan B-B’ Be ‘eran imu Kebumian dalam Pergembargan Geoviata, Geolonsenasi &.Geoheritage Serta Memperingat 35 Tahun kampus Lapangan Geologi UGM "Prof Soeroso Notohadiprawiro’ Baya, Kisten PROSIDING SEMINAR NASIONAL KEBUMIAN KE-12 TEKNIK GEOLOGI, FAKULTAS TEKNIK, UNIVERSITAS GADIAH MADA. 5.8 September 2019; Hotel Alana Yogvokaria KORELASI KRONOSTRATIGRAFI JALUR C - C’ en a0} LEGENDA: : Transgressive System Tract [—) : Highstand system Tract BOSAUNE ‘Gambar 8. Korelasi kronostratigrafi lintasan C-C’ ‘eran imu Kebumian dalam Pergembargan Geoviata, Geolonsenasi &.Geoheritage Serta Memperingat 35 Tahun kampus Lapangan Geologi UGM "Prof Soeroso Notohadiprawiro’ Baya, Kisten Bo PROSIDING SEMINAR NASIONAL KEBUMIAN KE-12 8034UNE TEKNIK GEOLOGI, FAKULTAS TEKNIK, UNIVERSITAS GADIAH MADA, 5-6 September 2019; Hotel Alone Yogyakarta KORELASI KRONOSTRATIGRAFI JALUR D - D’ en BD LEGENDA: [5 : transgressive System Tract [) : Highstand System Tract [5 : Lowstand System Tract Gambar 9. Korelasi kronostratigrafi lintasan D-D’ 260 eran tlmu Kebumian Dalim Pergembangan Geovisata,Geolonserasi& Geoheritage Serta Memperingat 35 Tahun kampus Lapangan Geologi UGM "Prof Soeroso Notohadiprawiro’ Baya, Kisten PROSIDING SEMINAR NASIONAL KEBUMIAN KE-12 BOSAUNE TEKNIK GEOLOGI, FAKULTAS TEKNIK, UNIVERSITAS GADIAH MADA. 5.6 September 2019; Hotel Alane Yogyakarta Gambar 10. Pola refleksi internal pada sikuen pengendapan 1 beserta batas atas dan batas bawah Gambar 11. Pola refleksi internal pada sikuen pengendapan 2 beserta batas atas dan batas bawah. Sedimen penyusun Formasi Talang Akar merupakan produk fase transgresi (slow transgresion) yang dibuktikan dengan perkembangan shelf ke arah laut 261 eran timu Kebumian Dalim Pergembangan Geowisata, Geolonsenasi &.Geohertage Serta Memperingat 35 Tahun Kampus Lapangan Geobogi UGH "Pot Soeroso Notohadiprawire” saya, rbten PROSIDING SEMINAR NASIONAL KEBUMIAN KE-12 BOSAUNE TEKNIK GEOLOGI, FAKULTAS TEKNIK, UNIVERSITAS GADIAH MADA. 5.8 September 2019; Hotel Alana Yogvokaria Gambar 13. Peta Kode ABC, Peta Sintesis ABC, dan Peta Paleogeografi pada SB-3 262 eran tlmu Kebumian Dalim Pergembangan Geovisata,Geolonserasi& Geoheritage Serta Memperingat 35 Tahun kampus Lapangan Geologi UGM "Prof Soeroso Notohadiprawiro’ Baya, Kisten PROSIDING SEMINAR NASIONAL KEBUMIAN KE-12 TEKNIK GEOLOGI, FAKULTAS TEKNIK, UNIVERSITAS GADIAH MADA. 5.6 September 2019; Hotel Alane Yogyakarta Hale esi neo we (disimbolkan dengan se gitiga berwarna kuning) Gambar 14, Sedimen penyusun Formasi Talang Akar merupakan produk fase transgresi (slow transgression) yang dibuktikan dengan perkembangan shelf margin ke arah laut BOSAUNE eran timu Kebumian Dalim Pergembangan Geowisata, Geolonsenasi &.Geohertage Serta Memperingat 35 Tahun KampusLapangan Geobgi Uta of Soeroso Notohadiprawire” saya, nbten 263

Das könnte Ihnen auch gefallen